Gadget Promotions

Tuesday, November 28, 2017

Windows Asli di Notebook ASUS, Demi Satu Kata: Barokah!



Pada hari ini, Selasa 28 November 2017, bertempat di Hotel Hilton Bandung, ASUS menghelat sebuah acara bertajuk Year End Notebook Gathering with Microsoft.

Acara yang digelar dengan membawa tagline #ASUSGatheringBandung17 dan #ASUSWindowsAsli ini secara garis besar membawa kabar baik bagi pengguna notebook di tanah air. Di mana sejak November 2017 ini, semua jajaran produk notebook ASUS akan dirilis ke pasaran dalam kondisi pre-installed dengan sistem operasi asli besutan Microsoft ini.

So much win? Tentu saja. Coba saja cek di toko sebelah, berapa harganya jika kita hendak membeli lisensi Windows asli yang terbaru.


Keuntungan Menggunakan Windows Asli di Notebook ASUS

Untungnya apa? Selain ngirit duit, dan mengurangi dosa jika memakai versi bajakan, update Windows 10 terbaru ini juga membawa segudang fitur yang tentu saja berguna meningkatkan produktifitas kita.

Ruginya? Ya ngga ada lah. Harga notebook-nya tetep koq. Ya ngga bisa dibilang murah sih memang notebook ASUS mah, tapi kan memang ada harga ada rupa. Saya aja balik lagi pake notebook ASUS biarpun harus sedikit lebih dalam merogoh kocek, karena mau bagaimana pun juga, sekenceng apapun juga, kalo tongkrongannya ga kece, kaya ada yang kurang gitu.

Pssst, saya baru beli ASUS Zenbook UX410 lho, kamu bisa lihat unboxing video-nya di video berikut ini ya:


Pada acara ini, hadir beberapa Youtuber kondang asal Bandung, di antaranya: Kang Dadan (Gayafone Channel), Kang Nico (ObatGaptek), dan Iqbal (Juragan Tekno & Doyan Vape). Memang ajang gathering seperti ini sangat saya tunggu-tunggu, bukan karena makan-makannya, tapi karena silaturahmi dengan sesama konten kreatornya.



Yang saya perhatikan dari materi di acara ini, dan tentunya menjadi inspirasi saya, adalah bagaimana kisah ASUS bisa muncul ke permukaan dan menjadi leader di pasar notebook tanah air. Saya masih ingat, zaman saya kuliah dan awal kerja dulu, masih sangat jarang sekali orang yang menenteng laptop dengan brand ASUS. Kebanyakan brand Jepang yang dipakai.

Perlahan, pamor notebook ASUS semakin meningkat, sementara satu persatu brand kompetitor malah tumbang, atau merelakan dirinya diakuisisi oleh brand lain.Kedigdayaan ASUS semakin tertancap kuat ketika mereka merilis seri Zenbook pertama. Saya percaya, siapapun yang senang dengan penampakan Macbook, tapi tak bisa melepaskan diri dari jerat kenikmatan menggunakan Windows, pasti akan senang begitu melihat Zenbook series.


Fitur Windows 10 Fall Creators Update

Eh ya, apa saja sih fitur yang bisa didapatkan jika menggunakan Windows 10 Fall Creators Update di notebook ASUS ini? Kira-kira ini dia fiturnya:

1. Windows Hello, fitur ini akan membuat login ke notebook kita semakin nyaman tanpa harus mengingat dan menyembunyikan password atau pin kita agar tak diketahui orang lain.
2. Windows Defender. Khawatir soal ancaman keamanan semacam virus, malware, atau bahkan ransomware? Ini dia pengaman paling komprehensif dari sang pembuat sistem operasinya sendiri.
3. Paint 3D. Mengasah kreatifitas atau hanya sekadar membunuh waktu di depan laptop kini semakin menyenangkan.
4. Windows Photo pun kini mempunyai fitur untuk membuat quick video dari deretan foto dengan kemampuan otomatis yang akan menyesuaikan efek dengan beat music yang digunakan.

Saya yakin masih banyak lagi fitur dan keunggulan dari penggunaan Windows Asli di notebook ASUS ini. Tapi ada satu yang paling penting buat saya dari semua hal yang saya sebutkan di sini, dengan penggunaan OS Windows Asli, saya jadi lebih tenang dan lebih yakin akan keberkahan rezeki yang saya cari menggunakan perangkat notebook ASUS ini.

Barokah is beyond everything, ahahaha!

Monday, November 27, 2017

Review Notebook ASUS Vivobook A405U



Jika ditanya mengapa saya bisa yakin membeli ASUS Zenbook untuk dijadikan daily driver saya, maka jawabannya justru datang dari sebuah notebook ASUS dari seri Vivobook, yaitu ASUS Vivobook A405.

Lho koq bisa begitu? Haha, sebelum menggunakan Acer E5-475G, saya selama sekitar 1,5 tahun adalah pengguna laptop ASUS, hanya saja statusnya inventaris kantor.

Dan ketika saya bisa menabung untuk laptop saya selanjutnya, saya mendapat pinjaman sebuah ASUS Vivobook A untuk diulas. Di sinilah build quality dari ASUS berbicara.

Memang untuk masalah harga, dengan spesifikasi yang setara, di mana sama-sama menggunakan Intel Core i5-7200U, RAM 4GB DDR4, Harddisk 1TB, dan graphic card NVidia GeForce 940MX, selisih harganya hampir mencapai satu juta Rupiah. Itupun Vivobook A ini menggunakan Endless OS yang terhitung gratisan, bukan Windows 10.

Tapi untuk urusan looks dan build quality, ASUS Vivobook A405 ini saya nilai beberapa tingkat di atas Acer E5-475G. Mulai dari lid yang berbahan logam, dengan pola brushed metal berwarna dark grey dikombinasikan logo ASUS berwarna gold yang entah kenapa saya suka sekali. Bahkan saya lebih suka lid dari Vivobook A405 ini daripada lid Zenbook UX410 milik saya heuheu.

Lanjut ke layar, NanoEdge bezel yang tipis sekali di sisi kiri kanan dan atas, membuat ASUS Vivobook A405 ini memiliki dimensi lebar dan panjang yang sama dengan Zenbook UX410. Sama-sama laptop berlayar 14 inci dengan body 13 inci nih, compact, dengan screen to body ratio yang mencapai 78%, keren kan?

Layarnya sendiri masih beresolusi HD pada dimensinya yang 14 inci ini ya.

Memang selain lid-nya tadi, body dari laptop ini sisanya masih berbahan plastik. Layout keyboardnya sama persis dengan milik Zenbook UX410, di mana tombol navigasi seperti home, end, page up dan page down digabung dengan tombol panah arah dan harus diakses via Fn key. Jadinya butuh sedikit penyesuaian buat mereka yang terbiasa menggunakan keyboard dengan layout lengkap. Pada Vivobook A405 ini tidak terdapat bakclight pada keyboardnya. Tuts-tuts keyboardnya sendiri empuk dan nyaman digunakan.

Touchpad berukuran besar dengan finishing yang kesat, membuatnya cukup enak digunakan tanpa mouse.

Oh ya, bobotnya hanya 1,3 kg lho. Dengan ketebalan total yang hanya 18,8 mm saja, menjadikannya sangat compact dan ringan untuk dibawa-bawa berkegiatan di luar rumah.



Lalu kita akan bahas ada apa saja di bagian bawah laptop ini. Di sisi depan tidak terdapat apa-apa, sementara di sisi belakang terdapat exhaust atau buangan panas dari laptop ini. Di sisi kanan secara berurutan terdapat port kensington lock, dua buah port USB 2.0, port audio combo 3,5 mm, slot SD-card reader, dan dua buah lampu indikator. Sementara di sisi kiri terdapat port untuk AC power input,  RJ45 LAN port, HDMI, sebuah port USB 3.0 dan port USB Type-C 3.1. Cukup lengkap ya port-nya, masih terdapat port untuk kabel LAN, walau sudah tidak ada port untuk display VGA.

Saya sendiri kurang tahu apakah ada slot untuk SSD M.2 pada Vivobook A405 ini. Untuk mengakses RAM dan lain-lainnya, tidak ada bay khusus yang dapat dibuka dengan mudah, alias kita harus mencopot keseluruhan sisi bawah laptop ini jika ingin menambah kapasitas RAM-nya.

Dengan spesifikasi seperti ini, yang mana sama persis dengan laptop saya sebelumnya, performanya sudah cukup banget untuk membuat konten yang selama ini saya publish di YouTube. Tapi memang sih kalau mau lebih enak lagi, di laptop lama saya melakukan upgrade dengan menambahkan SSD untuk drive system, dan RAM sudah digandakan menjadi 8 GB.

Nah, ASUS Vivobook A405 ini kan hadir dengan bundling Endless OS, apa sih sebetulnya Endless OS ini?

Jika melihat penjelasan di situs resminya, Endless OS ini adalah sistem operasi berbasis Linux yang diperuntukkan bagi kebutuhan pelajar. Dengan biaya gratis, OS ini dapat digunakan untuk kegiatan belajar, sehingga diharap meringankan beban para siswa.

Saya sendiri menilai penggunaan Endless OS jauh lebih baik daripada laptop yang dijual dengan DOS saja. Sama-sama tak berbayar, laptop yang sudah menggunakan Endless OS bisa langsung digunakan dengan berbagai fitur yang dimilikinya.

Intinya sih gini, bayangkan kalau kita membeli smartphone ber-OS android. Begitu kita beli, sudah langsung bisa memilih aplikasi apa saja yang ingin diunduh dan digunakan. Kira-kira begitu jugalah Endless OS, di mana App Center-nya sudah memiliki banyak aplikasi yang segera dapat diunduh dan difungsikan.

Untuk Youtuber pemula seperti saya, tools-nya sudah cukup lengkap. Video Editor ada. Sound Editor juga ada, dan bahkan sebetulnya ini adalah Audacity yang memang biasa saya gunakan sehari-hari untuk merekam voiceover. Office, multimedia player, hingga browser sejuta umat, Chrome, semuanya ada.

Namun memang jika ingin memaksimalkan kemampuan Vivobook A405 yang sebetulnya memiliki spesifikasi yang sangat mumpuni untuk kebutuhan membuat konten, kita bisa menginstall Windows secara paralel. Saya sendiri memang masih sangat menggantungkan aktifitas dan pekerjaan saya pada OS besutan Microsoft ini sih hehehe.

Overall, Endless OS akan sangat membantu apabila Anda belum memiliki budget untuk membeli Windows, dan ingin menggunakan laptop Anda dengan fungsi penuh, bukan hanya DOS doang.

Nilai positif saya berikan untuk Vivobook A405 dalam hal looks, size-nya yang compact, serta build quality yang terasa jempolan. Spesifikasi sudah mumpuni, walau masih perlu diupgrade kapasitas RAM-nya, dan semoga saja ada slot SSD agar lebih wuss wuss lagi performanya.

Untuk urusan harga, 8-jutaan untuk menebus Vivobook A405 ini mungkin tak membuatnya menjadi yang terbaik dari segi price-to-spec comparison. Tapi anggaplah itu harga yang harus dibayarkan untuk mendapat ukuran yang minimal, serta finishing yang menjadikannya terlihat cukup premium ini. Jika Anda punya budget sedikit lebih besar dan tak masalah dengan ukuran yang lebih besar juga, mungkin bisa melirik Vivobook S ya, spesifikasinya kurang lebih setara, namun sudah memiliki SSD.

Namun yang pasti, berkat mencoba Vivobook A405 ini, saya bisa mantap memutuskan untuk meminang Zenbook UX410 sebagai daily driver saya selanjutnya. Hehehe.

Ok, demikian ulasan singkat tentang ASUS Vivobook A405 dari mata saya yang sehari-harinya lebih banyak mengulas smartphone ini. Dari Kota Cimahi, saya pamit undur diri, wassalam!

Thursday, November 23, 2017

Review Lenovo P2 Indonesia, Monster yang Terlupakan

review Lenovo P2 Indonesia


Lenovo P2 atau yang di Indonesia dinamakan Lenovo P2 Turbo ini adalah monster yang terlupakan. Kenapa saya bilang begitu? Mungkin pertanyaan ini akan terjawab jika kita absen dulu spesifikasi teknisnya ya.


  • Processor? Snapdragon 625.
  • Baterai? 5.100 mAh.
  • Layar? 5,5 inci, resolusi full HD, panel Super AMOLED!
  • RAM? 4 GB.
  • Storage? Versi yang dijual di Banggood ini 64 GB, sementara versi resmi di Indonesia storagenya 32 GB.
  • OS? Sudah dapat update tuh ke Android 7.0 Nougat.
  • Fingeprint scanner? Ada, di dagu ponsel pula posisinya.


Oh iya lupa, NFC juga ada euy! Paket komplit banget deh pokoknya. Monster kan?


Lalu pertanyaannya, kenapa monster terlupakan? Saya sih cuma bisa jawab satu, harga.

Lenovo P2 Turbo dijual di harga 4,5 jutaan saat rilis resmi di Indonesia. Dengan harga segitu untuk brand Lenovo yang lebih dikenal dengan produk-produk ekonomisnya, orang sudah keburu berpaling duluan. Padahal Lenovo bukan tanpa alasan mematok harga segitu lho. Cek lagi deh daftar absen yang tadi sudah kita lakukan, heuheu.

review Lenovo P2 Indonesia


Nah, good news datang dari Banggood. Lenovo P2 ini di sana dijual pada harga ga jauh-jauh dari $200 atau jika dirupiahkan masih di bawah 3 jutaan. Jomplang ya, apalagi yang dijual di Banggood storage-nya 2x lipat dari yang dijual Lenovo Indonesia.

Jadilah Lenovo P2 ini sebagai salah satu smartphone dengan value yang sangat baik jika dibandingkan dengan bandrolnya saat ini.

Memang sih setup kameranya belum kekinian, alias tak punya kamera ganda. Tapi hasil jepretannya tak bisa dipandang sebelah mata. Untuk kebutuhan foto sehari-hari mah sudah cukup banget. Apalagi untuk kebutuhan fotografi outdoor, bisa jadi kepake banget lah.

Memang lowlights-nya tak begitu istimewa. Tapi setidaknya warna-warna yang dihasilkan cukup akurat, serta performa dalam pengambilan gambar juga baik. Fokus jarang meleset, kunci fokus cepat, dan pengambilan gambar juga memakan waktu singkat.

Digunakan merekam video juga masih oke. Warna mampu ditangkap dengan baik, dengan framerate yang cukup agar hasilnya tak terlihat patah-patah. Untuk masalah stabilisasi sih saya nilai standar saja, cukup untuk membuat kita menikmati momen yang kita rekam.

Seperti biasa, silakan dinilai langsung pada foto dan video berikut ini ya.

Saya ngga yakin kalo saya masih harus menjelaskan detail dari Lenovo P2 ini. Ya, angka-angka pada spesifikasi yang di awal saya sebutkan sudah berbicara sendiri.

review Lenovo P2 Indonesia


Snapdragon 625 sudah sangat lumrah digunakan di berbagai smartphone kelas menengah ke atas. Performa tidak ada masalah. Konsumsi daya baterai apalagi, sudah mah terkenal irit, dijejali baterai kapasitas jumbo, jadilah minimal 2 hari sekali saya baru ngecas. Dan lagi suhunya ngga gampang panas, gamer kayanya bakal betah pakai Lenovo P2 ini.

review Lenovo P2 Indonesia


Dipakai untuk kebutuhan multimedia juga Lenovo P2 ini asyik. Layar kinclong, gonjreng, tajam, dan ukuran yang besar, enak banget buat nonton video mah. Loudspeaker-nya juga jernih, walau tidak bisa masuk ke golongan speaker yang powerful.

Fingerprint scanner-nya responsif, walau untuk urusan akurasi bisa dikatakan sedikit kurang. Terkadang saya harus menyentuhkan jari 2-3 x untuk mencari posisi yang pas agar pemindaian berhasil.

review Lenovo P2 Indonesia


Susah cari minus dari ponsel ini? Tidak juga. Baterai besar pasti punya konsekuensi di bobot yang ekstra juga. Di sinilah kurang nyamannya Lenovo P2 terasa. Ukuran bulky serta cukup berat, membuat saya banyak berpikir-pikir apakah akan lanjut saya pakai terus atau tidak.

Dan pada akhirnya saya memutuskan untuk melepasnya, karena ponsel yang compact bagi saya lebih nyaman dibawa-bawa.

review Lenovo P2 Indonesia

review Lenovo P2 Indonesia


Selain itu desain dari Lenovo P2 ini terasa biasa saja. Sebetulnya kalo diperhatikan bagian pinggirannya hingga ke grille speaker-nya sih, macho. Tapi overall harus diakui desainnya standar-standar saja.

Tapi seandainya saya hanya punya uang 3-juta Rupiah, dan harus membeli smartphone dan tak boleh gonta-ganti dalam kurun waktu yang lama, saya takkan ragu untuk menjadikan Lenovo P2 ini sebagai pilihan.

Link pembelian Lenovo P2 ada di sini ya.

review Lenovo P2 Indonesia


Ulasan dari Lenovo P2 saya akhiri di sini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review Smartband LYNWO M2S Pro, Layar Warna yang Terjangkau!

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Kalau tak salah, LYNWO M2S Pro ini adalah smartband ketiga dari Lynwo yang saya coba. Sebelumnya saya pernah coba Lynwo M4 dan M6. Ketiga-tiganya memiliki fitur heartrate sekaligus blood pressure counter. Dan ketiga-tiganya pula saya dapatkan dari Banggood.com.

Jika saya perhatikan, brand Lynwo ini nampaknya rajin mengeluarkan produk smartband kesehatan dengan harga yang cukup terjangkau. Dalam pantauan saya produk Lynwo termahal tak sampai $35 lho.

M2S Pro saat ini dijual dengan harga $25 saja. Hanya lebih mahal $2 dari Lynwo M6 yang saya coba beberapa waktu lalu. Sama seperti M6, Lynwo M2S Pro ini juga memiliki kemampuan mengukur blood oxygen.

Perbedaan utamanya adalah Lynwo M2S Pro sudah memiliki layar yang berwarna. Sehingga terlihat lebih fancy. Desainnya secara keseluruhan juga lebih trendy dari M6. Tapi saya ingat, desain ini mirip dengan milik Zeblaze Zeband 2 yang pernah saya ulas tahun lalu.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Lynwo M2S Pro dikemas dalam kotak kemasan yang tergolong sangat sederhana, sesuai lah dengan harganya. Di dalam paket penjualan hanya terdapat smartband dan leaflet manual-nya saja. Lho, koq tidak ada kabelnya ya? Tenang dulu, ini karena Lynwo M2S Pro memiliki konektor USB 2.0 di salah satu ujung yang menancap ke dalam strapnya.

Saya suka sih dengan konektor seperti ini, jadi untuk charge tinggal colok, entah itu ke laptop atau ke kepala charger. Ga usah bawa-bawa kabel atau dock tambahan. Tapi memang bikin khawatir strap-nya akan cepat longgar euy, hehehe.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Strap yang saya dapat kali ini berwarna ungu. Gimana, unyu ngga? Hahaha. Biar ga bosen hitam atau hijau terus nih. Di Banggood sendiri ada dua pilihan warna lain yaitu navy blue dan hitam. Finishingnya lembut di tangan, dan cukup lentur walau masih terasa sedikit plasticky. Ujung strap memiliki lubang untuk memasukkan strap lainnya, dan dikunci dengan pengait logam. Klop, ini saya suka.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Fiturnya sendiri masih sama dengan Lynwo M6, dari layar utama yang berisi jam dan tanggal serta indikator baterai dan koneksi bluetooth, kita dapat menyentuh satu-satunya tombol navigasi untuk berpindah menu. Menu selanjutnya adalah pedometer, pengukur kalori terbakar, pengukur jarak, dan pengukur kualitas tidur. Selanjutnya ada penghitung detak jantung, kadar oksigen darah, dan tensi atau tekanan darah.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Dua menu terakhir ada find phone dan power off. Terasa membosankan memang buat saya yang mencoba beberapa smartband tapi menunya itu-itu lagi.

Accelerometer hadir untuk membuat layarnya menyala saat kita memutar pergelangan tangan. Fitur ini baru bisa aktif setelah kita melakukan pairing dengan aplikasi FitCloud di smartphone. Sayangnya, tidak semua notifikasi aplikasi dapat diteruskan ke smartband ini.

Daya tahan baterai Lynwo M2S Pro ini sedikit lebih boros dari Lynwo M6, yang kemungkinan besar adalah efek dari penggunaan layar berwarna. Dalam satu hari penggunaan dengan kondisi terkoneksi ke smartphone, kadar baterai bisa berkurang 25-30%.

Dan meskipun terkena air tidak masalah, namun penyakit layar mengembun yang pernah hadir di Lynwo M4, kambuh di M2S Pro ini walau memang tak separah dulu.

Dengan harga yang jika dirupiahkan hampir mencapai 350 ribuan, menurut saya Lynwo M2S Pro ini cukup patut dimiliki. Selain layar berwarna, strap yang ramah kulit, ada juga fitur kesehatan yang cukup lengkap, walau untuk akurasi hasilnya masih sangat bisa diperdebatkan ya.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Colokan USB 2.0 membuatnya praktis saat hendak diisi ulang dayanya. Sementara ketahanan baterainya sendiri buat saya tidak cukup untuk membuatnya menjadi pilihan utama.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Sip, segitu aja yah ulasannya. Ini adalah link pembelian LYNWO M2S Pro yang termasuk produk best seller lho di Banggood.

Dari Kota Cimahi saya pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, November 21, 2017

Review Vernee M5, Lumayan (Pake Banget)



Mungkin tak ada akan ada yang tertarik dengan Vernee M5 saat orang sedang browsing-browsing smartphone yang dijual oleh GearBest.com.



Wajar, ponsel ini tak membawa gimmick apa-apa seperti kebanyakan smartphone Android dari brand Tiongkok di sana saat ini.

Lalu apa dong yang membuat saya tertarik untuk mengulasnya? Yakin mau tahu? Ngga takut keracunan? Haha, ya sudah, racun ditanggung sendiri ya. Lanjut!

Smartphone ini mungkin akan banyak dilewatkan orang. Ya bagaimana tidak, desainnya sederhana alias simple banget walau sudah menggunakan bahan metal dan juga punya pilihan warna biru. Kamera belakang maupun depannya masing-masing cuma ada satu. Boro-boro punya layar bezeless atau ala-ala infinity display, ini saja layarnya hanya beresolusi HD 720p dengan dimensi 5,2 inci.

Eits, kalo mendengar 5,2 inci harusnya sudah pada dapet clue dong kenapa saya tertarik menguji Vernee M5 ini?

Yap, dimensinya cukup compact. Selain itu, ini adalah ponsel Android termurah yang saya temukan sejauh ini, yang sudah memiliki RAM 4 GB, storage 64 GB, koneksi 4G dan OS Android 7.0 alias Nougat. Harganya di GearBest hanya $110 saja, alias kalo diRupiahkan ya 1,5 juta lah.

Sudah lebih dapat pencerahan kan tentang apa value dari Vernee M5 ini? Yap, harga murah, tapi menang banyak.

Dan asal tahu saja, pada harga segini, kameranya sudah 13 Megapixels di belakang, dan 8 Megapixels di depan. Hasil fotonya gimana? Gimana ya, dibilang standar sih ngga, karena saya tahu harganya murah, ekspektasi saya di awal sudah dipasang pada titik yang cukup rendah duluan. Nyatanya, hasilnya bagus koq untuk ukuran harga segini. Tapi kalo dinilai overall sih ya sebatas lumayan aja sih.

Cahaya ideal hasilnya tidak ada masalah, lowlights pun masih kepake sih, ya kan ga bisa ngarep kece-kece amat juga dari hape kamera sejutaan begini. Dipakai rekam video juga hasilnya ngga bikin pusing lho, padahal saya rekam pada Hari Minggu, dari samping pak kusir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya.

Halah haha.

Memang manual mode tidak ada, serta pengambilan fokus harus ekstra hati-hati. Cukup sering meleset fokusnya, dan kalau tangannya goyang ya gitu deh.

Segimana lumayan? langsung saja cekidot!



Dapur pacu Vernee M5 menggunakan Mediatek MT6750 yang merupakan processor Octa-core Mediatek dengan clockspeed 1,5 GHz saja. Dipakai bermain game dengan grafis ringan pun sudah kerasa beda, mungkin karena pada saat yang bersamaan saya pakenya Huawei P10 kali yah.

Konsumsi baterainya menurut saya oke. Di mana di saat idle, daya yang digunakan sangat sedikit, jadinya 24 jam dapat ditembus dengan mudah. Namun memang saat kita aktif mengoperasikan ponsel ini, semisal main game terus di akhir pekan, paling setengah hari juga sudah minta mimik ni hape.

Layarnya sendiri masih sangat enjoyable, reproduksi warna yang terlihat seperti aslinya, tidak pucat, ketajamannya pun cukup.

Lalu gimana dong kesimpulannya, worth it ga?


Apa Kata Aa tentang Vernee M5

Saya sih bisa bilang worth it, namun saya juga takkan sampai hati menjadikannya ponsel utama. Memang, Vernee M5 memiliki price-to-spec comparison yang sangat baik, tapi ya secara kualitas sih hanya masuk ke level lumayan, emmmm.. pake banget deh. Lumayan banget! yak! ini baru pas, hahaha.

Oya, sejak unboxing hingga selesai proses review, update OTA datang bertubi-tubi ke ponsel ini. Kayanya 5x mah ada lah. Kalo mau positif thinking, ini artinya ponsel ini diperhatikan sama developernya, tiap ada bug, langsung diperbaiki. Tapi ya tetep aja artinya masih ada bug hehehe.

Paling cocok sih ini ponsel dijadikan hape kedua, ukuran compact, storage gede, sinyalnya bisa 4G-3G barengan, batre juga ga boros, dan yang paling penting sih harganya, masuk banget di kantong.

Kamu yang tertarik, langsung aja cek link penjualan Vernee M5 di GearBest ini yes!

Singkat saja ulasan dari Vernee M5 ini, semua adegan pada video ini diambil di kampung halaman tercinta ya. So, dari Kabupaten Garut, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL. Multimedia OKE, Selfie... Hmmmm...



Banyak orang yang mungkin menyangka ASUS ikut-ikutan menelurkan sebuah smartphone khusus selfie. Padahal, Zenfone 4 Selfie Pro ini adalah penerus dari Zenfone Selfie yang sudah pernah hadir sebelumnya. Hayo, masih inget ngga dengan smartphone yang satu ini? Yap, desainnya khas ya, senada dengan Zenfone generasi pertama dan kedua, ASUS banget. Dan malah Zenfone 4 Selfie PRO menurut saya kurang punya jatidiri dari masalah desain, selain warna merah-nya yang lekat dalam ingatan. Eh tapi, kayanya saya sudah sering ya review smartphone merah begini? Hehe.


Unboxing & Desain ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL




Ya, dari masalah desain, sebetulnya tak ada yang salah dengan ASUS Zenfone 4 Selfie Pro, termasuk yang berwarna merah yang saya ulas ini. Terasa mainstream memang, tapi tak ada yang akan menyangkal bahwa smartphone ini kece abis. Dimensi layarnya yang 5,5 inci tak begitu terasa saat kita menggenggamnya berkat bezel kiri dan kanan yang minim sekali. Ketipisan ponsel ini pun semakin menambah nilai plus dalam hal estetika desainnya. Dibalut body full metal dengan bagian depan berlapis Gorilla Glass 4 bertepian 2.5D, ini adalah ponsel ASUS yang paling kekinian saat ini.

Sedikit kekurangan dari desain ASUS Zenfone 4 Selfie ini adalah bagian jidat yang terlalu lebar, serta kamera belakang yang sedikit menonjol dan hanya memiliki satu buah LED Flash saja.

Satu hal yang saya senangi adalah sejak Zenfone 4 Max lalu, ASUS sudah memindahkan posisi fingerprint scanner ke sisi depan, tepatnya di dagu ponsel. Dengan akurasi dan respon time yang sangat baik, saya jadi betah menggunakannya sejauh ini.

Beberapa waktu lalu saya sempat melakukan unboxing sebuah ponsel selfie, dan orang-orang pada mencibir, bodynya plastik lah, layarnya ga Full HD, terus chipsetnya Snapdragon seri 4, bukan 6. Nah, Zenfone 4 Selfie Pro hadir menjawab itu semua, body full metal berkualitas, layar Full HD dengan panel AMOLED, dan chipset kesayangan kita semua, Snapdragon 625. Hayo, pada beli ga? Jangan alesan mulu deh, hahaha.


Harga & Spesifikasi ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL

Ya memang sih untuk bisa menentukan apakah ponsel ini harus dibeli atau tidak, perlu dibandingkan antara value dengan harganya. Dan harga resmi dari Zenfone 4 Selfie Pro ini adalah Rp 4.999.000,-, hmm cukup premium ya harganya. Pada harga yang kurang lebih sama, saat ini Anda bisa membeli Zenfone Zoom S yang sudah turun harga, tinggal lihat butuhnya dua kamera di depan atau belakang hehehe.

Oh ya, Zoom S punya baterai yang lebih besar ya. Zenfone 4 Selfie Pro sendiri memiliki baterai 3.000 mAh yang hampir selalu pas dipakai 24 jam. Dibilang boros ya ngga, tapi dibilang hemat juga rasanya Snapdragon 625 biasanya mampu bertahan lebih lama dari ini. Bisa jadi, konsumsi daya ini banyak dipengaruhi oleh real-time-nya semua notifikasi masuk ke ponsel ini. Dan bagi saya, notifikasi yang realtime jauh lebih penting dari baterai yang tembus dua hari sih.

Performa Snapdragon 625 sendiri rasa-rasanya sudah banyak yang tahu ya, dipakai berbagai kegiatan lancar-lancar saja, gaming juga mumpuni. Walau kalau dilihat dari proses benchmarking 3D di Antutu, ada scene-scene yang terlihat jelas beda smooth-nya saat dibandingkan dengan Snapdragon seri 8, semisal 820, 821, atau bahkan 835.


Multimedia & Kamera ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL

Sebagai multimedia player, Zenfone 4 Selfie Pro adalah andalannya. Layar vivid berkat panel AMOLED, kerapatan yang sangat cukup, dilengkapi dengan hi-res audio yang disandangnya. Outputnya loudspeakernya saat memutar lagu dengan volume maksimal sangat powerful menurut saya, walau memang untuk clarity terbaiknya ada pada level volume sekitar 70%. Disambungkan dengan earphone berkabel, Zenfone 4 Selfie Pro mampu men-drive-nya dengan baik untuk menghasilkan audio yang saya inginkan. Good job, ASUS!

Panjang lebar membahas ponsel yang memiliki nama Selfie ini, koq dari tadi belum bahas kamera ya? Aahahaha... Lupa euy! Hayu lah kita bahas sebelum masuk ke kesimpulan.

Ternyata walaupun statusnya adalah ponsel Selfie, ASUS masih membekalinya dengan kamera belakang beresolusi 16 Megapixels yang sangat bisa diandalkan. Somehow saya malah masih lebih suka hasil kamera belakang ini daripada kamera selfie-nya. Coba lihat foto yang saya ambil dalam kondisi lowlights yang ada pada video review di bawah ini, Anda akan tahu mengapa saya menyukainya.



Sementara di kondisi ideal, kamera belakang ini mampu memberikan performa yang baik saat pengambilan gambar, di mana fokus dapat terkunci dengan cepat, dan penyimpanan gambar pun berlangsung dengan singkat. Saat digunakan merekam video, hasilnya cukup dapat diandalkan walaupun stabilization-nya ngga bagus-bagus amat.

Malah saya merasa stabilization di kamera depannya yang di atas rata-rata mah. Cocok buat daily vlogger jadinya ya. Lihat deh perbandingan hasil perekaman video dengan kamera depan dan belakang pada video review di atas.

Nah, untuk kebutuhan selfie sendiri, kamera depan smartphone ini memiliki resolusi 24 Megapixels hasil dari teknologi duo pixel dari 12+12 Megapixels. Saya sendiri tak terlalu paham bagaimana teknologi ini bekerja, yang pasti hasilnya di kondisi ideal sih oke banget. Satu lensa lagi yang di atas kertas beresolusi 5 Megapixels adalah lensa wide. Kita dapat melakukan selfie rame-rame alias wefie dengan lensa ini, namun gambar yang dihasilkan hanya beresolusi 4 Megapixels saja. Untuk kondisi lowlights, meskipun sudah dilengkapi dengan front LED Flash, saya merasa hasil fotonya kurang natural. Umumnya hasilnya overexposure, dengan ketajaman yang terlihat jelas berkurang. Semoga ini bisa diperbaiki dari sisi software ya.


Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL

Menurut saya, banyak sekali highlight positif yang bisa diberikan kepada ASUS Zenfone 4 Selfie ini. Wajar sih kalo melihat harga jual resminya yang hampir 5 juta Rupiah itu. Tapi saya sudah carikan di beberapa toko online sudah banyak yang menjual lebih murah dengan selisih harga yang lumayan, Anda boleh cek link di deskripsi video ini untuk menuju ke sana ya.

Highlight positif layak diberikan pada looks dan build quality, kemampuan multimedia baik visual maupun audio, kemampuan fotografi hingga performanya dalam keseharian. Tak lupa juga apresiasi harus saya berikan pada ZenUI versi 4.0 yang terlihat makin clean, makin sedikit bloatware, dan icon-icon yang makin distinctive.

Dua hal yang saya suka dari sisi software adalah ASUS selalu memberikan pilihan untuk mengutilisasi tombol fisiknya. Kebiasaan saya setiap menggunakan smartphone ASUS adalah menjadikan tombol recent apps sebagai shortcut untuk melakukan screenshot dengan long tap. Sementara fitur Always on Panel terkadang saya gunakan saat ingin selalu terupdate dengan jam dan notifikasi saat saya sibuk bekerja dan meletakkan ponsel ini di atas meja. Ya, panel AMOLED membuat fitur ini mungkin untuk dinyalakan terus tanpa mengonsumsi banyak daya.

Sedikit yang mungkin cukup menjadi deal breaker adalah faktor harga yang terasa cukup tinggi, setara harga Zoom S sekarang, namun cukup jauh di atas Zenfone 3 yang merupakan ponsel andalan ASUS tahun lalu. Dan dengan harga setinggi ini serta informasi seri Zenfone 4 yang dirilis saat launching, besar kemungkinan ASUS takkan memasukkan Zenfone 4 versi standar ke Indonesia, padahal itu yang saya tunggu-tunggu.

Apakah benar seperti itu? Kita tunggu saja bersama-sama hehehe.

Sekian review kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, November 13, 2017

Review ASUS Zenfone 4 Max 5,2 inci (ZC520KL) Indonesia



Tadinya saya berpikir untuk apa sih ASUS merilis Zenfone 4 Max ZC520KL ini, padahal sudah ada Zenfone 4 Max Pro ZC554KL. Namun rupanya ASUS tak hanya sekedar melengkapi jajaran smartphone tahun ini di berbagai level harga, banyak pula value lain yang dihadirkan pada smartphone yang dijual pada harga resmi RP 2.299.000 ini. Apa saja kira-kira? Mendingan ga usah ngira-ngira deh, ditonton aja terus videonya yah, hehehe.



Pertama saya baru sadar bahwa Zenfone 4 Max ini adalah versi compact dari varian Max Pro. Ya, dimensi layar smartphone ini adalah 5,2 inch, yang menurut preferensi pribadi saya adalah ukuran paling ideal agar tetap dapat digenggam dan dimasukkan ke dalam saku jeans dengan nyaman. Wajar pula jika dengan dimensi yang lebih compact, layarnya yang beresolusi HD 720p ini akan terlihat sedikit lebih tajam dari versi Pro-nya.

Perbedaan lain ada pada dapur pacunya yang menggunakan processor Snapdragon 425, yang meskipun seri angkanya lebih kecil dari Snapdragon 430 miliki Zenfone 4 Max Pro, justru sebetulnya dirilisnya lebih baru. Dan sesuai peruntukannya, processor ini menurut saya malah lebih hemat dalam konsumsi daya. Dengan kondisi banyak idle namun semua notifikasi email, messenger, dan social media tetap masuk, setelah 3 hari masih ada baterai tersisa.

Dengan dimensi yang menyusut, kapasitas baterainya memang sedikit turun juga ke 4.100 mAh. Namun dengan processor yang hemat daya dan juga berbagai battery saving mode yang dimiliki ponsel ini, saya rasa tujuan ASUS menghadirkan lini Max sebagai jajaran smartphone dengan ketahanan baterai yang istimewa dapat terpenuhi pada Zenfone 4 Max 5,2 inci ini.


Kamera ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Pada beberapa post hasil fotonya yang saya unggah di Instagram, beberapa orang berkomentar bahwa hasil kameranya terasa lebih baik dari Zenfone 4 Max Pro. Dan saya pun memiliki perasaan yang sama, sayangnya Tatjana Saphira sih ga punya perasaan apa-apa sama saya. Lha koq malah melenceng haha, maksudnya saya setuju dengan komentar di Instagram tadi ya. Entah kenapa memang terasa lebih baik detail foto yang dihasilkan oleh Zenfone 4 Max 5,2 inci ini.

Dalam kondisi pencahayaan ideal, lensa kedua yang memiliki setup wide dan resolusi 5 Megapixel ini memiliki hasil yang sama baik dengan lensa normal yang beresolusi 13 Meapixels, bahkan kadang lebih detail. Tapi saat digunakan di kondisi lowlights, saya sarankan pakai lensa normal saja, nanti Anda akan tahu kenapa, hehe.

Kamera depan adalah salah satu yang mengalami down-spec, di mana resolusinya hanya 5 Megapixels saja, tak lagi 8 Megapixels seperti pada Zenfone 4 Max Pro. Namun ASUS tak pelit, dan tetap membekalinya dengan LED Flash untuk selfie.

Untuk perekaman video, Zenfone 4 Max sudah memiliki EIS untuk membantu hasilnya agar terlihat lebih stabil. Jika fokusnya loncat-loncat, Anda bisa menyentuh objek di layar untuk menguncinya, dengan begini hasil video lebih stabil menurut saya.

Mari kita saksikan seperti apa hasil kameranya yuk!




Sudah lihat hasil foto dan videonya? Bagaimana menurut Anda kualitasnya? Sepadan tidak dengan harga jualnya? Silakan tulis di kolom komentar video ini ya.


Desain & Looks, ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Berbicara soal desainnya, saya cukup senang dengan pembaruan yang ASUS lakukan pada semua jajaran Zenfone 4 series, tak terkecuali Zenfone 4 Max ini. Sisi depannya menjadi favorit saya, entah kenapa looks-nya terasa unik, antara macho tapi ada imut-imutnya haha.

Highlight positif saya berikan untuk fingerprint scanner yang posisinya sudah enak banget di sisi depan, dengan akurasi jempolan, dan waktu respon yang lumayan cepat. Tepian layar 2,5 D juga membuat ponsel ini ramah di kulit. Penilaian minus saya berikan untuk tombol kapasitif yang tak memiliki backlight, serta kamera depan yang secara fisik terlihat ukurannya kecil sekali, terlihat kurang meyakinkan jadinya.

Oh ya buat yang bertanya apakah ponsel ini memiliki LED Notification, jawabnya ada. Posisinya ada di pojok kiri atas sisi depan ya.

Beralih ke bagian samping dan belakang, Zenfone 4 Max dibalut dengan backcover unibody yang mengusung desain metal looks. Ya nampak seperti berbahan logam, namun sejatinya bahannya plastik solid dengan tepian membulat yang tak menyisakan sudut. Ergonomis di tangan, dan dengan finishing doff membuatnya tak mudah kotor.

Sejujurnya desain sisi belakang ini bukanlah favorit saya, walau warna deepsea black yang saya ulas ini memiliki warna hitam kebiruan yang cukup mempesona.

Setidaknya ASUS sudah melakukan hal yang tepat dalam menempatkan lubang speaker di sisi bawah. Suaranya lumayan bagus, tidak pecah saat di volume terkencang, namun terasa sedikit tertahan alias mendem. Anda perlu mengaktifkan mode outdoor supaya lebih lepas suaranya.


Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Dengan layar yang memiliki kecerahan dan reproduksi warna yang baik, Zenfone 4 Max ini juga bisa digunakan untuk menonton video atau streaming. Kebutuhan multimedia dapat diakomodasi dengan baik, terlebih storage 32 GB miliknya masih dapat ditambah micro-SD tanpa menganggu slot kartu sim.

Dengan harga yang lebih terjangkau, Zenfone 4 Max justru malah mampu mencuri perhatian saya dibanding versi Pro-nya. Dimensi 5,2 inci, kamera yang terasa lebih baik, baterai yang tetap awet, menjadikannya bernilai di atas rata-rata untuk harganya.

Tapi ya memang processor yang dimiliki smartphone ini bukan buat diajak gaming berat ya. Kalau untuk kebutuhan casual mah sudah cukup banget. Berbahagialah para driver transportasi online karena semakin banyak saja pilihan smartphone berbaterai besar di rentang harga yang cukup terjangkau.

Sip, itu saja yang dapat saya sampaikan mengenai Zenfone 4 Max ini. Dari Kota CImahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, November 7, 2017

Review Huawei Honor 9 Indonesia, Bingung Kurangnya di Mana



Mungkin ini adalah review smartphone yang paling banyak ditagihin seingat saya. Haha, pertama maafkan saya ya kalau keluarnya lama. Tapi yang nagih artinya belum kenal saya nih. Memang lama keluar review-nya kalau ponsel yang saya jadikan sebagai daily driver mah. Kan dinikmati dulu, haha. Ngga deng, seringnya justru lebih karena Huawei Honor 9 ini banyak cutinya, diem di dalam tas karena saya masih banyak PR review yang lain.

So, buat yang udah ga sabar nungguin, terima kasih ya sudah menunggu, dan ini dia review selengkapnya dari Huawei Honor 9.



Perkenalan pertama saya dengan seri Honor dimulai dari Honor 8 yang sukses berat membuat saya ingin berhenti gonta ganti hape waktu itu. Suatu hari saya mempunyai rizki lebih dan ingin memiliki sebuah daily driver lagi, waktu itu pilihan saya adalah LG G6 atau Honor 9. Dengan selisih harga termurah antara keduanya di tokopedia yang mencapai 1,2 jutaan untuk varian RAM dan Storage yang sama, akhirnya saya memilih Huawei Honor 9 di Tokopedia dengan pertimbangan harga, nostalgia, dan ketakutan akan layar 2K milik LG G6 yg saya khawatirkan akan menguras baterai.

Dari sisi desain, Honor 9 menurut saya masih juara banget. Backcover dengan refleksi cahaya yang indah masih hadir, dan kali ini semakin indah dengan backcover yang melengkung sehingga lebih ergonomis dari Honor 8 lalu. Posisi fingerprint scanner juga sudah semakin baik, tak lagi di punggung ponsel, melainkan sudah di dagu.

Sayangnya, Huawei malah menempatkan dua buah tombol kapasitif di samping fingerprint scanner ini. Saya sendiri lebih prefer on-screen navigation soalnya. Dan kedua tombol kapasitif ini menggunakan ikon titik saja, karena memang bisa ditukar fungsinya, mau back di kiri dan recent apps di kanan, atau kebalikannya. Backlight ada sih di tombol ini, tapi buat saya yang sering gonta ganti hape dan gonta ganti layout tombol, ikon titik seperti ini sangat tidak membantu. Saat sedang tandem dengan Samsung yang tombol back-nya di kanan, di Honor 9 sering ketuker, lalu saat pindah tandem bareng ASUS yang tombol back-nya di kiri, koq masih aja sering ketuker juga ya hahaha. Intinya mah saya yang orangnya visual banget ini, lebih prefer penggunaan ikon yang sesuai action-nya daripada cuma titik saja.

Fingerprint scanner-nya sendiri nyaris datar dengan layar, hanya diberi list yang sedikit timbul dan membantu membedakan letaknya. Responsifitas dan akurasinya top class deh pokoknya. Dari ribuan kali pemindaian mungkin hanya 1-2 kali saja gagalnya, dan membuka layar dapat dilakukan secepat kilat, keren!

Speaker grille di sisi bawah sudah lebih lembut terasa di jari, walau kalau digesek-gesek mah masih terasa sedikit tajam, tapi sudah lebih baik dari Honor 8.

Sama seperti Honor 8, infrared blaster masih tetap hadir pada Honor 9 ini. Dan saya suka dengannya!
Huawei Honor 9 sudah menggunakan EMUI 5.1 berbasis Android Nougat 7.0. Notification drawer sudah digabung dengan toggles, sehingga awkward feeling di saat harus bergeser antara keduanya sudah hilang. Pada EMUI versi ini kita dapat memilih apakah mau menggunakan application drawer atau tidak. Yang paling saya rasakan perbedaannya sih Huawei semakin meningkatkan keamanan bagi pengguna, contohnya jika kita menggunakan keyboard dari pihak ketiga, Swiftkey misalnya, setiap kali mengisikan password, maka EMUI akan mengganti keyboardnya dengan keyboard bawaan, sehingga semakin memperkecil kemungkinan data password kita direkam oleh aplikasi lain yang tidak bertanggung jawab. Good job Huawei!

Sedikit kemunduran yang saya rasakan sih di EMUI 5.1 ini notifikasi terasa sedikit kurang realtime. Tapi memang baterai Honor 9 terasa lebih hemat dari Honor 8. Ya take and give lah jadinya heuheu.

Lanjut ke sisi kamera, kali ini dual-camera di sisi belakang Honor 9 memiliki setup normal dan zoom, tak lagi RGB dan monokrom seperti pada Honor 8. Dan entah kenapa saya merasa mode wide aperture-nya masih lebih baik pada Honor 8 dulu, mungkin memang setup RGB dan monokrom lebih cocok untuk bokeh-bokehan ya.

Dan saya masih sangat menikmati hasil dari kamera Honor 9 ini, foto-foto, bokeh-bokehan, lowlights, selfie, hingga merekam video, semuanya bisa dilakukan oleh Honor 9 dengan hasil yang baik. Bahkan pada beberapa event launching smartphone yang saya ikuti, saya merasa cukup mengambil foto dan video dengan Honor 9 dan tak perlu sampai mengeluarkan kamera mirrorless saya. Bahkan sebetulnya video hands-on kamera Canon EOS M6 saya itu direkam menggunakan Honor 9 ini lho, makanya saya bisa membandingkan dua buah mirrorless langsung padahal saat itu kamera saya cuma ada dua itu saja, heuheu.

Fitur kameranya sama seperti smartphone Huawei umumnya, lengkap dengan berbagai mode, dan pengaturan manual juga hadir.

Hasil lengkap foto dan video menggunakan Honor 9 dapat Anda saksikan di video review ini.



Oh ya, belum bahas dapur pacunya ya. Honor 9 menggunakan processor in-house Huawei, yaitu HiSilicon Kirin 960 yang juga digunakan oleh Huawei P10 dan P10 Plus. Skor Antutu-nya sudah tembus 100ribu, performanya smooth dan konsumsi baterainya tergolong awet, meski masih belum bisa seawet Snapdragon 821 dan 835.

Sepemakaian saya, rasanya tak pernah menemukan lag sama sekali. Rasanya memang duet processor buatan sendiri dengan OS yg juga dicustomized khusus untuknya adalah faktor di balik user experience tanpa cela ini. Dan sampai satu minggu sebelum naskah review ini saya tulis, saya masih mendapat update OTA di Honor 9 yang tujuannya meningkatkan keamanan dan daya tahan baterai, tinggal tunggu saja nih kebagian Android Oreo ngga ponsel ini.

Audio dari Honor 9 juga sangat enjoyable, walau cukup disayangkan kali ini speakernya hanya memiliki mono driver.

Saya sangat betah sebetulnya menggunakan Huawei Honor 9. Yang ngga bikin betah sih justru karena saya harus mencoba smartphone lain untuk saya review, dan itu kadang lebih dari satu dan membuat Honor 9 sering vakum jadinya. De javu, sama seperti pengalaman mengunakan Honor 8 dulu. Ya, cuma dua ponsel ini saja yang dalam satu tahun terakhir ini mampu bertahan hingga dua bulan dalam pemakaian saya. Nampaknya ada kutukan bahwa saya tak boleh punya daily driver nih, jangan-jangan gara-gara nama akunnya Gonta Ganti Hape ya, huhu serem ah...

Tentunya Honor 9 ini menonjol banget dari sisi looks dan estetika desainnya. Oh ya layarnya juga sangat indah memproduksi warna, walau entah kenapa saya merasa tidak seterkesima saat pertama mencoba Honor 8 dulu, mungkin efek kepuasan yang menurun karena sudah pernah kali ya. Tapi Honor 9 bukan hanya pesolek yang cantik di luar saja lho, jeroannya juga top class, performanya sangat baik dengan konsumsi daya yang masih tergolong awet.

Cukup sulit untuk mencari kelemahan dari ponsel ini selain masalah kebiasaan. Ya, saya masih lebih nyaman menggunakan on-screen navigation ketimbang tombol kapasitif berikon titik saja seperti ini. Sisanya mungkin faktor harga, ketersediaan produk, dan jaminan purna jualnya saja. Saat ini harga di toko online lokal masih cukup tinggi, dengan stok yang sedikit, dan tentu saja garansi resminya hanya berlaku di daratan Cina sana.

Saya sendiri menemukan harga Huawei Honor 9 di GearBest.com sudah turun cukup banyak, Anda bisa cek ketersediaan dan harganya di link yang saya berikan di deskripsi ya. Honor 9 ini sejatinya tersedia dalam pilihan warna Biru, Emas, Hitam, dan Abu-abu. Menurut saya selain warna Biru, yang abu-abu juga cukup memikat lho. Oh ya, selain versi RAM 4 GB dan storage 64 GB seperti yang saya ulas ini, Honor 9 tersedia dalam versi tertinggi dengan RAM 6 GB dan storage 128 GB juga lho.

Sip, demikian review dari Honor 9. Mohon maaf membuat menunggu lama hehe. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, November 6, 2017

Review Xiaomi Mi Note 3, Smartphone Xiaomi dengan Kamera Terbaik?



Banyak sekali yang menyayangkan kenapa Mi Note generasi terbaru malah menggunakan processor Snapdragon berkepala 6, dan bukan kepala 8 seperti sebelumnya.

Saya sih maklum saja, memang masih banyak yang hanya melihat angka saja, banyak pula yang main judge tanpa mencoba terlebih dahulu. Padahal kenyataannya, belum tentu seperti deretan angka yang bisa dilihat itu saja. Jadi apakah Xiaomi Mi Note 3 ini tak lebih baik dari pendahulunya? Baca terus ulasan ini ya.



Saya sebetulnya tak pernah mencoba Xiaomi Mi Note 2 yang menggunakan Snapdragon 821 itu. Tapi memang, Mi Note 3 ini seperti mendobrak kebiasaan seri Mi Note sebelumnya.

Pertama, layarnya tak lagi 5,7 inch, melainkan tinggal 5,5 inch saja. Dan dengan bezel pinggir yang terbilang tipis, Mi Note 3 ini enak banget digenggam dan dibawa-bawa lho.

Kedua, layar Mi Note 2 yang tepiannya ala-ala Edge-nya Samsung juga tak dipertahankan. Mi Note 3 cukup hadir dengan layar bertepian 2.5D saja.

Ketiga, ya itu tadi, Mi Note generasi ketiga ini memakai processor Snapdragon 660, padahal mungkin kebanyakan orang menyangka kalau Mi Note 3 ini akan menggunakan Snapdragon 835 jika menilik kebiasaan sebelumnya.

Bagi saya sendiri, Mi Note 3 ini lebih seperti Mi 6 dengan layar yang sedikit lebih besar dan body yang lebih tipis. Ya soalnya sama-sama memiliki kamera ganda di belakang, dan fingerprint berupa cekungan di dagu ponsel. Mungkin juga karena pilihan warnanya sama-sama ada hitam dan biru juga kali ya.

Jika disuruh memilih, dari sisi processor saya lebih condong ke Mi 6. Bukan karena Snapdragon 660 tak kencang, kalo soal ini mah tidak ada masalah koq, mau main game berat juga hayuk, skor Antutu benchmark juga masih tembus 100ribuan. Snapdragon 660 saya rasa tak sebaik processor Snapdragon 821 atau 835 dalam hal konsumsi daya baterainya. Rata-rata mampu menembus 24 jam memang tak boros, tapi juga tidak bisa dikatakan awet jika dibandingkan dengan Mi 6 yang mampu menembus 48 jam dengan kapasitas baterai setara.

Tapi dari sisi kamera, saya lebih suka dengan kamera Mi Note 3. Nampaknya klaim dari situs GizChina yang menyebut Mi Note 3 sebagai ponsel Xiaomi berkamera terbaik sejauh ini benar adanya. Bokeh dengan portrait mode-nya indah sekali, tidak ada kesan maksa atau tidak natural di sini. Lowlights oke, HDR pun mantap.

Video recording? dengan bantuan OIS 4-axis-nya, vlogging atau sekedar merekam kegiatan dalam keadaan bergerak pun terasa nikmat dan hasilnya pun memuaskan. Mending mana sama Mi Mix 2? Duh maaf-maaf aja, Mi Note 3 sih ngga bikin sedih hahaha. Kecuali satu deng, masalah perekaman audio masih sedikit kurang baik menurut saya.

Yuk kita buktikan kualitas kameranya melalui gambar dan video berikut ini!



Saat saya uji, Mi Note 3 ini masih menggunakan  MIUI 8.5 dan belum tersedia MIUI 9 meskipun versi beta. Dan saya sempat ilfeel dengan ponsel ini karena notifikasi telat parah. Email dari jam 12 siang tak masuk-masuk sampai jam 7 malam. Rupanya saya harus buka aplikasi Gmail-nya lalu refresh sendiri. Subhanallah!

Ya saya tahu, memang ada pengaturannya supaya aplikasi tidak ditutup saat kita melakukan clear recent apps. Ada juga pengaturan untuk autostart dan lain-lain. Tapi maaf, saya yang sehari-hari bekerja bareng android developer di tim, tahu persis apa itu yang namanya background service atau yang di Android dinamakan intent. Service-service ini seharusnya bekerja di belakang layar dan tidak diganggu dengan alasan apapun, walaupun itu untuk penghematan daya. Saya cuma bisa berdoa di MIUI 9, managemen aplikasi dan daya tidak separah ini membuat notifikasi telat ya, amin.

Satu hal positif lain pada Mi Note 3 adalah masih hadirnya infrared blaster pada ponsel ini. Tak seperti Mi Mix 2 yang ah sudahlah, hahaha.

Tapi memang, sama seperti Mi 6 dan Mi Mix 2, Mi Note 3 juga tak memiliki port audio 3,5 mm. Tapi sebuah adapter jack audio ke usb type-C ini disediakan di dalam paket penjualan, menemani sebuah softcase hitam semi transparan yang sangat tipis dan melekat dengan baik di ponsel ini. Semua seri Mi high-end tahun ini pada dapet case ya.

Gaming, browsing, streaming, dan multimedia semua mampu dilahap dengan baik dan sangat lancar. Nyatanya Snapdragon 660 bukanlah processor yang bisa dianggap sebelah mata meskipun tidak berawalan angka 8. Pada video unboxing memang banyak yang menyayangkan masalah ini, mungkin karena waktu itu harganya masih 11-12 dengan Mi 6 ya.

Tapi jika Anda coba cek lagi sekarang di link Xiaomi Mi Note 3 yang saya berikan ini, sudah terlihat pergerakan harganya diGearBest.com yang semakin menurun, dan sudah lebih murah dibandingkan Mi 6 lho.

Kesimpulan saya sih Mi Note 3 masuk ke smartphone yang direkomendasikan untuk dimiliki. Kameranya itu  lho, cetar banget euy! Tapi kalau Anda masih galau mau Mi Note 3 atau Mi 6, paling saya hanya bisa bilang jika mencari performa dan daya tahan baterai serta ukuran yang lebih compact, Mi 6 tetap jadi pilihan yang lebih baik. Tapi jika kamera lebih Anda utamakan, serta butuh layar lebih besar namun body lebih tipis, Mi Note 3 pantas untuk dimiliki.

Seperti biasa, intinya mah sesuaikan dengan kebutuhan ya. Kalau Anda lagi butuh buang-buang uang, tenang, ada Mi Mix 2 koq, hahaha.

Ok, gitu aja ya review dari Xiaomi Mi Note 3 ini. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Friday, November 3, 2017

Review Samsung Galaxy J7+ (J7 Plus), Kualitas Dual-Camera ala Samsung!



Setelah sekian lama, akhirnya saya berkesempatan mengulas kembali sebuah smartphone keluaran Samsung. Dan kali ini yang saya ulas adalah Samsung Galaxy J7 Plus. Plus-nya di mana? Simak terus ulasan ini sampai akhir ya.

Untuk tahu persis apa Plus-nya ponsel ini dari varian J7 yang lain, kita tak perlu mencoba semuanya lho. Cukup balikkan ponsel ini, lalu lihat ke bagian backcover-nya. Yap, di situ terdapat dua buah kamera, yang baru dihadirkan Samsung pada J7 Plus dan Note 8 sejauh ini.



Secara spesifikasi, kamera ini seharusnya mampu menghasilkan efek bokeh yang baik, serta memiliki kemampuan lowlights prima. Kenapa? Karena bukaan lensa alias aperture-nya yang mencapai F/1.7. Hmmm, asli bikin penasaran banget buat saya mencoba menjepret berbagai objek menggunakan kameranya.

Setup dual-kameranya sendiri adalah RGB dan Monokrom. Yang sudah-sudah, setup seperti ini mampu menghasilkan efek kedalaman yang lebih prima. Dan lagi, setelah gambar diambil pun kita bisa mengatur Depth of Field dan tingkat blur di sekitar objek yang mendapat fokus. Jadinya saat memotret, kita tinggal jepret-jepret saja dulu agar tak kehilangan momen, baru sesuaikan lagi hasilnya belakangan.

Kamera belakang beresolusi 13 Megapixels ini tentunya akan sangat cukup untuk mengabadikan kegiatan Anda untuk diunggah ke social media.

Beralih ke kamera di sisi depan Galaxy J7 Plus, Samsung membekali ponsel ini dengan kamera selfie beresolusi super besar di 16 Megapixels! Menggunakan bukaan lensa F/1.9, hasil fotonya tentu juga cerah. Selama proses pengujian, nampaknya saya harus merahasiakan keberadaan ponsel ini dari istri saya. Maklum, ga boleh denger kata Samsung, istri saya pasti mau, haha.

Terlebih, kamera depannya ini diperkaya dengan fitur-fitur seperti efek bokeh dan yang pasti wajib mah beautify ya. Mau lucu-lucuan? Stiker AR serta stamp bisa ditambahkan langsung saat pemotretan berlangsung. Dan jangan sampai lupa, di sisi depan juga diletakkan sebuah LED Flash untuk membantu pencahayaan saat selfie.

Panjang lebar membahas kelebihan kamera rasanya tak afdol ya kalau tidak lihat langsung hasilnya. Ya sudah, seperti biasa mari kita saksikan bersama deretan foto hasil jepretan saya menggunakan kamera dari Samsung Galaxy J7 Plus.



Selesai dengan kamera, kita lanjut ke bagian desain dan build quality yuk. Galaxy J7 Plus mengusung desain full metal unibody yang tipis di 7,9 mm saja. Meskipun berbahan metal, grip dari body ponsel ini  masih terasa solid lho.

Dengan pilihan warna black dan gold, Samsung memberikan pilihan warna yang dapat digunakan baik oleh pria dan wanita. Kita tunggu apakah akan hadir juga varian rosegold-nya atau tidak ya.

Di sisi depan, ponsel ini seperti ponsel mid-to-high Samsung lainnya, didominasi oleh panel layar Super AMOLED, yang sudah terkenal memiliki brightness, contrast, dan vibrancy yang baik. Vivid, satu kata yang mungkin paling mewakili karakter layar ini. Dengan resolusi Full HD 1080p pada dimensinya yang 5,5 inci, ketajaman layarnya dipastikan bisa dinikmati ketika memutar video, melihat galeri foto, maupun sekedar browsing ria di socmed.

Sekalian bahas soal multimedia, kita bahas juga audio-nya ya. Audio pada Samsung Galaxy J7 Plus terdengar cukup detail dan terkontrol dengan baik, walaupun mungkin bukan yang paling powerful yang pernah saya coba. Peletakan loudspeaker di sisi kanan atas cukup sesuai saat ponsel ini diletakkan berdiri secara landscape di meja. Namun saat dipegang tangan, semisal saat bermain game, cukup rentan tertutup telunjuk kiri bagi yang belum terbiasa.

Penempatan fingerprint scanner di sisi dagu ponsel sampai saat ini masih menjadi preferensi saya yang memang lebih sering meletakkan ponsel di atas meja. Dan so far, Galaxy J7 Plus memiliki akurasi serta waktu respon yang baik, serta dapat dioperasikan sejak layar dalam keadaan mati.

Saya sendiri lebih prefer untuk menggunakan fitur Always on Display pada J7+ ini. Berkat layar Super AMOLED yang memiliki kelebihan bisa mematikan penggunaan daya pada semua pixel berwarna hitam, saya bisa dengan tenang melihat berbagai notifikasi muncul pada layar ini tanpa khawatir akan banyak menyedot baterai. Dan jangan takut, LED notification masih hadir koq di sisi kanan atas bagian depan ponsel ini buat Anda yang tidak ingin menggunakan Always on Display.

Satu kekurangan yang sebetulnya tak terlalu mengganjal adalah absennya lampu latar pada tombol kapasitif di bawah layarnya. Oh ya, ada satu lagi yang membutuhkan adaptasi untuk saya, yaitu tombol fisik yang harus ditekan untuk berfungsi sebagai tombol home. Tapi ini faktor kebiasaan saja sih.

Dengan RAM sebesar 4 GB dan processor octa-core dengan clockspeed hingga 2,4 GHz, performa Galaxy J7 Plus bisa dibilang tak menemui kendala saat dihadapkan dengan multitasking maupun gaming. Ya, Helio P20 sejauh ini masih jadi favorit saya dari semua jajaran processor keluaran Mediatek. Performanya masih bisa diandalkan dengan baik, dan konsumsi dayanya masih sangat reasonable.

Dan dengan pemakaian casual, baterai 3.000 mAh yang disematkan pada ponsel ini, selalu bisa diandalkan dalam berkegiatan sehari-hari.

Samsung Galaxy J7 Plus memiliki dukungan frekuensi 4G yang sangat banyak. Ini adalah kabar baik bagi Anda pengguna operator Smartfren. Ya semua smartphone Samsung Galaxy seri J terbaru sudah mendukung penggunaan simcard dari operator merah ini. Ini cukup penting karena beberapa orang yang saya kenal selalu mensyaratkan support jaringan Smartfren lho saat hendak mencari ponsel baru. Hanya saja saya belum menemukan dukungan VoLTE pada smartphone ini, jadi masih perlu dicari tahu apakah support untuk sms dan voicecall menggunakan Smartfren atau tidak.

Masuk ke kesimpulan, secara umum Samsung Galaxy J7 Plus adalah satu dari sedikit ponsel Samsung yang sudah hadir dengan kamera ganda. Kamera ini membawa banyak fitur yang bisa Anda manfaatkan. Dan bisa Anda miliki dengan harga yang lebih terjangkau daripada satu ponsel berkamera ganda dari Samsung lainnya yang juga hadir baru-baru ini.

Titik fokus kelebihan dari ponsel ini ada pada build quality yang baik, finishing yang lembut dan memberikan grip yang baik, serta kamera belakang dan depan yang sama-sama baik hasilnya. Satu highlight khusus perlu diberikan pada kamera belakangnya yang sudah ganda, dan memiliki aperture yang besar.

Jangan lupakan masalah layar ya, bagi sebagian orang layar Super AMOLED adalah sebuah impian.

Kapasitas baterai sebetulnya cukup, namun melihat trend saat ini ada baiknya jika Samsung mulai mempertimbangkan untuk menambah kapasitas baterainya ya. Walau langkah yang diambil Samsung saat ini bisa dimengerti dengan maksud menjaga form factor smartphone ini agar tetap tipis seperti ini. Sisanya tak banyak komplain saya pada smartphone ini selain posisi loudspeaker yang butuh adaptasi dari pengguna baru seperti saya, dan faktor harga. Pada level harga hampir menyentuh angka lima juta, jadinya malah bersaing dengan jajaran smartphone Samsung lainnya dari A-series yang memiliki kelebihan pada ketahanan airnya.

Demikian review dari saya, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Review Infinix Note 4, Lebih Kece dari Note 4 Lainnya



Jika ada brand smartphone yang boleh disandingkan dengan brand yang mending-mending itu dalam hal inovasi dan price positioning, saya rasa Infinix adalah salah satunya. Dan kali ini Infinix memberikan kejutan melalui produk terbaru mereka, Infinix NOTE 4. Apa kejutannya? Lanjut..

Kejutan pertama dari Infinix NOTE 4 adalah harga jualnya saat pertama diluncurkan, yaitu sebesar Rp 2.049.000 saja. Anda boleh deh cek berapa harga Infinix NOTE 3 sang kakak, masih di kisaran 2,5 juta Rupiah lho. Apa namanya kalau bukan kejutan coba? Produk generasi terbaru, harganya malah lebih murah.

Nampaknya sih Infinix sadar perubahan strategi pricing mereka saat menelurkan Infinix NOTE 3, ZERO 4 dan 4 Plus, serta S2 Pro tidak terlalu tepat sasaran. Nyatanya Zero 4 dan S2 Pro sering sekali dijual di Lazada dengan diskon gila-gilaan. Padahal kalau dengan harga diskon seperti itu, Infinix S2 Pro bisa jadi hape sejutaan dengan kamera terbaik saat ini, depan belakang!

Dan saya cukup senang saat menemukan kualitas kamera Infinix NOTE 4 bisa dikatakan sebaik Infinix S2 Pro. Dari informasi yang saya dapatkan, Infinix memang sampai hire orang khusus untuk melakukan tuning kamera mereka. Anda yang mengamati produk Infinix dari awal masuk Indonesia seharusnya tahu lonjakan kualitas kamera smartphone mereka. Seingat saya perbaikan signifikan ini dimulai sejak Infinix merilis Hot S.

Lalu seperti apa sih kualitas kameranya sekarang? Langsung saja kita saksikan pada video berikut ini.



Sudah lihat hasilnya? Anda boleh tuliskan pendapat atau penilaian Anda di kolom komentar ya. Namun bagi saya, hasil kamera seperti ini tak pantas ada pada smartphone 2 juta lebih 49 ribuan seperti Infinix NOTE 4 ini. Pantasnya di hape seharga 3 hingga 4 jutaan. Good job Infinix!

Dengan kamera sekece ini, Infinix NOTE 4 sangat mungkin bisa jadi alternatif buat mereka yang sudah kadung terbiasa menggunakan smartphone berbaterai 4.000 mAh tapi tak puas dengan hasil kameranya. Ya, Infinix NOTE 4 sudah memiliki baterai 4.300 mAh yang dapat dilihat saat kita membuka backcover-nya. Meskipun begitu, baterainya tak bisa dilepas oleh pengguna ya. backcover ini dapat Anda buka saat ingin mengakses dua slot micro sim card dan satu slot micro-sd dedicated miliknya.

Nah, ngomong-ngomong soal backcovernya ini, Infinix memberi kejutan dengan pola refleksinya yang terlihat seperti ponsel daily driver saya, Honor 9. Patut dicatat harga Honor 9 ada di kisaran 5-6 jutaan lho. Walaupun memang sih, bahan yang dipilih Infinix untuk backcover ini masih plastik, bukan kaca. Dan saya sarankan jangan lepas lapisan pelindung yang sudah Infinix pasangkan dengan rapi. Karena dalam pemakaian yang seingat saya sudah sangat hati-hati, saya menemukan goresan halus sudah muncul di sana.

Frame pinggirnya sendiri terbuat dari logam dan memiliki feels yang solid. Di sisi depan, layar SHARP berdiagonal 5,7 inch dengan resolusi Full HD siap memanjakan mata kita. Ya, layarnya saya beri penilaian bagus.



Satu hal yang butuh membiasakan diri lagi adalah tombol home fisik yang perlu ditekan dulu agar layar menyala dan pemindaian sidik jari dapat dilakukan. Nah, entah kenapa, pasca unboxing sih fingerprint scanner ini selalu berhasil memindai dengan cepat dan akurat. Namun setelah satu kali update OTA saya terima, beberapa kali setelah pemindaian berhasil, saya masih dimintai pattern untuk membuka layar. Semoga Infinix notice akan hal ini dan segera menggulirkan pembaruan software untuk Infinix NOTE 4 ini ya.

Masalah performa tak lepas dari SoC apa yang dipilih untuk digunakan. Dan dalam hal ini mungkin netizen yang hobby membully serasa mendapat angin begitu tahu Infinix masih menggunakan Mediatek MT6753 untuk NOTE 4 ini. Processor ini sebetulnya tidak punya masalah yang fatal sih, selain sudah terasa jadul saja.

Sangkaan saya sih, mungkin Infinix ingin lebih mudah memanage software XOS mereka. Dan ini bisa tercapai kalau semua perangkat mereka menggunakan SoC yang sama. Tapi jangan takut, SoC ini diberi beberapa tambahan untuk mendukung fitur-fitur terbaru, semisal adanya chip khusus agar NOTE 4 ini mampu menerima arus besar. Dan saya pernah coba mengisi dayanya dengan charger yang support Qualcomm QuickCharge 3.0, dan secara mengejutkan NOTE 4 mampu menerima pengisian daya cepat ini lho!

Dalam penggunaan saya, dua hari dua malam bisa mudah dilewati Infinix NOTE 4 dengan pemakaian casual di hari kerja. Satu yang cukup terasa dari performanya sih cukup lambat saat berpindah antar aplikasi, dan ini yang membuat saya berharap Infinix mau mempertimbangkan processor baru untuk produk selanjutnya, Helio P20 mungkin?

Highlight positif saya berikan untuk Infinix NOTE 4 dalam hal looks, daya tahan baterai, dan tak lupa yang paling menonjol adalah kameranya. Belum memiliki kamera ganda memang, tapi sudah sangat bisa diandalkan, apalagi harganya hanya Rp 2.049.000 saja. Namun memang Anda harus sedikit sabar untuk masalah multitasking, tunggu sedikit sebelum Anda menikmatinya hehe.

Oh ya, jadinya driver ojek online punya alternatif baru nih, smartphone terjangkau dengan baterai besar dan hemat. Masalah GPS lock yang dulu hadir pada MT6753 saya rasakan sudah tak terasa lagi, sekarang sudah cepat dan akurat. So, pake Infinix NOTE 4 buat ngojek? Why not!

Sekian yang bisa saya sampaikan, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!