Gadget Promotions

Tuesday, July 2, 2019

Review ASUS Zenfone Live L2, Smartphone Di Bawah Sejutaan Paling Ganteng?




Ini adalah smartphone yang saya unbox sebelum Lebaran lalu. Saat itu ponsel ini baru dirilis dengan harga resmi Rp1.199.000.



Sekitar sebulan berselang, harganya turun seratus ribu, dan bahkan bisa didapatkan di toko-toko online dengan uang kurang dari satu juta Rupiah.

Saya yang tadinya berpikir bahwa ini hanyalah facelift dari Zenfone Live L1 pun sontak berubah pikiran.

Seingat saya, Zenfone Live L1 tidak pernah sampai menyentuh angka 6 digit begini.

Jadilah Zenfone Live L2 hape di bawah sejutaan terkece dari brand global yang reputasinya terjamin, ASUS.

Yup, saya masih setia dengan penilaian bahwa desain smartphone ini kebangetan cantiknya untuk level harganya.

Finishing Glossy-nya sleek banget, dan gradasinya bikin hati dag dig dug, rasa-rasanya kaya desain hape 3-4 jutaan saja.

Masih mengandalkan layar 5 inci beresolusi HD+ dan rasio 18:9, bagi saya sama sekali tak ada keluhan saat smartphone ini digunakan sebagai perangkat multimedia.

Dapur pacunya yang sebetulnya mengandalkan processor lawas Snapdragon 430, masih cukup prima untuk multitasking ringan. Faktanya memang processor ini lebih bertenaga daripada Snapdragon 425 di Zenfone Live L1, hanya saja konsumsi dayanya cenderung lebih tinggi.

Sejauh ini jarang menemukan demam sih, karena kebanyakan pola pakainya hanya untuk whatsapp nomor kedua yang banyak grupnya, dan sesekali socmed atau youtube-an.

Saya tak begitu berniat menjajal berbagai game pada Zenfone Live L2 ini, tapi tidak ada salahnya kita coba bermain PUBG Mobile di hape ini. Yuk kita jajal gais!

Gimana, buat hape di bawah sejutaan, gamingnya lumayan kan? Suaranya gimana, bisa dinikmati  tanpa earphone ga kalau main game?

Kalau buat mendengarkan lagu, kira-kira seperti ini suaranya nih.

Lalu kameranya sebetulnya berfitur standar ya. Namun kredit lebih saya berikan karena kemampuannya menghasilkan foto dengan blur di background, padahal baik di depan maupun belakang hanya mengandalkan satu lensa.

Hasilnya di cahaya ideal sih menurut saya oke banget buat hape 900-ribuan. Yuk kita cek hasil foto sekaligus videonya berikut ini!



Kalau pada komen hape kentang nih, ga enak buat gaming lah, mbok ya dicek atuh harganya yang ga sampe sejuta ini. Dan plis, jangan bandingkan dengan smartphone tak resmi, apalagi hape seken atau rekondisi.

Emang situ mau ngasi orang terkasih pake hape Docomo dan kawan-kawan? heuheu.

I know, Zenfone Live L2 bukan hape yang performanya tinggi. Namun dengan bandrol harganya, ponsel ini menawarkan beberapa nilai jual yang menarik.

Yang utama tentu saja masih di desain dan juga reputasi brand-nya. Plus, speknya juga tergolong OK koq dengan harganya sekarang.

RAM-nya 2 GB lho, hape di bawah sejutaan lain yang resmi, banyak yang masih punya RAM setengahnya saja.

Storage 16GB-nya juga masih bisa ditambah micro-SD yang takkan menganggu fungsi dual-sim berkat triple card slotnya.

Yang sedikit disayangkan, Live L2 ini masih hadir dengan Android Oreo, alias belum ada peningkatan dari software-nya Live L1.

Absennya fingerprint scanner juga masih bisa dimaklum, face unlocknya gegas koq, dan masih bisa bekerja dengan baik di kondisi kurang terang.

Jadinya seperti biasa, buat hape kedua cocok banget, buat hape utama kamu-kamu yang mulai beradaptasi dengan smartphone juga bisa. Asal jangan punya ekspektasi muluk-muluk aja ya, sesuaikan lah sama harganya hehe.

Tinggal siapin uang sejuta, ASUS Zenfone Live L2 bisa kamu dapatkan di link yang ada di deskripsi video ya.

Monday, June 10, 2019

Review Infinix Smart 3 Plus, Afgan Aja Kalah Sadis?

Kalau saat ini Anda sedang mencari smartphone untuk dijadikan simpanan, cadangan, selingkuhan, atau apapun lah namanya yang jelas sebagai hape kedua mendampingi hape utama Anda, maka Anda wajib memperhitungkan Infinix Smart 3 Plus ini.

Kenapa? Ya, kenapa tidak. Hehe.



Dengan harga Rp1.199.000 melalui flash sale di Lazada, maka Anda akan mendapatkan sebuah smartphone paket lengkap.

Layar kekinian dengan waterdrop notch, dijamin takkan ada yang menyangka harganya murah. Kerapatan cukup, warna juga bagus, tidak washed out.

Baterai 3.500 mAh, yang kalau dijadikan hape kedua saja, dengan Whatsapp dan Instagram yang sesekali dibuka, nyatanya hape ini bisa bertahan lebih dari 2 hari 2 malam. Ya, memang jadinya banyakan idle. Namanya juga hape kedua.

RAM 2 GB cukup lah buat buka beberapa aplikasi selain games. Storage 32 GB tergolong besar untuk harganya. Tak cukup? Ada slot khusus micro-SD yang tak mengganggu dua slot nano-sim pada hape ini. Dan kerennya lagi, micro-SD bisa diformat sebagai internal storage kalau Anda maksa.

Koq maksa? Ya atuh da dengan processor dan besaran RAM segini, saya pikir nginstall aplikasi di sisa storage sekitar 24GB sudah lebih dari cukup. Micro-SD mah buat simpan file multimedia saja lah. Silakan nasihat saya ini diikuti, tapi kalau tetep maksa, ya saya bisa apa. Saya kan ga suka maksa, enakan suka sama suka, halal dan dengan restu orang tua hehehe.

OS-nya juga kekinian, sudah Android Pie dengan balutan kustomisasi XOS 5.0 Cheetah.

Nah untuk custom UI ini, secara fungsi menurut saya OK, banyak mengadaptasi hal-hal positif dari custom UI lain yang lebih tenar. Semisal ada quick panel yang tinggal diswipe dari sisi kanan, kaya di layar Edge-nya Samsung, walau terakhir saya lihat ColorOS 6 juga pake fitur ini.

Beberapa bloatware bisa kita temukan pada XOS ini, saran saya uninstall atau disable saja lah, daripada menuh-menuhin jendela notifikasi. Ya, beberapa aplikasi senang menampilkan artikel yang kurang relevan sih di notifikasi, yang paling ganggu sih tetep, Phoenix Browser.

Balik ke hardware lagi, jangan lupakan fingerprint scanner Infinix Smart 3 Plus yang saya nilai akurat, meski tak terlalu cepat. Ingat, di harga segini, ini bisa dibilang sebuah fitur mewah.

Face unlock juga hadir, akurat juga dengan catatan kondisi cahaya cukup. Kalau lebih redup, biasanya prosesnya pun lebih lama ya.

Jangan lupakan kemewahan lainnya, yaitu triple AI camera di belakang. Walau satu lensa hanya berfungsi sebagai night mode sensor, namun pada prakteknya ini memudahkan kerja AI smartphone ini untuk mendeteksi pencahayaan pada scene yang dibidik.

Secara otomatis mode kamera akan masuk ke night mode, yang sayangnya tidak terlalu banyak membantu karena kecepatan rana tidak banyak diperlambat untuk mengumpulkan lebih banyak cahaya.

Lensa kedua yang berfungsi sebagai depth sensor bekerja cukup baik untuk mode portrait. Hasilnya lebih baik dari mode portrait kamera depan yang hanya bekerja dengan satu lensa.

Overall, kualitas hasil foto dari kamera belakang Infinix Smart 3 Plus ini OK lho. Setidaknya untuk level harganya. Saya suka tone warna dan ketajaman yang dihasilkan saat cahaya ideal.

Agak kurang di masalah dynamic range saat kontras ekstrem, hal ini saya maklumi untuk level harganya. Mode HDR pun hanya sedikit memberikan bantuannya.

Untuk selfie, ada satu syarat agar hasilnya tajam, yaitu jaraknya harus pas, karena kameranya kan fixed focus. Saat jarak pas sih saya suka detailnya yang asli. Beautification pun masih sebatas wajar, tidak lebay. Bokeh dengan kamera depan cukup rapih, kecuali di bagian detail rambut-rambut halus.

Untuk perekaman video, langsung saja dinilai pada test vlogging yang berikut ini ya.




Pasti penonton ingin tahu ya performa gamingnya? Ya dengan Mediatek Helio A22, GPU PowerVR Rogue GE8300 dan RAM 2GB, buat PUBG masih playable koq.

Playable, but less enjoyable. Graphic maksimal di Balanced, dengan framerate Medium. Dan kalau mau enak, mending maen di rata kiri hehe.

Ya masa hape kedua mau dijadikan gaming machine, paling saya pakai main game saat darurat saja, atau saat hape utama lagi dicharge.

Gameplay masih cukup enak, tapi kalau looting dan geser2 pandangan secara cepat ya terasa agak berat. Kalau punya scope dan main aman, bisa lah sampai 10 besar. Tapi kalau sudah 1-on-1, keteteran heuheu.

Yang paling bener sih ya memang buat hape whatsapp nomor yang banyak grupnya kayak saya saja. Dan sesekali dipake nonton youtube. Selain batrenya cukup, layar OK buat nonton, suara juga ngga malu-maluin, walau kalau dengerin lagu yang upbeat dengan volumenya penuh, kentara kalau kontrolnya lepas hehe.

Tapi, buat yang budgetnya memang terbatas, atau upgrade dari feature phone atau Android apa adanya yang harganya masih ratusan ribu, bisa jadi Infinix Smart 3 Plus ini adalah calon hape utama impian.

Selain semua fitur yang dibahas di atas, jangan lupakan kelengkapan dalam paket penjualannya. Hardcase yang unik dengan doodle, headset, anti-gores, sampai perdana smartfren dengan bonus kuota besar.

Tuh kan jadi inget, smartphone ini support VoLTE-nya smartfren lho. Mantap bukan?

Tentunya bukan tanpa kekurangan ya, kalau Anda simak dengan baik, dari tadi saya jelaskan koq sisi mana saja yang tidak begitu kuat. Namun memang, faktor harganya banyak-banyak membuat hal tersebut jadi bisa dimaklumi.

Oke, absennya LED notification boleh deh dimasukkan ke daftar minusnya.

Dan kalau Anda mempertanyakan build quality, saya cuma bisa bilang sesuai koq sama harganya. Kalau soal durability, Anda salah channel kalau bertanya, wong hape yang saya review kebanyakan langsung dijual kembali selesai dibikin video. Jadi ya ga tahu juga apakah bisa bertahan setahun atau lebih dalam pemakaian normal. Hehe.

Mau tak mau Infinix menekan harga produknya melalui subsidi e-commerce, sehingga harga murah tadi cuma bisa didapatkan melalui flash sale Lazada ya.

Saya cuma bisa doakan supaya yang berhasil beli hape ini adalah memang para end-user, bukan reseller. Dan juga semoga larisnya hape-hape sadis Infinix bisa membuka jalan agar Infinix kembali memasukkan seri Note dan Zero ke sini.

Ulasannya saya cukupkan di sini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, March 12, 2019

Review Samsung Galaxy S10, "Istri Kedua" buat Video Content Creator



Tak terasa setahun sudah berlalu, sejak saya membuat video di Glamping Lakeside, demi membuktikan kehandalan Galaxy S9 waktu itu.

Kali ini, saya jelas tak mau melewatkan Samsung Galaxy S10, Insya Allah kalau tidak ada rintangan, akan saya coba semua variannya, termasuk S10+ dan S10e.

Yang kali ini saya ulas adalah Galaxy S10.

Bagi saya, peningkatan dari S9 ke S10 ini terasa lebih signifikan jika dibandingkan saat S8 ke S9 lalu.

Pada Galaxy S10 inilah Samsung memperkenalkan Infinity-O Display, di mana sisi depan smartphone ini makin penuh oleh layar, dan terdapat sebuah punchhole di sisi kanan atas untuk kamera depannya.

Samsung memberikan animasi yang sangat eye catching di area sekitar kamera depan ini. Memang ini sifatnya fancy ya, tapi inilah yang membedakan kelas smartphone flagship dari yang mainstream.

Samsung memilihkan generasi terbaru untuk panel layarnya yang diberi nama Dynamic AMOLED. Setelah S9 lalu menyabet gelar best smartphone display, saya pikir layar S10 ini semakin baik saja dari segi kontras dan akurasi warna, dan pastinya masalah ketajaman.

Sudah itu saja? Belum, di balik layar ini sekarang sudah tersemat ultrasonic fingerprint scanner yang bekerja dengan baik, responsif, dan juga akurasinya tinggi.

Jadi jangan heran jika kita membalikkan smartphone ini, yang ada di sisi belakang hanya sederet kamera dan logo Samsung saja.

Ya, kamera Galaxy S10 ini jumlahnya 3 buah.

Komposisinya sendiri terdiri dari kamera utama 12 MP yang tetap mempertahankan teknologi dual-aperture. Bukaan maksimalnya di F/1.5 sangat bisa diandalkan untuk kondisi lowlights. Lensa ini dilengkapi OIS dan Dual-pixel PDAF untuk penguncian fokus lebih cepat.

Selanjutnya ada lensa telephoto 12 MP yang bisa menghasilkan 2x optical zoom dengan OIS untuk kestabilan pengambilan foto dengan perbesaran. Focal lengthnya adalah 52mm ya.

Dan satu lensa lagi adalah lensa ultrawide 16MP dengan focal length 12 mm.

Sementara kamera depannya beresolusi 10MP dengan aperture F/1.9.

Saya takkan berpanjang lebar soal teknis kameranya, saya yakin hasil fotonya pada video review berikut ini sudah berbicara sendiri.



Untuk perekaman video, kamera Galaxy S10 mampu merekam hingga 4K. Framerate tertinggi di 60fps untuk kamera belakang, dan 30fps untuk kamera depan.

Hadirnya teknologi HDR 10+ membuat hasil perekaman video memiliki warna yang sangat hidup. Untuk urusan kestabilan hasil perekaman, benar-benar bisa diandalkan bagi saya yang kadang harus memanfaatkan smartphone untuk membuat konten video.

Opening dan Closing video review di atas juga saya rekam langsung dari Galaxy S10 lho.

Performa S10 ini ngga ada masalah, khas flagship yang apa-apa gegas, no lag-lag.

Samsung membekali S10 ini dengan processor baru, yaitu Exynos 9820. Processor ini fabrikasinya 8nm, dikombinasikan dengan baterai yang bertambah kapasitasnya di 3.400 mAh, S10 ini dapat menemani kegiatan sehari penuh.

Sebetulnya, kalau mengulas smartphone flasghip begini, saya pengennya skip saja bagian teknis dan performa begini. Nyaris bisa dipastikan kalau flagship Samsung mah perform well, kamera bagus, dan bla bla bla. Paling pricing yang premium saja yang akan jadi hambatan bagi sebagian orang untuk memilikinya, kalau minat sih saya yakin pada minat. Pre-order-nya saja habis terus tuh.

Saya lebih tertarik membahas bagaimana S10 ini bisa menemani keseharian saya, yang sejak akhir tahun lalu sudah meninggalkan pekerjaan kantoran, dan sehari-hari lebih banyak berkutat di studio, di belakang kamera atau di depan laptop.

Sesekali saya cari suasana dengan makan di luar, itupun kadang sambil bawa peralatan kerja juga karena tak jarang saya mendapati spot-spot bagus untuk ambil video.

Dan kadang juga ini tanpa direncanakan. Sehingga saya kadang tak membawa kamera saya. Tripod mah apalagi, nyaris tak peris tak pernahnah bawa.

Maka yang saya butuhkan adalah smartphone dengan kamera yang bisa diandalkan untuk membuat konten, dalam berbagai kondisi. Galaxy S10 punya kelebihan-kelebihan yang saya butuhkan, ketajaman detail, keindahan warna yang dihasilkan, plus kestabilan gambar.

Di sinilah Samsung Galaxy S10 akan melengkapi persenjataan saya dalam membuat konten dan terus berkreasi. Sesederhana apapun karyanya, bagaimanapun keterbatasan yang ditemui, kualitasnya harus sebaik mungkin.

Samsung Galaxy S10 inipun bisa membuat kita lebih percaya diri. Yup, faktanya memang kadang membawa flagship di tangan membuat kita lebih pede. Terlebih, dari sisi looks, warna Prism White ini punya refleksi warna yang menarik.

Dan ini penting. Bagi saya, looks adalah sesuatu yang tak bisa dikesampingkan. So far Galaxy S10 ini bikin saya kesengsem di sebagian besar detailnya.

Last but not least, smartphone juga punya fungsi sebagai alat hiburan. Kalau sedang penat, saya sempatkan sesekali bermain game favorit saya yang grafisnya cukup berat, dan bisa dilahap dengan baik oleh Galaxy S10 ini. Atau jika saya ingin menonton streaming video atau music, kombinasi layar dan loudspeaker Galaxy S10 selalu bisa saya andalkan.

Akhir kata, saya rasa apa yang dibayarkan untuk Galaxy S10 series ini sangat terasa setimpal dengan apa yang saya dapatkan. Saya doakan deh yang menonton video ini bisa pada punya rezeki cukup untuk memiliki flagship Samsung ini juga.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Saturday, March 9, 2019

Review Vivo V15, Kameranya Bisa Naik, Harganya Malah Turun



Setahun berlalu sejak Borobudur, Vivo memperkenalkan lagi smartphone terbaru mereka, yaitu Vivo V15.

Secara desain, ini merupakan sebuah penyegaran besar, dimulai dari layar yang semakin memenuhi sisi depan ponsel ini. Ya, Vivo V15 tak punya notch, kamera depannya hadir dengan mekanisme Pop-up yang merupakan hasil penyempurnaan fitur serupa pada Vivo NEX.



Ukuran layarnya kini 6,53 inch, dengan resolusi Full HD+ dan screen-to-body ratio 90.95%.

Sisi belakang juga nampak berbeda terutama pada peletakkan kameranya yang diberi aksen hitam tegas, serta jumlahnya yang ada 3 buah.



Finishing backcovernya dibuat glossy yang refleksinya seperti chrome ya. Yang saya coba ini warna Royal Blue dengan gradasi menuju hitam.



Kalau kamu jeli, logo Vivo baru lho. Hayoo, pada sadar gaaa?



Tak hanya looks, untuk software pun Vivo V15 sudah lebih segar dengan FunTouch OS versi baru dengan Android 9.0 Pie.

Hal yang saya sukai dari FunTouch OS berbasis Android Pie ini banyak sekali. Namun saya buatkan daftar yang paling bikin saya ngacungin jempol saja ya:

  1. Image Recognition, Jovi bisa mengenali konten foto di gallery kita. Semisal foto pepohonan di taman dikenali sebagai tanaman hias, hingga dicarikan harganya di toko online lokal lho. Kereeennn.
  2. Simple video editor. Di gallery, kita bisa menyunting video langsung. Fungsi-fungsi sederhana seperti trim, crop, filter, hingga playspeed bisa diterapkan.
  3. Kita juga bisa mengelompokkan semua foto di gallery menurut kategori yang otomatis dibuat, semisal landscape, objek, people, dll. Termasuk foto2 yg redundant alias mirip-mirip tapi berulang, bisa dideteksi. Jadi nanti bisa dipilih apa mau disimpan 1 lalu sisanya dihapus saja, supaya menghemat storage.


Bahas kamera, ini adalah keduakalinya hape yg saya pake, dipegang istri terus kalo lagi pergi makan di luar atau ngafe.. Yang pertama V11 Pro dulu, dan saya sih menganggapnya kameranya berarti bagus, karena kepake sama istri saya yang hobby foto-foto di tempat bagus heuheu.

Tapi memang kamera V15 ini instagrammable banget. Mode portraitnya bikin foto lebih dramatis, dan favorit saya tentu yang monochrome background. Pintar-pintar kasih jarak saja antara objek dengan latar ya, supaya pemisahan warna yang dijadikan greyscale bisa pas dan rapi.

Jangan lupa bahwa kamera belakang Vivo V15 ada 3, di mana selain kamera utamanya yg beresolusi 12 MP dengan effective pixels sebanyak 24 juta, ada juga kamera untuk depth effect, daaaan.. Wide lens!

Yes, wide lens ini useful banget untuk mengambil gambar di tempat sempit atau mengabadikan pemandangan, baik foto dan video.

Untuk selfie, ga usah ditanya lah, jagonya Vivo mah.

Yang beda kali ini lebih ke kameranya aja yg bisa pop-up, jadi layar bisa lebih full. Kadang kamera depannya ini bikin saya norak sendiri deh, bikin pengen dikencengin sound effect pas kameranya pop-up, biar orang pada mupeng, haha.

Resolusinya 32 MP, dan baiknya dilihat langsung saja pada deretan foto berikut ini. Ok!



Masuk ke bahasan dapur pacu, Vivo V15 menggunakan processor Octa-core 2,1 GHz, yaitu Helio P70 yang keduakalinya saya coba. Dan sejauh ini performanya selalu bisa diandalkan tanpa membuat khawatir baterai cepat habis.

Untuk gaming, saya bisa bermain PUBG pakai Helio P70 ini secara smooth dengan settingan grafis HD dan framerate High. Main enak, membidik juga ngga loncat-loncat, jadi enjoyable dan bikin sering pengen main.

Dengan sokongan RAM 6GB, saya tak perlu menutup aplikasi-aplikasi lain sebelum bermain. Lagipula GameCube dari Jovi akan mengatur semuanya supaya performa gaming optimal, dan gameplay takkan terganggu notifikasi ataupun panggilan masuk.

Di awal pemakaian, dengan gaming dan multitasking yang intens untuk berbagai social media, Vivo V15 bisa bertahan selama 29 jam. Dan setelah beberapa hari, daya tahan baterainya semakin membaik karena FunTouch OS mendeteksi aplikasi-aplikasi yang banyak menyedot baterai.

Pengisan daya pada Vivo V15 tergolong cepat, dari 10 ke 100% dapat dilakukan dalam waktu 1 jam 48 menit. Di mana selama 35 menit pertama kapasitas baterai bertambah 45%. Harusnya dikali dua jadi cuma 1 jam 10 menit ya, tapi jangan lupa setelah di atas 90% biasanya pengisian melambat demi alasan keamanan.

Jangan lupa kapasitas baterainya yang kini semakin besar di 4.000 mAh ya!

Dengan fitur fast charging begini, rasanya port-nya yang masih micro-USB tak jadi kendala ya. Karena baik di rumah maupun di tas, saya selalu sedia minimal 2 kabel, yang satu USB Type-C dan satu lagi micro-USB.

Untuk fingerprint, saya nilai akurat dan responsif ya. Bisa diandalkan. Walau memang Vivo V15 ini hadir tanpa fitur face unlock, biar Pop-up kameranya lebih awet sepertinya.

Yang jadi masukan dari saya adalah Vivo V15 ini akan lebih baik jika memiliki LED Notification. Memang sedikit tergantikan dengan adanya black screen glance, di mana layar akan menampilkan jam dan icon-icon notifikasi saat kita melambaikan tangan di atas layar yang mati.

Sisanya paling kamera belakangnya yang cukup menonjol, sehingga membuat saya selalu menggunakan case yang disertakan dalam paket penjualan. Untung backcover kecenya tetep kelihatan ya, walau ketebalannya jadi bertambah dalam genggaman.



Overall saya mendapatkan impresi yang baik dari Vivo V15 ini. Dan Anda yang punya budget di angka 4-jutaan bisa mempertimbangkan smartphone ini untuk dimiliki.

Demikian ulasan saya untuk Vivo V15 ini, dari kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, February 20, 2019

Review ASUS Zenfone Max M2, Ngga Pro Tapi Tetep Bagus?



Ini adiknya Zenfone Max Pro M2.
Ngga pake embel2 Pro, apa bedanya?

Spek dan harga jelas ya.

Dari layar juga udah beda, meskipun memiliki dimensi yg sama, namun layar sang adik hanya memiliki resolusi HD+.



LANJUT KE PROCESSOR. Pakai Snapdragon 632 yg baru, dan saya pikir processor ini akan sukses menggantikan snapdragon 625 dengan karakternya yg sama-sama hemat daya.

Habis itu baterainya ya, lebih kecil di 4000 mAh saja, yg berkat resolusi layar yg lebih rendah serta processor yg kelasnya lebih bawah juga, malah sepemakaian saya lebih lama daya tahannya.

Selain itu, backcover ASUS Zenfone Max M2 ini juga beda dari Max Pro M2. Lebih mirip Zenfone Max Pro M1 jadinya, cuma yg ini layarnya berponi.

Untuk urusan kamera, performanya mirip-mirip dengan sang kakak, beda di resolusinya aja dikit.

EIS ada, hanya saja maksimal perekaman video di HD 720P ya kalau mau ada stabilization ini. Kalau tanpa stabilization sih resolusi videonya bisa sampai 4K, yg mana udah keren.

Somehow saya merasa duet M2nya asus ini masih punya PR soal software deh. Masih suka ada hang tiba2, kejadiannya random walau memang ngga sering. Lalu di kondisi lowlights, asli kudu stabil tangan, sabar jangan buru2 digerakin pasca ambil gambar.

Karena di thumbnailnya suka keliatan bagus fotonya, pas diklik buat liat keseluruhan foto, ternyata blur karena keburu gerak. Dan saya suka agak bete ya sama perbedaan antara thumbnail dengan foto aslinya ini.

Bokeh2an cukup rapi, selfie juga lumayan lah. Buat harga 2jutaan begini, segini udah masuk di atas rata2 lah.

Yuk dilihat contoh hasil foto dan videonya.



Performanya gimana? Bisa dibilang di atas snapdragon 625 rasanya, tapi masih di bawah 636 jelas. Terlihat dari settingan grafis untuk PUBG yg mentok di balanced dengan framerate medium.

Tergolong cukup smooth sih gameplay, walau frameskip terasa ya.

Kalau sekedar main, bisa lah. Tapi kalau mau enjoy banget, jelas mending upgrade ke Max Pro M2 saja. Atau malah Max Pro M1.

Terlebih yg saya uji ini varian terbawahnya yg punya RAM 3GB dan storage 32GB. Namun dengan penggunaan Android Oreo 8.1 stock, sejauh ini saya merasa lancar2 saja digunakan untuk kegiatan saya sehari-hari yang selalu multitasking berbagai social media dan chatting.

Kalau kamera sih bisa dibilang bisa diandalkan asal ngga lagi buru-buru ya.

Saya suka bodynya yang tipis, tapi memang backcover metal begini agak licin euy. Tapi daya tahan baterainya bener-bener bisa diandalkan lah, rata2 bertahan 36 jam dengan pemakaian intens tanpa gaming yang menghasilkan SoT sekitar 7 jam.

Untuk charging, saat diisi dengan kepala charger yg support QC3.0, di layarnya muncul tulisan charging rapidly, tapi indikator charger dan powerbank saya ga berubah jadi hijau.

Entah support QC3.0 atau tidak, namun yg saya rasakan pengisian dayanya cukup cepat sih, sekitar 2 jam lah.

Masuk ke kesimpulan, memang positioning Max M2 ini agak berat ya, produk baru dengan spesifikasi di bawah Max Pro M1. Kalau budget longgar sih jelas mending sekalian ambil Max Pro M2.

Namun kalau budget Anda berkisar di 2,5 jutaan, mungkin yg menentukan jadi layarnya deh. Butuh poni ngga? Kalau ga suka poni mah sudah beres, pilih saja Max Pro M1, saya rasa stoknya sekarang sudah aman deh.

Overall sih worth the price ya, kameranya ok, batre awet, handling enak karena tipis, cuma agak licin aja. Fingerprint dan face unlocknya juga akurat dan responsif.

In my opinion,  yang terasa agak kurang masih soal random hang di saat membuka kamera, bisa dilihat dari tombol shutter camera di layar yg jadi nampak bergerigi. Kalau sudah begitu, mending close dulu kameranya baru buka lagi saja.

Entah apakah masalah yg sama terjadi juga di Max M2 varian RAM 4GB atau tidak ya.

Yang jelas selama 2 minggu saya menggunakannya sebagai daily driver, saya nyaman-nyaman saja, hape ini bisa diandalkan banget, walau harus saya akui saya kangen dengan feels hale flagship di tangan ini hehehe.

Seperti itu pengalaman saya dengan ASUS Zenfone Max M2, semoga bisa membantu menuntaskan kepenasaran temen2 yg nonton video ini ya. Dari kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Tuesday, February 5, 2019

Review Zyrex SKY 360, Laptop Convertible 2-in-1 TERMURAH dengan SSD!



Halo Assalamualaikum...

Beberapa waktu lalu, saya post di Instagram, jika Zyrex mengeluarkan sebuah laptop konvertible 2-in-1 dengan layar sentuh dan sudah terpasang SSD M.2 128 GB, kira-kira berapa harga yang pantas menurut netizen?

Banyak yang menyangka harganya 7 juta ke atas.

Ada juga sih yang menebak 3 jutaan, yang ini kayanya menilik ke harga Zyrex Sky series sebelumnya ya.

Namun rupanya, banyak juga yang menebak tepat di harga 4.999.000 atau 5 juta kurang seribu saja.

Yap itu harganya. Dan bagi saya, di harga segini, laptop ini terlihat menarik sekali.

Pertama tentu saja karena sekarang laptop Zyrex SKY 360 ini sudah bisa digunakan dalam 4 mode. Pertama sebagai mode laptop biasa, kedua mode tablet, lalu mode stand, dan mode tent.

Layarnya sendiri 14 inci, dan berpanel IPS dengan resolusi Full HD. Karena merupakan layar sentuh, jadinya tipe layar yang digunakan adalah glossy ya, bukan mate. Jadi di kondisi cahaya terang atau silau, bisa jadi layarnya agak sulit dilihat secara kontras. Bezel pada layar Zyrex SKY 360 ini tidak tebal, namun juga tidak tipis.

RAM-nya 4 GB dengan storage ada 2, yang pertama eMMC 64 GB, dan yang kedua adalah SSD M.2 128 GB. Ya, dalam paket standar penjualannya, sudah terpasang SSD tersebut, dan inilah kenapa saya merasa harga versus speknya terasa worth it banget.



Untuk processornya, Zyrex memang mengandalkan Intel Celeron N400 saja. Masih bisa dipakai gaming semisal Asphalt 9 yang saya unduh dari Windows Store. Ya, by default pada laptop ini sudah terinstall Windows 10 Home. Dan dipakai ngedit foto di Photoshop CS3 jadul pun masih kuat.

Tapi sebagai Youtuber, tuntutan buat saya pasti ujung-ujungnya kuat ga laptop ini untuk video editing.

Saya install Filmora 8 dan 9, sebetulnya kuat-kuat saja. Menambahkan berbagai file video ke dalamnya terasa cepat berkat storage-nya yang memang punya IO speed tinggi ini.

Namun saat mulai melakukan splitting, trimming, dan playbacknya, mulai terasa delay antara gambar, suara, dan indikator grafis soundwave dari videonya. Untuk rendering masih bisa, walau memang juga durasinya lebih lama dari biasanya.

Yup, processor yang dipilih untuk Zyrex Sky 360 ini memang bukan untuk kerja multimedia berat.

Sekedar untuk multitasking nonton, browsing, dan juga pekerjaan office sih bisa banget. RAM-nya kan cukup besar.

Plus laptop ini sudah terinstall juga satu set aplikasi office dari WPS. Jadi kalau mau langsung dipakai kerja bikin dokumen, tabel, maupun presentasi sih so pasti bisa.

Beralih ke masalah build quality, seluruh permukaan laptop ini, kecuali layar tentu, terbuat dari bahan metal. Membuatnya terasa solid sekali, namun di sisi lain juga menghasilkan bobot yang terasa cukup berat dibanding laptop lain yang dimensinya sama.

Yang saya suka adalah baik bagian body maupun layar dari Zyrex SKY 360 ini bisa dikatakan tipis banget. Ya, ketiadaan optical drive maupun harddisk nampaknya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk meminimalisir ketebalannya.

Untuk kelengkapan port, kita absen dari sisi kanan dulu ya. Mulai dari port untuk power, jack audio, USB 3.1, slot micro-SD dan juga tombol power.

Di sisi kiri, ada port micro HDMI dan sebuah port USB 3.1 lagi.

Untuk posisi loudspeaker ada di atas keyboard di dekat engsel atau hinge-nya. Posisi ini bagus jika sedang dalam mode laptop, karena mengarah ke atas sehingga terdengar dengan baik. Lain cerita untuk mode stand yang membuatnya jadi terbenam, atau mode tablet dan tent yang menjadikannya mengarah ke belakang.

Keyboardnya sendiri cukup nyaman untuk digunakan, meski agak kurang lembut responnya, namun travelling distance-nya sangat cukup. Dengan pembiasaan sebentar saja, saya sudah bisa menyamankan jemari ini untuk mengetik berbagai naskah di atasnya.

Baterainya tergolong besar di 8.000 mAh, dan sanggup bertahan cukup lama untuk pola pemakaian saya. Yaitu 4 jam dengan aktifitas browsing, mengetik, nonton, dan juga rendering video dalam mode performa. Bisa jadi lebih lama ya kalo mode-nya lebih ke battery saver.

Overall, harga 5 juta yang disandangnya bagi saya terasa worth it, dengan fitur yang diberikannya, antara lain:
- ini adalah laptop konvertible yang bisa digunakan sebagai tablet juga,
- layarnya kece dalam artian sudah panel sentuh, Full HD, dengan vibrancy dan brightness yang cukup.
- storage sudah cukup lega 64 GB eMMC + 128 GB SSD M.2 yang IO Speed-nya tinggi
- build quality bagus
- baterai besar

Memang bukan laptop gaming atau multimedia berat ya, lebih cocok mungkin untuk mahasiswa dan kerja kantoran umum yang lebih banyak berkutat dengan dokumen dan data.

Sambil sesekali dipakai browsing dan streaming sudah pasti asyik dengan berbagai mode yang bisa digunakan.

Oh ya untuk presentasi juga bisa banget nih!

2 hal yang masih bisa diperbaiki dari laptop ini paling soal bobot yang cenderung berat, serta mungkin ada baiknya jika dibundling dengan stylus agar layar sentuhnya bisa lebih fungsional lagi.

But overall, ini adalah produk bagus dari segi price to spec comparison ya.

Semoga Zyrex sebagai brand asli Indonesia makin memperkuat daya saing lini produknya terus, dan Zyrex SKY 360 ini bisa jadi terobosan yang dibutuhkan untuk itu.

Sip, segitu saja yang bisa saya bahas kali ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!