Gadget Promotions

Wednesday, October 21, 2015

Mendapat Telepon dari Penipu yang Nampaknya Mengambil Data dari Thread Rekening Bersama



Minggu lalu, tepatnya pada hari Kamis tanggal 15 Oktober 2015, saya dan beberapa teman sedang bekerja dari sebuah cafe di bilangan Teuku Umar, dekat kampus Unpad Dipati Ukur, Bandung. Hingga kemudian telepon genggam saya berdering, layarnya menampilkan sebuah nomor baru yang tidak ada pada daftar kontak yang saya miliki. Dikarenakan saya sedang memasang iklan menjual beberapa gadget dan juga rumah tinggal pribadi saya di Depok, saya sempatkan untuk menerima panggilan ini. Siapa tahu ada rezeki hari ini, pikir saya.

"Lagi di mana?" demikian sang lawan bicara dengan sigap mengambil kesempatan membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan. Selanjutnya mari kita sebut lawan bicara saya ini sebagai Bapak X saja ya.

Saya yang tidak mengetahui siapa lawan bicara saya, dengan sedikit kaget hanya mampu menjawabnya dengan pertanyaan, "Ini dengan siapa?"

"Masa lupa, hayo ini siapa?" Rupanya Bapak X senang bermain teka-teki. Namun saya yang sedang sibuk menghadapi beberapa pelamar kerja, kehilangan selera bermain tebak-tebakan, dan kembali bertanya, "Siapa ya?"

"DS", jawab Bapak X dengan semangat. Nama lengkap yang dia sebutkan saya samarkan ya.

"DS mana ya?" Untuk kesekian kalinya saya balik bertanya kepada Bapak X ini, kali ini dengan pikiran yang sibuk membuka-buka kembali lembaran ingatan saya akan nama DS ini. Ingatan saya hanya terpaut kepada satu orang, DS yang dulu membeli Motorola Moto X bekas yang saya jual di Kaskus. Apa mungkin dia ya? Sepengetahuan saya, DS ini nama yang identik dengan orang Jawa, namun suara Bapak X ini jelas terdengar sangat kental akan logat dari Pulau Sumatera.

Saya tanya saja lagi Bapak X ini, "DS yang dulu beli Moto X ya?"

"Iya, lagi di mana? Sibuk ngga?" Kali ini terdengar nada sumringah dari Bapak X karena merasa saya sudah mengingat siapa dia.

"Lagi di Bandung Mas, kebetulan lagi sibuk ngewawancara nih." Jawab saya to the point, karena terus terang saya masih kaget ada apa DS ini menelepon setelah sekian lama transaksi kami selesai. Memang beberapa waktu lalu, DS ini sempat mengirim pesan via Whatsapp Messenger. Waktu itu dia menginfokan akan kasus yang menimpa salah satu layanan rekening bersama di Kaskus. Kami sama-sama bersyukur proses transaksi kami yang ditengahi oleh layanan rekening bersama tersebut tidak menemui kendala. Kalau tidak salah ingat, transaksi kami dilakukan sekitar 2-3 bulan sebelum kasus tersebut ramai dibicarakan orang. Namun setelah itu DS tidak pernah menghubungi saya lagi, dan memang kami juga tidak pernah melakukan panggilan telepon sama sekali.

"Oh, ini saya mau memberitahukan nomor baru saya. Tolong disimpan ya Mas, jangan lupa." Bapak X pun menyudahi percakapan kami waktu itu. Saya yang masih menerka-nerka ada apa gerangan DS menghubungi saya pun kembali melanjutkan pekerjaan. Meskipun setelahnya pikiran saya sedikit bercabang, jangan-jangan Moto X-nya rusak, mana tidak ada garansinya pula, karena memang Moto X 2nd generation (2014) dengan seri XT1092 itu tidak secara resmi masuk ke Indonesia.

Selang setengah jam berlalu, nomor yang sama yang digunakan oleh Bapak X tersebut kembali menelepon. Terhitung dua kali dia melakukan panggilan dan saya diamkan karena sedang ada pekerjaan yang berhadapan langsung dengan orang lain.

Sekitar pukul setengah enam sore, pekerjaan saya sudah selesai dan secara kebetulan Bapak X pun kembali menelepon saya. Kali ini saya sudah bisa menerima panggilan, yang kira-kira isi pecakapannya seperti berikut ini:

Bapak X: "Lagi di mana? Sibuk ngga?"
Saya: "Di Bandung Mas, sudah selesai pekerjaan saya."
Bapak X: "Ini saudara saya ada keperluan di rumah sakit, saya mau pinjam uang. Nanti malam jam sembilan saya transfer."
Saya: "Berapa Mas?" (di sini jantung saya mulai berdetak kencang, kaget juga ada orang langsung berani pinjam uang)
Bapak X: "Satu aja, ada ga?"
Saya: "Satu juta Mas?" (di sini saya mulai berdzikir sebisa saya biar pikiran tidak kosong, he.. he..)
Bapak X: "Iya, satu aja. Ada ga?"
Saya: "Wah saya ga ada uang segitu, Mas." (saya berusaha sebisa mungkin menolak, dan sudah berencana menghubungi DS via Whatsapp untuk konfirmasi)
Bapak X: "Lima ratus aja kalo gitu. Ada ga?"
Saya: "Wah, saya lagi di luar kota ini Mas. Ga ada uang segitu."
Bapak X: "Kalau gitu tolong transferin pulsa aja ke nomor ini ya!" (pada tahap ini, sudah keliatan jelas ini adalah modus penipuan)
Saya: "Isiin pulsa? Ini siapa sih?"
Bapak X: "Bentar ya, ada yang mau ngomong nih."

Pada saat Bapak X meminta jeda, saya segera menutup teleponnya dan kembali ke meja cafe yang tadi saya tinggalkan guna menerima panggila ini. Sembari duduk, saya mulai membuka Whatsapp Messenger dan mengirim pesan kepada nomor DS yang ada di daftar kontak saya. Kira-kira lagi ya, seperti inilah percakapan dengan DS yang asli:

Saya: "Mas, tadi nelpon?"
DS: "Ngga, kenapa gitu Mas?"
Saya: "Tadi ada yang nelpon ngaku namanya DS, terus minjem uang sejuta."
DS: "Hah?"
Saya: "Penipu kali ya Mas, sepertinya dia baca data transaksi kita di thread rekber B****P*** di Kaskus"
DS: "Wah, hati-hati Mas modus baru tuh"
Saya: "Iya, saya takutnya ini pakai hipnotis juga"

Saya kemudian teringat kejadian yang menimpa Tante saya. Dia menerima telepon dari nomor tak dikenal, dan persis seperti kejadian yang saya alami, si penelepon berusaha membuat Tante saya menerka siapa penelepon ini. Sayangnya Tante saya malah menerka bahwa ini adalah keponakannya, yang mana memang itulah tujuan dari penelepon yang merupakan penipu tersebut.

Penipuan dengan modus seperti ini berusaha mengorek keterangan dari calon korban dengan membuat calon korban menerka identitas penelepon. Begitu calon korban menyebutkan sebuah nama, maka tugas sang penipu lebih mudah karena tinggal mengaku-ngaku sebagai sang pemilik nama, lalu menyebutkan bahwa saat ini sedang dalam kesulitan atau kondisi darurat, semisal: mobil mogok di luar kota, saudara masuk rumah sakit, atau bahkan sedang di kantor polisi.

Tante saya mengalami kerugian sekitar satu juta Rupiah dalam bentuk voucher pulsa fisik. Dia pergi ke salah satu kedai pulsa dan membeli sepuluh buah voucher untuk kemudian dia kirimkan nomor kode voucher-nya kepada si penipu.

Merujuk kepada keterangan penjaga kedai pulsa yang juga merupakan tetangga, sepertinya Tante saya tidak dalam kondisi kesadaran yang penuh. Entah hipnotis atau apa, saya tidak punya latar belakang keilmuan yang cukup untuk membuat prediksi tentang ini, namun yang saya rasakan setelah menerima telepon dari Bapak X, badan ini terasa lemas seperti kehilangan tenaga, padahal selama di cafe saya memesan beberapa porsi makanan dan minuman lho.

Pesan saya, jika ada nomor tak dikenal yang menelepon dan meminta Anda menebak siapa yang berada di ujung telepon sana, lebih baik segera tutup. Jikalau penting dan memang orang yang kita kenal menghubungi kita menggunakan nomor yang lain dari biasanya, sudah seharusnya dia memberitahukan identitas dirinya terlebih dahulu bukan?

Saya sadari resiko berjualan barang secara online dengan mencantumkan nomor telepon adalah seringnya muncul gangguan dari penipu-penipu macam ini. Tapi penipu kali ini sedikit lebih pintar, saya yakin dia mendapatkan nama DS dan nomor telepon saya dari data orang yang bertransaksi jual beli menggunakan layanan rekening bersama di Kaskus.

Ada satu langkah dalam transaksi menggunakan rekening bersama yang membuat data ini terekspos, yaitu pada langkah konfirmasi bahwa pembeli sudah melakukan transfer dana ke rekening milik penyedia layanan rekening bersama. Pada langkah tersebut, pembeli diminta mengkonfirmasi transfer dana dengan format: SUDAH TRANSFER dari Rekening [NAMA BANK] nomor [NOMOR REKENING] atas nama [NAMA PEMBELI] untuk pembelian [NAMA BARANG] seharga [NOMINAL]. Dari thread [LINK KE THREAD], Id pembeli [ID PEMBELI], nomor telepon [NO TELP PEMBELI], Id penjual [ID PENJUAL], nomor telepon [NO TELP PENJUAL]. Lengkap sekali bukan?

Dari kejadian percobaan penipuan yang saya alami, saya merasa perlunya penggunaan media lain untuk proses konfirmasi transfer rekening bersama yang lebih tertutup, misal hanya dapat diakses oleh penjual dan pembeli. Kaskus yang berawal dari bentuk forum umum, rasanya belum dapat mengakomodasi kebutuhan akan keamanan data ini. Semoga para orang hebat di balik Kaskus dapat melihat celah-celah seperti ini dan membuat terobosan baru agar layanan mereka semakin baik dan bernilai guna, mengingat sejak dari awal dulu hingga kini bisa dibilang perubahan yang terlihat hanya sebatas tampilan baru dan jarangnya Kaskus mengalami maintenis (maiantenance period) lagi. Secara fitur atau proses bisnisnya, belum ada perubahan yang signifikan yang saya rasakan.

Dengar-dengar sih, nanti akan ada layanan yang menjadi solusi transaksi jual beli dan transaksi finansial secara online dari sebuah e-commerce baru di Indonesia ini. Untuk saat ini Anda dapat mengikuti teaser blog-nya di http://ketagihanbayar.wordpress.com ya :)

Akhir kata, selalu waspada dengan telepon dari nomor asing, apalagi bila sudah menyangkut keuangan. Hati-hati pula menyimpan nomor telepon di dunia maya, sebisa mungkin hapus nomor telepon dari tulisan apapun apabila tujuannya sudah tercapai, misalnya dalam proses iklan dan jual beli online, maka segera hapus nomor telepon Anda saat transaksi sudah selesai.

Waspadalah, waspadalah...

2 comments: