Gadget Promotions

Monday, July 23, 2018

Review Huawei Y5 Prime 2018, Begini Toh Huawei yang Sejutaan...



Ini adalah smartphone android Huawei sejutaan pertama yang saya coba, ya seri Y pertama yang saya coba juga.

Semasa perjalanan arus balik kemarin, Huawei Y5 Prime 2018 ini jadi ponsel kedua menemani Huawei P20 Pro yang merupakan daily driver saya saat ini.

Memang jomplang kalo dibandingkan keduanya, namun untuk ukuran hape dengan harga 1.599.000 sih Y5 Prime 2018 ini tak mengecewakan.

Sudah berjalan pada OS Android Oreo yang kekinian, smartphone ini juga sudah menggunakan layar full view dengan rasio 18:9. Dimensinya yang hanya 5,45 inci membuatnya enak digenggam karena ringkas, dan cocok banget jadi hape kedua mah.



Build quality-nya terasa tak banyak berbeda dari ponsel 2-jutaan Huawei. Termasuk layarnya yang memiliki reproduksi warna yang baik, hanya kurang di lapisan kaca depannya yang reflektif alias gampang memantulkan bayangan saja.

Untuk urusan performa, Huawei Y5 Prime 2018 ini sudah dibekali processor entry level terbaru Mediatek, yaitu MT6739. Kalau melihat skor benchmark sih, ada peningkatan dari MT6737 walaupun tidak terlalu besar. Kira-kira setara Snapdragon 425 lah tenaganya.

Iseng saya coba install game Garena Free Fire untuk membunuh bosan sewaktu server PUBG sedang maintenance. Di luar dugaan game yang memang lebih ringan ini bisa dimainkan dengan sempurna, hingga saya sempat merasakan booyah, alias kemenangan pada game ini.Smooth-smooth aja dipake mainnya tuh.

Untuk masalah daya tahan, baterai 3.000 mAh-nya bisa diajak bertahan dari pagi hingga malam, namun tak lebih. Jadi ya sedang-sedang saja lah ketahanannya.

Satu yang perlu dicatat adalah ponsel ini memiliki dua slot nano sim-card dan satu slot micro-SD dedicated. Sementara storage internalnya sebesar 16 GB dengan RAM 2 GB.

Membandingkan apa yang didapat dengan bandrol harganya, saya tak bisa banyak komplain sih. Malah pujian patut diberikan pada performa kameranya di kondisi ideal. Tone warnanya natural sekali, dan dipakai mengabadikan pemandangan atau bunga-bunga sih mantap lah saya rasa. Dipakai selfie pun masih usable, beautificationnya cukup sedap dipandang mata. Satu yang penting adalah, kameranya dapat dioperasikan dengan lancar, ga lemot-lemotan yang berujung ke males-malesan.

Foto dan video berikut saya ambil menggunakan kamera Huawei Y5 Prime 2018 ini, silakan dinilai langsung ya!



Seri Y dari Huawei ini umumnya bisa didapatkan dengan mudah di gerai-gerai penjualan ponsel offline. Seri ini pulalah yang selama ini konsisten Huawei gelontorkan ke pasaran tanah air.

Tak bisa dibilang best value memang, mengingat rata-rata Huawei menjual smartphonenya pada level harga sedikit lebih tinggi untuk spesifikasi yang setara dengan pesaingnya. Namun masalah kualitas memang berbicara, ponsel seterjangkau inipun masih mantap sekali dalam genggaman, tidak ada kesan murahan.

Bahkan packaging-nya pun tetap terasa elegan meskipun ponsel ini masuk kategory entry level.

Pricing-nya Huawei rada mirip dengan Samsung lah. Kita lihat apakah Huawei bisa menggenjot penjualannya sesukses Samsung di Indonesia atau tidak ya.

Paling tidak saya sudah tak penasaran lagi dengan seri Y milik Huawei ini. Saya sudah coba hampir semua level smartphone Huawei sekarang, tinggal seri Mate saja nih yang belum, hehe. Doakan ada rezekinya ya!

Segini aja videonya ya, dari kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Review Honor 7X, Anak Tiri yang Bersinar, Hahaha!



Saya sengaja menunda review Honor 7x ini, nunggu update ceritanya. Berharap perangkat ini bisa senasib dengan Honor 9 Lite yang sudah berjalan di atas biskuit dengan isi krim putih dengan balutan EMUI 8.0.



Pucuk di cinta, update pun tiba. Lumayan gede pula, hampir 500 MB waktu itu.

Namun apa daya, ngga naek tangga euy, alias setey setrong di Nougat dengan EMUI 5.1 aja. Padahal security patch level-nya sudah update ke 1 Juni 2018.

Ngga habis pikir saya.

Honor begitu liar di Indonesia.

Habis launching 3 produk sekaligus, banyak sekali kejutan lainnya haha.

Honor 9 Lite selalu habis di flash sale.

Honor 7x harganya drop setengah juta dari apa yang diinfokan pas launching. Bagus sih, soalnya kalau tetep 3,5 juta mah udah aja mending ambil Huawei Nova 2i kayanya.

Pricing yang tepat nampaknya, buktinya ponsel ini ikut-ikutan ghoib stoknya, habis terus waktu flash sale.

Apa karena dijualnya di Lazada yak? Entahlah ahhaha...

Yang sedih sih, sampai saat ini Honor View 10 belum ketauan nasibnya. Apa mau muncul jadi jagoan pamungkas, atau malah masih sibuk dandan sana sini di belakang panggung.

Keburu keluar Honor 10 atuh bos, nanggung kalau gini caranya mah. Mending skip aja langsung ke Honor 10 haha.

Eiya, judul videonya kan review Honor 7x ya, haha.

Sebetulnya penilaian saya sih oke banget buat hape ini, 3 juta dapet RAM 4 GB dan Storage 64 GB. Bodinya juga mentap, kokoh terasa dengan desain membulat di semua tepiannya.

Memang jadi minimalis sekaligus mainstream abis desainnya ya. Tapi warna birunya itu lho, kece kece gimana gitu. Hape lain di harga segini biasanya warnanya kalo ga item ya gold, bosenin.

Sayangnya saya ga suka desain kamera belakangnya yang menonjol, ga cantik amat ya. Padahal kamera ganda ini jagoan lho kalo diajak ambil foto bokeh, dan foto-foto lain dengan mode pro alias manual yang lengkap. Performa smooth, ambil gambar lancar.

Untuk lowlights, sebetulnya ada perbaikan jika dibanding Honor 9 Lite, tapi memang belum sampai ke taraf istimewa.

Silakan dilihat saja foto-foto dan video berikut ini ya gaisss.



Oke, kalau sudah dilihat hasil kameranya, simpan dulu penilaian akhir Anda, karena saya mau bahas performa dulu.

Kirin 659 ini dipakai Huawei dan Honor di mana-mana deh. Mulai dari hape 2-jutaan sampai yang rada mahal, Nova 3 alias P20 Lite yang harganya sekitar 5-jutaan.

Performanya stabil, smooth diajak maen game, ngga gampang demam, juga ga boros baterai.

Namun anehnya, waktu saya mau maen PUBG di sini, settingan defaultnya mentok di low. Padahal di Honor 9 Lite yang RAM-nya 3 GB aja waktu itu defaultnya medium.

Nah, kalau dipake maen dengan setting yang dibiarkan low, jadinya nggleser banget alias smooth euy! RAM-nya 4GB sih, gimana ngga lancar. Belum lagi produk-produknya Huawei dan Honor dikenal memiliki penerimaan sinyal yang baik. Asalkan Anda tepat memilih operator seluler, harusnya sih maen PUBG begini enak dan lancar banget lah.

Layar Honor 7x ini pun sedap dipandang mata, dengan kerapatan yang pastinya cukup banget. 5,99 inch, rasio 18:9, dan resolusi Full HD+ kayanya udah jadi standar rekomendasi saat ini lah.

Urusan audio sih saya nilainya biasa aja, alias rada flat, tapi ngga sember.

Jadi, kalau Anda punya duit 3 juta, dan bosen sama merek sebelah yang warnanya itu-itu lagi, Honor 7x ini siap dipinang dengan syarat Anda bisa menaklukan bapaknya flash sale, alias Lazada, hahaha.

Yap, Honor 7x ini saya anggap paket kompletnya Honor di harga yang masih terjangkau lah. Ga rugi dipinang, walau alternatif di harga segini memang banyak.



Okelah, segitu aja review ringan kali ini, semoga suka dengan gaya review santai seperti ini ya, haha.

Wassalam!

Review Infinix Hot 6 Pro, Sejutaan Paling Lengkap!



Sekedar meluruskan, pada video unboxing-nya saya memberi judul hape sejutaan, karena ponsel ini punya 2 varian dengan harga di kepala satu jutaan ya. Bukan tepat 1 juta harganya.



Varian RAM 2 GB hadir dengan storage 16 GB, dibandrol seharga 1,5 juta, dan varian RAM 3 GB diberi storage 32 GB dengan nilai tebus 1,8 juta.

Dan pada video unboxingnya, saya juga bilang ini adalah hape sejutaan terlengkap. Kenapa begitu? Ah, pokoknya baca terus saja sampai habis jika mau tahu ya!

Pada kisaran harga 1,5 sampai 1,8 jutaan, Infinix Hot 6 Pro memang saya nilai lengkap sekali dan punya fitur-fitur yang benar-benar sedang hot jadi selera pasar saat ini.

Pertama punya layar yang disebut Infinix sebagai Infinity Display, dengan rasio memanjang 18:9. Pada level harga yang setara,  pesaing untuk Infinix Hot 6 Pro jadinya hadir dari Xiaomi Redmi 5, dan ASUS Zenfone LIve L1.

Nah, kelengkapan kedua ini tak dimiliki oleh dua pesaingnya tadi, yaitu kamera belakang ganda dengan fitur bokeh. Zenfone Live L1 bisa bokeh, tapi kameranya hanya satu, sementara Redmi 5 ya gitu deh. Heuheu.

Ketiga adalah hadirnya fingerprint scanner yang tak dimiliki Zenfone Live L1. Redmi 5 boleh bangga karena sama-sama punya hal ini. Menurut saya keduanya sama-sama memiliki respon yang cepat dan akurat saat digunakan membuka kunci layar.

Keempat adalah fitur face unlock. Fitur ini memang dimiliki juga oleh Zenfone Live L1, tapi untuk masalah akurasi maupun kecepatannya, masih agak tertinggal dibanding Infinix Hot 6 Pro. Plus Hot 6 Pro punya fitur untuk menyalakan LED flash di sisi depan untuk membantu pencahayaan saat membuka layar dengan metode face recognition ini.

Eh tapi kayanya daripada lama-lama nyalain flash dulu, mending pake fingerprint scanner aja kali ya, haha.

Nah, Redmi 5 dulu waktu saya coba sih belum bisa face unlock, ga tau sekarang. Boleh tulis di kolom komentar ya kalau memang sudah bisa.

Pun soal LED notifikasi, Infinix sudah tak main sunat lagi. Hadir koq, ada kiri atas layarnya ya.

Lalu soal dapur pacu, Infinix juga sekarang lagi mesra nih sama Qualcomm. Ini adalah ponsel ketiga secara total, atau kedua secara berurutan, yang Infinix hadirkan dengan processor Snapdragon. Kali ini serinya Snapdragon 425, yang mungkin tak lebih powerful dari Snapdragon 430 di Infinix HOT S3, tapi sepemakaian saya sangat bisa mengirit konsumsi daya.

Serius, hemat pisan. Jarang dipakenya aja bisa sampai hampir 4 hari 4 malam, dengan Screen-on Time lumayan lah. Lalu pada percobaan selanjutnya, saya iseng ngetes dinyalain terus nyetel video Youtube pakai wifi kantor selagi saya bekerja. Hasilnya masih bisa tembus 24 jam lebih, dengan Screen-on Time yang juga gede lho.

Ini mah kabar baik buat para driver ojek online atuh ya. Pemakaian mereka kan sebatas aplikasi driver, GPS, dan konek ke jaringan. Bukan gaming.

Ya, Snapdragon 425 sejatinya memang tidak buat gaming yang berat-berat. Tapi kalau dipaksa buat nemenin jomblo yang gak punya agenda malam minggu sih boleh lah diinstall game-game yang tetep asyik seperti yang saya mainkan ini. Masih playable dan enjoyable koq.

Mungkin di sini Redmi 5 lebih unggul ya dengan Snapdragon 450-nya.

Kalau untuk kamera sih saya lebih menjagokan Infinix Hot 6 Pro. Bokehnya itu lho, bisa dibilang rapi euy. Zenfone Live L1 juga cukup rapih kalau soal bokeh sih, tapi Hot 6 Pro punya satu hal yang jarang banget ditemukan di hape lain di bawah 2 jutaan. Hal itu adalah mode manual setting yang lengkap, di mana fokus bisa diatur manual, begitu juga shutterspeed. Mantap kan?

Kalau hasilnya sih ya memang baru bisa bagus kalau cahaya cukup. Lowlightsnya mah kaya hape sejutaan lainnnya lah. Ini contohnya.



Bagaimana? Setuju kan kalau saya bilang ini hape sejutaan terlengkap? Jangan lupa juga kalau Infinix Hot 6 Pro ini punya triple slot, jadi kalau storage bawaan terasa sempit, kamu bisa pasang micro-SD tanpa mengorbankan salah satu simcard. Saya tahu soalnya masing-masing sim-card itu buat satu gebetan yang berbeda. Iya, gebetannya beda,  tapi hasil akhirnya sih sama, gagal lagi digaet, hahaha.

Okay, jika sudah setuju, silakan atur reminder di hape kamu buat catat jadwal flash sale selanjutnya. Ya, Infinix Hot 6 Pro ini dijual via flash sale di Lazada yang ujung-ujungnya suka ghoib kata netijen mah.

Doa saya, kamu-kamu yang jomblo, bisa punya nasib lebih baik di flash sale, jauh lebih baik daripada nasib Sabtu malamnya ya, hahaha.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Friday, July 20, 2018

Review Sony Xperia XZ2 Compact, MUNGIL tapi Sangar!



Walau Sony sudah menyerah untuk bertempur di pasar smartphone Indonesia, jajaran produk Xperia ini ternyata masih cukup dinanti ya.

Sesekali saya pun dengan senang hati mencoba ponsel pintar keluaran Sony ini, dan saya bagikan pengalamannya kepada Anda para pemirsa.

Kali ini yang akan kita ulas adalah Sony Xperia XZ2 Compact. Ngga kapok beli yang Compact A? Nanti salah beli lagi hayooo?



Haha, ngga dong. Kali ini beneran dual-sim lho, walau masih hybrid ya slotnya. Dan yang saya pilih ini adalah warna white silver, yang memang lebih nampak keabuan ya daripada putih.

Kalau Anda tak tahu, spesifikasi ponsel ini tergolong nomor wahid lho. Walau punya dimensi super mungil berkat layar 5 inci yang sudah menggunakan rasio 18:9, tapi jeroannya berani diadu lawan ponsel-ponsel flagship brand lain yang umumnya berbadan bongsor.



Bagaimana tidak, processornya saja pakai Snapdragon 845 yang notabene adalah processor terbaru dan tertinggi Qualcomm untuk saat ini. Skor Antutu-nya besar, 200-ribuan, walau harusnya lebih tinggi dari apa yang didapat ini ya. Mungkin, akibat ponsel menghangat saat proses benchmark, sehingga performanya jadi terhambat. Tapi jika Anda teliti, skor GPU-nya mengalahkan 99% user lainnya lho.

Yup, untuk urusan spesifikasi dan performa, Sony Xperia XZ2 Compact ini memang tak perlu diragukan. Dipakai bermain game PUBG, by default settingannya bisa ke high, dan gameplay berjalan super lancar. Yang bikin kurang nyaman bermain sih memang layar mininya, yang membuat saya sering buang-buang peluru karena tak sengaja menekan tombol fire. Haha.

Ya, harus diakui memang kalau maen game real-time seperti ini mah, enaknya layarnya yang lega ya. Sony Xperia XZ2 Compact sih punya kelebihan waktu disakuin atau waktu kita hanya bisa mengoperasikannya dengan satu tangan saja. Yup, karena ringkas dan mungil, jadinya nyaman digenggam dengan sebelah tangan, dan karena tak licin, jadinya tentram deh.

Kalau dibilang tebal, ya memang tebal sih ponsel ini. Ukurannya yang mini, mau tak mau membuatnya harus menambah ketebalan demi bisa mengandung baterai berkapasitas 2.700 mAh yang kalau dipakai secara casual sih mampu menembus 23 jam dalam sekali pengisian daya. Tapi kalau dipakai ngegame, setengah hari juga udah ngos-ngosan sih, hehe.

Untung saja ponsel ini sudah support Qualcomm Quickcharge 3.0, dan kepala charger yang disertakan dalam paket penjualan juga mendukung fitur ini. Asik deh!

Nah, yang lucu adalah, dengan body setebal itu, dia tak punya colokan headset heuheu. Adapternya dikasih memang di paket penjualan, namun terasa kurang praktis jadinya. Walau harus diakui, saya memang kalau mendengarkan musik selalu pakai bluetooth earphone, apalagi baik ponsel ini maupun earphone saya sama-sama support aptX-nya Qualcomm, jadi kualitas audio-nya keangkat banget.

Termasuk kalau pakai loudspeakernya ya. Selain stereo, di mana kedua speakernya yang berada di depan sama-sama mengeluarkan suara, powernya pun terasa sangat baik, dengan detail yang tetap terkontrol. Silakan didengarkan sendiri yah, itu saya putar dengan volume maksimal.

Lanjut ke kameranya, Xperia XZ2 Compact memang masih keukeuh hanya mengandalkan masing-masing satu kamera saja di depan dan belakang. Bahkan kamera depannya hanya beresolusi 5 Megapixels saja, sementara kamera belakang sih khas Sony dengan sensor beresolusi besar di 19 Megapixels.

Ya, Sony memang gak mau dibawa arus. Saat yang lain berlomba-lomba besar-besaran kamera depan, atau nambah jumlah kamera belakang sampai 2 bahkan 3, Sony tetap tampil sederhana.

AI Camera? Sony tak perlu embel-embel AI sih, walau dari jaman dulu kameranya sudah memiliki kecerdasan buatan untuk mengenali scene yang sedang dibidik, dan menyesuaikan pengaturannya agar optimal.

Banyak mode unik pada kamera ponsel Sony, seperti biasa ya, jadi favorit anak saya heuheu. Oh ya, ada mode bokeh juga, namun sayang hasilnya belum bisa serapi Google Camera nih.

Stabilisasi pada videonya tergolong baik meskipun sebatas dibantu gyroscope EIS. EIS, saya ngga akan bikin jokes soal Euis dulu ah, nanti bosen hehe. Dan biar ga bosen, sok atuh disimak dulu hasil foto dan videonya, jangan lupakan fakta bahwa Xperia XZ2 Compact ini sudah mampu menghasilkan video slow motion di 960 fps dengan resolusi Full HD lho!



Okay, bagaimana menurut Anda jika semua yang ditawaakan Sony Xperia XZ2 Compact tadi, harus ditebus seharga hampir 8 juta Rupiah, worth it ngga? RAM-nya 4 GB, dan storage bawaan 64 GB bertipe UFS yang pasti kenceng sih.

Dibalut Xperia UI yang memiliki notifikasi super real-time tanpa ditahan-tahan, sebetulnya ponsel ini enak banget dipakai. Hanya memang agak jomplang ketika tangan ini sudah terbiasa dengan yang ukurannya 6 incian. Belum lagi posisi fingerprintnya yang terlalu ke bawah, membuat jari harus lebih ditekuk saat hendak merengkuhnya.

Mungkin buat gamers akan susah untuk dinikmati ya, karena layarnya sempit. Padahal warnanya vibrant sekali, saya suka banget. Terlebih karena panel displaynya terasa menyatu dengan panel sentuhnya, tak ada jarak. Dan dengan tepian 2,5D, makin enak saja disentuh-sentuh.

Tapi harus diakui, pada akhirnya saya pun memilih untuk melepaskannya kembali. Masalah handling yang kurang enak, plus saya lagi suka bermain game PUBG jadi persoalan utama. Sisanya sih bisa dikatakan tak ada komplain.

Saya bingung sih jadinya apakah ponsel ini recommended atau tidak. Pertama jelas ya ini bukan barang bergaransi resmi, harganya juga lumayan. Tapi spesifikasinya memang jempolan. Dan saya yakin beberapa orang memang sangat suka dengan ponsel mungil namun performanya sangar begini. Tapi battery life juga jadi taruhannya sih.

Gini aja deh, intinya Sony Xperia XZ2 Compact ini adalah produk berkualitas, dengan segala keunikan yang dipertahankan oleh Sony. Tapi memang produk ini segmented banget, dan bukan buat yang mengejar fitur-fitur kekinian ya. Cocok buat yang ngga mau tampil mainstream, tapi ada beberapa kenyamanan yang harus dikorbankan, semisal tidak adanya face unlock sampai saat naskah review ini selesai ditulis hehe.

Udah ya, gitu aja. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Review Samsung Galaxy J6 dan Perbandingannya dengan Galaxy J4



Samsung baru saja meluncurkan duo smartphone seri terbaru mereka di Indonesia. Yang pertama adalah Galaxy J4 yang sudah lebih dulu saya ulas, harga jualnya ada di kisaran 2-jutaan ya.

Satu lagi adalah Samsung Galaxy J6 yang dibandrol lebih mahal satu juta Rupiah.

Sebelum membahas produk yang kedua ini, yuk kita bahas dulu apa saja persamaan dan perbedaan dari keduanya, dan dimulai dari perbedaannya dulu ya!

Selisih harga sejutaan rupanya berimbas pada spesifikasi utama keduanya, di mana jika J4 menggunakan processor Exynos 7570 Quad, maka J6 sudah ditenagai oleh processor Exynos 7870 Octa yang artinya jumlah intinya 2x lipat ya. Selanjutnya, J4 dibekali RAM 2 GB, sementara J6 sudah 3 GB.

Perbedaan selanjutnya ada pada besaran kamera depan di mana milik J4 beresolusi 5 Megapixels dengan aperture f/2.2, dan pada J6 besarannya ada di angka 8 Megapixels dengan bukaan lensa lebih lebar di f/1.9.

Sisanya adalah perbedaan yang sangat kasat mata, yaitu J6 sudah dibekali fingerprint scanner di bagian punggung ponsel, dan sudah menggunakan infinity display dengan rasio 18,5:9. Sementara J4 masih menggunakan rasio layar 16:9 dengan tombol home fisik di dagu ponsel.

Kedua ponsel ini sama-sama sudah menggunakan panel layar Super AMOLED yang tergolong mewah untuk digunakan oleh smartphone 2 hingga 3 jutaan ya. Jangan ditanya bagaimana rasanya menyimak konten-konten multimedia di layar dengan vibrancy yang keren ini, dijamin betah deh.

Terlebih kedua ponsel ini dibekali dengan fitur Dolby Atmos Surround Sound yang dapat dinikmati saat menggunakan headset yang disertakan dalam paket penjualannya.

Baik J4 dan J6 pun sama-sama memiliki dua slot simcard ditambah satu slot micro-SD dedicated, yang membuat kita tak perlu riskan lagi mengenai masalah storage.

J4 memiliki kelebihan berupa baterai yang dapat dilepas dengan mudah. Sementara J6 hadir dengan desain unibody sehingga memerlukan sim tray ejector untuk mengganti kartunya, tapi di sisi lain jadi menguntungkan karena baik simcard maupun micro-SD-nya jadi bersifat hot swappable.

Satu hal lagi yang patut dicatat adalah kedua smartphone ini sudah memiliki adjustable LED Flash di bagian depan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas selfie di kondisi cahaya kurang ideal.

Persamaan terakhir sih sebetulnya fitur-fitur yang setia menemani smartphone Samsung pada umumnya, yaitu fitur signal max yang membuat penerimaan sinyal lebih stabil, lalu ada fitur Ultra Data Saver untuk yang butuh menghemat kuota internet, dan tak lupa adanya aplikasi Samsung Gift yang sering memberikan promosi dan diskon produk-produk dari merchant yang sudah bekerja sama.

Nah oke, jika Anda ingin tahu lebih banyak soal Galaxy J4, silakan tonton video review lengkapnya yang sudah saya buatkan ya. Ada di card pada bagian kanan atas video ini, maupun di akhir video nanti.

Sekarang kita masuk lebih dalam ke bahasan mengenai Galaxy J6. Mungkin banyak netizen yang kritis mengenai harga berbanding spesifikasi di atas kertas yang Samsung berikan. Tak salah sebetulnya anggapan ini, namun ada baiknya jika dilihat dari sisi lain.



Samsung memberikan fitur-fitur yang memudahkan pengguna dalam kehidupan sehari-hari, contohnya ya yang sudah tadi saya sebut. Lalu tambahkan dengan fakta bahwa Samsung Experience hingga saat ini masih saya nilai sebagai salah satu UI Android terbaik yang bisa diberikan oleh sebuah pabrikan smartphone.

Jangan tanya berapa porsi biaya riset dan pengembangan untuk masalah UX ini ya. Pun soal jaminan purna jual yang Samsung berikan untuk produk-produknya. Komitmen Samsung bisa dibilang terdepan, bahkan di kota kelahiran saya, Garut saja, sudah hadir service center resmi dan mandiri milik Samsung. Cimahi mah sudah pasti ada lah, heuheu.

Jadi sekali lagi Samsung Galaxy J6 akan lebih favorable buat mereka yang hendak memiliki sebuah smartphone yang bisa diandalkan dalam jangka waktu panjang. Bukan yang sebulan dua bulan sudah ganti ponsel baru lagi.

Tapi jangan salah, Galaxy J6 ini performanya cukup mengesankan lho. Performanya lancar-lancar saja digunakan untuk berbagai kegiatan saya di dunia maya. Sesekali diajak bermain game pun hayuk, dan ga gampang demam. Saya masih bisa memainkan beberapa game HD dengan nyaman selama ini.

Untuk urusan daya tahan baterai pun tidak ada masalah, di mana baterainya yang berkapasitas 3.000 mAh mampu bertahan menemani kegiatan saya sehari-hari dengan rekor pemakaian selama 2 hari 2 malam saat jarang digunakan. Dan sekitar 30 jam saat penggunaan mulai intens, dengan SoT rata-rata 3-4 jam.

Secara default Samsung Experience akan membuat Anda selalu menerima notifikasi secara realtime, namun semakin lama Anda gunakan, maka sistem ini akan mempelajari pola pemakaian Anda dan memberikan berbagai rekomendasi yang sesuai. Nice.

Yang saya sangat suka sih dimensi body-nya yang cukup compact. Layar 5,6 inch dengan rasio memanjang ala Infinity Display malah menghasilkan body yang lebih ringkas dari Galaxy J4 ternyata. Dan warna hitamnya ternyata membuat penampakannya lebih macho dan mengkilap ya daripada warna ungu yang memang lebih feminim.

Sayang body berbahan polikarbonat ini agak mudah kotor oleh bekas minyak dari jari. Jadi kalau mau pakai case, saya sangat menyarankannya. Tenang saja, hape Samsung mah bentar juga udah banyak yang jual case-nya koq, heuheu.

Eh iya lupa, kita belum bahas kameranya ya. Kamera smartphone Samsung tergolong bisa diandalkan sih, meskipun untuk smartphone 2 dan 3-jutaannya. Warna dan ketajamannya tergolong baik, walau fiturnya tak sebanyak ponsel flagship Samsung semisal S-series maupun Note-series ya.

Yang patut diapresiasi adalah penggunaan lensa dengan bukaan lebar di f/1.9 untuk kedua kamera yang dimiliki oleh Galaxy J6.

Lebih lengkapnya untuk hasil kamera di kondisi ideal, lowlights, hingga perekaman video dapat Anda saksikan berikut ini.



Masuk ke kesimpulan, bagi saya Galaxy J6 adalah smartphone yang patut diperhitungkan, dan saya yakini sudah punya segmen pasar yang sudah menanti-nantikannya.

Infinity Display dengan panel Super AMOLED, fingerprint scanner dan face unlock yang terbilang akurat, body yang enak digenggam, serta slot memori eksternal mandiri adalah kuncinya.

Bukan buat gamers memang, dan di atas kertas terlihat tidak terlalu menonjol, namun seperti yang saya bilang di video unboxing-nya, nampaknya J6 ini akan auto laku, alias tetap jadi pilihan sebagian konsumen yang sudah setia dengan brand ini.

Jangan salah, Samsung juga punya fans setia lho. Salah satunya adalah seorang wanita yang sudah 5 tahun lebih ini jadi teman hidup saya, hahaha. Dari jaman Samsung Nexus S sampai sekarang, belum pernah dia berganti merk. Hahaha.

Hmmm, sudah ah, nanti ada yang merasa terpanggil, haha. Kita tutup saja review-nya di sini ya, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!