Gadget Promotions

Saturday, February 3, 2018

Review Samsung Galaxy A8 2018, User Experience-nya Bikin Betah



Samsung Galaxy A8 2018 adalah smartphone Samsung dengan Infinity Display yang paling terjangkau saat ini. Tak hanya paling terjangkau, ini juga adalah ponsel pintar yang paling tergenggam. Maksudnya paling nyaman digenggam hehe, dimensi layar-nya yang 5,6 inch saja, rasanya pas sekali di tangan saya.

Jarang-jarang saya membeli smartphone Samsung jika bukan buat istri saya yang dari sejak jaman pacaran dulu ngga pernah ganti merk hape. Tapi Galaxy A8 2018 ini rasanya koq ya terlalu pas dengan semua kebutuhan saya.



Memangnya apa saja sih yang saya lihat cocok dari smartphone ini, kita buat daftarnya saja ya.

1. Tentu saja Infinity Display-nya, saya rasanya sudah terlalu nyaman dengan rasio layar memanjang ini.

2. Selain masalah rasio, panel layar super AMOLED Samsung memang bikin kangen. Always-on Display-nya itu lho, bikin up to date terus.

3. Kayanya tadi sudah dibahas, dimensi layarnya yang ngga kegedean, pas banget.

Hmmm, dari satu sampai tiga layar semua yah, haha. Tenang, yang keempat ini bukan soal layar koq.

4. Adalah ketersediaan NFC, di jaman serba cashless seperti ini, rasanya penting banget, buat sekedar cek saldo e-money, atau bahkan isi ulang, semua bisa dilakukan dari mana saja kalau punya smartphone dengan NFC seperti ini.

5. Slot lengkap, dua slot untuk sim-card dan satu slot ekspansi memory adalah sebuah advantage yang bermanfaat bagi saya yang senang menyalin file-file video dari laptop ke hape. Dengan slot micro-SD dedicated seperti ini, rasanya kapasitas memory bawaan Galaxy A8 2018 yang hanya 32 GB jadi bukan masalah lagi ya.

Alasan lainnya sebetulnya sangat lebih subjektif lagi, seperti peletakan port audio di sisi bawah, penggunaan bahan backcover kaca yang tak membuat khawatir saat bergesekan dengan cincin di jemari saya, sampai mudahnya mengambil screenshot yang cukup dengan menyapukan telapak tangan kita di layar ponsel ini saja. Ya maklum, banyak share layar ponsel saya ke social media nih, heuheu.

Itu adalah hal-hal yang sudah saya rasakan kegunaannya dalam awal-awal pemakaian Galaxy A8 2018 ini. Dan semakin lama menggunakan smartphone ini, saya makin mengerti kenapa istri saya dan mungkin juga banyak orang lain memilih ponsel buatan brand Korea ini.

Alasannya simple sebetulnya, User Experience.

Banyak yang menyepelekan masalah ini demi mengejar harga produk yang lebih murah, tapi bagi saya yang kesibukannya banyak sekali ditunjang oleh penggunaan smartphone, UX adalah sesuatu yang sangat penting.

Ini bocoran saja ya, di kantor saya bekerja di group UX dan Product Management, jadi jangan anggap remeh penilaian saya mengenai sisi yang satu ini.

Sepenilaian saya, grace UX ini salah satu UX yang sudah matang di antara beberapa custom UI Android yang pernah saya coba. Wajar, pengguna smartphone Samsung kan banyak, sehingga data sampling untuk UX research mereka pasti lebih akurat.

Sebagai contoh, untuk layar 18,5:9-nya, Samsung sudah menyediakan fitur yang dapat membuat aplikasi yang belum support untuk dipaksa tampil memenuhi layar. Dan untuk mengembalikannya seperti semula, tak perlu masuk ke menu setting lho, cukup masuk ke recent apps, lalu tekan icon di kanan atas dari card aplikasi yang kita inginkan. Ini serius, benar-benar contoh penerapan UX yang baik, menurut saya.

Tentunya UX yang baik juga harus ditopang oleh hardware yang mendukung. Nah, Samsung Galaxy A8 2018 ini menggunakan dapur pacu besutan Samsung sendiri, yaitu Exynos 7 Octa, tepatnya Exynos 7885 yang sudah memiliki fabrikasi 14nm. Maka jangan heran meskipun performanya kencang, Samsung Galaxy A8 2018 ini memiliki daya tahan baterai yang tegrolong awet. Patut diingat selama pengujian, saya menyalakan fitur Always-on Display selalu lho!



Rata-rata dalam satu kali pengisian daya, Galaxy A8 2018 mampu bertahan dari pagi hingga malam atau sekitar 15 jam dengan penggunaan intens. Sementara di saat saya cukup sibuk bekerja di kantor, baterainya dapat melenggang menembus 24 jam sebelum minta diisi ulang.

Saya melanjutkan kesenangan saya bermain game Destiny 6 di smartphone ini, dan gameplay-nya terbilang selalu lancar, dan tak sampai membuat body ponsel demam walau bermain cukup lama. Yah, saya sih paling lama main game sejam lah.

Review Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHapeReview Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHape

Review Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHapeReview Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHape


Oh ya, satu yang mungkin jarang ditemukan di ponsel lain saat ini, Samsung Galaxy A8 2018 sudah memiliki pressure sensor. Umumnya sensor ini dapat digunakan untuk membantu menentukan ketinggian, jadi kalau nanti 3D maps sudah umum digunakan, smartphone ini sudah mendukung.



Sementara, fitur water resistant dengan sertifikasi IP68 tetap hadir, membuat kita merasa aman saat terpaksa menggunakan ponsel dalam keadaan basah, semisal saat hujan-hujan hendak memesan ojek online.

Fingerprint scanner pada Samsung Galaxy A8 2018 ini memang tidak berada pada posisi yang favorable bagi saya yang sering meletakkan smartphone di atas meja. Namun, kehadiran face unlock yang tergolong akurat, memberi solusinya. Saya cukup ketuk layar 2x, lalu mendekatkan wajah ke atas layarnya, voila, terbuka deh. Fingerprint scanner-nya sendiri berada dalam posisi yang sangat natural bagi telunjuk saya saat dalam posisi menggenggam ponsel ini. Akurasinya baik, dan responsifitasnya juga cukup cepat meski tidak terlalu instant.

Samsung Galaxy A8 2018 ini hadir dengan kamera ganda yang justru terletak di sisi depan. Dual front camera 16 MP + 8 MP, dengan aperture f/1.9 yang tergolong besar, dan dilengkapi dengan teknologi tetra cell. Jadi di tempat minim cahaya tetra cell tech akan membuat hasil foto lebih terang, dan di tempat dengan cahaya cukup akan menghasilkan detail yang lebih pada hasil foto.

Kita bisa memanfaatkannya untuk membuat foto selfie kita lebih stand-out dengan mengaburkan latar belakang pada mode live focus. So far saya puas dengan kinerja kamera depan ganda ini, membuat saya yang tak begitu suka selfie, jadi lebih pede berfoto bareng hehe.

Sementara kamera belakangnya yang sama-sama beresolusi 16 Megapixels juga memiliki performa yang tak kalah baiknya. Kedua kamera yang berbeda posisi ini mampu bekerja dengan baik dalam kondisi pencahayaan yang tidak terlalu bagus [TBC, melihat hasil foto]. Satu yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh Samsung, agar dapat disediakan mode pro yang bisa membuat user mengatur fokus dan shutterspeed manual, agar lebih leluasa memproduksi gambar yang diinginkan.

Lanjut ke perekeman video, smartphone ini dibekali fitur vDis, alias video digital image stabilization yang membuatnya asyik digunakan untuk merekam berbagai kegiatan kita. Framerate-nya sangat cukup untuk membuat hasil video tak patah-patah atau blurry.

Seperti biasa, soal foto dan video ini, lebih baik jika kamu menilainya sendiri yah, Sip, nih saya sajikan hasilnya.



Jangan lupakan bahwa pada kamera Galaxy A8 ini Samsung menyematkan juga Bixby Vision, yang sejatinya adalah fitur pada flagship mereka. Dengan Bixby Vision ini, kita bisa mencari referensi tentang suatu hal atau tempat, cukup dengan membidiknya di kamera. Atau sekedar butuh menerjemahkan tulisan, cincai lah pake Bixby mah.

Ada harga ada rupa, saya setuju dengan pepatah lama ini. Memang patut diakui bahwa Samsung Galaxy A8 2018 ini dijual pada level harga yang premium. Namun, selain mendapatkan rupa yang baik, kita juga akan mendapatkan UX yang nyaman digunakan sih menurut saya.

Dan User Experience itu mahal, dihasilkan dari riset berulang-ulang, dan improvement yang terus menerus.

Dan saat ini, Samsung Galaxy A8 2018 inilah smartphone dengan Grace UX dan Infinity Display yang paling terjangkau. Tips dari saya, manfaatkan berbagai diskon dan promo e-commerce, atau promo soft launch, agar Anda bisa mendapatkan benefit lebih, entah itu berupa diskon, atau bonus hadiah langsung, agar smartphone ini makin terasa worth the money.

Sejauh ini, saya sangat nyaman menggunakannya karena ukurannya yang pas banget dalam genggaman. Buat kamu yang lebih senang dengan yang serba besar, mungkin bisa mempertimbangkan Galaxy A8+ ya, bedanya di ukuran layar yang lebih luas, RAM 6 GB, dan baterai yang sebesar 3.500 mAh.

Sekian hasil pengujian Samsung Galaxy A8 2018 yang sudah saya jadikan sebagai daily driver saya selama seminggu terakhir. Kurang lebihnya mohon dimaafkan ya guys.



Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

No comments:

Post a Comment