Gadget Promotions

Saturday, August 29, 2015

Ouw ouw, Smartwatch yang Sungguh Menggoda dari Oukitel [PREVIEW]



Kali ini saya sempatkan menulis di antara timbunan lemak yang makin tebal pekerjaan yang terpaksa saya bawa pulang dan kerjakan di rumah, padahal ini kan Malam Minggu. Pyuh... Pada tulisan ini saya mau membahas produk smartwatch yang sedang saya pertimbangkan untuk dimiliki. Karena barangnya belum saya coba dan pegang langsung alias belum hands-on, anggap saja ini sebatas preview dan ulasan fiturnya. Sama seperti tulisan saya tentang Xiaomi Redmi Note 2 tempo hari.

Sebetulnya saat ini saya sudah mempunyai sebuah smartwatch, harganya terbilang murah, sehingga sah-sah saja jika fiturnya pun minim. Karena itu, jadi iseng deh cari smartwatch yang fiturnya lebih oke, syukur-syukur kalau harganya bisa ketemu yang cukup murah.

Lanjut cari-cari, akhirnya malah nyasar ke salah satu marketplace Tiongkok, gearbest.com. Di situ mata saya koq nyantol sama salah satu smartwatch yang desainnya tampak elegan: simple dan minimalis tapi tidak mirip dengan smartwatch terkenal sebagaimana umumnya produk Tiongkok yang sering secara sengaja dibuat mirip produk dari merk lain yang sudah ternama. Nama produknya Oukitel A28, jika merujuk pada judul produknya sih smartwatch ini dapat digunakan baik oleh pengguna Android maupun iOS devices.


Membaca deskripsi produknya lumayan membuat saya terkekeh. Bagaimana tidak, di sana disebutkan bahwa smartwatch ini akan mengambil alih tanggung jawab sebagai penasehat kesehatan Anda, haha.. Dijelaskan bahwa Oukitel A28 akan memonitor kualitas tidur kita, dan jika kita terlalu lama duduk saat bekerja maka smartwatch ini akan mengingatkan kita untuk beristirahat dan melemaskan otot. Wah, koq kaya perannya istri saya atuh ini mah.

Fitur lain dari smartwatch ini adalah kemampuannya sebagai sport tracker. Dengan adanya sensor detak jantung, Oukitel A28 ini akan membimbing kita dalam melakukan olahraga dengan porsi yang baik. Hmmm.. Koq dipikir-pikir fiturnya lumayan juga yah, rasanya saya belum bisa mendapatkan fitur seperti ini pada smartwatch yang saya miliki sekarang.





Fitur Oukitel A28


Berikut highlight dari fitur lengkap yang dibawa oleh Oukitel A28:
  • Chip MediaTek MTK2502 yang dikombinasikan dengan teknologi Bluetooth 4.0 yang konsumsi dayanya rendah, memberikan kompatibilitas lebih dengan sistem Android dan iOS.
  • Monitor detak jantung, konon sensornya sama dengan yang digunakan pada Apple Watch. Fungsi sport tracker sepertinya sedang ngetren banget sekarang, kebanyakan orang mencari smartwatch karena fitur yang satu ini.
  • Sinkronisasi telepon, sms, dan kontak.
  • Pedometer, sensor inilah yang berguna mengukur kualitas tidur, mengingatkan apabila kita duduk terlalu lama.
  • Dapat difungsikan sebagai tombol shutter kamera secara nirkabel.

  • Dapat difungsikan sebagai pengontrol aplikasi musik pada smartphone.
  • Notifikasi yang dapat di-push ke smartwatch cukup banyak: Facebook, Twitter, Skype, SMS, WeChat, dll.

  • Adanya sensor orientasi, sehingga untuk menyalakan layar smartwatch cukup dengan memutarkan pergelangan tangan kita. Keren!

  • Layar IPS tanpa gap udara, wow!
  • Tahan air, tidak perlu dilepaskan saat harus mencuci tangan.
  • Tali jam berbahan kulit asli.




Spesifikasi Oukitel A28

Sementara spesifikasi yang disematkan pada smartwatch Oukitel A28 adalah:
  • Processor MTK2502 
  • Bluetooth 4.0
  • RAM 128 MB
  • ROM 32 MB 
  • Layar IPS berukuran 1,54 inch dengan resolusi 240 x 240 pixels.
  • Baterai menggunakan tipe Lithium Polymer berkapasitas 250 mAh
  • Kompatibilitas Android 4.4 / iOS 7.0 ke atas
  • Sudah mendukung Bahasa Indonesia
  • Warna yang tersedia: Gold dan Silver


Ini sih jelas upgrade besar-besaran dari smartwatch saya sebelumnya. Mana desainnya cantik pula, jadi makin kesengsem buat beli deh rasanya. Tapi, biasanya gadget cakep kaya begini mampir di tangan saya ga lama-lama, seringnya langsung jadi jatahnya ibu negara, ha.. ha.. Dengan kondisi mata uang kita yang lagi loyo, rasanya harga $56.99 masih layak ditebus. Hanya akan lebih baik lagi apabila harganya bisa ditekan hingga $50 saja, biar ga kena bea masuk ha.. ha.. ha... ha..duuuh ketauan banget saya ga modal ya!

Semakin dilihat, semakin lucu aja Gista Putri duh pengen buru-buru meminang Gista smartwatch ini, semoga saja build quality-nya bagus dan penampakannya sesuai dengan foto promosinya yah.

Kali ini saya yang butuh saran dari Anda semua, apakah harus gontagantijamtangan.com juga? Hehe..

Friday, August 28, 2015

Asus Padfone S, Smartphone Plus Tablet Keren yang Tenggelam oleh Zenfone Series


Review smartphone kali ini singkat saja, saya menulisnya sembari menunggu kedatangan Gista Putri membawa kue cubit greentea beberapa paket kiriman, hasil berburu di sejumlah online e-commerce. Masih belum cukup sih buat melakukan review komparasi beberapa online e-commerce beken di Indonesia, tapi paling tidak saya bisa menguji kecepatan barang sampai di tangan pembeli dulu deh.

Pesanan dari Tokopedia sudah sampai, saya cuma beli sim card adapter sih, plus lokasi seller sama-sama di Bandung hehe. Selanjutnya pesanan Moto X 2014 dari Elevenia juga sudah tiba, ini saya jual di kaskus lho, lumayan buat nambah modal beli gadget buat di-review hehe (jangan ditawar afgan-afgan yah).

Sementara pesanan dari Lazada, hmmm.. nomor resi sudah didapat sih, dicek pun sudah terdaftar di web JNE. Hanya saja, tanpa status hehe. Belum manifested di Jakarta sama sekali, itu artinya review sebuah action camera kemungkinan baru bisa saya tulis akhir pekan depan. Yang sabar saja ya, saya saja bisa sabar menunggu tanggal 25 datang kembali paketnya datang.

Satu yang paling suram, pesanan modem di MatahariMall.com belum juga diproses sama seller-nya. Gara-gara dapat voucher diskon MatahariMall.com sebesar seratus ribu rupiah dari hasil beli pulsa di Sepulsa.com, saya jadi beli modemnya di sana. Sekalian menguji lagi ah, pikir saya. Sebetulnya kalau tidak pakai voucher sih, jatuhnya jadi lebih mahal dari harga resminya. Modem apa yang saya beli? Ditunggu saja, yang pasti sih sekalian mau coba sendiri kabar yang menyebutkan Meizu M2 Note mendukung sim card 4G yang berjalan di frekuensi TDD-LTE. Ah, saya kira clue-nya sudah terlalu jelas hehe.

Kita mulai ke cerita di balik mengapa Asus Padfone S yang terpilih untuk saya review ya.

Sekitar awal bulan Juli lalu, sebetulnya ada alternatif smartphone lain yang saya pertimbangkan sebelum akhirnya memutuskan cintanya Maudy Ayunda membeli ASUS Padfone S ini. Dua alternatif lain itu adalah Xiaomi Mi 4i dan Lenovo P70. Xiaomi Mi 4i mentok pada kenyataan tidak adanya slot microSD, sementara Lenovo P70 terasa memenuhi semua kriteria yang saya cari, kecuali body-nya yang datar banget. Saya pernah menyaksikan unboxing Lenovo P70 secara langsung sih, waktu dulu COD-an sama orang yang membeli P70 yang saya dapat dari hasil berburu diskonan, he.. he..

Pilihan saya waktu itu jatuh pada Asus Padfone S, karena lagi-lagi saya dapat harga gila pakai kombinasi berbagai diskon, jadi cuma seharga tiga juta rupiah saja. Bayangkan, harga resminya itu Rp 3.499.000 lho! Spek jeroan bisa dibilang identik dengan Moto X 2014 yang waktu itu saya gunakan: processor Snapdragon 801, RAM 2GB, ROM 16GB, layar Full HD, kamera 13 Megapixels, sudah mendukung jaringan 4G dan sudah ada NFC. Keren kan spesifikasi Asus Padfone S ini?

Mau lebih keren lagi? Di harga yang tadi saya sebutkan, Asus Padfone S sudah mampu membawa spesifikasi ala flagship ditambah sertifikasi IP-67 yang membuatnya tahan benturan, debu dan percikan air. Enaknya lagi, Asus Padfone S mempunyai slot memori eksternal yang mendukung microSD hingga kapasitas 64 GB. Sudah saya coba sendiri menggunakan micro SDXC Apacer class 10 UHS-I 64GB, berjalan tanpa ada masalah. MicroSD yang sama ternyata tidak dapat terbaca lho di Infinix Zero 2, namun tetap berfungsi dengan baik saat saya sematkan ke dalam Samsung Galaxy K-Zoom milik Sophia Latjuba istri saya.

Dan yang paling keren, dengan keluar uang tiga juta Rupiah, saya sudah dapat smartphone berspesifikasi tinggi, plus dapat Docking Station alias tablet seukuran 8.9 inch. Docking Station ini baru dapat berfungsi apabila kita memasukkan smartphone Asus Padfone S pada slot yang tersedia, jadi processor dan seluruh jeroan lainnya mengutilisasi apa yang ada di smartphone, namun menggunakan layar, stereo speaker, dan juga baterai tambahan yang ada pada Docking Station. Dengan cara ini, kita dapat bergantian menggunakan smartphone dan tablet dengan aplikasi dan data yang sama. Biasanya saya malas pakai tablet karena harus mengelola dua buah perangkat dengan dua set data berbeda yang disimpan oleh masing-masing perangkat.

Unboxing Asus Padfone S

Beginilah penampakan kemasan dan isi paket penjualan dari Asus Padfone S, saya membeli yang warna hitam.

Box kemasan Asus Padfone S, besar ya.

Bagian belakang box kemasan Asus Padfone S.

Asus Padfone S, unboxed.

Box kemasan Asus Padfone S, di bawah tablet ada smartphone.

Asus Padfone S.

Sisi bawah Asus Padfone S.

Sisi kiri Asus Padfone S.

Sisi kanan Asus Padfone S.

Sisi atas Asus Padfone S.

Docking Station Asus Padfone S, tombol screen-on dan volume.

Docking Station Asus Padfone S, tombol volume dan lubang micro USB (hanya untuk charging).

Docking Station Asus Padfone S, pada bagian belakang ada slot smartphone.

Layar besar sang Docking Station Asus Padfone S, Full HD lho.

Asus Padfone S dapat dibuka back cover-nya namun baterai tidak dapat dilepas.


Poin plus dan minus Asus Padfone S


Setelah sekitar satu sampai dua bulan dalam pemakaian saya, menurut saya kelebihan dari Asus Padfone S ini adalah:

  • Spesifikasi kelas tinggi, processor quad-core yang powerful dan kencang dengan clockspeed 2.3 GHz, RAM cukup lega.
  • Sudah mendukung jaringan 4G di Indonesia (frekuensi 1.800)
  • Adanya slot microSD
  • Kehadiran NFC yang cukup mengejutkan untuk rentang harga segini
  • Sertifikasi IP67, konon smartphone ini tahan jatuh dari ketinggian 1,5 meter. Saya sih mendingan disuruh gendong Cut Tari daripada jatuhin hape dari ketinggian segitu, asli deh.
  • Kamera yang jernih, ada night mode yang cukup membantu di kala pencahayaan kurang.
  • Layar sudah IPS, dengan ukuran 5 inch dan resolusi Full HD 1080p.
  • Sudah dapat Docking Station yang spesifikasinya pun cukup wah, layar 8,9 inch dengan resolusi Full HD 1920 x 1200, tertanam baterai tambahan sebesar 5.000 mAh, dan stereo speaker yang bertenaga.
  • Penampilan sisi depan keren, saya pribadi jauh lebih suka desain Padfone S daripada Zenfone series untuk bagian depan ini.
  • Menggunakan tombol navigasi on-screen, walau icon tombolnya dikustomisasi oleh Asus, sehingga walau sudah Lollipop tampak masih seperti Kitkat.


Sementara kekurangan Asus Padfone S yang saya rasakan adalah:

  • Tebal, padahal hanya membawa baterai sebesar 2.300 mAh saja
  • Getaran/vibrate-nya terasa janggal, tidak halus seperti smartphone kebanyakan. Terasa seperti ada bagian yang kurang kencang dipasangkan. Konon ini dikarenakan kelebihannya yang tahan jatuh itu lho.
  • Gampang panas, meskipun tidak sampai overheat. Digunakan bermain game casual saja sudah hangat, tipikal karakter dari processor Snapdragon kelas atas.
  • ZenUI hasil kustomisasi Android oleh ASUS, yang setelah di-update dari KitKat ke Lollipop malah membawa masalah baru. Hingga Asus merasa perlu menyediakan unduhan update firmware untuk downgrade dari Lollipop ke Kitkat. Biasanya sehabis dipakai cukup lama dan RAM banyak terpakai, saat kita menekan tombol Home untuk menuju homescreen maka kita akan disajikan homescreen kosong yang kemudian melakukan proses loading ulang shortcut dan widget yang setidaknya membuat kita perlu menunggu sebentar sebelum perangkat siap diajak bekerja kembali.
  • Baik smartphone maupun Docking Station alias tabletnya mempunyai bobot di atas rata-rata. Memang membuat terasa solid, namun jadinya malah overweight.
  • Posisi loudspeaker berada di bagian belakang, sehingga suaranya tertutup dan pelan saat diletakkan di atas meja.
  • Baterai tertanam, tidak bisa dilepas meskipun back cover Asus Padfone S dapat dibuka.


Buat Anda yang termasuk pemuja spesifikasi di atas kertas yang wah dan sangat mementingkan hasil benchmark sintetis seperti Antutu, Asus Padfone S ini layak Anda koleksi. Entah kenapa Asus tidak menggembor-gemborkan produk ini seperti Zenfone series, apa karena Asus lebih suka jualan perangkat yang memakai processor Intel? Biar disubsidi mungkin, hehe. Terlebih jika Anda sering membutuhkan sebuah tablet untuk berkerja ataupun penggunaan multimedia, namun malas mengelola data yang berbeda pada dua perangkat.

Saya sendiri kurang merekomendasikan gadget ini untuk wanita, karena bobotnya yang membuat kurang nyaman saat digunakan berlama-lama, terutama bobot Docking Station-nya.

Hingga saat ini masih ramai diperdebatkan perbedaan antara Asus Padfone S warna hitam dan putih. Konon yang putih lebih tokcer, mendukung jaringan 4G di frekuensi 900 juga, dan bisa melakukan update OS secara OTA. FYI, saya melakukan proses update firmware dengan cara mengunduh file ZIP yang disediakan di web support Asus, dan menyalinnya ke Padfone S sebelum kemudian smartphone ini secara otomatis mengenali adanya file ZIP untuk update firmware.

Performa dan Hasil Pengujian Asus Padfone S

Performa baterai tidak bisa dikatakan buruk, mengingat kapasitasnya yang hanya 2.300 mAh namun harus melayani sebuah processor kelas atas dari Qualcomm.

Untuk skor Antutu Benchmark, ada peningkatan saat saya ujikan kembali setelah proses update dari Kitkat ke Lollipop.
Skor Antutu Benchmark Asus Padfone S, posisi OS Kitkat.
Skor Antutu Benchmark Asus Padfone S, posisi OS Lollipop.


Kecepatan jaringan pun sempat saya ukur, yaitu pada saat menggunakan jaringan 4G LTE dari XL di lokasi sekitar daerah Pasteur, Bandung.
Speed $G XL LTE pada Asus Padfone S.


Berikut hasil foto dari kamera Asus Padfone S yang diembel-embeli fitur Asus PixelMaster.
Waktu: dini hari. Mode: Low-light. Flash: off.
Waktu: pagi hari. Mode: Normal. Flash: off.

Lokasi: di dalam mobil. Mode: Normal. Flash: off.
Lokasi: outdoor. Mode: Normal. Flash: off.

Lokasi: indoor gelap. Mode: Low-light. Flash: on.
Lokasi: indoor malam hari dengan pencahayaan neon. Mode: Low-light. Flash: off.

Lokasi: indoor cahaya cukup. Mode: Normal. Flash: off.
Lokasi: indoor malam hari dengan pencahayaan neon. Mode: Low-light. Flash: on.

Lokasi: di dalam mobil. Mode: HDR. Flash: off.
Lokasi: indoor cahaya cukup. Mode: Normal. Flash: off.

Lokasi: indoor gelap. Mode: Low-light. Flash: off.

Lokasi: indoor gelap. Mode: Low-light. Flash: off.

Lokasi: indoor gelap. Mode: Low-light. Flash: off.

Tuesday, August 25, 2015

Isi pulsa dapat voucher diskon? Inilah Sepulsa.com e-Commerce baru asli Indonesia

Biar ngga bosan memandangi wajah rupawati Gista Putri membahas smartphone melulu, sebagai selingan saya mau bahas salah satu e-Commerce asli Indonesia. E-commerce ini bisa dibilang cara jualannya simple, cuma jual pulsa sama voucher online. Namanya Sepulsa.com.

"Hari gini, ngisi pulsa kudu online? Terus apa bedanya sama ngisi pulsa di abang-abang tukang pulsa? Bisa ngutang lagi di si abang mah!"

Awalnya saya juga berpikiran demikian, ngapain bikin e-commerce isinya cuma jual pulsa. Pakai internet banking juga bisa, atau kalau mau lebih murah bisa daftar jadi agen pulsa terus isi buat diri sendiri aja, kan lumayan tuh dapat harga modal, he.. he..



Rupanya e-commerce ini sudah bekerja sama dengan e-commerce lain. Benefit buat member Sepulsa.com akan kita rasakan saat melakukan transaksi pembelian pulsa, karena saat proses checkout maka kita akan dipersilakan memilih tiga (3) buah voucher diskon dari e-commerce lain yang nilainya bergantung pada nominal pulsa yang kita beli. Misalkan kita membeli pulsa senilai seratus ribu rupiah, maka kebanyakan voucher diskon yang dapat dipilih pun bernilai seratus ribu rupiah. Memang ada nilai minimal transaksi agar setiap voucher diskon tersebut dapat digunakan, untuk yang satu ini nilai minimalnya merujuk kepada kebijakan masing-masing e-commerce yang menyediakannya.

E-commerce yang menyediakan voucher diskon inipun sudah pada punya nama lho, antara lain: Bhinneka, Tees.co.id, BerryBenka, BerryKitchen, SukaMart, hingga UberTaxi.

Bahkan apabila Anda menggunakan metode pembayaran tertentu, jumlah voucher diskon yang dapat Anda pilih bisa bertambah. Sebagai contoh apabila menggunakan kartu kredit CIMB Niaga maka kita dapat memilih lima (5) buah voucher diskon. Voucher diskon ini memang sih kadang membuat kita membeli apa yang tidak terlalu kita butuhkan, namun kita sayang melewatkan diskonnya, sehingga akhirnya kita menjadi konsumtif. Namun jika memang Anda punya kebutuhan bertransaksi di beberapa e-commerce yang bekerja sama dengan Sepulsa.com, maka ini justru membantu Anda berhemat. Toh masa berlaku vouchernya pun cukup panjang.

Berikut daftar e-commerce yang memberikan voucher diskon melalui Sepulsa.com:










Untuk metode pembayarannya sendiri, saat ini Sepulsa.com dapat dibayar menggunakan:

  • Kartu kredit/debit, khusus debit mandiri saya sudah coba dan berhasil. Syaratnya Anda sudah mendaftarkan nomor handphone Anda di Bank Mandiri, karena OTP akan dikirim melalui flash message ke nomor handphone tersebut.
  • ANZ Credit Card.
  • Transfer Bank (Mandiri dan BCA), metode ini membutuhkan tambahan kode unik untuk membedakan setiap transaksi. Saya belum tahu, apakah kelebihan bayar yang dikarenakan tambahan tiga digit kode unik ini dikembalikan kepada member dalam bentuk credit balance, atau dijadikan income-nya Sepulsa.com, he.. he..


Sepulsa.com juga dapat diakses melalui aplikasi mobile, selain melalui website. Tinggal cari "Sepulsa" di Google Play Store untuk Android, atau Apple AppStore untuk Anda pengguna iOS device.

Untuk semakin menggencarkan proses member acquisition-nya, Sepulsa.com juga mengadakan program referral. Setiap member mempunyai link referral, yang apabila digunakan oleh temannya untuk mendaftar layanan Sepulsa.com, maka di saat temannya bertransaksi, sang member mendapatkan top-up credit balance. Mirip dengan apa yang dilakukan Go Jek ya. Sayangnya, tidak seperti Go Jek di mana kita mendapat free credit secara otomatis saat bergabung, Sepulsa.com tdak melakukan hal yang sama, dan baru memberikan benefit saat kita sudah bertransaksi saja.

Pengalaman pribadi saat bertransaksi

Ada cerita unik saat saya menggunakan layanan ini pada tanggal 17 Agustus lalu. Dikarenakan sinyal seluler yang tidak terlalu baik, transaksi saya gagal saat proses pembayaran. Saya cek di internet banking, ternyata saldo sudah terpotong, namun tidak ada data transaksi sama sekali di Sepulsa.com karena saya melakukan transaksi tanpa login. Ya, untuk dapat melakukan transaksi di Sepulsa.com kita tidak diwajibkan login, hanya saja apabila transaksi dilakukan oleh non-member, kita akan diminta menginput alamat e-mail. Untunglah masih ada input alamat e-mail ini, sehingga bisa saya jadikan data saat melakukan aduan.

Aduan saya lakukan melalui dua cara, kirim e-mail dan mention twitter. Ternyata cara yang pertamalah yang mendapatkan respon lebih dulu. Sekitar satu jam setelah saya mengirim e-mail kepada info@sepulsa.com, customer service-nya menghubungi saya, masih via e-mail. CS-nya mengatakan ditemukan data pembayaran atas nama e-mail saya, namun tidak ditemukan transaksi, hal ini dapat disebabkan oleh putusnya jaringan antara web sepulsa dengan bank atau web sepulsa dengan customer. Dan pihak Sepulsa.com berjanji akan segera meng-cancel transaksi pembayaran.

Benar saja, saat saya cek kembali internet banking saya, sudah ada reversal yang terjadi. Dua jempol deh buat customer service Sepulsa, walau hari libur Kemerdekaan, namun tetap sigap menangani keluhan. Kesan saya adalah customer service representative-nya cukup mengerti teknis sehingga bisa menjelaskan kemungkinan letak permasalahan (atau memang teknisi yang sedang stand by ya, hahaha). Sekitar 3-4 jam kemudian mention twitter saya baru mendapat respon, dan saya ucapkan terima kasih karena masalah sudah diatasi via korespondensi e-mail.

Semoga saja pilihan metode pembayarannya semakin beragam ya, agar semakin memudahkan kita dalam bertransaksi.

Jika Anda tertarik menggunakan layanan Sepulsa.com, boleh dong gunakan link referral saya untuk mendaftar, siapa tahu saya nanti bisa isi pulsa gratis he.. he.. he..