Gadget Promotions

Thursday, February 22, 2018

Review Roker Goblin, Powerbank Unik, Super Praktis, dan Pandai Menyamar



Ini adalah gadget paling unik dari 3 produk rekomendasi yang saya tampilkan pada video unboxing sebelumnya.



Namanya Roker Goblin.

Yang sudah nonton sebelumnya pasti ngga terlalu gimana-gimana mungkin ya. Tapi yang baru tahu, pasti tidak akan menyangka kalau kepala charger ini, bisa ngecas hape tanpa dicolokkan ke listrik.

Lho koq bisa? Ya bisa, karena ini sebetulnya produk hybrid, alias gabungan antara kepala charger dengan powerbank. Ya di dalamnya ada baterai sebesar 3.000 mAh yang bisa menjadi pertolongan darurat ketika Anda butuh ekstra daya di tengah perjalanan, dan langsung dilanjut mengisi daya ketika sudah sampai di tempat di mana Anda bisa menemukan lubang colokan listrik.

Saat dicolokkan ke sumber listrik AC, output yang dihasilkan mencapai 2,1 A. Sementara saat darurat sebagau powerbank, arusnya 1A.

Satu kata yang paling mewakili penilaian untuk Roker Goblin ini adalah PRAKTIS! Ya, praktis untuk bepergian. Tidak usah bawa powerbank atau kepala charger terpisah, masalah pengisian daya smartphone tuntas dengan 1 barang saja jadinya.



Sebuah lampu berbentuk lingkaran hadir sebagai indikator adanya sumber arus listrik AC, sementara 4 buah lampu kecil berupa titik berfungsi sebagai indikator sisa daya pada baterainya.

Yang jadi kelemahannya adalah, tidak terdapat tombol untuk mengecek sisa daya pada Roker Goblin ini. Jadinya untuk mengetahuinya, hanya ada 2 cara yang bisa dilakukan, yaitu dihubungkan ke sumber listrik, atau digunakan mengisi daya smartphone. Baru deh indikatornya menyala.

Sementara kapasitasnya yang hanya 3.000 mAh saja menurut saya sih sudah pas. Biar ngga kegedean ukurannya, jadi kepraktisannya tak berkurang. Toh tujuannya memang untuk darurat kan, karena begitu nemu colokan lagi ya langsung colok lagi saja.

Ada satu komentar unik yang saya temukan pada video unboxingnya, di mana ada viewers yang menyebutkan bahwa dengan Roker Goblin ini, dia bisa berkamuflase. Jadi ketika temannya ingin meminjam powerbank, maka dia bisa bilang dia hanya bawa kepala casan doang, jadi selamat lah dirinya.

Haha, lucu juga ya. Memang sih powerbank kadang jadi hal yang sensitif karena sering dipinjam orang, lalu entah itu lupa dikembalikan, atau dikembalikan dalam keadaan kosong, sehingga saat giliran hape kita yang lowbat, malah kita yang kena apesnya, haha.

Jadilah Roker Goblin ini sebagai rekomendasi gadget unik yang praktis serta tentunya berguna untuk dimiliki. Saya buru-buru bikin video review-nya, biar yang pada tertarik masih bisa memanfaatkan promo diskon Official Store Tokopedia sekarang juga. Jangan malas-malas membaca deskripsi video di atas ya, karena semua link saya simpan di sana.

Sip, semoga informasi ini bermanfaat ya. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review Xiaomi Redmi 5 Indonesia, Nah Gini Kan ENAK



Pada 14 Februari 2018 lalu, Xiaomi resmi merilis seri Redmi generasi kelima di Indonesia. Tentunya berikut varian dan harganya masing-masing.

Nah, kalau sudah keluar harga begini kan jadinya enak.

Enak buat bikin review-nya, dan enak juga buat bilang... MENDING XIAOMI! :D



Nah, yang saya bahas kali ini adalah Xiaomi Redmi 5 varian RAM 3 GB dan Storage 32 GB yang dibandrol seharga Rp1.899.000. Ngga jauh dari perkiraan saya sih, di mana saya yakin Redmi 5 ini diperuntukkan untuk menggantikan varian Redmi 4x.

Highlight utama dari ponsel ini tentu saja ada pada layar dengan rasio 18:9-nya, yang walau hanya beresolusi HD+ saja, tapi menurut saya masuk kategori layar terkinclong pada hape sejutaan seperti ini. Reproduksi warnanya baik, dan kerapatannya masih sangat cukup mengingat dimensi layarnya adalah 5,7 inci dengan rasio memanjang.

Sudah itu saja?

Sebetulnya masih ada. Penggunaan processor Snapdragon 450 pada hape yang harganya ga sampai 2-jutaan, adalah prestasi lainnya dari Xiaomi yang konon sebagian sahamnya memang dimiliki oleh Qualcomm.

Processor ini sama dengan yang digunakan pada Vivo V7 dan Vivo V7+ yang harganya dua kali lipat dari Redmi 5. Dan dari sejak memegang kedua ponsel Vivo itupun, saya sudah meyakini bahwa ini adalah processor yang akan menjadi masa depan Qualcomm di segmen middle to entry level. Karakternya sangat mirip dengan Snapdragon 625, di mana fabrikasinya sama-sama 14nm, hemat daya dan tak gampang panas, hanya beda di clockspeed-nya saja yang duturunkan sedikit.

Skor antutunya selisilh 10-ribuan lah antara Snapdragon 450 dan 625 ini.

Dan, dipadukan dengan MIUI yang memang terkenal hemat baterai, Redmi 5 ini mampu memanfaatkan baterai 3.300 mAh-nya untuk bertahan hingga 36 jam di saat banyak menggunakan wi-fi, dan sekitar 30 jam saat mengandalkan koneksi seluler. Screen-on Time-nya juga panjang-panjang lho untuk ukuran pemakaian ala saya.

Wajar lah ya kalo MIUI begini, soalnya MIUI melakukan diet notifikasi. Di mana aplikasi-aplikasi yang ingin selalu berjalan di background dan menerima notifikasi, harus dikunci terlebih dahulu.

Saat saya uji, Redmi 5 saya sudah menggunakan MIUI 9, dengan versi Android Nougat 7.1.2.

Ada lagi yang bagus dari Redmi 5? Jawabannya ada.

Audio. Saya cukup takjub dengan audio Redmi 5 di mana di luar kebiasaan ponsel seri Redmi yang biasanya suaranya biasa saja. Redmi 5 tergolong memiliki output suara yang baik, dengan power yang terasa, dan kontrol serta detail yang juga indah. Bukan loudspeaker terbaik memang, namun jauh di atas rata-rata untuk level harganya.

Kalau kamera bagaimana? Peningkatan yang saya notice adalah hasil video yang lebih stabil dari seri Redmi sebelumnya. Untuk digunakan mengambil foto juga cukup baik, walau masih terlhat sebagai hasil gambar kamera hape kelas 1-2 jutaan.

Untuk lowlights, manual mode yang tidak lengkap membuatnya kurang dapat diandalkan. Apalagi tanpa image stabilization, proses pengambilan gambar dalam kondisi ini harus lebih hati-hati agar hasilnya tak goyang atau blur. Maklum, dalam kondisi kurang cahaya, biasanya kan shutterspeed otomatis melambat agar cahaya masuk lebih banyak, jadinya goyang sedikit saja, hasilnya blur sangat kentara.

Overall ada perbaikan lah soal kameranya, namun jangan berharap hasilnya sekelas dengan hape high-end ya.

Lihat saja hasilnya langsung pada foto dan video berikut ini.



Saya takkan membahas detail soal UI dan UX dari ponsel ini ya, MIUI menurut saya ya gitu-gitu saja. Dan karena setahun ke belakang ini saya sudah mencoba berbagai macam ponsel Xiaomi, saya bisa menyimpulkan, MIUI ini adalah pisau bermata dua.

Kenapa begitu?

Di satu sisi, MIUI ini bagus karena experience-nya yang similar, di semua level harga ponsel Xiaomi. Jadi, buat yang baru mampu membeli ponsel 1-2 jutaan, jangan sedih, experience yang kamu dapatkan saat membeli Redmi 5 kurang lebih sama koq dengan Mi Mix 2, beda di waktu respon saja.

Nah di sisi lain, ini justru bikin sedih buat pengguna ponsel mahal Xiaomi, karena experience yang sama sebetulnya bisa didapat di harga yang jauh lebih murah.

Perbedaan utama paling ada pada material yang digunakan. Tapi Redmi 5 juga memiliki build quality yang baik koq.

Jadinya, saya setuju bahwa yang mending itu adalah produk-produk Xiaomi yang harganya terjangkau alias ekonomis saja ya.

Oh ya, soal desain, Redmi 5 bisa dibilang membosankan, alias gitu-gitu aja, kecuali layarnya. Tapi ini pun sangat-sangat bisa dimaklumi koq, cuan Xiaomi ga banyak dari jual gadget soalnya, dengan price-to-spec comparisan yang sangat baik, mungkin memang kita tak bisa berharap desainnya akan eksklusif juga kan.

Dan kalau dibandingkan dengan Redmi 5 Plus, patut diakui desain varian Plus-nya memang lebih cantik. Anda bisa melihat perbedaan keduanya pada video unboxing yang sudah tayang pada tahun lalu di channel saya ini ya.

Satu saingan datang dari Infinix yang merilis Hot S3 pada harga yang sama untuk varian RAM dan storage yang sama pula. Di atas kertas Hot S3 unggul pada sektor kamera dan kapasitas baterai, serta OS yang konon sudah Oreo. Namun masih menggunakan processor yang sudah tegolong jadul, yaitu Snapdragon 430 yang sudah digunakan Xiaomi sejak Redmi 3s lalu.

Mending mana? Saya belum bisa jawab karena Infinix HOT S3 pesanan saya belum datang. Nanti kita bahas di video review Hot S3 saja ya, jadi jangan lupa nyalakan lonceng notifikasi kamu agar tak ketinggalan nanti, dan juga agar uang 2 juta kamu digunakan membeli ponsel yang tepat buat kamu.

Tapi, jika hanya melihat pada apa yang ditawarkan oleh Xiaomi Redmi 5, dibandingkan dengan harganya, tanpa melihat kompetisi, saya akan dengan mudah merekomendasikan ponsel ini.

Tinggal, apakah ponsel ini bisa didapatkan dengan mudah dan dengan harga resminya? Semoga ya, jangan sampai kondisinya seperti Redmi 5A yang harus berebutan, dan seringkali ditemukan dijual kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Ayo, PR Xiaomi Indonesia nih soal stok dan penjualan ini.

PR saya memberikan ulasan sudah selesai hehe, terima kasih ya sudah menyimak ulasan ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, February 14, 2018

Review Huawei Honor 9 Lite Indonesia: 2-Jutaan yang Menawan, Kecuali Sektor X dan Y



Dari sekian banyak hape Huawei yang pernah saya coba, hanya ada 2 yang ga berhasil memenuhi ekspektasi saya. Yang pertama Honor 6x, walau karena harganya yang terjangkau jadi banyak dapat toleransi.

Yang kedua, ya ini, Honor 9 Lite.



Kata Lite pada produk ini rasanya benar-benar cocok dipake, terutama dalam aspek-aspek yang berhubungan dengan kualitas ya.

Tadinya saya berharap kata Lite ini hanya sebagai akibat dari layar 5,65 inch-nya yang memang lebih kecil dari ponsel Huawei lainnya yang sudah memiliki rasio layar 18:9. Ya, hape Huawei lainnya semisal Nova 2i, Nova 2s, Honor 7x, hingga Honor View 10 semuanya memiliki dimensi layar 5,99 inch.

Nyatanya, banyak hal lain yang juga jadi Lite pada ponsel ini.

Kita mulai dari audio. Hmmm, gimana ya. Ngga tega saya ngomongnya haha. Loudspeaker Honor 9 Lite punya output yang biasa banget, cenderung datar dan nyaris tanpa tenaga. Jika Anda paksakan agar terdengar kencang dengan menaikkan volume hingga penuh, yang hadir hanyalah sisa-sisa kepahitan hidup ini karena mendengar suaranya yang cempreng. Aku tak sanggup lagi membahas kelanjutannya. Klean dengerin sendiri aja dah suaranya.

Habis audio, terbitlah kamera. Lowlights khususnya. Kalau kalian tak bisa mengerti arti kehadiran noise pada foto-foto berikut ini, saya pikir kalian tidak mengerti seni.

Hahaha seni, ngga deng. Memang lowlights-nya bisa dibilang jelek, grain sudah sangat kentara muncul selalu. Walau bagi saya, tone warna yang tetap kuat dan tak pucat, masih perlu diapresiasi.

Oh ya, ponsel ini sudah punya kamera ganda di depan maupun belakang. Jadi total ada 4 kamera. Semuanya setup-nya untuk menghasilkan blur melalui portrait mode. Dan ini bukan gimmicks ya, kalau hasilnya kurang bagus, itu lebih karena jomplangnya sensor dari masing-masing kamera. Di depan maupun belakang, sensor 13 Megapixels-nya hanya dibantu oleh sensor 2 Megapixels, yang sudah terbukti kurang mumpuni di Honor 6x lalu.

Anda harus pintar mencari sudut dan pencahayaan terbaik agar bokeh-nya terlihat baik.

Di luar kekurangannya ini, kamera Honor 9 Lite menurut saya memilik performa yang bagus dalam mencari fokus, mengambil gambar, maupun startup aplikasi dari homescreen yang tak memakan waktu lama.

Dynamic range-nya juga baik, di mana dalam keadaan terik, dengan atau tanpa mode HDR, saya nyaris tak bisa melihat perbedaannya, sama-sama baik. Yah, pokoknya kalau cahaya cukup mah hasilnya oke banget lah. Kalau lowlights, kata saya mah mending pake tripod terus atur manual biar hasilnya ngga noisy. Kebetulan mode manual pada Honor 9 Lite ini selengkap ponsel Huawei lain.

Yup, deretan foto dan video ini saya tampilkan untuk menjelaskan semua yang barusan saya jelaskan. Simak baik-baik ya!



Soal dapur pacu, Honor 9 Lite dibekali processor HiSilicon Kirin 659 yang juga pernah saya coba di Huawei Nova 2, dan juga dipakai di Huawei Nova 2i yang masuk resmi di Indonesia. Dan ini sudah cukup banget buat kebutuhan saya sehari-hari termasuk bermain game Destiny 6 yang bisa dilakukan tanpa lag.

Konsumsi baterai juga tergolong normal cenderung ke awet, di mana baterainya hampir selalu pas dipakai untuk 24 jam, kadang lebih sedikit lah kalau pas lagi ngga banyak dipakai.

Yang saya notice sih RAM 3GB-nya itu masih free banyak, namun seringkali aplikasi harus load ulang saat dibuka kembali dari recent apps.

Untuk masalah UI dan UX, pengalaman menggunakan Honor 9 Lite yang sudah menggunakan EMUI 8.0 berbasis Android Oreo ini nyaris tak ada beda dengan saat saya memakai Honor View 10 lalu, kecuali masalah posisi fingerprint tentunya.

Sudah 2x Honor 9 Lite ini mendapat update software secara OTA, dan selalu ada fitur baru yang dibawa. Yang pertama membawa face unlock yang usable dan akurat di kondisi cahaya cukup, sementara yang kedua membawa fitur game mode. Cool!

Saya sarankan klean nonton deh video review Honor View 10 yang sudah saya buat. Katanya itu ponsel mau masuk resmi lho di Indonesia.

Okay, bahasan terakhir adalah soal desain. Yang mana ini adalah strong point dari Honor 9 Lite. Warna biru mengkilap dengan layar memanjang yang reproduksi warnanya indah, adalah sesuatu yang rasanya sulit didapatkan pada ponsel harga 2-jutaan ya.

Ya memang sih saya belinya 3 jutaan, tapi kan di negerinya sana ini harganya sekitar 2,6 juta lho untuk versi RAM 3 GB dan storage 32 GB.

Tapi anak metal mungkin akan ngga cocok sama hape ini. Karena meskipun bahan frame pinggirnya disebutkan terbuat dari aluminium, feels-nya di tangan tuh ga ada metal-metalnya. Backcover-nya yang terbuat dari kaca juga agak terasa plasticky.

Tapi kalo ditanya gimana feels-nya di tangan, saya akan jawab superb! Nyaman sekali, lembut, halus, dan karena ukurannya yang compact, jadinya saya betah tuh pakenya.

Sampai-sampai saya rela deh jual lagi LG V30+ saya. Walaupun alasan utamanya sih lebih karena ngirit haha.

Yang saya suka dari Honor 9 Lite ini adalah bezel kiri kanan layar yang tipis tapi ngga bikin layar sering tersentuh secara tak sengaja. Semnetara jidat dan dagunya juga bisa dibilang cukup minimal.

Yang saya tak suka sih sudah jelas, audio dan lowlights kamera ya. Yang mana membuat posisi ponsel ini mudah goyah di hati saya. Kayanya kalo nanti nemu hape yang kameranya lebih cakep, Honor 9 Lite bisa lengser segera.

Satu yang perlu jadi pertimbangan adalah ponsel ini adalah versi China yang tak punya aplikasi Google. Pasang sendiri sih bisa, ga pake root atau apa-apa, cuma sedikit tricky juga walau cuma install-install apk doang.

Ada selentingan yang bilang ini adalah salah satu ponsel yang akan masuk resmi di sini juga. Saya sih belum tahu bocorannya.

Tapi jika benar, dan harganya sama dengan harga jual di negerinya yang 2-jutaan saja, wah Xiaomi Redmi 5 Plus bakal punya lawan tangguh, dan persaingan akan menarik nih nanti.

Mari kita tunggu dan doakan saja yah.

Dari kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam.

Monday, February 5, 2018

Preview OPPO A83, Smartphone Kekinian Yang Bakal Jadi Trendsetter Tahun 2018

Setelah sebelumnya sukses meluncurkan produk OPPO F5, kini kabar gembira kembali datang dari salah satu produsen smartphone yang dalam waktu dekat akan mulai meluncurkan produk terbarunya, yaitu OPPO A83 di pasar Indonesia. Menariknya, sejak Jumat tanggal 26 Januari yang lalu, OPPO telah memberikan kesempatan bagi konsumen Indonesia untuk dapat melakukan pembelian di OPPO official store di JD.id.

Walaupun gaung tentang dirilisnya smartphone ini sudah mulai terdengar sejak bulan Desember 2017 yang lalu, namun saya sendiri masih cukup kaget mendengar bahwa akhirnya smartphone yang sempat digadang-gadang ‘mampu’ menyaingi Samsung J Series ini, akhirnya hadir di Indonesia dengan harga yang jauh lebih terjangkau bagi kantong masyarakat Indonesia kelas middle-low.

Meskipun saya sempat ragu dengan kehadirannya di Indonesia yang seakan ‘mengancam’ pasar smartphone ‘middle-high’, namun pada kenyataannya, OPPO benar-benar mewujudkan smartphone dengan fitur canggih namun dengan harga yang terjangkau untuk kelas menengah ,sehingga ada kemungkinan besar bahwa OPPO A83 akan menjadi trendsetter di kalangan pecinta smartphone di Indonesia.



Satu hal yang membuat OPPO A83 bisa dikatakan sebagai trendsetter baru adalah fitur Face Unlock yang perlahan mulai menggantikan pemindai sidik jari atau fingerprint scanner untuk membuka smartphone. Sekilas, fitur ini tak jauh berbeda dengan fitur FaceID yang ada pada iPhone X besutan Apple. Namun sekali lagi, OPPO berhasil membawa fitur canggih ini kezona yang lebih terjangkau bagi pasar Indonesia.

Meskipun serupa, tapi belum tentu sama. Pasalnya, fitur Face Unlock milik OPPO A83 disebut-sebut mampu mengidentifikasi lebih dari 254 titik pengenalan wajah, dengan kecepatan hanya dalam 0,18 detik. Sangat cepat bukan? So Faster is better, right? Tidak ada orang yang suka menunggu lama, bahkan hanya untuk membuka smartphone mereka.

Dari segi penampilan, baik Saya ataupun Anda mungkin bisa langsung mengatakan bahwa layar dari OPPO A83 tidak terlalu jauh berbeda dari sang kakak, OPPO F5. Dengan desain yang tentunya ‘kekinian’ berkat layar bezel-less, 5,7” HD + Full Screen dengan resolusi layar sebesar 1440 x 720 piksel, yang  Saya rasa cukup menjadikan setiap detail huruf dan gambar menjadi lebih tajam, lebih cerah dan lebih hidup untuk kelas premium.



Mendengar ukuran layar sebesar 5,7inci tersebut, sudah dapat dipastikan bahwa OPPO A83 cukup pas pada genggaman dengan tidak mengurangi kenyamanan saat berinteraksi lewat layar. Khususnya bagi Saya sendiri, ukuran genggaman yang pas pada sebuah smartphone menjadi sangat penting untuk kenyamanan.

Bicara soal performa, OPPO A83 telah dibekali RAM 3GB dengan prosesor Mediatek 8 (octa) core 2,5 GHz Helio P23 dan Color OS 3.2 Android 7.1,  dimana dengan spesifikasi kekinian tersebut, sudah jelas bahwa OPPO A83 mampu menjadikan pengalaman multi-tasking dalam menjalankan aplikasi semakin mudah dan cepat.



OPPO A83 sangat sesuai untuk kalian yang doyan bermain game sambil chatting dan buka sosial media, ditambah aplikasi kerjaan lainnya. Bahkan OPPO A83 juga mengklaim memiliki Game Acceleration yang mampu memaksimalkan GPU pada saat bermain game, serta interface terbaru yang mampu membuat Game tidak akan terhenti walaupun ada panggilan masuk.  Hmm.. cukup bisa membuat saya tergoda untuk beralih mengganti smartphone lama saya he he he..

Fitur lain yang membuat saya memberikan dua jempol untuk OPPO adalah fitur Kids Space, yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan waktu serta kegiatan si kecil saat bermain smartphone yang kita miliki, terutama dalam hal keamanan data yang tersimpan. Di lain sisi, juga ada teknologi O-Share yang mampu mengirim serta menerima foto, video, serta dokumen berat lainnya secara lebih cepat 100 kali lipat bila dibandingkan dengan bluetooth.

Jika tadi kita berbicara tentang isi perut OPPO A83 yang membuatnya ‘gendut’ dengan berbagai spek mumpuni dan kekinian, maka yang tak kalah menarik berikutnya adalah ciri khas OPPO dengan kamera ‘flawless’ miliknya. Yap! Sudah tidak diragukan lagi bahwa  OPPO A83 juga memiliki kamera utama 13 MP lengkap dengan unit LED flash yang mampu menghasilkan foto dengan resolusi tinggi tanpa cacat. Sementara untuk kamera depannya 8MP yang mampu menghasilkan selfie terbaik dan kekinian.

Oh ya..  tak lupa juga, OPPO A83 juga telah ditanami baterai  kapasitas 3180 mAh, yang mampu bertahan hingga 13 jam untuk penggunaan aktif. Apalagi seperti Saya yang memang sering melakukan kegiatan di luar ruangan, baterai yang tahan lama emang paling oke, dan OPPO A83 juga sudah mampu menjawab masalah tersebut.



Kesimpulan menurut Saya, tak salah memang jika OPPO A83 disiapkan untuk menjadi trendsetter terbaru sebuah smartphone di pasar Indonesia. Dengan fitur serta teknologi yang mumpuni, maka OPPO A83 sangat mampu merajai pasar Indonesia untuk smartphone kelas menengah namun dengan pengalaman pengguna kelas premium.

OPPO A83 ini dapat langsung dipesan di OPPO Official Store di JD.id dan dibanderol dengan harga Rp.2.999.000. Jadi bagi kalian yang penasaran dan ingin membeli OPPO A83 tersebut silahkan langsung mengunjungi Official Store OPPO di JD.id, DI SINI.

Saturday, February 3, 2018

Review Samsung Galaxy A8 2018, User Experience-nya Bikin Betah



Samsung Galaxy A8 2018 adalah smartphone Samsung dengan Infinity Display yang paling terjangkau saat ini. Tak hanya paling terjangkau, ini juga adalah ponsel pintar yang paling tergenggam. Maksudnya paling nyaman digenggam hehe, dimensi layar-nya yang 5,6 inch saja, rasanya pas sekali di tangan saya.

Jarang-jarang saya membeli smartphone Samsung jika bukan buat istri saya yang dari sejak jaman pacaran dulu ngga pernah ganti merk hape. Tapi Galaxy A8 2018 ini rasanya koq ya terlalu pas dengan semua kebutuhan saya.



Memangnya apa saja sih yang saya lihat cocok dari smartphone ini, kita buat daftarnya saja ya.

1. Tentu saja Infinity Display-nya, saya rasanya sudah terlalu nyaman dengan rasio layar memanjang ini.

2. Selain masalah rasio, panel layar super AMOLED Samsung memang bikin kangen. Always-on Display-nya itu lho, bikin up to date terus.

3. Kayanya tadi sudah dibahas, dimensi layarnya yang ngga kegedean, pas banget.

Hmmm, dari satu sampai tiga layar semua yah, haha. Tenang, yang keempat ini bukan soal layar koq.

4. Adalah ketersediaan NFC, di jaman serba cashless seperti ini, rasanya penting banget, buat sekedar cek saldo e-money, atau bahkan isi ulang, semua bisa dilakukan dari mana saja kalau punya smartphone dengan NFC seperti ini.

5. Slot lengkap, dua slot untuk sim-card dan satu slot ekspansi memory adalah sebuah advantage yang bermanfaat bagi saya yang senang menyalin file-file video dari laptop ke hape. Dengan slot micro-SD dedicated seperti ini, rasanya kapasitas memory bawaan Galaxy A8 2018 yang hanya 32 GB jadi bukan masalah lagi ya.

Alasan lainnya sebetulnya sangat lebih subjektif lagi, seperti peletakan port audio di sisi bawah, penggunaan bahan backcover kaca yang tak membuat khawatir saat bergesekan dengan cincin di jemari saya, sampai mudahnya mengambil screenshot yang cukup dengan menyapukan telapak tangan kita di layar ponsel ini saja. Ya maklum, banyak share layar ponsel saya ke social media nih, heuheu.

Itu adalah hal-hal yang sudah saya rasakan kegunaannya dalam awal-awal pemakaian Galaxy A8 2018 ini. Dan semakin lama menggunakan smartphone ini, saya makin mengerti kenapa istri saya dan mungkin juga banyak orang lain memilih ponsel buatan brand Korea ini.

Alasannya simple sebetulnya, User Experience.

Banyak yang menyepelekan masalah ini demi mengejar harga produk yang lebih murah, tapi bagi saya yang kesibukannya banyak sekali ditunjang oleh penggunaan smartphone, UX adalah sesuatu yang sangat penting.

Ini bocoran saja ya, di kantor saya bekerja di group UX dan Product Management, jadi jangan anggap remeh penilaian saya mengenai sisi yang satu ini.

Sepenilaian saya, grace UX ini salah satu UX yang sudah matang di antara beberapa custom UI Android yang pernah saya coba. Wajar, pengguna smartphone Samsung kan banyak, sehingga data sampling untuk UX research mereka pasti lebih akurat.

Sebagai contoh, untuk layar 18,5:9-nya, Samsung sudah menyediakan fitur yang dapat membuat aplikasi yang belum support untuk dipaksa tampil memenuhi layar. Dan untuk mengembalikannya seperti semula, tak perlu masuk ke menu setting lho, cukup masuk ke recent apps, lalu tekan icon di kanan atas dari card aplikasi yang kita inginkan. Ini serius, benar-benar contoh penerapan UX yang baik, menurut saya.

Tentunya UX yang baik juga harus ditopang oleh hardware yang mendukung. Nah, Samsung Galaxy A8 2018 ini menggunakan dapur pacu besutan Samsung sendiri, yaitu Exynos 7 Octa, tepatnya Exynos 7885 yang sudah memiliki fabrikasi 14nm. Maka jangan heran meskipun performanya kencang, Samsung Galaxy A8 2018 ini memiliki daya tahan baterai yang tegrolong awet. Patut diingat selama pengujian, saya menyalakan fitur Always-on Display selalu lho!



Rata-rata dalam satu kali pengisian daya, Galaxy A8 2018 mampu bertahan dari pagi hingga malam atau sekitar 15 jam dengan penggunaan intens. Sementara di saat saya cukup sibuk bekerja di kantor, baterainya dapat melenggang menembus 24 jam sebelum minta diisi ulang.

Saya melanjutkan kesenangan saya bermain game Destiny 6 di smartphone ini, dan gameplay-nya terbilang selalu lancar, dan tak sampai membuat body ponsel demam walau bermain cukup lama. Yah, saya sih paling lama main game sejam lah.

Review Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHapeReview Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHape

Review Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHapeReview Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHape


Oh ya, satu yang mungkin jarang ditemukan di ponsel lain saat ini, Samsung Galaxy A8 2018 sudah memiliki pressure sensor. Umumnya sensor ini dapat digunakan untuk membantu menentukan ketinggian, jadi kalau nanti 3D maps sudah umum digunakan, smartphone ini sudah mendukung.



Sementara, fitur water resistant dengan sertifikasi IP68 tetap hadir, membuat kita merasa aman saat terpaksa menggunakan ponsel dalam keadaan basah, semisal saat hujan-hujan hendak memesan ojek online.

Fingerprint scanner pada Samsung Galaxy A8 2018 ini memang tidak berada pada posisi yang favorable bagi saya yang sering meletakkan smartphone di atas meja. Namun, kehadiran face unlock yang tergolong akurat, memberi solusinya. Saya cukup ketuk layar 2x, lalu mendekatkan wajah ke atas layarnya, voila, terbuka deh. Fingerprint scanner-nya sendiri berada dalam posisi yang sangat natural bagi telunjuk saya saat dalam posisi menggenggam ponsel ini. Akurasinya baik, dan responsifitasnya juga cukup cepat meski tidak terlalu instant.

Samsung Galaxy A8 2018 ini hadir dengan kamera ganda yang justru terletak di sisi depan. Dual front camera 16 MP + 8 MP, dengan aperture f/1.9 yang tergolong besar, dan dilengkapi dengan teknologi tetra cell. Jadi di tempat minim cahaya tetra cell tech akan membuat hasil foto lebih terang, dan di tempat dengan cahaya cukup akan menghasilkan detail yang lebih pada hasil foto.

Kita bisa memanfaatkannya untuk membuat foto selfie kita lebih stand-out dengan mengaburkan latar belakang pada mode live focus. So far saya puas dengan kinerja kamera depan ganda ini, membuat saya yang tak begitu suka selfie, jadi lebih pede berfoto bareng hehe.

Sementara kamera belakangnya yang sama-sama beresolusi 16 Megapixels juga memiliki performa yang tak kalah baiknya. Kedua kamera yang berbeda posisi ini mampu bekerja dengan baik dalam kondisi pencahayaan yang tidak terlalu bagus [TBC, melihat hasil foto]. Satu yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh Samsung, agar dapat disediakan mode pro yang bisa membuat user mengatur fokus dan shutterspeed manual, agar lebih leluasa memproduksi gambar yang diinginkan.

Lanjut ke perekeman video, smartphone ini dibekali fitur vDis, alias video digital image stabilization yang membuatnya asyik digunakan untuk merekam berbagai kegiatan kita. Framerate-nya sangat cukup untuk membuat hasil video tak patah-patah atau blurry.

Seperti biasa, soal foto dan video ini, lebih baik jika kamu menilainya sendiri yah, Sip, nih saya sajikan hasilnya.



Jangan lupakan bahwa pada kamera Galaxy A8 ini Samsung menyematkan juga Bixby Vision, yang sejatinya adalah fitur pada flagship mereka. Dengan Bixby Vision ini, kita bisa mencari referensi tentang suatu hal atau tempat, cukup dengan membidiknya di kamera. Atau sekedar butuh menerjemahkan tulisan, cincai lah pake Bixby mah.

Ada harga ada rupa, saya setuju dengan pepatah lama ini. Memang patut diakui bahwa Samsung Galaxy A8 2018 ini dijual pada level harga yang premium. Namun, selain mendapatkan rupa yang baik, kita juga akan mendapatkan UX yang nyaman digunakan sih menurut saya.

Dan User Experience itu mahal, dihasilkan dari riset berulang-ulang, dan improvement yang terus menerus.

Dan saat ini, Samsung Galaxy A8 2018 inilah smartphone dengan Grace UX dan Infinity Display yang paling terjangkau. Tips dari saya, manfaatkan berbagai diskon dan promo e-commerce, atau promo soft launch, agar Anda bisa mendapatkan benefit lebih, entah itu berupa diskon, atau bonus hadiah langsung, agar smartphone ini makin terasa worth the money.

Sejauh ini, saya sangat nyaman menggunakannya karena ukurannya yang pas banget dalam genggaman. Buat kamu yang lebih senang dengan yang serba besar, mungkin bisa mempertimbangkan Galaxy A8+ ya, bedanya di ukuran layar yang lebih luas, RAM 6 GB, dan baterai yang sebesar 3.500 mAh.

Sekian hasil pengujian Samsung Galaxy A8 2018 yang sudah saya jadikan sebagai daily driver saya selama seminggu terakhir. Kurang lebihnya mohon dimaafkan ya guys.



Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!