Gadget Promotions

Friday, June 22, 2018

Review Xiaomi Redmi S2, Saya Bingung Kenapa Xiaomi Kaya Orang Bingung?


Biasanya, jika saya membuka kotak produk Xiaomi, views-nya selalu ramai. Meskipun itu hanya earphone-nya saja, kalau smartphone-nya mah sudah pasti lah minimal ada 50-ribu views dalam 24 jam sejak video tayang.

Namun, ada anomali yang terjadi ketika Xiaomi Redmi S2 saya unbox di channel ini. Sudah 2 minggu berlalu, penontonnya bahkan tak sampai 25-ribu, kalah jauh bahkan dibanding saat saya unbox ponsel merk Elephone dan Ulefone, yang harusnya sih masih sangat asing di telinga penikmat smartphone tanah air ya.



Apakah mungkin, mifans dan selfie itu tidak klop? Ataukah karena Xiaomi belakangan hanya memberi jeda sebentar sebelum merilis smartphone baru? Atau karena Redmi S2 ini ngga termasuk kategori mending? Hmmm...

Marilah kita bahas dari price to spec comparison dulu ya.

Redmi S2 ini dibandrol seharga Rp 2.399.000 di flash sale yang diadakan di dua ecommerce tanah air. Lalu apa yang didapat?

Bisa dibilang spesifikasinya cukup aneh. Processor Snapdragon 625, dikombinasikan dengan RAM 3 GB dan storage 32 GB yang disokong oleh slot micro-SD dedicated. Layarnya berasio 18:9, dengan dimensi 5,99 inci dan resolusi HD+ saja. Baterainya sendiri berkapasitas 3.000 mAh.

Sudah bisa lihat di mana anehnya?

Ya, dengan harga yang lebih mahal 200-ribu dari Redmi 5 Plus, Redmi S2 ini memiliki processor dengan besaran RAM dan storage yang sama. Tapi, resolusi layarnya malah turun, pun begitu dengan kapasitas baterainya.

Memang sih, di atas kertas kameranya meningkat secara signifikan, di mana kamera depan beresolusi 16 Megapixels, dan kamera belakangnya sudah ada dua. Tapi memang semahal itukah kameranya?

Apalagi jika melihat fakta bahwa dengan menambah 100-ribu saja, kita sudah bisa mendapatkan Redmi Note 5 yang notabane punya processor lebih up-to-date dan juga lebih bertenaga, dengan resolusi layar yang tetap di Full HD+ dan baterai 4.000 mAh. Kamera Redmi Note 5 bahkan saya puji-puji waktu saya mengulasnya. Termasuk kamera selfienya yang walau resolusinya sedikit lebih kecil di 13 Megapixels, namun performanya memuaskan.

Jadi bingung kan? Redmi S2 ini untuk siapa? MiFans penyuka selfie? Tapi kan MiFans sangat kritis soal spesifikasi berbanding harga, dengan kondisi saat ini ya jelas mending beli Redmi Note 5 saja sekalian.

Mau menarik segmen pasar baru? Bisa jadi sih. Mungkin ini juga yang menyebabkan desainnya jadi mirip dengan smartphone selfie dari brand sebelah. Heuheu.

Terlepas dari itu semua, sebetulnya Redmi S2 ini produk yang tergolong baik koq. Snapdragon 625 di hape 2 jutaan adalah sesuatu yang ok. Performanya masih cukup banget, walau karena saya sudah coba Redmi Note 5 duluan, jadinya terasa ada penurunan.

Sama-sama menggunakan MIUI 9.5, gesture navigation pada Redmi S2 memang saya rasakan tak senikmat di Redmi Note 5, layar dari Redmi S2 ini seringkali kurang responsif saya rasakan. Apalagi saat hendak memulai perekaman video, delaynya sangat terasa.

Untuk urusan baterai, walau kapasitasnya lebih kecil, rupanya Redmi S2 mampu bertahan selama 2 x 24 jam dengan Screen-on Time 8 jam lho. Oh ya, pemakaian mayoritas untuk media sosial dan kamera ya, saya tak menggunakan ponsel ini untuk gaming sama sekali.

Dipakai selfie sih memang ponsel ini membuktikan kualitas kamera depannya. Walau saya akui tak secemerlang ponsel selfie 4-jutaan, ya wajarlah harganya kan terpaut cukup jauh.

Yang jadi keluhan saya adalah performa kamera belakangnya yang biasa saja. Ya, seperti balik lagi ke karakter ponsel Redmi lah heuheu. Padahal udah saya apresiasi sekali lho kamera yang digunakan pada Redmi Note 5 lalu.

Silakan dilihat langsung saja deh hasil fotonya. Waktu saya post di Instagram sih pada bilang B ajah, entah kalau dengan Anda yang menonton video ini ya, boleh banget tuliskan penilaian Anda di kolom komentar ya!



Tak banyak yang bisa saya ulas dari Redmi S2 ini. Rasanya sudah terlalu familiar apa yang ada pada ponsel ini. Performa ala Redmi 5 Plus, UX ala Redmi Note 5, dan sisanya ya beginilah MIUI.

Seandainya Xiaomi tak punya Redmi 5 Plus dan Redmi 5 Note untuk dijual resmi di Indonesia, sebetulnya Redmi S2 punya nilai yang bagus. Jago selfie di harga 2-jutaan, dengan processor kesayangan dan daya tahan baterai yang jempolan.

Sayang, dengan spesifikasi berbanding harga yang diberikan, rekomendasi saya malah lebih menyarankan Redmi 5 Plus jika mau berhemat, dan jika mau performa yang lebih mumpuni dan kamera lebih mantab, ya sekalian ambil Redmi Note 5. Semoga habis Lebaran mah sudah ngga ghoib lagi hehehe.

Demikianlah penilaian saya terhadap Redmi S2, semoga Xiaomi Indonesia bisa memberikan diferensiasi lebih untuk produk ini nantinya, karena kalau tidak, ya mending koreksi harga atau discontinue saja rasanya. Karena susah bersaingnya justru lawan saudara sendiri, heuheu.

Sip, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, selamat mudik dan merayakan hari Lebaran bersama sanak famili ya.  Wassalamualaikum!

Thursday, June 21, 2018

Review Xiaomi Redmi Note 5, REDMI GA GITU DEH!



Pada ulasan kali ini, kita akan kembali mengulas produk smartphone dari brand yang semakin kencang saja berhembus namanya, Xiaomi.

Konon katanya sekarang penjualannya sudah nomor 2 di Indonesia ya.

Tapi barangnya ghoib, eits, mau komen kaya gitu kan? Sudah ketebak, sorry.

Haha, terlepas dari ghoib atau tidak, karena barangnya sudah ada di tangan saya selama beberapa minggu, jadi wajib diulas ya. Dan penonton harap sabar jika setelah melihat ulasan ini, harus gundah gulana karena bingung bagaimana cara mendapatkannya.



Smartphone-nya sendiri bagus koq, sangat worth the money, bahkan sampai membuat saya bergumam sendiri, Redmi Ga Gitu Deh!

Kenapa memang? Kameranya coy. Ngga redmi banget.

Dua kamera di belakang memang bukan yang pertama karena ada Redmi Pro, tapi yang ini kan resmi di sini. Dan hasilnya juga ngga main-main. Termasuk lowlights yang dulu terkenal jadi titik lemah Redmi, sekarang mampu dilibas dengan ganas. Video goyang juga sudah bukan hal yang bisa kamu bully lagi dari Redmi, berkat kehadiran si EUIS, eh EIS, kini kameranya punya stabilization yang memang tergolong OK punya untuk hape 2-3 jutaan begini.

Saya ngga tahu apa efek dari  kehadiran AI di cameranya, cuma memang bokehnya bagus. Dan walaupun bokeh di tempat yang cahayanya kurang seimbang, hasilnya masih cukup dapat dinikmati nih. FYI, hape 2-jutaan lain biasanya kepayahan menghasilkan foto bokeh kalo diberi kondisi yang sama. Good job Xiaomi.

Semua penilaian saya barusan, silakan divalidasi lagi pada foto dan video berikut ini ya. Habis itu saya akan kasih tau apa sebetulnya yang paling menarik perhatian saya dari ponsel ini. Silakan.



Nah, yang sebetulnya paling menarik perhatian saya sih, bukan kamera ya. Tapi MIUI 9.5 yang nampaknya banyak mengalami perubahan ke arah positif.

Memang masih perlu setting autostart dan lock aplikasi di recent apps agar notifikasi selalu masuk. Tapi sekarang beneran selalu masuk, dan real-time sebenar-benarnya. Jadilah saya bisa nyaman selama beberapa hari menjadikan Redmi Note 5 ini sebagai device utama.

Oh ya, pada Redmi Note 5 ini juga kita sudah bisa menggunakan navigasi dengan gesture. Swipe dari bawah layar ke atas untuk home, swipe dan tahan untuk masuk ke recent apps, dan swipe dari luar layar sebelah pinggir ke dalam untuk back.

Uhuk, jadi udah beneran kaya punya iPhone X dong ya, udah mah kamera belakangnya posisinya sama, eh navigasinya juga mirip. Tinggal beli casing yang ngga transparan aja deh buat nutupin backcovernya hehe.

Masalah desain ini sudah saya bahas di video unboxingnya, jadi silakan disimak video yang saya tampilkan pada card bagian kanan atas video ini, atau di end-screen.

Untuk masalah ads alias iklan yang katanya belakangan suka muncul di hape Xiaomi, seperti yang pernah saya cuitkan, saya matikan di setting agar tidak tampil. Saya juga tolak semua permission aneh yang secara default sudah di-enable untuk aplikasi Mi Remote.

Karena kan memang jadi tanda tanya besar kalau aplikasi Remote Control butuh merekam suara dan mengambil gambar segala, apalagi sampai mengakses kontak. Terlebih smartphone Redmi kan terkenal akan kemampuannya menggantikan remote yang hilang, koq rasanya terlalu gimana gitu ya ketika permission-permission yang berlebihan itu ada pada aplikasi remote ini. Silahkan Anda simpulkan masing-masing saja. Gak usah ribut, di Android terbaru semua aplikasi kan bisa dimatikan permission-nya.

Selain itu sih saya senang dengan apa yang ada pada Xiaomi Redmi Note 5 ini secara fisik. Layarnya tajam dengan reproduksi warna menawan. Port audio ada di sisi bawah, dan loudspeaker juga berada pada posisi yang tepat.

Fingerprint scanner-nya diletakkan di posisi yang nyaman untuk kita meletakkan telunjuk saat membuka kunci layar. Akurasi dan responsifitasnya juga sangat mampu memuaskan saya. Pada Redmi Note 5 ini jugalah saya merasakan fitur face unlock pertama kalinya pada MIUI. Dan so far so good, usable di saat saya sedang kesulitan meraih pemindai sidik jarinya, scanning cepat dan cukup akurat dengan syarat kondisi ruangan masih cukup terang.

Untuk performa sendiri, Snapdragon 636 nampaknya punya masa depan cerah menggantikan abangnya si processor kesayangan kita, Snapdragon 625. Namun entah kenapa settingan default PUBG untuk Redmi Note 5 ada pada graphic low, padahal ponsel lain yang procesornya sama defaultnya di medium. Memang bukan masalah sih, toh bisa diubah manual settingannya, tapi penasaran kan boleh?

Saat dipakai bermain pun lancar dan tidak ada demam maupun lag yang terjadi. Saya merasa sinyal di Redmi Note 5 ini pun manteng terus, nampaknya sih lebih baik dari ponsel Xiaomi lain yang pernah saya coba sebelumnya. Jadi untuk gamers online, ga salah deh kalau kamu menjatuhkan pilihan pada ponsel ini.

Karena baterainya juga awet, kalau ini sih memang udah lumrah ya di ponsel manapun yang pakai MIUI. Dengan penggunaan normal ala saya, bisa mencapai total 50 jam pemakaian dengan screen on time lebih dari 6 jam.

Hanya sayang, sifat asli MIUI masih tampak. Multitasking-nya suka terasa berat ketika membuka aplikasi yang sudah cukup lama dibiarkan di background. Redmi Note 5 yang saya uji padahal RAM-nya 4 GB lho. Di awal-awal pemakaian ponsel ini terasa smooth banget mau diajak ngapain juga, namun seiring makin banyak aplikasi yang diinstall dan dijalankan, rupanya cukup berpengaruh kepada performanya. Walau overall masih di atas rata-rata lah jika melihat bandrol harganya.

Oh ya, ngomong-ngomong soal harga, harusnya sih Xiaomi Redmi Note 5 ini dijual dengan harga 2,5 juta untuk varian 3/32 GB, dan 3 juta untuk yang 4/64 GB. Dua-duanya pun harusnya masih kembali seribu Rupiah ya. Namun faktanya yang saya lihat, rata-rata Redmi Note 5 4/64 GB hasil flash sale sudah dijual kembali di angka 3,7 juta Rupiah. PR Xiaomi nih untuk membuat stoknya lancar sekarang. PR saya untuk mengulas ponsel ini sih sudah gugur di sini hehehe.

Apakah Recommended? Tentu, sangat recommended bahkan jika melihat kualitas yang diberikan berbanding harganya. Tapi ada syaratnya, yaitu buat user yang sudah paham cara setting-setting supaya notifikasi bisa real-time, setting iklan supaya ga muncul, dan juga bisa matiin permission yang ngga-ngga yang diminta aplikasi bawaan. Syarat ketersediaan stok atau keghoibannya sih ya terserah situ lah mau dijadikan halangan atau tidak.

Hayo, masih pada puasa kan waktu nonton video ini? Jangan marah-marah atuh ya kalo ponsel in masih ghoib, biar ngga ngurangin pahala puasa kamu hehe.

Sip, selamat berpuasa. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review ASUS Zenfone 5 (ZE620KL), PAKET KOMPLIT TANPA SETRIKA?



Ya, nampaknya ASUS kali ini serius, mereka mau all-out di pertempuran yang digelar di pasar smartphone Indonesia.

Belum genap sebulan sejak merilis Zenfone Max Pro M1, kembali pecinta gadget tanah air diberi kejutan dengan hadirnya ASUS Zenfone 5 dan Zenfone Live L1.

Dan pada ulasan kali ini, saya akan mengupas ASUS Zenfone 5, saya tahu penonton sudah ga sabar ingin tahu seluk beluknya sebelum nanti bertempur di penjualan perdana.

Adalah harga jual resminya di Indonesia yang benar-benar jadi kejutan. Karena, bocoran di luaran sana bandrolnya jika dikonversikan maka nilainya tak kurang dari 5 juta Rupiah.

ASUS Indonesia berani menjual ASUS Zenfone 5 varian RAM 4 GB dan Internal Storage 64 GB ini dengan harga normal Rp 4.299.000 dan harga flash sale Rp 3.999.000. Saya suka keberanian ASUS untuk bersaing di Indonesia, dan saya juga suka transparansi mereka soal mana harga promo dan mana harga normal.



Kita beralih ke barangnya langsung yuk. Zenfone 5 ini mengusung desain kombinasi glass panel di sisi depan dan belakang, dengan frame metal yang mempunyai finishing sangat lembut. Sedikit mengingatkan akan Zenfone 3 dulu ya. Yang paling menarik perhatian tentu saja layar full screen-nya yang berani hadir dengan notch.

Kenapa saya bilang berani? Karena notch ini masih menjadi kontroversi, banyak yang benci, dan banyak juga yang mengidamkannya. Bagi saya bukan masalah, ukuran notch dari Zenfone 5 tidak terlalu besar koq, jadi masih cukup untuk menampilkan indikator sinyal dan notifikasi secara bergantian di sudut kiri atas layar. Sementara sudut kanan diperuntukkan bagi jam dan indikator baterai.

Saat digunakan membuka aplikasi, kedua sudut layar bagian atas ini berfungsi selayaknya notification bar biasa. Tidak ada tampilan aplikasi yang mengisinya, sehingga tidak ada gangguan untuk Anda berinteraksi.

Pada notch ini sendiri ASUS berhasil meletakkan kamera depan sebesar 8 Megapixels, proximity sensor, lalu LED notification yang diletakkan di dalam earpiece. Bezel layar bagian atas terlihat sangat ramping, sama dengan bezel kiri dan kanan. Sementara bezel pada sisi bawah sedikit lebih tebal, dan saya tak masalah dengan itu, karena segitu saja sudah cukup membuat jempol saya harus merentang sedikit lebih ke bawah saat hendak menyentuh tombol-tombol navigasi.

Yap, hingga saat saya menulis naskah video ini, Zenfone 5 masih mengandalkan tiga buah tombol on-screen untuk navigasi, belum ada navigasi dengan full gesture.

Layarnya sendiri memiliki reproduksi warna yang sangat baik, dengan kerapatan yang juga tergolong tajam. So far saya tak punya masalah dengan sisi depan ini.

Berputar ke sisi belakang, refleksi dari backcover kacanya jadi satu hal yang langsung menyedot perhatian semua insan yang meliriknya. Tetap indah, walau bukan suatu hal yang baru, dan warna midnight blue ini entah kenapa di mata saya lebih terlihat sebagai dark grey.

Di sudut kiri atas kita bisa melihat dua lensa ditumpuk pada posisi vertikal. Dan turun agak ke tengah kita bisa melihat fingerprint scanner berbentuk bulat sempurna. Beralih ke sisi bawah, dari kiri ke kanan ada port audio 3,5 mm, port USB type-C, microfon dan loudspeaker yang berada dalam urutan yang paling sesuai menurut saya.

Ketika saya mulai mengabsen spesifikasi dapur pacunya, saya yakin penonton akan mulai terpecah ke dalam dua kubu.

Kubu pertama yang segera langsung menyiapkan tabungannya untuk dialokasikan guna meminang Zenfone 5 ini. Yap, dengan harga yang saya sebutkan di awal, Zenfone 5 sudah menggunakan processor terbaru milik Qualcomm, yaitu Snapdragon 636. Skor Antutu-nya cukup besar yang jadi indikasi performanya takkan mengecewakan, setidaknya jika dibandingkan dengan pesaingnya di level harga setara. Coba lihat hape berponi lain di harga 4-jutaan pakai processor apa?

Nah, lalu kubu kedua adalah kubu kritis, yang mendewakan price-to-spec comparison. Biasanya kubu ini senang menggunakan smartphone-nya untuk gaming. Dan mereka mungkin lebih senang dengan ponsel yang lebih murah, dengan processor yang sama, dan baterai yang lebih besar, namun dengan kamera yang lebih inferior. Dan kubu ini sangat mungkin terpecah lagi karena masalah preferensi brand masing-masing.

Kedua kubu ini punya alasan yang masuk akal, dan ada baiknya kita hormati. Asal jangan sampai berantem terus ya, karena patut diingat sesungguhnya kita ada di posisi yang sama, yaitu konsumen, yang seharusnya menikmati berbagai pilihan yang disediakan produsen.

Terlepas dari kubu-kubuan itu, ASUS sendiri tentu sudah memberikan diferensiasi yang tegas antara Zenfone 5 dengan Zenfone Max Pro M1 meskipun sama-sama mengusung Snapdragon 636. Ya, jika Max Pro M1 condong diperuntukkan agar pengguna dengan budget terbatas bisa menikmati kombinasi performa gaming yang smooth dengan daya tahan baterai yang cadas, maka Zenfone 5 bisa dikatakan paket komplit yang lebih seimbang.

Yap, meskipun baterainya tak sebesar Zenfone Max Pro M1, Zenfone 5 masih tetap hemat daya, dengan battery usage saya ada di 26 hingga 40 jam dalam sekali pengecasan, dengan fokus penggunaan pada social media dan kamera, sehingga menghasilkan screen on-time 3 hingga 4 jam.

Dan jangan lupakan fakta bahwa ASUS Zenfone 5 ini support fast charging. Saat saya isi dayanya dengan charger yang mendukung Quickcharge 3.0, indikatornya menunjukkan hal ini. Dan memang mengisi dayanya selalu berjalan dengan cepat, di bawah 2 jam. Sayang, kepala charger yang disertakan dalam paket penjualannya hanya memiliki output 2A pada tegangan 5v ya.

Lanjut ke kamera, memang terasa performa maupun hasil gambarnya lebih superior dibanding Zenfone Max Pro M1. Termasuk fiturnya yang lebih lengkap karena sudah menggunakan Pixel Master kembali, bukan Snapdragon Camera. Lensa ganda di sisi belakang memiliki setup normal dan wide. Dan beberapa kali mencoba setup seperti ini di ponsel ASUS, selalu lensa wide ini menghasilkan tone warna yang berbeda karakter. Sehingga kita bisa dengan mudah menebak lensa mana yang digunakan dari hasil fotonya.

Untuk video, sudah ada stabilisasi yang nampaknya sih EUIS, eh EIS. Bukan OIS seperti di Zenfone 3, namun cukup membantu kala sekedar mau merekam momen aktifitas yang dinamis.

Kita lihat dulu hasil foto dan videonya yuk sebelum saya berikan kesimpulan.



Overall, untuk kamera yang mendapat skor DxoMark sebesar 90, saya sebetulnya mengharapkan hasilnya lebih dari ini. Meskipun jauh dari kata buruk, tapi konsistensi kualitas kameranya agak membuat saya bertanya-tanya. Karena kadang hasilnya bagus sekali, sampai membuat berdecak kagum dan berpikir, "oh ya pantas skor DxoMark-nya tinggi begitu!"

Tapi tak jarang saya dibuat bingung juga saat hasilnya rata-rata saja. Mungkinkan ini akibat algoritma AI yang digunakan belum sempurna?

Bisa jadi, karena dari pertama unbox hingga saat ini, ada 2 atau 3 kali update software yang didapatkan. Jika mau berfikit positif, kita bisa menganggap kalau developer ASUS ini rajin memberikan improvement buat device-nya. Tapi sebaliknya, ini juga membuat saya berfikir, bahwa perbaikan ini untuk menutup kekurangan-kekurangan yang muncul.

Terakhir, ada update yang membuatnya support VoLTE, jadi ada kemungkinan pelanggan Smartfren bisa menggunakan ASUS Zenfone 5 ini. Dan yang saya rasakan dari hari ke hari setelah update itu, akurasi face unlocknya semakin membaik saja. Semoga kualitas hasil kameranya juga terus meningkat ya.

Jika ada yang harus saya beri nilai minus, mungkin saya bisa bilang kualitas loudspeaker-nya yang tergolong standar. Dengan maksimal volume yang masih menghasilkan suara yang jernih ada pada level 70%, di atas itu suaranya sudah terdengar agak pecah. Kalau sudah begini, mending pakai earphone atau bluetooth speaker saja. Zenfone 5 ini sudah memiliki dukungan Hi-Res Audio dan DTS X Headphone. Kebetulan dalam paket penjualannya kan disertakan headset yang support fitur ini.

Seandainya saya bukan seseorang yang suka gonta ganti hape, dan punya budget 4 jutaan untuk membeli smartphone yang akan saya pakai terus, saya tak akan ragu untuk memilih Zenfone 5.

Alasannya sih dari segi desain pastinya kece banget, kekinian, dan pasti bikin orang lain ngiler. Dapur pacunya pun lebih dari cukup untuk kegiatan saya sehari-hari, dengan kamera yang dapat diandalkan untuk kebutuhan bermedia sosial. Pokoknya, ini adalah smartphone paket komplit yang harus diperhitungkan dengan baik-baik oleh semua kompetitor ASUS di Indonesia.

Oh ya kalau ada yang masih menilai ASUS sebagai hape setrika, saya cuma bisa bilang, udah lama ya ngga keluar dari gua? Koq kudet amat, hahaha.

Untuk saat ini, sekian yang bisa saya nilai dari ASUS Zenfone 5 ini, semoga smartphone ini bisa didapatkan dengan mudah ya di pasaran.

Terima kasih sudah menyimak, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review ASUS Zenfone Live L1, Terbaik di Sekolahnya?



Kalau dulu, mungkin smartphone ASUS harga 1,3 jutaan yang bisa jadi pilihan untuk dipinang hanyalah dari Zenfone Go series ya. Dengan desain yang bisa dibilang mengadopsi desain smartphone tahun sebelumnya, begitu pun dengan spesifikasinya. Walau sangat cukup untuk pengguna pemula, namun rasanya tidak ada kelebihan mencolok yang bisa ditawarkan.

Tahun ini, ASUS sudah 2x menggebrak pasar smartphone tanah air lewat Zenfone Max Pro M1 dan Zenfone 5 yang nampaknya sukses jadi primadona. Keduanya akan jadi pusat perhatian konsumen yang memiliki budget 2 hingga 4 juta Rupiah.

Lalu bagaimana dengan mereka yang belum tega membayar lebih dari satu setengah juta Rupiah untuk perangkat komunikasi yang memang dicari fungsi, durabilitas, serta keterjangkauan harganya?

Ternyata ASUS punya Zenfone Live L1 untuk mengisi segmen pasar ini. Bahkan tak sekedar memberikan fungsi pokok, ada beberapa hal yang ASUS berikan agar pengalaman pengguna dengan smartphone ASUS meninggalkan kesan mendalam. Berikut adalah 5 kelebihan yang ditawarkan oleh ASUS Zenfone Live L1.



1. Harga berbanding spesifikasi.

Ya, dengan bandrol harga 1,3 jutaan saja, pengguna sudah bisa memperoleh smartphone dengan RAM 2 GB, processor Qualcomm Snapdragon 425 yang walau tak kencang performanya, masih sangat bisa diandalkan menemani keseharian pengguna smartphone jaman now yang titik beratnya pasti untuk internetan.


2. Layar kekinian.

Anda tidak salah dengar, ASUS Zenfone Live L1 ini sudah memiliki layar full view dengan rasio 18:9 dan resolusi HD+. Umumnya pada harga setara, smartphone lain masih menggunakan layar 16:9, atau ada juga yang layarnya sudah kekinian, namun resolusinya lebih rendah, atau kelas dapur pacunya setingkat di bawah ini.

Saya yakin banyak pengguna yang sudah memendam keinginan memiliki smartphone dengan layar memanjang seperti ini, dan kegirangan saat dipertemukan dengan ASUS Zenfone Live L1 ini.


3. Kamera dengan resolusi cukup besar dan punya software mumpuni untuk mode bokeh.


Kamera utama Zenfone Live L1 ini beresolusi 13 Megapixels, sementara kamera depannya 5 Megapixels. Performanya dalam kondisi ideal sangatlah memuaskan untuk smartphone sejutaan, bahkan bonus performa bokeh yang kece banget untuk objek manusia.


4. OS up-to-date

ASUS Zenfone Live L1 hadir dengan Android Oreo 8.0 out of the box, dan memiliki security patch yang sangat up to date. Walau ternyata bukan Android Go seperti yang pernah saya baca di salah satu website luar, tapi bukan masalah. Zen UI memiliki banyak fitur yang akan sanat berguna dan mungkin sulit ditemukan di ponsel sejutaan lainnya.


5. Daya Tahan Baterai mumpuni.

Sebetulnya, selama pengujian saya belum pernah menjadikannya sebagai ponsel utama. Saya menggunakannya sebagai ponsel kedua dengan kondisi dua sim terpasang dan terkoneksi ke jaringan seluler maupun wifi dengan satu nomor whatsapp aktif, akun-akun social media juga sudah login, serta satu akun gmail. Dan dengan kondisi banyak idle, daya tahan baterainya mampu menembus 3 hari 3 malam walau akibatnya Screen-on Time-nya hanya sekitar 2 jam saja.

Tapi memang, Snapdragon 425 memiliki kemampuan mengelola pemakaian daya yang baik. Lebih baik dari Snapdragon 430 bahkan menurut saya.

Itulah 5 kelebihan dari ASUS Zenfone Live L1 yang mungkin sebetulnya masih bisa ditambahkan dengan fakta bahwa smartphone inipun sudah memiliki fitur face unlock, serta adanya slot micro-SD dedicated menemani dua slot nano sim-card.

Adapun kekurangan yang saya rasakan selama penggunaan smartphone ini adalah:


1. Performa yang pas-pasan.

Sebetulnya hal ini wajar, mengingat dapur pacunya yang serba entry level. Apalagi harganya begitu terjangkau ya. Tapi saya merasa ada andil dari ZenUI pada masalah ini, di mana free RAM tersisa cukup sempit.


2. Storage cepat penuh.

Lagi-lagi ini masih disinyalir ada hubungannya dengan penggunaan ZenUI. Betul, untuk penyimpanan media seperti foto, video, dan musik sih tak usah khawatir ya, tinggal pasang micro-SD saja. Namun untuk pemasangan banyak aplikasi, jadinya cukup terhambat, mengingat micro-SD-nya tak bisa diformat sebagai internal storage.

Game-game besar jadi susah dipasang deh, walaupun memang spesifikasi keseluruhan ASUS Zenfone Live L1 ini pun bukan untuk gaming sih hehe.


3. Tidak ada fingerprint scanner.

Terlepas dari masalah harganya, bagi saya sekarang fingerprint scanner adalah hal krusial. Selain lebih aman, dengan adanya pemindai sidik jari ini, proses buka kunci layar jadi jauh lebih cepat. Seandainya saja ada, rasanya tambah keren saja ini smartphone ya hehe. Ada face unlock sih, tapi coba deh tengok poin selanjutnya hehe.


4. Face Unlock susah dilakukan.

Ya, face unlocknya hanya bisa berhasil saat digunakan di kondisi cahaya terang, outdoor misalkan, atau di dekat jendela. Jika dilakukan di tengah ruangan dengan lampu neon, rata-rata tingkat keberhasilannya mungkin sekitar 25% saja. Jadinya ujung-ujungnya balik buka kunci layar pakai pin, password, atau pola lagi deh hehe.


5. Kamera selfie pucat.

Seingat saya Zenfone Live terdahulu punya kelebihan untuk digunakan live streaming, semisal video call atau live broadcast di social media. Ada Live Beautification ya kalau tak salah, yang mana pada Zenfone Live L1 ini saya merasa tak bisa mengandalkan kamera depannya. Seringkali hasilnya pucat, bahkan bisa jadi kegagalan face unlock banyak disebabkan oleh kamera depannya yang under perform.

Sebetulnya kalau di kondisi terang banget sih bagus-bagus saja ya, tapi sedikt saja intensitas cahayanya berkurang, signifikan sekali penurunan kualitas fotonya nih.

Okay, itu dia 5 Plus dan 5 Minus dari ASUS Zenfone Live L1 menurut penilaian saya. Overall smartphone ini masih sangat layak dimiliki, dan memiliki value yang sebanding dengan bandrolnya.

Hape sejutaan, branded, kameranya kece di outdoor dan juga bisa bokeh, layar kekinian, rasa-rasanya sudah cukup lumayan untuk membuat kita memberi toleransi kepada kekurangan-kekurangannya ya. Anda cocokkan saja poin-poin yang tadi saya sebutkan dengan kebutuhan dan preferensi pribadi Anda okay?

Tak lupa kuatkan iman, dan berdoa supaya stok ponsel ini terjamin dan tak ikut-ikutan jadi ghoib hehe.

Sambil closing, saya akan perlihatkan foto dan video terbaik yang bisa saya dapatkan dari ponsel ini.



Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, June 6, 2018

Review Samsung Galaxy J4, Tetep Bakal Laku Karena Ungu?



Konon, dari semua jajaran ponsel pintar yang dipunyai Samsung, hanya seri A, S, dan Note saja yang memang worth it, alias bagus.

Tiga kali menguji seri S pada S8+, S9, dan S9+ serta sekali mencoba seri A pada Galaxy A8,  plus perkenalan singkat dengan Galaxy Note FE, membuat saya setuju dengan kalimat awal tadi. Sulit mencari kekurangan produk-produk smartphone tadi, kecuali harganya yang premium saja.

Lalu bagaimana dengan seri J? Sejauh ini saya sudah mencoba J7 Core dan J7 Plus. Untuk J7 Plus saya masih banyak menemukan fitur-fitur kelas atas yang memang jadi wajar jika melihat bandrolnya. Sementara pada J7 Core saya sudah mulai bisa memilah dengan mudah, mana minusnya dan mana plusnya.

Lalu bagaimana dengan Samsung Galaxy J4 yang hanya saya uji selama sekitar 3 hari saja ini?



Saya bisa katakan bahwa smartphone ini takkan menarik minat Anda yang suka bermain game lama-lama di ponsel, yang masih memperhitungkan spesifikasi di atas kertas berbanding harga, dan sedikit bisa mengabaikan masalah layanan purna jual ya.

Betul, secara spesifikasi sih Samsung Galaxy J4 terlihat biasa saja, processor Exynos 7570 Quad-core dengan cortex A53, RAM 2 GB, serta storage 32 GB-nya jadi dapur pacu untuk display-nya yang berdimensi 5,5 inci, dengan resolusi HD 720p pada rasio 16:9.

Tapi jika Anda adalah orang yang memperhatikan masalah brand prestige, looks yang elegan, serta layar yang indah untuk dapat digunakan menikmati konten multimedia, Samsung Galaxy J4 bisa jadi masih memiliki daya tarik lebih, apalagi ada varian warna Ungu yang menurut saya jadi warna Samsung tahun ini. Ya, Ungu juga jadi andalan Samsung pada flagship mereka, S9 dan S9+ yang ternyata memang jadi warna favorit konsumen ya.

Okay, kita sudahi saja basa-basinya dan mulai masuk ke plus dan minus dari smartphone yang dibandrol Samsung seharga 2,3 jutaan ini ya. Alhamdulillah, ponsel ini sangat-sangat memudahkan pekerjaan saya karena sangat jelas apa saja titik kuat dan titik lemahnya hehe. Mari kita mulai dari kelebihannya ya.

1. Seperti saya bilang tadi, kelebihan utama ponsel ini tentu saja prestige brand-nya. Anda yang masih bujangan mungkin tak terlalu ngeh akan hal ini. Tapi coba deh datang ke acara ulang tahun anak di mana ibu-ibunya berlomba mengabadikan momen anaknya yang sedang bersosialisasi. Kalau tak iPhone, ya Samsung sih biasanya yang dipakai mereka, hehe.

Dan jangan lupakan juga bahwa Samsung punya layanan purna jual yang oke punya, tersebar hingga ke kota-kota kecil. Ini sendiri sudah jadi nilai lebih yang cukup signifikan ya, terutama bagi mereka yang memang berencana memiliki smartphone dalam jangka waktu yang panjang, bukan tukang gonta-ganti seperti saya.

2. Adalah looks-nya yang menawan, dengan kaca depan bertepian 2.5D dan warna ungu yang classy. Tidak ada kesan murahan sama sekali pada warna yang katanya identik dengan janda ini.

Selain itu, build quality-nya juga terasa solid, walau memang masih bermaterikan plastik alias polycarbonate. Saat Anda memegangnya, Anda akan segera tahu bedanya.

Bukan tak mungkin kan kalau masalah looks dan feels ini jadi kunci penentu saat pengguna yang masih galau datang ke toko offline untuk memilih apa yang akan dia beli selanjutnya?

3. Layar. Ya, layar sendiri bisa dipastikan jadi kekuatan dari smartphone keluaran Samsung. Super AMOLED yang vibrant dan sangat hidup warnanya ini dijamin bikin kesengsem mata yang melihatnya. Apalagi jika sudah terbiasa pakai smartphone dengan panel layar ini, bisa-bisa Anda takkan betah melihat layar smartphone 2-jutaan lainnya.

Walau cukup disayangkan, Samsung Galaxy J4 tidak mengoptimalkan panel layar ini dengan absennya fitur Always On Display ya.

4. Baterai yang awet dan dapat dilepas. Dengan baterai yang dapat dilepas seperti ini, Anda bisa menggunakan smartphone dalam jangka waktu yang lebih panjang. Di mana jika performa baterainya sudah menurun, cukup beli baterai pengganti saja bukan?

Daya tahan baterai berkapasitas 3.000 mAh ini sendiri sangat mumpuni untuk digunakan mengarungi hari. Dengan pemakaian aktif bermedia sosial dan kamera, sanggup melewati 36 jam dalam sekali pengisian daya, dengan Screen-on Time sekitar 4 jam adalah sesuatu prestasi yang baik. Rupanya ini tak terlepas dari processor-nya yang sudah memiliki fabrikasi 14 nm ya.

5. Slot ekspansi memory yang mandiri. Ya, Galaxy J4 ini punya dua slot micro-sim card, dan sebuah slot khusus untuk micro-SD. Jadi Anda bisa manfaatkan internal storage-nya yang cukup luas di 32 GB untuk menginstall aplikasi dalam jumlah banyak, dan file-file media disimpan di micro-SD saja.

Cocok kan buat emak-emak? Eh buat orang dengan kebutuhan social media, berfoto, dan banyak grup whatsapp maksudnya, hehe.

Untuk urusan performa, saya tak bisa memasukkannya ke kelebihan ataupun kekurangan. Performanya terasa cukup gegas walaupun RAM-nya pas banget di 2 GB. Saya betah-betah saja tuh pakai smartphone ini mendampingi dailiy driver saya. Apalagi, Galaxy J4 ini sudah didukung Samsung Experience versi terbaru, yaitu 9.0 yang sudah teruji dan terbukti nyaman saat saya pakai di Galaxy S9 lalu. Oh ya, skor Antutu-nya ada di angka 40-ribuan tebal, dan sayangnya saya tak sempat mengujinya untuk bermain game.

Kameranya sendiri sanggup menghasilkan gambar-gambar yang dapat dinikmati dengan baik, selama berada di luar ruangan atau pada kondisi cahaya cukup. Lowlights-nya sih seperti kamera hape sejutaan, payah. Kalau kamera belakangnya bisa terdongkrak performa lowlights-nya dengan penggunaan LED Flash, maka kamera depannya sudah tak tertolong lagi dalam kondisi lowlights.

Silakan bagi Anda yang mau menyaksikan sendiri hasil foto dan videonya berikut ini. FYI, videonya punya warna yang hidup, tapi tak punya stabilisasi ya.



Okeh, kamera dalam kondisi lowlight saya anggap sebagai kekurangan nomor satu deh.

Nomor duanya adalah hardware yang banyak disunat. Berikut ini adalah daftar sunatan hardware yang terjadi pada Galaxy J4 ini.
1. Sensor-sensor yang banyak ditiadakan pada smartphone ini.
2. Tidak adanya LED notifikasi
3. Tidak adanya LED Backlight untuk tombol kapasitif
4. Tidak adanya secondari microfon untuk noise cancelling

Nah sekarang lanjut ke nomor tiga ya. Minus ini lebih ke penempatan loudspeaker yang ada di punggung ponsel dan rawan tertutup saat diletakkan di atas meja, apalagi kalau sampai diletakkan di atas kasur. Dijamin suaranya terpendam deh. Sesuatu yang dipendam itu kan tidak baik, nanti bisa jerawatan lho, hahaha.

Sebetulnya kualitas loudspeaker ini masing sanat enjoyable, di mana pada volume terkencang pun tidak sampai pecah suaranya, namun untuk power dan detailnya memang tergolong rata-rata saja.

Kekurangan nomor empat adalah posisi slot simcard-nya yang terhalang oleh baterai. Jadinya untuk berganti nomor, kita harus mematikannya dulu agar aman untuk melepas baterainya. Atau dengan kata lain, simcard-nya ini tidak hot swapable ya.

Kekurangan nomor lima dan jadi terakhir dalam daftar yang saya buat ini adalah kekurangan paling krusial dari smartphone ini. Ya, tidak adanya sensor sidik jari alias fingerprint scanner adalah sesuatu yang terasa menjengkelkan ketika semua ponsel dua jutaan dari brand lain sudah memilikinya. Bahkan hape sejutaan saja sudah pada punya.

Walau cukup terbantu dengan tombol home yang bisa digunakan untuk menyalakan layar sebelum kita membuka kuncinya, tapi tetap saja rasanya akan jauh lebih ringkas apabila memakai fingerprint scanner ya.

Nah, bagaimana menurut Anda setelah melihat daftar kelebihan dan kekurangan dari ponsel ini? Tetep maju tak gentar karena sudah kesengsem dengan warna ungunya? Atau mundur teratur dan memilih bersabar menunggu yang ghoib? Pilihan saya kembalikan kepada Anda ya.

Namun, jika Anda bingung ingin memilih antara Galaxy J7 Core atau Galaxy J4 ini, saya bisa dengan tegas menyarankan Anda untuk meminang Galaxy J4 saja. Terasa lebih gegas, dan juga tampilannya sudah jauh lebih kekinian.

Itu saja yang bisa saya sampaikan dari perkenalan singkat saya dengan Samsung Galaxy J4 ini. Walau memang tak bisa dikatakan punya price-to-spec comparison yang baik, entah kenapa saya yakin produk ini akan laku-laku saja di pasaran.

Karena rasa-rasanya orang yang ingin membelikan smartphone untuk orang tua, anak sekolah, dan pengguna smartphone pemula lainnya, bisa jadi lebih cocok dengan brand dan layanan purna jualnya ya daripada mengejar spesifikasi dan harga.

Ini pendapat saya saja ya, bukan fakta, jadi sangat debatable. Bisa jadi pendapat Anda akan berbeda, dan mari belajar saling respek walau berbeda suara. Hehe.

Okay sip, penonton yang smart, saya sudahi dulu ulasan kali ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, May 25, 2018

Review Hape Jadul, Sony Xperia C4 Dual, Layakkah Jadi Old but Gold?



Video pada review kali ini saya buat sepenuhnya menggunakan Samsung Galaxy Note FE. Baik gambar maupun suaranya.

Coba siapa yang masih ingat saya pernah unbox hape yg sejatinya adalah Galaxy Note 7 yang diperbaiki ini?

Oke, kita bahas Sony sekarang ya. Saya tidak akan bahas Galaxy Note FE-nya lagi, Anda nilai langsung saja dari kualitas gambar dan suara pada video ini.


Jaman Nokia berjaya dulu, Sony Ericsson adalah favorit saya. Saya yang dulu memang anti kemapanan, dan anti hape mainstream. Juga karena dulu uang saku bulanan mahasiswa jarang sisa sih, hahaha.

Lalu ketika brand ini bertransfromasi kembali menjadi Sony saja, saya masih suka. Maksudnya suka mupeng. Beli sih jarang banget. Mahal bos!

Dan seterusnya begitu, hape Sony yang berbasis Android memang tergolong mahal dibandingkan merk lain. Termasuk si Xperia C4 Dual ini, yang harga perdananya dulu di atas 4 juta Rupiah. Mahal!

Saya saja baru kesampaian beli sekarang, pas harganya tinggal 1,4 jutaan doang. Dan pas hape ini udah ketinggalan jaman hahaha.

Walau begitu, ada beberapa nilai positif yang harus saya berikan kepada ponsel ini. Antara lain:

1. Punya NFC, hape sejutaan jaman now susah cari yang ada NFC-nya.
2. Kameranya bisa mengenali scene yang sedang dibidik. Jaman sekarang, harus diembel-embeli ada AI-nya kalau yang begini. Padahal Sony ternyata sudah bisa dari dulu. Dia bisa tahu kapan saya sedang ambil bidikan macro, kapan saya lagi foto makanan. Keren kan?
3. Punya efek AR pada kameranya. Buat anak-anak ini jadinya fun banget, bisa ada dinosaurus atau kurcaci dan rumah jamurnya. Ya buat lucu-lucuan lah. Hasil kameranya pun cukup baik, ya mungkin bisa setara lah dengan hape 2-3 jutaan jaman sekarang.
4. Punya 3 slot kartu dedicated. Dan walaupun jadul, hape ini slot simcard-nya berukuran nano lho. Jadi yang udah kadung pakai nano-sim ya tinggal colok saja.
5. Xperia UI-nya saya suka, notif selalu always real-time.

Apa lagi ya? Kayanya sudah deh itu aja. Sementara nilai minus yang saya berikan, memang kebanyakan dipengaruhi spesifikasinya yang sudah ketinggalan banyak. Tapi hayuk lah kita mulai berhitung saja.

1. Performa MTK6752 dikombinasikan dengan RAM 2 GB buat jaman now, empot-empotan euy! Multitasking agak keteteran di mana pindah apps kerasa ada jeda, apalagi dipakai main game. Masih bisa sih maen PUBG dengan grafis low, tapi ya gitu deh, kalah mulu. Ngelag soalnya heuheu.
2. Masih lanjutan dari performa, dipakai maen PUBG 1 jam aja baterainya turun hampir 50%. Dan dengan berbagai pola pemakaian saya, screen-on time-nya mentok 2 jam lebih dikit. Ya bisa sih battery usage tembus 24 jam, kalau jarang banget dipake, screen-on timenya aja cuma sekitar sejam. Jadi, baterai 2.600 mAh-nya ngga bisa diandelin buat ngegame ya gaiss!
3. OS-nya mentok di Marshmallow dengan security patch yang jadul abis, 2016 kalo ga salah inget ya. Masalahnya di penghujung 2017 ada patch security yang penting banget di berbagai OS terkait masalah keamanan network saat menggunakan Wi-Fi. Jadi ya, agak gimana gitu ya makenya.
4. Bezel tebal di mana-mana. Patut dimaklum sih, ini hape dengan pakem desain 3 tahun lalu. Dan pada masanya, bezel bawah segini tuh udah tergolong tipis sih. Hare gene? Maaf-maaf aja ya, haha.
5. Masih gampang demam, ya penyakit Sony jaman dulu adalah kurang cakap dalam mengatur pembuangan panas. Walau ga sampai overheat, tapi ponsel ini cukup sering menghangat dalam genggaman.

So, itu dia 5 penilaian positif dan negatif untuk Sony Xperia C4 Dual di tahun 2018 ini.

Saya cuma bisa merekomendasikan ponsel ini jika Anda punya tujuan mengkoleksinya, atau menjadikannya ponsel backup saja ya. Karena kameranya bisa diandalkan jika sesekali Anda gunakan berfoto.



Udah lihat hasil kameranya? Ya udah, gitu aja. Saya ga bisa merekomendasikan ponsel ini selain untuk dua tujuan tadi. Terlalu ketinggalan euy. Mending nambah 15 juta aja biar dapet iPhone X, ya ga, hahaha. Becanda ya, mbok jangan diseriusin mulu toh....

Demikian ulasan yang diproduksi menggunakan Samsung Galaxy Note FE ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam.

Monday, May 21, 2018

Review Samsung Galaxy Note Fan Ediiton, Samsung Paling Worth The Money?



Assalamualaikum, ini adalah review dan video pertama yang proses pengerjaannya dilakukan di bulan Ramadhan 1439 Hijriah. Semoga ngga kentara lemesnya ya hehe, maklum masih adaptasi nih.

Okay, sebelum ulasannya dimulai, ada sedikit latar belakang proses review yang ingin saya ceritakan. Pertama smartphone ini saya unbox bulan November 2017 dan baru dibuatkan review-nya Mei 2018 karena sejatinya ini adalah daily driver ibu negara. Sekarang alhamdulillah ada rezeki untuk upgrade ke Galaxy S9+ warna ungu yang sudah lama diidamkannya.



Ya, istri saya memang dari pertama kenal Android, tak pernah berganti merk dari Samsung.

Dulu saya suka bingung, apa sih yang spesial dari Samsung? Karena harganya tak bisa dibilang murah, apalagi jika dibandingkan kompetitor.

Pandangan saya mulai berubah ketika mencoba Galaxy J7 Plus, dilanjut Galaxy A8 dan puncaknya ada saat saya dibuat takjub oleh Galaxy S9. Saya sarankan Anda menonton review Galaxy S9 di channel saya ini deh, biar tahu alasannya kenapa.

Yap, saya yang kata netizen adalah huawei fans ini, selalu dibuat nyaman oleh Samsung Experience. Dan sebagai informasi, Galaxy Note FE baru saja mendapat update software yang membawa peningkatan ke versi Android Oreo 8.0 serta Samsung Experience 9.0.

Lalu, harganya juga mengalami update, tapi berupa penurunan sebanyak satu juta Rupiah. Entah hanya promosi sesaat atau memang harganya mengalami koreksi, namun saya lihat iklan erafone yang menyatakan harganya turun dari Rp 7.999.000 ke Rp 6.999.000.

Dan dengan ini saya pun menyatakan inilah dia smartphone Samsung paling worth the money saat ini. Walau belum memiliki Infinity Display, jangan lupakan bahwa Galaxy Note Fan Edition ini sudah memiliki layar Super AMOLED beresolusi 2K dengan tepian EDGE di kiri dan kanan. Satu hal yang tak dimiliki S-series adalah S-Pen alias stylus yang tentunya akan sangat menambah value smartphone ini, dengan catatan bagi mereka yang memerlukannya.

Saya sendiri sangat jarang menyentuh S-Pen ini, haha. Padahal sebetulnya benda ini sangat berguna, untuk menulis catatan dari keadaan layar mati misalkan. Atau mau corat-coret hasil screenshot? Buat seniman sih dipake bikin sketsa juga bisa, soalnya stylus ini bisa mengenali tekanan sehingga garis yang dibuatnya bisa diatur tebal tipisnya.

Lalu hal selanjutnya yang membuatnya jadi paling worth the money adalah kameranya. Performanya sangat prima, bokeh dengan satu lensa bisa dihasilkan dengan baik, warna yang keluar pun terbilang sangat apik. Lalu jika dipakai merekam video, OIS-nya sudah sangat terasa membuat stabil videonya. Siapa di sini yang sudah melihat review Sony Xperia C4 yang diproduksi menggunakan smartphone ini saja? Intinya kameranya masih sangat bisa diandalkan meskipun umur asli dari smartphone ini sudah menginjak 2 tahun ya.

Okay silakan dilanjut melihat hasil foto dan videonya, sementara saya ambil nafas dulu ya hehe.



Masalah performa, sebetulnya saya nyaris tak pernah bermain game selama mencoba Galaxy Note FE. Soalnya PUBG biasa saya mainkan di ASUS Zenfone Max Pro M1, biar bisa lama-lama mainnya hehe.

Tapi, ini adalah hape flagship, yang harusnya sih ga akan punya masalah soal performa. Lihat saja skor Antutu Benchmark-nya. Coba fokus di bagian skor CPU-nya yang mengalahkan 99% user lain padahal ini adalah smartphone yang aslinya dirilis 2 tahun lalu.

Nah, sayangnya soal performa ini memang acapkali tak dibarengi ketahanan baterai yang mumpuni. Tak boros tapi juga sama sekali tak bisa dikatakan hemat. Sepemakaian saya selalu hanya mampu bertahan dari pagi hingga malam saja, belum pernah menembus 24 jam dengan pemakaian ala saya yang rata-rata menghasilkan screen-on time 3-4 jam.

Seandainya saya tak pernah mencoba Galaxy S9, mungkin looks dari Galaxy Note FE ini bisa memuncaki klasemen di hati saya, halah. Ya, looks-nya terasa sangat mewah, dengan warna biru coral yang indah mempesona. Walau saya pribadi tak suka dengan warna frame-nya yang keemasan. Kenapa tak pakai biru saja lagi, atau silver saja.

Memang sudah kurang kekinian ya, rasio layarnya masih 16:9, dan juga sudut-sudut layar yang tak dibuat membulat.

Tapi kalau kamu bisa dapat smartphone dengan kekuatan selengkap ini ditambah layanan purna jual prima milik Samsung sih rasanya sudah sangat tinggi lah price-to-value comparisonnya. Bahkan sedikit lebih worth the money mungkin dibanding Galaxy S9, kecuali jika kamu mementingkan sekali hasil kameranya. Terutama kamera depan Note FE yang saya nilai biasa banget, dan jauh sekali jika dibandingkan dengan Galaxy S9.

So, sebelum produknya discontinue, ada baiknya diamankan deh sekotak hehehe.

Gitu saja ya ulasan kali ini, semoga membantu menemani ibadah bulan Ramadhan kali ini bagi mereka yang menjalankannya.

Inget, jam makan siang jangan melipir ke warteg bertirai ya, hihihi.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, May 18, 2018

Review ASUS Zenfone Max Pro M1, di LUAR keBIASAan!



Jika beberapa bulan lalu ada yang meminta rekomendasi ponsel Android berbaterai besar dengan harga maksimal 2,5 juta, dan harus punya jaringan layanan purna jual resmi yang mudah diakses, mungkin pilihannya jatuh kepada ASUS Zenfone 4 Max 5,2 inch.

Ponsel ini cukup nyaman digunakan koq, buktinya kakak saya hingga saat ini masih betah memakainya. Namun jika syarat baterai besar diganti dengan daya tahan baterai cukup seharian, maka saya akan lebih merekomendasikan ASUS Zenfone 3 5,2 inch saja yang punya kekuatan merata di semua sektor.

Tapi semua berubah. Di luar kebiasaan, ASUS tiba-tiba mengenalkan lini produk baru, yaitu M1 series yang diembel-embeli nama Zenfone Max. Agak bingung dengan Zenfone Max Plus M1, kini langkah yang ditempuh ASUS saat merilis Zenfone Max Pro M1 semakin membuat saya bertanya-tanya, Ada Apa dengan ASUS?

Mari kita bahas dulu apa saja yang berbeda dengan produk ini, termasuk proses pemasarannya ya.

Pertama, tahun ini ASUS sudah biasa menggelontorkan produk ke pasaran terlebih dahulu, sebelum melakukan peluncuran resminya. Zenfone Max Pro M1 tidak, tak ada satupun penjual yang mempunyai stoknya, karena ternyata sementara ini dijual eksklusif di Lazada, dan dengan sistem flash sale.

Kaya ngga ASUS banget ya? Nah kita lanjut ke bahasan kedua kalau gitu. Harganya juga ngga ASUS banget koq. Rp 2.299.000 untuk spesifikasi seperti ini adalah sesuatu yang luar biasa, bahkan kompetitor langsung ASUS pun belum mampu menjual semurah ini. Lebih gila lagi, masih ada diskon 100 ribu Rupiah lho semasa promosi Ultah Lazada.

Hasilnya sangat gampang ditebak. Banyak yang tidak kebagian. Sejak kapan produk ASUS susah dicari coba?

Oke saya sudahi bahasan tentang pemasarannya di sini. Kita mulai masuk bahasan terhadap produknya. Rupanya di sinipun masih terjadi hal luar biasa alias di luar kebiasaan itu. Pada Zenfone Max Pro M1 ini, ASUS tak menyematkan ZenUI dan memilih Android Pure Vanilla alias stock sebagai tampilannya.



Entah apa yang terjadi, apakah engineer ASUS tak sempat melakukan porting ZenUI untuk dipadukan dengan hardware terbaru, atau ada alasan lain di balik keputusan ini. Bagi saya sih ok-ok saja, karena dampaknya performa terasa semakin smooth saja. Walau demikian ada beberapa fitur Zen UI yang saya rindukan jadinya.

Performance wise, Snapdragon 636 yang dijadikan inti dari powerhouse Zenfone Max Pro M1 ini memang mampu memberikan kepuasan dengan user experience yang selalu lancar jaya. Dan Anda akan sangat-sangat terhibur jika melihat skor Antutu Benchmark hape 2 jutaan bisa setinggi ini.

Dalam dua gaya penggunaan yang berbeda, Zenfone Max Pro M1 ini memiliki daya tahan baterai yang memuaskan. Pada percobaan pertama, dengan heavy usage di mana saya banyak menginstall aplikasi baru, melakukan tethering selama hampir 8 jam, berfoto dan juga live di Instagram, smartphone ini mampu bertahan selama 33 jam dengan screen-on time lebih dari 5 jam.

Pada percobaan selanjutnya saya memperlakukan Zenfone Max Pro M1 ini sebagai ponsel backup, di mana social media masih menyala, termasuk whatsapp yang aktif dengan sekitar 6 grup, namun hanya saya nyalakan sesekali saja. Hasilnya sungguh membuat bulu kuduk saya bergidik, tembus 4 hari 4 malam dengan screen-on time hampir 9 jam!

Ini membuktikan bahwa dalam keadaan idle, Snapdragon 636 sangat irit mengonsumsi daya. Dan jangan lupakan bahwa ini tak lepas dari andil besarnya kapasitas baterai ponsel ini. Berapa besar? Masa sih ngga tahu, 5.000 mAh guys! Dan ya, memang lebih besar dari tetangga sebelah yang sedikit lebih mahal itu.

Tanpa ZenUI, berarti kameranya juga tanpa Pixel Master ya. Kali ini ASUS memilih menggunakan aplikasi Snapdragon Camera yang sepintas mirip Google Camera, termasuk kemampuan bokehnya. Ya, kamera belakangnya yang ganda kali ini tidak memiliki setup normal dan wide, tapi mampu membuat foto-foto bokeh yang cukup menawan.

Dan uniknya, bokeh ini juga bisa dihasilkan oleh kamera depannya yang hanya sebatang kara. Dalam beberapa kali pengujian, beberapa kali saya menemukan lag saat melakukan pengambilan gambar, dan masalah ini nampaknya merupakan andil software ponsel ini yang terus mendapat pembaharuan dari ASUS. Dari sejak unbox sampai saat menulis naskah video ini saja, sudah 2x update OTA saya terapkan.

Hasil foto dan videonya silakan dilihat langsung saja ya. Kalau penilaian saya sih untuk harga 2-jutaan, segini cakep lah. Tapi saya ngga bilang ini kamera paling cakep di hape 2-jutaan ya. Tolong bedakan hehe.



Overall, saya yakin semua akan setuju bahwa ponsel ini bisa jadi paling value deal di semester pertama 2018 ini. Processor terbaru Snapdragon 636, Baterai besar 5.000 mAh, latar Full HD+ 5,99 inch yang sangat usable, hingga kehadiran kamera ganda yang bokehnya ok banget.

Namun bukan tanpa keluhan ya, saya merasa dari sisi software ASUS masih akan banyak melakukan penyempurnaan. Dan semoga ini juga mampu memperbaiki kinerja fingerprint scanner-nya yang angin-anginan.

Untuk masalah looks pun saya bisa bilang desain ini membosankan walau memang jadi ciri khas produk smartphone ASUS tahun ini.

Kesimpulannya, ASUS Zenfone Max Pro M1, LUAR BIASA! Alias serba di luar kebiasaan. Produknya sendiri sudah pasti worth the money dan value deals banget. Selamat berebutan aja deh dari saya hehe.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, May 3, 2018

Review Huawei Nova 2 Lite, Ini Dulu Sebelum Loncat ke Bis Kopaja Jurusan Lebak Bulus - Senen (IYKWIM)


Huawei baru saja meluncurkan smartphone terbaru dari deretan seri Nova di Indonesia, namanya Huawei Nova 2 Lite.

Info aja nih, yang varian warna birunya punya backcover kinclong dengan refleksi yang menawan. Tapi yang saya ulas ini yang warna hitam dengan finishing doff pada backcovernya yang menurut saya lembut di kulit dan tak mudah kotor. Biar beda dari yang lain, saya pilih hitam saja, haha.

Sekeliling framenya berwarna metalik gelap dengan lengkungan yang cukup untuk membuatnya nyaman dalam genggaman.



Dari apa yang ditawarkan oleh Nova 2 Lite ini, nampaknya Huawei ingin menawarkan berbagai fitur yang sedang trend saat ini, pada rentang harga yang lebih terjangkau, di mana umumnya produk Huawei memiliki bandrol harga yang terbilang cukup premium.

Dijual dengan harga 2,5 jutaan, membuat ponsel ini menjadi seri Nova yang paling terjangkau saat ini. Dan pada level harga tersebut, Huawei memberikan berbagai fitur menarik untuk dapat dinikmati pecinta ponsel-ponsel brand yang memiliki track record panjang di dunia jaringan dan telekomunikasi ini.

Siapa coba yang tak ingin berpindah ke ponsel dengan full view display? Dan Huawei memberikan Nova 2 Lite layar berdimensi 5,99 inch dengan rasio 18:9 yang membuatnya seukuran dengan ponsel 5,5 inci konvensional.

Face unlock? 2018 nampaknya wajib ada ya. Dan Huawei pun memberikan fitur ini pada Nova 2 Lite, yang mana fitur ini masih jarang ditemukan di ponsel lain pada level harga yang setara. Anda cukup menyalakan layar dan secara otomatis pemindaian wajah dilakukan dengan cepat dan akurat.

Dual-camera? Tenang saja, ada juga koq. Dan sepengalaman saya mencoba berbagai ponsel keluaran Huawei, software kamera mereka termasuk dapat memanfaatkan data kedalaman yang diberikan lensa kedua untuk menghasilkan efek bokeh yang baik. Dan jangan lupa, pemisahan bidang yang mendapat fokus dan yang diburamkan, bisa dilakukan belakangan setelah foto diambil, pun demikian dengan tingkat blur-nya yang bisa diatur sesuai selera.

Untuk urusan selfie yang semakin menjadi gaya hidup jaman sekarang, Huawei Nova 2 Lite sudah memiliki front LED flash untuk membantu pencahayaan saat melaukan swafoto. Seingat saya, pada smartphone keluaran Huawei, selfie toning flash seperti ini baru saya temukan di Nova 2 Lite.

Sedikit catatan dari saya, untuk mode wide aperture, disarankan tidak diambil pada kondisi backlight mengingat mode ini tidak dapat dikombinasikan dengab mode HDR. Cukup disayangkan pada ponsel ini tidak ada mode manual atau pro untuk foto maupun video. Walau begitu, pengambilan gambar dapat dilakukan dengan cepat dengan hasil-hasil foto dan video yang bisa disaksikan berikut ini.



Untuk perangkat lunaknya sendiri, Nova 2 Lite sudah dibekali EMUI 8.0 yang berjalan di atas Android Oreo 8.0, terbilang up to date di mana ponsel dua jutaan lain masih banyak yang berkutat di Nougat.

Okay, itu adalah hal-hal yang cukup membuat saya excited ingin segera merasakan ponsel ini. Selain fakta bahwa selama ini saya selalu betah pakai produk smartphone Huawei karena EMUI yang memiliki banyak fitur yang saya butuhkan, juga karena umumnya ponsel Huawei memiliki daya tangkap sinyal yang sangat baik.

Merekam kegiatan di layar smartphone, mengambil screenshot dengan tiga jari, split screen, hingga fitur kecil seperti menampilkan kecepatan jaringan adalah hal-hal yang saya sukai dari EMUI.

Oh ya, ada satu lagi fitur yang sangat berguna pada smartphone Huawei, yaitu Phone Clone, di mana saya bisa menyalin semua data dari ponsel Huawei lama ke yang baru dengan sangat mudah. Dan hasilnya betul-betul bagai pinang dibelah dua, bahkan beberapa aplikasi seperti Instagram sudah langsung bisa dipakai tanpa perlu login lagi karena datanya sudah disalin semua. Hebat kan?

Setelah menggunakan ponsel ini beberapa saat dalam kegiatan sehari-hari, saya menilai sejauh ini Huawei Nova 2 Lite sih so far so good, walaupun mungkin sebetulnya ada hal yang di atas kertas nampak terasa kurang bagi mereka yang belum mencobanya secara langsung.

Ya, sayapun awalnya khawatir dengan resolusi layar HD+ berbanding dimensinya yang bisa dibilang 6 inch lah. Tapi ternyata hasilnya enak-enak saja koq dipakai, urusan kerapatan atau densitas layarnya tak pernah jadi masalah, pun reproduksi warnanya cukup baik dan sudut pandangnya cukup luas.

Lalu mungkin banyak juga yang mempertanyakan kenapa Huawei tak menggunakan processor in-house mereka Kirin 659 yang terbukti powerful untuk kelas mid-range. Harus diakui memang Snapdragon 430 sedikit outdated, namun masih sangat mampu mentenagai ponsel ini koq. Gaming, multimedia, hingga multitasking masih nyaman-nyaman saja, walau memang performanya takkan bisa disejajarkan dengan hape-hape high-end yang belakangan ini mulai sering saya coba.

Dengan RAM 3 GB, EMUI 8.0 dapat berjalan tanpa kendala sejauh ini.

Lanjut ke storage, Huawei Nova 2 Lite memiliki kapasitas memori internal 32 GB. Bagi yang merasa segini belum cukup, tenang saja. Slot micro-SD hadir secara dedicated, alias tidak harus berebutan dengan dua slot simcard-nya.

Untuk urusan sumber tenaga, Huawei membekali Nova 2 Lite dengan baterai 3.00 mAh yang dapat bertahan dari pagi hingga malam dengan penggunaan moderat, dan notifikasi selalu masuk secara real-time.

Overall, apa yang didapat masih tergolong sesuai dengan harga yang disematkan untuk Nova 2 Lite ini, dan bisa jadi akan sangat worth the money jika Anda membelinya melalui Pre-Order di Lazada di mana Anda akan mendapatkan hadiah langsung berupa speaker JBL Flip 3 dan gift box yang jika ditotalkan nilai hadiahnya sendiri mencapai 1,6 jutaan lho!

Saya sih lagi kepikiran memberikan Huawei Nova 2 Lite ini untuk digunakan orang tua saya, karena user experience-nya yang enak dan mudah digunakan.

Huawei Nova 2 Lite bisa juga direkomendasikan bagi mereka yang ingin mulai mencoba jajaran produk Huawei, sebelum nanti naik kelas ke seri P yang punya kamera superior. Walau saya sih menyarankan agar selepas masa promosi, Huawei dapat menyesuaikan harganya agar lebih bersaing lagi.

Sip, review-nya saya tutup di sini, semoga setelah ini akan ada lagi produk-produk smartphone Huawei yang masuk ke Indonesia ya, heuheu. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Monday, April 30, 2018

Mini Review Samsung Galaxy S9 Plus, Kenapa Cowok Harus Pakai?



Akhirnya saya mencoba juga sepasang smartphone flagshipnya Samsung nih. Setelah kemarin dipuaskan sepuas-puasnya oleh Galaxy S9, kini giliran Galaxy S9 Plus yang saya ulas.

Saya rasa secara prinsip akan banyak hal yang kurang lebih sama antara S9 Plus dengan S9 yang sebelumnya saya ulas. Anda yang belum menyimak video review Galaxy S9 yang saya buat, saya sarankan untuk menontonnya terlebih dulu. Sekalian refresh karena pada video tersebut cukup banyak footage di pemandangan alam terbuka yang indah.



Nah, ada baiknya kita mulai bahasan kali ini dari apa saja sih perbedaan S9 Plus dari S9 versi biasa?

Pertama tentunya harga, selisihnya 1,5 juta Rupiah untuk varian storage yang sama, di mana harga resmi S9 Plus ini ada pada angka Rp12.999.000.

Lalu tentu saja dimensi fisiknya, di mana S9 memiliki bentang layar 5,8 inch, dan S9 Plus sebesar 6,2 inch. Saya tadinya menyangka S9 Plus ini akan bongsor banget, namun di luar perkiraan ternyata masih enak-enak saja tuh digenggam dengan satu tangan. Faktor screen-to-body ratio yang tinggi, serta infinity display yang melengkung di kedua pinggirannya jadi faktor penentu di sini.



Perbedaan komponen selanjutnya ada pada kamera belakang S9 Plus yang ada sepasang. Jadi lensa dual-aperture-nya ditemani satu buah lensa lagi dengan bukaan f/2.4 untuk menghasilkan bokeh yang super kece. Jangan lupakan fakta bahwa kedua lensa ini sudah memiliki OIS, jadi gak akan gampang blur saat dipakai mangambil gambar ya.

Sekarang kita beralih ke jeroannya, S9 Plus memiliki RAM yang lebih besar di 6GB, dan tentu saja berkat body yang lebih besar, Samsung bisa membenamkan baterai yang lebih besar juga kapasitasnya di 3.500 mAh. Buat yang belum tahu, Galaxy S9 memiliki RAM sebesar 4 GB, dan baterai 3.00 mAh ya.

Ternyata varian warna Lilac Purple pada Galaxy S9 Plus ini sangat digemari. Buktinya di toko tempat saya membeli Galaxy S9 kemarin, warna ini sudah tak tersisa. Saya pun harus sedikit berjuang untuk mendapatkannya di toko online yang masih menjualnya. Salah satunya adalah Bhinneka yang linknya saya sertakan pada deskripsi video ini ya.

Sejauh ini pengalaman saya berbelanja di Bhinneka selalu memuaskan. Patut dicatat bahwa Bhinneka adalah pelopor toko online di Indonesia, dulu tiap cari barang elektronik, mesti buka web yang satu ini heuheu. Satu yang unik dari Bhinneka, setiap kita berbelanja di sana, meskipun belanjanya online, tapi seperti dilayani langsung karena adanya personal assistant yang bernama Sarah. Mau beli ini itu jadi mudah, dan asli bikin tenang pokoknya.

Nah, Galaxy S9 Plus warna ungu yang cenderung menuju pink ini, mungkin terkesan lebih cocok buat wanita ya. Namun, pada kesempatan kali ini justru saya ingin membahas kenapa Galaxy S9 Plus juga akan sangat layak dipertimbangkan oleh kaum pria untuk menemani kesehariannya.

Kita mulai dari aspek pertama, yang tak lain dan tak bukan adalah kamera pastinya. Buat yang senang berkiblat pada penilaian yang dikeluarkan oleh DxoMark, Galaxy S9 Plus termasuk ke dalam top-3 smartphone berkamera terbaik dengan skor total sebesar 99.

Dan ini adalah salah satu faktor yang jadi pembeda, di mana ketika Anda sudah merasakan hasil kameranya yang indah, faktor harganya yang tergolong tinggi, menjadi nilai tebus yang pantas.

Buat cowo-cowo yang suka fotografi, atau merekam aktifitasnya di luar ruangan, bisa jadi ini adalah smartphone terbaik yang bisa Anda dapatkan saat ini. Merekam video dalam keadaan bergerak tetap stabil dengan tone warna yang memukau.

Hasil foto dan video berikut ini akan menyimpulkan kualitas dari kamera Galaxy S9 Plus ini deh.



Aspek kedua adalah looks dan handling. Galaxy S9 Plus tak hanya memiliki penampilan yang memukau, namun juga enak digenggam, dengan atau tanpa case. Sisi depan yang didominasi oleh Infinity Display ini tampak sangat elegan saat layar mati dengan Always on Display yang tetap menunjukkan informasi penting. Nampak hitam mengkilap, nampak misterius sekaligus macho jadinya.

Aspek ketiga adalah ketahanan smartphone ini terhadap debu maupun air. Buat cowok yang bekerja di outdoor, hal ini bisa jadi faktor penyelamat saat misalnya terkena hujan dan percikan air di luar sana. Malah sekalian kalau smartphone-nya kotor, siram saja dengan air untuk membersihkannya. Haha.

Aspek keempat adalah performa. Saya akan tunjukkan skor benchmark-nya sebagai pembuka saja ya. Betul, real experience lebih saya senangi daripada angka benchmark, dan dengan processor yang sama dan RAM yang lebih besar dari S9, Galaxy S9 Plus ini benar-benar terasa smooth dalam menemani kegiatan saya di atasnya. Cowo pasti suka gaming, dan dengan skor Antutu setinggi ini, saya yakin semua game berat bisa dilahap dengan baik oleh Galaxy S9 Plus.

Satu yang tak bisa saya lupakan adalah bagaimana setiap notifikasi selalu lancar masuk, dan ini sangat saya sukai.

Review ini nampak tanpa kekurangan ya. Faktanya adalah, saya yang kesulitan menemukan kekurangan itu, selain dari harganya yang premium sekali. Jelas memang segmen pasar yang masih price-sensitive bukanlah target dari produk ini.

Satu hal yang harus diingat, saya belum menggunakan S9 Plus ini seintens S9 kemarin. Jadi demikian saja yang bisa saya ulas dari ponsel ini. Namun kesimpulan saya, kalau memang budgetnya masuk, jangan ragu meminang Galaxy S9 Plus, terlebih jika mengejar kualitas fotografi-nya ya.

Jika Anda kesulitan mendapatkan varian storage dan atau warna yang diinginkan, boleh koq cek link di deskripsi video ini, terakhir saya cek di sana masih lengkap ada semua.

Sip, demikian review berbalut sedikit cerita mengapa Galaxy S9 Plus ini akan cocok untuk kaum pria, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!