Gadget Promotions

Wednesday, November 21, 2018

Review Honor 8x, Looks Kece, Performa Oke, Tapi...



Honor lagi Honor lagi, hehehe.

Saya sudah maklum kalau penonton setia channel ini sudah melabeli saya sebagai Honor fans. Padahal terakhir saya coba Honor 9i itu sudah lumayan lama lho, sampai-sampai pas saya memulai memakai lagi EMUI di Honor 8x ini, ada semacam perasaan rindu yang terbayar.

Lebay ya haha.

Dan ini juga jadi alasan saya tak mengabulkan permintaan penonton yang berharap saya mengulas Honor Play di channel ini. Keburu masuk Honor 8X soalnya.

Walau segmentasinya berbeda, termasuk dapur pacunya, namun saya lebih tertarik dengan kehadiran 8X sih, terutama karena ini resmi.

Dan Honor 8X ini menjadi device Honor resmi pertama yang mengusung chipset Kirin 710 yang memang hadir menggantikan Kirin 659 dengan peningkatan performa maupun konsumsi daya. Ini menambah sengit persaingan smartphone midrange yang punya powerhouse mumpuni untuk gaming.

Dengan RAM 4GB dan storage 128 GB, sulit untuk tidak memasukkan smartphone ini ke dalam daftar best budget smartphone saat ini.

Terlebih jika faktor estetika menjadi salah satu penentu dalam mengambil keputusan buat Anda. Coba tengok, desain Honor 8x ini tak kalah indah dari smartphone flagshipnya. Dengan garis desain backcover yang dibuat landscape, serta refleksi aurora glass ciri khas Honor, smartphone ini rasanya menggoda iman terus ya hehe.



I know, Honor masih menegaskan kelas smartphone ini di level menengah dengan tak menyematkan NFC. Pun absennya fast charging, bisa jadi deal breaker buat sebagian orang.

Namun saya masih menilai apa yang ditawarkan Honor 8X ini tetaplah menarik.

Layarnya memiliki saturasi dan kerapatan yang baik, dan kali ini dimensinya mencapai 6,5 inch. Saya sempat bingung, koq rasa-rasanya tak jauh berbeda dari smartphone lain yang punya layar 6,2 inch ya. Jawabannya ada pada bezel yang tipis, yang hampir sama tipis di semua sisi. Notch pada layarnya pun ringkas, sebatas cukup untuk menempatkan ambience dan proximity sensor, earpiece, LED Notification, dan kamera depan enam belas Megapixels. Area layar di samping notch masih sangat lega untuk berbagai indikator dan ikon notifikasi.

Kamera belakangnya ganda, dengan resolusi dua puluh Megapixels untuk kamera utama, dan 2 Megapixels untuk depth sensor. Sudah punya AI untuk membantu mengoptimalkan pengaturan sesuai dengan scene yang dibidik, saya merasa hasilnya agak over saturated ya. Kadang saya suka sih, misal saat mengambil foto bunga dan tanaman. Namun untuk foto wajah, saya lebih suka yang natural.

Dan saya tak bisa memasukkan Honor 8X ini ke dalam kelompok hape selfie, karena meskipun resolusinya besar dan juga bisa membuat selfie bokeh, namun memang fitur selfienya tidak terlalu advance. Tidak ada AI untuk selfie-nya, walau beautification masih ada.

Dan Anda bisa simak hasil kameranya pada video berikut ini...



Jika saya boleh simpulkan, menurut pandangan dan selera saya sih kamera Honor 8X ini kinerjanya baik. Fokus dan pemrosesan berjalan cepat, sementara hasilnya bisa diandalkan dengan pengaturan manual yang lengkap.

Jadilah Honor 8X ini smartphone all-rounder dengan harga yang masih cukup terjangkau, baterai besar 3.750 mah, kamera relatif bagus, serta dapur pacu yang gegas.

Memori internal lega yang masih ditemani triple slot cards juga jadi nilai tambah.

Jangan lupakan kemampuan multimedianya yang juga enjoyable, saya akan putarkan musik melalui loudspeakernya, silakan anda nikmati ya.

Satu yang mungkin perlu dibenahi oleh Honor Indonesia adalah timing perilisan ponselnya ya. seringkali produk luar non garansi lokal sudah masuk duluan dibanding produk resminya, dan saat yang resmi rilis, jadinya sudah kurang surprised lagi ya. Terlebih harganya kadang lebih murah yang tak resmi.

Lainnya paling soal penamaan yang kadang membingungkan, misal flagshipnya sudah sampai angka sepuluh, di honor ten dan honor view ten, tapi midrangenya masih berkutat di angka 9 semisal 9i atau bahkan 8 seperti 8x ini. Yang tak terlalu mengikuti update produk Honor mungkin heran dibuatnya.

Dalam proses pengujian, Honor 8X ini saya dapuk menjadi daily driver, dan serius saya betah tuh memakainya. Kekurangan fast charging saya akali dengan mengecasnya malam-malam, toh baterainya tahan lama. Bisa bertahan tiga puluh enam jam lebih dengan screen on time di atas 5 jam lho. Itu saat penggunaan intens untuk socmed ya, bisa jadi lebih lama jika lebih banyak standby, dan jadi lebih singkat saat digunakan untuk gaming.

Penampakannya juga elegan, ngga malu-maluin, malah kecenya kebangetan. Saya akan tutup video ini dengan gaming test ya. Kebetulan video unboxing-nya kemarin kan hanya seadanya, karena kondisi saat itu.

Kesimpulan akhir dari saya, di harga jualnya saat ini, Honor 8X tergolong valuable dengan segala apa yang ditawarkan. Mampu bersaing lah, walau pastinya tak mungkin unggul si segala sektor. Yang jelas ini adalah all arounder yang patut diperhitungkan, terlebih jika anda sudah jatuh hati dengan looks-nya yang ganteng ini.

Dengan harga resmi sebesar Rp3.999.000 plus banyak bonus jika pre-order di Shopee, rasa-rasanya masih menarik sekali untuk dicoba ya. Walau menurut saya, harga ini tabrakan dengan Huawei Nova 3i. Jadi deja vu nih, dulu Honor 7X pun harganya tabrakan dengan Nova 2i sebelum direduksi sejuta Rupiah.

Menurut hemat saya, Honor sepatutnya memberi harga yang lebih kompetitif lagi sebagai e-brand. Walau pastinya mereka sudah punya hitung-hitungan bisnis sendiri ya.

So, kalo budget kamu cocok, tinggal teguhkan pilihan ya, lalu miliki satu dan jangan mengejek yang lain, okay?

Demikian ulasan saya kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam.

Review Samsung Galaxy A7 (2018), 3 Kamera Buat Apa?



Inilah kejutan Samsung untuk segmen midrange di penghujung tahun 2018 ini.

Mengejutkan bagi saya, karena dengan spesifikasi dapur pacu setara Galaxy A8 2018, dan dengan jumlah kamera yang lebih banyak di sisi belakang, harga jual resminya jauh lebih murah.

Yap, Galaxy A7 2018 ini dibandrol Samsung seharga Rp4.499.000, di mana saya membelinya secara pre-order demi cashback setengah juta Rupiah, yang menurut saya menjadikannya worth the money, terutama untuk Anda yang mengejar performa kamera dari sebuah smartphone.

Terus simak ulasan ini, untuk penjelasan lebih detailnya ya.



Saya bahas tentang kamera di awal ya, karena sepertinya inilah sisi yang paling membuat kita penasaran, "3 kamera buat apa sih?".

Untuk menjawabnya, saya absen dulu ya kamera belakang Galaxy A7 ini dimulai dari yang paling atas.

Kamera pertama ini untuk depth sensor, resolusinya 5 Megapixels.

Kamera kedua yang di tengah adalah kamera utamanya yg beresolusi 24 Megapixels, bukaan lensanya besar di F/1.7, dan hadir dengan PDAF untuk auto fokus yang cepat.

Kamera ketiga adalah kamera ultrawide 8 Megapixels dengan focal length 13mm.



Kira-kira seperti itu penjelasan teknisnya, namun sederhananya, dengan Samsung Galaxy A7 2018 ini, kita makin bisa bereksplorasi saat mengabadikan momen. Membuat objek standout dan latar blur sudah pasti bisa, mengambil gambar banyak benda di ruang sempit semisal di dalam mobil pun jadi lebih enak dengan lensa ultrawide-nya.

Kelebihan dari Galaxy A7 2018 ini adalah, pada mode ultrawide saya tidak merasakan penurunan kualitas gambar ataupun perbedaan tone warna dibanding kamera utamanya. Sementara pemanfaatan lensa khusus untuk depth sensor membuat live focus pada Galaxy A7 2018 semakin rapi dalam menentukan tepian objek foto yang masih mendapat fokus dengan latar belakang yang blur.

Samsung tak melupakan kamera depan smartphone ini yang beresolusi sama besar di 24 Megapixels. Dan untuk mendukung keeksisan penggunanya, sebuah LED Flash untuk selfie disematkan di sisi depan ponsel ini. Selfie Focus hadir jika Anda ingin foto selfie Anda lebih stand-out ya.

Lalu untuk perekaman video, saya rasa smartphone ini bisa mengakomodasi gaya hidup kekinian di mana banyak sekali orang membuat kontennya langsung dari smartphone. Dalam artian, video yang dihasilkan hasilnya sangat memadai untuk dikonsumsi umum.

Stabilisasi video di Galaxy seri A selalu tergolong baik dengan hadirnya digital stabilization. Tone warnanya juga hidup, dan resolusi maksimal videonya bisa sampai 4K.

Audio yang dihasilkan pada videonya juga tak lupa ya, kualitasnya masuk ke kategori layak dan enjoyable.

Dan lagi-lagi, biarlah scene-scene video ini yang menunjukannya pada Anda. Sok atuh disimak kembali...



Bagaimana menurut Anda, kualitas kameranya memenuhi ekspektasi Anda kah?

Jika saya yang menilai, Galaxy A7 2018 ini tak cuma menang di jumlah kamera, kualitasnya pun mumpuni. Dan kalau teman Anda masih menanyakan "3 kamera buat apaan sih?", silakan ditunjukkan video ini saja ya, hehe.

Di luar kamera, Galaxy A7 2018 ini pun masih punya keunggulan.

Spesifikasinya cukup mentereng, dengan processor Exynos 7885 Octa, multitasking untuk berbagai kegiatan saya di atas smartphone dapat berjalan lancar. Gaming juga masih bisa dinikmati berkat sokongan RAM-nya yang 4 GB.

Oh ya, sejauh ini batrai 3.300 mAh-nya mampu bertahan dari pagi hingga malam hari. Seandainya bisa bertahan lebih dari 24 jam dan juga mendukung fast charging, pastilah akan lebih menarik lagi ya, terutama buat mobile gamers.

Anda pembuat konten pasti akan sangat terbantu dengan besarnya storage utama Galaxy A7 2018 yang sudah 64 GB plus triple card slotnya. Ya, smartphone ini punya dedicated slot untuk micro-SD yang bisa menampung kapasitas maksimal 2 TB. Besar ya, walau kayanya micro-SD sebesar itu masih jarang yang jual dan pastinya mahal hehe.

Jika tampil gaya adalah kebutuhan mutlak untuk Anda, maka lengkaplah sudah. Galaxy A7 2018 hadir dengan glass backcover yang menawan, dengan pilihan warna hitam, biru, dan emas. Saya mah sudah pasti terpikat oleh warna birunya ini.


Frame pinggirnya terbuat dari polykarbonat dengan finishing glossy juga. Di sisi kanannya terdapat tombol power yang juga berfungsi sebagai fingerprint scanner. Responnya cepat dengan akurasi yang juga baik. Walau mungkin mau tak mau ini mendorong kita untuk selalu menggunakan tangan kanan saat memegang ponsel ini ya.

Jika sedang menggenggam dengan tangan kiri, saya sarankan lebih baik manfaatkan face unlock-nya saja. Dengan kamera depan yang resolusinya juga besar, membuka kunci layar dengan wajah kita pun dapat dilakukan dengan nyaman.



Dan yang pasti, kekuatan dari brand Samsung adalah panel Super AMOLED-nya yang sangat vivid dan mendukung fitur Always-on Display. Jadi depan belakang, smartphone ini keren pake banget, apalagi jika kita bandingkan lagi dengan harganya yang cukup mengejutkan.

Yang saya lihat, Samsung nampak cukup sigap menghadapi persaingan di segmen midrange smartphone ini ya. 4-jutaan, dapet smartphone Samsung, dapur pacu handal, memory lega, dan kamera yang kinerjanya baik tak cuma gimmick.

Kita lihat saja apalagi kejutan dari Samsung di penghujung 2018 ini. So far saya sih puas dengan Galaxy A7 2018 ini, terutama dengan keputusan pricing Samsung yang makin enak untuk dibandingkan dengan spec sheet dan juga fitur-fiturnya.

Apakah Anda setuju dengan saya?

Sip, semoga ulasan ini bermanfaat menambah wawasan Anda ya. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, November 14, 2018

Review Realme 2 Pro, Ngga Nyantai!



Nggak nyantai, inilah 2 kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana price to spec comparison dari smartphone yang saya ulas kali ini.

Ya, ini adalah Realme 2 Pro, yang jadi smartphone resmi pertama di Indonesia yang bisa menghadirkan Snapdragon 660 pada kisaran harga di bawah 3-jutaan.

Lebih nggak nyantai lagi, yang saya uji adalah varian tertingginya yang memiliki RAM 8 GB dan storage 128 GB, yang harga resminya 3,7 jutaan saja.



Penjualan smartphone ini pun konon ngga nyantai, sold out terus, walau diyakini pembelinya sebagian adalah toko-toko yang membeli di lazada untuk kemudian dijual lagi di marketplace saingannya, dengan ditambahkan cuan dulu tentunya, hehe.

Nah, apakah dengan spek di atas kertas yang mentereng begini, lalu marketing yang sukses membuat hype sub-brand baru ini naik, serta berbagai pemberitaan mengenai laris dan dicari-carinya smartphone ini, lantas membuat pesaing dari Realme inipun sudah tak bisa santai-santai lagi jualan?

Jawabannya silakan disimpulkan setelah melahap habis review ini ya.

Saya pikir, sebagai sub-brand Oppo, sebagaimanapun punya diferensiasi dari induknya, sebagaimanapun kompetitif produknya, pastilah sudah dihitung matang-matang bagaimana agar tidak saling membunuh.

Nah, satu hal yang sudah pasti berbeda dari Oppo adalah kualitas kameranya. Realme 2 Pro punya kamera yang tak bisa dibilang jelek sih, masih sangat bisa dikatakan bagus selama pengambilan gambar dilakukan pada kondisi ideal.

Apa ini artinya lowlights-nya payah? Ngga payah juga sih, rata-rata saja. Jelas tak sebagus performa kamera Oppo, bahkan ada beberapa smartphone 2-jutaan yang performanya lebih baik.

Hal ini berlaku juga untuk perekaman video yang hasilnya tak elok jika dipaksa semisal melakukan vlogging outdoor di malam hari. Selain tak lagi tajam, stabilisasi yang tadinya cukup lumayan pun semakin terasa jelly.

Namun, overall masih OK. Tapi ya itu, jangan maksa bikin konten gelap-gelapan aja yah hehe.

Karena kalau cahayanya cukup, saya yakin Anda akan cukup terpesona dengan hasil kameranya.

Coba deh lihat hasil foto berikut ini, lalu tuliskan komentar apakah Anda terpesona atau tidak dengan kualitasnya ya. Silakan!



Perbedaan selanjutnya adalah ketidakhadiran dukungan fast charging, entah itu VOOC Charge, atau Qualcomm Quickcharge. Padahal SoC yang digunakan sih mendukung.

Mungkin untuk menekan harga ya, soalnya lisensi untuk quickcharge pastinya berbayar.

Sedikit disayangkan bahwa kapasitas baterainya malah lebih kecil dibanding Realme 2 ya, apalagi Snapdragon 660 dengan performanya yang gegas, memang tak sehemat Snapdragon 450 dalam mengonsumsi daya.

Tidak adanya LED Notifikasi juga membuat saya sering melewatkan chat-chat penting saat smartphone ini saya tinggal. Ini agak kritikal sih bagi saya, jadinya mikir banget untuk dijadikan daily driver. Tapi untuk smartphone khusus gaming dan menympan berbagai file multimedia sih pastinya cocok banget.

Komplain terakhir saya masih sama sih, posisi loudspeaker dan perlunya pembiasaan dalam menggunakan ColorOS, semisal untuk dismiss notification toast, harus diswipe ke atas, bukan ke samping layaknya ponsel Android lain.

Komplainnya sudah, waktunya membahas semua yang saya apresiasi dari smartphone ini.

Pertama mah sudah pasti atuh ya, jeroannya. Penggunaan Snapdragon 660 AI Engine yang walau katanya didownclock, nyata-nyata enak banget dipakai main game. Di video unboxing saya sudah langsung tes beberapa game, lancar tuh.

Disokong RAM 8 GB, multitasking jadi ga masalah. Notifikasi berbagai aplikasi juga lancar masuk karena leganya RAM membuat banyak background process bisa terus berjalan.

Lanjut ke storage, 128 GB ini asyik banget. Saya jadi ga ragu untuk mendownload banyak playlist di Spotify dengan kualitas tertinggi. Jangan lupakan bahwa Realme 2 Pro mengusung triple card slots, 2 slot nano sim dan 1 slot khusus micro-SD. Asli ga ada khawatir-khawatirnya soal storage deh.

Kedua adalah layarnya yang sedap dipandang, dengan dewdrop notch yang mungil, sehingga area sudut atas layar masih sangat luas untuk berbagai indikator dan ikon notifikasi, termasuk indikator kecepatan jaringan yang bagi saya cukup penting.

Vibrancy dan ketajaman layarnya pun kece. Asyik punya lah memandangi layarnya, entah itu saat bermedia sosial, atau streaming.

Ketiga adalah daya tahan baterainya yang mampu bertahan sehari semalam dengan pemakaian yang cukup intens. 3.500 mAh nampaknya masih cukup ya sejauh ini.

Terakhir adalah masalah looks dan estetika. Walau saya lebih memfavoritkan warna ice blue-nya, tapi warna hitam yang kadang nampak seperti dark grey ini pun rasa-rasanya tetap menawan hati. Handling-nya enak, tidak licin dan tak pernah tergelincir dari genggaman selama saya pakai.

Saya pikir saya sudah tak perlu membuat kesimpulan ya untuk smartphone yang satu ini.

Intinya untuk spesifikasinya sangat bernilai jika dibandingkan harga jual resminya.

Kompensasi jelas ada di hal-hal yang saya bahas di awal tadi.

Namun bagi pembeli ada konsekuensi lain jika di Indonesia ada smartphone dengan spek mentereng dan harga cukup miring, belinya rebutan hehehe. Dan kebanyakan yang rebutan malah buat dijual lagi buat ambil untung heuheu.

Jadilah subsidi dari Lazada dimanfaatkan oleh reseller, dan pada akhirnya membantu meningkatkan transaksi di e-commerce lain yang pastinya adalah saingan dari Lazada.

Pukpuk Lazada deh hihi.

Saya malah sudah ngga sabar, menunggu deretan smartphone Realme selanjutnya, apakah akan tetap ngga nyantai seperti ini, atau nyantai dikit?

Atau malah makin kenceng? We'll see lah.

Yang pasti saya makin senang lah kalo makin banyak produk yang jualan spek bagus.

Sip, begitu pandangan saya soal Realme 2 Pro ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon Pamit undur diri. Wassalam!

Thursday, November 8, 2018

Review Realme 2, Sepertinya Anda Lupa Sesuatu...



Realme hadir memberi riak di kancah persaingan budget smartphone.

Membawa nama besar Oppo di balik layar, Realme jelas banyak memanfaatkan warisan intelektual Oppo untuk menghadirkan smartphone yang sangat menarik jika melihat spek di atas kertas berbanding harganya.

Memiliki body yang similar dengan Oppo F7 yaitu memiliki backcover diamond cut, Realme 2 hadir pada level harga psikologis yang selalu menjadi perhatian banyak konsumen gadget tanah air.

Ya, Realme 2 ini memiliki bandrol harga Rp1.999.000 untuk varian RAM 3 GB dan Storage 32 GB, serta 2.399.000 untuk RAM 4 GB dan storage 64 GB.

Penjualan resminya hanya melalui jalur e-commerce, lebih spesifik lagi Lazada ya. Jadi jika berharap mendapatkan smartphone ini di toko offline, siap-siap saja menambah jumlah yang akan Anda bayar, untuk keuntungan sang penjual.





Begitu melihat desain dari Realme 2 ini langsung membuat kita tergoda ya. 2,4 juta untuk varian 4/64 GB adalah sesuatu yang menarik, terlebih desainnya cukup kekinian dengan layar 19:9 berponi.



Saingan berat Realme 2 masih hadir dari ponsel-ponsel yang sudah lebih dulu hadir, yang kebanyakan mengusung Snapdragon 625 atau 636 di harga 2-jutaan. Namun saya yakin, masing-masing sudah memiliki peminatnya tersendiri.

Ya, Realme 2 dengan processor Snapdragon 450 dan baterai besar 4.230 mAh masih mumpuni untuk gaming, namun memang bukan buat gamer menengah ke berat.

Yang pasti, dalam pemakaian saya Realme 2 ini selalu berhasil menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya. Ini termasuk gaming yang cukup intens ya. Dan jika frekuensi gaming sedang berkurang, bahkan bisa menembus 2 hari 2 malam.

Nggak heran lah, Snapdragon 450 memang termasuk processor yang hemat daya. Walau memang mengisi daya baterai besar jadi butuh waktu lama karena absennya fast charging pada Realme 2.

Masuk ke kamera, Realme 2 ini termasuk golongan smartphone yang kamera depannya malah lebih bagus dari kamera belakang. Hehe. Turunan mungkin ya.

Realme 2 ini kamera selfienya resolusinya tak berlebihan, 8 Megapixels yang menurut saya sudah cukup. Sementara kamera belakangnya ganda dengan resolusi 13 dan 2 Megapixels.

Hasilnya cukup bagus untuk level harganya, usable lah. Walau pastinya tak bisa istimewa di kondisi lowlights.

Bisa merekam video sampai Full HD, stabilisasi dipastikan minim atau malah tidak ada.

Fitur-fitur lain kameranya kurang lebih sama dengan kamera Oppo, hanya saja watermark pada Realme 2 tidak bisa memunculkan nama pemotret, tak seperti Realme 2 Pro.

Mari kita simak langsung hasil foto-foto dan video dari Realme 2 ini di beberapa kondisi. Silakan.



Hadirnya Realme 2 ini menurut saya bagus, karena semakin menambah pilihan smartphone terjangkau yang punya spesifikasi bagus.

Tak hanya itu, desainnya juga oke, bisa pake banget bahkan kalau Anda suka dengan diamond cut-nya, dan juga pilihan warnanya yang menarik, hitam, merah, dan biru.

Layarnya juga enak dipandang, dengan resolusi HD+ yang membuatnya tak membebani kinerja baterai sehingga mampu bertahan lama.





Jangan lupakan juga bahwa Realme 2 memiliki tiga buah slot kartu, 2 untuk nano sim, dan 1 khusus untuk micro-SD, jadi storage bisa dibilang aman ya.

Fingerprint scanner-nya cepat dan akurat, untuk 2-jutaan sih ini keren. Termasuk face unlock-nya yang juga jempolan, asalkan pencahayaannya nggak gelap-gelap amat, responnya di kala membuka layar tergolong instan sih.

Mungkin buat sebagian orang, akan butuh adaptasi untuk memulai menggunakan Color OS. Saya sudah memberi masukan mengenai Custom UI milik Oppo ini di video review Oppo F9 ya. Dan beberapa keluhan kecil itu masih terasa tentunya di Realme 2.

Termasuk posisi loudspeaker, kebiasaan banget deh Oppo. Ini berlanjut di Realme dan OnePlus juga soalnya. Menurut saya lebih baik di bagian kanan dari sisi bawah ponsel, agar tak mudah tertutup.

Nah, untuk digunakan sebagai hape multimedia dan juga game online yang sering standby untuk autoplay, Realme 2 ini cocok sekali.

Untuk driver online pun sesuai, baterai dan RAM-nya besar.

Namun jika budget lebih mepet, saya pikir Anda yang berprofesi sebagai driver online bisa menunggu review Realme C1 dari saya, di mana smartphone ini punya procesor dan kapasitas baterai yang sama, hanya beda di besaran RAM dan storage, serta tidak adanya fingerprint scanner.

Jadi, tunggu saja ya!

Kecantikan Realme 2 serta nama besar Oppo yang terkenal dengan cameranya yang baik ini nampaknya membuat sebagian orang melupakan bahwa di range 2 jutaan beberapa smartphone lain hadir dengan dapur pacu yang lebih powerful ya.

Tak ada yang lebih mending, karena buat sebagian orang penampilan itu bisa jadi lebih penting, sementara sebagian lain merasa bodo amat yang penting jeroannya enak diajak main game dan skor antutu gede. 2-2nya tak salah koq, bebas sesuai selera dan prefensi masing-masing saja. Asal jangan maksa, dan jangan ribut aja sih saya mah, hehe.

Sekian yang bisa saya nilai dari Realme 2, selamat berburu hehe. Harusnya sih stoknya ngga ghoib-ghoib amat, karena pabriknya milik sendiri, nggak rame-rame di-subcon ke pabrik Batam.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!