Gadget Promotions

Wednesday, November 18, 2015

Review Xiaomi Mi 4c, Bulan Madu yang Keterusan



Sore itu, tiba-tiba saya dapat e-mail promosi dari MatahariMall.com, isinya lumayan menarik hati buat para pemburu diskon seperti saya ini. Dengan minimum pembelian sebesar Rp 3.000.000,- saja, maka kita sudah dapat menggunakan kode diskon untuk mendapatkan potongan sebesar Rp 500.000,- wow ini tidak bisa dilewatkan begitu saja lah!

Sayapun langsung membuka browser, mengarahkan ke situs MatahariMall.com, lalu mencari-cari hape apa yang di atas tiga juta dan pantas untuk dibeli. Dari hasil pencarian, saya temukan kebanyakan hape di MatahariMall.com harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan marketplace lain, bisa jadi diskon Rp 500.000 akan terasa kurang nampol karena harganya saja sudah lebih mahal seratus hingga dua ratus ribu rupiah, misal sebut saja dari harga termurah untuk produk yang sama di Tokopedia.

Sudah nyaris putus asa untuk mencari hape apa yang worth it untuk dibeli dengan diskon itu, hingga tiba-tiba mata ini terkunci pada sebuah produk yang dijual oleh Indocom, Xiaomi Mi 4c. Sebagai informasi, Xiaomi Mi 4c ini tidak resmi masuk ke Indonesia, jadi dapat dipastikan dijual dengan garansi distributor saja, namun key selling point-nya adalah spesifikasinya yang gahar dan up-to-date, sehingga beberapa penjual berlomba memasukkan produk ini ke pasar lokal.

Xiaomi Mi 4c dengan RAM 2GB dan ROM 16GB seharga Rp 3.549.000,- itupun saya masukkan keranjang tanpa pikir panjang, mau langsung saya bayar sebelum impian buyar, mau cepat saya unbox biar racun ini segera terdetox, jadi bermain rima nih he.. he..

Pilihan pembayaran di MatahariMall.com yang hanya menyediakan metode kartu kredit dan transfer bank, membuat saya berpikir ini saatnya mencoba kembali kartu debit Mandiri saya. Siapa tahu payment gateway-nya MatahariMall.com pakai Veritrans, karena kalau pakai Veritrans maka bisa dipastikan kartu debit Mandiri saya dapat digunakan layaknya kartu kredit berkat layanan Mandiri Debit Online.

Sebuah kejutan saya dapatkan. Dengan diskon Rp 500.000,- maka normalnya total yang harus saya bayar adalah Rp 3.049.000,- karena MatahariMall.com masih menggratiskan ongkos kirim untuk setiap transaksi. Anehnya, pada flash message untuk OTP yang saya terima di hape saya, hanya tertera jumlah Rp 2.999.000,-. Karena ragu, saya coba membuat pesanan baru untuk Xiaomi Mi 4c ini dengan memilih pembayaran transfer bank, dan jumlah yang harus saya bayar kali ini benar Rp 3.049.000,-. Tapi karena malas ke ATM (dan karena lebih mahal, he.. he..), saya lanjutkan lagi proses pembayaran dengan kartu kredit tadi, dan saya bayarkan juga sejumlah Rp 2.999.000,- meskipun dalam hati agak cemas, takutnya pesanan dibatalkan karena jumlah pembayaran tidak sesuai.

Setelah membayar, saya lihat detail pesanan saya. Barulah saya paham! Rupanya, ada promo potongan ekstra sebesar Rp 50.000,- dalam rangka Hari Ulang Tahun Mandiri yang ke-17. Ada-ada saja kamu MatahariMall.com, promo Mandiri-nya koq ga dibilang-bilang, tau-tau sudah terpotong saja. Senang sih, tapi jadinya sempat bertanya-tanya ada apa dan cemas juga karena jumlah tagihan berbeda.

Berbekal pengalaman sebelumnya, saya lalu mencari cara mengontak langsung seller. Yang saya tahu Indocom ini berjualan juga di banyak marketplace lain, salah satunya dengan nama Indocom Kuningan. Seperti biasa, langsung saya kirimi pesan cinta begitu saya temukan seller ini membuka lapak di Tokopedia. (Lho, koq BukaLapak di Tokopedia sih? Nanti pusing dong kalo orang mau Blanja dan Blibli harus kemana? Ha.. ha.. Maaf ya Elevenia dan Lazada, kalian ga bisa diikutkan main kata-kata kaya gini)

Pihak Indocom merespon cepat, berdasarkan informasi nomor pesanan di MatahariMall yang saya berikan, mereka menyatakan malam itu juga pesanan akan dikirim. Wah, beruntung sekali saya hari itu, sudah dapat diskon ganda, kirimnya pun segera, sangat bertolak belakang dengan pengalaman pertama saya berbelanja di MatahariMall.

Unboxing Xiaomi Mi 4c

Esok harinya saat pulang dari pekerjaan, pesanan saya temukan sudah ada di rumah. Keren deh Indocom! Unboxing segera saya lakukan malam itu juga.

Xiaomi Mi 4c - unboxed

Xiaomi Mi 4c - penuh temporary tattoo, he.. he..

Xiaomi Mi 4c - sisi kanan

Xiaomi Mi 4c - sisi atas

Xiaomi Mi 4c - sisi kiri

Xiaomi Mi 4c - sisi bawah, sudah menggunakan port USB type-C

Xiaomi Mi 4c - sisi depan, sudah saya pasangi tempered glass

Meskipun bukan kelas entry-level namun rupanya Xiaomi tak juga menyisipkan headset dalam kelengkapan penjualan dari Xiaomi Mi 4c ini. Satu hal yang segera menyita perhatian saya adalah kabel USB yang satu ujungnya menggunakan USB type-C. Ini adalah salah satu daya tarik tersendiri, mengingat nampaknya USB type-C akan menjadi standar baru ke depannya. USB type-C ini menawarkan kelebihan pada data transfer rate yang jauh lebih tinggi dan juga kita bisa mencolokkan kabel USB type-C tanpa perlu khawatir terbalik. Ya memang kepala dari USB type-C ini mau dibolak-balik tetap sama koq, simetris, he.. he..

Bentuk dan dimensi dari Xiaomi Mi 4c sama persis dengan Xiaomi Mi 4i, hanya saja Mi 4c mempunyai bobot yang lebih berat sebanyak 3 gram saja. Kebetulan hari itu saya baru bertemu teman lama yang smartphone pegangannya adalah Xiaomi Mi 4i warna putih, jadi saat melakukan unboxing Xiaomi Mi 4c ini sudah tidak terlalu surprised lagi dengan bentuknya. Satu yang saya rasakan, warna dark grey dari Xiaomi Mi 4c yang saya miliki lebih keren dari warna putihnya Xiaomi Mi 4i. Ini menurut saya lho, ini seleraku, saya ga mengurusi perang selera ya, he.. he..

Tapi urusan jeroan, sama sekali tidak bisa disamakan antara Mi 4i dan Mi 4c. Xiaomi Mi 4c membawa jeroan ala flagship dari vendor lain. Processor Snapdragon 808 yang dimiliki Mi 4c juga digunakan untuk mempersenjatai LG G4, smartphone yang saat ini harga jualnya di Indonesia mencapai dua kali lipat dari Xiaomi Mi 4c, bahkan lebih.

Keanehan terjadi saat saya mencoba melakukan pengujian dengan Antutu Benchmark. Skor yang didapat hanya berkisar pada angka 35.000-an saja. Selain itu dalam pemakaian saya, baterainya hanya sanggup bertahan paling lama empat belas jam saja. Dan lagi, hape ini rasanya koq demam melulu ya, seperti demamnya anak muda dengan lagu Tetap dalam Jiwa-nya Isyana Sarasvati. Ah, lagi-lagi bikin review hape malah jadi baper nih, he.. he.. Tapi serius, Xiaomi Mi 4c ini selalu memberikan kehangatan kepada saya, bahkan di saat saya tidak membutuhkannya. Saat saya mendiskusikan hal ini kepada Kang Nico, sang admin dari @ObatGaptek, beliau menyarankan ganti ROM saja. Konon hal serupa juga terjadi pada Xiaomi Redmi Note 2 garansi distributor, katanya ini disebabkan ROM abal-abal tersebut banyak mengandung malware di dalamnya.

Akhirnya saya flash Developer ROM ke Xiaomi Mi 4c ini, dan hilanglah semua gejala meriang yang hape ini rasakan. Ajaib! He.. he..

Jadinya, proses review harus saya ulangi lagi dari sejak itu. Tapi yang pasti, sejak menggunakan Developer ROM resmi dari Xiaomi, saya jadi harus mencari lagi kehangatan yang hilang dari hidup saya, he.. he.. Baterai pun akhirnya sukses bertahan selama 24 jam penuh, yeay!

Kesan dari Penggunaan Xiaomi Mi 4c

Sudah seminggu Xiaomi Mi 4c ini saya gunakan. Rasanya seperti bulan madu terus deh, he.. he.. Saya yang memang lebih nyaman menggunakan hape berukuran kecil atau compact, benar-benar merasa ukuran Xiaomi Mi 4c ini pas dalam genggaman. Meskipun layarnya mempunyai bentang diagonal sebesar lima inch, ukuran keseluruhannya nyaris sama dengan Xiaomi Redmi 2 Prime yang layarnya berukuran 4.7 inch, bahkan Xiaomi Mi 4c punya kelebihan karena lebih tipis meskipun membawa kapasitas baterai yang lebih besar.

Layar Xiaomi Mi4c sangat vivid. Anda tahu warna merah pada aplikasi Path? Saya jamin jika Anda menggunakan Xiaomi Mi 4c untuk membuka aplikasi Path, maka Anda akan mengerti apa yang saya maksud. Ketajaman layarnya sudah sangat cukup, resolusi Full HD 1080p pada ukuran layar 5 inch menghasilkan kerapatan sebesar 441 PPI, jauh di atas klaim retina display yang diberikan Apple pada iPhone 4 dengan kerapatan 326 PPI.

Performa Xiaomi Mi 4c dalam penggunaan saya sangatlah memuaskan. Bagi saya yang jarang bermain game, perpindahan aplikasi yang tanpa lag sudah membuat saya puas terhadap suatu smartphone Android, dan Xiaomi Mi 4c mampu memenuhi tuntutan saya yang satu ini.

Dari sisi hardware, adanya USB type-C bisa dihitung sebagai kelebihan maupun kekurangan lho. Kelebihannya sudah saya sebutkan di atas ya, sementara kekurangannya adalah dengan port baru, maka kita tidak dapat menggunakan aksesori lama kita yang masih menggunakan ujung kepala micro-USB. Mau ngecharge, harus bawa kabel sendiri, ga bisa pinjem punya teman yang masih micro-USB. Mau colok OTG? Antara harus beli OTG Card Reader untuk type-C baru yang masih mahal, atau solusi lebih murahnya beli adapter micro-USB to USB type-C. That's the price you have to pay for being anti-mainstream, ha.. ha..

Oya, Xiaomi Mi 4c ini juga mempunyai port infra merah lho, jadi bisa digunakan sebagai remote control. Untuk padanan aplikasinya, silakan gunakan Mi Remote atau ZazaRemote ya.

Informasi Hardware Xiaomi Mi 4c

Berikut adalah informasi hardware yang ada pada Xiaomi Mi 4c, dilihat menggunakan bantuan aplikasi CPU-Z.




Hasil Benchmark Xiaomi Mi 4c

Dan ini adalah skor hasil pengujian menggunakan aplikasi Antutu Benchmark.

Xiaomi Mi 4c - Skor Antutu Benchmark

Xiaomi Mi 4c - Skor Antutu Benchmark


Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c

Hasil kamera Xiaomi Mi 4c, sebagaimana juga yang saya alami pada Xiaomi Redmi 2 Prime, membuat warna terasa hidup dan sangat keluar. Untungnya, masalah ketajaman yang kurang pada Xiaomi Redmi 2 Prime tidak saya temui pada Xiaomi Mi 4c. Satu kali, saya mengambil gambar pada keadaan cahaya redup, memang warna nampak kurang keluar dan agak pucat, tidak seperti saat cahaya cukup. Namun kemudian saya sadari, meskipun warnanya memucat, dalam keadaan cahaya redup pun hasil kamera Xiaomi Mi 4c sangat minim akan noise, wah superb!

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - Kondisi malam dengan cahaya sangat redup

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - Outdoor, siang hari, cahaya sangat cukup

Lebih banyak menulis kata nampaknya tidak akan banyak membantu ya, marilah sebaiknya kita lihat hasil nyatanya saja. Hasil lengkap gambar yang diambil menggunakan kamera tiga belas Megapixels milik Xiaomi Mi 4c saya post di artikel yang ini ya.

Kelebihan dan Kekurangan Xiaomi Mi 4c

Tiba pada saatnya memilah antara kelebihan dan kekurangan dari Xiaomi Mi 4c ini. Berikut daftar kelebihan dan kekurangan Xiaomi Mi 4c ala saya:

Kelebihan Xiaomi Mi 4c


  • Jeroan yang powerful dan terkini, di harga yang jauh dari level premium.
  • Ukuran compact, sangat pas dalam genggaman. (Tidak berlaku bagi yang menganut prinsip big is beautiful ya, he.. he..)
  • Layar vivid, jernih, dan tajam.
  • Kamera superb!
  • Baterai berkapasitas cukup besar, dapat mengakomodasi kegiatan sehari penuh.
  • Sudah terdapat port infra merah, dapat dijadikan remote control.
  • Dual-sim dengan kedua sim dapat bergantian mengakses jaringan 4G.
  • Mendukung Quickcharge (atau Fast Charging ya? he.. he..) silakan baca selengkapnya di artikel ini.
  • Sudah menggunakan USB type-C, data transfer lebih cepat, tidak salah colok walau dalam kegelapan. (Mohon gunakan pikiran bersih dalam menafsirkan anak kalimat yang terakhir ya, ha.. ha..)


Kekurangan Xiaomi Mi 4c


  • Tidak dijual resmi di Indonesia, garansi distributor tidak menjanjikan ketenangan hati.
  • ROM yang digunakan out of the box mengandung banyak malware, perlu diflash ulang.
  • Tidak adanya slot memori eksternal.
  • Desain yang sama persis dengan Mi 4i. Boring.
  • USB type-C, port baru artinya aksesoris baru (minimal adapter baru, untuk OTG pun harus beli adapter tambahan jadinya)


Kesimpulan

Di harga yang saat ini banyak ditawarkan oleh penjual, yaitu paling murah Rp 3.250.000,- untuk kombinasi RAM 2GB dan ROM 16GB, atau Rp 3.750.000,- untuk kombinasi RAM 3GB dan ROM 32 GB, rasa-rasanya inilah smartphone paling juara untuk urusan spesifikasi di atas kertas, maupun performa real-nya. Bagi Anda yang paham akan proses flash (yang sebetulnya sangat mudah, cukup download file ROM, tempatkan di memori hape, dan jalankan dari aplikasi Updater), dan tidak rewel soal garansi (dalam beberapa kasus, garansi distributor lebih baik dianggap BM saja), maka saya mempersilakan Anda untuk memiliki smartphone ini. Jika tidak, saran saya Anda dapat mencoba kembaran dari Xiaomi Mi 4c, yaitu Xiaomi Mi 4i yang dijual secara resmi di Indonesia. Bentuk sama, bahkan dalam beberapa hal seperti layar dan kamera juga identik, meskipun pasti performanya berbeda.

Tapi ya Anda dapat dengan mudah mengabaikan saran saya di atas jika Anda masih gengsi pakai hape Cina. He.. he.. The choice is yours! :)


Update:

Saya membeli lagi sebuah Xiaomi Mi 4c baru-baru ini dan melakukan flashing ROM ke CyanogenMod 13.1. Mau lihat tutorialnya, saksikan video berikut:


Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - Indonesia

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - Siang hari, cahaya cukup

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - Indoor, siang hari, cahaya cukup

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - Indoor, siang hari, cahaya cukup

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - Indoor, malam hari, cahaya lampu neon

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - siang hari, cahaya cukup

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - Indoor, malam hari, cahaya lampu neon

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - indoor, siang hari, cahaya cukup

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - indoor, sore hari, mati lampu :D

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - Indoor, malam hari, cahaya lampu neon

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - siang hari, cahaya cukup

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - siang hari, cahaya cukup

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - siang hari, cahaya cukup

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - malam hari, cahaya sangat redup

Hasil Kamera Xiaomi Mi 4c - Indoor, malam hari, cahaya lampu neon

Friday, November 13, 2015

Huawei P8 Lite, Alternatif Smartphone Keren di Harga Dua Jutaan


Awal ceritanya, saat itu saya sedang dilanda rasa bosan dan mulai mengantuk karena seharian berada di dalam ruangan pada sebuah acara workshop tentang digital marketing. Mencoba mengusir rasa kantuk, saya pun iseng membuka browser dan menuju salah satu marketplace untuk melihat-lihat daftar smartphone android yang dijual. Kebiasaan saya adalah selalu mengurutkan produk berdasarkan yang paling baru di-upload.

Mata saya tertuju pada sederetan smartphone yang nampaknya baru di-upload oleh Toko MTS, nampak semuanya diberi tag [Indocomtech] pada nama produknya. Memang saat itu beberapa hari menjelang digelarnya Indocomtech di Senayan, Jakarta. Dan dari semua jajaran smartphone tersebut, ada satu produk yang mencuri perhatian saya, Huawei P8 Lite. Selama ini saya belum pernah pakai smartphone keluaran Huawei, dan dulu sempat naksir berat dengan Huawei P6 yang akhirnya tak pernah kesampaian.

Karena tak tahu letak ATM di sekitar The Sunan Hotel Solo, sayapun membayar pesanan Huawei P8 Lite saya di blanja.com dengan menggunakan Mandiri Clickpay.

Hingga beberapa hari kemudian saya sudah kembali ke Bandung dan menantikan kiriman pesanan saya. Kebetulan hari Senin itu saya mengambil satu hari istirahat setelah lima hari berturut-turut meninggalkan rumah, dan sebuah panggilan dari nomor PSTN Jakarta pun menghampiri. Rupanya CS dari blanja.com yang menelepon, menginformasikan bahwa Huawei P8 Lite yang saya pesan sebetulnya baru akan dijual bersamaan dengan acara Indocomtech pada hari Rabu, dua hari dari saat itu.

Wah, dibatalin nih kayaknya, pikiran saya waktu itu. Memang jika dicek kembali di web blanja.com, sudah tidak ada satupun produk yang mempunyai tag Indocomtech tampil di daftar.

Namun, rupanya CS blanja.com memberitahukan bahwa pihak MTS sebagai seller memberikan dua opsi, yaitu dikirim pada hari Senin itu juga atau dikirim sesuai jadwal hari Rabu dan mendapatkan bonus perdana Simpati 4G dan voucher pulsa sebesar Rp 100.000,-.

Saya rasa kita semua sudah tahu pilihan mana yang saya ambil waktu itu kan? He... he... Ya siapa sih yang tidak mau dapat bonus, jadi saya putuskan untuk menunggu dua hari lebih lama waktu itu. Pada akhirnya, pesanan baru dikirimkan di hari Kamis, itupun setelah saya 'sundul' melalui fitur live support di blanja.com, he.. he..

Unboxing dan First Impression terhadap Huawei P8 Lite


Huawei P8 Lite - Kemasannya berkelas

Huawei P8 Lite - Dapat bonus :D

Huawei P8 Lite - Logo Huawei dicetak dengan tinta emas

Huawei P8 Lite - Keterangan di bawah kotak

Huawei P8 Lite - Keterangan di belakang kotak

Paket datang di hari Jumat, dan melihat kemasannya yang terlihat premium, rasanya tidak ada sedikitpun niat untuk menunda melakukan unboxing. Kotaknya terasa berkelas dan unik karena terkesan kotaknya hanya setengah, seperti kotak yang dibelah dua, he.. he.. Peletakan unit smartphone di dalam kotaknya pun lain dari biasanya, tidak diletakkan menengadah ke atas, melainkan dijepit di antara dua buah kotak kecil yang berisi accessories dan perkitaban.

Huawei P8 Lite - Unboxed

Huawei P8 Lite - Unit smartphone-nya dijepit di tengah dua kotak kecil

Huawei P8 Lite - Kotak accessories dan kotak kitab-kitab

Huawei P8 Lite - Kelengkapan dalam kotak
Huawei P8 Lite - Sudah dapat headset dengan desain ala Apple :D
Huawei P8 Lite - Kepala charger dengan tegangan 5v dan kuat arus 1A


Segera setelah saya keluarkan unit smartphone dari kotaknya, mata ini serasa menemukan pengganti Gista Putri keindahan pada sebuah smartphone yang sebelumnya saya tak percaya bisa didapatkan pada rentang harga dua jutaan. Bentuknya sangat elegan, tak satupun teman di kantor saya yang menolak ketika saya bilang smartphone ini asli keren banget!

Huawei P8 Lite - Bagian belakangnya masih dilapisi plastik pelindung

Huawei P8 Lite - Bagian belakang

Huawei P8 Lite - Bagian kanan penuh dengan tombol dan slot

Huawei P8 Lite - Bagian bawah, apakah keduanya merupakan loudspeaker?

Huawei P8 Lite - Bagian muka

Huawei P8 Lite - Bagian atas, port audio 3.5 mm dan noise cancellation mic

Huawei P8 Lite - Bagian cover belakang berpola brushed metal, keren!


Nampak sempurna dalam pandangan, ternyata feels di tangan tak dapat mengejar kesempurnaan yang sama. Meskipun terlihat mewah, namun saat saya genggam terasa penurunan atas kesan pertama yang saya rasakan tadi. Bukan, bahannya sama sekali tidak ada kesan murahan, bahkan Huawei sangat pintar membuat list sekeliling body yang sebetulnya berbahan plastik, disepuh sedemikian rupa sehingga nampak seperti brushed metal juga. Namun feels-nya di tangan sangat plasticky. Dengan berat sekitar 131 gram, Huawei P8 Lite terasa kokoh dalam genggaman, hanya saja penggunaan list chrome buat saya selalu menjadi deal-breaker apabila tidak benar-benar menggunakan bahan metal.

Backcover yang sangat cantik dari Huawei P8 Lite ini pun mempunyai pola brushed metal, elegan namun sayangnya gampang menyisakan sidik jari dan minyak.

Sisi kanan Huawei P8 Lite nampak penuh, ada volume rocker, tombol power, dan dua slot sim-card di sana. Tombol power Huawei P8 Lite merupakan salah satu yang paling nyaman yang pernah saya gunakan. Meskipun dengan bantuan fitur bawaan untuk menyalakan layar dengan dua buah ketukan, tombol power ini menjadi jarang digunakan.

Kebetulan saat saya melakukan unboxing Huawei P8 Lite, saya masih memegang unit Xiaomi Redmi 2 Prime, jadi saya bisa sandingkan kedua smartphone ini sebagai perbandingan. Oya, Redmi 2 Prime memiliki bentang diagonal layar sebesar 4,7 inch sementara Huawei P8 Lite sebesar 5 inch ya.

Huawei P8 Lite - versus Xiaomi Redmi 2 Prime

Huawei P8 Lite - ditindih oleh Xiaomi Redmi 2 Prime, nampak ukurannya tidak jauh berbeda

Huawei P8 Lite - versus Xiaomi Redmi 2 Prime, tampak samping

Huawei P8 Lite - lebih tipis dari Xiaomi Redmi 2 Prime

Penggunaan Huawei P8 Lite

Lanjut ke penggunaan dari smartphone ini, saat dinyalakan ternyata layar Huawei P8 Lite terasa teduh (atau redup ya? he.. he..), bahkan pada saat kecerahan diatur maksimal sekalipun. Warna putih yang dihasilkan layarnya agak kekuningan atau lazim disebut bernada warm. Nah, untuk yang satu ini, Huawei P8 Lite menyajikan menu untuk mengatur nada layar apakah mau diset lebih hangat (mengarah ke warna kekuningan) atau lebih dingin (lebih kebiruan).

Dengan ukuran 5 inch dan resolusi HD 720p, layar Huawei P8 Lite tampil tajam dan juga sangat responsif. Pada saat kondisi baru, layar Huawei P8 Lite sudah dipasangi lapisan pelindung layar berbahan mika atau plastik tipis. Bagi Anda yang baru memiliki smartphone ini, pastikan Anda sudah mendapat pelindung layar lain sebelum mencopot pelindung layar bawaan tersebut. Ini dikarenakan aksesoris untuk Huawei P8 Lite masih sangat sedikit dijual di sini. Saya pun terpaksa merogoh kocek agak dalam untuk membeli tempered glass-nya. Di beberapa online shop hanya tersedia  merk Nillkin seri H+ Anti Explosion yang dijual dengan harga sekitar Rp 160.000,- cukup mahal kan?

Beralih ke sisi tampilan UI, Huawei P8 Lite hadir dengan OS Android Lollipop 5.0.1 dengan kustomisasi tampilan besutan sendiri yang dinamakan EMUI (Emotion UI). EMUI membawa beberapa sentuhan cantik yang cukup berbeda dari Custom UI yang dibawa oleh vendor lain, antara lain notifikasi ditampilkan beserta waktu dari notifikasi tersebut. Tidak lupa notifikasi ini juga diurutkan sesuai waktu kemunculannya, sehingga nampak lebih teratur dan menurut saya ini cukup sederhana namun sangat membantu apabila kita cukup sering menerima notifikasi di smartphone. Entah apakah versi EMUI 3.1 ini sudah mendapat sentuhan dari Abigail Brody, yang merupakan mantan Creative Director di Apple yang kini menjadi Chief UX Designer di Huawei.



Hal lain yang saya suka dari EMUI adalah task switcher-nya. Saya adalah fans berat dari task switcher yang dimiliki oleh Sense UI yang ada pada jajaran smartphone HTC. Alih-alih layar aplikasi ditumpuk dalam bentuk accordeon ala Android Lollipop, Sense UI menampilkan layar aplikasi aktif dalam bentuk grid 3x3. Nah, EMUI juga melakukan hal yang sama, hanya saja grid-nya berukuran 2x2. Apabila aplikasi aktif berjumlah lebih dari empat buah, maka akan dibagi ke dalam beberapa halaman berisi grid 2x2 yang dapat digeser ke samping. Oh ya, task switcher seperti ini juga akan Anda temukan pada smartphone keluaran LG dan Acer.



Kamera Huawei P8 Lite cukup baik dalam proses pengambilan gambar, tanpa lag dalam setiap pengambilannya dan juga waktu fokus yang cepat. Namun untuk kualitas gambar yang dihasilkan, terutama pada saat cahaya redup, nampak warna kurang keluar dan mulai tampak noise. Bisa dibilang untuk urusan kamera, Huawei P8 Lite tidak istimewa. Scroll terus ke bawah ya untuk melihat hasil kameranya.

Yang istimewa justru dalam hal ketahanan baterainya. Meskipun memiliki baterai dengan kapasitas yang tidak besar, namun Huawei P8 Lite dalam penggunaan saya mampu bertahan selama 24 jam dengan Screen-On Time hampir tiga jam. Hal ini bisa dikatakan istimewa apabila mengingat kapasitas baterai yang disematkan hanyalah sebesar 2.200 mAh dan harus menghidupi processor octa-core dengan RAM 2GB dan layar 5 inch beresolusi 1.280 x 720 pixels. Oya, baterainya tidak dapat dilepas ya, karena memang Huawei P8 Lite ini menganut desain unibody.

Huawei P8 Lite - Baterai mampu bertahan selama 24 jam


Huawei P8 Lite - Screen-On Time selama hampir 3 jam

Beralih ke sisi audio, kualitas suara dari loudspeaker Huawei P8 Lite cukup baik, meskipun saat diatur dengan volume maksimal terasa ada noise atau suara pecah. Posisi loudpseaker yang berada di sisi bawah, bukan belakang, menjadi nilai lebih bagi smartphone ini. Sayangnya, meskipun grill di bagian bawah berjumlah dua buah, loudspeaker dari Huawei P8 Lite rupanya hanya sebelah saja, satu grill lagi digunakan untuk microphone.

Huawei P8 Lite - Dua buah grill, satu untuk speaker, dan satu untuk microphone

Satu yang saya sayangkan, sama seperti beberapa smartphone dual-sim lain, salah satu slot sim-nya bersifat hybrid yang artinya dipakainya harus bergantian dengan micro-SD. Dan lagi, Huawei P8 Lite ini tidak mampu membaca storage melalui USB On The Go, meskipun jika dilihat pada menu storage ada bagian USB Storage. Oh, ok jadi dua deh yang saya sayangkan ya, ha.. ha..



Performa Hardware dan Benchmark Huawei P8 Lite

Mesin pacu Kirin 620 buatan Huawei sendiri sejauh ini tidak menemui kendala. Dengan jumlah core delapan buah yang mempunyai clockspeed maksimal di 1,2 GHz, sejauh ini tidak ditemukan lag, meskipun terkadang body smartphone sedikit menghangat. Kondisi hangat beberapa kali saya temukan ketika menggunakan kamera. Namun tidak pernah sampai panas ya, biasanya hanya sedikit hangat di bagian backcover saja.

Sensor yang dibawa oleh Huawei P8 Lite ini cukup lengkap, bahkan ada NFC-nya segala. Untuk smartphone seharga dua jutaan, NFC adalah barang mewah untuk disematkan. Berikut hasil identifikasi hardware dan sensor Huawei P8 Lite menggunakan software CPU-Z dan Sensor Box for Android.




Sementara, hasil skor Antutu Benchmark untuk Huawei P8 Lite ada di bawah ini. Skornya cukup baik, kurang lebih setara dengan smartphone entry-to-middle level lainnya seperti Meizu M2 Note atau Infinix Zero 2.

Huawei P8 Lite - Skor Antutu Benchmark

Huawei P8 Lite - Skor Antutu Benchmark

Hasil Kamera Huawei P8 Lite.

Berikut saya sertakan hasil pengambilan gambar menggunakan kamera Huawei P8 Lite yang beresolusi 13 Megapixels, silakan Anda nilai sendiri ya.

Huawei P8 Lite - Hasil kamera, outdoor, cahaya cukup

Huawei P8 Lite - Hasil kamera, indoor, lampu neon

Huawei P8 Lite - Hasil kamera, indoor, lampu neon

Huawei P8 Lite - Hasil kamera, indoor, lampu neon

Huawei P8 Lite - Hasil kamera, malam hari, indoor, lampu neon

Huawei P8 Lite - Hasil kamera, indoor
Huawei P8 Lite - Hasil kamera, indoor, malam, neon redup

Huawei P8 Lite - Hasil kamera, indoor, lampu neon

Huawei P8 Lite - Hasil kamera, outdoor, cahaya sangat cukup. Bagus ya? :D

Huawei P8 Lite - Hasil kamera, indoor, cahaya cukup

Kesimpulan Akhir

Bagi saya, Huawei P8 Lite termasuk ke dalam kategori smartphone yang layak untuk dimiliki. Dengan harga jual Rp 2.699.000,-, Huawei P8 Lite menawarkan sesuatu yang berbeda dari smartphone Tiongkok yang sekarang membanjiri pasar tanah air. Kekuatan utama berada pada desainnya yang menawan. Sisi performa yang tanpa lag juga patut jadi nilai lebih dari Huawei P8 Lite, selain sensor yang cukup lengkap dan daya tahan baterai yang mumpuni.

Kekurangan yang terasa ada pada kualitas hasil kamera, serta bentuknya yang flat membuatnya kurang terasa ergonomis. Khusus untuk saya pribadi, list chrome yang terbuat dari plastik menjadi deal-breaker tersendiri. Saya lebih suka full plastic, atau metal sekalian. Karena list chrome sepuhan sangat mungkin untuk mengelupas seiring lamanya pemakaian.

Jadi, jika Anda bosan dengan smartphone asal Tiongkok yang itu-itu saja, karena dijual melalui flash sale di situ-situ juga, mungkin Huawei P8 Lite ini layak Anda pertimbangkan jika ingin tampil dengan smartphone yang anti-mainstream.