Gadget Promotions

Thursday, September 27, 2018

Review Honor 9i, Banyak Peningkatan atau Cuma Nambah Poni?



Saya sengaja menunda untuk mulai menulis naskah review smartphone yang satu ini. Hingga akhirnya di hari peluncurannya, 18 September 2018 kemarin, Honor mengumumkan harga resmi dari Honor 9i ini, yaitu 2,6 juta Rupiah untuk varian RAM 3 GB dan storage 32 GB, serta 3,1 juta Rupiah untuk varian RAM 4 GB dan storage 64 GB.

Kalau sudah tahu harga jualnya, maka saya akan lebih mudah menyimpulkan apakah smartphone ini worth the price, dan apakah lebih valuable dari sang kakak, Honor 9 Lite atau tidak. Mau tahu jawabannya? Tonton atuh videonya sok...

Ya, mau tak mau orang pasti membandingkan Honor 9i ini dengan Honor 9 Lite. Bagaimana tidak, jika melihat sisi belakang ponsel ini, hampir tak ada bedanya dengan sang pendahulu.

Lain cerita jika Anda menatap sisi depannya saat layar menyala, terlihat jelas sebuah poni kecil hadir di atas layar 5,8 inci milik Honor 9i ini. Dengan resolusi Full HD+, layar ini siap mengubah standar Anda tentang layar hape 2-jutaan.





Untuk masalah tampilan luar saya bisa mengacungkan kedua jempol untuk Honor 9i ini. Honor mempertahankan backcover glass yang konon membutuhkan riset dan proses produksi yang lebih kompleks, ketika sebetulnya pilihan backcover metal yang lebih mudah bisa saja dipilih.





Backcover ini membuatnya terlihat spesial di level harganya, walau juga menambah pekerjaan untuk sering-sering mengelapnya agar tetap terlihat kinclong, hehe.

Dimensi yang compact juga sangat-sangat membuat saya nyaman membawa ponsel ini dalam genggaman.

Tak suka notch? EMUI selalu menyediakan pilihan untuk menyamarkannya menjadi bar hitam di layar bagian atas. Simple kan?



Lalu bagaimana dengan jeroannya? Hmmm... Entah karena merasa masih cukup  bisa diandalkan, atau demi menekan biaya produksi, Honor tetap mempercayakan dapur pacu ponsel ini pada Kirin 659.

Processor yang kurang lebih selevel dengan Snapdragon 625 ini sebetulnya mampu menjalankan berbagai task dengan baik, selama Anda bukanlah gamer kelas berat. Saya yang sehari-hari berkutat dengan berbagai aplikasi media sosial dan juga video editing ringan di smartphone, tak menemui kendala saat menjadikan Honor 9i ini sebagai daily driver.

Beda cerita ketika saya sudah menemukan waktu luang untuk bermain game. Ya, game yang saya mainkan belakangan memang hanya PUBG haha. Jadi Honor 9i juga saya tes dengan game ini, dan hasilnya sedikit membuat saya kecewa.

Settingannya sebetulnya bisa digeser sampai ke level Medium dengan graphic Balanced. Tapi percayalah, jika mau menikmati permainannya, apalagi mau sampai Chicken Dinner, lebih baik settingan diatur rata kiri saja.

Yap, masih bisa dibuat bermain game dengan nikmat, tapi dengan grafis yang dikorbankan. Itulah makanya saya bilang smartphone ini bukan untuk gamer kelas berat.

Oh, satu hal lagi deh. Daya tahan baterainya juga kurang cocok untuk gamer.  Baterai 3.000 mAh-nya mampu bertahan dari pagi hingga malam alias sekitar 16 jam dengan pemakaian cukup intens bermedia sosial, tanpa gaming. Dengan gaming, dipastikan daya tahannya lebih pendek lagi. Dalam keadaan standby sih ponsel ini masih tergolong cukup hemat ya.

Jangan lupakan bahwa Honor 9i ini memiliki fingerprint scanner dengan respon yang instan, serta face unlock yang juga cepat.

Kabarnya Honor 9i ini masuk dalam daftar yang akan menerima update GPU Turbo nantinya. Mungkin kalau waktunya telah tiba, saya akan buatkan video tes gamingnya deh.

Sebetulnya, upgrade Honor 9i yang paling terasa dari Honor 9 Lite ada pada sisi kameranya. Memang jumlahnya berkurang ya karena kamera depan kini tinggal sebiji saja demi minimnya notch di layar. Tapi hasilnya sepenilaian saya sudah lebih baik, meskipun tidak terlalu istimewa.

Kamera depannya memiliki resolusi besar di 16 Megapixels, sementara kamera belakangnya sepasang dengan resolusi 13 dan 2 Megapixels.



Untuk ukuran smartphone 2-3 jutaan sih sudah bagus hasilnya, dengan catatan agak kurang di masalah dynamic range, lowlights yang agak noisy, serta perekaman video yang tanpa stabilisasi.

Fitur kameranya sih lengkap, berbagai mode hadir, termasuk mode Pro Camera dan Pro Video. Bahkan Honor 9i ini pernah saya andalkan untuk membuat video konten promosi salah satu brand yang saya lakukan di Instagram. Ya, dalam kondisi cahaya cukup sih kameranya bekerja dengan sangat baik, termasuk tone warna dan ketajaman yang keren.

Walau memang untuk mengoptimalkan mode yang disediakan, kita masih harus memilihnya secara manual. Kalau begini, baru deh terasa apa kegunaan AI pada kamera, hehe.

Mari kita simak dulu hasil foto dan video Honor 9i ini sebelum masuk ke kesimpulan.



Menjawab pertanyaan di awal, saya bisa bilang pada level harganya Honor 9i ini masih tergolong worth the money, dan juga lebih valuable dari Honor 9 Lite.

Kelebihannya ada pada kamera yang lebih baik, serta pilihan RAM dan storage yang lebih besar. Masalah storage ini penting mengingat Honor 9i masih mengusung dual-sim hybrid slot ya.

Saya sendiri sangat senang dengan ukurannya yang enak digenggam dan juga dimasukkan ke saku. Layar yang vibrant juga membuatnya nyaman dilihat lama-lama. Dan yang pasti sih desainnya secara overall yang saya nilai tetap cantik.

Walau sebetulnya, saya berharap harganya ada di 2,4 juta untuk varian 3/32 dan 2,8 juta saya untuk varian 4/64 agar lebih valuable lagi. Semoga saja ada promo dari e-commerce yang membantu subsidi harganya ya, atau semoga Rupiah segera menguat kembali agar harga gadget tak terus menanjak. Amiiin.

Demikian ulasan saya tentang Honor 9i, semoga membantu!

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, September 25, 2018

Review ASUS Zenfone 5z, Tak Semata Mengandalkan Snapdragon 845!



Akhirnya datang juga... Pasti pada bilang begitu kan ketika satu per satu teman-teman reviewer mulai membahas ponsel ini.

Ya, saya yakin sudah banyak yang menantikan kehadiran ASUS Zenfone 5z ini.

Sejak saat diumukan saat launching berbarengan dengan Zenfone 5 dan juga Zenfone Max Pro M1, Zenfone 5z sontak mencuri perhatian para penikmat gadget tanah air. Karena waktu itu, bisa dibilang smartphone inilah yang berani mengusung processor Qualcomm Snapdragon 845 dengan harga di bawah 10 juta.

Bahkan jauh di bawah, karena sejatinya dulu harga jualnya diset pada angka 6,5 juta Rupiah untuk varian RAM 6 GB dan storage 128 GB.

Bulan berganti, ASUS makin lekat dengan status ghoib. Zenfone 5z tak kunjung dijual, dan sebagian penikmat gadget terbuai oleh produk pesaing yang dijual lebih murah lagi namun memiliki SoC yang identik. Ya, saya sedang menunjuk kepada Pocophone F1 yang hype-nya bahkan membuat saya rela datang ke toko offline, heuheu.

Sedikit tertinggal di kapasitas dan daya tahan baterai, sebetulnya Zenfone 5z punya beberapa kelebihan yang tak dipunyai rivalnya tersebut, yang membuat selisih harganya yang sekitar 1,7 juta Rupiah lebih mahal menjadi terasa pantas.

Dan di sini saya tegaskan bahwa kedua ponsel ini meskipun ramai disandingkan oleh netizen, menurut saya tidak saling bunuh, namun justru memberikan alternatif berbeda di level harga masing-masing.

Prinsip ada harga ada rupa pastinya berlaku, dan saya pikir kebanyakan orang akan setuju jika saya bilang dari sisi looks atau desain, Zenfone 5z jauh lebih atraktif. Jika Anda lanjutkan mencicipi atau hands-on kedua ponsel ini, maka saya jamin penilaian Anda akan semakin lengkap dengan fakta bahwa Zenfone 5z punya build quality dan feels yang lebih premium juga.



Berbekal desain yang sama persis dengan Zenfone 5, smartphone ini juga memiliki fitur dan kelengkapan yang kurang lebih sama.







NFC hadir, jadi Anda yang biasa memanfaatkan fitur ini untuk pembayaran digital, bisa bernafas lega. Quick charge juga hadir, di mana pengisian daya dapat berlangsung dengan cepat, di mana dalam setengah jam saja, level baterainya bisa naik dari 10% ke 50-58%.

Backcover glass dengan refleksi cahaya melingkar juga tetap hadir. Dan saya masih bingung dengan penamaan warna midnight blue yang di mata saya lebih mirip dengan dark grey, heuheu.

Nampaknya memang Zenfone 5z ini hanya berbeda masalah dapur pacunya saja dibanding Zenfone 5. Mengusung Snapdragon 845 yang merupakan processor premium Qualcomm, dikombinasikan dengan RAM 6 GB dan storage 128 GB, saya rasa di harga 6,7 jutaan saat ini, Zenfone 5z tetap masuk ke kategori best value, plus punya desain yang menawan hati.

Agak sulit menemukan kekurangan dari Zenfone 5z ini. Oke, masalah stok mungkin yang jadi kendala ya.

Sisanya bagi saya paling masalah keergonomisannya saja. Dengan backcover yang flat, rasa-rasanya masih sedikit kurang nyaman digenggam, walau sebetulnya ASUS sudah membuat frame metal-nya memiliki tepian yang melengkung. Oh ya, layarnya juga terlalu sensitif menurut saya. Jari telunjuk yang tempatkan di pinggir layar untuk menahan agar smartphone ini tegak dalam genggaman, seringkali dianggap menyentuh layar.

Dan jangan lupa, baik Zenfone 5 maupun Zenfone 5z bisa dikategorikan sebagai ponsel licin. Jadi manfaatkan baik-baik softcase yang disertakan dalam paket penjualannya ya!

Baterainya sebetulnya cukup hemat, di mana dengan penggunaan intens tapi tanpa gaming, bisa bertahan 24 jam dengan SoT hampir mencapai 4 jam. Lain cerita jika saya sedang rajin bermain game, baterainya agak cepat habis. Untung saja pengisian ulangnya juga bisa cepat, walau efeknya ponsel cukup memanas saat dicharge.

Untuk performa sih ga ada masalah. Multitasking lancar, gaming apalagi. Kalau untuk gaming, saya lebih suka pakai ZenUI daripada Android polosan. Paling ngga, fitur game genie ini bisa membantu menahan notifikasi agar tak menganggu, dan kalau mau rekam gameplay juga bisa. Sayang, saya tak sempat merekam detik-detik saat saya bisa chicken dinner saat last three dalam kondisi saya sendiri melawan 2 musuh, heuheu.

ASUS Zenfone 5 juga sudah mengusung fitur-fitur kekinian semisal face unlock, yang akurasi dan responnya sangat baik. Fingerprint scanner tegolong cepat, meskipun agak sedikit di bawah ekspektasi saya sih.

Penilaian untuk sektor audio, seingat saya ini lebih bagus dari Zenfone 5. Bagus bagi saya itu artinya, tanpa bluetooth speaker pun saya bisa hayu aja menyetel lagu-lagu dengan nikmat. Sok mangga dites dulu loudspeakernya nih. Oya, speakernya sudah stereo ya, alias suara juga keluar dari earpiece di atas layarnya.

Jadinya, untuk multimedia mah Zenfone 5z udah oke banget, dengan karakter layar yang lebih warm dibanding smartphone lain semisal Honor 9i yang kebetulan sempat saya bandingkan. Untuk tone warna layar sih di ZenUI ada pengaturannya koq, jadi bisa disesuaikan sendiri lah gimana selera aja yah.

Lanjut bahas kamera, performa kamera Zenfone 5z juga lebih stabil dari Zenfone 5 yang dulu saya nilai kadang bagus banget kadang biasa aja. Di Zenfone 5z, saya suka sekali dengan hasil-hasil fotonya. Jadinya momen liburan bersama keluarga di antara kesibukan membuat konten, bisa diabadikan dengan indah, ga nyesel lah pokoknya bawa Zenfone 5z pas liburan.

Di kondisi lowlights di suatu kafe yang masih diterangi lampu,  hasilnya juga kece. Namun lowlights di outdoor menurut saya kurang sedap karena sudah mulai muncul noise-noise halus.

Perekaman video cukup stabil berkat adanya si EUIS, hehe. Sestabil apa? Langsung saja disimak di deretan video yang direkam dengan Zenfone 5z ini, sekalian hasil fotonya juga sok mangga.



Pada bagian ini, saya akan membuat kesimpulan. Dan mungkin akan sedikit menyinggung Pocophone F1 lagi.

Serius, saya pikir netizen tidak usah ribut deh. Kedua smartphone ini sangat sedikit irisannya, yaitu di spesifikasi dapur pacunya saja.

Segmen market dan peruntukannya saya yakin berbeda.

Pocophone F1 menurut saya terlalu fokus pada performa puncak, utamanya untuk gaming ya, dengan baterai besarnya.

Nah Zenfone 5z ini bisa dibilang mempunyai keunggulan yang lebih merata, mulai dari aspek desain, lalu material yang digunakan, hingga kelengkapan fitur, semisal NFC. Untuk kamera juga menurut hemat saya Zenfone 5z lebih unggul, kecuali masalah resolusinya.

Utamanya sih soal budget ya yang jadi jurang pemisah dua ponsel yang sama-sama best value ini. Jadi kalau butuh gaming saja, dan budgetnya memang mepet, skip Zenfone 5z dan liriklah sang rival.

Namun jika budget Anda lebih longgar, perlu NFC, perlu juga tampilan menawan, dan kamera yang lebih bisa diandalkan, Zenfone 5z secara overall lebih baik. Tapi ini tidak menegasikan kelebihan-kelebihan pesaingnya ya. Ini wajib saya tegaskan, agar Indonesia tidak ribut melulu di media sosial ah.

Toh beli hape mah bebas, mau beli salah satu atau keduanya boleh. Mau ganti-ganti tiap bulan juga boleh, kalau ada duitnya mah. Hehe.

Yang pasti, jangan lupa follow Instagram @gontagantihape terus ya, karena saya lagi seriusin konten-konten di sana, dan kebetulan pas mulai serius, daily driver saya adalah Zenfone 5z, jadi mungkin Anda akan melihat beberapa foto indah yang pakai watermark ponsel ini terus hehe.

Yang sudah follow, saya doakan rejekinya dimudahkan agar tabungannya cepat cukup untuk meminang Zenfone 5z, dan juga semoga bisa mendapatkannya dengan mudah, di harga resminya.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Saturday, September 15, 2018

Review Vivo V11 Pro, Ketika Terobosan Vivo Membuatnya Makin Susah Dibully!



Pada ulasan kali ini saya akan menceritakan impresi saya terhadap produk smartphone terbaru yang baru saja dirilis, yaitu Vivo V11 Pro.

Namun, pastikan dulu Anda sudah menonton video unboxingnya di mana saya menyampaikan 11 informasi penting tentang Vivo V11 Pro ini, yang sebaiknya Anda ketahui terlebih dulu.



Jika melihat bentuknya sekilas saja, sepertinya tidak banyak perubahan pada desain dari Vivo V11 Pro ini jika dibandingkan pendahulunya.

Tapi jangan salah, begitu saya membaca spec sheet ponsel ini, saya membatalkan pembelian beberapa ponsel yang tadinya ingin saya coba lho. Mau tahu kenapa?

Alasannya karena semakin banyak perbaikan yang Vivo berikan pada Vivo V11 Pro ini.

Pertama adalah hadirnya dual-engine fast charging, yang membuat pengisian daya dapat berlangsung dengan cepat. Anda yang memiliki kepala charger yang support Qualcomm Quickcharge 3.0, dapat menggunakannya pada Vivo V11 Pro dengan hasil yang optimal.

Kedua adalah panel layar yang digunakan kini adalah Super AMOLED. Saya yakin banyak sekali penggemar panel layar yang dikenal berkarakter vivid ini. Dengan panel ini, Vivo V11 Pro bisa memiliki fitur always on display yang useful.

Dengan demikian, smartphone ini tak lagi membutuhkan LED Notifikasi sehingga daerah notch benar-benar hanya disisakan untuk kamera depannya saja. Kamera yang beresolusi 25 Megapixels ini saya yakin takkan membuat Anda terganggu, karena daerah notification panel masih tersisa sangat lebar.

Ketiga adalah imbas dari notch yang semakin mungil ini, daerah yang digunakan untuk layar menjadi semakin luas. Jadi, meskipun sekarang diagonal layarnya mencapai 6,4 inci, sejatinya dimensi ponsel ini masih ringkas, kurang lebih sama lah dengan smartphone lain yang berlayar 6 inci. Sejauh ini, Vivo V11 Pro ini adalah smartphone dengan rasio layar ke body paling tinggi yang pernah saya gunakan. Dan asli keren aja keliatannya kalau di tangan ada hape yang sisi depannya nyaris layar semua  seperti ini.

Keempat, coba balikkan smartphone ini deh. Pada backcover Vivo V11 Pro kini sudah hadir efek gradasi warna yang menawan. Bahkan pada varian starry black yang saya coba ini, efek percikan bintangnya jadi sesuatu yang berbeda, dan bisa memantulkan warna yang berbeda tergantung sudut pencahayaan. Saya yakin proses pembuatannya pasti rumit sehingga bisa semenarik ini. Dan saya juga senang menggenggam Vivo V11 Pro karena backcovernya ergonomis berkat lengkungan di kedua sisinya.

Sudah itu saja? Haha. Saya sengaja menyimpan bagian terbaiknya di akhir. Yap, Vivo V11 Pro adalah smartphone pertama yang resmi masuk ke Indonesia dengan fingerprint scanner yang berada di bawah layar, atau yang Vivo beri nama Screen Touch ID. Jadi konsep-konsep yang selama ini sering diperlihatkan oleh Vivo, pada akhirnya bisa hadir langsung juga.

Sempat khawatir dengan akurasi dan waktu responnya, Vivo V11 Pro sejauh ini nyaman-nyaman saja saya gunakan. Akurat dan juga responsif, tak ada perbedaan signifikan untuk masalah performanya jika dibandingkan dengan fingerprint reader konvensional, namun jelas-jelas menghemat space dan juga semakin membuat ponsel ini terlihat slick.

Sebagai tambahan, face unlock juga hadir dengan performa yang lagi-lagi mengagumkan juga. Jika kita teliti baik pada ruang sempit di antara layar dan earpiece, di situ ada pemancar infrared yang bertugas membantu agar pemindaian wajah dapat dilakukan dengan cepat, di berbagai kondisi, termasuk di ruangan dengan cahaya redup.

Saya tahu, sudah pada nungguin pembahasan kamera kan? Heuheu.

Okay, saya akan berikan fakta yang belum saya sebut di video unboxing. Yaitu tentang bukaan lensanya.

Untuk kamera depan yang beresolusi 25 Megapixels, bukaan lensanya sebesar F/2.0. Sementara kamera belakang gandanya yang beresolusi 12 dan 5 Megapixels, memiliki aperture masing-masing sebesa F/1.8 dan F/2.4.

Pantas saja ketika pada suatu tengah malam saya mencoba berfoto, hasilnya bisa tetap terlihat jelas dan baik. Ternyata bukaan lensanya lebar. Tapi tak hanya itu, kamera belakang Vivo V11 Pro menganut sistem dual pixel yang memang membantu performa lowlights, dan juga auto focus yang cepat.

Sisanya adalah AI! Yap, fitur AI pada Vivo V11 Pro makin kentara hadir, dan sangat membantu, terutama pada kondisi-kondisi khusus, semisal saat berfoto menghadap sumber cahaya, Backlight HDR akan langsung menyala. Dan sejauh ini, inilah fitur AI yang paling sering membantu saya. Heuheu.

Walau sebetulnya banyak sekali kegunaan dari fitur AI yang dimiliki oleh smartphone ini, semisal membantu agar foto kuliner lebih stand out, foto selfie lebih dramatis dengan latar yang blur, atau sekedar have fun dengan funmoji yang dimiliki Vivo V11 Pro. Ada mode kumis lho, jadi cowok juga bisa lucu-lucuan nih! Hahaha.

Jika Anda bertanya ikon warna-warni apakah yang muncul dekat tombol shutter cameranya, itu adalah Google Lens yang membuat kamera Anda menjadi mesin pencari, semisal saat Anda ingin tahu di mana bisa membeli sepatu yang sama dengan yang dipakai oleh teman Anda, hehehe.

Silakan dilihat hasil foto dan video dari Vivo V11 Pro ini, termasuk hasil video slow-motion-nya ya!



Masuk ke sisi performa, saya bisa mengandalkan Vivo V11 Pro yang kombinasi dapur pacunya sebetulnya sudah teruji di pendahulunya. Processor Qualcomm SNapdragon 660 dengan AI Engine masih sangat mumpuni untuk mentenagai berbagai kegiatan saya sehari-hari.

Dibantu dengan RAM sebesar 6 GB, multitasking hingga bermain game kesukaan bisa saya nikmati dengan mudah.

Agak disayangkan memang pada FunTouch OS ini tidak terdapat yang menunjukkan durasi pemakaian baterai, namun ketika saya bawa Vivo V11 Pro ini dalam perjalanan, di mana tidak ada koneksi Wi-Fi, dan sebentar-sebentar saya selalu mengecek ponsel, smartphone ini mampu bertahan menembus 24 jam, yang artinya cukup banget buat saya.

Apalagi kalau saya sedang stay di kantor dan terhubung ke wifi, bisa lebih lama lagi daya tahan bateraiya. Sementara kalau diselingi bermain game cukup lama, kira-kira bisa lah bertahan dari pagi hingga sore atau malam.

Nah untuk game ini, FunTouch OS menurut saya memberikan experience yang baik dengan adanya game mode yang membantu agar gameplay kita tidak terganggu oleh notifikasi yang masuk.

Jika Anda termasuk orang yang mengandalkan Personal Assistant pada smartphone, Vivo memberikan alternatif dengan hadirnya Jovi berdampingan dengan Google Assistant. Jovi AI Assistant besutan Vivo ini sendiri akan terus mempelajari pola pemakaian Anda sehingga semakin hari semakin paham kebiasaan dan kebutuhan Anda.

Sejujurnya saya sih jarang pakai Personal Assistant seperti ini, heuheu.

Bagus-bagus semua ya impresinya heuheu, ya memang seperti itu yang saya rasakan saat menggunakan Vivo V11 Pro ini. Bukan berarti tidak ada pengembangan yang bisa dilakukan Vivo untuk produk selanjutnya lho.

Menurut saya, pasti akan lebih membuat orang tertarik lagi jika produk selanjutnya sudah memiliki NFC dan juga USB Type-C port. Hal ini mengingat arah pembayaran cashless di Indonesia sudah semakin matang, di mana NFC akan sangat membantu, sementara USB Type-C akan membuat data transfer makin cepat, walau menurut saya pula hal ini tidak terlalu mendesak, karena sekarang jamannya orang transfer data via cloud, bukan pakai kabel data lagi.  Toh fast charging sudah hadir di Vivo V11 Pro ini.

Nah tinggal soal harga nih, ketika saya menulis naskah video ini, saya belum tahu harga resmi Vivo V11 ini di angka berapa. Menilik harga produk pendahulunya dan melihat berbagai perbaikan yang diberikan, besar kemungkinan harganya menyentuh kepala 5 juta. Dan menurut saya, seandainya benar harganya di kisaran 5-jutaan, masih worth the money lah Vivo V11 Pro ini.

Dengan highlight di performa kamera yang mantap, dapur pacu yang juga bisa diandalkan, desain menarik hati dan jangan lupa panel layar dan screen touch ID-nya yang tergolong barang mewah ini.

Semoga tak berhenti di sini ya, semoga Vivo terus membawa terobosan baru pada produk-produk smartphone yang dirilis resmi di Indonesia ini.

Demikian impresi saya terhadap Vivo V11 Pro ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!