Gadget Promotions

Monday, January 29, 2018

Review OnePlus 5T, Flagship yang Semakin Kekinian



Sebetulnya saya sedikit malas membuat video review dari OnePlus 5T ini. Rasanya seperti mengingat-ingat lagi sebuah kesalahan.

Lho, memang salah apa OnePlus 5T ini? Bukan begitu, justru saya yang membuat kesalahan dengan menjualnya kembali begitu cepat. Belakangan saya malah merindukannya untuk kembali berada dalam genggaman tangan ini.



Haha, sedikit dramatis ngga apa-apa lah ya, nyatanya memang ponsel ini ngangenin koq. Hanya saja ada dua hal yang mendorong saya segera menjualnya kembali. Pertama, selain layar dan posisi fingerprint scanner, rasanya tidak ada yang berbeda dari OnePlus 5 yang saya sudah coba sebelumnya.

Kedua, dengan harganya yang masih tinggi saat ini di Indonesia, bagi saya lebih baik jadi duit segera saja, daripada nanti keburu turun. Apalagi OnePlus 5T ini masih tetap licin seperti kakaknya dulu, ngeri tergelincir, lalu terjatuh, dan Anda bisa tebak lah kelanjutannya, heuheu.

Jadilah selama masa pengujiannya, saya terpaksa selalu memakasi softcase yang disertakan dalam paket penjualannya. Sesuatu yang ga keren menurut saya, karena menutupi keindahan lekukan body ponsel ini.

Saya akan buat daftar saja, apa sih perbedaan OnePlus 5T dari OnePlus 5 yang saya rasakan selama menggunakannya.

Pertama, experience-nya tentu terasa berbeda. Dengan layar memanjang yang memiliki rasio 18:9, OnePlus 5T terpaksa memindahkan posisi fingerprint scanner ke punggung. Yang sejauh ini tidak banyak memberi masalah buat saya, fingerprint scannernya selalu bekerja dengan sangat baik, dalam hal akurasi dan waktu respon.

Sementara untuk mengakali supaya ponsel ini tak selalu harus saya angkat dari meja, ada fitur double tap to wake, yang bisa dikombinasikan dengan face unlock yang juga sangat akurat dan cepat apabila digunakan dalam kondisi cahaya cukup. Menurut saya ini pertukaran yang sepadan lah, ya kalau mau layar 18:9 harus rela fingerprint di belakang. Kalau Anda tak bisa menerima ini, OnePlus 5 masih sangat reliable koq untuk dilirik saat ini.

Kedua, saya merasakan peningkatan pada daya tahan baterai. Dulu di OnePlus 5, saya harus mengirit-irit pemakaian jika ingin menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya. Di OnePlus 5T rasanya dengan pemakaian intens pun masih bisa sesekali menembus 24 jam, walau terkadang tak lebih dari 20 jam.

Kalau soal performa mah rasanya tak perlu dipertanyakan ya. Sama-sama menggunakan Snapdragon terbuas saat ini, yaitu Snapdragon 835 dengan sokongan RAM yang juga masih sama, 8 GB, OnePlus 5T adalah mobile gaming machine yang sangat memberi kepuasan bagi penggunanya, dalam hal ini saya sendiri.

Apalagi sekarang pada Oxygen OS ini ada gaming mode yang saya yakini mencontoh dua saudara jauh OnePlus, Oppo dan Vivo. Dengan mode ini, notifikasi tidak akang mengganggu gameplay kita.

Nah, soal notifikasi ini lah yang sebetulnya bikin kangen sama OnePlus 5T. Dengan custom OS yang digunakan, ponsel ini tak membatasi notifikasi untuk tetap dapat diterima secara realtime. Apalagi RAM-nya besar, di mana saya tak perlu repot-repot menutup aplikasi yang tak digunakan, sehingga notifikasi selalu masuk semua dengan lancar.

Bagi sebagian orang, termasuk saya, makin banyak notifikasi rasanya makin bahagia hidup ini. Kecuali sms dari operator, sama notifikasi pesan di tokopedia atau email yang isinya menanyakan kapan hape yang baru saya unggah video unboxingnya akan dijual, heuheu.

Sampai di sini saya sudah bingung pemirsa. Apa lagi ya bedanya OnePlus 5T dari OnePlus 5. Rasanya sudah habis euy.

Oh ya, hampir lupa. OnePlus 5T yang saya uji, datang dalam kondisi menggunakan Hydrogen OS tanpa Play Store dan kawan-kawan. Saya ganti ke Oxygen OS jadinya, supaya enak dipakai. Dan prosesnya mudah koq, cukup download ROM-nya, salin ke internal storage, masuk ke recovery mode dengan cara menekan tombol power dan volume down dari keadaan ponsel mati, install, tunggu, selesai.

Oxygen OS ini rasanya selalu membayar kerinduan saya pada CyanogenMod.

Anda bisa skip video ini dari sini ke belakang, isinya racun semua. Jangan bilang saya tidak mengingatkan ya. Seluruh isi video ini, mungkin akan terasa seperti seorang fanboy yang sedang kasmaran dengan sebuah produk dari brand kesayangannya.

Heuheu, memang saya bingung sih, kurangnya apa ponsel ini selain harganya yang tidak terjangkau untuk sebagian besar orang, ketersediaannya di Indonesia yang hanya mengandalkan seller-seller yang mau handcarry dari luar, hingga dukungan purna jual yang bisa dibilang nihil.

Tapi kalau dilihat berdasarkan apa yang melekat pada ponsel ini, bingung saya kurangnya di mana.

Sisi multimedia nendang banget. Layar Optic AMOLED-nya kinclong, dan kece banget buat main game, streaming video, atau bahkan cuma buat diliatin sampe bosen seharian.

Audio juga jempolan, yakali hape segini mahal suaranya sember, haha.

Benchmark sintetis? Duh, ini lagi. Skornya gede lah.

Jangan lupakan juga fakta bahwa OnePlus 5T ini sudah dibekali fitur dash charge yang dapat mengisi baterai dengan sangat cepat menggunakan kepala charger yang disertakan dalam paket penjualan.

Hmm, spek monster, layar 18:9, batre lumayan awet dan cepat penuh saat diisi ulang, multimedia oke, lalu apa yang kurang ya?

Oh ya, kita belum bahas soal kamera ya. OnePlus 5T sudah memiliki kamera ganda di sisi belakang, jadi buat yang suka bokeh-bokehan pakai portait mode, monggo, langsung ditebus sajalah OnePlus 5T-nya ahahaha.

Ya gimana ya, harganya juga memang sudah setara flagship merk besar koq. Jadinya performa kameranya sewajarnya memang istimewa juga, dalam berbagai kondisi.

Untuk video, nampaknya ada stabilisasi elektronik, yang menurut saya lumayan, tapi masih kalah kelas dari stabilisasi optik milik Huawei P10, atau bahkan Samsung Galaxy S8 Plus.



Kesimpulan saya kurang lebih sama dengan saat saya mengulas OnePlus 5 dulu, ini sudah bukan flagship killer, melainkan sudah menjelma menjadi flagship itu sendiri. Harganya kurang lebih sama lah ya dengan OnePlus 5 saat pertama dirilis dulu. Kalau mau cek harga dan diskon, boleh klik link di dekripsi yang akan membawa Anda ke situs gearbest, e-commerce asal China yang mengirimi saya OnePlus 5T untuk diuji ini.

OnePlus 5T membawa perbaikan dalam soal daya tahan baterai, serta pengalaman menggunakan layar 18:9 yang berkat tambahan fitur face unlock-nya membuat pemindahan posisi fingerprint menjadi bisa ditolerir, setidaknya bagi saya.

Hehe, saya sengaja menempatkan hasil foto dan video dari OnePlus 5T ini di bagian belakang, biar ngga protes kalopun saya tampilkan banyak-banyak.

Okay ya, cerita saya tentang OnePlus 5T berakhir di sini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Sunday, January 28, 2018

Review Xiaomi Redmi 5A, Batrenya TANGGUH tapi Harganya RAPUH



Ini adalah ponsel yang sejak akhir tahun lalu hingga seluruh minggu pada bulan Januari 2018 terus-terusan menyita perhatian publik pengguna dan pemerhati gadget di tanah air.

Satu yang pasti membuatnya jadi sorotan adalah harganya yang dipatok Xiaomi pada angka satu juta kurang seribu Rupiah. Walau harga ini pakai tanda bintang, di mana hanya berlaku pada flash sale Lazada yang selalu membuat server e-commerce ini jebol, atau di Authorized Mi Store yang entah dijatah berapa unit, namun nampaknya lebih sering kosongnya daripada tersedia.



Harga ini terpaut jauh dari harga perangkat yang sama di negeri asalnya yang mencapai 1,3 juta Rupiah. Oh ya, konon kabarnya nantinya Xiaomi Redmi 5A yang dilabeli hape terbaik di kelasnya ini akan dijual secara bebas pada angka Rp1.199.000.

Nah, semua kelebihan dan keistimewaan ponsel ini menurut saya jadiya sangat rapuh. Maksudnya, tergantung dapatnya di harga berapa dulu.

Berhasil dapat di flash sale Lazada? Selamat, kamu beruntung dapat hape lumayan banget ini di harga yang mungkin ga akan masuk itung-itungan bisnis manapun.

Beli nanti pas sudah harga offline? Hmmm, ya lumayan lah, masih lebih murah cepek dari harga di China.

Beli di toko sekarang 1,5jutaan? Hmmm, gimana ya, Redmi Note 5A juga kan segituan, spesifikasi kurang lebih sama, tapi stok lancar. Rasanya udah biasa aja sih kalo harganya segini.

Beli di reseller seharga 2 juta? Ini baru WOW, haha. Membuktikan kalo kamu emang mifans sejati, sampe mau ngasi cuan sejuta sama orang yang sebetulnya bikin harga ini hape melonjak, karena rebutan terus beli banyak buat dijual lagi, bukan dipakai.

Ya salah sendiri juga sih kalau sampai harga Redmi 5A di toko biasa jadi melonjak. Situ kenapa mau beli, padahal kalo permintaan pasar ngga tinggi dan mau sabar mah, bisa jadi orang-orang juga males nimbun stok hape ini, dan bisa jadi harga lebih stabil heuheu.

Ya sudah, kita lupakan dulu soal harga dan penjualan hape ini, dan mulai bahas hapenya sendiri ya.

Sepenilaian saya, Redmi 5A ini memang nyaris tak ada beda dengan Redmi Note 5A yang sudah saya coba sebelumnya. Buat saya sih layar lima incinya lebih asyik, soalnya ringkas, jadinya ga bikin ribet sewaktu saya jadikan ponsel kedua.

Tapi bagi sebagian orang, layar 5,5 inci Redmi Nota 5A mungkin lebih diminati, apalagi Redmi Note 5A punya kelebihan lain yaitu posisi loudspeaker yang sudah d sisi bawah ponsel, bukan di belakang seperti pada Redmi 5A.

Feeling plastik masih sangat kental terasa pada Redmi 5A ini, walau tidak sampai terasa ringkih memang. Namun saya sangat menyarankan penggunaan anti gores pada layar, dan paling tidak softcase tipis pada bodynya, biar umurnya lebih panjang.

Satu hal yang paling saya notice adalah kemampuan MIUI 9 untuk tetap berjalan dengan smooth di RAM 2 GB, dan menjaga daya tahan baterainya menjadi sangat hemat. Di hari kerja di mana Redmi 5A sangat banyak nganggur, 3 hari 3 malam mampu ditembusnya. Sementara weekend di mana Redmi 5A ini sesekali saya pakai bermain game dan streaming video, smartphone ini mampu bertahan selama 28 jam dengan SoT sebesar 5 jam, nyaris tanpa koneksi wifi.

Inilah kenapa saya sekarang lebih suka Snapdragon 425 dibanding 430. Umumnya ponsel dengan processor ini bisa lebih hemat daya, dengan performa yang kurang lebih sama.

Saya coba bermain Destiny6 di Redmi 5A ini, walau masih bisa berjalan dengan baik, harus diakui memang gameplay-nya terasa kurang nikmat. Saya bisa dengan jelas merasakan penurunan performa jika dibandingkan dengan hape utama saya yang saat itu kebetulan skor Antutunya di atas 100ribu, wajar lah ya heuheu.

Oh ya, jika ingin betah pakai Redmi 5A, jangan lupa untuk menjaga aplikasi-aplikasi yang Anda tunggu notifikasinya, agar tidak sampai dibuang dari recent apps. Ini penting, pake banget!

Lanjut ke bagian kamera, Redmi 5A ini punya kamera yang usable sekali di kondisi outdoor. Hasilnya benar-benar tidak akan membuat orang menyangka jika foto tersebut diambil oleh sebiji ponsel berharga 999ribu Rupiah. Oh ya, mode HDR terasa sangat berguna pada Redmi 5A ini untuk menghasilkan foto dengan dynamic range yang luas.

Foto di kondisi lowlights sih ya biasa lagi, tidak terlalu bagus. Dan ini sangat wajar mengingat Redmi 5 Plus yang harganya lebih dari 2 kali lipatnya pun belum mampu berbicara banyak soal foto dalam kondisi temaram seperti ini.

Perekaman video, ya gitu deh, ah pokoknya lihat langsung saja deh ya. Nanti saya salah ngomong lagi, terus dibully lagi. Saya kalo dibully oknum penboy, bawaannya suka pengen nraktir orang euy, rugi hahaha.



Okay, kayanya itu saja yang saya bahas dari Xiaomi Redmi 5A ini. Saya yakin sudah banyak pembahasan yang lebih lengkap lagi soal ponsel ini dari teman-teman reviewer yang sudah mencobanya lebih dulu dari saya.

Kesimpulan saya mah ya ini kabar baik lah buat yang membutuhkan smartphone yang ngga asal jadi, yang dukungan OS-nya cukup baik, fitur lengkap, namun harganya sangat terjangkau.

Apakah saya merekomendasikan ponsel ini? Jawabannya tergantung, harganya berapa dulu. 1 juta ya pasti saya rekomendasikan, 1,2 juta juga rasanya masih ok.

Tapi kalau sudah 1,5 juta atau lebih? Jadinya terasa biasa saja, dan banyak alternatif lain yang lebih baik, bahkan dari brand Xiaomi sendiri.

So, saran saya mah jangan keburu nafsu, jadinya demand tinggi, harga naik, ujung-ujungnya konsumen yang rugi, reseller yang untung banyak, dan Xiaomi ya masih dipertanyakan sih dapat untung apa ngga, hehe.

Sudah deh, gitu aja dari saya mah. Hehe.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalamualaikum.

Review Huawei Honor View 10 (V10), Ponsel yang Menyabet Penghargaan di CES 2018



Nampaknya, pencarian saya menemukan akhir.

Saya masih ingat, bulan November lalu saya sempat mencuitkan pernyataan ini... https://twitter.com/GontaGantiHaPe/status/935468028673671168

Yah, saat itu saya melepas semua ponsel Huawei yang sebetulnya sudah membuat saya nyaman. Ada Huawei Honor 9 dan Huawei P10 saat itu.

Saya tak peduli jika dibilang Huawei Fans, haha, toh saya mulai menyukainya setelah mencoba dulu, bukan semata fanatisme buta. Dan sebetulnya jika saya punya dana tak terbatas mah, saya rasanya pengen ambil LG V30+ saja.

Terus kenapa malah belinya Huawei Honor View 10? Jawabannya simple. Saat ini, smartphone mana yang layarnya 18:9 tapi punya fingerprint scanner di depan?



Saat saya memutuskan membelinya, baru ada Honor V10 saja yang punya kedua hal itu. Saat ini ada sih ponsel lain, tapi dari Huawei juga, namanya Nova 2s. Haha.

Dan lagi, harga Huawei Honor V10 ini lebih masuk akal dari LG V30+, atau bahkan dari hape incaran saya lainnya dari Huawei, Mate 10 Pro.

Ok case closed ya mengenai alasan utama saya membeli ponsel ini.

Membicarakan Huawei Honor V10 atau View 10 ini, pastinya harus dimulai dari desainnya. Sebetulnya bentuknya tak terlalu istimewa, tapi finishing backcovernya memiliki tekstur khusus yang membuatnya tak licin sama sekali dan juga tak mudah kotor oleh bekas minyak ataupun sidik jari.

Selain itu pilihan warnanya juga unik, merah yang saya pakai ini ngga seperti hape lain yang umumnya memilih merah cabe. Honor V10 ini menggunakan warna merah neon yang diberi nama charm red. Materialnya sendiri terbuat dari alumunium untuk backcovernya, dan kaca untuk bagian depan.

Posisi port audio di bawah, lubang loudspeaker di sebelah kanan, hingga ketersediaan IR blaster, adalah hal-hal yang saya suka dari desain Honor View 10 secara fisik. Sementara dua buah camera bump yang terlalu menonjol adalah hal yang paling tak saya favoritkan dari ponsel ini.

Overall form factornya tipis, tepiannya ramah di kulit, dan nyaman digenggam. Tidak ada hal yang mengganggu saya dari sisi fisik ini.

Lanjut ke sisi depan, layar dengan rasio 18:9 hadir dengan keistimewaan berupa fingerprint scanner yang terletak di dagu ponsel. Huawei berhasil membuat jidat dan dagu ponsel ini tetap tipis, namun akibatnya posisi fingerprint scanner-nya sedikit terlalu ke bawah dan ukurannya juga tak terlalu besar. Sebuah konsekuensi yang tolerable menurut saya.

Spesifikasi jeroan dibahas jangan? Ah jangan ah, ga enak saya. Huawei Honor V10 ini sudah pakai processor terbaru Huawei, yaitu HiSilicon Kirin 970 yang juga dipakai di Huawei Mate 10 dan Mate 10 Pro. Jadi fitur AI sudah hadir di Honor View 10 ini. Sejauh ini, fitur AI baru terasa kegunaannya saat memotret, di mana mode yang digunakan otomatis menyesuaikan dengan objek foto. Saat memotret makanan misalnya, maka otomatis kamera akan masuk ke mode good food, atau saat memotret dokumen, maka akan masuk ke mode teks.

Kualitas hasil kameranya dibahas jangan? Haha, nanya mulu ya saya. Pokoknya gini aja, kameranya bikin betah, dengan semua fitur yang selalu Huawei bawa di ponsel teratas mereka. Zoom, blur, portrait, semua kece. Yang agak kurang sih di perekaman video saja, EIS ada tapi hasilnya menurut saya kurang mampu membuat stabil. Mungkin karena sudah tahu sestabil apa hasil OIS di Huawei P10 dulu ya.

Biar lebih objektif, monggo beri penilaian sendiri pada gambar dan video yang saya tayangkan berikut ini.



Performa dari Kirin 970 ternyata meningkat pesat dari Kirin 960 yang sebelumnya saya pakai dua kali. Skor benchmark sintetisnya selisih banyak nih. Sewajarnya dipakai bermain game lancar tanpa kendala.

Dan yang membuat saya  menyukai EMUI 8.0 yang sudah berbasis Android Oreo ini adalah, kita bisa memaksa aplikasi apapun untuk tampil fullscreen di ratio 18:9. Selain itu, UX-nya juga asyik. Saya ingat, saat sedang membuka video di YouTube lalu masuk notifikasi Whatsapp, maka notifikasinya muncul disertai pilihan untuk langsung masuk ke mode split screen. Jadinya kan nonton jalan terus, pesan baru pun dapat kita baca. Keren kan?

Secure keyboard yang akan muncul menggantikan keyboard pihak ketiga yang saya pakai juga tetap hadir pada Honor View 10 ini dan menambah keamanan data kita, karena kombinasi username dan password kita tidak diinput menggunakan keyboard yang sama.

Dari beberapa kali mencoba ponsel Huawei dan Honor, nampaknya memang ada perbedaan pada masalah optimisasi daya. Honor selalu sedikit lebih telat notifikasinya yang saya sinyalir demi alasan penghematan daya. Huawei seri P maupun Nova yang pernah saya coba tak begitu, notifikasinya lebih real-time.

Dan di sini saya agak galau jadinya, pemirsa. Notifikasi realtime itu penting buat saya.

Tapi mungkin memang ini harus dilakukan agar baterainya awet. Baterasi Honor View 10 ini sendiri sudah cukup besar kapasitasnya, yaitu 3.750 mAh. Namun memang sepemakaian saya, processor Kirin masih belum bisa sehemat Snapdragon. Tak bisa dibilang boros sih, tembus 24 jam mah sering lah, tapi ya ngga awet-awet banget juga.

Oh ya satu lagi, Kirin masih lebih cepat menghangat juga. Bermain Destiny 6 dalam jangka waktu lama, backcover ponsel ini sudah mulai sedikit hangat, satu hal yang tak saya rasakan saat mencoba OnePlus 5T dulu.

Sektor audio juga menurut penilaian saya terbilang jempolan. Loudspeakernya lantang dengan detail yang terkontrol baik. Pakai earphone berkabel oke, pakai yang bluetooth pun hayuk.

Kualitas loudspeakernya bisa Anda dengarkan di bagian penutup video ini ya, saya mau buatkan kesimpulannya dulu nih sekarang.

Huawei Honor V10 atau Honor View 10 ini, harga aslinya di daratan Cina sana sekitar 6-jutaan, dan di Indonesia banyak dijual oleh seller yang handcarry langsung seharga 7-jutaan untuk varian RAM 6 GB dan Storage 64 GB. Selisihnya sekitar 600-ribu lebih murah jika Anda cukup dengan yang kapasitas RAM-nya 4 GB saja.

Pada harga segitu, kita sudah mendapatkan jeroan ala Huawei Mate 10 yang lebih mahal sekitar 3 juta Rupiah, menjadikan ponsel ini salah satu value deal berkat price to spec comparisan yang baik. Kabarnya di ajang CES 2018 kemarin juga Honor V10 menyabet penghargaan.

Mungkin memang ponsel ini hadir tanpa embel-embel Leica, tapi kameranya masih mantap jiwa.

Layar kekinian, dan fingerprint scanner di depan. Cocok sekali buat yang sering menaruh ponselnya di atas meja. Ya, cocok buat saya.

Bisa jadi juga cocok buat Anda, silakan disesuaikan dengan minat dan kebutuhan ya.

Yang pasti, saya sudah memutuskan menjual kembali OnePlus 5T dan menyimpan Honor V10 sih. Harusnya itu menjelaskan banyak, hahaha.

Sudah ya, sudah jelas semuanya, hehe. Yang kurang jelas, monggo berlanjut ke twitter saya, kita diskusi di sana.

Untuk saat ini, sekian yang bisa saya simpulkan dari Huawei Honor View 10 ini. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, January 2, 2018

Review Moto M, M untuk Mewah



Jika melihat seri hurufnya, Moto M ini selayaknya berada pada level yang lebih tinggi dari Moto G series. Buktinya harga jual pada masa pengenalannya pun cukup tinggi, yaitu empat juta Rupiah kurang seribu.

Namun tak banyak yang membahas ponsel ini, entah kenapa. Mungkin harga segitu dirasa tak sesuai akibat stigma processor Mediatek yang kurang bersinar dua tahun belakangan ini ya.

Nah, angin sudah berubah arah saat ini. Moto M sudah dipangkas harganya, jauh sekali dari harga awal tadi. Di beberapa toko online saya menemukannya dijual pada harga 2,1 juta Rupiah saja. Dan saya berpesan hati-hati karena ada satu toko online yang menjual pada harga sedikit di bawah 2 juta, namun tak bergaransi resmi, karena produk yang dijualnya adalah Moto M yang versi Cina sana. Yang ini setahu saya mentok OS-nya di Marshmallow.

Nah, Moto M yang garansi resmi ini sejak saya unbox sudah mendapat update software sebesar 1,5 GB yang membuatnya bisa move-on ke Android Nougat, tepatnya versi 7.0.



2,1 juta Rupiah, RAM 4 GB, layar Full HD, port USB type-C? Ini sih sudah worth the money banget. Saya rasa sekarang akan banyak mata yang tertarik untuk melirik Moto M ini.

Ya, karena selain price-to-spec comparison-nya sudah sangat oke, desain dari ponsel ini pun menurut pandangan saya cantik sekali. Saya jadi ingat pertemuan pertama kami, saat itu saya terpesona dengan Moto M milik orang. Dan kini dia telah menjadi milikku, oh indahnya dunia, hahaha.

Desainnya sedikit banyak mengingatkan pada smartphone lama saya, LG G2 dan Acer Liquid Jade. Cantik menawan hati dengan looks yang terkesan classy. Sementara sisi belakangnya yang sudah full metal memang terasa lebih mainstream ya.

Namun tetap saya suka dengan backcover yang dibuat melengkung sehingga tepiannya lebih tipis dari bagian tengahnya. Keergonomisannya mengingatkan saya dengan Moto G saya dulu. Dan serius, Moto M ini enak banget buat digenggam.

Lalu kita bahas jeroannya yuk. Moto M ini menggunakan Mediatek Helio P10 jika melihat apa yang dimunculkan oleh aplikasi AIDA64, namun ada kabar bahwa yang beredar bahwa yang dijual di India dan Indonesia sudah menggunakan Helio P15. Melihat skor Antutunya yang menembus 50ribuan sih nampaknya hal itu benar adanya ya.

Dengan RAM 4 GB dan Android hampir stock, multitasking di Moto M terasa lancar sekali. Bahkan sering aplikasi yang terakhir saya buka kemarin, masih dapat memunculkan posisi layar terakhir saat saya buka kembali. Diajak bermain game dengan grafis 3D juga hayu-hayu aja. Tidak ada masalah sama sekali dengan performanya, walau memang bukan yang paling cepat ya.

Daya tahan baterainya cukup awet tapi ngga awet-awet banget. Rata-rata bertahan 20 jam lah dalam penggunaan saya.

Fingerprint scannernya masih masuk kategori cepat dan akurat. Dan dengan ini saya jadi mempertanyakan lagi performa processor Snapdragon 430 pada dua produk dari brand sebelah yang sebelumnya saya coba yang sama-sama menggunakan OS Android stock. Mediatek boleh berbangga hati kali ini heuheu. Motorola tak salah memilihnya haha.

Lanjut ke kamera, Moto M sudah memiliki mode professional alias manual. Pengaturanya cukup lengkap walau shutterspeed maksimal hanya mencapai 2/3 detik saja.

Mengambil gambar selalu dapat dilakukan dengan mudah dan cepat pada Moto M ini, Fokus terkunci dengan baik, dan menyimpan gambar tak membutuhkan jeda waktu lama.

Kualitas hasil gambarnya sendiri tidak terlalu istimewa memang, namun masih sangat-sangat usable. Pada kondisi lowlights, noise sudah rajin hadir.

Saya akan biarkan Anda menilai langsung kualitasnya pada gambar yang saya sajikan berikut ini.




Apa Kata Aa tentang Moto M

Review kali ini singkat saya, yang pasti saya bisa simpulkan bahwa Moto M memiliki performa yang baik untuk multitasking, gaming, maupun mengambil foto dan video.

Memang hasil kameranya standar-standar saja, daya tahan baterainya pun tak istimewa. Namun, harganya kini yang sudah turun banyak, membuatnya menjadi tak mudah untuk dilewatkan.

Berbahagialah yang punya budget 2 juta Rupiah, sekarang sudah bisa punya hape kece yang performanya oke, thanks to Moto M.

Okay, selesai. Hehe.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalamualaikum wr wb.