Gadget Promotions

Friday, May 25, 2018

Review Hape Jadul, Sony Xperia C4 Dual, Layakkah Jadi Old but Gold?



Video pada review kali ini saya buat sepenuhnya menggunakan Samsung Galaxy Note FE. Baik gambar maupun suaranya.

Coba siapa yang masih ingat saya pernah unbox hape yg sejatinya adalah Galaxy Note 7 yang diperbaiki ini?

Oke, kita bahas Sony sekarang ya. Saya tidak akan bahas Galaxy Note FE-nya lagi, Anda nilai langsung saja dari kualitas gambar dan suara pada video ini.


Jaman Nokia berjaya dulu, Sony Ericsson adalah favorit saya. Saya yang dulu memang anti kemapanan, dan anti hape mainstream. Juga karena dulu uang saku bulanan mahasiswa jarang sisa sih, hahaha.

Lalu ketika brand ini bertransfromasi kembali menjadi Sony saja, saya masih suka. Maksudnya suka mupeng. Beli sih jarang banget. Mahal bos!

Dan seterusnya begitu, hape Sony yang berbasis Android memang tergolong mahal dibandingkan merk lain. Termasuk si Xperia C4 Dual ini, yang harga perdananya dulu di atas 4 juta Rupiah. Mahal!

Saya saja baru kesampaian beli sekarang, pas harganya tinggal 1,4 jutaan doang. Dan pas hape ini udah ketinggalan jaman hahaha.

Walau begitu, ada beberapa nilai positif yang harus saya berikan kepada ponsel ini. Antara lain:

1. Punya NFC, hape sejutaan jaman now susah cari yang ada NFC-nya.
2. Kameranya bisa mengenali scene yang sedang dibidik. Jaman sekarang, harus diembel-embeli ada AI-nya kalau yang begini. Padahal Sony ternyata sudah bisa dari dulu. Dia bisa tahu kapan saya sedang ambil bidikan macro, kapan saya lagi foto makanan. Keren kan?
3. Punya efek AR pada kameranya. Buat anak-anak ini jadinya fun banget, bisa ada dinosaurus atau kurcaci dan rumah jamurnya. Ya buat lucu-lucuan lah. Hasil kameranya pun cukup baik, ya mungkin bisa setara lah dengan hape 2-3 jutaan jaman sekarang.
4. Punya 3 slot kartu dedicated. Dan walaupun jadul, hape ini slot simcard-nya berukuran nano lho. Jadi yang udah kadung pakai nano-sim ya tinggal colok saja.
5. Xperia UI-nya saya suka, notif selalu always real-time.

Apa lagi ya? Kayanya sudah deh itu aja. Sementara nilai minus yang saya berikan, memang kebanyakan dipengaruhi spesifikasinya yang sudah ketinggalan banyak. Tapi hayuk lah kita mulai berhitung saja.

1. Performa MTK6752 dikombinasikan dengan RAM 2 GB buat jaman now, empot-empotan euy! Multitasking agak keteteran di mana pindah apps kerasa ada jeda, apalagi dipakai main game. Masih bisa sih maen PUBG dengan grafis low, tapi ya gitu deh, kalah mulu. Ngelag soalnya heuheu.
2. Masih lanjutan dari performa, dipakai maen PUBG 1 jam aja baterainya turun hampir 50%. Dan dengan berbagai pola pemakaian saya, screen-on time-nya mentok 2 jam lebih dikit. Ya bisa sih battery usage tembus 24 jam, kalau jarang banget dipake, screen-on timenya aja cuma sekitar sejam. Jadi, baterai 2.600 mAh-nya ngga bisa diandelin buat ngegame ya gaiss!
3. OS-nya mentok di Marshmallow dengan security patch yang jadul abis, 2016 kalo ga salah inget ya. Masalahnya di penghujung 2017 ada patch security yang penting banget di berbagai OS terkait masalah keamanan network saat menggunakan Wi-Fi. Jadi ya, agak gimana gitu ya makenya.
4. Bezel tebal di mana-mana. Patut dimaklum sih, ini hape dengan pakem desain 3 tahun lalu. Dan pada masanya, bezel bawah segini tuh udah tergolong tipis sih. Hare gene? Maaf-maaf aja ya, haha.
5. Masih gampang demam, ya penyakit Sony jaman dulu adalah kurang cakap dalam mengatur pembuangan panas. Walau ga sampai overheat, tapi ponsel ini cukup sering menghangat dalam genggaman.

So, itu dia 5 penilaian positif dan negatif untuk Sony Xperia C4 Dual di tahun 2018 ini.

Saya cuma bisa merekomendasikan ponsel ini jika Anda punya tujuan mengkoleksinya, atau menjadikannya ponsel backup saja ya. Karena kameranya bisa diandalkan jika sesekali Anda gunakan berfoto.



Udah lihat hasil kameranya? Ya udah, gitu aja. Saya ga bisa merekomendasikan ponsel ini selain untuk dua tujuan tadi. Terlalu ketinggalan euy. Mending nambah 15 juta aja biar dapet iPhone X, ya ga, hahaha. Becanda ya, mbok jangan diseriusin mulu toh....

Demikian ulasan yang diproduksi menggunakan Samsung Galaxy Note FE ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam.

Monday, May 21, 2018

Review Samsung Galaxy Note Fan Ediiton, Samsung Paling Worth The Money?



Assalamualaikum, ini adalah review dan video pertama yang proses pengerjaannya dilakukan di bulan Ramadhan 1439 Hijriah. Semoga ngga kentara lemesnya ya hehe, maklum masih adaptasi nih.

Okay, sebelum ulasannya dimulai, ada sedikit latar belakang proses review yang ingin saya ceritakan. Pertama smartphone ini saya unbox bulan November 2017 dan baru dibuatkan review-nya Mei 2018 karena sejatinya ini adalah daily driver ibu negara. Sekarang alhamdulillah ada rezeki untuk upgrade ke Galaxy S9+ warna ungu yang sudah lama diidamkannya.



Ya, istri saya memang dari pertama kenal Android, tak pernah berganti merk dari Samsung.

Dulu saya suka bingung, apa sih yang spesial dari Samsung? Karena harganya tak bisa dibilang murah, apalagi jika dibandingkan kompetitor.

Pandangan saya mulai berubah ketika mencoba Galaxy J7 Plus, dilanjut Galaxy A8 dan puncaknya ada saat saya dibuat takjub oleh Galaxy S9. Saya sarankan Anda menonton review Galaxy S9 di channel saya ini deh, biar tahu alasannya kenapa.

Yap, saya yang kata netizen adalah huawei fans ini, selalu dibuat nyaman oleh Samsung Experience. Dan sebagai informasi, Galaxy Note FE baru saja mendapat update software yang membawa peningkatan ke versi Android Oreo 8.0 serta Samsung Experience 9.0.

Lalu, harganya juga mengalami update, tapi berupa penurunan sebanyak satu juta Rupiah. Entah hanya promosi sesaat atau memang harganya mengalami koreksi, namun saya lihat iklan erafone yang menyatakan harganya turun dari Rp 7.999.000 ke Rp 6.999.000.

Dan dengan ini saya pun menyatakan inilah dia smartphone Samsung paling worth the money saat ini. Walau belum memiliki Infinity Display, jangan lupakan bahwa Galaxy Note Fan Edition ini sudah memiliki layar Super AMOLED beresolusi 2K dengan tepian EDGE di kiri dan kanan. Satu hal yang tak dimiliki S-series adalah S-Pen alias stylus yang tentunya akan sangat menambah value smartphone ini, dengan catatan bagi mereka yang memerlukannya.

Saya sendiri sangat jarang menyentuh S-Pen ini, haha. Padahal sebetulnya benda ini sangat berguna, untuk menulis catatan dari keadaan layar mati misalkan. Atau mau corat-coret hasil screenshot? Buat seniman sih dipake bikin sketsa juga bisa, soalnya stylus ini bisa mengenali tekanan sehingga garis yang dibuatnya bisa diatur tebal tipisnya.

Lalu hal selanjutnya yang membuatnya jadi paling worth the money adalah kameranya. Performanya sangat prima, bokeh dengan satu lensa bisa dihasilkan dengan baik, warna yang keluar pun terbilang sangat apik. Lalu jika dipakai merekam video, OIS-nya sudah sangat terasa membuat stabil videonya. Siapa di sini yang sudah melihat review Sony Xperia C4 yang diproduksi menggunakan smartphone ini saja? Intinya kameranya masih sangat bisa diandalkan meskipun umur asli dari smartphone ini sudah menginjak 2 tahun ya.

Okay silakan dilanjut melihat hasil foto dan videonya, sementara saya ambil nafas dulu ya hehe.



Masalah performa, sebetulnya saya nyaris tak pernah bermain game selama mencoba Galaxy Note FE. Soalnya PUBG biasa saya mainkan di ASUS Zenfone Max Pro M1, biar bisa lama-lama mainnya hehe.

Tapi, ini adalah hape flagship, yang harusnya sih ga akan punya masalah soal performa. Lihat saja skor Antutu Benchmark-nya. Coba fokus di bagian skor CPU-nya yang mengalahkan 99% user lain padahal ini adalah smartphone yang aslinya dirilis 2 tahun lalu.

Nah, sayangnya soal performa ini memang acapkali tak dibarengi ketahanan baterai yang mumpuni. Tak boros tapi juga sama sekali tak bisa dikatakan hemat. Sepemakaian saya selalu hanya mampu bertahan dari pagi hingga malam saja, belum pernah menembus 24 jam dengan pemakaian ala saya yang rata-rata menghasilkan screen-on time 3-4 jam.

Seandainya saya tak pernah mencoba Galaxy S9, mungkin looks dari Galaxy Note FE ini bisa memuncaki klasemen di hati saya, halah. Ya, looks-nya terasa sangat mewah, dengan warna biru coral yang indah mempesona. Walau saya pribadi tak suka dengan warna frame-nya yang keemasan. Kenapa tak pakai biru saja lagi, atau silver saja.

Memang sudah kurang kekinian ya, rasio layarnya masih 16:9, dan juga sudut-sudut layar yang tak dibuat membulat.

Tapi kalau kamu bisa dapat smartphone dengan kekuatan selengkap ini ditambah layanan purna jual prima milik Samsung sih rasanya sudah sangat tinggi lah price-to-value comparisonnya. Bahkan sedikit lebih worth the money mungkin dibanding Galaxy S9, kecuali jika kamu mementingkan sekali hasil kameranya. Terutama kamera depan Note FE yang saya nilai biasa banget, dan jauh sekali jika dibandingkan dengan Galaxy S9.

So, sebelum produknya discontinue, ada baiknya diamankan deh sekotak hehehe.

Gitu saja ya ulasan kali ini, semoga membantu menemani ibadah bulan Ramadhan kali ini bagi mereka yang menjalankannya.

Inget, jam makan siang jangan melipir ke warteg bertirai ya, hihihi.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, May 18, 2018

Review ASUS Zenfone Max Pro M1, di LUAR keBIASAan!



Jika beberapa bulan lalu ada yang meminta rekomendasi ponsel Android berbaterai besar dengan harga maksimal 2,5 juta, dan harus punya jaringan layanan purna jual resmi yang mudah diakses, mungkin pilihannya jatuh kepada ASUS Zenfone 4 Max 5,2 inch.

Ponsel ini cukup nyaman digunakan koq, buktinya kakak saya hingga saat ini masih betah memakainya. Namun jika syarat baterai besar diganti dengan daya tahan baterai cukup seharian, maka saya akan lebih merekomendasikan ASUS Zenfone 3 5,2 inch saja yang punya kekuatan merata di semua sektor.

Tapi semua berubah. Di luar kebiasaan, ASUS tiba-tiba mengenalkan lini produk baru, yaitu M1 series yang diembel-embeli nama Zenfone Max. Agak bingung dengan Zenfone Max Plus M1, kini langkah yang ditempuh ASUS saat merilis Zenfone Max Pro M1 semakin membuat saya bertanya-tanya, Ada Apa dengan ASUS?

Mari kita bahas dulu apa saja yang berbeda dengan produk ini, termasuk proses pemasarannya ya.

Pertama, tahun ini ASUS sudah biasa menggelontorkan produk ke pasaran terlebih dahulu, sebelum melakukan peluncuran resminya. Zenfone Max Pro M1 tidak, tak ada satupun penjual yang mempunyai stoknya, karena ternyata sementara ini dijual eksklusif di Lazada, dan dengan sistem flash sale.

Kaya ngga ASUS banget ya? Nah kita lanjut ke bahasan kedua kalau gitu. Harganya juga ngga ASUS banget koq. Rp 2.299.000 untuk spesifikasi seperti ini adalah sesuatu yang luar biasa, bahkan kompetitor langsung ASUS pun belum mampu menjual semurah ini. Lebih gila lagi, masih ada diskon 100 ribu Rupiah lho semasa promosi Ultah Lazada.

Hasilnya sangat gampang ditebak. Banyak yang tidak kebagian. Sejak kapan produk ASUS susah dicari coba?

Oke saya sudahi bahasan tentang pemasarannya di sini. Kita mulai masuk bahasan terhadap produknya. Rupanya di sinipun masih terjadi hal luar biasa alias di luar kebiasaan itu. Pada Zenfone Max Pro M1 ini, ASUS tak menyematkan ZenUI dan memilih Android Pure Vanilla alias stock sebagai tampilannya.



Entah apa yang terjadi, apakah engineer ASUS tak sempat melakukan porting ZenUI untuk dipadukan dengan hardware terbaru, atau ada alasan lain di balik keputusan ini. Bagi saya sih ok-ok saja, karena dampaknya performa terasa semakin smooth saja. Walau demikian ada beberapa fitur Zen UI yang saya rindukan jadinya.

Performance wise, Snapdragon 636 yang dijadikan inti dari powerhouse Zenfone Max Pro M1 ini memang mampu memberikan kepuasan dengan user experience yang selalu lancar jaya. Dan Anda akan sangat-sangat terhibur jika melihat skor Antutu Benchmark hape 2 jutaan bisa setinggi ini.

Dalam dua gaya penggunaan yang berbeda, Zenfone Max Pro M1 ini memiliki daya tahan baterai yang memuaskan. Pada percobaan pertama, dengan heavy usage di mana saya banyak menginstall aplikasi baru, melakukan tethering selama hampir 8 jam, berfoto dan juga live di Instagram, smartphone ini mampu bertahan selama 33 jam dengan screen-on time lebih dari 5 jam.

Pada percobaan selanjutnya saya memperlakukan Zenfone Max Pro M1 ini sebagai ponsel backup, di mana social media masih menyala, termasuk whatsapp yang aktif dengan sekitar 6 grup, namun hanya saya nyalakan sesekali saja. Hasilnya sungguh membuat bulu kuduk saya bergidik, tembus 4 hari 4 malam dengan screen-on time hampir 9 jam!

Ini membuktikan bahwa dalam keadaan idle, Snapdragon 636 sangat irit mengonsumsi daya. Dan jangan lupakan bahwa ini tak lepas dari andil besarnya kapasitas baterai ponsel ini. Berapa besar? Masa sih ngga tahu, 5.000 mAh guys! Dan ya, memang lebih besar dari tetangga sebelah yang sedikit lebih mahal itu.

Tanpa ZenUI, berarti kameranya juga tanpa Pixel Master ya. Kali ini ASUS memilih menggunakan aplikasi Snapdragon Camera yang sepintas mirip Google Camera, termasuk kemampuan bokehnya. Ya, kamera belakangnya yang ganda kali ini tidak memiliki setup normal dan wide, tapi mampu membuat foto-foto bokeh yang cukup menawan.

Dan uniknya, bokeh ini juga bisa dihasilkan oleh kamera depannya yang hanya sebatang kara. Dalam beberapa kali pengujian, beberapa kali saya menemukan lag saat melakukan pengambilan gambar, dan masalah ini nampaknya merupakan andil software ponsel ini yang terus mendapat pembaharuan dari ASUS. Dari sejak unbox sampai saat menulis naskah video ini saja, sudah 2x update OTA saya terapkan.

Hasil foto dan videonya silakan dilihat langsung saja ya. Kalau penilaian saya sih untuk harga 2-jutaan, segini cakep lah. Tapi saya ngga bilang ini kamera paling cakep di hape 2-jutaan ya. Tolong bedakan hehe.



Overall, saya yakin semua akan setuju bahwa ponsel ini bisa jadi paling value deal di semester pertama 2018 ini. Processor terbaru Snapdragon 636, Baterai besar 5.000 mAh, latar Full HD+ 5,99 inch yang sangat usable, hingga kehadiran kamera ganda yang bokehnya ok banget.

Namun bukan tanpa keluhan ya, saya merasa dari sisi software ASUS masih akan banyak melakukan penyempurnaan. Dan semoga ini juga mampu memperbaiki kinerja fingerprint scanner-nya yang angin-anginan.

Untuk masalah looks pun saya bisa bilang desain ini membosankan walau memang jadi ciri khas produk smartphone ASUS tahun ini.

Kesimpulannya, ASUS Zenfone Max Pro M1, LUAR BIASA! Alias serba di luar kebiasaan. Produknya sendiri sudah pasti worth the money dan value deals banget. Selamat berebutan aja deh dari saya hehe.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, May 3, 2018

Review Huawei Nova 2 Lite, Ini Dulu Sebelum Loncat ke Bis Kopaja Jurusan Lebak Bulus - Senen (IYKWIM)


Huawei baru saja meluncurkan smartphone terbaru dari deretan seri Nova di Indonesia, namanya Huawei Nova 2 Lite.

Info aja nih, yang varian warna birunya punya backcover kinclong dengan refleksi yang menawan. Tapi yang saya ulas ini yang warna hitam dengan finishing doff pada backcovernya yang menurut saya lembut di kulit dan tak mudah kotor. Biar beda dari yang lain, saya pilih hitam saja, haha.

Sekeliling framenya berwarna metalik gelap dengan lengkungan yang cukup untuk membuatnya nyaman dalam genggaman.



Dari apa yang ditawarkan oleh Nova 2 Lite ini, nampaknya Huawei ingin menawarkan berbagai fitur yang sedang trend saat ini, pada rentang harga yang lebih terjangkau, di mana umumnya produk Huawei memiliki bandrol harga yang terbilang cukup premium.

Dijual dengan harga 2,5 jutaan, membuat ponsel ini menjadi seri Nova yang paling terjangkau saat ini. Dan pada level harga tersebut, Huawei memberikan berbagai fitur menarik untuk dapat dinikmati pecinta ponsel-ponsel brand yang memiliki track record panjang di dunia jaringan dan telekomunikasi ini.

Siapa coba yang tak ingin berpindah ke ponsel dengan full view display? Dan Huawei memberikan Nova 2 Lite layar berdimensi 5,99 inch dengan rasio 18:9 yang membuatnya seukuran dengan ponsel 5,5 inci konvensional.

Face unlock? 2018 nampaknya wajib ada ya. Dan Huawei pun memberikan fitur ini pada Nova 2 Lite, yang mana fitur ini masih jarang ditemukan di ponsel lain pada level harga yang setara. Anda cukup menyalakan layar dan secara otomatis pemindaian wajah dilakukan dengan cepat dan akurat.

Dual-camera? Tenang saja, ada juga koq. Dan sepengalaman saya mencoba berbagai ponsel keluaran Huawei, software kamera mereka termasuk dapat memanfaatkan data kedalaman yang diberikan lensa kedua untuk menghasilkan efek bokeh yang baik. Dan jangan lupa, pemisahan bidang yang mendapat fokus dan yang diburamkan, bisa dilakukan belakangan setelah foto diambil, pun demikian dengan tingkat blur-nya yang bisa diatur sesuai selera.

Untuk urusan selfie yang semakin menjadi gaya hidup jaman sekarang, Huawei Nova 2 Lite sudah memiliki front LED flash untuk membantu pencahayaan saat melaukan swafoto. Seingat saya, pada smartphone keluaran Huawei, selfie toning flash seperti ini baru saya temukan di Nova 2 Lite.

Sedikit catatan dari saya, untuk mode wide aperture, disarankan tidak diambil pada kondisi backlight mengingat mode ini tidak dapat dikombinasikan dengab mode HDR. Cukup disayangkan pada ponsel ini tidak ada mode manual atau pro untuk foto maupun video. Walau begitu, pengambilan gambar dapat dilakukan dengan cepat dengan hasil-hasil foto dan video yang bisa disaksikan berikut ini.



Untuk perangkat lunaknya sendiri, Nova 2 Lite sudah dibekali EMUI 8.0 yang berjalan di atas Android Oreo 8.0, terbilang up to date di mana ponsel dua jutaan lain masih banyak yang berkutat di Nougat.

Okay, itu adalah hal-hal yang cukup membuat saya excited ingin segera merasakan ponsel ini. Selain fakta bahwa selama ini saya selalu betah pakai produk smartphone Huawei karena EMUI yang memiliki banyak fitur yang saya butuhkan, juga karena umumnya ponsel Huawei memiliki daya tangkap sinyal yang sangat baik.

Merekam kegiatan di layar smartphone, mengambil screenshot dengan tiga jari, split screen, hingga fitur kecil seperti menampilkan kecepatan jaringan adalah hal-hal yang saya sukai dari EMUI.

Oh ya, ada satu lagi fitur yang sangat berguna pada smartphone Huawei, yaitu Phone Clone, di mana saya bisa menyalin semua data dari ponsel Huawei lama ke yang baru dengan sangat mudah. Dan hasilnya betul-betul bagai pinang dibelah dua, bahkan beberapa aplikasi seperti Instagram sudah langsung bisa dipakai tanpa perlu login lagi karena datanya sudah disalin semua. Hebat kan?

Setelah menggunakan ponsel ini beberapa saat dalam kegiatan sehari-hari, saya menilai sejauh ini Huawei Nova 2 Lite sih so far so good, walaupun mungkin sebetulnya ada hal yang di atas kertas nampak terasa kurang bagi mereka yang belum mencobanya secara langsung.

Ya, sayapun awalnya khawatir dengan resolusi layar HD+ berbanding dimensinya yang bisa dibilang 6 inch lah. Tapi ternyata hasilnya enak-enak saja koq dipakai, urusan kerapatan atau densitas layarnya tak pernah jadi masalah, pun reproduksi warnanya cukup baik dan sudut pandangnya cukup luas.

Lalu mungkin banyak juga yang mempertanyakan kenapa Huawei tak menggunakan processor in-house mereka Kirin 659 yang terbukti powerful untuk kelas mid-range. Harus diakui memang Snapdragon 430 sedikit outdated, namun masih sangat mampu mentenagai ponsel ini koq. Gaming, multimedia, hingga multitasking masih nyaman-nyaman saja, walau memang performanya takkan bisa disejajarkan dengan hape-hape high-end yang belakangan ini mulai sering saya coba.

Dengan RAM 3 GB, EMUI 8.0 dapat berjalan tanpa kendala sejauh ini.

Lanjut ke storage, Huawei Nova 2 Lite memiliki kapasitas memori internal 32 GB. Bagi yang merasa segini belum cukup, tenang saja. Slot micro-SD hadir secara dedicated, alias tidak harus berebutan dengan dua slot simcard-nya.

Untuk urusan sumber tenaga, Huawei membekali Nova 2 Lite dengan baterai 3.00 mAh yang dapat bertahan dari pagi hingga malam dengan penggunaan moderat, dan notifikasi selalu masuk secara real-time.

Overall, apa yang didapat masih tergolong sesuai dengan harga yang disematkan untuk Nova 2 Lite ini, dan bisa jadi akan sangat worth the money jika Anda membelinya melalui Pre-Order di Lazada di mana Anda akan mendapatkan hadiah langsung berupa speaker JBL Flip 3 dan gift box yang jika ditotalkan nilai hadiahnya sendiri mencapai 1,6 jutaan lho!

Saya sih lagi kepikiran memberikan Huawei Nova 2 Lite ini untuk digunakan orang tua saya, karena user experience-nya yang enak dan mudah digunakan.

Huawei Nova 2 Lite bisa juga direkomendasikan bagi mereka yang ingin mulai mencoba jajaran produk Huawei, sebelum nanti naik kelas ke seri P yang punya kamera superior. Walau saya sih menyarankan agar selepas masa promosi, Huawei dapat menyesuaikan harganya agar lebih bersaing lagi.

Sip, review-nya saya tutup di sini, semoga setelah ini akan ada lagi produk-produk smartphone Huawei yang masuk ke Indonesia ya, heuheu. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!