Gadget Promotions

Monday, November 13, 2017

Review ASUS Zenfone 4 Max 5,2 inci (ZC520KL) Indonesia



Tadinya saya berpikir untuk apa sih ASUS merilis Zenfone 4 Max ZC520KL ini, padahal sudah ada Zenfone 4 Max Pro ZC554KL. Namun rupanya ASUS tak hanya sekedar melengkapi jajaran smartphone tahun ini di berbagai level harga, banyak pula value lain yang dihadirkan pada smartphone yang dijual pada harga resmi RP 2.299.000 ini. Apa saja kira-kira? Mendingan ga usah ngira-ngira deh, ditonton aja terus videonya yah, hehehe.



Pertama saya baru sadar bahwa Zenfone 4 Max ini adalah versi compact dari varian Max Pro. Ya, dimensi layar smartphone ini adalah 5,2 inch, yang menurut preferensi pribadi saya adalah ukuran paling ideal agar tetap dapat digenggam dan dimasukkan ke dalam saku jeans dengan nyaman. Wajar pula jika dengan dimensi yang lebih compact, layarnya yang beresolusi HD 720p ini akan terlihat sedikit lebih tajam dari versi Pro-nya.

Perbedaan lain ada pada dapur pacunya yang menggunakan processor Snapdragon 425, yang meskipun seri angkanya lebih kecil dari Snapdragon 430 miliki Zenfone 4 Max Pro, justru sebetulnya dirilisnya lebih baru. Dan sesuai peruntukannya, processor ini menurut saya malah lebih hemat dalam konsumsi daya. Dengan kondisi banyak idle namun semua notifikasi email, messenger, dan social media tetap masuk, setelah 3 hari masih ada baterai tersisa.

Dengan dimensi yang menyusut, kapasitas baterainya memang sedikit turun juga ke 4.100 mAh. Namun dengan processor yang hemat daya dan juga berbagai battery saving mode yang dimiliki ponsel ini, saya rasa tujuan ASUS menghadirkan lini Max sebagai jajaran smartphone dengan ketahanan baterai yang istimewa dapat terpenuhi pada Zenfone 4 Max 5,2 inci ini.


Kamera ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Pada beberapa post hasil fotonya yang saya unggah di Instagram, beberapa orang berkomentar bahwa hasil kameranya terasa lebih baik dari Zenfone 4 Max Pro. Dan saya pun memiliki perasaan yang sama, sayangnya Tatjana Saphira sih ga punya perasaan apa-apa sama saya. Lha koq malah melenceng haha, maksudnya saya setuju dengan komentar di Instagram tadi ya. Entah kenapa memang terasa lebih baik detail foto yang dihasilkan oleh Zenfone 4 Max 5,2 inci ini.

Dalam kondisi pencahayaan ideal, lensa kedua yang memiliki setup wide dan resolusi 5 Megapixel ini memiliki hasil yang sama baik dengan lensa normal yang beresolusi 13 Meapixels, bahkan kadang lebih detail. Tapi saat digunakan di kondisi lowlights, saya sarankan pakai lensa normal saja, nanti Anda akan tahu kenapa, hehe.

Kamera depan adalah salah satu yang mengalami down-spec, di mana resolusinya hanya 5 Megapixels saja, tak lagi 8 Megapixels seperti pada Zenfone 4 Max Pro. Namun ASUS tak pelit, dan tetap membekalinya dengan LED Flash untuk selfie.

Untuk perekaman video, Zenfone 4 Max sudah memiliki EIS untuk membantu hasilnya agar terlihat lebih stabil. Jika fokusnya loncat-loncat, Anda bisa menyentuh objek di layar untuk menguncinya, dengan begini hasil video lebih stabil menurut saya.

Mari kita saksikan seperti apa hasil kameranya yuk!




Sudah lihat hasil foto dan videonya? Bagaimana menurut Anda kualitasnya? Sepadan tidak dengan harga jualnya? Silakan tulis di kolom komentar video ini ya.


Desain & Looks, ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Berbicara soal desainnya, saya cukup senang dengan pembaruan yang ASUS lakukan pada semua jajaran Zenfone 4 series, tak terkecuali Zenfone 4 Max ini. Sisi depannya menjadi favorit saya, entah kenapa looks-nya terasa unik, antara macho tapi ada imut-imutnya haha.

Highlight positif saya berikan untuk fingerprint scanner yang posisinya sudah enak banget di sisi depan, dengan akurasi jempolan, dan waktu respon yang lumayan cepat. Tepian layar 2,5 D juga membuat ponsel ini ramah di kulit. Penilaian minus saya berikan untuk tombol kapasitif yang tak memiliki backlight, serta kamera depan yang secara fisik terlihat ukurannya kecil sekali, terlihat kurang meyakinkan jadinya.

Oh ya buat yang bertanya apakah ponsel ini memiliki LED Notification, jawabnya ada. Posisinya ada di pojok kiri atas sisi depan ya.

Beralih ke bagian samping dan belakang, Zenfone 4 Max dibalut dengan backcover unibody yang mengusung desain metal looks. Ya nampak seperti berbahan logam, namun sejatinya bahannya plastik solid dengan tepian membulat yang tak menyisakan sudut. Ergonomis di tangan, dan dengan finishing doff membuatnya tak mudah kotor.

Sejujurnya desain sisi belakang ini bukanlah favorit saya, walau warna deepsea black yang saya ulas ini memiliki warna hitam kebiruan yang cukup mempesona.

Setidaknya ASUS sudah melakukan hal yang tepat dalam menempatkan lubang speaker di sisi bawah. Suaranya lumayan bagus, tidak pecah saat di volume terkencang, namun terasa sedikit tertahan alias mendem. Anda perlu mengaktifkan mode outdoor supaya lebih lepas suaranya.


Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Dengan layar yang memiliki kecerahan dan reproduksi warna yang baik, Zenfone 4 Max ini juga bisa digunakan untuk menonton video atau streaming. Kebutuhan multimedia dapat diakomodasi dengan baik, terlebih storage 32 GB miliknya masih dapat ditambah micro-SD tanpa menganggu slot kartu sim.

Dengan harga yang lebih terjangkau, Zenfone 4 Max justru malah mampu mencuri perhatian saya dibanding versi Pro-nya. Dimensi 5,2 inci, kamera yang terasa lebih baik, baterai yang tetap awet, menjadikannya bernilai di atas rata-rata untuk harganya.

Tapi ya memang processor yang dimiliki smartphone ini bukan buat diajak gaming berat ya. Kalau untuk kebutuhan casual mah sudah cukup banget. Berbahagialah para driver transportasi online karena semakin banyak saja pilihan smartphone berbaterai besar di rentang harga yang cukup terjangkau.

Sip, itu saja yang dapat saya sampaikan mengenai Zenfone 4 Max ini. Dari Kota CImahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, November 7, 2017

Review Huawei Honor 9 Indonesia, Bingung Kurangnya di Mana



Mungkin ini adalah review smartphone yang paling banyak ditagihin seingat saya. Haha, pertama maafkan saya ya kalau keluarnya lama. Tapi yang nagih artinya belum kenal saya nih. Memang lama keluar review-nya kalau ponsel yang saya jadikan sebagai daily driver mah. Kan dinikmati dulu, haha. Ngga deng, seringnya justru lebih karena Huawei Honor 9 ini banyak cutinya, diem di dalam tas karena saya masih banyak PR review yang lain.

So, buat yang udah ga sabar nungguin, terima kasih ya sudah menunggu, dan ini dia review selengkapnya dari Huawei Honor 9.



Perkenalan pertama saya dengan seri Honor dimulai dari Honor 8 yang sukses berat membuat saya ingin berhenti gonta ganti hape waktu itu. Suatu hari saya mempunyai rizki lebih dan ingin memiliki sebuah daily driver lagi, waktu itu pilihan saya adalah LG G6 atau Honor 9. Dengan selisih harga termurah antara keduanya di tokopedia yang mencapai 1,2 jutaan untuk varian RAM dan Storage yang sama, akhirnya saya memilih Huawei Honor 9 di Tokopedia dengan pertimbangan harga, nostalgia, dan ketakutan akan layar 2K milik LG G6 yg saya khawatirkan akan menguras baterai.

Dari sisi desain, Honor 9 menurut saya masih juara banget. Backcover dengan refleksi cahaya yang indah masih hadir, dan kali ini semakin indah dengan backcover yang melengkung sehingga lebih ergonomis dari Honor 8 lalu. Posisi fingerprint scanner juga sudah semakin baik, tak lagi di punggung ponsel, melainkan sudah di dagu.

Sayangnya, Huawei malah menempatkan dua buah tombol kapasitif di samping fingerprint scanner ini. Saya sendiri lebih prefer on-screen navigation soalnya. Dan kedua tombol kapasitif ini menggunakan ikon titik saja, karena memang bisa ditukar fungsinya, mau back di kiri dan recent apps di kanan, atau kebalikannya. Backlight ada sih di tombol ini, tapi buat saya yang sering gonta ganti hape dan gonta ganti layout tombol, ikon titik seperti ini sangat tidak membantu. Saat sedang tandem dengan Samsung yang tombol back-nya di kanan, di Honor 9 sering ketuker, lalu saat pindah tandem bareng ASUS yang tombol back-nya di kiri, koq masih aja sering ketuker juga ya hahaha. Intinya mah saya yang orangnya visual banget ini, lebih prefer penggunaan ikon yang sesuai action-nya daripada cuma titik saja.

Fingerprint scanner-nya sendiri nyaris datar dengan layar, hanya diberi list yang sedikit timbul dan membantu membedakan letaknya. Responsifitas dan akurasinya top class deh pokoknya. Dari ribuan kali pemindaian mungkin hanya 1-2 kali saja gagalnya, dan membuka layar dapat dilakukan secepat kilat, keren!

Speaker grille di sisi bawah sudah lebih lembut terasa di jari, walau kalau digesek-gesek mah masih terasa sedikit tajam, tapi sudah lebih baik dari Honor 8.

Sama seperti Honor 8, infrared blaster masih tetap hadir pada Honor 9 ini. Dan saya suka dengannya!
Huawei Honor 9 sudah menggunakan EMUI 5.1 berbasis Android Nougat 7.0. Notification drawer sudah digabung dengan toggles, sehingga awkward feeling di saat harus bergeser antara keduanya sudah hilang. Pada EMUI versi ini kita dapat memilih apakah mau menggunakan application drawer atau tidak. Yang paling saya rasakan perbedaannya sih Huawei semakin meningkatkan keamanan bagi pengguna, contohnya jika kita menggunakan keyboard dari pihak ketiga, Swiftkey misalnya, setiap kali mengisikan password, maka EMUI akan mengganti keyboardnya dengan keyboard bawaan, sehingga semakin memperkecil kemungkinan data password kita direkam oleh aplikasi lain yang tidak bertanggung jawab. Good job Huawei!

Sedikit kemunduran yang saya rasakan sih di EMUI 5.1 ini notifikasi terasa sedikit kurang realtime. Tapi memang baterai Honor 9 terasa lebih hemat dari Honor 8. Ya take and give lah jadinya heuheu.

Lanjut ke sisi kamera, kali ini dual-camera di sisi belakang Honor 9 memiliki setup normal dan zoom, tak lagi RGB dan monokrom seperti pada Honor 8. Dan entah kenapa saya merasa mode wide aperture-nya masih lebih baik pada Honor 8 dulu, mungkin memang setup RGB dan monokrom lebih cocok untuk bokeh-bokehan ya.

Dan saya masih sangat menikmati hasil dari kamera Honor 9 ini, foto-foto, bokeh-bokehan, lowlights, selfie, hingga merekam video, semuanya bisa dilakukan oleh Honor 9 dengan hasil yang baik. Bahkan pada beberapa event launching smartphone yang saya ikuti, saya merasa cukup mengambil foto dan video dengan Honor 9 dan tak perlu sampai mengeluarkan kamera mirrorless saya. Bahkan sebetulnya video hands-on kamera Canon EOS M6 saya itu direkam menggunakan Honor 9 ini lho, makanya saya bisa membandingkan dua buah mirrorless langsung padahal saat itu kamera saya cuma ada dua itu saja, heuheu.

Fitur kameranya sama seperti smartphone Huawei umumnya, lengkap dengan berbagai mode, dan pengaturan manual juga hadir.

Hasil lengkap foto dan video menggunakan Honor 9 dapat Anda saksikan di video review ini.



Oh ya, belum bahas dapur pacunya ya. Honor 9 menggunakan processor in-house Huawei, yaitu HiSilicon Kirin 960 yang juga digunakan oleh Huawei P10 dan P10 Plus. Skor Antutu-nya sudah tembus 100ribu, performanya smooth dan konsumsi baterainya tergolong awet, meski masih belum bisa seawet Snapdragon 821 dan 835.

Sepemakaian saya, rasanya tak pernah menemukan lag sama sekali. Rasanya memang duet processor buatan sendiri dengan OS yg juga dicustomized khusus untuknya adalah faktor di balik user experience tanpa cela ini. Dan sampai satu minggu sebelum naskah review ini saya tulis, saya masih mendapat update OTA di Honor 9 yang tujuannya meningkatkan keamanan dan daya tahan baterai, tinggal tunggu saja nih kebagian Android Oreo ngga ponsel ini.

Audio dari Honor 9 juga sangat enjoyable, walau cukup disayangkan kali ini speakernya hanya memiliki mono driver.

Saya sangat betah sebetulnya menggunakan Huawei Honor 9. Yang ngga bikin betah sih justru karena saya harus mencoba smartphone lain untuk saya review, dan itu kadang lebih dari satu dan membuat Honor 9 sering vakum jadinya. De javu, sama seperti pengalaman mengunakan Honor 8 dulu. Ya, cuma dua ponsel ini saja yang dalam satu tahun terakhir ini mampu bertahan hingga dua bulan dalam pemakaian saya. Nampaknya ada kutukan bahwa saya tak boleh punya daily driver nih, jangan-jangan gara-gara nama akunnya Gonta Ganti Hape ya, huhu serem ah...

Tentunya Honor 9 ini menonjol banget dari sisi looks dan estetika desainnya. Oh ya layarnya juga sangat indah memproduksi warna, walau entah kenapa saya merasa tidak seterkesima saat pertama mencoba Honor 8 dulu, mungkin efek kepuasan yang menurun karena sudah pernah kali ya. Tapi Honor 9 bukan hanya pesolek yang cantik di luar saja lho, jeroannya juga top class, performanya sangat baik dengan konsumsi daya yang masih tergolong awet.

Cukup sulit untuk mencari kelemahan dari ponsel ini selain masalah kebiasaan. Ya, saya masih lebih nyaman menggunakan on-screen navigation ketimbang tombol kapasitif berikon titik saja seperti ini. Sisanya mungkin faktor harga, ketersediaan produk, dan jaminan purna jualnya saja. Saat ini harga di toko online lokal masih cukup tinggi, dengan stok yang sedikit, dan tentu saja garansi resminya hanya berlaku di daratan Cina sana.

Saya sendiri menemukan harga Huawei Honor 9 di GearBest.com sudah turun cukup banyak, Anda bisa cek ketersediaan dan harganya di link yang saya berikan di deskripsi ya. Honor 9 ini sejatinya tersedia dalam pilihan warna Biru, Emas, Hitam, dan Abu-abu. Menurut saya selain warna Biru, yang abu-abu juga cukup memikat lho. Oh ya, selain versi RAM 4 GB dan storage 64 GB seperti yang saya ulas ini, Honor 9 tersedia dalam versi tertinggi dengan RAM 6 GB dan storage 128 GB juga lho.

Sip, demikian review dari Honor 9. Mohon maaf membuat menunggu lama hehe. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, November 6, 2017

Review Xiaomi Mi Note 3, Smartphone Xiaomi dengan Kamera Terbaik?



Banyak sekali yang menyayangkan kenapa Mi Note generasi terbaru malah menggunakan processor Snapdragon berkepala 6, dan bukan kepala 8 seperti sebelumnya.

Saya sih maklum saja, memang masih banyak yang hanya melihat angka saja, banyak pula yang main judge tanpa mencoba terlebih dahulu. Padahal kenyataannya, belum tentu seperti deretan angka yang bisa dilihat itu saja. Jadi apakah Xiaomi Mi Note 3 ini tak lebih baik dari pendahulunya? Baca terus ulasan ini ya.



Saya sebetulnya tak pernah mencoba Xiaomi Mi Note 2 yang menggunakan Snapdragon 821 itu. Tapi memang, Mi Note 3 ini seperti mendobrak kebiasaan seri Mi Note sebelumnya.

Pertama, layarnya tak lagi 5,7 inch, melainkan tinggal 5,5 inch saja. Dan dengan bezel pinggir yang terbilang tipis, Mi Note 3 ini enak banget digenggam dan dibawa-bawa lho.

Kedua, layar Mi Note 2 yang tepiannya ala-ala Edge-nya Samsung juga tak dipertahankan. Mi Note 3 cukup hadir dengan layar bertepian 2.5D saja.

Ketiga, ya itu tadi, Mi Note generasi ketiga ini memakai processor Snapdragon 660, padahal mungkin kebanyakan orang menyangka kalau Mi Note 3 ini akan menggunakan Snapdragon 835 jika menilik kebiasaan sebelumnya.

Bagi saya sendiri, Mi Note 3 ini lebih seperti Mi 6 dengan layar yang sedikit lebih besar dan body yang lebih tipis. Ya soalnya sama-sama memiliki kamera ganda di belakang, dan fingerprint berupa cekungan di dagu ponsel. Mungkin juga karena pilihan warnanya sama-sama ada hitam dan biru juga kali ya.

Jika disuruh memilih, dari sisi processor saya lebih condong ke Mi 6. Bukan karena Snapdragon 660 tak kencang, kalo soal ini mah tidak ada masalah koq, mau main game berat juga hayuk, skor Antutu benchmark juga masih tembus 100ribuan. Snapdragon 660 saya rasa tak sebaik processor Snapdragon 821 atau 835 dalam hal konsumsi daya baterainya. Rata-rata mampu menembus 24 jam memang tak boros, tapi juga tidak bisa dikatakan awet jika dibandingkan dengan Mi 6 yang mampu menembus 48 jam dengan kapasitas baterai setara.

Tapi dari sisi kamera, saya lebih suka dengan kamera Mi Note 3. Nampaknya klaim dari situs GizChina yang menyebut Mi Note 3 sebagai ponsel Xiaomi berkamera terbaik sejauh ini benar adanya. Bokeh dengan portrait mode-nya indah sekali, tidak ada kesan maksa atau tidak natural di sini. Lowlights oke, HDR pun mantap.

Video recording? dengan bantuan OIS 4-axis-nya, vlogging atau sekedar merekam kegiatan dalam keadaan bergerak pun terasa nikmat dan hasilnya pun memuaskan. Mending mana sama Mi Mix 2? Duh maaf-maaf aja, Mi Note 3 sih ngga bikin sedih hahaha. Kecuali satu deng, masalah perekaman audio masih sedikit kurang baik menurut saya.

Yuk kita buktikan kualitas kameranya melalui gambar dan video berikut ini!



Saat saya uji, Mi Note 3 ini masih menggunakan  MIUI 8.5 dan belum tersedia MIUI 9 meskipun versi beta. Dan saya sempat ilfeel dengan ponsel ini karena notifikasi telat parah. Email dari jam 12 siang tak masuk-masuk sampai jam 7 malam. Rupanya saya harus buka aplikasi Gmail-nya lalu refresh sendiri. Subhanallah!

Ya saya tahu, memang ada pengaturannya supaya aplikasi tidak ditutup saat kita melakukan clear recent apps. Ada juga pengaturan untuk autostart dan lain-lain. Tapi maaf, saya yang sehari-hari bekerja bareng android developer di tim, tahu persis apa itu yang namanya background service atau yang di Android dinamakan intent. Service-service ini seharusnya bekerja di belakang layar dan tidak diganggu dengan alasan apapun, walaupun itu untuk penghematan daya. Saya cuma bisa berdoa di MIUI 9, managemen aplikasi dan daya tidak separah ini membuat notifikasi telat ya, amin.

Satu hal positif lain pada Mi Note 3 adalah masih hadirnya infrared blaster pada ponsel ini. Tak seperti Mi Mix 2 yang ah sudahlah, hahaha.

Tapi memang, sama seperti Mi 6 dan Mi Mix 2, Mi Note 3 juga tak memiliki port audio 3,5 mm. Tapi sebuah adapter jack audio ke usb type-C ini disediakan di dalam paket penjualan, menemani sebuah softcase hitam semi transparan yang sangat tipis dan melekat dengan baik di ponsel ini. Semua seri Mi high-end tahun ini pada dapet case ya.

Gaming, browsing, streaming, dan multimedia semua mampu dilahap dengan baik dan sangat lancar. Nyatanya Snapdragon 660 bukanlah processor yang bisa dianggap sebelah mata meskipun tidak berawalan angka 8. Pada video unboxing memang banyak yang menyayangkan masalah ini, mungkin karena waktu itu harganya masih 11-12 dengan Mi 6 ya.

Tapi jika Anda coba cek lagi sekarang di link Xiaomi Mi Note 3 yang saya berikan ini, sudah terlihat pergerakan harganya diGearBest.com yang semakin menurun, dan sudah lebih murah dibandingkan Mi 6 lho.

Kesimpulan saya sih Mi Note 3 masuk ke smartphone yang direkomendasikan untuk dimiliki. Kameranya itu  lho, cetar banget euy! Tapi kalau Anda masih galau mau Mi Note 3 atau Mi 6, paling saya hanya bisa bilang jika mencari performa dan daya tahan baterai serta ukuran yang lebih compact, Mi 6 tetap jadi pilihan yang lebih baik. Tapi jika kamera lebih Anda utamakan, serta butuh layar lebih besar namun body lebih tipis, Mi Note 3 pantas untuk dimiliki.

Seperti biasa, intinya mah sesuaikan dengan kebutuhan ya. Kalau Anda lagi butuh buang-buang uang, tenang, ada Mi Mix 2 koq, hahaha.

Ok, gitu aja ya review dari Xiaomi Mi Note 3 ini. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Friday, November 3, 2017

Review Samsung Galaxy J7+ (J7 Plus), Kualitas Dual-Camera ala Samsung!



Setelah sekian lama, akhirnya saya berkesempatan mengulas kembali sebuah smartphone keluaran Samsung. Dan kali ini yang saya ulas adalah Samsung Galaxy J7 Plus. Plus-nya di mana? Simak terus ulasan ini sampai akhir ya.

Untuk tahu persis apa Plus-nya ponsel ini dari varian J7 yang lain, kita tak perlu mencoba semuanya lho. Cukup balikkan ponsel ini, lalu lihat ke bagian backcover-nya. Yap, di situ terdapat dua buah kamera, yang baru dihadirkan Samsung pada J7 Plus dan Note 8 sejauh ini.



Secara spesifikasi, kamera ini seharusnya mampu menghasilkan efek bokeh yang baik, serta memiliki kemampuan lowlights prima. Kenapa? Karena bukaan lensa alias aperture-nya yang mencapai F/1.7. Hmmm, asli bikin penasaran banget buat saya mencoba menjepret berbagai objek menggunakan kameranya.

Setup dual-kameranya sendiri adalah RGB dan Monokrom. Yang sudah-sudah, setup seperti ini mampu menghasilkan efek kedalaman yang lebih prima. Dan lagi, setelah gambar diambil pun kita bisa mengatur Depth of Field dan tingkat blur di sekitar objek yang mendapat fokus. Jadinya saat memotret, kita tinggal jepret-jepret saja dulu agar tak kehilangan momen, baru sesuaikan lagi hasilnya belakangan.

Kamera belakang beresolusi 13 Megapixels ini tentunya akan sangat cukup untuk mengabadikan kegiatan Anda untuk diunggah ke social media.

Beralih ke kamera di sisi depan Galaxy J7 Plus, Samsung membekali ponsel ini dengan kamera selfie beresolusi super besar di 16 Megapixels! Menggunakan bukaan lensa F/1.9, hasil fotonya tentu juga cerah. Selama proses pengujian, nampaknya saya harus merahasiakan keberadaan ponsel ini dari istri saya. Maklum, ga boleh denger kata Samsung, istri saya pasti mau, haha.

Terlebih, kamera depannya ini diperkaya dengan fitur-fitur seperti efek bokeh dan yang pasti wajib mah beautify ya. Mau lucu-lucuan? Stiker AR serta stamp bisa ditambahkan langsung saat pemotretan berlangsung. Dan jangan sampai lupa, di sisi depan juga diletakkan sebuah LED Flash untuk membantu pencahayaan saat selfie.

Panjang lebar membahas kelebihan kamera rasanya tak afdol ya kalau tidak lihat langsung hasilnya. Ya sudah, seperti biasa mari kita saksikan bersama deretan foto hasil jepretan saya menggunakan kamera dari Samsung Galaxy J7 Plus.



Selesai dengan kamera, kita lanjut ke bagian desain dan build quality yuk. Galaxy J7 Plus mengusung desain full metal unibody yang tipis di 7,9 mm saja. Meskipun berbahan metal, grip dari body ponsel ini  masih terasa solid lho.

Dengan pilihan warna black dan gold, Samsung memberikan pilihan warna yang dapat digunakan baik oleh pria dan wanita. Kita tunggu apakah akan hadir juga varian rosegold-nya atau tidak ya.

Di sisi depan, ponsel ini seperti ponsel mid-to-high Samsung lainnya, didominasi oleh panel layar Super AMOLED, yang sudah terkenal memiliki brightness, contrast, dan vibrancy yang baik. Vivid, satu kata yang mungkin paling mewakili karakter layar ini. Dengan resolusi Full HD 1080p pada dimensinya yang 5,5 inci, ketajaman layarnya dipastikan bisa dinikmati ketika memutar video, melihat galeri foto, maupun sekedar browsing ria di socmed.

Sekalian bahas soal multimedia, kita bahas juga audio-nya ya. Audio pada Samsung Galaxy J7 Plus terdengar cukup detail dan terkontrol dengan baik, walaupun mungkin bukan yang paling powerful yang pernah saya coba. Peletakan loudspeaker di sisi kanan atas cukup sesuai saat ponsel ini diletakkan berdiri secara landscape di meja. Namun saat dipegang tangan, semisal saat bermain game, cukup rentan tertutup telunjuk kiri bagi yang belum terbiasa.

Penempatan fingerprint scanner di sisi dagu ponsel sampai saat ini masih menjadi preferensi saya yang memang lebih sering meletakkan ponsel di atas meja. Dan so far, Galaxy J7 Plus memiliki akurasi serta waktu respon yang baik, serta dapat dioperasikan sejak layar dalam keadaan mati.

Saya sendiri lebih prefer untuk menggunakan fitur Always on Display pada J7+ ini. Berkat layar Super AMOLED yang memiliki kelebihan bisa mematikan penggunaan daya pada semua pixel berwarna hitam, saya bisa dengan tenang melihat berbagai notifikasi muncul pada layar ini tanpa khawatir akan banyak menyedot baterai. Dan jangan takut, LED notification masih hadir koq di sisi kanan atas bagian depan ponsel ini buat Anda yang tidak ingin menggunakan Always on Display.

Satu kekurangan yang sebetulnya tak terlalu mengganjal adalah absennya lampu latar pada tombol kapasitif di bawah layarnya. Oh ya, ada satu lagi yang membutuhkan adaptasi untuk saya, yaitu tombol fisik yang harus ditekan untuk berfungsi sebagai tombol home. Tapi ini faktor kebiasaan saja sih.

Dengan RAM sebesar 4 GB dan processor octa-core dengan clockspeed hingga 2,4 GHz, performa Galaxy J7 Plus bisa dibilang tak menemui kendala saat dihadapkan dengan multitasking maupun gaming. Ya, Helio P20 sejauh ini masih jadi favorit saya dari semua jajaran processor keluaran Mediatek. Performanya masih bisa diandalkan dengan baik, dan konsumsi dayanya masih sangat reasonable.

Dan dengan pemakaian casual, baterai 3.000 mAh yang disematkan pada ponsel ini, selalu bisa diandalkan dalam berkegiatan sehari-hari.

Samsung Galaxy J7 Plus memiliki dukungan frekuensi 4G yang sangat banyak. Ini adalah kabar baik bagi Anda pengguna operator Smartfren. Ya semua smartphone Samsung Galaxy seri J terbaru sudah mendukung penggunaan simcard dari operator merah ini. Ini cukup penting karena beberapa orang yang saya kenal selalu mensyaratkan support jaringan Smartfren lho saat hendak mencari ponsel baru. Hanya saja saya belum menemukan dukungan VoLTE pada smartphone ini, jadi masih perlu dicari tahu apakah support untuk sms dan voicecall menggunakan Smartfren atau tidak.

Masuk ke kesimpulan, secara umum Samsung Galaxy J7 Plus adalah satu dari sedikit ponsel Samsung yang sudah hadir dengan kamera ganda. Kamera ini membawa banyak fitur yang bisa Anda manfaatkan. Dan bisa Anda miliki dengan harga yang lebih terjangkau daripada satu ponsel berkamera ganda dari Samsung lainnya yang juga hadir baru-baru ini.

Titik fokus kelebihan dari ponsel ini ada pada build quality yang baik, finishing yang lembut dan memberikan grip yang baik, serta kamera belakang dan depan yang sama-sama baik hasilnya. Satu highlight khusus perlu diberikan pada kamera belakangnya yang sudah ganda, dan memiliki aperture yang besar.

Jangan lupakan masalah layar ya, bagi sebagian orang layar Super AMOLED adalah sebuah impian.

Kapasitas baterai sebetulnya cukup, namun melihat trend saat ini ada baiknya jika Samsung mulai mempertimbangkan untuk menambah kapasitas baterainya ya. Walau langkah yang diambil Samsung saat ini bisa dimengerti dengan maksud menjaga form factor smartphone ini agar tetap tipis seperti ini. Sisanya tak banyak komplain saya pada smartphone ini selain posisi loudspeaker yang butuh adaptasi dari pengguna baru seperti saya, dan faktor harga. Pada level harga hampir menyentuh angka lima juta, jadinya malah bersaing dengan jajaran smartphone Samsung lainnya dari A-series yang memiliki kelebihan pada ketahanan airnya.

Demikian review dari saya, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Review Infinix Note 4, Lebih Kece dari Note 4 Lainnya



Jika ada brand smartphone yang boleh disandingkan dengan brand yang mending-mending itu dalam hal inovasi dan price positioning, saya rasa Infinix adalah salah satunya. Dan kali ini Infinix memberikan kejutan melalui produk terbaru mereka, Infinix NOTE 4. Apa kejutannya? Lanjut..

Kejutan pertama dari Infinix NOTE 4 adalah harga jualnya saat pertama diluncurkan, yaitu sebesar Rp 2.049.000 saja. Anda boleh deh cek berapa harga Infinix NOTE 3 sang kakak, masih di kisaran 2,5 juta Rupiah lho. Apa namanya kalau bukan kejutan coba? Produk generasi terbaru, harganya malah lebih murah.

Nampaknya sih Infinix sadar perubahan strategi pricing mereka saat menelurkan Infinix NOTE 3, ZERO 4 dan 4 Plus, serta S2 Pro tidak terlalu tepat sasaran. Nyatanya Zero 4 dan S2 Pro sering sekali dijual di Lazada dengan diskon gila-gilaan. Padahal kalau dengan harga diskon seperti itu, Infinix S2 Pro bisa jadi hape sejutaan dengan kamera terbaik saat ini, depan belakang!

Dan saya cukup senang saat menemukan kualitas kamera Infinix NOTE 4 bisa dikatakan sebaik Infinix S2 Pro. Dari informasi yang saya dapatkan, Infinix memang sampai hire orang khusus untuk melakukan tuning kamera mereka. Anda yang mengamati produk Infinix dari awal masuk Indonesia seharusnya tahu lonjakan kualitas kamera smartphone mereka. Seingat saya perbaikan signifikan ini dimulai sejak Infinix merilis Hot S.

Lalu seperti apa sih kualitas kameranya sekarang? Langsung saja kita saksikan pada video berikut ini.



Sudah lihat hasilnya? Anda boleh tuliskan pendapat atau penilaian Anda di kolom komentar ya. Namun bagi saya, hasil kamera seperti ini tak pantas ada pada smartphone 2 juta lebih 49 ribuan seperti Infinix NOTE 4 ini. Pantasnya di hape seharga 3 hingga 4 jutaan. Good job Infinix!

Dengan kamera sekece ini, Infinix NOTE 4 sangat mungkin bisa jadi alternatif buat mereka yang sudah kadung terbiasa menggunakan smartphone berbaterai 4.000 mAh tapi tak puas dengan hasil kameranya. Ya, Infinix NOTE 4 sudah memiliki baterai 4.300 mAh yang dapat dilihat saat kita membuka backcover-nya. Meskipun begitu, baterainya tak bisa dilepas oleh pengguna ya. backcover ini dapat Anda buka saat ingin mengakses dua slot micro sim card dan satu slot micro-sd dedicated miliknya.

Nah, ngomong-ngomong soal backcovernya ini, Infinix memberi kejutan dengan pola refleksinya yang terlihat seperti ponsel daily driver saya, Honor 9. Patut dicatat harga Honor 9 ada di kisaran 5-6 jutaan lho. Walaupun memang sih, bahan yang dipilih Infinix untuk backcover ini masih plastik, bukan kaca. Dan saya sarankan jangan lepas lapisan pelindung yang sudah Infinix pasangkan dengan rapi. Karena dalam pemakaian yang seingat saya sudah sangat hati-hati, saya menemukan goresan halus sudah muncul di sana.

Frame pinggirnya sendiri terbuat dari logam dan memiliki feels yang solid. Di sisi depan, layar SHARP berdiagonal 5,7 inch dengan resolusi Full HD siap memanjakan mata kita. Ya, layarnya saya beri penilaian bagus.



Satu hal yang butuh membiasakan diri lagi adalah tombol home fisik yang perlu ditekan dulu agar layar menyala dan pemindaian sidik jari dapat dilakukan. Nah, entah kenapa, pasca unboxing sih fingerprint scanner ini selalu berhasil memindai dengan cepat dan akurat. Namun setelah satu kali update OTA saya terima, beberapa kali setelah pemindaian berhasil, saya masih dimintai pattern untuk membuka layar. Semoga Infinix notice akan hal ini dan segera menggulirkan pembaruan software untuk Infinix NOTE 4 ini ya.

Masalah performa tak lepas dari SoC apa yang dipilih untuk digunakan. Dan dalam hal ini mungkin netizen yang hobby membully serasa mendapat angin begitu tahu Infinix masih menggunakan Mediatek MT6753 untuk NOTE 4 ini. Processor ini sebetulnya tidak punya masalah yang fatal sih, selain sudah terasa jadul saja.

Sangkaan saya sih, mungkin Infinix ingin lebih mudah memanage software XOS mereka. Dan ini bisa tercapai kalau semua perangkat mereka menggunakan SoC yang sama. Tapi jangan takut, SoC ini diberi beberapa tambahan untuk mendukung fitur-fitur terbaru, semisal adanya chip khusus agar NOTE 4 ini mampu menerima arus besar. Dan saya pernah coba mengisi dayanya dengan charger yang support Qualcomm QuickCharge 3.0, dan secara mengejutkan NOTE 4 mampu menerima pengisian daya cepat ini lho!

Dalam penggunaan saya, dua hari dua malam bisa mudah dilewati Infinix NOTE 4 dengan pemakaian casual di hari kerja. Satu yang cukup terasa dari performanya sih cukup lambat saat berpindah antar aplikasi, dan ini yang membuat saya berharap Infinix mau mempertimbangkan processor baru untuk produk selanjutnya, Helio P20 mungkin?

Highlight positif saya berikan untuk Infinix NOTE 4 dalam hal looks, daya tahan baterai, dan tak lupa yang paling menonjol adalah kameranya. Belum memiliki kamera ganda memang, tapi sudah sangat bisa diandalkan, apalagi harganya hanya Rp 2.049.000 saja. Namun memang Anda harus sedikit sabar untuk masalah multitasking, tunggu sedikit sebelum Anda menikmatinya hehe.

Oh ya, jadinya driver ojek online punya alternatif baru nih, smartphone terjangkau dengan baterai besar dan hemat. Masalah GPS lock yang dulu hadir pada MT6753 saya rasakan sudah tak terasa lagi, sekarang sudah cepat dan akurat. So, pake Infinix NOTE 4 buat ngojek? Why not!

Sekian yang bisa saya sampaikan, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, October 30, 2017

Sudio Vasa Bla, Review Earphone Swedia Pakai Kuping Cimahi



Setelah sekitar satu minggu pemakaian, saya akhirnya baru mengenali karakter dari bluetooth earphone  paling premium yang pernah saya coba ini. Satu yang saya tekankan buat Anda yang hendak mencobanya, coba putar lagu dengan kualitas atau bitrate yang tinggi. Kalau pake Spotify, set quality-nya ke extreme sekalian. Kenapa begitu? Jawabnya ada di ujung langit, hahaha. Ngga deng, kalau nonton terus mah nanti juga tahu kenapa.

Ini adalah Sudio Vasa Bla. Saya mendapatkan yang berwarna biru, namun housing-nya sih tetep warna rosegold. Satu hal yang masih jadi pertanyaan saya sendiri, kenapa sih maksa banget kombinasinya haha.

Kalau kamu mau tahu seperti apa packaging dan kelengkapan penjualannya, saya sarankan untuk tonton dulu video unboxing-nya. Sudio Vasa Bla benar-benar menebar kesan premium sejak dari kemasan paling luarnya.



Dan leather pouch-nya ini sangat berguna agar kita merasa lebih aman saat membawanya. Agar tak lekas putus pas masih sayang-sayangnya, juga agar tak mudah kusut, kaya muka kamu pas tahu harga earphone ini. Hahaha.

Memang harganya berapa? Ini dia harganya. Yap, sejutaan. Tapi kalau kamu membelinya di web official sudio yang sudah berbahasa Indonesia, dan menggunakan kode diskon "GontaGantiHape", maka jumlah yang harus dibayar tinggal sekitar 700ribuan dan sudah gratis ongkos kirim. Ga kena bea masuk koq, tenang aja. Pakai DHL, sekitar 4 harian sudah sampai di Cimahi. Padahal dikirimnya jauh, dari Estonia apa Swedia gitu, Eropa Wetan lah pokoknya heuheu.

Build quality dari Sudio Vasa Bla yang saya rasakan sih cocok lah dengan harganya. Baterainya cukup tahan lama, bisa dipakai berkali-kali sebelum indikator lowbat-nya berbunyi. Di kuping terasa pas banget, sehingga isolasi suara luar dapat terjadi dengan baik.

Karakter suaranya gimana? Nah ini dia yang saya sempat heran. Awalnya saya merasa kalau ini adalah earphone all-rounder dengan fokus pada detail suara yang baik, dengan bass yang warm tapi ngga boomy alias ga nendang banget. Cocoknya buat yang ingin mendengarkan suara yang mendekati aslinya lah.

Lalu habis nonton review produk ini di channel-nya Kang Nico yang malah bilang sebaliknya, saya sampai mendengarkan kembali berbagai lagu dengan earphone ini. Dan saya pun tahu salah saya di mana, hahaha.

Ya, kebanyakan dipakai dengerin Spotify dengan kualitas standar. Karena begitu mendengarkan musik-musik yang hi-res, minimal di 320 kbps lah bitratenya, dentuman bass-nya kerasa banget nendangnya. Ya Allah, nikmat banget kerasanya di kuping. Untung nonton dulu review-nya ObatGaptek nih, ga jadi dijual lagi deh ini earphone, hahaha.

Dipakai dengerin lagu-lagu di album pertama Sam Smith cocok bener dah, bass-nya serasa dieksploitasi buat jadi tukang pijit kuping heuheu. Sayangnya lagunya Michael Buble mah butuh treble yang bagus juga, jadinya kurang cocok malah, padahal karakter vokalnya masuk.

Setelah beberapa bulan lalu kesampaian nyobain headphone 2-jutaan, Sudio Vasa Bla ini seperti memberikan nostalgia buat saya menikmati audio kelas atas. Ya sesuai harganya lah. Selain itu, konektifitas bluetoothnya juga prima, tidak gampang disconnect, dan juga tak mudah putus-putus suaranya walaupun memutar lagu dengan bitrate tinggi.



Jadinya, buat kamu yang memang budgetnya ada, apalagi tanggal-tanggal gajian gini, lalu pengen step up the game, nyobain kenikmatan level selanjutnya dari sebuah earphone, Sudio Vasa Bla ini saya rekomendasikan untuk dicoba. Ingat, kalau kamu sudah bahagia dengan earphone 100ribuan dan budgetnya belum sampai, mending ngga usah dulu deh, pengalaman saya, kalau kuping udah kena audio mahal, susah balik lagi ke yang murah cuy, heuheu.

Link pembelian dan kode diskon saya sertakan di bawah ini ya. Siapa tahu kamu khilaf, hehehe.

Kode kupon diskon 15%: "GontaGantiHape" dapat digunakan di situs resmi www.sudiosweden.com/id (GRATIS Ongkir ke Indonesia). Harga dalam Rupiah, dan web berbahasa Indonesia.

Okay, sekian review produk earphone Swedia ala kuping Cimahi ini. Aa Gogon pamit undur diri, wassalam.

Wednesday, October 25, 2017

Review Moto G5s Plus Indonesia, Best Buy 2017?



Ketika tahu Lenovo Indonesia memasukkan seri Moto G terbaru ke Indonesia saja, saya sudah senang. Terbayang saya akan bernostalgia dengan kenangan saat dulu memiliki Moto G seri pertama dengan berbagai shell yang dimilikinya.

Ketika tahu yang masuk adalah varian G5s Plus dengan RAM 4 GB, makin senang sajalah saya.

Dan ketika sehari sebelum launching resminya, santer bocoran yang menyebutkan ada koreksi harga dari yang sebelumnya diketahui sebesar Rp 3.999.000 menjadi hanya Rp 2.999.000 melalui pre-order di Lazada.

Luar biasa! Dengan harga yang diposisikan lebih murah dari smartphone tetangga yang juga baru rilis, Moto G5s Plus mampu menyedot banyak sorotan calon konsumen di Indonesia yang masih mempertimbangkan value berbanding harga dari produk yang akan mereka beli. Kenapa saya bilang begini? Karena ada juga sebagian calon konsumen yang tak mempersoalkan ini, dan lebih condong fanatis hanya kepada satu brand saja.

Nah, bagi yang mempertimbangkan value, susah rasanya untuk mengesampingkan Moto G5s Plus dari pilihan, mengingat produk ini memiliki harga di luar kebiasaan Moto yang umumnya ada pada level mendekati premium.



Dengan harga tiga juta kurang seribu, mendapat ponsel Moto dengan processor Snapdragon 625, RAM 4 GB, sensor NFC, dukungan fast charging, dan kamera belakang ganda adalah luxury. Dan semua itu dibalut dalam body full metal yang terasa kokoh sekali. Benar-benar best buy tahun ini.

Saking luar biasa harganya, jadinya serasa terlalu mempromosikan smartphone yang satu ini ya. Sebetulnya masyarakat juga bisa menilai sendiri koq, lihat saja flash sale Moto G5s Plus yang selalu sold-out di Lazada. Terlepas dari strategi penjualannya seperti apa, ini adalah indikasi tingkat penerimaan pasar terhadap produk ini. Seingat saya produk Moto lainnya tak sampai begini lho.

Okay, lalu apakah ponsel ini tak punya kekurangan? Tentu saja ada. Dan keluhan paling pertama yang saya rasakan justru adalah feels-nya di tangan. Meskipun terasa kokoh dan mantap, sebetulnya saya tak terlalu nyaman saat menggenggamnya. Ini dikarenakan bagian frame metal di sekitar tepi layar yang terasa tajam sekali, membuat saya yang mudah terluka dan sering gagal move-on ini selalu merasa riskan, hehehe.

Kedua adalah masalah ketiadaan LED notifikasi, yang memang diganti oleh kehadiran Moto Display. Masalahnya adalah layar Moto G5s Plus bukanlah AMOLED yang bisa memadamkan semua pixel berwarna hitam pada layar. Jadinya saya memiliki kekhawatiran kalau sering-sering mengecek Moto Display ini, takutnya bikin boros baterai. Selain itu, untuk mengaktifkan Moto Display pada ponsel ini rasa-rasanya tak semudah seperti saat menggunakan Moto Z2 Play di mana lambaian tangan di atas layar selalu berhasil memunculkannya. Pada Moto G5s Plus kadang berhasil, kadang tidak, kadang baru muncul saat ponsel saya angkat dari meja, cukup membingungkan jadinya.

Ketiga tentunya masalah ketiadaan magnetic sensor, walaupun saya sebetulnya jarang memanfaatkan kompas dalam keseharian saya. Tapi sensor ini cukup penting untuk menentukan ke arah mana kita menghadap saat menggunakan ponsel untuk navigasi dari keadaan diam, misalnya saat sedang dalam kemacetan. Karena kalau dibawa bergerak sih mungkin ga masalah ya, Maps bisa melihat arah pergerakan kita.

Keempat, masalah dual kameranya. Masih kurang akurat dalam menentukan bagian mana yang seharusnya mendapat fokus dan mana yang tidak. Padahal pengalaman saya menggunakan kamera ganda dengan setup RGB dan monokrom pada ponsel dari brand lain malah justru mampu memberikan hasil blurring yang sangat baik. Jadi saya rasa kita harus menunggu perbaikan dari masalah software hingga fitur dari kamera ganda ini bisa lebih mudah digunakan. Ya, saat ini cukup sulit mencari angle yang bisa menghasilkan efek bokeh yang rapi dan menawan.

Selain masalah-masalah ini, Moto G5s Plus mampu memenuhi bahkan melebihi ekspektasi saya pada ponsel seharga 3-jutaan. Nah, seandainya nanti harganya berubah, semisal jadi 4 juta Rupiah, bisa jadi penilaian saya ini berubah ya. Meskipun rasanya harga 4 juta pun terasa wajar saja untuk apa yang ditawarkan oleh Moto pada G5s Plus ini.

Performa Snapdragon 625 sejauh ini belum pernah mengecewakan saya dari masalah responsifitas dan kemampuan mengelola task yang cukup berat sekalipun. Demikian juga dengan konsumsi daya yang seperti biasanya, tergolong hemat. Ya, Moto G5s Plus dalam pemakaian saya selalu mampu membawa baterai 3.000 mAh miliki G5s Plus ini menembus satu hari dan satu malam. Kehadiran fitur turbo charging memberi nilai lebih karena kita dapat mengisi dayanya dengan cepat.

Layar dari Moto G5s Plus pun tergolong baik, di mana dimensi 5,5 inci berbanding resolusi Full HD masih sangat mampu menghasilkan kombinasi yang enak dilihat. Vibrancy cukup, dan viewing angle luas, overall layarnya baik hanya saja memang brightness maksimalnya tak terang-terang amat.

Fingerprint scanner berada pada posisi terbaik menurut saya, dan bentuknya yang berupa cekungan tanpa frame membuat sangat nyaman bagi saya untuk melakukan pemindaian. Akurasi dan waktu responnya juga jempolan.

Oh ya, sedikit bahas soal kamera lagi, saat mengambil gambar umumnya hasil foto pada Moto G5s Plus akan terlihat memiliki tone yang warm, agak kekuningan. Namun saat saya pindahkan ke komputer sih hasilnya terasa normal dan warnanya akurat. Perekaman video cukup stabil, dan pengambilan gambar dalam kondisi lowlights masih tergolong usable meski tak bisa dibilang istimewa.

Meski tak digolongkan sebagai ponsel selfie, Moto G5s Plus sebetulnya asyik digunakan berswafoto. Angle kamera depannya terbilang wide, dan Moto memberikan bonus LED Flash untuk membantu selfie pada kondisi kurang ideal.

Hasilnya seperti apa? Seperti biasa, saya tampilkan pada video review berikut ini, agar Anda bisa menilainya sendiri. Silakan.



Tak banyak yang bisa saya simpulkan mengenai Moto G5s Plus ini selain merekap semua hal yang sudah saya jabarkan dari awal video ini. Simplenya sih gini, selama harganya masih 3 jutaan, maka bisa dibilang ponsel ini adalah best buy di penghujung tahun 2017 ini. Tinggal Anda cek apakah kekurangan yang dimilikinya akan mengganggu aktifitas normal Anda saat menggunakan smartphone? Tapi jangan lama-lama mikirnya ya, tiap flash sale habis terus, dan kita juga tak tahu sampai kapan harga luar biasa ini akan bertahan.

Yap, saya merekomendasikan ponsel ini sebagai ponsel yang sangat pantas dimiliki di level harga 3 jutaan. Tapi semua tergantung pada kebutuhan dan selera Anda juga. OK?

Sekian ulasan ala Aa Gogon untuk Moto G5s Plus, dari Kota Cimahi saya pamit, wassalam!

Friday, October 20, 2017

Review Xiaomi Mi MIX 2 Indonesia, Si Cantik yang Suka Bikin Sedih



Mi Mix 2 adalah smartphone Xiaomi dengan harga tertinggi saat ini. Lucunya, di video unboxing-nya banyak fans dari Xiaomi yang balik arah begitu tau harganya, udah ngga mending lagi katanya. mending beli motor seken katanya. Haha, memang betul sih, Mi Mix 2 tergolong premium sekali untuk Xiaomi yang selama ini memiliki image produk-produknya selalu menawarkan best price to value comparison. Tapi apakah Mi Mix 2 ini tak sebanding dengan harganya? Kita bahas terus yuk, selengkapnya di review kali ini.



Xiaomi Mi Mix 2 ini saya dapatkan dari GearBest.com dengan harga termurah ada pada kisaran $569 untuk varian RAM 6 GB dengan storage 64 GB. Kalau dirupiahkan mungkin sekitar 7,5 juta ya. Kalau hanya menghitung spesifikasi jeroan, jelas lebih baik Mi 6, atau juga OnePlus 5.

Namun Mi Mix 2 menawarkan hal lain yang tak didapat pada kedua ponsel tersebut.

Pertama adalah experience menggunakan smartphone yang hampir seluruh bagian depannya merupakan layar. Ini adalah Xiaomi pertama yang saya coba yang sudah menggunakan on-screen navigation. Dan sepanjang penggunaannya, saya sangat sangat menikmatinya.

Memandangi layar dari Mi Mix 2 adalah sebuah kepuasan tersendiri. Dan harga yang premium memang terbayar dengan feels dan experience yang didapat. Saya adalah penyuka navigasi di layar, yang mana selama ini tak pernah saya rasakan pada produk Xiaomi, kecuali pakai custom ROM ya. Dan menulis naskah untuk video ini benar-benar membuat saya merindukan ponsel yang sudah saya jual kembali ini, hahaha.

Efek samping dari penggunaan layar yang hampir memenuhi seluruh bagian depan adalah letak fingerprint scanner yang harus mengalah dan pindah ke bagian belakang. Ya, bagi saya posisi ideal fingerprint scanner masih di sisi depan sih, dan kenyamanan saya sedikit berkurang karenanya. Tapi untungnya, sensor pemindai sidik jari yang dimiliki oleh Xiaomi Mi Mix 2 ini memang top class, cepat dan akurat sekali!

Sekalian bahas sisi belakang, ini adalah salah satu luxury lain yang ditawarkan oleh ponsel ini. Menggunakan bahan ceramic, backcover Mi Mix 2 jadi salah satu yang terindah yang pernah saya coba. Cukup disayangkan memang bahan ini masih membuat bekas sidik jari dan minyak tercetak jelas. Xiaomi membekali sebuah hardcase pada paket penjualannya. Namun, meskipun case ini terlihat premium, saya pribadi takkan pernah menggunakannya. Ya iyalah, hape sudah kinclong dan kece pake ceramic gini, ngapain pakai case, atuh ga bisa nampang lagi lah si cakep teh heuheu. Dan bukankah bahan ceramic ini memiliki ketahanan akan goresan yang jauh lebih baik dari bahan kaca?

Kalau ga sama case-nya apa bisa lebih murah lagi harga Mi Mix 2? Haha, yakali ah.

Mi Mix 2 sebagaimana seri Mi premiuim lainnya, adalah ponsel dual-sim tanpa slot ekspansi memory. Selain itu, satu lagi yang tak hadir di Mi Mix 2 adalah port audio 3,5 mm, sama seperti di Mi 6 maupun Mi Note 3. Tapi ada satu hal yang sangat saya sesalkan yaitu absennya infrared blaster pada ponsel ini, padahal ponsel-ponsel Xiaomi umumnya punya kegunaan lebih berkat kemampuannya untuk menjadi remote control pengganti bagi perabot elektronik di rumah ya. Di situ saya merasa sedih, paling mahal tapi malah kena sunat. Ini ngga adil. Hiks... Haha.

Performa Mi Mix 2 sih sudah tak perlu dipertanyakan. Penggunaan Processor terbaik Qualcomm saat ini, Snapdragon 835 adalah alasannya. Sama seperti di Mi 6 dan OnePlus 5, SoC ini mampu memuaskan saya dalam hal performa kecepatan, maupun konsumsi dayanya yang tergolong hemat.

Beralih ke sisi kamera, Mi Mix 2 sebagai ponsel premium Xiaomi tentunya memiliki kamera dengan kualitas hasil yang di atas rata-rata. Saya tidak memiliki komplain apa-apa soal kameranya saat digunakan mengambil foto, meskipun belum memiliki kamera ganda sekalipun. Pun saat digunakan merekam video, kualitas gambarnya tetap terjaga baik serta memiliki kestabilan yang juga cukup istimewa. Tapi tidak dengan suaranya. Entah kenapa, saya tak pernah betah dengan suara yang dihasilkan oleh ponsel-ponsel Xiaomi saat merekam video. Dan sayangnya ini berlanjut hingga ponsel paling mahal milik Xiaomi, suaranya ga enjoyable euy. Sedih lagi deh saya, haha.

Silakan lihat video berikut ini sebagai buktinya ya, setelah itu Anda bisa melihat rentetan gambar keren yang dihasilkan oleh ponsel ini.



Saya setuju sih dengan komentar-komentar yang menyebutkan kalau harga segini, udah ngga mending lagi. Ya memang ini sudah masuk ke kategori premium atau luxury phone, bukan budget phone, flagship killer, atau best value phone. Tapi tak bisa dibilang overprice banget juga sih, ponsel ini kan menawarkan experience lebih di display yang full dan hampir bezeless, backcover menawan berbahan keramik, serta jeroan kelas atas.

Tapi satu yang saya ragukan, apa iya orang-orang yg biasa berbelanja smartphone pada level harga segini mau memilih brand Xiaomi, dan bukannya Apple atau Samsung sekalian? Bukan maksud merendahkan, tapi kenyataannya masalah prestige masih jadi salah satu faktor penentu untuk level harga premium seperti ini. Saya atau mungkin Anda juga yang tergolong tech savvy atau gadget enthusiast mungkin tahu value dari brand Xiaomi, tapi apa kebanyakan orang yang menggunakan flagship paham juga? Saya yakin segmen ini lebih didominasi oleh brand yang memiliki budget promosi yang besar, produknya sering muncul di iklan, atau yang launching-nya besar-besaran.

Saran saya sih, semoga Xiaomi mau membuat smartphone dengan full display seperti Mi Mix 2 ini, namun pada level menengah saja. Boleh lah pakai bahan kaca saja, dan boleh juga processornya pakai Snapdragon 625 saja, lalu jual di harga maksimal $300 atau 4-jutaan saja. Biar orang-orang pada bilang mending lagi hehehe.

Satu yang bisa saya simpulkan untuk ulasan kali ini, Mi Mix 2 memang bukan buat semua orang. Meskipun memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri, namun butuh effort ekstra dari Xiaomi jika mau penjualannya sukses. Untuk saat ini saya hanya bisa bilang, Mi Mix 2 ini adalah upaya dari Xiaomi untuk melengkapi portfolio mereka saja dan membuktikan kalau brand inipun bisa memproduksi sebuah luxury phone, that's all.

Oh ya, saya cek di toko online lokal nampaknya juga sangat langka yang menjual Mi Mix 2 ini. Jadi Anda yang kesengsem dengan ponsel ini, boleh cek link penjualan Xiaomi Mi Mix 2 ini apabila ingin mencoba membelinya di GearBest.com ya.

Demikian review kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Tuesday, October 17, 2017

Review Xiaomi Redmi Note 5A Indonesia


Xiaomi nampaknya lagi getol ya melakukan penganekaragaman produk mereka. Setelah untuk pertama kali menelurkan varian berakhiran A yang sangat terjangkau pada Redmi 4A, kini seri Redmi Note dapat giliran. Dan ini dimulai dari generasi kelimanya, yaitu Redmi Note 5A. Apakah ponsel ini layak dimiliki?

Apakah Xiaomi Redmi Note 5A layak dimiliki? Sebetulnya jawabannya akan sangat tergantung pada harga jualnya nanti apabila resmi dirilis di Indonesia. Produk ini sendiri saya dapatkan dari GearBest.com, di mana di sana dijual pada harga $130 atau sekitar 1,7 juta Rupiah.

Saya sendiri sudah mencobanya kurang lebih selama satu minggu dengan terlebih dahulu melakukan flashing MIUI 9 Beta.



Varian yang saya coba adalah yang termurah, yaitu yang memiliki RAM 2 GB dan Storage 16 GB. Saat saya flashing pakai ROM Redmi Note 5A selalu gagal, karena rupanya ini adalah Redmi Note 5A lite. Sudah mah varian berakhiran A, masih lite pula heuheu.

Yap, versi lite ini masih menggunakan processor yang sama dengan Redmi 4A, yaitu Snapdragon 425. Sementara versi prime sudah menggunakan Snapdragon 435 dan juga memiliki fingerprint scanner.

Ya, fingerprint scanner adalah satu hal yang selalu saya rindukan semasa menguji ponsel ini heuheu. Kombinasi double tap to wake dan pattern lumayan membantu sih, namun masih tak sepraktis dan secepat jika membuka layar menggunakan sidik jari.

Selain itu, kekurangan yang nyata terlihat adalah ketidakhadiran backlight pada tombol kapasitif di dagu ponsel.

Masalah storage sih tidak akan jadi kendala karena Redmi Note 5A adalah ponsel dual-sim dengan dedicated micro-SD slot, nice move, Xiaomi!

Secara desain, Redmi Note 5A ini adalah Redmi 4A yang volumenya didistribusikan ke lebar dan panjang, sehingga bisa lebih tipis meskipun memiliki kapasitas baterai yang sama di 3.000 mAh. Layarnya yang 5,5 inci ini juga masih beresolusi HD 720p yang di mata saya masih tampil dengan baik, tanpa masalah.

Namun memang tak bisa dipungkiri, saat jemari ini bergantian menyentuh tuts keyboard di layar Redmi Note 5A, ada perasaan berbeda. Seperti diri ini bisa merasakan bahwa ponsel ini masih didominasi oleh bahan plastik, memercikkan sedikit rasa riskan dan khawatir akan build quality-nya yang tak sesolid metal.

Tapi jangan salah, saya senang dengan feels plastik lembutnya di kulit. Rasanya tangan ini cukup bosan juga bersentuhan dengan logam terus, bagi saya pribadi finishing plastik seperti ini terkadang lebih bersahabat dengan kulit memang. Tapi orang jaman now sepertinya sudah terdoktrin kalau plastik itu murah, hari gini hape bagus harus pakai metal atau kaca. Padahal menurut saya intinya mah apa ajalah yang penting enak di tangan.

Performanya gimana? Kurang lebih sama dengan Redmi 4A, lancar-lancar saja untuk socmed ringan, namun mulai terasa berat saat digunakan bermain game dengan grafis 3D. Dan ini sangat wajar jika berkaca pada seri processor yang digunakan.

RAM 2 GB cukup pas-pasan untuk menjalankan MIUI 9, tapi masih smooth, asalkan kita tidak banyak-banyak membuka aplikasi yang menyimpan banyak data di memori saat berjalan.

Baterai cukup buat sehari semalam dengan pemakaian casual ala saya yang rata-rata menghasilkan SoT 3 jam. Dengan pemakaian agak intens sih paling kuat untuk sekitar 15 jam penggunaan saja.

Sektor audio tergolong cukup juga, nggak hancur tapi juga ga istimewa ya.

Sementara untuk camera, karakternya khas sekali kamera hape sejutaan, di mana hasilnya bisa bagus dan tajam apabila cahaya cukup. Saat cahaya berkurang, seperti umumnya kamera dengan setting auto, ISO akan dinaikkan agar kecerahan gambar bisa mengimbangi objek foto, namun jadinya noise pun muncul.

Digunakan merekam video pun kualitasnya ya rata-rata hape sejutaan saja. Masih usable untuk keseharian, tapi bukan untuk level konten profesional.

Yuk lihat langsung hasil kameranya pada video review berikut ini:




Apa Kata Aa tentang Xiaomi Redmi Note 5A

Masuk ke kesimpulan, overall Xiaomi Redmi Note 5A ini adalah ponsel entry level berlayar besar dari Xiaomi yang memiliki value yang baik dan akan cocok digunakan oleh pengguna yang baru memiliki smartphone dan butuh layar besar.

Bukan buat yang mengejar spesifikasi memang. Performanya sebatas cukup buat pemakaian normal sehari-hari saja, tidak akan enak dipakai bermain game, karena selain processornya bukan yang memiliki daya pemrosesan tinggi, konsumsi baterainya pun tak hemat-hemat banget.

Tinggal lihat nanti, apakah varian ini yang akan resmi dirilis di Indonesia? Dan berapa harganya? Mengingat lahan kosong yang tersedia ada di range harga di antara Redmi 4A dan Redmi 4X, rasa-rasanya 1,7 juta bisa jadi memang harga yang pas. Tapi, di harga segitu persaingannya ketat juga ya. Silakan cek ponsel-ponsel yang sudah lama rilis di harga sekitar 1,7, belum lagi beberapa ponsel keluaran baru yang juga ga jauh-jauh dari kisaran harga segini.

Ah, saya yakin Xiaomi mah bakal memberi kejutan kalo soal harga. Jadi kita tunggu saja. Kalau yang ga sabar nunggu, silakan cek link di deskripsi, Xiaomi Redmi Note 5A ini sudah dijual di GearBest koq.

Ok, demikian ulasan dari saya, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Review Huawei Nova 2 Indonesia, Hampir Saja Jadi Daily Driver Saya



Huawei Nova 2 sejatinya akan menjadi daily driver saya, karena memenuhi banyak kriteria. Yang paling utama sih dimensinya yang sangat kompak di lima inci saja. Hari gini nemu hape 5 inci yang mumpuni kayanya udah susah banget.



Dibalut dengan body berbahan metal berwarna biru lembut, mungkin ini adalah salah satu ponsel berbody metal tercantik yang pernah saya coba. Perhatikan setiap detail sisinya yang melengkung membuatnya nyaman digenggam, selain tentu saja karena dimensinya yang pas banget di tangan.

Lihat juga aksen garis-garis melingkar yang mengelilingi sensor fingerprint di punggungnya. Dan tak lupa tombol power bertekstur strip yang cantik. Ya, kalau soal garis antena harus saya akui meski cantik, namun sama sekali tak orisinil sih heuheu.

Fokus di bagian backcover kemudian tertuju pada dua buah kamera utama yang ditemani oleh sebuah LED flash saja. Kamera ini memiliki setup normal dan zoom, perbesarannya hingga 2x. Resolusinya 12 dan 8 megapixels. Hasilnya? Beuh jangan ditanya. Meskipun Nova series masih masuk ke kelas menengah-nya Huawei, namun hasil fotonya menurut saya menakjubkan, di mana seperti yang sudah-sudah memiliki saturasi warna yang tajam, dan bisa diandalkan di kondisi lowlights.

Satu yang saya kagumi juga adalah kemampuan kameranya merekam video dengan stabil. Warnanya memang agak lebay gonjrengnya, tapi coba deh lihat video berikut ini. Ngga seperti pakai hape kelas menengah deh!

Sementara kamera depannya lebih edan lagi karena beresolusi 20 Megapixels dan memiliki portrait mode untuk bokeh-bokehan meskipun hanya menggunakan satu lensa. Hasilnya boleh diadu, monggo cek lagi...



Layar Huawei Nova 2 mungkin memang tak seindah Honor 8, G9 Lite, atau bahkan Honor 9. Tapi resolusi Full HD di layar 5 inci membuatnya tajam sekali, dan yang pasti masih lebih baik daripada layar Honor 6x.

Jika Huawei Nova edisi pertama menggunakan processor Snapdragon 625, maka Nova 2 kembali ke pelukan processor in-house HiSilicon, yaitu Kirin 659. Skor antutu-nya setara lah dengan Snapdragon 625, pun konsumsi baterainya yang menurut saya paling hemat di antara semua ponsel Huawei yang pernah saya coba, padahal kapasitas baterainya bisa dibilang cukup kecil, hanya 2.950 mAh. Masalah panas juga tak pernah saya rasakan saat menggunakannya.

Sempurna? Ngga deh kayanya. Ada satu bug yang cukup terasa mengganggu pada performanya. Bug ini biasa muncul saat banyak aplikasi terbuka, lalu kita membuka kameranya. Beberapa kali kejadian, hape jadi ngelag ga jelas. Solusinya sih clear all dari recent apps, lalu buka kamera lagi, lancar deh. Tapi ini jadi PR buat Huawei untuk memperbaikinya. Dan ini sih yang sebetulnya jadi alasan saya merogoh kocek untuk kemudian membeli Honor 9 untuk dijadikan daily driver selanjutnya.

Masalah output audio juga harus diakui masih sedikit di bawah seri Honor 8 maupun 9. Tapi bukan berarti audio-nya gak enjoyable ya, masih enak koq dipakai memutar musik dan video mah.

Fingerprint scanner-nya sangat cepat dan juga akurat, namun saat baru digunakan memang agak canggung untuk mencari posisinya karena sensor ini dibuat datar dengan body belakang dari Huawei Nova 2. Seperti biasa, fingerprint ini dapat digunakan untuk fungsi gesture, seperti: swipe ke bawah untuk menurunkan jendela notifikasi, dan ke atas untuk menutupnya kembali. Sentuh sebagai tombol shutter saat menggunakan kamera, dan swipe ke samping untuk bergeser antar foto saat membuka gallery.

Nah, yang saya gunakan pada video ini adalah Huawei Nova 2 varian warna Aurora Blue. Menurut pendapat saya, ada satu warna lagi yang menarik untuk dicoba, yaitu Grass Green di mana backcovernya berwarna hijau dengan sisi depan berwarna putih. Jika suatu saat Anda berniat meminangnya, pastikan ponsel Huawei yang Anda hendak beli adalah versi International ya. Sepengalaman saya menggunakan Honor 8 dan 6x kemarin, memang ada versi yang tidak mendapat update OTA meskipun varian lain dari tipe yang sama sudah pada upgrade. Sayang juga kan kalau hape bagus tak pakai OS terbaru?

Dan rumornya, ada beberapa tipe ponsel menengah ke atas dari Huawei yang sedang dalam proses untuk dapat diluncurkan di Indonesia. Kabarnya salah satunya Huawei Nova 2i alias Huaweu Maimang, itu lho yang punya layar memanjang seperti brand-brand lain. Kita nantikan saja apakah rumor itu akan menjadi nyata atau tidak.

PR Huawei selanjutnya adalah bagaimana mengedukasi pasar tentang produk mereka yang sebetulnya bagus-bagus itu. Walau memang sih harga dari produk Huawei tak bisa dibilang best value juga, heuheu.

Ah sudah ah, nanti saya makin dicap fanboy-nya Huawei, hahaha.

Oke, impas ya hutang review saya soal Huawei Nova 2. Tinggal review Honor 9, yang mungkin akan hadir dalam beberapa minggu ke depan.

Sip, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalamualaikum!

Anda bisa membeli Huawei Nova 2 International Version di sini