Gadget Promotions

Friday, April 29, 2016

Tutorial Flashing Xiaomi Mi 4 (CyanogenMod 13, Ganti Recovery, TWRP, dll)



Akibat fenomena drastisnya penurunan harga Xiaomi Mi4, akhirnya saya pun tak kuasa ingin mencoba smartphone yang satu ini. Selain harganya yang sudah terbilang cukup murah, alasan utama saya ingin menjajal Xiaomi Mi 4 adalah banyaknya pilihan ROM yang bisa dicoba.

Konon Microsoft menyediakan ROM Windows 10 untuk Xiaomi Mi 4 ini. Dan yang paling penting adalah Xiaomi Mi 4 masuk dalam daftar perangkat yang didukung oleh CyanogenMod. Hingga hari ini, incremental build CyanogenMod masih rutin dirilis, yang artinya development untuk Xiaomi Mi 4 oleh tim CyanogenMod masih berjalan.

Kebetulan, setelah unboxing Xiaomi Mi 4 garansi distributor GMT, saya mendapat yang ROM-nya (lagi-lagi) abal-abal, versi MIUI-nya 7.1.99.99, haha.

Coba download MIUI 7.1 Stable, lalu di-flash pakai Mi Updater, gagal. Dan lagi, MIUI untuk Mi 4 ini koq masih pakai Kitkat ya? Hmmm, kalau pakai Updater gagal, caranya berarti entah flashing melalui recovery, fastboot, atau software MiFlash.

Kadung repot, jadi deh sekalian saya flash CyanogenMod 13 saja, sudah Marshmallow lho. Dan yang penting, ukuran file ROM-nya kecil, gak ampai 300MB, penuh fitur esensial, dan ringan saat digunakan. Ya, gak kayak MIUI lah gitu :P

OK, langsung aja kita siapkan bahan-bahannya ya untuk flashing CyanogenMod 13 ke Xiaomi Mi 4 yang keren ini:

  1. ROM CyanogenMod 13 dan Recovery Image untuk Xiaomi Mi 4. Kalo yang mau sering update, tapi kemungkinan masih ada bug boleh download yang versi Nightly. Tapi amannya pilih yang versi Snapshot ya. Download juga recovery image pada kolom sebelah kanan di baris yang sama dengan ROM yang sudah di-download.
  2. Kalau butuh flashing file-file lain, selain CyanogenMod, maka disarankan yang di-download adalah recovery image-nya TWRP. Fitur TWRP juga memang lebih lengkap sih. Download recovery image TWRP untuk Xiaomi Mi 4 di sini.
  3. Perlu diingat, CyanogenMod 13 belum punya Google Apps ya. Kalau butuh, dilakan download Google Apps di sini. Untuk Xiaomi Mi 4, opsi yang harus dipilih adalah: Platform: ARM, Android: 6.0, dan Variant: Pico pun sudah cukup.
  4. Fastboot dan ADB ter-install di PC. Download ADB dan Fastboot Installer lalu jalankan di PC.

Mengganti Recovery Image Xiaomi Mi 4

Karena banyak yang gagal melakukan flashing ROM pada Xiaomi Mi 4 yang seri CT, mau tak mau kita ganti saja ya recovery image-nya. Caranya begini:

  1. Munculkan menu Developer Options di Xiaomi Mi 4 dengan cara masuk ke Menu Settings, About, dan tap Build Version berulang hingga muncul pesan berhasil.
  2. Dari menu Developer Options, nyalakan USB Debugging.
  3. Sambungkan Xiaomi Mi 4 ke PC dengan kabel USB.
  4. Pastikan driver sudah ter-install otomatis oleh Windows.
  5. Pastikan Xiaomi Mi 4 sudah terdeteksi, caranya buka command prompt lalu ganti direktori ke folder di mana adb tadi di-install, lalu ketik "adb devices" lalu tekan tombol [Enter]. Pada langkah ini cek layar Xiaomi Mi 4, mungkin perlu disetujui koneksi ADB dari layar Xiaomi Mi 4. Jika sudah terdeteksi, maka akan ada satu baris berisi ID Device ini.
  6. Masuk ke mode fastboot dengan cara ketik "adb reboot bootloader" di command prompt, lalu tekan [Enter]. Xiaomi Mi 4 akan restart dan masuk ke mode fastboot (gambar Mi Bunny dengan tulisan Fastboot).
  7. Cek apakah Xiaomi Mi 4 sudah terdeteksi pada mode fastboot dengan cara ketik "fastboot devices" di command prompt, lalu tekan [Enter]. Jika sudah terdeteksi, maka akan ada satu baris berisi UDEV Device ini.
  8. Salin file recovery image (file dengan ekstensi .img) yang sudah di-download ke folder yang sama dengan fastboot dan ADB.
  9. Flash recovery image dengan cara ketik "fastboot flash recovery <nama file berekstensi .img>" di command prompt, lalu tekan [Enter]. Fastboot akan mengganti recovery image Xiaomi Mi 4.
  10. Setelah selesai, matikan Xiaomi Mi 4 dan masuklah ke recovery mode dengan cara tekan dan tahan tombol Volume Up dan Power hingga logo Mi muncul, lalu lepaskan kedua tombol. Jika sukses maka masuk ke menu recovery sesuai dengan recovery image yang tadi di-flash (Cyanogen Recovery tampilannya sederhana cuma menu teks, TWRP sudah ada grafisnya).


Flashing ROM CyanogenMod 13 ke Xiaomi Mi 4

Kalau recovery sudah ganti, tinggal flashing ROM seperti biasa, mudah koq.
  1. Pastikan ROM CyanogenMod (file berekstensi .zip, jangan diekstrak) sudah disalin ke memory internal Xiaomi Mi 4.
  2. Masuklah ke recovery mode dengan cara tekan dan tahan tombol Volume Up dan Power hingga logo Mi muncul, lalu lepaskan kedua tombol.
  3. Pilih Install, lalu pilih file .zip yang sudah disalin tadi.
  4. Tunggu hingga selesai, lalu reboot system.
  5. Voila, CyanogenMod 13 berbasis Android Marshmallow 6.0 sudah dapat dinikmati di Xiaomi Mi 4.


Flashing Google Apps ke Xiaomi Mi 4

Flashing file zip Google Apps yang sudah di-download di awal tadi, hanya bisa dilakukan apabila Anda menggunakan recovery image TWRP ya, apabila sudah terlanjut menggunakan recovery image milik CyanogenMod kita perlu menggantinya dulu, caranya ada di bagian bawah tulisan ini.

Flashing Google Apps caranya sama dengan saat flashing ROM, yaitu:
  1. Pastikan Google Apps (file berekstensi .zip, jangan diekstrak) sudah disalin ke memory internal Xiaomi Mi 4.
  2. Masuklah ke recovery mode dengan cara tekan dan tahan tombol Volume Up dan Power hingga logo Mi muncul, lalu lepaskan kedua tombol.
  3. Pilih Install, lalu pilih file .zip yang sudah disalin tadi.
  4. Tunggu hingga selesai, lalu reboot system.
  5. Voila, Xiaomi Mi 4 sudah ter-install Google Apps.


Mengganti CyanogenMod Recovery ke TWRP


Apabila sudah kadung menggunakan CyanogenMod Recovery tapi ingin flashing Google Apps (atau bahkan flashing ROM lain selain CyanogenMod), lakukan hal ini:
  1. Download lalu install TWRP Manager.
  2. Aktifkan root, ada di Developer Options. (CyanogenMod 13 dapat dengan mudah untuk menyalakan dan mematikan root access dari menu).
  3. Buka aplikasi TWRP Manager, lalu klik Install TWRP. Dan biarkan magic yang bekerja :D
  4. Masuk ke recovery mode untuk memastikan TWRP sudah berjalan. Done! 
Bahan dan langkah-langkah pada tutorial ini bisa ditemukan juga di:

Wednesday, April 20, 2016

Review Infinix Hot 3 LTE, Maju atau Mundur?



Smartphone Infinix Hot 3 itu laksana dua sisi mata uang. Di satu sisi ada inovasi yang sebelumnya tak pernah hadir di produk Infinix. Di sisi lain, seperti mundur kembali ke produk pertama mereka yang dijual di Indonesia. Is it good, or is it bad? Kita bahas mendalam saja untuk tahu apakah ini baik atau tidak ya. Satu yang pasti, di akhir tulisan ini Anda akan menemukan apakah Infinix Hot 3 cukup berharga, sesuai dengan bandrol yang diberikan kepadanya atau tidak. Namun Anda takkan menemukan bahasan soal Gista Putri di sini, he.. he..

Seperti yang sudah-sudah, produk Infinix kembali dijual secara eksklusif melalui flash sale yang diadakan di Lazada. Nampaknya Infinix masih setia terhadap e-commerce yang baru saja mendapatkan sumber dana segar setelah diakuisisi oleh raksasa e-commerce asal Tiongkok, Alibaba. Mengingat banyaknya keluhan terhadap Lazada belakangan ini, maka saya putuskan untuk membeli Infinix Hot 3 ini dengan metode pembayaran tunai saat barang diantarkan, alias COD (Cash on Delivery). Metode ini adalah harapan terakhir apabila Anda sudah tak percaya pada transaksi online, karena uang tetap Anda pegang hingga saat barang Anda terima.

Secara mengejutkan, hanya butuh waktu 26 jam saja sejak saya melakukan pemesanan hingga barang saya terima di Bandung. Semoga Lazada terus mempertahankan prestasi ini, dan memperbaiki layanannya secara keseluruhan.

Unboxing dan First Impression Infinix Hot 3

Tak perlu tunggu lama untuk saya segera melakukan proses unboxing Infinix Hot 3. Prosesnya bisa Anda saksikan pada video di bawah ini.



Kotak penjualan Infinix Hot 3 terasa sama persis seperti kotak milik Infinix Hot 2. Sebagai lini produk paling terjangkau, Infinix tidak banyak bereksperimen dengan kemasan seri Hot, setidaknya tidak seunik kemasan seri Zero yang merupakan flagship mereka.

Infinix Hot 3 - Kotak kemasan, tampak depan
Infinix Hot 3 - Kotak kemasan, tampak depan

Infinix Hot 3 - Kotak kemasan, tampak belakang. Abaikan ikon 3G itu.
Infinix Hot 3 - Kotak kemasan, tampak belakang. Abaikan ikon 3G itu.

Infinix Hot 3 - Unboxed
Infinix Hot 3 - Unboxed

Infinix Hot 3 - kelengkapan paket penjualan
Infinix Hot 3 - kelengkapan paket penjualan
Infinix Hot 3 - kepala charger dengan kuat arus 1,5A
Infinix Hot 3 - kepala charger dengan kuat arus 1,5A


Namun satu anomali terjadi, di saat flagship mereka, Infinix Zero 3 dirilis tanpa menyertakan headset pada paket penjualannya, Infinix Hot 3 justru hadir lengkap. Meskipun beberapa orang menyebutkan kualitas headset bawaan Infinix tidaklah istimewa --konon bahkan tak sebagus headset bawaan smartphone merk lokal--, namun hal ini perlu diapresiasi mengingat sangat jarang smartphone dengan harga terjangkau hadir dengan menyertakan headset dalam paket penjualannya. Ya mungkin cukup untuk digunakan menelepon, bukan mendengarkan musik.

Berbicara desain, dari beberapa smartphone yang dirilis Infinix belakangan ini, Infinix Hot 3 hadir sebagai perbaikan. Mengapa Aa bilang begitu? Karena sudah tiga rilis berlalu, Infinix mengeluarkan smartphone yang kurang memperhatikan segi keergonomisannya, setidaknya menurut saya ya.

Dimulai di Infinix Hot 2 yang sepenilaian saya sangatlah teramat kotak bentuknya. Sedikit perbaikan terjadi di Infinix Note 2 yang tidak terlalu kotak namun memiliki ukuran raksasa. Dan Infinix Zero 3 adalah smartphone Android paling kotak yang pernah Aa lihat.

Infinix Hot 3 - sisi bawah
Infinix Hot 3 - sisi bawah

Infinix Hot 3 - sisi kanan, tombol power dan volume rocker
Infinix Hot 3 - sisi kanan, tombol power dan volume rocker

Infinix Hot 3 - ada port micro USB di sisi atas
Infinix Hot 3 - ada port micro USB di sisi atas

Infinix Hot 3 - sisi kiri
Infinix Hot 3 - sisi kiri

Infinix Hot 3 - sisi belakang, ada pengungkit untuk melepas backcover
Infinix Hot 3 - sisi belakang, ada pengungkit untuk melepas backcover

Infinix Hot 3 - posisi kamera dan logo Infinix
Infinix Hot 3 - posisi kamera dan logo Infinix


Infinix Hot 3 meninggalkan desain kotak dan terlihat seperti kembali ke garis desain yang dimiliki Infinix Hot Note yang merupakan produk pertama Infinix yang dijual di Indonesia. Bahkan tombol kapasitif yang kembali dihadirkan di bawah layar, benar-benar terlihat sama dengan yang dimiliki Infinix Hot Note. Pembedanya terletak pada tekstur backcover yang membuat smartphone ini terlihat jauh lebih cantik dari belakang, meskipun sedikit terkesan feminim.

Pada saat bersamaan dengan proses uji pakai Infinix Hot 3, Aa juga sedang kedatangan dua smartphone lain yang terbilang flagship pada waktu setahun ke belakang. Memang harga tidak berbohong, perbedaan build quality jelas terasa antara Infinix Hot 3 dengan Meizu MX4 Pro dan LG G4. Betul, perbandingannya tidak setara, tapi memang itu tujuannya, untuk menunjukkan bahwa smartphone harga terjangkau tidak akan pernah menggunakan bahan material yang sama kualitasnya dengan apa yang ada pada produk flagship.

Bagi Anda yang pernah mencoba Infinix Hot 2 sebelumnya, satu hal yang harus Anda tanamkan baik-baik sejak awal, Infinix Hot 3 sudah bukan jajaran smartphone Android One ya.


Hardware dan Benchmark Infinix Hot 3

Berikut adalah info hardware dari Infinix Hot 3 yang diambil menggunakan aplikasi populer CPU-Z dan AIDA 64.

 

 

 

 




Sementara ini adalah informasi sensor yang tersemat pada Infinix Hot 3 menggunakan aplikasi Sensor Box for Android.

Sensor pada Infinix Hot 3
Sensor pada Infinix Hot 3

Proses benchmark sintetis menggunakan Antutu Benchmark menghasilkan skor berikut ini.




Kesan Nyata Setelah Uji Pakai Infinix Hot 3

Mengusung processor Qualcomm Snapdragon 415, Infinix Hot 3 menjadi produk pertama Infinix yang tidak menggunakan processor keluaran Mediatek. Saya sendiri cukup senang dengan pemilihan processor ini, karena pengalaman yang saya dapatkan di Hisense Pureshot cukup baik. Konon Hisense memilih Snapdragon 415 karena pita jaringan yang didukungnya sudah lengkap. Ini sebabnya jajaran smartphone Hisense Pureshot dapat dipadukan dengan kartu dari semua operator di Indonesia, baik CDMA ataupun GSM, baik di jaringan 2G, 3G, maupun 4G.

Namun, meskipun dibekali processor yang sama, Infinix Hot 3 nyatanya hanya mendukung jaringan GSM di 2G dan 3G. Sementara jaringan 4G-nya saat saya coba mampu tersambung ke layanan milik operator GSM yang beroperasi di frekuensi 1800 MHz. Pada saat saya pasangkan kartu USIM Smartfren 4G di Cimahi yang jaringannya beroperasi di frekuensi 850 MHz, Infinix Hot 3 hanya mampu terhubung sebentar saja. Setiap saya nyalakan dan matikan airplane mode, smartphone ini mesti bisa terhubung ke jaringan Smartfren 4G beberapa detik, lalu kemudian terputus kembali.

Infinix Hot 3 - slot kartu-kartu
Infinix Hot 3 - slot kartu-kartu (micro-sim dan micro-SD)


Dengan konfigurasi dapur pacu yang serupa dengan Hisense Pureshot, Infinix Hot 3 sudah seharusnya mampu bertahan lebih lama dalam satu kali pengisian daya hingga penuh. Mengingat baterai Infinix Hot 3 berkapasitas 3.000 mAh, sementara Hisense Pureshot hanyalah 2.000 mAh. Infinix Hot 3 di tangan saya mampu bertahan sekitar 24 jam, sementara Hisense Pureshot biasanya mampu melenggang selama kurang lebih 18 jam.

Penggunaan Baterai pada Infinix Hot 3
Penggunaan Baterai pada Infinix Hot 3

Screen-on Time Infinix Hot 3
Screen-on Time Infinix Hot 3


Layar Infinix Hot 3 yang berdimensi diagonal 5,5 inci, mempunyai resolusi HD 720p saja. Bukan yang tertajam itu jelas, namun pastinya masih nyaman dilihat apabila kita ingat-ingat lagi Infinix Note 2 saja diagonal layarnya hampir 6 inci dengan resolusi serupa. Sudut pandang nya pun cukup luas. Intinya, layar Infinix Hot 3 sudah lebih baik dari apa yang ada pada Infinix Hot 2, namun tetap simpan ekspektasi Anda pada level yang seharusnya ya, karena tentunya layarnya tidaklah mampu bersaing dengan layar smartphone kelas atas.

Infinix Hot 3 - Layar padam
Infinix Hot 3 - Layar padam

Infinix Hot 3 - Layar menyala
Infinix Hot 3 - Layar menyala


Overall, saya cukup betah menggunakan Infinix Hot 3. Dual-sim dengan dedicated slot untuk micro-SD, baterai cukup besar dan awet, bentuknya tipis dan cukup ergonomis, serta kustomisasi software XUI yang hampir mirip dengan stock Android adalah alasan-alasan di balik kebetahan yang saya rasakan.

Infinix Hot 3 - Baterai yang bisa dilepas
Infinix Hot 3 - Baterai yang bisa dilepas


Adapun hal yang masih cukup mengganggu di Infinix Hot 3 adalah tampilan huruf. Saat saya ganti dengan salah satu font yang saya suka, maka huruf-huruf bold tampil sebagai huruf normal saja, padahal huruf bold membantu kita membedakan e-mail mana yang belum kita buka, atau melihat nama teman yang di-mention di aplikasi Path.


Hasil Foto Kamera Infinix Hot 3

Kamera utamanya hanya berresolusi 8 Megapixels, namun hasilnya pada kondisi cukup cahaya terlihat menjanjikan. Lebih lengkap mengenai hasil kameranya dapat dilihat pada artikel berikut ini.


Plus dan Minus Infinix Hot 3


Kelebihan Infinix Hot 3


  • - bentuknya sudah cukup ergonomis, plus tipis, rasanya nyaman dalam genggaman
  • - dual-sim dengan slot micro-SD terpisah
  • - baterai cukup besar dan removable
  • - tekstur backcover yang cukup cantik terlihat
  • - pemilihan processor Snapdragon 415, Qualcomm pertama untuk Infinix
  • - harganya terjangkau untuk smartphone 4G bergaransi resmi, dengan processor octa-core Snapdragon dan RAM 2GB


Kekurangan Infinix Hot 3


  • - baru tersedia warna gold, entah kenapa bagi saya warna gold dan kombinasinya dengan tekstur pada backcover lebih condong ke arah feminim
  • - masih ada bug tentang font pada XUI
  • - tombol kapasitif tanpa lampu latar, dan ikonnya jadul seperti di Infinix Hot Note, tidak terlihat seperti smartphone yang sudah berbasis Lollipop
  • - absennya Notification LED
  • - tampilan depan terasa membosankan, kontras dengan bagian belakang



Apa Kata Aa tentang Infinix Hot 3

Dengan harga jual Rp1.599.000, Infinix Hot 3 sebetulnya menawarkan value yang cukup sepadan. Spesifikasi di atas kertas, maupun performa nyatanya tidaklah mengecewakan untuk level harga tersebut. Flash sale pertamanya pun berhasil sold out, meskipun saya yakin banyak pembeli yang berstatus pedagang, mengingat produk Infinix resmi hanya dijual eksklusif secara online melalui Lazada.

Sudah lumrah apabila suatu produk dirilis, maka orang-orang akan mengharapkan banyak perbaikan dibandingkan produk pendahulunya. Di sini mungkin akan terjadi banyak perdebatan. Selain processor yang lebih baik dan sudah mendukung jaringan 4G, Infinix Hot 3 rasa-rasanya tidak banyak membawa peningkatan spesifikasi dari seri sebelumnya, Infinix Hot 2. Malah Infinix Hot 3 sudah bukan keluarga Android One layaknya Infinix Hot 2. Padahal, salah satu alasan ditunggu-tunggunya Infinix Hot 2 dahulu adalah karena jaminan update OS yang diberikan oleh Google pada smartphone berlabel Android One.

Peningkatan harga jual yang cukup signifikan dari Infinix Hot 2 yang saat dirilis dahulu berbandrol Rp1.299.000 patut dicermati juga. Apakah ini efek samping peralihan dari komponen Mediatek ke Qualcomm? Ataukah untuk memberi ruang kepada Infinix Hot 3 versi 3G only yang masih mengandalkan processor dari Mediatek?

Kembalinya Infinix menggunakan tombol kapasitif pada Infinix Hot 3 (dengan ikon jadul dan tanpa lampu latar), dibandingkan menggunakan on-screen button, rasanya menjadi sebuah langkah mundur bagi Infinix.

Akhir kata, menurut Aa sih Infinix Hot 3 merupakan sebuah smartphone yang cukup baik. Namun jika boleh berpendapat, ada baiknya jika harga jualnya sedikit lebih ditekan lagi mengingat persaingan dari smartphone bergaransi distributor sangatlah buas, hehe.

Yang pasti, Infinix sudah mulai punya tempat tersendiri di pasar smartphone tanah air. Indikasinya ada dua saja: Pertama, saya tidak pernah mengalami kesulitan menjual kembali smartphone Infinix yang saya uji. Kedua, konon nama Infinix sudah mulai dicatut oleh brand smartphone lain yang terkenal suka mendompleng nama dan desain smartphone laris. Sekian review kali ini, terima kasih.

Hasil Foto Menggunakan Kamera Infinix Hot 3

Berikut adalah hasil foto menggunakan kamera dari smartphone Infinix Hot 3. Semua gambar tidak melalui proses editing selain resize.

Hasil Kamera Belakang Infinix Hot 3






Dengan HDR

Tanpa HDR




Hasil Kamera Depan Infinix Hot 3


Sunday, April 10, 2016

Review OnePlus X Indonesia

OnePlus X - Review Indonesia
OnePlus X - Review Indonesia

Story Behind OnePlus X di Indonesia

Konsumen barang elektronik di Indonesia, terutama konsumen smartphone seringkali mendewakan spesifikasi dan membandingkannya dengan harga jual barang tersebut. Tak heran setiap ada produsen yang merilis produk dengan bumbu jargon flagship killer, biasanya akan cepat populer dan menjadi buruan mereka.

OnePlus pernah berhasil merebut perhatian konsumen tanah air saat menjual OnePlus One di Indonesia dengan sistem undangan. Orang berebut mendapatkan kode undangannya untuk kemudian dipakai berbelanja di salah satu marketplace kenamaan di region Asia Tenggara, Lazada.

Setelah sekian lama waktu berlalu sejak penjualan perdana OnePlus One, konsumen tanah air sudah merindukan penerusnya untuk dapat hadir membawa pembaruan dan peningkatan. Asa mereka sempat bersambut saat OnePlus akhirnya melakukan product launching untuk OnePlus 2 di Jakarta.

Namun, manusia boleh berharap, takdir juga lah yang berkata lain, OnePlus 2 gagal masuk untuk dijual di Indonesia. OnePlus Indonesia menyatakan batal memasukkan OnePlus 2 ke tanah air. Kendala utama yang ditengarai menjadi penyebab kegagalan ini adalah regulasi mengenai TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) untuk perangkat 4G yang mulai diterapkan pemerintah Indonesia.

OnePlus bergerak cepat dengan mengumumkan kehadiran OnePlus X, mereka mencoba mengobati kekecewaan konsumen Indonesia. Namun smartphone terbaru dari OnePlus ini bisa dikatakan tidak mengalami peningkatan spesifikasi yang berarti apabila dibandingkan dengan OnePlus One. Melihat pola penamaannya yang tidak mengikuti pola urutan yang sama, bisa jadi OnePlus X ini memang diperuntukkan untuk mengisi kekosongan yang tercipta di antara OnePlus One dan OnePlus 2.

Namun, mencoba saja tidak cukup. Regulasi TKDN rupanya masih jadi tantangan bagi OnePlus Indonesia. OnePlus X tak kunjung juga dijual di tanah air. Padahal beberapa waktu lalu sempat bocor sebuah landing page di website Lazada Indonesia yang menunjukkan halaman promosi penjualan OnePlus X. Bocoran yang saya dapatkan waktu itu, akhir Februari smartphone ini akan resmi dijual di Lazada.

Waktu kembali bergulir, dan tidak ada tanda-tanda penjualan OnePlus X akan dimulai. Hingga akhirnya sebuah tweet dari akun milik Blibli, salah satu marketplace lokal yang menjadi pesaing Lazada, malah membuat banyak orang tercengang.

Bagaimana tidak, OnePlus X yang sudah santer akan dijual secara eksklusif oleh Lazada, malah tiba-tiba dihadirkan oleh pesaing mereka. Kegemparan semakin berlanjut saat diketahui ternyata OnePlus X akan dijual dalam keadaan tidak full potential. Ya, demi menyiasati regulasi, OnePlus X dihadirkan sebagai smartphone 3G saja. (Walaupun bisa diaktifkan 4G-nya dengan cara ini).

Bisakah Anda bayangkan? Penantian panjang Anda berbuah hal yang tak seperti ekspektasi Anda di awal? Tidak bisa? Sekarang coba bayangkan perasaan saya saat tahu Gista Putri ternyata dipinang bosnya itu. Anggaplah kurang lebih begitu perasaannya.

Dari Lazada ke Blibli. Padahal beberapa hari sebelumnya, saya baru saja berbincang-bincang dengan salah satu teman kuliah yang kini bekerja di Blibli. Saya tanya kapan Blibli akan menggaet produsen smartphone laris untuk menjual produknya secara eksklusif di sana. Saya katakan bahwa di Lazada pun produk smartphone menjadi kategori paling laris penjualannya. Bahkan sempat saya singgung soal OnePlus yang sudah deal dengan Lazada.

Nampaknya proses dealing antara Blibli dengan OnePlus terjadi secara cepat,buktinya teman saya itu pun baru tahu setelah saya perlihatkan tweet tersebut tadi.

Flash Sale OnePlus X pun dimulai di Blibli, berbagai promosi dan kode voucher disebar. Akhirnya sayapun memutuskan untuk memanfaatkan voucher potongan harga sebesar Rp200.000,- tersebut untuk membeli sebuah OnePlus X demi menuntaskan kepenasaran saya.

Ya saya penasaran dengan OnePlus X, habisnya dulu setiap saya membuat thread review sebuah smartphone di Kaskus, mesti ada yang mengomentari dengan membandingkannya kepada OnePlus X. Dan komentar ini seringkali tak pandang bulu, maksud saya ya masa membandingkan Infinix Hot 2 atau Xiaomi Redmi 2 Prime dengan OnePlus X, jelas beda kelas, beda sekolah bahkan. Ha.. ha..

Saya penasaran, apakah OnePlus X sebegitu bagusnya, sampai setiap bahasan smartphone perlu dikomentari dengan bumbu OnePlus X? Ataukah kala itu ada gerakan pecinta OnePlus X yang sedang giat bekerja? If you know what I mean.


Unboxing, Hands-on, dan First Impression on One Plus X


Jika harus merangkum proses unboxing OnePlusX ke dalam satu kalimat, maka saya akan memilih kalimat berikut ini:

Berbalut kemasan premium, kelengkapan yang berkelas, dan sedikit bonus yang agak mubazir, OnePlus X hadir untuk mencoba merebut kembali perhatian konsumen tanah air yang telah begitu lama menantikannya.
Ya, kemasan OnePlus X memang terasa cukup premium. Jelas berbeda dari kemasan beberapa smartphone harga hemat yang belakangan ini sering saya coba. Hal ini terbilang wajar ya, harga jual OnePlus X tidak bisa dibilang murah toh?

OnePlus X - Kotak kemasan penjualan
OnePlus X - Kotak kemasan penjualan


Walau tidak murah, kelengkapan yang disertakan dalam paket penjualan OnePlus X ternyata tetap tidak menyertakan headset. Namun kita akan cukup terhibur melihat kepala charger dan kabel data milik OnePlus X yang terlihat fancy, berkelas.

OnePlus X - Kotak kemasan saat dibuka
OnePlus X - Kotak kemasan saat dibuka

OnePlus X - Kepala charger dan kabel data yang terlihat fancy
OnePlus X - Kepala charger dan kabel data yang terlihat fancy

Oh ya, ada bonus softcase di dalam kotak kemasan OnePlus X. Anggaplah ini pelipur lara bagi konsumen Indonesia yang sudah bersedia menunggu. Nyatanya, softcase ini saya yakini akan jarang digunakan kebanyakan pembeli OnePlus X. Alasannya simple saja, cantiknya OnePlus X yang merupakan kelebihan utama perangkat ini, akan tertutupi seketika saat memasangkan softcase ini.

OnePlus X - Kepala charger dengan output 5v, 2A
OnePlus X - Kepala charger dengan output 5v, 2A

OnePlus X - Kelengkapan dalam kemasan penjualan
OnePlus X - Kelengkapan dalam kemasan penjualan


Beralih pada bahasan build quality OnePlus X, terasa cukup premium dalam sentuhan tangan saya. Bukan yang terbaik yang pernah saya coba, namun sangat memenuhi kepantasan apabila dibandingkan dengan bandrol yang diberikan OnePlus untuk produknya ini. Frame metal dengan tekstur bergaris sebetulnya bukan favorit saya, namun secara fungsi ternyata cukup mampu memberi tambahan grip pada smartphone yang cukup licin ini. Bagian depan dan belakangnya yang terbuat dari kaca, memang lembut di tangan, feels-nya saat digenggam, digunakan untuk mengetik, dan melakukan kegiatan lainnya yang membutuhkan sapuan jari pada layar terasa sangatlah ngageleser. Haha, ngageleser kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia apa ya padanan katanya?

OnePlus X - Tampak depan
OnePlus X - Tampak depan

OnePlus X - Tampak belakang
OnePlus X - Tampak belakang

Ukuran OnePlus X dapat dibilang sangat compact, layarnya yang berdimensi lima inci dan ketebalan yang hanya sekitar tujuh milimeter membuatnya sangat mudah dioperasikan dengan satu tangan. Pun saat diselipkan masuk ke dalam saku celana jeans, takkan ada kesulitan berarti yang Anda alami.

Kekurangan pada hardware OnePlus X hanyalah ketidakhadiran lampu latar pada tombol kapasitif yang berada di bawah layar. Akan tetapi, bisa jadi ini memang sudah direncanakan, supaya tidak menimbulkan kebingungan jika kita menggunakan on-screen button. Oh ya, kita juga bisa menukar letak tombol back dan recent apps sesuai kebiasaan masing-masing.

OnePlus X - Tombol kapasitif tanpa lampu latar
OnePlus X - Tombol kapasitif tanpa lampu latar

OnePlus X - LED Notification di atas layar
OnePlus X - LED Notification di atas layar


Ada fitur tambahan yang sangat berguna yang diberikan Oxygen OS untuk aksi tekan dan tahan serta melakukan double-tap pada masing-masing tombol kapasitif. Kita dapat menggunakannya untuk mematikan layar, berpindah antara dua aplikasi terakhir yang kita buka, dan beberapa aksi lain. Hal ini sangat saya sukai semasa menggunakan CyanogenMod OS.

Satu kelebihan OnePlus X yang tidak banyak dimiliki smartphone lain adalah adanya tombol khusus untuk mengatur notifikasi. Sebelum masuk ke masjid, atau mengikuti rapat, kita cukup menggeser tombol ini ke atas agar OnePlus X kita beralih ke mode senyap. Pilihan mode-nya sendiri ada tiga, semua notifikasi, notifikasi prioritas, dan tanpa notifikasi sama sekali. Cool!

OnePlus X - Sisi kanan tampak penuh
OnePlus X - Sisi kanan tampak penuh

OnePlus X - Sisi atas
OnePlus X - Sisi atas

OnePlus X - Sisi kiri terdapat tombol geser untuk notifikasi
OnePlus X - Sisi kiri terdapat tombol geser untuk notifikasi

OnePlus X - Sisi bawah
OnePlus X - Sisi bawah


Kesan pertama yang diciptakan OnePlus X sangat positif, ukuran yang compact, tipis, plus layarnya yang hitam pekat membuat kesan elegan sangat timbul. Apalagi jika kita mengaktifkan Dark Mode untuk tampilan UI-nya. Selain lebih menghemat daya, tampilan gelap pada layar AMOLED tampak jauh lebih misterius dan keren.

OnePlus X pada saat keluar dari kotak kemasannya,ternyata sudah terpasang anti gores berupa mika plastik tipis. Saat saya ganti dengan tempered glass merk AIUEO yang harganya murah, selain ukurannya tidak begitu menutupi seluruh bagian layar, nampak di sekeliling pinggiran tempered glass ada bagian yang terlihat agak putih seperti kurang menempel. Saya pun mencoba tempered glass dari brand lain yang lebih premium, Mocolo. Namun rupanya hal yang sama terjadi juga.

Saya rasa itu adalah efek samping dari penggunaan curved glass 2.5D pada sebuah smartphone, karena hal ini membuat saya teringat dulu pun di Moto X 2014 kasusnya sama persis. Maafkan Aa, AIUEO, telah men-judge-mu sebelumnya.


Hasil Uji Pakai OnePlus X

Dengan spesifikasi flagship (2 tahun lalu), OnePlus X membawa konfigurasi hardware yang cukup identik dengan beberapa smartphone yang pernah saya gunakan sebelumnya, yaitu: Moto X 2014, ASUS Padfone S. dan terakhir HTC One E8.

Dari keempat device yang menggunakan processor Snapdragon 801 tersebut, apabila dibandingkan menurut beberapa faktor, maka kira-kira pemenangnya per masing-masing faktor pembanding tersebut adalah seperti ini:
  • - Performa: Moto X
  • - Pengelolaan Panas: HTC One E8
  • - Kamera: OnePlus X
  • - Kelengkapan Hardware: HTC One E8
  • - Layar: OnePlus X
  • - Suara: HTC One E8
  • - Desain: Moto X
  • - Ketahanan Baterai: HTC One E8
  • - Fitur dan UI: OnePlus X (Oxygen OS 2.2)
Performa OnePlus X dalam keseharian dapat dikatakan lancar, smooth, nyaris tanpa kehadiran lag. Namun efek samping atau kekurangan yang saya rasakan sejauh ini adalah OnePlus X cukup sering mengalami demam alias overheat. Masalahnya, demam ini tidak terjadi saat smartphone ini digeber dengan menjalankan games atau aplikasi berat, hanya game casual atau nonton video klip saja. Harus lebih diperdalam penyebabnya apakah akibat software yang dibawa OnePlus X, ataukah masalah hardware yang kurang dirancang untuk meredam panas.

Baterai OnePlus X masih masuk kategori dapat dimengerti, mengingat kapasitas baterainya yang sekitar 2.500 mAh saja. Eh, saya baru ingat, kapasitas baterai HTC OneE8 lebih kecil ya? 2.300 mAh, padahal clockspeed processor-nya lebih tinggi, dan dalam pemakaian saya mampu bertahan lebih lama daripada OnePlus X.

OnePlus X - Ketahanan baterai
OnePlus X - Ketahanan baterai

OnePlus X - Screen-on Time
OnePlus X - Screen-on Time

Jika OnePlus X yang Anda miliki tidak bisa membaca perangkat storage OTG, pastikan Anda sudah mencentang pilihan OTG storage berikut ini pada layar Storage Settings ya.



Dari segala kelebihan yang dimiliki oleh OnePlus X, kemudahan dalam pengoperasiannya adalah hal yang paling membuat saya betah, selain bentuknya yang tipis dan feels-nya yang premium. Beberapa fitur Oxygen OS 2.2 pada OnePlus X yang saya suka antara lain adalah:
  • - Fungsi gesture, double tap to wake adalah nilai lebih buat saya yang sering menyimpan smartphone di atas meja.
  • - Fungsi tambahan dari tombol kapasitif, misal: double tap pada home button bisa diatur untuk mematikan layar, tekan dan tahan tombol recent apps maka akan berpindah menuju aplikasi yang sebelumnya dibuka.
  • - Tombol geser dedicated untuk pengaturan notifikasi. Tinggal geser, maka smartphone sudah masuk mode silent, tanpa harus menyalakan layarnya terlebih dulu.
  • Dark mode, membuat OnePlus X terlihat hitam pekat yang mana ini sangat keren dan terlihat misterius, 
Sementara panas, keterbatasan storage, dan baterai yang kurang mampu bertahan lama dalam sekali pengisian daya adalah hal yang cukup mengganggu saya selama pemakaian OnePlus X.


Informasi Hardware dan Hasil Benchmark OnePlus X

Berikut saya tampilkan hasil capture dari penggunaan aplikasi Sensor Box for Android, CPU-Z, AIDA64, dan Antutu Benchmark guna mendapatkan informasi hardware bawaan OnePlus X dan hasil skor benchmark-nya.

OnePlus X - Kelengkapan sensor
OnePlus X - Kelengkapan sensor




OnePlus X - Skor hasil Antutu Benchmark
OnePlus X - Skor hasil Antutu Benchmark

Hasil Kamera OnePlus X

Hasil pengambilan gambar menggunakan kamera OnePlus X dapat dilihat pada artikel yang satu ini ya.


Plus dan Minus OnePlus x

Kelebihan OnePlus X

  • + Desain yang ciamik, plus ukuran yang compact.
  • + Oxygen OS hadir membawa fitur-fitur penuh manfaat.
  • + Layar AMOLED yang dibawanya, vivid dan sangat hidup.
  • + Performa baik, perpindahan aplikasi berlangsung lancar tanpa lag.
  • + Build quality premium, sangat nyaman digunakan dan dirasakan dalam genggaman.
  • + Tombol khusus pengatur notifikasi.
  • + Hasil kamera di atas rata-rata, dan adanya mode manual.

Kekurangan OnePlus X

  • Hybrid slot untuk simcard kedua dan micro-SD.
  • - Demam pada pemakaian ringan.
  • - Ketahanan baterai seharusnya dapat ditingkatkan lebih baik lagi.


Apa Kata Aa tentang OnePlus X

OxygenOS di luar dugaan sangat mampu memberikan kenyamanan buat saya selama kurang lebih seminggu menggunakan smartphone ini sebagai ponsel utama saya. Tadinya saya cukup kecewa saat OnePlus tak lagi bekerja sama dengan CyanogenMod untuk urusan software dari perangkat yang mereka besut. Namun OxygenOS sangat layak mendapat acungan jempol. Kustomisasi yang esensial, tepat guna, dan sangat intuitif, tidak hanya menitikberatkan pada looks yang seringkali membebani kinerja smartphone.

Berbicara mengenai hardware, bolehlah kita bilang spesifikasinya so last year, tapi harganya cukup up to date lho. Dengan garansi resmi, bandrol 3 jutaan rasanya tidak berlebihan melihat apa yang ditawarkan oleh OnePlus X. Seandainya baterainya sedikit lebih lama bertahan dalam pemakaian, dan pengelolaan panas yang lebih baik bisa diusahakan ke depannya, saya tidak akan ragu untuk menjadikan smartphone ini sebagai daily driver saya selama tahun 2016.

Buat yang mau mengaktifkan jaringan 4G dari OnePlus X ini, silakan lihat di sini.