Gadget Promotions

Thursday, December 28, 2017

Review Huawei P10 Leica, Stabil Kameranya Juara!




Opening dari video di atas ini diambil dari atas sebuah delman, sembari muka mesem-mesem terkena rintik gerimis, dan mulut komat-kamit berdoa supaya sang kuda tidak membuang  angin.

Eh, bukan ini deh kayanya yang mau saya informasikan, heuheu. Opening video ini direkam menggunakan Huawei P10 dari atas delman yang tentunya berguncang-guncang terus seiring derap langkah sang kuda. Dan menurut saya di sinilah juaranya Huawei P10. Hasilnya stabil sekali bukan?

Sebuah video lagi akan saya tampilkan, Anda boleh memilih untuk fokus pada tulisan di kaos sang mas-mas, atau pada stabilnya hasil perekaman video Huawei P10 lagi, hahaha.

Yak, kita mulai video review dari Huawei P10 ini. Beberapa hari setelah melakukan unboxing ponsel ini, saya akhirnya memutuskan untuk menjual Honor 9 saya karena merasa P10 akan sanggup menggantikan tempatnya. Pikiran ini muncul akibat jeroan keduanya yang sama persis, namun P10 hadir dengan body yang lebih ramping dengan bahan backcover logam, yang memang tak memiliki refleksi seindah backcover kaca miliki Honor 9.

Adalah sebuah tulisan di pojok kanan atas sisi belakang Huawei P10 ini yang membuat ponsel ini ganteng bertingkat-tingkat. Ya, tulisan Leica ini adalah jaminan mutu. Buktinya? Kan sudah di opening tadi heuheu. Tapi saya akan munculkan lagi deh nih hasil foto dari kamera Huawei P10 yang dalam penilaian saya berhasil menyabet juara umum untuk kategori kamera, dengan peserta semua ponsel pintar yang pernah saya ulas.

Seperti umumnya smartphone Huawei lain, pada P10 ini mode manual juga hadir dengan lengkap baik pada mode foto maupun video. Portrait mode ada, termasuk juga wide aperture mode yang seperti biasa bisa melakukan re-focus setelah foto diambil, sehingga kita bisa menentukan ada di mana sang fokus, dan seberapa besar efek bokeh yang hendak dimunculkan.

Tak banyak yang bisa saya katakan, selain kameranya juara! Mengambil gambar menjadi kenikmatan tersendiri menggunakan Huawei P10 ini, karena hasilnya selalu memuaskan mata ini. Saya pikir Anda pun sudah dapat menilainya dari deretan foto yang saya ambil tadi ya.



Sekarang kita berpindah ke bahasan performa. Ternyata, walaupun sama-sama menggunakan processor HiSilicon Kirin 960 dengan sokongan RAM 4 GB, skor Antutu Honor 9 dan Huawei P10 terpaut cukup jauh, di mana skor Honor 9 ada pada kisaran 116-ribuan, maka skor P10 cukup menjulang pada angka 139-ribuan. Cukup ganjil ya, saya tak tahu apakah ada perbedaan pada kategori RAM ataupun storage yang digunakan sehingga skornya selisih banyak? Atau memang performa Honor 9 dicekik supaya baterainya lebih hemat?

Ya, karena sepemakaian saya, baterai Huawei P10 tak bisa sehemat Honor 9. Jika Honor 9 selalu dengan mudah menembus 24 jam walau intens digunakan, maka tidak dengan Huawei P10. Smartphone ini seringkali hanya bertahan sekitar 20 jam dalam pemakaian ringan, dan hanya bisa bertahan dari pagi sampai malam saja saat pemakaian lebih intens.

Tapi ini juga bisa jadi dari perbedaan cara kedua ponsel ini mengatur daya baterainya. Di mana pada Honor 9 terasa sekali notifikasi sering lebih lambat masuk, sementara Huawei P10 tergolong real-time untuk urusan ini.

Oh ya satu hal lagi soal perbedaan ini, Huawei P10 terasa lebih mudah menghangat di tangan saat digunakan bermain game atau merekam video. Mungkin faktor bahan logam yang lebih cepat menghantarkan panas ketimbang kaca ya.

Sampai saat ini, skor 2-1 untuk keunggulan Huawei P10, di mana ponsel ini unggul di sektor kamera dan performa, serta sedikit tertinggal dari Honor 9 dalam masalah daya tahan baterai.

Skor bisa jadi sama kuat jika kita menghitung harga jual dari kedua smartphone ini. Huawei P10 jelas lebih mahal dari Honor 9, selain karena statusnya sebagai flagship Huawei tahun ini, mungkin lisensi Leica juga tak murah untuk ditebus ya. Saat ini Huawei P10 dijual pada harga $470 atau sekitar 6,5 juta Rupiah di GearBest.com. Sementara entah kenapa Honor 9 dijual pada harga $462 saat ini, padahal saya ingat saat Black Friday lalu harganya sempat menyentuh sekitar $330 saja alias sekitar 4,5 juta Rupiah.

Honor 9 saya sendiri dulu saya beli seharga 5,8 juta Rupiah di tokopedia.

Nah jadinya saya bingung, mau menetapkan harga berapa untuk Honor 9 pada perbandingkan kali ini. Dari itu, saya skip deh membandingkan aspek ini pada kedua smartphone Huawei ini.

Terlebih, ada kabar Huawei P10 ini segera dirilis resmi di Indonesia. Melihat harga Nova 2i yang sudah dirilis duluan, dan harga Huawei P9 saat pertama dijual tahun lalu, tebakan saya rasanya harga P10 ini takkan jauh dari angka 7 juta deh, atau mungkin 8 jutaan untuk versi plus-nya. Walau sebetulnya ada sedikit keyakinan dalam hati saya bahwa Huawei akan menjualnya lebih mahal dari itu sih, jika melihat dari pola sebelumnya. Tapi kita lihat nanti saja ya.

Jika disuruh memilih antara Honor 9 dan Huawei P10, saat ini saya lebih condong kepada nama pertama. Ya, Honor 9 lebih ngangenin menurut saya. Sensasi backcovernya itu belum dapat tergantikan. Sementara Huawei P10 memiliki desain yang lebih mainstream.

Tapi urusan kamera yang juara banget dan notifikasi yang lebih real-time memang tak bisa didapatkan pada Honor 9. Serta Huawei P10 memiliki ukuran yang lebih compact.

Untuk performa sih keduanya sama-sama gegas, saya jamin Anda takkan bisa membedakan kinerja keduanya dalam keseharian. Honor 9 sedikit lebih unggul dalam daya tahan baterai dan tak cepat hangat.

Oh ya, Huawei P10 tak memiliki tombol kapasitif selain tombol home yang sekaligus berfungsi sebagai fingerprint scanner ini ya. Navigasi bisa dilakukan dengan dua cara, di mana yang pertama dalah cara konvensional yaitu dengan on screen button. Kedua adalah dengan memanfaatkan tombol home, di mana sentuh sekali berfungsi sebagai back, sentuh dan tahan sebagai home, geser ke samping sebagai recent apps, dan menyapu layar dari bagian bawah luar ke atas untuk mengakses Google Assistant.

Fingerprint scannernya sendiri super cepat dan super akurat. Sip lah pokoknya.


Apa Kata Aa Gogon tentang Huawei P10

Kesimpulan saya, dengan harga yang harus dikeluarkan saat menebus Huawei P10 saat ini yang sudah mencapai 6,5 jutaan saja, ini bisa jadi flagship yang cukup terjangkau. Dapat kamera kelas flagship, bersertifikat Leica dengan hasil foto juara dan video yang sangat stabil. Body compact juga rasanya sudah cukup jarang juga ditemukan pada flagship jaman now ya.

Eh tapi kadang suka ada coupon discount lho di GearBest, saya sertakan di deskripsi video ini juga ya, lumayan soalnya kalau code coupon-nya berhasil, jadi tinggal $429 saja alias 5,9 jutaan lho!

Kalau soal looks ya memang walau tetap kece, bisa dibilang overall ini masuk ke desain yang mainstream sih. Satu hal yang sangat-sangat saya suka dari desainnya malah ada pada aksen merah pada tombol powernya itu hihihi.

Jadi, dengan harga segitu, menurut saya cukup lengkap apa yang didapat, kamera, desain, hingga ke performa. Satu-satunya yang butuh peningkatan menurut saya adalah daya tahan baterai saja.

Oh ya lupa, untuk multimedia juga Huawei P10 ini jempolan banget. Layar tajam dengan sudut pandang luas, dilengkapi dengan loudspeaker dengan output jernih dan power yang cukup bertenaga. Asik lah buat youtube-an mah.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review Nokia 6 Indonesia, Sekokoh Nokia 3310 Dulu



Nokia 6 ini sebetulnya bukan barang baru di Indonesia. Ya, jauh sebelum HMD Global memboyongnya secara resmi di sini, para pelapak online sudah lebih dulu menyediakannya dalam berbagai varian RAM dan storage. Sementara yang akhirnya masuk resmi di sini adalah Nokia 6 dengan RAM 3 GB dan storage 32 GB dan dijual pada harga 3-jutaan, bahkan 2-jutaan pada beberapa promo e-commerce.

Lah koq, dempetan bener ya harganya sama Nokia 5. Mana processor dan kapasitas RAM-nya sama pula. Jadi, apa sebetulnya pembeda dari Nokia 5 dan Nokia 6 ini? Mau tau? Janji dulu dong, videonya ditonton ga pake skip, hehehe.



Perbedaan paling mendasar dari Nokia 5 dan Nokia 6 jelas ada komponen fisiknya. Pertama desain, Nokia 6 hadir dengan dimensi layar 5,5 inci yang membuatnya lebih besar dan juga lebih berat dari Nokia 5. Selain itu, frame pinggir ponsel ini dibuat lurus dan lebih kotak, sedikit banyak mengingatkan saya pada style-nya iPhone 4 dan 5. Body berbahan logam ini memang terasa sekali solid alias kokoh, namun saya tak nyaman dengan tepiannya yang terasa tajam. Layar 2.5 D-nya pun tak lagi terasa nyaman di ujung jari karena tepat bersebelahan dengan chamfered metal yang terasa lancip.

Dan memang, desain Nokia 6 ini masih banyak menganut gaya khas Nokia pada era jayanya dulu. Eh erajaya, kaya pernah denger nama ini ya, hahaha.

Nah, perbedaan selanjutnya ada pada resolusi layar yang sudah Full HD, kamera belakang yang lebih besar resolusinya di 16 Megapixels, storage 32 GB, hingga dukungan Dolby Atmos untuk audio dari Nokia 6 ini.

Sayangnya, walau storage bawaannya lebih besar dari Nokia 5, Nokia 6 ini malah mengusung hybrid slot sim card. Padahal semasa mengulas Nokia 5, saya sudah senang banget dengan triple-slot yang dimilikinya.

Lalu apa arti dari semua perbedaan itu? Kalau menurut saya, semua perbedaan itu tidaklah masalah, asal kita saling menghargai satu sama lain.

Bentar deh, ini kan review ponsel, kenapa pula bahas itu hahaha.

Dari semua perbedaan itu, yang paling bisa saya rasakan adalah Nokia 6 memiliki layar yang lebih bagus. Selain lebih tajam, reproduksi warna-nya juga terlihat lebih vivid.

Begitu juga dengan kameranya, walau tak terlalu siginifikan, tetapi saya melihat gambar yang dihasilkan Nokia 6 terasa lebih hidup jika dibandingkan dengan Nokia 5. Hal inipun berlaku untuk perekaman video.

Overall sih kameranya masih tergolong baik, meski tanpa mode manual. Yang jadi permasalahan lebih ke performanya saat mengambil gambar yang menurut saya kurang lebih dipengaruhi oleh pilihan processor yang digunakan. Sehabis saya menampilkan hasil foto dan video ini, kita bahas performa yah.



Masuk ke bahasan performa, Snapdragon 430 di Nokia 6 ini kurang lebih sama dengan di Nokia 5. Terasa kurang gegas untuk multitasking dan gaming. Dan ini sangat masuk akal mengingat resolusi layarnya yang lebih tinggi.

Fingerprint scanner yang saat unboxing terasa cepat, perlahan mulai melambat juga seiring dengan banyaknya aplikasi yang saya install dan buka.

Konsumsi daya Nokia 6 ini juga sedikit lebih boros dari Nokia 5, yang lagi-lagi saya yakini adalah andil dari layarnya yang lebih besar dan lebih tinggi resolusinya. Dalam pemakaian saya, Nokia 6 hanya mampu bertahan dari dini hari saat saya melepas charger, hingga sekitar pukul 9 atau 10 malam saat saya hendak beranjak tidur.

Di sini saya merasa ada sesuatu yang kurang pas pada jajaran produk Nokia. Maksudnya, gap antara produkya masih terlalu lebar. Dari Nokia 5 dan 6 yang menggunakan Snapdragon 430 di harga 2 hingga 3 jutaan, langsung loncat ke Nokia 8 yang diotaki Snapdragon 835. Harga Nokia 8 sendiri belum saya ketahui, meskipun santer kabar bahwa perangkat ini juga akan masuk resmi di Indonesia. Namun saya rasa harganya di atas 7 juta Rupiah deh.

See, ada ruang kosong di antara Nokia 6 dan Nokia 8, baik dari harga maupun spesifikasi. Apakah akan ada Nokia phone dengan processor Snapdragon berkepala 6? Semoga saja ya, apalagi kalau harganya masih tiga hingga empat jutaan, layak ditunggu lah.


Apa Kata Aa Gogon tentang Nokia 6

Masuk ke kesimpulan, Nokia 6 terasa lebih pas jika Anda menginginkan smartphone berlayar besar, dan tak masalah menggunakan case. Ya, karena bagi saya rasanya takkan nyaman apabila Nokia 6 digunakan tanpa case, tepiannya tajam.

Nokia 6 ini hadir dengan bahan yang solid demi menjaga citra ponsel Nokia yang dikenal tahan banting, namun sedikit saya sayangkan karena mengorbankan keergonomisannya.

Kamera sedikit lebih baik dari Nokia 5, audio cukup baik juga, walau enhancement dari Dolby Atmos-nya kurang signifikan, dan pengaturannya tak selengkap fitur yang sama yang saya temukan pada ponsel lain.

Jika 32 GB cukup bagi Anda, atau jika Anda tak butuh dual-sim, Nokia 6 jelas pilihan yang lebih sesuai daripada Nokia 5.

Namun lagi-lagi ponsel Nokia ini bukan ponsel yang cocok untuk Anda yang senang bermain game, apalagi yang berat-berat.

Dengan harga yang tak terpaut jauh, Anda bisa menyesuaikan kebutuhan dengan karakteristik yang dimiliki oleh Nokia 6 atau Nokia 5, jika memang Anda keukeuh mau ber-reuni dengan brand ini. Review Nokia 5 sudah lebih dulu saya buat dan bisa Anda saksikan pada video yang ada pada card di pojok kanan atas layar ini, atau pada bagian rekomendasi di bagian akhir video ini ya.

Demikian yang bisa saya sampaikan tentang Nokia 6 ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, December 18, 2017

Review Nokia 5 Indonesia, Aku Masih Seperti yang Dulu



Pada video unboxing-nya yang lalu, saya melihat ada dua kubu netizen yang menuliskan komentar. Kubu pertama adalah mereka yang punya kenangan dengan produk Nokia pada masa jayanya dulu, dan bahagia dengan kehadiran Nokia 5 ini. Sementara kubu kedua adalah yang sanga kritis melihat spek di atas kertas berbanding harga, dan menilai masih banyak hape lain yang lebih mending. Kita bisa tahulah sejak kapan kubu kedua baru mulai akrab dengan smartphone, betul sejak jaman banyak flash sale di Lazada, hahaha.



Lalu masuk ke kubu manakah saya setelah menguji Nokia 5 ini? Kalau mau tahu, tonton dong videonya sampai habis, hehehe.

Nokia 5 ini hadir dengan beban sejarah panjang Nokia yang teramat sukses pada medio tahun 2000an. Yup, sebelum dunia ini terpecah menjadi dua kubu, penyuka buah atau penyuka robot.


Nokia 5, Desain dan Build Quality

Untuk masalah desain dan build quality, saya menilai Nokia 5 berhasil mempertahankan apa yang pernah mereka miliki. Looks yang simple tetapi elegan, hadir tanpa sudut membuatnya ergonomis dan nyaman digenggam. Bahannya terasa kokoh, garis desainnya pun tegas.

Sisi belakangnya mengingatkan saya pada backcover Nokia Asha 210 milik mertua saya. Sementara sisi depannya terlihat manis dengan layar 2.5D yang sangat ramah di jari. Dengan dimensi layar 5,2 inci, memang sih jidat dan dagu ponsel ini sedikit terlalu besar,.karena saat saya bandingkan dengan ponsel lain yang memiliki layar 5,5 inci, ukurannya hampir sama.

Fingerprint scanner hadir pada posisi kesukaan saya, dengan ukuran yang agak sempit, namun tidak menganggu tingkat akurasinya yang baik. Yang agak saya permasalahkan lebih ke waktu responnya yang tergolong kurang gegas saat digunakan membuka kunci layar.

Tombol kapasitif hadir dengan backlight, sementara LED notifikasi harus absen pada Nokia  5 ini.

Di sisi bawah kita dapat menemukan speaker grille yang desainnya manis. Output loadspeaker ini menurut saya bagus, dalam arti terkontrol dengan baik untuk menghasilkan detail suara yang pas, tidak anyep, namun memang powernya biasa saja. Silakan didengarkan lagu yang saya putar berikut ini.

Dikombinasikan dengan layar HD 5,2 incinya, Nokia 5 dapat digunakan menikmati konten multimedia dengan baik. Layar ini memiliki tingkat visibilitas yang baik juga di bawah terik matahari, ternyata inilah yang disebut dengan polarised display itu.


Nokia 5, Performa

Keluhan mulai terasa setelah sekitar dua hari saya gunakan dan banyak aplikasi saya install. Multitasking terasa jadi menyiksa ketika untuk berpindah aplikasi saja kadang butuh waktu lebih dari satu detik. Seingat saya, ponsel Android lain yang sama-sama menggunakan processor Snapdragon 430 banyak koq yang tetap lancar saat membuka banyak aplikasi. Lalu kenapa di Nokia 5 ini terasa agak payah ya?

Apalagi Nokia 5 ini menggunakan stock Android OS, yang harusnya tak banyak menambah beban kerja RAM-nya yang berkapasitas 3 GB. Sisi positif dari penggunaan pure Android seperti ini adalah semua notifikasi selalu hadir dengan real-time, tanpa harus mengatur aplikasi mana yang mau dikunci dan mana yang harus autostart.

Performa yang agak berat ini juga berlanjut saat digunakan bermain game yang belakangan ini senang saya coba kembali. Apakah ini akibat sebelum mencoba Nokia 5 ini, saya baru saja menuntaskan proses uji pakai sebuah smartphone berprocessor Snapdragon 820 mungkin ya? Bisa jadi!

Satu hal yang saya nilai positif adalah daya tahan baterai Nokia 5 yang selalu mampu menembus 24 jam, walau digunakan secara intens. Seringkali saya pergi ke kantor dengan baterai tak penuh dan hingga menjelang tidur, masih ada sisanya. Untuk pengisian dayanya sendiri cukup cepat, asalkan menggunakan kepala charger berarus besar. Ponsel ini mampu menerima arus hingga sekitar 1,8A pada tegangan 5 volt.


Nokia 5, Kamera

Saya akan tutup review dari Nokia 5 ini dengan bahasan kamera. Untuk ukuran smartphone dengan harga 2,8 jutaan, kameranya saya nilai standar saja. Kualitas gambar yang sama, dapat dihasilkan oleh ponsel lain yang harganya di bawah 2 juta malah. Walau detail dapat ditangkap dengan baik dari kondisi terang hingga redup, namun saya merasa hasilnya tidaklah istimewa-istimewa amat.

Untuk pengambilan gambar pada kondisi temaram, Anda akan butuh kesabaran ekstra karena prosesnya jadi jauh lebih lambat. Mungkin ini diperlukan agar gambar tetap baik hasilnya ya.

Untuk perekaman video, hasilnya juga ya seawajarnya saja hape dua jutaan lah. Stabilisasi tidak terasa, sementara framerate sangat cukup untuk membuat video yang dihasilkan tidak blur di sana-sini.

Hasil foto dan video dapat Anda saksikan sembari saya memberikan kesimpulan pada Nokia 5 ini.



Apa Kata Aa tentang Nokia 5

Menurut saya, HMD Global berhasil menghidupkan kembali Nokia melalui jajaran smartphone yang mereka rilis tahun ini di Indonesia.

Nokia yang desainnya minimalis namun elegan, Nokia yang build quality-nya baik, dan Nokia yang selalu lebih mahal dari pesaingnya. Hahaha.

Dengan harga jualnya saat ini, Nokia 5 menurut saya bolehlah dicoba untuk memuaskan kenangan Anda terhadap brand yang satu ini. OS-nya stock, notifikasinya realtime, dan baterainya awet, serta dibalut dalam desain menawan dengan body yang kokoh.

Tapi Anda tak bisa berharap banyak soal performanya untuk multitasking, gaming, dan kamera. Jadi harap bijak ya menyesuaikan kebutuhan Anda dengan budget dan value apa yang ditawarkan oleh sebuah produk smartphone.

Saya pun cukup menggunakannya selama seminggu untuk menuntaskan kepenasaran saya akan kenangan lama dengan Nokia.

Nokia sedikit banyak masih seperti dulu, iya dulu, saat mereka jadi pemimpin pasar, yang produk barunya selalu diburu walaupun harganya cukup tinggi. Dan dulu, saya lebih suka membeli ponsel Sony Ericsson sih daripada Nokia, hihihi.

Udah ah, review Nokia 5 saya akhiri di sini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, December 7, 2017

Review ZTE Axon 7, Kisah Sebuah Ponsel Flagship yang Terjun Bebas Harganya



Ini adalah ZTE Axon ketiga yang saya coba, setelah sebelumnya pernah mengulas ZTE Axon Mini dan ZTE Axon Elite.

ZTE Axon 7 ini adalah flagship smartphone ZTE tahun lalu, di mana ZTE meninggalkan desain dengan pola-pola segitiga dan kembali ke desain yang lebih mainstream, walau tetap mempertahankan front dual-speakernya yang khas.

Lalu kenapa koq baru sekarang saya coba? Dan apakah benar-benar worth it sampai di video unboxing saja saya sudah merekomendasikannya? Cari tahu selengkapnya di video ini ya.



Jika Anda sudah menyaksikan video unboxing-nya, seharusnya sih tahu alasan utamanya kenapa baru sekarang saya mencoba ZTE Axon 7 ini. Ya, faktor harga yang dipangkas setengahnya adalah jawabannya. ZTE Axon 7 ini sekarang dijual pada kisaran $250 atau bahkan lebih murah jika sedang ada coupon diskon yang bisa dipakai di GearBest.com.

Entah apakah ini mengindikasikan kurang lakunya jajaran smartphone flagship miliki ZTE ini atau bukan, yang jelas seri Axon ini memang kalau umurnya sudah setahun, drop price-nya ga nanggung-nanggung. Satu produk lainnya, ZTE Axon 7 Mini malah turunnya banyak sekali dari sekitar $350 ke $130 saja di GearBest.

Padahal, jika kita merujuk pada spesifikasi yang dibawanya, harganya saat ini jadi terasa valuable sekali. Bagaimana tidak, dengan harga yang jika dirupiahkan ada pada kisaran 3-3,5 juta Rupiah, kita bisa mendapatkan flagship tahun lalu yang jelas masih mumpuni untuk digunakan tahun ini.


  • Processor Snapdragon 820-nya mampu memberi skor benchmark Antutu 139-ribuan.
  • RAM 4 GB ditunjang dengan storage 64 GB
  • Layar AMOLED dengan resolusi 2K alias QHD
  • Sensor NFC hadir
  • Sudah menggunakan USB Type-C port, dan sudah mendukung Qualcomm Quickcharge 3.0 pula
  • Dan jangan lupakan kameranya yang beresolusi 20 Megapixels dan memiliki Optic Image Stabilization


Desain luarnya pun terlihat premium sekali, dan penempatan dual front speaker seperti ini semakin membuatnya terlihat sangar, sesangar jeroannya.

Yang lucu adalah, selama pengujian berlangsung, saya lupa kalau resolusi layarnya adalah 2K. Mungkin karena mata saya tak bisa membedakannya dengan layar Full HD. Tapi satu hal lagi adalah konsumsi daya-nya yang tidak cepat terkuras membuat saya tak menyangka layarnya memiliki resolusi setinggi itu.

Ya, di awal-awal masa pengujian di mana belum saya jadikan daily driver, daya tahan baterainya sanggup menembus 48 jam, yang artinya manajemen dayanya cukup bagus pada kondisi idle. Setelah digunakan dengan nomor utama, ZTE Axon 7 ini mampu bertahan sehari semalam dengan pemakaian casual, dan dengan pemakaian lebih intens, mampu bertahan dari pagi hingga malam.

Hal ini memang dibantu oleh manajemen daya dari MiFavor UI yang secara berkala menutup aplikasi yang tidak digunakan, dan sesekali memberi kesempatan kepada aplikasi-aplikasi untuk melakukan koneksi data dan mendapatkan notifikasi. Jadinya memang kurang real-time untuk notifikasi dapat kita terima. Namun pengaturan agar aplikasi tertentu bisa terus terkoneksi ke jaringan bisa dilakukan,  dan ini saya terapkan pada Whatsapp dan Gmail.

Impresi saya jadi meningkat banyak begitu saya ingat bahwa layarnya beresolusi 2K tapi tak bikin boros baterai. Layar ZTE Axon 7 ini terasa teduh walau menggunakan panel AMOLED yang dikenal memiliki warna yang vivid itu. Ada pengaturan untuk tone layar di bagian setting ponsel ini.

Untuk kebutuhan multimedia, bisa dikatakan juara lah ZTE Axon 7 ini. Layar 2K, panel AMOLED, disokong oleh dual front speaker dengan Dolby Atmos sound. Kenikmatan yang haqiqi banget lah pokoknya haha.

Performanya tidak usah diragukan lagi, Snapdragon 820 adalah processor yang memberikan titik balik pada kesuksesan Qualcomm tahun lalu. Gaming maupun multitasking, semuanya lancar, dengan suhu yang terasa menghangat saat bermain game di atas 10 menit.

Saya mau lanjut bahas kamera, tapi koq dari tadi kaya ga ada kekurangannya ya ini hape? Haha.. Ada koq, ya sudah kita bahas dulu yuk!

Kekurangan pertama ada pada posisi fingerprint pada punggung smartphone ini yang kurang nyaman jika kita sering meletakkan ponsel ini di meja. Selain itu juga akurasi dan responnya tak bisa dibilang istimewa untuk ukuran smartphone flagship, di mana unlock time diklaim ada di angka 0,25 detik, sementara flagship lain hanya membutuhkan waktu 0,1 detik saja.

Kedua adalah masalah update software. ZTE seingat saya rada pelit masalah ini. Dan ZTE Axon 7 ini saya terima dalam keadaan masih menggunakan Android Marshmallow, dengan proses update ke Nougat harus dilakukan secara offline, di mana saya download dulu file update-nya untuk kemudian disalin ke micro-sd dan dilakukan update manual. Tapi paling tidak Nougat-nya sudah 7.1.1 sih. Dan saya tak tahu apakah ponsel ini akan dapat update Android Oreo atau tidak.

Ketiga adalah tombol kapasitifnya yang tak memiliki backlight, dan menggunakan ikon titik, yang walau tujuannya baik, agar bisa ditukar posisi tombol back dan recent apps-nya, tapi terasa kurang intuitif sih jadinya.

Kekurangan terakhir yang saya rasakan sih lebih ke body-nya yang licin saja, yang selalu bikin khawatir kalau-kalau ponsel ini akan terjun bebas dari genggaman saya, sama seperti harganya yang sudah terjun duluan hahaha.

Oke, sudah boleh bahas kamera ya?

Sip, ZTE Axon 7 ini memiliki kamera yang memang kelasnya flagship sih. Resolusi besar, mode manual lengkap, beauty selfie juga ada, dan digunakan pada kondisi lowlights masih terbilang oke banget. Performanya juga asyik, kunci fokus tergolong tak pernah meleset dan cepat, gambar dapat dijepret dengan cepat.

Bonusnya ada pada stabilization yang sudah optic alias OIS, sehingga saat mengambil gambar, hasilnya tak mudah goyang. Untuk perekaman video juga membantu hasilnya lebih smooth, walau untuk masalah stabilisasi masih setingkat di bawah kameranya Huawei P10 sih. Tapi segini sudah keren koq, inget lho harganya sudah turun banyak, hehehe.

Saya seringkali mengambil gambar pada kondisi cahaya kurang, dan suka takjub sendiri melihat hasilnya. Sungguh bikin galau hasil fotonya. Nih saya perlihatkan hasilnya ya, pasang mata baik-baik hehe.



Hasil kameranya kece koq malah bikin galau? Heuheu. Justru itu, smartphone ini punya segalanya untuk masuk ke kategori flagship, dan dengan harganya saat ini jadinya tempting banget. Saya sangat menyukai berbagai kelebihan dari ZTE Axon 7 ini, tetapi saya tak nyaman jika harus menggunakan ponsel dengan posisi fingerprint di belakang.


Apa Kata Aa tentang ZTE Axon 7

Dari Senin sampai Jumat, kebanyakan smartphone saya letakkan di atas meja, di samping laptop. Sesekali saya buka saat jenuh bekerja, atau saat ada notifikasi masuk. Nah, jika fingerprint ada di sisi belakang, mau tak mau saya harus mengangkatnya dulu untuk membuka layarnya, ini dia yang membuat saya tak nyaman.

Harusnya sih bisa diakali ya, karena ZTE Axon 7 ini memiliki fitur double tap to wake, lalu saya bisa buka kuncinya menggunakan pattern. Atau mungkin bisa menggunakan smart device, di mana jika terhubung dengan smartband yang sudah terdaftar, maka ponsel ini selalu tak terkunci. Namun entah kenapa saya tetap tak puas, rasanya lebih ingin ponsel lain saja yang fingerprint scanner-nya di depan.

Padahal selain masalah itu, ZTE Axon 7 dengan harganya saat ini bisa dibilang salah satu best deal. Dapur pacu mentereng, layar kelas atas super tajam, baterai yang cukup awet, serta loudspeaker yang mantap, masih ditambah oleh kamera yang kece dan ada OIS-nya. Satu lagi, NFC hadir pula.

Kalo gitu, saya mau tanya aja deh sama penonton. Kira-kira hape apa yang kurang lebih sekece ini luar dalam, tapi harganya maksimal 4 juta Rupiah saja? Kalau ada tolong tuliskan di kolom komentar ya. Terima kasih sebelumnya.

Ulasan kali ini saya tutup dengan kegalauan yang menyiksa. Dapat smartphone best value yang cocok dalam segala hal kecuali posisi fingerprint-nya itu rasanya kaya udah nemu jodoh yang tepat buat diajak married, tapi dianya ga boleh nikah karena masih ikatan dinas. Heuheu. Eh ngga, ini bukan curcol ya hahaha.

Oke demikian deh review dari ZTE Axon 7 ini. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL. Mending Mana Sama yang Pro?



Dengan selisih harga yang mencapai 1,5 juta Rupiah dari versi Pro-nya, awalnya saya berpikir ini akan jadi pilihan yang mudah, tinggal menyesuaikan budgetnya cukup yang mana, selesai.

Tapi kenyataannya ngga begitu. Tak sesederhana Rumah Makan Padang euy.

Pertama kita lihat dulu apa sih bedanya ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL alias versi standar ini dari versi Pro-nya?



Desainnya mirip, tapi komponen yang dipakai bisa dibilang semua tak sama, apa yang kusentuh, apa salah sentuh. Eeeeh, melenceng lagi kan, hahaha.

Maksudnya, saat disentuh, kita bisa tahu persis kalau body belakang Zenfone 4 Selfie ini menggunakan bahan plastik, bukan logam seperti versi Pro-nya. Dengan kapasitas baterai yang sama, ketebalannya berbeda. Versi standar ini terlihat lebih tebal dan membulat di sudut-sudutnya.

Layarnya pun dipilihkan dari panel IPS dengan resolusi HD saja. Namun di mata saya, nampak layar ini lebih teduh daripada panel AMOLED yang sangat mencolok miliki Zenfone 4 Selfie Pro.

Jeroannya? Yang ini pakai Snapdragon 430 yang walau masih smooth-smooth saja, jelas kelasnya di bawah Snapdragon 625 milik versi Pro. Masih sangat cukup untuk kebutuhan social media, browsing, dan lainnya, dengan konsumsi daya yang juga tergolong awet. Baterai 3.000 mAh-nya bisa dimanfaatkan untuk bertahan 24 jam tanpa koneksi wi-fi dan screen-on time 4 jam yang dalam pola pemakaian saya sih sudah mengindikasikan pemakaian cukup intens ya.

Dengan segmen pasar yang disasar adalah penyuka swafoto yang lebih cenderung merujuk kepada kaum hawa, spesifikasi ponsel ini sudah cukup banget. Jangan lupakan RAM-nya yang 4 GB dan storage yang tetap 64 GB, alias sama besar dengan Zenfone 4 Selfie Pro. Bahkan yang ini punya sesuatu yang tak dimiliki versi Pro-nya, yaitu dedicated micro-SD slot! Wow, kayanya buat selfie sejam sekali selama setahun masih bisa lah ya, ahahaha.

Karena sudah mulai menyinggung soal selfie-nya, artinya saatnya kita bahas kameranya. Di sini saya merasa janggal, ASUS Zenfone 4 Selfie versi standar ini memiliki kamera depan dengan resolusi lebih besar dari versi Pro. Sama-sama berjumlah dua, resolusinya masing-masing adalah 20 dan 8 Megapixels. FYI, Zenfone 4 Selfie Pro kamera depannya memiliki resolusi 12 dan 5 Megapixels, bedanya cuma di sensor yang dipakai, di mana versi Pro menggunakan sensor Sony, sementara yg ini pakai OmniVision kalau saya tak salah ingat.

Bagusan mana? Lebih baik gambar saja yang berbicara ah, monggo disimak dulu hasil selfie-nya!

Dalam penilaian saya, kedua varian Selfie dari Zenfone 4 series ini malah tak terlalu handal saat digunakan berselfie ria. Memang sih kehadiran dua kameranya bisa membantu menghasilkan efek bokeh serta gambar yang lebih wide. Tapi kualitas hasil gambarnya menurut saya standar saja, dan semakin menurun seiring berkurangnya intensitas cahaya.

Lagi-lagi saya lebih suka hasil foto kamera belakangnya yang beresolusi 16 Megapixels. Hasilnya dapat diandalkan di berbagai situasi, termasuk saat cahaya mulai temaram. Meskipun  memang hasilnya masih sedikit di bawah versi Pro-nya.

Untuk video pun hasilnya kurang lebih sama dengan kualitas foto tadi. Sedikit highlight positif saya berikan untuk kestabilan gambarnya.




Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL

Tak banyak yang bisa saya bahas selain masalah kamera dan performa kesehariannya. ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL ini sudah menggunakan ZenUI 4.0 yang lebih clean dan simple, banyak fitur menarik yang Anda bisa temukan pada custom UI ini, dan takkan saya bahas lagi di sini. Sama saja dengan apa yang pernah saya bahas di video ulasan Zenfone 4 Selfie Pro dan Zenfone 4 Max lalu.

Jadi kita langsung masuk ke kesimpulan saja, di mana saya cukup bingung apakah Zenfone 4 Selfie ini lebih worth the money daripada versi Pro-nya atau tidak. Yang pasti versi standar ini tak memiliki varian warna merah ya. Yang saya uji ini sendiri adalah varian warna Rose Gold, sangat cantik untuk digunakan oleh wanita.

Layar kinclong, performa masih smooth, dan baterai awet, adalah tambahan yang akan didapatkan jika Anda meminang ponsel ini karena mengincar kemampuan selfie-nya. Dan dengan harga yang lebih murah dari ponsel selfie tetangga, di mana RAM dan kapasitas penyimpanannya sama besar, harusnya ASUS mampu bersaing secara head-to-head dengan kompetitornya.

Hanya saja ada dua hal yang tak dimiliki oleh ASUS Zenfone 4 Selfie ini. Pertama ponsel ini tak punya terobosan soal rasio layar yang masih 16:9, kedua ASUS tak jor-joran membelanjakan anggaran promosi mereka untuk produk ini.

Yang pasti, dengan harga yang tak saling membunuh, saya rasa untuk tahun ini ASUS memiliki jajaran produk yang cukup lengkap pada Zenfone 4 Series yang sudah dirilis di Indonesia. Tinggal butuhnya yang mana, dan punya uang berapa saja ya.

Kalau saya? Saya masih menunggu ASUS Zenfone 4 Basic Edition sih. Semoga masuk juga ke Indonesia ya, hihihi.

Amiiin. Sekian ulasan dari ponsel ASUS Zenfone 4 Selfie ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, December 6, 2017

Review Huawei Honor Band 3, Sophisticated ala Branded!



Ini adalah salah satu smartband yang bisa bikin saya betah memakainya. Alasan utamanya sih baterai, di mana dalam seminggu pemakaian dengan kondisi sering terhubung ke smartphone melalui bluetooth, level baterainya hanya turun sekitar 20-30% saja. Hemat bukan?

Tapi tak hanya itu, smartband branded seperti ini terasa lebih sophisticated daripada smartband-smartband dari brand non global yang walau memiliki fitur lebih banyak, namun sering sekali terasa seperti produk yang setengah matang.

Dari masalah aplikasi saja misalnya, Huawei memiliki Huawei Wear untuk menangani koneksi dan data yang dihasilkan oleh Huawei Honor Band 3 ini. Pairingnya sangat cepat dan mudah, serta juga bisa dikombinasikan datanya di aplikasi Huawei Health yang juga mengambil data dari smartphone. Kebetulan selama menguji smartband ini, saya menggunakan Huawei P10 ya.

Selama berada dalam jangkauannya, koneksi antara smartband dan smartphone ini selalu lancar. Bahkan saat sempat terpisah jauh yang menyebabkan koneksi terputus, saat kembali didekatkan, koneksi akan dihubungkan kembali secara otomatis dan tanpa kendala.



Mungkin karena inilah saya betah memakainya selama ini ya.

Padahal, fitur dari Huawei Honor Band 3 ini terbilang sangat standar. Walau masih sedikit lebih baik dari Mi Band 2 sih. Apa saja memang keunggulannya dari Mi Band 2? Saya absen deh ya.


  1. Layarnya lebih besar, sehingga tulisan dari notifikasi juga bisa dimunculkan. Kalau pesannya panjang, tinggal putar-putar pergelangan tangan untuk membaca terus sampai habis.
  2. Heartrate-nya dynamic alias tak hanya sekali ukur.
  3. Adanya mode khusus untuk running dan swimming, Mode khusus untuk berlari, dapat memanfaatkan GPS pada smartphone sehingga bisa dihasilkan data lokasinya. Sementara mode berenang membuat layar smartband ini menjadi tak sensitif. Ini diperlukan saat berada di dalam air agar smartband tidak berpindah-pindah menu terus. Ketuk layar 2x dengan agak keras pada mode ini untuk menggantikan sentuhan.


Strap dari Huawei Honor Band 3 ini jelas terasa berkualitas. Nyaman di kulit, tidak terlalu memble, namun juga tak terlalu keras, pas lah. Sayangnya strap ini tak dapat dilepas. Saat ini di GearBest ada 3 pilihan warna yang dapat Anda miliki, yaitu orange, biru tua, dan hitam.

Dan dengan harga sekitar $35 alias 400-ribuan, saya pikir smartband ini worth the price buat Anda yang memang tak perlu gimmick, dan cukup dengan fitur-fitur yang tadi saya sebutkan.

Oh ya, notifikasi yang diterima hanya membuat smartband ini bergetar saja, dan layarnya baru menyala saat Anda mengangkat pergelangan tangan. Menurut saya ini sangat smart!

Saya akan menyimpan terus smartband ini, karena saya menyukainya, dan cocok dengan kebutuhan saya. Jika kebutuhan Anda bisa terpenuhi oleh smartband ini, link pembelian saya sertakan di deskripsi video ini yah.

Okay, gitu aja review dari smartband Huawei Honor Band 3 ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!