Gadget Promotions

Monday, June 10, 2019

Review Infinix Smart 3 Plus, Afgan Aja Kalah Sadis?

Kalau saat ini Anda sedang mencari smartphone untuk dijadikan simpanan, cadangan, selingkuhan, atau apapun lah namanya yang jelas sebagai hape kedua mendampingi hape utama Anda, maka Anda wajib memperhitungkan Infinix Smart 3 Plus ini.

Kenapa? Ya, kenapa tidak. Hehe.



Dengan harga Rp1.199.000 melalui flash sale di Lazada, maka Anda akan mendapatkan sebuah smartphone paket lengkap.

Layar kekinian dengan waterdrop notch, dijamin takkan ada yang menyangka harganya murah. Kerapatan cukup, warna juga bagus, tidak washed out.

Baterai 3.500 mAh, yang kalau dijadikan hape kedua saja, dengan Whatsapp dan Instagram yang sesekali dibuka, nyatanya hape ini bisa bertahan lebih dari 2 hari 2 malam. Ya, memang jadinya banyakan idle. Namanya juga hape kedua.

RAM 2 GB cukup lah buat buka beberapa aplikasi selain games. Storage 32 GB tergolong besar untuk harganya. Tak cukup? Ada slot khusus micro-SD yang tak mengganggu dua slot nano-sim pada hape ini. Dan kerennya lagi, micro-SD bisa diformat sebagai internal storage kalau Anda maksa.

Koq maksa? Ya atuh da dengan processor dan besaran RAM segini, saya pikir nginstall aplikasi di sisa storage sekitar 24GB sudah lebih dari cukup. Micro-SD mah buat simpan file multimedia saja lah. Silakan nasihat saya ini diikuti, tapi kalau tetep maksa, ya saya bisa apa. Saya kan ga suka maksa, enakan suka sama suka, halal dan dengan restu orang tua hehehe.

OS-nya juga kekinian, sudah Android Pie dengan balutan kustomisasi XOS 5.0 Cheetah.

Nah untuk custom UI ini, secara fungsi menurut saya OK, banyak mengadaptasi hal-hal positif dari custom UI lain yang lebih tenar. Semisal ada quick panel yang tinggal diswipe dari sisi kanan, kaya di layar Edge-nya Samsung, walau terakhir saya lihat ColorOS 6 juga pake fitur ini.

Beberapa bloatware bisa kita temukan pada XOS ini, saran saya uninstall atau disable saja lah, daripada menuh-menuhin jendela notifikasi. Ya, beberapa aplikasi senang menampilkan artikel yang kurang relevan sih di notifikasi, yang paling ganggu sih tetep, Phoenix Browser.

Balik ke hardware lagi, jangan lupakan fingerprint scanner Infinix Smart 3 Plus yang saya nilai akurat, meski tak terlalu cepat. Ingat, di harga segini, ini bisa dibilang sebuah fitur mewah.

Face unlock juga hadir, akurat juga dengan catatan kondisi cahaya cukup. Kalau lebih redup, biasanya prosesnya pun lebih lama ya.

Jangan lupakan kemewahan lainnya, yaitu triple AI camera di belakang. Walau satu lensa hanya berfungsi sebagai night mode sensor, namun pada prakteknya ini memudahkan kerja AI smartphone ini untuk mendeteksi pencahayaan pada scene yang dibidik.

Secara otomatis mode kamera akan masuk ke night mode, yang sayangnya tidak terlalu banyak membantu karena kecepatan rana tidak banyak diperlambat untuk mengumpulkan lebih banyak cahaya.

Lensa kedua yang berfungsi sebagai depth sensor bekerja cukup baik untuk mode portrait. Hasilnya lebih baik dari mode portrait kamera depan yang hanya bekerja dengan satu lensa.

Overall, kualitas hasil foto dari kamera belakang Infinix Smart 3 Plus ini OK lho. Setidaknya untuk level harganya. Saya suka tone warna dan ketajaman yang dihasilkan saat cahaya ideal.

Agak kurang di masalah dynamic range saat kontras ekstrem, hal ini saya maklumi untuk level harganya. Mode HDR pun hanya sedikit memberikan bantuannya.

Untuk selfie, ada satu syarat agar hasilnya tajam, yaitu jaraknya harus pas, karena kameranya kan fixed focus. Saat jarak pas sih saya suka detailnya yang asli. Beautification pun masih sebatas wajar, tidak lebay. Bokeh dengan kamera depan cukup rapih, kecuali di bagian detail rambut-rambut halus.

Untuk perekaman video, langsung saja dinilai pada test vlogging yang berikut ini ya.




Pasti penonton ingin tahu ya performa gamingnya? Ya dengan Mediatek Helio A22, GPU PowerVR Rogue GE8300 dan RAM 2GB, buat PUBG masih playable koq.

Playable, but less enjoyable. Graphic maksimal di Balanced, dengan framerate Medium. Dan kalau mau enak, mending maen di rata kiri hehe.

Ya masa hape kedua mau dijadikan gaming machine, paling saya pakai main game saat darurat saja, atau saat hape utama lagi dicharge.

Gameplay masih cukup enak, tapi kalau looting dan geser2 pandangan secara cepat ya terasa agak berat. Kalau punya scope dan main aman, bisa lah sampai 10 besar. Tapi kalau sudah 1-on-1, keteteran heuheu.

Yang paling bener sih ya memang buat hape whatsapp nomor yang banyak grupnya kayak saya saja. Dan sesekali dipake nonton youtube. Selain batrenya cukup, layar OK buat nonton, suara juga ngga malu-maluin, walau kalau dengerin lagu yang upbeat dengan volumenya penuh, kentara kalau kontrolnya lepas hehe.

Tapi, buat yang budgetnya memang terbatas, atau upgrade dari feature phone atau Android apa adanya yang harganya masih ratusan ribu, bisa jadi Infinix Smart 3 Plus ini adalah calon hape utama impian.

Selain semua fitur yang dibahas di atas, jangan lupakan kelengkapan dalam paket penjualannya. Hardcase yang unik dengan doodle, headset, anti-gores, sampai perdana smartfren dengan bonus kuota besar.

Tuh kan jadi inget, smartphone ini support VoLTE-nya smartfren lho. Mantap bukan?

Tentunya bukan tanpa kekurangan ya, kalau Anda simak dengan baik, dari tadi saya jelaskan koq sisi mana saja yang tidak begitu kuat. Namun memang, faktor harganya banyak-banyak membuat hal tersebut jadi bisa dimaklumi.

Oke, absennya LED notification boleh deh dimasukkan ke daftar minusnya.

Dan kalau Anda mempertanyakan build quality, saya cuma bisa bilang sesuai koq sama harganya. Kalau soal durability, Anda salah channel kalau bertanya, wong hape yang saya review kebanyakan langsung dijual kembali selesai dibikin video. Jadi ya ga tahu juga apakah bisa bertahan setahun atau lebih dalam pemakaian normal. Hehe.

Mau tak mau Infinix menekan harga produknya melalui subsidi e-commerce, sehingga harga murah tadi cuma bisa didapatkan melalui flash sale Lazada ya.

Saya cuma bisa doakan supaya yang berhasil beli hape ini adalah memang para end-user, bukan reseller. Dan juga semoga larisnya hape-hape sadis Infinix bisa membuka jalan agar Infinix kembali memasukkan seri Note dan Zero ke sini.

Ulasannya saya cukupkan di sini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, March 12, 2019

Review Samsung Galaxy S10, "Istri Kedua" buat Video Content Creator



Tak terasa setahun sudah berlalu, sejak saya membuat video di Glamping Lakeside, demi membuktikan kehandalan Galaxy S9 waktu itu.

Kali ini, saya jelas tak mau melewatkan Samsung Galaxy S10, Insya Allah kalau tidak ada rintangan, akan saya coba semua variannya, termasuk S10+ dan S10e.

Yang kali ini saya ulas adalah Galaxy S10.

Bagi saya, peningkatan dari S9 ke S10 ini terasa lebih signifikan jika dibandingkan saat S8 ke S9 lalu.

Pada Galaxy S10 inilah Samsung memperkenalkan Infinity-O Display, di mana sisi depan smartphone ini makin penuh oleh layar, dan terdapat sebuah punchhole di sisi kanan atas untuk kamera depannya.

Samsung memberikan animasi yang sangat eye catching di area sekitar kamera depan ini. Memang ini sifatnya fancy ya, tapi inilah yang membedakan kelas smartphone flagship dari yang mainstream.

Samsung memilihkan generasi terbaru untuk panel layarnya yang diberi nama Dynamic AMOLED. Setelah S9 lalu menyabet gelar best smartphone display, saya pikir layar S10 ini semakin baik saja dari segi kontras dan akurasi warna, dan pastinya masalah ketajaman.

Sudah itu saja? Belum, di balik layar ini sekarang sudah tersemat ultrasonic fingerprint scanner yang bekerja dengan baik, responsif, dan juga akurasinya tinggi.

Jadi jangan heran jika kita membalikkan smartphone ini, yang ada di sisi belakang hanya sederet kamera dan logo Samsung saja.

Ya, kamera Galaxy S10 ini jumlahnya 3 buah.

Komposisinya sendiri terdiri dari kamera utama 12 MP yang tetap mempertahankan teknologi dual-aperture. Bukaan maksimalnya di F/1.5 sangat bisa diandalkan untuk kondisi lowlights. Lensa ini dilengkapi OIS dan Dual-pixel PDAF untuk penguncian fokus lebih cepat.

Selanjutnya ada lensa telephoto 12 MP yang bisa menghasilkan 2x optical zoom dengan OIS untuk kestabilan pengambilan foto dengan perbesaran. Focal lengthnya adalah 52mm ya.

Dan satu lensa lagi adalah lensa ultrawide 16MP dengan focal length 12 mm.

Sementara kamera depannya beresolusi 10MP dengan aperture F/1.9.

Saya takkan berpanjang lebar soal teknis kameranya, saya yakin hasil fotonya pada video review berikut ini sudah berbicara sendiri.



Untuk perekaman video, kamera Galaxy S10 mampu merekam hingga 4K. Framerate tertinggi di 60fps untuk kamera belakang, dan 30fps untuk kamera depan.

Hadirnya teknologi HDR 10+ membuat hasil perekaman video memiliki warna yang sangat hidup. Untuk urusan kestabilan hasil perekaman, benar-benar bisa diandalkan bagi saya yang kadang harus memanfaatkan smartphone untuk membuat konten video.

Opening dan Closing video review di atas juga saya rekam langsung dari Galaxy S10 lho.

Performa S10 ini ngga ada masalah, khas flagship yang apa-apa gegas, no lag-lag.

Samsung membekali S10 ini dengan processor baru, yaitu Exynos 9820. Processor ini fabrikasinya 8nm, dikombinasikan dengan baterai yang bertambah kapasitasnya di 3.400 mAh, S10 ini dapat menemani kegiatan sehari penuh.

Sebetulnya, kalau mengulas smartphone flasghip begini, saya pengennya skip saja bagian teknis dan performa begini. Nyaris bisa dipastikan kalau flagship Samsung mah perform well, kamera bagus, dan bla bla bla. Paling pricing yang premium saja yang akan jadi hambatan bagi sebagian orang untuk memilikinya, kalau minat sih saya yakin pada minat. Pre-order-nya saja habis terus tuh.

Saya lebih tertarik membahas bagaimana S10 ini bisa menemani keseharian saya, yang sejak akhir tahun lalu sudah meninggalkan pekerjaan kantoran, dan sehari-hari lebih banyak berkutat di studio, di belakang kamera atau di depan laptop.

Sesekali saya cari suasana dengan makan di luar, itupun kadang sambil bawa peralatan kerja juga karena tak jarang saya mendapati spot-spot bagus untuk ambil video.

Dan kadang juga ini tanpa direncanakan. Sehingga saya kadang tak membawa kamera saya. Tripod mah apalagi, nyaris tak peris tak pernahnah bawa.

Maka yang saya butuhkan adalah smartphone dengan kamera yang bisa diandalkan untuk membuat konten, dalam berbagai kondisi. Galaxy S10 punya kelebihan-kelebihan yang saya butuhkan, ketajaman detail, keindahan warna yang dihasilkan, plus kestabilan gambar.

Di sinilah Samsung Galaxy S10 akan melengkapi persenjataan saya dalam membuat konten dan terus berkreasi. Sesederhana apapun karyanya, bagaimanapun keterbatasan yang ditemui, kualitasnya harus sebaik mungkin.

Samsung Galaxy S10 inipun bisa membuat kita lebih percaya diri. Yup, faktanya memang kadang membawa flagship di tangan membuat kita lebih pede. Terlebih, dari sisi looks, warna Prism White ini punya refleksi warna yang menarik.

Dan ini penting. Bagi saya, looks adalah sesuatu yang tak bisa dikesampingkan. So far Galaxy S10 ini bikin saya kesengsem di sebagian besar detailnya.

Last but not least, smartphone juga punya fungsi sebagai alat hiburan. Kalau sedang penat, saya sempatkan sesekali bermain game favorit saya yang grafisnya cukup berat, dan bisa dilahap dengan baik oleh Galaxy S10 ini. Atau jika saya ingin menonton streaming video atau music, kombinasi layar dan loudspeaker Galaxy S10 selalu bisa saya andalkan.

Akhir kata, saya rasa apa yang dibayarkan untuk Galaxy S10 series ini sangat terasa setimpal dengan apa yang saya dapatkan. Saya doakan deh yang menonton video ini bisa pada punya rezeki cukup untuk memiliki flagship Samsung ini juga.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Saturday, March 9, 2019

Review Vivo V15, Kameranya Bisa Naik, Harganya Malah Turun



Setahun berlalu sejak Borobudur, Vivo memperkenalkan lagi smartphone terbaru mereka, yaitu Vivo V15.

Secara desain, ini merupakan sebuah penyegaran besar, dimulai dari layar yang semakin memenuhi sisi depan ponsel ini. Ya, Vivo V15 tak punya notch, kamera depannya hadir dengan mekanisme Pop-up yang merupakan hasil penyempurnaan fitur serupa pada Vivo NEX.



Ukuran layarnya kini 6,53 inch, dengan resolusi Full HD+ dan screen-to-body ratio 90.95%.

Sisi belakang juga nampak berbeda terutama pada peletakkan kameranya yang diberi aksen hitam tegas, serta jumlahnya yang ada 3 buah.



Finishing backcovernya dibuat glossy yang refleksinya seperti chrome ya. Yang saya coba ini warna Royal Blue dengan gradasi menuju hitam.



Kalau kamu jeli, logo Vivo baru lho. Hayoo, pada sadar gaaa?



Tak hanya looks, untuk software pun Vivo V15 sudah lebih segar dengan FunTouch OS versi baru dengan Android 9.0 Pie.

Hal yang saya sukai dari FunTouch OS berbasis Android Pie ini banyak sekali. Namun saya buatkan daftar yang paling bikin saya ngacungin jempol saja ya:

  1. Image Recognition, Jovi bisa mengenali konten foto di gallery kita. Semisal foto pepohonan di taman dikenali sebagai tanaman hias, hingga dicarikan harganya di toko online lokal lho. Kereeennn.
  2. Simple video editor. Di gallery, kita bisa menyunting video langsung. Fungsi-fungsi sederhana seperti trim, crop, filter, hingga playspeed bisa diterapkan.
  3. Kita juga bisa mengelompokkan semua foto di gallery menurut kategori yang otomatis dibuat, semisal landscape, objek, people, dll. Termasuk foto2 yg redundant alias mirip-mirip tapi berulang, bisa dideteksi. Jadi nanti bisa dipilih apa mau disimpan 1 lalu sisanya dihapus saja, supaya menghemat storage.


Bahas kamera, ini adalah keduakalinya hape yg saya pake, dipegang istri terus kalo lagi pergi makan di luar atau ngafe.. Yang pertama V11 Pro dulu, dan saya sih menganggapnya kameranya berarti bagus, karena kepake sama istri saya yang hobby foto-foto di tempat bagus heuheu.

Tapi memang kamera V15 ini instagrammable banget. Mode portraitnya bikin foto lebih dramatis, dan favorit saya tentu yang monochrome background. Pintar-pintar kasih jarak saja antara objek dengan latar ya, supaya pemisahan warna yang dijadikan greyscale bisa pas dan rapi.

Jangan lupa bahwa kamera belakang Vivo V15 ada 3, di mana selain kamera utamanya yg beresolusi 12 MP dengan effective pixels sebanyak 24 juta, ada juga kamera untuk depth effect, daaaan.. Wide lens!

Yes, wide lens ini useful banget untuk mengambil gambar di tempat sempit atau mengabadikan pemandangan, baik foto dan video.

Untuk selfie, ga usah ditanya lah, jagonya Vivo mah.

Yang beda kali ini lebih ke kameranya aja yg bisa pop-up, jadi layar bisa lebih full. Kadang kamera depannya ini bikin saya norak sendiri deh, bikin pengen dikencengin sound effect pas kameranya pop-up, biar orang pada mupeng, haha.

Resolusinya 32 MP, dan baiknya dilihat langsung saja pada deretan foto berikut ini. Ok!



Masuk ke bahasan dapur pacu, Vivo V15 menggunakan processor Octa-core 2,1 GHz, yaitu Helio P70 yang keduakalinya saya coba. Dan sejauh ini performanya selalu bisa diandalkan tanpa membuat khawatir baterai cepat habis.

Untuk gaming, saya bisa bermain PUBG pakai Helio P70 ini secara smooth dengan settingan grafis HD dan framerate High. Main enak, membidik juga ngga loncat-loncat, jadi enjoyable dan bikin sering pengen main.

Dengan sokongan RAM 6GB, saya tak perlu menutup aplikasi-aplikasi lain sebelum bermain. Lagipula GameCube dari Jovi akan mengatur semuanya supaya performa gaming optimal, dan gameplay takkan terganggu notifikasi ataupun panggilan masuk.

Di awal pemakaian, dengan gaming dan multitasking yang intens untuk berbagai social media, Vivo V15 bisa bertahan selama 29 jam. Dan setelah beberapa hari, daya tahan baterainya semakin membaik karena FunTouch OS mendeteksi aplikasi-aplikasi yang banyak menyedot baterai.

Pengisan daya pada Vivo V15 tergolong cepat, dari 10 ke 100% dapat dilakukan dalam waktu 1 jam 48 menit. Di mana selama 35 menit pertama kapasitas baterai bertambah 45%. Harusnya dikali dua jadi cuma 1 jam 10 menit ya, tapi jangan lupa setelah di atas 90% biasanya pengisian melambat demi alasan keamanan.

Jangan lupa kapasitas baterainya yang kini semakin besar di 4.000 mAh ya!

Dengan fitur fast charging begini, rasanya port-nya yang masih micro-USB tak jadi kendala ya. Karena baik di rumah maupun di tas, saya selalu sedia minimal 2 kabel, yang satu USB Type-C dan satu lagi micro-USB.

Untuk fingerprint, saya nilai akurat dan responsif ya. Bisa diandalkan. Walau memang Vivo V15 ini hadir tanpa fitur face unlock, biar Pop-up kameranya lebih awet sepertinya.

Yang jadi masukan dari saya adalah Vivo V15 ini akan lebih baik jika memiliki LED Notification. Memang sedikit tergantikan dengan adanya black screen glance, di mana layar akan menampilkan jam dan icon-icon notifikasi saat kita melambaikan tangan di atas layar yang mati.

Sisanya paling kamera belakangnya yang cukup menonjol, sehingga membuat saya selalu menggunakan case yang disertakan dalam paket penjualan. Untung backcover kecenya tetep kelihatan ya, walau ketebalannya jadi bertambah dalam genggaman.



Overall saya mendapatkan impresi yang baik dari Vivo V15 ini. Dan Anda yang punya budget di angka 4-jutaan bisa mempertimbangkan smartphone ini untuk dimiliki.

Demikian ulasan saya untuk Vivo V15 ini, dari kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, February 20, 2019

Review ASUS Zenfone Max M2, Ngga Pro Tapi Tetep Bagus?



Ini adiknya Zenfone Max Pro M2.
Ngga pake embel2 Pro, apa bedanya?

Spek dan harga jelas ya.

Dari layar juga udah beda, meskipun memiliki dimensi yg sama, namun layar sang adik hanya memiliki resolusi HD+.



LANJUT KE PROCESSOR. Pakai Snapdragon 632 yg baru, dan saya pikir processor ini akan sukses menggantikan snapdragon 625 dengan karakternya yg sama-sama hemat daya.

Habis itu baterainya ya, lebih kecil di 4000 mAh saja, yg berkat resolusi layar yg lebih rendah serta processor yg kelasnya lebih bawah juga, malah sepemakaian saya lebih lama daya tahannya.

Selain itu, backcover ASUS Zenfone Max M2 ini juga beda dari Max Pro M2. Lebih mirip Zenfone Max Pro M1 jadinya, cuma yg ini layarnya berponi.

Untuk urusan kamera, performanya mirip-mirip dengan sang kakak, beda di resolusinya aja dikit.

EIS ada, hanya saja maksimal perekaman video di HD 720P ya kalau mau ada stabilization ini. Kalau tanpa stabilization sih resolusi videonya bisa sampai 4K, yg mana udah keren.

Somehow saya merasa duet M2nya asus ini masih punya PR soal software deh. Masih suka ada hang tiba2, kejadiannya random walau memang ngga sering. Lalu di kondisi lowlights, asli kudu stabil tangan, sabar jangan buru2 digerakin pasca ambil gambar.

Karena di thumbnailnya suka keliatan bagus fotonya, pas diklik buat liat keseluruhan foto, ternyata blur karena keburu gerak. Dan saya suka agak bete ya sama perbedaan antara thumbnail dengan foto aslinya ini.

Bokeh2an cukup rapi, selfie juga lumayan lah. Buat harga 2jutaan begini, segini udah masuk di atas rata2 lah.

Yuk dilihat contoh hasil foto dan videonya.



Performanya gimana? Bisa dibilang di atas snapdragon 625 rasanya, tapi masih di bawah 636 jelas. Terlihat dari settingan grafis untuk PUBG yg mentok di balanced dengan framerate medium.

Tergolong cukup smooth sih gameplay, walau frameskip terasa ya.

Kalau sekedar main, bisa lah. Tapi kalau mau enjoy banget, jelas mending upgrade ke Max Pro M2 saja. Atau malah Max Pro M1.

Terlebih yg saya uji ini varian terbawahnya yg punya RAM 3GB dan storage 32GB. Namun dengan penggunaan Android Oreo 8.1 stock, sejauh ini saya merasa lancar2 saja digunakan untuk kegiatan saya sehari-hari yang selalu multitasking berbagai social media dan chatting.

Kalau kamera sih bisa dibilang bisa diandalkan asal ngga lagi buru-buru ya.

Saya suka bodynya yang tipis, tapi memang backcover metal begini agak licin euy. Tapi daya tahan baterainya bener-bener bisa diandalkan lah, rata2 bertahan 36 jam dengan pemakaian intens tanpa gaming yang menghasilkan SoT sekitar 7 jam.

Untuk charging, saat diisi dengan kepala charger yg support QC3.0, di layarnya muncul tulisan charging rapidly, tapi indikator charger dan powerbank saya ga berubah jadi hijau.

Entah support QC3.0 atau tidak, namun yg saya rasakan pengisian dayanya cukup cepat sih, sekitar 2 jam lah.

Masuk ke kesimpulan, memang positioning Max M2 ini agak berat ya, produk baru dengan spesifikasi di bawah Max Pro M1. Kalau budget longgar sih jelas mending sekalian ambil Max Pro M2.

Namun kalau budget Anda berkisar di 2,5 jutaan, mungkin yg menentukan jadi layarnya deh. Butuh poni ngga? Kalau ga suka poni mah sudah beres, pilih saja Max Pro M1, saya rasa stoknya sekarang sudah aman deh.

Overall sih worth the price ya, kameranya ok, batre awet, handling enak karena tipis, cuma agak licin aja. Fingerprint dan face unlocknya juga akurat dan responsif.

In my opinion,  yang terasa agak kurang masih soal random hang di saat membuka kamera, bisa dilihat dari tombol shutter camera di layar yg jadi nampak bergerigi. Kalau sudah begitu, mending close dulu kameranya baru buka lagi saja.

Entah apakah masalah yg sama terjadi juga di Max M2 varian RAM 4GB atau tidak ya.

Yang jelas selama 2 minggu saya menggunakannya sebagai daily driver, saya nyaman-nyaman saja, hape ini bisa diandalkan banget, walau harus saya akui saya kangen dengan feels hale flagship di tangan ini hehehe.

Seperti itu pengalaman saya dengan ASUS Zenfone Max M2, semoga bisa membantu menuntaskan kepenasaran temen2 yg nonton video ini ya. Dari kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Tuesday, February 5, 2019

Review Zyrex SKY 360, Laptop Convertible 2-in-1 TERMURAH dengan SSD!



Halo Assalamualaikum...

Beberapa waktu lalu, saya post di Instagram, jika Zyrex mengeluarkan sebuah laptop konvertible 2-in-1 dengan layar sentuh dan sudah terpasang SSD M.2 128 GB, kira-kira berapa harga yang pantas menurut netizen?

Banyak yang menyangka harganya 7 juta ke atas.

Ada juga sih yang menebak 3 jutaan, yang ini kayanya menilik ke harga Zyrex Sky series sebelumnya ya.

Namun rupanya, banyak juga yang menebak tepat di harga 4.999.000 atau 5 juta kurang seribu saja.

Yap itu harganya. Dan bagi saya, di harga segini, laptop ini terlihat menarik sekali.

Pertama tentu saja karena sekarang laptop Zyrex SKY 360 ini sudah bisa digunakan dalam 4 mode. Pertama sebagai mode laptop biasa, kedua mode tablet, lalu mode stand, dan mode tent.

Layarnya sendiri 14 inci, dan berpanel IPS dengan resolusi Full HD. Karena merupakan layar sentuh, jadinya tipe layar yang digunakan adalah glossy ya, bukan mate. Jadi di kondisi cahaya terang atau silau, bisa jadi layarnya agak sulit dilihat secara kontras. Bezel pada layar Zyrex SKY 360 ini tidak tebal, namun juga tidak tipis.

RAM-nya 4 GB dengan storage ada 2, yang pertama eMMC 64 GB, dan yang kedua adalah SSD M.2 128 GB. Ya, dalam paket standar penjualannya, sudah terpasang SSD tersebut, dan inilah kenapa saya merasa harga versus speknya terasa worth it banget.



Untuk processornya, Zyrex memang mengandalkan Intel Celeron N400 saja. Masih bisa dipakai gaming semisal Asphalt 9 yang saya unduh dari Windows Store. Ya, by default pada laptop ini sudah terinstall Windows 10 Home. Dan dipakai ngedit foto di Photoshop CS3 jadul pun masih kuat.

Tapi sebagai Youtuber, tuntutan buat saya pasti ujung-ujungnya kuat ga laptop ini untuk video editing.

Saya install Filmora 8 dan 9, sebetulnya kuat-kuat saja. Menambahkan berbagai file video ke dalamnya terasa cepat berkat storage-nya yang memang punya IO speed tinggi ini.

Namun saat mulai melakukan splitting, trimming, dan playbacknya, mulai terasa delay antara gambar, suara, dan indikator grafis soundwave dari videonya. Untuk rendering masih bisa, walau memang juga durasinya lebih lama dari biasanya.

Yup, processor yang dipilih untuk Zyrex Sky 360 ini memang bukan untuk kerja multimedia berat.

Sekedar untuk multitasking nonton, browsing, dan juga pekerjaan office sih bisa banget. RAM-nya kan cukup besar.

Plus laptop ini sudah terinstall juga satu set aplikasi office dari WPS. Jadi kalau mau langsung dipakai kerja bikin dokumen, tabel, maupun presentasi sih so pasti bisa.

Beralih ke masalah build quality, seluruh permukaan laptop ini, kecuali layar tentu, terbuat dari bahan metal. Membuatnya terasa solid sekali, namun di sisi lain juga menghasilkan bobot yang terasa cukup berat dibanding laptop lain yang dimensinya sama.

Yang saya suka adalah baik bagian body maupun layar dari Zyrex SKY 360 ini bisa dikatakan tipis banget. Ya, ketiadaan optical drive maupun harddisk nampaknya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk meminimalisir ketebalannya.

Untuk kelengkapan port, kita absen dari sisi kanan dulu ya. Mulai dari port untuk power, jack audio, USB 3.1, slot micro-SD dan juga tombol power.

Di sisi kiri, ada port micro HDMI dan sebuah port USB 3.1 lagi.

Untuk posisi loudspeaker ada di atas keyboard di dekat engsel atau hinge-nya. Posisi ini bagus jika sedang dalam mode laptop, karena mengarah ke atas sehingga terdengar dengan baik. Lain cerita untuk mode stand yang membuatnya jadi terbenam, atau mode tablet dan tent yang menjadikannya mengarah ke belakang.

Keyboardnya sendiri cukup nyaman untuk digunakan, meski agak kurang lembut responnya, namun travelling distance-nya sangat cukup. Dengan pembiasaan sebentar saja, saya sudah bisa menyamankan jemari ini untuk mengetik berbagai naskah di atasnya.

Baterainya tergolong besar di 8.000 mAh, dan sanggup bertahan cukup lama untuk pola pemakaian saya. Yaitu 4 jam dengan aktifitas browsing, mengetik, nonton, dan juga rendering video dalam mode performa. Bisa jadi lebih lama ya kalo mode-nya lebih ke battery saver.

Overall, harga 5 juta yang disandangnya bagi saya terasa worth it, dengan fitur yang diberikannya, antara lain:
- ini adalah laptop konvertible yang bisa digunakan sebagai tablet juga,
- layarnya kece dalam artian sudah panel sentuh, Full HD, dengan vibrancy dan brightness yang cukup.
- storage sudah cukup lega 64 GB eMMC + 128 GB SSD M.2 yang IO Speed-nya tinggi
- build quality bagus
- baterai besar

Memang bukan laptop gaming atau multimedia berat ya, lebih cocok mungkin untuk mahasiswa dan kerja kantoran umum yang lebih banyak berkutat dengan dokumen dan data.

Sambil sesekali dipakai browsing dan streaming sudah pasti asyik dengan berbagai mode yang bisa digunakan.

Oh ya untuk presentasi juga bisa banget nih!

2 hal yang masih bisa diperbaiki dari laptop ini paling soal bobot yang cenderung berat, serta mungkin ada baiknya jika dibundling dengan stylus agar layar sentuhnya bisa lebih fungsional lagi.

But overall, ini adalah produk bagus dari segi price to spec comparison ya.

Semoga Zyrex sebagai brand asli Indonesia makin memperkuat daya saing lini produknya terus, dan Zyrex SKY 360 ini bisa jadi terobosan yang dibutuhkan untuk itu.

Sip, segitu saja yang bisa saya bahas kali ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, December 27, 2018

Review ASUS Zenfone Max Pro M2 ZB631KL, Formula Yang Tepat!



ASUS nampaknya sudah menemukan formula yang tepat tentang produk apa yang harus dijual di Indonesia, dan bagaimana cara menjualnya.

Ya, Indonesia adalah pasa penting untuk masalah smartphone, dan nampaknya ASUS tak ingin kehilangan bagian kue miliknya di sini.

Maksud saya, lihat bagaimana dulu seri Zenfone 4 tidak terlalu bersinar di sini, karena fokusnya ke selfie.

Dan sejak Zenfone Max Pro M1, ketika ASUS membuat produk dengan spec to price comparison yang memikat, tinggal menunggu waktu saja untuk brand ini merangsek ke posisi klasemen bagian atas liga smartphone Indonesia, hehe.

Ya, sejak M1, diikuti Zenfone 5 dan 5z, ASUS terus mendapatkan highlight positif, termasuk dari saya. Okelah, Zenfone 5Q agak membingungkan, tapi coba Anda tengok apa yang ASUS tawarkan di penutup 2018 ini, Zenfone Max Pro M2!

Memang, jedanya tak sampai satu tahun ya dari M1 dulu.



Tapi nampaknya ASUS tak membunuh M1 dengan upgrade yang diberikan. Level harganya sedikit di atas M1 dulu. Kalau sekarang sih segmentasinya sudah jelas karena M1 turun harganya.

Upgrade yang saya maksud akan saya buatkan dalam daftar ya.

1. Processor. 
ASUS memilih untuk upgrade ke Snapdragon 660 yang makin sejalan dengan genre gaming yang digembor-gemborkannya. Walau sebetulnya bukan processor baru, namun performanya semakin baik itu tentu.

2. Kamera. 
ASUS memilih sensor dari Sony untuk kameranya, dengan tambahan 3-axis gyro EIS. Soal stabilisasi video nanti dinilai langsung saja ya. Untuk hasil foto sih jelas terasa ada peningkatan dari M1 dulu. Lowlights meningkat cukup tajam, dengan catatan tangan harus sestabil mungkin, karena pada beberapa kondisi dia secara otomatis memperlambat rana, sehingga kalau goyang ya hasilnya blur.

Selfie-nya OK, tidak ada kamera jahat di sini, alias hasilnya natural ya.

Bokeh-nya mantap. Walau seingat saya M1 terakhir-terakhir setelah update juga bagus begini. Ya kalau tak suka hasilnya terlalu dramatis, jangan terlalu full ngatur aperture-nya ya. Yang pasti algoritmanya bekerja dengan baik membedakan tepian yang mendapat fokus dan yang blur.

Sudah masuk kategori kepake banget sih ini kameranya, dan silakan buktikan penilaian saya ini di deretan foto dan video berikut ini.



3. Layar.
ASUS memilih ikutan trend poni pada layar IPS 6,3 inci beresolusi Full HD+ ini. Di pojok kiri dan kanan atas masih cukup buat ikon notifikasi dan indikator, jadi ga masalah buat saya. Bezel kiri kanan tipis, atas cukup tipis, dan bawah agak tebal. Buat hape di harga segini yang mengedepankan jeroan bagus sih bisa dimaklum ya.

Yang istimewa, Zenfone Max Pro M2 ini sudah menggunakan Gorilla Glass 6. Kalau lihat di temen-temen yang lain sih sebetulnya sudah ada yg tergores saat disakuin. Jadi kalau mau lebih aman, monggo cari perlindungan ekstra ya.

4. Body.
ASUS juga memilih ikutan trend body glossy. Nambah cakep jadinya. Walau dengan pemilihan material polikarbonat mungkin membuat sebagian orang jadi kurang sreg. Saya pun lebih suka jika materialnya glass alias kaca ya, tapi saya tahu ini tak bisa diprotes mengingat production cost pasti sudah tersedot untuk poin nomor 1 dan 2 tadi.

Takut gores, ya pakai casing. Kan di kotak penjualannya sudah dikasih.

Saya ngga tahu apakah kualitas speakernya bisa dibilang upgrade atau tidak. Namun outputnya cukup lantang dan jernih. Saya persilakan saja Anda yang menilai ya pada video review-nya, soalnya beberapa bulan belakangan saya akrab dengan beberapa flagship yang audionya kece-kece, jadi standarnya mungkin agak beda.

Untuk performa, Snapdragon 660 sudah pada bisa nebak sepertinya ya levelnya. Skor Antutunya sedikit di bawah 130-ribuan, dan bagi saya buat maen PUBG sudah enak dan cukup banget. Smooth lah.

Baterainya masih 5.000 mAh, yang sama sih seperti M1 dulu, ga bisa dibilang hemat-hemat banget. Apalagi sekarang pakai Snapdragon 660 yang memang performanya lebih tinggi dari 636, efeknya konsumsi daya pun lebih beringas.

Rata-rata pemakaian saya M2 ini bertahan selama 30 jam ya dari baterai 100 ke 10%. SoT rata-rata di atas 6 jam, baik dengan gaming atau tidak. Yang pasti selalu dipakai secara intens.

Jangan dibandingkan dengan custom UI merk lain, maaf. M2 ini pakai stock Android yang notifnya realtime terus, yang konsekuensinya memang konsumsi daya lebih tinggi.

Yang jadi ganjelan sih masih soal pengsian daya yang terasa lama. Di atas 3 jam rasa-rasanya. Akhirnya saya selalu tinggal ngecas saat tidur. Quickcharge sepertinya tidak dibuka di ponsel ini, mungkin untuk menekan biaya.

Satu ganjelan lain, kadang saya temukan kamera ngehang walau frekuensinya jarang. Tapi yakin sih ini nanti beresnya kalau ada update software.

Overall, ASUS Zenfone Max Pro M2 ini dengan mudah masuk ke kategori best value di 2018 dan mungkin hingga semester pertama 2019 nanti. Saingannya ketat, sekarang pada berlomba-lomba mengisi segmen ini euy brand smartphone di Indonesia.

Jadi pintar-pintar memilih dan menyesuaikan dengan kebutuhan pribadi masing-masing ya.

Saya sih merekomendasikan smartphone ini untuk dimiliki, apalagi kabarnya M2 ini anti ghoib ghoib club.

Hanya, sebelum memutuskan, pastikan sudah menyimak baik-baik poin-poin yang saya sebutkan tadi ya, baik yang sifatnya upgrade, maupun ganjelan yang saya rasakan.

Tapi overall, good job lah ASUS. Jangan berhenti di sini, terus sempurnakan formulanya ya.

Sun jauh dari Cimahi, hehehe.

Wassalamualaikum.

Friday, December 21, 2018

Review Realme U1, Realme dengan Kamera Terbaik Sejauh Ini



Anda yang sudah menonton review Realme 2 Pro di channel ini, pasti akan merasa familiar dengan produk terbaru dari Realme, yaitu Realme U1.

Ya, sekilas tidak ada perbedaan pada penampilan kedua smartphone ini. Untung saya bisa dapat Realme U1 berwarna fiery gold, satu varian warna yang tak dimiliki Realme 2 Pro. Warna gold-nya sih terlihat kece dan juga keren, menurut saya masih masuk untuk digunakan cowo, terlebih sisi depannya masih berwarna hitam ya.

Realme nampaknya ingin menegaskan bahwa dewdrop notch jadi ciri khas smartphone besutan mereka. Pun dengan backcover glossy yang pastinya membuat kesan mewah smartphone ini lebih terasa.

Lalu, selain warna, apa dong bedanya Realme U1 ini? Sebetulnya jika disimak baik-baik, Realme U1 hadir dengan bezel yang semakin tipis, dan backcovernya disebut memiliki 13 lapis atom level mikro yang selain tampil menawan, juga nyaman digenggam dan lebih tahan goresan.

Layarnya kini sudah memiliki screen to body ratio yang mencapai 90,8%. Dengan panel IPS  dan kerapatan mencapai 409 ppi, ponsel ini nampaknya sangat siap untuk jadi ponsel multimedia. Plus, proteksi Gorilla Glass 3 hadir juga.

Lalu jika kita melihat spec sheetnya, setidaknya ada 2 hal mendasar yang jadi diferensiasi Realme U1 dari produk sebelumnya, yaitu SoC dan konfigurasi kamera.

Kita mulai bahasan kamera dulu ya. Realme U1 masih memiliki jumlah kamera yang sama, dua di belakang, dan satu di depan. Yang membedakan adalah spesifikasi teknis hardware kamera yang digunakan.

Kali ini, Realme menyematkan kamera selfie beresolusi super besar, yaitu 25 Megapixels yang memakai sensor Sony IMX576 serta bukaan lensa f/2.0. Di atas kertas, ini adalah jaminan mutu ya, namun saya sarankan lihat dulu hasil foto selfie saya berikut ini deh.



Bagaimana? Selfienya keren kan segini? AI yang ada pada ColorOS 5.2 nampaknya semakin bagus performanya di Realme U1 ini. Selfie bokeh pun tergolong rapi, dan mode super vivid juga tersedia. Dan saya juga senang dengan hasil selfienya di saat kondisi lowlights yang tetap jernih dan minim noise. Satu lagi, walaupun mode beautification menyala, kemampuan AI-nya mendeteksi gender membuat hasilnya tidak berlebihan bagi saya yang cowok ini.

Beralih ke kamera belakang, Realme U1 dibekali dua kamera. Yang pertama adalah kamera utama dengan lensa f/2.2 dan sensor 13 Megapixels. Sementara yang kedua adalah lensa depth sensor 2 Megapixels, dengan bukaan f/2.4.

Dan bagi saya, ini adalah smartphone Realme dengan kamera terbaik sejauh ini. HDR-nya bekerja dengan baik, membuat exposure tersebar secara baik, dan hasilnya sangat bisa dinikmati. Anda yang senang dengan warna-warna yang lebih hidup, bisa memanfaatkan super vivid mode untuk hasil foto yang lebih vibrant.

Dan di lowlights, lagi-lagi kameranya mampu menampilkan performa menawan, di mana hasil foto tetap terlihat minim noise.

Sementara untuk perekaman video, bisa dilakukan pada resolusi maksimal Full HD. Asyiknya, mode super vivid juga hadir pada video, hanya saja resolusinya maksimal di HD 720p. Framerate videonya sudah cukup untuk membuat hasilnya nampak halus, tak patah-patah. Sehingga meskipun stabilisasinya tak terlalu terasa, hasilnya masih enjoyable.

Fitur kameranya cukup lengkap, termasuk mode manual alias professional yang lengkap, lalu juga adanya slow-motion mode di 240fps ya. Untuk pengaturan optimal di berbagai kondisi, AI scene recognition juga ada.

Jika ada yang bisa sedikit saya beri feedback, masalah pengaturan kamera yang harus masuk dari menu setting system apps, harusnya bisa diberi akses langsung dari aplikasi kamera ini.

Lanjut ke masalah SoC, Realme U1 adalah smartphone pertama di dunia yang menggunakan chipset MediaTek Helio P70. Processor ini bersanding dengan GPU Mali-G72 yang performanya diklaim lebih efisien sekitar 13% dibanding Helio P60.

Apa artinya? Artinya adalah konsumsi daya yang lebih hemat dari smartphone yang menggunakan Helio P60. Dengan baterai 3.500 mAh yang dimilikinya, Realme U1 mampu bertahan hingga 40 jam dengan pemakaian cukup intens untuk social media, messaging, camera, dan sedikit gaming.

Dan untuk gaming, Realme U1 menurut saya sangat mampu mengimbangi performa Realme 2 Pro, di mana saat bermain PUBG, setting maksimal untuk graphic ada pada HD, dengan framerate High.

Bermain PUBG selama setengah jam hanya membuat ponsel ini sedikit saja menghangat, dan yang pasti saya mainnya enjoy karena gameplaynya lancar sekali.

Buat yang penasaran dengan skor Antutu Benchmark, Realme U1 punya skor menembus 130-ribuan lho. Jadi saya harap tidak ada lagi yang menggeneralisir bahwa Mediatek itu jelek ya.

Faktanya, sejak Helio P60 lalu, performanya sudah sangat baik, dengan konsumsi daya yang juga hemat dan tak mudah panas juga berkat fabrikasinya yang sudah 12nm. Dan Helio P70 pada Realme U1 ini semakin mematahkan stigma bahwa Mediatek itu tak sebagus Snapdragon.

Yup, penggunaan Helio P70 ini juga memungkinkan kedua nomor mengakses jaringan 4G secara bersamaan, termasuk untuk VoLTE-nya lho. Mantap bukan?

Masih ingat tidak keluhan saya tentang ColorOS? Rupanya, perbaikan pada ColorOS 5.2 ini sudah mencakup beberapa hal yang dulu saya jadikan feedback. Ya, untuk menghilangkan notification item, baik itu yang berupa toast ataupun yang muncul pada notification drawer, kini cukup di-swipe ke samping sekali saja.

Sementara fitur favorit saya dari ColorOS ini adalah smart sidebar yang membuat kita dapat mengakses aplikasi lain yang sudah kita atur, saat layar sedang menampilkan suatu aplikasi yang fullscreen.

Sidebar ini juga punya fitur lebih banyak lagi saat kita bermain game. Intinya, game makin bisa dinikmati tanpa interupsi, dan fitur-fitur tambahan bisa kita akses dengan mudah, misalkan saat kita hendak merekam gameplay kita.

Kamera ok, performa ok, UX makin enak, lalu bagaimana dengan security? Kalau yang dimaksud adalah performa fingerprint dan face unlocknya, ini mah jangan khawatir lah. Fingerprint-nya cepat dan akurat, sementara face unlocknya juga tak kalah baiknya, plus mampu bekerja dengan baik juga di kondisi redup cahaya.

Saran saya bagi Realme ke depannya, mungkin ada baiknya mulai memikirkan cara untuk menempatkan LED Notification, agar smartphonenya tak hanya terlihat indah, namun juga informatif bagi penggunanya. Jadi saat lama ditinggal di atas meja, kita bisa tahu apakah ada pesan penting atau tidak yang hinggap di ponsel ini.

Dengan harga segini sih seperti biasa Realme selalu menawarkan value for money ya. Walau belum dilengkapi fitur fast charging, bagi saya mengisi daya selama 2 jam sih masih ok. Overall performanya sangat memuaskan, meskipun Realme U1 ini kabarnya lebih difokuskan ke masalah fotografi.

Jika Anda merasa cocok dengan paparan saya, dan tertarik memilikinya, link pembelian ada di deskripsi video juga ya.

Demikian hasil pengujian saya, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Review Huawei Mate 20 Pro, Membuat Saya Mati Kutu!



Saya terkadang mati kutu. Ya, mati kutu saat menguji pakai smartphone level flagship yang kadang sulit bagi kita untuk menemukan kekurangannya, selain harga. Demikian juga yang saya rasakan dengan Huawei Mate 20 Pro. Okelah smartphone ini memang tak punya jack audio, tapi selain itu coba Anda tengok apa saja yang ditawarkan oleh smartphone terbaru Huawei yang segera dijual resmi di Indonesia ini. Hardware-nya top notch semua, mulai dari jeroannya yang sudah menggunakan processor Kirin 980 terbaru yang memiliki fabrikasi 7nm pertama di dunia. Lanjut ke layar AMOLED dengan tepian melengkung di kedua sisi. Plus, fingerprint scanner ada di dalam layar. Kamera belakangnya ada 3 dengan resolusi besar-besar di 40, 20, dan 8 Megapixels dengan setup wide, ultra wide, dan zoom. Kamu bisa ngulik berbagai hasil foto terbaik dengan kamera begini. Jangan lupa penempatan kameranya juga unik ya, plus backcover glass yang asli feelsnya premium sekali dan tak mudah kotor oleh sidik jari. Sementara kamera depannya punya setup wide dengan resolusi 24 Megapixels. Nanti kamu bisa cek hasil video dan fotonya di video ini ya.

Kita lanjut ke komponen lain dulu, pada bagian atas frame metal-nya yang lagi-lagi berfinishing glossy, kita dapat menemukan infrared blaster. Nice job, mengingat hal ini sudah mulai sulit ditemukan di flagship smartphone seperti ini. Jika Anda cermati sisi bawah frame-nya, pasti Anda akan mencari di mana letak loudspeakernya kan? Haha, sama saya pun bingung awalnya. Namun ketika saya memutar video dan lagu, baru saya sadar ternyata suaranya keluar dari lubang USB Type-C di bawah, serta earpiece di atas, alias stereo. Lagi-lagi mantap deh. Wireless charging? Bisa. Waterproof? Ini sudah punya sertifikasi IP68. Feelsnya di tangan nyaman sekali berkat desainnya yang memiliki curve di setiap pinggirannya. Saya sendiri selalu memakai softcase tipis yang disertakan dalam paket penjualannya, tak menambah ketebalan secara signifikan menurut saya. Harus diakui, feelsnya familiar dengan saat menggenggam Galaxy S9 Plus milik istri saya. Namun bisa dibilang, Huawei Mate 20 Pro ini adalah flagship smartphone paling mutakhir yang masuk ke Indonesia tahun 2018 ini. Semua fitur kekinian yang ditawarkan smartphone flagship lainnya, dikemas menjadi satu, dan ini termasuk kehadiran notch di layar, tepian edge dan panel AMOLED, fingerprint di bawah layar, dan juga hilangnya jack audio, hehehe. Oh ya, satu lagi, harganya juga ikut menegaskan di kasta mana smartphone ini berada. Jadi buat kamu yang masih menganggap Huawei itu identik dengan Esia Hidayah, aduh ke mana aja selama ini? Hahaha. Pasca merilis Huawei P20 Pro lalu sekarang Mate 20 Pro, Huawei seakan ingin menunjukkan kepada Indonesia, bahwa di skala global, mereka punya angka penjualan kedua terbesar lho, di bawah Samsung namun di atas Apple. Oh ya, banyak yang bilang overall kamera P20 Pro lebih baik hasilnya, dan saya merasakan hal yang sama. Nampaknya beda setup kameranya jadi penyebab hal ini. Huawei P20 Pro punya satu lensa dengan sensor monokrom yang mampu membuat hasil foto lebih tajam, dan warna bisa lebih indah. Sementara Mate 20 Pro punya keunggulan di lensa super wide-nya. Sementara untuk masalah AI, HDR dan juga selfienya, saya merasa setara lah keduanya. Dan ini wajar mengingat positioning seri Mate yang lebih mengedepankan performa, sementara seri P untuk kamera. Nah, Kirin 980 ini punya skor Antutu rata-rata menembus 300-ribuan, walau entah kenapa di unit yang saya coba ini hasilnya baru mencapai 220-ribuan saja. Ya, unit yang saja uji merupakan unit pinjaman, dan saya hanya punya waktu sekitar 5 hari bersamanya, sehingga mungkin pembahasannya tidak terlalu detail kali ini. Kalau dibilang betah, saya sih betah banget pakai Huawei Mate 20 Pro ini, mungkin karena tak perlu mengingat jumlah Rupiah yang harus dikeluarkan untuk menebusnya ya, hehehe. EMUI 9 yang berbasis Android 9.0 Pie adalah salah satu alasannya. Bagi saya, EMUI ini selalu terasa familiar sekali, jadi kalau habis pakai smartphone lain lalu balik ke smartphone dengan EMUI, rasanya tuh seperti pulang ke rumah. Haha, lebay ya, tapi itulah adanya pemirsa. Satu lagi, Huawei Mate 20 Pro ini punya teknologi supercharge yang punya kemampuan mengisi daya hingga 40W. Dan asyiknya, smartphone Huawei ini ngga rewel, dikasih kepala charger atau powerbank yang support Quickcharge ataupun Power Delivery juga bisa ngangkat. Dan kabarnya, Huawei Mate 20 Pro ini bisa melakukan reverse wireless charging. Hmmm, unik ya, walau kalau saya sih ga akan rela ngecharge hape lain pake hape saya haha, mending pinjemin powerbank saja sih. Baterainya sendiri 4.200 mAh yang sepemakaian saya bisa bertahan dari subuh hingga larut malam alias sekitar 20 jam dengan pemakaian intens yang menghasilkan SoT hampir 6 jam. Dengan pemakaian lebih ringan, 24 jam sepertinya bukan masalah bagi Huawei Mate 20 Pro. Sebetulnya saya mengharapkan battery usage yang jauh lebih hemat dari processor dengan fabrikasi 7nm seperti ini, namun biasanya seiring waktu dengan pemakaian lebih lama dan proses pengenalan pola pakai kita oleh EMUI ini, nantinya akan semakin panjang daya tahannya. Sudah menemukan kekurangan smartphone ini? Dalam 5 hari pemakaian sih saya sulit menemukannya. Paling hanya masalah kebiasaan saja, semisal untuk fingerprint scanner-nya yang menurut saya letaknya terlalu tinggi, jadi butuh pembiasaan dengan letaknya, dan terkadang malah face unlocknya yang berhasil bekerja lebih dulu dari fingerprint scanner ini hehe. Jack audio juga bisa jadi masalah bagi yang belum punya bluetooth earphone, walau Huawei sebetulnya selalu menyertakan adapter usb type c to jack 3,5 mm ini dalam paket penjualannya. Paling jadi PR kalau Anda sedang ingin memakai earphone berkabel dan saat yang bersamaan ingin mengecasnya. Solusi lain mungkin beli wireless charging pad ya. Soal performa saya rasa tak ada alasan untuk meragukannya, gaming bisa jalan dengan smooth dengan settingan kelas berat. Main PUBG sampai chicken dinner pun jadi nih. Dan kalau dibandingkan dengan Mate 20 yang tanpa Pro, ini lebih compact ya. Perbedaan lainnya ada pada panel layar yang digunakan, termasuk tepiannya di mana Mate 20 tidak melengkung begini. Baterai Mate 20 ada di 4.000 mAh, resolusi kamera lebih rendah, namun Mate 20 malah punya jack audio. Pada saat saya menulis naskah video ini, saya belum tahu harga resmi keduanya di Indonesia, namun melihat harga pasar dari barang Singapore-nya, perbedaan harganya cukup menjulang. Membuat Mate 20 nampak lebih reasonable, walau godaan Mate 20 Pro memang kuat banget, terutama soal handling yang lebih enak karena dimensinya lebih ringkas. Salut buat Huawei yang berkomitmen memasukkan seri teratas dari jajaran smartphone mereka di Indonesia, walau mungkin secara size, penjualannya belum semasif seri Nova dan seri Y ya. Saya mah yakin, kalau sudah pada coba smartphone flagship dari Huawei, pasti ngerti deh ada di level mana kualitas dari produk-produknya. Sok aja coba, biar kenal, lalu sayang, huehehe... Saya akan tutup video ini dengan hasil foto dan video dari kamera Huawei Mate 20 Pro ini ya, kesimpulan silakan dibuat masing-masing, dan monggo tulis di kolom komentar. Saya mah mati kutu pokoknya oleh hape ini, hahaha. Sip, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, November 21, 2018

Review Honor 8x, Looks Kece, Performa Oke, Tapi...



Honor lagi Honor lagi, hehehe.

Saya sudah maklum kalau penonton setia channel ini sudah melabeli saya sebagai Honor fans. Padahal terakhir saya coba Honor 9i itu sudah lumayan lama lho, sampai-sampai pas saya memulai memakai lagi EMUI di Honor 8x ini, ada semacam perasaan rindu yang terbayar.

Lebay ya haha.

Dan ini juga jadi alasan saya tak mengabulkan permintaan penonton yang berharap saya mengulas Honor Play di channel ini. Keburu masuk Honor 8X soalnya.

Walau segmentasinya berbeda, termasuk dapur pacunya, namun saya lebih tertarik dengan kehadiran 8X sih, terutama karena ini resmi.

Dan Honor 8X ini menjadi device Honor resmi pertama yang mengusung chipset Kirin 710 yang memang hadir menggantikan Kirin 659 dengan peningkatan performa maupun konsumsi daya. Ini menambah sengit persaingan smartphone midrange yang punya powerhouse mumpuni untuk gaming.

Dengan RAM 4GB dan storage 128 GB, sulit untuk tidak memasukkan smartphone ini ke dalam daftar best budget smartphone saat ini.

Terlebih jika faktor estetika menjadi salah satu penentu dalam mengambil keputusan buat Anda. Coba tengok, desain Honor 8x ini tak kalah indah dari smartphone flagshipnya. Dengan garis desain backcover yang dibuat landscape, serta refleksi aurora glass ciri khas Honor, smartphone ini rasanya menggoda iman terus ya hehe.



I know, Honor masih menegaskan kelas smartphone ini di level menengah dengan tak menyematkan NFC. Pun absennya fast charging, bisa jadi deal breaker buat sebagian orang.

Namun saya masih menilai apa yang ditawarkan Honor 8X ini tetaplah menarik.

Layarnya memiliki saturasi dan kerapatan yang baik, dan kali ini dimensinya mencapai 6,5 inch. Saya sempat bingung, koq rasa-rasanya tak jauh berbeda dari smartphone lain yang punya layar 6,2 inch ya. Jawabannya ada pada bezel yang tipis, yang hampir sama tipis di semua sisi. Notch pada layarnya pun ringkas, sebatas cukup untuk menempatkan ambience dan proximity sensor, earpiece, LED Notification, dan kamera depan enam belas Megapixels. Area layar di samping notch masih sangat lega untuk berbagai indikator dan ikon notifikasi.

Kamera belakangnya ganda, dengan resolusi dua puluh Megapixels untuk kamera utama, dan 2 Megapixels untuk depth sensor. Sudah punya AI untuk membantu mengoptimalkan pengaturan sesuai dengan scene yang dibidik, saya merasa hasilnya agak over saturated ya. Kadang saya suka sih, misal saat mengambil foto bunga dan tanaman. Namun untuk foto wajah, saya lebih suka yang natural.

Dan saya tak bisa memasukkan Honor 8X ini ke dalam kelompok hape selfie, karena meskipun resolusinya besar dan juga bisa membuat selfie bokeh, namun memang fitur selfienya tidak terlalu advance. Tidak ada AI untuk selfie-nya, walau beautification masih ada.

Dan Anda bisa simak hasil kameranya pada video berikut ini...



Jika saya boleh simpulkan, menurut pandangan dan selera saya sih kamera Honor 8X ini kinerjanya baik. Fokus dan pemrosesan berjalan cepat, sementara hasilnya bisa diandalkan dengan pengaturan manual yang lengkap.

Jadilah Honor 8X ini smartphone all-rounder dengan harga yang masih cukup terjangkau, baterai besar 3.750 mah, kamera relatif bagus, serta dapur pacu yang gegas.

Memori internal lega yang masih ditemani triple slot cards juga jadi nilai tambah.

Jangan lupakan kemampuan multimedianya yang juga enjoyable, saya akan putarkan musik melalui loudspeakernya, silakan anda nikmati ya.

Satu yang mungkin perlu dibenahi oleh Honor Indonesia adalah timing perilisan ponselnya ya. seringkali produk luar non garansi lokal sudah masuk duluan dibanding produk resminya, dan saat yang resmi rilis, jadinya sudah kurang surprised lagi ya. Terlebih harganya kadang lebih murah yang tak resmi.

Lainnya paling soal penamaan yang kadang membingungkan, misal flagshipnya sudah sampai angka sepuluh, di honor ten dan honor view ten, tapi midrangenya masih berkutat di angka 9 semisal 9i atau bahkan 8 seperti 8x ini. Yang tak terlalu mengikuti update produk Honor mungkin heran dibuatnya.

Dalam proses pengujian, Honor 8X ini saya dapuk menjadi daily driver, dan serius saya betah tuh memakainya. Kekurangan fast charging saya akali dengan mengecasnya malam-malam, toh baterainya tahan lama. Bisa bertahan tiga puluh enam jam lebih dengan screen on time di atas 5 jam lho. Itu saat penggunaan intens untuk socmed ya, bisa jadi lebih lama jika lebih banyak standby, dan jadi lebih singkat saat digunakan untuk gaming.

Penampakannya juga elegan, ngga malu-maluin, malah kecenya kebangetan. Saya akan tutup video ini dengan gaming test ya. Kebetulan video unboxing-nya kemarin kan hanya seadanya, karena kondisi saat itu.

Kesimpulan akhir dari saya, di harga jualnya saat ini, Honor 8X tergolong valuable dengan segala apa yang ditawarkan. Mampu bersaing lah, walau pastinya tak mungkin unggul si segala sektor. Yang jelas ini adalah all arounder yang patut diperhitungkan, terlebih jika anda sudah jatuh hati dengan looks-nya yang ganteng ini.

Dengan harga resmi sebesar Rp3.999.000 plus banyak bonus jika pre-order di Shopee, rasa-rasanya masih menarik sekali untuk dicoba ya. Walau menurut saya, harga ini tabrakan dengan Huawei Nova 3i. Jadi deja vu nih, dulu Honor 7X pun harganya tabrakan dengan Nova 2i sebelum direduksi sejuta Rupiah.

Menurut hemat saya, Honor sepatutnya memberi harga yang lebih kompetitif lagi sebagai e-brand. Walau pastinya mereka sudah punya hitung-hitungan bisnis sendiri ya.

So, kalo budget kamu cocok, tinggal teguhkan pilihan ya, lalu miliki satu dan jangan mengejek yang lain, okay?

Demikian ulasan saya kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam.

Review Samsung Galaxy A7 (2018), 3 Kamera Buat Apa?



Inilah kejutan Samsung untuk segmen midrange di penghujung tahun 2018 ini.

Mengejutkan bagi saya, karena dengan spesifikasi dapur pacu setara Galaxy A8 2018, dan dengan jumlah kamera yang lebih banyak di sisi belakang, harga jual resminya jauh lebih murah.

Yap, Galaxy A7 2018 ini dibandrol Samsung seharga Rp4.499.000, di mana saya membelinya secara pre-order demi cashback setengah juta Rupiah, yang menurut saya menjadikannya worth the money, terutama untuk Anda yang mengejar performa kamera dari sebuah smartphone.

Terus simak ulasan ini, untuk penjelasan lebih detailnya ya.



Saya bahas tentang kamera di awal ya, karena sepertinya inilah sisi yang paling membuat kita penasaran, "3 kamera buat apa sih?".

Untuk menjawabnya, saya absen dulu ya kamera belakang Galaxy A7 ini dimulai dari yang paling atas.

Kamera pertama ini untuk depth sensor, resolusinya 5 Megapixels.

Kamera kedua yang di tengah adalah kamera utamanya yg beresolusi 24 Megapixels, bukaan lensanya besar di F/1.7, dan hadir dengan PDAF untuk auto fokus yang cepat.

Kamera ketiga adalah kamera ultrawide 8 Megapixels dengan focal length 13mm.



Kira-kira seperti itu penjelasan teknisnya, namun sederhananya, dengan Samsung Galaxy A7 2018 ini, kita makin bisa bereksplorasi saat mengabadikan momen. Membuat objek standout dan latar blur sudah pasti bisa, mengambil gambar banyak benda di ruang sempit semisal di dalam mobil pun jadi lebih enak dengan lensa ultrawide-nya.

Kelebihan dari Galaxy A7 2018 ini adalah, pada mode ultrawide saya tidak merasakan penurunan kualitas gambar ataupun perbedaan tone warna dibanding kamera utamanya. Sementara pemanfaatan lensa khusus untuk depth sensor membuat live focus pada Galaxy A7 2018 semakin rapi dalam menentukan tepian objek foto yang masih mendapat fokus dengan latar belakang yang blur.

Samsung tak melupakan kamera depan smartphone ini yang beresolusi sama besar di 24 Megapixels. Dan untuk mendukung keeksisan penggunanya, sebuah LED Flash untuk selfie disematkan di sisi depan ponsel ini. Selfie Focus hadir jika Anda ingin foto selfie Anda lebih stand-out ya.

Lalu untuk perekaman video, saya rasa smartphone ini bisa mengakomodasi gaya hidup kekinian di mana banyak sekali orang membuat kontennya langsung dari smartphone. Dalam artian, video yang dihasilkan hasilnya sangat memadai untuk dikonsumsi umum.

Stabilisasi video di Galaxy seri A selalu tergolong baik dengan hadirnya digital stabilization. Tone warnanya juga hidup, dan resolusi maksimal videonya bisa sampai 4K.

Audio yang dihasilkan pada videonya juga tak lupa ya, kualitasnya masuk ke kategori layak dan enjoyable.

Dan lagi-lagi, biarlah scene-scene video ini yang menunjukannya pada Anda. Sok atuh disimak kembali...



Bagaimana menurut Anda, kualitas kameranya memenuhi ekspektasi Anda kah?

Jika saya yang menilai, Galaxy A7 2018 ini tak cuma menang di jumlah kamera, kualitasnya pun mumpuni. Dan kalau teman Anda masih menanyakan "3 kamera buat apaan sih?", silakan ditunjukkan video ini saja ya, hehe.

Di luar kamera, Galaxy A7 2018 ini pun masih punya keunggulan.

Spesifikasinya cukup mentereng, dengan processor Exynos 7885 Octa, multitasking untuk berbagai kegiatan saya di atas smartphone dapat berjalan lancar. Gaming juga masih bisa dinikmati berkat sokongan RAM-nya yang 4 GB.

Oh ya, sejauh ini batrai 3.300 mAh-nya mampu bertahan dari pagi hingga malam hari. Seandainya bisa bertahan lebih dari 24 jam dan juga mendukung fast charging, pastilah akan lebih menarik lagi ya, terutama buat mobile gamers.

Anda pembuat konten pasti akan sangat terbantu dengan besarnya storage utama Galaxy A7 2018 yang sudah 64 GB plus triple card slotnya. Ya, smartphone ini punya dedicated slot untuk micro-SD yang bisa menampung kapasitas maksimal 2 TB. Besar ya, walau kayanya micro-SD sebesar itu masih jarang yang jual dan pastinya mahal hehe.

Jika tampil gaya adalah kebutuhan mutlak untuk Anda, maka lengkaplah sudah. Galaxy A7 2018 hadir dengan glass backcover yang menawan, dengan pilihan warna hitam, biru, dan emas. Saya mah sudah pasti terpikat oleh warna birunya ini.


Frame pinggirnya terbuat dari polykarbonat dengan finishing glossy juga. Di sisi kanannya terdapat tombol power yang juga berfungsi sebagai fingerprint scanner. Responnya cepat dengan akurasi yang juga baik. Walau mungkin mau tak mau ini mendorong kita untuk selalu menggunakan tangan kanan saat memegang ponsel ini ya.

Jika sedang menggenggam dengan tangan kiri, saya sarankan lebih baik manfaatkan face unlock-nya saja. Dengan kamera depan yang resolusinya juga besar, membuka kunci layar dengan wajah kita pun dapat dilakukan dengan nyaman.



Dan yang pasti, kekuatan dari brand Samsung adalah panel Super AMOLED-nya yang sangat vivid dan mendukung fitur Always-on Display. Jadi depan belakang, smartphone ini keren pake banget, apalagi jika kita bandingkan lagi dengan harganya yang cukup mengejutkan.

Yang saya lihat, Samsung nampak cukup sigap menghadapi persaingan di segmen midrange smartphone ini ya. 4-jutaan, dapet smartphone Samsung, dapur pacu handal, memory lega, dan kamera yang kinerjanya baik tak cuma gimmick.

Kita lihat saja apalagi kejutan dari Samsung di penghujung 2018 ini. So far saya sih puas dengan Galaxy A7 2018 ini, terutama dengan keputusan pricing Samsung yang makin enak untuk dibandingkan dengan spec sheet dan juga fitur-fiturnya.

Apakah Anda setuju dengan saya?

Sip, semoga ulasan ini bermanfaat menambah wawasan Anda ya. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!