Gadget Promotions

Wednesday, November 14, 2018

Review Realme 2 Pro, Ngga Nyantai!



Nggak nyantai, inilah 2 kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana price to spec comparison dari smartphone yang saya ulas kali ini.

Ya, ini adalah Realme 2 Pro, yang jadi smartphone resmi pertama di Indonesia yang bisa menghadirkan Snapdragon 660 pada kisaran harga di bawah 3-jutaan.

Lebih nggak nyantai lagi, yang saya uji adalah varian tertingginya yang memiliki RAM 8 GB dan storage 128 GB, yang harga resminya 3,7 jutaan saja.



Penjualan smartphone ini pun konon ngga nyantai, sold out terus, walau diyakini pembelinya sebagian adalah toko-toko yang membeli di lazada untuk kemudian dijual lagi di marketplace saingannya, dengan ditambahkan cuan dulu tentunya, hehe.

Nah, apakah dengan spek di atas kertas yang mentereng begini, lalu marketing yang sukses membuat hype sub-brand baru ini naik, serta berbagai pemberitaan mengenai laris dan dicari-carinya smartphone ini, lantas membuat pesaing dari Realme inipun sudah tak bisa santai-santai lagi jualan?

Jawabannya silakan disimpulkan setelah melahap habis review ini ya.

Saya pikir, sebagai sub-brand Oppo, sebagaimanapun punya diferensiasi dari induknya, sebagaimanapun kompetitif produknya, pastilah sudah dihitung matang-matang bagaimana agar tidak saling membunuh.

Nah, satu hal yang sudah pasti berbeda dari Oppo adalah kualitas kameranya. Realme 2 Pro punya kamera yang tak bisa dibilang jelek sih, masih sangat bisa dikatakan bagus selama pengambilan gambar dilakukan pada kondisi ideal.

Apa ini artinya lowlights-nya payah? Ngga payah juga sih, rata-rata saja. Jelas tak sebagus performa kamera Oppo, bahkan ada beberapa smartphone 2-jutaan yang performanya lebih baik.

Hal ini berlaku juga untuk perekaman video yang hasilnya tak elok jika dipaksa semisal melakukan vlogging outdoor di malam hari. Selain tak lagi tajam, stabilisasi yang tadinya cukup lumayan pun semakin terasa jelly.

Namun, overall masih OK. Tapi ya itu, jangan maksa bikin konten gelap-gelapan aja yah hehe.

Karena kalau cahayanya cukup, saya yakin Anda akan cukup terpesona dengan hasil kameranya.

Coba deh lihat hasil foto berikut ini, lalu tuliskan komentar apakah Anda terpesona atau tidak dengan kualitasnya ya. Silakan!



Perbedaan selanjutnya adalah ketidakhadiran dukungan fast charging, entah itu VOOC Charge, atau Qualcomm Quickcharge. Padahal SoC yang digunakan sih mendukung.

Mungkin untuk menekan harga ya, soalnya lisensi untuk quickcharge pastinya berbayar.

Sedikit disayangkan bahwa kapasitas baterainya malah lebih kecil dibanding Realme 2 ya, apalagi Snapdragon 660 dengan performanya yang gegas, memang tak sehemat Snapdragon 450 dalam mengonsumsi daya.

Tidak adanya LED Notifikasi juga membuat saya sering melewatkan chat-chat penting saat smartphone ini saya tinggal. Ini agak kritikal sih bagi saya, jadinya mikir banget untuk dijadikan daily driver. Tapi untuk smartphone khusus gaming dan menympan berbagai file multimedia sih pastinya cocok banget.

Komplain terakhir saya masih sama sih, posisi loudspeaker dan perlunya pembiasaan dalam menggunakan ColorOS, semisal untuk dismiss notification toast, harus diswipe ke atas, bukan ke samping layaknya ponsel Android lain.

Komplainnya sudah, waktunya membahas semua yang saya apresiasi dari smartphone ini.

Pertama mah sudah pasti atuh ya, jeroannya. Penggunaan Snapdragon 660 AI Engine yang walau katanya didownclock, nyata-nyata enak banget dipakai main game. Di video unboxing saya sudah langsung tes beberapa game, lancar tuh.

Disokong RAM 8 GB, multitasking jadi ga masalah. Notifikasi berbagai aplikasi juga lancar masuk karena leganya RAM membuat banyak background process bisa terus berjalan.

Lanjut ke storage, 128 GB ini asyik banget. Saya jadi ga ragu untuk mendownload banyak playlist di Spotify dengan kualitas tertinggi. Jangan lupakan bahwa Realme 2 Pro mengusung triple card slots, 2 slot nano sim dan 1 slot khusus micro-SD. Asli ga ada khawatir-khawatirnya soal storage deh.

Kedua adalah layarnya yang sedap dipandang, dengan dewdrop notch yang mungil, sehingga area sudut atas layar masih sangat luas untuk berbagai indikator dan ikon notifikasi, termasuk indikator kecepatan jaringan yang bagi saya cukup penting.

Vibrancy dan ketajaman layarnya pun kece. Asyik punya lah memandangi layarnya, entah itu saat bermedia sosial, atau streaming.

Ketiga adalah daya tahan baterainya yang mampu bertahan sehari semalam dengan pemakaian yang cukup intens. 3.500 mAh nampaknya masih cukup ya sejauh ini.

Terakhir adalah masalah looks dan estetika. Walau saya lebih memfavoritkan warna ice blue-nya, tapi warna hitam yang kadang nampak seperti dark grey ini pun rasa-rasanya tetap menawan hati. Handling-nya enak, tidak licin dan tak pernah tergelincir dari genggaman selama saya pakai.

Saya pikir saya sudah tak perlu membuat kesimpulan ya untuk smartphone yang satu ini.

Intinya untuk spesifikasinya sangat bernilai jika dibandingkan harga jual resminya.

Kompensasi jelas ada di hal-hal yang saya bahas di awal tadi.

Namun bagi pembeli ada konsekuensi lain jika di Indonesia ada smartphone dengan spek mentereng dan harga cukup miring, belinya rebutan hehehe. Dan kebanyakan yang rebutan malah buat dijual lagi buat ambil untung heuheu.

Jadilah subsidi dari Lazada dimanfaatkan oleh reseller, dan pada akhirnya membantu meningkatkan transaksi di e-commerce lain yang pastinya adalah saingan dari Lazada.

Pukpuk Lazada deh hihi.

Saya malah sudah ngga sabar, menunggu deretan smartphone Realme selanjutnya, apakah akan tetap ngga nyantai seperti ini, atau nyantai dikit?

Atau malah makin kenceng? We'll see lah.

Yang pasti saya makin senang lah kalo makin banyak produk yang jualan spek bagus.

Sip, begitu pandangan saya soal Realme 2 Pro ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon Pamit undur diri. Wassalam!

Thursday, November 8, 2018

Review Realme 2, Sepertinya Anda Lupa Sesuatu...



Realme hadir memberi riak di kancah persaingan budget smartphone.

Membawa nama besar Oppo di balik layar, Realme jelas banyak memanfaatkan warisan intelektual Oppo untuk menghadirkan smartphone yang sangat menarik jika melihat spek di atas kertas berbanding harganya.

Memiliki body yang similar dengan Oppo F7 yaitu memiliki backcover diamond cut, Realme 2 hadir pada level harga psikologis yang selalu menjadi perhatian banyak konsumen gadget tanah air.

Ya, Realme 2 ini memiliki bandrol harga Rp1.999.000 untuk varian RAM 3 GB dan Storage 32 GB, serta 2.399.000 untuk RAM 4 GB dan storage 64 GB.

Penjualan resminya hanya melalui jalur e-commerce, lebih spesifik lagi Lazada ya. Jadi jika berharap mendapatkan smartphone ini di toko offline, siap-siap saja menambah jumlah yang akan Anda bayar, untuk keuntungan sang penjual.





Begitu melihat desain dari Realme 2 ini langsung membuat kita tergoda ya. 2,4 juta untuk varian 4/64 GB adalah sesuatu yang menarik, terlebih desainnya cukup kekinian dengan layar 19:9 berponi.



Saingan berat Realme 2 masih hadir dari ponsel-ponsel yang sudah lebih dulu hadir, yang kebanyakan mengusung Snapdragon 625 atau 636 di harga 2-jutaan. Namun saya yakin, masing-masing sudah memiliki peminatnya tersendiri.

Ya, Realme 2 dengan processor Snapdragon 450 dan baterai besar 4.230 mAh masih mumpuni untuk gaming, namun memang bukan buat gamer menengah ke berat.

Yang pasti, dalam pemakaian saya Realme 2 ini selalu berhasil menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya. Ini termasuk gaming yang cukup intens ya. Dan jika frekuensi gaming sedang berkurang, bahkan bisa menembus 2 hari 2 malam.

Nggak heran lah, Snapdragon 450 memang termasuk processor yang hemat daya. Walau memang mengisi daya baterai besar jadi butuh waktu lama karena absennya fast charging pada Realme 2.

Masuk ke kamera, Realme 2 ini termasuk golongan smartphone yang kamera depannya malah lebih bagus dari kamera belakang. Hehe. Turunan mungkin ya.

Realme 2 ini kamera selfienya resolusinya tak berlebihan, 8 Megapixels yang menurut saya sudah cukup. Sementara kamera belakangnya ganda dengan resolusi 13 dan 2 Megapixels.

Hasilnya cukup bagus untuk level harganya, usable lah. Walau pastinya tak bisa istimewa di kondisi lowlights.

Bisa merekam video sampai Full HD, stabilisasi dipastikan minim atau malah tidak ada.

Fitur-fitur lain kameranya kurang lebih sama dengan kamera Oppo, hanya saja watermark pada Realme 2 tidak bisa memunculkan nama pemotret, tak seperti Realme 2 Pro.

Mari kita simak langsung hasil foto-foto dan video dari Realme 2 ini di beberapa kondisi. Silakan.



Hadirnya Realme 2 ini menurut saya bagus, karena semakin menambah pilihan smartphone terjangkau yang punya spesifikasi bagus.

Tak hanya itu, desainnya juga oke, bisa pake banget bahkan kalau Anda suka dengan diamond cut-nya, dan juga pilihan warnanya yang menarik, hitam, merah, dan biru.

Layarnya juga enak dipandang, dengan resolusi HD+ yang membuatnya tak membebani kinerja baterai sehingga mampu bertahan lama.





Jangan lupakan juga bahwa Realme 2 memiliki tiga buah slot kartu, 2 untuk nano sim, dan 1 khusus untuk micro-SD, jadi storage bisa dibilang aman ya.

Fingerprint scanner-nya cepat dan akurat, untuk 2-jutaan sih ini keren. Termasuk face unlock-nya yang juga jempolan, asalkan pencahayaannya nggak gelap-gelap amat, responnya di kala membuka layar tergolong instan sih.

Mungkin buat sebagian orang, akan butuh adaptasi untuk memulai menggunakan Color OS. Saya sudah memberi masukan mengenai Custom UI milik Oppo ini di video review Oppo F9 ya. Dan beberapa keluhan kecil itu masih terasa tentunya di Realme 2.

Termasuk posisi loudspeaker, kebiasaan banget deh Oppo. Ini berlanjut di Realme dan OnePlus juga soalnya. Menurut saya lebih baik di bagian kanan dari sisi bawah ponsel, agar tak mudah tertutup.

Nah, untuk digunakan sebagai hape multimedia dan juga game online yang sering standby untuk autoplay, Realme 2 ini cocok sekali.

Untuk driver online pun sesuai, baterai dan RAM-nya besar.

Namun jika budget lebih mepet, saya pikir Anda yang berprofesi sebagai driver online bisa menunggu review Realme C1 dari saya, di mana smartphone ini punya procesor dan kapasitas baterai yang sama, hanya beda di besaran RAM dan storage, serta tidak adanya fingerprint scanner.

Jadi, tunggu saja ya!

Kecantikan Realme 2 serta nama besar Oppo yang terkenal dengan cameranya yang baik ini nampaknya membuat sebagian orang melupakan bahwa di range 2 jutaan beberapa smartphone lain hadir dengan dapur pacu yang lebih powerful ya.

Tak ada yang lebih mending, karena buat sebagian orang penampilan itu bisa jadi lebih penting, sementara sebagian lain merasa bodo amat yang penting jeroannya enak diajak main game dan skor antutu gede. 2-2nya tak salah koq, bebas sesuai selera dan prefensi masing-masing saja. Asal jangan maksa, dan jangan ribut aja sih saya mah, hehe.

Sekian yang bisa saya nilai dari Realme 2, selamat berburu hehe. Harusnya sih stoknya ngga ghoib-ghoib amat, karena pabriknya milik sendiri, nggak rame-rame di-subcon ke pabrik Batam.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Saturday, October 13, 2018

Kesimpulan Akhir Saya Tentang Pocophone F1



Halo Assalamualaikum, pada video kali ini, kita akan mengulas tentang smartphone yang sempat jadi fenomena di tanah air saat rilis, yaitu Pocophone F1.

Dan menurut saya, Pocophone F1 ini adalah smartphone terbaik, terhebat, terkeren, dan terrrrrr-semuanya saat ini yang dijual resmi di Indonesia!

Seandainya, penilaiain sebuah smartphone cukup dihitung dari harga versus processor yang digunakan.

Sayangnya, pada kenyataannya kan tidak seperti itu. Hahaha.

Jadi pastikan simak terus video ini sampai akhir untuk tahu lebih dalam soal Pocophone ini, sebelum Anda putuskan untuk meminangnya atau tidak. Saya tahu masih banyak yang belum meminangnya, kayanya pada santai karena ngga ghoib ya? Heuheu.

Yup, Pocophone F1 adalah fenomena. Bagaimana tidak, di angka 4-jutaan sudah berani pakai processor tertinggi dan termutakhir dari Qualcomm, yaitu Snapdragon 845.

Flagship! Begitu kata orang-orang. Saya sendiri masih bingung, iya gitu Pocophone F1 ini flagship? Kalo jeroannya high-end sih saya setuju. Snapdragon 645 dipadukan dengan RAM 6 GB dan storage 64 atau 128 GB adalah jeroan kelas tinggi.

Tapi kalau dibilang flagship, mungkin flagship-nya Pocophone sebagai sub-brand-nya Xiaomi saja ya, karena flagship-nya Xiaomi kan Mi 8 dan Mi Mix 2s saat ini.

Yang pasti, perasaan senang bisa mendapatkan smartphone ini tak berlangsung terlalu lama. Cerita perjuangan mendapatkannya yang saya buat jadi satu video tersendiri, dalam beberapa hari saja sudah menjadi terasa hambar. Ya iya, ngapain saya harus waiting list kalau cuma nunggu 5 menit, dan di hari-hari berikutnya orang lain masih bisa dapat dengan mudah, haha.



Bukan saya berharap barang ini ghoib, tapi mungkin Xiaomi perlu lebih baik mengomunikasikan masalah stok dari Pocophone F1 ini. Bilang saja langkah pembuatan waiting list ini untuk meminimalisir tengkulak alias reseller, kan enak, semua pasti maklum.

At least, respon Xiaomi atas banyaknya produk yang bermasalah di hari pertama penjualan, bagi saya sudah cukup baik dan bertanggung jawab.

Kembali ke produknya, saya memang merasakan euforia-nya tak terlalu lama. Unboxing, main game, lalu kemudian sisanya terasa biasa saja.

Tak ada perasaan senang berlarut-larut seperti ketika saya mampu membeli flagship pertama saya dulu. Di mana sampai berminggu-minggu kemudian saya masih senang mengagumi desainnya, layarnya, build quality-nya, kualitas audio-nya, hingga aksesoris bawaannya.

Bukan saya tak puas, tapi saya menceritakan apa bedanya ketika kita memilih membeli flagship yang lebih umum, dengan flagship yang hadir dengan harga jual yang sangat ditekan, tetapi mengkompensasikan beberapa hal.

Kompensasi pertama tentu saja soal material yang dipilih ya. Body Pocophone F1 ini terbuat dari polikarbonat yang sudah jarang sekali digunakan, bahkan untuk smartphone seri mid-end sekalipun. Saya mah santai, selama ini pun tak pernah rewel koq dengan body plastik, selama nyaman dipegang.

Pocophone F1 ini saya malah suka, body plastiknya membuat saya tak usah repot-repot memasang casing, jadi tak menambah tebal. Dan lagi finishing doff-nya tak mudah kotor, nice lah!



Tapi ya penilaian orang bisa berbeda ya. Tidak apa-apa beda, asal ngga maksa. Heuheu. Yang pasti, saya sangat menyarankan penggunaan tempered glass atau proteksi layar tambahan untuk Pocophone F1 ini. 2 minggu dalam pemakaian, sudah jelas hadir goresan-goresan halus memanjang di beberapa bagian layar. Tak menganggu pemakaian sih, cuma ketika layar mati dan kita perhatikan dengan seksama, goresan itu akan jelas terlihat. Sedih jadinya. Selain itu, layar ini juga cepat kusam, entah apakah ada lapisan olephobic atau tidak sebetulnya di layar Pocophone F1 ini.

Kompensasi selanjutnya ada pada layar. Layar Pocophone F1 tidak jelek koq, reproduksi warna masih cukup baik. Hanya terlihat ada jarak antara panel display dengan panel sentuh-nya. Asal tahu saja, Redmi Note 5 saja ga begitu. Heuheu.

Lalu soal notch. Saya juga bukan orang yang mempermasalahkan notch, asalkan kehadirannya memang memperluas panel layar dan masih cukup untuk menampilkan informasi-informasi penting di notification bar.

Sayangnya, Pocophone F1 ini terlalu besar notch-nya, saya harus menurunkan jendela notifikasi untuk melihat ikon-ikon di sana. Termasuk untuk melihat network speed juga. Jadi kali ini saya harus bilang saya kurang sreg dengan notch dari ponsel ini. Apalagi notch ini memotong area permainan PUBG, jadi yah PR banget deh!

Untuk kamera, saya banyak-banyak bersyukur karena ternyata hasilnya di atas ekspektasi saya. Ya, tadinya saya berpikir bahwa kameranya akan banyak dikompromikan untuk menekan biaya produksi. Nyatanya, Pocophone F1 malah punya kamera selfie beresolusi besar, bahkan paling besar di antara produk Xiaomi yang rilis di Indonesia yaitu 20 Megapixels. Sementara kamera belakangnya beresolusi 12 dan 5 Megapixels.

Jelas kualitasnya di bawah kamera flagship Samsung atau bahkan Huawei ya. Namun segini masih oke banget koq. Lowlights masih terbilang jernih, dynamic range masih mumpuni, dan selfie juga kece.

Saya pikir sekalipun harus menekan biaya produksi seminimal mungkin, Xiaomi takkan berani berkompromi soal kamera ya, mengingat dalam beberapa tahun terakhir perang smartphone banyak berkutat di sektor ini.

Silakan saja lihat foto-foto dan video berikut ini.



Dari tadi saya tak bahas performa ya. Karena memang angka-angka di atas kertas sudah menunjukkan ada di level mana smartphone ini untuk performanya.

Main game PUBG bisa di HDR dengan graphic Ultra. Dan yang saya apresiasi sekali liquid cooling-nya nampak bekerja dengan baik karena panas yang dihasilkan minim sekali.

Walau kemudian saya akhirnya merasakan demam juga, yaitu ketika saya mengganti kartu operator yang saya gunakan, dari nomor utama ke nomor ketiga saya dari operator bernama tiga juga. Entah seberapa besar pengaruh dari sinyal operator, ataukah dari update terbaru game PUBG ini, yang jelas beberapa hari sebelum saya mulai menulis naskah review ini, Pocophone F1 sudah mulai membutuhkan parasetamol kalau diajak bermain game lama-lama.

Baterai besar 4.000 mAh juga jadi kunci untuk memikat para mobile gamer. Apalagi MIUI juga terkenal dengan manajemen daya yang baik, walau sedikit mengorbankan background process ya.

Pocophone ini juga sudah memiliki fitur fast charging, yang sayangnya tidak cepat-cepat amat. Agak ketinggalan dari beberapa brand lain semisal yang punya Dual Engine Fast Charging, atau Supercharge.

Tidak lambat sih, pengisian daya berlangsung di tegangan 6,5 volt dengan kuat arus 2 hingga 2,5 Ampere. Tapi tetap saja tidak secepat hape tetangga euy.

Satu yang saya sangat apresiasi adalah face unlock dengan IR camera Pocophone F1 ini. Sangat instan, dan bekerja dengan baik di kondisi redup. Fingerprint scanner-nya juga akurat dan responsif. Mantap lah!

Jadi, apakah Pocophone F1 jadi ponsel terbaik? Untuk gaming dengan budget maksimal 5 juta sih iya, saya akui. Performa tinggi, baterai besar dan awet, serta pengisian daya yang lumayan cepat, plus face unlock instan ya!

Tapi untuk kamera, saya rasa dengan budget 5-jutaan, saya lebih senang dengan hasil kamera Vivo V11 Pro. Patokan saya adalah istri saya yang kalau makan di luar, selalu menanyakan apakah saya membawa Vivo atau tidak, hehehe. Oya, Vivo lebih cepat dalam mengisi daya, serta memiliki fingerprint scanner yang lebih futuristik, walau processornya memiliki kelas satu tingkat di bawah Pocophone F1.

Dan jika budget Anda lebih longgar, ada ASUS Zenfone 5z di harga 7 juta kurang sedikit, dengan dapur pacu yang identik, tapi memiliki kelebihan di looks dan build quality, punya NFC, pengisian daya yang lebih cepat, namun baterainya lebih kecil dengan daya tahan yang lebih singkat.

Dua ponsel yang saya bandingkan dengan Pocophone ini juga memiliki bidang layar yang lebih luas di sekitar notch-nya, hehe.

Semoga tidak ada yang tersinggung ya dengan alternatif yang saya berikan. Malah harusnya kita senang bahwa smartphone-smartphone resmi di Indonesia kini makin banyak yang keren dengan harga yang juga masih bagus.

Coba deh, dulu mungkin cuma mimpi ada ponsel dengan processor kelas atas begini bisa punya harga 6-jutaan, bahkan 4-jutaan.

Ok, saya bagi deh peruntukannya, Anda yang punya budget maksimal 5 juta bisa memilih Pocophone F1 jika Anda tergolong gamer kelas berat dan spesifikasi adalah segalanya.

Dengan budget yang sama, jika Anda lebih senang dengan looks, layar yang vivid, kamera yang menawan dan fitur-fitur kekinian, serta game kelas menengah, Vivo V11 Pro bisa jadi lebih cocok.

Namun jika Anda punya budget lebih dan memilih keseimbangan antara semua fitur-fitur dari sebuah smartphone, bisa jadi ASUS Zenfone 5z adalah jawabannya. Nantikan review lengkapnya di channel ini ya!

Pintar-pintar memilih ya gais, pertama tentu sesuaikan dengan budget, lalu cocokkan dengan kebutuhan dan juga selera Anda.

Atau kalau memang belum mampu, silakan menabung, atau jadilah team nonton doang beli kagak yang budiman dan tidak memancing keributan, hehehe.

Hape doang koq ribut, milih hape kan ngga 5 tahun sekali bukan? Hahaha.

Ok, semoga video ini menghibur, utamanya memberikan informasi yang mungkin Anda cari ya. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, October 11, 2018

Quick Review Vivo V11, Tanpa Pro Tetap Menarik?




Ini adalah smartphone yang turut dirilis September kemarin oleh Vivo Indonesia. Namanya Vivo V11.

Masih mengusung desain yang sama, perbedaan paling kentara dari V11 adalah hadirnya fingerprint di punggung ponsel.

No complain, fingerprint scanner ini sangat responsif dan akurat, dengan bidang yang cukup luas untuk menempatkan jari yang akan dipindai.



Ya, saya sengaja membahas dari sisi belakang sini dulu, karena jika diperhatikan selain pemindai sidik jari ini, backcover varian Starry Black ini bisa dibilang identik dengan saudaranya yang sudah saya review lebih dulu.



Dan saya masih memberi nilai positif juga untuk bentuknya yang ergonomis berkat desain backcover yang melengkung seperti ini.

Lanjut ke sisi depan, nampak tak ada yang berbeda ya, Vivo V11 masih hadir dengan Ultra All Screen yang sejauh ini masih jadi screen to body ratio tertinggi yang pernah saya coba. Hadir dengan panel LTPS, warna yang dihasilkan tergolong baik dan hidup.


Di sisi bawah ponsel masih hadir jack audio 3,5 mm di posisi favorit saya, begitu juga letak speaker grille di sisi kanan yang lebih enak saat digunakan bermain game dengan posisi layar landscape.

Game? Iya, game. Vivo V11 ini tergolong mumpuni koq diajak bermain game dengan setting grafis menengah.

Dengan diotaki processor octacore Mediatek Helio P60 dengan clockspeed 2.0 GHz yang sudah terbukti handal, bermain PUBG bisa saya lakukan dengan lancar. RAM 6 GB juga membantu multitasking berjalan dengan halus. Jangan lupakan game mode yang hadir melalui fitur smart assistant Vivo yang dinamai Jovi. Membantu sekali agar gameplay tidak terinterupsi.

Storage bawaan Vivo V11 masih tetap lega, yaitu sebesar 64 GB, dan tetap juga hadir dengan triple card slots, di mana slot micro-SD-nya dedicated, tak harus berebutan dengan dua slot nano sim card-nya.

Skor Antutu? Tetap di atas 100-ribuan koq. Dan segini mah dipakai gaming enak, dipakai socmed enak, dipakai foto-foto enak, dipakai hadiahin pasangan juga enak. Yang ngga enak sih yang jomblo aja, hahaha.

Vivo V11 dengan Helio P60 ini relatif lebih adem dan punya daya tahan baterai yang panjang. Pastinya di atas 24 jam pemakaian ya, walau sayangnya soal battery usage ini tidak muncul detailnya di bagian pengaturan baterai di FunTouch OS ini.

Pada paket penjualannya, Vivo V11 dibekali kepala charger dengan arus 2A yang tegangannya bervariasi di 5 dan 9 volt untuk fast charging. Dan saat saya isi ulang dayanya dengan kepala charger Quickcharge 3.0, indikator quickcharging menyala hijau, yang artinya V11 ini bisa diisi dengan cepat tak hanya dengan charger dan kabel bawaan saja ya. Mantap!

Oh ya, selain game mode tadi, Jovi di Vivo V11 juga masih punya tambahan fitur Smart Scene dan Smart Camera.

Pada smart camera, AI pada Jovi akan membantu mengatur beautification agar sesuai dengan objek, entah itu gender atau usia. Selain itu, AI Scene Identification juga hadir, sehingga kita tak perlu repot-repot mengatur settingan kamera, Jovi akan otomatis memilih mode yang paling cocok dengan objek dalam frame. Ini termasuk AI Backlight HDR yang sejauh ini merupakan fitur yang paling saya andalkan, agar tak repot-repot menyalakan dan mematikan mode HDR. Pilihan mode portrait yang optimal pun tersedia secara otomatis berkat Jovi AI assistant ini.

Hasil kamera Vivo V11 tetap menawan, dengan kemampuan yang baik untuk memproduksi gambar dalam berbagai kondisi. Kamera depannya yang beresolusi 25 Megapixels memiliki bukaan lensa f/2.0 yang besar. Sementara kamera belakangnya ganda, dengan resolusi 16 Megapixels untuk sensor lensa utamanya, dan 5 Megapixels untuk depth sensor-nya.

Bokeh-bokehan, portrait mode yang dramatis, bisa dihasilkan dengan baik oleh Vivo V11.

Silakan disimak foto dan video yang saya jepret menggunakan kamera Vivo V11 ini.



Dengan pemilihan panel LTPS, Vivo V11 jadinya tak memiliki fitur Always-On Display ya, dan dengan begini menurut saya akan lebih baik jika Vivo V11 dilengkapi dengan LED Notification.

Dengan harga jual di angka Rp4.499.000, saya merasa apa yang ditawarkan Vivo V11 ini tetap menarik.

Processor yang bisa diandalkan untuk gaming dan berbagai kegiatan lainnya, disokong oleh RAM besar di 6 GB untuk multitasking yang prima. Untuk kebutuhan multimedia, terutama kamera, Vivo V11 pun jelas punya keunggulan. AI yang sangat membantu untuk menghasilkan foto yang optimal di berbagai kondisi jadi salah satu kunci.

Dan yang pasti semua itu dibalut dalam desain dan looks yang menawan. Good job, Vivo, jangan berhenti di sini ya improvement-nya!

Demikian ulasan singkat saya. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, October 9, 2018

Review Oppo F9, Pengalaman Pertama Beli Hape OPPO



Ini adalah smartphone Oppo pertama yang saya beli, unbox, dan coba sendiri cukup mendalam.



Awalnya saya mempertanyakan kenapa Oppo tidak sekalian upgrade jeroan, kenapa nampak masih betah saja dengan Mediatek Helio P60?

Saya paham, pamor Mediatek tidak sedang bagus-bagusnya di mata pengguna smartphone tanah air.

Tapi harusnya memang kita pantang bilang jelek kalau tidak dicoba dulu. Contohnya ya Helio P60 ini.

Sebagai indikator awal, silakan dilihat skor benchmark Antutu-nya yang menembus 100-ribu.

Faktanya dalam pemakaian, Oppo F9 yang berbaterai 3.500 mAh ini selalu mampu dibawa oleh processor ini untuk menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya.

Dengan pola pemakaian banyak social media, dan sesekali gaming, dipakai istri nonton drama korea, dan juga youtube, segini sih oke banget.

Plus maen PUBG tanpa demam.

Di hari-hari awal pengujian, paling tidak stigma Mediatek yang boros dan panas rontoklah sudah.

Sayangnya, untuk detail pemakaian baterai di ColorOS tidak lengkap tersedia ya. Dan ada beberapa hal lagi yang saya belum terbiasa atau kurang sreg degan custom UI milik Oppo ini.

Yang paling terasa sih notification item. Jadi kita harus menggeser ke kiri, lalu tap icon trash untuk melakukan hal yang sebetulnya di Android pure atau custom UI lain cukup dengan diswipe saja.

Selanjutnya ada soal camera setting. Di UI aplikasi camera, saya mencari-cari tombol setting ini, ternyata tidak ada. Setelah tanya-tanya ke teman yang sudah lebih lama menggunakan Oppo, rupanya harus masuk dari setting, system apps, lalu pilih Camera.

Bukan masalah besar, tapi juga bukan penerapan UX yang baik, dan saya harap dengan saya bahas di sini, jadi input buat team developer ColorOS ya.

Karena sebetulnya, Oppo F9 ini adalah produk yang sangat menarik, dan juga worth every Rupiah.




Saya rasa kerja keras Oppo beberapa tahun terakhir, mulai menuai hasil. Di range harga 4-jutaan, beberapa generasi seri F Oppo saya pikir sudah berhasil membuat standar seperti apa kamera smartphone seharusnya di level midrange.


Terlepas dari kemampuan Selfie-nya yang memang istimewa, sebetulnya kamera depan dan belakang Oppo F9 ini sangat mumpuni dipergunakan mengabadikan berbagai momen.

Memang Beautification pada Selfie-nya membuat wanita-wanita nampak lebih cantik dari aslinya, yang mana membuat kalian-kalian para cowok jomblo harus berhati-hati jika menilai penampilan gebetan dari foto Instagram-nya saja.

Tapi, selain beautification, ada kelebihan kamera Oppo F9 ini, yaitu kemampuannya memberikan warna yang lebih vivid dari aslinya. Mengingatkan akan kemampuan kamera Huawei P20 Pro yang saat ini masih digadang-gadang sebagai camera smartphone dengan skor DxoMark tertinggi.

Inipun sebetulnya tergantung selera ya, sebagian mungkin lebih suka warna ngejreng alias vivid banget begini, sementara lainnya lebih suka yang flat dan lebih realistis. You choose lah.

Sementara untuk perekaman video, karakter warnanya juga tetap vibrant, walau memang stabilisasi tergolong minim.

Yuk, silakan dilihat pajangan foto dan video yang saya hasilkan menggunakan Oppo F9 ini.

[HASIL KAMERA]

Setelah kamera, kita bahas desain. Sengaja saya bahas belakangan, karena bagian ini termasuk yang cukup menonjol.

Oppo F9 varian Starry Purple ini pastilah mencuri perhatian orang yang melihatnya. Kilauan backcover dengan gradasi ungu ke violet, masih ditaburi percikan bintang-bintang kemerlap di bagian atas. Dan gradient ini berlanjut hingga ke frame pinggirnya, jadi saat diletakkan menengadah di atas meja pun, kecantikannya masih terlihat.


Untuk desainnya sendiri, seingat saya tidak berbeda dengan Oppo F7, selain kini di sisi belakang kameranya sudah berjumlah dua biji. Lain hal dengan sisi depan, Oppo F9 membawa perubahan pada waterdrop screen-nya, di mana notch untuk kamera depan sudah sangat minim, membuat notification bar semakin lega.

Bobot yang ringan, membuat Oppo F9 ini terkesan tak kokoh ya, padahal mah belum tentu. Perlu pengujian lebih lanjut sih soal build quality mah, yang sayangnya saya tak sampai hati untuk merusak keelokan ponsel ini, alias gak mau rugi hehehe.

Dan ya memang, backcover Oppo F9 ini cukup rentan menjebak minyak dari sidik jari, sehingga Anda harus rajin mengelapnya agar tetap shiny. Softcase disediakan sih dalam paket penjualan, hanya saja terasa menambah tebal ponsel ini.

Untuk loudspeakernya, suaranya lantang dan jernih, enak lah digunakan mendengarkan musik atau bermain game. Hanya dengan letak di sebelah kiri bawah ponsel, maka kita perlu mengubah kebiasaan saat memegangnya secara landscape. Caranya mudah, pastikan tombol volume up and down ada di sisi atas, dengan begitu, dipastikan loudspeaker tidak tertutup tangan saat dipegang dalam posisi horizontal begini.

Terakhir, ada fitur VOOC Charging yang jadi jualan utama Oppo sebagai peningkatan F9 dari seri sebelumnya. Dalam pengujian, memang terbukti pengisian dayanya sangat cepat, di mana dalam setengah jam, kenaikan persentase baterai mencapai 50%.

Namun, VOOC ini sifatnya masih eksklusif, alias Anda harus selalu menggunakan kepala charger dan kabel bawaan. Kalau tidak, OPPO F9 tidak mau menerima fast charging dari metode lain, semisal Qualcomm QuickCharge atau Power Delivery, saya pernah coba dan bahas ini di sebuah video review Powerbank belum lama ini.

Jadi ya charger dan kabelnya harus dibawa terus, atau kalau mengisi daya dengan powerbank, harus maklum jika tak secepat dengan charger bawaan. Tapi ga sampai lambat juga sih, ya di 5V 2A kira-kira hampir 2 jam lah pengisiannya.

Di level harga 4 juta, kamera Oppo F9 sangat stand out, walau untuk urusan performa juga sebetulnya tak dilupakan. Mediatek Helio P60 mungkin akan jadi titik balik dari perjalanan Mediatek di Indonesia ke depannya. Serius, coba sendiri deh mending!

Kesan pertama saya memakai produk Oppo lebih dari seminggu tergolong memuaskan, apalagi sepertinya minat netizen terhadap ponsel ini juga cukup tinggi, views di unboxing-nya cukup tinggi padahal saya bukan yang pertama unbox. Jadinya bikin semangat deh buat terus nyobain produk smartphone Oppo ke depannya, semoga ada rezekinya aja ya.

Untuk kesempatan ini, saya cukupkan sekian. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, September 27, 2018

Review Honor 9i, Banyak Peningkatan atau Cuma Nambah Poni?



Saya sengaja menunda untuk mulai menulis naskah review smartphone yang satu ini. Hingga akhirnya di hari peluncurannya, 18 September 2018 kemarin, Honor mengumumkan harga resmi dari Honor 9i ini, yaitu 2,6 juta Rupiah untuk varian RAM 3 GB dan storage 32 GB, serta 3,1 juta Rupiah untuk varian RAM 4 GB dan storage 64 GB.

Kalau sudah tahu harga jualnya, maka saya akan lebih mudah menyimpulkan apakah smartphone ini worth the price, dan apakah lebih valuable dari sang kakak, Honor 9 Lite atau tidak. Mau tahu jawabannya? Tonton atuh videonya sok...

Ya, mau tak mau orang pasti membandingkan Honor 9i ini dengan Honor 9 Lite. Bagaimana tidak, jika melihat sisi belakang ponsel ini, hampir tak ada bedanya dengan sang pendahulu.

Lain cerita jika Anda menatap sisi depannya saat layar menyala, terlihat jelas sebuah poni kecil hadir di atas layar 5,8 inci milik Honor 9i ini. Dengan resolusi Full HD+, layar ini siap mengubah standar Anda tentang layar hape 2-jutaan.





Untuk masalah tampilan luar saya bisa mengacungkan kedua jempol untuk Honor 9i ini. Honor mempertahankan backcover glass yang konon membutuhkan riset dan proses produksi yang lebih kompleks, ketika sebetulnya pilihan backcover metal yang lebih mudah bisa saja dipilih.





Backcover ini membuatnya terlihat spesial di level harganya, walau juga menambah pekerjaan untuk sering-sering mengelapnya agar tetap terlihat kinclong, hehe.

Dimensi yang compact juga sangat-sangat membuat saya nyaman membawa ponsel ini dalam genggaman.

Tak suka notch? EMUI selalu menyediakan pilihan untuk menyamarkannya menjadi bar hitam di layar bagian atas. Simple kan?



Lalu bagaimana dengan jeroannya? Hmmm... Entah karena merasa masih cukup  bisa diandalkan, atau demi menekan biaya produksi, Honor tetap mempercayakan dapur pacu ponsel ini pada Kirin 659.

Processor yang kurang lebih selevel dengan Snapdragon 625 ini sebetulnya mampu menjalankan berbagai task dengan baik, selama Anda bukanlah gamer kelas berat. Saya yang sehari-hari berkutat dengan berbagai aplikasi media sosial dan juga video editing ringan di smartphone, tak menemui kendala saat menjadikan Honor 9i ini sebagai daily driver.

Beda cerita ketika saya sudah menemukan waktu luang untuk bermain game. Ya, game yang saya mainkan belakangan memang hanya PUBG haha. Jadi Honor 9i juga saya tes dengan game ini, dan hasilnya sedikit membuat saya kecewa.

Settingannya sebetulnya bisa digeser sampai ke level Medium dengan graphic Balanced. Tapi percayalah, jika mau menikmati permainannya, apalagi mau sampai Chicken Dinner, lebih baik settingan diatur rata kiri saja.

Yap, masih bisa dibuat bermain game dengan nikmat, tapi dengan grafis yang dikorbankan. Itulah makanya saya bilang smartphone ini bukan untuk gamer kelas berat.

Oh, satu hal lagi deh. Daya tahan baterainya juga kurang cocok untuk gamer.  Baterai 3.000 mAh-nya mampu bertahan dari pagi hingga malam alias sekitar 16 jam dengan pemakaian cukup intens bermedia sosial, tanpa gaming. Dengan gaming, dipastikan daya tahannya lebih pendek lagi. Dalam keadaan standby sih ponsel ini masih tergolong cukup hemat ya.

Jangan lupakan bahwa Honor 9i ini memiliki fingerprint scanner dengan respon yang instan, serta face unlock yang juga cepat.

Kabarnya Honor 9i ini masuk dalam daftar yang akan menerima update GPU Turbo nantinya. Mungkin kalau waktunya telah tiba, saya akan buatkan video tes gamingnya deh.

Sebetulnya, upgrade Honor 9i yang paling terasa dari Honor 9 Lite ada pada sisi kameranya. Memang jumlahnya berkurang ya karena kamera depan kini tinggal sebiji saja demi minimnya notch di layar. Tapi hasilnya sepenilaian saya sudah lebih baik, meskipun tidak terlalu istimewa.

Kamera depannya memiliki resolusi besar di 16 Megapixels, sementara kamera belakangnya sepasang dengan resolusi 13 dan 2 Megapixels.



Untuk ukuran smartphone 2-3 jutaan sih sudah bagus hasilnya, dengan catatan agak kurang di masalah dynamic range, lowlights yang agak noisy, serta perekaman video yang tanpa stabilisasi.

Fitur kameranya sih lengkap, berbagai mode hadir, termasuk mode Pro Camera dan Pro Video. Bahkan Honor 9i ini pernah saya andalkan untuk membuat video konten promosi salah satu brand yang saya lakukan di Instagram. Ya, dalam kondisi cahaya cukup sih kameranya bekerja dengan sangat baik, termasuk tone warna dan ketajaman yang keren.

Walau memang untuk mengoptimalkan mode yang disediakan, kita masih harus memilihnya secara manual. Kalau begini, baru deh terasa apa kegunaan AI pada kamera, hehe.

Mari kita simak dulu hasil foto dan video Honor 9i ini sebelum masuk ke kesimpulan.



Menjawab pertanyaan di awal, saya bisa bilang pada level harganya Honor 9i ini masih tergolong worth the money, dan juga lebih valuable dari Honor 9 Lite.

Kelebihannya ada pada kamera yang lebih baik, serta pilihan RAM dan storage yang lebih besar. Masalah storage ini penting mengingat Honor 9i masih mengusung dual-sim hybrid slot ya.

Saya sendiri sangat senang dengan ukurannya yang enak digenggam dan juga dimasukkan ke saku. Layar yang vibrant juga membuatnya nyaman dilihat lama-lama. Dan yang pasti sih desainnya secara overall yang saya nilai tetap cantik.

Walau sebetulnya, saya berharap harganya ada di 2,4 juta untuk varian 3/32 dan 2,8 juta saya untuk varian 4/64 agar lebih valuable lagi. Semoga saja ada promo dari e-commerce yang membantu subsidi harganya ya, atau semoga Rupiah segera menguat kembali agar harga gadget tak terus menanjak. Amiiin.

Demikian ulasan saya tentang Honor 9i, semoga membantu!

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, September 25, 2018

Review ASUS Zenfone 5z, Tak Semata Mengandalkan Snapdragon 845!



Akhirnya datang juga... Pasti pada bilang begitu kan ketika satu per satu teman-teman reviewer mulai membahas ponsel ini.

Ya, saya yakin sudah banyak yang menantikan kehadiran ASUS Zenfone 5z ini.

Sejak saat diumukan saat launching berbarengan dengan Zenfone 5 dan juga Zenfone Max Pro M1, Zenfone 5z sontak mencuri perhatian para penikmat gadget tanah air. Karena waktu itu, bisa dibilang smartphone inilah yang berani mengusung processor Qualcomm Snapdragon 845 dengan harga di bawah 10 juta.

Bahkan jauh di bawah, karena sejatinya dulu harga jualnya diset pada angka 6,5 juta Rupiah untuk varian RAM 6 GB dan storage 128 GB.

Bulan berganti, ASUS makin lekat dengan status ghoib. Zenfone 5z tak kunjung dijual, dan sebagian penikmat gadget terbuai oleh produk pesaing yang dijual lebih murah lagi namun memiliki SoC yang identik. Ya, saya sedang menunjuk kepada Pocophone F1 yang hype-nya bahkan membuat saya rela datang ke toko offline, heuheu.

Sedikit tertinggal di kapasitas dan daya tahan baterai, sebetulnya Zenfone 5z punya beberapa kelebihan yang tak dipunyai rivalnya tersebut, yang membuat selisih harganya yang sekitar 1,7 juta Rupiah lebih mahal menjadi terasa pantas.

Dan di sini saya tegaskan bahwa kedua ponsel ini meskipun ramai disandingkan oleh netizen, menurut saya tidak saling bunuh, namun justru memberikan alternatif berbeda di level harga masing-masing.

Prinsip ada harga ada rupa pastinya berlaku, dan saya pikir kebanyakan orang akan setuju jika saya bilang dari sisi looks atau desain, Zenfone 5z jauh lebih atraktif. Jika Anda lanjutkan mencicipi atau hands-on kedua ponsel ini, maka saya jamin penilaian Anda akan semakin lengkap dengan fakta bahwa Zenfone 5z punya build quality dan feels yang lebih premium juga.



Berbekal desain yang sama persis dengan Zenfone 5, smartphone ini juga memiliki fitur dan kelengkapan yang kurang lebih sama.







NFC hadir, jadi Anda yang biasa memanfaatkan fitur ini untuk pembayaran digital, bisa bernafas lega. Quick charge juga hadir, di mana pengisian daya dapat berlangsung dengan cepat, di mana dalam setengah jam saja, level baterainya bisa naik dari 10% ke 50-58%.

Backcover glass dengan refleksi cahaya melingkar juga tetap hadir. Dan saya masih bingung dengan penamaan warna midnight blue yang di mata saya lebih mirip dengan dark grey, heuheu.

Nampaknya memang Zenfone 5z ini hanya berbeda masalah dapur pacunya saja dibanding Zenfone 5. Mengusung Snapdragon 845 yang merupakan processor premium Qualcomm, dikombinasikan dengan RAM 6 GB dan storage 128 GB, saya rasa di harga 6,7 jutaan saat ini, Zenfone 5z tetap masuk ke kategori best value, plus punya desain yang menawan hati.

Agak sulit menemukan kekurangan dari Zenfone 5z ini. Oke, masalah stok mungkin yang jadi kendala ya.

Sisanya bagi saya paling masalah keergonomisannya saja. Dengan backcover yang flat, rasa-rasanya masih sedikit kurang nyaman digenggam, walau sebetulnya ASUS sudah membuat frame metal-nya memiliki tepian yang melengkung. Oh ya, layarnya juga terlalu sensitif menurut saya. Jari telunjuk yang tempatkan di pinggir layar untuk menahan agar smartphone ini tegak dalam genggaman, seringkali dianggap menyentuh layar.

Dan jangan lupa, baik Zenfone 5 maupun Zenfone 5z bisa dikategorikan sebagai ponsel licin. Jadi manfaatkan baik-baik softcase yang disertakan dalam paket penjualannya ya!

Baterainya sebetulnya cukup hemat, di mana dengan penggunaan intens tapi tanpa gaming, bisa bertahan 24 jam dengan SoT hampir mencapai 4 jam. Lain cerita jika saya sedang rajin bermain game, baterainya agak cepat habis. Untung saja pengisian ulangnya juga bisa cepat, walau efeknya ponsel cukup memanas saat dicharge.

Untuk performa sih ga ada masalah. Multitasking lancar, gaming apalagi. Kalau untuk gaming, saya lebih suka pakai ZenUI daripada Android polosan. Paling ngga, fitur game genie ini bisa membantu menahan notifikasi agar tak menganggu, dan kalau mau rekam gameplay juga bisa. Sayang, saya tak sempat merekam detik-detik saat saya bisa chicken dinner saat last three dalam kondisi saya sendiri melawan 2 musuh, heuheu.

ASUS Zenfone 5 juga sudah mengusung fitur-fitur kekinian semisal face unlock, yang akurasi dan responnya sangat baik. Fingerprint scanner tegolong cepat, meskipun agak sedikit di bawah ekspektasi saya sih.

Penilaian untuk sektor audio, seingat saya ini lebih bagus dari Zenfone 5. Bagus bagi saya itu artinya, tanpa bluetooth speaker pun saya bisa hayu aja menyetel lagu-lagu dengan nikmat. Sok mangga dites dulu loudspeakernya nih. Oya, speakernya sudah stereo ya, alias suara juga keluar dari earpiece di atas layarnya.

Jadinya, untuk multimedia mah Zenfone 5z udah oke banget, dengan karakter layar yang lebih warm dibanding smartphone lain semisal Honor 9i yang kebetulan sempat saya bandingkan. Untuk tone warna layar sih di ZenUI ada pengaturannya koq, jadi bisa disesuaikan sendiri lah gimana selera aja yah.

Lanjut bahas kamera, performa kamera Zenfone 5z juga lebih stabil dari Zenfone 5 yang dulu saya nilai kadang bagus banget kadang biasa aja. Di Zenfone 5z, saya suka sekali dengan hasil-hasil fotonya. Jadinya momen liburan bersama keluarga di antara kesibukan membuat konten, bisa diabadikan dengan indah, ga nyesel lah pokoknya bawa Zenfone 5z pas liburan.

Di kondisi lowlights di suatu kafe yang masih diterangi lampu,  hasilnya juga kece. Namun lowlights di outdoor menurut saya kurang sedap karena sudah mulai muncul noise-noise halus.

Perekaman video cukup stabil berkat adanya si EUIS, hehe. Sestabil apa? Langsung saja disimak di deretan video yang direkam dengan Zenfone 5z ini, sekalian hasil fotonya juga sok mangga.



Pada bagian ini, saya akan membuat kesimpulan. Dan mungkin akan sedikit menyinggung Pocophone F1 lagi.

Serius, saya pikir netizen tidak usah ribut deh. Kedua smartphone ini sangat sedikit irisannya, yaitu di spesifikasi dapur pacunya saja.

Segmen market dan peruntukannya saya yakin berbeda.

Pocophone F1 menurut saya terlalu fokus pada performa puncak, utamanya untuk gaming ya, dengan baterai besarnya.

Nah Zenfone 5z ini bisa dibilang mempunyai keunggulan yang lebih merata, mulai dari aspek desain, lalu material yang digunakan, hingga kelengkapan fitur, semisal NFC. Untuk kamera juga menurut hemat saya Zenfone 5z lebih unggul, kecuali masalah resolusinya.

Utamanya sih soal budget ya yang jadi jurang pemisah dua ponsel yang sama-sama best value ini. Jadi kalau butuh gaming saja, dan budgetnya memang mepet, skip Zenfone 5z dan liriklah sang rival.

Namun jika budget Anda lebih longgar, perlu NFC, perlu juga tampilan menawan, dan kamera yang lebih bisa diandalkan, Zenfone 5z secara overall lebih baik. Tapi ini tidak menegasikan kelebihan-kelebihan pesaingnya ya. Ini wajib saya tegaskan, agar Indonesia tidak ribut melulu di media sosial ah.

Toh beli hape mah bebas, mau beli salah satu atau keduanya boleh. Mau ganti-ganti tiap bulan juga boleh, kalau ada duitnya mah. Hehe.

Yang pasti, jangan lupa follow Instagram @gontagantihape terus ya, karena saya lagi seriusin konten-konten di sana, dan kebetulan pas mulai serius, daily driver saya adalah Zenfone 5z, jadi mungkin Anda akan melihat beberapa foto indah yang pakai watermark ponsel ini terus hehe.

Yang sudah follow, saya doakan rejekinya dimudahkan agar tabungannya cepat cukup untuk meminang Zenfone 5z, dan juga semoga bisa mendapatkannya dengan mudah, di harga resminya.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Saturday, September 15, 2018

Review Vivo V11 Pro, Ketika Terobosan Vivo Membuatnya Makin Susah Dibully!



Pada ulasan kali ini saya akan menceritakan impresi saya terhadap produk smartphone terbaru yang baru saja dirilis, yaitu Vivo V11 Pro.

Namun, pastikan dulu Anda sudah menonton video unboxingnya di mana saya menyampaikan 11 informasi penting tentang Vivo V11 Pro ini, yang sebaiknya Anda ketahui terlebih dulu.



Jika melihat bentuknya sekilas saja, sepertinya tidak banyak perubahan pada desain dari Vivo V11 Pro ini jika dibandingkan pendahulunya.

Tapi jangan salah, begitu saya membaca spec sheet ponsel ini, saya membatalkan pembelian beberapa ponsel yang tadinya ingin saya coba lho. Mau tahu kenapa?

Alasannya karena semakin banyak perbaikan yang Vivo berikan pada Vivo V11 Pro ini.

Pertama adalah hadirnya dual-engine fast charging, yang membuat pengisian daya dapat berlangsung dengan cepat. Anda yang memiliki kepala charger yang support Qualcomm Quickcharge 3.0, dapat menggunakannya pada Vivo V11 Pro dengan hasil yang optimal.

Kedua adalah panel layar yang digunakan kini adalah Super AMOLED. Saya yakin banyak sekali penggemar panel layar yang dikenal berkarakter vivid ini. Dengan panel ini, Vivo V11 Pro bisa memiliki fitur always on display yang useful.

Dengan demikian, smartphone ini tak lagi membutuhkan LED Notifikasi sehingga daerah notch benar-benar hanya disisakan untuk kamera depannya saja. Kamera yang beresolusi 25 Megapixels ini saya yakin takkan membuat Anda terganggu, karena daerah notification panel masih tersisa sangat lebar.

Ketiga adalah imbas dari notch yang semakin mungil ini, daerah yang digunakan untuk layar menjadi semakin luas. Jadi, meskipun sekarang diagonal layarnya mencapai 6,4 inci, sejatinya dimensi ponsel ini masih ringkas, kurang lebih sama lah dengan smartphone lain yang berlayar 6 inci. Sejauh ini, Vivo V11 Pro ini adalah smartphone dengan rasio layar ke body paling tinggi yang pernah saya gunakan. Dan asli keren aja keliatannya kalau di tangan ada hape yang sisi depannya nyaris layar semua  seperti ini.

Keempat, coba balikkan smartphone ini deh. Pada backcover Vivo V11 Pro kini sudah hadir efek gradasi warna yang menawan. Bahkan pada varian starry black yang saya coba ini, efek percikan bintangnya jadi sesuatu yang berbeda, dan bisa memantulkan warna yang berbeda tergantung sudut pencahayaan. Saya yakin proses pembuatannya pasti rumit sehingga bisa semenarik ini. Dan saya juga senang menggenggam Vivo V11 Pro karena backcovernya ergonomis berkat lengkungan di kedua sisinya.

Sudah itu saja? Haha. Saya sengaja menyimpan bagian terbaiknya di akhir. Yap, Vivo V11 Pro adalah smartphone pertama yang resmi masuk ke Indonesia dengan fingerprint scanner yang berada di bawah layar, atau yang Vivo beri nama Screen Touch ID. Jadi konsep-konsep yang selama ini sering diperlihatkan oleh Vivo, pada akhirnya bisa hadir langsung juga.

Sempat khawatir dengan akurasi dan waktu responnya, Vivo V11 Pro sejauh ini nyaman-nyaman saja saya gunakan. Akurat dan juga responsif, tak ada perbedaan signifikan untuk masalah performanya jika dibandingkan dengan fingerprint reader konvensional, namun jelas-jelas menghemat space dan juga semakin membuat ponsel ini terlihat slick.

Sebagai tambahan, face unlock juga hadir dengan performa yang lagi-lagi mengagumkan juga. Jika kita teliti baik pada ruang sempit di antara layar dan earpiece, di situ ada pemancar infrared yang bertugas membantu agar pemindaian wajah dapat dilakukan dengan cepat, di berbagai kondisi, termasuk di ruangan dengan cahaya redup.

Saya tahu, sudah pada nungguin pembahasan kamera kan? Heuheu.

Okay, saya akan berikan fakta yang belum saya sebut di video unboxing. Yaitu tentang bukaan lensanya.

Untuk kamera depan yang beresolusi 25 Megapixels, bukaan lensanya sebesar F/2.0. Sementara kamera belakang gandanya yang beresolusi 12 dan 5 Megapixels, memiliki aperture masing-masing sebesa F/1.8 dan F/2.4.

Pantas saja ketika pada suatu tengah malam saya mencoba berfoto, hasilnya bisa tetap terlihat jelas dan baik. Ternyata bukaan lensanya lebar. Tapi tak hanya itu, kamera belakang Vivo V11 Pro menganut sistem dual pixel yang memang membantu performa lowlights, dan juga auto focus yang cepat.

Sisanya adalah AI! Yap, fitur AI pada Vivo V11 Pro makin kentara hadir, dan sangat membantu, terutama pada kondisi-kondisi khusus, semisal saat berfoto menghadap sumber cahaya, Backlight HDR akan langsung menyala. Dan sejauh ini, inilah fitur AI yang paling sering membantu saya. Heuheu.

Walau sebetulnya banyak sekali kegunaan dari fitur AI yang dimiliki oleh smartphone ini, semisal membantu agar foto kuliner lebih stand out, foto selfie lebih dramatis dengan latar yang blur, atau sekedar have fun dengan funmoji yang dimiliki Vivo V11 Pro. Ada mode kumis lho, jadi cowok juga bisa lucu-lucuan nih! Hahaha.

Jika Anda bertanya ikon warna-warni apakah yang muncul dekat tombol shutter cameranya, itu adalah Google Lens yang membuat kamera Anda menjadi mesin pencari, semisal saat Anda ingin tahu di mana bisa membeli sepatu yang sama dengan yang dipakai oleh teman Anda, hehehe.

Silakan dilihat hasil foto dan video dari Vivo V11 Pro ini, termasuk hasil video slow-motion-nya ya!



Masuk ke sisi performa, saya bisa mengandalkan Vivo V11 Pro yang kombinasi dapur pacunya sebetulnya sudah teruji di pendahulunya. Processor Qualcomm SNapdragon 660 dengan AI Engine masih sangat mumpuni untuk mentenagai berbagai kegiatan saya sehari-hari.

Dibantu dengan RAM sebesar 6 GB, multitasking hingga bermain game kesukaan bisa saya nikmati dengan mudah.

Agak disayangkan memang pada FunTouch OS ini tidak terdapat yang menunjukkan durasi pemakaian baterai, namun ketika saya bawa Vivo V11 Pro ini dalam perjalanan, di mana tidak ada koneksi Wi-Fi, dan sebentar-sebentar saya selalu mengecek ponsel, smartphone ini mampu bertahan menembus 24 jam, yang artinya cukup banget buat saya.

Apalagi kalau saya sedang stay di kantor dan terhubung ke wifi, bisa lebih lama lagi daya tahan bateraiya. Sementara kalau diselingi bermain game cukup lama, kira-kira bisa lah bertahan dari pagi hingga sore atau malam.

Nah untuk game ini, FunTouch OS menurut saya memberikan experience yang baik dengan adanya game mode yang membantu agar gameplay kita tidak terganggu oleh notifikasi yang masuk.

Jika Anda termasuk orang yang mengandalkan Personal Assistant pada smartphone, Vivo memberikan alternatif dengan hadirnya Jovi berdampingan dengan Google Assistant. Jovi AI Assistant besutan Vivo ini sendiri akan terus mempelajari pola pemakaian Anda sehingga semakin hari semakin paham kebiasaan dan kebutuhan Anda.

Sejujurnya saya sih jarang pakai Personal Assistant seperti ini, heuheu.

Bagus-bagus semua ya impresinya heuheu, ya memang seperti itu yang saya rasakan saat menggunakan Vivo V11 Pro ini. Bukan berarti tidak ada pengembangan yang bisa dilakukan Vivo untuk produk selanjutnya lho.

Menurut saya, pasti akan lebih membuat orang tertarik lagi jika produk selanjutnya sudah memiliki NFC dan juga USB Type-C port. Hal ini mengingat arah pembayaran cashless di Indonesia sudah semakin matang, di mana NFC akan sangat membantu, sementara USB Type-C akan membuat data transfer makin cepat, walau menurut saya pula hal ini tidak terlalu mendesak, karena sekarang jamannya orang transfer data via cloud, bukan pakai kabel data lagi.  Toh fast charging sudah hadir di Vivo V11 Pro ini.

Nah tinggal soal harga nih, ketika saya menulis naskah video ini, saya belum tahu harga resmi Vivo V11 ini di angka berapa. Menilik harga produk pendahulunya dan melihat berbagai perbaikan yang diberikan, besar kemungkinan harganya menyentuh kepala 5 juta. Dan menurut saya, seandainya benar harganya di kisaran 5-jutaan, masih worth the money lah Vivo V11 Pro ini.

Dengan highlight di performa kamera yang mantap, dapur pacu yang juga bisa diandalkan, desain menarik hati dan jangan lupa panel layar dan screen touch ID-nya yang tergolong barang mewah ini.

Semoga tak berhenti di sini ya, semoga Vivo terus membawa terobosan baru pada produk-produk smartphone yang dirilis resmi di Indonesia ini.

Demikian impresi saya terhadap Vivo V11 Pro ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, August 9, 2018

Review Honor 10, The Perfect 10?



Another Dream Come True, ya Honor 10 adalah smartphone yang sudah saya tunggu-tunggu untuk diunbox dan direview.

Tapi kali ini ada yang berbeda, karena sekarang sudah hadir resmi di Indonesia melalui kerjasama Honor Global dan Icool International Indonesia.

Anda bisa mendapatkan smartphone kece yang satu ini di harga 7 juta kurang seribu Rupiah. Atau kalau ngga mau rugi, bisa ikut pre-ordernya supaya dapat voucher diskon 500rb + bluetooth earphone yang kurang lebih harganya 500-600 ribuan itu.

Ya, dengan jalan pre-order maka harganya bisa mirip dengan harga jual Honor 10 ini di negeri tetangga, namun dengan jaminan garansi lokal.



Sisi yang paling menarik dibahas dari ponsel ini pastinya ada di sisi belakang alias backcovernya. Buat yang belum pernah mencoba seri flagship-nya Honor sebelumnya, bisa jadi ini adalah hal yang baru ya. Refleksi cantik berkat proses produksi khusus untuk menghasilkan lapisan-lapisan yang menimbulkan efek optik menawan ini sejatinya sudah hadir koq di Honor 8 maupun Honor 9.

Bedanya, pada varian warna Phantom Green dan Phantom Blue keindahan ini makin nyata berkat gradasi warnanya yang saya yakini tak lama lagi akan banyak diikuti oleh ponsel lain.

Yang saya pakai dalam video ini sih warna Glacier Grey, yang lebih terlihat seperti warna silver yang condong ke biru langit.

Perbedaan dari Honor 9 sebetulnya tak terlalu mencolok terlihat, kecuali ketika layarnya dinyalakan. Ya, Honor 10 sudah hadir dengan layar yang lebih kekinian, dengan rasio memanjang 19:9 dan notch di atasnya.

Pada notch ini, Honor masih bisa menempatkan kamera depan dengan resolusi besar di 24 Megapixels, lalu ada earpiece, dan proximity serta ambience sensor. LED notifikasi turut hadir, ukurannya kecil saja, dan posisinya di pojok kiri atas dari notch ini. Seperti biasa, notch ini bisa disamarkan dengan menjadikan kedua pojok layar ini menjadi hitam. Memang dengan panel IPS ini, warna hitamnya tak bisa terlalu pekat sehingga masih terlihat cukup berbeda.

Yang sangat saya apresiasi dari layar Honor 10 ini adalah kemampuannya untuk tetap terlihat dengan kontras yang baik, meskipun di bawah terik sinar matahari. Sementara dimensinya yang cukup compact di 5,84 inci saja, menurut saya sangat enak ketika digenggam maupun dimasukkan ke dalam saku celana. Walau untuk gaming, rasa-rasanya lebih besar lebih nyaman ya.

Honor 10 pun masih memiliki infrared blaster di sisi atas, serta port audio 3,5 mm di sisi bawah. Dua kelengkapan yang masih saya butuhkan untuk hadir di smartphone yang saya gunakan sehari-hari.

Di sisi bawahnya, ada loudspeaker yang tak kalah baiknya dengan milik Honor 9 dulu. Yap, saya masih sangat bisa menikmati lantunan musik kala didendangkan melalui loudspeaker ini. Jika tak butuh power berlebih sih, saya rasanya tak perlu pakai bluetooth speaker deh. Mau dengar suaranya? Boleh, nih saya putarkan sedikit lagu ya.

Untuk sektor multimedia ini, Honor 10 nampaknya memang akan bisa memuaskan penggunanya. Dan hal ini termasuk kameranya yang punya kualitas di atas rata-rata. Hasil foto kameranya tergolong baik dan tajam, namun memang nada warnanya terlalu vivid, atau terlalu gonjreng buat sebagian orang. Dan ini tak cuma berlaku di foto, hasil videonya pun sama.

Lowlights masih bisa menghasilkan gambar yang baik, walau tone warnanya jadi agak pucat.

Performa dalam pengambilan gambar maupun perekaman video sih tidak ada masalah, karena jeroannya sudah mumpuni banget. Fitur AI juga hadir, di mana kamera dari Honor 10 ini akan menawarkan settingan yang sudah dioptimasi untuk kondisi-kondisi tertentu yang dikenalinya. Asyiknya adalah, jika fitur AI ini dinyalalkan, Honor 10 akan menyimpan dua buah gambar, yang satu adalah gambar yang sudah diproses dengan algoritma AI miliknya, dan satu lagi adalah gambar asli yang belum disentuh. Jadinya nanti kita bisa pilih setelah gambar diambil ya.

Hal yang sama berlaku juga untuk foto bokeh yang diambil menggunakan mode wide aperture. Setelah gambar diambil, kita masih bisa mengatur posisi fokus maupun kadar blur pada bagian yang tak mendapat fokus.

Berbagai mode kamera hadir dengan lengkap pada Honor 10 ini, termasuk mode manual yang sangat lengkap, lalu ada AR Lens, dan tak lupa slow motion yang bisa merekam video dengan perlambatan 16x atau tepatnya pada 480 fps. Satu hal lagi yang saya dapatkan setelah update system terakhir adalah handheld night shoot mode, yaitu mode pengambilan gambar pada kondisi cahaya redup yang memungkinkan kita mengambil gambar yang tetap terang dengan memperlambat shutterspeed, namun bisa dilakukan dengan stabil tanpa menggunakan tripod.

Bagi Anda yang belum tahu, kamera utama Honor 10 ini beresolusi 16 Megapixels, yang dibantu kamera kedua yang bersensor monokrom dengan resolusi lebih tajam di 24 Megapixels. Dua-duanya memiliki bukaan lensa yang lebar di f/1.8. Jika Anda mau tahu kenapa hasil gambarnya gonjreng, ya ini dia alasannya, perpaduan kamera RGB dan Black and White. Mantap!

Silakan disimak hasil foto dan video dari Honor 10 ini, dan setelah ini kita akan bahas apa lagi yang dibawa oleh system update yang baru saya dapat 3 hari setelah Honor 10 ini rilis resmi di Indonesia.



Yap, seperti janji saya tadi, saya akan bahas ada apa sih sebetulnya pada system update terakhir yang diterima oleh Honor 10.

GPU Turbo, apakah Anda pernah mendengar atau membaca istilah ini?
Jadi ini adalah optimasi yang diberikan Huawei dan Honor, sejauh ini yang saya tahu baru ada di processor HiSilicon Kirin 970 dan 710, untuk meningkatkan performa GPU-nya sekitar 60%, namun dengan konsumsi daya yang lebih rendah sekitar 30%. Terdengar menggiurkan ya!

Namun pada prakteknya, fitur ini masih terbatas pada penggunaan aplikasi tertentu. Semisal untuk gaming, yang sudah support di Honor 10 saat ini adalah Mobile Legends, dan juga PUBG.

Wow PUBG! Atuh serasa pucuk di cinta, Yuriva pun tiba ini mah haha. Kebetulan sejak bulan puasa kemarin, Aa senang bermain PUBG. Dan sebelum ada update GPU Turbo inpun saya sudah maen PUBG di Honor 10, dan so far lancar-lancar saja dengan setting grafis mentok kanan.

Yang saya sasar sih lebih ke soal penghematan dayanya. Ya, karena dengan pemakaian gaming sekitar 1 jam sehari dan total screen-on time hingga 4 jam, Honor 10 baru mampu bertahan dari pagi hingga malam saja. Jika mau bertahan selama 24 jam, baru bisa tercapai saat saya sibuk di kantor, jarang buka hape, dan dibantu oleh koneksi wi-fi kantor.

Setelah update GPU Turbo ini, terasa ada perbaikan yang mana membuat saya happy pastinya. Karena update ini juga berimbas ke performa kamera yang lebih baik lagi.

Soal performanya Honor 10 sih tak usah diragukan, jeroannya kira-kira sama dengan Honor View 10 maupun Huawei P20 atau P20 Pro. Skor Antutu-nya 200-ribuan, dan sudah lebih dari cukup supaya kepake sama saya.

Perbaikan yang bisa dilakukan lebih ke daya tahan baterai, yang mana sebetulnya adalah konsekuensi dari size smartphone ini yang compact, sehingga kapasitas baterainya ada di 3.400 mAh. Selain itu paling fingerprint scanner-nya yang underglass, walau secara estetika memang lebih indah, namun dalam prakteknya kadang membuat saya kurang pas dalam meletakkan jempol saat hendak membuka kunci layar.

Sisanya sih TOP banget lah Honor 10. salut buat Honor yang berani langsung memasukkan flagship mereka ke Indonesia. Dan harganya itu lho, tergolong murah untuk kelas flagship mah ya.

Asli racun, untung saya punya satu. Jadi ga cuma mupeng doang, heuheu.

Demikian cerita saya kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, August 3, 2018

Review ASUS Zenfone 5Q, JAUH Lebih Baik dari Zenfone 4 Selfie series!



Ini adalah varian lite dari Zenfone 5 series yang di Indonesia dijual dengan nama Zenfone 5Q dengan harga resmi di angka 3,5 juta Rupiah.

Dan smartphone ini, terasa lebih sayup ya gaungnya di kancah persaingan smartphone terkini. Apa mungkin karena dijual dengan cara tradisional seperti smartphone ASUS tahun lalu?

Tradisional bagaimana? Iya, ASUS sebelum punya produk-produk yang dibilang netijen sebagai produk ghoib, biasanya sudah mendistribusikan smartphone-nya ke pasaran terlebih dahulu sebelum mulai berpromosi. Dan biasanya dijual oleh pedagang online dengan selisih harga yang lumayan lebih rendah dari harga resminya. Plus, ngga rebutan, jadi ngga ghoib.

Zenfone 5Q juga begitu, meskipun sebetulnya dirilis berbarengan dengan Zenfone Max Pro M1, namun produknya memang baru tersedia belakangan ini. Tapi stoknya langsung lancar lho, dan saya temukan banyak penjual yang sudah berani memasang di bawah 3,4 jutaan.

Apa produknya tidak menarik ya? Ah ngga koq, malah sebetulnya Zenfone 5Q ini punya diferensiasi yang cukup jelas, dan seharusnya membuat Anda tergiur deh. Mari kita mulai bahas smartphone ini ya.

Saya pertama kali memegang ponsel ini di experience area pada acara launching-nya. Sempat mencoba-coba sebentar, material glass pada backcovernya berhasil membuat saya berujar bahwa saya harus punya satu nantinya.

Sampai saat ponsel ini tersedia di pasaran, saya masih menahan hasrat karena yang dijual baru varian warna hitam. Ya, saya menunggu warna putihnya, mengingat warna hitam dan material kaca itu artinya auto-kumal, alias mudah kotor oleh bekas minyak dari jari kita.

Namun lama ditunggu tak kunjung tiba juga si putih, heuheu, ya sudah go on saja dengan yang hitam deh. Hitamnya ini sepintas agak kebiruan, mengingatkan pada ASUS Zenfone 3 banget. Dan memang seperti ada nostalgia dengan Zenfone 3 sih saat saya menggenggamnya.



Frame metal di sekeliling bodynya dibuat membulat, membantu untuk masalah ergonomics-nya. Namun sayang tepian frame yang bersentuhan dengan kaca depan maupun belakang, sedikit terasa agak tajam, padahal kaca-kaca ini sudah memiliki tepian agak melengkung, yang rasanya jadi percuma.

Bobot smartphone ini sangat membantu memberi kesan solid. Ya memang, glass + metal + glass pasti menghasilkan berat di atas rata-rata.

Cantik? Cantik atuh, meskipun backcover kacanya polos saja tanpa pattern seperti yang dimiliki Zenfone 5 ya.

Apa yang terasa kurang dari masalah looks ponsel ini? Hampir tak ada sebetulnya, hanya saja port micro-USB itu akan lebih indah jika diganti oleh USB Type-C ya heuheu.

Bukan masalah besar memang, tapi seandainya sudah USB Type-C, rasanya lengkap banget deh. Ponsel 3,5 jutaan sudah punya NFC, kameranya ada 4, dengan RAM 4 GB dan storage 64 GB plus triple-card slot, masa iya ga bikin tertarik?

Layarnya sendiri sudah kekinian, alias punya rasio 18:9 serta resolusi Full HD+ yang sudah cukup banget untuk dimensinya yang 6 inci. Panel IPS-nya memiliki reproduksi warna yang cukup baik, walau vibrancy-nya pastinya masih di bawah layar AMOLED dari ponsel utama saya.

Lanjut ke dapur pacu, Zenfone 5Q ini ditenagai oleh processor Qualcomm Snapdragon 630 yang baru pertama kali ini saya coba. Bukan processor baru sebetulnya, namun memang terbilang jarang yang menggunakannya, karena kebanyakan pabrikan smartphone di tanah air lebih memilih stay di Snapdragon 625.

Sepenilaian saya, Snapdragon 630 ini memiliki kemiripan karakter dengan 625 di mana sama-sama memiliki konsumsi daya yang hemat, namun terasa bahwa 630 punya kemampuan processing yang lebih kuat.

Dipakai bermain PUBG, recommended setting default buat grafiknya ada di low. Saat saya naikkan sedikit ke HD masih bisa bermain dengan lancar. Walau memang terasa agak sedikit ngos-ngosan tiap layar saya swipe buat melihat ke sekitar untuk mencari senjata yang tercecer.

Sekitar 40 menit bermain, rasa hangat muncul di backcover bagian kiri atas, tidak sampai panas berlebih sih, ngga tahu kalau dimainkan sampai berjam-jam ya. Saya sih ngga kuat main game berlama-lama. Oh ya kalau sedang main terus terasa ada yang hangat di celana, silakan dicek, jangan-jangan kamu ngompol itu mah, heuheu.

Nah untuk masalah keawetan baterai, kebetulan selama masa uji Zenfone 5Q ini saya sedang dibebastugaskan dari pekerjaan oleh dokter yang memeriksa, jadi saya punya cukup banyak waktu bersamanya. Bersama Zenfone 5Q ya, bukan bersama dokter tadi, aki-aki soalnya dokternya, hehe.

Jadi ngelantur, hayu ah bahas baterai. Dengan pemakaian intens yang berakibat screen-on-time menembus 6 jam, Zenfone 5Q rata-rata mampu bertahan 18 jam alias dari bangun pagi sampai saat mau beranjak tidur lagi. Catat ya, biasanya screen-on-time saya sehari hanya 3-4 jam saja.

Saat saya masuk kerja kembali, dan dibantu dengan wi-fi kantor sekitar 4 jam, Zenfone 5Q berhasil bertahan menembus 1 x 24 jam, dengan screen-on time yang masih cukup besar di 5 jam. Untuk ukuran pemakaian intens seperti itu sih awet lah ya.

Lalu bagaimana dengan empat kameranya? Gimana ya bilangnya heuheu. Di atas kertas, kamera Zenfone 5Q ini mentereng banget, dengan resolusi besar-besar. 20 Megapixels untuk sensor pada lensa selfie utama, dan 16 Megapixels untuk sensor pada lensa utama yang berada di belakang. Keduanya sama-sama dipasangkan dengan lensa wide dengan resolusi sensor 8 Megapixels. Portrait mode pun tersedia untuk kamera depan maupun belakang.

Mentereng bukan? Tambahkan fakta bahwa untuk perekaman video juga sudah ada EIS, serta mampu merekam hingga resolusi 4K di 30 fps, dan Full HD di 1060 fps. Jangan lupa juga bahwa sensor kamera depannya sudah menggunakan Sony IMX 376.

Performanya sih bagus, autofocus dan metering berjalan dengan baik, hingga pengaturan manual pun hadir lengkap.

Namun saya merasa bahwa Zenfone 5Q kurang dapat diandalkan di kondisi lowlights. Pada kondisi indoor, settingan auto nampaknya membuat shutterspeed melambat, karena jadinya goyang sedikit saja gampang banget blur. Ya, kalau cahaya kurang, nampaknya tangan yang steady jadi kunci agar hasil foto bisa bagus. Pun soal noise yang tak sungkan hadir, padahal ngga bawa undangan. Adu duh... Heuheu.

Walau demikian saya anggap masih wajar soal kamera ini, mau tak mau memang takkan bisa selevel dengan Zenfone 5 lah, apalagi ini punya lensa lebih banyak.

Hasil foto dan video terbaik yang bisa saya ambil dengan ponsel ini, dapat Anda simak berikut ini.



Masuk ke kesimpulan, bagi saya nampaknya Zenfone 5Q ini digadang-gadang ASUS untuk meneruskan seri Zenfone 4 Selfie yang memiliki kamera depan ganda dengan resolusi besar.

Jika melihat harga awal Zenfone 4 Selfie Pro di 5 juta, dan Zenfone 4 Selfie di 3,5 juta lalu dibandingkan spesifikasinya, saya rasa saya tak bisa komplain soal Zenfone 5Q ini. Jelas sudah banyak perbaikan yang ASUS berikan ya.

Harga sama dengan Zenfone 4 Selfie di awal rilis, namun spesifikasinya bahkan di atas Zenfone 4 Selfie Pro lho. Sudah ada NFC pula, dan material yang premium wajib Anda perhitungkan.

Tersisa satu pertanyaan dalam benak saya, kenapa Zenfone 5Q dijual dengan kondisi masih ber-OS-kan Nougat? Kalah atuh sama Zenfone Max Pro M1, bahkan sama Zenfone Live L1 heuheu.

Ngga khawatir sih, ASUS mah rajin kalau update software, cuma mbok ya disegerakan toh. Biar makin naik lagi value dari Zenfone 5Q yang rasa-rasanya sudah super lengkap untuk smartphone 3-jutaan ini ya.

Sip, itu saja yang bisa saya simpulkan untuk ASUS Zenfone 5Q ini, semoga membantu Anda yang sedang mencari informasi tentang smartphone yang satu ini.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!