Gadget Promotions

Saturday, July 30, 2016

Review Smartband Infinix XBand XB01, Usaha Infinix Menyeruak di Pasar Wearables Indonesia

Review Smartband Infinix XBand XB01


Sewaktu saya dipinjami smartband terbaru keluaran Infinix ini, awalnya saya sangat senang. Dalam hati saya bergumam, wah akhirnya dikasih kepercayaan lagi setelah beberapa device Infinix terakhir saya ga dapat 'jatah', he.. he..

Lalu kemudian saya bingung, ya bingung bagaimana menguji smartband seperti ini? Saya ingat dulu pernah bingung juga sewaktu diberi free sample product oleh GearBest berupa smartband, yang malah akhirnya disita istri, he.. he.. Sejak saat itu GearBest tak pernah lagi menghubungi, besar kemungkinan karena kapok lihat hasil video review yang saya upload ke Youtube kala itu, amatir seamatir-amatirnya. Ha... ha...

Selama ini saya pakai smartband cuma buat pengganti jam tangan saja, dan yang lebih penting adalah waterproof-nya, jadi ga perlu lepas-lepas jikalau pergi berwudhu.

Sementara fungsi pedometer atau activity tracker semakin jarang saya gunakan semenjak pindah kerja dan domisili ke Bandung. Bagaimana tidak, setiap hari selalu gagal memenuhi target 6.000 langkah akibat tak lagi banyak berjalan kaki saat berangkat dan pulang ke tempat kerja. Beda saat masih tinggal di Depok, entah itu saat harus naik bis Deborah yang penuh kenangan (mengerikan) dan jalan kaki dari terminal Lebak Bulus ke kantor, maupun saat jadi roker (rombongan kereta, sebutan untuk para komuter pengguna KRL) dan harus berjalan dari rumah ke Stasiun UI dan Stasiun Gondangdia ke Menara Thamrin, 6.000 langkah sih gampang, ha.. ha..

Saat saya tanyakan kepada orang Infinix mengenai status waterproof-nya, dikatakan tahan percikan air koq, waduh saya ga berani pakai buat berwudhu ah, berabe nanti barang pinjeman kalau kenapa-kenapa, haha...

Eh tapi, Infinix XBand ini punya sesuatu yang tidak dimiliki smartband saya sebelumnya. Ya, Infinix XBand ini jika modul utamanya dilepas dari tali atau gelangnya, maka dapat difungsikan sebagai bluetooth handsfree atau headset. Wah, jadi inget kalau Huawei juga mengeluarkan smartband yang dapat melakukan hal yang sama. Okelah, saya googling lagi Huawei Talkband B2 ini, untuk kemudian mendapati bahwa desain kedua smartband ini sangatlah identik.

review infinix xband xb01 indonesia
Tapi... Ada satu hal yang tidak identik, malah jomplang sekali dari kedua smartband ini. Adalah harga dari Huawei Talkband B2 ternyata lebih dari tiga kali lipat harga Infinix XBand XB01 yang sama-sama dijual di Lazada.

review infinix xband xb01 indonesia

Unboxing dan Hands-on Infinix XBand

Saat menerima paket berisi smartband ini, tadinya saya sempat ge-er dan mengira paketnya berisi lebih dari satu barang lho. Bagaimana tidak, kotak kemasan penjualan Infinix XBand ternyata sangat panjang, he.. he..

Proses unboxing dan pegang-pegang seperti biasa saya abadikan dalam sebuah video, silakan disimak ya.


Buat yang malas membuka video, saya cantumkan beberapa foto penampakan asli Infinix XBand ini deh, monggo.

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - kotak kemasan

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - keterangan pada kotak

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - fitur unggulan

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - kelengkapan pada paket penjualan

Yang saya coba ini Infinix XBand berwarna hitam dengan strap kulit yang sama warnanya. Satu varian lain dari XBand ini berwarna emas dengan strap kulit cokelat. Pada paket penjualannya, disertakan juga kabel data berwarna putih, dan dua buah karet earbuds, sehingga total ada tiga buah earbuds dengan ukuran S, M, dan L.

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - earbuds ukuran S, M, L

Layar yang digunakan berjenis OLED monokrom, ukuran layarnya tergolong kecil namun cukup untuk menampilkan informasi yang dibutuhkan. Jadi dari keseluruhan modul utama Infinix XBand ini, kira-kira 50% saja yang merupakan layarnya.

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - OLED saat menyala

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - OLED saat padam

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - menu penghitung langkah

Di bagian belakang modul utama Infinix XBand ini, terdapat satu port micro USB yang dapat digunakan untuk mengisi daya, serta earpiece yang telah dipasangi earbuds karet. Tulisan Xband tercetak pada bagian yang sama, dengan ditambahi tulisan kecil Designed by Infinix. Sementara pada tatakan tempat melekat sang modul utama, tercetak jelas logo Infinix.

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - port micro USB

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - bagian belakang modul utama

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - tatakan


Saat digunakan di tangan, terlihat misterius dan trendy gitu, walau menurut saya terasa masih terlalu tebal di bagian depannya.

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - digunakan di tangan

review infinix xband xb01 indonesia
Infinix XBand XB01 - terlihat misterius

Infinix XBand dalam Pemakaian Sehari-hari

Untuk mengkoneksikan Xband dengan smartphone yang kita miliki, sama seperti smartband lainnya, kita dapat menggunakan bluetooth dan aplikasi pendamping yang harus terlebih dahulu dipasang pada smartphone. Aplikasi yang bernama X-Band ini dapat diunduh di Google Playstore. Proses pairing berlangsung cukup mudah, dan ada beberapa menu pengaturan yang dapat dilakukan. Semisal kita dapat mengatur aplikasi apa saja yang ingin diperbolehkan menampilkan notifikasi di Xband, dan mana yang tidak. 

Selain itu kita dapat mengaktifkan fitur gesture, di mana layar XBand dapat otomatis menyala saat kita memutar pergelangan tangan. Nah ini yang keren, jadi misalkan satu tangan kita sedang digunakan berpegangan di angkutan umum, atau sedang memegang cangkir minum, kita masih dapat melihat waktu atau notifikasi di XBand hanya dengan mengangkat tangan dan memutar pergelangan sekaligus mengarahkan XBand ke arah mata kita, dan voila... layarnya menyala.

I wish it was that simple. Ya, pada kenyataannya fungsi yang disokong oleh kehadiran accelerometer ini tak selalu berhasil dengan mulus, kadang harus agak kasar gerakan memutar pergelangan tangannya, sementara di lain kesempatan saat saya hanya menggerakan tangan sedikit saja, layarnya bisa menyala. Tapi hadirnya fitur ini sudah lumayan banget membantu lho, inget harga produk ini berapa ya, he.. he..

Saat notifikasi diterima, XBand takkan mengeluarkan bunyi apa-apa, hanya ada getaran yang sudah cukup untuk membuat kita ngeh bahwa ada notifikasi yang di-forward oleh smartphone kita ke smartband ini. Ya, tidak ada loudspeaker pada Infinix XBand ini, satu-satunya sumber suara ada pada earpiece yang terbenam di balik modul utama. 

Baterai Infinix XBand ini maksimal bertahan selama tiga hari lebih beberapa jam dalam pemakaian ala saya, tidak pernah tembus empat hari. Seminggu dua kali mengisi baterai smartband menurut saya sih sudah tergolong kebanyakan, saya sih inginnya wearables itu di-charge tiap weekend saja. Di hari kerja, saya ingin berangkat ke kantor tanpa perlu mengecek apakah jam tangan saya mati dan perlu diisi dayanya dulu atau tidak.

Ada beberapa antarmuka jam yang dapat dipilih, kita dapat menggantinya dengan melakukan tap dan tahan pada saat XBand menampilkan jam, lalu geser untuk melihat beberapa alternatif antarmuka, tap kembali pada antarmuka yang ingin dipilih. Untuk masuk ke menu atau fungsi lain, nyalakan lalu geser atau swipe layar XBand. Selain menu penghitung langkah, ada juga semacam stopwatch untuk mengukur lama kegiatan kita. Lagi-lagi yang bisa dihitung hanya jumlah langkah saja, dikarenakan tidak adanya sensor detak jantung pada smartband yang satu ini. Soal akurasinya pun saya tak tahu pasti ya.


Plus dan Minus Infinix XBand

Kelebihan Infinix XBand

  1. Harga yang terpaut jauh dari produk sejenis, walau tetap tak bisa dikatakan murah dalam ukuran saya.
  2. Bisa digunakan sebagai bluetooth handsfree.
  3. Bahan strap yang nyaman di kulit.
  4. Kehadiran accelerometer, memudahkan penggunaan.

Kekurangan Infinix XBand

  1. Accelerometer terkadang tidak stabil.
  2. Kualitas suara saat dipakai mendengarkan musik biasa saja.
  3. Daya tahan baterai tidak cukup lama.


Apa Kata Aa tentang Infinix XBand

Beli ngga, beli ngga? Mesti ujung-ujungnya muncul pertanyaan itu. Buat Anda yang sering bepergian, terutama yang menggunakan kendaraan umum, saya rasa Infinix XBand akan berguna buat Anda.

Disclaimer: paragraf berikut ini akan sangat terasa lebay dan dramatis.

Coba bayangkan saat Anda sedang naik angkutan umum dan terjebak macet, lalu Anda ingin membunuh waktu dengan mendengarkan musik, tapi sungkan membuka tas untuk mencari earphone Anda karena takut ada copet mengintai, tapi Anda rasa tak mungkin juga menyetel musik dengan loudspeaker karena lagu yang hendak Anda putar adalah Lelaki Kardus (I know, it's embarassing, haha...). Saya yakin dalam situasi seperti itu, Infinix XBand akan sangat berguna untuk Anda, tinggal copot dari pergelangan tangan Anda, pasangkan di telinga, lalu nyalakan bluetooth di ponsel, lanjut deh Anda bisa menikmati lagu kesayangan Anda tanpa takut membuka aib, ha.. ha.. ha.. Bahkan menurut saya ini akan menambah pesona Anda di mata para ABG penumpang angkutan umum itu melihat Anda punya gadget canggih layaknya agen-agen minyak tanah, eh agen spionase.

Intinya sih, menurut saya Infinix XBand pantas dimiliki jika Anda adalah orang dengan mobilitas tinggi yang akan membutuhkan fungsinya sebagai bluetooth handsfree, itupun dengan syarat Anda rajin mengecek kondisi baterainya ya, jangan sampai kehabisan daya saat digunakan. Harganya yang jauh lebih murah dari smartband dengan fitur sejenis jadi daya tarik utama smartband ini. Pun kalau Anda membeli smartband dan bluetooth handsfree terpisah, jatuhnya Infinix XBand akan lebih bersahabat dengan dompet. Sementara jika hanya butuh untuk jam tangan dan activity tracker, saya rasa sudah banyak smartband lain dengan harga yang lebih murah lagi siap jadi batu sandungan Infinix Xband untuk berjaya di pasar wearables di tanah air.

So, pertanyaan beli atau ngga bisa Anda jawab dengan bercermin kepada kebutuhan Anda sendiri ya. Semoga review ringan ini membantu. Dadah... :D

Wednesday, July 27, 2016

Tutorial Flashing CyanogenMod 13.1 ke Xiaomi Mi 4c



Buat yang sudah pernah baca review Xiaomi Mi 4c di blog ini, pasti sudah tahu kan kalau dulu saya sangat betah menggunakannya. Dulu terpaksa dijual kembali akibat Xiaomi Redmi Note 3 saya kecemplung got, dan dulu juga saya beli sewaktu masih mahal, sekitar tiga jutaan.

Nah kali ini saya CLBK dan kembali membeli Xiaomi Mi 4c, namun dengan harga hanya 1,7 juta saja. Karena tak betah dengan MIUI, saya pun langsung flash ROM CyanogenMod 13.1 Unofficial deh. Saya share langkah-langkahnya menjadi sebuah tutorial di sini ya.


Bahan yang Harus Dipersiapkan:


  1. Minimal ADB & Fastboot.
  2. TWRP (Custom Recovery) image untuk Mi 4c, tempatkan di Laptop/PC, saran saya sih satu folder dengan file adb.exe dari bahan nomor 1.
  3. ROM CM13.1 Unofficial dari Team Superluminal, salin ke memori internal Xiaomi Mi 4c.
  4. Flashable Slim Google Apps (CM13.1 tidak ada Google Apps by default), salin ke memori internal Xiaomi Mi 4c.
  5. Laptop / PC (saya pakai Laptop dengan Windows 10 versi 64-bit, tapi harusnya ga masalah Windows 7, ataupun yang 32-bit).


Langkah-langkah Mengganti Recovery Xiaomi Mi 4c dengan Custom Recovery TWRP

  1. Pastikan Mi 4c kamu bootloader-nya tidak locked, jika locked maka harus melakukan unlock bootloader dulu ya.
  2. Pastikan driver Mi 4c sudah ter-install di laptop/PC kamu (colokan dengan kabel USB agar Windows mencari driver-nya jika belum ada).
  3. Nyalakan ADB Minimal.
  4. Di Console ADB Minimal, ketik (tanpa tanda petik ya kalo ketik): "adb devices" lalu tekan [ENTER]. Jika benar, maka nomor seri device akan muncul di Console. Jika ada tulisan unauthorized, nyalakan layar Xiaomi Mi 4c kamu, lalu beri permisi pada dialog yang muncul. Ulangi proses nomor 4 ini.
  5. Jika langkah nomor 4 sudah sukses memunculkan device kamu di daftar, lanjut dengan mengetikkan "adb reboot bootloader" lalu tekan [ENTER]. Xiaomi Mi 4c akan masuk ke mode fastboot (gambar Mi Bunny dengan tulisan FASTBOOT).
  6. Ketik: "fastboot devices" lalu tekan [ENTER]. Jika benar, maka nomor seri device akan muncul di Console.
  7. Langkah selanjutnya adalah flashing recovery image (file .img), perintah berikut ini harus pas banget ya dengan lokasi kamu menyimpan file .img di PC/Laptop.
  8. Ketik: "fastboot flash recovery libra_ts_twrp_3_0_2_0.img" (jika file .img satu folder dengan file adb.exe, jika tidak maka alamat file harus lengkap, misal: D:\Downloads\libra_ts_twrp_3_0_2_0.img)
  9. Akan muncul pesan sukses jika berhasil.
  10. Tekan dan tahan tombol power hingga muncul logo MI. Selesai.


Langkah-langkah Flashing CyanogenMod 13.1 ke Xiaomi Mi 4c

  1. Di MIUI, buka aplikasi Updater, tekan menu (titik tiga) di sebelah kanan atas, lalu pilih Reboot into Recovery Mode.
  2. Masuk ke TWRP, biasakan Backup dulu ROM sebelumnya, untuk jaga-jaga jika flashing gagal.
  3. Pilih menu Wipe (Cache, Dalvik, Data), biasakan selalu wipe jika hendak berpindah ROM ya.
  4. Lalu, pilih Install, dan pilih file .zip berisi ROM CM13.1 (cm-13.1-20160708-UNOFFICIAL-libra.zip), tambahkan satu file .zip lagi untuk Google Apps (Slim_zero_gapps.BETA.6.0.build.0.x-20160516-2250.zip). Lalu swipe tombol [Flash].
  5. Tunggu hingga flashing selesai dan muncul pesan sukses.
  6. Wipe lagi.
  7. Reboot.
  8. Tunggu yang sabar karena boot pertama kali sangat lama (kurang lebih 3-5 menit).
  9. Voila! Masuk deh ke CM13.1, lanjutkan seperti biasa aja ya dari situ.
Nah, gimana, gampang dan cepat kan flashing-nya? Jika ada yang ingin ditanyakan mengenai tutorial ini, follow twitter @GontaGantiHaPe lalu mention deh, karena biasanya channel socmed itulah yang paling fast response, hehe..

Selamat mencoba, dan semoga berhasil ya!

Tuesday, July 26, 2016

Review Wiko Robby Indonesia, Smartphone 3G Murah yang Kekinian

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com


Sebelum Anda bertanya kenapa, saya tuliskan di awal bahwa review smartphone kali ini tidak akan selengkap biasanya. Alasannya sederhana saja, Wiko Robby yang saya beli di Lazada ini sedari awal memang untuk kejutan yang akan diberikan kepada ibu saya, demi menggantikan tablet dan ponsel lamanya yang berbarengan rusak. Tak sopan memang saya ini, barang hadiah koq diulas dulu, ha.. ha..

Hasilnya baru tiga hari dalam genggaman, keburu Ibu saya main ke Bandung, kangen cucu katanya. Mau tak mau proses pengujian segera saya akhiri, demi tercapainya tujuan utama pembelian Wiko Robby ini. He.. he..


Unboxing dan First Impression, Wiko Robby



Kiriman Wiko Robby oleh kurir Lazada Express datang terlambat, melebihi estimasi pengiriman yang diberikan di web. Selidik punya selidik, menurut sang kurir ini akibat overload barang kiriman sisa Ramadhan plus beberapa pegawainya memang baru masuk pasca libur Lebaran.

Kotak kemasan Wiko Robby terkesan ramai, penuh dengan warna. Cocok jika melihat harga jualnya yang ditujukan untuk menyasar pasar entry level. Bahan dari kotaknya tebal dan tidak ada kesan murahan. Dalam paket penjualan disertakan antigores secara cuma-cuma, dan walaupun harganya murah tapi ada headset-nya juga lho.

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - Kelengkapan dalam Kotak Penjualan


Saat pertama memegang smartphone ini, terasa build quality-nya tidak sesuai dengan harga yang ditawarkan, kebagusan. Ya, sama sekali tidak terasa kalau saya sedang memegang ponsel seharga 1,4 jutaan. Wiko Robby ini dirancang untuk memenuhi selera pasar saat ini, body metal, layar besar 5,5 inci, dan ya Anda mungkin kaget dengan hal ini: front dual-speaker!

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - front speaker!


Saat saya coba memainkan lagu menggunakan kedua loudspeaker tersebut, keduanya mengeluarkan suara kencang. Ya, sebatas kencang saja, detail dan power-nya sih masih kurang. Saat saya colokkan Xiaomi Mi Piston 2 milik saya, baru deh terasa enak di telinga. Ada tambahan audio enhancer berupa software yang dibenamkan pada Wiko Robby ini, namanya Auro 3D, dan cukup terasa manfaatnya.

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - sisi depan

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - sisi belakang, Rose Gold!

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - sisi kanan, tombol power dan volume rocker

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - sisi atas

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - sisi kiri nan kosong

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - sisi bawah

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - charger dengan kuat arus 1A

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - backcover plastik berlapis metal



Oh ya, walau harganya sangat terjangkau, Wiko Robby hadir dengan Android OS Marshmallow lho. Saat saya cek, ada software update sekitar 50MB yang nampaknya sih untuk patch atau perbaikan saja.


Spesifikasi Teknis Wiko Robby

Wiko Robby ini mempunyai spesifikasi yang menurut saya cukup wah untuk level harganya. Meskipun semua kelebihan spesifikasi ini pastinya akan terbentur kepada fakta bahwa smartphone ini belum mampu mengakses jaringan 4G. Karena di rumah ibu saya baru Smartfren saja yang layanannya sudah 4G, jadi cocok deh digunakan untuk dua nomor GSM milik beliau.

Nah spesifikasi Wiko Robby yang patut di-highlight adalah ini:

  1. Processor Quad-core Mediatek MT6580
  2. RAM 2 GB
  3. ROM alias Memori Internal 16 GB
  4. Kamera utama 8 MP dengan single LED Flash
  5. Kamera selfie 5 MP, juga dengan single LED Flash
  6. Layar 5,5 inci beresolusi HD (720 * 1280 pixels)
  7. Baterai 2.500 mAh
  8. Dual front speaker
  9. Dual microphone, jadi tak perlu khawatir menelepon dengan kondisi terbalik, ya Wiko Robby bisa digunakan bahkan saat kita memegangnya terbalik (bagian atas dan bawah tertukar). UI-nya akan menyesuaikan, dan karena ada dual microphone plus dual speaker, maka panggilan pun tetap bisa dilakukan.


Info Hardware Wiko Robby

Berikut adalah informasi hardware pada Wiko Robby yang diambil menggunakan bantuan aplikasi.

AIDA64:
Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.comReview Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.comReview Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com


CPU-X:

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - hasil long screenshot


Sensor Box for Android:

Review Wiko Robby - Kelengkapan Sensor
Review Wiko Robby - Kelengkapan Sensor


Dan inilah hasil pengujian menggunakan aplikasi benchmark sintetis, Antutu Benchmark:
Review Wiko Robby - Skor Antutu Benchmark
Review Wiko Robby - Skor Antutu Benchmark

Review Wiko Robby - Detail skor Antutu Benchmark
Review Wiko Robby - Detail skor Antutu Benchmark



Hasil Foto Menggunakan Kamera Wiko Robby

Hanya sedikit foto yang sempat saya ambil, kesimpulan awal sih performa kameranya biasa banget, autofokusnya pun kadang terasa lamban. Langsung lihat saja pada artikel hasil foto kamera Wiko Robby ini ya.


Plus Minus dari Wiko Robby


Kelebihan yang dimiliki Wiko Robby

  1. Harganya sangat terjangkau
  2. Spesifikasi yang cukup mumpuni
  3. Desain dan material yang kekinian
  4. Front dual speaker
  5. OS-nya sudah Marshmallow
  6. Layar terlihat menawan, reproduksi warnanya baik
  7. Kamera depan sudah dilengkapi LED Flash
  8. Adanya fitur long screenshot
  9. Dual-sim dengan slot micro-SD dedicated
Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - slot dan baterai di balik backcover



Kekurangan yang dimiliki Wiko Robby

  1. Mentok di 3G, belum 4G
  2. Bongsor dan terasa tebal
  3. Baterai 'hanya' 2.500 mAh, masih bisa ditingkatkan melihat body-nya yang bongsor
  4. Skor Antutu Benchmark kecil sekali, saya rasa akan menyurutkan niat pengguna smartphone yang hobi main game untuk meminangnya
  5. Kualitas kamera yang biasa saja
  6. Belum ada aksesoris yang dijual di pasaran


Apa Kata Aa tentang Wiko Robby


Untuk harganya yang hanya Rp 1.399.000,- saja, Wiko Robby saya rasa memiliki masa depan yang cerah. Karena walaupun skor Antutu Benchmark-nya sekecil itu, dalam penggunaan terasa lancar saja koq, bahkan untuk main game berat sekalipun. Spesifikasi teknis yang mentereng apabila dibandingkan dengan harganya, plus OS yang cukup up to date jadi kelebihan Wiko Robby.

Review Wiko Robby Indonesia by GontaGantiHape.com
Review Wiko Robby - kekinian dengan bahan metal dan warna Rose Gold


Syarat utama untuk dapat menikmati semua kelebihan Wiko Robby adalah, Anda tidak memerlukan jaringan 4G di kehidupan sehari-hari. Ini cukup menjadi deal breaker sih menurut saya, mengingat operator seluler sekarang memberikan bonus kuota berlimpah justru di jaringan 4G.

Nah, apakah untuk jajaran smartphone yang belum 4G ini Wiko Robby jadi best value? Bisa jadi, bisa banget malah. Tapi sebaiknya Anda bandingkan dulu dengan Blaupunkt Sonido X1+ yang sudah beberapa hari ini menemani kegiatan saya menikmati hiburan multimedia dengan sangat indah. Kebetulan harganya sedang drop banget, jadi saya beli. Nantikan ulasannya ya! (hint: kalau subscribe ke channel YouTube saya sih, sudah ada video unboxing dan ulasan awalnya, he.. he..)

Hasil Foto Menggunakan Kamera Wiko Robby

Berikut adalah hasil foto menggunakan kamera dari smartphone Wiko Robby. Semua gambar tidak melalui proses editing selain resize.

Kamera belakang Wiko Robby sama sekali tidak istimewa, malah di kondisi tertentu kalah dengan kamera depannya. Manual-mode juga sebatas pengaturan pencahayaan dan ISO saja, tidak ada manual fokus atau exposure time. Kelebihannya justru banyak fitur di kamera depan, selain ada LED Flash, ada Wide Selfie juga lho, semacam panorama tapi buat selfie.

Hasilnya? Cek di got! :D

Hasil Kamera Belakang Wiko Robby

Review Kamera Wiko Robby

Review Kamera Wiko Robby

Review Kamera Wiko Robby

Review Kamera Wiko Robby

Review Kamera Wiko Robby

Review Kamera Wiko Robby

Hasil Kamera Depan Wiko Robby

Review Kamera Wiko Robby
Wiko Robby - Selfie dengan LED Flash

Review Kamera Wiko Robby
Wiko Robby - Selfie dengan Beautify

Review Kamera Wiko Robby
Wiko Robby - Selfie dengan ekspresi saat tahu Gista Putri dinikahi bosnya.

Review Kamera Wiko Robby
Wiko Robby - Wide selfie


Thursday, July 14, 2016

Review Vivo V3 Indonesia, Gak Overprice Ah!

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

Ini adalah artikel review pertama yang saya tulis pasca libur Lebaran kemarin. Susah juga mengumpulkan mood dan kembali ke ritme bulan Ramadhan lalu, di mana rekor pribadi saya terukir untuk jumlah tulisan dan video dalam satu bulan.

Kembali ke kebiasaan lama pas dulu awal-awal nge-blog, saya mulai menulis artikel ini di malam hari, sepulang kerja dan sebelum menuju kasur. Mungkin ini yang membedakan proses penulisan di bulan biasa dengan saat bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan lalu, saya biasa terbangun dua hingga tiga jam sebelum imsak, dan menulis diselingi menonton tayangan sepakbola di televisi.

Tapi, sesuai dengan tema Lebaran (yang juga mirip dengan ucapan para petugas SPBU Pertamina saat mulai mengisi BBM), Mulai Lagi dari Nol, saya pun harus berjuang kembali menulis di depan notebook ini. Sebuah notebook kesayangan dari brand ASUS yang merupakan inventaris kantor ini sudah menemani saya setahun lebih, dulu saya beli di BEC sambil mengasuh anak, he.. he.. Gak apa-apa kan kalau tulisan review diawali oleh personal thoughts seperti ini? Ya hitung-hitung gaya baru, atau mungkin efek refreshing setelah libur Lebaran, biar gak bosan.

OK, pemanasan selesai. Kita masuk ke bagian awal dari setiap pengujian sebuah smartphone, unboxing dan kesan pertama ya. Untuk yang satu ini, sudah saya buatkan videonya sebelum Lebaran dulu, sebagian dari Anda mungkin sudah menyaksikannya ya? Tak ada salahnya ditonton lagi, film Warkop aja tiap Lebaran kita tonton lagi kan? He.. he.. he..


Unboxing dan First Impression on Vivo V3



Sebetulnya di video di atas ini, sudah ada semacam quick review berisi pengujian performa gaming, audio, dan kamera. Maksudnya quick review adalah review berdasarkan hasil pemakaian dalam waktu yang singkat. Selama ini, jika video-nya saya beri judul quick review banyak orang yang protes, "Quick review koq 20 menit? Full review-nya selesai dalam berapa purnama? Kalah dong AADC 2!"

Jadilah meskipun videonya singkat, saya tetap memberi judul REVIEW PANJAAAAAANG untuk video di atas, biar gak pada protes lagi. Kalau perlu, biar nggak pada protes juga, review tulisan juga saya singkat deh, tanpa huruf vokal, br gk pd prts ml yg bc, slny cp jg dprts ml. Ha.. ha..

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - kotak kemasannya minimalis
review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - kelengkapan dalam paket penjualan


Foto detail tiap sisi dari smartphone Vivo V3 dapat disaksikan di bawah ini ya.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - sisi kiri terdapat sim-card tray (dual-sim)

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - sisi atas terdapat noise cancellation mic, slot micro-sd dan port audio 3,5 mm

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - sisi bawah terdapat mic, port micro USB, dan loudspeaker

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - sisi kanan, volume rocker dan tombol power


Kualitas Audio Vivo V3

Nah, tak seperti review lain yang pernah saya tulis, kali ini selepas unboxing saya akan bahas soal audio dulu. Jangan salahkan saya, habis Vivo melabeli produknya dengan tagline "Hi-Fi & Smart" sih, jadi ya yang harus dibuktikan pertama kali ya Hi-Fi-nya dong! Mungkin nanti kalau saya sampai hati mencoba smartphone keluaran saudara-nya Vivo, OPPO, maka saya akan mencoba kameranya terlebih dulu. Sebagaimana kita tahu, tagline-nya OPPO adalah "Cameraphone". Jadi sepertinya holding company mereka mengarahkan Vivo ke audio, dan OPPO ke fotografi, diferensiasi yang memang diperlukan karena kadang bingung apa bedanya produk Vivo dan OPPO. Sebagai info, Vivo V3 punya 'kembaran' yaitu OPPO F1.

Saya sudah coba memutar beberapa lagu di video unboxing di atas, menurut kuping kaleng kerupuk saya ini, suara Vivo V3 lantang dan jernih saat diajak mendendangkan lagu melalui loudspeaker-nya. Posisi lubang loudspeaker-nya pun ideal, yatu di sisi bawah, bukan di belakang. Jadi rasanya takkan tertutup saat diletakkan di atas meja atau bidang datar lainnya dengan posisi telentang maupun telungkup.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - bagian paling indah dari ponsel ini


Saat saya pasangkan dengan in-ear headset Xiaomi Mi Piston 2 dan juga headphone Philips O'Neill The Cruz SHO 3300, saya merasakan sensasi suara yang membuat saya puas, walau tak sampai lemas. Suara yang dihasilkan Vivo V3 lagi-lagi mengesankan, meskipun tanpa embel-embel Dolby atau sejenisnya. Menggunakan music player bawaan, kita dapat melakukan pengaturan lanjut untuk masalah keluaran suaranya.

Saya bukan audiophile, tapi sepertinya sih cukup mampu menyimpulkan bahwa untuk urusan audio, Vivo V3 ini keren, pake banget, ga pake toge. Dari semua smartphone yang pernah saya coba, mungkin hanya HTC One E8 dengan BoomSound-nya yang berada pada kasta yang sama dengan Vivo V3. So, tagline Hi-Fi-nya bukan bualan lah ya, meskipun mungkin masih perlu dibuktikan pada jajaran smartphone Vivo yang paling murah sih (saya nggak berniat nyoba).

OK, sampai pada paragraf di atas, nulisnya sudah mulai suntuk. Tulisan pada bagian selanjutnya dibuat pada malam yang berbeda, dengan cangkir dan kopi yang sudah berbeda pula.

Price to Value Comparison, Vivo V3

Pada bagian ketiga ini, saya langsung to the point saja deh, bahas harga dengan apa yang didapat dari produk Vivo V3 ini.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - penempatan logo Vivo, mirip Mi yah!


Oh ya, sebagai info awal, Vivo V3 ini dijual dengan harga resmi Rp 3.499.000,-. Jika beli di Blibli.com, maka akan mendapat backcase bergambar Agnes Monica plus grafir tanda tangan yang bersangkutan pada bagian punggung smartphone ini. Nah, Vivo V3 yang saya pakai ini dibeli di Tokopedia, hanya seharga Rp 3.080.000,- tapi cuma dapat bonus tongsis. Hemat banyak yak!

Karena sampai saat saya tulis hari ini pun saya cek Vivo V3 di lapak penjual tersebut masih dijual dengan harga yang sama, jadinya saya anggap harganya 3,1 juta Rupiah saja ya.

Setelah Samsung, OPPO dan Vivo dikenal sebagai brand yang menjajakan produknya dengan harga yang bisa dibilang overpriced, sebagai efek samping dari metode penjualan offline yang gencar dengan komisi besar bagi promotor mereka. Saat pertama Vivo V3 dirilis pun, saya masih menganggap harganya kemahalan.

Mungkin karena saat itu kita masih bebas menikmati ponsel-ponsel bergaransi distributor yang memang miring harganya meskipun spesifikasinya mentereng. Selama ini saya selalu menganggap ponsel garansi distributor adalah ponsel BM non-garansi, yang resikonya bersedia saya tanggung sendiri sebagai konsekuensi dari selisih harganya yang jauh lebih murah.

Maraknya penertiban yang dilakukan atas ponsel-ponsel tak resmi tersebut kini membuat harganya melambung. Hal ini membuat saya melirik kembali ponsel dengan garansi resmi saja. Buat apa mengambil resiko jika harganya tak jauh beda bukan? Pun ini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap brand-brand smartphone yang mau tertib menjajakan produknya setelah proses sertifikasi resmi berhasil dilalui.

Nah kan, ngelantur ke mana-mana. Hayuk ah, bahas Vivo V3 aja! He.. he.. he..

Dengan harga 3,1 juta Rupiah, saya dapat Vivo V3 (plus tongsis tentunya) yang punya kelebihan seperti ini:
  1. Dapat mengakses jaringan 4G,
  2. Processor Snapdragon 615/616? (masih belum jelas, cek bagian informasi hardware ya),
  3. RAM 3GB,
  4. Penyimpanan internal 32GB,
  5. Layar 5 inci dengan resolusi HD 720p,
  6. Kamera utama 13 Megapixels dengan manual mode dan banyak mode lainnya,
  7. Kamera depan 8 Megapixels,
  8. Hi-Fi audio, dan
  9. Dual-sim dengan dedicated micro-SD slot.

Overpriced? Rasanya nggak deh. Coba saja bandingkan dengan spesifikasi Lenovo VIBE S1 yang harga resminya Rp 3.999.000,- atau dengan Samsung Galaxy A3 2016 yang harganya di pasaran paling murah sekitar 3,3 juta Rupiah tapi RAM-nya hanya setengah dari yang Vivo V3 miliki. Jika kita bandingkan dengan price to value comparison milik Xiaomi Redmi Note 3 garansi resmi pun rasa-rasanya masih wajar koq, ingat Vivo V3 sudah mendukung jaringan 4G secara legal lho.

Tak bisa dibilang murah memang, selain itu kualitas Vivo dalam hal layanan purna jual pun belum ketahuan. Namun paling tidak garansinya resmi, sudah 4G, dan saat digunakan lancar, smooth, multitasking berjalan baik, notifikasi pun tidak telat masuk. Salah satu kelebihannya yang perlu disorot adalah hadirnya slot micro-sd dedicated, yang sudah mulai jarang kita temukan. Bahkan, Vivo V3 Max yang merupakan versi lebih hebat dan lebih mahal-nya, malah menggunakan hybrid slot. Logika yang terasa aneh bukan?

Kekurangan Vivo V3 tentu saja ada, biar adil saya buatkan daftarnya juga deh:
  1. Tombol kapasitif tanpa backlight,
  2. Layar kurang vivid, resolusinya sih buat saya cukup, biar ga berat kinerjanya dan batre ga boros,
  3. Kapasitas baterai tergolong kecil untuk jaman sekarang, hanya 2.550 mAh,
  4. Desain sangat-sangat tidak unik, nyaris sama dengan saudaranya, OPPO F1,
  5. Pilihan warna yang (fe)minim, hanya white/gold,
  6. Kamera jika sedikit saja kurang cahaya, hasilnya grainy alias mulai muncul noise, meskipun bisa diakali dengan manual mode. Kamera depan tergolong biasa saja.


Informasi Hardware Vivo V3

Sampai tulisan ini saya selesaikan, saya masih nggak tahu sebetulnya processor yang dipakai Vivo V3 itu sebetulnya Snapdragon 615 ataukah Snapdragon 616. Koq bisa nggak tahu? Karena di spesifikasi resmi dan di menu About Phone-nya dicantumkan Snapdragon 616. Tapi saat menggunakan aplikasi AIDA64 dan CPU X, munculnya Snapdragon 615, padahal di Xiaomi Redmi 3 dan Lenovo VIBE K5 Plus, kedua aplikasi tersebut benar memunculkan info Snapdragon 616.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.comreview vivo v3 indonesia - gontagantihape.com


Saya tidak ambil pusing selama performa nyatanya dapat diandalkan saat saya gunakan. Buat yang penasaran, boleh bantu cek ya. Untuk saat ini, saya tampilkan dulu deh screenshot tentang hardware Vivo V3 yang saya miliki ya, apa adanya.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.comreview vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.comreview vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

Dan ini dia skor pengujian benchmark sintetis menggunakan Antutu Benchmark. Skornya sih lebih mirip skor Snapdragon 615 daripada Snapdragon 616 yang umumnya lebih rendah.
review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com - skor Antutu Benchmark
Review Vivo V3 - skor Antutu Benchmark

Urusan sensor, untungnya ga disunat kaya Coolpad MAX Lite ya :D

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com - kelengkapan sensor box for android
Review Vivo V3 - kelengkapan sensor


Vivo V3 dalam Penggunaan Sehari-hari

Terlepas dari masalah spesifikasi teknis dan harga, saya merasa betah menggunakan Vivo V3 untuk kebutuhan saya sehari-hari. Sebelumnya saya merasa betah menggunakan Meizu M3 Note, hingga akhirnya masalah notifikasi yang sering terlambat masuk terasa semakin parah setelah mendapat update firmware melalui OTA. Oh ya, saya belum bahas lengkap ya soal Meizu M3 Note? Hmm, nanti ya... Kita selesaikan dulu soal Vivo V3 ini.

Baterai Vivo V3 memang kecil kapasitasnya, pun kemampuan bertahannya tak terlalu istimewa. Dalam kondisi hari kerja yang normal, mampu koq bertahan dari sejak saya cabut saat bangun pada pukul tiga pagi, dipakai menemani aktifitas kerja, diselingi socmed, foto, dan sedikit game, lalu saat tiba kembali di rumah pada sekitar pukul tujuh malam, masih tersisa seperempatnya untuk saya gunakan browsing ringan dan mendengarkan musik sebelum tidur. Sambil tidur, tinggal saya charge deh.

Namun apabila dipakai gaming secara intens (game favorit saya saat ini tidak berat di grafis sih, hanya online terus saja), biasanya hanya mampu bertahan sekitar sepuluh hingga dua belas jam saja dengan rata-rata screen-on time di angka empat jam.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com


Pernah satu kali, sebelum tidur baterai Vivo V3 masih tersisa sekitar 20% dengan screen-on time yang sudah dicapai hampir empat jam. Kejadian aneh terjadi saat saya tinggal tidur, hingga terbangun untuk sahur. Pada saat bangun, screen-on time naik drastis menjadi sepuluh jam dan baterai tersisa 1% saja. Saya yakin waktu itu smartphone saya ini layarnya sudah padam saat ditinggal tidur. Entah apa yang terjadi, anggap saja anomali ya, he.. he..

  Pernah satu kali, sebelum tidur baterai Vivo V3 masih tersisa sekitar 20% dengan screen-on time yang sudah dicapai hampir empat jam. Kejadian aneh terjadi saat saya tinggal tidur, hingga terbangun untuk sahur. Pada saat bangun, screen-on time naik drastis menjadi sepuluh jam dan baterai tersisa 1% saja. Saya yakin waktu itu smartphone saya ini layarnya sudah padam saat ditinggal tidur. Entah apa yang terjadi, anggap saja anomali ya, he.. he..

  Pernah satu kali, sebelum tidur baterai Vivo V3 masih tersisa sekitar 20% dengan screen-on time yang sudah dicapai hampir empat jam. Kejadian aneh terjadi saat saya tinggal tidur, hingga terbangun untuk sahur. Pada saat bangun, screen-on time naik drastis menjadi sepuluh jam dan baterai tersisa 1% saja. Saya yakin waktu itu smartphone saya ini layarnya sudah padam saat ditinggal tidur. Entah apa yang terjadi, anggap saja anomali ya, he.. he..


Beralih ke sisi UI, Funtouch OS versi 2.5 yang digunakan Vivo V3 ini masih berdasarkan Android Lollipop 5.1.1. Namun feels-nya sangat-sangat iOS sekali. Launcher tanpa application drawer mungkin sudah lumrah ya, tapi jendela quick toggles yang muncul jika disapu dari bawah layar ke atas, ini yang benar-benar membuat terasa seperti iOS versi 8 ke atas. Recent apps atau task switcher hadir juga pada jendela yang sama.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - jendela yang muncul dari bawah layar

Jadinya untuk memunculkan recent apps, feels-nya mirip dengan saat menggunakan Flyme OS. Nah, tombol kapasitif paling kiri jadinya berfungsi sebagai menu saja, dan yakin deh akan sangat jarang Anda gunakan. Sementara untuk melakukan screenshot cepat, caranya bukan dengan menekan tombol [power] bersamaan dengan [volume down], melainkan dengan menahan tombol [power] lalu sentuh tombol [home], ini antara mirip dengan iPhone (bedanya iPhone tombol home-nya menggunakan tombol fisik) atau mirip dengan HTC ya (jaman HTC One X).

Pada quick toggles kita dapat memilih fitur S-capture, ini adalah fitur untuk merekam layar lebih lanjut. Screenshot panjang beberapa layar (scrolling) maupun screen recording dapat diakses dari menu ini. Sementara untuk menutup semua aplikasi berjalan, pilih Speed up. Sama seperti yang kita temui pada MIUI dan FlyMe OS versi lama, aplikasi yang berjalan ditampilkan dalam bentuk icon saja, tidak ada preview-nya, dan kita dapat mengunci aplikasi yang kita inginkan untuk terus dapat tetap berjalan.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - jendela quick toggles dan recent apps

Funtouch OS punya beberapa fitur yang cukup berguna, semisal memberitahu aplikasi apa saja yang dalam beberapa menit terakhir menguras baterai. Kita pun diberi pilihan untuk menutup aplikasi tersebut, serta mengatur apakah Funtouch OS diperkenankan menutup masing-masing aplikasi apabila aplikasi itu ditemukan menguras baterai. Satu fitur berguna lainnya adalah saat melakukan wi-fi tethering, Funtouch OS memberikan rekapitulasi sudah berapa banyak data yang kita pakai.

Dalam keseharian saya, Vivo V3 sangat bisa saya andalkan untuk fungsi multimedia. Menonton series Kamen Rider Amazon di smartphone ini masih terhitung nyaman. Kepuasan akan kualitas audio sudah saya bahas duluan, sementara kualitas kameranya dapat dilihat pada bagian selanjutnya ya.

Hasil Kamera Vivo V3

Hasil kamera Vivo V3 bisa dikatakan sedikit di atas rata-rata, dengan kekurangan utama ada pada kondisi lowlights yang rentan noise. Sering-sering luangkan waktu untuk mencoba mode-mode lain pada kamera Vivo V3 agar potensinya dapat dimaksimalkan ya.

Sementara untuk selfie, sejauh ini saya menilai kualitas hasilnya rata-rata saja.

Penasaran seperti apa hasilnya (termasuk hasil mode manual yang long exposure-nya bisa hingga enam belas detik)? Cek artikel hasil foto menggunakan kamera Vivo V3 berikut ini ya.


Apa Kata Aa tentang Vivo V3

Betah dipakai dan tidak terasa overpriced, itulah yang saya rasakan dari beberapa minggu menggunakan Vivo V3 ini. Tadinya saya sudah hendak menetapkan Meizu M3 Note sebagai daily driver, namun ganjalan belum bergaransi resmi dan notifikasi yang super telat, membuat saya memutuskan menjualnya kembali. Nah dua kekurangan utama Meizu M3 Note tersebut tidak saya jumpai pada Vivo V3 ini. Kekurangannya pun masih bisa ditolerir oleh saya pribadi. Jadilah review ini berkesimpulan positif untuk Vivo V3. Nice job, Vivo!

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - a really good phone for Aa


Harap diingat ya, Vivo V3 cocok buat saya dengan kondisi saya yang tidak banyak bermain game berat (Vivo V3 mampu koq memainkan game berat, cuma kasihan saja sama baterainya hehe), lebih nyaman dengan dimensi layar 5 inci daripada 5,5 inci ke atas, serta tidak masalah dengan resolusi layar HD jika sebagai trade off untuk ketahanan baterai dan performa yang smooth.

Beberapa kali saya rekomendasikan Vivo V3 ini kepada mereka yang mencari smartphone dengan budget tiga jutaan, dan umumnya reaksi mereka masih merasa belum pede mengeluarkan uang sejumlah itu untuk produk dari brand Vivo ini. Stigma overprice masih melekat nampaknya kepada brand yang satu ini. Sah-sah saja anggapan itu, tapi buat saya sih gak overprice ah! Ciyus deh, enelan, baca lagi deh dari awal tulisan ini, ha.. ha..

Selamat bingung! *lho*