Gadget Promotions

Tuesday, September 26, 2017

Review ASUS Zenfone 4 Max Indonesia. Cocok Buat Ngojek Online?



Halo Assalamualaikum, sudah pada baca atau nonton review dari ASUS Zenfone 4 Max ini belum? Saya lihat sudah banyak channel yang mengulas ponsel ini ya. Tapi semoga ulasan ala Aa Gogon ini semakin melengkapi penilaian Anda, sebelum memutuskan lanjut atau tidak meminang smartphone berbaterai besar ini ya.



Hadir duluan daripada Zenfone 4 Series lainnya, Zenfone 4 Max mengandalkan baterai besar seperti biasanya. Tapi tak hanya itu saja, Zenfone 4 Max ditambahi fitur-fitur baru yang menurut saya dihadirkan dengan melihat selera pasar dan trend terkini. Apa saja fitur baru itu? Hmmm, saya absen deh satu per satu.


Kelebihan ASUS Zenfone 4 Max

Pertama, ada fingerprint scanner yang dipindah posisinya ke sisi depan, tepatnya di bagian dagu ponsel, di bawah layar 5,5 inci-nya yang walau masih beresolusi HD, namun sama sekali tak memiliki masalah soal kerapatannya. Fingerprint sekaligus tombol home kapasitif ini memiliki akurasi dan waktu respon yang baik, dan posisinya membuat kita tak perlu mengangkat ponsel ini saat hendak mengecek ponsel sewaktu digeletakkan di atas meja. Nice ASUS!

Kedua, ada LED flash di sisi depan yang dapat digunakan untuk membantu pencahayaan saat selfie. Jadi, meskipun smartphone berbaterai besar biasanya lebih difokuskan buat gaming atau kebutuhan pemakaian berat, namun dengan ASUS Zenfone 4 Max ini, kebutuhan untuk eksis masih terakomodasi dengan baik. Hehe.

Ketiga, dan ini yang paling menarik adalah hadirnya kamera utama ganda pada ponsel ini. Setupnya pun cukup berbeda dari kebanyakan ponsel dual-camera saat ini. ASUS lebih memilih menghadirkan setup kamera normal dan wide pada Zenfone 4 Max ini. Lensa wide umumnya akan berguna saat harus memotret objek dari jarak dekat atau pada ruang yang sempit.

Nah, apakah ketiga fitur di atas adalah yang Anda cari? Dan apakah sudah cukup untuk membuat Anda yakin untuk meminang smartphone ini? Tunggu dulu. Ada beberapa temuan lain yang tentunya patut disimak juga lho.


Kekurangan ASUS Zenfone 4 Max

Pertama, Zenfone 4 Max masih mengusung chipset yang sama dengan pendahulunya, yaitu Snapdragon 430. Processor ini adalah salah satu andalan Qualcomm untuk entry level, di mana konsumsi dayanya tergolong rendah namun memiliki performa yang cukup baik. Saya ingat, dibanding Snapdragon 615 atau 616, Snapdragon 430 mampu memberikan user experience yang lebih smooth tanpa panas dan konsumsi daya berlebih.

Hanya saja, wajib diingat bahwa performanya tak terlalu tinggi juga.  Bisa dirasakan saat saya gunakan untuk membuat klip video singkat menggunakan aplikasi Quik, di mana waktu rendering terasa lebih lama. Tapi masih bisa dipakai sih, daripada di Mediatek MT6737 yang mandeg hehe.

Penggunaan chipset ini pun terbukti cukup tepat sasaran, di mana Zenfone 4 Max ini selalu mampu menembus setidaknya 24 jam. Bahkan rekor saya dengan ponsel ini adalah 2 hari 2 malam dengan SoT di atas 6 jam. Hayoo yang sedang kebingungan cari smartphone buat dipake ngojek online, ini ada satu alternatif yang kayanya sih cocok banget.

Terlebih dengan ZenUI dari ASUS yang tak membuat notifikasi menjadi terlambat, rasanya cocok ya buat kegiatan online. Terlebih makin ke sini ZenUI making mengurangi jumlah bloatware yang hadir.

Walau demikian, harus saya akui ZenUI juga bukanlah favorit saya, terutama penggunaan icon pada toggles yang menurut saya kurang membantu memudahkan mata kita mencarinya. Untuk menyalakan atau mematikan bluetooth saja misalnya, saya agak kepayahan mencari posisi toggles tersebut akibat penampakannya yang kurang distinctive satu sama lain.

Kedua adalah masalah komponen fisik. ASUS Zenfone 4 Max mau tak mau akan jadi smartphone berbadan bongsor karena selain dimensi layarnya yang 5,5 inci, kapasitas baterai yang dikandungnya kan besar. Jadinya kurang nyaman untuk saya yang memang lebih senang dengan smartphone berukuran compact. Selain itu, bagian kaca depan dari Zenfone 4 Max ini senang sekali membuat saya sedikit-sedikit mengelapkannya ke baju, ya gimana ngga, bekas sidik jari dan minyak sangat mudah menempel di sana.

Untuk reproduksi warna dan kerapatan sih tak ada masalah. Meski bukan layar yang tajam banget, tapi layar HD-nya masih terlihat dengan baik di mata saya.

Ketiga adalah masalah kamera. ASUS Zenfone 4 Max sih ngga maen gimmick soal kamera, cuma memang harus diakui ada kekurangan pada kondisi ekstrem. Di kondisi ekstrem cahaya kurang, hasilnya cukup mengecewakan di mana noise hadir dan ketajaman sangat berkurang. Sementara di kondisi ekstem di mana cahaya kontras, dynamic range dari ASUS Zenfone 4 Max ini agak kepayahan, dan memaksa kita untuk berpindah ke mode HDR.

Untuk di kondisi ideal sih sebetulnya bisa juga dipakai menghasilkan gambar yang kece dan cantik seperti beberapa foto berikut ini. Dan ini berlaku buat kamera belakang maupun kamera depan ya.



Ok, sudah tiga lawan tiga nih kayaknya. 3 fitur unggulan, dan 3 temuan yang menurut saya jadi kekurangan dari ASUS Zenfone 4 Max ini.

Buat yang belum tahu, spesifikasi ASUS Zenfone 4 Max yang dilabeli versi Pro ini, memiliki RAM sebesar 3 GB, dan internal storage 32 GB. Nah, hampir lupa nih, ini adalah ponsel dual-sim dengan slot micro-SD dedicated, jadi kayanya urusan storage mah sama sekali bukan masalah.

Yang cukup jadi masalah sih saat ini justru adalah kehadiran dua pesaing baru di level harga yang mirip-mirip. Patut dicermati pergerakan harga dari ASUS Zenfone 4 Max ini apakah akan disesuaikan agar lebih memiliki daya saing? Kita tunggu saja, karena sebetulnya meskipun dibandrol dengan harga resmi Rp 2.999.000 pun, sudah banyak penjual online yang memasangnya di harga 2,7 jutaan saja.


Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Max

Silakan dicermati setiap poin penilaian yang saya berikan untuk membuat kesimpulan apakah ponsel ini layak dimiliki atau tidak. Cuma kalau ditanya apakah ponsel ini cocok digunakan untuk driver ojek online? Saya akan dengan mantap menjawabnya YA. Bahkan driver ojek online dapet bonus kamera depan yang bisa dipakai selfie bareng penumpang kapan saja karena sudah ditemani LED Flash ahahaha.

Ya sudah ya, segitu saja ulasan dari saya. Nantikan 3 buah video hasil kolaborasi dari saya bersama Kang Nico dari ObatGaptek, dan Kang Dadan dari Gayafone yang akan ngobrol buat mengupas kelebihan, kekurangan, serta kesimpulan akhir dari ASUS Zenfone 4 Max ini. Lihat deskripsi atau endscreen pada video review buat mengecek apakah ketiga video tersebut sudah tersedia atau belum.

Dan terimakasih kepada VR Room Cafe yang berlokasi di Jalan Karangsari Bandung yang sudah memperbolehkan saya mempergunakan tempatnya untuk lokaso pengambilan gambar dari video review di atas.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Monday, September 18, 2017

Review Huawei Honor 6X, Best Buy di 2-jutaan?



Pada artikel ini kita akan review nih smartphone yang kalau melihat kolom komentar video-video yang belakangan saya unggah, sepertinya sih ditunggu-tunggu.

Ya wajar sih, karena Honor 6X ini memilliki price to value comparison yang sangat menarik, terutama buat yang bosan dengan yang itu-itu lagi, itu lho yang sekarang sedang rajin mengisi pasar smartphone di berbagai level.

Hehe...

Sebelum kita mulai, perlu saya informasikan bahwa hingga saat ini, sayangnya Huawei belum menjual Honor 6X secara resmi. Unit yang saya beli di Blibli.com ini pun tak memiliki garansi. Jadi, meskipun misalkan hasil ulasannya bagus, saya tak bisa merekomendasikan ponsel ini untuk dibeli ya, anggap saja buat memperkaya khazanah kita sebagai penikmat gadget ya!


Unboxing dan Kesan Pertama pada Huawei Honor 6X




Ok, kita mulai dari sisi desain. Seri Honor dengan kombinasi huruf dan angka, biasanya tak seeksklusif seri Honor yang hanya memiliki penamaan berupa angka saja. Dan ini berlaku untuk Honor 6X. Desainnya biasa saja, malah agak out of date, karena desain seperti ini sudah muncul di ponsel brand lain sejak satu atau dua tahun yang lalu.

Jelek sih ngga, tapi ya ga bisa disebut kece-kece banget juga. Termasuk penempatan dual-camera di bagian belakang yang menurut saya kurang terintegrasi dengan desainnya secara keseluruhan. Tapi overall, dengan dimensi layarnya yang 5,5 inci, Honor 6X masih sangat nyaman digenggam meskipun dengan satu tangan. Bentuknya yang banyak memiliki lengkungan membuatnya terasa ergonomis dalam genggaman.

Layarnya beresolusi Full HD, cukup tajam, namun harus diakui reproduksi warnanya tak se-vibrant Honor 8 atau Huawei P9 Lite. Output audio-nya pun tergolong standar saja. Untungnya fingerprint scanner Honor 6X tetap seprima dua smartphone Huawei yang saya coba sebelumnya. Akurat, cepat, dan bisa digunakan untuk fungsi gesture. Shingga saya cukup terbantu saat ingin memunculkan jendela notifikasi, menggeser gambar di galeri, maupun saat ingin mengambil gambar di kamera.


Kamera Huawei Honor 6X

Berbicara soal kamera, Huawei Honor 6X yang saat saya beli ada pada harga 2,6 jutaan ini bisa dibilang memiliki setup paling lengkap di level harganya. Mode manual tetap hadir untuk foto maupun video. Dan ya, ini adalah ponsel honor termurah yang sudah memiliki kamera belakang ganda. Dan bukan gimmick, kamera kedua ini cukup membantu memberikan kedalaman, sehingga mode bokeh dapat menghasilkan blur yang baik, dan seperti biasa dapat diatur alias re-focus setelah gambar diambil. Hape dua jutaan mana lagi coba yang bisa begini?

Soal kualitas hasilnya, meskipun saya nilai masih acceptable, namun jelas sekali terlihat hasil gambar di kondisi lowlights masih di bawah Huawei P9 Lite. Kalau dibandingkan sama Honor 8 mah ya jelas kalah ya. Namun di kondisi ideal, hasil fotonya sangat tajam, dengan warna-warna yang keluar banget, malah saya berpikir koq lebih gonjreng dari karakter kameranya Xiaomi ya?

Kamera selfie-nya juga tergolong biasa saja, jelas sekali bahwa ini bukan hape selfie.

Silakan nilai sendiri kualitas hasil kameranya pada video review lengkap berikut ini.




Spesifikasi dan Performa Huawei Honor 6X

Beralih ke sisi jeroan, di sinilah value dari Honor 6X berbicara. 2,6 jutaan dapat yang varian RAM 4 GB, dan internal storage 64 GB rasanya wow banget ya. Kayanya Huawei P9 Lite yang RAM-nya cuma 3 GB dan internal-nya 16 GB serta tak support OTG itu jadi kebanting banget! Honor 6X sih sudah support OTG.

Performanya mah 11-12 saja dengan P9 Lite, dan pasti masih di bawah Kirin 950-nya Huawei Honor 8. Ya, Honor 6X masih pakai processor HiSilicon kelas menengah, sama dengan P9 Lite yaitu Kirin 655. Skor antutunya di atas 50ribu, dan dipakai gaming masih lancar-lancar saja. Dipakai editing buat bikin video klip pakai aplikasi Quik pun sukses dan tidak butuh waktu terlalu lama.

Keren kan dua jutaan dapetnya kaya gini? Eits, inget lagi ya apa yang saya bilang di awal, ini bukan barang bergaransi resmi. Tapi, seandainya Huawei Indonesia mau melanjutkan penjualan seri Honor yang sepertinya terpotong di Honor 5C, saya rasa ini bisa jadi sesuatu yang baik bagi kita konsumen ponsel di tanah air. Tinggal PR-nya Huawei saja yang mengedukasi pasar bagaimana bagusnya produk mereka. Karena saya saja baru ngeh segimana bagusnya jajaran produk smartphone Huawei pasca mencoba Huawei G9 alias P9 Lite kemarin.

Dan masalah ROM aneh muncul juga di Honor 6X ini. Kita tak bisa melakukan update OTA, hingga saya harus mendownload sendiri ROM-nya menggunakan Firmware Finder dan flashing manual supaya dapat merasakan EMUI 5.1 berbasis Android Nougat di Honor 6X. Saya sendiri merasa kurang nyaman menggunakan EMUI 4 karena adanya pemisahan toggles dan notification item di jendela notifikasi yang menurut saya tak praktis. Untung saja masih bisa update manual ya.



Apa Kata Aa tentang Huawei Honor 6X

Nah, overall jika hanya menilai dari harga dan membandingkannya dengan spesifikasi maupun performa nyata yang didapat, Honor 6X ini bisa dibilang best buy koq. Untuk multimedia pun masih cukup baik, meskipun kameranya masih setingkat di bawah P9 Lite, dan saya tegaskan lagi ini bukan hape selfie. Lagipula ibu-ibu yang suka selfie belum tentu mau pakai smartphone dari brand yang jika dilafalkan bunyinya sangat mandarin ini. Hehe.

Semoga saja Huawei mau menjual ponsel ini resmi di Indonesia ya, karena kalau tidak, maka Anda wajib berpikir ulang untuk memilikinya. Meskipun secara produk bagus, namun masalah ketiadaan jaminan purna jual, juga versi ROM yang susah diupdate, bisa jadi ganjalan juga lho.

Keputusan akhir saya kembalikan kepada Anda ya, pada deskripsi video review sudah saya sertakan link pembelian produk ini di beberapa e-commerce tanah air sebagai referensi.

Okay, semoga menjawab kepenasaran Anda yang menunggu-nunggu ulasan ponsel yang satu ini ya, dari Kota CImahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Thursday, September 7, 2017

Review Lengkap LG Q6 Indonesia, Bikin Jadi Pengen Beli...





Percaya ngga kalau saya bilang intro dari video ini yang baru saja Anda saksikan, diambil menggunakan kamera belakang dari LG Q6? Stabil banget kan?

Awalnya pun saya tak percaya smartphone 3-jutaan dari LG bisa melakukan itu, dan apakah hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh LG Q6? Baca terus ulasan ini sampai akhir ya!

LG Q6 tentu saja memiliki highlight utama pada layarnya yang sudah memiliki rasio 18:9 dengan sudut-sudut melengkung yang oleh LG diberi label sebagai Full Vision Display.

Layar ini bukan gimmick semata, nyatanya saya sangat nyaman menggunakan layar dengan rasio seperti ini, karena sisi depan dari ponsel ini jadinya nyaris semuanya layar. Dengan begitu, posisi tombol on-screen bisa berada di bawah banget, membuat area display menjadi lebih luas.

Saat layar dinyalakan, jelas sekali terlihat sisa bezel di atas dan bawah yang sangat minimal, pokoknya keren banget buat dilihat maupun ditunjukkan ke orang-orang.

LG Q6 hadir di kelas menengah, namun demikian memiliki terobosan berupa layar ala-ala flagship 2017 yang menurut saya akan butuh waktu untuk dapat dikejar oleh kompetitor LG.

Kalau ada yang bilang "yah hape 3 jutaan koq masih pakai Snapdragon 435!", jelas yang ngomong berarti ngga kenal sama LG. Meskipun sering merilis flagship dengan harga yang lebih kompetitif dari vendor sebelah, di kelas menengah mah LG kadang ngga seroyal flagshipnya koq.

Smartphone LG yang harganya 2-3 jutaan kebanyakan masih pakai processor Mediatek lho, jadi kalau LG Q6 pakai Snapdragon 435 itu adalah sesuatu yang harus disyukuri hehe. Ya kalau emang ga ada budget 3,2 juta Rupiah mah bilang aja, cari lah promo diskon yang rajin, konon ada yang bisa mendapatkan ponsel ini di harga 2,6 juta saja memanfaatkan promo bank.

Balik ke soal processor, Snapdragon 435 di LG Q6 mampu bekerja dengan baik menghidupi layar yang jumlah pixel-nya lebih banyak dari ponsel lain yang memiliki layar beresolusi Full HD. Dengan memanfaatkan RAM sebesar 3 GB, user experience sama sekali tidak memiliki hambatan, menggeser layar terasa fluid, berpindah antar aplikasi pun tak terasa ada jeda berlebihan. Termasuk masalah notifikasi, smartphone LG meskipun memiliki custom UI sendiri, selalu mampu menampilkan notifikasi secara realtime.

Hanya saja, sepenggunaan saya, LG Q6 ini terasa cepat menghangat. Dipakai membuka kamera beberapa menit, sudah hangat, dipakai game sebentar, sudah hangat. Meskipun tak sampai panas, namun cukup menimbulkan perasaan kurang nyaman jadinya.

Padahal, secara ergonomis, ponsel ini enak banget digenggam. Ketebalannya pas, dimensinya juga compact banget, layar berdiagonal 5,5 incinya bisa masuk ke body ponsel 5 inci. Anda yang menonton video unboxing-nya pasti tahu bahwa saya sempat membandingkan ukuran LG Q6 dengan Huawei Nova 2 yang berlayar 5 inci, dan hasilnya ukurannya mirip-mirip lho!


Oh ya, satu koreksi atas apa yang saya sebutkan pada video unboxing adalah mengenai material backcovernya. Bukan plastik, melainkan kaca. Pantaslah backcover ini gampang sekali meninggalkan bekas sidik jari dan rasa-rasanya bisa menjadi ladang minyak dunia berikutnya, haha.

Overall build quality dari LG Q6 ini saya katakan jempolan, terlebih dengan klaim military grade yang disematkan pada ponsel ini, yang sayangnya tak bisa saya uji karena unit yang saya review merupakan hasil pinjaman, haha.

Satu kekurangan utama dari LG Q6 yang saya rasakan adalah ketidakhadirannya fingerprint sensor pada ponsel ini. Meskipun memiliki faceprint unlock, yaitu membuka kunci layar menggunakan scan wajah, rasanya fingerprint masih dibutuhkan.

Faceprint unlock milik LG Q6 ini tergolong baik dan cepat dalam prosesnya, asalkan dalam kondisi ideal atau identik dengan saat wajah direkam. Karena masih mengandalkan kamera depan, faktor cahaya jadinya sangat mempengaruhi akurasi dan kecepatannya. Enaknya sih memang tinggal angkat ponsel menghadap wajah, layarnya menyala dan terbuka dengan sendirinya.

Ngga enaknya? Di tempat umum, jadinya sedikit menarik perhatian orang lain yang mungkin jadi mengira kita selfie melulu, padahal mah lagi mencoba buka kunci layar ya haha. Selain itu, di tempat gelap, membuka layar jadi sebuah PR, semisal di angkot malam-malam sepulang kerja, atau saat terbangun di tengah malam dan ingin mengecek notifikasi. Untuk alasan-alasan ini, saya merasa masih membutuhkan fingerprint scanner jadinya.

Apresiasi patut diberikan kepada LG yang memberikan dua slot sim-card bersamaan dengan sebuah slot micro-SD dedicated. Sehingga mereka yang merasa tak cukup dengan kapasitas storage bawaan yang 32 GB, masih bisa menambahkan memori tambahan tanpa perlu mengorbankan salah satu nomornya.


LG Q6 untuk Kebutuhan Multimedia

Untuk kebutuhan multimedia, LG Q6 cukup dapat diandalkan. Layarnya memiliki reproduksi warna serta ketajaman yang baik. Untuk memanfaatkan rasio layarnya, ada pengaturan khusus yang baru muncul saat aplikasi ditampilkan secara fullscreen, apakah mau menggunakan rasio 16:9 atau 18:9. Jadi tidak ada masalah dengan aplikasi atau games yang belum mendukung rasio layar 18:9 ini.

Sayangnya untuk YouTube, hanya video yang sudah memiliki rasio 18:9 saja yang dapat ditampilkan penuh. Sementara video yang masih memiliki rasio 16:9 tidak bisa dipaksakan untuk tampil memenuhi layar dan masih menyisakan bagian hitam di kiri dan kanan layar LG Q6 ini.

Kualitas suaranya sendiri menurut saya tergolong rata-rata saja. Tidak tergolong istimewa, namun masih usable dan tidak pecah saat digunakan pada volume yang kencang.

Gaming lancar-lancar saja, walau seperti yang saya bilang, agak cepat hangat ya. Sementara daya tahan baterainya tergolong baik, di mana dalam kondisi pemakaian normal, masih bisa menembus 24 jam.

Kamera utama LG Q6 memiliki hasil yang cemerlang di kondisi cahaya yang cukup, namun terbilang biasa banget saat lowlights. Sementara kamera depannya terbilang sangat datar, dan mungkin tidak bisa jadi favorit ibu-ibu arisan.

Kekuatan dari kamera LG Q6 ini justru muncul saat dilakukan mengambil gambar bergerak. Hasilnya terasa sangat stabil dan halus, tak seperti ponsel 3-jutaan lain. Saya berani mengacungkan keempat jempol yang saya miliki kalo soal ini.

Hasil kameranya ada di video review-nya di atas ya!


Apa Kata Aa tentang LG Q6

Masuk ke kesimpulan, LG Q6 hadir dengan profil yang berbeda dari ponsel lain yang berada di rentang harga yang sama. Mengandalkan layar Full Vision dan build quality dengan standar Militer, pada harga 3 jutaan rasa-rasanya belum ada yang mampu mengekor dan menawarkan hal yang serupa dengan LG Q6.

Hadir dengan faceprint unlock yang cepat dan akurat, Anda bisa saja tak lagi merindukan keberadaan fingerprint, andaikata Anda hanya menggunakan smartphone dalam kondisi ideal yang tak pernah kekurangan cahaya.

Yang tak suka ponsel besar-besar, LG Q6 juga akan nyaman digunakan karena dimensinya compact walau berlayar 5,5 inci. Pengalaman baru menggunakan ponsel berlayar memanjang bisa jadi satu alasan lagi buat Anda mencoba memiliki ponsel ini.

Military grade, ukuran compact, dan kamera depan yang flat? Sepertinya sangat cocok untuk dihindari ibu-ibu sosialita ya. Hehe. Ya, bisa jadi memang ponsel ini bukan diperuntukkan bagi para Selfie Expert yang mengharapkan Perfect Selfie sih.

Saya sendiri setelah semingguan menggunakan LG Q6, jadi benar-benar tertarik untuk membeli sebuah LG.... G6. Hahaha.

Demikian ulasan dari saya, silakan cek link berikut ini untuk informasi harga terbaru dan penjualan LG Q6 ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, Wassalam!

Monday, September 4, 2017

Review Elephone P8 Mini Indonesia - Calon Hape Sejuta Umat!



Jika ada ponsel Tiongkok yang membawa paket komplit, menurut saya Elephone P8 Mini adalah salah satunya.

Highlight positif saya berikan untuk ponsel ini dalam berbagai aspek. Mau tahu apa dan kenapa saya bahkan melabeli Elephone P8 Mini ini sebagai ponsel yang seharusnya jadi ponsel sejuta umat berikutnya? Tonton terus sampai habis ya!

Saya adalah orang yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama kalau soal smartphone. Artinya buat saya, looks atau desain sebuah ponsel itu penting, pake banget malah.

Dan saya pikir semuanya akan setuju jika saya bilang Elephone P8 Mini adalah sebuah ponsel yang atraktif. Terlebih yang saya pakai memiliki warna backcover merah menyala, sampai-sampai salah seorang kawan menyangka saya habis beli iPhone 7 RED. Haha.



Material backcover ini pun solid terasa. Dengan penempatan fingerprint scanner di belakang juga, sisi depan Elephone P8 Mini otomatis hanya dipergunakan untuk layar yang hitam pekat, dengan tombol kapasitif berikon khas Elephone yang memang agak disayangkan hadir tanpa backlight.

Jangan nyalakan layar ponsel ini. Koq jangan? Maksud saya, jangan kalau ngga mau tambah jatuh cinta. Dengan dimensi layar 5 inci saja, layar Elephone P8 Mini ini punya resolusi Full HD, kebayang dong gimana tajemnya? Belum cukup sama tajem doang, Elephone memberi panel layar IPS yang menurut saya ndangdut, alias vibrant, asli kece!

Dan tahukah Anda? Kalau harga ponsel ini dalam tanda kutip hanya $138 saja? Sayang memang nggak dijual di Indonesia, dan sayang juga terakhir saya lihat di GearBest.com sudah diskontinyu, ngga tau deh sekarang ada stoknya lagi atau ngga, cek aja link di deksripsi video ini buat cari tau ya!

Sekenan saya jangan diharepin ya, udah laku euy. Lho koq hape bagus dijual lagi? Ya gimana, sayanya kedatengan Huawei Nove 2 sih, hahaha.

Okay, bahasan desain habis di sini.

Lanjut ke spesifikasi dan performa ya. Dengan harga yang kalau diRupiahkan masih di bawah 2 juta, Elephone P8 Mini sudah membawa spesifikasi cukup mentereng, walau memang processornya pakai Mediatek MT6750. Skor Antutunya sih 40rebuan doang, tapi performanya lancar, dan baterainya yang cukup kecil di 2.650 mAh, mampu dibawanya menembus satu hari satu malam, cukup lah buat pemakaian casual mah.

RAM-nya gede lho, 4GB. Ditambah storage-nya yang sudah 64 GB, ngga salah kalau di video unboxing-nya saya bilang menang banyak. Angka-angkanya gede-gede. Kamera depannya apalagi, 20 Megapixels. Kamera belakangnya ada dua, 13 dan 2 Megapixels.

Kualitas kameranya gimana? Nah, ini rada mengandung gimmick euy. Pokoknya gini, anggap saja kamera belakangnya cuma ada 1 ya. Karena efek bokeh yang dihasilkan sama sekali ga keren, dan bisa dibikin pake aplikasi biasa, tanpa perlu bantuan hardware kamera tambahan. Performa kameranya dalam mengambil gambar sih oke, cepet dan lancar, sementara hasilnya memiliki warna yang tak terlalu vivid. Tajam di cahaya cukup, tak demikian dengan gambar yang dihasilkan di kondisi lowlights, di mana noise sudah antri untuk hadir.

Kamera depannya justru memiliki hasil yang lebih aduhai di segala kondisi. Saya cukup heran kenapa Elephone tak menggembor-gemborkan ponsel ini sebagai hape selfie ya. Serius, saya lebih suka hasil kamera depannya daripada kamera belakang. Sebuah LED Flash di sisi depan juga didedikasikan buat kebutuhan selfie.

Seperti biasa, nilai sendiri langsung dari hasil-hasil jepretannya di video review berikut ini ya!



Tadinya saya berpikir hendak menyimpan Elephone P8 Mini untuk device utama saya selagi saya bergonta-ganti hape untuk diulas. Ponsel ini punya banyak kriteria yang membuat saya cocok dengannya, di antaranya adalah:


  • Dimensinya compact, layar-nya hanya 5 inci, dan enak dipandang.
  • RAM dan memorinya cukup banget buat saya.
  • Port audio ada di sisi bawah.
  • Kamera yang usable, bahkan kamera depannya malah keren banget.
  • Fingerprint yang akurat dan responsif.
  • Baterai yang bisa bertahan seharian walaupun kapasitasnya kecil.
  • Dan semua itu didapatkan dari ponsel seharga $138 saja, yang mana kalaupun saya jual, uang hasil penjualannya tak akan cukup untuk membeli ponsel lain yang setara dengan ini.


Tapi rencana tinggal rencana, gegara ada idaman lain yang hadir, Elephone P8 Mini ini pun saya lego, hahaha.

Padahal serius, seandainya ponsel ini dijual secara resmi di berbagai belahan dunia, seharusnya bisa menjadi ponsel sejuta umat berikutnya. Apalagi pilihan warna-nya kece, selain merah yang saya pakai di video ini, ada juga warna biru, dan hitam.

Makanya di video Gadget Awards di channel Best Indo Tech pun saya memilih ponsel ini untuk kategori price to performance.

Koq ga ada kekurangannya? Ga berimbang nih review-nya. Haha, bodo amat. Karena selain ketidakhadiran backlight pada tombol kapasitif, dan juga absennya LED notifikasi, saya ngga punya komplain apa-apa lagi soal hape ini. Semoga yang mupeng abis liat video ini masih bisa memiliki kesempatan untuk meminang ponsel ini ya. Karena bisa jadi produk ini habis stoknya karena memang peminatnya banyak.

That's all from me, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!