Gadget Promotions

Thursday, December 27, 2018

Review ASUS Zenfone Max Pro M2 ZB631KL, Formula Yang Tepat!



ASUS nampaknya sudah menemukan formula yang tepat tentang produk apa yang harus dijual di Indonesia, dan bagaimana cara menjualnya.

Ya, Indonesia adalah pasa penting untuk masalah smartphone, dan nampaknya ASUS tak ingin kehilangan bagian kue miliknya di sini.

Maksud saya, lihat bagaimana dulu seri Zenfone 4 tidak terlalu bersinar di sini, karena fokusnya ke selfie.

Dan sejak Zenfone Max Pro M1, ketika ASUS membuat produk dengan spec to price comparison yang memikat, tinggal menunggu waktu saja untuk brand ini merangsek ke posisi klasemen bagian atas liga smartphone Indonesia, hehe.

Ya, sejak M1, diikuti Zenfone 5 dan 5z, ASUS terus mendapatkan highlight positif, termasuk dari saya. Okelah, Zenfone 5Q agak membingungkan, tapi coba Anda tengok apa yang ASUS tawarkan di penutup 2018 ini, Zenfone Max Pro M2!

Memang, jedanya tak sampai satu tahun ya dari M1 dulu.



Tapi nampaknya ASUS tak membunuh M1 dengan upgrade yang diberikan. Level harganya sedikit di atas M1 dulu. Kalau sekarang sih segmentasinya sudah jelas karena M1 turun harganya.

Upgrade yang saya maksud akan saya buatkan dalam daftar ya.

1. Processor. 
ASUS memilih untuk upgrade ke Snapdragon 660 yang makin sejalan dengan genre gaming yang digembor-gemborkannya. Walau sebetulnya bukan processor baru, namun performanya semakin baik itu tentu.

2. Kamera. 
ASUS memilih sensor dari Sony untuk kameranya, dengan tambahan 3-axis gyro EIS. Soal stabilisasi video nanti dinilai langsung saja ya. Untuk hasil foto sih jelas terasa ada peningkatan dari M1 dulu. Lowlights meningkat cukup tajam, dengan catatan tangan harus sestabil mungkin, karena pada beberapa kondisi dia secara otomatis memperlambat rana, sehingga kalau goyang ya hasilnya blur.

Selfie-nya OK, tidak ada kamera jahat di sini, alias hasilnya natural ya.

Bokeh-nya mantap. Walau seingat saya M1 terakhir-terakhir setelah update juga bagus begini. Ya kalau tak suka hasilnya terlalu dramatis, jangan terlalu full ngatur aperture-nya ya. Yang pasti algoritmanya bekerja dengan baik membedakan tepian yang mendapat fokus dan yang blur.

Sudah masuk kategori kepake banget sih ini kameranya, dan silakan buktikan penilaian saya ini di deretan foto dan video berikut ini.



3. Layar.
ASUS memilih ikutan trend poni pada layar IPS 6,3 inci beresolusi Full HD+ ini. Di pojok kiri dan kanan atas masih cukup buat ikon notifikasi dan indikator, jadi ga masalah buat saya. Bezel kiri kanan tipis, atas cukup tipis, dan bawah agak tebal. Buat hape di harga segini yang mengedepankan jeroan bagus sih bisa dimaklum ya.

Yang istimewa, Zenfone Max Pro M2 ini sudah menggunakan Gorilla Glass 6. Kalau lihat di temen-temen yang lain sih sebetulnya sudah ada yg tergores saat disakuin. Jadi kalau mau lebih aman, monggo cari perlindungan ekstra ya.

4. Body.
ASUS juga memilih ikutan trend body glossy. Nambah cakep jadinya. Walau dengan pemilihan material polikarbonat mungkin membuat sebagian orang jadi kurang sreg. Saya pun lebih suka jika materialnya glass alias kaca ya, tapi saya tahu ini tak bisa diprotes mengingat production cost pasti sudah tersedot untuk poin nomor 1 dan 2 tadi.

Takut gores, ya pakai casing. Kan di kotak penjualannya sudah dikasih.

Saya ngga tahu apakah kualitas speakernya bisa dibilang upgrade atau tidak. Namun outputnya cukup lantang dan jernih. Saya persilakan saja Anda yang menilai ya pada video review-nya, soalnya beberapa bulan belakangan saya akrab dengan beberapa flagship yang audionya kece-kece, jadi standarnya mungkin agak beda.

Untuk performa, Snapdragon 660 sudah pada bisa nebak sepertinya ya levelnya. Skor Antutunya sedikit di bawah 130-ribuan, dan bagi saya buat maen PUBG sudah enak dan cukup banget. Smooth lah.

Baterainya masih 5.000 mAh, yang sama sih seperti M1 dulu, ga bisa dibilang hemat-hemat banget. Apalagi sekarang pakai Snapdragon 660 yang memang performanya lebih tinggi dari 636, efeknya konsumsi daya pun lebih beringas.

Rata-rata pemakaian saya M2 ini bertahan selama 30 jam ya dari baterai 100 ke 10%. SoT rata-rata di atas 6 jam, baik dengan gaming atau tidak. Yang pasti selalu dipakai secara intens.

Jangan dibandingkan dengan custom UI merk lain, maaf. M2 ini pakai stock Android yang notifnya realtime terus, yang konsekuensinya memang konsumsi daya lebih tinggi.

Yang jadi ganjelan sih masih soal pengsian daya yang terasa lama. Di atas 3 jam rasa-rasanya. Akhirnya saya selalu tinggal ngecas saat tidur. Quickcharge sepertinya tidak dibuka di ponsel ini, mungkin untuk menekan biaya.

Satu ganjelan lain, kadang saya temukan kamera ngehang walau frekuensinya jarang. Tapi yakin sih ini nanti beresnya kalau ada update software.

Overall, ASUS Zenfone Max Pro M2 ini dengan mudah masuk ke kategori best value di 2018 dan mungkin hingga semester pertama 2019 nanti. Saingannya ketat, sekarang pada berlomba-lomba mengisi segmen ini euy brand smartphone di Indonesia.

Jadi pintar-pintar memilih dan menyesuaikan dengan kebutuhan pribadi masing-masing ya.

Saya sih merekomendasikan smartphone ini untuk dimiliki, apalagi kabarnya M2 ini anti ghoib ghoib club.

Hanya, sebelum memutuskan, pastikan sudah menyimak baik-baik poin-poin yang saya sebutkan tadi ya, baik yang sifatnya upgrade, maupun ganjelan yang saya rasakan.

Tapi overall, good job lah ASUS. Jangan berhenti di sini, terus sempurnakan formulanya ya.

Sun jauh dari Cimahi, hehehe.

Wassalamualaikum.

Friday, December 21, 2018

Review Realme U1, Realme dengan Kamera Terbaik Sejauh Ini



Anda yang sudah menonton review Realme 2 Pro di channel ini, pasti akan merasa familiar dengan produk terbaru dari Realme, yaitu Realme U1.

Ya, sekilas tidak ada perbedaan pada penampilan kedua smartphone ini. Untung saya bisa dapat Realme U1 berwarna fiery gold, satu varian warna yang tak dimiliki Realme 2 Pro. Warna gold-nya sih terlihat kece dan juga keren, menurut saya masih masuk untuk digunakan cowo, terlebih sisi depannya masih berwarna hitam ya.

Realme nampaknya ingin menegaskan bahwa dewdrop notch jadi ciri khas smartphone besutan mereka. Pun dengan backcover glossy yang pastinya membuat kesan mewah smartphone ini lebih terasa.

Lalu, selain warna, apa dong bedanya Realme U1 ini? Sebetulnya jika disimak baik-baik, Realme U1 hadir dengan bezel yang semakin tipis, dan backcovernya disebut memiliki 13 lapis atom level mikro yang selain tampil menawan, juga nyaman digenggam dan lebih tahan goresan.

Layarnya kini sudah memiliki screen to body ratio yang mencapai 90,8%. Dengan panel IPS  dan kerapatan mencapai 409 ppi, ponsel ini nampaknya sangat siap untuk jadi ponsel multimedia. Plus, proteksi Gorilla Glass 3 hadir juga.

Lalu jika kita melihat spec sheetnya, setidaknya ada 2 hal mendasar yang jadi diferensiasi Realme U1 dari produk sebelumnya, yaitu SoC dan konfigurasi kamera.

Kita mulai bahasan kamera dulu ya. Realme U1 masih memiliki jumlah kamera yang sama, dua di belakang, dan satu di depan. Yang membedakan adalah spesifikasi teknis hardware kamera yang digunakan.

Kali ini, Realme menyematkan kamera selfie beresolusi super besar, yaitu 25 Megapixels yang memakai sensor Sony IMX576 serta bukaan lensa f/2.0. Di atas kertas, ini adalah jaminan mutu ya, namun saya sarankan lihat dulu hasil foto selfie saya berikut ini deh.



Bagaimana? Selfienya keren kan segini? AI yang ada pada ColorOS 5.2 nampaknya semakin bagus performanya di Realme U1 ini. Selfie bokeh pun tergolong rapi, dan mode super vivid juga tersedia. Dan saya juga senang dengan hasil selfienya di saat kondisi lowlights yang tetap jernih dan minim noise. Satu lagi, walaupun mode beautification menyala, kemampuan AI-nya mendeteksi gender membuat hasilnya tidak berlebihan bagi saya yang cowok ini.

Beralih ke kamera belakang, Realme U1 dibekali dua kamera. Yang pertama adalah kamera utama dengan lensa f/2.2 dan sensor 13 Megapixels. Sementara yang kedua adalah lensa depth sensor 2 Megapixels, dengan bukaan f/2.4.

Dan bagi saya, ini adalah smartphone Realme dengan kamera terbaik sejauh ini. HDR-nya bekerja dengan baik, membuat exposure tersebar secara baik, dan hasilnya sangat bisa dinikmati. Anda yang senang dengan warna-warna yang lebih hidup, bisa memanfaatkan super vivid mode untuk hasil foto yang lebih vibrant.

Dan di lowlights, lagi-lagi kameranya mampu menampilkan performa menawan, di mana hasil foto tetap terlihat minim noise.

Sementara untuk perekaman video, bisa dilakukan pada resolusi maksimal Full HD. Asyiknya, mode super vivid juga hadir pada video, hanya saja resolusinya maksimal di HD 720p. Framerate videonya sudah cukup untuk membuat hasilnya nampak halus, tak patah-patah. Sehingga meskipun stabilisasinya tak terlalu terasa, hasilnya masih enjoyable.

Fitur kameranya cukup lengkap, termasuk mode manual alias professional yang lengkap, lalu juga adanya slow-motion mode di 240fps ya. Untuk pengaturan optimal di berbagai kondisi, AI scene recognition juga ada.

Jika ada yang bisa sedikit saya beri feedback, masalah pengaturan kamera yang harus masuk dari menu setting system apps, harusnya bisa diberi akses langsung dari aplikasi kamera ini.

Lanjut ke masalah SoC, Realme U1 adalah smartphone pertama di dunia yang menggunakan chipset MediaTek Helio P70. Processor ini bersanding dengan GPU Mali-G72 yang performanya diklaim lebih efisien sekitar 13% dibanding Helio P60.

Apa artinya? Artinya adalah konsumsi daya yang lebih hemat dari smartphone yang menggunakan Helio P60. Dengan baterai 3.500 mAh yang dimilikinya, Realme U1 mampu bertahan hingga 40 jam dengan pemakaian cukup intens untuk social media, messaging, camera, dan sedikit gaming.

Dan untuk gaming, Realme U1 menurut saya sangat mampu mengimbangi performa Realme 2 Pro, di mana saat bermain PUBG, setting maksimal untuk graphic ada pada HD, dengan framerate High.

Bermain PUBG selama setengah jam hanya membuat ponsel ini sedikit saja menghangat, dan yang pasti saya mainnya enjoy karena gameplaynya lancar sekali.

Buat yang penasaran dengan skor Antutu Benchmark, Realme U1 punya skor menembus 130-ribuan lho. Jadi saya harap tidak ada lagi yang menggeneralisir bahwa Mediatek itu jelek ya.

Faktanya, sejak Helio P60 lalu, performanya sudah sangat baik, dengan konsumsi daya yang juga hemat dan tak mudah panas juga berkat fabrikasinya yang sudah 12nm. Dan Helio P70 pada Realme U1 ini semakin mematahkan stigma bahwa Mediatek itu tak sebagus Snapdragon.

Yup, penggunaan Helio P70 ini juga memungkinkan kedua nomor mengakses jaringan 4G secara bersamaan, termasuk untuk VoLTE-nya lho. Mantap bukan?

Masih ingat tidak keluhan saya tentang ColorOS? Rupanya, perbaikan pada ColorOS 5.2 ini sudah mencakup beberapa hal yang dulu saya jadikan feedback. Ya, untuk menghilangkan notification item, baik itu yang berupa toast ataupun yang muncul pada notification drawer, kini cukup di-swipe ke samping sekali saja.

Sementara fitur favorit saya dari ColorOS ini adalah smart sidebar yang membuat kita dapat mengakses aplikasi lain yang sudah kita atur, saat layar sedang menampilkan suatu aplikasi yang fullscreen.

Sidebar ini juga punya fitur lebih banyak lagi saat kita bermain game. Intinya, game makin bisa dinikmati tanpa interupsi, dan fitur-fitur tambahan bisa kita akses dengan mudah, misalkan saat kita hendak merekam gameplay kita.

Kamera ok, performa ok, UX makin enak, lalu bagaimana dengan security? Kalau yang dimaksud adalah performa fingerprint dan face unlocknya, ini mah jangan khawatir lah. Fingerprint-nya cepat dan akurat, sementara face unlocknya juga tak kalah baiknya, plus mampu bekerja dengan baik juga di kondisi redup cahaya.

Saran saya bagi Realme ke depannya, mungkin ada baiknya mulai memikirkan cara untuk menempatkan LED Notification, agar smartphonenya tak hanya terlihat indah, namun juga informatif bagi penggunanya. Jadi saat lama ditinggal di atas meja, kita bisa tahu apakah ada pesan penting atau tidak yang hinggap di ponsel ini.

Dengan harga segini sih seperti biasa Realme selalu menawarkan value for money ya. Walau belum dilengkapi fitur fast charging, bagi saya mengisi daya selama 2 jam sih masih ok. Overall performanya sangat memuaskan, meskipun Realme U1 ini kabarnya lebih difokuskan ke masalah fotografi.

Jika Anda merasa cocok dengan paparan saya, dan tertarik memilikinya, link pembelian ada di deskripsi video juga ya.

Demikian hasil pengujian saya, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Review Huawei Mate 20 Pro, Membuat Saya Mati Kutu!



Saya terkadang mati kutu. Ya, mati kutu saat menguji pakai smartphone level flagship yang kadang sulit bagi kita untuk menemukan kekurangannya, selain harga. Demikian juga yang saya rasakan dengan Huawei Mate 20 Pro. Okelah smartphone ini memang tak punya jack audio, tapi selain itu coba Anda tengok apa saja yang ditawarkan oleh smartphone terbaru Huawei yang segera dijual resmi di Indonesia ini. Hardware-nya top notch semua, mulai dari jeroannya yang sudah menggunakan processor Kirin 980 terbaru yang memiliki fabrikasi 7nm pertama di dunia. Lanjut ke layar AMOLED dengan tepian melengkung di kedua sisi. Plus, fingerprint scanner ada di dalam layar. Kamera belakangnya ada 3 dengan resolusi besar-besar di 40, 20, dan 8 Megapixels dengan setup wide, ultra wide, dan zoom. Kamu bisa ngulik berbagai hasil foto terbaik dengan kamera begini. Jangan lupa penempatan kameranya juga unik ya, plus backcover glass yang asli feelsnya premium sekali dan tak mudah kotor oleh sidik jari. Sementara kamera depannya punya setup wide dengan resolusi 24 Megapixels. Nanti kamu bisa cek hasil video dan fotonya di video ini ya.

Kita lanjut ke komponen lain dulu, pada bagian atas frame metal-nya yang lagi-lagi berfinishing glossy, kita dapat menemukan infrared blaster. Nice job, mengingat hal ini sudah mulai sulit ditemukan di flagship smartphone seperti ini. Jika Anda cermati sisi bawah frame-nya, pasti Anda akan mencari di mana letak loudspeakernya kan? Haha, sama saya pun bingung awalnya. Namun ketika saya memutar video dan lagu, baru saya sadar ternyata suaranya keluar dari lubang USB Type-C di bawah, serta earpiece di atas, alias stereo. Lagi-lagi mantap deh. Wireless charging? Bisa. Waterproof? Ini sudah punya sertifikasi IP68. Feelsnya di tangan nyaman sekali berkat desainnya yang memiliki curve di setiap pinggirannya. Saya sendiri selalu memakai softcase tipis yang disertakan dalam paket penjualannya, tak menambah ketebalan secara signifikan menurut saya. Harus diakui, feelsnya familiar dengan saat menggenggam Galaxy S9 Plus milik istri saya. Namun bisa dibilang, Huawei Mate 20 Pro ini adalah flagship smartphone paling mutakhir yang masuk ke Indonesia tahun 2018 ini. Semua fitur kekinian yang ditawarkan smartphone flagship lainnya, dikemas menjadi satu, dan ini termasuk kehadiran notch di layar, tepian edge dan panel AMOLED, fingerprint di bawah layar, dan juga hilangnya jack audio, hehehe. Oh ya, satu lagi, harganya juga ikut menegaskan di kasta mana smartphone ini berada. Jadi buat kamu yang masih menganggap Huawei itu identik dengan Esia Hidayah, aduh ke mana aja selama ini? Hahaha. Pasca merilis Huawei P20 Pro lalu sekarang Mate 20 Pro, Huawei seakan ingin menunjukkan kepada Indonesia, bahwa di skala global, mereka punya angka penjualan kedua terbesar lho, di bawah Samsung namun di atas Apple. Oh ya, banyak yang bilang overall kamera P20 Pro lebih baik hasilnya, dan saya merasakan hal yang sama. Nampaknya beda setup kameranya jadi penyebab hal ini. Huawei P20 Pro punya satu lensa dengan sensor monokrom yang mampu membuat hasil foto lebih tajam, dan warna bisa lebih indah. Sementara Mate 20 Pro punya keunggulan di lensa super wide-nya. Sementara untuk masalah AI, HDR dan juga selfienya, saya merasa setara lah keduanya. Dan ini wajar mengingat positioning seri Mate yang lebih mengedepankan performa, sementara seri P untuk kamera. Nah, Kirin 980 ini punya skor Antutu rata-rata menembus 300-ribuan, walau entah kenapa di unit yang saya coba ini hasilnya baru mencapai 220-ribuan saja. Ya, unit yang saja uji merupakan unit pinjaman, dan saya hanya punya waktu sekitar 5 hari bersamanya, sehingga mungkin pembahasannya tidak terlalu detail kali ini. Kalau dibilang betah, saya sih betah banget pakai Huawei Mate 20 Pro ini, mungkin karena tak perlu mengingat jumlah Rupiah yang harus dikeluarkan untuk menebusnya ya, hehehe. EMUI 9 yang berbasis Android 9.0 Pie adalah salah satu alasannya. Bagi saya, EMUI ini selalu terasa familiar sekali, jadi kalau habis pakai smartphone lain lalu balik ke smartphone dengan EMUI, rasanya tuh seperti pulang ke rumah. Haha, lebay ya, tapi itulah adanya pemirsa. Satu lagi, Huawei Mate 20 Pro ini punya teknologi supercharge yang punya kemampuan mengisi daya hingga 40W. Dan asyiknya, smartphone Huawei ini ngga rewel, dikasih kepala charger atau powerbank yang support Quickcharge ataupun Power Delivery juga bisa ngangkat. Dan kabarnya, Huawei Mate 20 Pro ini bisa melakukan reverse wireless charging. Hmmm, unik ya, walau kalau saya sih ga akan rela ngecharge hape lain pake hape saya haha, mending pinjemin powerbank saja sih. Baterainya sendiri 4.200 mAh yang sepemakaian saya bisa bertahan dari subuh hingga larut malam alias sekitar 20 jam dengan pemakaian intens yang menghasilkan SoT hampir 6 jam. Dengan pemakaian lebih ringan, 24 jam sepertinya bukan masalah bagi Huawei Mate 20 Pro. Sebetulnya saya mengharapkan battery usage yang jauh lebih hemat dari processor dengan fabrikasi 7nm seperti ini, namun biasanya seiring waktu dengan pemakaian lebih lama dan proses pengenalan pola pakai kita oleh EMUI ini, nantinya akan semakin panjang daya tahannya. Sudah menemukan kekurangan smartphone ini? Dalam 5 hari pemakaian sih saya sulit menemukannya. Paling hanya masalah kebiasaan saja, semisal untuk fingerprint scanner-nya yang menurut saya letaknya terlalu tinggi, jadi butuh pembiasaan dengan letaknya, dan terkadang malah face unlocknya yang berhasil bekerja lebih dulu dari fingerprint scanner ini hehe. Jack audio juga bisa jadi masalah bagi yang belum punya bluetooth earphone, walau Huawei sebetulnya selalu menyertakan adapter usb type c to jack 3,5 mm ini dalam paket penjualannya. Paling jadi PR kalau Anda sedang ingin memakai earphone berkabel dan saat yang bersamaan ingin mengecasnya. Solusi lain mungkin beli wireless charging pad ya. Soal performa saya rasa tak ada alasan untuk meragukannya, gaming bisa jalan dengan smooth dengan settingan kelas berat. Main PUBG sampai chicken dinner pun jadi nih. Dan kalau dibandingkan dengan Mate 20 yang tanpa Pro, ini lebih compact ya. Perbedaan lainnya ada pada panel layar yang digunakan, termasuk tepiannya di mana Mate 20 tidak melengkung begini. Baterai Mate 20 ada di 4.000 mAh, resolusi kamera lebih rendah, namun Mate 20 malah punya jack audio. Pada saat saya menulis naskah video ini, saya belum tahu harga resmi keduanya di Indonesia, namun melihat harga pasar dari barang Singapore-nya, perbedaan harganya cukup menjulang. Membuat Mate 20 nampak lebih reasonable, walau godaan Mate 20 Pro memang kuat banget, terutama soal handling yang lebih enak karena dimensinya lebih ringkas. Salut buat Huawei yang berkomitmen memasukkan seri teratas dari jajaran smartphone mereka di Indonesia, walau mungkin secara size, penjualannya belum semasif seri Nova dan seri Y ya. Saya mah yakin, kalau sudah pada coba smartphone flagship dari Huawei, pasti ngerti deh ada di level mana kualitas dari produk-produknya. Sok aja coba, biar kenal, lalu sayang, huehehe... Saya akan tutup video ini dengan hasil foto dan video dari kamera Huawei Mate 20 Pro ini ya, kesimpulan silakan dibuat masing-masing, dan monggo tulis di kolom komentar. Saya mah mati kutu pokoknya oleh hape ini, hahaha. Sip, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, November 21, 2018

Review Honor 8x, Looks Kece, Performa Oke, Tapi...



Honor lagi Honor lagi, hehehe.

Saya sudah maklum kalau penonton setia channel ini sudah melabeli saya sebagai Honor fans. Padahal terakhir saya coba Honor 9i itu sudah lumayan lama lho, sampai-sampai pas saya memulai memakai lagi EMUI di Honor 8x ini, ada semacam perasaan rindu yang terbayar.

Lebay ya haha.

Dan ini juga jadi alasan saya tak mengabulkan permintaan penonton yang berharap saya mengulas Honor Play di channel ini. Keburu masuk Honor 8X soalnya.

Walau segmentasinya berbeda, termasuk dapur pacunya, namun saya lebih tertarik dengan kehadiran 8X sih, terutama karena ini resmi.

Dan Honor 8X ini menjadi device Honor resmi pertama yang mengusung chipset Kirin 710 yang memang hadir menggantikan Kirin 659 dengan peningkatan performa maupun konsumsi daya. Ini menambah sengit persaingan smartphone midrange yang punya powerhouse mumpuni untuk gaming.

Dengan RAM 4GB dan storage 128 GB, sulit untuk tidak memasukkan smartphone ini ke dalam daftar best budget smartphone saat ini.

Terlebih jika faktor estetika menjadi salah satu penentu dalam mengambil keputusan buat Anda. Coba tengok, desain Honor 8x ini tak kalah indah dari smartphone flagshipnya. Dengan garis desain backcover yang dibuat landscape, serta refleksi aurora glass ciri khas Honor, smartphone ini rasanya menggoda iman terus ya hehe.



I know, Honor masih menegaskan kelas smartphone ini di level menengah dengan tak menyematkan NFC. Pun absennya fast charging, bisa jadi deal breaker buat sebagian orang.

Namun saya masih menilai apa yang ditawarkan Honor 8X ini tetaplah menarik.

Layarnya memiliki saturasi dan kerapatan yang baik, dan kali ini dimensinya mencapai 6,5 inch. Saya sempat bingung, koq rasa-rasanya tak jauh berbeda dari smartphone lain yang punya layar 6,2 inch ya. Jawabannya ada pada bezel yang tipis, yang hampir sama tipis di semua sisi. Notch pada layarnya pun ringkas, sebatas cukup untuk menempatkan ambience dan proximity sensor, earpiece, LED Notification, dan kamera depan enam belas Megapixels. Area layar di samping notch masih sangat lega untuk berbagai indikator dan ikon notifikasi.

Kamera belakangnya ganda, dengan resolusi dua puluh Megapixels untuk kamera utama, dan 2 Megapixels untuk depth sensor. Sudah punya AI untuk membantu mengoptimalkan pengaturan sesuai dengan scene yang dibidik, saya merasa hasilnya agak over saturated ya. Kadang saya suka sih, misal saat mengambil foto bunga dan tanaman. Namun untuk foto wajah, saya lebih suka yang natural.

Dan saya tak bisa memasukkan Honor 8X ini ke dalam kelompok hape selfie, karena meskipun resolusinya besar dan juga bisa membuat selfie bokeh, namun memang fitur selfienya tidak terlalu advance. Tidak ada AI untuk selfie-nya, walau beautification masih ada.

Dan Anda bisa simak hasil kameranya pada video berikut ini...



Jika saya boleh simpulkan, menurut pandangan dan selera saya sih kamera Honor 8X ini kinerjanya baik. Fokus dan pemrosesan berjalan cepat, sementara hasilnya bisa diandalkan dengan pengaturan manual yang lengkap.

Jadilah Honor 8X ini smartphone all-rounder dengan harga yang masih cukup terjangkau, baterai besar 3.750 mah, kamera relatif bagus, serta dapur pacu yang gegas.

Memori internal lega yang masih ditemani triple slot cards juga jadi nilai tambah.

Jangan lupakan kemampuan multimedianya yang juga enjoyable, saya akan putarkan musik melalui loudspeakernya, silakan anda nikmati ya.

Satu yang mungkin perlu dibenahi oleh Honor Indonesia adalah timing perilisan ponselnya ya. seringkali produk luar non garansi lokal sudah masuk duluan dibanding produk resminya, dan saat yang resmi rilis, jadinya sudah kurang surprised lagi ya. Terlebih harganya kadang lebih murah yang tak resmi.

Lainnya paling soal penamaan yang kadang membingungkan, misal flagshipnya sudah sampai angka sepuluh, di honor ten dan honor view ten, tapi midrangenya masih berkutat di angka 9 semisal 9i atau bahkan 8 seperti 8x ini. Yang tak terlalu mengikuti update produk Honor mungkin heran dibuatnya.

Dalam proses pengujian, Honor 8X ini saya dapuk menjadi daily driver, dan serius saya betah tuh memakainya. Kekurangan fast charging saya akali dengan mengecasnya malam-malam, toh baterainya tahan lama. Bisa bertahan tiga puluh enam jam lebih dengan screen on time di atas 5 jam lho. Itu saat penggunaan intens untuk socmed ya, bisa jadi lebih lama jika lebih banyak standby, dan jadi lebih singkat saat digunakan untuk gaming.

Penampakannya juga elegan, ngga malu-maluin, malah kecenya kebangetan. Saya akan tutup video ini dengan gaming test ya. Kebetulan video unboxing-nya kemarin kan hanya seadanya, karena kondisi saat itu.

Kesimpulan akhir dari saya, di harga jualnya saat ini, Honor 8X tergolong valuable dengan segala apa yang ditawarkan. Mampu bersaing lah, walau pastinya tak mungkin unggul si segala sektor. Yang jelas ini adalah all arounder yang patut diperhitungkan, terlebih jika anda sudah jatuh hati dengan looks-nya yang ganteng ini.

Dengan harga resmi sebesar Rp3.999.000 plus banyak bonus jika pre-order di Shopee, rasa-rasanya masih menarik sekali untuk dicoba ya. Walau menurut saya, harga ini tabrakan dengan Huawei Nova 3i. Jadi deja vu nih, dulu Honor 7X pun harganya tabrakan dengan Nova 2i sebelum direduksi sejuta Rupiah.

Menurut hemat saya, Honor sepatutnya memberi harga yang lebih kompetitif lagi sebagai e-brand. Walau pastinya mereka sudah punya hitung-hitungan bisnis sendiri ya.

So, kalo budget kamu cocok, tinggal teguhkan pilihan ya, lalu miliki satu dan jangan mengejek yang lain, okay?

Demikian ulasan saya kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam.

Review Samsung Galaxy A7 (2018), 3 Kamera Buat Apa?



Inilah kejutan Samsung untuk segmen midrange di penghujung tahun 2018 ini.

Mengejutkan bagi saya, karena dengan spesifikasi dapur pacu setara Galaxy A8 2018, dan dengan jumlah kamera yang lebih banyak di sisi belakang, harga jual resminya jauh lebih murah.

Yap, Galaxy A7 2018 ini dibandrol Samsung seharga Rp4.499.000, di mana saya membelinya secara pre-order demi cashback setengah juta Rupiah, yang menurut saya menjadikannya worth the money, terutama untuk Anda yang mengejar performa kamera dari sebuah smartphone.

Terus simak ulasan ini, untuk penjelasan lebih detailnya ya.



Saya bahas tentang kamera di awal ya, karena sepertinya inilah sisi yang paling membuat kita penasaran, "3 kamera buat apa sih?".

Untuk menjawabnya, saya absen dulu ya kamera belakang Galaxy A7 ini dimulai dari yang paling atas.

Kamera pertama ini untuk depth sensor, resolusinya 5 Megapixels.

Kamera kedua yang di tengah adalah kamera utamanya yg beresolusi 24 Megapixels, bukaan lensanya besar di F/1.7, dan hadir dengan PDAF untuk auto fokus yang cepat.

Kamera ketiga adalah kamera ultrawide 8 Megapixels dengan focal length 13mm.



Kira-kira seperti itu penjelasan teknisnya, namun sederhananya, dengan Samsung Galaxy A7 2018 ini, kita makin bisa bereksplorasi saat mengabadikan momen. Membuat objek standout dan latar blur sudah pasti bisa, mengambil gambar banyak benda di ruang sempit semisal di dalam mobil pun jadi lebih enak dengan lensa ultrawide-nya.

Kelebihan dari Galaxy A7 2018 ini adalah, pada mode ultrawide saya tidak merasakan penurunan kualitas gambar ataupun perbedaan tone warna dibanding kamera utamanya. Sementara pemanfaatan lensa khusus untuk depth sensor membuat live focus pada Galaxy A7 2018 semakin rapi dalam menentukan tepian objek foto yang masih mendapat fokus dengan latar belakang yang blur.

Samsung tak melupakan kamera depan smartphone ini yang beresolusi sama besar di 24 Megapixels. Dan untuk mendukung keeksisan penggunanya, sebuah LED Flash untuk selfie disematkan di sisi depan ponsel ini. Selfie Focus hadir jika Anda ingin foto selfie Anda lebih stand-out ya.

Lalu untuk perekaman video, saya rasa smartphone ini bisa mengakomodasi gaya hidup kekinian di mana banyak sekali orang membuat kontennya langsung dari smartphone. Dalam artian, video yang dihasilkan hasilnya sangat memadai untuk dikonsumsi umum.

Stabilisasi video di Galaxy seri A selalu tergolong baik dengan hadirnya digital stabilization. Tone warnanya juga hidup, dan resolusi maksimal videonya bisa sampai 4K.

Audio yang dihasilkan pada videonya juga tak lupa ya, kualitasnya masuk ke kategori layak dan enjoyable.

Dan lagi-lagi, biarlah scene-scene video ini yang menunjukannya pada Anda. Sok atuh disimak kembali...



Bagaimana menurut Anda, kualitas kameranya memenuhi ekspektasi Anda kah?

Jika saya yang menilai, Galaxy A7 2018 ini tak cuma menang di jumlah kamera, kualitasnya pun mumpuni. Dan kalau teman Anda masih menanyakan "3 kamera buat apaan sih?", silakan ditunjukkan video ini saja ya, hehe.

Di luar kamera, Galaxy A7 2018 ini pun masih punya keunggulan.

Spesifikasinya cukup mentereng, dengan processor Exynos 7885 Octa, multitasking untuk berbagai kegiatan saya di atas smartphone dapat berjalan lancar. Gaming juga masih bisa dinikmati berkat sokongan RAM-nya yang 4 GB.

Oh ya, sejauh ini batrai 3.300 mAh-nya mampu bertahan dari pagi hingga malam hari. Seandainya bisa bertahan lebih dari 24 jam dan juga mendukung fast charging, pastilah akan lebih menarik lagi ya, terutama buat mobile gamers.

Anda pembuat konten pasti akan sangat terbantu dengan besarnya storage utama Galaxy A7 2018 yang sudah 64 GB plus triple card slotnya. Ya, smartphone ini punya dedicated slot untuk micro-SD yang bisa menampung kapasitas maksimal 2 TB. Besar ya, walau kayanya micro-SD sebesar itu masih jarang yang jual dan pastinya mahal hehe.

Jika tampil gaya adalah kebutuhan mutlak untuk Anda, maka lengkaplah sudah. Galaxy A7 2018 hadir dengan glass backcover yang menawan, dengan pilihan warna hitam, biru, dan emas. Saya mah sudah pasti terpikat oleh warna birunya ini.


Frame pinggirnya terbuat dari polykarbonat dengan finishing glossy juga. Di sisi kanannya terdapat tombol power yang juga berfungsi sebagai fingerprint scanner. Responnya cepat dengan akurasi yang juga baik. Walau mungkin mau tak mau ini mendorong kita untuk selalu menggunakan tangan kanan saat memegang ponsel ini ya.

Jika sedang menggenggam dengan tangan kiri, saya sarankan lebih baik manfaatkan face unlock-nya saja. Dengan kamera depan yang resolusinya juga besar, membuka kunci layar dengan wajah kita pun dapat dilakukan dengan nyaman.



Dan yang pasti, kekuatan dari brand Samsung adalah panel Super AMOLED-nya yang sangat vivid dan mendukung fitur Always-on Display. Jadi depan belakang, smartphone ini keren pake banget, apalagi jika kita bandingkan lagi dengan harganya yang cukup mengejutkan.

Yang saya lihat, Samsung nampak cukup sigap menghadapi persaingan di segmen midrange smartphone ini ya. 4-jutaan, dapet smartphone Samsung, dapur pacu handal, memory lega, dan kamera yang kinerjanya baik tak cuma gimmick.

Kita lihat saja apalagi kejutan dari Samsung di penghujung 2018 ini. So far saya sih puas dengan Galaxy A7 2018 ini, terutama dengan keputusan pricing Samsung yang makin enak untuk dibandingkan dengan spec sheet dan juga fitur-fiturnya.

Apakah Anda setuju dengan saya?

Sip, semoga ulasan ini bermanfaat menambah wawasan Anda ya. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, November 14, 2018

Review Realme 2 Pro, Ngga Nyantai!



Nggak nyantai, inilah 2 kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana price to spec comparison dari smartphone yang saya ulas kali ini.

Ya, ini adalah Realme 2 Pro, yang jadi smartphone resmi pertama di Indonesia yang bisa menghadirkan Snapdragon 660 pada kisaran harga di bawah 3-jutaan.

Lebih nggak nyantai lagi, yang saya uji adalah varian tertingginya yang memiliki RAM 8 GB dan storage 128 GB, yang harga resminya 3,7 jutaan saja.



Penjualan smartphone ini pun konon ngga nyantai, sold out terus, walau diyakini pembelinya sebagian adalah toko-toko yang membeli di lazada untuk kemudian dijual lagi di marketplace saingannya, dengan ditambahkan cuan dulu tentunya, hehe.

Nah, apakah dengan spek di atas kertas yang mentereng begini, lalu marketing yang sukses membuat hype sub-brand baru ini naik, serta berbagai pemberitaan mengenai laris dan dicari-carinya smartphone ini, lantas membuat pesaing dari Realme inipun sudah tak bisa santai-santai lagi jualan?

Jawabannya silakan disimpulkan setelah melahap habis review ini ya.

Saya pikir, sebagai sub-brand Oppo, sebagaimanapun punya diferensiasi dari induknya, sebagaimanapun kompetitif produknya, pastilah sudah dihitung matang-matang bagaimana agar tidak saling membunuh.

Nah, satu hal yang sudah pasti berbeda dari Oppo adalah kualitas kameranya. Realme 2 Pro punya kamera yang tak bisa dibilang jelek sih, masih sangat bisa dikatakan bagus selama pengambilan gambar dilakukan pada kondisi ideal.

Apa ini artinya lowlights-nya payah? Ngga payah juga sih, rata-rata saja. Jelas tak sebagus performa kamera Oppo, bahkan ada beberapa smartphone 2-jutaan yang performanya lebih baik.

Hal ini berlaku juga untuk perekaman video yang hasilnya tak elok jika dipaksa semisal melakukan vlogging outdoor di malam hari. Selain tak lagi tajam, stabilisasi yang tadinya cukup lumayan pun semakin terasa jelly.

Namun, overall masih OK. Tapi ya itu, jangan maksa bikin konten gelap-gelapan aja yah hehe.

Karena kalau cahayanya cukup, saya yakin Anda akan cukup terpesona dengan hasil kameranya.

Coba deh lihat hasil foto berikut ini, lalu tuliskan komentar apakah Anda terpesona atau tidak dengan kualitasnya ya. Silakan!



Perbedaan selanjutnya adalah ketidakhadiran dukungan fast charging, entah itu VOOC Charge, atau Qualcomm Quickcharge. Padahal SoC yang digunakan sih mendukung.

Mungkin untuk menekan harga ya, soalnya lisensi untuk quickcharge pastinya berbayar.

Sedikit disayangkan bahwa kapasitas baterainya malah lebih kecil dibanding Realme 2 ya, apalagi Snapdragon 660 dengan performanya yang gegas, memang tak sehemat Snapdragon 450 dalam mengonsumsi daya.

Tidak adanya LED Notifikasi juga membuat saya sering melewatkan chat-chat penting saat smartphone ini saya tinggal. Ini agak kritikal sih bagi saya, jadinya mikir banget untuk dijadikan daily driver. Tapi untuk smartphone khusus gaming dan menympan berbagai file multimedia sih pastinya cocok banget.

Komplain terakhir saya masih sama sih, posisi loudspeaker dan perlunya pembiasaan dalam menggunakan ColorOS, semisal untuk dismiss notification toast, harus diswipe ke atas, bukan ke samping layaknya ponsel Android lain.

Komplainnya sudah, waktunya membahas semua yang saya apresiasi dari smartphone ini.

Pertama mah sudah pasti atuh ya, jeroannya. Penggunaan Snapdragon 660 AI Engine yang walau katanya didownclock, nyata-nyata enak banget dipakai main game. Di video unboxing saya sudah langsung tes beberapa game, lancar tuh.

Disokong RAM 8 GB, multitasking jadi ga masalah. Notifikasi berbagai aplikasi juga lancar masuk karena leganya RAM membuat banyak background process bisa terus berjalan.

Lanjut ke storage, 128 GB ini asyik banget. Saya jadi ga ragu untuk mendownload banyak playlist di Spotify dengan kualitas tertinggi. Jangan lupakan bahwa Realme 2 Pro mengusung triple card slots, 2 slot nano sim dan 1 slot khusus micro-SD. Asli ga ada khawatir-khawatirnya soal storage deh.

Kedua adalah layarnya yang sedap dipandang, dengan dewdrop notch yang mungil, sehingga area sudut atas layar masih sangat luas untuk berbagai indikator dan ikon notifikasi, termasuk indikator kecepatan jaringan yang bagi saya cukup penting.

Vibrancy dan ketajaman layarnya pun kece. Asyik punya lah memandangi layarnya, entah itu saat bermedia sosial, atau streaming.

Ketiga adalah daya tahan baterainya yang mampu bertahan sehari semalam dengan pemakaian yang cukup intens. 3.500 mAh nampaknya masih cukup ya sejauh ini.

Terakhir adalah masalah looks dan estetika. Walau saya lebih memfavoritkan warna ice blue-nya, tapi warna hitam yang kadang nampak seperti dark grey ini pun rasa-rasanya tetap menawan hati. Handling-nya enak, tidak licin dan tak pernah tergelincir dari genggaman selama saya pakai.

Saya pikir saya sudah tak perlu membuat kesimpulan ya untuk smartphone yang satu ini.

Intinya untuk spesifikasinya sangat bernilai jika dibandingkan harga jual resminya.

Kompensasi jelas ada di hal-hal yang saya bahas di awal tadi.

Namun bagi pembeli ada konsekuensi lain jika di Indonesia ada smartphone dengan spek mentereng dan harga cukup miring, belinya rebutan hehehe. Dan kebanyakan yang rebutan malah buat dijual lagi buat ambil untung heuheu.

Jadilah subsidi dari Lazada dimanfaatkan oleh reseller, dan pada akhirnya membantu meningkatkan transaksi di e-commerce lain yang pastinya adalah saingan dari Lazada.

Pukpuk Lazada deh hihi.

Saya malah sudah ngga sabar, menunggu deretan smartphone Realme selanjutnya, apakah akan tetap ngga nyantai seperti ini, atau nyantai dikit?

Atau malah makin kenceng? We'll see lah.

Yang pasti saya makin senang lah kalo makin banyak produk yang jualan spek bagus.

Sip, begitu pandangan saya soal Realme 2 Pro ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon Pamit undur diri. Wassalam!

Thursday, November 8, 2018

Review Realme 2, Sepertinya Anda Lupa Sesuatu...



Realme hadir memberi riak di kancah persaingan budget smartphone.

Membawa nama besar Oppo di balik layar, Realme jelas banyak memanfaatkan warisan intelektual Oppo untuk menghadirkan smartphone yang sangat menarik jika melihat spek di atas kertas berbanding harganya.

Memiliki body yang similar dengan Oppo F7 yaitu memiliki backcover diamond cut, Realme 2 hadir pada level harga psikologis yang selalu menjadi perhatian banyak konsumen gadget tanah air.

Ya, Realme 2 ini memiliki bandrol harga Rp1.999.000 untuk varian RAM 3 GB dan Storage 32 GB, serta 2.399.000 untuk RAM 4 GB dan storage 64 GB.

Penjualan resminya hanya melalui jalur e-commerce, lebih spesifik lagi Lazada ya. Jadi jika berharap mendapatkan smartphone ini di toko offline, siap-siap saja menambah jumlah yang akan Anda bayar, untuk keuntungan sang penjual.





Begitu melihat desain dari Realme 2 ini langsung membuat kita tergoda ya. 2,4 juta untuk varian 4/64 GB adalah sesuatu yang menarik, terlebih desainnya cukup kekinian dengan layar 19:9 berponi.



Saingan berat Realme 2 masih hadir dari ponsel-ponsel yang sudah lebih dulu hadir, yang kebanyakan mengusung Snapdragon 625 atau 636 di harga 2-jutaan. Namun saya yakin, masing-masing sudah memiliki peminatnya tersendiri.

Ya, Realme 2 dengan processor Snapdragon 450 dan baterai besar 4.230 mAh masih mumpuni untuk gaming, namun memang bukan buat gamer menengah ke berat.

Yang pasti, dalam pemakaian saya Realme 2 ini selalu berhasil menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya. Ini termasuk gaming yang cukup intens ya. Dan jika frekuensi gaming sedang berkurang, bahkan bisa menembus 2 hari 2 malam.

Nggak heran lah, Snapdragon 450 memang termasuk processor yang hemat daya. Walau memang mengisi daya baterai besar jadi butuh waktu lama karena absennya fast charging pada Realme 2.

Masuk ke kamera, Realme 2 ini termasuk golongan smartphone yang kamera depannya malah lebih bagus dari kamera belakang. Hehe. Turunan mungkin ya.

Realme 2 ini kamera selfienya resolusinya tak berlebihan, 8 Megapixels yang menurut saya sudah cukup. Sementara kamera belakangnya ganda dengan resolusi 13 dan 2 Megapixels.

Hasilnya cukup bagus untuk level harganya, usable lah. Walau pastinya tak bisa istimewa di kondisi lowlights.

Bisa merekam video sampai Full HD, stabilisasi dipastikan minim atau malah tidak ada.

Fitur-fitur lain kameranya kurang lebih sama dengan kamera Oppo, hanya saja watermark pada Realme 2 tidak bisa memunculkan nama pemotret, tak seperti Realme 2 Pro.

Mari kita simak langsung hasil foto-foto dan video dari Realme 2 ini di beberapa kondisi. Silakan.



Hadirnya Realme 2 ini menurut saya bagus, karena semakin menambah pilihan smartphone terjangkau yang punya spesifikasi bagus.

Tak hanya itu, desainnya juga oke, bisa pake banget bahkan kalau Anda suka dengan diamond cut-nya, dan juga pilihan warnanya yang menarik, hitam, merah, dan biru.

Layarnya juga enak dipandang, dengan resolusi HD+ yang membuatnya tak membebani kinerja baterai sehingga mampu bertahan lama.





Jangan lupakan juga bahwa Realme 2 memiliki tiga buah slot kartu, 2 untuk nano sim, dan 1 khusus untuk micro-SD, jadi storage bisa dibilang aman ya.

Fingerprint scanner-nya cepat dan akurat, untuk 2-jutaan sih ini keren. Termasuk face unlock-nya yang juga jempolan, asalkan pencahayaannya nggak gelap-gelap amat, responnya di kala membuka layar tergolong instan sih.

Mungkin buat sebagian orang, akan butuh adaptasi untuk memulai menggunakan Color OS. Saya sudah memberi masukan mengenai Custom UI milik Oppo ini di video review Oppo F9 ya. Dan beberapa keluhan kecil itu masih terasa tentunya di Realme 2.

Termasuk posisi loudspeaker, kebiasaan banget deh Oppo. Ini berlanjut di Realme dan OnePlus juga soalnya. Menurut saya lebih baik di bagian kanan dari sisi bawah ponsel, agar tak mudah tertutup.

Nah, untuk digunakan sebagai hape multimedia dan juga game online yang sering standby untuk autoplay, Realme 2 ini cocok sekali.

Untuk driver online pun sesuai, baterai dan RAM-nya besar.

Namun jika budget lebih mepet, saya pikir Anda yang berprofesi sebagai driver online bisa menunggu review Realme C1 dari saya, di mana smartphone ini punya procesor dan kapasitas baterai yang sama, hanya beda di besaran RAM dan storage, serta tidak adanya fingerprint scanner.

Jadi, tunggu saja ya!

Kecantikan Realme 2 serta nama besar Oppo yang terkenal dengan cameranya yang baik ini nampaknya membuat sebagian orang melupakan bahwa di range 2 jutaan beberapa smartphone lain hadir dengan dapur pacu yang lebih powerful ya.

Tak ada yang lebih mending, karena buat sebagian orang penampilan itu bisa jadi lebih penting, sementara sebagian lain merasa bodo amat yang penting jeroannya enak diajak main game dan skor antutu gede. 2-2nya tak salah koq, bebas sesuai selera dan prefensi masing-masing saja. Asal jangan maksa, dan jangan ribut aja sih saya mah, hehe.

Sekian yang bisa saya nilai dari Realme 2, selamat berburu hehe. Harusnya sih stoknya ngga ghoib-ghoib amat, karena pabriknya milik sendiri, nggak rame-rame di-subcon ke pabrik Batam.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Saturday, October 13, 2018

Kesimpulan Akhir Saya Tentang Pocophone F1



Halo Assalamualaikum, pada video kali ini, kita akan mengulas tentang smartphone yang sempat jadi fenomena di tanah air saat rilis, yaitu Pocophone F1.

Dan menurut saya, Pocophone F1 ini adalah smartphone terbaik, terhebat, terkeren, dan terrrrrr-semuanya saat ini yang dijual resmi di Indonesia!

Seandainya, penilaiain sebuah smartphone cukup dihitung dari harga versus processor yang digunakan.

Sayangnya, pada kenyataannya kan tidak seperti itu. Hahaha.

Jadi pastikan simak terus video ini sampai akhir untuk tahu lebih dalam soal Pocophone ini, sebelum Anda putuskan untuk meminangnya atau tidak. Saya tahu masih banyak yang belum meminangnya, kayanya pada santai karena ngga ghoib ya? Heuheu.

Yup, Pocophone F1 adalah fenomena. Bagaimana tidak, di angka 4-jutaan sudah berani pakai processor tertinggi dan termutakhir dari Qualcomm, yaitu Snapdragon 845.

Flagship! Begitu kata orang-orang. Saya sendiri masih bingung, iya gitu Pocophone F1 ini flagship? Kalo jeroannya high-end sih saya setuju. Snapdragon 645 dipadukan dengan RAM 6 GB dan storage 64 atau 128 GB adalah jeroan kelas tinggi.

Tapi kalau dibilang flagship, mungkin flagship-nya Pocophone sebagai sub-brand-nya Xiaomi saja ya, karena flagship-nya Xiaomi kan Mi 8 dan Mi Mix 2s saat ini.

Yang pasti, perasaan senang bisa mendapatkan smartphone ini tak berlangsung terlalu lama. Cerita perjuangan mendapatkannya yang saya buat jadi satu video tersendiri, dalam beberapa hari saja sudah menjadi terasa hambar. Ya iya, ngapain saya harus waiting list kalau cuma nunggu 5 menit, dan di hari-hari berikutnya orang lain masih bisa dapat dengan mudah, haha.



Bukan saya berharap barang ini ghoib, tapi mungkin Xiaomi perlu lebih baik mengomunikasikan masalah stok dari Pocophone F1 ini. Bilang saja langkah pembuatan waiting list ini untuk meminimalisir tengkulak alias reseller, kan enak, semua pasti maklum.

At least, respon Xiaomi atas banyaknya produk yang bermasalah di hari pertama penjualan, bagi saya sudah cukup baik dan bertanggung jawab.

Kembali ke produknya, saya memang merasakan euforia-nya tak terlalu lama. Unboxing, main game, lalu kemudian sisanya terasa biasa saja.

Tak ada perasaan senang berlarut-larut seperti ketika saya mampu membeli flagship pertama saya dulu. Di mana sampai berminggu-minggu kemudian saya masih senang mengagumi desainnya, layarnya, build quality-nya, kualitas audio-nya, hingga aksesoris bawaannya.

Bukan saya tak puas, tapi saya menceritakan apa bedanya ketika kita memilih membeli flagship yang lebih umum, dengan flagship yang hadir dengan harga jual yang sangat ditekan, tetapi mengkompensasikan beberapa hal.

Kompensasi pertama tentu saja soal material yang dipilih ya. Body Pocophone F1 ini terbuat dari polikarbonat yang sudah jarang sekali digunakan, bahkan untuk smartphone seri mid-end sekalipun. Saya mah santai, selama ini pun tak pernah rewel koq dengan body plastik, selama nyaman dipegang.

Pocophone F1 ini saya malah suka, body plastiknya membuat saya tak usah repot-repot memasang casing, jadi tak menambah tebal. Dan lagi finishing doff-nya tak mudah kotor, nice lah!



Tapi ya penilaian orang bisa berbeda ya. Tidak apa-apa beda, asal ngga maksa. Heuheu. Yang pasti, saya sangat menyarankan penggunaan tempered glass atau proteksi layar tambahan untuk Pocophone F1 ini. 2 minggu dalam pemakaian, sudah jelas hadir goresan-goresan halus memanjang di beberapa bagian layar. Tak menganggu pemakaian sih, cuma ketika layar mati dan kita perhatikan dengan seksama, goresan itu akan jelas terlihat. Sedih jadinya. Selain itu, layar ini juga cepat kusam, entah apakah ada lapisan olephobic atau tidak sebetulnya di layar Pocophone F1 ini.

Kompensasi selanjutnya ada pada layar. Layar Pocophone F1 tidak jelek koq, reproduksi warna masih cukup baik. Hanya terlihat ada jarak antara panel display dengan panel sentuh-nya. Asal tahu saja, Redmi Note 5 saja ga begitu. Heuheu.

Lalu soal notch. Saya juga bukan orang yang mempermasalahkan notch, asalkan kehadirannya memang memperluas panel layar dan masih cukup untuk menampilkan informasi-informasi penting di notification bar.

Sayangnya, Pocophone F1 ini terlalu besar notch-nya, saya harus menurunkan jendela notifikasi untuk melihat ikon-ikon di sana. Termasuk untuk melihat network speed juga. Jadi kali ini saya harus bilang saya kurang sreg dengan notch dari ponsel ini. Apalagi notch ini memotong area permainan PUBG, jadi yah PR banget deh!

Untuk kamera, saya banyak-banyak bersyukur karena ternyata hasilnya di atas ekspektasi saya. Ya, tadinya saya berpikir bahwa kameranya akan banyak dikompromikan untuk menekan biaya produksi. Nyatanya, Pocophone F1 malah punya kamera selfie beresolusi besar, bahkan paling besar di antara produk Xiaomi yang rilis di Indonesia yaitu 20 Megapixels. Sementara kamera belakangnya beresolusi 12 dan 5 Megapixels.

Jelas kualitasnya di bawah kamera flagship Samsung atau bahkan Huawei ya. Namun segini masih oke banget koq. Lowlights masih terbilang jernih, dynamic range masih mumpuni, dan selfie juga kece.

Saya pikir sekalipun harus menekan biaya produksi seminimal mungkin, Xiaomi takkan berani berkompromi soal kamera ya, mengingat dalam beberapa tahun terakhir perang smartphone banyak berkutat di sektor ini.

Silakan saja lihat foto-foto dan video berikut ini.



Dari tadi saya tak bahas performa ya. Karena memang angka-angka di atas kertas sudah menunjukkan ada di level mana smartphone ini untuk performanya.

Main game PUBG bisa di HDR dengan graphic Ultra. Dan yang saya apresiasi sekali liquid cooling-nya nampak bekerja dengan baik karena panas yang dihasilkan minim sekali.

Walau kemudian saya akhirnya merasakan demam juga, yaitu ketika saya mengganti kartu operator yang saya gunakan, dari nomor utama ke nomor ketiga saya dari operator bernama tiga juga. Entah seberapa besar pengaruh dari sinyal operator, ataukah dari update terbaru game PUBG ini, yang jelas beberapa hari sebelum saya mulai menulis naskah review ini, Pocophone F1 sudah mulai membutuhkan parasetamol kalau diajak bermain game lama-lama.

Baterai besar 4.000 mAh juga jadi kunci untuk memikat para mobile gamer. Apalagi MIUI juga terkenal dengan manajemen daya yang baik, walau sedikit mengorbankan background process ya.

Pocophone ini juga sudah memiliki fitur fast charging, yang sayangnya tidak cepat-cepat amat. Agak ketinggalan dari beberapa brand lain semisal yang punya Dual Engine Fast Charging, atau Supercharge.

Tidak lambat sih, pengisian daya berlangsung di tegangan 6,5 volt dengan kuat arus 2 hingga 2,5 Ampere. Tapi tetap saja tidak secepat hape tetangga euy.

Satu yang saya sangat apresiasi adalah face unlock dengan IR camera Pocophone F1 ini. Sangat instan, dan bekerja dengan baik di kondisi redup. Fingerprint scanner-nya juga akurat dan responsif. Mantap lah!

Jadi, apakah Pocophone F1 jadi ponsel terbaik? Untuk gaming dengan budget maksimal 5 juta sih iya, saya akui. Performa tinggi, baterai besar dan awet, serta pengisian daya yang lumayan cepat, plus face unlock instan ya!

Tapi untuk kamera, saya rasa dengan budget 5-jutaan, saya lebih senang dengan hasil kamera Vivo V11 Pro. Patokan saya adalah istri saya yang kalau makan di luar, selalu menanyakan apakah saya membawa Vivo atau tidak, hehehe. Oya, Vivo lebih cepat dalam mengisi daya, serta memiliki fingerprint scanner yang lebih futuristik, walau processornya memiliki kelas satu tingkat di bawah Pocophone F1.

Dan jika budget Anda lebih longgar, ada ASUS Zenfone 5z di harga 7 juta kurang sedikit, dengan dapur pacu yang identik, tapi memiliki kelebihan di looks dan build quality, punya NFC, pengisian daya yang lebih cepat, namun baterainya lebih kecil dengan daya tahan yang lebih singkat.

Dua ponsel yang saya bandingkan dengan Pocophone ini juga memiliki bidang layar yang lebih luas di sekitar notch-nya, hehe.

Semoga tidak ada yang tersinggung ya dengan alternatif yang saya berikan. Malah harusnya kita senang bahwa smartphone-smartphone resmi di Indonesia kini makin banyak yang keren dengan harga yang juga masih bagus.

Coba deh, dulu mungkin cuma mimpi ada ponsel dengan processor kelas atas begini bisa punya harga 6-jutaan, bahkan 4-jutaan.

Ok, saya bagi deh peruntukannya, Anda yang punya budget maksimal 5 juta bisa memilih Pocophone F1 jika Anda tergolong gamer kelas berat dan spesifikasi adalah segalanya.

Dengan budget yang sama, jika Anda lebih senang dengan looks, layar yang vivid, kamera yang menawan dan fitur-fitur kekinian, serta game kelas menengah, Vivo V11 Pro bisa jadi lebih cocok.

Namun jika Anda punya budget lebih dan memilih keseimbangan antara semua fitur-fitur dari sebuah smartphone, bisa jadi ASUS Zenfone 5z adalah jawabannya. Nantikan review lengkapnya di channel ini ya!

Pintar-pintar memilih ya gais, pertama tentu sesuaikan dengan budget, lalu cocokkan dengan kebutuhan dan juga selera Anda.

Atau kalau memang belum mampu, silakan menabung, atau jadilah team nonton doang beli kagak yang budiman dan tidak memancing keributan, hehehe.

Hape doang koq ribut, milih hape kan ngga 5 tahun sekali bukan? Hahaha.

Ok, semoga video ini menghibur, utamanya memberikan informasi yang mungkin Anda cari ya. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, October 11, 2018

Quick Review Vivo V11, Tanpa Pro Tetap Menarik?




Ini adalah smartphone yang turut dirilis September kemarin oleh Vivo Indonesia. Namanya Vivo V11.

Masih mengusung desain yang sama, perbedaan paling kentara dari V11 adalah hadirnya fingerprint di punggung ponsel.

No complain, fingerprint scanner ini sangat responsif dan akurat, dengan bidang yang cukup luas untuk menempatkan jari yang akan dipindai.



Ya, saya sengaja membahas dari sisi belakang sini dulu, karena jika diperhatikan selain pemindai sidik jari ini, backcover varian Starry Black ini bisa dibilang identik dengan saudaranya yang sudah saya review lebih dulu.



Dan saya masih memberi nilai positif juga untuk bentuknya yang ergonomis berkat desain backcover yang melengkung seperti ini.

Lanjut ke sisi depan, nampak tak ada yang berbeda ya, Vivo V11 masih hadir dengan Ultra All Screen yang sejauh ini masih jadi screen to body ratio tertinggi yang pernah saya coba. Hadir dengan panel LTPS, warna yang dihasilkan tergolong baik dan hidup.


Di sisi bawah ponsel masih hadir jack audio 3,5 mm di posisi favorit saya, begitu juga letak speaker grille di sisi kanan yang lebih enak saat digunakan bermain game dengan posisi layar landscape.

Game? Iya, game. Vivo V11 ini tergolong mumpuni koq diajak bermain game dengan setting grafis menengah.

Dengan diotaki processor octacore Mediatek Helio P60 dengan clockspeed 2.0 GHz yang sudah terbukti handal, bermain PUBG bisa saya lakukan dengan lancar. RAM 6 GB juga membantu multitasking berjalan dengan halus. Jangan lupakan game mode yang hadir melalui fitur smart assistant Vivo yang dinamai Jovi. Membantu sekali agar gameplay tidak terinterupsi.

Storage bawaan Vivo V11 masih tetap lega, yaitu sebesar 64 GB, dan tetap juga hadir dengan triple card slots, di mana slot micro-SD-nya dedicated, tak harus berebutan dengan dua slot nano sim card-nya.

Skor Antutu? Tetap di atas 100-ribuan koq. Dan segini mah dipakai gaming enak, dipakai socmed enak, dipakai foto-foto enak, dipakai hadiahin pasangan juga enak. Yang ngga enak sih yang jomblo aja, hahaha.

Vivo V11 dengan Helio P60 ini relatif lebih adem dan punya daya tahan baterai yang panjang. Pastinya di atas 24 jam pemakaian ya, walau sayangnya soal battery usage ini tidak muncul detailnya di bagian pengaturan baterai di FunTouch OS ini.

Pada paket penjualannya, Vivo V11 dibekali kepala charger dengan arus 2A yang tegangannya bervariasi di 5 dan 9 volt untuk fast charging. Dan saat saya isi ulang dayanya dengan kepala charger Quickcharge 3.0, indikator quickcharging menyala hijau, yang artinya V11 ini bisa diisi dengan cepat tak hanya dengan charger dan kabel bawaan saja ya. Mantap!

Oh ya, selain game mode tadi, Jovi di Vivo V11 juga masih punya tambahan fitur Smart Scene dan Smart Camera.

Pada smart camera, AI pada Jovi akan membantu mengatur beautification agar sesuai dengan objek, entah itu gender atau usia. Selain itu, AI Scene Identification juga hadir, sehingga kita tak perlu repot-repot mengatur settingan kamera, Jovi akan otomatis memilih mode yang paling cocok dengan objek dalam frame. Ini termasuk AI Backlight HDR yang sejauh ini merupakan fitur yang paling saya andalkan, agar tak repot-repot menyalakan dan mematikan mode HDR. Pilihan mode portrait yang optimal pun tersedia secara otomatis berkat Jovi AI assistant ini.

Hasil kamera Vivo V11 tetap menawan, dengan kemampuan yang baik untuk memproduksi gambar dalam berbagai kondisi. Kamera depannya yang beresolusi 25 Megapixels memiliki bukaan lensa f/2.0 yang besar. Sementara kamera belakangnya ganda, dengan resolusi 16 Megapixels untuk sensor lensa utamanya, dan 5 Megapixels untuk depth sensor-nya.

Bokeh-bokehan, portrait mode yang dramatis, bisa dihasilkan dengan baik oleh Vivo V11.

Silakan disimak foto dan video yang saya jepret menggunakan kamera Vivo V11 ini.



Dengan pemilihan panel LTPS, Vivo V11 jadinya tak memiliki fitur Always-On Display ya, dan dengan begini menurut saya akan lebih baik jika Vivo V11 dilengkapi dengan LED Notification.

Dengan harga jual di angka Rp4.499.000, saya merasa apa yang ditawarkan Vivo V11 ini tetap menarik.

Processor yang bisa diandalkan untuk gaming dan berbagai kegiatan lainnya, disokong oleh RAM besar di 6 GB untuk multitasking yang prima. Untuk kebutuhan multimedia, terutama kamera, Vivo V11 pun jelas punya keunggulan. AI yang sangat membantu untuk menghasilkan foto yang optimal di berbagai kondisi jadi salah satu kunci.

Dan yang pasti semua itu dibalut dalam desain dan looks yang menawan. Good job, Vivo, jangan berhenti di sini ya improvement-nya!

Demikian ulasan singkat saya. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, October 9, 2018

Review Oppo F9, Pengalaman Pertama Beli Hape OPPO



Ini adalah smartphone Oppo pertama yang saya beli, unbox, dan coba sendiri cukup mendalam.



Awalnya saya mempertanyakan kenapa Oppo tidak sekalian upgrade jeroan, kenapa nampak masih betah saja dengan Mediatek Helio P60?

Saya paham, pamor Mediatek tidak sedang bagus-bagusnya di mata pengguna smartphone tanah air.

Tapi harusnya memang kita pantang bilang jelek kalau tidak dicoba dulu. Contohnya ya Helio P60 ini.

Sebagai indikator awal, silakan dilihat skor benchmark Antutu-nya yang menembus 100-ribu.

Faktanya dalam pemakaian, Oppo F9 yang berbaterai 3.500 mAh ini selalu mampu dibawa oleh processor ini untuk menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya.

Dengan pola pemakaian banyak social media, dan sesekali gaming, dipakai istri nonton drama korea, dan juga youtube, segini sih oke banget.

Plus maen PUBG tanpa demam.

Di hari-hari awal pengujian, paling tidak stigma Mediatek yang boros dan panas rontoklah sudah.

Sayangnya, untuk detail pemakaian baterai di ColorOS tidak lengkap tersedia ya. Dan ada beberapa hal lagi yang saya belum terbiasa atau kurang sreg degan custom UI milik Oppo ini.

Yang paling terasa sih notification item. Jadi kita harus menggeser ke kiri, lalu tap icon trash untuk melakukan hal yang sebetulnya di Android pure atau custom UI lain cukup dengan diswipe saja.

Selanjutnya ada soal camera setting. Di UI aplikasi camera, saya mencari-cari tombol setting ini, ternyata tidak ada. Setelah tanya-tanya ke teman yang sudah lebih lama menggunakan Oppo, rupanya harus masuk dari setting, system apps, lalu pilih Camera.

Bukan masalah besar, tapi juga bukan penerapan UX yang baik, dan saya harap dengan saya bahas di sini, jadi input buat team developer ColorOS ya.

Karena sebetulnya, Oppo F9 ini adalah produk yang sangat menarik, dan juga worth every Rupiah.




Saya rasa kerja keras Oppo beberapa tahun terakhir, mulai menuai hasil. Di range harga 4-jutaan, beberapa generasi seri F Oppo saya pikir sudah berhasil membuat standar seperti apa kamera smartphone seharusnya di level midrange.


Terlepas dari kemampuan Selfie-nya yang memang istimewa, sebetulnya kamera depan dan belakang Oppo F9 ini sangat mumpuni dipergunakan mengabadikan berbagai momen.

Memang Beautification pada Selfie-nya membuat wanita-wanita nampak lebih cantik dari aslinya, yang mana membuat kalian-kalian para cowok jomblo harus berhati-hati jika menilai penampilan gebetan dari foto Instagram-nya saja.

Tapi, selain beautification, ada kelebihan kamera Oppo F9 ini, yaitu kemampuannya memberikan warna yang lebih vivid dari aslinya. Mengingatkan akan kemampuan kamera Huawei P20 Pro yang saat ini masih digadang-gadang sebagai camera smartphone dengan skor DxoMark tertinggi.

Inipun sebetulnya tergantung selera ya, sebagian mungkin lebih suka warna ngejreng alias vivid banget begini, sementara lainnya lebih suka yang flat dan lebih realistis. You choose lah.

Sementara untuk perekaman video, karakter warnanya juga tetap vibrant, walau memang stabilisasi tergolong minim.

Yuk, silakan dilihat pajangan foto dan video yang saya hasilkan menggunakan Oppo F9 ini.

[HASIL KAMERA]

Setelah kamera, kita bahas desain. Sengaja saya bahas belakangan, karena bagian ini termasuk yang cukup menonjol.

Oppo F9 varian Starry Purple ini pastilah mencuri perhatian orang yang melihatnya. Kilauan backcover dengan gradasi ungu ke violet, masih ditaburi percikan bintang-bintang kemerlap di bagian atas. Dan gradient ini berlanjut hingga ke frame pinggirnya, jadi saat diletakkan menengadah di atas meja pun, kecantikannya masih terlihat.


Untuk desainnya sendiri, seingat saya tidak berbeda dengan Oppo F7, selain kini di sisi belakang kameranya sudah berjumlah dua biji. Lain hal dengan sisi depan, Oppo F9 membawa perubahan pada waterdrop screen-nya, di mana notch untuk kamera depan sudah sangat minim, membuat notification bar semakin lega.

Bobot yang ringan, membuat Oppo F9 ini terkesan tak kokoh ya, padahal mah belum tentu. Perlu pengujian lebih lanjut sih soal build quality mah, yang sayangnya saya tak sampai hati untuk merusak keelokan ponsel ini, alias gak mau rugi hehehe.

Dan ya memang, backcover Oppo F9 ini cukup rentan menjebak minyak dari sidik jari, sehingga Anda harus rajin mengelapnya agar tetap shiny. Softcase disediakan sih dalam paket penjualan, hanya saja terasa menambah tebal ponsel ini.

Untuk loudspeakernya, suaranya lantang dan jernih, enak lah digunakan mendengarkan musik atau bermain game. Hanya dengan letak di sebelah kiri bawah ponsel, maka kita perlu mengubah kebiasaan saat memegangnya secara landscape. Caranya mudah, pastikan tombol volume up and down ada di sisi atas, dengan begitu, dipastikan loudspeaker tidak tertutup tangan saat dipegang dalam posisi horizontal begini.

Terakhir, ada fitur VOOC Charging yang jadi jualan utama Oppo sebagai peningkatan F9 dari seri sebelumnya. Dalam pengujian, memang terbukti pengisian dayanya sangat cepat, di mana dalam setengah jam, kenaikan persentase baterai mencapai 50%.

Namun, VOOC ini sifatnya masih eksklusif, alias Anda harus selalu menggunakan kepala charger dan kabel bawaan. Kalau tidak, OPPO F9 tidak mau menerima fast charging dari metode lain, semisal Qualcomm QuickCharge atau Power Delivery, saya pernah coba dan bahas ini di sebuah video review Powerbank belum lama ini.

Jadi ya charger dan kabelnya harus dibawa terus, atau kalau mengisi daya dengan powerbank, harus maklum jika tak secepat dengan charger bawaan. Tapi ga sampai lambat juga sih, ya di 5V 2A kira-kira hampir 2 jam lah pengisiannya.

Di level harga 4 juta, kamera Oppo F9 sangat stand out, walau untuk urusan performa juga sebetulnya tak dilupakan. Mediatek Helio P60 mungkin akan jadi titik balik dari perjalanan Mediatek di Indonesia ke depannya. Serius, coba sendiri deh mending!

Kesan pertama saya memakai produk Oppo lebih dari seminggu tergolong memuaskan, apalagi sepertinya minat netizen terhadap ponsel ini juga cukup tinggi, views di unboxing-nya cukup tinggi padahal saya bukan yang pertama unbox. Jadinya bikin semangat deh buat terus nyobain produk smartphone Oppo ke depannya, semoga ada rezekinya aja ya.

Untuk kesempatan ini, saya cukupkan sekian. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!