Gadget Promotions

Saturday, October 13, 2018

Kesimpulan Akhir Saya Tentang Pocophone F1



Halo Assalamualaikum, pada video kali ini, kita akan mengulas tentang smartphone yang sempat jadi fenomena di tanah air saat rilis, yaitu Pocophone F1.

Dan menurut saya, Pocophone F1 ini adalah smartphone terbaik, terhebat, terkeren, dan terrrrrr-semuanya saat ini yang dijual resmi di Indonesia!

Seandainya, penilaiain sebuah smartphone cukup dihitung dari harga versus processor yang digunakan.

Sayangnya, pada kenyataannya kan tidak seperti itu. Hahaha.

Jadi pastikan simak terus video ini sampai akhir untuk tahu lebih dalam soal Pocophone ini, sebelum Anda putuskan untuk meminangnya atau tidak. Saya tahu masih banyak yang belum meminangnya, kayanya pada santai karena ngga ghoib ya? Heuheu.

Yup, Pocophone F1 adalah fenomena. Bagaimana tidak, di angka 4-jutaan sudah berani pakai processor tertinggi dan termutakhir dari Qualcomm, yaitu Snapdragon 845.

Flagship! Begitu kata orang-orang. Saya sendiri masih bingung, iya gitu Pocophone F1 ini flagship? Kalo jeroannya high-end sih saya setuju. Snapdragon 645 dipadukan dengan RAM 6 GB dan storage 64 atau 128 GB adalah jeroan kelas tinggi.

Tapi kalau dibilang flagship, mungkin flagship-nya Pocophone sebagai sub-brand-nya Xiaomi saja ya, karena flagship-nya Xiaomi kan Mi 8 dan Mi Mix 2s saat ini.

Yang pasti, perasaan senang bisa mendapatkan smartphone ini tak berlangsung terlalu lama. Cerita perjuangan mendapatkannya yang saya buat jadi satu video tersendiri, dalam beberapa hari saja sudah menjadi terasa hambar. Ya iya, ngapain saya harus waiting list kalau cuma nunggu 5 menit, dan di hari-hari berikutnya orang lain masih bisa dapat dengan mudah, haha.



Bukan saya berharap barang ini ghoib, tapi mungkin Xiaomi perlu lebih baik mengomunikasikan masalah stok dari Pocophone F1 ini. Bilang saja langkah pembuatan waiting list ini untuk meminimalisir tengkulak alias reseller, kan enak, semua pasti maklum.

At least, respon Xiaomi atas banyaknya produk yang bermasalah di hari pertama penjualan, bagi saya sudah cukup baik dan bertanggung jawab.

Kembali ke produknya, saya memang merasakan euforia-nya tak terlalu lama. Unboxing, main game, lalu kemudian sisanya terasa biasa saja.

Tak ada perasaan senang berlarut-larut seperti ketika saya mampu membeli flagship pertama saya dulu. Di mana sampai berminggu-minggu kemudian saya masih senang mengagumi desainnya, layarnya, build quality-nya, kualitas audio-nya, hingga aksesoris bawaannya.

Bukan saya tak puas, tapi saya menceritakan apa bedanya ketika kita memilih membeli flagship yang lebih umum, dengan flagship yang hadir dengan harga jual yang sangat ditekan, tetapi mengkompensasikan beberapa hal.

Kompensasi pertama tentu saja soal material yang dipilih ya. Body Pocophone F1 ini terbuat dari polikarbonat yang sudah jarang sekali digunakan, bahkan untuk smartphone seri mid-end sekalipun. Saya mah santai, selama ini pun tak pernah rewel koq dengan body plastik, selama nyaman dipegang.

Pocophone F1 ini saya malah suka, body plastiknya membuat saya tak usah repot-repot memasang casing, jadi tak menambah tebal. Dan lagi finishing doff-nya tak mudah kotor, nice lah!



Tapi ya penilaian orang bisa berbeda ya. Tidak apa-apa beda, asal ngga maksa. Heuheu. Yang pasti, saya sangat menyarankan penggunaan tempered glass atau proteksi layar tambahan untuk Pocophone F1 ini. 2 minggu dalam pemakaian, sudah jelas hadir goresan-goresan halus memanjang di beberapa bagian layar. Tak menganggu pemakaian sih, cuma ketika layar mati dan kita perhatikan dengan seksama, goresan itu akan jelas terlihat. Sedih jadinya. Selain itu, layar ini juga cepat kusam, entah apakah ada lapisan olephobic atau tidak sebetulnya di layar Pocophone F1 ini.

Kompensasi selanjutnya ada pada layar. Layar Pocophone F1 tidak jelek koq, reproduksi warna masih cukup baik. Hanya terlihat ada jarak antara panel display dengan panel sentuh-nya. Asal tahu saja, Redmi Note 5 saja ga begitu. Heuheu.

Lalu soal notch. Saya juga bukan orang yang mempermasalahkan notch, asalkan kehadirannya memang memperluas panel layar dan masih cukup untuk menampilkan informasi-informasi penting di notification bar.

Sayangnya, Pocophone F1 ini terlalu besar notch-nya, saya harus menurunkan jendela notifikasi untuk melihat ikon-ikon di sana. Termasuk untuk melihat network speed juga. Jadi kali ini saya harus bilang saya kurang sreg dengan notch dari ponsel ini. Apalagi notch ini memotong area permainan PUBG, jadi yah PR banget deh!

Untuk kamera, saya banyak-banyak bersyukur karena ternyata hasilnya di atas ekspektasi saya. Ya, tadinya saya berpikir bahwa kameranya akan banyak dikompromikan untuk menekan biaya produksi. Nyatanya, Pocophone F1 malah punya kamera selfie beresolusi besar, bahkan paling besar di antara produk Xiaomi yang rilis di Indonesia yaitu 20 Megapixels. Sementara kamera belakangnya beresolusi 12 dan 5 Megapixels.

Jelas kualitasnya di bawah kamera flagship Samsung atau bahkan Huawei ya. Namun segini masih oke banget koq. Lowlights masih terbilang jernih, dynamic range masih mumpuni, dan selfie juga kece.

Saya pikir sekalipun harus menekan biaya produksi seminimal mungkin, Xiaomi takkan berani berkompromi soal kamera ya, mengingat dalam beberapa tahun terakhir perang smartphone banyak berkutat di sektor ini.

Silakan saja lihat foto-foto dan video berikut ini.



Dari tadi saya tak bahas performa ya. Karena memang angka-angka di atas kertas sudah menunjukkan ada di level mana smartphone ini untuk performanya.

Main game PUBG bisa di HDR dengan graphic Ultra. Dan yang saya apresiasi sekali liquid cooling-nya nampak bekerja dengan baik karena panas yang dihasilkan minim sekali.

Walau kemudian saya akhirnya merasakan demam juga, yaitu ketika saya mengganti kartu operator yang saya gunakan, dari nomor utama ke nomor ketiga saya dari operator bernama tiga juga. Entah seberapa besar pengaruh dari sinyal operator, ataukah dari update terbaru game PUBG ini, yang jelas beberapa hari sebelum saya mulai menulis naskah review ini, Pocophone F1 sudah mulai membutuhkan parasetamol kalau diajak bermain game lama-lama.

Baterai besar 4.000 mAh juga jadi kunci untuk memikat para mobile gamer. Apalagi MIUI juga terkenal dengan manajemen daya yang baik, walau sedikit mengorbankan background process ya.

Pocophone ini juga sudah memiliki fitur fast charging, yang sayangnya tidak cepat-cepat amat. Agak ketinggalan dari beberapa brand lain semisal yang punya Dual Engine Fast Charging, atau Supercharge.

Tidak lambat sih, pengisian daya berlangsung di tegangan 6,5 volt dengan kuat arus 2 hingga 2,5 Ampere. Tapi tetap saja tidak secepat hape tetangga euy.

Satu yang saya sangat apresiasi adalah face unlock dengan IR camera Pocophone F1 ini. Sangat instan, dan bekerja dengan baik di kondisi redup. Fingerprint scanner-nya juga akurat dan responsif. Mantap lah!

Jadi, apakah Pocophone F1 jadi ponsel terbaik? Untuk gaming dengan budget maksimal 5 juta sih iya, saya akui. Performa tinggi, baterai besar dan awet, serta pengisian daya yang lumayan cepat, plus face unlock instan ya!

Tapi untuk kamera, saya rasa dengan budget 5-jutaan, saya lebih senang dengan hasil kamera Vivo V11 Pro. Patokan saya adalah istri saya yang kalau makan di luar, selalu menanyakan apakah saya membawa Vivo atau tidak, hehehe. Oya, Vivo lebih cepat dalam mengisi daya, serta memiliki fingerprint scanner yang lebih futuristik, walau processornya memiliki kelas satu tingkat di bawah Pocophone F1.

Dan jika budget Anda lebih longgar, ada ASUS Zenfone 5z di harga 7 juta kurang sedikit, dengan dapur pacu yang identik, tapi memiliki kelebihan di looks dan build quality, punya NFC, pengisian daya yang lebih cepat, namun baterainya lebih kecil dengan daya tahan yang lebih singkat.

Dua ponsel yang saya bandingkan dengan Pocophone ini juga memiliki bidang layar yang lebih luas di sekitar notch-nya, hehe.

Semoga tidak ada yang tersinggung ya dengan alternatif yang saya berikan. Malah harusnya kita senang bahwa smartphone-smartphone resmi di Indonesia kini makin banyak yang keren dengan harga yang juga masih bagus.

Coba deh, dulu mungkin cuma mimpi ada ponsel dengan processor kelas atas begini bisa punya harga 6-jutaan, bahkan 4-jutaan.

Ok, saya bagi deh peruntukannya, Anda yang punya budget maksimal 5 juta bisa memilih Pocophone F1 jika Anda tergolong gamer kelas berat dan spesifikasi adalah segalanya.

Dengan budget yang sama, jika Anda lebih senang dengan looks, layar yang vivid, kamera yang menawan dan fitur-fitur kekinian, serta game kelas menengah, Vivo V11 Pro bisa jadi lebih cocok.

Namun jika Anda punya budget lebih dan memilih keseimbangan antara semua fitur-fitur dari sebuah smartphone, bisa jadi ASUS Zenfone 5z adalah jawabannya. Nantikan review lengkapnya di channel ini ya!

Pintar-pintar memilih ya gais, pertama tentu sesuaikan dengan budget, lalu cocokkan dengan kebutuhan dan juga selera Anda.

Atau kalau memang belum mampu, silakan menabung, atau jadilah team nonton doang beli kagak yang budiman dan tidak memancing keributan, hehehe.

Hape doang koq ribut, milih hape kan ngga 5 tahun sekali bukan? Hahaha.

Ok, semoga video ini menghibur, utamanya memberikan informasi yang mungkin Anda cari ya. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, October 11, 2018

Quick Review Vivo V11, Tanpa Pro Tetap Menarik?




Ini adalah smartphone yang turut dirilis September kemarin oleh Vivo Indonesia. Namanya Vivo V11.

Masih mengusung desain yang sama, perbedaan paling kentara dari V11 adalah hadirnya fingerprint di punggung ponsel.

No complain, fingerprint scanner ini sangat responsif dan akurat, dengan bidang yang cukup luas untuk menempatkan jari yang akan dipindai.



Ya, saya sengaja membahas dari sisi belakang sini dulu, karena jika diperhatikan selain pemindai sidik jari ini, backcover varian Starry Black ini bisa dibilang identik dengan saudaranya yang sudah saya review lebih dulu.



Dan saya masih memberi nilai positif juga untuk bentuknya yang ergonomis berkat desain backcover yang melengkung seperti ini.

Lanjut ke sisi depan, nampak tak ada yang berbeda ya, Vivo V11 masih hadir dengan Ultra All Screen yang sejauh ini masih jadi screen to body ratio tertinggi yang pernah saya coba. Hadir dengan panel LTPS, warna yang dihasilkan tergolong baik dan hidup.


Di sisi bawah ponsel masih hadir jack audio 3,5 mm di posisi favorit saya, begitu juga letak speaker grille di sisi kanan yang lebih enak saat digunakan bermain game dengan posisi layar landscape.

Game? Iya, game. Vivo V11 ini tergolong mumpuni koq diajak bermain game dengan setting grafis menengah.

Dengan diotaki processor octacore Mediatek Helio P60 dengan clockspeed 2.0 GHz yang sudah terbukti handal, bermain PUBG bisa saya lakukan dengan lancar. RAM 6 GB juga membantu multitasking berjalan dengan halus. Jangan lupakan game mode yang hadir melalui fitur smart assistant Vivo yang dinamai Jovi. Membantu sekali agar gameplay tidak terinterupsi.

Storage bawaan Vivo V11 masih tetap lega, yaitu sebesar 64 GB, dan tetap juga hadir dengan triple card slots, di mana slot micro-SD-nya dedicated, tak harus berebutan dengan dua slot nano sim card-nya.

Skor Antutu? Tetap di atas 100-ribuan koq. Dan segini mah dipakai gaming enak, dipakai socmed enak, dipakai foto-foto enak, dipakai hadiahin pasangan juga enak. Yang ngga enak sih yang jomblo aja, hahaha.

Vivo V11 dengan Helio P60 ini relatif lebih adem dan punya daya tahan baterai yang panjang. Pastinya di atas 24 jam pemakaian ya, walau sayangnya soal battery usage ini tidak muncul detailnya di bagian pengaturan baterai di FunTouch OS ini.

Pada paket penjualannya, Vivo V11 dibekali kepala charger dengan arus 2A yang tegangannya bervariasi di 5 dan 9 volt untuk fast charging. Dan saat saya isi ulang dayanya dengan kepala charger Quickcharge 3.0, indikator quickcharging menyala hijau, yang artinya V11 ini bisa diisi dengan cepat tak hanya dengan charger dan kabel bawaan saja ya. Mantap!

Oh ya, selain game mode tadi, Jovi di Vivo V11 juga masih punya tambahan fitur Smart Scene dan Smart Camera.

Pada smart camera, AI pada Jovi akan membantu mengatur beautification agar sesuai dengan objek, entah itu gender atau usia. Selain itu, AI Scene Identification juga hadir, sehingga kita tak perlu repot-repot mengatur settingan kamera, Jovi akan otomatis memilih mode yang paling cocok dengan objek dalam frame. Ini termasuk AI Backlight HDR yang sejauh ini merupakan fitur yang paling saya andalkan, agar tak repot-repot menyalakan dan mematikan mode HDR. Pilihan mode portrait yang optimal pun tersedia secara otomatis berkat Jovi AI assistant ini.

Hasil kamera Vivo V11 tetap menawan, dengan kemampuan yang baik untuk memproduksi gambar dalam berbagai kondisi. Kamera depannya yang beresolusi 25 Megapixels memiliki bukaan lensa f/2.0 yang besar. Sementara kamera belakangnya ganda, dengan resolusi 16 Megapixels untuk sensor lensa utamanya, dan 5 Megapixels untuk depth sensor-nya.

Bokeh-bokehan, portrait mode yang dramatis, bisa dihasilkan dengan baik oleh Vivo V11.

Silakan disimak foto dan video yang saya jepret menggunakan kamera Vivo V11 ini.



Dengan pemilihan panel LTPS, Vivo V11 jadinya tak memiliki fitur Always-On Display ya, dan dengan begini menurut saya akan lebih baik jika Vivo V11 dilengkapi dengan LED Notification.

Dengan harga jual di angka Rp4.499.000, saya merasa apa yang ditawarkan Vivo V11 ini tetap menarik.

Processor yang bisa diandalkan untuk gaming dan berbagai kegiatan lainnya, disokong oleh RAM besar di 6 GB untuk multitasking yang prima. Untuk kebutuhan multimedia, terutama kamera, Vivo V11 pun jelas punya keunggulan. AI yang sangat membantu untuk menghasilkan foto yang optimal di berbagai kondisi jadi salah satu kunci.

Dan yang pasti semua itu dibalut dalam desain dan looks yang menawan. Good job, Vivo, jangan berhenti di sini ya improvement-nya!

Demikian ulasan singkat saya. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, October 9, 2018

Review Oppo F9, Pengalaman Pertama Beli Hape OPPO



Ini adalah smartphone Oppo pertama yang saya beli, unbox, dan coba sendiri cukup mendalam.



Awalnya saya mempertanyakan kenapa Oppo tidak sekalian upgrade jeroan, kenapa nampak masih betah saja dengan Mediatek Helio P60?

Saya paham, pamor Mediatek tidak sedang bagus-bagusnya di mata pengguna smartphone tanah air.

Tapi harusnya memang kita pantang bilang jelek kalau tidak dicoba dulu. Contohnya ya Helio P60 ini.

Sebagai indikator awal, silakan dilihat skor benchmark Antutu-nya yang menembus 100-ribu.

Faktanya dalam pemakaian, Oppo F9 yang berbaterai 3.500 mAh ini selalu mampu dibawa oleh processor ini untuk menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya.

Dengan pola pemakaian banyak social media, dan sesekali gaming, dipakai istri nonton drama korea, dan juga youtube, segini sih oke banget.

Plus maen PUBG tanpa demam.

Di hari-hari awal pengujian, paling tidak stigma Mediatek yang boros dan panas rontoklah sudah.

Sayangnya, untuk detail pemakaian baterai di ColorOS tidak lengkap tersedia ya. Dan ada beberapa hal lagi yang saya belum terbiasa atau kurang sreg degan custom UI milik Oppo ini.

Yang paling terasa sih notification item. Jadi kita harus menggeser ke kiri, lalu tap icon trash untuk melakukan hal yang sebetulnya di Android pure atau custom UI lain cukup dengan diswipe saja.

Selanjutnya ada soal camera setting. Di UI aplikasi camera, saya mencari-cari tombol setting ini, ternyata tidak ada. Setelah tanya-tanya ke teman yang sudah lebih lama menggunakan Oppo, rupanya harus masuk dari setting, system apps, lalu pilih Camera.

Bukan masalah besar, tapi juga bukan penerapan UX yang baik, dan saya harap dengan saya bahas di sini, jadi input buat team developer ColorOS ya.

Karena sebetulnya, Oppo F9 ini adalah produk yang sangat menarik, dan juga worth every Rupiah.




Saya rasa kerja keras Oppo beberapa tahun terakhir, mulai menuai hasil. Di range harga 4-jutaan, beberapa generasi seri F Oppo saya pikir sudah berhasil membuat standar seperti apa kamera smartphone seharusnya di level midrange.


Terlepas dari kemampuan Selfie-nya yang memang istimewa, sebetulnya kamera depan dan belakang Oppo F9 ini sangat mumpuni dipergunakan mengabadikan berbagai momen.

Memang Beautification pada Selfie-nya membuat wanita-wanita nampak lebih cantik dari aslinya, yang mana membuat kalian-kalian para cowok jomblo harus berhati-hati jika menilai penampilan gebetan dari foto Instagram-nya saja.

Tapi, selain beautification, ada kelebihan kamera Oppo F9 ini, yaitu kemampuannya memberikan warna yang lebih vivid dari aslinya. Mengingatkan akan kemampuan kamera Huawei P20 Pro yang saat ini masih digadang-gadang sebagai camera smartphone dengan skor DxoMark tertinggi.

Inipun sebetulnya tergantung selera ya, sebagian mungkin lebih suka warna ngejreng alias vivid banget begini, sementara lainnya lebih suka yang flat dan lebih realistis. You choose lah.

Sementara untuk perekaman video, karakter warnanya juga tetap vibrant, walau memang stabilisasi tergolong minim.

Yuk, silakan dilihat pajangan foto dan video yang saya hasilkan menggunakan Oppo F9 ini.

[HASIL KAMERA]

Setelah kamera, kita bahas desain. Sengaja saya bahas belakangan, karena bagian ini termasuk yang cukup menonjol.

Oppo F9 varian Starry Purple ini pastilah mencuri perhatian orang yang melihatnya. Kilauan backcover dengan gradasi ungu ke violet, masih ditaburi percikan bintang-bintang kemerlap di bagian atas. Dan gradient ini berlanjut hingga ke frame pinggirnya, jadi saat diletakkan menengadah di atas meja pun, kecantikannya masih terlihat.


Untuk desainnya sendiri, seingat saya tidak berbeda dengan Oppo F7, selain kini di sisi belakang kameranya sudah berjumlah dua biji. Lain hal dengan sisi depan, Oppo F9 membawa perubahan pada waterdrop screen-nya, di mana notch untuk kamera depan sudah sangat minim, membuat notification bar semakin lega.

Bobot yang ringan, membuat Oppo F9 ini terkesan tak kokoh ya, padahal mah belum tentu. Perlu pengujian lebih lanjut sih soal build quality mah, yang sayangnya saya tak sampai hati untuk merusak keelokan ponsel ini, alias gak mau rugi hehehe.

Dan ya memang, backcover Oppo F9 ini cukup rentan menjebak minyak dari sidik jari, sehingga Anda harus rajin mengelapnya agar tetap shiny. Softcase disediakan sih dalam paket penjualan, hanya saja terasa menambah tebal ponsel ini.

Untuk loudspeakernya, suaranya lantang dan jernih, enak lah digunakan mendengarkan musik atau bermain game. Hanya dengan letak di sebelah kiri bawah ponsel, maka kita perlu mengubah kebiasaan saat memegangnya secara landscape. Caranya mudah, pastikan tombol volume up and down ada di sisi atas, dengan begitu, dipastikan loudspeaker tidak tertutup tangan saat dipegang dalam posisi horizontal begini.

Terakhir, ada fitur VOOC Charging yang jadi jualan utama Oppo sebagai peningkatan F9 dari seri sebelumnya. Dalam pengujian, memang terbukti pengisian dayanya sangat cepat, di mana dalam setengah jam, kenaikan persentase baterai mencapai 50%.

Namun, VOOC ini sifatnya masih eksklusif, alias Anda harus selalu menggunakan kepala charger dan kabel bawaan. Kalau tidak, OPPO F9 tidak mau menerima fast charging dari metode lain, semisal Qualcomm QuickCharge atau Power Delivery, saya pernah coba dan bahas ini di sebuah video review Powerbank belum lama ini.

Jadi ya charger dan kabelnya harus dibawa terus, atau kalau mengisi daya dengan powerbank, harus maklum jika tak secepat dengan charger bawaan. Tapi ga sampai lambat juga sih, ya di 5V 2A kira-kira hampir 2 jam lah pengisiannya.

Di level harga 4 juta, kamera Oppo F9 sangat stand out, walau untuk urusan performa juga sebetulnya tak dilupakan. Mediatek Helio P60 mungkin akan jadi titik balik dari perjalanan Mediatek di Indonesia ke depannya. Serius, coba sendiri deh mending!

Kesan pertama saya memakai produk Oppo lebih dari seminggu tergolong memuaskan, apalagi sepertinya minat netizen terhadap ponsel ini juga cukup tinggi, views di unboxing-nya cukup tinggi padahal saya bukan yang pertama unbox. Jadinya bikin semangat deh buat terus nyobain produk smartphone Oppo ke depannya, semoga ada rezekinya aja ya.

Untuk kesempatan ini, saya cukupkan sekian. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!