Gadget Promotions

Thursday, December 27, 2018

Review ASUS Zenfone Max Pro M2 ZB631KL, Formula Yang Tepat!



ASUS nampaknya sudah menemukan formula yang tepat tentang produk apa yang harus dijual di Indonesia, dan bagaimana cara menjualnya.

Ya, Indonesia adalah pasa penting untuk masalah smartphone, dan nampaknya ASUS tak ingin kehilangan bagian kue miliknya di sini.

Maksud saya, lihat bagaimana dulu seri Zenfone 4 tidak terlalu bersinar di sini, karena fokusnya ke selfie.

Dan sejak Zenfone Max Pro M1, ketika ASUS membuat produk dengan spec to price comparison yang memikat, tinggal menunggu waktu saja untuk brand ini merangsek ke posisi klasemen bagian atas liga smartphone Indonesia, hehe.

Ya, sejak M1, diikuti Zenfone 5 dan 5z, ASUS terus mendapatkan highlight positif, termasuk dari saya. Okelah, Zenfone 5Q agak membingungkan, tapi coba Anda tengok apa yang ASUS tawarkan di penutup 2018 ini, Zenfone Max Pro M2!

Memang, jedanya tak sampai satu tahun ya dari M1 dulu.



Tapi nampaknya ASUS tak membunuh M1 dengan upgrade yang diberikan. Level harganya sedikit di atas M1 dulu. Kalau sekarang sih segmentasinya sudah jelas karena M1 turun harganya.

Upgrade yang saya maksud akan saya buatkan dalam daftar ya.

1. Processor. 
ASUS memilih untuk upgrade ke Snapdragon 660 yang makin sejalan dengan genre gaming yang digembor-gemborkannya. Walau sebetulnya bukan processor baru, namun performanya semakin baik itu tentu.

2. Kamera. 
ASUS memilih sensor dari Sony untuk kameranya, dengan tambahan 3-axis gyro EIS. Soal stabilisasi video nanti dinilai langsung saja ya. Untuk hasil foto sih jelas terasa ada peningkatan dari M1 dulu. Lowlights meningkat cukup tajam, dengan catatan tangan harus sestabil mungkin, karena pada beberapa kondisi dia secara otomatis memperlambat rana, sehingga kalau goyang ya hasilnya blur.

Selfie-nya OK, tidak ada kamera jahat di sini, alias hasilnya natural ya.

Bokeh-nya mantap. Walau seingat saya M1 terakhir-terakhir setelah update juga bagus begini. Ya kalau tak suka hasilnya terlalu dramatis, jangan terlalu full ngatur aperture-nya ya. Yang pasti algoritmanya bekerja dengan baik membedakan tepian yang mendapat fokus dan yang blur.

Sudah masuk kategori kepake banget sih ini kameranya, dan silakan buktikan penilaian saya ini di deretan foto dan video berikut ini.



3. Layar.
ASUS memilih ikutan trend poni pada layar IPS 6,3 inci beresolusi Full HD+ ini. Di pojok kiri dan kanan atas masih cukup buat ikon notifikasi dan indikator, jadi ga masalah buat saya. Bezel kiri kanan tipis, atas cukup tipis, dan bawah agak tebal. Buat hape di harga segini yang mengedepankan jeroan bagus sih bisa dimaklum ya.

Yang istimewa, Zenfone Max Pro M2 ini sudah menggunakan Gorilla Glass 6. Kalau lihat di temen-temen yang lain sih sebetulnya sudah ada yg tergores saat disakuin. Jadi kalau mau lebih aman, monggo cari perlindungan ekstra ya.

4. Body.
ASUS juga memilih ikutan trend body glossy. Nambah cakep jadinya. Walau dengan pemilihan material polikarbonat mungkin membuat sebagian orang jadi kurang sreg. Saya pun lebih suka jika materialnya glass alias kaca ya, tapi saya tahu ini tak bisa diprotes mengingat production cost pasti sudah tersedot untuk poin nomor 1 dan 2 tadi.

Takut gores, ya pakai casing. Kan di kotak penjualannya sudah dikasih.

Saya ngga tahu apakah kualitas speakernya bisa dibilang upgrade atau tidak. Namun outputnya cukup lantang dan jernih. Saya persilakan saja Anda yang menilai ya pada video review-nya, soalnya beberapa bulan belakangan saya akrab dengan beberapa flagship yang audionya kece-kece, jadi standarnya mungkin agak beda.

Untuk performa, Snapdragon 660 sudah pada bisa nebak sepertinya ya levelnya. Skor Antutunya sedikit di bawah 130-ribuan, dan bagi saya buat maen PUBG sudah enak dan cukup banget. Smooth lah.

Baterainya masih 5.000 mAh, yang sama sih seperti M1 dulu, ga bisa dibilang hemat-hemat banget. Apalagi sekarang pakai Snapdragon 660 yang memang performanya lebih tinggi dari 636, efeknya konsumsi daya pun lebih beringas.

Rata-rata pemakaian saya M2 ini bertahan selama 30 jam ya dari baterai 100 ke 10%. SoT rata-rata di atas 6 jam, baik dengan gaming atau tidak. Yang pasti selalu dipakai secara intens.

Jangan dibandingkan dengan custom UI merk lain, maaf. M2 ini pakai stock Android yang notifnya realtime terus, yang konsekuensinya memang konsumsi daya lebih tinggi.

Yang jadi ganjelan sih masih soal pengsian daya yang terasa lama. Di atas 3 jam rasa-rasanya. Akhirnya saya selalu tinggal ngecas saat tidur. Quickcharge sepertinya tidak dibuka di ponsel ini, mungkin untuk menekan biaya.

Satu ganjelan lain, kadang saya temukan kamera ngehang walau frekuensinya jarang. Tapi yakin sih ini nanti beresnya kalau ada update software.

Overall, ASUS Zenfone Max Pro M2 ini dengan mudah masuk ke kategori best value di 2018 dan mungkin hingga semester pertama 2019 nanti. Saingannya ketat, sekarang pada berlomba-lomba mengisi segmen ini euy brand smartphone di Indonesia.

Jadi pintar-pintar memilih dan menyesuaikan dengan kebutuhan pribadi masing-masing ya.

Saya sih merekomendasikan smartphone ini untuk dimiliki, apalagi kabarnya M2 ini anti ghoib ghoib club.

Hanya, sebelum memutuskan, pastikan sudah menyimak baik-baik poin-poin yang saya sebutkan tadi ya, baik yang sifatnya upgrade, maupun ganjelan yang saya rasakan.

Tapi overall, good job lah ASUS. Jangan berhenti di sini, terus sempurnakan formulanya ya.

Sun jauh dari Cimahi, hehehe.

Wassalamualaikum.

Friday, December 21, 2018

Review Realme U1, Realme dengan Kamera Terbaik Sejauh Ini



Anda yang sudah menonton review Realme 2 Pro di channel ini, pasti akan merasa familiar dengan produk terbaru dari Realme, yaitu Realme U1.

Ya, sekilas tidak ada perbedaan pada penampilan kedua smartphone ini. Untung saya bisa dapat Realme U1 berwarna fiery gold, satu varian warna yang tak dimiliki Realme 2 Pro. Warna gold-nya sih terlihat kece dan juga keren, menurut saya masih masuk untuk digunakan cowo, terlebih sisi depannya masih berwarna hitam ya.

Realme nampaknya ingin menegaskan bahwa dewdrop notch jadi ciri khas smartphone besutan mereka. Pun dengan backcover glossy yang pastinya membuat kesan mewah smartphone ini lebih terasa.

Lalu, selain warna, apa dong bedanya Realme U1 ini? Sebetulnya jika disimak baik-baik, Realme U1 hadir dengan bezel yang semakin tipis, dan backcovernya disebut memiliki 13 lapis atom level mikro yang selain tampil menawan, juga nyaman digenggam dan lebih tahan goresan.

Layarnya kini sudah memiliki screen to body ratio yang mencapai 90,8%. Dengan panel IPS  dan kerapatan mencapai 409 ppi, ponsel ini nampaknya sangat siap untuk jadi ponsel multimedia. Plus, proteksi Gorilla Glass 3 hadir juga.

Lalu jika kita melihat spec sheetnya, setidaknya ada 2 hal mendasar yang jadi diferensiasi Realme U1 dari produk sebelumnya, yaitu SoC dan konfigurasi kamera.

Kita mulai bahasan kamera dulu ya. Realme U1 masih memiliki jumlah kamera yang sama, dua di belakang, dan satu di depan. Yang membedakan adalah spesifikasi teknis hardware kamera yang digunakan.

Kali ini, Realme menyematkan kamera selfie beresolusi super besar, yaitu 25 Megapixels yang memakai sensor Sony IMX576 serta bukaan lensa f/2.0. Di atas kertas, ini adalah jaminan mutu ya, namun saya sarankan lihat dulu hasil foto selfie saya berikut ini deh.



Bagaimana? Selfienya keren kan segini? AI yang ada pada ColorOS 5.2 nampaknya semakin bagus performanya di Realme U1 ini. Selfie bokeh pun tergolong rapi, dan mode super vivid juga tersedia. Dan saya juga senang dengan hasil selfienya di saat kondisi lowlights yang tetap jernih dan minim noise. Satu lagi, walaupun mode beautification menyala, kemampuan AI-nya mendeteksi gender membuat hasilnya tidak berlebihan bagi saya yang cowok ini.

Beralih ke kamera belakang, Realme U1 dibekali dua kamera. Yang pertama adalah kamera utama dengan lensa f/2.2 dan sensor 13 Megapixels. Sementara yang kedua adalah lensa depth sensor 2 Megapixels, dengan bukaan f/2.4.

Dan bagi saya, ini adalah smartphone Realme dengan kamera terbaik sejauh ini. HDR-nya bekerja dengan baik, membuat exposure tersebar secara baik, dan hasilnya sangat bisa dinikmati. Anda yang senang dengan warna-warna yang lebih hidup, bisa memanfaatkan super vivid mode untuk hasil foto yang lebih vibrant.

Dan di lowlights, lagi-lagi kameranya mampu menampilkan performa menawan, di mana hasil foto tetap terlihat minim noise.

Sementara untuk perekaman video, bisa dilakukan pada resolusi maksimal Full HD. Asyiknya, mode super vivid juga hadir pada video, hanya saja resolusinya maksimal di HD 720p. Framerate videonya sudah cukup untuk membuat hasilnya nampak halus, tak patah-patah. Sehingga meskipun stabilisasinya tak terlalu terasa, hasilnya masih enjoyable.

Fitur kameranya cukup lengkap, termasuk mode manual alias professional yang lengkap, lalu juga adanya slow-motion mode di 240fps ya. Untuk pengaturan optimal di berbagai kondisi, AI scene recognition juga ada.

Jika ada yang bisa sedikit saya beri feedback, masalah pengaturan kamera yang harus masuk dari menu setting system apps, harusnya bisa diberi akses langsung dari aplikasi kamera ini.

Lanjut ke masalah SoC, Realme U1 adalah smartphone pertama di dunia yang menggunakan chipset MediaTek Helio P70. Processor ini bersanding dengan GPU Mali-G72 yang performanya diklaim lebih efisien sekitar 13% dibanding Helio P60.

Apa artinya? Artinya adalah konsumsi daya yang lebih hemat dari smartphone yang menggunakan Helio P60. Dengan baterai 3.500 mAh yang dimilikinya, Realme U1 mampu bertahan hingga 40 jam dengan pemakaian cukup intens untuk social media, messaging, camera, dan sedikit gaming.

Dan untuk gaming, Realme U1 menurut saya sangat mampu mengimbangi performa Realme 2 Pro, di mana saat bermain PUBG, setting maksimal untuk graphic ada pada HD, dengan framerate High.

Bermain PUBG selama setengah jam hanya membuat ponsel ini sedikit saja menghangat, dan yang pasti saya mainnya enjoy karena gameplaynya lancar sekali.

Buat yang penasaran dengan skor Antutu Benchmark, Realme U1 punya skor menembus 130-ribuan lho. Jadi saya harap tidak ada lagi yang menggeneralisir bahwa Mediatek itu jelek ya.

Faktanya, sejak Helio P60 lalu, performanya sudah sangat baik, dengan konsumsi daya yang juga hemat dan tak mudah panas juga berkat fabrikasinya yang sudah 12nm. Dan Helio P70 pada Realme U1 ini semakin mematahkan stigma bahwa Mediatek itu tak sebagus Snapdragon.

Yup, penggunaan Helio P70 ini juga memungkinkan kedua nomor mengakses jaringan 4G secara bersamaan, termasuk untuk VoLTE-nya lho. Mantap bukan?

Masih ingat tidak keluhan saya tentang ColorOS? Rupanya, perbaikan pada ColorOS 5.2 ini sudah mencakup beberapa hal yang dulu saya jadikan feedback. Ya, untuk menghilangkan notification item, baik itu yang berupa toast ataupun yang muncul pada notification drawer, kini cukup di-swipe ke samping sekali saja.

Sementara fitur favorit saya dari ColorOS ini adalah smart sidebar yang membuat kita dapat mengakses aplikasi lain yang sudah kita atur, saat layar sedang menampilkan suatu aplikasi yang fullscreen.

Sidebar ini juga punya fitur lebih banyak lagi saat kita bermain game. Intinya, game makin bisa dinikmati tanpa interupsi, dan fitur-fitur tambahan bisa kita akses dengan mudah, misalkan saat kita hendak merekam gameplay kita.

Kamera ok, performa ok, UX makin enak, lalu bagaimana dengan security? Kalau yang dimaksud adalah performa fingerprint dan face unlocknya, ini mah jangan khawatir lah. Fingerprint-nya cepat dan akurat, sementara face unlocknya juga tak kalah baiknya, plus mampu bekerja dengan baik juga di kondisi redup cahaya.

Saran saya bagi Realme ke depannya, mungkin ada baiknya mulai memikirkan cara untuk menempatkan LED Notification, agar smartphonenya tak hanya terlihat indah, namun juga informatif bagi penggunanya. Jadi saat lama ditinggal di atas meja, kita bisa tahu apakah ada pesan penting atau tidak yang hinggap di ponsel ini.

Dengan harga segini sih seperti biasa Realme selalu menawarkan value for money ya. Walau belum dilengkapi fitur fast charging, bagi saya mengisi daya selama 2 jam sih masih ok. Overall performanya sangat memuaskan, meskipun Realme U1 ini kabarnya lebih difokuskan ke masalah fotografi.

Jika Anda merasa cocok dengan paparan saya, dan tertarik memilikinya, link pembelian ada di deskripsi video juga ya.

Demikian hasil pengujian saya, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Review Huawei Mate 20 Pro, Membuat Saya Mati Kutu!



Saya terkadang mati kutu. Ya, mati kutu saat menguji pakai smartphone level flagship yang kadang sulit bagi kita untuk menemukan kekurangannya, selain harga. Demikian juga yang saya rasakan dengan Huawei Mate 20 Pro. Okelah smartphone ini memang tak punya jack audio, tapi selain itu coba Anda tengok apa saja yang ditawarkan oleh smartphone terbaru Huawei yang segera dijual resmi di Indonesia ini. Hardware-nya top notch semua, mulai dari jeroannya yang sudah menggunakan processor Kirin 980 terbaru yang memiliki fabrikasi 7nm pertama di dunia. Lanjut ke layar AMOLED dengan tepian melengkung di kedua sisi. Plus, fingerprint scanner ada di dalam layar. Kamera belakangnya ada 3 dengan resolusi besar-besar di 40, 20, dan 8 Megapixels dengan setup wide, ultra wide, dan zoom. Kamu bisa ngulik berbagai hasil foto terbaik dengan kamera begini. Jangan lupa penempatan kameranya juga unik ya, plus backcover glass yang asli feelsnya premium sekali dan tak mudah kotor oleh sidik jari. Sementara kamera depannya punya setup wide dengan resolusi 24 Megapixels. Nanti kamu bisa cek hasil video dan fotonya di video ini ya.

Kita lanjut ke komponen lain dulu, pada bagian atas frame metal-nya yang lagi-lagi berfinishing glossy, kita dapat menemukan infrared blaster. Nice job, mengingat hal ini sudah mulai sulit ditemukan di flagship smartphone seperti ini. Jika Anda cermati sisi bawah frame-nya, pasti Anda akan mencari di mana letak loudspeakernya kan? Haha, sama saya pun bingung awalnya. Namun ketika saya memutar video dan lagu, baru saya sadar ternyata suaranya keluar dari lubang USB Type-C di bawah, serta earpiece di atas, alias stereo. Lagi-lagi mantap deh. Wireless charging? Bisa. Waterproof? Ini sudah punya sertifikasi IP68. Feelsnya di tangan nyaman sekali berkat desainnya yang memiliki curve di setiap pinggirannya. Saya sendiri selalu memakai softcase tipis yang disertakan dalam paket penjualannya, tak menambah ketebalan secara signifikan menurut saya. Harus diakui, feelsnya familiar dengan saat menggenggam Galaxy S9 Plus milik istri saya. Namun bisa dibilang, Huawei Mate 20 Pro ini adalah flagship smartphone paling mutakhir yang masuk ke Indonesia tahun 2018 ini. Semua fitur kekinian yang ditawarkan smartphone flagship lainnya, dikemas menjadi satu, dan ini termasuk kehadiran notch di layar, tepian edge dan panel AMOLED, fingerprint di bawah layar, dan juga hilangnya jack audio, hehehe. Oh ya, satu lagi, harganya juga ikut menegaskan di kasta mana smartphone ini berada. Jadi buat kamu yang masih menganggap Huawei itu identik dengan Esia Hidayah, aduh ke mana aja selama ini? Hahaha. Pasca merilis Huawei P20 Pro lalu sekarang Mate 20 Pro, Huawei seakan ingin menunjukkan kepada Indonesia, bahwa di skala global, mereka punya angka penjualan kedua terbesar lho, di bawah Samsung namun di atas Apple. Oh ya, banyak yang bilang overall kamera P20 Pro lebih baik hasilnya, dan saya merasakan hal yang sama. Nampaknya beda setup kameranya jadi penyebab hal ini. Huawei P20 Pro punya satu lensa dengan sensor monokrom yang mampu membuat hasil foto lebih tajam, dan warna bisa lebih indah. Sementara Mate 20 Pro punya keunggulan di lensa super wide-nya. Sementara untuk masalah AI, HDR dan juga selfienya, saya merasa setara lah keduanya. Dan ini wajar mengingat positioning seri Mate yang lebih mengedepankan performa, sementara seri P untuk kamera. Nah, Kirin 980 ini punya skor Antutu rata-rata menembus 300-ribuan, walau entah kenapa di unit yang saya coba ini hasilnya baru mencapai 220-ribuan saja. Ya, unit yang saja uji merupakan unit pinjaman, dan saya hanya punya waktu sekitar 5 hari bersamanya, sehingga mungkin pembahasannya tidak terlalu detail kali ini. Kalau dibilang betah, saya sih betah banget pakai Huawei Mate 20 Pro ini, mungkin karena tak perlu mengingat jumlah Rupiah yang harus dikeluarkan untuk menebusnya ya, hehehe. EMUI 9 yang berbasis Android 9.0 Pie adalah salah satu alasannya. Bagi saya, EMUI ini selalu terasa familiar sekali, jadi kalau habis pakai smartphone lain lalu balik ke smartphone dengan EMUI, rasanya tuh seperti pulang ke rumah. Haha, lebay ya, tapi itulah adanya pemirsa. Satu lagi, Huawei Mate 20 Pro ini punya teknologi supercharge yang punya kemampuan mengisi daya hingga 40W. Dan asyiknya, smartphone Huawei ini ngga rewel, dikasih kepala charger atau powerbank yang support Quickcharge ataupun Power Delivery juga bisa ngangkat. Dan kabarnya, Huawei Mate 20 Pro ini bisa melakukan reverse wireless charging. Hmmm, unik ya, walau kalau saya sih ga akan rela ngecharge hape lain pake hape saya haha, mending pinjemin powerbank saja sih. Baterainya sendiri 4.200 mAh yang sepemakaian saya bisa bertahan dari subuh hingga larut malam alias sekitar 20 jam dengan pemakaian intens yang menghasilkan SoT hampir 6 jam. Dengan pemakaian lebih ringan, 24 jam sepertinya bukan masalah bagi Huawei Mate 20 Pro. Sebetulnya saya mengharapkan battery usage yang jauh lebih hemat dari processor dengan fabrikasi 7nm seperti ini, namun biasanya seiring waktu dengan pemakaian lebih lama dan proses pengenalan pola pakai kita oleh EMUI ini, nantinya akan semakin panjang daya tahannya. Sudah menemukan kekurangan smartphone ini? Dalam 5 hari pemakaian sih saya sulit menemukannya. Paling hanya masalah kebiasaan saja, semisal untuk fingerprint scanner-nya yang menurut saya letaknya terlalu tinggi, jadi butuh pembiasaan dengan letaknya, dan terkadang malah face unlocknya yang berhasil bekerja lebih dulu dari fingerprint scanner ini hehe. Jack audio juga bisa jadi masalah bagi yang belum punya bluetooth earphone, walau Huawei sebetulnya selalu menyertakan adapter usb type c to jack 3,5 mm ini dalam paket penjualannya. Paling jadi PR kalau Anda sedang ingin memakai earphone berkabel dan saat yang bersamaan ingin mengecasnya. Solusi lain mungkin beli wireless charging pad ya. Soal performa saya rasa tak ada alasan untuk meragukannya, gaming bisa jalan dengan smooth dengan settingan kelas berat. Main PUBG sampai chicken dinner pun jadi nih. Dan kalau dibandingkan dengan Mate 20 yang tanpa Pro, ini lebih compact ya. Perbedaan lainnya ada pada panel layar yang digunakan, termasuk tepiannya di mana Mate 20 tidak melengkung begini. Baterai Mate 20 ada di 4.000 mAh, resolusi kamera lebih rendah, namun Mate 20 malah punya jack audio. Pada saat saya menulis naskah video ini, saya belum tahu harga resmi keduanya di Indonesia, namun melihat harga pasar dari barang Singapore-nya, perbedaan harganya cukup menjulang. Membuat Mate 20 nampak lebih reasonable, walau godaan Mate 20 Pro memang kuat banget, terutama soal handling yang lebih enak karena dimensinya lebih ringkas. Salut buat Huawei yang berkomitmen memasukkan seri teratas dari jajaran smartphone mereka di Indonesia, walau mungkin secara size, penjualannya belum semasif seri Nova dan seri Y ya. Saya mah yakin, kalau sudah pada coba smartphone flagship dari Huawei, pasti ngerti deh ada di level mana kualitas dari produk-produknya. Sok aja coba, biar kenal, lalu sayang, huehehe... Saya akan tutup video ini dengan hasil foto dan video dari kamera Huawei Mate 20 Pro ini ya, kesimpulan silakan dibuat masing-masing, dan monggo tulis di kolom komentar. Saya mah mati kutu pokoknya oleh hape ini, hahaha. Sip, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!