Gadget Promotions

Thursday, August 9, 2018

Review Honor 10, The Perfect 10?



Another Dream Come True, ya Honor 10 adalah smartphone yang sudah saya tunggu-tunggu untuk diunbox dan direview.

Tapi kali ini ada yang berbeda, karena sekarang sudah hadir resmi di Indonesia melalui kerjasama Honor Global dan Icool International Indonesia.

Anda bisa mendapatkan smartphone kece yang satu ini di harga 7 juta kurang seribu Rupiah. Atau kalau ngga mau rugi, bisa ikut pre-ordernya supaya dapat voucher diskon 500rb + bluetooth earphone yang kurang lebih harganya 500-600 ribuan itu.

Ya, dengan jalan pre-order maka harganya bisa mirip dengan harga jual Honor 10 ini di negeri tetangga, namun dengan jaminan garansi lokal.



Sisi yang paling menarik dibahas dari ponsel ini pastinya ada di sisi belakang alias backcovernya. Buat yang belum pernah mencoba seri flagship-nya Honor sebelumnya, bisa jadi ini adalah hal yang baru ya. Refleksi cantik berkat proses produksi khusus untuk menghasilkan lapisan-lapisan yang menimbulkan efek optik menawan ini sejatinya sudah hadir koq di Honor 8 maupun Honor 9.

Bedanya, pada varian warna Phantom Green dan Phantom Blue keindahan ini makin nyata berkat gradasi warnanya yang saya yakini tak lama lagi akan banyak diikuti oleh ponsel lain.

Yang saya pakai dalam video ini sih warna Glacier Grey, yang lebih terlihat seperti warna silver yang condong ke biru langit.

Perbedaan dari Honor 9 sebetulnya tak terlalu mencolok terlihat, kecuali ketika layarnya dinyalakan. Ya, Honor 10 sudah hadir dengan layar yang lebih kekinian, dengan rasio memanjang 19:9 dan notch di atasnya.

Pada notch ini, Honor masih bisa menempatkan kamera depan dengan resolusi besar di 24 Megapixels, lalu ada earpiece, dan proximity serta ambience sensor. LED notifikasi turut hadir, ukurannya kecil saja, dan posisinya di pojok kiri atas dari notch ini. Seperti biasa, notch ini bisa disamarkan dengan menjadikan kedua pojok layar ini menjadi hitam. Memang dengan panel IPS ini, warna hitamnya tak bisa terlalu pekat sehingga masih terlihat cukup berbeda.

Yang sangat saya apresiasi dari layar Honor 10 ini adalah kemampuannya untuk tetap terlihat dengan kontras yang baik, meskipun di bawah terik sinar matahari. Sementara dimensinya yang cukup compact di 5,84 inci saja, menurut saya sangat enak ketika digenggam maupun dimasukkan ke dalam saku celana. Walau untuk gaming, rasa-rasanya lebih besar lebih nyaman ya.

Honor 10 pun masih memiliki infrared blaster di sisi atas, serta port audio 3,5 mm di sisi bawah. Dua kelengkapan yang masih saya butuhkan untuk hadir di smartphone yang saya gunakan sehari-hari.

Di sisi bawahnya, ada loudspeaker yang tak kalah baiknya dengan milik Honor 9 dulu. Yap, saya masih sangat bisa menikmati lantunan musik kala didendangkan melalui loudspeaker ini. Jika tak butuh power berlebih sih, saya rasanya tak perlu pakai bluetooth speaker deh. Mau dengar suaranya? Boleh, nih saya putarkan sedikit lagu ya.

Untuk sektor multimedia ini, Honor 10 nampaknya memang akan bisa memuaskan penggunanya. Dan hal ini termasuk kameranya yang punya kualitas di atas rata-rata. Hasil foto kameranya tergolong baik dan tajam, namun memang nada warnanya terlalu vivid, atau terlalu gonjreng buat sebagian orang. Dan ini tak cuma berlaku di foto, hasil videonya pun sama.

Lowlights masih bisa menghasilkan gambar yang baik, walau tone warnanya jadi agak pucat.

Performa dalam pengambilan gambar maupun perekaman video sih tidak ada masalah, karena jeroannya sudah mumpuni banget. Fitur AI juga hadir, di mana kamera dari Honor 10 ini akan menawarkan settingan yang sudah dioptimasi untuk kondisi-kondisi tertentu yang dikenalinya. Asyiknya adalah, jika fitur AI ini dinyalalkan, Honor 10 akan menyimpan dua buah gambar, yang satu adalah gambar yang sudah diproses dengan algoritma AI miliknya, dan satu lagi adalah gambar asli yang belum disentuh. Jadinya nanti kita bisa pilih setelah gambar diambil ya.

Hal yang sama berlaku juga untuk foto bokeh yang diambil menggunakan mode wide aperture. Setelah gambar diambil, kita masih bisa mengatur posisi fokus maupun kadar blur pada bagian yang tak mendapat fokus.

Berbagai mode kamera hadir dengan lengkap pada Honor 10 ini, termasuk mode manual yang sangat lengkap, lalu ada AR Lens, dan tak lupa slow motion yang bisa merekam video dengan perlambatan 16x atau tepatnya pada 480 fps. Satu hal lagi yang saya dapatkan setelah update system terakhir adalah handheld night shoot mode, yaitu mode pengambilan gambar pada kondisi cahaya redup yang memungkinkan kita mengambil gambar yang tetap terang dengan memperlambat shutterspeed, namun bisa dilakukan dengan stabil tanpa menggunakan tripod.

Bagi Anda yang belum tahu, kamera utama Honor 10 ini beresolusi 16 Megapixels, yang dibantu kamera kedua yang bersensor monokrom dengan resolusi lebih tajam di 24 Megapixels. Dua-duanya memiliki bukaan lensa yang lebar di f/1.8. Jika Anda mau tahu kenapa hasil gambarnya gonjreng, ya ini dia alasannya, perpaduan kamera RGB dan Black and White. Mantap!

Silakan disimak hasil foto dan video dari Honor 10 ini, dan setelah ini kita akan bahas apa lagi yang dibawa oleh system update yang baru saya dapat 3 hari setelah Honor 10 ini rilis resmi di Indonesia.



Yap, seperti janji saya tadi, saya akan bahas ada apa sih sebetulnya pada system update terakhir yang diterima oleh Honor 10.

GPU Turbo, apakah Anda pernah mendengar atau membaca istilah ini?
Jadi ini adalah optimasi yang diberikan Huawei dan Honor, sejauh ini yang saya tahu baru ada di processor HiSilicon Kirin 970 dan 710, untuk meningkatkan performa GPU-nya sekitar 60%, namun dengan konsumsi daya yang lebih rendah sekitar 30%. Terdengar menggiurkan ya!

Namun pada prakteknya, fitur ini masih terbatas pada penggunaan aplikasi tertentu. Semisal untuk gaming, yang sudah support di Honor 10 saat ini adalah Mobile Legends, dan juga PUBG.

Wow PUBG! Atuh serasa pucuk di cinta, Yuriva pun tiba ini mah haha. Kebetulan sejak bulan puasa kemarin, Aa senang bermain PUBG. Dan sebelum ada update GPU Turbo inpun saya sudah maen PUBG di Honor 10, dan so far lancar-lancar saja dengan setting grafis mentok kanan.

Yang saya sasar sih lebih ke soal penghematan dayanya. Ya, karena dengan pemakaian gaming sekitar 1 jam sehari dan total screen-on time hingga 4 jam, Honor 10 baru mampu bertahan dari pagi hingga malam saja. Jika mau bertahan selama 24 jam, baru bisa tercapai saat saya sibuk di kantor, jarang buka hape, dan dibantu oleh koneksi wi-fi kantor.

Setelah update GPU Turbo ini, terasa ada perbaikan yang mana membuat saya happy pastinya. Karena update ini juga berimbas ke performa kamera yang lebih baik lagi.

Soal performanya Honor 10 sih tak usah diragukan, jeroannya kira-kira sama dengan Honor View 10 maupun Huawei P20 atau P20 Pro. Skor Antutu-nya 200-ribuan, dan sudah lebih dari cukup supaya kepake sama saya.

Perbaikan yang bisa dilakukan lebih ke daya tahan baterai, yang mana sebetulnya adalah konsekuensi dari size smartphone ini yang compact, sehingga kapasitas baterainya ada di 3.400 mAh. Selain itu paling fingerprint scanner-nya yang underglass, walau secara estetika memang lebih indah, namun dalam prakteknya kadang membuat saya kurang pas dalam meletakkan jempol saat hendak membuka kunci layar.

Sisanya sih TOP banget lah Honor 10. salut buat Honor yang berani langsung memasukkan flagship mereka ke Indonesia. Dan harganya itu lho, tergolong murah untuk kelas flagship mah ya.

Asli racun, untung saya punya satu. Jadi ga cuma mupeng doang, heuheu.

Demikian cerita saya kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, August 3, 2018

Review ASUS Zenfone 5Q, JAUH Lebih Baik dari Zenfone 4 Selfie series!



Ini adalah varian lite dari Zenfone 5 series yang di Indonesia dijual dengan nama Zenfone 5Q dengan harga resmi di angka 3,5 juta Rupiah.

Dan smartphone ini, terasa lebih sayup ya gaungnya di kancah persaingan smartphone terkini. Apa mungkin karena dijual dengan cara tradisional seperti smartphone ASUS tahun lalu?

Tradisional bagaimana? Iya, ASUS sebelum punya produk-produk yang dibilang netijen sebagai produk ghoib, biasanya sudah mendistribusikan smartphone-nya ke pasaran terlebih dahulu sebelum mulai berpromosi. Dan biasanya dijual oleh pedagang online dengan selisih harga yang lumayan lebih rendah dari harga resminya. Plus, ngga rebutan, jadi ngga ghoib.

Zenfone 5Q juga begitu, meskipun sebetulnya dirilis berbarengan dengan Zenfone Max Pro M1, namun produknya memang baru tersedia belakangan ini. Tapi stoknya langsung lancar lho, dan saya temukan banyak penjual yang sudah berani memasang di bawah 3,4 jutaan.

Apa produknya tidak menarik ya? Ah ngga koq, malah sebetulnya Zenfone 5Q ini punya diferensiasi yang cukup jelas, dan seharusnya membuat Anda tergiur deh. Mari kita mulai bahas smartphone ini ya.

Saya pertama kali memegang ponsel ini di experience area pada acara launching-nya. Sempat mencoba-coba sebentar, material glass pada backcovernya berhasil membuat saya berujar bahwa saya harus punya satu nantinya.

Sampai saat ponsel ini tersedia di pasaran, saya masih menahan hasrat karena yang dijual baru varian warna hitam. Ya, saya menunggu warna putihnya, mengingat warna hitam dan material kaca itu artinya auto-kumal, alias mudah kotor oleh bekas minyak dari jari kita.

Namun lama ditunggu tak kunjung tiba juga si putih, heuheu, ya sudah go on saja dengan yang hitam deh. Hitamnya ini sepintas agak kebiruan, mengingatkan pada ASUS Zenfone 3 banget. Dan memang seperti ada nostalgia dengan Zenfone 3 sih saat saya menggenggamnya.



Frame metal di sekeliling bodynya dibuat membulat, membantu untuk masalah ergonomics-nya. Namun sayang tepian frame yang bersentuhan dengan kaca depan maupun belakang, sedikit terasa agak tajam, padahal kaca-kaca ini sudah memiliki tepian agak melengkung, yang rasanya jadi percuma.

Bobot smartphone ini sangat membantu memberi kesan solid. Ya memang, glass + metal + glass pasti menghasilkan berat di atas rata-rata.

Cantik? Cantik atuh, meskipun backcover kacanya polos saja tanpa pattern seperti yang dimiliki Zenfone 5 ya.

Apa yang terasa kurang dari masalah looks ponsel ini? Hampir tak ada sebetulnya, hanya saja port micro-USB itu akan lebih indah jika diganti oleh USB Type-C ya heuheu.

Bukan masalah besar memang, tapi seandainya sudah USB Type-C, rasanya lengkap banget deh. Ponsel 3,5 jutaan sudah punya NFC, kameranya ada 4, dengan RAM 4 GB dan storage 64 GB plus triple-card slot, masa iya ga bikin tertarik?

Layarnya sendiri sudah kekinian, alias punya rasio 18:9 serta resolusi Full HD+ yang sudah cukup banget untuk dimensinya yang 6 inci. Panel IPS-nya memiliki reproduksi warna yang cukup baik, walau vibrancy-nya pastinya masih di bawah layar AMOLED dari ponsel utama saya.

Lanjut ke dapur pacu, Zenfone 5Q ini ditenagai oleh processor Qualcomm Snapdragon 630 yang baru pertama kali ini saya coba. Bukan processor baru sebetulnya, namun memang terbilang jarang yang menggunakannya, karena kebanyakan pabrikan smartphone di tanah air lebih memilih stay di Snapdragon 625.

Sepenilaian saya, Snapdragon 630 ini memiliki kemiripan karakter dengan 625 di mana sama-sama memiliki konsumsi daya yang hemat, namun terasa bahwa 630 punya kemampuan processing yang lebih kuat.

Dipakai bermain PUBG, recommended setting default buat grafiknya ada di low. Saat saya naikkan sedikit ke HD masih bisa bermain dengan lancar. Walau memang terasa agak sedikit ngos-ngosan tiap layar saya swipe buat melihat ke sekitar untuk mencari senjata yang tercecer.

Sekitar 40 menit bermain, rasa hangat muncul di backcover bagian kiri atas, tidak sampai panas berlebih sih, ngga tahu kalau dimainkan sampai berjam-jam ya. Saya sih ngga kuat main game berlama-lama. Oh ya kalau sedang main terus terasa ada yang hangat di celana, silakan dicek, jangan-jangan kamu ngompol itu mah, heuheu.

Nah untuk masalah keawetan baterai, kebetulan selama masa uji Zenfone 5Q ini saya sedang dibebastugaskan dari pekerjaan oleh dokter yang memeriksa, jadi saya punya cukup banyak waktu bersamanya. Bersama Zenfone 5Q ya, bukan bersama dokter tadi, aki-aki soalnya dokternya, hehe.

Jadi ngelantur, hayu ah bahas baterai. Dengan pemakaian intens yang berakibat screen-on-time menembus 6 jam, Zenfone 5Q rata-rata mampu bertahan 18 jam alias dari bangun pagi sampai saat mau beranjak tidur lagi. Catat ya, biasanya screen-on-time saya sehari hanya 3-4 jam saja.

Saat saya masuk kerja kembali, dan dibantu dengan wi-fi kantor sekitar 4 jam, Zenfone 5Q berhasil bertahan menembus 1 x 24 jam, dengan screen-on time yang masih cukup besar di 5 jam. Untuk ukuran pemakaian intens seperti itu sih awet lah ya.

Lalu bagaimana dengan empat kameranya? Gimana ya bilangnya heuheu. Di atas kertas, kamera Zenfone 5Q ini mentereng banget, dengan resolusi besar-besar. 20 Megapixels untuk sensor pada lensa selfie utama, dan 16 Megapixels untuk sensor pada lensa utama yang berada di belakang. Keduanya sama-sama dipasangkan dengan lensa wide dengan resolusi sensor 8 Megapixels. Portrait mode pun tersedia untuk kamera depan maupun belakang.

Mentereng bukan? Tambahkan fakta bahwa untuk perekaman video juga sudah ada EIS, serta mampu merekam hingga resolusi 4K di 30 fps, dan Full HD di 1060 fps. Jangan lupa juga bahwa sensor kamera depannya sudah menggunakan Sony IMX 376.

Performanya sih bagus, autofocus dan metering berjalan dengan baik, hingga pengaturan manual pun hadir lengkap.

Namun saya merasa bahwa Zenfone 5Q kurang dapat diandalkan di kondisi lowlights. Pada kondisi indoor, settingan auto nampaknya membuat shutterspeed melambat, karena jadinya goyang sedikit saja gampang banget blur. Ya, kalau cahaya kurang, nampaknya tangan yang steady jadi kunci agar hasil foto bisa bagus. Pun soal noise yang tak sungkan hadir, padahal ngga bawa undangan. Adu duh... Heuheu.

Walau demikian saya anggap masih wajar soal kamera ini, mau tak mau memang takkan bisa selevel dengan Zenfone 5 lah, apalagi ini punya lensa lebih banyak.

Hasil foto dan video terbaik yang bisa saya ambil dengan ponsel ini, dapat Anda simak berikut ini.



Masuk ke kesimpulan, bagi saya nampaknya Zenfone 5Q ini digadang-gadang ASUS untuk meneruskan seri Zenfone 4 Selfie yang memiliki kamera depan ganda dengan resolusi besar.

Jika melihat harga awal Zenfone 4 Selfie Pro di 5 juta, dan Zenfone 4 Selfie di 3,5 juta lalu dibandingkan spesifikasinya, saya rasa saya tak bisa komplain soal Zenfone 5Q ini. Jelas sudah banyak perbaikan yang ASUS berikan ya.

Harga sama dengan Zenfone 4 Selfie di awal rilis, namun spesifikasinya bahkan di atas Zenfone 4 Selfie Pro lho. Sudah ada NFC pula, dan material yang premium wajib Anda perhitungkan.

Tersisa satu pertanyaan dalam benak saya, kenapa Zenfone 5Q dijual dengan kondisi masih ber-OS-kan Nougat? Kalah atuh sama Zenfone Max Pro M1, bahkan sama Zenfone Live L1 heuheu.

Ngga khawatir sih, ASUS mah rajin kalau update software, cuma mbok ya disegerakan toh. Biar makin naik lagi value dari Zenfone 5Q yang rasa-rasanya sudah super lengkap untuk smartphone 3-jutaan ini ya.

Sip, itu saja yang bisa saya simpulkan untuk ASUS Zenfone 5Q ini, semoga membantu Anda yang sedang mencari informasi tentang smartphone yang satu ini.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!