Gadget Promotions

Wednesday, August 30, 2017

Review Sony Xperia X Dual, Kukuhnya Sony dengan Pakem Lamanya


Saya sudah naksir dengan Sony Xperia X Dual ini sejak harganya masih di atas lima juta Rupiah, tetapi baru berani membelinya saat harganya sudah menyentuh kepala tiga jutaan.



Ada beberapa pertimbangan yang mendorong saya untuk membeli Sony Xperia X Dual ini. Salah satunya adalah pengalaman menggunakan Xperia UI saat dulu mencoba Sony Xperia Z2 Compact yang menurut saya sangat mendekati stock UI Android, namun masih memiliki fitur tambahan yang esensial. Salah satunya fitur pada kameranya.

Sony sebagai produsen berbagai sensor kamera yang banyak digunakan oleh smartphone flagship, tentunya tahu bagaimana mengoptimalkan sektor ini. Dan ya, pada Xperia X ini, kamera menjadi suatu kelebihan tersendiri.

Saat digunakan mengambil gambar, hasil kameranya selalu mampu memuaskan, depan maupun belakang. Dan saat digunakan merekam video, fitur steady shot-nya mampu membuat pergerakan kamera terlihat sangat halus dan memukau.

Saya takkan berpanjang lebar menjelaskannya, ada baiknya Anda langsung saksikan sendiri hasilnya ya.



Lanjut ke sisi desain, ini adalah alasan lain kenapa saya ingin sekali meminang salah satu produk dari lini Xperia miliki Sony ini. Ya, Sony tak pernah asal ikut trend, apalagi sampai terjebak di aliran mainstream. Desain omni balance ala Sony ini menegaskan bahwa brand ini masih kukuh dengan pakem yang dimiliki.

Masih banyak lagi pakem yang masih dipegang teguh oleh Sony, salah satunya adalah harga yang cukup premium tanpa jor-joran di spesifikasi. Dan ini termasuk kapasitas baterai yang terbilang sangat kecil untuk ukuran jaman sekarang ini. Ya, Sony Xperia X Dual ini baterainya hanya 2.600 mAh saja. Meskipun masih cukup bertahan dari pagi hingga malam, tapi kenyataan ini mengkhianati janji Sony akan kemampuannya yang diklaim mampu bertahan dua hari dalam sekali pengisian daya. Mungkin kalau pakau ultra saving mode sih bisa, tapi smartphone ini akan berubah jadi feature phone dong? Ha.. ha.. ha..

Ada satu keuntungan berbaterai kecil sebetulnya, mengisi dayanya cepat walau tak didukung fitur quick charge hehehe.

Dapur pacu Sony Xperia X ini ditenagai oleh processor Snapdragon 650 yang kondang dipakai oleh Xiaomi Redmi Note 3 dulu. Secara performa sudah sangat cukup membuat pengalaman menggunakan ponsel ini terasa baik dan gegas. Hanya satu keluhan yang saya rasakan, ponsel ini cukup cepat menghangat. Bahkan saat digunakan merekam video unboxing ZUK Z2 Pro lalu, dalam waktu sekitar 10 menit saja, kameranya mengalami overheat dan aplikasi kamera menutup sendiri.

Buat yang ingin tahu skor Antutu Benchmark serta kelengkapan sensornya, saya tampilkan di sini ya. Lihat deh, sensornya lebih lengkap dari ponsel Android kebanyakan.

Berpindah dari Huawei Honor 8 dengan layar vividnya ke Sony Xperia X, saya tak merasakan mengalami penurunan soal kualitas display ini. Layar smartphone ini sangat mampu memanjakan mata.

Dengan ukurannya yang compact, sejauh ini saya sangat nyaman menggunakan Sony Xperia X Dual dalam keseharian saya, asalkan tidak harus bepergian ke luar kota ya. Karena kalau diajak bepergian, jujur saja saya tak tenang dengan baterai kecilnya yang mungkin takkan cukup dipakai di perjalanan.

Satu hal yang membuat nyaman lainnya adalah fingerprint scanner dari ponsel ini yang diletakkan di samping, tepat di posisi natural jempol kita berada. Agak disayangkan memang pemindai ini baru bekerja saat layar menyala, sehingga perlu ditekan terlebih dahulu. Namun, akurasinya super tinggi, dan sangat cepat membuka kunci layar.

Untuk digunakan menikmati sajian multimedia, ponsel ini sangat bisa diandalkan. Layar yang keren, didukung dengan front stereo speaker yang kualitasnya baik.

Apakah smartphone ini berhasil menggantikan Huawei Honor 8 sebagai daily driver saya? Niatnya sih begitu, tapi masalah baterai ini belum mampu membuat hati saya tentram sehingga saya memutuskan untuk meminang sebuah ponsel lagi, yaitu ZUK Z2 Pro. Nantinya saya akan memilih yang mana yang akan terus saya gunakan.

Jika Anda penasaran ponsel mana yang memenangkan duel ini, pantengin saja lapak saya di salah satu marketplace lokal, yang mana yang saya jual kembali hehehe.

Demikian ulasan singkat saya tentang Sony Xperia X Dual ini, hatur nuhun!

Monday, August 28, 2017

Review Divoom Voombox Travel 3rd Gen



Sudah seminggu ini saya bekerja ditemani oleh sebuah bluetooth speaker baru di meja kerja saya. Nama dari speaker ini adalah Divoom Voombox Travel 3rd Gen, warnanya silver dengan aksesn merah yang mencolok, meskipun jika kita melihat di halaman penjualan produk ini di salah satu e-commerce tanah air, pilihan warna yang tersedia cukup banyak.

Nah, ngomong-ngomong soal Divoom, ini bukanlah brand baru ya. Sekitar tahun 2011 saya sudah pakai speaker dari merk ini. Ceritanya waktu itu teman saya datang ke pameran komputer di JCC, dan pulangnya membawa sebuah speaker portable merk Divoom yang kemudian sering bergilir dipakai anak-anak di kantor lama saya. Sehingga lama kelamaan saya pun tertarik membeli sebuah speaker Divoom, waktu itu masih berkabel, dan yang membuat saya takjub adalah dengan ukurannya yang kecil, namun suaranya cukup terdengar ke satu ruangan kantor yang cukup besar, dengan kualitas suara yang tergolong baik dan sama sekali tidak cempreng.

Bahkan, saat saya resign dari kantor lama tersebut, Mamang penjaga kantor meminta saya untuk meninggalkan speaker tersebut di kantor, haha.

Makanya sekarang saya sangat senang saat memiliki lagi sebuah speaker Divoom di meja kantor saya.



Sebetulnya ini adalah outdoor speaker, Anda bisa melihat pada kemasannya yang tertulis weather proof. Ya, speaker ini diklaim tahan basah atau percikan air, dan juga tahan guncangan. Karena merupakan speaker untuk luar ruangan, maka tak heran jika power yang dihasilkannya memang kuat sekali. Sendok yang saya letakkan di atas meja saja sampai berbunyi-bunyi akibat terguncang-guncang oleh dentuman bass dari speaker ini, haha.

Menurut saya, para pecinta bass akan sangat terpuaskan oleh  Divoom Voombox Travel 3rd generation ini. Saat saya dengarkan dengan seksama, detail dari instrumen musik pada lagu yang saya putar masih dapat terdengar dengan baik meskipun suaranya bulet banget oleh bass.

Saya yakin power yang besar ini memang dihasilkan oleh driver unit yang juga prima, termasuk dalam hal dayanya. Ini sebabnya, bisa dibilang speaker ini tak terlalu panjang daya tahan baterainya. Dalam pemakaian saya biasanya hanya cukup untuk satu hingga dua hari saja menemani bekerja, di mana dalam satu hari saya bisa mendengarkan lagu hingga empat jam. Ya kira-kira empat hingga enam jam sajalah daya tahan baterai speaker ini.

Satu kelebihan dari speaker ini adalah proses pairing yang otomatis, maksudnya begitu menyala maka speaker ini akan mencari perangkat yang sudah pernah melakukan proses pairing. Atau jika baru akan melakukannya untuk pertama kali, kita tak perlu masuk ke mode khusus dan bisa melakukan pairing selama speaker ini sudah menyala.

Di samping tombol power, ada sebuah tombol multifungsi yang dapat digunakan untuk mengangkat telepon jika speaker ini terhubung ke smartphone, serta juga dapat digunakan sebagai tombol play dan pause. Di sisi lain tedapat dua buah tombol plus dan minus yang apabila ditekan sebentar maka berfungsi sebagai pengatur volume, dan jika ditekan lebih lama akan berfungsi sebagai tombol previous dan next song. Dua buah port tersembunyi di balik penutup karet dengan label Divoom ini, tentunya port micro-USB untuk pengisian daya, dan port audio 3,5 mm untuk sambungan kabel ke perangkat audio Anda.

Overall desain dari speaker ini nampak keren dan sporty. Bobotnya tak terlalu ringan, namun justru memberi kesan kokoh dan mantap. Feels-nya di tangan terasa premium, tak salah memang jika speaker ini dibandrol dengan harga lima ratus ribuan. Faktanya memang speaker ini mampu menggeser posisi speaker bluetooth lama saya di meja kerja.

Divoom Voombox Travel 3rd generation berhasil mencuri hati saya, dan saya takkan segan untuk merekomendasikannya kepada Anda yang memang sedang mencari bluetooth speaker pada rentang harga 500 ribuan. Kualitas suara dapat, looks yang keren pun dapat, garansi resmi pula dari distributor lokal yang berada di Jakarta. Buktinya di kemasannya saja langsung terlihat ada kartu garansinya yang berbahasa Indonesia.

Buat Anda yang masih bertanya-tanya tentang brand Divoom sendiri, pada speaker ini tertulis bahwa Divoom didesain di Singapore, walau proses produksi masih dilakukan di China sana. Menurut sang distributor resminya di Indonesia, Divoom diposisikan untuk bersaing dengan merk JBL, hmm pantaslah kalau begitu, terjawab sudah mengapa suaranya bisa mantap begini.

Lain waktu, jika saya punya waktu luang, saya akan coba deh bikin video komparasi dari semua bluetooth speaker yang saya miliki. Bagaimana, setuju tidak? Tulis di komentar ya pendapat kamu!

Demikian review kali ini, hatur nuhun!

Saturday, August 26, 2017

Review Nakamichi Elite Bluetooth Headphone, Telinga Saya Naik Kasta!



Beberapa hari terakhir ini, saya tak bisa lepas dari sebuah bluetooth headphones saat bekerja di depan laptop. Begitu lengketnya, sampai-sampai setiap menjelang tidur, rasanya ada yang kurang jika saya tak mendengarkan musik dari ponsel saya, lagi-lagi menggunakan headphones ini.

Penasaran headphones apa ini?



Ini adalah Nakamichi Elite, wireless headphone besutan Nakamichi, produsen asal Jepang yang mungkin buat kita lebih familiar sebagai brand car audio premium ya.

Karakter dari headphone ini sendiri, sesuai dengan apa yang dituliskan pada kemasannya, yaitu Clarity with Heavy Bass. Yap, bass-nya terasa warm dan nendang banget, hingga membuat kuping serasa dipijat-pijat dari kiri dan kanan.

Sementara untuk masalah clarity, headphone ini jernih sekali suaranya, sehingga saya dapat menikmati bagian vokal dengan baik. Satu hal yang takkan bisa ditemukan pada headphone kelas bawah ya, di mana dengan bass yang powerful, kita masih bisa mendengarkan detail vokal dan instrumen lainnya dengan baik.

Sound staging-nya pun luas, separasi antar instrumen benar-benar terasa. Apalagi jika digunakan memutar musik hi-res, saya bisa merasakan masing-masing instrumen mulai ketika baru masuk hingga saat beriringan dengan instrumen lain.

Saat digunakan memutar musik jedag-jedug, headphone ini mampu perform dengan sangat baik, hentakan kicksnare dari drum terasa sangat crunchy. Namun, ini nih yang benar-benar membuat saya kagum, saat saya mendengarkan lagu-lagu kalem-nya Sam Smith, lagi-lagi Nakamichi Elite ini benar-benar membuat saya mampu menikmati vokal sang penyanyi dengan iringan slow music yang identik kental dengan bass ini.

Cocok lah sama namanya, Elite.

Ya, build quality dari heaadphone ini juga sama elite. Menggunakan housing berbahan logam, bobotnya jadi terasa mantap. Sementara bingkainya dibalut kulit sintetis membuatnya nyaman melekat di kepala. Oh ya, penutup housingnya juga sama, dari kulit sintetis, dan pada housing sebelak kanan kita dapat menemukan sebuah tombol multifungsi yang berguna untuk menyalakan, masuk mode pairing, mematikan, dan juga sebagai play and pause button.

Pada sisi yang sama juga, terdapat volume rocker, dan juga port audio 3.5 mm untuk menyambungkan headphone ini dengan perangkat audio Anda yang mungkin belum memiliki konektifitas bluetooth. Sementara port micro-USB untuk charging, membuat Anda bisa menggunakan charger smartphone Anda untuk mengisi dayanya.

Daya tahan baterai Nakamichi Elite ini sendiri diklaim mampu bertahan hingga 30 jam dalam sekali pengisian daya, dan sejauh ini sudah tiga hari berturut-turut saya coba, belum juga menunjukkan indikasi lowbatt. Indikatornya sendiri menggunakan suara, termasuk saat dinyalakan, masuk ke mode pairing, maupun dimatikan, ada suara seorang perempuan dengan aksen orang Jepang yang mana terdengar sedikit lucu saat melafalkan kata-kata dalam Bahasa Inggris, hehe.

Terakhir saya akan bahas mengenai bantalan atau cushion dari Nakamichi Elite ini. Bahannya empuk sehingga saya masih bisa nyaman menggunakannya selama tiga hingga empat jam non-stop. Dan batang yang menyangga housing-nya ini dapat disesuaikan agar lebih nyaman digunakan. Selain ukurannya yang dapat di-expand, posisinya juga dapat diputar agar pas dengan posisi telinga kita. Ukuran bantalannya sendiri tidak terlalu besar, sehingga saya pikir ini adalah on-ear headphone, bukan over ear. Namun demikian, isolasi suaranya sangat baik saat sudah ada suara yang diputar.

Overall, saya sangat senang menggunakan headphone ini, rasanya benar-benar sebuah audio experience baru bagi saya, dan stepping up the game untuk saya yang sebelumnya kebanyakan menggunakan headphone 500 ribuan. Termasuk soal konektifitas bluetooth-nya yang tetap terhubung, meskipun saya bawa ke ruangan sebelah, di mana umumnya wireless headphone dan earphone lain sering terputus.

Siapkan saja budget extra ya jika ingin memilikinya, karena harganya juga sama Elite-nya, hehe. Namun saat ini headphone ini sedang dalam masa promosi diskon sekitar 20 persen di musique.co.id atau cek link di deskripsi untuk menuju toko online yang menjual berbagai perangkat audio berkelas ini ya.

Demikian review saya, wassalam!

Friday, August 11, 2017

Review Moto E4 Indonesia, Mewah di Luar, Sederhana di Dalam



Dalam bulan yang sama, Moto Indonesia yang kini pastinya bergerak di bawah bendera Lenovo, merilis dua buah smartphone yang menarik dan pastinya membuat penasaran orang. Buat generasi 90-an dan yang lebih senior, brand Motorola pastinya sudah akrab, dan mungkin juga dirindukan.

Ya, inovasi pada ponsel-ponsel generasi awal dahulu memang banyak dipelopori salah satunya oleh Motorola. Dan setelah sekian lama tak berjualan di Indonesia, kehadiran dua ponsel Moto tahun ini bisa memberikan nostalgia buat sebagian orang.

Contohnya saja mertua saya yang sangat excited saat melihat ponsel di tangan saya  ternyata keluaran Motorola. Dan saya rasa, Moto E4 ini bisa menjadi pelepas dahaga pada level harga yang sangat terjangkau.

Dijual dengan harga resmi yang cukup terjangkau, Moto E4 nampak begitu solid untuk level harganya. Saya yakin tak banyak yang mengira ponsel ini memiliki bandrol yang berada di dalam harga psikologis bagi sebagian besar pengguna ponsel tanah air, yaitu di bawah dua juta Rupiah.



Moto E4 memiliki garis desain yang sama dengan Moto Z2 Play untuk sisi depannya, panel depan hitam pekat dengan fokus utama akan menuju kepada sebuah cekungan di bawah layar lima inci beresolusi HD 720p ini. Cekungan ini tentu saja berfungsi sebagai pemindai sidik jari, sudah lumrah itu mah. Yang patut diberi sorotan adalah akurasinya yang tinggi, meskipun memang masih membutuhkan sedikit jeda hingga kunci layar terbuka. Selain itu, fiturnya sama dengan Moto Z2 Play yang berada di kelas atas, yaitu sensor ini bisa digunakan menggantikan ketiga tombol navigasi juga.

Bahkan, Moto Active Display pun hadir pada Moto E4 ini, hanya saja fitur ini baru aktif saat kita mengangkat ponsel. Sedikit berbeda dengan Moto Z2 Play yang cukup dengan melambaikan tangan di atas layar, maupun saat ada notifikasi baru. Hal ini bisa dimaklumi sebagai upaya untuk menghemat daya, mengingat panel layar yang digunakan bukanlah AMOLED yang bisa menyala sebagian pixel-nya saja.

Beralih ke backcover-nya, ini adalah bagian yang paling tidak mencerminkan harga ponsel ini. Berbahan metal dengan finishing yang mantap digenggam serta dimensinya yang compact, Moto E4 jadi salah satu ponsel yang paling enak dibawa ke mana-mana. Di bagian bawah sisi ini terdapat lubang loudspeaker yang memang cukup disayangkan berada di bagian yang rentan tertutup saat ponsel ini diletakkan di atas bidang datar. Walaupun berkat desainnya yang agak curvy, suaranya masih mampu terdengar dengan baik. Kualitas audionya sendiri cukup jernih, namun jelas bukan yang paling TOP.

Sementara jeroan dari Moto E4 ini adalah bagian yang paling melambangkan harganya. Tidak bisa dipungkiri, Moto harus menyesuaikan spesifikasi ponsel ini dengan level harganya. Namun demikian, dengan penggunaan Android 7.1.1 yang nyaris stock, performanya masih dapat saya nikmati untuk kebutuhan social media, browsing, dan game casual.

Konsumsi baterai pun tergolong cukup hemat, di mana baterai berkapasitas 2.800 mAh ini selalu mampu menemani dari dini hari saat saya bangun dan lepas charger, hingga malam sehabis pulang kerja. Jika sedang jarang digunakan, sesekali 24 jam bisa ditembus dalam satu kali pengisian daya.

Kelebihan dari ponsel ini adalah backcover-nya yang dapat dilepas, pun demikian dengan baterai-nya. Jadi, seandainya suatu saat performa baterainya sudah menurun, Anda dapat mengganti baterainya dengan membeli sendiri tanpa perlu datang ke tempat service. Selain itu, Moto E4 ini memiliki dua slot sim-card dan sebuah slot khusus micro-SD, jadi Anda masih bisa leluasa menambah kapasitas storage, apabila 16 GB tak cukup buat Anda.

Lanjut ke sisi kamera, kemampuannya menangkap gambar tergolong di atas rata-rata untuk level harganya. Dalam kondisi lowlights pun masih bisa menangkap gambar dengan cukup detail, meskipun terlihat noise sudah mulai rajin hadir. Satu yang bisa jadi peningkatan adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengambil fokus yang masih tergolong agak lambat. Jika diharuskan mengambil gambar secara buru-buru, besar kemungkinan fokusnya akan meleset.

Satu yang jadi bonus adalah, adanya LED di bagian depan untuk membantu selfie saat kondisi kurang cerah. Fitur beautify juga hadir, jadi ibu-ibu bisa tetap puas dengan hasilnya, hehehe.

Kemampuannya merekam video cukup baik, meski resolusi maksimalnya mentok di HD 720p dengan framerate 30fps. Limitasi-limitasi ini saya yakini datang dari penggunaan chipset Mediatek MT6737T. Salah satu akibatnya, saya pun tak bisa membuat video teaser dengan aplikasi Quik karena tak pernah berhasil saat rendering.

Hasil foto dan video menggunakan kamera Moto E4 dapat disaksikan pada video review berikut ini:



Masuk ke kesimpulan, Moto E4 adalah sebuah ponsel yang jadi alternatif yang baik apabila Anda ingin bernostalgia dengan Motorola. Desain dan build quality-nya terbilang jempolan, dan bisa dipastikan memiliki gengsi yang baik apabila hendak dijadikan hadiah bagi orang terkasih maupun kolega bisnis.

Untuk pemakaian casual, semisal kebutuhan browsing, social media, dan chatting, tidak ada masalah berarti yang akan Anda temui. Lain hal-nya kalau kebutuhan Anda untuk quick video editing, dan heavy gaming. Untuk tujuan itu, saya rasa budget belanja smartphone Anda perlu dilipatgandakan  deh.

Ya, karena Moto E4 sejatinya merupakan ponsel yang baik dengan user experience yang nyaris sama dengan ponsel Moto dari kelas atas. Satu pesan saya untuk masalah kamera, sabar-sabarlah menunggu fokusnya terkunci, supaya Anda puas dengan hasilnya.

Anda yang berminat memiliki ponsel ini, dapat mengecek ketersediannya pada link yang saya sediakan di deskripsi video ini. Moto E4 sudah mulai dijual secara resmi koq di Indonesia. Yang sudah kangen sama Motorola, semoga ponsel ini bisa menjadi jawaban untuk hasrat Anda bernostalgia ya!

Sekian review kali ini, oh ya lokasi pengambilan gambar pada video kali ini berada di salah satu tempat wisata di Kota Garut lho. Main yuk ke Garut!

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit. Wassalam!

Wednesday, August 9, 2017

Review Moto Z2 Play, Pilihan Terbaik Tahun Ini?



Bulan ini saya berkesempatan mencoba dua buah smartphone keluaran Motorola, eh Lenovo, yaitu Moto Z Play (versi retail China) dan Moto Z2 Play sekaligus. Dan pada review kali ini yang saya bahas adalah sang adik, alias sang pembaharu, Moto Z2 Play.

Hadir dengan dimensi yang lebih tipis, Moto Z2 Play menurut saya jauh lebih enak digenggam tangan daripada sang kakak. Ternyata 1 mm bisa memberi dampak perbedaan yang sangat signifikan ya di tangan. Namun kalau kita jeli, penipisan body Moto Z2 Play tidak terlalu berpengaruh pada ketebalan total dari smartphone ini. Ya, karena bulatan pada bagian kamera belakang Moto Z2 Play saya rasa memiliki ketebalan yang tetap sama dengan sang pendahulu, terlihat dari tonjolan ini yang semakin terlihat menonjol jika dibandingkan dengan bagian yang sama pada Moto Z Play.



Perbedaan lengkap dari Moto Z Play dan Moto Z2 Play saya bahas pada artikel atau video lain ya.

Overall, desain dari Moto Z2 Play ini terlihat cantik menggoda dan tentu saja terasa orisinil. Ya, orisinil adalah sebuah kelebihan yang patut dibanggakan belakangan ini mengingat rasanya desain smartphone sudah semakin mirip saja satu sama lain. Tipis dan keren, dua kata itu layak disandang oleh ponsel yang sudah mulai dijual resmi di Indonesia pada rentang harga enam jutaan ini.

Di bagian belakang kita masih akan melihat pin magnetic untuk koneksi ke berbagai Moto Mods yang tersedia untuk Moto Z2 Play ini. Sementara di bagian depan, nah ini dia jawaban tentang di mana sebetulnya loudspeaker ponsel ini berada, haha. Ya, loudspeaker-nya ada pada earpiece di atas layar Moto Z2 Play. Sedangkan di bawah layar ada sebuah cekungan yang merupakan fingerprint scanner yang sangat akurat dan cepat responnya. Pemindai sidik jari ini juga dapat difungsikan menggantikan ketiga tombol navigasi bilamana Anda ingin layar yang lebih lega tanpa barisan tombol tersebut. Jika sudah dinyalakan dari aplikasi Moto, maka Anda bisa melakukan tap untuk tombol home, swipe ke kanan untuk recent apps, dan swipe ke kiri untuk back. Kalau saya sih lebih senang pakai on-screen navigation saja deh, hehehe.

Lanjut ke sisi jeroan, ini adalah smartphone pertama yang mengusung processor kelas menengah dari Qualcomm, yaitu Snapdragon 626. Processor ini punya beban berat meneruskan kesuksesan Snapdragon 625 yang sudah disukai banyak pengguna smartphone Android, termasuk saya sendiri. Dan so far, Snapdragon 626 di Moto Z2 Play mampu memberikan performa yang semakin baik dengan daya tahan baterai yang tetap tergolong awet.

Dalam masa pemakaian saya, Moto Z2 Play selalu mampu memanfaatkan baterainya yang berkapasitas 3.000 mAh ini untuk melalui satu hari dan satu malam penuh dengan masih menyisakan baterai untuk beberapa jam pemakaian lagi. Sayangnya saya tak bisa membandingkan konsumsi daya ini dengan Snapdragon 625 secara apple to apple mengingat Moto Z Play memiliki kapasitas baterai yang berbeda.

Sejauh itu pula, saya rasanya tak pernah merasakan suhu dari Moto Z2 Play meningkat saat digunakan mengakses internet meskipun dalam waktu yang cukup panjang. Saya biasanya hanya bermain game dalam waktu yang singkat sih, dan dengan pola gaming seperti ini juga tidak ada masalah dengan suhunya. Performanya sendiri untuk gaming terbilang baik, sewajarnya memang begitu karena Snapdragon 626 ini konon merupakan hasil overclock dari Snapdragon 625. Sehingga skor Antutu Benchmark-nya pun jelas lebih tinggi.

Kalau berbicara masalah software dan user experience-nya, inilah dia pure Android yang sesungguhnya. Nyaris tanpa permak apa-apa, rasanya nikmat sekali merasakan pengalaman menggunakan semua fitur dan kelebihan yang dimiliki oleh Android Nougat 7.1.1 terbaru. Lenovo memperkaya konten pada smartphone ini dengan sentuhan muatan lokal, eh kaya nama mata pelajaran jaman SMP dulu yak, heuheu. Maksudnya ada beberapa tampilan yang dibuat lebih Indonesia, selain kemasannya yang merah, yaitu booting animation dan wallpaper default yang serba Indonesia.

Beralih ke sisi kamera, Moto Z2 Play memiliki kamera utama dengan resolusi 12 Megapixels. Hasil fotonya dalam kondisi pencahayaan yang baik, menurut saya imut sekali, eh koq imut? Ya gitu deh, hasilnye menggemaskan, warna yang keluar dengan baik, serta bokeh yang sangat lembut, membuat saya bertanya-tanya, siapa yang butuh kamera ganda kalau dengan satu kamera seperti ini saja hasilnya sudah seimut ini. Yah, imut lagi, haha.

Saya beberapa kali mengambil gambar dalam kondisi lowlights, hasilnya menurut saya agak beragam. Ada kondisi di mana saya puas dengan hasilnya, namun ada pula hasil gambarnya yang cukup kentara akan noise yang bertaburan.

Kamera depannya pun tak kalah bagus, dan sudah ada fitur beautify yang saya curigai merupakan request dari Lenovo, hahaha. Dengan dual-tone LED flash di sisi depan, selfie dalam kondisi kurang pencahayaan dapat tetap dilakukan tanpa membuat warna kulit terlihat aneh.

Satu hal yang cukup istimewa adalah saat digunakan merekam video. Terasa ada stabilisasi yang terjadi, cukup membantu agar bisa diandalkan merekam momen-momen dalam gerakan. Jadilah Moto Z2 Play ini cocok juga kalau mau dipakai vlogging.

Silakan disaksikan video dan foto yang dihasilkan oleh Moto Z2 Play pada video review berikut ini.



Bahasan terakhir adalah soal multimedia. Moto Z2 Play ini bisa jadi sahabat yang baik untuk kebutuhan multimedia. Layar Full HD berdimensi 5,5 inci dengan panel AMOLED tentunya akan sangat indah digunakan menikmati video-video beresolusi tinggi dengan warna-warna yang hidup. Sementara output audio-nya cukup untuk kita mendengarkan dialog di film, maupun musik-musik kesayangan. Namun sejujurnya, ini bukan loudspeaker terbaik yang pernah saya coba, rasanya power-nya tak cukup lantang buat saya. Mungkin Lenovo ingin mendorong penggunanya untuk memasang Mods speaker untuk ponsel ini ya, hehehe.

Nah, ngomong-ngomong soal Moto Mods, saya kebetulan tak punya satu pun, jadi takkan ada bahasan soal Mods ini di ulasan kali ini. Hanya saja, bisa dipastikan Moto Z2 Play akan compatible dengan semua Moto Mods baik itu yang generasi pertama, maupun yang baru dirilis berbarengan dengan ponsel ini.

Masuk ke kesimpulan, Moto Z2 Play adalah sebuah smartphone yang memiliki jatidiri sebagai ponsel pure Android dengan desain yang unik, dan fitur-fitur yang menarik. Terasa sekali setiap sisi dari ponsel ini diperhatikan dengan sangat detail, mulai dari desain bodinya yang distinctive, sentuhan-sentuhan pada sisi software, hingga fitur-fitur tambahan yang ditawarkan dengan modularitas dari Moto Mods-nya.

Dengan performa dan daya tahan baterai yang baik, desain tipis nan menawan disertai build quality jempolan, layar yang indah, dan kamera yang dapat diandalkan, Moto Z2 Play sangat layak masuk daftar rekomendasi smartphone Android tahun ini. Satu yang mungkin perlu diperhatikan adalah harga jual resmi Moto Z2 Play yang cukup tinggi, yaitu pada level enam jutaan dengan berbagai bonus yang disertakan.

Satu hal yang saya perhatikan dari Moto Z dan Moto Z Play tahun lalu, kedua ponsel ini memiliki harga jual kembali yang cukup jatuh, dan juga tak lekas laku kembali. Jadi, jika Anda sudah siap berkomitmen panjang dengan sebuah smartphone, Moto Z2 Play bisa jadi jawaban yang tepat. Biar makin lekat, sekalian beli beberapa Moto Mods-nya deh, dijamin nanti jadi malas berganti ponsel lagi, soalnya udah kadung beli banyak tambahannya haha.

Bisa disimpulkan kan maksud saya? Ya, Moto Z2 Play adalah ponsel yang baik dan berkualitas, namun perlu diperhatikan mengenai harga-nya yang juga cukup premium.

Demikian review saya, hatur nuhun!