Review ASUS Zenfone 5z, Tak Semata Mengandalkan Snapdragon 845!



Akhirnya datang juga... Pasti pada bilang begitu kan ketika satu per satu teman-teman reviewer mulai membahas ponsel ini.

Ya, saya yakin sudah banyak yang menantikan kehadiran ASUS Zenfone 5z ini.

Sejak saat diumukan saat launching berbarengan dengan Zenfone 5 dan juga Zenfone Max Pro M1, Zenfone 5z sontak mencuri perhatian para penikmat gadget tanah air. Karena waktu itu, bisa dibilang smartphone inilah yang berani mengusung processor Qualcomm Snapdragon 845 dengan harga di bawah 10 juta.

Bahkan jauh di bawah, karena sejatinya dulu harga jualnya diset pada angka 6,5 juta Rupiah untuk varian RAM 6 GB dan storage 128 GB.

Bulan berganti, ASUS makin lekat dengan status ghoib. Zenfone 5z tak kunjung dijual, dan sebagian penikmat gadget terbuai oleh produk pesaing yang dijual lebih murah lagi namun memiliki SoC yang identik. Ya, saya sedang menunjuk kepada Pocophone F1 yang hype-nya bahkan membuat saya rela datang ke toko offline, heuheu.

Sedikit tertinggal di kapasitas dan daya tahan baterai, sebetulnya Zenfone 5z punya beberapa kelebihan yang tak dipunyai rivalnya tersebut, yang membuat selisih harganya yang sekitar 1,7 juta Rupiah lebih mahal menjadi terasa pantas.

Dan di sini saya tegaskan bahwa kedua ponsel ini meskipun ramai disandingkan oleh netizen, menurut saya tidak saling bunuh, namun justru memberikan alternatif berbeda di level harga masing-masing.

Prinsip ada harga ada rupa pastinya berlaku, dan saya pikir kebanyakan orang akan setuju jika saya bilang dari sisi looks atau desain, Zenfone 5z jauh lebih atraktif. Jika Anda lanjutkan mencicipi atau hands-on kedua ponsel ini, maka saya jamin penilaian Anda akan semakin lengkap dengan fakta bahwa Zenfone 5z punya build quality dan feels yang lebih premium juga.



Berbekal desain yang sama persis dengan Zenfone 5, smartphone ini juga memiliki fitur dan kelengkapan yang kurang lebih sama.







NFC hadir, jadi Anda yang biasa memanfaatkan fitur ini untuk pembayaran digital, bisa bernafas lega. Quick charge juga hadir, di mana pengisian daya dapat berlangsung dengan cepat, di mana dalam setengah jam saja, level baterainya bisa naik dari 10% ke 50-58%.

Backcover glass dengan refleksi cahaya melingkar juga tetap hadir. Dan saya masih bingung dengan penamaan warna midnight blue yang di mata saya lebih mirip dengan dark grey, heuheu.

Nampaknya memang Zenfone 5z ini hanya berbeda masalah dapur pacunya saja dibanding Zenfone 5. Mengusung Snapdragon 845 yang merupakan processor premium Qualcomm, dikombinasikan dengan RAM 6 GB dan storage 128 GB, saya rasa di harga 6,7 jutaan saat ini, Zenfone 5z tetap masuk ke kategori best value, plus punya desain yang menawan hati.

Agak sulit menemukan kekurangan dari Zenfone 5z ini. Oke, masalah stok mungkin yang jadi kendala ya.

Sisanya bagi saya paling masalah keergonomisannya saja. Dengan backcover yang flat, rasa-rasanya masih sedikit kurang nyaman digenggam, walau sebetulnya ASUS sudah membuat frame metal-nya memiliki tepian yang melengkung. Oh ya, layarnya juga terlalu sensitif menurut saya. Jari telunjuk yang tempatkan di pinggir layar untuk menahan agar smartphone ini tegak dalam genggaman, seringkali dianggap menyentuh layar.

Dan jangan lupa, baik Zenfone 5 maupun Zenfone 5z bisa dikategorikan sebagai ponsel licin. Jadi manfaatkan baik-baik softcase yang disertakan dalam paket penjualannya ya!

Baterainya sebetulnya cukup hemat, di mana dengan penggunaan intens tapi tanpa gaming, bisa bertahan 24 jam dengan SoT hampir mencapai 4 jam. Lain cerita jika saya sedang rajin bermain game, baterainya agak cepat habis. Untung saja pengisian ulangnya juga bisa cepat, walau efeknya ponsel cukup memanas saat dicharge.

Untuk performa sih ga ada masalah. Multitasking lancar, gaming apalagi. Kalau untuk gaming, saya lebih suka pakai ZenUI daripada Android polosan. Paling ngga, fitur game genie ini bisa membantu menahan notifikasi agar tak menganggu, dan kalau mau rekam gameplay juga bisa. Sayang, saya tak sempat merekam detik-detik saat saya bisa chicken dinner saat last three dalam kondisi saya sendiri melawan 2 musuh, heuheu.

ASUS Zenfone 5 juga sudah mengusung fitur-fitur kekinian semisal face unlock, yang akurasi dan responnya sangat baik. Fingerprint scanner tegolong cepat, meskipun agak sedikit di bawah ekspektasi saya sih.

Penilaian untuk sektor audio, seingat saya ini lebih bagus dari Zenfone 5. Bagus bagi saya itu artinya, tanpa bluetooth speaker pun saya bisa hayu aja menyetel lagu-lagu dengan nikmat. Sok mangga dites dulu loudspeakernya nih. Oya, speakernya sudah stereo ya, alias suara juga keluar dari earpiece di atas layarnya.

Jadinya, untuk multimedia mah Zenfone 5z udah oke banget, dengan karakter layar yang lebih warm dibanding smartphone lain semisal Honor 9i yang kebetulan sempat saya bandingkan. Untuk tone warna layar sih di ZenUI ada pengaturannya koq, jadi bisa disesuaikan sendiri lah gimana selera aja yah.

Lanjut bahas kamera, performa kamera Zenfone 5z juga lebih stabil dari Zenfone 5 yang dulu saya nilai kadang bagus banget kadang biasa aja. Di Zenfone 5z, saya suka sekali dengan hasil-hasil fotonya. Jadinya momen liburan bersama keluarga di antara kesibukan membuat konten, bisa diabadikan dengan indah, ga nyesel lah pokoknya bawa Zenfone 5z pas liburan.

Di kondisi lowlights di suatu kafe yang masih diterangi lampu,  hasilnya juga kece. Namun lowlights di outdoor menurut saya kurang sedap karena sudah mulai muncul noise-noise halus.

Perekaman video cukup stabil berkat adanya si EUIS, hehe. Sestabil apa? Langsung saja disimak di deretan video yang direkam dengan Zenfone 5z ini, sekalian hasil fotonya juga sok mangga.



Pada bagian ini, saya akan membuat kesimpulan. Dan mungkin akan sedikit menyinggung Pocophone F1 lagi.

Serius, saya pikir netizen tidak usah ribut deh. Kedua smartphone ini sangat sedikit irisannya, yaitu di spesifikasi dapur pacunya saja.

Segmen market dan peruntukannya saya yakin berbeda.

Pocophone F1 menurut saya terlalu fokus pada performa puncak, utamanya untuk gaming ya, dengan baterai besarnya.

Nah Zenfone 5z ini bisa dibilang mempunyai keunggulan yang lebih merata, mulai dari aspek desain, lalu material yang digunakan, hingga kelengkapan fitur, semisal NFC. Untuk kamera juga menurut hemat saya Zenfone 5z lebih unggul, kecuali masalah resolusinya.

Utamanya sih soal budget ya yang jadi jurang pemisah dua ponsel yang sama-sama best value ini. Jadi kalau butuh gaming saja, dan budgetnya memang mepet, skip Zenfone 5z dan liriklah sang rival.

Namun jika budget Anda lebih longgar, perlu NFC, perlu juga tampilan menawan, dan kamera yang lebih bisa diandalkan, Zenfone 5z secara overall lebih baik. Tapi ini tidak menegasikan kelebihan-kelebihan pesaingnya ya. Ini wajib saya tegaskan, agar Indonesia tidak ribut melulu di media sosial ah.

Toh beli hape mah bebas, mau beli salah satu atau keduanya boleh. Mau ganti-ganti tiap bulan juga boleh, kalau ada duitnya mah. Hehe.

Yang pasti, jangan lupa follow Instagram @gontagantihape terus ya, karena saya lagi seriusin konten-konten di sana, dan kebetulan pas mulai serius, daily driver saya adalah Zenfone 5z, jadi mungkin Anda akan melihat beberapa foto indah yang pakai watermark ponsel ini terus hehe.

Yang sudah follow, saya doakan rejekinya dimudahkan agar tabungannya cepat cukup untuk meminang Zenfone 5z, dan juga semoga bisa mendapatkannya dengan mudah, di harga resminya.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Comments

Popular Posts