Gadget Promotions

Monday, October 30, 2017

Sudio Vasa Bla, Review Earphone Swedia Pakai Kuping Cimahi



Setelah sekitar satu minggu pemakaian, saya akhirnya baru mengenali karakter dari bluetooth earphone  paling premium yang pernah saya coba ini. Satu yang saya tekankan buat Anda yang hendak mencobanya, coba putar lagu dengan kualitas atau bitrate yang tinggi. Kalau pake Spotify, set quality-nya ke extreme sekalian. Kenapa begitu? Jawabnya ada di ujung langit, hahaha. Ngga deng, kalau nonton terus mah nanti juga tahu kenapa.

Ini adalah Sudio Vasa Bla. Saya mendapatkan yang berwarna biru, namun housing-nya sih tetep warna rosegold. Satu hal yang masih jadi pertanyaan saya sendiri, kenapa sih maksa banget kombinasinya haha.

Kalau kamu mau tahu seperti apa packaging dan kelengkapan penjualannya, saya sarankan untuk tonton dulu video unboxing-nya. Sudio Vasa Bla benar-benar menebar kesan premium sejak dari kemasan paling luarnya.



Dan leather pouch-nya ini sangat berguna agar kita merasa lebih aman saat membawanya. Agar tak lekas putus pas masih sayang-sayangnya, juga agar tak mudah kusut, kaya muka kamu pas tahu harga earphone ini. Hahaha.

Memang harganya berapa? Ini dia harganya. Yap, sejutaan. Tapi kalau kamu membelinya di web official sudio yang sudah berbahasa Indonesia, dan menggunakan kode diskon "GontaGantiHape", maka jumlah yang harus dibayar tinggal sekitar 700ribuan dan sudah gratis ongkos kirim. Ga kena bea masuk koq, tenang aja. Pakai DHL, sekitar 4 harian sudah sampai di Cimahi. Padahal dikirimnya jauh, dari Estonia apa Swedia gitu, Eropa Wetan lah pokoknya heuheu.

Build quality dari Sudio Vasa Bla yang saya rasakan sih cocok lah dengan harganya. Baterainya cukup tahan lama, bisa dipakai berkali-kali sebelum indikator lowbat-nya berbunyi. Di kuping terasa pas banget, sehingga isolasi suara luar dapat terjadi dengan baik.

Karakter suaranya gimana? Nah ini dia yang saya sempat heran. Awalnya saya merasa kalau ini adalah earphone all-rounder dengan fokus pada detail suara yang baik, dengan bass yang warm tapi ngga boomy alias ga nendang banget. Cocoknya buat yang ingin mendengarkan suara yang mendekati aslinya lah.

Lalu habis nonton review produk ini di channel-nya Kang Nico yang malah bilang sebaliknya, saya sampai mendengarkan kembali berbagai lagu dengan earphone ini. Dan saya pun tahu salah saya di mana, hahaha.

Ya, kebanyakan dipakai dengerin Spotify dengan kualitas standar. Karena begitu mendengarkan musik-musik yang hi-res, minimal di 320 kbps lah bitratenya, dentuman bass-nya kerasa banget nendangnya. Ya Allah, nikmat banget kerasanya di kuping. Untung nonton dulu review-nya ObatGaptek nih, ga jadi dijual lagi deh ini earphone, hahaha.

Dipakai dengerin lagu-lagu di album pertama Sam Smith cocok bener dah, bass-nya serasa dieksploitasi buat jadi tukang pijit kuping heuheu. Sayangnya lagunya Michael Buble mah butuh treble yang bagus juga, jadinya kurang cocok malah, padahal karakter vokalnya masuk.

Setelah beberapa bulan lalu kesampaian nyobain headphone 2-jutaan, Sudio Vasa Bla ini seperti memberikan nostalgia buat saya menikmati audio kelas atas. Ya sesuai harganya lah. Selain itu, konektifitas bluetoothnya juga prima, tidak gampang disconnect, dan juga tak mudah putus-putus suaranya walaupun memutar lagu dengan bitrate tinggi.



Jadinya, buat kamu yang memang budgetnya ada, apalagi tanggal-tanggal gajian gini, lalu pengen step up the game, nyobain kenikmatan level selanjutnya dari sebuah earphone, Sudio Vasa Bla ini saya rekomendasikan untuk dicoba. Ingat, kalau kamu sudah bahagia dengan earphone 100ribuan dan budgetnya belum sampai, mending ngga usah dulu deh, pengalaman saya, kalau kuping udah kena audio mahal, susah balik lagi ke yang murah cuy, heuheu.

Link pembelian dan kode diskon saya sertakan di bawah ini ya. Siapa tahu kamu khilaf, hehehe.

Kode kupon diskon 15%: "GontaGantiHape" dapat digunakan di situs resmi www.sudiosweden.com/id (GRATIS Ongkir ke Indonesia). Harga dalam Rupiah, dan web berbahasa Indonesia.

Okay, sekian review produk earphone Swedia ala kuping Cimahi ini. Aa Gogon pamit undur diri, wassalam.

Wednesday, October 25, 2017

Review Moto G5s Plus Indonesia, Best Buy 2017?



Ketika tahu Lenovo Indonesia memasukkan seri Moto G terbaru ke Indonesia saja, saya sudah senang. Terbayang saya akan bernostalgia dengan kenangan saat dulu memiliki Moto G seri pertama dengan berbagai shell yang dimilikinya.

Ketika tahu yang masuk adalah varian G5s Plus dengan RAM 4 GB, makin senang sajalah saya.

Dan ketika sehari sebelum launching resminya, santer bocoran yang menyebutkan ada koreksi harga dari yang sebelumnya diketahui sebesar Rp 3.999.000 menjadi hanya Rp 2.999.000 melalui pre-order di Lazada.

Luar biasa! Dengan harga yang diposisikan lebih murah dari smartphone tetangga yang juga baru rilis, Moto G5s Plus mampu menyedot banyak sorotan calon konsumen di Indonesia yang masih mempertimbangkan value berbanding harga dari produk yang akan mereka beli. Kenapa saya bilang begini? Karena ada juga sebagian calon konsumen yang tak mempersoalkan ini, dan lebih condong fanatis hanya kepada satu brand saja.

Nah, bagi yang mempertimbangkan value, susah rasanya untuk mengesampingkan Moto G5s Plus dari pilihan, mengingat produk ini memiliki harga di luar kebiasaan Moto yang umumnya ada pada level mendekati premium.



Dengan harga tiga juta kurang seribu, mendapat ponsel Moto dengan processor Snapdragon 625, RAM 4 GB, sensor NFC, dukungan fast charging, dan kamera belakang ganda adalah luxury. Dan semua itu dibalut dalam body full metal yang terasa kokoh sekali. Benar-benar best buy tahun ini.

Saking luar biasa harganya, jadinya serasa terlalu mempromosikan smartphone yang satu ini ya. Sebetulnya masyarakat juga bisa menilai sendiri koq, lihat saja flash sale Moto G5s Plus yang selalu sold-out di Lazada. Terlepas dari strategi penjualannya seperti apa, ini adalah indikasi tingkat penerimaan pasar terhadap produk ini. Seingat saya produk Moto lainnya tak sampai begini lho.

Okay, lalu apakah ponsel ini tak punya kekurangan? Tentu saja ada. Dan keluhan paling pertama yang saya rasakan justru adalah feels-nya di tangan. Meskipun terasa kokoh dan mantap, sebetulnya saya tak terlalu nyaman saat menggenggamnya. Ini dikarenakan bagian frame metal di sekitar tepi layar yang terasa tajam sekali, membuat saya yang mudah terluka dan sering gagal move-on ini selalu merasa riskan, hehehe.

Kedua adalah masalah ketiadaan LED notifikasi, yang memang diganti oleh kehadiran Moto Display. Masalahnya adalah layar Moto G5s Plus bukanlah AMOLED yang bisa memadamkan semua pixel berwarna hitam pada layar. Jadinya saya memiliki kekhawatiran kalau sering-sering mengecek Moto Display ini, takutnya bikin boros baterai. Selain itu, untuk mengaktifkan Moto Display pada ponsel ini rasa-rasanya tak semudah seperti saat menggunakan Moto Z2 Play di mana lambaian tangan di atas layar selalu berhasil memunculkannya. Pada Moto G5s Plus kadang berhasil, kadang tidak, kadang baru muncul saat ponsel saya angkat dari meja, cukup membingungkan jadinya.

Ketiga tentunya masalah ketiadaan magnetic sensor, walaupun saya sebetulnya jarang memanfaatkan kompas dalam keseharian saya. Tapi sensor ini cukup penting untuk menentukan ke arah mana kita menghadap saat menggunakan ponsel untuk navigasi dari keadaan diam, misalnya saat sedang dalam kemacetan. Karena kalau dibawa bergerak sih mungkin ga masalah ya, Maps bisa melihat arah pergerakan kita.

Keempat, masalah dual kameranya. Masih kurang akurat dalam menentukan bagian mana yang seharusnya mendapat fokus dan mana yang tidak. Padahal pengalaman saya menggunakan kamera ganda dengan setup RGB dan monokrom pada ponsel dari brand lain malah justru mampu memberikan hasil blurring yang sangat baik. Jadi saya rasa kita harus menunggu perbaikan dari masalah software hingga fitur dari kamera ganda ini bisa lebih mudah digunakan. Ya, saat ini cukup sulit mencari angle yang bisa menghasilkan efek bokeh yang rapi dan menawan.

Selain masalah-masalah ini, Moto G5s Plus mampu memenuhi bahkan melebihi ekspektasi saya pada ponsel seharga 3-jutaan. Nah, seandainya nanti harganya berubah, semisal jadi 4 juta Rupiah, bisa jadi penilaian saya ini berubah ya. Meskipun rasanya harga 4 juta pun terasa wajar saja untuk apa yang ditawarkan oleh Moto pada G5s Plus ini.

Performa Snapdragon 625 sejauh ini belum pernah mengecewakan saya dari masalah responsifitas dan kemampuan mengelola task yang cukup berat sekalipun. Demikian juga dengan konsumsi daya yang seperti biasanya, tergolong hemat. Ya, Moto G5s Plus dalam pemakaian saya selalu mampu membawa baterai 3.000 mAh miliki G5s Plus ini menembus satu hari dan satu malam. Kehadiran fitur turbo charging memberi nilai lebih karena kita dapat mengisi dayanya dengan cepat.

Layar dari Moto G5s Plus pun tergolong baik, di mana dimensi 5,5 inci berbanding resolusi Full HD masih sangat mampu menghasilkan kombinasi yang enak dilihat. Vibrancy cukup, dan viewing angle luas, overall layarnya baik hanya saja memang brightness maksimalnya tak terang-terang amat.

Fingerprint scanner berada pada posisi terbaik menurut saya, dan bentuknya yang berupa cekungan tanpa frame membuat sangat nyaman bagi saya untuk melakukan pemindaian. Akurasi dan waktu responnya juga jempolan.

Oh ya, sedikit bahas soal kamera lagi, saat mengambil gambar umumnya hasil foto pada Moto G5s Plus akan terlihat memiliki tone yang warm, agak kekuningan. Namun saat saya pindahkan ke komputer sih hasilnya terasa normal dan warnanya akurat. Perekaman video cukup stabil, dan pengambilan gambar dalam kondisi lowlights masih tergolong usable meski tak bisa dibilang istimewa.

Meski tak digolongkan sebagai ponsel selfie, Moto G5s Plus sebetulnya asyik digunakan berswafoto. Angle kamera depannya terbilang wide, dan Moto memberikan bonus LED Flash untuk membantu selfie pada kondisi kurang ideal.

Hasilnya seperti apa? Seperti biasa, saya tampilkan pada video review berikut ini, agar Anda bisa menilainya sendiri. Silakan.



Tak banyak yang bisa saya simpulkan mengenai Moto G5s Plus ini selain merekap semua hal yang sudah saya jabarkan dari awal video ini. Simplenya sih gini, selama harganya masih 3 jutaan, maka bisa dibilang ponsel ini adalah best buy di penghujung tahun 2017 ini. Tinggal Anda cek apakah kekurangan yang dimilikinya akan mengganggu aktifitas normal Anda saat menggunakan smartphone? Tapi jangan lama-lama mikirnya ya, tiap flash sale habis terus, dan kita juga tak tahu sampai kapan harga luar biasa ini akan bertahan.

Yap, saya merekomendasikan ponsel ini sebagai ponsel yang sangat pantas dimiliki di level harga 3 jutaan. Tapi semua tergantung pada kebutuhan dan selera Anda juga. OK?

Sekian ulasan ala Aa Gogon untuk Moto G5s Plus, dari Kota Cimahi saya pamit, wassalam!

Friday, October 20, 2017

Review Xiaomi Mi MIX 2 Indonesia, Si Cantik yang Suka Bikin Sedih



Mi Mix 2 adalah smartphone Xiaomi dengan harga tertinggi saat ini. Lucunya, di video unboxing-nya banyak fans dari Xiaomi yang balik arah begitu tau harganya, udah ngga mending lagi katanya. mending beli motor seken katanya. Haha, memang betul sih, Mi Mix 2 tergolong premium sekali untuk Xiaomi yang selama ini memiliki image produk-produknya selalu menawarkan best price to value comparison. Tapi apakah Mi Mix 2 ini tak sebanding dengan harganya? Kita bahas terus yuk, selengkapnya di review kali ini.



Xiaomi Mi Mix 2 ini saya dapatkan dari GearBest.com dengan harga termurah ada pada kisaran $569 untuk varian RAM 6 GB dengan storage 64 GB. Kalau dirupiahkan mungkin sekitar 7,5 juta ya. Kalau hanya menghitung spesifikasi jeroan, jelas lebih baik Mi 6, atau juga OnePlus 5.

Namun Mi Mix 2 menawarkan hal lain yang tak didapat pada kedua ponsel tersebut.

Pertama adalah experience menggunakan smartphone yang hampir seluruh bagian depannya merupakan layar. Ini adalah Xiaomi pertama yang saya coba yang sudah menggunakan on-screen navigation. Dan sepanjang penggunaannya, saya sangat sangat menikmatinya.

Memandangi layar dari Mi Mix 2 adalah sebuah kepuasan tersendiri. Dan harga yang premium memang terbayar dengan feels dan experience yang didapat. Saya adalah penyuka navigasi di layar, yang mana selama ini tak pernah saya rasakan pada produk Xiaomi, kecuali pakai custom ROM ya. Dan menulis naskah untuk video ini benar-benar membuat saya merindukan ponsel yang sudah saya jual kembali ini, hahaha.

Efek samping dari penggunaan layar yang hampir memenuhi seluruh bagian depan adalah letak fingerprint scanner yang harus mengalah dan pindah ke bagian belakang. Ya, bagi saya posisi ideal fingerprint scanner masih di sisi depan sih, dan kenyamanan saya sedikit berkurang karenanya. Tapi untungnya, sensor pemindai sidik jari yang dimiliki oleh Xiaomi Mi Mix 2 ini memang top class, cepat dan akurat sekali!

Sekalian bahas sisi belakang, ini adalah salah satu luxury lain yang ditawarkan oleh ponsel ini. Menggunakan bahan ceramic, backcover Mi Mix 2 jadi salah satu yang terindah yang pernah saya coba. Cukup disayangkan memang bahan ini masih membuat bekas sidik jari dan minyak tercetak jelas. Xiaomi membekali sebuah hardcase pada paket penjualannya. Namun, meskipun case ini terlihat premium, saya pribadi takkan pernah menggunakannya. Ya iyalah, hape sudah kinclong dan kece pake ceramic gini, ngapain pakai case, atuh ga bisa nampang lagi lah si cakep teh heuheu. Dan bukankah bahan ceramic ini memiliki ketahanan akan goresan yang jauh lebih baik dari bahan kaca?

Kalau ga sama case-nya apa bisa lebih murah lagi harga Mi Mix 2? Haha, yakali ah.

Mi Mix 2 sebagaimana seri Mi premiuim lainnya, adalah ponsel dual-sim tanpa slot ekspansi memory. Selain itu, satu lagi yang tak hadir di Mi Mix 2 adalah port audio 3,5 mm, sama seperti di Mi 6 maupun Mi Note 3. Tapi ada satu hal yang sangat saya sesalkan yaitu absennya infrared blaster pada ponsel ini, padahal ponsel-ponsel Xiaomi umumnya punya kegunaan lebih berkat kemampuannya untuk menjadi remote control pengganti bagi perabot elektronik di rumah ya. Di situ saya merasa sedih, paling mahal tapi malah kena sunat. Ini ngga adil. Hiks... Haha.

Performa Mi Mix 2 sih sudah tak perlu dipertanyakan. Penggunaan Processor terbaik Qualcomm saat ini, Snapdragon 835 adalah alasannya. Sama seperti di Mi 6 dan OnePlus 5, SoC ini mampu memuaskan saya dalam hal performa kecepatan, maupun konsumsi dayanya yang tergolong hemat.

Beralih ke sisi kamera, Mi Mix 2 sebagai ponsel premium Xiaomi tentunya memiliki kamera dengan kualitas hasil yang di atas rata-rata. Saya tidak memiliki komplain apa-apa soal kameranya saat digunakan mengambil foto, meskipun belum memiliki kamera ganda sekalipun. Pun saat digunakan merekam video, kualitas gambarnya tetap terjaga baik serta memiliki kestabilan yang juga cukup istimewa. Tapi tidak dengan suaranya. Entah kenapa, saya tak pernah betah dengan suara yang dihasilkan oleh ponsel-ponsel Xiaomi saat merekam video. Dan sayangnya ini berlanjut hingga ponsel paling mahal milik Xiaomi, suaranya ga enjoyable euy. Sedih lagi deh saya, haha.

Silakan lihat video berikut ini sebagai buktinya ya, setelah itu Anda bisa melihat rentetan gambar keren yang dihasilkan oleh ponsel ini.



Saya setuju sih dengan komentar-komentar yang menyebutkan kalau harga segini, udah ngga mending lagi. Ya memang ini sudah masuk ke kategori premium atau luxury phone, bukan budget phone, flagship killer, atau best value phone. Tapi tak bisa dibilang overprice banget juga sih, ponsel ini kan menawarkan experience lebih di display yang full dan hampir bezeless, backcover menawan berbahan keramik, serta jeroan kelas atas.

Tapi satu yang saya ragukan, apa iya orang-orang yg biasa berbelanja smartphone pada level harga segini mau memilih brand Xiaomi, dan bukannya Apple atau Samsung sekalian? Bukan maksud merendahkan, tapi kenyataannya masalah prestige masih jadi salah satu faktor penentu untuk level harga premium seperti ini. Saya atau mungkin Anda juga yang tergolong tech savvy atau gadget enthusiast mungkin tahu value dari brand Xiaomi, tapi apa kebanyakan orang yang menggunakan flagship paham juga? Saya yakin segmen ini lebih didominasi oleh brand yang memiliki budget promosi yang besar, produknya sering muncul di iklan, atau yang launching-nya besar-besaran.

Saran saya sih, semoga Xiaomi mau membuat smartphone dengan full display seperti Mi Mix 2 ini, namun pada level menengah saja. Boleh lah pakai bahan kaca saja, dan boleh juga processornya pakai Snapdragon 625 saja, lalu jual di harga maksimal $300 atau 4-jutaan saja. Biar orang-orang pada bilang mending lagi hehehe.

Satu yang bisa saya simpulkan untuk ulasan kali ini, Mi Mix 2 memang bukan buat semua orang. Meskipun memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri, namun butuh effort ekstra dari Xiaomi jika mau penjualannya sukses. Untuk saat ini saya hanya bisa bilang, Mi Mix 2 ini adalah upaya dari Xiaomi untuk melengkapi portfolio mereka saja dan membuktikan kalau brand inipun bisa memproduksi sebuah luxury phone, that's all.

Oh ya, saya cek di toko online lokal nampaknya juga sangat langka yang menjual Mi Mix 2 ini. Jadi Anda yang kesengsem dengan ponsel ini, boleh cek link penjualan Xiaomi Mi Mix 2 ini apabila ingin mencoba membelinya di GearBest.com ya.

Demikian review kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Tuesday, October 17, 2017

Review Xiaomi Redmi Note 5A Indonesia


Xiaomi nampaknya lagi getol ya melakukan penganekaragaman produk mereka. Setelah untuk pertama kali menelurkan varian berakhiran A yang sangat terjangkau pada Redmi 4A, kini seri Redmi Note dapat giliran. Dan ini dimulai dari generasi kelimanya, yaitu Redmi Note 5A. Apakah ponsel ini layak dimiliki?

Apakah Xiaomi Redmi Note 5A layak dimiliki? Sebetulnya jawabannya akan sangat tergantung pada harga jualnya nanti apabila resmi dirilis di Indonesia. Produk ini sendiri saya dapatkan dari GearBest.com, di mana di sana dijual pada harga $130 atau sekitar 1,7 juta Rupiah.

Saya sendiri sudah mencobanya kurang lebih selama satu minggu dengan terlebih dahulu melakukan flashing MIUI 9 Beta.



Varian yang saya coba adalah yang termurah, yaitu yang memiliki RAM 2 GB dan Storage 16 GB. Saat saya flashing pakai ROM Redmi Note 5A selalu gagal, karena rupanya ini adalah Redmi Note 5A lite. Sudah mah varian berakhiran A, masih lite pula heuheu.

Yap, versi lite ini masih menggunakan processor yang sama dengan Redmi 4A, yaitu Snapdragon 425. Sementara versi prime sudah menggunakan Snapdragon 435 dan juga memiliki fingerprint scanner.

Ya, fingerprint scanner adalah satu hal yang selalu saya rindukan semasa menguji ponsel ini heuheu. Kombinasi double tap to wake dan pattern lumayan membantu sih, namun masih tak sepraktis dan secepat jika membuka layar menggunakan sidik jari.

Selain itu, kekurangan yang nyata terlihat adalah ketidakhadiran backlight pada tombol kapasitif di dagu ponsel.

Masalah storage sih tidak akan jadi kendala karena Redmi Note 5A adalah ponsel dual-sim dengan dedicated micro-SD slot, nice move, Xiaomi!

Secara desain, Redmi Note 5A ini adalah Redmi 4A yang volumenya didistribusikan ke lebar dan panjang, sehingga bisa lebih tipis meskipun memiliki kapasitas baterai yang sama di 3.000 mAh. Layarnya yang 5,5 inci ini juga masih beresolusi HD 720p yang di mata saya masih tampil dengan baik, tanpa masalah.

Namun memang tak bisa dipungkiri, saat jemari ini bergantian menyentuh tuts keyboard di layar Redmi Note 5A, ada perasaan berbeda. Seperti diri ini bisa merasakan bahwa ponsel ini masih didominasi oleh bahan plastik, memercikkan sedikit rasa riskan dan khawatir akan build quality-nya yang tak sesolid metal.

Tapi jangan salah, saya senang dengan feels plastik lembutnya di kulit. Rasanya tangan ini cukup bosan juga bersentuhan dengan logam terus, bagi saya pribadi finishing plastik seperti ini terkadang lebih bersahabat dengan kulit memang. Tapi orang jaman now sepertinya sudah terdoktrin kalau plastik itu murah, hari gini hape bagus harus pakai metal atau kaca. Padahal menurut saya intinya mah apa ajalah yang penting enak di tangan.

Performanya gimana? Kurang lebih sama dengan Redmi 4A, lancar-lancar saja untuk socmed ringan, namun mulai terasa berat saat digunakan bermain game dengan grafis 3D. Dan ini sangat wajar jika berkaca pada seri processor yang digunakan.

RAM 2 GB cukup pas-pasan untuk menjalankan MIUI 9, tapi masih smooth, asalkan kita tidak banyak-banyak membuka aplikasi yang menyimpan banyak data di memori saat berjalan.

Baterai cukup buat sehari semalam dengan pemakaian casual ala saya yang rata-rata menghasilkan SoT 3 jam. Dengan pemakaian agak intens sih paling kuat untuk sekitar 15 jam penggunaan saja.

Sektor audio tergolong cukup juga, nggak hancur tapi juga ga istimewa ya.

Sementara untuk camera, karakternya khas sekali kamera hape sejutaan, di mana hasilnya bisa bagus dan tajam apabila cahaya cukup. Saat cahaya berkurang, seperti umumnya kamera dengan setting auto, ISO akan dinaikkan agar kecerahan gambar bisa mengimbangi objek foto, namun jadinya noise pun muncul.

Digunakan merekam video pun kualitasnya ya rata-rata hape sejutaan saja. Masih usable untuk keseharian, tapi bukan untuk level konten profesional.

Yuk lihat langsung hasil kameranya pada video review berikut ini:




Apa Kata Aa tentang Xiaomi Redmi Note 5A

Masuk ke kesimpulan, overall Xiaomi Redmi Note 5A ini adalah ponsel entry level berlayar besar dari Xiaomi yang memiliki value yang baik dan akan cocok digunakan oleh pengguna yang baru memiliki smartphone dan butuh layar besar.

Bukan buat yang mengejar spesifikasi memang. Performanya sebatas cukup buat pemakaian normal sehari-hari saja, tidak akan enak dipakai bermain game, karena selain processornya bukan yang memiliki daya pemrosesan tinggi, konsumsi baterainya pun tak hemat-hemat banget.

Tinggal lihat nanti, apakah varian ini yang akan resmi dirilis di Indonesia? Dan berapa harganya? Mengingat lahan kosong yang tersedia ada di range harga di antara Redmi 4A dan Redmi 4X, rasa-rasanya 1,7 juta bisa jadi memang harga yang pas. Tapi, di harga segitu persaingannya ketat juga ya. Silakan cek ponsel-ponsel yang sudah lama rilis di harga sekitar 1,7, belum lagi beberapa ponsel keluaran baru yang juga ga jauh-jauh dari kisaran harga segini.

Ah, saya yakin Xiaomi mah bakal memberi kejutan kalo soal harga. Jadi kita tunggu saja. Kalau yang ga sabar nunggu, silakan cek link di deskripsi, Xiaomi Redmi Note 5A ini sudah dijual di GearBest koq.

Ok, demikian ulasan dari saya, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Review Huawei Nova 2 Indonesia, Hampir Saja Jadi Daily Driver Saya



Huawei Nova 2 sejatinya akan menjadi daily driver saya, karena memenuhi banyak kriteria. Yang paling utama sih dimensinya yang sangat kompak di lima inci saja. Hari gini nemu hape 5 inci yang mumpuni kayanya udah susah banget.



Dibalut dengan body berbahan metal berwarna biru lembut, mungkin ini adalah salah satu ponsel berbody metal tercantik yang pernah saya coba. Perhatikan setiap detail sisinya yang melengkung membuatnya nyaman digenggam, selain tentu saja karena dimensinya yang pas banget di tangan.

Lihat juga aksen garis-garis melingkar yang mengelilingi sensor fingerprint di punggungnya. Dan tak lupa tombol power bertekstur strip yang cantik. Ya, kalau soal garis antena harus saya akui meski cantik, namun sama sekali tak orisinil sih heuheu.

Fokus di bagian backcover kemudian tertuju pada dua buah kamera utama yang ditemani oleh sebuah LED flash saja. Kamera ini memiliki setup normal dan zoom, perbesarannya hingga 2x. Resolusinya 12 dan 8 megapixels. Hasilnya? Beuh jangan ditanya. Meskipun Nova series masih masuk ke kelas menengah-nya Huawei, namun hasil fotonya menurut saya menakjubkan, di mana seperti yang sudah-sudah memiliki saturasi warna yang tajam, dan bisa diandalkan di kondisi lowlights.

Satu yang saya kagumi juga adalah kemampuan kameranya merekam video dengan stabil. Warnanya memang agak lebay gonjrengnya, tapi coba deh lihat video berikut ini. Ngga seperti pakai hape kelas menengah deh!

Sementara kamera depannya lebih edan lagi karena beresolusi 20 Megapixels dan memiliki portrait mode untuk bokeh-bokehan meskipun hanya menggunakan satu lensa. Hasilnya boleh diadu, monggo cek lagi...



Layar Huawei Nova 2 mungkin memang tak seindah Honor 8, G9 Lite, atau bahkan Honor 9. Tapi resolusi Full HD di layar 5 inci membuatnya tajam sekali, dan yang pasti masih lebih baik daripada layar Honor 6x.

Jika Huawei Nova edisi pertama menggunakan processor Snapdragon 625, maka Nova 2 kembali ke pelukan processor in-house HiSilicon, yaitu Kirin 659. Skor antutu-nya setara lah dengan Snapdragon 625, pun konsumsi baterainya yang menurut saya paling hemat di antara semua ponsel Huawei yang pernah saya coba, padahal kapasitas baterainya bisa dibilang cukup kecil, hanya 2.950 mAh. Masalah panas juga tak pernah saya rasakan saat menggunakannya.

Sempurna? Ngga deh kayanya. Ada satu bug yang cukup terasa mengganggu pada performanya. Bug ini biasa muncul saat banyak aplikasi terbuka, lalu kita membuka kameranya. Beberapa kali kejadian, hape jadi ngelag ga jelas. Solusinya sih clear all dari recent apps, lalu buka kamera lagi, lancar deh. Tapi ini jadi PR buat Huawei untuk memperbaikinya. Dan ini sih yang sebetulnya jadi alasan saya merogoh kocek untuk kemudian membeli Honor 9 untuk dijadikan daily driver selanjutnya.

Masalah output audio juga harus diakui masih sedikit di bawah seri Honor 8 maupun 9. Tapi bukan berarti audio-nya gak enjoyable ya, masih enak koq dipakai memutar musik dan video mah.

Fingerprint scanner-nya sangat cepat dan juga akurat, namun saat baru digunakan memang agak canggung untuk mencari posisinya karena sensor ini dibuat datar dengan body belakang dari Huawei Nova 2. Seperti biasa, fingerprint ini dapat digunakan untuk fungsi gesture, seperti: swipe ke bawah untuk menurunkan jendela notifikasi, dan ke atas untuk menutupnya kembali. Sentuh sebagai tombol shutter saat menggunakan kamera, dan swipe ke samping untuk bergeser antar foto saat membuka gallery.

Nah, yang saya gunakan pada video ini adalah Huawei Nova 2 varian warna Aurora Blue. Menurut pendapat saya, ada satu warna lagi yang menarik untuk dicoba, yaitu Grass Green di mana backcovernya berwarna hijau dengan sisi depan berwarna putih. Jika suatu saat Anda berniat meminangnya, pastikan ponsel Huawei yang Anda hendak beli adalah versi International ya. Sepengalaman saya menggunakan Honor 8 dan 6x kemarin, memang ada versi yang tidak mendapat update OTA meskipun varian lain dari tipe yang sama sudah pada upgrade. Sayang juga kan kalau hape bagus tak pakai OS terbaru?

Dan rumornya, ada beberapa tipe ponsel menengah ke atas dari Huawei yang sedang dalam proses untuk dapat diluncurkan di Indonesia. Kabarnya salah satunya Huawei Nova 2i alias Huaweu Maimang, itu lho yang punya layar memanjang seperti brand-brand lain. Kita nantikan saja apakah rumor itu akan menjadi nyata atau tidak.

PR Huawei selanjutnya adalah bagaimana mengedukasi pasar tentang produk mereka yang sebetulnya bagus-bagus itu. Walau memang sih harga dari produk Huawei tak bisa dibilang best value juga, heuheu.

Ah sudah ah, nanti saya makin dicap fanboy-nya Huawei, hahaha.

Oke, impas ya hutang review saya soal Huawei Nova 2. Tinggal review Honor 9, yang mungkin akan hadir dalam beberapa minggu ke depan.

Sip, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalamualaikum!

Anda bisa membeli Huawei Nova 2 International Version di sini

Thursday, October 12, 2017

Review Sharp R1, Lanjutkan Terus ya Sampai Aquos!


Ini adalah gebrakan kedua Sharp Mobile di kancah industri smartphone tanah air tahun 2017 ini. Setelah peluncuran Z2 dan M1 yang rasanya hanya sayup terdengar, Sharp R1 hadir dengan membawa lebih banyak kicauan. Setidaknya menurut saya. Lalu bagaimana sebetulnya detail dari produk yang dibandrol pada harga Rp 1.799.000 ini? Mari kita kupas, hingga tuntas.



Kesan Pertama pada Sharp R1

Sharp R1 yang hadir dengan membawa tagline Display All Details ini menawarkan spesifikasi yang cukup menggiurkan untuk bersaing di level harga sejutaan.

RAM 3 GB, storage 32 GB, baterai besar 4.000 mAh, dan kamera beresolusi besar di 13 dan 8 Megapixels adalah jualan utama dari ponsel ini selain desainnya.

Desainnya sendiri masih mencerminkan ponsel harga sejutaan, namun dengan detail yang baik dan tampilan yang klimis. Layar Aqua Display 5,2 inci-nya sudah bertepian melengkung 2.5D sehingga menambah kilau ponsel ini, khususnya yang varian warna grey dengan sisi depan hitam yang saya coba ini.

Hanya saja, karakter hape sejutaan masih lekat begitu melihat tombol kapasitif di bawah layar yang hadir tanpa lampu latar. Pun demikian dengan penempatan loudspeaker di sisi belakang yang alangkah lebih baik apabila digeser ke sisi bawah yang nampak lengang.

Layar dari ponsel ini sendiri memiliki kualitas yg tergolong baik, di mana kontras warna dapat dihasilkan dengan jelas, meskipun untuk masalah vibrancy masih tergolong standar hape sejutaan, di mana warna-warna mencolok terlihat agak pucat. Sejauh ini layarnya responsif dan bekerja tanpa cela.

Dengan dimensi 5,2 inci, resolusi HD 720p masih terasa cukup, dan yang paling penting ini adalah dimensi paling ideal untuk sebuah ponsel bagi saya agar nyaman digenggam.


Performa Sharp R1 dalam Penggunaan Sehari-hari

Sharp R1 adalah ponsel dual-sim dengan slot sim card berukuran nano yang salah satunya hybrid dengan slot micro-SD. Build quality terbilang jempolan, dengan kombinasi bahan metal dan plastik di backcover yang dipermanis dengan list chrome melintang.

Beralih ke fingerprint scanner, pada Sharp R1 ini posisinya ada di punggung ponsel, dengan akurasi yang sangat baik, serta respon yang lumayan cepat. Tidak bisa super cepat memang karena penggunaan dapur pacu yang memang sangat lumrah dipakai pada level harga ini, apalagi kalau bukan Mediatek MT6737.

Sedikit disayangkan memang SoC ini belum bisa jadi favorit saya, karena selain performanya tidak terlalu cepat, konsumsi daya baterainya juga tak sebegitu hematnya. Baterai 4.000 mAh milik Sharp bisa digerogotinya sampai habis sebelum 24 jam berlalu. Bisa sih tembus 24 jam bilamana saya sedang sibuk dengan pekerjaan, sehingga jarang membuka ponsel. Silakan cek battery usage berbanding screen-on time sebagai indikator intensitas penggunaannya berikut ini.

Seperti biasa, pintar-pintar pilih game yang hendak diinstall ya, yang penting bisa menemani Anda membunuh waktu menunggu saja, daripada bengong. Atau Anda lebih suka menonton video dan mendengarkan musik saat menunggu? Loudspeaker Sharp R1 masih enjoyable koq, coba simak.

Untungnya, Sharp memberikan kelebihan berupa kamera yang tergolong sangat mumpuni untuk R1 ini. Selain resolusinya yang tinggi, kedua kameranya sangat dapat diandalkan di kondisi ideal. Hasil fotonya cukup untuk membuat orang lain memuji kelihaian Anda mengambil gambar. Ketika pencahayaan mulai berkurang, kameranya masih mampu memotret dengan cukup detail, namun saat semakin berkurang lagi, warna-warna cukup pucat terlihat dan sudah mulai tidak direkomendasikan untuk mengoperasikannya tanpa bantuan lampu kilat.

Silakan dicek hasil foto dan video yang saya ambil menggunakan kamera Sharp R1 berikut ini, lalu tolong tulis di kolom komentar bagaimana pendapat kamu tentang hasilnya ya.




Apa Kata Aa tentang Sharp R1


Overall, Sharp R1 menurut saya mampu memberikan value yang lebih atau setidaknya menyamai jumlah Rupiah yang harus kita keluarkan untuk memilikinya. Spesifikasi di atas kertas yang cukup memikat hati, desain yang indah untuk level harganya, serta build quality dan kamera di atas rata-rata.

Semoga nanti akan ada update software yang bisa meningkatkan kinerja processornya agar bisa lebih menghemat konsumsi dayanya agar para driver transportasi online bisa menjadikannya alternatif pilihan smartphone untuk bekerja.

Saat ini ponsel keluaran Sharp ini sudah mulai dijual secara eksklusif di Lazada, silakan klik link berikut ini untuk menuju halaman penjualan Sharp R1 ini di Lazada.

Besar harapan saya agar Sharp mau memasukkan seri Aquos kembali ke Indonesia, dan semoga pasar Indonesia pada saat itu sudah bisa menyerapnya dengan baik.

Demikian ulasan yang dapat saya berikan, dari Kota Cimahi saya undur diri, wassalam!