Gadget Promotions

Saturday, March 31, 2018

Review ACMIC A10 Pro, Quickcharging Powerbank



Secara berkala, saya akan memberikan rekomendasi produk elektronik yang dapat dibeli di toko online lokal. Lebih enak lagi jika penjualnya sudah jadi official store di Tokopedia ya.

Kali ini yang saya rekomendasikan adalah sebuah powerbank yang tentunya wajib mendukung teknologi fast charging.

Belakangan ini, bahasan seputar powerbank tak lepas dari regulasi baru di dunia penerbangan yang membatasi besaran kapasitas powerbank yang dapat dibawa oleh penumpang pesawat terbang. Dari yang saya tahu, kapasitas maksimalnya adalah 20.000 mAh kurang lebih.

Dari itu, saya memutuskan mencoba powerbank lain yang sudah pasti kapasitasnya aman untuk dibawa bepergian di udara. Kali ini pilihan saya jatuh ke ACMIC A10 Pro. Sebelum penonton pada protes, saya tekankan bahwa memang bandrolnya tergolong premium.

Tapi, kita lihat dulu deh mending apa saja kelebihan dari powerbank ini.



Pertama simple, pilihan warnanya banyak. Dan yang saya ulas kali ini berwarna Misty Green. Baru lihat kan powerbank warnanya hijau gemerlapan seperti ini? Hehe. Bahannya pun terasa solid dan kokoh sekali, dengan bobot yang pas. Sebetulnya saya agak riskan dengan material logam yang digunakan, takut menggores gadget lain jika ditempatkan bersamaan di dalam tas. Tapi setidaknya, ACMIC A10 Pro ini hadir tanpa sudut, sehingga kekhawatiran ini bisa diminimalisir.

Kedua adalah garansinya yang resmi, dan durasinya cukup panjang yaitu 18 bulan. Bikin tenang kalo nanti ada apa-apa.

Ketiga, adalah fitur proteksi yang super lengkap. Sehingga setidaknya saya tidak terlalu was-was akan efek penggunaan powerbank terhadap smartphone kesayangan saya. Masa iya pake smartphone flagship tapi powerbanknya ngasal, apa ngga sayang hapenya tuh.

Keempat, tentunya karena sudah support Qualcomm Quickcharge 3.0. Dan begitu saya colokkan ke Samsung Galaxy S9 saya, muncul indikator fast charging-nya. Jadinya mengisi daya smartphone dapat dilakukan dengan cepat. Oh ya, ada dua port output pada powerbank ini, yang satu lagi mampu memberikan kuat arus 2,4 A lho.

Kelima, powerbank ini juga cepat manakala diisi dayanya. Jadi support quickcharge baik output maupun input. 3 jam dicas, sudah penuh lagi, praktis jadinya.

Oh ya, powerbank ini punya 2 port untuk input, yaitu micro-USB dan lightning port. Jadi baik pengguna Android maupun Apple device, bisa mengandalkan charger smartphone mereka untuk mengisi daya ACMIC A10 Pro ini. Walau sebetulnya di dalam pake penjualan, sudah disertakan sebuah kabel micro-USB dengan adapter USB Type-C dan juga lightning.

Empat buah lampu indikator menjadi penanda sisa kapasitas powerbank ini. Dan lampu terakhir akan berubah warna dari putih ke hijau saat fast charging berjalan.

5 Kelebihan terus ga ada kekurangannya nih? Ada, kan saya sudah bilang di awal, powerbank ini masuk ke kategori powerbank premium. Jadi mungkin kurang sepadan jika disandingkan dengan smartphone entry level.

Tapi buat pengguna hape-hape flagship sih, masa iya bilang mahal. Kan lebih baik bayar lebih tapi nasib hape jadi makin terjamin, hayo betul apa betul? Hehehe.

Sip, demikian ulasan saya tentang ACMIC A10 Pro, produk ini dijual secara resmi di Tokopedia ya. Link pembelian saya sertakan di deskripsi video. Konon, mulai 29-31 Maret 2018 ini ada promo potongan harga, jadi jangan lupa klik linknya buat cek diskonnya.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, March 28, 2018

TIBA-TIBA PINTAR BAHASA INGGRIS? BISA! Review u-Dictionary Kamus Pintar Berbahasa Inggris!



Bosankah kalo saya review gadget terus?

Tenang, kali ini beda, yang saya review adalah sebuah aplikasi. Dan pastinya sangat bermanfaat.

Saat ini, saya sedang menguji pakai Samsung Galaxy S9, yang mana ada fitur Bixby Camera di dalamnya. Tahukah kalau salah satu kegunaan Bixby Camera adalah untuk menterjemahkan tulisan secara visual. Contohnya kita bisa menterjemahkan tulisan yang ada di sampul buku dengan cara memfotonya.

Berguna kan aplikasi seperti ini? Tapi, Bixby hanya ada di smartphone keluaran Samsung. Terus yang ngga punya Samsung bagaimana?

Nah, itu dia yang mau saya review dan infokan ke temen-temen semua, biar lebih semangat belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional.

Aplikasinya adalah u-Dictionary. Aplikasi ini selain berfungsi sebagai kamus biasa, juga bisa menterjemahkan gambar di jendela bidik kamera, atau foto di galeri kita. Semisal ada teman mengirimkan meme di whatsapp, dan kita tak tahu apa artinya. Tenang, tinggal buka aplikasi u-Dictionary, lalu buka deh foto tadi, select di bagian teks yang ingin diterjemahkan. Voila, hasil terjemahannya muncul, bahkan hingga ke alternatif arti yang mungkin lebih cocok. Dan ini bisa diatur mau diterjemahkan ke bahasa apa.



Tapi tak hanya itu, u-Dictionary juga bisa dengan cepat menterjemahkan teks yang kamu salin entah itu dari browser atau dari pesan apapun. Begitu kita memilih untuk menyalin suatu teks, maka akan muncul lingkaran kecil yang jika kita tap maka akan langsung menerjemahkan kalimat yang kita salin tadi. Catat ya, kalimat lho, ngga hanya kata per kata saja.

Dan semua itu bisa dilakukan dengan cepat karena aplikasi kamus u-Dictionary ini juga bisa berjalan offline. Sebagai contoh, saat saya memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa primer saya, maka kita tinggal download data sebesar 3MB saja. Ga makan kuota banyak kan?

Satu lagi fitur unik dari aplikasi ini adalah Word Lock Screen. Jika kita mengaktifkan fitur ini, maka lockscreen kita akan berubah menjadi kata-kata baru dalam bahasa asing, beserta artinya. Sehingga setiap kali kita menyalakan layar ponsel kita, kita menambah kosakata asing baru ke dalam pengetahuan kita. Ini keren, berguna banget menurut saya.

Dan aplikasi u-Dictionary ini bisa didapatkan secara resmi di Google Play Store tanpa biaya lho. Aplikasi ini mendapat keuntungan dari iklan yang sesekali muncul berbarengan dengan hasil terjemahan yang dilakukan. Dan saya rasa ini fair lah.

Kamu sering ditanya arti suatu kata dalam bahasa asing oleh teman, saudara, atau bahkan orang tua kamu? Yuk kita tolong mereka lebih mandiri dengan memberitahukan aplikasi yang keren dan useful ini.

Saya pun senang sekali bisa memberitahukan tentang keberadaan aplikasi ini kepada teman-teman semua, semoga bermanfaat yaaa.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, March 26, 2018

Review Nubia Z17 Lite, Juara di 3-4 Jutaan. Tapi...



Setelah saya sempat merasa kurang dipuaskan oleh beberapa smartphone Nubia yang dirilis resmi di Indonesia, Nubia Z17 Lite ini seakan jadi game changer yang membuat saya teringat kembali kenapa dulu saya menyukai brand ini. Nyata memang bahwa seri Z masih lebih superior dari seri M dan N, meskipun seri Z yang saya coba ini adalah varian Lite-nya.

Serius, saya pikir smartphone ini tak cocok diberi embel-embel Lite. Kenapa memang? Ah kalau saya jelaskan sekarang, nanti selesai di sini review-nya. Simak aja lah ya sampai akhir, hehehe.

Z17 varian original tanpa lite memang menggunakan processor Snapdragon 835, sementara versi Lite ini menggunakan Snapdragon 653, yang menurut saya masih saja bukan sesuatu yang Lite. Snapdragon 653 ini performanya cukup tinggi dengan skor Antutu 80-ribuan lho.

Memang sih, processor ini masih menggunakan fabrikasi 28 nm yang membuatnya tak seawet Snapdragon 625. Namun dalam pemakaian saya masih selalu mampu menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya.  Baterainya sendiri berkapasitas 3.200 mAh, jadi segitu ngga boros kan?

Mari kita bahas juga desainnya. Ciri khas Nubia sangat kental hadir pada ponsel ini. Halo button kapasitif di bawah layar, list merah mengelilingi kamera utama, dan tak lupa chamfered metal edge di sekeliling layar yang diberi warna gold. Nah, yang terakhir ini saya kurang suka, backcover biru dan sisi depan hitam yang sudah kece banget, menurut saya tak perlu sentuhan warna emas sama sekali.

Body Nubia Z17 Lite ini cukup tipis, yaitu 7,6 mm saja. Dan yang pasti, licin banget euy. Unit yang saya ulas ini saja sudah mengalami satu kecelakaan akibat tergelincir dari genggaman tangan. Alhasil keempat sudut backcovernya baret, untungnya sisi layarnya malah jauh lebih tahan goresan, meskipun saya tak bisa menemukan informasi tentang perlindungan layar apa yang dimiliki smartphone ini.

Sejak unboxing saja saya sudah merasakan jatuh cinta kembali dengan ponsel Nubia ini. Setelah dicoba langsung, ketertarikan saya semakin mendalam saja.



Hal ini disebabkan oleh dua hal, pertama Nubia UI 5, dan kedua adalah kameranya.

Kita bahas Nubia UI versi 5 dulu ya. Saya memberi sorotan lebih kepada custom UI miliki Nubia ini karena pada versi sebelumnya, yaitu versi 4.1, Nubia UI ini tak enak digunakan karena membuat notifikasi sangat telat diterima. Anda bisa tanyakan kepada semua pengguna Nubia M2 deh.

Nah, di Nubia Z17 Lite ini, saya malah kemasukan notifikasi melulu, bahkan notifikasi request inbox instagram yang jarang muncul di ponsel-ponsel lain, selalu bermunculan di Nubia UI 5 ini. Saya sinyalir penyebabnya antara lain karena RAM ponsel ini yang besar juga, sehingga background process lancar berjalan. Dan kekhawatiran saya terhadap lemotnya notifikasi di Nubia UI pun sirnalah sudah.

Lanjut ke bahasan kamera, menurut saya kamera Nubia Z17 Lite ini juara banget pada rentang harga smartphone 3-jutaan. Modenya lengkap, sama lah dengan milik Nubia M2, namun hasilnya menurut saya jauh lebih baik.

Saya jadi senang mencoba mode makro, black and white, serta portrait pada ponsel ini. Mode manual juga hadir dengan pengaturan yang lengkap.

Autofokus terkunci cepat, ambil gambar ngga pernah lemot, dan hasilnya selalu memuaskan mata saya. Jangan tanya resolusi ya, gede pokoknya haha. Kamera belakangnya memiliki dua lensa dengan sensor yang sama besar di 13 Megapixels. Mungkin karena resolusinya yang sama besar ini juga lah, blur pada mode portrait dapat tercipta dengan baik, nyaris sempurna jika saya bilang.

Kamera depannya sendiri beresolusi 16 Megapixels dengan bukaan lensa f/2.0 yang performanya tak kalah baik, dengan hasil yang natural, alias ngga lebay.

Untuk perekaman video, warna yang ditangkap memuaskan bagi saya, namun memang masalah stabilisasi tergolong biasa saja, cenderung ke kurang.

Saya akan munculkan hasil fotonya, dan Anda boleh siapkan dompet Anda sekarang, heuheu. Perhatikan baik-baik hasilnya dalam kondisi lowlights ya.



Saya tak memiliki keluhan soal performa. Snapdragon 653 ditambah dengan RAM sebesar 6 GB adalah kombinasi yang istimewa di harga 3 jutaan seperti ini. Hanya saja, Anda perlu memastikan bahwa storage sebesar 64 GB akan cukup, karena ponsel ini hanya punya slot untuk dua nano sim card, tanpa jatah untuk ekspansi memory.

Kekurangan lainnya adalah absennya port audio 3,5 mm, walau pada paket penjualannya disertakan adapter dari USB Type-C ke jack audio ini.

Oh ya, kepala charger yang disertakan adalah yang standar. Namun, saat saya coba isi dayanya dengan quickcharger, Nubia Z17 Lite mampu mengisi daya pada tegangan 7,5v sehingga pengisian daya dapat dilakukan dengan cukup cepat. Di gsmarena pun disebutkan bahwa ponsel ini support Quick Charge 3.0.

Saya dari tadi belum bahas layar ya. Heuheu. Masih pada belum nyadar kayanya yah, Nubia Z17 Lite ini justru nilai jualnya di sini. Lihat deh tepian pinggir kanan dan kiri layarnya. Ya, tanpa bezel. Beneran bezeless. Hape 3-jutaan mana lagi coba yang bisa begini? Panel IPS-nya juga memproduksi warna yang vivid dan tajam. Resolusinya Full HD dengan dimensi 5,5 inci.

Sektor audio juga bisa diandalkan untuk membuat Anda menikmati konten-konten multimedia dengan asyik. Yuk kita check sound sedikit.

Oh ya, Nubia UI 5 ini secara tampilan tak banyak berbeda dengan versi sebelumnya. Hanya saja toggles dipindah tak lagi muncul di notification bar, melainkan pada panel yang akan muncul jika kita swipe dari bawah layar ke atas. Walaupun ini membuat posisinya lebih mudah dijangkau jari, namun harus diakui butuh waktu membiasakannya.

Fitur-fitur tambahan lainnya yang cukup banyak juga hadir pada Nubia UI 5, yang bisa jadi akan berguna buat sebagian orang, walau bagi saya kebanyakan malah tak saya aktifkan lagi hehe. Nampakya Nubia masih perlu belajar banyak soal UX kepada brand-brand besar dunia, agar tak sekedar memperbanyak fitur, namun juga memaksimalkan kegunaannya.

Saya sudah jarang menemukan kepuasan seperti ini pada ponsel 3-jutaan. Belakangan ini, ponsel-ponsel yang membuat saya betah pakai biasanya ada pada rentang harga 6 juta ke atas, sebagai contoh ada Samsung Galaxy A8, Honor 9, Honor View 10, LG V30+, Google Pixel 2, hingga Huawei P10.

Dan Nubia Z17 Lite ini seperti mengembalikan kepercayaan saya bahwa ada lho ponsel 3-jutaan yang keren. Snapdragon 653, RAM 6 GB, Layar Bezeless, Kamera Kece, bener-bener punya price-to-spec comparison yang tinggi.

Saya rasa sudah tak perlu dijelaskan kembali bahwa Nubia Z17 Lite ini masuk dalam daftar rekomendasi saya. Mungkin malah jadi yang teratas untuk level harga 3-jutaan.

Masalahnya hanyalah, ponsel ini tidak ada dalam rencana Nubia Indonesia untuk dimasukkan resmi di sini. Unit yang saya ulas saya dapatkan dari GearBest.com, silakan cek link pembelian Nubia Z17 Lite ini ya jika Anda berminat.

Pada video unboxing-nya saya tuliskan bahwa ini adalah daily driver saya. Memang niat awalnya seperti itu koq, walau pada kenyataannya ponsel ini sudah saya lepas kembali.

Saya kasih bocoran penyebabnya deh. Kalau tak ada halangan, akan ada sebuah ponsel Nubia lagi yang akan saya ulas dalam waktu dekat ini, dan yang ini sudah saya rencakanan untuk dijadikan daily driver saya selanjutnya. Doakan saja ya.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, March 12, 2018

Review ASUS Zenfone Max Plus M1 ZB570KL Indonesia



Ini adalah smartphone resmi ASUS pertama yang sudah memiliki rasio layar kekinian. Ya, ASUS Zenfone Max Plus M1 ZB570KL ini memiliki layar dengan bentang 5, 7 inci berrasio 18:9 dengan resolusi HD+. Harganya 2.799.000, dan sebagian orang sudah keburu menganggapnya overprice hanya karena menggunakan processor mediatek MT6750.



Fakta bahwa pada video unboxingnya ponsel ini sudah menghangat ketika membuka aplikasi kamera cukup lama memang benar adanya. Namun, dalam pemakaian sehari-hari ala saya, saya tak ingat pernah mengalami demam seperti itu lagi, bahkan saat digunakan bermain game Destiny 6 selama kurang lebih 5 menit.

Saya pernah mencoba ponsel lain yang menggunakan Mediatek MT6750 dan memang suhunya relatif sering demam. Dalam hal ini, saya rasa ASUS dengan Zen UI-nya punya resep agar si processor tak gampang panas. Perlu diingat bahwa ZenUI bukanlah custom UI Android yang mengekang background services dan notifikasi. Sejauh ini saya selalu betah dengan Zen UI dan berbagai fitur usable yang ditawarkan, entah itu dual-apps-nya, atau Game Genie yang akan sangat membantu para mobile gamer maupun game reviewer.

Tombol navigasi sudah on-screen ya, dan sayangnya saya belum menemukan cara mengkustomisasinya, di mana biasanya saya mengatur long press pada recent apps button sebagai jalan pintas untuk screenshot. Pada ponsel ini tombol tersebut berfungsi untuk masuk ke mode split screen saat ditekan dan tahan lebih lama.

Performanya sendiri cukup gegas dan sangat terbantu RAM 4 GB yang dimilikinya. Jangan lupakan kelebihan lain soal storage luas sebesar 64 GB yang masih ditambah dengan dedicated micro-SD slot. Saya rasa ini adalah nilai jual utama ponsel ini, selain baterai berkapasitas besar dan kamera ganda beresolusi besarnya.

Sementara nilai minusnya adalah fingerprint scanner-nya. Selain posisinya yang dipindah ke belakang karena mengakomodir layar kekinian nya, pemindai ini juga punya waktu respon yang cukup lambat. Sayangnya lagi, bagi saya masalah responsifitas fingerprint scanner adalah krusial.

Untuk daya tahan baterai, tak bisa dibilang boros, namun juga tak tergolong awet. Bertahan 24 jam selalu mampu dilakukan, namun menurut saya ini bukan prestasi mengingat baterainya memiliki kapasitas yang besar, 4.100 mAh. Dalam opini saya, konsumsi daya MT6750 kira-kira setingkat dengan Snapdragon 430 yang ada pada Zenfone 4 Max Pro. Yang lebih hema justru Snapdragon 425 yang digunakan Zenfone 4 Max 5, 2 inci. Jadi jika tak terlalu butuh layar 18:9 dan mencari yang lebih terjangkau, Zenfone 4 Max 5,2 inci adalah jawabannya. Walau di harga segitu menurut saya Zenfone 3 ZE520KL masih lebih valuable.

Saya tak memiliki masalah dengan output audio ponsel ini. Enjoyable iya, tapi sesuai harganya saja lah. Ada outdoor mode jika butuh power lebih, tapi memang kontrolnya berkurang pada mode ini, wajar lah ya.

Walau ponsel ini tak mengedepankan urusan kamera, namun ASUS membekalinya dengan 3 buah kamera. Satu kamera depan beresolusi 16 Mega pixels, dan dua kamera belakang masing-masing beresolusi 16 Mega pixels untuk lensa normal, dan 8 Mega Pixels untuk lensa wide. Walaupun hadir dengan setup normal dan wide, namun mode blur juga ada. Performanya dalam mengambil gambar tergolong baik, fokus terkunci cepat, gambar diambil dalam waktu singkat.

Hasilnya sendiri masih bisa diandalkan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk dala kondisi indoor dengan bantuan cahaya lampu. Saya tak bisa mengatakan hasilnya istimewa, namun setidaknya masih relevan lah dengan bandrol harganya. Dan saya tampilkan hasil foto terbaik yang bisa saya ambil dengan kamera ponsel ini, berikut juga hasil perekaman videonya ya.



Overall, ASUS Zenfone Max Plus M1 ini saya nilai tak overprice koq. Dengan kelebihan pada besarnya RAM dan storage yang masih dilengkapi slot ekspansi dedicated. Layar kekinian dan kamera ganda beresolusi besarnya pun tak boleh lupa dimasukkan hitungan ya.

Not a gaming phone exactly, dan masalah respon fingerprint scanner harus diperbaiki lagi, hopefully bisa pakai update OS ya. Yang pasti, ponsel ini jadi memperkaya alternatif ponsel dengan layar 18:9 yang cukup terjangkau. Saya kasih bocoran nih, di Tokopedia sudah ada yang jual 2,6-jutaan lho!

Demikian penilaian saya terhadap ASUS Zenfone Max Plus M1 ZB570TL ini. Haha, panjang ya namanya. Sepanjang layarnya hehe.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalamualaikum wr wb.

Friday, March 9, 2018

Review Mini Prize Claw Machine, Biar Ga Boros ke Game Master Melulu!



Sering main claw machine di mall ga? Itu lho, yang suka ada di game master, kebanyakan buat ambil hadiah yang berupa boneka, menggunakan capitan.

Jarang dapet? Sama. Padahal sekalinya dapet juga kalo diitung-itung, duit yang kepake malah lebih mahal dari kalau beli boneka ya, haha. Tapi kepuasan batinnya itu memang ga bisa dikalahkan.

Gimana kalau punya sendiri claw machine di rumah? Gile lu ndro, mesin gede gitu siapa yang jual? Dikirim pake JNE kena berapa kilo? Hahaha.

Tenang bos, saya punya yang mini, ini dijual di Banggood mulai harga $29. Dan yang saya ulas ini yang harganya $40 alias sekitar 500-ribuan ya.

Anda bisa menggunakan tiga buah baterai AAA untuk mentenagainya. Atau kalau mau hemat, ada koq colokan micro-USB, tinggal colok pake casan, atau pakai powerbank. Inget, tidak ada baterai tanam di dalam mesin ini ya.

Kita diberi 4 buah koin di dalam paket penjualannya, ya biar kaya aslinya, untuk setiap permainan, kita harus memasukkan koin dulu. Tenang, koin yang sudah masuk bisa dikeluarkan dengan gampang koq. Hehe.



Jika kita gagal mengambil mainan di dalam mesin ini, efek suara yang dihasilkan cukup ngeselin haha. Namun jika berhasil, ada efek cahaya warna-warni yang muncul. Cukup memuaskan hati lah, soalnya untuk dapat mainan di dalamnya cukup sulit juga.

Oh ya, kabar baik buat yang susah bangun pagi. Mainan ini dilengkapi dengan alarm juga, di mana alarmnya baru akan berhenti jika kamu berhasil mencapit mainan keluar dari mesin ini. Fungsi sebagai jam biasa juga ada, jadi kalau diletakkan di meja kerja, bisa berfungsi sebagai jam meja, dan kalau lagi suntuk, kita bisa main sebentar. Walaupun kayanya kalau untuk di kantor sih suaranya terlalu berisik hehe.

Untuk memasukkan mainan, ada pintu kecil di belakang mesin ini. Semuanya serba mudah dioperasikan lah ya. Jadi, selamat bersenang-senang di rumah ya, para penggila claw machine. Hehe.

Demikian sedikit ulasan mainan kali ini, gapapa ya bahas mainan, biar ga bosen hehe. Yang tertarik memilikinya, monggo ini adalah link pembeliannya, ada juga video tutorial cara memesan di Banggood.com, jangan lupa disimak ya.

DISCOUNT COUPON:  (10% OFF: "elec")



Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, March 8, 2018

Review Xiaomi Noise Cancelling Earphones, Bagus?



Halo Assalamualaikum, ini adalah Xiaomi Noise Cancelling Earphones.

Kalau dilihat penampakannya yang premium, itu karena harganya juga ngga murah. Dengan bandrol sekitar $69 alias hampir menyentuh angka 1 juta Rupiah di Banggood.com, pada video unboxing-nya sudah banyak yg mengomentari bahwa Xiaomi yang ini udah ngga mending lagi.

Tapi apa iya begitu?

Pada video unboxing-nya juga, beberapa orang menjelaskan bahwa harga segitu tetap lebih murah daripada noise cancelling earphone kebanyakan dari brand ternama.



Saya setuju. Noise cancelling earphone memang tak murah, dan umumnya earphone macam begini diperuntukkan bagi mereka yang bekerja di area-area bising seperti konser dan show. Kru panggung, musisi, bahkan artis mungkin yang akan terbantu dengan earphone seperti ini.

Ya, jangan dipakai untuk menghilangkan bunyi sekitar saat berkendara ya. Itu berbahaya, mohon kerjasamanya agar tercipta keamanan berlalu lintas saudara-saudara.

Heuheu, oke balik ke bahasan produknya yuk.

Desain dari earphone Xiaomi yang satu ini memang terlihat premium, apalagi jika sudah dipegang di tangan. Material kelas atas bisa dengan mudah kita rasakan. Braided cable selain kokoh juga membuatnya tak mudah kusut, jadi cukup shampoo doang, ga perlu conditioner lagi. Hahaha.

Rubber cable yang menyambungkan antara modul noise cancelling dan housing kiri kanan juga tak kalah solid terasa.

Kepala jack 3,5 mm, modul utama, microphone, hingga housing, semuanya memakai bahan metal solid dengan bobot yang mantap.

Intinya, harga mahalnya diimbangi oleh material nomor wahid lah.

Kualitas suaranya bagaimana? Buat saya yang jarang punya earphone mahal, segini tuh juara banget. Powernya mantap, bass boomy, namun treble dan detail masih dapat diproduksi dengan baik berkat dual-driver yang dimilikinya. Cocok banget buat dipake dengerin musik jedag-jedugnya Alan Walker dan Bebe Rexha yang belakangan ini sedang senang saya dengarkan.

Anda pernah coba Mi Piston 2? Jika Anda puas memakainya, maka saya jamin saat Anda beralih ke Xiaomi Noise Cancelling Earphones ini, Anda akan merasakan upgrade yang berarti. Pengguna Mi In-ear Headphones Pro HD mungkin akan merasakan staging earphone ini sedikit lebih sempit namun peningkatan pada power.

Dan ketika Anda menyalakan fitur noise cancelling-nya, beuh... Isolasi penuh berkat eartips yang menutup dengan baik dan nyaman, membuat saya beberapa kali tak mendengar saat teman kantor saya pamit pulang hahaha. Namun demikian, ketika saya gunakan di atas angkot, saya masih bisa mendengar deru mesin kendaraan yang menyalip sih.

Modul noise cancelling-nya sendiri dapat bertahan hingga 12 jam dalam sekali pengisian daya yang memakan waktu 2 jam. Lama memang, padahal baterainya cuma 55 mAh saja. Ada 2 level noise cancelling yang dapat dipilih, geser setengah atau penuh untuk mengaturnya.



Jadi, apakah sudah ga mending lagi produk Xiaomi yang ini? Gimana ya, cocok-cocokan sih, karakternya apakah yang Anda cari atau bukan, terus perlu ngga fitur noise cancelling? Kalau saya sendiri karakternya cocok, tapi ngga butuh-butuh banget noise cancelling-nya. Dan saat ini saya ada niat pengen balik ke Mi In-ear Headphones Pro HD nih. Heuheu.

Kalau kamu cocok dengan apa yang saya jelaskan pada artikel ini, boleh klik link untuk pembeliannya di Banggood.com ini, ada kode kupon diskon (10% OFF Coupon: CellAcc) bagi yang ingin berbelanja earphone ini di Banggood.com, lumayan.

Sip ya, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Di Balik Layar: Aa Gogon Bikin Videonya di Dapur? (feat. Xiaomi MiFa H2 Bluetooth Speaker)



Pada artikel kali ini, saya ingin bercerita sedikit tentang kegiatan saya membuat konten untuk YouTube.

Alhamdulillah sejak pindah ke rumah yang saya tempati sekarang ini, saya memiliki ruang kerja pribadi yang sering saya gunakan untuk berbagai kegiatan. Mulai dari menulis naskah, merekam suara, merekam unboxing secara langsung, atau merekam potongan-potongan adegan yang akan digunakan pada proses video editing.

Namun, sebetulnya tak semua pekerjaan itu saya lakukan di ruangan tersebut. Thanks to my lovely wife, rumah kami yang tidak besar ini ditatanya dengan cantik, dan membuat saya enjoy bekerja di rumah. Termasuk di dapur.

Serius di dapur? Serius. Seringkali pagi-pagi saya bekerja di dapur, sekedar menemani istri yang memasak, dan juga anak saya yang bermain di pagi hari.

Ada meja bar dengan kursi bar tinggi yang jadi favorit saya. Beberapa video saya rekam di situ. Namun seringnya sih saya bekerja di dapur ini saat mengerjakan pekerjaan yang lebih fokus di laptop saja. Mengetik naskah utamanya.

Enak soalnya, bisa tetap berkumpul dengan keluarga, sembari bekerja.

Saya sendiri termasuk orang yang senang mendengarkan musik saat bekerja di depan laptop. Biar lebih semangat di pagi hari.

Saya menghindari penggunaan earphone di rumah, dan lebih prefer kepada speaker portable. Satu yang belakangan sering saya andalkan untuk memutar musik selagi bekerja adalah bluetooth speaker MiFa H2.



Untuk urusan kualitas audio, MiFa nampaknya tidak perlu dijelaskan panjang lebar ya. Mantap lah pokoknya, apalagi jika diperhitungkan harganya yang terjangkau.

MiFa H2 ini saya pilih karena fungsionalitasnya juga. Ada dudukan hape pada speaker ini, sehingga saya bisa menaruh ponsel saya di atas speaker ini. Jadinya, selain hemat tempat, saya juga bisa mengakses ponsel saya dengan lebih mudah. Dan meskipun MiFA H2 ini adalah bluetooth speaker, namun ada kabel AUX yang sudah terintegrasi, sehingga jika diperlukan, tinggal colok dan letakkan ponsel kita dengan posisi landscape.

Satu-satunya tombol yang tersedia pada speaker ini berfungsi untuk menyalakan dan mematikan daya saja. Ya, kontrol volume sepenuhnya diberikan kepada perangkat yang memutar musik. Kabar bagusnya adalah, tidak ada mode khusus untuk pairing, jadi tinggal nyalakan, pairing dapat langsung dilakukan. Jika sudah pernah, maka akan langsung terkoneksi. Sederhana kan?

Kebetulan warnanya juga tersedia dalam warna favorit saya dan istri, hijau mint atau turqoise. Ini adalah warna yang menjadi win-win solution, istri masuk suka, tapi juga tidak feminim heuheu. Desainnya sendiri kekinian dan minimalis, sehingga bisa blend-in dengan style interior rumah kami.

Oh ya, ada gift khusus dari MiFa Indonesia, jika Anda membeli produk speaker MiFa dari link pada artikel ini, dan menuliskan FREE GIFT GONTAGANTIHAPE pada keterangan order. Jangan lupa ya!

Demikian sedikit cerita di balik layar channel GontaGantiHape ini, semoga membuat kita semakin dekat dan lebih mengenal keseharian saya dalam membuat konten ya.

Review Roker Beetles, Bluetooth Earphone Praktis Buat Telponan dan Mendengarkan Musik



Ini adalah bluetooth headset, ya atau earphone lah. Eh tapi headset lebih cocok deng, soalnya ada microphone-nya, jadi ga cuma bisa dipakai mendengarkan suara, bisa untuk komunikasi dua arah juga.

Namanya Roker Beetles. Ya, bentuknya memang mirip kumbang, makanya namanya demikian. Jadi harusnya mobil VW juga VW Kumbang, bukan VW Kodok ya, hahaha.

Yang saya ulas ini warnanya biru horizon, dengan aksen warna chrome. Kontrolnya terdiri dari 3 buah tombol, di mana tombol power berada di sisi muka dan berfungsi untuk menyalakan, masuk ke mode pairing, mematikan, hingga terima dan tolak panggilan.

Volume rocker berada di samping, jika ditekan secara singkat akan mengatur tingkat volume suara, sementara jika ditekan lama maka akan berfungsi sebagai navigasi previous dan next song.

Earphone ini tidak bertipe in-ear, dan untuk isolasi suaranya dibantu dengan eartips berbahan karet berwarna bening yang menurut saya cukup nyaman di telinga.

Jika Anda takut earphone ini akan mudah jatuh, tenang, ada earhook yang disertakan pada paket penjualan. Dengan earhook ini, rasa was-was hilang sudah hehehe.



Beberapa kali mencoba bluetooth earphone dengan tipe seperti ini, saya agak kecewa karena karakternya yang lebih mengutamakan vokal dan detail, saya rindu yang karakternya bassy seperti earphone mungil hijau saya itu tuh.

Untungnya, Roker Beetles ini karakternya mirip, bass-nya terasa boomy dan powernya terasa baik walau hanya sebelah saja earphonenya.

Earphone ini dapat bertahan selama 3-4 jam dalam sekali pengisian daya yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja. Ada port micro-USB untuk mengisi dayanya, kabelnya pun disertakan dalam paket penjualan.

Sayang, port ini hadir tanpa tutup karet yang umumnya kita temukan pada bluetooth earphones. Jadinya, penggunaan dalam keadaan basah sangat sangat wajib dihindari.

Overall dengan harga 200-ribuan di Tokopedia, Roker Beetles ini menurut saya get the job done. Bisa jadi headset untuk telponan, dan digunakan mendengarkan musik pun sangat enjoyable. Oh ya, total ada 4 warna yang bisa Anda pilih ya, biru, hitam, putih, dan gold.

Kebetulan, saya ada juga nih 3 buah Roker Beetle berbagai warna yang siap di-giveaway. Khusus buat subscribers dan followers Instagram saja ya. Silakan cek Instagram @gontagantihape deh.

Sip, demikian ulasan saya tentang Roker Beetles yang mungil namun praktis dan bertenaga ini. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamir undur diri, wassalam!

Tuesday, March 6, 2018

Review Infinix Hot S3, Mending Mana Kalau Lawan Xiaomi Redmi 5?



Nampaknya Infinix tak ingin membiarkan Xiaomi melenggang dengan mudah di pasar smartphone Indonesia, khususnya pada level harga di bawah 2-jutaan.

Sebelum Redmi 5 resmi dirilis, Infinix sudah menjual varian terbaru dari seri S mereka, yaitu Infinix Hot S3 pada harga yang persis sama dengan Xiaomi Redmi 5 untuk varian RAM dan storage yang sama.

Bisakah Infinix menyaingi Xiaomi dengab ponsel ini? Jawabannya akan Anda temukan jika Anda menyimak semua bagian ulasan ini dengan seksama. Selamat membaca ya.

Oke, kita bahas Infinix Hot S3-nya sendiri dulu ya.

Harganya 1.899.000, Infinix kembali ke jalurnya yang benar dengan menjual ponselnya secara online kembali. Terbukti mereka bisa memangkas harga sehingga jauh lebih bisa bersaing.



Pada harga tersebut, kali ini Infinix sedikit memberi kejutan dengan penggunaan processor buatan Qualcomm, yaitu Snapdragon 430. Banyak yang menyayangkan kenapa pakai Snapdragon 430 dan bukan 450 yang lebih kekinian. Saya setuju, tapi tunggu dulu, coba tengok kenyataan bahwa di brand lain, processor ini masih dipakai pada ponsel di harga 2 jutaan ke atas, termahal ada di hape selfie seharga 3,5 juta Rupiah.

Memang jadul, memang masih memiliki fabrikasi 28nm, yang membuatnya tak awet-awet banget soal konsumsi daya. Tapi jangan lupakan fakta bahwa Infinix membekali ponsel ini dengan baterai 4.000 mAh yang membuatnya selalu berhasil menembus 24 jam dalam pengujian ala saya.

Kejutan lain hadir di sektor software, di mana Infinix Hot S3 sudah mengusung Android Oreo 8.0 out of the box. Dibalut kustomisasi XOS 3.0 Hummingbird yang walau tak jadi favorit saya, namun sangat bisa diandalkan dalam masalah security, performa, manajemen RAM, maupun notifikasi yang selalu real-time.

Dikombinasikan dengan RAM sebesar 3 GB, aktifitas sehari-hari saya terasa nyaman dan lancar menggunakan Hot S3 ini. Main game Destiny 6 pun masih oke, walau performanya terasa sedikit berat karena sebelumnya biasa saya mainkan di perangkat high-end.

Layar dengan rasio 18:9 semakin membuat ponsel ini tampil kekinian, walau memang sudut-sudut layarnya masih lancip. Satu hal yang saya sayangkan adalah on-screen navigation button yang tak bisa ditukar urutannya. Reproduksi warna layarnya sendiri enak dipandang, bahkan di bawah terik sengatan mentari pun masih terlihat jelas.

Urusan multimedia jadi kelebihan ponsel ini dengan kualitas audio yang bisa diandalkan.

Lanjut ke kamera, nah di sini saya rasa akan jadi titik di mana Anda sudah bisa menentukan untuk memiliki ponsel ini atau tidak.

Kameranya juara di kelasnya! Mode HDR di siang hari membuat kombinasi warna yang indah, dan di kondisi lowlights pun hasilnya masih sangat usable. Untuk kamera depan apalagi, ponsel ini kan mengusung tagline lowlight selfie, dan kualitasnya benar adanya. Dan khusus untuk kamera depan ini ada mode blur atau bokeh padahal tak memiliki lensa ganda lho. Resolusi 20 Megapixels membuat ponsel ini jadi raja selfie di segmen ponsel di bawah 2-juta Rupiah.

Oh ya, jangan lupakan fakta bahwa kamera utamanya memiliki mode professional alias manual dengan pengaturan yang lengkap. Jadnya kamu yang sudah expert, bisa lebih memaksimalkan hasilnya.

Untuk perekaman video harus diakui tidak ada yang istimewa dari Infinix Hot S3 ini. Mari kita saksikan hasil foto dan videonya berikut ini.



Ada satu lagi kelebihan Infinix Hot S3, yaitu slot kartu yang lengkap, dengan dua buah slot untuk sim-card dan satu dedicated slot untuk Micro-SD, jadinya masalah storage sama sekali bisa dikesampingkan.

Looks dari ponsel ini sendiri cukup menawan, sepintas agak mirip dengan OnePlus 5T dari belakang, namun begitu kita menyentuhnya langsung, segera kita akan merasakan bahwa backcover ponsel ini tidak terbuat dari logam, melainkan polycarbonate alias plastik. Feels-nya yang kesat membuatnya tak mudah lepas dari genggaman, namun sangat gampang meninggalkan bekas sidik jari dan minyak, untuk warna hitam yang saya coba ini.

Kekurangan yang paling saya rasakan selama menggunakan ponsel ini adalah waktu respon fingerprint scanner-nya yang kurang gegas.

Nah, apakah Anda sudah puas dengan ulasan ponsel ini? Jika sudah dan ingin memilikinya, Anda harus menunggu jadwal flash sale berikutnya, saya bantu sediakan link flash sale-nya di deskripsi video ini ya.

Saya yakin sebagian masih belum puas, karena belum terjawab mending mana kalau diadu sama Redmi 5 kan?

Review Redmi 5 sudah tayang duluan di channel saya, boleh disimak sebagai referensi ya.

Tapi yang pasti, menurut saya, meskipun memiliki harga yang sama dan spesifikasi yang mirip soal dapur pacu, kedua ponsel ini memiliki peruntukannya masing-masing.

Anda yang senang bermain game saya persilakan memilih Redmi 5, dengan alasan processor yang lebih powerful, serta daya tahan baterai yang lebih baik. Juga layar Redmi 5 yang rasa-rasanya lebih hidup.

Lho, tapi kan kapasitas baterainya Hot S3 lebih besar? Betul. Tapi fakta bahwa Snapdragon 430 masih belum sehemat pembaharunya, Snapdragon 450, malah membuat Hot S3 selalu lebih cepat habis baterainya.

Dan tak hanya itu, Hot S3 memiliki notification yang nyaris selalu real-time tanpa perlu setting apa-apa, karena XOS tak segalak MIUI dalam membatasi background process dan service.

Jadi, Anda yang pakai smartphone untuk tujuan eksis, maka Infinix Hot S3 adalah jawabnya. Untuk urusan ber-socmed-ria, Hot S3 takkan membuat Anda ketinggalan notifikasi. Lalu hasil kameranya sangat instagrammable dan enak buat dishare lah. Anda juga tak perlu khawatir menyimpan banyak-banyak foto hasil kameranya, karena adanya slot micro-SD dedicated.

Nah, semoga sekarang sudah pada puas ya, soalnya sayanya udah lemas nih, hahaha.

Intinya, Xiaomi Redmi 5 maupun Infinix Hot S3 ini ngga bentrok, justru malah memberi 2 alternatif berbeda pada harga yang sama. Dan Anda silakan sesuaikan dengan niat awal menggunakan smartphone ya, agar uang 2-juta Rupiah Anda digunakan membeli smartphone yang paling sesuai dengan kebutuhan.

2-2nya takkan membuat menyesal dimiliki deh, asalkan kamu bisa dapat dengan harga resminya ya, hihihi. Selamat bertempur, para pejuang flash sale!

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, March 5, 2018

Review Sony Xperia XZ Premium, Hape Dewa Jilid Dua!



Saya takkan bertele-tele menjelaskan ponsel yang satu ini. Ini masuk ke kategori hape dewa bagi saya, heuheu. Yah kira-kira sedewa Pixel 2 lah, tapi bedanya ini bongsor banget, dan mengkilap sangat.

Sedewa apa ponsel ini, yuk kita bahas!



Istilah hape dewa biasanya saya sematkan ke hape yang kemampuannya sangat baik dan merata di segala lini. Kalau dulu saya bilang Pixel 2 sebagai hape dewa karena kameranya yang keren banget, punya bokeh menggunakan AI-nya yang rapi, serta perekaman video yang stabil. Maka Sony Xperia XZ Premium bisa dibilang dewa-nya kamera slow-motion.

Video-video berikut ini akan menunjukkan kehebatannya, dan serius saya sempat ketagihan bikin video-video begini.



Oh ya, sebagai informasi, jangan berharap video slow-motion bisa diambil dalam kondisi lowlights ya. Karena gini lho, dengan framerate 960 fps, maka sensor kamera hanya mempunyai waktu yang singkat untuk mengumpulkan cahaya. Jadi, jika intensitasnya rendah, hasilnya pasti gelap sekali.

Oh ya, untuk slow-motion ini hanya bisa diambil pada video dengan resolusi HD 720p ya. Sementara untuk video normal, bisa diatur hingga resolusi 4K pada framerate 30fps, dan Full HD untuk 60 fps. Stabilisasi-nya tergolong baik sekali, dan ini sangat wajar mengingat Xperia X Dual yang dulu saya coba saja sudah sangat stabil.

Berlanjut ke foto-foto, yang saya rasakan kelebihan dari ponsel ini adalah autofokus yang cepat dan dapat memilih zona fokus dengan pintar sesuai objek yang difoto. Dan rupanya, tanpa gembar-gembor kamera AI pun, Sony Xperia XZ Premium ini sudah memiliki kamera yang bisa mengetahui mode apa yang tepat untuk konten yang sedang dibidik. Mode Makro, Landscape, hingga Moving Object dapat dideteksi secara otomatis.

Hasil kameranya di kondisi cukup cahaya sangatlah detail, terlihat sekali kelasnya di mana. Sebetulnya di kondisi lowlights juga bagus sih, namun yang sedikit disayangkan noise sudah sering bermunculan, kayanya ngga flagship banget gitu ya noise-nya heuheu.

Hasil fotonya saya tampilkan pada video kedua dari atas ya..

Heuheu, bahas kamera duluan ya. Padahal kelebihannya ga cuma di situ.

Pertama jeroannya juga macho, top lah pada masanya. Ya, Snapdragon 835 dengan RAM 4 GB dan storage 64 GB bertipe UFS, adalah jaminan kencangnya performa ponsel pintar ini. Ketika pertama kali menggunakan ponsel ini dan melakukan restore berbagai aplikasi dari puluhan file apk hasil backup, saya bisa notice bahwa proses instalasi dapat terjadi dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari ponsel-ponsel saya sebelumnya.

Rasanya tak perlu ragu ya soal kemampuan processor ini dibawa gaming. Yang perlu dipertanyakan justru kemampuan Sony mengelola panasnya. Dan saya bisa bilang, sudah jauh lebih baik, di mana hangat hanya terasa di pinggiran frame logamnya saja, itupun tak sampai panas. Beda sekali dengan Xperia X Dual saya dulu yang demam selalu.

Nah, terakhir kita bahas soal desain ya. Desainnya memang sesuai namanya, premium. Terlebih warna chrome ini membuat smartphone ini dapat digunakan untuk bercermin saking kinclongnya. Memang sih jadinya fingerprint magnet, saya sarankan Anda sekalian membeli lap fibercloth jika hendak meminang ponsel ini.

Yang patut disayangkan dari desain ponsel ini adalah, bezel tebal di semua sisi. Kanan kiri tebal, atas bawah apalagi. Pokoknya berasa banget kalau Sony XPeria XZ Premium ini, ukurannya bongsor. Dan ini sedikit diperparah dengan sudut-sudut ponsel yang lancip. Jadinya tingkat keergonomisannya rendah ya.

Untung di seri selanjutnya, Sony sudah berbenah. Saya lihat desain XZ2 series sudah jauh lebih ramah di tangan ya. Nah untuk XZ2 series ini, belum ada varian Premium-nya. Mungkin Sony masih menimbang-nimbang nama yang tepat ya, apakah mau XZ2 Pertalite, atau XZ2 Pertamax, hahaha.

Oh ya, sebetulnya bezel atas dan bawah yang tebal bisa dimaklumi karena di situ terletak stereo speaker yang bunyinya lantang dan clear. Pixel 2 juga kan dagu sama jidatnya lebar karena alasan yang sama. Jadinya Anda tinggal pilih, mau punya hape gede dengan output suara kece seperti ini, atau pengen ponsel bezel tipis tapi harus beli bluetooth speaker lagi, hehehe.

Review kali ini sekilas saja ya, mengingat ponsel ini sudah waktunya digantikan penerusnya, dan juga mengingat Sony sudah resmi ga jualan di Indonesia. Ya intinya, Sony Xperia XZ Premium ini pantaslah diberi predikat hape dewa. Kan memang sudah diakui juga di MWC tahun lalu.

Demikian cerita saya menuntaskan kekangenan saya mencoba hape Sony lagi, saya sempat sih unbox Sony Xperia XZ1 Compact, tapi tak saya lanjut ulas karena tak dual-sim, Anda bisa lihat video unboxing dan hands-on-nya pada card di kanan atas video ini ya.

Sip, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, March 2, 2018

Kesimpulan Saya tentang Xiaomi Redmi 5 Plus (Sebuah Review)



Sebetulnya saya sudah pernah membuat video review dari Xiaomi Redmi 5 Plus ini dalam format tanya jawab bulan lalu.

Tapi karena dapat lagi sebuah, kali ini yang berwarna biru, jadilah saya buatkan video review dalam format umum seperti biasa lagi.



Yang pasti, warna birunya menawan sekali. Saya akan biarkan Anda menikmati sisi per sisinya sembari saya menjelaskan beberapa hal soal kondisi real dari ponsel ini di pasar Indonesia.

Saya yakin sudah banyak yang menunggu kehadiran ponsel ini secara resmi di Indonesia. Dan tak sedikit pula yang kecewa karena tidak kebagian saat flash sale di beberapa e-commerce tanah air.

Konon Redmi 5 dan Resmi 5 Plus akan langsung tersedia juga secara offline, tak seperti Redmi 5A yang terus-terusan flash sale. Lalu, masalahnya apakah harga offline akan sama dengan harga flash sale yang digaungkan saat launching-nya?

Belum apa-apa sudah ada pedagang yang curhat kalau harga modal yang diberikan ke mereka membuat mereka sangat kesulitan untuk menjualnya dengan harga flash sale. Ujung-ujungnya mereka dicap tengkulak, padahal stok mereka bukan hasil rebutan flash sale.

Miris ya mendengarnya, ayo dong Xiaomi Indonesia dibenahi lagi masalah ini.

Karena, terlepas dari masalah tersebut, Redmi 5 Plus ini adalah perangkat yang sangat menawan, baik karena layarnya yang kekinian, warna birunya yang indah, maupun jeroannya yang memiliki value sangat tinggi jika dibandingkan dengan harganya.



Bagaimana tidak, untuk Rp2.199.000 Anda akan mendapat sebuah ponsel pintar dengan layar berrasio 18:9 dan resolusi Full HD+, yang ditenagai Qualcomm Snapdragon 625 dan baterai besar 4.000 mAh. RAM 3 GB dan storage 32 GB saya rasa masih lebih dari cukup untuk harga yang ditawarkan.

Anda merasa tak cukup? Seharusnya dengan manambah setengah juta Rupiah lagi, Anda akan mendapatkan yang versi RAM 4 GB dengan storage 64 GB. Masalah storage ini memang cukup penting, mengingat Redmi 5 dan Redmi 5 Plus menganut sistem dual-sim hybrid.

Untuk urusan multimedia, Redmi 5 Plus ini tak berbeda dengan Redmi 5 yang saya ulas kemarin. Audio oke, dengan layar kinclong yang semakin tajam dengan ukuran yang sedikit lebih besar.

Aplikasi dapat dipaksa untuk berjalan pada rasio 18:9 dari menu setting, kurang praktis memang, tapi paling ngga ada lah fiturnya hehe.

Sementara fitur kekinian yang belum ada pada Redmi 5 adalah face unlock. Jadi Anda harus memaksimalkan fingerprint scannernya yang menurut saya akurat dan  responsif.

Untuk urusan performa, saya rasa Snapdragon 625 masih berjaya dan dapat diandalkan untuk tahun 2018 ini. Dengan kapasitas baterai yang lebih besar dari Redmi 5, Redmi 5 Plus ini mampu bertahan hingga 2 hari 2 malam dalam penggunaan saya.

Diajak bermain game kesukaan masih kuat dan juga tak mudah panas.

Urusan kamera sudah pernah saya jelaskan di video review dalam format Q&A, silakan disimak di sana ya. Karena Redmi 5 Plus yang masuk resmi ke Indonesia ternyata sama-sama menggunakan sensor kamera buatan OmniVision.



Oh ya, untuk layarnya menggnakan panel buatan Tianma. Sekalian deh saya munculkan info komponen Redmi 5 Plus ini, silakan disimak baik-baik di layar Anda ya.

Selain kameranya yang tidak istimewa, walaupun sebetulnya masih sangat wajar untuk harga yang diberikan, saya sungguh kesulitan mencari kekurangan dari ponsel ini. Satu-satunya alasan saya tak menjadikannya daily driver adalah karena saya kurang cocok dengan karakter MIUI yang perlu banyak setting sana-sini agar notifikasi dapat masuk secara real-time.

Doa saya semoga stoknya segera melimpah segera dengan harga yang sama dengan apa yang diinfokan pada acara launchingnya ya.

Biar apa? Biar jadi ponsel sejuta umat selanjutnya.

Dan biar yang lain juga pada memacu diri untuk membuat ponsel dengan harga terjangkau namun memiliki value tinggi seperti ini.

Sip, kira-kira begitulah penilaian saya pada Redmi 5 Plus ini. Jika Anda merasa review ini kurang lengkap, mohon disimak video review-nya yang dalam format tanya jawab juga ya. Terima kasih.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam.