Gadget Promotions

Thursday, December 28, 2017

Review Huawei P10 Leica, Stabil Kameranya Juara!




Opening dari video di atas ini diambil dari atas sebuah delman, sembari muka mesem-mesem terkena rintik gerimis, dan mulut komat-kamit berdoa supaya sang kuda tidak membuang  angin.

Eh, bukan ini deh kayanya yang mau saya informasikan, heuheu. Opening video ini direkam menggunakan Huawei P10 dari atas delman yang tentunya berguncang-guncang terus seiring derap langkah sang kuda. Dan menurut saya di sinilah juaranya Huawei P10. Hasilnya stabil sekali bukan?

Sebuah video lagi akan saya tampilkan, Anda boleh memilih untuk fokus pada tulisan di kaos sang mas-mas, atau pada stabilnya hasil perekaman video Huawei P10 lagi, hahaha.

Yak, kita mulai video review dari Huawei P10 ini. Beberapa hari setelah melakukan unboxing ponsel ini, saya akhirnya memutuskan untuk menjual Honor 9 saya karena merasa P10 akan sanggup menggantikan tempatnya. Pikiran ini muncul akibat jeroan keduanya yang sama persis, namun P10 hadir dengan body yang lebih ramping dengan bahan backcover logam, yang memang tak memiliki refleksi seindah backcover kaca miliki Honor 9.

Adalah sebuah tulisan di pojok kanan atas sisi belakang Huawei P10 ini yang membuat ponsel ini ganteng bertingkat-tingkat. Ya, tulisan Leica ini adalah jaminan mutu. Buktinya? Kan sudah di opening tadi heuheu. Tapi saya akan munculkan lagi deh nih hasil foto dari kamera Huawei P10 yang dalam penilaian saya berhasil menyabet juara umum untuk kategori kamera, dengan peserta semua ponsel pintar yang pernah saya ulas.

Seperti umumnya smartphone Huawei lain, pada P10 ini mode manual juga hadir dengan lengkap baik pada mode foto maupun video. Portrait mode ada, termasuk juga wide aperture mode yang seperti biasa bisa melakukan re-focus setelah foto diambil, sehingga kita bisa menentukan ada di mana sang fokus, dan seberapa besar efek bokeh yang hendak dimunculkan.

Tak banyak yang bisa saya katakan, selain kameranya juara! Mengambil gambar menjadi kenikmatan tersendiri menggunakan Huawei P10 ini, karena hasilnya selalu memuaskan mata ini. Saya pikir Anda pun sudah dapat menilainya dari deretan foto yang saya ambil tadi ya.



Sekarang kita berpindah ke bahasan performa. Ternyata, walaupun sama-sama menggunakan processor HiSilicon Kirin 960 dengan sokongan RAM 4 GB, skor Antutu Honor 9 dan Huawei P10 terpaut cukup jauh, di mana skor Honor 9 ada pada kisaran 116-ribuan, maka skor P10 cukup menjulang pada angka 139-ribuan. Cukup ganjil ya, saya tak tahu apakah ada perbedaan pada kategori RAM ataupun storage yang digunakan sehingga skornya selisih banyak? Atau memang performa Honor 9 dicekik supaya baterainya lebih hemat?

Ya, karena sepemakaian saya, baterai Huawei P10 tak bisa sehemat Honor 9. Jika Honor 9 selalu dengan mudah menembus 24 jam walau intens digunakan, maka tidak dengan Huawei P10. Smartphone ini seringkali hanya bertahan sekitar 20 jam dalam pemakaian ringan, dan hanya bisa bertahan dari pagi sampai malam saja saat pemakaian lebih intens.

Tapi ini juga bisa jadi dari perbedaan cara kedua ponsel ini mengatur daya baterainya. Di mana pada Honor 9 terasa sekali notifikasi sering lebih lambat masuk, sementara Huawei P10 tergolong real-time untuk urusan ini.

Oh ya satu hal lagi soal perbedaan ini, Huawei P10 terasa lebih mudah menghangat di tangan saat digunakan bermain game atau merekam video. Mungkin faktor bahan logam yang lebih cepat menghantarkan panas ketimbang kaca ya.

Sampai saat ini, skor 2-1 untuk keunggulan Huawei P10, di mana ponsel ini unggul di sektor kamera dan performa, serta sedikit tertinggal dari Honor 9 dalam masalah daya tahan baterai.

Skor bisa jadi sama kuat jika kita menghitung harga jual dari kedua smartphone ini. Huawei P10 jelas lebih mahal dari Honor 9, selain karena statusnya sebagai flagship Huawei tahun ini, mungkin lisensi Leica juga tak murah untuk ditebus ya. Saat ini Huawei P10 dijual pada harga $470 atau sekitar 6,5 juta Rupiah di GearBest.com. Sementara entah kenapa Honor 9 dijual pada harga $462 saat ini, padahal saya ingat saat Black Friday lalu harganya sempat menyentuh sekitar $330 saja alias sekitar 4,5 juta Rupiah.

Honor 9 saya sendiri dulu saya beli seharga 5,8 juta Rupiah di tokopedia.

Nah jadinya saya bingung, mau menetapkan harga berapa untuk Honor 9 pada perbandingkan kali ini. Dari itu, saya skip deh membandingkan aspek ini pada kedua smartphone Huawei ini.

Terlebih, ada kabar Huawei P10 ini segera dirilis resmi di Indonesia. Melihat harga Nova 2i yang sudah dirilis duluan, dan harga Huawei P9 saat pertama dijual tahun lalu, tebakan saya rasanya harga P10 ini takkan jauh dari angka 7 juta deh, atau mungkin 8 jutaan untuk versi plus-nya. Walau sebetulnya ada sedikit keyakinan dalam hati saya bahwa Huawei akan menjualnya lebih mahal dari itu sih, jika melihat dari pola sebelumnya. Tapi kita lihat nanti saja ya.

Jika disuruh memilih antara Honor 9 dan Huawei P10, saat ini saya lebih condong kepada nama pertama. Ya, Honor 9 lebih ngangenin menurut saya. Sensasi backcovernya itu belum dapat tergantikan. Sementara Huawei P10 memiliki desain yang lebih mainstream.

Tapi urusan kamera yang juara banget dan notifikasi yang lebih real-time memang tak bisa didapatkan pada Honor 9. Serta Huawei P10 memiliki ukuran yang lebih compact.

Untuk performa sih keduanya sama-sama gegas, saya jamin Anda takkan bisa membedakan kinerja keduanya dalam keseharian. Honor 9 sedikit lebih unggul dalam daya tahan baterai dan tak cepat hangat.

Oh ya, Huawei P10 tak memiliki tombol kapasitif selain tombol home yang sekaligus berfungsi sebagai fingerprint scanner ini ya. Navigasi bisa dilakukan dengan dua cara, di mana yang pertama dalah cara konvensional yaitu dengan on screen button. Kedua adalah dengan memanfaatkan tombol home, di mana sentuh sekali berfungsi sebagai back, sentuh dan tahan sebagai home, geser ke samping sebagai recent apps, dan menyapu layar dari bagian bawah luar ke atas untuk mengakses Google Assistant.

Fingerprint scannernya sendiri super cepat dan super akurat. Sip lah pokoknya.


Apa Kata Aa Gogon tentang Huawei P10

Kesimpulan saya, dengan harga yang harus dikeluarkan saat menebus Huawei P10 saat ini yang sudah mencapai 6,5 jutaan saja, ini bisa jadi flagship yang cukup terjangkau. Dapat kamera kelas flagship, bersertifikat Leica dengan hasil foto juara dan video yang sangat stabil. Body compact juga rasanya sudah cukup jarang juga ditemukan pada flagship jaman now ya.

Eh tapi kadang suka ada coupon discount lho di GearBest, saya sertakan di deskripsi video ini juga ya, lumayan soalnya kalau code coupon-nya berhasil, jadi tinggal $429 saja alias 5,9 jutaan lho!

Kalau soal looks ya memang walau tetap kece, bisa dibilang overall ini masuk ke desain yang mainstream sih. Satu hal yang sangat-sangat saya suka dari desainnya malah ada pada aksen merah pada tombol powernya itu hihihi.

Jadi, dengan harga segitu, menurut saya cukup lengkap apa yang didapat, kamera, desain, hingga ke performa. Satu-satunya yang butuh peningkatan menurut saya adalah daya tahan baterai saja.

Oh ya lupa, untuk multimedia juga Huawei P10 ini jempolan banget. Layar tajam dengan sudut pandang luas, dilengkapi dengan loudspeaker dengan output jernih dan power yang cukup bertenaga. Asik lah buat youtube-an mah.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review Nokia 6 Indonesia, Sekokoh Nokia 3310 Dulu



Nokia 6 ini sebetulnya bukan barang baru di Indonesia. Ya, jauh sebelum HMD Global memboyongnya secara resmi di sini, para pelapak online sudah lebih dulu menyediakannya dalam berbagai varian RAM dan storage. Sementara yang akhirnya masuk resmi di sini adalah Nokia 6 dengan RAM 3 GB dan storage 32 GB dan dijual pada harga 3-jutaan, bahkan 2-jutaan pada beberapa promo e-commerce.

Lah koq, dempetan bener ya harganya sama Nokia 5. Mana processor dan kapasitas RAM-nya sama pula. Jadi, apa sebetulnya pembeda dari Nokia 5 dan Nokia 6 ini? Mau tau? Janji dulu dong, videonya ditonton ga pake skip, hehehe.



Perbedaan paling mendasar dari Nokia 5 dan Nokia 6 jelas ada komponen fisiknya. Pertama desain, Nokia 6 hadir dengan dimensi layar 5,5 inci yang membuatnya lebih besar dan juga lebih berat dari Nokia 5. Selain itu, frame pinggir ponsel ini dibuat lurus dan lebih kotak, sedikit banyak mengingatkan saya pada style-nya iPhone 4 dan 5. Body berbahan logam ini memang terasa sekali solid alias kokoh, namun saya tak nyaman dengan tepiannya yang terasa tajam. Layar 2.5 D-nya pun tak lagi terasa nyaman di ujung jari karena tepat bersebelahan dengan chamfered metal yang terasa lancip.

Dan memang, desain Nokia 6 ini masih banyak menganut gaya khas Nokia pada era jayanya dulu. Eh erajaya, kaya pernah denger nama ini ya, hahaha.

Nah, perbedaan selanjutnya ada pada resolusi layar yang sudah Full HD, kamera belakang yang lebih besar resolusinya di 16 Megapixels, storage 32 GB, hingga dukungan Dolby Atmos untuk audio dari Nokia 6 ini.

Sayangnya, walau storage bawaannya lebih besar dari Nokia 5, Nokia 6 ini malah mengusung hybrid slot sim card. Padahal semasa mengulas Nokia 5, saya sudah senang banget dengan triple-slot yang dimilikinya.

Lalu apa arti dari semua perbedaan itu? Kalau menurut saya, semua perbedaan itu tidaklah masalah, asal kita saling menghargai satu sama lain.

Bentar deh, ini kan review ponsel, kenapa pula bahas itu hahaha.

Dari semua perbedaan itu, yang paling bisa saya rasakan adalah Nokia 6 memiliki layar yang lebih bagus. Selain lebih tajam, reproduksi warna-nya juga terlihat lebih vivid.

Begitu juga dengan kameranya, walau tak terlalu siginifikan, tetapi saya melihat gambar yang dihasilkan Nokia 6 terasa lebih hidup jika dibandingkan dengan Nokia 5. Hal inipun berlaku untuk perekaman video.

Overall sih kameranya masih tergolong baik, meski tanpa mode manual. Yang jadi permasalahan lebih ke performanya saat mengambil gambar yang menurut saya kurang lebih dipengaruhi oleh pilihan processor yang digunakan. Sehabis saya menampilkan hasil foto dan video ini, kita bahas performa yah.



Masuk ke bahasan performa, Snapdragon 430 di Nokia 6 ini kurang lebih sama dengan di Nokia 5. Terasa kurang gegas untuk multitasking dan gaming. Dan ini sangat masuk akal mengingat resolusi layarnya yang lebih tinggi.

Fingerprint scanner yang saat unboxing terasa cepat, perlahan mulai melambat juga seiring dengan banyaknya aplikasi yang saya install dan buka.

Konsumsi daya Nokia 6 ini juga sedikit lebih boros dari Nokia 5, yang lagi-lagi saya yakini adalah andil dari layarnya yang lebih besar dan lebih tinggi resolusinya. Dalam pemakaian saya, Nokia 6 hanya mampu bertahan dari dini hari saat saya melepas charger, hingga sekitar pukul 9 atau 10 malam saat saya hendak beranjak tidur.

Di sini saya merasa ada sesuatu yang kurang pas pada jajaran produk Nokia. Maksudnya, gap antara produkya masih terlalu lebar. Dari Nokia 5 dan 6 yang menggunakan Snapdragon 430 di harga 2 hingga 3 jutaan, langsung loncat ke Nokia 8 yang diotaki Snapdragon 835. Harga Nokia 8 sendiri belum saya ketahui, meskipun santer kabar bahwa perangkat ini juga akan masuk resmi di Indonesia. Namun saya rasa harganya di atas 7 juta Rupiah deh.

See, ada ruang kosong di antara Nokia 6 dan Nokia 8, baik dari harga maupun spesifikasi. Apakah akan ada Nokia phone dengan processor Snapdragon berkepala 6? Semoga saja ya, apalagi kalau harganya masih tiga hingga empat jutaan, layak ditunggu lah.


Apa Kata Aa Gogon tentang Nokia 6

Masuk ke kesimpulan, Nokia 6 terasa lebih pas jika Anda menginginkan smartphone berlayar besar, dan tak masalah menggunakan case. Ya, karena bagi saya rasanya takkan nyaman apabila Nokia 6 digunakan tanpa case, tepiannya tajam.

Nokia 6 ini hadir dengan bahan yang solid demi menjaga citra ponsel Nokia yang dikenal tahan banting, namun sedikit saya sayangkan karena mengorbankan keergonomisannya.

Kamera sedikit lebih baik dari Nokia 5, audio cukup baik juga, walau enhancement dari Dolby Atmos-nya kurang signifikan, dan pengaturannya tak selengkap fitur yang sama yang saya temukan pada ponsel lain.

Jika 32 GB cukup bagi Anda, atau jika Anda tak butuh dual-sim, Nokia 6 jelas pilihan yang lebih sesuai daripada Nokia 5.

Namun lagi-lagi ponsel Nokia ini bukan ponsel yang cocok untuk Anda yang senang bermain game, apalagi yang berat-berat.

Dengan harga yang tak terpaut jauh, Anda bisa menyesuaikan kebutuhan dengan karakteristik yang dimiliki oleh Nokia 6 atau Nokia 5, jika memang Anda keukeuh mau ber-reuni dengan brand ini. Review Nokia 5 sudah lebih dulu saya buat dan bisa Anda saksikan pada video yang ada pada card di pojok kanan atas layar ini, atau pada bagian rekomendasi di bagian akhir video ini ya.

Demikian yang bisa saya sampaikan tentang Nokia 6 ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, December 18, 2017

Review Nokia 5 Indonesia, Aku Masih Seperti yang Dulu



Pada video unboxing-nya yang lalu, saya melihat ada dua kubu netizen yang menuliskan komentar. Kubu pertama adalah mereka yang punya kenangan dengan produk Nokia pada masa jayanya dulu, dan bahagia dengan kehadiran Nokia 5 ini. Sementara kubu kedua adalah yang sanga kritis melihat spek di atas kertas berbanding harga, dan menilai masih banyak hape lain yang lebih mending. Kita bisa tahulah sejak kapan kubu kedua baru mulai akrab dengan smartphone, betul sejak jaman banyak flash sale di Lazada, hahaha.



Lalu masuk ke kubu manakah saya setelah menguji Nokia 5 ini? Kalau mau tahu, tonton dong videonya sampai habis, hehehe.

Nokia 5 ini hadir dengan beban sejarah panjang Nokia yang teramat sukses pada medio tahun 2000an. Yup, sebelum dunia ini terpecah menjadi dua kubu, penyuka buah atau penyuka robot.


Nokia 5, Desain dan Build Quality

Untuk masalah desain dan build quality, saya menilai Nokia 5 berhasil mempertahankan apa yang pernah mereka miliki. Looks yang simple tetapi elegan, hadir tanpa sudut membuatnya ergonomis dan nyaman digenggam. Bahannya terasa kokoh, garis desainnya pun tegas.

Sisi belakangnya mengingatkan saya pada backcover Nokia Asha 210 milik mertua saya. Sementara sisi depannya terlihat manis dengan layar 2.5D yang sangat ramah di jari. Dengan dimensi layar 5,2 inci, memang sih jidat dan dagu ponsel ini sedikit terlalu besar,.karena saat saya bandingkan dengan ponsel lain yang memiliki layar 5,5 inci, ukurannya hampir sama.

Fingerprint scanner hadir pada posisi kesukaan saya, dengan ukuran yang agak sempit, namun tidak menganggu tingkat akurasinya yang baik. Yang agak saya permasalahkan lebih ke waktu responnya yang tergolong kurang gegas saat digunakan membuka kunci layar.

Tombol kapasitif hadir dengan backlight, sementara LED notifikasi harus absen pada Nokia  5 ini.

Di sisi bawah kita dapat menemukan speaker grille yang desainnya manis. Output loadspeaker ini menurut saya bagus, dalam arti terkontrol dengan baik untuk menghasilkan detail suara yang pas, tidak anyep, namun memang powernya biasa saja. Silakan didengarkan lagu yang saya putar berikut ini.

Dikombinasikan dengan layar HD 5,2 incinya, Nokia 5 dapat digunakan menikmati konten multimedia dengan baik. Layar ini memiliki tingkat visibilitas yang baik juga di bawah terik matahari, ternyata inilah yang disebut dengan polarised display itu.


Nokia 5, Performa

Keluhan mulai terasa setelah sekitar dua hari saya gunakan dan banyak aplikasi saya install. Multitasking terasa jadi menyiksa ketika untuk berpindah aplikasi saja kadang butuh waktu lebih dari satu detik. Seingat saya, ponsel Android lain yang sama-sama menggunakan processor Snapdragon 430 banyak koq yang tetap lancar saat membuka banyak aplikasi. Lalu kenapa di Nokia 5 ini terasa agak payah ya?

Apalagi Nokia 5 ini menggunakan stock Android OS, yang harusnya tak banyak menambah beban kerja RAM-nya yang berkapasitas 3 GB. Sisi positif dari penggunaan pure Android seperti ini adalah semua notifikasi selalu hadir dengan real-time, tanpa harus mengatur aplikasi mana yang mau dikunci dan mana yang harus autostart.

Performa yang agak berat ini juga berlanjut saat digunakan bermain game yang belakangan ini senang saya coba kembali. Apakah ini akibat sebelum mencoba Nokia 5 ini, saya baru saja menuntaskan proses uji pakai sebuah smartphone berprocessor Snapdragon 820 mungkin ya? Bisa jadi!

Satu hal yang saya nilai positif adalah daya tahan baterai Nokia 5 yang selalu mampu menembus 24 jam, walau digunakan secara intens. Seringkali saya pergi ke kantor dengan baterai tak penuh dan hingga menjelang tidur, masih ada sisanya. Untuk pengisian dayanya sendiri cukup cepat, asalkan menggunakan kepala charger berarus besar. Ponsel ini mampu menerima arus hingga sekitar 1,8A pada tegangan 5 volt.


Nokia 5, Kamera

Saya akan tutup review dari Nokia 5 ini dengan bahasan kamera. Untuk ukuran smartphone dengan harga 2,8 jutaan, kameranya saya nilai standar saja. Kualitas gambar yang sama, dapat dihasilkan oleh ponsel lain yang harganya di bawah 2 juta malah. Walau detail dapat ditangkap dengan baik dari kondisi terang hingga redup, namun saya merasa hasilnya tidaklah istimewa-istimewa amat.

Untuk pengambilan gambar pada kondisi temaram, Anda akan butuh kesabaran ekstra karena prosesnya jadi jauh lebih lambat. Mungkin ini diperlukan agar gambar tetap baik hasilnya ya.

Untuk perekaman video, hasilnya juga ya seawajarnya saja hape dua jutaan lah. Stabilisasi tidak terasa, sementara framerate sangat cukup untuk membuat video yang dihasilkan tidak blur di sana-sini.

Hasil foto dan video dapat Anda saksikan sembari saya memberikan kesimpulan pada Nokia 5 ini.



Apa Kata Aa tentang Nokia 5

Menurut saya, HMD Global berhasil menghidupkan kembali Nokia melalui jajaran smartphone yang mereka rilis tahun ini di Indonesia.

Nokia yang desainnya minimalis namun elegan, Nokia yang build quality-nya baik, dan Nokia yang selalu lebih mahal dari pesaingnya. Hahaha.

Dengan harga jualnya saat ini, Nokia 5 menurut saya bolehlah dicoba untuk memuaskan kenangan Anda terhadap brand yang satu ini. OS-nya stock, notifikasinya realtime, dan baterainya awet, serta dibalut dalam desain menawan dengan body yang kokoh.

Tapi Anda tak bisa berharap banyak soal performanya untuk multitasking, gaming, dan kamera. Jadi harap bijak ya menyesuaikan kebutuhan Anda dengan budget dan value apa yang ditawarkan oleh sebuah produk smartphone.

Saya pun cukup menggunakannya selama seminggu untuk menuntaskan kepenasaran saya akan kenangan lama dengan Nokia.

Nokia sedikit banyak masih seperti dulu, iya dulu, saat mereka jadi pemimpin pasar, yang produk barunya selalu diburu walaupun harganya cukup tinggi. Dan dulu, saya lebih suka membeli ponsel Sony Ericsson sih daripada Nokia, hihihi.

Udah ah, review Nokia 5 saya akhiri di sini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, December 7, 2017

Review ZTE Axon 7, Kisah Sebuah Ponsel Flagship yang Terjun Bebas Harganya



Ini adalah ZTE Axon ketiga yang saya coba, setelah sebelumnya pernah mengulas ZTE Axon Mini dan ZTE Axon Elite.

ZTE Axon 7 ini adalah flagship smartphone ZTE tahun lalu, di mana ZTE meninggalkan desain dengan pola-pola segitiga dan kembali ke desain yang lebih mainstream, walau tetap mempertahankan front dual-speakernya yang khas.

Lalu kenapa koq baru sekarang saya coba? Dan apakah benar-benar worth it sampai di video unboxing saja saya sudah merekomendasikannya? Cari tahu selengkapnya di video ini ya.



Jika Anda sudah menyaksikan video unboxing-nya, seharusnya sih tahu alasan utamanya kenapa baru sekarang saya mencoba ZTE Axon 7 ini. Ya, faktor harga yang dipangkas setengahnya adalah jawabannya. ZTE Axon 7 ini sekarang dijual pada kisaran $250 atau bahkan lebih murah jika sedang ada coupon diskon yang bisa dipakai di GearBest.com.

Entah apakah ini mengindikasikan kurang lakunya jajaran smartphone flagship miliki ZTE ini atau bukan, yang jelas seri Axon ini memang kalau umurnya sudah setahun, drop price-nya ga nanggung-nanggung. Satu produk lainnya, ZTE Axon 7 Mini malah turunnya banyak sekali dari sekitar $350 ke $130 saja di GearBest.

Padahal, jika kita merujuk pada spesifikasi yang dibawanya, harganya saat ini jadi terasa valuable sekali. Bagaimana tidak, dengan harga yang jika dirupiahkan ada pada kisaran 3-3,5 juta Rupiah, kita bisa mendapatkan flagship tahun lalu yang jelas masih mumpuni untuk digunakan tahun ini.


  • Processor Snapdragon 820-nya mampu memberi skor benchmark Antutu 139-ribuan.
  • RAM 4 GB ditunjang dengan storage 64 GB
  • Layar AMOLED dengan resolusi 2K alias QHD
  • Sensor NFC hadir
  • Sudah menggunakan USB Type-C port, dan sudah mendukung Qualcomm Quickcharge 3.0 pula
  • Dan jangan lupakan kameranya yang beresolusi 20 Megapixels dan memiliki Optic Image Stabilization


Desain luarnya pun terlihat premium sekali, dan penempatan dual front speaker seperti ini semakin membuatnya terlihat sangar, sesangar jeroannya.

Yang lucu adalah, selama pengujian berlangsung, saya lupa kalau resolusi layarnya adalah 2K. Mungkin karena mata saya tak bisa membedakannya dengan layar Full HD. Tapi satu hal lagi adalah konsumsi daya-nya yang tidak cepat terkuras membuat saya tak menyangka layarnya memiliki resolusi setinggi itu.

Ya, di awal-awal masa pengujian di mana belum saya jadikan daily driver, daya tahan baterainya sanggup menembus 48 jam, yang artinya manajemen dayanya cukup bagus pada kondisi idle. Setelah digunakan dengan nomor utama, ZTE Axon 7 ini mampu bertahan sehari semalam dengan pemakaian casual, dan dengan pemakaian lebih intens, mampu bertahan dari pagi hingga malam.

Hal ini memang dibantu oleh manajemen daya dari MiFavor UI yang secara berkala menutup aplikasi yang tidak digunakan, dan sesekali memberi kesempatan kepada aplikasi-aplikasi untuk melakukan koneksi data dan mendapatkan notifikasi. Jadinya memang kurang real-time untuk notifikasi dapat kita terima. Namun pengaturan agar aplikasi tertentu bisa terus terkoneksi ke jaringan bisa dilakukan,  dan ini saya terapkan pada Whatsapp dan Gmail.

Impresi saya jadi meningkat banyak begitu saya ingat bahwa layarnya beresolusi 2K tapi tak bikin boros baterai. Layar ZTE Axon 7 ini terasa teduh walau menggunakan panel AMOLED yang dikenal memiliki warna yang vivid itu. Ada pengaturan untuk tone layar di bagian setting ponsel ini.

Untuk kebutuhan multimedia, bisa dikatakan juara lah ZTE Axon 7 ini. Layar 2K, panel AMOLED, disokong oleh dual front speaker dengan Dolby Atmos sound. Kenikmatan yang haqiqi banget lah pokoknya haha.

Performanya tidak usah diragukan lagi, Snapdragon 820 adalah processor yang memberikan titik balik pada kesuksesan Qualcomm tahun lalu. Gaming maupun multitasking, semuanya lancar, dengan suhu yang terasa menghangat saat bermain game di atas 10 menit.

Saya mau lanjut bahas kamera, tapi koq dari tadi kaya ga ada kekurangannya ya ini hape? Haha.. Ada koq, ya sudah kita bahas dulu yuk!

Kekurangan pertama ada pada posisi fingerprint pada punggung smartphone ini yang kurang nyaman jika kita sering meletakkan ponsel ini di meja. Selain itu juga akurasi dan responnya tak bisa dibilang istimewa untuk ukuran smartphone flagship, di mana unlock time diklaim ada di angka 0,25 detik, sementara flagship lain hanya membutuhkan waktu 0,1 detik saja.

Kedua adalah masalah update software. ZTE seingat saya rada pelit masalah ini. Dan ZTE Axon 7 ini saya terima dalam keadaan masih menggunakan Android Marshmallow, dengan proses update ke Nougat harus dilakukan secara offline, di mana saya download dulu file update-nya untuk kemudian disalin ke micro-sd dan dilakukan update manual. Tapi paling tidak Nougat-nya sudah 7.1.1 sih. Dan saya tak tahu apakah ponsel ini akan dapat update Android Oreo atau tidak.

Ketiga adalah tombol kapasitifnya yang tak memiliki backlight, dan menggunakan ikon titik, yang walau tujuannya baik, agar bisa ditukar posisi tombol back dan recent apps-nya, tapi terasa kurang intuitif sih jadinya.

Kekurangan terakhir yang saya rasakan sih lebih ke body-nya yang licin saja, yang selalu bikin khawatir kalau-kalau ponsel ini akan terjun bebas dari genggaman saya, sama seperti harganya yang sudah terjun duluan hahaha.

Oke, sudah boleh bahas kamera ya?

Sip, ZTE Axon 7 ini memiliki kamera yang memang kelasnya flagship sih. Resolusi besar, mode manual lengkap, beauty selfie juga ada, dan digunakan pada kondisi lowlights masih terbilang oke banget. Performanya juga asyik, kunci fokus tergolong tak pernah meleset dan cepat, gambar dapat dijepret dengan cepat.

Bonusnya ada pada stabilization yang sudah optic alias OIS, sehingga saat mengambil gambar, hasilnya tak mudah goyang. Untuk perekaman video juga membantu hasilnya lebih smooth, walau untuk masalah stabilisasi masih setingkat di bawah kameranya Huawei P10 sih. Tapi segini sudah keren koq, inget lho harganya sudah turun banyak, hehehe.

Saya seringkali mengambil gambar pada kondisi cahaya kurang, dan suka takjub sendiri melihat hasilnya. Sungguh bikin galau hasil fotonya. Nih saya perlihatkan hasilnya ya, pasang mata baik-baik hehe.



Hasil kameranya kece koq malah bikin galau? Heuheu. Justru itu, smartphone ini punya segalanya untuk masuk ke kategori flagship, dan dengan harganya saat ini jadinya tempting banget. Saya sangat menyukai berbagai kelebihan dari ZTE Axon 7 ini, tetapi saya tak nyaman jika harus menggunakan ponsel dengan posisi fingerprint di belakang.


Apa Kata Aa tentang ZTE Axon 7

Dari Senin sampai Jumat, kebanyakan smartphone saya letakkan di atas meja, di samping laptop. Sesekali saya buka saat jenuh bekerja, atau saat ada notifikasi masuk. Nah, jika fingerprint ada di sisi belakang, mau tak mau saya harus mengangkatnya dulu untuk membuka layarnya, ini dia yang membuat saya tak nyaman.

Harusnya sih bisa diakali ya, karena ZTE Axon 7 ini memiliki fitur double tap to wake, lalu saya bisa buka kuncinya menggunakan pattern. Atau mungkin bisa menggunakan smart device, di mana jika terhubung dengan smartband yang sudah terdaftar, maka ponsel ini selalu tak terkunci. Namun entah kenapa saya tetap tak puas, rasanya lebih ingin ponsel lain saja yang fingerprint scanner-nya di depan.

Padahal selain masalah itu, ZTE Axon 7 dengan harganya saat ini bisa dibilang salah satu best deal. Dapur pacu mentereng, layar kelas atas super tajam, baterai yang cukup awet, serta loudspeaker yang mantap, masih ditambah oleh kamera yang kece dan ada OIS-nya. Satu lagi, NFC hadir pula.

Kalo gitu, saya mau tanya aja deh sama penonton. Kira-kira hape apa yang kurang lebih sekece ini luar dalam, tapi harganya maksimal 4 juta Rupiah saja? Kalau ada tolong tuliskan di kolom komentar ya. Terima kasih sebelumnya.

Ulasan kali ini saya tutup dengan kegalauan yang menyiksa. Dapat smartphone best value yang cocok dalam segala hal kecuali posisi fingerprint-nya itu rasanya kaya udah nemu jodoh yang tepat buat diajak married, tapi dianya ga boleh nikah karena masih ikatan dinas. Heuheu. Eh ngga, ini bukan curcol ya hahaha.

Oke demikian deh review dari ZTE Axon 7 ini. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL. Mending Mana Sama yang Pro?



Dengan selisih harga yang mencapai 1,5 juta Rupiah dari versi Pro-nya, awalnya saya berpikir ini akan jadi pilihan yang mudah, tinggal menyesuaikan budgetnya cukup yang mana, selesai.

Tapi kenyataannya ngga begitu. Tak sesederhana Rumah Makan Padang euy.

Pertama kita lihat dulu apa sih bedanya ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL alias versi standar ini dari versi Pro-nya?



Desainnya mirip, tapi komponen yang dipakai bisa dibilang semua tak sama, apa yang kusentuh, apa salah sentuh. Eeeeh, melenceng lagi kan, hahaha.

Maksudnya, saat disentuh, kita bisa tahu persis kalau body belakang Zenfone 4 Selfie ini menggunakan bahan plastik, bukan logam seperti versi Pro-nya. Dengan kapasitas baterai yang sama, ketebalannya berbeda. Versi standar ini terlihat lebih tebal dan membulat di sudut-sudutnya.

Layarnya pun dipilihkan dari panel IPS dengan resolusi HD saja. Namun di mata saya, nampak layar ini lebih teduh daripada panel AMOLED yang sangat mencolok miliki Zenfone 4 Selfie Pro.

Jeroannya? Yang ini pakai Snapdragon 430 yang walau masih smooth-smooth saja, jelas kelasnya di bawah Snapdragon 625 milik versi Pro. Masih sangat cukup untuk kebutuhan social media, browsing, dan lainnya, dengan konsumsi daya yang juga tergolong awet. Baterai 3.000 mAh-nya bisa dimanfaatkan untuk bertahan 24 jam tanpa koneksi wi-fi dan screen-on time 4 jam yang dalam pola pemakaian saya sih sudah mengindikasikan pemakaian cukup intens ya.

Dengan segmen pasar yang disasar adalah penyuka swafoto yang lebih cenderung merujuk kepada kaum hawa, spesifikasi ponsel ini sudah cukup banget. Jangan lupakan RAM-nya yang 4 GB dan storage yang tetap 64 GB, alias sama besar dengan Zenfone 4 Selfie Pro. Bahkan yang ini punya sesuatu yang tak dimiliki versi Pro-nya, yaitu dedicated micro-SD slot! Wow, kayanya buat selfie sejam sekali selama setahun masih bisa lah ya, ahahaha.

Karena sudah mulai menyinggung soal selfie-nya, artinya saatnya kita bahas kameranya. Di sini saya merasa janggal, ASUS Zenfone 4 Selfie versi standar ini memiliki kamera depan dengan resolusi lebih besar dari versi Pro. Sama-sama berjumlah dua, resolusinya masing-masing adalah 20 dan 8 Megapixels. FYI, Zenfone 4 Selfie Pro kamera depannya memiliki resolusi 12 dan 5 Megapixels, bedanya cuma di sensor yang dipakai, di mana versi Pro menggunakan sensor Sony, sementara yg ini pakai OmniVision kalau saya tak salah ingat.

Bagusan mana? Lebih baik gambar saja yang berbicara ah, monggo disimak dulu hasil selfie-nya!

Dalam penilaian saya, kedua varian Selfie dari Zenfone 4 series ini malah tak terlalu handal saat digunakan berselfie ria. Memang sih kehadiran dua kameranya bisa membantu menghasilkan efek bokeh serta gambar yang lebih wide. Tapi kualitas hasil gambarnya menurut saya standar saja, dan semakin menurun seiring berkurangnya intensitas cahaya.

Lagi-lagi saya lebih suka hasil foto kamera belakangnya yang beresolusi 16 Megapixels. Hasilnya dapat diandalkan di berbagai situasi, termasuk saat cahaya mulai temaram. Meskipun  memang hasilnya masih sedikit di bawah versi Pro-nya.

Untuk video pun hasilnya kurang lebih sama dengan kualitas foto tadi. Sedikit highlight positif saya berikan untuk kestabilan gambarnya.




Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL

Tak banyak yang bisa saya bahas selain masalah kamera dan performa kesehariannya. ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL ini sudah menggunakan ZenUI 4.0 yang lebih clean dan simple, banyak fitur menarik yang Anda bisa temukan pada custom UI ini, dan takkan saya bahas lagi di sini. Sama saja dengan apa yang pernah saya bahas di video ulasan Zenfone 4 Selfie Pro dan Zenfone 4 Max lalu.

Jadi kita langsung masuk ke kesimpulan saja, di mana saya cukup bingung apakah Zenfone 4 Selfie ini lebih worth the money daripada versi Pro-nya atau tidak. Yang pasti versi standar ini tak memiliki varian warna merah ya. Yang saya uji ini sendiri adalah varian warna Rose Gold, sangat cantik untuk digunakan oleh wanita.

Layar kinclong, performa masih smooth, dan baterai awet, adalah tambahan yang akan didapatkan jika Anda meminang ponsel ini karena mengincar kemampuan selfie-nya. Dan dengan harga yang lebih murah dari ponsel selfie tetangga, di mana RAM dan kapasitas penyimpanannya sama besar, harusnya ASUS mampu bersaing secara head-to-head dengan kompetitornya.

Hanya saja ada dua hal yang tak dimiliki oleh ASUS Zenfone 4 Selfie ini. Pertama ponsel ini tak punya terobosan soal rasio layar yang masih 16:9, kedua ASUS tak jor-joran membelanjakan anggaran promosi mereka untuk produk ini.

Yang pasti, dengan harga yang tak saling membunuh, saya rasa untuk tahun ini ASUS memiliki jajaran produk yang cukup lengkap pada Zenfone 4 Series yang sudah dirilis di Indonesia. Tinggal butuhnya yang mana, dan punya uang berapa saja ya.

Kalau saya? Saya masih menunggu ASUS Zenfone 4 Basic Edition sih. Semoga masuk juga ke Indonesia ya, hihihi.

Amiiin. Sekian ulasan dari ponsel ASUS Zenfone 4 Selfie ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, December 6, 2017

Review Huawei Honor Band 3, Sophisticated ala Branded!



Ini adalah salah satu smartband yang bisa bikin saya betah memakainya. Alasan utamanya sih baterai, di mana dalam seminggu pemakaian dengan kondisi sering terhubung ke smartphone melalui bluetooth, level baterainya hanya turun sekitar 20-30% saja. Hemat bukan?

Tapi tak hanya itu, smartband branded seperti ini terasa lebih sophisticated daripada smartband-smartband dari brand non global yang walau memiliki fitur lebih banyak, namun sering sekali terasa seperti produk yang setengah matang.

Dari masalah aplikasi saja misalnya, Huawei memiliki Huawei Wear untuk menangani koneksi dan data yang dihasilkan oleh Huawei Honor Band 3 ini. Pairingnya sangat cepat dan mudah, serta juga bisa dikombinasikan datanya di aplikasi Huawei Health yang juga mengambil data dari smartphone. Kebetulan selama menguji smartband ini, saya menggunakan Huawei P10 ya.

Selama berada dalam jangkauannya, koneksi antara smartband dan smartphone ini selalu lancar. Bahkan saat sempat terpisah jauh yang menyebabkan koneksi terputus, saat kembali didekatkan, koneksi akan dihubungkan kembali secara otomatis dan tanpa kendala.



Mungkin karena inilah saya betah memakainya selama ini ya.

Padahal, fitur dari Huawei Honor Band 3 ini terbilang sangat standar. Walau masih sedikit lebih baik dari Mi Band 2 sih. Apa saja memang keunggulannya dari Mi Band 2? Saya absen deh ya.


  1. Layarnya lebih besar, sehingga tulisan dari notifikasi juga bisa dimunculkan. Kalau pesannya panjang, tinggal putar-putar pergelangan tangan untuk membaca terus sampai habis.
  2. Heartrate-nya dynamic alias tak hanya sekali ukur.
  3. Adanya mode khusus untuk running dan swimming, Mode khusus untuk berlari, dapat memanfaatkan GPS pada smartphone sehingga bisa dihasilkan data lokasinya. Sementara mode berenang membuat layar smartband ini menjadi tak sensitif. Ini diperlukan saat berada di dalam air agar smartband tidak berpindah-pindah menu terus. Ketuk layar 2x dengan agak keras pada mode ini untuk menggantikan sentuhan.


Strap dari Huawei Honor Band 3 ini jelas terasa berkualitas. Nyaman di kulit, tidak terlalu memble, namun juga tak terlalu keras, pas lah. Sayangnya strap ini tak dapat dilepas. Saat ini di GearBest ada 3 pilihan warna yang dapat Anda miliki, yaitu orange, biru tua, dan hitam.

Dan dengan harga sekitar $35 alias 400-ribuan, saya pikir smartband ini worth the price buat Anda yang memang tak perlu gimmick, dan cukup dengan fitur-fitur yang tadi saya sebutkan.

Oh ya, notifikasi yang diterima hanya membuat smartband ini bergetar saja, dan layarnya baru menyala saat Anda mengangkat pergelangan tangan. Menurut saya ini sangat smart!

Saya akan menyimpan terus smartband ini, karena saya menyukainya, dan cocok dengan kebutuhan saya. Jika kebutuhan Anda bisa terpenuhi oleh smartband ini, link pembelian saya sertakan di deskripsi video ini yah.

Okay, gitu aja review dari smartband Huawei Honor Band 3 ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, November 28, 2017

Windows Asli di Notebook ASUS, Demi Satu Kata: Barokah!



Pada hari ini, Selasa 28 November 2017, bertempat di Hotel Hilton Bandung, ASUS menghelat sebuah acara bertajuk Year End Notebook Gathering with Microsoft.

Acara yang digelar dengan membawa tagline #ASUSGatheringBandung17 dan #ASUSWindowsAsli ini secara garis besar membawa kabar baik bagi pengguna notebook di tanah air. Di mana sejak November 2017 ini, semua jajaran produk notebook ASUS akan dirilis ke pasaran dalam kondisi pre-installed dengan sistem operasi asli besutan Microsoft ini.

So much win? Tentu saja. Coba saja cek di toko sebelah, berapa harganya jika kita hendak membeli lisensi Windows asli yang terbaru.


Keuntungan Menggunakan Windows Asli di Notebook ASUS

Untungnya apa? Selain ngirit duit, dan mengurangi dosa jika memakai versi bajakan, update Windows 10 terbaru ini juga membawa segudang fitur yang tentu saja berguna meningkatkan produktifitas kita.

Ruginya? Ya ngga ada lah. Harga notebook-nya tetep koq. Ya ngga bisa dibilang murah sih memang notebook ASUS mah, tapi kan memang ada harga ada rupa. Saya aja balik lagi pake notebook ASUS biarpun harus sedikit lebih dalam merogoh kocek, karena mau bagaimana pun juga, sekenceng apapun juga, kalo tongkrongannya ga kece, kaya ada yang kurang gitu.

Pssst, saya baru beli ASUS Zenbook UX410 lho, kamu bisa lihat unboxing video-nya di video berikut ini ya:


Pada acara ini, hadir beberapa Youtuber kondang asal Bandung, di antaranya: Kang Dadan (Gayafone Channel), Kang Nico (ObatGaptek), dan Iqbal (Juragan Tekno & Doyan Vape). Memang ajang gathering seperti ini sangat saya tunggu-tunggu, bukan karena makan-makannya, tapi karena silaturahmi dengan sesama konten kreatornya.



Yang saya perhatikan dari materi di acara ini, dan tentunya menjadi inspirasi saya, adalah bagaimana kisah ASUS bisa muncul ke permukaan dan menjadi leader di pasar notebook tanah air. Saya masih ingat, zaman saya kuliah dan awal kerja dulu, masih sangat jarang sekali orang yang menenteng laptop dengan brand ASUS. Kebanyakan brand Jepang yang dipakai.

Perlahan, pamor notebook ASUS semakin meningkat, sementara satu persatu brand kompetitor malah tumbang, atau merelakan dirinya diakuisisi oleh brand lain.Kedigdayaan ASUS semakin tertancap kuat ketika mereka merilis seri Zenbook pertama. Saya percaya, siapapun yang senang dengan penampakan Macbook, tapi tak bisa melepaskan diri dari jerat kenikmatan menggunakan Windows, pasti akan senang begitu melihat Zenbook series.


Fitur Windows 10 Fall Creators Update

Eh ya, apa saja sih fitur yang bisa didapatkan jika menggunakan Windows 10 Fall Creators Update di notebook ASUS ini? Kira-kira ini dia fiturnya:

1. Windows Hello, fitur ini akan membuat login ke notebook kita semakin nyaman tanpa harus mengingat dan menyembunyikan password atau pin kita agar tak diketahui orang lain.
2. Windows Defender. Khawatir soal ancaman keamanan semacam virus, malware, atau bahkan ransomware? Ini dia pengaman paling komprehensif dari sang pembuat sistem operasinya sendiri.
3. Paint 3D. Mengasah kreatifitas atau hanya sekadar membunuh waktu di depan laptop kini semakin menyenangkan.
4. Windows Photo pun kini mempunyai fitur untuk membuat quick video dari deretan foto dengan kemampuan otomatis yang akan menyesuaikan efek dengan beat music yang digunakan.

Saya yakin masih banyak lagi fitur dan keunggulan dari penggunaan Windows Asli di notebook ASUS ini. Tapi ada satu yang paling penting buat saya dari semua hal yang saya sebutkan di sini, dengan penggunaan OS Windows Asli, saya jadi lebih tenang dan lebih yakin akan keberkahan rezeki yang saya cari menggunakan perangkat notebook ASUS ini.

Barokah is beyond everything, ahahaha!

Monday, November 27, 2017

Review Notebook ASUS Vivobook A405U



Jika ditanya mengapa saya bisa yakin membeli ASUS Zenbook untuk dijadikan daily driver saya, maka jawabannya justru datang dari sebuah notebook ASUS dari seri Vivobook, yaitu ASUS Vivobook A405.

Lho koq bisa begitu? Haha, sebelum menggunakan Acer E5-475G, saya selama sekitar 1,5 tahun adalah pengguna laptop ASUS, hanya saja statusnya inventaris kantor.

Dan ketika saya bisa menabung untuk laptop saya selanjutnya, saya mendapat pinjaman sebuah ASUS Vivobook A untuk diulas. Di sinilah build quality dari ASUS berbicara.

Memang untuk masalah harga, dengan spesifikasi yang setara, di mana sama-sama menggunakan Intel Core i5-7200U, RAM 4GB DDR4, Harddisk 1TB, dan graphic card NVidia GeForce 940MX, selisih harganya hampir mencapai satu juta Rupiah. Itupun Vivobook A ini menggunakan Endless OS yang terhitung gratisan, bukan Windows 10.

Tapi untuk urusan looks dan build quality, ASUS Vivobook A405 ini saya nilai beberapa tingkat di atas Acer E5-475G. Mulai dari lid yang berbahan logam, dengan pola brushed metal berwarna dark grey dikombinasikan logo ASUS berwarna gold yang entah kenapa saya suka sekali. Bahkan saya lebih suka lid dari Vivobook A405 ini daripada lid Zenbook UX410 milik saya heuheu.

Lanjut ke layar, NanoEdge bezel yang tipis sekali di sisi kiri kanan dan atas, membuat ASUS Vivobook A405 ini memiliki dimensi lebar dan panjang yang sama dengan Zenbook UX410. Sama-sama laptop berlayar 14 inci dengan body 13 inci nih, compact, dengan screen to body ratio yang mencapai 78%, keren kan?

Layarnya sendiri masih beresolusi HD pada dimensinya yang 14 inci ini ya.

Memang selain lid-nya tadi, body dari laptop ini sisanya masih berbahan plastik. Layout keyboardnya sama persis dengan milik Zenbook UX410, di mana tombol navigasi seperti home, end, page up dan page down digabung dengan tombol panah arah dan harus diakses via Fn key. Jadinya butuh sedikit penyesuaian buat mereka yang terbiasa menggunakan keyboard dengan layout lengkap. Pada Vivobook A405 ini tidak terdapat bakclight pada keyboardnya. Tuts-tuts keyboardnya sendiri empuk dan nyaman digunakan.

Touchpad berukuran besar dengan finishing yang kesat, membuatnya cukup enak digunakan tanpa mouse.

Oh ya, bobotnya hanya 1,3 kg lho. Dengan ketebalan total yang hanya 18,8 mm saja, menjadikannya sangat compact dan ringan untuk dibawa-bawa berkegiatan di luar rumah.



Lalu kita akan bahas ada apa saja di bagian bawah laptop ini. Di sisi depan tidak terdapat apa-apa, sementara di sisi belakang terdapat exhaust atau buangan panas dari laptop ini. Di sisi kanan secara berurutan terdapat port kensington lock, dua buah port USB 2.0, port audio combo 3,5 mm, slot SD-card reader, dan dua buah lampu indikator. Sementara di sisi kiri terdapat port untuk AC power input,  RJ45 LAN port, HDMI, sebuah port USB 3.0 dan port USB Type-C 3.1. Cukup lengkap ya port-nya, masih terdapat port untuk kabel LAN, walau sudah tidak ada port untuk display VGA.

Saya sendiri kurang tahu apakah ada slot untuk SSD M.2 pada Vivobook A405 ini. Untuk mengakses RAM dan lain-lainnya, tidak ada bay khusus yang dapat dibuka dengan mudah, alias kita harus mencopot keseluruhan sisi bawah laptop ini jika ingin menambah kapasitas RAM-nya.

Dengan spesifikasi seperti ini, yang mana sama persis dengan laptop saya sebelumnya, performanya sudah cukup banget untuk membuat konten yang selama ini saya publish di YouTube. Tapi memang sih kalau mau lebih enak lagi, di laptop lama saya melakukan upgrade dengan menambahkan SSD untuk drive system, dan RAM sudah digandakan menjadi 8 GB.

Nah, ASUS Vivobook A405 ini kan hadir dengan bundling Endless OS, apa sih sebetulnya Endless OS ini?

Jika melihat penjelasan di situs resminya, Endless OS ini adalah sistem operasi berbasis Linux yang diperuntukkan bagi kebutuhan pelajar. Dengan biaya gratis, OS ini dapat digunakan untuk kegiatan belajar, sehingga diharap meringankan beban para siswa.

Saya sendiri menilai penggunaan Endless OS jauh lebih baik daripada laptop yang dijual dengan DOS saja. Sama-sama tak berbayar, laptop yang sudah menggunakan Endless OS bisa langsung digunakan dengan berbagai fitur yang dimilikinya.

Intinya sih gini, bayangkan kalau kita membeli smartphone ber-OS android. Begitu kita beli, sudah langsung bisa memilih aplikasi apa saja yang ingin diunduh dan digunakan. Kira-kira begitu jugalah Endless OS, di mana App Center-nya sudah memiliki banyak aplikasi yang segera dapat diunduh dan difungsikan.

Untuk Youtuber pemula seperti saya, tools-nya sudah cukup lengkap. Video Editor ada. Sound Editor juga ada, dan bahkan sebetulnya ini adalah Audacity yang memang biasa saya gunakan sehari-hari untuk merekam voiceover. Office, multimedia player, hingga browser sejuta umat, Chrome, semuanya ada.

Namun memang jika ingin memaksimalkan kemampuan Vivobook A405 yang sebetulnya memiliki spesifikasi yang sangat mumpuni untuk kebutuhan membuat konten, kita bisa menginstall Windows secara paralel. Saya sendiri memang masih sangat menggantungkan aktifitas dan pekerjaan saya pada OS besutan Microsoft ini sih hehehe.

Overall, Endless OS akan sangat membantu apabila Anda belum memiliki budget untuk membeli Windows, dan ingin menggunakan laptop Anda dengan fungsi penuh, bukan hanya DOS doang.

Nilai positif saya berikan untuk Vivobook A405 dalam hal looks, size-nya yang compact, serta build quality yang terasa jempolan. Spesifikasi sudah mumpuni, walau masih perlu diupgrade kapasitas RAM-nya, dan semoga saja ada slot SSD agar lebih wuss wuss lagi performanya.

Untuk urusan harga, 8-jutaan untuk menebus Vivobook A405 ini mungkin tak membuatnya menjadi yang terbaik dari segi price-to-spec comparison. Tapi anggaplah itu harga yang harus dibayarkan untuk mendapat ukuran yang minimal, serta finishing yang menjadikannya terlihat cukup premium ini. Jika Anda punya budget sedikit lebih besar dan tak masalah dengan ukuran yang lebih besar juga, mungkin bisa melirik Vivobook S ya, spesifikasinya kurang lebih setara, namun sudah memiliki SSD.

Namun yang pasti, berkat mencoba Vivobook A405 ini, saya bisa mantap memutuskan untuk meminang Zenbook UX410 sebagai daily driver saya selanjutnya. Hehehe.

Ok, demikian ulasan singkat tentang ASUS Vivobook A405 dari mata saya yang sehari-harinya lebih banyak mengulas smartphone ini. Dari Kota Cimahi, saya pamit undur diri, wassalam!

Thursday, November 23, 2017

Review Lenovo P2 Indonesia, Monster yang Terlupakan

review Lenovo P2 Indonesia


Lenovo P2 atau yang di Indonesia dinamakan Lenovo P2 Turbo ini adalah monster yang terlupakan. Kenapa saya bilang begitu? Mungkin pertanyaan ini akan terjawab jika kita absen dulu spesifikasi teknisnya ya.


  • Processor? Snapdragon 625.
  • Baterai? 5.100 mAh.
  • Layar? 5,5 inci, resolusi full HD, panel Super AMOLED!
  • RAM? 4 GB.
  • Storage? Versi yang dijual di Banggood ini 64 GB, sementara versi resmi di Indonesia storagenya 32 GB.
  • OS? Sudah dapat update tuh ke Android 7.0 Nougat.
  • Fingeprint scanner? Ada, di dagu ponsel pula posisinya.


Oh iya lupa, NFC juga ada euy! Paket komplit banget deh pokoknya. Monster kan?


Lalu pertanyaannya, kenapa monster terlupakan? Saya sih cuma bisa jawab satu, harga.

Lenovo P2 Turbo dijual di harga 4,5 jutaan saat rilis resmi di Indonesia. Dengan harga segitu untuk brand Lenovo yang lebih dikenal dengan produk-produk ekonomisnya, orang sudah keburu berpaling duluan. Padahal Lenovo bukan tanpa alasan mematok harga segitu lho. Cek lagi deh daftar absen yang tadi sudah kita lakukan, heuheu.

review Lenovo P2 Indonesia


Nah, good news datang dari Banggood. Lenovo P2 ini di sana dijual pada harga ga jauh-jauh dari $200 atau jika dirupiahkan masih di bawah 3 jutaan. Jomplang ya, apalagi yang dijual di Banggood storage-nya 2x lipat dari yang dijual Lenovo Indonesia.

Jadilah Lenovo P2 ini sebagai salah satu smartphone dengan value yang sangat baik jika dibandingkan dengan bandrolnya saat ini.

Memang sih setup kameranya belum kekinian, alias tak punya kamera ganda. Tapi hasil jepretannya tak bisa dipandang sebelah mata. Untuk kebutuhan foto sehari-hari mah sudah cukup banget. Apalagi untuk kebutuhan fotografi outdoor, bisa jadi kepake banget lah.

Memang lowlights-nya tak begitu istimewa. Tapi setidaknya warna-warna yang dihasilkan cukup akurat, serta performa dalam pengambilan gambar juga baik. Fokus jarang meleset, kunci fokus cepat, dan pengambilan gambar juga memakan waktu singkat.

Digunakan merekam video juga masih oke. Warna mampu ditangkap dengan baik, dengan framerate yang cukup agar hasilnya tak terlihat patah-patah. Untuk masalah stabilisasi sih saya nilai standar saja, cukup untuk membuat kita menikmati momen yang kita rekam.

Seperti biasa, silakan dinilai langsung pada foto dan video berikut ini ya.

Saya ngga yakin kalo saya masih harus menjelaskan detail dari Lenovo P2 ini. Ya, angka-angka pada spesifikasi yang di awal saya sebutkan sudah berbicara sendiri.

review Lenovo P2 Indonesia


Snapdragon 625 sudah sangat lumrah digunakan di berbagai smartphone kelas menengah ke atas. Performa tidak ada masalah. Konsumsi daya baterai apalagi, sudah mah terkenal irit, dijejali baterai kapasitas jumbo, jadilah minimal 2 hari sekali saya baru ngecas. Dan lagi suhunya ngga gampang panas, gamer kayanya bakal betah pakai Lenovo P2 ini.

review Lenovo P2 Indonesia


Dipakai untuk kebutuhan multimedia juga Lenovo P2 ini asyik. Layar kinclong, gonjreng, tajam, dan ukuran yang besar, enak banget buat nonton video mah. Loudspeaker-nya juga jernih, walau tidak bisa masuk ke golongan speaker yang powerful.

Fingerprint scanner-nya responsif, walau untuk urusan akurasi bisa dikatakan sedikit kurang. Terkadang saya harus menyentuhkan jari 2-3 x untuk mencari posisi yang pas agar pemindaian berhasil.

review Lenovo P2 Indonesia


Susah cari minus dari ponsel ini? Tidak juga. Baterai besar pasti punya konsekuensi di bobot yang ekstra juga. Di sinilah kurang nyamannya Lenovo P2 terasa. Ukuran bulky serta cukup berat, membuat saya banyak berpikir-pikir apakah akan lanjut saya pakai terus atau tidak.

Dan pada akhirnya saya memutuskan untuk melepasnya, karena ponsel yang compact bagi saya lebih nyaman dibawa-bawa.

review Lenovo P2 Indonesia

review Lenovo P2 Indonesia


Selain itu desain dari Lenovo P2 ini terasa biasa saja. Sebetulnya kalo diperhatikan bagian pinggirannya hingga ke grille speaker-nya sih, macho. Tapi overall harus diakui desainnya standar-standar saja.

Tapi seandainya saya hanya punya uang 3-juta Rupiah, dan harus membeli smartphone dan tak boleh gonta-ganti dalam kurun waktu yang lama, saya takkan ragu untuk menjadikan Lenovo P2 ini sebagai pilihan.

Link pembelian Lenovo P2 ada di sini ya.

review Lenovo P2 Indonesia


Ulasan dari Lenovo P2 saya akhiri di sini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review Smartband LYNWO M2S Pro, Layar Warna yang Terjangkau!

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Kalau tak salah, LYNWO M2S Pro ini adalah smartband ketiga dari Lynwo yang saya coba. Sebelumnya saya pernah coba Lynwo M4 dan M6. Ketiga-tiganya memiliki fitur heartrate sekaligus blood pressure counter. Dan ketiga-tiganya pula saya dapatkan dari Banggood.com.

Jika saya perhatikan, brand Lynwo ini nampaknya rajin mengeluarkan produk smartband kesehatan dengan harga yang cukup terjangkau. Dalam pantauan saya produk Lynwo termahal tak sampai $35 lho.

M2S Pro saat ini dijual dengan harga $25 saja. Hanya lebih mahal $2 dari Lynwo M6 yang saya coba beberapa waktu lalu. Sama seperti M6, Lynwo M2S Pro ini juga memiliki kemampuan mengukur blood oxygen.

Perbedaan utamanya adalah Lynwo M2S Pro sudah memiliki layar yang berwarna. Sehingga terlihat lebih fancy. Desainnya secara keseluruhan juga lebih trendy dari M6. Tapi saya ingat, desain ini mirip dengan milik Zeblaze Zeband 2 yang pernah saya ulas tahun lalu.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Lynwo M2S Pro dikemas dalam kotak kemasan yang tergolong sangat sederhana, sesuai lah dengan harganya. Di dalam paket penjualan hanya terdapat smartband dan leaflet manual-nya saja. Lho, koq tidak ada kabelnya ya? Tenang dulu, ini karena Lynwo M2S Pro memiliki konektor USB 2.0 di salah satu ujung yang menancap ke dalam strapnya.

Saya suka sih dengan konektor seperti ini, jadi untuk charge tinggal colok, entah itu ke laptop atau ke kepala charger. Ga usah bawa-bawa kabel atau dock tambahan. Tapi memang bikin khawatir strap-nya akan cepat longgar euy, hehehe.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Strap yang saya dapat kali ini berwarna ungu. Gimana, unyu ngga? Hahaha. Biar ga bosen hitam atau hijau terus nih. Di Banggood sendiri ada dua pilihan warna lain yaitu navy blue dan hitam. Finishingnya lembut di tangan, dan cukup lentur walau masih terasa sedikit plasticky. Ujung strap memiliki lubang untuk memasukkan strap lainnya, dan dikunci dengan pengait logam. Klop, ini saya suka.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Fiturnya sendiri masih sama dengan Lynwo M6, dari layar utama yang berisi jam dan tanggal serta indikator baterai dan koneksi bluetooth, kita dapat menyentuh satu-satunya tombol navigasi untuk berpindah menu. Menu selanjutnya adalah pedometer, pengukur kalori terbakar, pengukur jarak, dan pengukur kualitas tidur. Selanjutnya ada penghitung detak jantung, kadar oksigen darah, dan tensi atau tekanan darah.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Dua menu terakhir ada find phone dan power off. Terasa membosankan memang buat saya yang mencoba beberapa smartband tapi menunya itu-itu lagi.

Accelerometer hadir untuk membuat layarnya menyala saat kita memutar pergelangan tangan. Fitur ini baru bisa aktif setelah kita melakukan pairing dengan aplikasi FitCloud di smartphone. Sayangnya, tidak semua notifikasi aplikasi dapat diteruskan ke smartband ini.

Daya tahan baterai Lynwo M2S Pro ini sedikit lebih boros dari Lynwo M6, yang kemungkinan besar adalah efek dari penggunaan layar berwarna. Dalam satu hari penggunaan dengan kondisi terkoneksi ke smartphone, kadar baterai bisa berkurang 25-30%.

Dan meskipun terkena air tidak masalah, namun penyakit layar mengembun yang pernah hadir di Lynwo M4, kambuh di M2S Pro ini walau memang tak separah dulu.

Dengan harga yang jika dirupiahkan hampir mencapai 350 ribuan, menurut saya Lynwo M2S Pro ini cukup patut dimiliki. Selain layar berwarna, strap yang ramah kulit, ada juga fitur kesehatan yang cukup lengkap, walau untuk akurasi hasilnya masih sangat bisa diperdebatkan ya.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Colokan USB 2.0 membuatnya praktis saat hendak diisi ulang dayanya. Sementara ketahanan baterainya sendiri buat saya tidak cukup untuk membuatnya menjadi pilihan utama.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Sip, segitu aja yah ulasannya. Ini adalah link pembelian LYNWO M2S Pro yang termasuk produk best seller lho di Banggood.

Dari Kota Cimahi saya pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, November 21, 2017

Review Vernee M5, Lumayan (Pake Banget)



Mungkin tak ada akan ada yang tertarik dengan Vernee M5 saat orang sedang browsing-browsing smartphone yang dijual oleh GearBest.com.



Wajar, ponsel ini tak membawa gimmick apa-apa seperti kebanyakan smartphone Android dari brand Tiongkok di sana saat ini.

Lalu apa dong yang membuat saya tertarik untuk mengulasnya? Yakin mau tahu? Ngga takut keracunan? Haha, ya sudah, racun ditanggung sendiri ya. Lanjut!

Smartphone ini mungkin akan banyak dilewatkan orang. Ya bagaimana tidak, desainnya sederhana alias simple banget walau sudah menggunakan bahan metal dan juga punya pilihan warna biru. Kamera belakang maupun depannya masing-masing cuma ada satu. Boro-boro punya layar bezeless atau ala-ala infinity display, ini saja layarnya hanya beresolusi HD 720p dengan dimensi 5,2 inci.

Eits, kalo mendengar 5,2 inci harusnya sudah pada dapet clue dong kenapa saya tertarik menguji Vernee M5 ini?

Yap, dimensinya cukup compact. Selain itu, ini adalah ponsel Android termurah yang saya temukan sejauh ini, yang sudah memiliki RAM 4 GB, storage 64 GB, koneksi 4G dan OS Android 7.0 alias Nougat. Harganya di GearBest hanya $110 saja, alias kalo diRupiahkan ya 1,5 juta lah.

Sudah lebih dapat pencerahan kan tentang apa value dari Vernee M5 ini? Yap, harga murah, tapi menang banyak.

Dan asal tahu saja, pada harga segini, kameranya sudah 13 Megapixels di belakang, dan 8 Megapixels di depan. Hasil fotonya gimana? Gimana ya, dibilang standar sih ngga, karena saya tahu harganya murah, ekspektasi saya di awal sudah dipasang pada titik yang cukup rendah duluan. Nyatanya, hasilnya bagus koq untuk ukuran harga segini. Tapi kalo dinilai overall sih ya sebatas lumayan aja sih.

Cahaya ideal hasilnya tidak ada masalah, lowlights pun masih kepake sih, ya kan ga bisa ngarep kece-kece amat juga dari hape kamera sejutaan begini. Dipakai rekam video juga hasilnya ngga bikin pusing lho, padahal saya rekam pada Hari Minggu, dari samping pak kusir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya.

Halah haha.

Memang manual mode tidak ada, serta pengambilan fokus harus ekstra hati-hati. Cukup sering meleset fokusnya, dan kalau tangannya goyang ya gitu deh.

Segimana lumayan? langsung saja cekidot!



Dapur pacu Vernee M5 menggunakan Mediatek MT6750 yang merupakan processor Octa-core Mediatek dengan clockspeed 1,5 GHz saja. Dipakai bermain game dengan grafis ringan pun sudah kerasa beda, mungkin karena pada saat yang bersamaan saya pakenya Huawei P10 kali yah.

Konsumsi baterainya menurut saya oke. Di mana di saat idle, daya yang digunakan sangat sedikit, jadinya 24 jam dapat ditembus dengan mudah. Namun memang saat kita aktif mengoperasikan ponsel ini, semisal main game terus di akhir pekan, paling setengah hari juga sudah minta mimik ni hape.

Layarnya sendiri masih sangat enjoyable, reproduksi warna yang terlihat seperti aslinya, tidak pucat, ketajamannya pun cukup.

Lalu gimana dong kesimpulannya, worth it ga?


Apa Kata Aa tentang Vernee M5

Saya sih bisa bilang worth it, namun saya juga takkan sampai hati menjadikannya ponsel utama. Memang, Vernee M5 memiliki price-to-spec comparison yang sangat baik, tapi ya secara kualitas sih hanya masuk ke level lumayan, emmmm.. pake banget deh. Lumayan banget! yak! ini baru pas, hahaha.

Oya, sejak unboxing hingga selesai proses review, update OTA datang bertubi-tubi ke ponsel ini. Kayanya 5x mah ada lah. Kalo mau positif thinking, ini artinya ponsel ini diperhatikan sama developernya, tiap ada bug, langsung diperbaiki. Tapi ya tetep aja artinya masih ada bug hehehe.

Paling cocok sih ini ponsel dijadikan hape kedua, ukuran compact, storage gede, sinyalnya bisa 4G-3G barengan, batre juga ga boros, dan yang paling penting sih harganya, masuk banget di kantong.

Kamu yang tertarik, langsung aja cek link penjualan Vernee M5 di GearBest ini yes!

Singkat saja ulasan dari Vernee M5 ini, semua adegan pada video ini diambil di kampung halaman tercinta ya. So, dari Kabupaten Garut, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL. Multimedia OKE, Selfie... Hmmmm...



Banyak orang yang mungkin menyangka ASUS ikut-ikutan menelurkan sebuah smartphone khusus selfie. Padahal, Zenfone 4 Selfie Pro ini adalah penerus dari Zenfone Selfie yang sudah pernah hadir sebelumnya. Hayo, masih inget ngga dengan smartphone yang satu ini? Yap, desainnya khas ya, senada dengan Zenfone generasi pertama dan kedua, ASUS banget. Dan malah Zenfone 4 Selfie PRO menurut saya kurang punya jatidiri dari masalah desain, selain warna merah-nya yang lekat dalam ingatan. Eh tapi, kayanya saya sudah sering ya review smartphone merah begini? Hehe.


Unboxing & Desain ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL




Ya, dari masalah desain, sebetulnya tak ada yang salah dengan ASUS Zenfone 4 Selfie Pro, termasuk yang berwarna merah yang saya ulas ini. Terasa mainstream memang, tapi tak ada yang akan menyangkal bahwa smartphone ini kece abis. Dimensi layarnya yang 5,5 inci tak begitu terasa saat kita menggenggamnya berkat bezel kiri dan kanan yang minim sekali. Ketipisan ponsel ini pun semakin menambah nilai plus dalam hal estetika desainnya. Dibalut body full metal dengan bagian depan berlapis Gorilla Glass 4 bertepian 2.5D, ini adalah ponsel ASUS yang paling kekinian saat ini.

Sedikit kekurangan dari desain ASUS Zenfone 4 Selfie ini adalah bagian jidat yang terlalu lebar, serta kamera belakang yang sedikit menonjol dan hanya memiliki satu buah LED Flash saja.

Satu hal yang saya senangi adalah sejak Zenfone 4 Max lalu, ASUS sudah memindahkan posisi fingerprint scanner ke sisi depan, tepatnya di dagu ponsel. Dengan akurasi dan respon time yang sangat baik, saya jadi betah menggunakannya sejauh ini.

Beberapa waktu lalu saya sempat melakukan unboxing sebuah ponsel selfie, dan orang-orang pada mencibir, bodynya plastik lah, layarnya ga Full HD, terus chipsetnya Snapdragon seri 4, bukan 6. Nah, Zenfone 4 Selfie Pro hadir menjawab itu semua, body full metal berkualitas, layar Full HD dengan panel AMOLED, dan chipset kesayangan kita semua, Snapdragon 625. Hayo, pada beli ga? Jangan alesan mulu deh, hahaha.


Harga & Spesifikasi ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL

Ya memang sih untuk bisa menentukan apakah ponsel ini harus dibeli atau tidak, perlu dibandingkan antara value dengan harganya. Dan harga resmi dari Zenfone 4 Selfie Pro ini adalah Rp 4.999.000,-, hmm cukup premium ya harganya. Pada harga yang kurang lebih sama, saat ini Anda bisa membeli Zenfone Zoom S yang sudah turun harga, tinggal lihat butuhnya dua kamera di depan atau belakang hehehe.

Oh ya, Zoom S punya baterai yang lebih besar ya. Zenfone 4 Selfie Pro sendiri memiliki baterai 3.000 mAh yang hampir selalu pas dipakai 24 jam. Dibilang boros ya ngga, tapi dibilang hemat juga rasanya Snapdragon 625 biasanya mampu bertahan lebih lama dari ini. Bisa jadi, konsumsi daya ini banyak dipengaruhi oleh real-time-nya semua notifikasi masuk ke ponsel ini. Dan bagi saya, notifikasi yang realtime jauh lebih penting dari baterai yang tembus dua hari sih.

Performa Snapdragon 625 sendiri rasa-rasanya sudah banyak yang tahu ya, dipakai berbagai kegiatan lancar-lancar saja, gaming juga mumpuni. Walau kalau dilihat dari proses benchmarking 3D di Antutu, ada scene-scene yang terlihat jelas beda smooth-nya saat dibandingkan dengan Snapdragon seri 8, semisal 820, 821, atau bahkan 835.


Multimedia & Kamera ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL

Sebagai multimedia player, Zenfone 4 Selfie Pro adalah andalannya. Layar vivid berkat panel AMOLED, kerapatan yang sangat cukup, dilengkapi dengan hi-res audio yang disandangnya. Outputnya loudspeakernya saat memutar lagu dengan volume maksimal sangat powerful menurut saya, walau memang untuk clarity terbaiknya ada pada level volume sekitar 70%. Disambungkan dengan earphone berkabel, Zenfone 4 Selfie Pro mampu men-drive-nya dengan baik untuk menghasilkan audio yang saya inginkan. Good job, ASUS!

Panjang lebar membahas ponsel yang memiliki nama Selfie ini, koq dari tadi belum bahas kamera ya? Aahahaha... Lupa euy! Hayu lah kita bahas sebelum masuk ke kesimpulan.

Ternyata walaupun statusnya adalah ponsel Selfie, ASUS masih membekalinya dengan kamera belakang beresolusi 16 Megapixels yang sangat bisa diandalkan. Somehow saya malah masih lebih suka hasil kamera belakang ini daripada kamera selfie-nya. Coba lihat foto yang saya ambil dalam kondisi lowlights yang ada pada video review di bawah ini, Anda akan tahu mengapa saya menyukainya.



Sementara di kondisi ideal, kamera belakang ini mampu memberikan performa yang baik saat pengambilan gambar, di mana fokus dapat terkunci dengan cepat, dan penyimpanan gambar pun berlangsung dengan singkat. Saat digunakan merekam video, hasilnya cukup dapat diandalkan walaupun stabilization-nya ngga bagus-bagus amat.

Malah saya merasa stabilization di kamera depannya yang di atas rata-rata mah. Cocok buat daily vlogger jadinya ya. Lihat deh perbandingan hasil perekaman video dengan kamera depan dan belakang pada video review di atas.

Nah, untuk kebutuhan selfie sendiri, kamera depan smartphone ini memiliki resolusi 24 Megapixels hasil dari teknologi duo pixel dari 12+12 Megapixels. Saya sendiri tak terlalu paham bagaimana teknologi ini bekerja, yang pasti hasilnya di kondisi ideal sih oke banget. Satu lensa lagi yang di atas kertas beresolusi 5 Megapixels adalah lensa wide. Kita dapat melakukan selfie rame-rame alias wefie dengan lensa ini, namun gambar yang dihasilkan hanya beresolusi 4 Megapixels saja. Untuk kondisi lowlights, meskipun sudah dilengkapi dengan front LED Flash, saya merasa hasil fotonya kurang natural. Umumnya hasilnya overexposure, dengan ketajaman yang terlihat jelas berkurang. Semoga ini bisa diperbaiki dari sisi software ya.


Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL

Menurut saya, banyak sekali highlight positif yang bisa diberikan kepada ASUS Zenfone 4 Selfie ini. Wajar sih kalo melihat harga jual resminya yang hampir 5 juta Rupiah itu. Tapi saya sudah carikan di beberapa toko online sudah banyak yang menjual lebih murah dengan selisih harga yang lumayan, Anda boleh cek link di deskripsi video ini untuk menuju ke sana ya.

Highlight positif layak diberikan pada looks dan build quality, kemampuan multimedia baik visual maupun audio, kemampuan fotografi hingga performanya dalam keseharian. Tak lupa juga apresiasi harus saya berikan pada ZenUI versi 4.0 yang terlihat makin clean, makin sedikit bloatware, dan icon-icon yang makin distinctive.

Dua hal yang saya suka dari sisi software adalah ASUS selalu memberikan pilihan untuk mengutilisasi tombol fisiknya. Kebiasaan saya setiap menggunakan smartphone ASUS adalah menjadikan tombol recent apps sebagai shortcut untuk melakukan screenshot dengan long tap. Sementara fitur Always on Panel terkadang saya gunakan saat ingin selalu terupdate dengan jam dan notifikasi saat saya sibuk bekerja dan meletakkan ponsel ini di atas meja. Ya, panel AMOLED membuat fitur ini mungkin untuk dinyalakan terus tanpa mengonsumsi banyak daya.

Sedikit yang mungkin cukup menjadi deal breaker adalah faktor harga yang terasa cukup tinggi, setara harga Zoom S sekarang, namun cukup jauh di atas Zenfone 3 yang merupakan ponsel andalan ASUS tahun lalu. Dan dengan harga setinggi ini serta informasi seri Zenfone 4 yang dirilis saat launching, besar kemungkinan ASUS takkan memasukkan Zenfone 4 versi standar ke Indonesia, padahal itu yang saya tunggu-tunggu.

Apakah benar seperti itu? Kita tunggu saja bersama-sama hehehe.

Sekian review kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, November 13, 2017

Review ASUS Zenfone 4 Max 5,2 inci (ZC520KL) Indonesia



Tadinya saya berpikir untuk apa sih ASUS merilis Zenfone 4 Max ZC520KL ini, padahal sudah ada Zenfone 4 Max Pro ZC554KL. Namun rupanya ASUS tak hanya sekedar melengkapi jajaran smartphone tahun ini di berbagai level harga, banyak pula value lain yang dihadirkan pada smartphone yang dijual pada harga resmi RP 2.299.000 ini. Apa saja kira-kira? Mendingan ga usah ngira-ngira deh, ditonton aja terus videonya yah, hehehe.



Pertama saya baru sadar bahwa Zenfone 4 Max ini adalah versi compact dari varian Max Pro. Ya, dimensi layar smartphone ini adalah 5,2 inch, yang menurut preferensi pribadi saya adalah ukuran paling ideal agar tetap dapat digenggam dan dimasukkan ke dalam saku jeans dengan nyaman. Wajar pula jika dengan dimensi yang lebih compact, layarnya yang beresolusi HD 720p ini akan terlihat sedikit lebih tajam dari versi Pro-nya.

Perbedaan lain ada pada dapur pacunya yang menggunakan processor Snapdragon 425, yang meskipun seri angkanya lebih kecil dari Snapdragon 430 miliki Zenfone 4 Max Pro, justru sebetulnya dirilisnya lebih baru. Dan sesuai peruntukannya, processor ini menurut saya malah lebih hemat dalam konsumsi daya. Dengan kondisi banyak idle namun semua notifikasi email, messenger, dan social media tetap masuk, setelah 3 hari masih ada baterai tersisa.

Dengan dimensi yang menyusut, kapasitas baterainya memang sedikit turun juga ke 4.100 mAh. Namun dengan processor yang hemat daya dan juga berbagai battery saving mode yang dimiliki ponsel ini, saya rasa tujuan ASUS menghadirkan lini Max sebagai jajaran smartphone dengan ketahanan baterai yang istimewa dapat terpenuhi pada Zenfone 4 Max 5,2 inci ini.


Kamera ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Pada beberapa post hasil fotonya yang saya unggah di Instagram, beberapa orang berkomentar bahwa hasil kameranya terasa lebih baik dari Zenfone 4 Max Pro. Dan saya pun memiliki perasaan yang sama, sayangnya Tatjana Saphira sih ga punya perasaan apa-apa sama saya. Lha koq malah melenceng haha, maksudnya saya setuju dengan komentar di Instagram tadi ya. Entah kenapa memang terasa lebih baik detail foto yang dihasilkan oleh Zenfone 4 Max 5,2 inci ini.

Dalam kondisi pencahayaan ideal, lensa kedua yang memiliki setup wide dan resolusi 5 Megapixel ini memiliki hasil yang sama baik dengan lensa normal yang beresolusi 13 Meapixels, bahkan kadang lebih detail. Tapi saat digunakan di kondisi lowlights, saya sarankan pakai lensa normal saja, nanti Anda akan tahu kenapa, hehe.

Kamera depan adalah salah satu yang mengalami down-spec, di mana resolusinya hanya 5 Megapixels saja, tak lagi 8 Megapixels seperti pada Zenfone 4 Max Pro. Namun ASUS tak pelit, dan tetap membekalinya dengan LED Flash untuk selfie.

Untuk perekaman video, Zenfone 4 Max sudah memiliki EIS untuk membantu hasilnya agar terlihat lebih stabil. Jika fokusnya loncat-loncat, Anda bisa menyentuh objek di layar untuk menguncinya, dengan begini hasil video lebih stabil menurut saya.

Mari kita saksikan seperti apa hasil kameranya yuk!




Sudah lihat hasil foto dan videonya? Bagaimana menurut Anda kualitasnya? Sepadan tidak dengan harga jualnya? Silakan tulis di kolom komentar video ini ya.


Desain & Looks, ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Berbicara soal desainnya, saya cukup senang dengan pembaruan yang ASUS lakukan pada semua jajaran Zenfone 4 series, tak terkecuali Zenfone 4 Max ini. Sisi depannya menjadi favorit saya, entah kenapa looks-nya terasa unik, antara macho tapi ada imut-imutnya haha.

Highlight positif saya berikan untuk fingerprint scanner yang posisinya sudah enak banget di sisi depan, dengan akurasi jempolan, dan waktu respon yang lumayan cepat. Tepian layar 2,5 D juga membuat ponsel ini ramah di kulit. Penilaian minus saya berikan untuk tombol kapasitif yang tak memiliki backlight, serta kamera depan yang secara fisik terlihat ukurannya kecil sekali, terlihat kurang meyakinkan jadinya.

Oh ya buat yang bertanya apakah ponsel ini memiliki LED Notification, jawabnya ada. Posisinya ada di pojok kiri atas sisi depan ya.

Beralih ke bagian samping dan belakang, Zenfone 4 Max dibalut dengan backcover unibody yang mengusung desain metal looks. Ya nampak seperti berbahan logam, namun sejatinya bahannya plastik solid dengan tepian membulat yang tak menyisakan sudut. Ergonomis di tangan, dan dengan finishing doff membuatnya tak mudah kotor.

Sejujurnya desain sisi belakang ini bukanlah favorit saya, walau warna deepsea black yang saya ulas ini memiliki warna hitam kebiruan yang cukup mempesona.

Setidaknya ASUS sudah melakukan hal yang tepat dalam menempatkan lubang speaker di sisi bawah. Suaranya lumayan bagus, tidak pecah saat di volume terkencang, namun terasa sedikit tertahan alias mendem. Anda perlu mengaktifkan mode outdoor supaya lebih lepas suaranya.


Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Dengan layar yang memiliki kecerahan dan reproduksi warna yang baik, Zenfone 4 Max ini juga bisa digunakan untuk menonton video atau streaming. Kebutuhan multimedia dapat diakomodasi dengan baik, terlebih storage 32 GB miliknya masih dapat ditambah micro-SD tanpa menganggu slot kartu sim.

Dengan harga yang lebih terjangkau, Zenfone 4 Max justru malah mampu mencuri perhatian saya dibanding versi Pro-nya. Dimensi 5,2 inci, kamera yang terasa lebih baik, baterai yang tetap awet, menjadikannya bernilai di atas rata-rata untuk harganya.

Tapi ya memang processor yang dimiliki smartphone ini bukan buat diajak gaming berat ya. Kalau untuk kebutuhan casual mah sudah cukup banget. Berbahagialah para driver transportasi online karena semakin banyak saja pilihan smartphone berbaterai besar di rentang harga yang cukup terjangkau.

Sip, itu saja yang dapat saya sampaikan mengenai Zenfone 4 Max ini. Dari Kota CImahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, November 7, 2017

Review Huawei Honor 9 Indonesia, Bingung Kurangnya di Mana



Mungkin ini adalah review smartphone yang paling banyak ditagihin seingat saya. Haha, pertama maafkan saya ya kalau keluarnya lama. Tapi yang nagih artinya belum kenal saya nih. Memang lama keluar review-nya kalau ponsel yang saya jadikan sebagai daily driver mah. Kan dinikmati dulu, haha. Ngga deng, seringnya justru lebih karena Huawei Honor 9 ini banyak cutinya, diem di dalam tas karena saya masih banyak PR review yang lain.

So, buat yang udah ga sabar nungguin, terima kasih ya sudah menunggu, dan ini dia review selengkapnya dari Huawei Honor 9.



Perkenalan pertama saya dengan seri Honor dimulai dari Honor 8 yang sukses berat membuat saya ingin berhenti gonta ganti hape waktu itu. Suatu hari saya mempunyai rizki lebih dan ingin memiliki sebuah daily driver lagi, waktu itu pilihan saya adalah LG G6 atau Honor 9. Dengan selisih harga termurah antara keduanya di tokopedia yang mencapai 1,2 jutaan untuk varian RAM dan Storage yang sama, akhirnya saya memilih Huawei Honor 9 di Tokopedia dengan pertimbangan harga, nostalgia, dan ketakutan akan layar 2K milik LG G6 yg saya khawatirkan akan menguras baterai.

Dari sisi desain, Honor 9 menurut saya masih juara banget. Backcover dengan refleksi cahaya yang indah masih hadir, dan kali ini semakin indah dengan backcover yang melengkung sehingga lebih ergonomis dari Honor 8 lalu. Posisi fingerprint scanner juga sudah semakin baik, tak lagi di punggung ponsel, melainkan sudah di dagu.

Sayangnya, Huawei malah menempatkan dua buah tombol kapasitif di samping fingerprint scanner ini. Saya sendiri lebih prefer on-screen navigation soalnya. Dan kedua tombol kapasitif ini menggunakan ikon titik saja, karena memang bisa ditukar fungsinya, mau back di kiri dan recent apps di kanan, atau kebalikannya. Backlight ada sih di tombol ini, tapi buat saya yang sering gonta ganti hape dan gonta ganti layout tombol, ikon titik seperti ini sangat tidak membantu. Saat sedang tandem dengan Samsung yang tombol back-nya di kanan, di Honor 9 sering ketuker, lalu saat pindah tandem bareng ASUS yang tombol back-nya di kiri, koq masih aja sering ketuker juga ya hahaha. Intinya mah saya yang orangnya visual banget ini, lebih prefer penggunaan ikon yang sesuai action-nya daripada cuma titik saja.

Fingerprint scanner-nya sendiri nyaris datar dengan layar, hanya diberi list yang sedikit timbul dan membantu membedakan letaknya. Responsifitas dan akurasinya top class deh pokoknya. Dari ribuan kali pemindaian mungkin hanya 1-2 kali saja gagalnya, dan membuka layar dapat dilakukan secepat kilat, keren!

Speaker grille di sisi bawah sudah lebih lembut terasa di jari, walau kalau digesek-gesek mah masih terasa sedikit tajam, tapi sudah lebih baik dari Honor 8.

Sama seperti Honor 8, infrared blaster masih tetap hadir pada Honor 9 ini. Dan saya suka dengannya!
Huawei Honor 9 sudah menggunakan EMUI 5.1 berbasis Android Nougat 7.0. Notification drawer sudah digabung dengan toggles, sehingga awkward feeling di saat harus bergeser antara keduanya sudah hilang. Pada EMUI versi ini kita dapat memilih apakah mau menggunakan application drawer atau tidak. Yang paling saya rasakan perbedaannya sih Huawei semakin meningkatkan keamanan bagi pengguna, contohnya jika kita menggunakan keyboard dari pihak ketiga, Swiftkey misalnya, setiap kali mengisikan password, maka EMUI akan mengganti keyboardnya dengan keyboard bawaan, sehingga semakin memperkecil kemungkinan data password kita direkam oleh aplikasi lain yang tidak bertanggung jawab. Good job Huawei!

Sedikit kemunduran yang saya rasakan sih di EMUI 5.1 ini notifikasi terasa sedikit kurang realtime. Tapi memang baterai Honor 9 terasa lebih hemat dari Honor 8. Ya take and give lah jadinya heuheu.

Lanjut ke sisi kamera, kali ini dual-camera di sisi belakang Honor 9 memiliki setup normal dan zoom, tak lagi RGB dan monokrom seperti pada Honor 8. Dan entah kenapa saya merasa mode wide aperture-nya masih lebih baik pada Honor 8 dulu, mungkin memang setup RGB dan monokrom lebih cocok untuk bokeh-bokehan ya.

Dan saya masih sangat menikmati hasil dari kamera Honor 9 ini, foto-foto, bokeh-bokehan, lowlights, selfie, hingga merekam video, semuanya bisa dilakukan oleh Honor 9 dengan hasil yang baik. Bahkan pada beberapa event launching smartphone yang saya ikuti, saya merasa cukup mengambil foto dan video dengan Honor 9 dan tak perlu sampai mengeluarkan kamera mirrorless saya. Bahkan sebetulnya video hands-on kamera Canon EOS M6 saya itu direkam menggunakan Honor 9 ini lho, makanya saya bisa membandingkan dua buah mirrorless langsung padahal saat itu kamera saya cuma ada dua itu saja, heuheu.

Fitur kameranya sama seperti smartphone Huawei umumnya, lengkap dengan berbagai mode, dan pengaturan manual juga hadir.

Hasil lengkap foto dan video menggunakan Honor 9 dapat Anda saksikan di video review ini.



Oh ya, belum bahas dapur pacunya ya. Honor 9 menggunakan processor in-house Huawei, yaitu HiSilicon Kirin 960 yang juga digunakan oleh Huawei P10 dan P10 Plus. Skor Antutu-nya sudah tembus 100ribu, performanya smooth dan konsumsi baterainya tergolong awet, meski masih belum bisa seawet Snapdragon 821 dan 835.

Sepemakaian saya, rasanya tak pernah menemukan lag sama sekali. Rasanya memang duet processor buatan sendiri dengan OS yg juga dicustomized khusus untuknya adalah faktor di balik user experience tanpa cela ini. Dan sampai satu minggu sebelum naskah review ini saya tulis, saya masih mendapat update OTA di Honor 9 yang tujuannya meningkatkan keamanan dan daya tahan baterai, tinggal tunggu saja nih kebagian Android Oreo ngga ponsel ini.

Audio dari Honor 9 juga sangat enjoyable, walau cukup disayangkan kali ini speakernya hanya memiliki mono driver.

Saya sangat betah sebetulnya menggunakan Huawei Honor 9. Yang ngga bikin betah sih justru karena saya harus mencoba smartphone lain untuk saya review, dan itu kadang lebih dari satu dan membuat Honor 9 sering vakum jadinya. De javu, sama seperti pengalaman mengunakan Honor 8 dulu. Ya, cuma dua ponsel ini saja yang dalam satu tahun terakhir ini mampu bertahan hingga dua bulan dalam pemakaian saya. Nampaknya ada kutukan bahwa saya tak boleh punya daily driver nih, jangan-jangan gara-gara nama akunnya Gonta Ganti Hape ya, huhu serem ah...

Tentunya Honor 9 ini menonjol banget dari sisi looks dan estetika desainnya. Oh ya layarnya juga sangat indah memproduksi warna, walau entah kenapa saya merasa tidak seterkesima saat pertama mencoba Honor 8 dulu, mungkin efek kepuasan yang menurun karena sudah pernah kali ya. Tapi Honor 9 bukan hanya pesolek yang cantik di luar saja lho, jeroannya juga top class, performanya sangat baik dengan konsumsi daya yang masih tergolong awet.

Cukup sulit untuk mencari kelemahan dari ponsel ini selain masalah kebiasaan. Ya, saya masih lebih nyaman menggunakan on-screen navigation ketimbang tombol kapasitif berikon titik saja seperti ini. Sisanya mungkin faktor harga, ketersediaan produk, dan jaminan purna jualnya saja. Saat ini harga di toko online lokal masih cukup tinggi, dengan stok yang sedikit, dan tentu saja garansi resminya hanya berlaku di daratan Cina sana.

Saya sendiri menemukan harga Huawei Honor 9 di GearBest.com sudah turun cukup banyak, Anda bisa cek ketersediaan dan harganya di link yang saya berikan di deskripsi ya. Honor 9 ini sejatinya tersedia dalam pilihan warna Biru, Emas, Hitam, dan Abu-abu. Menurut saya selain warna Biru, yang abu-abu juga cukup memikat lho. Oh ya, selain versi RAM 4 GB dan storage 64 GB seperti yang saya ulas ini, Honor 9 tersedia dalam versi tertinggi dengan RAM 6 GB dan storage 128 GB juga lho.

Sip, demikian review dari Honor 9. Mohon maaf membuat menunggu lama hehe. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!