Gadget Promotions

Tuesday, March 12, 2019

Review Samsung Galaxy S10, "Istri Kedua" buat Video Content Creator



Tak terasa setahun sudah berlalu, sejak saya membuat video di Glamping Lakeside, demi membuktikan kehandalan Galaxy S9 waktu itu.

Kali ini, saya jelas tak mau melewatkan Samsung Galaxy S10, Insya Allah kalau tidak ada rintangan, akan saya coba semua variannya, termasuk S10+ dan S10e.

Yang kali ini saya ulas adalah Galaxy S10.

Bagi saya, peningkatan dari S9 ke S10 ini terasa lebih signifikan jika dibandingkan saat S8 ke S9 lalu.

Pada Galaxy S10 inilah Samsung memperkenalkan Infinity-O Display, di mana sisi depan smartphone ini makin penuh oleh layar, dan terdapat sebuah punchhole di sisi kanan atas untuk kamera depannya.

Samsung memberikan animasi yang sangat eye catching di area sekitar kamera depan ini. Memang ini sifatnya fancy ya, tapi inilah yang membedakan kelas smartphone flagship dari yang mainstream.

Samsung memilihkan generasi terbaru untuk panel layarnya yang diberi nama Dynamic AMOLED. Setelah S9 lalu menyabet gelar best smartphone display, saya pikir layar S10 ini semakin baik saja dari segi kontras dan akurasi warna, dan pastinya masalah ketajaman.

Sudah itu saja? Belum, di balik layar ini sekarang sudah tersemat ultrasonic fingerprint scanner yang bekerja dengan baik, responsif, dan juga akurasinya tinggi.

Jadi jangan heran jika kita membalikkan smartphone ini, yang ada di sisi belakang hanya sederet kamera dan logo Samsung saja.

Ya, kamera Galaxy S10 ini jumlahnya 3 buah.

Komposisinya sendiri terdiri dari kamera utama 12 MP yang tetap mempertahankan teknologi dual-aperture. Bukaan maksimalnya di F/1.5 sangat bisa diandalkan untuk kondisi lowlights. Lensa ini dilengkapi OIS dan Dual-pixel PDAF untuk penguncian fokus lebih cepat.

Selanjutnya ada lensa telephoto 12 MP yang bisa menghasilkan 2x optical zoom dengan OIS untuk kestabilan pengambilan foto dengan perbesaran. Focal lengthnya adalah 52mm ya.

Dan satu lensa lagi adalah lensa ultrawide 16MP dengan focal length 12 mm.

Sementara kamera depannya beresolusi 10MP dengan aperture F/1.9.

Saya takkan berpanjang lebar soal teknis kameranya, saya yakin hasil fotonya pada video review berikut ini sudah berbicara sendiri.



Untuk perekaman video, kamera Galaxy S10 mampu merekam hingga 4K. Framerate tertinggi di 60fps untuk kamera belakang, dan 30fps untuk kamera depan.

Hadirnya teknologi HDR 10+ membuat hasil perekaman video memiliki warna yang sangat hidup. Untuk urusan kestabilan hasil perekaman, benar-benar bisa diandalkan bagi saya yang kadang harus memanfaatkan smartphone untuk membuat konten video.

Opening dan Closing video review di atas juga saya rekam langsung dari Galaxy S10 lho.

Performa S10 ini ngga ada masalah, khas flagship yang apa-apa gegas, no lag-lag.

Samsung membekali S10 ini dengan processor baru, yaitu Exynos 9820. Processor ini fabrikasinya 8nm, dikombinasikan dengan baterai yang bertambah kapasitasnya di 3.400 mAh, S10 ini dapat menemani kegiatan sehari penuh.

Sebetulnya, kalau mengulas smartphone flasghip begini, saya pengennya skip saja bagian teknis dan performa begini. Nyaris bisa dipastikan kalau flagship Samsung mah perform well, kamera bagus, dan bla bla bla. Paling pricing yang premium saja yang akan jadi hambatan bagi sebagian orang untuk memilikinya, kalau minat sih saya yakin pada minat. Pre-order-nya saja habis terus tuh.

Saya lebih tertarik membahas bagaimana S10 ini bisa menemani keseharian saya, yang sejak akhir tahun lalu sudah meninggalkan pekerjaan kantoran, dan sehari-hari lebih banyak berkutat di studio, di belakang kamera atau di depan laptop.

Sesekali saya cari suasana dengan makan di luar, itupun kadang sambil bawa peralatan kerja juga karena tak jarang saya mendapati spot-spot bagus untuk ambil video.

Dan kadang juga ini tanpa direncanakan. Sehingga saya kadang tak membawa kamera saya. Tripod mah apalagi, nyaris tak peris tak pernahnah bawa.

Maka yang saya butuhkan adalah smartphone dengan kamera yang bisa diandalkan untuk membuat konten, dalam berbagai kondisi. Galaxy S10 punya kelebihan-kelebihan yang saya butuhkan, ketajaman detail, keindahan warna yang dihasilkan, plus kestabilan gambar.

Di sinilah Samsung Galaxy S10 akan melengkapi persenjataan saya dalam membuat konten dan terus berkreasi. Sesederhana apapun karyanya, bagaimanapun keterbatasan yang ditemui, kualitasnya harus sebaik mungkin.

Samsung Galaxy S10 inipun bisa membuat kita lebih percaya diri. Yup, faktanya memang kadang membawa flagship di tangan membuat kita lebih pede. Terlebih, dari sisi looks, warna Prism White ini punya refleksi warna yang menarik.

Dan ini penting. Bagi saya, looks adalah sesuatu yang tak bisa dikesampingkan. So far Galaxy S10 ini bikin saya kesengsem di sebagian besar detailnya.

Last but not least, smartphone juga punya fungsi sebagai alat hiburan. Kalau sedang penat, saya sempatkan sesekali bermain game favorit saya yang grafisnya cukup berat, dan bisa dilahap dengan baik oleh Galaxy S10 ini. Atau jika saya ingin menonton streaming video atau music, kombinasi layar dan loudspeaker Galaxy S10 selalu bisa saya andalkan.

Akhir kata, saya rasa apa yang dibayarkan untuk Galaxy S10 series ini sangat terasa setimpal dengan apa yang saya dapatkan. Saya doakan deh yang menonton video ini bisa pada punya rezeki cukup untuk memiliki flagship Samsung ini juga.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Saturday, March 9, 2019

Review Vivo V15, Kameranya Bisa Naik, Harganya Malah Turun



Setahun berlalu sejak Borobudur, Vivo memperkenalkan lagi smartphone terbaru mereka, yaitu Vivo V15.

Secara desain, ini merupakan sebuah penyegaran besar, dimulai dari layar yang semakin memenuhi sisi depan ponsel ini. Ya, Vivo V15 tak punya notch, kamera depannya hadir dengan mekanisme Pop-up yang merupakan hasil penyempurnaan fitur serupa pada Vivo NEX.



Ukuran layarnya kini 6,53 inch, dengan resolusi Full HD+ dan screen-to-body ratio 90.95%.

Sisi belakang juga nampak berbeda terutama pada peletakkan kameranya yang diberi aksen hitam tegas, serta jumlahnya yang ada 3 buah.



Finishing backcovernya dibuat glossy yang refleksinya seperti chrome ya. Yang saya coba ini warna Royal Blue dengan gradasi menuju hitam.



Kalau kamu jeli, logo Vivo baru lho. Hayoo, pada sadar gaaa?



Tak hanya looks, untuk software pun Vivo V15 sudah lebih segar dengan FunTouch OS versi baru dengan Android 9.0 Pie.

Hal yang saya sukai dari FunTouch OS berbasis Android Pie ini banyak sekali. Namun saya buatkan daftar yang paling bikin saya ngacungin jempol saja ya:

  1. Image Recognition, Jovi bisa mengenali konten foto di gallery kita. Semisal foto pepohonan di taman dikenali sebagai tanaman hias, hingga dicarikan harganya di toko online lokal lho. Kereeennn.
  2. Simple video editor. Di gallery, kita bisa menyunting video langsung. Fungsi-fungsi sederhana seperti trim, crop, filter, hingga playspeed bisa diterapkan.
  3. Kita juga bisa mengelompokkan semua foto di gallery menurut kategori yang otomatis dibuat, semisal landscape, objek, people, dll. Termasuk foto2 yg redundant alias mirip-mirip tapi berulang, bisa dideteksi. Jadi nanti bisa dipilih apa mau disimpan 1 lalu sisanya dihapus saja, supaya menghemat storage.


Bahas kamera, ini adalah keduakalinya hape yg saya pake, dipegang istri terus kalo lagi pergi makan di luar atau ngafe.. Yang pertama V11 Pro dulu, dan saya sih menganggapnya kameranya berarti bagus, karena kepake sama istri saya yang hobby foto-foto di tempat bagus heuheu.

Tapi memang kamera V15 ini instagrammable banget. Mode portraitnya bikin foto lebih dramatis, dan favorit saya tentu yang monochrome background. Pintar-pintar kasih jarak saja antara objek dengan latar ya, supaya pemisahan warna yang dijadikan greyscale bisa pas dan rapi.

Jangan lupa bahwa kamera belakang Vivo V15 ada 3, di mana selain kamera utamanya yg beresolusi 12 MP dengan effective pixels sebanyak 24 juta, ada juga kamera untuk depth effect, daaaan.. Wide lens!

Yes, wide lens ini useful banget untuk mengambil gambar di tempat sempit atau mengabadikan pemandangan, baik foto dan video.

Untuk selfie, ga usah ditanya lah, jagonya Vivo mah.

Yang beda kali ini lebih ke kameranya aja yg bisa pop-up, jadi layar bisa lebih full. Kadang kamera depannya ini bikin saya norak sendiri deh, bikin pengen dikencengin sound effect pas kameranya pop-up, biar orang pada mupeng, haha.

Resolusinya 32 MP, dan baiknya dilihat langsung saja pada deretan foto berikut ini. Ok!



Masuk ke bahasan dapur pacu, Vivo V15 menggunakan processor Octa-core 2,1 GHz, yaitu Helio P70 yang keduakalinya saya coba. Dan sejauh ini performanya selalu bisa diandalkan tanpa membuat khawatir baterai cepat habis.

Untuk gaming, saya bisa bermain PUBG pakai Helio P70 ini secara smooth dengan settingan grafis HD dan framerate High. Main enak, membidik juga ngga loncat-loncat, jadi enjoyable dan bikin sering pengen main.

Dengan sokongan RAM 6GB, saya tak perlu menutup aplikasi-aplikasi lain sebelum bermain. Lagipula GameCube dari Jovi akan mengatur semuanya supaya performa gaming optimal, dan gameplay takkan terganggu notifikasi ataupun panggilan masuk.

Di awal pemakaian, dengan gaming dan multitasking yang intens untuk berbagai social media, Vivo V15 bisa bertahan selama 29 jam. Dan setelah beberapa hari, daya tahan baterainya semakin membaik karena FunTouch OS mendeteksi aplikasi-aplikasi yang banyak menyedot baterai.

Pengisan daya pada Vivo V15 tergolong cepat, dari 10 ke 100% dapat dilakukan dalam waktu 1 jam 48 menit. Di mana selama 35 menit pertama kapasitas baterai bertambah 45%. Harusnya dikali dua jadi cuma 1 jam 10 menit ya, tapi jangan lupa setelah di atas 90% biasanya pengisian melambat demi alasan keamanan.

Jangan lupa kapasitas baterainya yang kini semakin besar di 4.000 mAh ya!

Dengan fitur fast charging begini, rasanya port-nya yang masih micro-USB tak jadi kendala ya. Karena baik di rumah maupun di tas, saya selalu sedia minimal 2 kabel, yang satu USB Type-C dan satu lagi micro-USB.

Untuk fingerprint, saya nilai akurat dan responsif ya. Bisa diandalkan. Walau memang Vivo V15 ini hadir tanpa fitur face unlock, biar Pop-up kameranya lebih awet sepertinya.

Yang jadi masukan dari saya adalah Vivo V15 ini akan lebih baik jika memiliki LED Notification. Memang sedikit tergantikan dengan adanya black screen glance, di mana layar akan menampilkan jam dan icon-icon notifikasi saat kita melambaikan tangan di atas layar yang mati.

Sisanya paling kamera belakangnya yang cukup menonjol, sehingga membuat saya selalu menggunakan case yang disertakan dalam paket penjualan. Untung backcover kecenya tetep kelihatan ya, walau ketebalannya jadi bertambah dalam genggaman.



Overall saya mendapatkan impresi yang baik dari Vivo V15 ini. Dan Anda yang punya budget di angka 4-jutaan bisa mempertimbangkan smartphone ini untuk dimiliki.

Demikian ulasan saya untuk Vivo V15 ini, dari kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, February 20, 2019

Review ASUS Zenfone Max M2, Ngga Pro Tapi Tetep Bagus?



Ini adiknya Zenfone Max Pro M2.
Ngga pake embel2 Pro, apa bedanya?

Spek dan harga jelas ya.

Dari layar juga udah beda, meskipun memiliki dimensi yg sama, namun layar sang adik hanya memiliki resolusi HD+.



LANJUT KE PROCESSOR. Pakai Snapdragon 632 yg baru, dan saya pikir processor ini akan sukses menggantikan snapdragon 625 dengan karakternya yg sama-sama hemat daya.

Habis itu baterainya ya, lebih kecil di 4000 mAh saja, yg berkat resolusi layar yg lebih rendah serta processor yg kelasnya lebih bawah juga, malah sepemakaian saya lebih lama daya tahannya.

Selain itu, backcover ASUS Zenfone Max M2 ini juga beda dari Max Pro M2. Lebih mirip Zenfone Max Pro M1 jadinya, cuma yg ini layarnya berponi.

Untuk urusan kamera, performanya mirip-mirip dengan sang kakak, beda di resolusinya aja dikit.

EIS ada, hanya saja maksimal perekaman video di HD 720P ya kalau mau ada stabilization ini. Kalau tanpa stabilization sih resolusi videonya bisa sampai 4K, yg mana udah keren.

Somehow saya merasa duet M2nya asus ini masih punya PR soal software deh. Masih suka ada hang tiba2, kejadiannya random walau memang ngga sering. Lalu di kondisi lowlights, asli kudu stabil tangan, sabar jangan buru2 digerakin pasca ambil gambar.

Karena di thumbnailnya suka keliatan bagus fotonya, pas diklik buat liat keseluruhan foto, ternyata blur karena keburu gerak. Dan saya suka agak bete ya sama perbedaan antara thumbnail dengan foto aslinya ini.

Bokeh2an cukup rapi, selfie juga lumayan lah. Buat harga 2jutaan begini, segini udah masuk di atas rata2 lah.

Yuk dilihat contoh hasil foto dan videonya.



Performanya gimana? Bisa dibilang di atas snapdragon 625 rasanya, tapi masih di bawah 636 jelas. Terlihat dari settingan grafis untuk PUBG yg mentok di balanced dengan framerate medium.

Tergolong cukup smooth sih gameplay, walau frameskip terasa ya.

Kalau sekedar main, bisa lah. Tapi kalau mau enjoy banget, jelas mending upgrade ke Max Pro M2 saja. Atau malah Max Pro M1.

Terlebih yg saya uji ini varian terbawahnya yg punya RAM 3GB dan storage 32GB. Namun dengan penggunaan Android Oreo 8.1 stock, sejauh ini saya merasa lancar2 saja digunakan untuk kegiatan saya sehari-hari yang selalu multitasking berbagai social media dan chatting.

Kalau kamera sih bisa dibilang bisa diandalkan asal ngga lagi buru-buru ya.

Saya suka bodynya yang tipis, tapi memang backcover metal begini agak licin euy. Tapi daya tahan baterainya bener-bener bisa diandalkan lah, rata2 bertahan 36 jam dengan pemakaian intens tanpa gaming yang menghasilkan SoT sekitar 7 jam.

Untuk charging, saat diisi dengan kepala charger yg support QC3.0, di layarnya muncul tulisan charging rapidly, tapi indikator charger dan powerbank saya ga berubah jadi hijau.

Entah support QC3.0 atau tidak, namun yg saya rasakan pengisian dayanya cukup cepat sih, sekitar 2 jam lah.

Masuk ke kesimpulan, memang positioning Max M2 ini agak berat ya, produk baru dengan spesifikasi di bawah Max Pro M1. Kalau budget longgar sih jelas mending sekalian ambil Max Pro M2.

Namun kalau budget Anda berkisar di 2,5 jutaan, mungkin yg menentukan jadi layarnya deh. Butuh poni ngga? Kalau ga suka poni mah sudah beres, pilih saja Max Pro M1, saya rasa stoknya sekarang sudah aman deh.

Overall sih worth the price ya, kameranya ok, batre awet, handling enak karena tipis, cuma agak licin aja. Fingerprint dan face unlocknya juga akurat dan responsif.

In my opinion,  yang terasa agak kurang masih soal random hang di saat membuka kamera, bisa dilihat dari tombol shutter camera di layar yg jadi nampak bergerigi. Kalau sudah begitu, mending close dulu kameranya baru buka lagi saja.

Entah apakah masalah yg sama terjadi juga di Max M2 varian RAM 4GB atau tidak ya.

Yang jelas selama 2 minggu saya menggunakannya sebagai daily driver, saya nyaman-nyaman saja, hape ini bisa diandalkan banget, walau harus saya akui saya kangen dengan feels hale flagship di tangan ini hehehe.

Seperti itu pengalaman saya dengan ASUS Zenfone Max M2, semoga bisa membantu menuntaskan kepenasaran temen2 yg nonton video ini ya. Dari kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Tuesday, February 5, 2019

Review Zyrex SKY 360, Laptop Convertible 2-in-1 TERMURAH dengan SSD!



Halo Assalamualaikum...

Beberapa waktu lalu, saya post di Instagram, jika Zyrex mengeluarkan sebuah laptop konvertible 2-in-1 dengan layar sentuh dan sudah terpasang SSD M.2 128 GB, kira-kira berapa harga yang pantas menurut netizen?

Banyak yang menyangka harganya 7 juta ke atas.

Ada juga sih yang menebak 3 jutaan, yang ini kayanya menilik ke harga Zyrex Sky series sebelumnya ya.

Namun rupanya, banyak juga yang menebak tepat di harga 4.999.000 atau 5 juta kurang seribu saja.

Yap itu harganya. Dan bagi saya, di harga segini, laptop ini terlihat menarik sekali.

Pertama tentu saja karena sekarang laptop Zyrex SKY 360 ini sudah bisa digunakan dalam 4 mode. Pertama sebagai mode laptop biasa, kedua mode tablet, lalu mode stand, dan mode tent.

Layarnya sendiri 14 inci, dan berpanel IPS dengan resolusi Full HD. Karena merupakan layar sentuh, jadinya tipe layar yang digunakan adalah glossy ya, bukan mate. Jadi di kondisi cahaya terang atau silau, bisa jadi layarnya agak sulit dilihat secara kontras. Bezel pada layar Zyrex SKY 360 ini tidak tebal, namun juga tidak tipis.

RAM-nya 4 GB dengan storage ada 2, yang pertama eMMC 64 GB, dan yang kedua adalah SSD M.2 128 GB. Ya, dalam paket standar penjualannya, sudah terpasang SSD tersebut, dan inilah kenapa saya merasa harga versus speknya terasa worth it banget.



Untuk processornya, Zyrex memang mengandalkan Intel Celeron N400 saja. Masih bisa dipakai gaming semisal Asphalt 9 yang saya unduh dari Windows Store. Ya, by default pada laptop ini sudah terinstall Windows 10 Home. Dan dipakai ngedit foto di Photoshop CS3 jadul pun masih kuat.

Tapi sebagai Youtuber, tuntutan buat saya pasti ujung-ujungnya kuat ga laptop ini untuk video editing.

Saya install Filmora 8 dan 9, sebetulnya kuat-kuat saja. Menambahkan berbagai file video ke dalamnya terasa cepat berkat storage-nya yang memang punya IO speed tinggi ini.

Namun saat mulai melakukan splitting, trimming, dan playbacknya, mulai terasa delay antara gambar, suara, dan indikator grafis soundwave dari videonya. Untuk rendering masih bisa, walau memang juga durasinya lebih lama dari biasanya.

Yup, processor yang dipilih untuk Zyrex Sky 360 ini memang bukan untuk kerja multimedia berat.

Sekedar untuk multitasking nonton, browsing, dan juga pekerjaan office sih bisa banget. RAM-nya kan cukup besar.

Plus laptop ini sudah terinstall juga satu set aplikasi office dari WPS. Jadi kalau mau langsung dipakai kerja bikin dokumen, tabel, maupun presentasi sih so pasti bisa.

Beralih ke masalah build quality, seluruh permukaan laptop ini, kecuali layar tentu, terbuat dari bahan metal. Membuatnya terasa solid sekali, namun di sisi lain juga menghasilkan bobot yang terasa cukup berat dibanding laptop lain yang dimensinya sama.

Yang saya suka adalah baik bagian body maupun layar dari Zyrex SKY 360 ini bisa dikatakan tipis banget. Ya, ketiadaan optical drive maupun harddisk nampaknya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk meminimalisir ketebalannya.

Untuk kelengkapan port, kita absen dari sisi kanan dulu ya. Mulai dari port untuk power, jack audio, USB 3.1, slot micro-SD dan juga tombol power.

Di sisi kiri, ada port micro HDMI dan sebuah port USB 3.1 lagi.

Untuk posisi loudspeaker ada di atas keyboard di dekat engsel atau hinge-nya. Posisi ini bagus jika sedang dalam mode laptop, karena mengarah ke atas sehingga terdengar dengan baik. Lain cerita untuk mode stand yang membuatnya jadi terbenam, atau mode tablet dan tent yang menjadikannya mengarah ke belakang.

Keyboardnya sendiri cukup nyaman untuk digunakan, meski agak kurang lembut responnya, namun travelling distance-nya sangat cukup. Dengan pembiasaan sebentar saja, saya sudah bisa menyamankan jemari ini untuk mengetik berbagai naskah di atasnya.

Baterainya tergolong besar di 8.000 mAh, dan sanggup bertahan cukup lama untuk pola pemakaian saya. Yaitu 4 jam dengan aktifitas browsing, mengetik, nonton, dan juga rendering video dalam mode performa. Bisa jadi lebih lama ya kalo mode-nya lebih ke battery saver.

Overall, harga 5 juta yang disandangnya bagi saya terasa worth it, dengan fitur yang diberikannya, antara lain:
- ini adalah laptop konvertible yang bisa digunakan sebagai tablet juga,
- layarnya kece dalam artian sudah panel sentuh, Full HD, dengan vibrancy dan brightness yang cukup.
- storage sudah cukup lega 64 GB eMMC + 128 GB SSD M.2 yang IO Speed-nya tinggi
- build quality bagus
- baterai besar

Memang bukan laptop gaming atau multimedia berat ya, lebih cocok mungkin untuk mahasiswa dan kerja kantoran umum yang lebih banyak berkutat dengan dokumen dan data.

Sambil sesekali dipakai browsing dan streaming sudah pasti asyik dengan berbagai mode yang bisa digunakan.

Oh ya untuk presentasi juga bisa banget nih!

2 hal yang masih bisa diperbaiki dari laptop ini paling soal bobot yang cenderung berat, serta mungkin ada baiknya jika dibundling dengan stylus agar layar sentuhnya bisa lebih fungsional lagi.

But overall, ini adalah produk bagus dari segi price to spec comparison ya.

Semoga Zyrex sebagai brand asli Indonesia makin memperkuat daya saing lini produknya terus, dan Zyrex SKY 360 ini bisa jadi terobosan yang dibutuhkan untuk itu.

Sip, segitu saja yang bisa saya bahas kali ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!