Gadget Promotions

Tuesday, November 7, 2017

Review Huawei Honor 9 Indonesia, Bingung Kurangnya di Mana



Mungkin ini adalah review smartphone yang paling banyak ditagihin seingat saya. Haha, pertama maafkan saya ya kalau keluarnya lama. Tapi yang nagih artinya belum kenal saya nih. Memang lama keluar review-nya kalau ponsel yang saya jadikan sebagai daily driver mah. Kan dinikmati dulu, haha. Ngga deng, seringnya justru lebih karena Huawei Honor 9 ini banyak cutinya, diem di dalam tas karena saya masih banyak PR review yang lain.

So, buat yang udah ga sabar nungguin, terima kasih ya sudah menunggu, dan ini dia review selengkapnya dari Huawei Honor 9.



Perkenalan pertama saya dengan seri Honor dimulai dari Honor 8 yang sukses berat membuat saya ingin berhenti gonta ganti hape waktu itu. Suatu hari saya mempunyai rizki lebih dan ingin memiliki sebuah daily driver lagi, waktu itu pilihan saya adalah LG G6 atau Honor 9. Dengan selisih harga termurah antara keduanya di tokopedia yang mencapai 1,2 jutaan untuk varian RAM dan Storage yang sama, akhirnya saya memilih Huawei Honor 9 di Tokopedia dengan pertimbangan harga, nostalgia, dan ketakutan akan layar 2K milik LG G6 yg saya khawatirkan akan menguras baterai.

Dari sisi desain, Honor 9 menurut saya masih juara banget. Backcover dengan refleksi cahaya yang indah masih hadir, dan kali ini semakin indah dengan backcover yang melengkung sehingga lebih ergonomis dari Honor 8 lalu. Posisi fingerprint scanner juga sudah semakin baik, tak lagi di punggung ponsel, melainkan sudah di dagu.

Sayangnya, Huawei malah menempatkan dua buah tombol kapasitif di samping fingerprint scanner ini. Saya sendiri lebih prefer on-screen navigation soalnya. Dan kedua tombol kapasitif ini menggunakan ikon titik saja, karena memang bisa ditukar fungsinya, mau back di kiri dan recent apps di kanan, atau kebalikannya. Backlight ada sih di tombol ini, tapi buat saya yang sering gonta ganti hape dan gonta ganti layout tombol, ikon titik seperti ini sangat tidak membantu. Saat sedang tandem dengan Samsung yang tombol back-nya di kanan, di Honor 9 sering ketuker, lalu saat pindah tandem bareng ASUS yang tombol back-nya di kiri, koq masih aja sering ketuker juga ya hahaha. Intinya mah saya yang orangnya visual banget ini, lebih prefer penggunaan ikon yang sesuai action-nya daripada cuma titik saja.

Fingerprint scanner-nya sendiri nyaris datar dengan layar, hanya diberi list yang sedikit timbul dan membantu membedakan letaknya. Responsifitas dan akurasinya top class deh pokoknya. Dari ribuan kali pemindaian mungkin hanya 1-2 kali saja gagalnya, dan membuka layar dapat dilakukan secepat kilat, keren!

Speaker grille di sisi bawah sudah lebih lembut terasa di jari, walau kalau digesek-gesek mah masih terasa sedikit tajam, tapi sudah lebih baik dari Honor 8.

Sama seperti Honor 8, infrared blaster masih tetap hadir pada Honor 9 ini. Dan saya suka dengannya!
Huawei Honor 9 sudah menggunakan EMUI 5.1 berbasis Android Nougat 7.0. Notification drawer sudah digabung dengan toggles, sehingga awkward feeling di saat harus bergeser antara keduanya sudah hilang. Pada EMUI versi ini kita dapat memilih apakah mau menggunakan application drawer atau tidak. Yang paling saya rasakan perbedaannya sih Huawei semakin meningkatkan keamanan bagi pengguna, contohnya jika kita menggunakan keyboard dari pihak ketiga, Swiftkey misalnya, setiap kali mengisikan password, maka EMUI akan mengganti keyboardnya dengan keyboard bawaan, sehingga semakin memperkecil kemungkinan data password kita direkam oleh aplikasi lain yang tidak bertanggung jawab. Good job Huawei!

Sedikit kemunduran yang saya rasakan sih di EMUI 5.1 ini notifikasi terasa sedikit kurang realtime. Tapi memang baterai Honor 9 terasa lebih hemat dari Honor 8. Ya take and give lah jadinya heuheu.

Lanjut ke sisi kamera, kali ini dual-camera di sisi belakang Honor 9 memiliki setup normal dan zoom, tak lagi RGB dan monokrom seperti pada Honor 8. Dan entah kenapa saya merasa mode wide aperture-nya masih lebih baik pada Honor 8 dulu, mungkin memang setup RGB dan monokrom lebih cocok untuk bokeh-bokehan ya.

Dan saya masih sangat menikmati hasil dari kamera Honor 9 ini, foto-foto, bokeh-bokehan, lowlights, selfie, hingga merekam video, semuanya bisa dilakukan oleh Honor 9 dengan hasil yang baik. Bahkan pada beberapa event launching smartphone yang saya ikuti, saya merasa cukup mengambil foto dan video dengan Honor 9 dan tak perlu sampai mengeluarkan kamera mirrorless saya. Bahkan sebetulnya video hands-on kamera Canon EOS M6 saya itu direkam menggunakan Honor 9 ini lho, makanya saya bisa membandingkan dua buah mirrorless langsung padahal saat itu kamera saya cuma ada dua itu saja, heuheu.

Fitur kameranya sama seperti smartphone Huawei umumnya, lengkap dengan berbagai mode, dan pengaturan manual juga hadir.

Hasil lengkap foto dan video menggunakan Honor 9 dapat Anda saksikan di video review ini.



Oh ya, belum bahas dapur pacunya ya. Honor 9 menggunakan processor in-house Huawei, yaitu HiSilicon Kirin 960 yang juga digunakan oleh Huawei P10 dan P10 Plus. Skor Antutu-nya sudah tembus 100ribu, performanya smooth dan konsumsi baterainya tergolong awet, meski masih belum bisa seawet Snapdragon 821 dan 835.

Sepemakaian saya, rasanya tak pernah menemukan lag sama sekali. Rasanya memang duet processor buatan sendiri dengan OS yg juga dicustomized khusus untuknya adalah faktor di balik user experience tanpa cela ini. Dan sampai satu minggu sebelum naskah review ini saya tulis, saya masih mendapat update OTA di Honor 9 yang tujuannya meningkatkan keamanan dan daya tahan baterai, tinggal tunggu saja nih kebagian Android Oreo ngga ponsel ini.

Audio dari Honor 9 juga sangat enjoyable, walau cukup disayangkan kali ini speakernya hanya memiliki mono driver.

Saya sangat betah sebetulnya menggunakan Huawei Honor 9. Yang ngga bikin betah sih justru karena saya harus mencoba smartphone lain untuk saya review, dan itu kadang lebih dari satu dan membuat Honor 9 sering vakum jadinya. De javu, sama seperti pengalaman mengunakan Honor 8 dulu. Ya, cuma dua ponsel ini saja yang dalam satu tahun terakhir ini mampu bertahan hingga dua bulan dalam pemakaian saya. Nampaknya ada kutukan bahwa saya tak boleh punya daily driver nih, jangan-jangan gara-gara nama akunnya Gonta Ganti Hape ya, huhu serem ah...

Tentunya Honor 9 ini menonjol banget dari sisi looks dan estetika desainnya. Oh ya layarnya juga sangat indah memproduksi warna, walau entah kenapa saya merasa tidak seterkesima saat pertama mencoba Honor 8 dulu, mungkin efek kepuasan yang menurun karena sudah pernah kali ya. Tapi Honor 9 bukan hanya pesolek yang cantik di luar saja lho, jeroannya juga top class, performanya sangat baik dengan konsumsi daya yang masih tergolong awet.

Cukup sulit untuk mencari kelemahan dari ponsel ini selain masalah kebiasaan. Ya, saya masih lebih nyaman menggunakan on-screen navigation ketimbang tombol kapasitif berikon titik saja seperti ini. Sisanya mungkin faktor harga, ketersediaan produk, dan jaminan purna jualnya saja. Saat ini harga di toko online lokal masih cukup tinggi, dengan stok yang sedikit, dan tentu saja garansi resminya hanya berlaku di daratan Cina sana.

Saya sendiri menemukan harga Huawei Honor 9 di GearBest.com sudah turun cukup banyak, Anda bisa cek ketersediaan dan harganya di link yang saya berikan di deskripsi ya. Honor 9 ini sejatinya tersedia dalam pilihan warna Biru, Emas, Hitam, dan Abu-abu. Menurut saya selain warna Biru, yang abu-abu juga cukup memikat lho. Oh ya, selain versi RAM 4 GB dan storage 64 GB seperti yang saya ulas ini, Honor 9 tersedia dalam versi tertinggi dengan RAM 6 GB dan storage 128 GB juga lho.

Sip, demikian review dari Honor 9. Mohon maaf membuat menunggu lama hehe. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

1 comment:

  1. Wah, sayang belum masuk ke Indonesia ya. Tapi mungkin kalau masuk indo orang pada pikir2, ini merek Huawei tapi harganya kok mahal amat...

    ReplyDelete