Gadget Promotions

Friday, August 11, 2017

Review Moto E4 Indonesia, Mewah di Luar, Sederhana di Dalam



Dalam bulan yang sama, Moto Indonesia yang kini pastinya bergerak di bawah bendera Lenovo, merilis dua buah smartphone yang menarik dan pastinya membuat penasaran orang. Buat generasi 90-an dan yang lebih senior, brand Motorola pastinya sudah akrab, dan mungkin juga dirindukan.

Ya, inovasi pada ponsel-ponsel generasi awal dahulu memang banyak dipelopori salah satunya oleh Motorola. Dan setelah sekian lama tak berjualan di Indonesia, kehadiran dua ponsel Moto tahun ini bisa memberikan nostalgia buat sebagian orang.

Contohnya saja mertua saya yang sangat excited saat melihat ponsel di tangan saya  ternyata keluaran Motorola. Dan saya rasa, Moto E4 ini bisa menjadi pelepas dahaga pada level harga yang sangat terjangkau.

Dijual dengan harga resmi yang cukup terjangkau, Moto E4 nampak begitu solid untuk level harganya. Saya yakin tak banyak yang mengira ponsel ini memiliki bandrol yang berada di dalam harga psikologis bagi sebagian besar pengguna ponsel tanah air, yaitu di bawah dua juta Rupiah.



Moto E4 memiliki garis desain yang sama dengan Moto Z2 Play untuk sisi depannya, panel depan hitam pekat dengan fokus utama akan menuju kepada sebuah cekungan di bawah layar lima inci beresolusi HD 720p ini. Cekungan ini tentu saja berfungsi sebagai pemindai sidik jari, sudah lumrah itu mah. Yang patut diberi sorotan adalah akurasinya yang tinggi, meskipun memang masih membutuhkan sedikit jeda hingga kunci layar terbuka. Selain itu, fiturnya sama dengan Moto Z2 Play yang berada di kelas atas, yaitu sensor ini bisa digunakan menggantikan ketiga tombol navigasi juga.

Bahkan, Moto Active Display pun hadir pada Moto E4 ini, hanya saja fitur ini baru aktif saat kita mengangkat ponsel. Sedikit berbeda dengan Moto Z2 Play yang cukup dengan melambaikan tangan di atas layar, maupun saat ada notifikasi baru. Hal ini bisa dimaklumi sebagai upaya untuk menghemat daya, mengingat panel layar yang digunakan bukanlah AMOLED yang bisa menyala sebagian pixel-nya saja.

Beralih ke backcover-nya, ini adalah bagian yang paling tidak mencerminkan harga ponsel ini. Berbahan metal dengan finishing yang mantap digenggam serta dimensinya yang compact, Moto E4 jadi salah satu ponsel yang paling enak dibawa ke mana-mana. Di bagian bawah sisi ini terdapat lubang loudspeaker yang memang cukup disayangkan berada di bagian yang rentan tertutup saat ponsel ini diletakkan di atas bidang datar. Walaupun berkat desainnya yang agak curvy, suaranya masih mampu terdengar dengan baik. Kualitas audionya sendiri cukup jernih, namun jelas bukan yang paling TOP.

Sementara jeroan dari Moto E4 ini adalah bagian yang paling melambangkan harganya. Tidak bisa dipungkiri, Moto harus menyesuaikan spesifikasi ponsel ini dengan level harganya. Namun demikian, dengan penggunaan Android 7.1.1 yang nyaris stock, performanya masih dapat saya nikmati untuk kebutuhan social media, browsing, dan game casual.

Konsumsi baterai pun tergolong cukup hemat, di mana baterai berkapasitas 2.800 mAh ini selalu mampu menemani dari dini hari saat saya bangun dan lepas charger, hingga malam sehabis pulang kerja. Jika sedang jarang digunakan, sesekali 24 jam bisa ditembus dalam satu kali pengisian daya.

Kelebihan dari ponsel ini adalah backcover-nya yang dapat dilepas, pun demikian dengan baterai-nya. Jadi, seandainya suatu saat performa baterainya sudah menurun, Anda dapat mengganti baterainya dengan membeli sendiri tanpa perlu datang ke tempat service. Selain itu, Moto E4 ini memiliki dua slot sim-card dan sebuah slot khusus micro-SD, jadi Anda masih bisa leluasa menambah kapasitas storage, apabila 16 GB tak cukup buat Anda.

Lanjut ke sisi kamera, kemampuannya menangkap gambar tergolong di atas rata-rata untuk level harganya. Dalam kondisi lowlights pun masih bisa menangkap gambar dengan cukup detail, meskipun terlihat noise sudah mulai rajin hadir. Satu yang bisa jadi peningkatan adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengambil fokus yang masih tergolong agak lambat. Jika diharuskan mengambil gambar secara buru-buru, besar kemungkinan fokusnya akan meleset.

Satu yang jadi bonus adalah, adanya LED di bagian depan untuk membantu selfie saat kondisi kurang cerah. Fitur beautify juga hadir, jadi ibu-ibu bisa tetap puas dengan hasilnya, hehehe.

Kemampuannya merekam video cukup baik, meski resolusi maksimalnya mentok di HD 720p dengan framerate 30fps. Limitasi-limitasi ini saya yakini datang dari penggunaan chipset Mediatek MT6737T. Salah satu akibatnya, saya pun tak bisa membuat video teaser dengan aplikasi Quik karena tak pernah berhasil saat rendering.

Hasil foto dan video menggunakan kamera Moto E4 dapat disaksikan pada video review berikut ini:



Masuk ke kesimpulan, Moto E4 adalah sebuah ponsel yang jadi alternatif yang baik apabila Anda ingin bernostalgia dengan Motorola. Desain dan build quality-nya terbilang jempolan, dan bisa dipastikan memiliki gengsi yang baik apabila hendak dijadikan hadiah bagi orang terkasih maupun kolega bisnis.

Untuk pemakaian casual, semisal kebutuhan browsing, social media, dan chatting, tidak ada masalah berarti yang akan Anda temui. Lain hal-nya kalau kebutuhan Anda untuk quick video editing, dan heavy gaming. Untuk tujuan itu, saya rasa budget belanja smartphone Anda perlu dilipatgandakan  deh.

Ya, karena Moto E4 sejatinya merupakan ponsel yang baik dengan user experience yang nyaris sama dengan ponsel Moto dari kelas atas. Satu pesan saya untuk masalah kamera, sabar-sabarlah menunggu fokusnya terkunci, supaya Anda puas dengan hasilnya.

Anda yang berminat memiliki ponsel ini, dapat mengecek ketersediannya pada link yang saya sediakan di deskripsi video ini. Moto E4 sudah mulai dijual secara resmi koq di Indonesia. Yang sudah kangen sama Motorola, semoga ponsel ini bisa menjadi jawaban untuk hasrat Anda bernostalgia ya!

Sekian review kali ini, oh ya lokasi pengambilan gambar pada video kali ini berada di salah satu tempat wisata di Kota Garut lho. Main yuk ke Garut!

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit. Wassalam!

Wednesday, August 9, 2017

Review Moto Z2 Play, Pilihan Terbaik Tahun Ini?



Bulan ini saya berkesempatan mencoba dua buah smartphone keluaran Motorola, eh Lenovo, yaitu Moto Z Play (versi retail China) dan Moto Z2 Play sekaligus. Dan pada review kali ini yang saya bahas adalah sang adik, alias sang pembaharu, Moto Z2 Play.

Hadir dengan dimensi yang lebih tipis, Moto Z2 Play menurut saya jauh lebih enak digenggam tangan daripada sang kakak. Ternyata 1 mm bisa memberi dampak perbedaan yang sangat signifikan ya di tangan. Namun kalau kita jeli, penipisan body Moto Z2 Play tidak terlalu berpengaruh pada ketebalan total dari smartphone ini. Ya, karena bulatan pada bagian kamera belakang Moto Z2 Play saya rasa memiliki ketebalan yang tetap sama dengan sang pendahulu, terlihat dari tonjolan ini yang semakin terlihat menonjol jika dibandingkan dengan bagian yang sama pada Moto Z Play.



Perbedaan lengkap dari Moto Z Play dan Moto Z2 Play saya bahas pada artikel atau video lain ya.

Overall, desain dari Moto Z2 Play ini terlihat cantik menggoda dan tentu saja terasa orisinil. Ya, orisinil adalah sebuah kelebihan yang patut dibanggakan belakangan ini mengingat rasanya desain smartphone sudah semakin mirip saja satu sama lain. Tipis dan keren, dua kata itu layak disandang oleh ponsel yang sudah mulai dijual resmi di Indonesia pada rentang harga enam jutaan ini.

Di bagian belakang kita masih akan melihat pin magnetic untuk koneksi ke berbagai Moto Mods yang tersedia untuk Moto Z2 Play ini. Sementara di bagian depan, nah ini dia jawaban tentang di mana sebetulnya loudspeaker ponsel ini berada, haha. Ya, loudspeaker-nya ada pada earpiece di atas layar Moto Z2 Play. Sedangkan di bawah layar ada sebuah cekungan yang merupakan fingerprint scanner yang sangat akurat dan cepat responnya. Pemindai sidik jari ini juga dapat difungsikan menggantikan ketiga tombol navigasi bilamana Anda ingin layar yang lebih lega tanpa barisan tombol tersebut. Jika sudah dinyalakan dari aplikasi Moto, maka Anda bisa melakukan tap untuk tombol home, swipe ke kanan untuk recent apps, dan swipe ke kiri untuk back. Kalau saya sih lebih senang pakai on-screen navigation saja deh, hehehe.

Lanjut ke sisi jeroan, ini adalah smartphone pertama yang mengusung processor kelas menengah dari Qualcomm, yaitu Snapdragon 626. Processor ini punya beban berat meneruskan kesuksesan Snapdragon 625 yang sudah disukai banyak pengguna smartphone Android, termasuk saya sendiri. Dan so far, Snapdragon 626 di Moto Z2 Play mampu memberikan performa yang semakin baik dengan daya tahan baterai yang tetap tergolong awet.

Dalam masa pemakaian saya, Moto Z2 Play selalu mampu memanfaatkan baterainya yang berkapasitas 3.000 mAh ini untuk melalui satu hari dan satu malam penuh dengan masih menyisakan baterai untuk beberapa jam pemakaian lagi. Sayangnya saya tak bisa membandingkan konsumsi daya ini dengan Snapdragon 625 secara apple to apple mengingat Moto Z Play memiliki kapasitas baterai yang berbeda.

Sejauh itu pula, saya rasanya tak pernah merasakan suhu dari Moto Z2 Play meningkat saat digunakan mengakses internet meskipun dalam waktu yang cukup panjang. Saya biasanya hanya bermain game dalam waktu yang singkat sih, dan dengan pola gaming seperti ini juga tidak ada masalah dengan suhunya. Performanya sendiri untuk gaming terbilang baik, sewajarnya memang begitu karena Snapdragon 626 ini konon merupakan hasil overclock dari Snapdragon 625. Sehingga skor Antutu Benchmark-nya pun jelas lebih tinggi.

Kalau berbicara masalah software dan user experience-nya, inilah dia pure Android yang sesungguhnya. Nyaris tanpa permak apa-apa, rasanya nikmat sekali merasakan pengalaman menggunakan semua fitur dan kelebihan yang dimiliki oleh Android Nougat 7.1.1 terbaru. Lenovo memperkaya konten pada smartphone ini dengan sentuhan muatan lokal, eh kaya nama mata pelajaran jaman SMP dulu yak, heuheu. Maksudnya ada beberapa tampilan yang dibuat lebih Indonesia, selain kemasannya yang merah, yaitu booting animation dan wallpaper default yang serba Indonesia.

Beralih ke sisi kamera, Moto Z2 Play memiliki kamera utama dengan resolusi 12 Megapixels. Hasil fotonya dalam kondisi pencahayaan yang baik, menurut saya imut sekali, eh koq imut? Ya gitu deh, hasilnye menggemaskan, warna yang keluar dengan baik, serta bokeh yang sangat lembut, membuat saya bertanya-tanya, siapa yang butuh kamera ganda kalau dengan satu kamera seperti ini saja hasilnya sudah seimut ini. Yah, imut lagi, haha.

Saya beberapa kali mengambil gambar dalam kondisi lowlights, hasilnya menurut saya agak beragam. Ada kondisi di mana saya puas dengan hasilnya, namun ada pula hasil gambarnya yang cukup kentara akan noise yang bertaburan.

Kamera depannya pun tak kalah bagus, dan sudah ada fitur beautify yang saya curigai merupakan request dari Lenovo, hahaha. Dengan dual-tone LED flash di sisi depan, selfie dalam kondisi kurang pencahayaan dapat tetap dilakukan tanpa membuat warna kulit terlihat aneh.

Satu hal yang cukup istimewa adalah saat digunakan merekam video. Terasa ada stabilisasi yang terjadi, cukup membantu agar bisa diandalkan merekam momen-momen dalam gerakan. Jadilah Moto Z2 Play ini cocok juga kalau mau dipakai vlogging.

Silakan disaksikan video dan foto yang dihasilkan oleh Moto Z2 Play pada video review berikut ini.



Bahasan terakhir adalah soal multimedia. Moto Z2 Play ini bisa jadi sahabat yang baik untuk kebutuhan multimedia. Layar Full HD berdimensi 5,5 inci dengan panel AMOLED tentunya akan sangat indah digunakan menikmati video-video beresolusi tinggi dengan warna-warna yang hidup. Sementara output audio-nya cukup untuk kita mendengarkan dialog di film, maupun musik-musik kesayangan. Namun sejujurnya, ini bukan loudspeaker terbaik yang pernah saya coba, rasanya power-nya tak cukup lantang buat saya. Mungkin Lenovo ingin mendorong penggunanya untuk memasang Mods speaker untuk ponsel ini ya, hehehe.

Nah, ngomong-ngomong soal Moto Mods, saya kebetulan tak punya satu pun, jadi takkan ada bahasan soal Mods ini di ulasan kali ini. Hanya saja, bisa dipastikan Moto Z2 Play akan compatible dengan semua Moto Mods baik itu yang generasi pertama, maupun yang baru dirilis berbarengan dengan ponsel ini.

Masuk ke kesimpulan, Moto Z2 Play adalah sebuah smartphone yang memiliki jatidiri sebagai ponsel pure Android dengan desain yang unik, dan fitur-fitur yang menarik. Terasa sekali setiap sisi dari ponsel ini diperhatikan dengan sangat detail, mulai dari desain bodinya yang distinctive, sentuhan-sentuhan pada sisi software, hingga fitur-fitur tambahan yang ditawarkan dengan modularitas dari Moto Mods-nya.

Dengan performa dan daya tahan baterai yang baik, desain tipis nan menawan disertai build quality jempolan, layar yang indah, dan kamera yang dapat diandalkan, Moto Z2 Play sangat layak masuk daftar rekomendasi smartphone Android tahun ini. Satu yang mungkin perlu diperhatikan adalah harga jual resmi Moto Z2 Play yang cukup tinggi, yaitu pada level enam jutaan dengan berbagai bonus yang disertakan.

Satu hal yang saya perhatikan dari Moto Z dan Moto Z Play tahun lalu, kedua ponsel ini memiliki harga jual kembali yang cukup jatuh, dan juga tak lekas laku kembali. Jadi, jika Anda sudah siap berkomitmen panjang dengan sebuah smartphone, Moto Z2 Play bisa jadi jawaban yang tepat. Biar makin lekat, sekalian beli beberapa Moto Mods-nya deh, dijamin nanti jadi malas berganti ponsel lagi, soalnya udah kadung beli banyak tambahannya haha.

Bisa disimpulkan kan maksud saya? Ya, Moto Z2 Play adalah ponsel yang baik dan berkualitas, namun perlu diperhatikan mengenai harga-nya yang juga cukup premium.

Demikian review saya, hatur nuhun!

Saturday, July 22, 2017

Review OnePlus 5 Indonesia, Flagship (Ga Pake) Killer



Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan bisa mencoba smartphone terbaru yang lagi panas-panasnya dibicarakan secara global. Ya, saking panasnya hingga stoknya seringkali cepat habis. Termasuk di GearBest.com, stoknya cepat sekali menguap, sehingga counterpart saya sulit sekali mendapatkan jatah untuk dikirim ke saya.

Namun yang terjadi malah sengsara membawa nikmat, langkanya stok OnePlus 5 versi RAM 6 GB malah membuat saya kebagian OnePlus 5 dengan RAM 8 GB dan internal storage 128 GB. Serius, nikmat sekali rasanya, hahaha. Dan inilah dia smartphone dengan RAM 8 GB yang pertama saya coba.


Kesan pertama saya pada OnePlus 5 ini adalah tentu saja ini device yang secara penampilan amatlah menarik hati. Kemasannya pun terasa istimewa, membuat pikiran ini kembali ke satu tahun lalu saat saya mencoba produk OnePlus pertama saya, OnePlus X. Ya, produk-produk OnePlus ini punya packaging yang sangat terasa diniatkan untuk memberi impresi pertama yang baik.

Smartphone-nya sendiri langsung mencuri hati saya saat pertama kali memegangnya, begitu tipis, dengan backcover metal yang finishingnya lembut sekali di tangan. Dan meskipun berdimensi layar 5,5 inci, tetapi saya masih mampu memegangnya dengan nyaman, kecuali saat saya sadar bahwa ponsel ini di Indonesia dijual dengan harga delapan jutaan. Rasanya hati ini langsung merasa riskan dan tak tenang, mengingat memang OnePlus 5 terbilang licin sekali. Belum siap mental nampaknya punya hape mahal nih, hahaha.

Banyak orang bilang OnePlus 5 ini terlalu mirip dengan iPhone 7 Plus, mulai dari posisi dua kamera belakang dan LED Flash-nya, garis antenanya, hingga penempatan tombol-tombolnya yang memisahkan antara tombol power di kanan dengan tombol volume dan profile switch di sisi kiri. Namun begitu, setidaknya di sisi bawah ponsel ini, OnePlus masih melestarikan keberadaan port audio 3,5 mm sih hehehe.

Di sisi bawah ini pula terdapat port USB type-C dan speaker grille. Sayang posisi speaker ini berada di kiri yang mana membuatnya pasti tertutupi tangan pengguna saat dipegang dalam posisi landscape. Padahal secara kualitas, bisa dibilang tak ada masalah dengan speaker yang bunyinya lantang ini. Namun saya pun setuju dengan review lain yang menyebutkan speaker ini sedikit kurang ngebass.

Desain sisi depan ponsel ini terasa mainstream sekali, saya jadi ingat dengan Meizu M5 saya dulu yang harganya nyaris seperlimanya saja, hehe. Namun, sebetulnya ada dua hal yang menarik dari panel depan OnePlus 5 ini. Pertama tentu saja layarnya yang meskipun banyak dicibir karena masih beresolusi Full HD saja, menurut saya sangat baik dalam berbagai aspek. Reproduksi warna panel AMOLED tentu saja masih menjadi salah satu yang terbaik, sementara kerapatannya resolusi 1080p masih sangat cukup pada ukuran layar 5,5 inci seperti ini, dan takkan memberatkan kinerja graphic processor serta baterai. Respon yang diberikan pun sangat lancar sejauh ini. Kedua, sedikit di bawah layar kita akan menemukan sebuah fingerprint scanner yang juga merupakan tombol home kapasitif. Bahannya terbuat dari keramik yang memiliki ketahanan akan goresan yang sangat baik. Selain itu, akurasinya sangat baik dengan waktu respon yang sangat cepat dan nyaris tak pernah gagal membaca sidik jari saya.

Lanjut ke bagian jeroannya, OnePlus 5 sah-sah saja dibilang monster ya. Dengan processor terbaru dari kasta tertinggi yang dirilis Qualcomm, OnePlus 5 menjadi salah satu dari segelintir smartphone yang sudah menggunakan Snapdragon 835. Di beberapa berita disebutkan bahwa skor Antutu-nya merupakan yang tertinggi saat ini, meskipun di beberapa berita lainnya disebutkan pula adanya upaya OnePlus mengatrol skor ini dengan cara yang tidak semestinya.

Terlepas dari rumor-rumor tersebut, saya percaya tanpa melihat skor benchmark pun, performa OnePlus 5 sudah sangat top. Sebelumnya saya pernah mencoba processor yang sama di Xiaomi Mi 6, dan di OnePlus 5 pun terasa juga performanya yang super, dengan konsumsi baterai yang tetap irit dan tak banyak membuat suhu ponsel meningkat.

Dengan kapasitas baterai yang relatif sama dengan Xiaomi Mi 6, harus diakui daya tahan baterai OnePlus 5 masih di bawah Mi 6. Jika dulu saya bisa membawa Mi 6 bertahan hingga 2 x 24 jam, maka di OnePlus 5 rata-rata hanya mampu menembus sehari semalam lebih beberapa jam saja. Optimisasi baterai di MIUI yang kadang membuat notifikasi agak telat masuk, saya rasa jadi faktor pembeda. Nah, Anda tinggal pilih saja, mau baterai tahan 2 harian atau mau notifikasi yang real time?

Kalau saya? Saya malah benar-benar betah menggunakan OnePlus 5 justru karena Oxygen OS-nya ini. Selain notifikasi yang real time, banyak fitur tambahannya yang esensial dan mengingatkan saya pada custom ROM Lineage serta Resurrection Remix. Mulai dari fitur gesture, hingga kustomisasi tombol yang membuat saya dapat melakukan aksi berpindah antar dua aplikasi terakhir hanya dengan menekan dan menahan salah satu tombol kapasitifnya. Saya suka dengan custom UI yang masih membuat kita masih bisa merasakan kelebihan-kelebihan dari OS Stock Android terbaru seperti ini, terutama pada jendela notifikasi.

Lalu bagaimana dengan RAM 8 GB-nya? Intinya mah, multitasking udah nggak usah dipikirin. Maen game lalu ditinggal buka notifikasi yang masuk, kelupaan beberapa jam, dan saat dibuka lagi gamenya langsung muncul ke layar terakhir saat kita memainkannya tanpa loading, seharusnya bisa menggambarkan bagaimana enaknya punya RAM besar ya. Dan ini berlaku juga buat browser yang tak perlu loading lagi saat dibuka kembali, saking besarnya kapasitas RAM untuk menampung process yang berjalan. Satu yang patut diingat, menyimpan banyak process di RAM berarti juga banyak daya yang dibutuhkan ya, bisa jadi baterai lebih cepat habis kalau kita tak tutup aplikasi-aplikasi yang sudah tak diperlukan lagi.

Lanjut ke sisi kameranya, seandainya saya tak tahu harganya yang mahal, pastilah saya akan sangat takjub dengan kemampuannya memproduksi gambar yang detail dengan warna-warna cerah. Proses pengambilan gambar pun selalu berlangsung dengan baik, autofokus maupun mode HDR dapat berjalan dengan cepat. Dalam kondisi lowlights pun kamera OnePlus 5 masih sangat dapat diandalkan, meskipun bagi saya pribadi hasilnya tidak begitu istimewa.

Satu hal yang jadi catatan penting justru datang dari proses perekaman video. Hadirnya EIS menggunakan bantuan gyroscope sensor, membuat pengambilan gambar terasa sangat stabil baik dalam berbagai kondisi pencahayaan. Memang seperti inilah seharusnya kamera ponsel dengan harga setinggi ini mah sih, malah aneh kalau tak sebagus ini.

Seberapa bagus dan seperti apa stabilization yang dihasilkan dapat Anda simak pada rentetan video dan gambar yang dihasilkan dari kamera OnePlus 5 berikut ini ya.
















Masuk ke kesimpulan, OnePlus 5 sudah dapat dikatakan flagship tanpa kata killer di belakangnya. Iya lah, flagship killer lebih layak disandang oleh ponsel yang peforma atau spesifikasinya setara ponsel flagship dari brand besar, namun dijual pada level harga yang berbeda. Nah, kalau 8 jutaan mah, LG G6 saja sudah di bawah 8 juta sekarang harganya. Mungkin smartphone yang masih bisa dibilang flagship killer menurut pandangan saya adalah Xiaomi Mi 6 ya.

Oke, sekarang terlepas dari status flagship killer atau bukan, OnePlus 5 adalah smartphone yang cantik luar dalam. Tidak ada kekurangan yang terlalu mendasar yang dimiliki oleh ponsel ini, walaupun untuk saya pribadi ada tiga hambatan utama untuk tak menjadikannya daily driver:

  1. Harganya mahal sekali untuk ukuran saya, membuat perasaan was-was selalu muncul saat menggunakannya.
  2. Licin sekali. Sudah mahal, licin pula. Wah, makin deg-degan pakainya, takut jatuh dan terluka heuheu. Apalagi saat ini case-nya masih jarang sekali yang jual, dan kalaupun ada mahal harganya. Lagipula smartphone cantik dan tipis koq pakai case? Tapi kalau nggak pakai case, ga tenang. Malah dilema jadinya.
  3. Loudspeaker. Selain posisinya yang sering tertutup tangan, kualitas suaranya pun masih tak terlalu istimewa untuk ukuran harganya. Kencang dan clear, tapi kurang ngebass dan bertenaga.
Tanpa mengindahkan preferensi pribadi saya barusan, saya rasa OnePlus 5 jadi smartphone terbaik yang bisa didapatkan dengan harga delapan jutaan, dengan catatan Anda tak memerlukan layanan purna jual ya. Karena sebagaimana kita tahu, OnePlus sudah hengkang dari Indonesia karena BBK Group lebih memilih untuk fokus menjual duet brand smartphone mereka, Oppo dan Vivo. Mungkin mereka sudah punya hitung-hitungannya tentang hal ini, melihat semakin gencarnya promosi kedua brand ini. Mungkin pangsa pasar internet brand seperti OnePlus ini di Indonesia terlalu segmented sepertinya.

Jadi, bijaklah saat Anda hendak memutuskan untuk lanjut atau tidak membeli OnePlus 5. Kalau Anda memang smartphone enthusiast yang gatal jika tak mencoba produk hot terbaru dengan spesifikasi nan menjulang, serta tak memerlukan jaminan pusat perbaikan di Indonesia, monggo, OnePlus 5 saya yakini takkan mengecewakan Anda. Cantik luar dalam, dengan spesifikasi tertinggi dan kamera yang sangat baik, harga delapan juta saya rasa masih pantas untuknya.

Namun jika belum apa-apa sudah muncul pertanyaan di benak Anda, kalau rusak nanti service di mana, saya rasa mending skip saja deh. Simak lagi alasan kenapa saya tak menjadikannya sebagai daily driver saya. Hehehe.

Demikian ulasan saya tentang OnePlus 5, Hatur Nuhun!

Info Diskon OnePlus 5 di GearBest.com:BUY OnePlus 5 (8GB / 128GB) at http://smarturl.it/GB_ONEPLUS5_128 ($569.99 with coupon: "RTOnePlus5")
BUY OnePlus 5 (6GB / 64GB) at http://smarturl.it/GB_ONEPLUS5_64 ($469.99 with coupon "PlusHFG")
BUY Xiaomi Mi 6 (6GB / 64GB) at
http://smarturl.it/GB_MI6 ($419.99 with coupon "MiHK4G")

Thursday, July 20, 2017

Review Vernee Mars - Cantik Kekinian di 2-jutaan



Cantik. Satu kata ini memang sangat tepat mewakili perkenalan kita pada smartphone ini. Ya, impresi pandangan pertama pada Vernee Mars ini memang berujung pada kesimpulan bahwa ponsel ini memiliki kelebihan di sisi looks.



Bagian layar hitam pekat dengan tepian 2.5 D siap menunjukkan ketipisan bezelnya saat dinyalakan, walau memang tak seperti foto produk untuk promosinya yang seolah menunjukkan bagian depan yang bezelless di kedua sisinya. Jadinya, dengan bentang layar 5,5 inci pun, Vernee Mars ini masih sangat nyaman digenggam karena ukurannya cukup compact.

Chamfered metal nan mengkilap menjadi batas frame metal dengan kaca depannya. Penempatan komponennya sendiri sangat umum, sim-tray di kiri dan di sisi bawah terdapat lubang microfon, USB Type-C dan loudspeaker. Tombol power dan volume rocker di kanan, dan port audio 3.5 mm di atas. Ya, saya tak menemukan lubang untuk noise cancellation microfon pada Vernee Mars ini.

Eh, di mana fingerprint scanner-nya ya? Apakah ponsel ini tak memilikinya? Tenang dulu, ada koq. Di sisi kanan, tepatnya di bawah tombol power ada sebuah bidang yang merupakan pemindai sidik jari. Letaknya seperti fingerprint scanner pada ponsel-ponsel keluaran Sony ya, hanya bedanya yang ini cukup disentuk, tak perlu ditekan dulu seperti milik Sony.

Garis antena menyambung dari frame pinggir ke backcover-nya yang menyatu dengan tepian yang agak tajam menandakan perpindahan dari bagian pinggir ke belakang. Bentuk garisnya yang mengikuti trend ponsel sekarang menegaskan desain yang kekinian, alias terbawa arus masa. Hehe. Kamera utamanya yang beresolusi 13 Megapixels ditempatkan di pojok kanan atas bersama dual-tone LED flash.

Dari berbagai sudut, Vernee Mars ini tetap terlihat cantik. Tapi apakah hatinya secantik wajahnya?



Vernee Mars dalam Pemakaian Sehari-hari

Kita kupas soal jeroan Vernee Mars dulu. Memilih menggunakan processor Mediatek Helio P10 untuk menemani RAM-nya yang sebesar 4 GB, sejauh ini tidak ada kendala berarti dari sisi performa ponsel ini saat digunakan berkegiatan di dunia maya. Ya, konfigurasi seperti ini sudah cukup banget kalau untuk kebutuhan social media, browsing, dan chatting di beberapa aplikasi sekaligus.

Namun sayangnya, dengan baterai berkapasitas 3.000 mAh, saya belum berhasil menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya. Mungkin karena kali ini saya menginstall dan login di BBM buat jualan kaos Lebaran juga ya. Masih cukup sih untuk pola pagi lepas charger, malam sebelum tidur colok lagi. Penurunan sisa baterainya tak pernah terlalu drastis koq.

Beberapa ponsel lain yang pernah saya pakai juga memiliki processor yang sama dan juga berbahan metal, tetapi rasanya Vernee Mars ini lebih cepat menghangat dibandingkan ponsel-ponsel itu. Sepertinya heatsink milik smartphone yang satu ini kurang baik mengalirkan panas agar cepat tersirkulasi.

Digunakan bermain game casual hingga game balap dengan grafis 3D yang cukup detail, tidak ada masalah berarti yang saya temukan. Saya tak mencoba bermain game yang terlalu berat mengingat kelas dari processor ini yang memang tidak menawarkan performa menjulang. Bisa dilihat dari skor benchmark menggunakan tools Antutu berikut ini yang sebetulnya tidak tergolong rendah.

Setidaknya, kelengkapan sensornya cukuplah untuk mereka yang memiliki kebutuhan gyroscope untuk fungsi VR dengan smartphone ini.

Oh ya, satu lagi soal jeroannya, sejauh yang saya ingat, rasanya baru kali ini saya menggunakan ponsel dengan processor Helio P10 yang mampu terkoneksi ke jaringan 4G dan 3G berbarengan pada dua nomor yang terpasang.

Vernee Mars dapat diandalkan untuk kebutuhan multimedia. Ya, layar dari smartphone yang satu ini tergolong vibrant, warna yang dihasilkan sangat hidup, meskipun masih memiliki kekurangan yaitu warna hitam kurang pekat ditampilkan pada layar ini. Sementara kualitas audio yang dihasilkan melalui loudspeakernya tergolong baik, meskipun agak datar, nggak ngencring juga nggak punchy, tetapi masih jernih hingga volume maksimal. Jika menggunakan earphone berkabel, ponsel ini mampu memberikan volume yang kencang, serta mendrive sang earphone dengan baik untuk mengeluarkan kemampuan terbaik sang earphone.

Walau pada kemasannya tertulis masih menggunakan OS Android 6.0 Marshmallow, pada kenyataannya Vernee Mars sudah pakai Nougat lho. Dengan tampilan yang sangat stock Android dan penggunaan on-screen navigation button, saya rasanya sangat senang dengan Vernee Mars ini.

Namun sayang, kenyamanan penggunaannya sedikit terganggu oleh fingerprint scannernya. Bukan posisinya yang salah, kalau posisinya justru enak karena terasa natural sekali dengan posisi jempol saya. Yang jadi masalah adalah seringnya sensor ini gagal membaca sidik jari saya, terkadang masalah ini bisa diatasi dengan sedikit memberi tenaga saat menempelkan jempol, tetapi kadang sama sekali tak membantu. Semoga Vernee notice dengan hal ini dan memberi perbaikan dari sisi software-nya nanti.


Kamera Vernee Mars

Interface aplikasi kamera bawaan Vernee Mars, lagi-lagi sangat standar. Mirip banget dengan kamera stock yang juga dimiliki oleh Luna G dan Sharp Z2. Jadilah fitur-fitur yang dimilikinya juga tak kalah standar, tak ada mode manual yang dapat dipilih.

Seperti juga kamera utama Luna G yang beresolusi 13 Megapixels, kamera Vernee Mars ini juga dapat diandalkan. Autofokusnya cepat, hasilnya tajam, dan jarak fokus minimalnya terbilang sangat dekat.

Yang jadi perhatian saya adalah tone dari hasil foto saat menggunakan HDR, terkesan purple-ish baik saat di jendela bidik maupun hasil jadinya. Selain itu metering-nya masih sering meleset, terkadang terlalu terang, kadang gelap. Untungnya ini sepertinya hanya masalah software kameranya saja, karena saat menggunakan kamera dari aplikasi Instagram, masalah ini tak muncul sama sekali.

Kamera depannya mah bisa dibilang biasa banget.

Langsung saja deh simak hasil foto menggunakan kameranya yang saya unggah pada artikel review hasil kamera Vernee Mars berikut ini.

Apa Kata Aa tentang Vernee Mars

Vernee Mars ini dijual pada harga normal $189, dan kalau sedang promo, harganya turun hingga $159 saja. Dengan harga normalnya, menurut saya apa yang diberikan oleh ponsel ini sepadan dengan harganya. Namun, jika Anda bisa mendapatkannya pada harga promosi tadi, jadinya sangat worth the money menurut saya.

Bagaimana tidak, dengan harga dua jutaan saja, kita sudah dapat ponsel Android Nougat dengan RAM 4 GB, internal storage 32 GB, layar Full HD yang baik, serta kemampuan multimedia di atas rata-rata. Dan yang pasti, Anda akan mendapatkan sebuah ponsel yang sangat cantik, dengan desain kekinian, serta memiliki perbedaan pada fingerprint scanner yang ditempatkan di pinggir ponsel.

Seandainya saja baterainya lebih awet lagi dan kinerja fingerprint scannernya ditingkatkan lagi, maka akan semakin recommended deh ponsel ini. Karena sejauh pemakaian saya, hanya dua hal ini saja yang rasanya menjadi hal yang sedikit mengganjal.

Satu hal yang pasti jadi ganjalan mah, Vernee belum berjualan resmi di Indonesia. Ini saja saya dapatnya dari GearBest.com, hehe.

Demikian review saya tentang Vernee Mars, semoga bermanfaat ya. Hatur nuhun!

Hasil Foto Menggunakan Kamera Vernee Mars

Interface aplikasi kamera bawaan Vernee Mars, lagi-lagi sangat standar. Mirip banget dengan kamera stock yang juga dimiliki oleh Luna G dan Sharp Z2. Jadilah fitur-fitur yang dimilikinya juga tak kalah standar, tak ada mode manual yang dapat dipilih.

Seperti juga kamera utama Luna G yang beresolusi 13 Megapixels, kamera Vernee Mars ini juga dapat diandalkan. Autofokusnya cepat, hasilnya tajam, dan jarak fokus minimalnya terbilang sangat dekat.

Yang jadi perhatian saya adalah tone dari hasil foto saat menggunakan HDR, terkesan purple-ish baik saat di jendela bidik maupun hasil jadinya. Selain itu metering-nya masih sering meleset, terkadang terlalu terang, kadang gelap. Untungnya ini sepertinya hanya masalah software kameranya saja, karena saat menggunakan kamera dari aplikasi Instagram, masalah ini tak muncul sama sekali.

Kamera depannya mah bisa dibilang biasa banget.

Langsung saja deh simak hasil foto menggunakan kameranya yang saya unggah di bawah ini. Silakan disimak baik-baik, semua gambar tidak melalui proses editing selain resize.


Hasil Foto Kamera Belakang Vernee Mars

















Hasil Foto Kamera Depan Vernee Mars






Friday, July 14, 2017

Review Smartwatch Zeblaze THOR



Karena kebanyakan respon pada komentar yang mengiyakan, akhirnya GearBest mengirimkan lagi sebuah smartwatch berlayar AMOLED untuk saya ulas.

Sebelum Anda membaca review smartwatch yang satu ini, saya sarankan untuk membaca dulu ulasan tentang smartwatch DM368 yang saya tulis beberapa saat lalu.

Ya, karena kurang lebih, fitur dari Zeblaze THOR ini sama saja dengan DM368. Adapun kelebihan dari Zeblaze THOR ini ada pada RAM dan Internal Storage yang lebih besar dua kali lipat, menjadi 1 GB untuk RAM dan 16 GB untuk storage-nya. Selain itu, layar Zeblaze THOR juga sudah dilindungi lapisan Gorilla Glass, meskipun saat baru diunbox, smartwatch ini sudah dipasangi juga anti gores berupa plastik tipis, he.. he..

Hanya itu? Ternyata tidak. Pada sisi kanan smartwatch ini kita dapat menemukan sebuah bulatan yang ternyata adalah lensa kamera. Wow, ini mah sudah benar-benar kaya smartphone saja. Kualitas kameranya terbilang cukup, asalkan mendapat pencahayaan yang juga cukup.

Kalau setelah tahu smartwatch ini memiliki kamera, lalu Anda terbayang akan dapat mengintip gebetan Anda yang duduk di meja sebelah menggunakan Zeblaze THOR ini, selamat! Pikiran Anda kurang lebih sama dengan saya, ha.. ha..

Dengan adanya lensa kamera ini, maka tombol power pun digeser sedikit lebih ke atas. Dan ini adalah satu hal yang sangat saya syukuri. Pada DM368 lalu, penempatan tombol power tepat di sisi kanan bagian tengah membuat smartwatch tersebut sering mati sendiri, karena tombol power ini tak sengaja tertekan lama saat saya menekuk pergelangan tangan saya. Jadilah ini satu kelebihan lainnya yang dimiliki Zeblaze THOR dibanding DM368.

Untuk urusan software, bisa dibilang Zeblaze THOR dan DM368 itu sebelas dua belas. Nyaris tak ada beda selain urusan skin dari interface-nya saja. Fitur-fitur seperti yang ada pada DM368 ada semua di Zeblaze THOR, kecuali fitur untuk menampilkan menu dengan ikon bulat yang mengitari tampilan jam. Ya, di Zeblaze THOR, menu hanya dapat ditampilkan dalam bentuk list memanjang secara vertikal.

Sementara itu, pilihan watchface yang dimiliki rupanya berbeda sama sekali dengan apa yang ada pada DM368. Overall bagus-bagus dan saya lebih suka pilihan watchface pada Zeblaze THOR ini.

Secara umum, saya pun lebih menyukai penampakan dari Zeblaze THOR ini yang terlihat sangat sporty berkat strapnya yang terlihat menyatu dengan dial-nya. Namun sayang, ini juga yang jadi kelemahannya, saya melihat strap ini memerlukan obeng untuk membukanya, selain itu bentuknya juga tak umum, sehingga besar kemungkinan tak mudah mencari strap gantinya, tak seperti DM368 yang bisa diganti dengan tali jam biasa.

Terlepas dari kekurangannya itu, sebetulnya strap-nya sangat nyaman di permukaan kulit, serta tampilannya terlihat keren dengan bagian dalamnya yang beraksen merah menyala.

Slot sim-card di sisi belakang smartwatch ini juga memerlukan obeng kecil untuk dapat membukanya, sehingga Anda akan cukup kerepotan apabila ingin mengganti kartunya. Dan dapat dipastikan bahwa smartwatch ini tak waterproof, sayang sekali memang.

Sejauh pemakaian saya, ini adalah hal yang paling tak membuat nyaman. Saya tak suka melepas smartwatch ini saat hendak wudhu dan mengantonginya dulu di saku celana saya yang sempit. Ini adalah alasan saya selama ini lebih suka menggunakan smartband, karena tak perlu seringsering dilepas.

Dengan konsumsi daya yang juga mirip-mirip dengan DM368, sama-sama memiliki penghitung detak jantung yang cepat, menurut saya rasanya lebih baik menambah $20 lagi untuk memiliki Zeblaze THOR. Ya, dengan selisih harga seperti itu, kita sudah mendapat RAM dan storage yang lebih besar, dan sebuah kamera pula.



Tinggal saya nih yang galau, mau lanjut pakai apa tidak. Soalnya ga waterproof euy!

Kalau Anda sudah menentukan pilihan dan ingin memilikinya, saya menyertakan link pembelian kedua smartwatch ini di GearBest ya. Semoga membantu.

Zeblaze THOR: http://smarturl.it/GB_ZEBLAZETHOR

Domino Marvel DM368: http://smarturl.it/GB_DM368

Demikian review dari saya, hatur nuhun!

Review Vivo V5 Plus ala Aa Gogon



Review kali ini akan cukup singkat. Utamanya karena saya harus segera menjual kembali ponsel ini, setelah tak jadi digunakan istri saya yang lebih memilih Samsung Galaxy C7.

Ya, Vivo V5 Plus dan Samsung Galaxy C7 sama-sama menggunakan Qualcomm Snapdragon 625, RAM 4 GB dan Internal Memory 64 GB. Bahkan, sebetulnya Vivo V5 Plus memiliki kelebihan selain garansinya yang resmi, yaitu kamera depannya yang ada dua dan resolusinya besar serta dapat menghasilkan selfie yang bokeh. Namun, entah kenapa istri saya seakan enggan menyentuhnya, hahaha.



Ya sudah, akhirnya review ini dibuat berdasarkan pengalaman saya, bukan istri saya.

Highlight pertama pada ponsel ini kita mulai dari sisi-sisi kekurangannya dulu ya. Walaupun Vivo V5 Plus sanggup bertahan selama 24 jam dengan penggunaan moderat, di mana kebanyakan saya membuka social media, browsing dan sesekali saja bermain game, rasanya ini adalah ponsel dengan Snapdragon 625 terboros yang pernah saya gunakan. Iya, hanya 24 jam untuk menghabiskan baterai berkapasitas 3.000 mAh tergolong boros untuk processor ini, walau untuk ukuran umum bisa tergolong awet ya.

Buktinya, di Nubia M2 dan Nubia Z11 Mini S, dengan baterai yang kurang lebih sama kapasitasnya, Snapdragon 625 mampu mentenagainya menembus 48 jam.

Kedua adalah backcovernya yang terasa kurang solid. Entah karena bobotnya yang cukup ringan atau bagaimana, rasanya Vivo V5 Plus ini tergolong kurang mantap bila dibandingkan dengan smartphone berbahan metal lainnya. Lagi-lagi Nubia M2 terasa lebih kokoh. Kalau dibandingkan sama Nubia Z11 Mini S yang desainnya mirip-mirip mah, maaf saja, jauh bedanya. Feels Nubia Z11 Mini S terasa lembut sekali walau berbahan logam.

Ketiga, Vivo ini brand global yang bahkan sudah teken kontrak untuk jadi sponsor Piala Dunia di Russia nanti. Tapi koq masih mirip-mirip brang lain ya produknya. Maksud saya, tengok garis antena di backcover Vivo V5 Plus ini. Lalu tengok tema dari Funtouch OS yang secara default terpasang ketika pertama kali ponsel ini dinyalakan. Tak perlu saya sebut kan mirip brand mana?

Keempat lebih ke harga saja, Vivo mematok harga ponsel ini resminya di harga 5,5 juta Rupiah. Memang strategi jualannya sama dengan saudara tuanya, Oppo. Senengnya ngasih cuan banyak ke toko sama promotor, biar pada rajin jualan yah. Tapi untunglah, banyak pedagang online yang masih berpihak kepada konsumen, sehingga kita bisa mendapatkannya secara online dengan harga satu juta lebih murah. SATU JUTA!

Nah, dengan harga 4,5 jutaan, bahkan bisa lebih murah lagi jika Anda pandai-pandai memanfaatkan diskon dari e-commerce lokal, Vivo V5 Plus sudah lebih worth the money rasanya. Di harga segini, jadinya head-to-head-nya dengan Nubia M2 langsung!

Masih kemahalan? Ah ngga. Serius, harga 4 jutaan sangat pantas buat Vivo V5 ini. Karena sebetulnya memang ponsel ini adalah produk berkualitas, terlepas dari highlight negatif yang sengaja saya sajikan di awal tadi.



Kameranya bagus hasilnya. Baik depan maupun belakang. Tak percaya? Lihat saja langsung pada hasil foto yang saya tampilkan ini ya!





bokeh bingits kan?















Selain kamera yang sekarang menjadi selling point Vivo, untunglah sisi audio yang dari dulu jadi kelebihan brand yang satu ini tetap dipertahankan. Ya, suara yang dihasilkan Vivo V5 Plus melalui loudspeaker yang berada di sisi bawahnya ini kualitasnya prima. Saya jadi ingat dulu alasan betah pakai Vivo V3 salah satunya ya karena audionya ini.

Kemudian Funtouch OS sendiri, meskipun sangat mirip dengan iOS, tapi sebetulnya sangat nyaman digunakan. Smooth secara performa, dan kaya akan fitur. Termasuk toggles yang dihadirkan dengan menyapu layar dari bawah ke atas adalah sebuah kelebihan menurut saya. Karena posisinya tak jauh dari jempol ketika kita memegang bagian bawah ponsel ini secara natural.

Satu highlight positif terakhir saya berikan pada fingerprint scanner yang berada pada tombol home Vivo V5 Plus. Ya, scanner ini sangat akurat dan cepat dalam memindai sidik jari dan membuka kunci layar ponsel ini. Nyaris tak pernah gagal, dan tak terasa saking cepatnya, juga mudah digunakan karena cukup disentuh, tak perlu ditekan.

Kesimpulan saya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Vivo V5 Plus akan disukai oleh wanita, terutama yang doyan selfie. Pria pun bisa saja cocok menggunakannya, apalagi varian matte black-nya sudah mulai dijual sekarang. Namun jika Anda tak terlalu mengindahkan kamera depan, maka alternatifnya ada pada Nubia M2. Silakan ditengok review-nya yang sudah saya buat lebih dulu.

Satu syarat agar Vivo V5 Plus ini gak overprice, Anda harus membelinya secara online. Karena kalau beli di toko atau gerai offline, dijamin takkan dapat harga yang saya sebutkan tadi.

Oke segitu saja ulasannya, terima kasih ya!