Gadget Promotions

Monday, September 18, 2017

Review Huawei Honor 6X, Best Buy di 2-jutaan?



Pada artikel ini kita akan review nih smartphone yang kalau melihat kolom komentar video-video yang belakangan saya unggah, sepertinya sih ditunggu-tunggu.

Ya wajar sih, karena Honor 6X ini memilliki price to value comparison yang sangat menarik, terutama buat yang bosan dengan yang itu-itu lagi, itu lho yang sekarang sedang rajin mengisi pasar smartphone di berbagai level.

Hehe...

Sebelum kita mulai, perlu saya informasikan bahwa hingga saat ini, sayangnya Huawei belum menjual Honor 6X secara resmi. Unit yang saya beli di Blibli.com ini pun tak memiliki garansi. Jadi, meskipun misalkan hasil ulasannya bagus, saya tak bisa merekomendasikan ponsel ini untuk dibeli ya, anggap saja buat memperkaya khazanah kita sebagai penikmat gadget ya!


Unboxing dan Kesan Pertama pada Huawei Honor 6X




Ok, kita mulai dari sisi desain. Seri Honor dengan kombinasi huruf dan angka, biasanya tak seeksklusif seri Honor yang hanya memiliki penamaan berupa angka saja. Dan ini berlaku untuk Honor 6X. Desainnya biasa saja, malah agak out of date, karena desain seperti ini sudah muncul di ponsel brand lain sejak satu atau dua tahun yang lalu.

Jelek sih ngga, tapi ya ga bisa disebut kece-kece banget juga. Termasuk penempatan dual-camera di bagian belakang yang menurut saya kurang terintegrasi dengan desainnya secara keseluruhan. Tapi overall, dengan dimensi layarnya yang 5,5 inci, Honor 6X masih sangat nyaman digenggam meskipun dengan satu tangan. Bentuknya yang banyak memiliki lengkungan membuatnya terasa ergonomis dalam genggaman.

Layarnya beresolusi Full HD, cukup tajam, namun harus diakui reproduksi warnanya tak se-vibrant Honor 8 atau Huawei P9 Lite. Output audio-nya pun tergolong standar saja. Untungnya fingerprint scanner Honor 6X tetap seprima dua smartphone Huawei yang saya coba sebelumnya. Akurat, cepat, dan bisa digunakan untuk fungsi gesture. Shingga saya cukup terbantu saat ingin memunculkan jendela notifikasi, menggeser gambar di galeri, maupun saat ingin mengambil gambar di kamera.


Kamera Huawei Honor 6X

Berbicara soal kamera, Huawei Honor 6X yang saat saya beli ada pada harga 2,6 jutaan ini bisa dibilang memiliki setup paling lengkap di level harganya. Mode manual tetap hadir untuk foto maupun video. Dan ya, ini adalah ponsel honor termurah yang sudah memiliki kamera belakang ganda. Dan bukan gimmick, kamera kedua ini cukup membantu memberikan kedalaman, sehingga mode bokeh dapat menghasilkan blur yang baik, dan seperti biasa dapat diatur alias re-focus setelah gambar diambil. Hape dua jutaan mana lagi coba yang bisa begini?

Soal kualitas hasilnya, meskipun saya nilai masih acceptable, namun jelas sekali terlihat hasil gambar di kondisi lowlights masih di bawah Huawei P9 Lite. Kalau dibandingkan sama Honor 8 mah ya jelas kalah ya. Namun di kondisi ideal, hasil fotonya sangat tajam, dengan warna-warna yang keluar banget, malah saya berpikir koq lebih gonjreng dari karakter kameranya Xiaomi ya?

Kamera selfie-nya juga tergolong biasa saja, jelas sekali bahwa ini bukan hape selfie.

Silakan nilai sendiri kualitas hasil kameranya pada video review lengkap berikut ini.




Spesifikasi dan Performa Huawei Honor 6X

Beralih ke sisi jeroan, di sinilah value dari Honor 6X berbicara. 2,6 jutaan dapat yang varian RAM 4 GB, dan internal storage 64 GB rasanya wow banget ya. Kayanya Huawei P9 Lite yang RAM-nya cuma 3 GB dan internal-nya 16 GB serta tak support OTG itu jadi kebanting banget! Honor 6X sih sudah support OTG.

Performanya mah 11-12 saja dengan P9 Lite, dan pasti masih di bawah Kirin 950-nya Huawei Honor 8. Ya, Honor 6X masih pakai processor HiSilicon kelas menengah, sama dengan P9 Lite yaitu Kirin 655. Skor antutunya di atas 50ribu, dan dipakai gaming masih lancar-lancar saja. Dipakai editing buat bikin video klip pakai aplikasi Quik pun sukses dan tidak butuh waktu terlalu lama.

Keren kan dua jutaan dapetnya kaya gini? Eits, inget lagi ya apa yang saya bilang di awal, ini bukan barang bergaransi resmi. Tapi, seandainya Huawei Indonesia mau melanjutkan penjualan seri Honor yang sepertinya terpotong di Honor 5C, saya rasa ini bisa jadi sesuatu yang baik bagi kita konsumen ponsel di tanah air. Tinggal PR-nya Huawei saja yang mengedukasi pasar bagaimana bagusnya produk mereka. Karena saya saja baru ngeh segimana bagusnya jajaran produk smartphone Huawei pasca mencoba Huawei G9 alias P9 Lite kemarin.

Dan masalah ROM aneh muncul juga di Honor 6X ini. Kita tak bisa melakukan update OTA, hingga saya harus mendownload sendiri ROM-nya menggunakan Firmware Finder dan flashing manual supaya dapat merasakan EMUI 5.1 berbasis Android Nougat di Honor 6X. Saya sendiri merasa kurang nyaman menggunakan EMUI 4 karena adanya pemisahan toggles dan notification item di jendela notifikasi yang menurut saya tak praktis. Untung saja masih bisa update manual ya.



Apa Kata Aa tentang Huawei Honor 6X

Nah, overall jika hanya menilai dari harga dan membandingkannya dengan spesifikasi maupun performa nyata yang didapat, Honor 6X ini bisa dibilang best buy koq. Untuk multimedia pun masih cukup baik, meskipun kameranya masih setingkat di bawah P9 Lite, dan saya tegaskan lagi ini bukan hape selfie. Lagipula ibu-ibu yang suka selfie belum tentu mau pakai smartphone dari brand yang jika dilafalkan bunyinya sangat mandarin ini. Hehe.

Semoga saja Huawei mau menjual ponsel ini resmi di Indonesia ya, karena kalau tidak, maka Anda wajib berpikir ulang untuk memilikinya. Meskipun secara produk bagus, namun masalah ketiadaan jaminan purna jual, juga versi ROM yang susah diupdate, bisa jadi ganjalan juga lho.

Keputusan akhir saya kembalikan kepada Anda ya, pada deskripsi video review sudah saya sertakan link pembelian produk ini di beberapa e-commerce tanah air sebagai referensi.

Okay, semoga menjawab kepenasaran Anda yang menunggu-nunggu ulasan ponsel yang satu ini ya, dari Kota CImahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Thursday, September 7, 2017

Review Lengkap LG Q6 Indonesia, Bikin Jadi Pengen Beli...





Percaya ngga kalau saya bilang intro dari video ini yang baru saja Anda saksikan, diambil menggunakan kamera belakang dari LG Q6? Stabil banget kan?

Awalnya pun saya tak percaya smartphone 3-jutaan dari LG bisa melakukan itu, dan apakah hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh LG Q6? Baca terus ulasan ini sampai akhir ya!

LG Q6 tentu saja memiliki highlight utama pada layarnya yang sudah memiliki rasio 18:9 dengan sudut-sudut melengkung yang oleh LG diberi label sebagai Full Vision Display.

Layar ini bukan gimmick semata, nyatanya saya sangat nyaman menggunakan layar dengan rasio seperti ini, karena sisi depan dari ponsel ini jadinya nyaris semuanya layar. Dengan begitu, posisi tombol on-screen bisa berada di bawah banget, membuat area display menjadi lebih luas.

Saat layar dinyalakan, jelas sekali terlihat sisa bezel di atas dan bawah yang sangat minimal, pokoknya keren banget buat dilihat maupun ditunjukkan ke orang-orang.

LG Q6 hadir di kelas menengah, namun demikian memiliki terobosan berupa layar ala-ala flagship 2017 yang menurut saya akan butuh waktu untuk dapat dikejar oleh kompetitor LG.

Kalau ada yang bilang "yah hape 3 jutaan koq masih pakai Snapdragon 435!", jelas yang ngomong berarti ngga kenal sama LG. Meskipun sering merilis flagship dengan harga yang lebih kompetitif dari vendor sebelah, di kelas menengah mah LG kadang ngga seroyal flagshipnya koq.

Smartphone LG yang harganya 2-3 jutaan kebanyakan masih pakai processor Mediatek lho, jadi kalau LG Q6 pakai Snapdragon 435 itu adalah sesuatu yang harus disyukuri hehe. Ya kalau emang ga ada budget 3,2 juta Rupiah mah bilang aja, cari lah promo diskon yang rajin, konon ada yang bisa mendapatkan ponsel ini di harga 2,6 juta saja memanfaatkan promo bank.

Balik ke soal processor, Snapdragon 435 di LG Q6 mampu bekerja dengan baik menghidupi layar yang jumlah pixel-nya lebih banyak dari ponsel lain yang memiliki layar beresolusi Full HD. Dengan memanfaatkan RAM sebesar 3 GB, user experience sama sekali tidak memiliki hambatan, menggeser layar terasa fluid, berpindah antar aplikasi pun tak terasa ada jeda berlebihan. Termasuk masalah notifikasi, smartphone LG meskipun memiliki custom UI sendiri, selalu mampu menampilkan notifikasi secara realtime.

Hanya saja, sepenggunaan saya, LG Q6 ini terasa cepat menghangat. Dipakai membuka kamera beberapa menit, sudah hangat, dipakai game sebentar, sudah hangat. Meskipun tak sampai panas, namun cukup menimbulkan perasaan kurang nyaman jadinya.

Padahal, secara ergonomis, ponsel ini enak banget digenggam. Ketebalannya pas, dimensinya juga compact banget, layar berdiagonal 5,5 incinya bisa masuk ke body ponsel 5 inci. Anda yang menonton video unboxing-nya pasti tahu bahwa saya sempat membandingkan ukuran LG Q6 dengan Huawei Nova 2 yang berlayar 5 inci, dan hasilnya ukurannya mirip-mirip lho!


Oh ya, satu koreksi atas apa yang saya sebutkan pada video unboxing adalah mengenai material backcovernya. Bukan plastik, melainkan kaca. Pantaslah backcover ini gampang sekali meninggalkan bekas sidik jari dan rasa-rasanya bisa menjadi ladang minyak dunia berikutnya, haha.

Overall build quality dari LG Q6 ini saya katakan jempolan, terlebih dengan klaim military grade yang disematkan pada ponsel ini, yang sayangnya tak bisa saya uji karena unit yang saya review merupakan hasil pinjaman, haha.

Satu kekurangan utama dari LG Q6 yang saya rasakan adalah ketidakhadirannya fingerprint sensor pada ponsel ini. Meskipun memiliki faceprint unlock, yaitu membuka kunci layar menggunakan scan wajah, rasanya fingerprint masih dibutuhkan.

Faceprint unlock milik LG Q6 ini tergolong baik dan cepat dalam prosesnya, asalkan dalam kondisi ideal atau identik dengan saat wajah direkam. Karena masih mengandalkan kamera depan, faktor cahaya jadinya sangat mempengaruhi akurasi dan kecepatannya. Enaknya sih memang tinggal angkat ponsel menghadap wajah, layarnya menyala dan terbuka dengan sendirinya.

Ngga enaknya? Di tempat umum, jadinya sedikit menarik perhatian orang lain yang mungkin jadi mengira kita selfie melulu, padahal mah lagi mencoba buka kunci layar ya haha. Selain itu, di tempat gelap, membuka layar jadi sebuah PR, semisal di angkot malam-malam sepulang kerja, atau saat terbangun di tengah malam dan ingin mengecek notifikasi. Untuk alasan-alasan ini, saya merasa masih membutuhkan fingerprint scanner jadinya.

Apresiasi patut diberikan kepada LG yang memberikan dua slot sim-card bersamaan dengan sebuah slot micro-SD dedicated. Sehingga mereka yang merasa tak cukup dengan kapasitas storage bawaan yang 32 GB, masih bisa menambahkan memori tambahan tanpa perlu mengorbankan salah satu nomornya.


LG Q6 untuk Kebutuhan Multimedia

Untuk kebutuhan multimedia, LG Q6 cukup dapat diandalkan. Layarnya memiliki reproduksi warna serta ketajaman yang baik. Untuk memanfaatkan rasio layarnya, ada pengaturan khusus yang baru muncul saat aplikasi ditampilkan secara fullscreen, apakah mau menggunakan rasio 16:9 atau 18:9. Jadi tidak ada masalah dengan aplikasi atau games yang belum mendukung rasio layar 18:9 ini.

Sayangnya untuk YouTube, hanya video yang sudah memiliki rasio 18:9 saja yang dapat ditampilkan penuh. Sementara video yang masih memiliki rasio 16:9 tidak bisa dipaksakan untuk tampil memenuhi layar dan masih menyisakan bagian hitam di kiri dan kanan layar LG Q6 ini.

Kualitas suaranya sendiri menurut saya tergolong rata-rata saja. Tidak tergolong istimewa, namun masih usable dan tidak pecah saat digunakan pada volume yang kencang.

Gaming lancar-lancar saja, walau seperti yang saya bilang, agak cepat hangat ya. Sementara daya tahan baterainya tergolong baik, di mana dalam kondisi pemakaian normal, masih bisa menembus 24 jam.

Kamera utama LG Q6 memiliki hasil yang cemerlang di kondisi cahaya yang cukup, namun terbilang biasa banget saat lowlights. Sementara kamera depannya terbilang sangat datar, dan mungkin tidak bisa jadi favorit ibu-ibu arisan.

Kekuatan dari kamera LG Q6 ini justru muncul saat dilakukan mengambil gambar bergerak. Hasilnya terasa sangat stabil dan halus, tak seperti ponsel 3-jutaan lain. Saya berani mengacungkan keempat jempol yang saya miliki kalo soal ini.

Hasil kameranya ada di video review-nya di atas ya!


Apa Kata Aa tentang LG Q6

Masuk ke kesimpulan, LG Q6 hadir dengan profil yang berbeda dari ponsel lain yang berada di rentang harga yang sama. Mengandalkan layar Full Vision dan build quality dengan standar Militer, pada harga 3 jutaan rasa-rasanya belum ada yang mampu mengekor dan menawarkan hal yang serupa dengan LG Q6.

Hadir dengan faceprint unlock yang cepat dan akurat, Anda bisa saja tak lagi merindukan keberadaan fingerprint, andaikata Anda hanya menggunakan smartphone dalam kondisi ideal yang tak pernah kekurangan cahaya.

Yang tak suka ponsel besar-besar, LG Q6 juga akan nyaman digunakan karena dimensinya compact walau berlayar 5,5 inci. Pengalaman baru menggunakan ponsel berlayar memanjang bisa jadi satu alasan lagi buat Anda mencoba memiliki ponsel ini.

Military grade, ukuran compact, dan kamera depan yang flat? Sepertinya sangat cocok untuk dihindari ibu-ibu sosialita ya. Hehe. Ya, bisa jadi memang ponsel ini bukan diperuntukkan bagi para Selfie Expert yang mengharapkan Perfect Selfie sih.

Saya sendiri setelah semingguan menggunakan LG Q6, jadi benar-benar tertarik untuk membeli sebuah LG.... G6. Hahaha.

Demikian ulasan dari saya, silakan cek link berikut ini untuk informasi harga terbaru dan penjualan LG Q6 ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, Wassalam!

Monday, September 4, 2017

Review Elephone P8 Mini Indonesia - Calon Hape Sejuta Umat!



Jika ada ponsel Tiongkok yang membawa paket komplit, menurut saya Elephone P8 Mini adalah salah satunya.

Highlight positif saya berikan untuk ponsel ini dalam berbagai aspek. Mau tahu apa dan kenapa saya bahkan melabeli Elephone P8 Mini ini sebagai ponsel yang seharusnya jadi ponsel sejuta umat berikutnya? Tonton terus sampai habis ya!

Saya adalah orang yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama kalau soal smartphone. Artinya buat saya, looks atau desain sebuah ponsel itu penting, pake banget malah.

Dan saya pikir semuanya akan setuju jika saya bilang Elephone P8 Mini adalah sebuah ponsel yang atraktif. Terlebih yang saya pakai memiliki warna backcover merah menyala, sampai-sampai salah seorang kawan menyangka saya habis beli iPhone 7 RED. Haha.



Material backcover ini pun solid terasa. Dengan penempatan fingerprint scanner di belakang juga, sisi depan Elephone P8 Mini otomatis hanya dipergunakan untuk layar yang hitam pekat, dengan tombol kapasitif berikon khas Elephone yang memang agak disayangkan hadir tanpa backlight.

Jangan nyalakan layar ponsel ini. Koq jangan? Maksud saya, jangan kalau ngga mau tambah jatuh cinta. Dengan dimensi layar 5 inci saja, layar Elephone P8 Mini ini punya resolusi Full HD, kebayang dong gimana tajemnya? Belum cukup sama tajem doang, Elephone memberi panel layar IPS yang menurut saya ndangdut, alias vibrant, asli kece!

Dan tahukah Anda? Kalau harga ponsel ini dalam tanda kutip hanya $138 saja? Sayang memang nggak dijual di Indonesia, dan sayang juga terakhir saya lihat di GearBest.com sudah diskontinyu, ngga tau deh sekarang ada stoknya lagi atau ngga, cek aja link di deksripsi video ini buat cari tau ya!

Sekenan saya jangan diharepin ya, udah laku euy. Lho koq hape bagus dijual lagi? Ya gimana, sayanya kedatengan Huawei Nove 2 sih, hahaha.

Okay, bahasan desain habis di sini.

Lanjut ke spesifikasi dan performa ya. Dengan harga yang kalau diRupiahkan masih di bawah 2 juta, Elephone P8 Mini sudah membawa spesifikasi cukup mentereng, walau memang processornya pakai Mediatek MT6750. Skor Antutunya sih 40rebuan doang, tapi performanya lancar, dan baterainya yang cukup kecil di 2.650 mAh, mampu dibawanya menembus satu hari satu malam, cukup lah buat pemakaian casual mah.

RAM-nya gede lho, 4GB. Ditambah storage-nya yang sudah 64 GB, ngga salah kalau di video unboxing-nya saya bilang menang banyak. Angka-angkanya gede-gede. Kamera depannya apalagi, 20 Megapixels. Kamera belakangnya ada dua, 13 dan 2 Megapixels.

Kualitas kameranya gimana? Nah, ini rada mengandung gimmick euy. Pokoknya gini, anggap saja kamera belakangnya cuma ada 1 ya. Karena efek bokeh yang dihasilkan sama sekali ga keren, dan bisa dibikin pake aplikasi biasa, tanpa perlu bantuan hardware kamera tambahan. Performa kameranya dalam mengambil gambar sih oke, cepet dan lancar, sementara hasilnya memiliki warna yang tak terlalu vivid. Tajam di cahaya cukup, tak demikian dengan gambar yang dihasilkan di kondisi lowlights, di mana noise sudah antri untuk hadir.

Kamera depannya justru memiliki hasil yang lebih aduhai di segala kondisi. Saya cukup heran kenapa Elephone tak menggembor-gemborkan ponsel ini sebagai hape selfie ya. Serius, saya lebih suka hasil kamera depannya daripada kamera belakang. Sebuah LED Flash di sisi depan juga didedikasikan buat kebutuhan selfie.

Seperti biasa, nilai sendiri langsung dari hasil-hasil jepretannya di video review berikut ini ya!



Tadinya saya berpikir hendak menyimpan Elephone P8 Mini untuk device utama saya selagi saya bergonta-ganti hape untuk diulas. Ponsel ini punya banyak kriteria yang membuat saya cocok dengannya, di antaranya adalah:


  • Dimensinya compact, layar-nya hanya 5 inci, dan enak dipandang.
  • RAM dan memorinya cukup banget buat saya.
  • Port audio ada di sisi bawah.
  • Kamera yang usable, bahkan kamera depannya malah keren banget.
  • Fingerprint yang akurat dan responsif.
  • Baterai yang bisa bertahan seharian walaupun kapasitasnya kecil.
  • Dan semua itu didapatkan dari ponsel seharga $138 saja, yang mana kalaupun saya jual, uang hasil penjualannya tak akan cukup untuk membeli ponsel lain yang setara dengan ini.


Tapi rencana tinggal rencana, gegara ada idaman lain yang hadir, Elephone P8 Mini ini pun saya lego, hahaha.

Padahal serius, seandainya ponsel ini dijual secara resmi di berbagai belahan dunia, seharusnya bisa menjadi ponsel sejuta umat berikutnya. Apalagi pilihan warna-nya kece, selain merah yang saya pakai di video ini, ada juga warna biru, dan hitam.

Makanya di video Gadget Awards di channel Best Indo Tech pun saya memilih ponsel ini untuk kategori price to performance.

Koq ga ada kekurangannya? Ga berimbang nih review-nya. Haha, bodo amat. Karena selain ketidakhadiran backlight pada tombol kapasitif, dan juga absennya LED notifikasi, saya ngga punya komplain apa-apa lagi soal hape ini. Semoga yang mupeng abis liat video ini masih bisa memiliki kesempatan untuk meminang ponsel ini ya. Karena bisa jadi produk ini habis stoknya karena memang peminatnya banyak.

That's all from me, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!


Wednesday, August 30, 2017

Review Sony Xperia X Dual, Kukuhnya Sony dengan Pakem Lamanya


Saya sudah naksir dengan Sony Xperia X Dual ini sejak harganya masih di atas lima juta Rupiah, tetapi baru berani membelinya saat harganya sudah menyentuh kepala tiga jutaan.



Ada beberapa pertimbangan yang mendorong saya untuk membeli Sony Xperia X Dual ini. Salah satunya adalah pengalaman menggunakan Xperia UI saat dulu mencoba Sony Xperia Z2 Compact yang menurut saya sangat mendekati stock UI Android, namun masih memiliki fitur tambahan yang esensial. Salah satunya fitur pada kameranya.

Sony sebagai produsen berbagai sensor kamera yang banyak digunakan oleh smartphone flagship, tentunya tahu bagaimana mengoptimalkan sektor ini. Dan ya, pada Xperia X ini, kamera menjadi suatu kelebihan tersendiri.

Saat digunakan mengambil gambar, hasil kameranya selalu mampu memuaskan, depan maupun belakang. Dan saat digunakan merekam video, fitur steady shot-nya mampu membuat pergerakan kamera terlihat sangat halus dan memukau.

Saya takkan berpanjang lebar menjelaskannya, ada baiknya Anda langsung saksikan sendiri hasilnya ya.



Lanjut ke sisi desain, ini adalah alasan lain kenapa saya ingin sekali meminang salah satu produk dari lini Xperia miliki Sony ini. Ya, Sony tak pernah asal ikut trend, apalagi sampai terjebak di aliran mainstream. Desain omni balance ala Sony ini menegaskan bahwa brand ini masih kukuh dengan pakem yang dimiliki.

Masih banyak lagi pakem yang masih dipegang teguh oleh Sony, salah satunya adalah harga yang cukup premium tanpa jor-joran di spesifikasi. Dan ini termasuk kapasitas baterai yang terbilang sangat kecil untuk ukuran jaman sekarang ini. Ya, Sony Xperia X Dual ini baterainya hanya 2.600 mAh saja. Meskipun masih cukup bertahan dari pagi hingga malam, tapi kenyataan ini mengkhianati janji Sony akan kemampuannya yang diklaim mampu bertahan dua hari dalam sekali pengisian daya. Mungkin kalau pakau ultra saving mode sih bisa, tapi smartphone ini akan berubah jadi feature phone dong? Ha.. ha.. ha..

Ada satu keuntungan berbaterai kecil sebetulnya, mengisi dayanya cepat walau tak didukung fitur quick charge hehehe.

Dapur pacu Sony Xperia X ini ditenagai oleh processor Snapdragon 650 yang kondang dipakai oleh Xiaomi Redmi Note 3 dulu. Secara performa sudah sangat cukup membuat pengalaman menggunakan ponsel ini terasa baik dan gegas. Hanya satu keluhan yang saya rasakan, ponsel ini cukup cepat menghangat. Bahkan saat digunakan merekam video unboxing ZUK Z2 Pro lalu, dalam waktu sekitar 10 menit saja, kameranya mengalami overheat dan aplikasi kamera menutup sendiri.

Buat yang ingin tahu skor Antutu Benchmark serta kelengkapan sensornya, saya tampilkan di sini ya. Lihat deh, sensornya lebih lengkap dari ponsel Android kebanyakan.

Berpindah dari Huawei Honor 8 dengan layar vividnya ke Sony Xperia X, saya tak merasakan mengalami penurunan soal kualitas display ini. Layar smartphone ini sangat mampu memanjakan mata.

Dengan ukurannya yang compact, sejauh ini saya sangat nyaman menggunakan Sony Xperia X Dual dalam keseharian saya, asalkan tidak harus bepergian ke luar kota ya. Karena kalau diajak bepergian, jujur saja saya tak tenang dengan baterai kecilnya yang mungkin takkan cukup dipakai di perjalanan.

Satu hal yang membuat nyaman lainnya adalah fingerprint scanner dari ponsel ini yang diletakkan di samping, tepat di posisi natural jempol kita berada. Agak disayangkan memang pemindai ini baru bekerja saat layar menyala, sehingga perlu ditekan terlebih dahulu. Namun, akurasinya super tinggi, dan sangat cepat membuka kunci layar.

Untuk digunakan menikmati sajian multimedia, ponsel ini sangat bisa diandalkan. Layar yang keren, didukung dengan front stereo speaker yang kualitasnya baik.

Apakah smartphone ini berhasil menggantikan Huawei Honor 8 sebagai daily driver saya? Niatnya sih begitu, tapi masalah baterai ini belum mampu membuat hati saya tentram sehingga saya memutuskan untuk meminang sebuah ponsel lagi, yaitu ZUK Z2 Pro. Nantinya saya akan memilih yang mana yang akan terus saya gunakan.

Jika Anda penasaran ponsel mana yang memenangkan duel ini, pantengin saja lapak saya di salah satu marketplace lokal, yang mana yang saya jual kembali hehehe.

Demikian ulasan singkat saya tentang Sony Xperia X Dual ini, hatur nuhun!

Monday, August 28, 2017

Review Divoom Voombox Travel 3rd Gen



Sudah seminggu ini saya bekerja ditemani oleh sebuah bluetooth speaker baru di meja kerja saya. Nama dari speaker ini adalah Divoom Voombox Travel 3rd Gen, warnanya silver dengan aksesn merah yang mencolok, meskipun jika kita melihat di halaman penjualan produk ini di salah satu e-commerce tanah air, pilihan warna yang tersedia cukup banyak.

Nah, ngomong-ngomong soal Divoom, ini bukanlah brand baru ya. Sekitar tahun 2011 saya sudah pakai speaker dari merk ini. Ceritanya waktu itu teman saya datang ke pameran komputer di JCC, dan pulangnya membawa sebuah speaker portable merk Divoom yang kemudian sering bergilir dipakai anak-anak di kantor lama saya. Sehingga lama kelamaan saya pun tertarik membeli sebuah speaker Divoom, waktu itu masih berkabel, dan yang membuat saya takjub adalah dengan ukurannya yang kecil, namun suaranya cukup terdengar ke satu ruangan kantor yang cukup besar, dengan kualitas suara yang tergolong baik dan sama sekali tidak cempreng.

Bahkan, saat saya resign dari kantor lama tersebut, Mamang penjaga kantor meminta saya untuk meninggalkan speaker tersebut di kantor, haha.

Makanya sekarang saya sangat senang saat memiliki lagi sebuah speaker Divoom di meja kantor saya.



Sebetulnya ini adalah outdoor speaker, Anda bisa melihat pada kemasannya yang tertulis weather proof. Ya, speaker ini diklaim tahan basah atau percikan air, dan juga tahan guncangan. Karena merupakan speaker untuk luar ruangan, maka tak heran jika power yang dihasilkannya memang kuat sekali. Sendok yang saya letakkan di atas meja saja sampai berbunyi-bunyi akibat terguncang-guncang oleh dentuman bass dari speaker ini, haha.

Menurut saya, para pecinta bass akan sangat terpuaskan oleh  Divoom Voombox Travel 3rd generation ini. Saat saya dengarkan dengan seksama, detail dari instrumen musik pada lagu yang saya putar masih dapat terdengar dengan baik meskipun suaranya bulet banget oleh bass.

Saya yakin power yang besar ini memang dihasilkan oleh driver unit yang juga prima, termasuk dalam hal dayanya. Ini sebabnya, bisa dibilang speaker ini tak terlalu panjang daya tahan baterainya. Dalam pemakaian saya biasanya hanya cukup untuk satu hingga dua hari saja menemani bekerja, di mana dalam satu hari saya bisa mendengarkan lagu hingga empat jam. Ya kira-kira empat hingga enam jam sajalah daya tahan baterai speaker ini.

Satu kelebihan dari speaker ini adalah proses pairing yang otomatis, maksudnya begitu menyala maka speaker ini akan mencari perangkat yang sudah pernah melakukan proses pairing. Atau jika baru akan melakukannya untuk pertama kali, kita tak perlu masuk ke mode khusus dan bisa melakukan pairing selama speaker ini sudah menyala.

Di samping tombol power, ada sebuah tombol multifungsi yang dapat digunakan untuk mengangkat telepon jika speaker ini terhubung ke smartphone, serta juga dapat digunakan sebagai tombol play dan pause. Di sisi lain tedapat dua buah tombol plus dan minus yang apabila ditekan sebentar maka berfungsi sebagai pengatur volume, dan jika ditekan lebih lama akan berfungsi sebagai tombol previous dan next song. Dua buah port tersembunyi di balik penutup karet dengan label Divoom ini, tentunya port micro-USB untuk pengisian daya, dan port audio 3,5 mm untuk sambungan kabel ke perangkat audio Anda.

Overall desain dari speaker ini nampak keren dan sporty. Bobotnya tak terlalu ringan, namun justru memberi kesan kokoh dan mantap. Feels-nya di tangan terasa premium, tak salah memang jika speaker ini dibandrol dengan harga lima ratus ribuan. Faktanya memang speaker ini mampu menggeser posisi speaker bluetooth lama saya di meja kerja.

Divoom Voombox Travel 3rd generation berhasil mencuri hati saya, dan saya takkan segan untuk merekomendasikannya kepada Anda yang memang sedang mencari bluetooth speaker pada rentang harga 500 ribuan. Kualitas suara dapat, looks yang keren pun dapat, garansi resmi pula dari distributor lokal yang berada di Jakarta. Buktinya di kemasannya saja langsung terlihat ada kartu garansinya yang berbahasa Indonesia.

Buat Anda yang masih bertanya-tanya tentang brand Divoom sendiri, pada speaker ini tertulis bahwa Divoom didesain di Singapore, walau proses produksi masih dilakukan di China sana. Menurut sang distributor resminya di Indonesia, Divoom diposisikan untuk bersaing dengan merk JBL, hmm pantaslah kalau begitu, terjawab sudah mengapa suaranya bisa mantap begini.

Lain waktu, jika saya punya waktu luang, saya akan coba deh bikin video komparasi dari semua bluetooth speaker yang saya miliki. Bagaimana, setuju tidak? Tulis di komentar ya pendapat kamu!

Demikian review kali ini, hatur nuhun!

Saturday, August 26, 2017

Review Nakamichi Elite Bluetooth Headphone, Telinga Saya Naik Kasta!



Beberapa hari terakhir ini, saya tak bisa lepas dari sebuah bluetooth headphones saat bekerja di depan laptop. Begitu lengketnya, sampai-sampai setiap menjelang tidur, rasanya ada yang kurang jika saya tak mendengarkan musik dari ponsel saya, lagi-lagi menggunakan headphones ini.

Penasaran headphones apa ini?



Ini adalah Nakamichi Elite, wireless headphone besutan Nakamichi, produsen asal Jepang yang mungkin buat kita lebih familiar sebagai brand car audio premium ya.

Karakter dari headphone ini sendiri, sesuai dengan apa yang dituliskan pada kemasannya, yaitu Clarity with Heavy Bass. Yap, bass-nya terasa warm dan nendang banget, hingga membuat kuping serasa dipijat-pijat dari kiri dan kanan.

Sementara untuk masalah clarity, headphone ini jernih sekali suaranya, sehingga saya dapat menikmati bagian vokal dengan baik. Satu hal yang takkan bisa ditemukan pada headphone kelas bawah ya, di mana dengan bass yang powerful, kita masih bisa mendengarkan detail vokal dan instrumen lainnya dengan baik.

Sound staging-nya pun luas, separasi antar instrumen benar-benar terasa. Apalagi jika digunakan memutar musik hi-res, saya bisa merasakan masing-masing instrumen mulai ketika baru masuk hingga saat beriringan dengan instrumen lain.

Saat digunakan memutar musik jedag-jedug, headphone ini mampu perform dengan sangat baik, hentakan kicksnare dari drum terasa sangat crunchy. Namun, ini nih yang benar-benar membuat saya kagum, saat saya mendengarkan lagu-lagu kalem-nya Sam Smith, lagi-lagi Nakamichi Elite ini benar-benar membuat saya mampu menikmati vokal sang penyanyi dengan iringan slow music yang identik kental dengan bass ini.

Cocok lah sama namanya, Elite.

Ya, build quality dari heaadphone ini juga sama elite. Menggunakan housing berbahan logam, bobotnya jadi terasa mantap. Sementara bingkainya dibalut kulit sintetis membuatnya nyaman melekat di kepala. Oh ya, penutup housingnya juga sama, dari kulit sintetis, dan pada housing sebelak kanan kita dapat menemukan sebuah tombol multifungsi yang berguna untuk menyalakan, masuk mode pairing, mematikan, dan juga sebagai play and pause button.

Pada sisi yang sama juga, terdapat volume rocker, dan juga port audio 3.5 mm untuk menyambungkan headphone ini dengan perangkat audio Anda yang mungkin belum memiliki konektifitas bluetooth. Sementara port micro-USB untuk charging, membuat Anda bisa menggunakan charger smartphone Anda untuk mengisi dayanya.

Daya tahan baterai Nakamichi Elite ini sendiri diklaim mampu bertahan hingga 30 jam dalam sekali pengisian daya, dan sejauh ini sudah tiga hari berturut-turut saya coba, belum juga menunjukkan indikasi lowbatt. Indikatornya sendiri menggunakan suara, termasuk saat dinyalakan, masuk ke mode pairing, maupun dimatikan, ada suara seorang perempuan dengan aksen orang Jepang yang mana terdengar sedikit lucu saat melafalkan kata-kata dalam Bahasa Inggris, hehe.

Terakhir saya akan bahas mengenai bantalan atau cushion dari Nakamichi Elite ini. Bahannya empuk sehingga saya masih bisa nyaman menggunakannya selama tiga hingga empat jam non-stop. Dan batang yang menyangga housing-nya ini dapat disesuaikan agar lebih nyaman digunakan. Selain ukurannya yang dapat di-expand, posisinya juga dapat diputar agar pas dengan posisi telinga kita. Ukuran bantalannya sendiri tidak terlalu besar, sehingga saya pikir ini adalah on-ear headphone, bukan over ear. Namun demikian, isolasi suaranya sangat baik saat sudah ada suara yang diputar.

Overall, saya sangat senang menggunakan headphone ini, rasanya benar-benar sebuah audio experience baru bagi saya, dan stepping up the game untuk saya yang sebelumnya kebanyakan menggunakan headphone 500 ribuan. Termasuk soal konektifitas bluetooth-nya yang tetap terhubung, meskipun saya bawa ke ruangan sebelah, di mana umumnya wireless headphone dan earphone lain sering terputus.

Siapkan saja budget extra ya jika ingin memilikinya, karena harganya juga sama Elite-nya, hehe. Namun saat ini headphone ini sedang dalam masa promosi diskon sekitar 20 persen di musique.co.id atau cek link di deskripsi untuk menuju toko online yang menjual berbagai perangkat audio berkelas ini ya.

Demikian review saya, wassalam!

Friday, August 11, 2017

Review Moto E4 Indonesia, Mewah di Luar, Sederhana di Dalam



Dalam bulan yang sama, Moto Indonesia yang kini pastinya bergerak di bawah bendera Lenovo, merilis dua buah smartphone yang menarik dan pastinya membuat penasaran orang. Buat generasi 90-an dan yang lebih senior, brand Motorola pastinya sudah akrab, dan mungkin juga dirindukan.

Ya, inovasi pada ponsel-ponsel generasi awal dahulu memang banyak dipelopori salah satunya oleh Motorola. Dan setelah sekian lama tak berjualan di Indonesia, kehadiran dua ponsel Moto tahun ini bisa memberikan nostalgia buat sebagian orang.

Contohnya saja mertua saya yang sangat excited saat melihat ponsel di tangan saya  ternyata keluaran Motorola. Dan saya rasa, Moto E4 ini bisa menjadi pelepas dahaga pada level harga yang sangat terjangkau.

Dijual dengan harga resmi yang cukup terjangkau, Moto E4 nampak begitu solid untuk level harganya. Saya yakin tak banyak yang mengira ponsel ini memiliki bandrol yang berada di dalam harga psikologis bagi sebagian besar pengguna ponsel tanah air, yaitu di bawah dua juta Rupiah.



Moto E4 memiliki garis desain yang sama dengan Moto Z2 Play untuk sisi depannya, panel depan hitam pekat dengan fokus utama akan menuju kepada sebuah cekungan di bawah layar lima inci beresolusi HD 720p ini. Cekungan ini tentu saja berfungsi sebagai pemindai sidik jari, sudah lumrah itu mah. Yang patut diberi sorotan adalah akurasinya yang tinggi, meskipun memang masih membutuhkan sedikit jeda hingga kunci layar terbuka. Selain itu, fiturnya sama dengan Moto Z2 Play yang berada di kelas atas, yaitu sensor ini bisa digunakan menggantikan ketiga tombol navigasi juga.

Bahkan, Moto Active Display pun hadir pada Moto E4 ini, hanya saja fitur ini baru aktif saat kita mengangkat ponsel. Sedikit berbeda dengan Moto Z2 Play yang cukup dengan melambaikan tangan di atas layar, maupun saat ada notifikasi baru. Hal ini bisa dimaklumi sebagai upaya untuk menghemat daya, mengingat panel layar yang digunakan bukanlah AMOLED yang bisa menyala sebagian pixel-nya saja.

Beralih ke backcover-nya, ini adalah bagian yang paling tidak mencerminkan harga ponsel ini. Berbahan metal dengan finishing yang mantap digenggam serta dimensinya yang compact, Moto E4 jadi salah satu ponsel yang paling enak dibawa ke mana-mana. Di bagian bawah sisi ini terdapat lubang loudspeaker yang memang cukup disayangkan berada di bagian yang rentan tertutup saat ponsel ini diletakkan di atas bidang datar. Walaupun berkat desainnya yang agak curvy, suaranya masih mampu terdengar dengan baik. Kualitas audionya sendiri cukup jernih, namun jelas bukan yang paling TOP.

Sementara jeroan dari Moto E4 ini adalah bagian yang paling melambangkan harganya. Tidak bisa dipungkiri, Moto harus menyesuaikan spesifikasi ponsel ini dengan level harganya. Namun demikian, dengan penggunaan Android 7.1.1 yang nyaris stock, performanya masih dapat saya nikmati untuk kebutuhan social media, browsing, dan game casual.

Konsumsi baterai pun tergolong cukup hemat, di mana baterai berkapasitas 2.800 mAh ini selalu mampu menemani dari dini hari saat saya bangun dan lepas charger, hingga malam sehabis pulang kerja. Jika sedang jarang digunakan, sesekali 24 jam bisa ditembus dalam satu kali pengisian daya.

Kelebihan dari ponsel ini adalah backcover-nya yang dapat dilepas, pun demikian dengan baterai-nya. Jadi, seandainya suatu saat performa baterainya sudah menurun, Anda dapat mengganti baterainya dengan membeli sendiri tanpa perlu datang ke tempat service. Selain itu, Moto E4 ini memiliki dua slot sim-card dan sebuah slot khusus micro-SD, jadi Anda masih bisa leluasa menambah kapasitas storage, apabila 16 GB tak cukup buat Anda.

Lanjut ke sisi kamera, kemampuannya menangkap gambar tergolong di atas rata-rata untuk level harganya. Dalam kondisi lowlights pun masih bisa menangkap gambar dengan cukup detail, meskipun terlihat noise sudah mulai rajin hadir. Satu yang bisa jadi peningkatan adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengambil fokus yang masih tergolong agak lambat. Jika diharuskan mengambil gambar secara buru-buru, besar kemungkinan fokusnya akan meleset.

Satu yang jadi bonus adalah, adanya LED di bagian depan untuk membantu selfie saat kondisi kurang cerah. Fitur beautify juga hadir, jadi ibu-ibu bisa tetap puas dengan hasilnya, hehehe.

Kemampuannya merekam video cukup baik, meski resolusi maksimalnya mentok di HD 720p dengan framerate 30fps. Limitasi-limitasi ini saya yakini datang dari penggunaan chipset Mediatek MT6737T. Salah satu akibatnya, saya pun tak bisa membuat video teaser dengan aplikasi Quik karena tak pernah berhasil saat rendering.

Hasil foto dan video menggunakan kamera Moto E4 dapat disaksikan pada video review berikut ini:



Masuk ke kesimpulan, Moto E4 adalah sebuah ponsel yang jadi alternatif yang baik apabila Anda ingin bernostalgia dengan Motorola. Desain dan build quality-nya terbilang jempolan, dan bisa dipastikan memiliki gengsi yang baik apabila hendak dijadikan hadiah bagi orang terkasih maupun kolega bisnis.

Untuk pemakaian casual, semisal kebutuhan browsing, social media, dan chatting, tidak ada masalah berarti yang akan Anda temui. Lain hal-nya kalau kebutuhan Anda untuk quick video editing, dan heavy gaming. Untuk tujuan itu, saya rasa budget belanja smartphone Anda perlu dilipatgandakan  deh.

Ya, karena Moto E4 sejatinya merupakan ponsel yang baik dengan user experience yang nyaris sama dengan ponsel Moto dari kelas atas. Satu pesan saya untuk masalah kamera, sabar-sabarlah menunggu fokusnya terkunci, supaya Anda puas dengan hasilnya.

Anda yang berminat memiliki ponsel ini, dapat mengecek ketersediannya pada link yang saya sediakan di deskripsi video ini. Moto E4 sudah mulai dijual secara resmi koq di Indonesia. Yang sudah kangen sama Motorola, semoga ponsel ini bisa menjadi jawaban untuk hasrat Anda bernostalgia ya!

Sekian review kali ini, oh ya lokasi pengambilan gambar pada video kali ini berada di salah satu tempat wisata di Kota Garut lho. Main yuk ke Garut!

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit. Wassalam!

Wednesday, August 9, 2017

Review Moto Z2 Play, Pilihan Terbaik Tahun Ini?



Bulan ini saya berkesempatan mencoba dua buah smartphone keluaran Motorola, eh Lenovo, yaitu Moto Z Play (versi retail China) dan Moto Z2 Play sekaligus. Dan pada review kali ini yang saya bahas adalah sang adik, alias sang pembaharu, Moto Z2 Play.

Hadir dengan dimensi yang lebih tipis, Moto Z2 Play menurut saya jauh lebih enak digenggam tangan daripada sang kakak. Ternyata 1 mm bisa memberi dampak perbedaan yang sangat signifikan ya di tangan. Namun kalau kita jeli, penipisan body Moto Z2 Play tidak terlalu berpengaruh pada ketebalan total dari smartphone ini. Ya, karena bulatan pada bagian kamera belakang Moto Z2 Play saya rasa memiliki ketebalan yang tetap sama dengan sang pendahulu, terlihat dari tonjolan ini yang semakin terlihat menonjol jika dibandingkan dengan bagian yang sama pada Moto Z Play.



Perbedaan lengkap dari Moto Z Play dan Moto Z2 Play saya bahas pada artikel atau video lain ya.

Overall, desain dari Moto Z2 Play ini terlihat cantik menggoda dan tentu saja terasa orisinil. Ya, orisinil adalah sebuah kelebihan yang patut dibanggakan belakangan ini mengingat rasanya desain smartphone sudah semakin mirip saja satu sama lain. Tipis dan keren, dua kata itu layak disandang oleh ponsel yang sudah mulai dijual resmi di Indonesia pada rentang harga enam jutaan ini.

Di bagian belakang kita masih akan melihat pin magnetic untuk koneksi ke berbagai Moto Mods yang tersedia untuk Moto Z2 Play ini. Sementara di bagian depan, nah ini dia jawaban tentang di mana sebetulnya loudspeaker ponsel ini berada, haha. Ya, loudspeaker-nya ada pada earpiece di atas layar Moto Z2 Play. Sedangkan di bawah layar ada sebuah cekungan yang merupakan fingerprint scanner yang sangat akurat dan cepat responnya. Pemindai sidik jari ini juga dapat difungsikan menggantikan ketiga tombol navigasi bilamana Anda ingin layar yang lebih lega tanpa barisan tombol tersebut. Jika sudah dinyalakan dari aplikasi Moto, maka Anda bisa melakukan tap untuk tombol home, swipe ke kanan untuk recent apps, dan swipe ke kiri untuk back. Kalau saya sih lebih senang pakai on-screen navigation saja deh, hehehe.

Lanjut ke sisi jeroan, ini adalah smartphone pertama yang mengusung processor kelas menengah dari Qualcomm, yaitu Snapdragon 626. Processor ini punya beban berat meneruskan kesuksesan Snapdragon 625 yang sudah disukai banyak pengguna smartphone Android, termasuk saya sendiri. Dan so far, Snapdragon 626 di Moto Z2 Play mampu memberikan performa yang semakin baik dengan daya tahan baterai yang tetap tergolong awet.

Dalam masa pemakaian saya, Moto Z2 Play selalu mampu memanfaatkan baterainya yang berkapasitas 3.000 mAh ini untuk melalui satu hari dan satu malam penuh dengan masih menyisakan baterai untuk beberapa jam pemakaian lagi. Sayangnya saya tak bisa membandingkan konsumsi daya ini dengan Snapdragon 625 secara apple to apple mengingat Moto Z Play memiliki kapasitas baterai yang berbeda.

Sejauh itu pula, saya rasanya tak pernah merasakan suhu dari Moto Z2 Play meningkat saat digunakan mengakses internet meskipun dalam waktu yang cukup panjang. Saya biasanya hanya bermain game dalam waktu yang singkat sih, dan dengan pola gaming seperti ini juga tidak ada masalah dengan suhunya. Performanya sendiri untuk gaming terbilang baik, sewajarnya memang begitu karena Snapdragon 626 ini konon merupakan hasil overclock dari Snapdragon 625. Sehingga skor Antutu Benchmark-nya pun jelas lebih tinggi.

Kalau berbicara masalah software dan user experience-nya, inilah dia pure Android yang sesungguhnya. Nyaris tanpa permak apa-apa, rasanya nikmat sekali merasakan pengalaman menggunakan semua fitur dan kelebihan yang dimiliki oleh Android Nougat 7.1.1 terbaru. Lenovo memperkaya konten pada smartphone ini dengan sentuhan muatan lokal, eh kaya nama mata pelajaran jaman SMP dulu yak, heuheu. Maksudnya ada beberapa tampilan yang dibuat lebih Indonesia, selain kemasannya yang merah, yaitu booting animation dan wallpaper default yang serba Indonesia.

Beralih ke sisi kamera, Moto Z2 Play memiliki kamera utama dengan resolusi 12 Megapixels. Hasil fotonya dalam kondisi pencahayaan yang baik, menurut saya imut sekali, eh koq imut? Ya gitu deh, hasilnye menggemaskan, warna yang keluar dengan baik, serta bokeh yang sangat lembut, membuat saya bertanya-tanya, siapa yang butuh kamera ganda kalau dengan satu kamera seperti ini saja hasilnya sudah seimut ini. Yah, imut lagi, haha.

Saya beberapa kali mengambil gambar dalam kondisi lowlights, hasilnya menurut saya agak beragam. Ada kondisi di mana saya puas dengan hasilnya, namun ada pula hasil gambarnya yang cukup kentara akan noise yang bertaburan.

Kamera depannya pun tak kalah bagus, dan sudah ada fitur beautify yang saya curigai merupakan request dari Lenovo, hahaha. Dengan dual-tone LED flash di sisi depan, selfie dalam kondisi kurang pencahayaan dapat tetap dilakukan tanpa membuat warna kulit terlihat aneh.

Satu hal yang cukup istimewa adalah saat digunakan merekam video. Terasa ada stabilisasi yang terjadi, cukup membantu agar bisa diandalkan merekam momen-momen dalam gerakan. Jadilah Moto Z2 Play ini cocok juga kalau mau dipakai vlogging.

Silakan disaksikan video dan foto yang dihasilkan oleh Moto Z2 Play pada video review berikut ini.



Bahasan terakhir adalah soal multimedia. Moto Z2 Play ini bisa jadi sahabat yang baik untuk kebutuhan multimedia. Layar Full HD berdimensi 5,5 inci dengan panel AMOLED tentunya akan sangat indah digunakan menikmati video-video beresolusi tinggi dengan warna-warna yang hidup. Sementara output audio-nya cukup untuk kita mendengarkan dialog di film, maupun musik-musik kesayangan. Namun sejujurnya, ini bukan loudspeaker terbaik yang pernah saya coba, rasanya power-nya tak cukup lantang buat saya. Mungkin Lenovo ingin mendorong penggunanya untuk memasang Mods speaker untuk ponsel ini ya, hehehe.

Nah, ngomong-ngomong soal Moto Mods, saya kebetulan tak punya satu pun, jadi takkan ada bahasan soal Mods ini di ulasan kali ini. Hanya saja, bisa dipastikan Moto Z2 Play akan compatible dengan semua Moto Mods baik itu yang generasi pertama, maupun yang baru dirilis berbarengan dengan ponsel ini.

Masuk ke kesimpulan, Moto Z2 Play adalah sebuah smartphone yang memiliki jatidiri sebagai ponsel pure Android dengan desain yang unik, dan fitur-fitur yang menarik. Terasa sekali setiap sisi dari ponsel ini diperhatikan dengan sangat detail, mulai dari desain bodinya yang distinctive, sentuhan-sentuhan pada sisi software, hingga fitur-fitur tambahan yang ditawarkan dengan modularitas dari Moto Mods-nya.

Dengan performa dan daya tahan baterai yang baik, desain tipis nan menawan disertai build quality jempolan, layar yang indah, dan kamera yang dapat diandalkan, Moto Z2 Play sangat layak masuk daftar rekomendasi smartphone Android tahun ini. Satu yang mungkin perlu diperhatikan adalah harga jual resmi Moto Z2 Play yang cukup tinggi, yaitu pada level enam jutaan dengan berbagai bonus yang disertakan.

Satu hal yang saya perhatikan dari Moto Z dan Moto Z Play tahun lalu, kedua ponsel ini memiliki harga jual kembali yang cukup jatuh, dan juga tak lekas laku kembali. Jadi, jika Anda sudah siap berkomitmen panjang dengan sebuah smartphone, Moto Z2 Play bisa jadi jawaban yang tepat. Biar makin lekat, sekalian beli beberapa Moto Mods-nya deh, dijamin nanti jadi malas berganti ponsel lagi, soalnya udah kadung beli banyak tambahannya haha.

Bisa disimpulkan kan maksud saya? Ya, Moto Z2 Play adalah ponsel yang baik dan berkualitas, namun perlu diperhatikan mengenai harga-nya yang juga cukup premium.

Demikian review saya, hatur nuhun!

Saturday, July 22, 2017

Review OnePlus 5 Indonesia, Flagship (Ga Pake) Killer



Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan bisa mencoba smartphone terbaru yang lagi panas-panasnya dibicarakan secara global. Ya, saking panasnya hingga stoknya seringkali cepat habis. Termasuk di GearBest.com, stoknya cepat sekali menguap, sehingga counterpart saya sulit sekali mendapatkan jatah untuk dikirim ke saya.

Namun yang terjadi malah sengsara membawa nikmat, langkanya stok OnePlus 5 versi RAM 6 GB malah membuat saya kebagian OnePlus 5 dengan RAM 8 GB dan internal storage 128 GB. Serius, nikmat sekali rasanya, hahaha. Dan inilah dia smartphone dengan RAM 8 GB yang pertama saya coba.


Kesan pertama saya pada OnePlus 5 ini adalah tentu saja ini device yang secara penampilan amatlah menarik hati. Kemasannya pun terasa istimewa, membuat pikiran ini kembali ke satu tahun lalu saat saya mencoba produk OnePlus pertama saya, OnePlus X. Ya, produk-produk OnePlus ini punya packaging yang sangat terasa diniatkan untuk memberi impresi pertama yang baik.

Smartphone-nya sendiri langsung mencuri hati saya saat pertama kali memegangnya, begitu tipis, dengan backcover metal yang finishingnya lembut sekali di tangan. Dan meskipun berdimensi layar 5,5 inci, tetapi saya masih mampu memegangnya dengan nyaman, kecuali saat saya sadar bahwa ponsel ini di Indonesia dijual dengan harga delapan jutaan. Rasanya hati ini langsung merasa riskan dan tak tenang, mengingat memang OnePlus 5 terbilang licin sekali. Belum siap mental nampaknya punya hape mahal nih, hahaha.

Banyak orang bilang OnePlus 5 ini terlalu mirip dengan iPhone 7 Plus, mulai dari posisi dua kamera belakang dan LED Flash-nya, garis antenanya, hingga penempatan tombol-tombolnya yang memisahkan antara tombol power di kanan dengan tombol volume dan profile switch di sisi kiri. Namun begitu, setidaknya di sisi bawah ponsel ini, OnePlus masih melestarikan keberadaan port audio 3,5 mm sih hehehe.

Di sisi bawah ini pula terdapat port USB type-C dan speaker grille. Sayang posisi speaker ini berada di kiri yang mana membuatnya pasti tertutupi tangan pengguna saat dipegang dalam posisi landscape. Padahal secara kualitas, bisa dibilang tak ada masalah dengan speaker yang bunyinya lantang ini. Namun saya pun setuju dengan review lain yang menyebutkan speaker ini sedikit kurang ngebass.

Desain sisi depan ponsel ini terasa mainstream sekali, saya jadi ingat dengan Meizu M5 saya dulu yang harganya nyaris seperlimanya saja, hehe. Namun, sebetulnya ada dua hal yang menarik dari panel depan OnePlus 5 ini. Pertama tentu saja layarnya yang meskipun banyak dicibir karena masih beresolusi Full HD saja, menurut saya sangat baik dalam berbagai aspek. Reproduksi warna panel AMOLED tentu saja masih menjadi salah satu yang terbaik, sementara kerapatannya resolusi 1080p masih sangat cukup pada ukuran layar 5,5 inci seperti ini, dan takkan memberatkan kinerja graphic processor serta baterai. Respon yang diberikan pun sangat lancar sejauh ini. Kedua, sedikit di bawah layar kita akan menemukan sebuah fingerprint scanner yang juga merupakan tombol home kapasitif. Bahannya terbuat dari keramik yang memiliki ketahanan akan goresan yang sangat baik. Selain itu, akurasinya sangat baik dengan waktu respon yang sangat cepat dan nyaris tak pernah gagal membaca sidik jari saya.

Lanjut ke bagian jeroannya, OnePlus 5 sah-sah saja dibilang monster ya. Dengan processor terbaru dari kasta tertinggi yang dirilis Qualcomm, OnePlus 5 menjadi salah satu dari segelintir smartphone yang sudah menggunakan Snapdragon 835. Di beberapa berita disebutkan bahwa skor Antutu-nya merupakan yang tertinggi saat ini, meskipun di beberapa berita lainnya disebutkan pula adanya upaya OnePlus mengatrol skor ini dengan cara yang tidak semestinya.

Terlepas dari rumor-rumor tersebut, saya percaya tanpa melihat skor benchmark pun, performa OnePlus 5 sudah sangat top. Sebelumnya saya pernah mencoba processor yang sama di Xiaomi Mi 6, dan di OnePlus 5 pun terasa juga performanya yang super, dengan konsumsi baterai yang tetap irit dan tak banyak membuat suhu ponsel meningkat.

Dengan kapasitas baterai yang relatif sama dengan Xiaomi Mi 6, harus diakui daya tahan baterai OnePlus 5 masih di bawah Mi 6. Jika dulu saya bisa membawa Mi 6 bertahan hingga 2 x 24 jam, maka di OnePlus 5 rata-rata hanya mampu menembus sehari semalam lebih beberapa jam saja. Optimisasi baterai di MIUI yang kadang membuat notifikasi agak telat masuk, saya rasa jadi faktor pembeda. Nah, Anda tinggal pilih saja, mau baterai tahan 2 harian atau mau notifikasi yang real time?

Kalau saya? Saya malah benar-benar betah menggunakan OnePlus 5 justru karena Oxygen OS-nya ini. Selain notifikasi yang real time, banyak fitur tambahannya yang esensial dan mengingatkan saya pada custom ROM Lineage serta Resurrection Remix. Mulai dari fitur gesture, hingga kustomisasi tombol yang membuat saya dapat melakukan aksi berpindah antar dua aplikasi terakhir hanya dengan menekan dan menahan salah satu tombol kapasitifnya. Saya suka dengan custom UI yang masih membuat kita masih bisa merasakan kelebihan-kelebihan dari OS Stock Android terbaru seperti ini, terutama pada jendela notifikasi.

Lalu bagaimana dengan RAM 8 GB-nya? Intinya mah, multitasking udah nggak usah dipikirin. Maen game lalu ditinggal buka notifikasi yang masuk, kelupaan beberapa jam, dan saat dibuka lagi gamenya langsung muncul ke layar terakhir saat kita memainkannya tanpa loading, seharusnya bisa menggambarkan bagaimana enaknya punya RAM besar ya. Dan ini berlaku juga buat browser yang tak perlu loading lagi saat dibuka kembali, saking besarnya kapasitas RAM untuk menampung process yang berjalan. Satu yang patut diingat, menyimpan banyak process di RAM berarti juga banyak daya yang dibutuhkan ya, bisa jadi baterai lebih cepat habis kalau kita tak tutup aplikasi-aplikasi yang sudah tak diperlukan lagi.

Lanjut ke sisi kameranya, seandainya saya tak tahu harganya yang mahal, pastilah saya akan sangat takjub dengan kemampuannya memproduksi gambar yang detail dengan warna-warna cerah. Proses pengambilan gambar pun selalu berlangsung dengan baik, autofokus maupun mode HDR dapat berjalan dengan cepat. Dalam kondisi lowlights pun kamera OnePlus 5 masih sangat dapat diandalkan, meskipun bagi saya pribadi hasilnya tidak begitu istimewa.

Satu hal yang jadi catatan penting justru datang dari proses perekaman video. Hadirnya EIS menggunakan bantuan gyroscope sensor, membuat pengambilan gambar terasa sangat stabil baik dalam berbagai kondisi pencahayaan. Memang seperti inilah seharusnya kamera ponsel dengan harga setinggi ini mah sih, malah aneh kalau tak sebagus ini.

Seberapa bagus dan seperti apa stabilization yang dihasilkan dapat Anda simak pada rentetan video dan gambar yang dihasilkan dari kamera OnePlus 5 berikut ini ya.
















Masuk ke kesimpulan, OnePlus 5 sudah dapat dikatakan flagship tanpa kata killer di belakangnya. Iya lah, flagship killer lebih layak disandang oleh ponsel yang peforma atau spesifikasinya setara ponsel flagship dari brand besar, namun dijual pada level harga yang berbeda. Nah, kalau 8 jutaan mah, LG G6 saja sudah di bawah 8 juta sekarang harganya. Mungkin smartphone yang masih bisa dibilang flagship killer menurut pandangan saya adalah Xiaomi Mi 6 ya.

Oke, sekarang terlepas dari status flagship killer atau bukan, OnePlus 5 adalah smartphone yang cantik luar dalam. Tidak ada kekurangan yang terlalu mendasar yang dimiliki oleh ponsel ini, walaupun untuk saya pribadi ada tiga hambatan utama untuk tak menjadikannya daily driver:

  1. Harganya mahal sekali untuk ukuran saya, membuat perasaan was-was selalu muncul saat menggunakannya.
  2. Licin sekali. Sudah mahal, licin pula. Wah, makin deg-degan pakainya, takut jatuh dan terluka heuheu. Apalagi saat ini case-nya masih jarang sekali yang jual, dan kalaupun ada mahal harganya. Lagipula smartphone cantik dan tipis koq pakai case? Tapi kalau nggak pakai case, ga tenang. Malah dilema jadinya.
  3. Loudspeaker. Selain posisinya yang sering tertutup tangan, kualitas suaranya pun masih tak terlalu istimewa untuk ukuran harganya. Kencang dan clear, tapi kurang ngebass dan bertenaga.
Tanpa mengindahkan preferensi pribadi saya barusan, saya rasa OnePlus 5 jadi smartphone terbaik yang bisa didapatkan dengan harga delapan jutaan, dengan catatan Anda tak memerlukan layanan purna jual ya. Karena sebagaimana kita tahu, OnePlus sudah hengkang dari Indonesia karena BBK Group lebih memilih untuk fokus menjual duet brand smartphone mereka, Oppo dan Vivo. Mungkin mereka sudah punya hitung-hitungannya tentang hal ini, melihat semakin gencarnya promosi kedua brand ini. Mungkin pangsa pasar internet brand seperti OnePlus ini di Indonesia terlalu segmented sepertinya.

Jadi, bijaklah saat Anda hendak memutuskan untuk lanjut atau tidak membeli OnePlus 5. Kalau Anda memang smartphone enthusiast yang gatal jika tak mencoba produk hot terbaru dengan spesifikasi nan menjulang, serta tak memerlukan jaminan pusat perbaikan di Indonesia, monggo, OnePlus 5 saya yakini takkan mengecewakan Anda. Cantik luar dalam, dengan spesifikasi tertinggi dan kamera yang sangat baik, harga delapan juta saya rasa masih pantas untuknya.

Namun jika belum apa-apa sudah muncul pertanyaan di benak Anda, kalau rusak nanti service di mana, saya rasa mending skip saja deh. Simak lagi alasan kenapa saya tak menjadikannya sebagai daily driver saya. Hehehe.

Demikian ulasan saya tentang OnePlus 5, Hatur Nuhun!

Info Diskon OnePlus 5 di GearBest.com:BUY OnePlus 5 (8GB / 128GB) at http://smarturl.it/GB_ONEPLUS5_128 ($569.99 with coupon: "RTOnePlus5")
BUY OnePlus 5 (6GB / 64GB) at http://smarturl.it/GB_ONEPLUS5_64 ($469.99 with coupon "PlusHFG")
BUY Xiaomi Mi 6 (6GB / 64GB) at
http://smarturl.it/GB_MI6 ($419.99 with coupon "MiHK4G")

Thursday, July 20, 2017

Review Vernee Mars - Cantik Kekinian di 2-jutaan



Cantik. Satu kata ini memang sangat tepat mewakili perkenalan kita pada smartphone ini. Ya, impresi pandangan pertama pada Vernee Mars ini memang berujung pada kesimpulan bahwa ponsel ini memiliki kelebihan di sisi looks.



Bagian layar hitam pekat dengan tepian 2.5 D siap menunjukkan ketipisan bezelnya saat dinyalakan, walau memang tak seperti foto produk untuk promosinya yang seolah menunjukkan bagian depan yang bezelless di kedua sisinya. Jadinya, dengan bentang layar 5,5 inci pun, Vernee Mars ini masih sangat nyaman digenggam karena ukurannya cukup compact.

Chamfered metal nan mengkilap menjadi batas frame metal dengan kaca depannya. Penempatan komponennya sendiri sangat umum, sim-tray di kiri dan di sisi bawah terdapat lubang microfon, USB Type-C dan loudspeaker. Tombol power dan volume rocker di kanan, dan port audio 3.5 mm di atas. Ya, saya tak menemukan lubang untuk noise cancellation microfon pada Vernee Mars ini.

Eh, di mana fingerprint scanner-nya ya? Apakah ponsel ini tak memilikinya? Tenang dulu, ada koq. Di sisi kanan, tepatnya di bawah tombol power ada sebuah bidang yang merupakan pemindai sidik jari. Letaknya seperti fingerprint scanner pada ponsel-ponsel keluaran Sony ya, hanya bedanya yang ini cukup disentuk, tak perlu ditekan dulu seperti milik Sony.

Garis antena menyambung dari frame pinggir ke backcover-nya yang menyatu dengan tepian yang agak tajam menandakan perpindahan dari bagian pinggir ke belakang. Bentuk garisnya yang mengikuti trend ponsel sekarang menegaskan desain yang kekinian, alias terbawa arus masa. Hehe. Kamera utamanya yang beresolusi 13 Megapixels ditempatkan di pojok kanan atas bersama dual-tone LED flash.

Dari berbagai sudut, Vernee Mars ini tetap terlihat cantik. Tapi apakah hatinya secantik wajahnya?



Vernee Mars dalam Pemakaian Sehari-hari

Kita kupas soal jeroan Vernee Mars dulu. Memilih menggunakan processor Mediatek Helio P10 untuk menemani RAM-nya yang sebesar 4 GB, sejauh ini tidak ada kendala berarti dari sisi performa ponsel ini saat digunakan berkegiatan di dunia maya. Ya, konfigurasi seperti ini sudah cukup banget kalau untuk kebutuhan social media, browsing, dan chatting di beberapa aplikasi sekaligus.

Namun sayangnya, dengan baterai berkapasitas 3.000 mAh, saya belum berhasil menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya. Mungkin karena kali ini saya menginstall dan login di BBM buat jualan kaos Lebaran juga ya. Masih cukup sih untuk pola pagi lepas charger, malam sebelum tidur colok lagi. Penurunan sisa baterainya tak pernah terlalu drastis koq.

Beberapa ponsel lain yang pernah saya pakai juga memiliki processor yang sama dan juga berbahan metal, tetapi rasanya Vernee Mars ini lebih cepat menghangat dibandingkan ponsel-ponsel itu. Sepertinya heatsink milik smartphone yang satu ini kurang baik mengalirkan panas agar cepat tersirkulasi.

Digunakan bermain game casual hingga game balap dengan grafis 3D yang cukup detail, tidak ada masalah berarti yang saya temukan. Saya tak mencoba bermain game yang terlalu berat mengingat kelas dari processor ini yang memang tidak menawarkan performa menjulang. Bisa dilihat dari skor benchmark menggunakan tools Antutu berikut ini yang sebetulnya tidak tergolong rendah.

Setidaknya, kelengkapan sensornya cukuplah untuk mereka yang memiliki kebutuhan gyroscope untuk fungsi VR dengan smartphone ini.

Oh ya, satu lagi soal jeroannya, sejauh yang saya ingat, rasanya baru kali ini saya menggunakan ponsel dengan processor Helio P10 yang mampu terkoneksi ke jaringan 4G dan 3G berbarengan pada dua nomor yang terpasang.

Vernee Mars dapat diandalkan untuk kebutuhan multimedia. Ya, layar dari smartphone yang satu ini tergolong vibrant, warna yang dihasilkan sangat hidup, meskipun masih memiliki kekurangan yaitu warna hitam kurang pekat ditampilkan pada layar ini. Sementara kualitas audio yang dihasilkan melalui loudspeakernya tergolong baik, meskipun agak datar, nggak ngencring juga nggak punchy, tetapi masih jernih hingga volume maksimal. Jika menggunakan earphone berkabel, ponsel ini mampu memberikan volume yang kencang, serta mendrive sang earphone dengan baik untuk mengeluarkan kemampuan terbaik sang earphone.

Walau pada kemasannya tertulis masih menggunakan OS Android 6.0 Marshmallow, pada kenyataannya Vernee Mars sudah pakai Nougat lho. Dengan tampilan yang sangat stock Android dan penggunaan on-screen navigation button, saya rasanya sangat senang dengan Vernee Mars ini.

Namun sayang, kenyamanan penggunaannya sedikit terganggu oleh fingerprint scannernya. Bukan posisinya yang salah, kalau posisinya justru enak karena terasa natural sekali dengan posisi jempol saya. Yang jadi masalah adalah seringnya sensor ini gagal membaca sidik jari saya, terkadang masalah ini bisa diatasi dengan sedikit memberi tenaga saat menempelkan jempol, tetapi kadang sama sekali tak membantu. Semoga Vernee notice dengan hal ini dan memberi perbaikan dari sisi software-nya nanti.


Kamera Vernee Mars

Interface aplikasi kamera bawaan Vernee Mars, lagi-lagi sangat standar. Mirip banget dengan kamera stock yang juga dimiliki oleh Luna G dan Sharp Z2. Jadilah fitur-fitur yang dimilikinya juga tak kalah standar, tak ada mode manual yang dapat dipilih.

Seperti juga kamera utama Luna G yang beresolusi 13 Megapixels, kamera Vernee Mars ini juga dapat diandalkan. Autofokusnya cepat, hasilnya tajam, dan jarak fokus minimalnya terbilang sangat dekat.

Yang jadi perhatian saya adalah tone dari hasil foto saat menggunakan HDR, terkesan purple-ish baik saat di jendela bidik maupun hasil jadinya. Selain itu metering-nya masih sering meleset, terkadang terlalu terang, kadang gelap. Untungnya ini sepertinya hanya masalah software kameranya saja, karena saat menggunakan kamera dari aplikasi Instagram, masalah ini tak muncul sama sekali.

Kamera depannya mah bisa dibilang biasa banget.

Langsung saja deh simak hasil foto menggunakan kameranya yang saya unggah pada artikel review hasil kamera Vernee Mars berikut ini.

Apa Kata Aa tentang Vernee Mars

Vernee Mars ini dijual pada harga normal $189, dan kalau sedang promo, harganya turun hingga $159 saja. Dengan harga normalnya, menurut saya apa yang diberikan oleh ponsel ini sepadan dengan harganya. Namun, jika Anda bisa mendapatkannya pada harga promosi tadi, jadinya sangat worth the money menurut saya.

Bagaimana tidak, dengan harga dua jutaan saja, kita sudah dapat ponsel Android Nougat dengan RAM 4 GB, internal storage 32 GB, layar Full HD yang baik, serta kemampuan multimedia di atas rata-rata. Dan yang pasti, Anda akan mendapatkan sebuah ponsel yang sangat cantik, dengan desain kekinian, serta memiliki perbedaan pada fingerprint scanner yang ditempatkan di pinggir ponsel.

Seandainya saja baterainya lebih awet lagi dan kinerja fingerprint scannernya ditingkatkan lagi, maka akan semakin recommended deh ponsel ini. Karena sejauh pemakaian saya, hanya dua hal ini saja yang rasanya menjadi hal yang sedikit mengganjal.

Satu hal yang pasti jadi ganjalan mah, Vernee belum berjualan resmi di Indonesia. Ini saja saya dapatnya dari GearBest.com, hehe.

Demikian review saya tentang Vernee Mars, semoga bermanfaat ya. Hatur nuhun!