Gadget Promotions

Monday, February 15, 2016

Mini Review ZTE Blade A711 Indonesia, si Logam yang Jago Foto Makro



Tidak banyak cerita di balik pembelian ZTE Blade A711, saya simply membeli karena tertarik dengan iklannya yang menonjolkan bahan metal dengan sensor fingerprint.

"Kaya Redmi Note 3 dong!" gumam saya waktu itu. Bedanya, varian ZTE Blade A711 hanya tersedia versi RAM 2GB dengan memori internal 16GB, plus processor Qualcomm Snapdragon 615. Sisanya kebanyakan setara secara angka di atas kertas, misalkan ukuran layar 5,5 inci dengan resolusi Full HD.

Harganya yang hanya Rp1.999.000,- (meskipun marketing gimmick-nya menulis itu adalah harga promo dari harga normal yang sebesar Rp2.499.000,-) mungkin menjadi satu-satunya keunggulan ZTE Blade A711 dari Xiaomi Redmi Note 3.

Proses Unboxing ZTE Blade A711

ZTE Blade A711 - Kotak kemasan penjualan
ZTE Blade A711 - Kotak kemasan penjualan

ZTE Blade A711 - Kotak kemasan penjualan
ZTE Blade A711 - Kotak kemasan penjualan

ZTE Blade A711 - kepala charger dengan output 5v, 1A
ZTE Blade A711 - kepala charger dengan output 5v, 1A


Kemasan ZTE Blade A711 cukup berkelas dan menarik hati. Isi dalam kemasan sih standar saja, seperti smartphone terjangkau lainnya, tanpa headset. Berikut proses unboxing yang sempat saya rekam sembari iseng di meja kerja.



Hands-on dan First Impression ZTE Blade A711

Penampakan ZTE Blade A711 saya tangkap melalui beberapa foto berikut, sementara kesan pertama saya terhadap smartphone ini bisa dilihat pada videonya ya, belajar jadi anak Youtube nih, he.. he..

ZTE Blade A711 - sisi kiri terdapat slot sim-card
ZTE Blade A711 - sisi kiri terdapat slot sim-card

ZTE Blade A711 - sisi bawah terdapat mic dan port micro USB 2.0
ZTE Blade A711 - sisi bawah terdapat mic dan port micro USB 2.0

ZTE Blade A711 - sisi kanan terdapat tombol power dan volume rocker
ZTE Blade A711 - sisi kanan terdapat tombol power dan volume rocker

ZTE Blade A711 - sisi atas terdapat noise cancellation mic dan port audio 3.5 mm
ZTE Blade A711 - sisi atas terdapat noise cancellation mic dan port audio 3.5 mm

ZTE Blade A711 - tombol kapasitif yang dapat ditukar fungsinya (back dan menu)
ZTE Blade A711 - tombol kapasitif yang dapat ditukar fungsinya (back dan menu) dan berfungsi sebagai LED Notification

ZTE Blade A711 - di bagian atas terdapat kamera depan dan sensor light & proximity
ZTE Blade A711 - di bagian atas terdapat kamera depan dan sensor light & proximity

ZTE Blade A711 - loudspeaker terdapat di belakang di bawah logo ZTE
ZTE Blade A711 - loudspeaker terdapat di belakang di bawah logo ZTE

ZTE Blade A711 - pertunjukan utama, kamera 13 Megapixels, LED Flash, sensor fingerprint
ZTE Blade A711 - pertunjukan utama, kamera 13 Megapixels, LED Flash, sensor fingerprint

ZTE Blade A711 - dari salah satu sudut
ZTE Blade A711 - dari salah satu sudut

ZTE Blade A711 - tampak belakang
ZTE Blade A711 - tampak belakang


ZTE Blade A711 dalam penggunaan sehari-hari

Pada waktu itu saya mencoba tiga buah smartphone Android secara bersamaan. Selain ZTE Blade A711, pada saat yang sama saya juga menguji pakai Hisense Pureshot dan Infinix Note 2.

Di antara ketiganya, ZTE Blade A711 unggul dalam dua hal: hasil kamera dan suhu body saat digunakan bermain game Hitman: Sniper yang saya beli berkat promo diskon di PlayStore. Ya, di antara yang lain, ZTE Blade A711 ini lebih mampu menyajikan game dengan hangat, literally, haha..

Secara performa, saya tidak merasakan perbedaan signifikan antara ketiga smartphone yang sama-sama dibekali RAM sebesar 2 GB tersebut. Wajar, mengingat Hisense Pureshot yang menggunakan Snapdragon 415 dan Infinix Note 2 yang menggunakan Mediatek MT6753 hanya punya kewajiban menghidupi layar dengan resolusi HD 720p saja, sementara Snapdragon 615 pada ZTE Blade A711 harus menanggung beban resolusi layar Full HD 1080p.

ZTE Blade A711 - saat menyala layarnya tidak penuh, bezelnya tebal
ZTE Blade A711 - saat menyala layarnya tidak penuh, bezelnya tebal


Berlanjut ke urusan layar, saya sendiri tidak merasa ada yang istimewa dengan layar ZTE Blade A711. Bahkan jika mengikuti perasaan, saya koq merasa ada yang sedikit aneh dengan respon sentuhan pada layar ZTE Blade A711. Rasa anehnya memang ga signifikan sih, dan sempat membaik pasca update manual ROM yang saya lakukan.

Oh ya, pada saat akan menyalin berkas update ROM, akhirnya ZTE Blade A711 saya mengalami juga layar blank, sebagaimana yang banyak dikeluhkan pengguna lainnya. Padahal sebelumnya tidak pernah lho, dan Alhamdulillah pasca update ROM pun masalah itu tak muncul lagi.

Skor Antutu Benchmark ZTE Blade A711

ZTE Blade A711 - skor Antutu Benchmark
ZTE Blade A711 - skor Antutu Benchmark

Hardware dan Sensor pada ZTE Blade A711



ZTE Blade A711 - Sensor Box for Android
ZTE Blade A711 - Sensor Box for Android

Hasil Kamera ZTE Blade A711

Saya sudah siapkan artikel khusus tentang hasil kamera ZTE Blade A711, saya sarankan Anda mengeceknya karena hasilnya cukup menakjubkan di mata saya, termasuk beberapa foto yang dihasilkan melalui mode manual. Makro-nya juara! Cek di sini ya!

Plus dan Minus ZTE Blade A711

Kelebihan ZTE Blade A711 adalah:


  • Harga terjangkau untuk spesifikasi yang lumayan lengkap
  • Hasil kamera, terutama mode manual sangat baik di kelasnya
  • Fitur sidik jari dapat diatur berbeda untuk masing-masing jari


Kekurangan ZTE Blade A711 adalah:


  • Kustomisasi UI yang kentang banget
  • Bezel tipuan di sekeliling layar
  • Body metalnya terasa tidak cukup solid dan licin
  • Sering gampang panas
  • Ukuran sensor fingerprint agak kekecilan, akibatnya tingkat kegagalan cukup sering
  • Perlu setting khusus agar bisa konek ke jaringan 4G milik XL
  • Slot microSD yang makan temen, alias hybrid dengan slot sim-card kedua
  • Mengakses recent apps perlu menahan lama salah satu tombol kapasitif


Apa Kata Aa tentang ZTE Blade A711

Jika Anda terpaku pada budget 2 juta Rupiah, tapi sudah ingin tampil keren (dari jauh), dan terlihat canggih dan sok secure pakai sensor fingerprint, ZTE Blade A711 rasa-rasanya belum punya saingan kuat.


ZTE Blade A711 - si licin
ZTE Blade A711 - si licin


Selain itu, saya sangat takjub dengan fotografi makro yang saya lakukan dengan ZTE Blade A711. Surprisingly kamera manualnya menjadi salah satu yang terbaik yang pernah saya coba. Bahkan yang terhebat untuk smartphone dengan harga jual 2 juta Rupiah ke bawah.

Sisanya, ZTE Blade A711 ini takkan mampu bersaing mendapatkan hati saya, hehe... Body yang licin lagi besar, bezel di sekeliling layar yang lebar, serta konfigurasi tombol kapasitifnya membuat lelah saat ingin membuka recent apps.

Bahkan, pasca penggunaan ZTE Blade A711 ini, jika saya melihat beberapa smartphone Tiongkok yang baru dirilis, dan juga menonjolkan body metal dan sensor fingerprint, saya seringkali merasa sedang mengalami mimpi buruk. He.. he.. he..

Entah kenapa, setelah dua kali menggunakan smartphone body metal berukuran besar, Xiaomi Redmi Note 3 dan ZTE Blade A711, saya merasa perlu berhenti dulu menggunakannya. Kebetulan kedua-duanya licin di tangan, membuat saya harus ekstra hati-hati saat memegangnya, dan ini membuat saya tidak merasa nyaman. Tapi nanti saya mau coba ah Xiaomi Redmi 3, apakah mungkin body metal akan terasa lebih nyaman saat layarnya hanya berukuran 5 inci? Kita lihat saja.

Saturday, February 13, 2016

Full Review Lenovo Vibe S1, Sang Selfie Maker


Pada tulisan kali ini, Anda mungkin akan menemukan sesuatu yang berbeda dari gaya penulisan saya sebelumnya. Apakah itu? Saya tidak akan menjawabnya, bacalah sampai akhir ya, biar tahu, tahu bulet, lima ratusan, digoreng di mobil. Halah, ha.. ha.. ha..

Ternyata Lenovo tidak asal klaim saat membubuhkan jargon Selfie Maker kepada salah satu smartphone keluaran terbaru mereka, Lenovo Vibe S1. Kamera depannya mampu menghasilkan foto selfie yang sangat jernih. Sementara konfigurasi dual front camera-nya (8 Megapixels + 2 Megapixels) berguna untuk memodifikasi hasil selfie sehingga latar belakang dapat dibuat blur atau dihilangkan untuk diganti dengan latar lain.

Penasaran dengan hasil selfie Lenovo Vibe S1? Cek artikel yang satu ini ya, saya sudah upload hasil foto kamera Lenovo Vibe S1 baik menggunakan kamera depan maupun kamera utamanya yang berresolusi 13 Megapixels.

Desain Body Lenovo Vibe S1

It's all about beauty. Smartphone ini secara mengejutkan tampil begitu menawan pada kondisi nyata. Saya menulis demikian karena foto-foto produk Lenovo Vibe S1 di berbagai marketplace sama sekali tidak terlihat menarik.

Tapi pada kenyataannya? Setiap sudutnya sangat menunjukkan citarasa desain smartphone kelas atas. Sampai saya yakin banyak orang takkan menyangka ini adalah smartphone dengan merk Lenovo, sebuah merk global asli Tiongkok. Rasanya garis desain Lenovo Vibe S1 lebih identik dengan yang biasa hadir pada smartphone keluaran Samsung, Apple, dan Motorola. Nama terakhir ini nampaknya yang membuat misteri indahnya desain Lenovo Vibe S1 sedikit lebih masuk nalar.

Ya, saya yakin Lenovo Vibe S1 adalah hasil campur tangan Motorola Mobility yang beberapa waktu lalu diakuisisi Lenovo dari tangan Google. Anda lihat saja beberapa penampakannya berikut ini.

Lenovo Vibe S1 -
Lenovo Vibe S1 - dari sudut terindahnya

Lenovo Vibe S1 - tampak belakang
Lenovo Vibe S1 - tampak belakang

Lenovo Vibe S1 - sisi bawah
Lenovo Vibe S1 - sisi bawah: lubang microfon, micro USB 2.0, lubang speaker

Lenovo Vibe S1 - sisi kiri, hanya terdapat slot dual sim card
Lenovo Vibe S1 - sisi kiri, hanya terdapat slot dual sim card

Lenovo Vibe S1 - sisi atas: noise cancellation mic dan port audio 3.5 mm
Lenovo Vibe S1 - sisi atas: noise cancellation mic dan port audio 3.5 mm

Lenovo Vibe S1 - sisi kanan: tombol power dan volume rocker
Lenovo Vibe S1 - sisi kanan: tombol power dan volume rocker

Spesifikasi Jeroan Lenovo Vibe S1

Spesifikasi dapur pacunya ternyata tidak dilupakan. Processor octacore 64-bit besutan Mediatek, MT6752 ditemani oleh lapangnya RAM sebesar 3 GB dan kapasitas memory internal 32 GB.





Sebuah catatan khusus bagi saya, processor Mediatek MT6752 pernah memuaskan saya saat disandingkan pada Meizu M1 Note. Performa MT6752 kala itu sangat lancar, lebih lancar dari Cinta Laura berbahasa Indonesia, ha.. ha.. Selain itu konsumsi baterainya tidaklah rakus, buktinya dulu Meizu M1 Note saya mampu bertahan lebih lama dari rasa kangen ini satu hari penuh.

Pastinya juga bukan tanpa sebab Sony mempertahankan MT6752 ketika mengeluarkan penerus dari Xperia C4. Ya, Sony Xperia C4 dan Sony Xperia C5 Ultra sama-sama menggunakan processor ini. Sampai saat ini saya masih menahan hasrat untuk mencoba Sony Xperia C5 Ultra, harganya masih belum bersahabat di kantong euy, hehe...

Performa Lenovo Vibe S1

Kembali ke Lenovo Vibe S1, ada dua hal yang perlu kita uji dengan konfigurasi MT6752 - RAM 3GB - Layar 5 inci Full HD sehubungan dengan performa nyatanya, karena jika melihat angka-angka di atas kertas nampaknya cukup menjanjikan.

1. Hasil Uji Benchmark Sintetis Lenovo Vibe S1 dengan Antutu Benchmark.

Skor Antutu Benchmark Lenovo Vibe S1 berada di atas Meizu M1 Note. RAM yang lebih besar saya yakini jadi faktor pembeda. Hingga titik ini, MT6752 masih jadi jaminan performa buat saya. Sayang sekali processor penerusnya, MT6753 yang banyak sekali digunakan di smartphone yang saat ini beredar di Indonesia (Meizu M2 Note, Alcatel Flash 2, Infinix Zero 2, Infinix Note 2, AccessGo GoTune 5, dll), malah terasa sebagai sebuah degradasi, bukan perbaikan.

Lenovo Vibe S1 - Skor Antutu Benchmark
Lenovo Vibe S1 - Skor Antutu Benchmark

2. Daya Tahan Baterai Lenovo Vibe S1

Ada tiga kondisi berbeda saat saya mengukur daya tahan baterai Lenovo Vibe S1:

Kondisi 1: Umur masih hitungan hari, masih sering-seringnya dipakai.


Saat punya hape baru, biasanya saya banyak install aplikasi, coba menu sana-sini. Alhasil dalam waktu 13 jam saja baterai sudah kepayahan.

Kondisi 2: Umur sudah hitungan minggu, pemakaian normal.


Masa bulan madu sudah lewat, hape mulai jarang dijamah haha... Tapi mampu tembus 24 jam dengan Screen On Time 3,5 jam adalah prestasi mengingat layar sudah Full HD 1080p, RAM besar (3 GB), sementara baterai hanya 2.420 mAh.

Kondisi 3: Umur sudah hitungan minggu, sudah tahu ada fitur Ultimate Power Saver.


17 jam dipakai, dan sisa baterainya masih lebih dari setengah. MT6752 benar-benar cocok buat saya nampaknya. Selanjutnya dapat dilihat prestasi terjauhnya adalah 1 hari dan 10 jam (OK, kurang 3 menit sih haha). Nah prestasi ini saya capai setelah mengaktifkan fitur di bawah ini:


Lenovo Vibe S1 mempunyai fitur Ultimate Power Saver yang membantu menghemat daya tanpa membuat smartphone ini mengalami delay saat menerima notifikasi.

Apa Kata Aa tentang Lenovo Vibe S1

Bagian ini sudah berada pada domain selera, dan penuh subjektifitas ya. Jangan heran kalau isinya mungkin tidak sesuai dengan keinginan Anda.

Hasil pemakaian Lenovo selama satu bulanan saya rasa cukup memuaskan. Sayangnya level harga yang sudah masuk kelas premium ala Lenovo tidak tercermin dalam beberapa hal berikut ini:

  • Sensor banyak disunat. Konfigurasi sensor seperti ini bisa Anda temukan pada Infinix Note 2, tapi wajib diingat harga resmi Infinix Note 2 tak sampai setengah dari harga resmi Lenovo Vibe S1.
  • Lenovo Vibe S1 - Sensor
    Lenovo Vibe S1 - Sensor

  • Tombol kapasitif tanpa lampu latar alias backlight. Ini tentu bisa ditolerir pada Lenovo A6000, tapi perlu diingat lagi bahwa Lenovo A6000 harganya 1,6 jutaan, bukan 4 juta kurang seribu seperti halnya Lenovo Vibe S1.
  • Lenovo Vibe S1 - tombol kapasitif tanpa lampu latar
    Lenovo Vibe S1 - tombol kapasitif tanpa lampu latar

  • Tidak ada LED Notification. Sampai titik ini  saya sungguh bingung koq ada smartphone semahal ini dengan banyak penyunatan begini.
  • Tidak disertakannya headset dalam paket penjualan. Meskipun sama seperti smartphone keluaran Lenovo lainnya yang juga menyertakan pelindung layar dan hardcase, namun saya berharap ada headset juga untuk harga segini sih.

Lenovo Vibe S1 - kotak kemasan memanjang dan stylish
Lenovo Vibe S1 - kotak kemasan memanjang dan stylish

Lenovo Vibe S1 - belakang kotak
Lenovo Vibe S1 - belakang kotak

Lenovo Vibe S1 - box
Lenovo Vibe S1 - box

Lenovo Vibe S1 - box
Lenovo Vibe S1 - box

Lenovo Vibe S1 - kelengkapan dalam kotak penjualan
Lenovo Vibe S1 - kelengkapan dalam kotak penjualan

Lenovo Vibe S1 - kepala charger dengan output 5v 1.5 A
Lenovo Vibe S1 - kepala charger dengan output 5v 1.5 A

Buat Anda yang tidak punya masalah dengan budget, mementingkan looks dari sebuah smartphone, dan tentunya penggila selfie, smartphone ini bisa jadi alternatif di saat Anda bosan dengan produk Samsung tapi belum bisa move on ke perangkat apel kroak. Penggemar Motorola juga bisa sedikit melampiaskan rindunya melalui Lenovo Vibe S1, karena menurut saya smartphone ini memiliki cukup banyak kemiripan desain dengan Moto X 2014.

Buat yang mementingkan value berbanding price (harga jual), absennya banyak sensor pada Lenovo Vibe S1 nampaknya akan menjadi deal breaker bagi Anda.

Saran saya, jika memang kebelet ingin memiliki smartphone ini, carilah diskon besar. Saya masih menganggap Rp 3.999.000 masih overpriced untuk Lenovo Vibe S1. Terbukti dengan harga jual kembalinya yang jatuh sekali. Di kaskus ada beberapa yang menjual Lenovo Vibe S1 kondisi tilas tapi raos (bekas tapi mulus) di kisaran 3,1 juta dan masih menerima nego.

Berikut ini ada promo diskon yang untuk ukuran saat ini rasanya cukup nampol (hape saya selanjutnya dibeli menggunakan promo ini, hehehe).



Pantas atau tidaknya Lenovo Vibe S1 ini dimiliki, pastinya saya kembalikan kepada masing-masing, karena selera dan kebutuhan orang bisa berbeda.

Buktinya cukup nyata, saya termasuk pengguna yang cukup dipuaskan. Bahkan seandainya tidak bertemu dengan HTC One E8, mungkin Lenovo Vibe S1 ini akan menjadi hape utama saya.
Namun, selidik punya selidik, rekan milis yang membeli unit ex-review dari saya ternyata saat ini malah sudah mengiklankan kembali Lenovo Vibe S1-nya.

Ya ini buktinya bahwa results may vary, people are unique. He.. he.. he..

Sebagai penutup, saya tampilkan kembali video unboxing dan first impression saya terhadap Lenovo Vibe S1 ini.


Monday, February 8, 2016

Review HTC One E8, Impian Lama yang Terwujud Nyata

Review HTC One E8 - www.gontagantihape.com


Beberapa waktu lalu, saya dikejutkan dengan munculnya HTC One E8 versi garansi distributor di salah satu marketplace langganan. Namun harga yang belum cukup menarik, serta masih merasa nyaman dengan sang mantan performa Lenovo VIBE S1, menjadi dua alasan utama saya untuk belum tergerak meminang smartphone yang harga resminya saat dirilis di Indonesia mencapai angka tujuh setengah juta Rupiah itu.

Hingga pada satu hari, saya menemukan beberapa seller lain turut menjual produk ini di Elevenia. Tak tanggung-tanggung, tiga seller sekaligus memasang harga yang sama untuk HTC One E8 versi garansi ditsributor. Harga yang apabila saya terapkan voucher diskon, menghasilkan total yang harus dibayar sebesar Rp 3.074.000,- saja.

Pengecekan berlanjut kepada data ketiga seller. Ini adalah hal yang wajib dilakukan saat hendak membeli barang secara online. Selalu lihat reputasi sang penjual! Naga-naganya ketiga seller ini memang berada dalam satu bendera yang sama, ini terlihat dari alamat pengiriman yang persis sama. iPhone Cellular, Apple Cellular, dan Lexashop, sama-sama menggunakan sebuah alamat pengiriman dari daerah Cideng, Jakarta Barat, dekat ITC Roxy Mas. Saya perhatikan sudah ada beberapa ulasan positif untuk produk yang mereka jual, kebanyakan sih smartphone garansi distributor. Kalau tidak iPhone seri lama, maka seri-seri smartphone keluaran Xiaomi-lah yang nampak sudah mendapatkan ulasan dari pembeli. Dalam pencarian lebih lanjut, saya temukan Lexashop juga menjual HTC One E8 ini di Lazada, bagi Anda yang lebih suka berbelanja di sana, silakan klik link ini.

Tugas selanjutnya adalah memilih pasangan hidup warna. Total ada empat pilihan warna yang kesemuanya menarik hati. Ada pilihan warna putih dan merah untuk bahan glossy, serta abu tua dan biru untuk yang mempunyai sentuhan akhir doff. Pilihan ini malah lebih banyak dibandingkan dengan pilihan warna yang terdapat pada HTC One E8 garansi resmi yang hanya sebatas putih dan abu tua. Setelah berkutat dengan Google Images, saya putuskan untuk mengambil warna biru. Kombinasi biru tua pada body, dengan aksen biru neon metalik pada sekitar lensa kamera dan LED flash, membuat bagian belakang HTC One E8 ini terlihat super catchy.

Oh ya, kelak ada satu hal lagi yang justru takkan Anda temukan pada HTC One E8 garansi resmi. Apakah itu? Pastikan saja Anda membaca tulisan ini hingga tuntas ya, biar tidak menyesal. 

Warna sudah saya tetapkan. Tinggal memilih mau beli dari seller yang mana. Satu-persatu saya cek bagian tanya jawabnya, nampak sudah ada yang mempertanyakan spesifikasinya. Dual-sim apa tidak, refurbished atau bukan, garansi mana, hingga kenapa harga bisa semurah itu. Dari kompilasi jawaban yang diberikan seller, didapat informasi bahwa HTC One E8 ini aslinya garansi Singapore, di-backup dengan garansi distributor lokal, dual-sim, BNIB, dan bisa murah karena seller mengaku sebagai distributor langsung.

Pesanan pun dilakukan kepada iPhone Celluler karena seller ini yang memberikan opsi memilih warna via sistem Elevenia (bukan via catatan pembelian). Pembayaran kali ini lagi-lagi menggunakan Mandiri Clickpay. Sebelumnya sempat saya pilih pembayaran via ATM, mengamankan stok selagi menunggu jandanya Gista Putri galau di hati hilang. Tak lupa saya mengirimkan pesan kepada seller agar segera diproses pengirimannya.

Pesanan kemudian datang dua hari berselang. Ini adalah saatnya mengecek apakah barangnya refurbished atau bukan. Satu kekhawatiran hilang, karena tadinya saya cukup deg-degan ketika memutuskan membayar pesanan ini. Saya takut ini adalah seller abal-abal yang seringkali tidak mengirimkan pesanan pembelinya. Sampai pada tahap ini, bisa dikatakan seller memang benar niat berjualan.

Unboxing HTC One E8 Garansi Distributor Indonesia

Dari penampilan kemasannya sih meyakinkan. Isi di dalam kotak pun benar terasa baru. Hanya ada dua yang tak saya dapatkan, kartu garansi dan buku petunjuk penggunaan asli milik HTC. Jika benar pengakuan seller bahwa ini adalah garansi Singapore, seharusnya ada kartu garansi HTC berbahasa Inggris dalam paket penjualan. Namun, kenyataannya saya hanya dapat menemukan kartu garansi Platinum supported by Bless, pemain lama di dunia Blackberry dan iPhone garansi distributor.

Review HTC One E8 - www.gontagantihape.com
Kemasan HTC One E8

Review HTC One E8 - www.gontagantihape.com
Kemasan HTC One E8 - tampak belakang

Review HTC One E8 - www.gontagantihape.com
Kemasan HTC One E8 - segel garansi?


Setelah mengecek kelengkapan dalam paket penjualan, tak sabar saya pun segera menyalakan HTC One E8 ini untuk pertama kali. Sungguh terasa seperti menyingkap kenangan lama yang sangat dirindukan. FYI, sebelumnya saya adalah pengguna setia beberapa seri smartphone keluaran HTC, mulai dari HTC Chacha, Evo 3D, One X, Desire 616, hingga One M7.

Review HTC One E8 - www.gontagantihape.com
Kartu garansi BLESS pada HTC One E8

Review HTC One E8 - www.gontagantihape.com
Tidak ada buku manual, hanya ada dua kertas ini. Salah satunya adalah sim-ejector

Review HTC One E8 - www.gontagantihape.com
Charger HTC One E8, output 5V 1A, dengan colokan gepeng.

Review HTC One E8 - www.gontagantihape.com
Kabel USB HTC One E8

Review HTC One E8 - www.gontagantihape.com
Headset bawaan HTC One E8


Saking tak sabarnya, saya bahkan rela tidak membuat video unboxing dari smartphone yang satu ini.

Begitu menyala, saya segera melakukan cek update OTA. Alhamdulillah, ada update kecil. Meskipun kecil namun sangat cukup untuk membuktikan bahwa ini bukan barang abal-abal atau supercopy. Hingga titik ini, saya berani memastikan bahwa HTC One E8 garansi distributor ini betul-betul asli produk HTC (bukan supercopy, selanjutnya saat saya cek IMEI memang benar terdaftar untuk HTC One E8 Asia), dan bukan hasil rekondisi.



Hanya saja, proses rebooting setelah update selesai dilakukan terasa lama. Mungkin memang untuk mendapatkan apa yang benar-benar kita cintai, selalu butuh penantian dalam waktu yang lama. Sekarang saya mengerti kenapa sampai ada yang bikin lagu Kutunggu Jandamu, ha.. ha.. Okelah, Gista, Aa akan selalu menunggumu. Jangan lupa aja ya pakai krim anti-aging, takutnya nunggunya sampai Gista punya cucu, hiks. Paragraf yang amat sangat tidak penting nih, terimakasih sudah menyempatkan membacanya, ha.. ha..

Hands-on dan First Impression pada HTC One E8 Garansi Distributor Indonesia

Kesan pertama saat menggunakan produk jajaran teratas HTC lagi, terasa sungguh memuaskan. Kita bahas per-bagian saja ya.

HTC One E8 - bagian atas
HTC One E8 - bagian atas

HTC One E8 - bagian kanan
HTC One E8 - bagian kanan

HTC One E8 - bagian bawah
HTC One E8 - bagian bawah

HTC One E8 - bagian kiri
HTC One E8 - bagian kiri

HTC One E8 - bagian belakang, keren!
HTC One E8 - bagian belakang, keren!
HTC One E8 - speaker di bawah layar menjadi pembeda
HTC One E8 - speaker di bawah layar menjadi pembeda

HTC One E8 - tampak keseluruhan
HTC One E8 - tampak keseluruhan

HTC One E8 - aksen biru neon pada logo HTC, dan logo NFC
HTC One E8 - aksen biru neon pada logo HTC, dan logo NFC


Dimulai dari body HTC One E8. Meskipun terbilang cukup tebal karena mengakomodasi bentuk dual curve pada bagian belakangnya, namun sensasi yang dihasilkannya pada genggaman tangan terasa istimewa. Ergonomis! Beberapa level lebih baik daripada tingkat keergonomisan HTC One M7 dulu. Bahan polikarbonat yang digunakan mampu memberikan kesan yang jauh dari murahan, meskipun pada dasarnya bahan ini tetap plastik. Warna birunya mampu membuat smartphone ini terlihat seperti berbahan metal. Sayangnya, meski bertekstur doff, namun bekas minyak acapkali masih terlihat nangkring pada bagian belakang smartphone ini.

HTC One E8 - layar berkualitas tinggi
HTC One E8 - layar berkualitas tinggi


Lanjut ke bagian layar, terlihat begitu vivid, sedikit mengingatkan kepada Xiaomi Mi 4c. Dari dulu HTC selalu menggunakan layar yang dinamai Super LCD, di HTC One E8 ini sudah menggunakan generasi ketiga dari layar tersebut. HTC tidak latah menggunakan layar IPS seperti kebanyakan produsen smartphone lainnya. Layar HTC One E8 mampu beroperasi dengan kontras yang baik pada kondisi pemakaian di luar ruangan dengan sinar matahari yang terik.

HTC One E8 - speaker bagian atas
HTC One E8 - speaker bagian atas

HTC One E8 - speaker bagian bawah
HTC One E8 - speaker bagian bawah


Perhatian lebih perlu Anda berikan pada masalah suara yang dihasilkan oleh HTC One E8. Teknologi BoomSound yang dibawanya terdengar menggelegar tanpa tipu-tipu. Kenapa saya bilang demikian? Karena HTC One E8 benar-benar membawa speaker stereo melalui dua set speaker grille yang berada di atas dan bawah layarnya. Dalam beberapa review terakhir saya, sering kita temukan speaker grille yang hanya berfungsi sebagai lubang microfon, atau malah berupa aksesoris semata. Nah, untuk urusan yang satu ini, HTC One E8 mampu mengungguli semua smartphone yang pernah saya tulis ulasannya di blog ini.

Beralih ke performa user interface, smooth adalah kata yang tepat untuk mewakilinya. Jika dibandingkan dengan dua smartphone saya sebelumnya yang juga diotaki oleh Qualcomm Snapdragon 801, maka HTC One E8 ini performanya setingkat dengan Motorola Moto X 2014, dan di atas ASUS Padfone S, namun skor Antutu Benchmark-nya jadi yang paling tinggi dari ketiganya.

Kustomisasi UI ala HTC Sense 6 mampu memberikan sentuhan berbeda pada tampilan Android Lollipop 5.0.2 yang digunakan HTC One E8. Rasanya pas aja gitu, esensinya dapat, tidak berlebih, apalagi sampai memberatkan RAM. Jumlah aplikasi yang dapat dikategorikan sebagai bloatware rasanya masih masuk akal, tidak seperti ASUS yang kelewat rajin membuatkan aplikasi pada smartphone keluaran mereka, he.. he..

Satu hal yang selalu saya sukai dari HTC Sense adalah Task Switcher atau Recent Apps-nya yang dapat ditampilkan dalam bentuk Grid View 3x3. Pilihan Card View ala Android Lollipop dapat Anda pilih pada menu Setting.



Ada satu hal yang khas dari sebuah smartphone flagship yang dibekali processor paling mumpuni pada jamannya seperti HTC One E8 ini. Smartphone flagship selalu dilengkapi fitur yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup para jomblo.

Pertama, jomblo yang memiliki smartphone flagship tentu saja terlihat lebih keren dan pede untuk mencari mangsa.

Kedua, buat yang jomblo dan percaya dirinya tidak terbantu dengan menenteng sebuah smartphone flagship, paling tidak HTC One E8 bisa membantu menghadirkan kehangatan dalam kehidupan mereka. Cukup dipakai bermain game puzzle selama 5 menit, maka para jomblo sudah bisa mendapatkan kehangatan yang pernah hilang dari hidup mereka. If you know what I mean, ha.. ha.. ha..

Satu saran saya, sehabis dipakai bermain game maka jangan langsung dimasukkan ke saku atau kantong celana. Dijamin Anda akan merasakan sensasi seperti ngompol di celana, karena ada sesuatu yang hangat terasa di sekitar pangkal paha, ha.. ha.. ha..

Sebetulnya saya sudah enggan memakai perangkat dengan processor Snapdragon 801. Bukan karena masalah performanya, cuma arsitekturnya saja yang sudah agak ketinggalan zaman. Masih 32-bit gitu lho.

Tapi demi HTC One E8, saya buat pengecualian deh. Asal Anda tahu saja, sebelumnya sudah dua kali saya mencoba menabung guna membeli smartphone yang satu ini, namun selalu setiap uang sudah terkumpul, hati ini berbalik pikir, sayang rasanya menggelontorkan lebih dari enam juta rupiah untuk sebuah smartphone pada waktu itu.

Kali ini, saya telan ludah saya soal Snapdragon 801. Biarlah arsitekturnya masih 32-bit, yang penting mimpi lama saya terwujud. Toh selama RAM-nya masih tak lebih dari 3 GB, arsitektur 32-bit masih mampu mengoptimalkan penggunaan RAM. Lain cerita kalau RAM 4 GB diotaki oleh processor 32-bit, karena arsitektur 32-bit hanya mampu mengelola alamat physical address di memory hingga sekitar 3,5 GB saja.

Hasil Uji Hardware, Sensor, dan Benchmark HTC One E8

Info hardware dihasilkan via aplikasi CPU-Z, sementara info sensor dihasilkan menggunakan software Sensor Box for Android dan hasil benchmark sintetis menggunakan Antutu Benchmark serta Antutu Benchmark 3D disajikan pada gambar di bawah ini.

HTC One E8 - skor Antutu Benchmark
HTC One E8 - skor Antutu Benchmark

HTC One E8 - skor Antutu Benchmark

HTC One E8 - Sensor Box for Android
HTC One E8 - Sensor Box for Android

HTC One E8 - info hardware via CPU-Z
HTC One E8 - info hardware via CPU-Z


HTC One E8 - info hardware via CPU-ZHTC One E8 - info hardware via CPU-Z



Performa HTC One E8 dalam penggunaan sehari-hari masih sangat mumpuni. Meskipun sering menghasilkan suhu berlebih, performanya dalam multitasking banyak aplikasi maupun bermain game dapat diandalkan. Kali ini, urusan baterai saya tidak khususkan mengukurnya dikarenakan tampilan battery usage pada HTC Sense kurang dapat menunjukkan berapa lama waktu penggunaan, termasuk Screen-On Time. Namun, dalam pemakaian ala saya, di hari kerja pada umumnya mampu digunakan dari pagi hingga malam saat pulang kerja, bahkan kadang sampai 24 jam. Sementara pada hari libur di mana waktu saya lebih senggang dan lebih banyak menggunakan smartphone, rata-rata saya melakukan pengisian daya sebanyak dua kali dalam sehari.

Hasil Uji Kamera HTC One E8

Hasil pengambilan gambar menggunakan lensa kamera HTC One E8 dapat Anda tinjau pada artikel berikut ini ya.

Plus dan Minus HTC One E8

Saatnya membuat daftar, apa saja yang menjadi plus dan minus dari HTC One E8 ini setelah saya gunakan kurang lebih selama dua minggu sebagai hape utama saya.

Kelebihan HTC One E8:

  • Looks, looks, looks! Anda tidak akan habisnya mengagumi desain HTC One E8.
  • Ergonomis.
  • Top build quality.
  • Kualitas audio BoomSound yang dihasilkan dual stereo front-speaker.
  • Layar kelas atas, Super LCD 3.
  • Performa masih mumpuni, meskipun menggunakan spesifikasi ala dua tahun lalu.
  • Dual-sim.
  • Slot micro-SD mandiri alias terpisah atau tidak makan slot sim-card, mendukung hingga kapasitas 128 GB.
  • HTC Sense.

Kekurangan HTC One E8:

  • Percaya atau tidak, HTC One E8 yang resmi beredar di Indonesia tidak mendukung jaringan 4G! Untungnya yang versi distributor ini adalah versi Asia yang sudah saya uji dapat terhubung ke jaringan XL 4G (1800 MHz).
  • Hanya kalangan tertentu yang tahu gengsi dari brand HTC. Sebagian besar mungkin mengira ini adalah merk lokal yang tak jelas.
  • Slot sim-card kedua hanya dapat mengakses jaringan 2G, perlu menukar posisi kedua sim-card untuk mengubah sim-card yang dapat mengakses jaringan internet cepat.
  • Kualitas hasil kamera, rasanya angin-anginan.
  • Body sering terasa hangat, konsekuensi dari processor dengan clock tinggi.

Kesimpulan Akhir dari HTC One E8

Kesimpulan akhir ini mungkin akan terasa sangat hiperbol bagi Anda. Perlu dimaklumi karena saya dapat dikatakan sebagai fans dari brand yang satu ini, meskipun tidak sampai pada level fanatik yang rela mengesampingkan akal sehat untuk perang komentar di kolom komentar pada portal berita sih, ha.. ha..

HTC One E8 tiga jutaan? Nyesel kalo ngga beli! Sudah, itu saja kesimpulan akhir dan rekomendasi saya. Saya rasa itu sudah sangat mewakili maksud saya. Kecele kan? Ha.. ha.. ha..

Bagi yang kurang puas dengan penjelasan saya, silakan lihat kesan saya tentang HTC One E8 ini melalui video yang saya unggah ke Youtube berikut:

== MASIH PROSES UPLOAD VIDEO :P ==

Selamat menikmati, saya pun akan kembali menikmati nostalgia saya bersama HTC One E8. Adios.