Gadget Promotions

Saturday, September 15, 2018

Review Vivo V11 Pro, Ketika Terobosan Vivo Membuatnya Makin Susah Dibully!



Pada ulasan kali ini saya akan menceritakan impresi saya terhadap produk smartphone terbaru yang baru saja dirilis, yaitu Vivo V11 Pro.

Namun, pastikan dulu Anda sudah menonton video unboxingnya di mana saya menyampaikan 11 informasi penting tentang Vivo V11 Pro ini, yang sebaiknya Anda ketahui terlebih dulu.



Jika melihat bentuknya sekilas saja, sepertinya tidak banyak perubahan pada desain dari Vivo V11 Pro ini jika dibandingkan pendahulunya.

Tapi jangan salah, begitu saya membaca spec sheet ponsel ini, saya membatalkan pembelian beberapa ponsel yang tadinya ingin saya coba lho. Mau tahu kenapa?

Alasannya karena semakin banyak perbaikan yang Vivo berikan pada Vivo V11 Pro ini.

Pertama adalah hadirnya dual-engine fast charging, yang membuat pengisian daya dapat berlangsung dengan cepat. Anda yang memiliki kepala charger yang support Qualcomm Quickcharge 3.0, dapat menggunakannya pada Vivo V11 Pro dengan hasil yang optimal.

Kedua adalah panel layar yang digunakan kini adalah Super AMOLED. Saya yakin banyak sekali penggemar panel layar yang dikenal berkarakter vivid ini. Dengan panel ini, Vivo V11 Pro bisa memiliki fitur always on display yang useful.

Dengan demikian, smartphone ini tak lagi membutuhkan LED Notifikasi sehingga daerah notch benar-benar hanya disisakan untuk kamera depannya saja. Kamera yang beresolusi 25 Megapixels ini saya yakin takkan membuat Anda terganggu, karena daerah notification panel masih tersisa sangat lebar.

Ketiga adalah imbas dari notch yang semakin mungil ini, daerah yang digunakan untuk layar menjadi semakin luas. Jadi, meskipun sekarang diagonal layarnya mencapai 6,4 inci, sejatinya dimensi ponsel ini masih ringkas, kurang lebih sama lah dengan smartphone lain yang berlayar 6 inci. Sejauh ini, Vivo V11 Pro ini adalah smartphone dengan rasio layar ke body paling tinggi yang pernah saya gunakan. Dan asli keren aja keliatannya kalau di tangan ada hape yang sisi depannya nyaris layar semua  seperti ini.

Keempat, coba balikkan smartphone ini deh. Pada backcover Vivo V11 Pro kini sudah hadir efek gradasi warna yang menawan. Bahkan pada varian starry black yang saya coba ini, efek percikan bintangnya jadi sesuatu yang berbeda, dan bisa memantulkan warna yang berbeda tergantung sudut pencahayaan. Saya yakin proses pembuatannya pasti rumit sehingga bisa semenarik ini. Dan saya juga senang menggenggam Vivo V11 Pro karena backcovernya ergonomis berkat lengkungan di kedua sisinya.

Sudah itu saja? Haha. Saya sengaja menyimpan bagian terbaiknya di akhir. Yap, Vivo V11 Pro adalah smartphone pertama yang resmi masuk ke Indonesia dengan fingerprint scanner yang berada di bawah layar, atau yang Vivo beri nama Screen Touch ID. Jadi konsep-konsep yang selama ini sering diperlihatkan oleh Vivo, pada akhirnya bisa hadir langsung juga.

Sempat khawatir dengan akurasi dan waktu responnya, Vivo V11 Pro sejauh ini nyaman-nyaman saja saya gunakan. Akurat dan juga responsif, tak ada perbedaan signifikan untuk masalah performanya jika dibandingkan dengan fingerprint reader konvensional, namun jelas-jelas menghemat space dan juga semakin membuat ponsel ini terlihat slick.

Sebagai tambahan, face unlock juga hadir dengan performa yang lagi-lagi mengagumkan juga. Jika kita teliti baik pada ruang sempit di antara layar dan earpiece, di situ ada pemancar infrared yang bertugas membantu agar pemindaian wajah dapat dilakukan dengan cepat, di berbagai kondisi, termasuk di ruangan dengan cahaya redup.

Saya tahu, sudah pada nungguin pembahasan kamera kan? Heuheu.

Okay, saya akan berikan fakta yang belum saya sebut di video unboxing. Yaitu tentang bukaan lensanya.

Untuk kamera depan yang beresolusi 25 Megapixels, bukaan lensanya sebesar F/2.0. Sementara kamera belakang gandanya yang beresolusi 12 dan 5 Megapixels, memiliki aperture masing-masing sebesa F/1.8 dan F/2.4.

Pantas saja ketika pada suatu tengah malam saya mencoba berfoto, hasilnya bisa tetap terlihat jelas dan baik. Ternyata bukaan lensanya lebar. Tapi tak hanya itu, kamera belakang Vivo V11 Pro menganut sistem dual pixel yang memang membantu performa lowlights, dan juga auto focus yang cepat.

Sisanya adalah AI! Yap, fitur AI pada Vivo V11 Pro makin kentara hadir, dan sangat membantu, terutama pada kondisi-kondisi khusus, semisal saat berfoto menghadap sumber cahaya, Backlight HDR akan langsung menyala. Dan sejauh ini, inilah fitur AI yang paling sering membantu saya. Heuheu.

Walau sebetulnya banyak sekali kegunaan dari fitur AI yang dimiliki oleh smartphone ini, semisal membantu agar foto kuliner lebih stand out, foto selfie lebih dramatis dengan latar yang blur, atau sekedar have fun dengan funmoji yang dimiliki Vivo V11 Pro. Ada mode kumis lho, jadi cowok juga bisa lucu-lucuan nih! Hahaha.

Jika Anda bertanya ikon warna-warni apakah yang muncul dekat tombol shutter cameranya, itu adalah Google Lens yang membuat kamera Anda menjadi mesin pencari, semisal saat Anda ingin tahu di mana bisa membeli sepatu yang sama dengan yang dipakai oleh teman Anda, hehehe.

Silakan dilihat hasil foto dan video dari Vivo V11 Pro ini, termasuk hasil video slow-motion-nya ya!



Masuk ke sisi performa, saya bisa mengandalkan Vivo V11 Pro yang kombinasi dapur pacunya sebetulnya sudah teruji di pendahulunya. Processor Qualcomm SNapdragon 660 dengan AI Engine masih sangat mumpuni untuk mentenagai berbagai kegiatan saya sehari-hari.

Dibantu dengan RAM sebesar 6 GB, multitasking hingga bermain game kesukaan bisa saya nikmati dengan mudah.

Agak disayangkan memang pada FunTouch OS ini tidak terdapat yang menunjukkan durasi pemakaian baterai, namun ketika saya bawa Vivo V11 Pro ini dalam perjalanan, di mana tidak ada koneksi Wi-Fi, dan sebentar-sebentar saya selalu mengecek ponsel, smartphone ini mampu bertahan menembus 24 jam, yang artinya cukup banget buat saya.

Apalagi kalau saya sedang stay di kantor dan terhubung ke wifi, bisa lebih lama lagi daya tahan bateraiya. Sementara kalau diselingi bermain game cukup lama, kira-kira bisa lah bertahan dari pagi hingga sore atau malam.

Nah untuk game ini, FunTouch OS menurut saya memberikan experience yang baik dengan adanya game mode yang membantu agar gameplay kita tidak terganggu oleh notifikasi yang masuk.

Jika Anda termasuk orang yang mengandalkan Personal Assistant pada smartphone, Vivo memberikan alternatif dengan hadirnya Jovi berdampingan dengan Google Assistant. Jovi AI Assistant besutan Vivo ini sendiri akan terus mempelajari pola pemakaian Anda sehingga semakin hari semakin paham kebiasaan dan kebutuhan Anda.

Sejujurnya saya sih jarang pakai Personal Assistant seperti ini, heuheu.

Bagus-bagus semua ya impresinya heuheu, ya memang seperti itu yang saya rasakan saat menggunakan Vivo V11 Pro ini. Bukan berarti tidak ada pengembangan yang bisa dilakukan Vivo untuk produk selanjutnya lho.

Menurut saya, pasti akan lebih membuat orang tertarik lagi jika produk selanjutnya sudah memiliki NFC dan juga USB Type-C port. Hal ini mengingat arah pembayaran cashless di Indonesia sudah semakin matang, di mana NFC akan sangat membantu, sementara USB Type-C akan membuat data transfer makin cepat, walau menurut saya pula hal ini tidak terlalu mendesak, karena sekarang jamannya orang transfer data via cloud, bukan pakai kabel data lagi.  Toh fast charging sudah hadir di Vivo V11 Pro ini.

Nah tinggal soal harga nih, ketika saya menulis naskah video ini, saya belum tahu harga resmi Vivo V11 ini di angka berapa. Menilik harga produk pendahulunya dan melihat berbagai perbaikan yang diberikan, besar kemungkinan harganya menyentuh kepala 5 juta. Dan menurut saya, seandainya benar harganya di kisaran 5-jutaan, masih worth the money lah Vivo V11 Pro ini.

Dengan highlight di performa kamera yang mantap, dapur pacu yang juga bisa diandalkan, desain menarik hati dan jangan lupa panel layar dan screen touch ID-nya yang tergolong barang mewah ini.

Semoga tak berhenti di sini ya, semoga Vivo terus membawa terobosan baru pada produk-produk smartphone yang dirilis resmi di Indonesia ini.

Demikian impresi saya terhadap Vivo V11 Pro ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, August 9, 2018

Review Honor 10, The Perfect 10?



Another Dream Come True, ya Honor 10 adalah smartphone yang sudah saya tunggu-tunggu untuk diunbox dan direview.

Tapi kali ini ada yang berbeda, karena sekarang sudah hadir resmi di Indonesia melalui kerjasama Honor Global dan Icool International Indonesia.

Anda bisa mendapatkan smartphone kece yang satu ini di harga 7 juta kurang seribu Rupiah. Atau kalau ngga mau rugi, bisa ikut pre-ordernya supaya dapat voucher diskon 500rb + bluetooth earphone yang kurang lebih harganya 500-600 ribuan itu.

Ya, dengan jalan pre-order maka harganya bisa mirip dengan harga jual Honor 10 ini di negeri tetangga, namun dengan jaminan garansi lokal.



Sisi yang paling menarik dibahas dari ponsel ini pastinya ada di sisi belakang alias backcovernya. Buat yang belum pernah mencoba seri flagship-nya Honor sebelumnya, bisa jadi ini adalah hal yang baru ya. Refleksi cantik berkat proses produksi khusus untuk menghasilkan lapisan-lapisan yang menimbulkan efek optik menawan ini sejatinya sudah hadir koq di Honor 8 maupun Honor 9.

Bedanya, pada varian warna Phantom Green dan Phantom Blue keindahan ini makin nyata berkat gradasi warnanya yang saya yakini tak lama lagi akan banyak diikuti oleh ponsel lain.

Yang saya pakai dalam video ini sih warna Glacier Grey, yang lebih terlihat seperti warna silver yang condong ke biru langit.

Perbedaan dari Honor 9 sebetulnya tak terlalu mencolok terlihat, kecuali ketika layarnya dinyalakan. Ya, Honor 10 sudah hadir dengan layar yang lebih kekinian, dengan rasio memanjang 19:9 dan notch di atasnya.

Pada notch ini, Honor masih bisa menempatkan kamera depan dengan resolusi besar di 24 Megapixels, lalu ada earpiece, dan proximity serta ambience sensor. LED notifikasi turut hadir, ukurannya kecil saja, dan posisinya di pojok kiri atas dari notch ini. Seperti biasa, notch ini bisa disamarkan dengan menjadikan kedua pojok layar ini menjadi hitam. Memang dengan panel IPS ini, warna hitamnya tak bisa terlalu pekat sehingga masih terlihat cukup berbeda.

Yang sangat saya apresiasi dari layar Honor 10 ini adalah kemampuannya untuk tetap terlihat dengan kontras yang baik, meskipun di bawah terik sinar matahari. Sementara dimensinya yang cukup compact di 5,84 inci saja, menurut saya sangat enak ketika digenggam maupun dimasukkan ke dalam saku celana. Walau untuk gaming, rasa-rasanya lebih besar lebih nyaman ya.

Honor 10 pun masih memiliki infrared blaster di sisi atas, serta port audio 3,5 mm di sisi bawah. Dua kelengkapan yang masih saya butuhkan untuk hadir di smartphone yang saya gunakan sehari-hari.

Di sisi bawahnya, ada loudspeaker yang tak kalah baiknya dengan milik Honor 9 dulu. Yap, saya masih sangat bisa menikmati lantunan musik kala didendangkan melalui loudspeaker ini. Jika tak butuh power berlebih sih, saya rasanya tak perlu pakai bluetooth speaker deh. Mau dengar suaranya? Boleh, nih saya putarkan sedikit lagu ya.

Untuk sektor multimedia ini, Honor 10 nampaknya memang akan bisa memuaskan penggunanya. Dan hal ini termasuk kameranya yang punya kualitas di atas rata-rata. Hasil foto kameranya tergolong baik dan tajam, namun memang nada warnanya terlalu vivid, atau terlalu gonjreng buat sebagian orang. Dan ini tak cuma berlaku di foto, hasil videonya pun sama.

Lowlights masih bisa menghasilkan gambar yang baik, walau tone warnanya jadi agak pucat.

Performa dalam pengambilan gambar maupun perekaman video sih tidak ada masalah, karena jeroannya sudah mumpuni banget. Fitur AI juga hadir, di mana kamera dari Honor 10 ini akan menawarkan settingan yang sudah dioptimasi untuk kondisi-kondisi tertentu yang dikenalinya. Asyiknya adalah, jika fitur AI ini dinyalalkan, Honor 10 akan menyimpan dua buah gambar, yang satu adalah gambar yang sudah diproses dengan algoritma AI miliknya, dan satu lagi adalah gambar asli yang belum disentuh. Jadinya nanti kita bisa pilih setelah gambar diambil ya.

Hal yang sama berlaku juga untuk foto bokeh yang diambil menggunakan mode wide aperture. Setelah gambar diambil, kita masih bisa mengatur posisi fokus maupun kadar blur pada bagian yang tak mendapat fokus.

Berbagai mode kamera hadir dengan lengkap pada Honor 10 ini, termasuk mode manual yang sangat lengkap, lalu ada AR Lens, dan tak lupa slow motion yang bisa merekam video dengan perlambatan 16x atau tepatnya pada 480 fps. Satu hal lagi yang saya dapatkan setelah update system terakhir adalah handheld night shoot mode, yaitu mode pengambilan gambar pada kondisi cahaya redup yang memungkinkan kita mengambil gambar yang tetap terang dengan memperlambat shutterspeed, namun bisa dilakukan dengan stabil tanpa menggunakan tripod.

Bagi Anda yang belum tahu, kamera utama Honor 10 ini beresolusi 16 Megapixels, yang dibantu kamera kedua yang bersensor monokrom dengan resolusi lebih tajam di 24 Megapixels. Dua-duanya memiliki bukaan lensa yang lebar di f/1.8. Jika Anda mau tahu kenapa hasil gambarnya gonjreng, ya ini dia alasannya, perpaduan kamera RGB dan Black and White. Mantap!

Silakan disimak hasil foto dan video dari Honor 10 ini, dan setelah ini kita akan bahas apa lagi yang dibawa oleh system update yang baru saya dapat 3 hari setelah Honor 10 ini rilis resmi di Indonesia.



Yap, seperti janji saya tadi, saya akan bahas ada apa sih sebetulnya pada system update terakhir yang diterima oleh Honor 10.

GPU Turbo, apakah Anda pernah mendengar atau membaca istilah ini?
Jadi ini adalah optimasi yang diberikan Huawei dan Honor, sejauh ini yang saya tahu baru ada di processor HiSilicon Kirin 970 dan 710, untuk meningkatkan performa GPU-nya sekitar 60%, namun dengan konsumsi daya yang lebih rendah sekitar 30%. Terdengar menggiurkan ya!

Namun pada prakteknya, fitur ini masih terbatas pada penggunaan aplikasi tertentu. Semisal untuk gaming, yang sudah support di Honor 10 saat ini adalah Mobile Legends, dan juga PUBG.

Wow PUBG! Atuh serasa pucuk di cinta, Yuriva pun tiba ini mah haha. Kebetulan sejak bulan puasa kemarin, Aa senang bermain PUBG. Dan sebelum ada update GPU Turbo inpun saya sudah maen PUBG di Honor 10, dan so far lancar-lancar saja dengan setting grafis mentok kanan.

Yang saya sasar sih lebih ke soal penghematan dayanya. Ya, karena dengan pemakaian gaming sekitar 1 jam sehari dan total screen-on time hingga 4 jam, Honor 10 baru mampu bertahan dari pagi hingga malam saja. Jika mau bertahan selama 24 jam, baru bisa tercapai saat saya sibuk di kantor, jarang buka hape, dan dibantu oleh koneksi wi-fi kantor.

Setelah update GPU Turbo ini, terasa ada perbaikan yang mana membuat saya happy pastinya. Karena update ini juga berimbas ke performa kamera yang lebih baik lagi.

Soal performanya Honor 10 sih tak usah diragukan, jeroannya kira-kira sama dengan Honor View 10 maupun Huawei P20 atau P20 Pro. Skor Antutu-nya 200-ribuan, dan sudah lebih dari cukup supaya kepake sama saya.

Perbaikan yang bisa dilakukan lebih ke daya tahan baterai, yang mana sebetulnya adalah konsekuensi dari size smartphone ini yang compact, sehingga kapasitas baterainya ada di 3.400 mAh. Selain itu paling fingerprint scanner-nya yang underglass, walau secara estetika memang lebih indah, namun dalam prakteknya kadang membuat saya kurang pas dalam meletakkan jempol saat hendak membuka kunci layar.

Sisanya sih TOP banget lah Honor 10. salut buat Honor yang berani langsung memasukkan flagship mereka ke Indonesia. Dan harganya itu lho, tergolong murah untuk kelas flagship mah ya.

Asli racun, untung saya punya satu. Jadi ga cuma mupeng doang, heuheu.

Demikian cerita saya kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, August 3, 2018

Review ASUS Zenfone 5Q, JAUH Lebih Baik dari Zenfone 4 Selfie series!



Ini adalah varian lite dari Zenfone 5 series yang di Indonesia dijual dengan nama Zenfone 5Q dengan harga resmi di angka 3,5 juta Rupiah.

Dan smartphone ini, terasa lebih sayup ya gaungnya di kancah persaingan smartphone terkini. Apa mungkin karena dijual dengan cara tradisional seperti smartphone ASUS tahun lalu?

Tradisional bagaimana? Iya, ASUS sebelum punya produk-produk yang dibilang netijen sebagai produk ghoib, biasanya sudah mendistribusikan smartphone-nya ke pasaran terlebih dahulu sebelum mulai berpromosi. Dan biasanya dijual oleh pedagang online dengan selisih harga yang lumayan lebih rendah dari harga resminya. Plus, ngga rebutan, jadi ngga ghoib.

Zenfone 5Q juga begitu, meskipun sebetulnya dirilis berbarengan dengan Zenfone Max Pro M1, namun produknya memang baru tersedia belakangan ini. Tapi stoknya langsung lancar lho, dan saya temukan banyak penjual yang sudah berani memasang di bawah 3,4 jutaan.

Apa produknya tidak menarik ya? Ah ngga koq, malah sebetulnya Zenfone 5Q ini punya diferensiasi yang cukup jelas, dan seharusnya membuat Anda tergiur deh. Mari kita mulai bahas smartphone ini ya.

Saya pertama kali memegang ponsel ini di experience area pada acara launching-nya. Sempat mencoba-coba sebentar, material glass pada backcovernya berhasil membuat saya berujar bahwa saya harus punya satu nantinya.

Sampai saat ponsel ini tersedia di pasaran, saya masih menahan hasrat karena yang dijual baru varian warna hitam. Ya, saya menunggu warna putihnya, mengingat warna hitam dan material kaca itu artinya auto-kumal, alias mudah kotor oleh bekas minyak dari jari kita.

Namun lama ditunggu tak kunjung tiba juga si putih, heuheu, ya sudah go on saja dengan yang hitam deh. Hitamnya ini sepintas agak kebiruan, mengingatkan pada ASUS Zenfone 3 banget. Dan memang seperti ada nostalgia dengan Zenfone 3 sih saat saya menggenggamnya.



Frame metal di sekeliling bodynya dibuat membulat, membantu untuk masalah ergonomics-nya. Namun sayang tepian frame yang bersentuhan dengan kaca depan maupun belakang, sedikit terasa agak tajam, padahal kaca-kaca ini sudah memiliki tepian agak melengkung, yang rasanya jadi percuma.

Bobot smartphone ini sangat membantu memberi kesan solid. Ya memang, glass + metal + glass pasti menghasilkan berat di atas rata-rata.

Cantik? Cantik atuh, meskipun backcover kacanya polos saja tanpa pattern seperti yang dimiliki Zenfone 5 ya.

Apa yang terasa kurang dari masalah looks ponsel ini? Hampir tak ada sebetulnya, hanya saja port micro-USB itu akan lebih indah jika diganti oleh USB Type-C ya heuheu.

Bukan masalah besar memang, tapi seandainya sudah USB Type-C, rasanya lengkap banget deh. Ponsel 3,5 jutaan sudah punya NFC, kameranya ada 4, dengan RAM 4 GB dan storage 64 GB plus triple-card slot, masa iya ga bikin tertarik?

Layarnya sendiri sudah kekinian, alias punya rasio 18:9 serta resolusi Full HD+ yang sudah cukup banget untuk dimensinya yang 6 inci. Panel IPS-nya memiliki reproduksi warna yang cukup baik, walau vibrancy-nya pastinya masih di bawah layar AMOLED dari ponsel utama saya.

Lanjut ke dapur pacu, Zenfone 5Q ini ditenagai oleh processor Qualcomm Snapdragon 630 yang baru pertama kali ini saya coba. Bukan processor baru sebetulnya, namun memang terbilang jarang yang menggunakannya, karena kebanyakan pabrikan smartphone di tanah air lebih memilih stay di Snapdragon 625.

Sepenilaian saya, Snapdragon 630 ini memiliki kemiripan karakter dengan 625 di mana sama-sama memiliki konsumsi daya yang hemat, namun terasa bahwa 630 punya kemampuan processing yang lebih kuat.

Dipakai bermain PUBG, recommended setting default buat grafiknya ada di low. Saat saya naikkan sedikit ke HD masih bisa bermain dengan lancar. Walau memang terasa agak sedikit ngos-ngosan tiap layar saya swipe buat melihat ke sekitar untuk mencari senjata yang tercecer.

Sekitar 40 menit bermain, rasa hangat muncul di backcover bagian kiri atas, tidak sampai panas berlebih sih, ngga tahu kalau dimainkan sampai berjam-jam ya. Saya sih ngga kuat main game berlama-lama. Oh ya kalau sedang main terus terasa ada yang hangat di celana, silakan dicek, jangan-jangan kamu ngompol itu mah, heuheu.

Nah untuk masalah keawetan baterai, kebetulan selama masa uji Zenfone 5Q ini saya sedang dibebastugaskan dari pekerjaan oleh dokter yang memeriksa, jadi saya punya cukup banyak waktu bersamanya. Bersama Zenfone 5Q ya, bukan bersama dokter tadi, aki-aki soalnya dokternya, hehe.

Jadi ngelantur, hayu ah bahas baterai. Dengan pemakaian intens yang berakibat screen-on-time menembus 6 jam, Zenfone 5Q rata-rata mampu bertahan 18 jam alias dari bangun pagi sampai saat mau beranjak tidur lagi. Catat ya, biasanya screen-on-time saya sehari hanya 3-4 jam saja.

Saat saya masuk kerja kembali, dan dibantu dengan wi-fi kantor sekitar 4 jam, Zenfone 5Q berhasil bertahan menembus 1 x 24 jam, dengan screen-on time yang masih cukup besar di 5 jam. Untuk ukuran pemakaian intens seperti itu sih awet lah ya.

Lalu bagaimana dengan empat kameranya? Gimana ya bilangnya heuheu. Di atas kertas, kamera Zenfone 5Q ini mentereng banget, dengan resolusi besar-besar. 20 Megapixels untuk sensor pada lensa selfie utama, dan 16 Megapixels untuk sensor pada lensa utama yang berada di belakang. Keduanya sama-sama dipasangkan dengan lensa wide dengan resolusi sensor 8 Megapixels. Portrait mode pun tersedia untuk kamera depan maupun belakang.

Mentereng bukan? Tambahkan fakta bahwa untuk perekaman video juga sudah ada EIS, serta mampu merekam hingga resolusi 4K di 30 fps, dan Full HD di 1060 fps. Jangan lupa juga bahwa sensor kamera depannya sudah menggunakan Sony IMX 376.

Performanya sih bagus, autofocus dan metering berjalan dengan baik, hingga pengaturan manual pun hadir lengkap.

Namun saya merasa bahwa Zenfone 5Q kurang dapat diandalkan di kondisi lowlights. Pada kondisi indoor, settingan auto nampaknya membuat shutterspeed melambat, karena jadinya goyang sedikit saja gampang banget blur. Ya, kalau cahaya kurang, nampaknya tangan yang steady jadi kunci agar hasil foto bisa bagus. Pun soal noise yang tak sungkan hadir, padahal ngga bawa undangan. Adu duh... Heuheu.

Walau demikian saya anggap masih wajar soal kamera ini, mau tak mau memang takkan bisa selevel dengan Zenfone 5 lah, apalagi ini punya lensa lebih banyak.

Hasil foto dan video terbaik yang bisa saya ambil dengan ponsel ini, dapat Anda simak berikut ini.



Masuk ke kesimpulan, bagi saya nampaknya Zenfone 5Q ini digadang-gadang ASUS untuk meneruskan seri Zenfone 4 Selfie yang memiliki kamera depan ganda dengan resolusi besar.

Jika melihat harga awal Zenfone 4 Selfie Pro di 5 juta, dan Zenfone 4 Selfie di 3,5 juta lalu dibandingkan spesifikasinya, saya rasa saya tak bisa komplain soal Zenfone 5Q ini. Jelas sudah banyak perbaikan yang ASUS berikan ya.

Harga sama dengan Zenfone 4 Selfie di awal rilis, namun spesifikasinya bahkan di atas Zenfone 4 Selfie Pro lho. Sudah ada NFC pula, dan material yang premium wajib Anda perhitungkan.

Tersisa satu pertanyaan dalam benak saya, kenapa Zenfone 5Q dijual dengan kondisi masih ber-OS-kan Nougat? Kalah atuh sama Zenfone Max Pro M1, bahkan sama Zenfone Live L1 heuheu.

Ngga khawatir sih, ASUS mah rajin kalau update software, cuma mbok ya disegerakan toh. Biar makin naik lagi value dari Zenfone 5Q yang rasa-rasanya sudah super lengkap untuk smartphone 3-jutaan ini ya.

Sip, itu saja yang bisa saya simpulkan untuk ASUS Zenfone 5Q ini, semoga membantu Anda yang sedang mencari informasi tentang smartphone yang satu ini.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, July 23, 2018

Review Huawei Y5 Prime 2018, Begini Toh Huawei yang Sejutaan...



Ini adalah smartphone android Huawei sejutaan pertama yang saya coba, ya seri Y pertama yang saya coba juga.

Semasa perjalanan arus balik kemarin, Huawei Y5 Prime 2018 ini jadi ponsel kedua menemani Huawei P20 Pro yang merupakan daily driver saya saat ini.

Memang jomplang kalo dibandingkan keduanya, namun untuk ukuran hape dengan harga 1.599.000 sih Y5 Prime 2018 ini tak mengecewakan.

Sudah berjalan pada OS Android Oreo yang kekinian, smartphone ini juga sudah menggunakan layar full view dengan rasio 18:9. Dimensinya yang hanya 5,45 inci membuatnya enak digenggam karena ringkas, dan cocok banget jadi hape kedua mah.



Build quality-nya terasa tak banyak berbeda dari ponsel 2-jutaan Huawei. Termasuk layarnya yang memiliki reproduksi warna yang baik, hanya kurang di lapisan kaca depannya yang reflektif alias gampang memantulkan bayangan saja.

Untuk urusan performa, Huawei Y5 Prime 2018 ini sudah dibekali processor entry level terbaru Mediatek, yaitu MT6739. Kalau melihat skor benchmark sih, ada peningkatan dari MT6737 walaupun tidak terlalu besar. Kira-kira setara Snapdragon 425 lah tenaganya.

Iseng saya coba install game Garena Free Fire untuk membunuh bosan sewaktu server PUBG sedang maintenance. Di luar dugaan game yang memang lebih ringan ini bisa dimainkan dengan sempurna, hingga saya sempat merasakan booyah, alias kemenangan pada game ini.Smooth-smooth aja dipake mainnya tuh.

Untuk masalah daya tahan, baterai 3.000 mAh-nya bisa diajak bertahan dari pagi hingga malam, namun tak lebih. Jadi ya sedang-sedang saja lah ketahanannya.

Satu yang perlu dicatat adalah ponsel ini memiliki dua slot nano sim-card dan satu slot micro-SD dedicated. Sementara storage internalnya sebesar 16 GB dengan RAM 2 GB.

Membandingkan apa yang didapat dengan bandrol harganya, saya tak bisa banyak komplain sih. Malah pujian patut diberikan pada performa kameranya di kondisi ideal. Tone warnanya natural sekali, dan dipakai mengabadikan pemandangan atau bunga-bunga sih mantap lah saya rasa. Dipakai selfie pun masih usable, beautificationnya cukup sedap dipandang mata. Satu yang penting adalah, kameranya dapat dioperasikan dengan lancar, ga lemot-lemotan yang berujung ke males-malesan.

Foto dan video berikut saya ambil menggunakan kamera Huawei Y5 Prime 2018 ini, silakan dinilai langsung ya!



Seri Y dari Huawei ini umumnya bisa didapatkan dengan mudah di gerai-gerai penjualan ponsel offline. Seri ini pulalah yang selama ini konsisten Huawei gelontorkan ke pasaran tanah air.

Tak bisa dibilang best value memang, mengingat rata-rata Huawei menjual smartphonenya pada level harga sedikit lebih tinggi untuk spesifikasi yang setara dengan pesaingnya. Namun masalah kualitas memang berbicara, ponsel seterjangkau inipun masih mantap sekali dalam genggaman, tidak ada kesan murahan.

Bahkan packaging-nya pun tetap terasa elegan meskipun ponsel ini masuk kategory entry level.

Pricing-nya Huawei rada mirip dengan Samsung lah. Kita lihat apakah Huawei bisa menggenjot penjualannya sesukses Samsung di Indonesia atau tidak ya.

Paling tidak saya sudah tak penasaran lagi dengan seri Y milik Huawei ini. Saya sudah coba hampir semua level smartphone Huawei sekarang, tinggal seri Mate saja nih yang belum, hehe. Doakan ada rezekinya ya!

Segini aja videonya ya, dari kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Review Honor 7X, Anak Tiri yang Bersinar, Hahaha!



Saya sengaja menunda review Honor 7x ini, nunggu update ceritanya. Berharap perangkat ini bisa senasib dengan Honor 9 Lite yang sudah berjalan di atas biskuit dengan isi krim putih dengan balutan EMUI 8.0.



Pucuk di cinta, update pun tiba. Lumayan gede pula, hampir 500 MB waktu itu.

Namun apa daya, ngga naek tangga euy, alias setey setrong di Nougat dengan EMUI 5.1 aja. Padahal security patch level-nya sudah update ke 1 Juni 2018.

Ngga habis pikir saya.

Honor begitu liar di Indonesia.

Habis launching 3 produk sekaligus, banyak sekali kejutan lainnya haha.

Honor 9 Lite selalu habis di flash sale.

Honor 7x harganya drop setengah juta dari apa yang diinfokan pas launching. Bagus sih, soalnya kalau tetep 3,5 juta mah udah aja mending ambil Huawei Nova 2i kayanya.

Pricing yang tepat nampaknya, buktinya ponsel ini ikut-ikutan ghoib stoknya, habis terus waktu flash sale.

Apa karena dijualnya di Lazada yak? Entahlah ahhaha...

Yang sedih sih, sampai saat ini Honor View 10 belum ketauan nasibnya. Apa mau muncul jadi jagoan pamungkas, atau malah masih sibuk dandan sana sini di belakang panggung.

Keburu keluar Honor 10 atuh bos, nanggung kalau gini caranya mah. Mending skip aja langsung ke Honor 10 haha.

Eiya, judul videonya kan review Honor 7x ya, haha.

Sebetulnya penilaian saya sih oke banget buat hape ini, 3 juta dapet RAM 4 GB dan Storage 64 GB. Bodinya juga mentap, kokoh terasa dengan desain membulat di semua tepiannya.

Memang jadi minimalis sekaligus mainstream abis desainnya ya. Tapi warna birunya itu lho, kece kece gimana gitu. Hape lain di harga segini biasanya warnanya kalo ga item ya gold, bosenin.

Sayangnya saya ga suka desain kamera belakangnya yang menonjol, ga cantik amat ya. Padahal kamera ganda ini jagoan lho kalo diajak ambil foto bokeh, dan foto-foto lain dengan mode pro alias manual yang lengkap. Performa smooth, ambil gambar lancar.

Untuk lowlights, sebetulnya ada perbaikan jika dibanding Honor 9 Lite, tapi memang belum sampai ke taraf istimewa.

Silakan dilihat saja foto-foto dan video berikut ini ya gaisss.



Oke, kalau sudah dilihat hasil kameranya, simpan dulu penilaian akhir Anda, karena saya mau bahas performa dulu.

Kirin 659 ini dipakai Huawei dan Honor di mana-mana deh. Mulai dari hape 2-jutaan sampai yang rada mahal, Nova 3 alias P20 Lite yang harganya sekitar 5-jutaan.

Performanya stabil, smooth diajak maen game, ngga gampang demam, juga ga boros baterai.

Namun anehnya, waktu saya mau maen PUBG di sini, settingan defaultnya mentok di low. Padahal di Honor 9 Lite yang RAM-nya 3 GB aja waktu itu defaultnya medium.

Nah, kalau dipake maen dengan setting yang dibiarkan low, jadinya nggleser banget alias smooth euy! RAM-nya 4GB sih, gimana ngga lancar. Belum lagi produk-produknya Huawei dan Honor dikenal memiliki penerimaan sinyal yang baik. Asalkan Anda tepat memilih operator seluler, harusnya sih maen PUBG begini enak dan lancar banget lah.

Layar Honor 7x ini pun sedap dipandang mata, dengan kerapatan yang pastinya cukup banget. 5,99 inch, rasio 18:9, dan resolusi Full HD+ kayanya udah jadi standar rekomendasi saat ini lah.

Urusan audio sih saya nilainya biasa aja, alias rada flat, tapi ngga sember.

Jadi, kalau Anda punya duit 3 juta, dan bosen sama merek sebelah yang warnanya itu-itu lagi, Honor 7x ini siap dipinang dengan syarat Anda bisa menaklukan bapaknya flash sale, alias Lazada, hahaha.

Yap, Honor 7x ini saya anggap paket kompletnya Honor di harga yang masih terjangkau lah. Ga rugi dipinang, walau alternatif di harga segini memang banyak.



Okelah, segitu aja review ringan kali ini, semoga suka dengan gaya review santai seperti ini ya, haha.

Wassalam!

Review Infinix Hot 6 Pro, Sejutaan Paling Lengkap!



Sekedar meluruskan, pada video unboxing-nya saya memberi judul hape sejutaan, karena ponsel ini punya 2 varian dengan harga di kepala satu jutaan ya. Bukan tepat 1 juta harganya.



Varian RAM 2 GB hadir dengan storage 16 GB, dibandrol seharga 1,5 juta, dan varian RAM 3 GB diberi storage 32 GB dengan nilai tebus 1,8 juta.

Dan pada video unboxingnya, saya juga bilang ini adalah hape sejutaan terlengkap. Kenapa begitu? Ah, pokoknya baca terus saja sampai habis jika mau tahu ya!

Pada kisaran harga 1,5 sampai 1,8 jutaan, Infinix Hot 6 Pro memang saya nilai lengkap sekali dan punya fitur-fitur yang benar-benar sedang hot jadi selera pasar saat ini.

Pertama punya layar yang disebut Infinix sebagai Infinity Display, dengan rasio memanjang 18:9. Pada level harga yang setara,  pesaing untuk Infinix Hot 6 Pro jadinya hadir dari Xiaomi Redmi 5, dan ASUS Zenfone LIve L1.

Nah, kelengkapan kedua ini tak dimiliki oleh dua pesaingnya tadi, yaitu kamera belakang ganda dengan fitur bokeh. Zenfone Live L1 bisa bokeh, tapi kameranya hanya satu, sementara Redmi 5 ya gitu deh. Heuheu.

Ketiga adalah hadirnya fingerprint scanner yang tak dimiliki Zenfone Live L1. Redmi 5 boleh bangga karena sama-sama punya hal ini. Menurut saya keduanya sama-sama memiliki respon yang cepat dan akurat saat digunakan membuka kunci layar.

Keempat adalah fitur face unlock. Fitur ini memang dimiliki juga oleh Zenfone Live L1, tapi untuk masalah akurasi maupun kecepatannya, masih agak tertinggal dibanding Infinix Hot 6 Pro. Plus Hot 6 Pro punya fitur untuk menyalakan LED flash di sisi depan untuk membantu pencahayaan saat membuka layar dengan metode face recognition ini.

Eh tapi kayanya daripada lama-lama nyalain flash dulu, mending pake fingerprint scanner aja kali ya, haha.

Nah, Redmi 5 dulu waktu saya coba sih belum bisa face unlock, ga tau sekarang. Boleh tulis di kolom komentar ya kalau memang sudah bisa.

Pun soal LED notifikasi, Infinix sudah tak main sunat lagi. Hadir koq, ada kiri atas layarnya ya.

Lalu soal dapur pacu, Infinix juga sekarang lagi mesra nih sama Qualcomm. Ini adalah ponsel ketiga secara total, atau kedua secara berurutan, yang Infinix hadirkan dengan processor Snapdragon. Kali ini serinya Snapdragon 425, yang mungkin tak lebih powerful dari Snapdragon 430 di Infinix HOT S3, tapi sepemakaian saya sangat bisa mengirit konsumsi daya.

Serius, hemat pisan. Jarang dipakenya aja bisa sampai hampir 4 hari 4 malam, dengan Screen-on Time lumayan lah. Lalu pada percobaan selanjutnya, saya iseng ngetes dinyalain terus nyetel video Youtube pakai wifi kantor selagi saya bekerja. Hasilnya masih bisa tembus 24 jam lebih, dengan Screen-on Time yang juga gede lho.

Ini mah kabar baik buat para driver ojek online atuh ya. Pemakaian mereka kan sebatas aplikasi driver, GPS, dan konek ke jaringan. Bukan gaming.

Ya, Snapdragon 425 sejatinya memang tidak buat gaming yang berat-berat. Tapi kalau dipaksa buat nemenin jomblo yang gak punya agenda malam minggu sih boleh lah diinstall game-game yang tetep asyik seperti yang saya mainkan ini. Masih playable dan enjoyable koq.

Mungkin di sini Redmi 5 lebih unggul ya dengan Snapdragon 450-nya.

Kalau untuk kamera sih saya lebih menjagokan Infinix Hot 6 Pro. Bokehnya itu lho, bisa dibilang rapi euy. Zenfone Live L1 juga cukup rapih kalau soal bokeh sih, tapi Hot 6 Pro punya satu hal yang jarang banget ditemukan di hape lain di bawah 2 jutaan. Hal itu adalah mode manual setting yang lengkap, di mana fokus bisa diatur manual, begitu juga shutterspeed. Mantap kan?

Kalau hasilnya sih ya memang baru bisa bagus kalau cahaya cukup. Lowlightsnya mah kaya hape sejutaan lainnnya lah. Ini contohnya.



Bagaimana? Setuju kan kalau saya bilang ini hape sejutaan terlengkap? Jangan lupa juga kalau Infinix Hot 6 Pro ini punya triple slot, jadi kalau storage bawaan terasa sempit, kamu bisa pasang micro-SD tanpa mengorbankan salah satu simcard. Saya tahu soalnya masing-masing sim-card itu buat satu gebetan yang berbeda. Iya, gebetannya beda,  tapi hasil akhirnya sih sama, gagal lagi digaet, hahaha.

Okay, jika sudah setuju, silakan atur reminder di hape kamu buat catat jadwal flash sale selanjutnya. Ya, Infinix Hot 6 Pro ini dijual via flash sale di Lazada yang ujung-ujungnya suka ghoib kata netijen mah.

Doa saya, kamu-kamu yang jomblo, bisa punya nasib lebih baik di flash sale, jauh lebih baik daripada nasib Sabtu malamnya ya, hahaha.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Friday, July 20, 2018

Review Sony Xperia XZ2 Compact, MUNGIL tapi Sangar!



Walau Sony sudah menyerah untuk bertempur di pasar smartphone Indonesia, jajaran produk Xperia ini ternyata masih cukup dinanti ya.

Sesekali saya pun dengan senang hati mencoba ponsel pintar keluaran Sony ini, dan saya bagikan pengalamannya kepada Anda para pemirsa.

Kali ini yang akan kita ulas adalah Sony Xperia XZ2 Compact. Ngga kapok beli yang Compact A? Nanti salah beli lagi hayooo?



Haha, ngga dong. Kali ini beneran dual-sim lho, walau masih hybrid ya slotnya. Dan yang saya pilih ini adalah warna white silver, yang memang lebih nampak keabuan ya daripada putih.

Kalau Anda tak tahu, spesifikasi ponsel ini tergolong nomor wahid lho. Walau punya dimensi super mungil berkat layar 5 inci yang sudah menggunakan rasio 18:9, tapi jeroannya berani diadu lawan ponsel-ponsel flagship brand lain yang umumnya berbadan bongsor.



Bagaimana tidak, processornya saja pakai Snapdragon 845 yang notabene adalah processor terbaru dan tertinggi Qualcomm untuk saat ini. Skor Antutu-nya besar, 200-ribuan, walau harusnya lebih tinggi dari apa yang didapat ini ya. Mungkin, akibat ponsel menghangat saat proses benchmark, sehingga performanya jadi terhambat. Tapi jika Anda teliti, skor GPU-nya mengalahkan 99% user lainnya lho.

Yup, untuk urusan spesifikasi dan performa, Sony Xperia XZ2 Compact ini memang tak perlu diragukan. Dipakai bermain game PUBG, by default settingannya bisa ke high, dan gameplay berjalan super lancar. Yang bikin kurang nyaman bermain sih memang layar mininya, yang membuat saya sering buang-buang peluru karena tak sengaja menekan tombol fire. Haha.

Ya, harus diakui memang kalau maen game real-time seperti ini mah, enaknya layarnya yang lega ya. Sony Xperia XZ2 Compact sih punya kelebihan waktu disakuin atau waktu kita hanya bisa mengoperasikannya dengan satu tangan saja. Yup, karena ringkas dan mungil, jadinya nyaman digenggam dengan sebelah tangan, dan karena tak licin, jadinya tentram deh.

Kalau dibilang tebal, ya memang tebal sih ponsel ini. Ukurannya yang mini, mau tak mau membuatnya harus menambah ketebalan demi bisa mengandung baterai berkapasitas 2.700 mAh yang kalau dipakai secara casual sih mampu menembus 23 jam dalam sekali pengisian daya. Tapi kalau dipakai ngegame, setengah hari juga udah ngos-ngosan sih, hehe.

Untung saja ponsel ini sudah support Qualcomm Quickcharge 3.0, dan kepala charger yang disertakan dalam paket penjualan juga mendukung fitur ini. Asik deh!

Nah, yang lucu adalah, dengan body setebal itu, dia tak punya colokan headset heuheu. Adapternya dikasih memang di paket penjualan, namun terasa kurang praktis jadinya. Walau harus diakui, saya memang kalau mendengarkan musik selalu pakai bluetooth earphone, apalagi baik ponsel ini maupun earphone saya sama-sama support aptX-nya Qualcomm, jadi kualitas audio-nya keangkat banget.

Termasuk kalau pakai loudspeakernya ya. Selain stereo, di mana kedua speakernya yang berada di depan sama-sama mengeluarkan suara, powernya pun terasa sangat baik, dengan detail yang tetap terkontrol. Silakan didengarkan sendiri yah, itu saya putar dengan volume maksimal.

Lanjut ke kameranya, Xperia XZ2 Compact memang masih keukeuh hanya mengandalkan masing-masing satu kamera saja di depan dan belakang. Bahkan kamera depannya hanya beresolusi 5 Megapixels saja, sementara kamera belakang sih khas Sony dengan sensor beresolusi besar di 19 Megapixels.

Ya, Sony memang gak mau dibawa arus. Saat yang lain berlomba-lomba besar-besaran kamera depan, atau nambah jumlah kamera belakang sampai 2 bahkan 3, Sony tetap tampil sederhana.

AI Camera? Sony tak perlu embel-embel AI sih, walau dari jaman dulu kameranya sudah memiliki kecerdasan buatan untuk mengenali scene yang sedang dibidik, dan menyesuaikan pengaturannya agar optimal.

Banyak mode unik pada kamera ponsel Sony, seperti biasa ya, jadi favorit anak saya heuheu. Oh ya, ada mode bokeh juga, namun sayang hasilnya belum bisa serapi Google Camera nih.

Stabilisasi pada videonya tergolong baik meskipun sebatas dibantu gyroscope EIS. EIS, saya ngga akan bikin jokes soal Euis dulu ah, nanti bosen hehe. Dan biar ga bosen, sok atuh disimak dulu hasil foto dan videonya, jangan lupakan fakta bahwa Xperia XZ2 Compact ini sudah mampu menghasilkan video slow motion di 960 fps dengan resolusi Full HD lho!



Okay, bagaimana menurut Anda jika semua yang ditawaakan Sony Xperia XZ2 Compact tadi, harus ditebus seharga hampir 8 juta Rupiah, worth it ngga? RAM-nya 4 GB, dan storage bawaan 64 GB bertipe UFS yang pasti kenceng sih.

Dibalut Xperia UI yang memiliki notifikasi super real-time tanpa ditahan-tahan, sebetulnya ponsel ini enak banget dipakai. Hanya memang agak jomplang ketika tangan ini sudah terbiasa dengan yang ukurannya 6 incian. Belum lagi posisi fingerprintnya yang terlalu ke bawah, membuat jari harus lebih ditekuk saat hendak merengkuhnya.

Mungkin buat gamers akan susah untuk dinikmati ya, karena layarnya sempit. Padahal warnanya vibrant sekali, saya suka banget. Terlebih karena panel displaynya terasa menyatu dengan panel sentuhnya, tak ada jarak. Dan dengan tepian 2,5D, makin enak saja disentuh-sentuh.

Tapi harus diakui, pada akhirnya saya pun memilih untuk melepaskannya kembali. Masalah handling yang kurang enak, plus saya lagi suka bermain game PUBG jadi persoalan utama. Sisanya sih bisa dikatakan tak ada komplain.

Saya bingung sih jadinya apakah ponsel ini recommended atau tidak. Pertama jelas ya ini bukan barang bergaransi resmi, harganya juga lumayan. Tapi spesifikasinya memang jempolan. Dan saya yakin beberapa orang memang sangat suka dengan ponsel mungil namun performanya sangar begini. Tapi battery life juga jadi taruhannya sih.

Gini aja deh, intinya Sony Xperia XZ2 Compact ini adalah produk berkualitas, dengan segala keunikan yang dipertahankan oleh Sony. Tapi memang produk ini segmented banget, dan bukan buat yang mengejar fitur-fitur kekinian ya. Cocok buat yang ngga mau tampil mainstream, tapi ada beberapa kenyamanan yang harus dikorbankan, semisal tidak adanya face unlock sampai saat naskah review ini selesai ditulis hehe.

Udah ya, gitu aja. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Review Samsung Galaxy J6 dan Perbandingannya dengan Galaxy J4



Samsung baru saja meluncurkan duo smartphone seri terbaru mereka di Indonesia. Yang pertama adalah Galaxy J4 yang sudah lebih dulu saya ulas, harga jualnya ada di kisaran 2-jutaan ya.

Satu lagi adalah Samsung Galaxy J6 yang dibandrol lebih mahal satu juta Rupiah.

Sebelum membahas produk yang kedua ini, yuk kita bahas dulu apa saja persamaan dan perbedaan dari keduanya, dan dimulai dari perbedaannya dulu ya!

Selisih harga sejutaan rupanya berimbas pada spesifikasi utama keduanya, di mana jika J4 menggunakan processor Exynos 7570 Quad, maka J6 sudah ditenagai oleh processor Exynos 7870 Octa yang artinya jumlah intinya 2x lipat ya. Selanjutnya, J4 dibekali RAM 2 GB, sementara J6 sudah 3 GB.

Perbedaan selanjutnya ada pada besaran kamera depan di mana milik J4 beresolusi 5 Megapixels dengan aperture f/2.2, dan pada J6 besarannya ada di angka 8 Megapixels dengan bukaan lensa lebih lebar di f/1.9.

Sisanya adalah perbedaan yang sangat kasat mata, yaitu J6 sudah dibekali fingerprint scanner di bagian punggung ponsel, dan sudah menggunakan infinity display dengan rasio 18,5:9. Sementara J4 masih menggunakan rasio layar 16:9 dengan tombol home fisik di dagu ponsel.

Kedua ponsel ini sama-sama sudah menggunakan panel layar Super AMOLED yang tergolong mewah untuk digunakan oleh smartphone 2 hingga 3 jutaan ya. Jangan ditanya bagaimana rasanya menyimak konten-konten multimedia di layar dengan vibrancy yang keren ini, dijamin betah deh.

Terlebih kedua ponsel ini dibekali dengan fitur Dolby Atmos Surround Sound yang dapat dinikmati saat menggunakan headset yang disertakan dalam paket penjualannya.

Baik J4 dan J6 pun sama-sama memiliki dua slot simcard ditambah satu slot micro-SD dedicated, yang membuat kita tak perlu riskan lagi mengenai masalah storage.

J4 memiliki kelebihan berupa baterai yang dapat dilepas dengan mudah. Sementara J6 hadir dengan desain unibody sehingga memerlukan sim tray ejector untuk mengganti kartunya, tapi di sisi lain jadi menguntungkan karena baik simcard maupun micro-SD-nya jadi bersifat hot swappable.

Satu hal lagi yang patut dicatat adalah kedua smartphone ini sudah memiliki adjustable LED Flash di bagian depan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas selfie di kondisi cahaya kurang ideal.

Persamaan terakhir sih sebetulnya fitur-fitur yang setia menemani smartphone Samsung pada umumnya, yaitu fitur signal max yang membuat penerimaan sinyal lebih stabil, lalu ada fitur Ultra Data Saver untuk yang butuh menghemat kuota internet, dan tak lupa adanya aplikasi Samsung Gift yang sering memberikan promosi dan diskon produk-produk dari merchant yang sudah bekerja sama.

Nah oke, jika Anda ingin tahu lebih banyak soal Galaxy J4, silakan tonton video review lengkapnya yang sudah saya buatkan ya. Ada di card pada bagian kanan atas video ini, maupun di akhir video nanti.

Sekarang kita masuk lebih dalam ke bahasan mengenai Galaxy J6. Mungkin banyak netizen yang kritis mengenai harga berbanding spesifikasi di atas kertas yang Samsung berikan. Tak salah sebetulnya anggapan ini, namun ada baiknya jika dilihat dari sisi lain.



Samsung memberikan fitur-fitur yang memudahkan pengguna dalam kehidupan sehari-hari, contohnya ya yang sudah tadi saya sebut. Lalu tambahkan dengan fakta bahwa Samsung Experience hingga saat ini masih saya nilai sebagai salah satu UI Android terbaik yang bisa diberikan oleh sebuah pabrikan smartphone.

Jangan tanya berapa porsi biaya riset dan pengembangan untuk masalah UX ini ya. Pun soal jaminan purna jual yang Samsung berikan untuk produk-produknya. Komitmen Samsung bisa dibilang terdepan, bahkan di kota kelahiran saya, Garut saja, sudah hadir service center resmi dan mandiri milik Samsung. Cimahi mah sudah pasti ada lah, heuheu.

Jadi sekali lagi Samsung Galaxy J6 akan lebih favorable buat mereka yang hendak memiliki sebuah smartphone yang bisa diandalkan dalam jangka waktu panjang. Bukan yang sebulan dua bulan sudah ganti ponsel baru lagi.

Tapi jangan salah, Galaxy J6 ini performanya cukup mengesankan lho. Performanya lancar-lancar saja digunakan untuk berbagai kegiatan saya di dunia maya. Sesekali diajak bermain game pun hayuk, dan ga gampang demam. Saya masih bisa memainkan beberapa game HD dengan nyaman selama ini.

Untuk urusan daya tahan baterai pun tidak ada masalah, di mana baterainya yang berkapasitas 3.000 mAh mampu bertahan menemani kegiatan saya sehari-hari dengan rekor pemakaian selama 2 hari 2 malam saat jarang digunakan. Dan sekitar 30 jam saat penggunaan mulai intens, dengan SoT rata-rata 3-4 jam.

Secara default Samsung Experience akan membuat Anda selalu menerima notifikasi secara realtime, namun semakin lama Anda gunakan, maka sistem ini akan mempelajari pola pemakaian Anda dan memberikan berbagai rekomendasi yang sesuai. Nice.

Yang saya sangat suka sih dimensi body-nya yang cukup compact. Layar 5,6 inch dengan rasio memanjang ala Infinity Display malah menghasilkan body yang lebih ringkas dari Galaxy J4 ternyata. Dan warna hitamnya ternyata membuat penampakannya lebih macho dan mengkilap ya daripada warna ungu yang memang lebih feminim.

Sayang body berbahan polikarbonat ini agak mudah kotor oleh bekas minyak dari jari. Jadi kalau mau pakai case, saya sangat menyarankannya. Tenang saja, hape Samsung mah bentar juga udah banyak yang jual case-nya koq, heuheu.

Eh iya lupa, kita belum bahas kameranya ya. Kamera smartphone Samsung tergolong bisa diandalkan sih, meskipun untuk smartphone 2 dan 3-jutaannya. Warna dan ketajamannya tergolong baik, walau fiturnya tak sebanyak ponsel flagship Samsung semisal S-series maupun Note-series ya.

Yang patut diapresiasi adalah penggunaan lensa dengan bukaan lebar di f/1.9 untuk kedua kamera yang dimiliki oleh Galaxy J6.

Lebih lengkapnya untuk hasil kamera di kondisi ideal, lowlights, hingga perekaman video dapat Anda saksikan berikut ini.



Masuk ke kesimpulan, bagi saya Galaxy J6 adalah smartphone yang patut diperhitungkan, dan saya yakini sudah punya segmen pasar yang sudah menanti-nantikannya.

Infinity Display dengan panel Super AMOLED, fingerprint scanner dan face unlock yang terbilang akurat, body yang enak digenggam, serta slot memori eksternal mandiri adalah kuncinya.

Bukan buat gamers memang, dan di atas kertas terlihat tidak terlalu menonjol, namun seperti yang saya bilang di video unboxing-nya, nampaknya J6 ini akan auto laku, alias tetap jadi pilihan sebagian konsumen yang sudah setia dengan brand ini.

Jangan salah, Samsung juga punya fans setia lho. Salah satunya adalah seorang wanita yang sudah 5 tahun lebih ini jadi teman hidup saya, hahaha. Dari jaman Samsung Nexus S sampai sekarang, belum pernah dia berganti merk. Hahaha.

Hmmm, sudah ah, nanti ada yang merasa terpanggil, haha. Kita tutup saja review-nya di sini ya, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, June 29, 2018

Review Huawei P20 Pro, Smartphone yang Menghambat Hobi Gonta Ganti Hape Saya!



Kabar baik bagi pecinta smartphone tanah air, terutama bagi saya pribadi, Huawei Indonesia memutuskan untuk membawa flagship P-series mereka tahun ini ke Indonesia.

Dan tak tanggung-tanggung, langsung varian tertingginya yaitu P20 Pro. Anda yang punya budget cukup dan bosan dengan smartphone itu-itu saja yang sudah dipakai rekan-rekan di pergaulan Anda, saya sarankan untuk menyimak video ini sampai habis deh. Biar tahu apakah smartphone ini dengan segala karakteristiknya bisa memenuhi kriteria Anda atau tidak.



Huawei adalah produsen smartphone dengan penjualan terbesar ketiga di dunia setelah Samsung dan Apple.

Sedikit disayangkan memang ada rantai yang terputus dalam pergerakan Huawei di Indonesia. Pasca terakhir menjual P9 yang merupakan smartphone pertama yang dikerjakan Huawei bersama Leica, Huawei terpaksa membatalkan perilisan Huawei P10 karena sudah terlalu dekat dengan cycle perilisan device selanjutnya, ya P20 series ini.

Entah kenapa, brand yang satu ini nampaknya belum melekat di hati khalayak ramai di tanah air. Padahal, sekali saja mencoba produk berkualitasnya, bisa jadi Anda akan tahu nilai lebih apa yang dimilikinya, dan ketagihan mencobanya lagi dan lagi.

Ya, saya sedang menceritakan pengalaman saya sendiri. Saat mencoba Huawei P9 Lite sekitar 2 tahun lalu, saya tak berharap banyak sebetulnya. Namun hasilnya, selanjutnya saya selalu menantikan kehadiran ponsel-ponsel terbaru baik dari Huawei, maupun dari internet brand mereka, Honor.

Selepas mencoba P9 Lite, petualangan saya berlanjut dengan Honor 8, Honor 6x, Honor 9, Huawei Nova 2, Huawei P10, Honor View 10, Honor 9 Lite, Honor 7x, hingga yang terakhir, Huawei Nova 2 Lite. Kebanyakan dari daftar produk ini harus saya dapatkan dari e-commerce luar negeri, demi mencoba produk-produk yang tak Huawei Indonesia bawa ke mari.

Hingga acapkali saya dilabeli Huawei Fans oleh viewers di channel Youtube saya ini. Padahal berulang kali juga saya jelaskan, jika saya menyukai kualitas produknya setelah mencobanya, bukan fanatisme semata, haha.

Dan fakta bahwa Huawei P20 Pro resmi dijual di Indonesia, pastinya jadi kabar baik bukan? Dan saya yakin tak hanya buat saya, tengok deh barisan komentar bernada positif dari beberapa kali saya posting hasil foto dan video dari kamera Huawei P20 Pro ini di Instagram saya.

Maka saya pikir tak salah jika DxoMark menghadiahkan skor tertinggi yang pernah mereka berikan hingga saat ini, untuk Huawei P20 Pro.

Yap, kamera nampak jadi kelebihan utama dari smartphone ini yang membuatnya tegak berdiri menatap persaingan di kasta smartphone teratas.

Tak hanya dari segi kualitas, kuantitas-nya pun memang dikedepankan oleh Huawei. Ini adalah smartphone pertama yang pernah saya uji, yang memiliki 3 buah kamera di sisi belakang.

Jika diurutkan dari paling bawah, lensa pertama adalah lensa yang ditemani oleh sensor monokrom dengan resolusi 20 MP. Lanjut ke kamera kedua yang merupakan lensa yang berpasangan dengan sensor RGB beresolusi 40 MP, ya saya tak salah sebut, 40 MP! Dan lensa paling atas adalah lensa telephoto alias zoom, yang memiliki kemampuan zoom optik sebesar 3x dengan sensor beresolusi 8 MP.

Mungkin sebagian dari Anda sudah pusing duluan dengan penjelasan teknis barusan ya, haha. Intinya sih begini, kamera Huawei P20 Pro yang bersertifikasi Leica ini, memiliki kemampuan zoom optik 3x, dengan zoom hybrid 5x. Sementara sensor monokrom dapat digunakan menghasilkan foto Black and White yang artistik, dan juga membantu memberikan data kedalaman saat digunakan pada mode bokeh yang pada smartphone Huawei lumrah dinamakan wide-aperture. Yap, pemilihan fokus dan pengaturan kadar bokeh-nya pun seperti biasa dapat dilakukan setelah foto diambil.

Kombinasi sensor RGB dan monokrom ini juga membuat kita dapat memiliki 3 karakter warna yang dihasilkan, mulai dari normal, vivid, hingga smooth. Perbedaan hasilnya dapat Anda lihat pada gambar ini ya.

Yang pasti, mode vivid membuat warnanya keluar semua. Saya yakin tak semua orang menyukai karakter warna begini, ada yang lebih suka karakter yang lebih natural, jadi pandai-pandai memilih mode ya. Kalau soal performanya dalam kondisi lowlights sih harap tak usah diragukan lagi.

Siapa di sini yang pernah menonton video review Huawei P10 di mana saya merekam dari atas delman yang berjalan, dan OIS-nya juara banget meredam goncangan? Nah, pada P20 Pro nampaknya melanjutkan tradisi itu. Stabilisasi menawan, perpindahan fokus halus, dan auto-metering yang baik membuatnya jadi kombinasi yang sangat menyenangkan bagi saya sebagai seorang content creator.

Performa kamera depannya pun sama menjanjikan. Anda yang senang berselfie ria, tak perlu khawatir deh. Resolusinya 24 Megapixels, dengan bukaan lensa f/2.0. Bagaimana? Sudah merasa lebih tenang sekarang?

Ada baiknya kita saksikan langsung hasil kamera Huawei P20 Pro ini yak, biar ada buktinya semua penilaian saya tadi. Mangga atuh sok disimak baik-baik lah. Hehe.



Sudah puas dengan kameranya? Sudah bisa memutuskan untuk meminang ponsel ini? Saya sarankan Anda lanjut dulu pada pembahasan selanjutnya deh.

Ya, ketika harus membahas desainnya, kita akan melihat perubahan drastis dari P9 dan P10, di mana backcover metal sudah digantikan oleh bahan kaca yang mengkilap nan elegan. Yang saya pakai ini varian warna hitam, di mana sebetulnya warna yang banyak ditunggu adalah warna twilight yang katanya seperti bunglon karena mampu berubah warna. Saya pun berharap bisa mencoba varian warna twilight ini suatu saat, walau yang hitam ini pun sudah begitu mempesona bagi saya.

Pemilihan material ini memang punya downside berupa bekas sidik jari yang cukup mudah tertinggal di backcover ini. Untungnya mudah dibersihkan, dan saya sendiri sih prefer pakai case untuk memastikan kemolekannya terjaga, termasuk untuk camera bump-nya itu.

Jika Anda menggengam Huawei P20 Pro di tangan, akan terasa bobot yang mantap, memberikan kesan solid dan premium. Tidak terlalu berat, walau memang tak bisa dikatakan ringan.

Beralih ke sisi depan, ada dua hal mencolok yang tak ditemukan di ponsel Huawei sebelumnya.

Pertama tentu saja hadirnya notch di sisi atas layar Huawei P20 Pro. Tenang saja, notchnya tergolong sangat kecil, di mana Huawei mampu dengan pintar menempatkan earpiece berbentuk bulat, LED notification, proximity sensor, dan kamera depan dalam space seminim itu. Dan jika Anda tetap tak dapat menerimanya, notch ini bisa disamarkan dengan membuat bagian di sudut kiri dan kanan menjadi hitam sehingga tak nampak lagi. Patut diakui bezel bagian atas layar Huawei P20 Pro ini sedikit lebih tebal dibanding bezel di samping.

Kedua adalah panel layar yang digunakan. Ya, P20 Pro sudah menggunakan panel AMOLED yang selain memiliki reproduksi warna yang sangat hidup, juga memungkinkan kita menampilkan fitur always display information, tanpa menguras baterai.

Bergeser ke bagian dagu ponsel, kita akan melihat fingerprint sensor berada pada posisi favorit saya. Yap, jarang-jarang memang ponsel dengan rasio layar 18,7 : 9 seperti ini masih memiliki pemindai sidik jari di sisi depan. Akurasi dan responsifitasnya sendiri jempolan lah, cepat dan presisi. Tak hanya itu, P20 Pro pun sudah punya kemampuan face unlock yang berkat large aperture pada kamera depannya, mampu berjalan baik di segala kondisi. Serius, segala kondisi, karena saya pernah menggunakannya di dalam kamar yang gelap, dan cahaya dari layarnya sudah cukup untuk membantu agar pemindaian wajah sukses dilakukan.

Satu hal yang cukup disayangkan, Huawei memutuskan meniadakan port audio 3,5 mm pada ponsel ini. Anda yang memiliki earphone atau headphone berkabel dipersilakan menggunakan adapter yang diberikan pada paket penjualan.

Loudspeaker-nya sendiri memiliki output yang sangat jernih dan bertenaga. Mau disetel dengan volume paling kencang sekalipun, suaranya tetap enak didengar. Detailnya tak hilang meskipun powernya terasa sekali.

Oh ya jadi teringat, beberapa waktu lalu ada yang menanyakan kepada saya, smartphone flagship kekinian apa yang masih memiliki infrared blaster agar dapat digunakan sebagai pengganti remote control. Lalu ada juga yang bertanya, flagship apa yang baterainya besar.

Kini saya punya jawabannya. Yap, dua hal tersebut dimiliki oleh Huawei P20 Pro. Smartphone ini punya infrared blaster, dan baterainya sebesar 4.000 mAh. Baterai sebesar ini nyaris selalu mampu dibawa menembus satu hari satu malam. Dalam konsisi terhemat bahkan mencapai 34 jam dalam sekali pengisian daya saja, dengan screen-on time rata-rata saya sekitar 3-4 jam ya. Perhatikan pola penggunaan saya yang jarang menyentuh smartphone di jam kerja. Tambahkan fakta bahwa smartphone ini juga mendukung fast charging.

Performa bukanlah sesuatu yang patut dipertanyakan pada smartphone flagship seperti ini. Skor Antutu Benchmark processor Kirin 970 ada di atas 200-ribuan. Dan dengan konsumsi daya yang tergolong hemat membuat saya betah bersamanya.

Dan kalau Anda cermat, di Top 3 smartphone brand di dunia, ketiganya merupakan produsen smartphone yang sudah mampu mendesign processor mereka sendiri. Apple dengan A-series Bionicnya, Samsung dengan Exynos-nya, dan Huawei dengan HiSilicon Kirin-nya. Mungkin benar memang bahwa performa yang optimal akan dihasilkan jika hardware dan software dikembangkan sejalan di satu tempat.

Dan jadilah saya harus memperkenalkan Huawei P20 Pro ini sebagai daily driver saya yang baru. Ironis memang jika menilik nama channel ini adalah Gonta Ganti Hape. Umumnya paling lama satu smartphone jadi daily driver saya sih 2 bulanan kalau sekarang, heuheu. Coba kita lihat dengan Huawei P20 Pro ini ya, kira-kira akan bertahan berapa lama.

Saya sadar, ulasan ini terlalu condong ke nada positif yang saya berikan. Namun sejatinya, kekurangan ponsel ini memang sangat sedikit, mungkin itupun hanya pada ketidakhadiran port audio 3,5 mm yang sebetulnya sudah ada solusinya berupa kabel adapter yang sudah ada dalam paket penjualan. Satu lagi mungkin harganya ya, saya yakin masih banyak pengguna smartphone di Indonesia yang ragu membayar sebanyak delapan digit angka untuk ponsel dari Brand ini, padahal seperti tadi saya bilang di awal, jika sudah dicoba bisa jadi Anda yang tak bisa melepaskan diri darinya.

Pepatah lama juga kan bilang, Tak Kenal Maka Tak Sayang. Jadi cobalah dikenali dulu, berbekal rekomendasi dari saya, saya pikir Anda takkan menyesal di kemudian hari koq. Posisi ketiga di dunia, dan skor DxoMark tertinggi bukankah suatu jaminan lainnya?

Hehe, selamat galau deh kalai begitu. Sementara saya menikmati momen membuat konten-konten selanjutnya ditemani oleh Huawei P20 Pro ini.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, June 22, 2018

Review Xiaomi Redmi S2, Saya Bingung Kenapa Xiaomi Kaya Orang Bingung?


Biasanya, jika saya membuka kotak produk Xiaomi, views-nya selalu ramai. Meskipun itu hanya earphone-nya saja, kalau smartphone-nya mah sudah pasti lah minimal ada 50-ribu views dalam 24 jam sejak video tayang.

Namun, ada anomali yang terjadi ketika Xiaomi Redmi S2 saya unbox di channel ini. Sudah 2 minggu berlalu, penontonnya bahkan tak sampai 25-ribu, kalah jauh bahkan dibanding saat saya unbox ponsel merk Elephone dan Ulefone, yang harusnya sih masih sangat asing di telinga penikmat smartphone tanah air ya.



Apakah mungkin, mifans dan selfie itu tidak klop? Ataukah karena Xiaomi belakangan hanya memberi jeda sebentar sebelum merilis smartphone baru? Atau karena Redmi S2 ini ngga termasuk kategori mending? Hmmm...

Marilah kita bahas dari price to spec comparison dulu ya.

Redmi S2 ini dibandrol seharga Rp 2.399.000 di flash sale yang diadakan di dua ecommerce tanah air. Lalu apa yang didapat?

Bisa dibilang spesifikasinya cukup aneh. Processor Snapdragon 625, dikombinasikan dengan RAM 3 GB dan storage 32 GB yang disokong oleh slot micro-SD dedicated. Layarnya berasio 18:9, dengan dimensi 5,99 inci dan resolusi HD+ saja. Baterainya sendiri berkapasitas 3.000 mAh.

Sudah bisa lihat di mana anehnya?

Ya, dengan harga yang lebih mahal 200-ribu dari Redmi 5 Plus, Redmi S2 ini memiliki processor dengan besaran RAM dan storage yang sama. Tapi, resolusi layarnya malah turun, pun begitu dengan kapasitas baterainya.

Memang sih, di atas kertas kameranya meningkat secara signifikan, di mana kamera depan beresolusi 16 Megapixels, dan kamera belakangnya sudah ada dua. Tapi memang semahal itukah kameranya?

Apalagi jika melihat fakta bahwa dengan menambah 100-ribu saja, kita sudah bisa mendapatkan Redmi Note 5 yang notabane punya processor lebih up-to-date dan juga lebih bertenaga, dengan resolusi layar yang tetap di Full HD+ dan baterai 4.000 mAh. Kamera Redmi Note 5 bahkan saya puji-puji waktu saya mengulasnya. Termasuk kamera selfienya yang walau resolusinya sedikit lebih kecil di 13 Megapixels, namun performanya memuaskan.

Jadi bingung kan? Redmi S2 ini untuk siapa? MiFans penyuka selfie? Tapi kan MiFans sangat kritis soal spesifikasi berbanding harga, dengan kondisi saat ini ya jelas mending beli Redmi Note 5 saja sekalian.

Mau menarik segmen pasar baru? Bisa jadi sih. Mungkin ini juga yang menyebabkan desainnya jadi mirip dengan smartphone selfie dari brand sebelah. Heuheu.

Terlepas dari itu semua, sebetulnya Redmi S2 ini produk yang tergolong baik koq. Snapdragon 625 di hape 2 jutaan adalah sesuatu yang ok. Performanya masih cukup banget, walau karena saya sudah coba Redmi Note 5 duluan, jadinya terasa ada penurunan.

Sama-sama menggunakan MIUI 9.5, gesture navigation pada Redmi S2 memang saya rasakan tak senikmat di Redmi Note 5, layar dari Redmi S2 ini seringkali kurang responsif saya rasakan. Apalagi saat hendak memulai perekaman video, delaynya sangat terasa.

Untuk urusan baterai, walau kapasitasnya lebih kecil, rupanya Redmi S2 mampu bertahan selama 2 x 24 jam dengan Screen-on Time 8 jam lho. Oh ya, pemakaian mayoritas untuk media sosial dan kamera ya, saya tak menggunakan ponsel ini untuk gaming sama sekali.

Dipakai selfie sih memang ponsel ini membuktikan kualitas kamera depannya. Walau saya akui tak secemerlang ponsel selfie 4-jutaan, ya wajarlah harganya kan terpaut cukup jauh.

Yang jadi keluhan saya adalah performa kamera belakangnya yang biasa saja. Ya, seperti balik lagi ke karakter ponsel Redmi lah heuheu. Padahal udah saya apresiasi sekali lho kamera yang digunakan pada Redmi Note 5 lalu.

Silakan dilihat langsung saja deh hasil fotonya. Waktu saya post di Instagram sih pada bilang B ajah, entah kalau dengan Anda yang menonton video ini ya, boleh banget tuliskan penilaian Anda di kolom komentar ya!



Tak banyak yang bisa saya ulas dari Redmi S2 ini. Rasanya sudah terlalu familiar apa yang ada pada ponsel ini. Performa ala Redmi 5 Plus, UX ala Redmi Note 5, dan sisanya ya beginilah MIUI.

Seandainya Xiaomi tak punya Redmi 5 Plus dan Redmi 5 Note untuk dijual resmi di Indonesia, sebetulnya Redmi S2 punya nilai yang bagus. Jago selfie di harga 2-jutaan, dengan processor kesayangan dan daya tahan baterai yang jempolan.

Sayang, dengan spesifikasi berbanding harga yang diberikan, rekomendasi saya malah lebih menyarankan Redmi 5 Plus jika mau berhemat, dan jika mau performa yang lebih mumpuni dan kamera lebih mantab, ya sekalian ambil Redmi Note 5. Semoga habis Lebaran mah sudah ngga ghoib lagi hehehe.

Demikianlah penilaian saya terhadap Redmi S2, semoga Xiaomi Indonesia bisa memberikan diferensiasi lebih untuk produk ini nantinya, karena kalau tidak, ya mending koreksi harga atau discontinue saja rasanya. Karena susah bersaingnya justru lawan saudara sendiri, heuheu.

Sip, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, selamat mudik dan merayakan hari Lebaran bersama sanak famili ya.  Wassalamualaikum!