Gadget Promotions

Friday, July 20, 2018

Review Sony Xperia XZ2 Compact, MUNGIL tapi Sangar!



Walau Sony sudah menyerah untuk bertempur di pasar smartphone Indonesia, jajaran produk Xperia ini ternyata masih cukup dinanti ya.

Sesekali saya pun dengan senang hati mencoba ponsel pintar keluaran Sony ini, dan saya bagikan pengalamannya kepada Anda para pemirsa.

Kali ini yang akan kita ulas adalah Sony Xperia XZ2 Compact. Ngga kapok beli yang Compact A? Nanti salah beli lagi hayooo?



Haha, ngga dong. Kali ini beneran dual-sim lho, walau masih hybrid ya slotnya. Dan yang saya pilih ini adalah warna white silver, yang memang lebih nampak keabuan ya daripada putih.

Kalau Anda tak tahu, spesifikasi ponsel ini tergolong nomor wahid lho. Walau punya dimensi super mungil berkat layar 5 inci yang sudah menggunakan rasio 18:9, tapi jeroannya berani diadu lawan ponsel-ponsel flagship brand lain yang umumnya berbadan bongsor.



Bagaimana tidak, processornya saja pakai Snapdragon 845 yang notabene adalah processor terbaru dan tertinggi Qualcomm untuk saat ini. Skor Antutu-nya besar, 200-ribuan, walau harusnya lebih tinggi dari apa yang didapat ini ya. Mungkin, akibat ponsel menghangat saat proses benchmark, sehingga performanya jadi terhambat. Tapi jika Anda teliti, skor GPU-nya mengalahkan 99% user lainnya lho.

Yup, untuk urusan spesifikasi dan performa, Sony Xperia XZ2 Compact ini memang tak perlu diragukan. Dipakai bermain game PUBG, by default settingannya bisa ke high, dan gameplay berjalan super lancar. Yang bikin kurang nyaman bermain sih memang layar mininya, yang membuat saya sering buang-buang peluru karena tak sengaja menekan tombol fire. Haha.

Ya, harus diakui memang kalau maen game real-time seperti ini mah, enaknya layarnya yang lega ya. Sony Xperia XZ2 Compact sih punya kelebihan waktu disakuin atau waktu kita hanya bisa mengoperasikannya dengan satu tangan saja. Yup, karena ringkas dan mungil, jadinya nyaman digenggam dengan sebelah tangan, dan karena tak licin, jadinya tentram deh.

Kalau dibilang tebal, ya memang tebal sih ponsel ini. Ukurannya yang mini, mau tak mau membuatnya harus menambah ketebalan demi bisa mengandung baterai berkapasitas 2.700 mAh yang kalau dipakai secara casual sih mampu menembus 23 jam dalam sekali pengisian daya. Tapi kalau dipakai ngegame, setengah hari juga udah ngos-ngosan sih, hehe.

Untung saja ponsel ini sudah support Qualcomm Quickcharge 3.0, dan kepala charger yang disertakan dalam paket penjualan juga mendukung fitur ini. Asik deh!

Nah, yang lucu adalah, dengan body setebal itu, dia tak punya colokan headset heuheu. Adapternya dikasih memang di paket penjualan, namun terasa kurang praktis jadinya. Walau harus diakui, saya memang kalau mendengarkan musik selalu pakai bluetooth earphone, apalagi baik ponsel ini maupun earphone saya sama-sama support aptX-nya Qualcomm, jadi kualitas audio-nya keangkat banget.

Termasuk kalau pakai loudspeakernya ya. Selain stereo, di mana kedua speakernya yang berada di depan sama-sama mengeluarkan suara, powernya pun terasa sangat baik, dengan detail yang tetap terkontrol. Silakan didengarkan sendiri yah, itu saya putar dengan volume maksimal.

Lanjut ke kameranya, Xperia XZ2 Compact memang masih keukeuh hanya mengandalkan masing-masing satu kamera saja di depan dan belakang. Bahkan kamera depannya hanya beresolusi 5 Megapixels saja, sementara kamera belakang sih khas Sony dengan sensor beresolusi besar di 19 Megapixels.

Ya, Sony memang gak mau dibawa arus. Saat yang lain berlomba-lomba besar-besaran kamera depan, atau nambah jumlah kamera belakang sampai 2 bahkan 3, Sony tetap tampil sederhana.

AI Camera? Sony tak perlu embel-embel AI sih, walau dari jaman dulu kameranya sudah memiliki kecerdasan buatan untuk mengenali scene yang sedang dibidik, dan menyesuaikan pengaturannya agar optimal.

Banyak mode unik pada kamera ponsel Sony, seperti biasa ya, jadi favorit anak saya heuheu. Oh ya, ada mode bokeh juga, namun sayang hasilnya belum bisa serapi Google Camera nih.

Stabilisasi pada videonya tergolong baik meskipun sebatas dibantu gyroscope EIS. EIS, saya ngga akan bikin jokes soal Euis dulu ah, nanti bosen hehe. Dan biar ga bosen, sok atuh disimak dulu hasil foto dan videonya, jangan lupakan fakta bahwa Xperia XZ2 Compact ini sudah mampu menghasilkan video slow motion di 960 fps dengan resolusi Full HD lho!



Okay, bagaimana menurut Anda jika semua yang ditawaakan Sony Xperia XZ2 Compact tadi, harus ditebus seharga hampir 8 juta Rupiah, worth it ngga? RAM-nya 4 GB, dan storage bawaan 64 GB bertipe UFS yang pasti kenceng sih.

Dibalut Xperia UI yang memiliki notifikasi super real-time tanpa ditahan-tahan, sebetulnya ponsel ini enak banget dipakai. Hanya memang agak jomplang ketika tangan ini sudah terbiasa dengan yang ukurannya 6 incian. Belum lagi posisi fingerprintnya yang terlalu ke bawah, membuat jari harus lebih ditekuk saat hendak merengkuhnya.

Mungkin buat gamers akan susah untuk dinikmati ya, karena layarnya sempit. Padahal warnanya vibrant sekali, saya suka banget. Terlebih karena panel displaynya terasa menyatu dengan panel sentuhnya, tak ada jarak. Dan dengan tepian 2,5D, makin enak saja disentuh-sentuh.

Tapi harus diakui, pada akhirnya saya pun memilih untuk melepaskannya kembali. Masalah handling yang kurang enak, plus saya lagi suka bermain game PUBG jadi persoalan utama. Sisanya sih bisa dikatakan tak ada komplain.

Saya bingung sih jadinya apakah ponsel ini recommended atau tidak. Pertama jelas ya ini bukan barang bergaransi resmi, harganya juga lumayan. Tapi spesifikasinya memang jempolan. Dan saya yakin beberapa orang memang sangat suka dengan ponsel mungil namun performanya sangar begini. Tapi battery life juga jadi taruhannya sih.

Gini aja deh, intinya Sony Xperia XZ2 Compact ini adalah produk berkualitas, dengan segala keunikan yang dipertahankan oleh Sony. Tapi memang produk ini segmented banget, dan bukan buat yang mengejar fitur-fitur kekinian ya. Cocok buat yang ngga mau tampil mainstream, tapi ada beberapa kenyamanan yang harus dikorbankan, semisal tidak adanya face unlock sampai saat naskah review ini selesai ditulis hehe.

Udah ya, gitu aja. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Review Samsung Galaxy J6 dan Perbandingannya dengan Galaxy J4



Samsung baru saja meluncurkan duo smartphone seri terbaru mereka di Indonesia. Yang pertama adalah Galaxy J4 yang sudah lebih dulu saya ulas, harga jualnya ada di kisaran 2-jutaan ya.

Satu lagi adalah Samsung Galaxy J6 yang dibandrol lebih mahal satu juta Rupiah.

Sebelum membahas produk yang kedua ini, yuk kita bahas dulu apa saja persamaan dan perbedaan dari keduanya, dan dimulai dari perbedaannya dulu ya!

Selisih harga sejutaan rupanya berimbas pada spesifikasi utama keduanya, di mana jika J4 menggunakan processor Exynos 7570 Quad, maka J6 sudah ditenagai oleh processor Exynos 7870 Octa yang artinya jumlah intinya 2x lipat ya. Selanjutnya, J4 dibekali RAM 2 GB, sementara J6 sudah 3 GB.

Perbedaan selanjutnya ada pada besaran kamera depan di mana milik J4 beresolusi 5 Megapixels dengan aperture f/2.2, dan pada J6 besarannya ada di angka 8 Megapixels dengan bukaan lensa lebih lebar di f/1.9.

Sisanya adalah perbedaan yang sangat kasat mata, yaitu J6 sudah dibekali fingerprint scanner di bagian punggung ponsel, dan sudah menggunakan infinity display dengan rasio 18,5:9. Sementara J4 masih menggunakan rasio layar 16:9 dengan tombol home fisik di dagu ponsel.

Kedua ponsel ini sama-sama sudah menggunakan panel layar Super AMOLED yang tergolong mewah untuk digunakan oleh smartphone 2 hingga 3 jutaan ya. Jangan ditanya bagaimana rasanya menyimak konten-konten multimedia di layar dengan vibrancy yang keren ini, dijamin betah deh.

Terlebih kedua ponsel ini dibekali dengan fitur Dolby Atmos Surround Sound yang dapat dinikmati saat menggunakan headset yang disertakan dalam paket penjualannya.

Baik J4 dan J6 pun sama-sama memiliki dua slot simcard ditambah satu slot micro-SD dedicated, yang membuat kita tak perlu riskan lagi mengenai masalah storage.

J4 memiliki kelebihan berupa baterai yang dapat dilepas dengan mudah. Sementara J6 hadir dengan desain unibody sehingga memerlukan sim tray ejector untuk mengganti kartunya, tapi di sisi lain jadi menguntungkan karena baik simcard maupun micro-SD-nya jadi bersifat hot swappable.

Satu hal lagi yang patut dicatat adalah kedua smartphone ini sudah memiliki adjustable LED Flash di bagian depan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas selfie di kondisi cahaya kurang ideal.

Persamaan terakhir sih sebetulnya fitur-fitur yang setia menemani smartphone Samsung pada umumnya, yaitu fitur signal max yang membuat penerimaan sinyal lebih stabil, lalu ada fitur Ultra Data Saver untuk yang butuh menghemat kuota internet, dan tak lupa adanya aplikasi Samsung Gift yang sering memberikan promosi dan diskon produk-produk dari merchant yang sudah bekerja sama.

Nah oke, jika Anda ingin tahu lebih banyak soal Galaxy J4, silakan tonton video review lengkapnya yang sudah saya buatkan ya. Ada di card pada bagian kanan atas video ini, maupun di akhir video nanti.

Sekarang kita masuk lebih dalam ke bahasan mengenai Galaxy J6. Mungkin banyak netizen yang kritis mengenai harga berbanding spesifikasi di atas kertas yang Samsung berikan. Tak salah sebetulnya anggapan ini, namun ada baiknya jika dilihat dari sisi lain.



Samsung memberikan fitur-fitur yang memudahkan pengguna dalam kehidupan sehari-hari, contohnya ya yang sudah tadi saya sebut. Lalu tambahkan dengan fakta bahwa Samsung Experience hingga saat ini masih saya nilai sebagai salah satu UI Android terbaik yang bisa diberikan oleh sebuah pabrikan smartphone.

Jangan tanya berapa porsi biaya riset dan pengembangan untuk masalah UX ini ya. Pun soal jaminan purna jual yang Samsung berikan untuk produk-produknya. Komitmen Samsung bisa dibilang terdepan, bahkan di kota kelahiran saya, Garut saja, sudah hadir service center resmi dan mandiri milik Samsung. Cimahi mah sudah pasti ada lah, heuheu.

Jadi sekali lagi Samsung Galaxy J6 akan lebih favorable buat mereka yang hendak memiliki sebuah smartphone yang bisa diandalkan dalam jangka waktu panjang. Bukan yang sebulan dua bulan sudah ganti ponsel baru lagi.

Tapi jangan salah, Galaxy J6 ini performanya cukup mengesankan lho. Performanya lancar-lancar saja digunakan untuk berbagai kegiatan saya di dunia maya. Sesekali diajak bermain game pun hayuk, dan ga gampang demam. Saya masih bisa memainkan beberapa game HD dengan nyaman selama ini.

Untuk urusan daya tahan baterai pun tidak ada masalah, di mana baterainya yang berkapasitas 3.000 mAh mampu bertahan menemani kegiatan saya sehari-hari dengan rekor pemakaian selama 2 hari 2 malam saat jarang digunakan. Dan sekitar 30 jam saat penggunaan mulai intens, dengan SoT rata-rata 3-4 jam.

Secara default Samsung Experience akan membuat Anda selalu menerima notifikasi secara realtime, namun semakin lama Anda gunakan, maka sistem ini akan mempelajari pola pemakaian Anda dan memberikan berbagai rekomendasi yang sesuai. Nice.

Yang saya sangat suka sih dimensi body-nya yang cukup compact. Layar 5,6 inch dengan rasio memanjang ala Infinity Display malah menghasilkan body yang lebih ringkas dari Galaxy J4 ternyata. Dan warna hitamnya ternyata membuat penampakannya lebih macho dan mengkilap ya daripada warna ungu yang memang lebih feminim.

Sayang body berbahan polikarbonat ini agak mudah kotor oleh bekas minyak dari jari. Jadi kalau mau pakai case, saya sangat menyarankannya. Tenang saja, hape Samsung mah bentar juga udah banyak yang jual case-nya koq, heuheu.

Eh iya lupa, kita belum bahas kameranya ya. Kamera smartphone Samsung tergolong bisa diandalkan sih, meskipun untuk smartphone 2 dan 3-jutaannya. Warna dan ketajamannya tergolong baik, walau fiturnya tak sebanyak ponsel flagship Samsung semisal S-series maupun Note-series ya.

Yang patut diapresiasi adalah penggunaan lensa dengan bukaan lebar di f/1.9 untuk kedua kamera yang dimiliki oleh Galaxy J6.

Lebih lengkapnya untuk hasil kamera di kondisi ideal, lowlights, hingga perekaman video dapat Anda saksikan berikut ini.



Masuk ke kesimpulan, bagi saya Galaxy J6 adalah smartphone yang patut diperhitungkan, dan saya yakini sudah punya segmen pasar yang sudah menanti-nantikannya.

Infinity Display dengan panel Super AMOLED, fingerprint scanner dan face unlock yang terbilang akurat, body yang enak digenggam, serta slot memori eksternal mandiri adalah kuncinya.

Bukan buat gamers memang, dan di atas kertas terlihat tidak terlalu menonjol, namun seperti yang saya bilang di video unboxing-nya, nampaknya J6 ini akan auto laku, alias tetap jadi pilihan sebagian konsumen yang sudah setia dengan brand ini.

Jangan salah, Samsung juga punya fans setia lho. Salah satunya adalah seorang wanita yang sudah 5 tahun lebih ini jadi teman hidup saya, hahaha. Dari jaman Samsung Nexus S sampai sekarang, belum pernah dia berganti merk. Hahaha.

Hmmm, sudah ah, nanti ada yang merasa terpanggil, haha. Kita tutup saja review-nya di sini ya, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, June 29, 2018

Review Huawei P20 Pro, Smartphone yang Menghambat Hobi Gonta Ganti Hape Saya!



Kabar baik bagi pecinta smartphone tanah air, terutama bagi saya pribadi, Huawei Indonesia memutuskan untuk membawa flagship P-series mereka tahun ini ke Indonesia.

Dan tak tanggung-tanggung, langsung varian tertingginya yaitu P20 Pro. Anda yang punya budget cukup dan bosan dengan smartphone itu-itu saja yang sudah dipakai rekan-rekan di pergaulan Anda, saya sarankan untuk menyimak video ini sampai habis deh. Biar tahu apakah smartphone ini dengan segala karakteristiknya bisa memenuhi kriteria Anda atau tidak.



Huawei adalah produsen smartphone dengan penjualan terbesar ketiga di dunia setelah Samsung dan Apple.

Sedikit disayangkan memang ada rantai yang terputus dalam pergerakan Huawei di Indonesia. Pasca terakhir menjual P9 yang merupakan smartphone pertama yang dikerjakan Huawei bersama Leica, Huawei terpaksa membatalkan perilisan Huawei P10 karena sudah terlalu dekat dengan cycle perilisan device selanjutnya, ya P20 series ini.

Entah kenapa, brand yang satu ini nampaknya belum melekat di hati khalayak ramai di tanah air. Padahal, sekali saja mencoba produk berkualitasnya, bisa jadi Anda akan tahu nilai lebih apa yang dimilikinya, dan ketagihan mencobanya lagi dan lagi.

Ya, saya sedang menceritakan pengalaman saya sendiri. Saat mencoba Huawei P9 Lite sekitar 2 tahun lalu, saya tak berharap banyak sebetulnya. Namun hasilnya, selanjutnya saya selalu menantikan kehadiran ponsel-ponsel terbaru baik dari Huawei, maupun dari internet brand mereka, Honor.

Selepas mencoba P9 Lite, petualangan saya berlanjut dengan Honor 8, Honor 6x, Honor 9, Huawei Nova 2, Huawei P10, Honor View 10, Honor 9 Lite, Honor 7x, hingga yang terakhir, Huawei Nova 2 Lite. Kebanyakan dari daftar produk ini harus saya dapatkan dari e-commerce luar negeri, demi mencoba produk-produk yang tak Huawei Indonesia bawa ke mari.

Hingga acapkali saya dilabeli Huawei Fans oleh viewers di channel Youtube saya ini. Padahal berulang kali juga saya jelaskan, jika saya menyukai kualitas produknya setelah mencobanya, bukan fanatisme semata, haha.

Dan fakta bahwa Huawei P20 Pro resmi dijual di Indonesia, pastinya jadi kabar baik bukan? Dan saya yakin tak hanya buat saya, tengok deh barisan komentar bernada positif dari beberapa kali saya posting hasil foto dan video dari kamera Huawei P20 Pro ini di Instagram saya.

Maka saya pikir tak salah jika DxoMark menghadiahkan skor tertinggi yang pernah mereka berikan hingga saat ini, untuk Huawei P20 Pro.

Yap, kamera nampak jadi kelebihan utama dari smartphone ini yang membuatnya tegak berdiri menatap persaingan di kasta smartphone teratas.

Tak hanya dari segi kualitas, kuantitas-nya pun memang dikedepankan oleh Huawei. Ini adalah smartphone pertama yang pernah saya uji, yang memiliki 3 buah kamera di sisi belakang.

Jika diurutkan dari paling bawah, lensa pertama adalah lensa yang ditemani oleh sensor monokrom dengan resolusi 20 MP. Lanjut ke kamera kedua yang merupakan lensa yang berpasangan dengan sensor RGB beresolusi 40 MP, ya saya tak salah sebut, 40 MP! Dan lensa paling atas adalah lensa telephoto alias zoom, yang memiliki kemampuan zoom optik sebesar 3x dengan sensor beresolusi 8 MP.

Mungkin sebagian dari Anda sudah pusing duluan dengan penjelasan teknis barusan ya, haha. Intinya sih begini, kamera Huawei P20 Pro yang bersertifikasi Leica ini, memiliki kemampuan zoom optik 3x, dengan zoom hybrid 5x. Sementara sensor monokrom dapat digunakan menghasilkan foto Black and White yang artistik, dan juga membantu memberikan data kedalaman saat digunakan pada mode bokeh yang pada smartphone Huawei lumrah dinamakan wide-aperture. Yap, pemilihan fokus dan pengaturan kadar bokeh-nya pun seperti biasa dapat dilakukan setelah foto diambil.

Kombinasi sensor RGB dan monokrom ini juga membuat kita dapat memiliki 3 karakter warna yang dihasilkan, mulai dari normal, vivid, hingga smooth. Perbedaan hasilnya dapat Anda lihat pada gambar ini ya.

Yang pasti, mode vivid membuat warnanya keluar semua. Saya yakin tak semua orang menyukai karakter warna begini, ada yang lebih suka karakter yang lebih natural, jadi pandai-pandai memilih mode ya. Kalau soal performanya dalam kondisi lowlights sih harap tak usah diragukan lagi.

Siapa di sini yang pernah menonton video review Huawei P10 di mana saya merekam dari atas delman yang berjalan, dan OIS-nya juara banget meredam goncangan? Nah, pada P20 Pro nampaknya melanjutkan tradisi itu. Stabilisasi menawan, perpindahan fokus halus, dan auto-metering yang baik membuatnya jadi kombinasi yang sangat menyenangkan bagi saya sebagai seorang content creator.

Performa kamera depannya pun sama menjanjikan. Anda yang senang berselfie ria, tak perlu khawatir deh. Resolusinya 24 Megapixels, dengan bukaan lensa f/2.0. Bagaimana? Sudah merasa lebih tenang sekarang?

Ada baiknya kita saksikan langsung hasil kamera Huawei P20 Pro ini yak, biar ada buktinya semua penilaian saya tadi. Mangga atuh sok disimak baik-baik lah. Hehe.



Sudah puas dengan kameranya? Sudah bisa memutuskan untuk meminang ponsel ini? Saya sarankan Anda lanjut dulu pada pembahasan selanjutnya deh.

Ya, ketika harus membahas desainnya, kita akan melihat perubahan drastis dari P9 dan P10, di mana backcover metal sudah digantikan oleh bahan kaca yang mengkilap nan elegan. Yang saya pakai ini varian warna hitam, di mana sebetulnya warna yang banyak ditunggu adalah warna twilight yang katanya seperti bunglon karena mampu berubah warna. Saya pun berharap bisa mencoba varian warna twilight ini suatu saat, walau yang hitam ini pun sudah begitu mempesona bagi saya.

Pemilihan material ini memang punya downside berupa bekas sidik jari yang cukup mudah tertinggal di backcover ini. Untungnya mudah dibersihkan, dan saya sendiri sih prefer pakai case untuk memastikan kemolekannya terjaga, termasuk untuk camera bump-nya itu.

Jika Anda menggengam Huawei P20 Pro di tangan, akan terasa bobot yang mantap, memberikan kesan solid dan premium. Tidak terlalu berat, walau memang tak bisa dikatakan ringan.

Beralih ke sisi depan, ada dua hal mencolok yang tak ditemukan di ponsel Huawei sebelumnya.

Pertama tentu saja hadirnya notch di sisi atas layar Huawei P20 Pro. Tenang saja, notchnya tergolong sangat kecil, di mana Huawei mampu dengan pintar menempatkan earpiece berbentuk bulat, LED notification, proximity sensor, dan kamera depan dalam space seminim itu. Dan jika Anda tetap tak dapat menerimanya, notch ini bisa disamarkan dengan membuat bagian di sudut kiri dan kanan menjadi hitam sehingga tak nampak lagi. Patut diakui bezel bagian atas layar Huawei P20 Pro ini sedikit lebih tebal dibanding bezel di samping.

Kedua adalah panel layar yang digunakan. Ya, P20 Pro sudah menggunakan panel AMOLED yang selain memiliki reproduksi warna yang sangat hidup, juga memungkinkan kita menampilkan fitur always display information, tanpa menguras baterai.

Bergeser ke bagian dagu ponsel, kita akan melihat fingerprint sensor berada pada posisi favorit saya. Yap, jarang-jarang memang ponsel dengan rasio layar 18,7 : 9 seperti ini masih memiliki pemindai sidik jari di sisi depan. Akurasi dan responsifitasnya sendiri jempolan lah, cepat dan presisi. Tak hanya itu, P20 Pro pun sudah punya kemampuan face unlock yang berkat large aperture pada kamera depannya, mampu berjalan baik di segala kondisi. Serius, segala kondisi, karena saya pernah menggunakannya di dalam kamar yang gelap, dan cahaya dari layarnya sudah cukup untuk membantu agar pemindaian wajah sukses dilakukan.

Satu hal yang cukup disayangkan, Huawei memutuskan meniadakan port audio 3,5 mm pada ponsel ini. Anda yang memiliki earphone atau headphone berkabel dipersilakan menggunakan adapter yang diberikan pada paket penjualan.

Loudspeaker-nya sendiri memiliki output yang sangat jernih dan bertenaga. Mau disetel dengan volume paling kencang sekalipun, suaranya tetap enak didengar. Detailnya tak hilang meskipun powernya terasa sekali.

Oh ya jadi teringat, beberapa waktu lalu ada yang menanyakan kepada saya, smartphone flagship kekinian apa yang masih memiliki infrared blaster agar dapat digunakan sebagai pengganti remote control. Lalu ada juga yang bertanya, flagship apa yang baterainya besar.

Kini saya punya jawabannya. Yap, dua hal tersebut dimiliki oleh Huawei P20 Pro. Smartphone ini punya infrared blaster, dan baterainya sebesar 4.000 mAh. Baterai sebesar ini nyaris selalu mampu dibawa menembus satu hari satu malam. Dalam konsisi terhemat bahkan mencapai 34 jam dalam sekali pengisian daya saja, dengan screen-on time rata-rata saya sekitar 3-4 jam ya. Perhatikan pola penggunaan saya yang jarang menyentuh smartphone di jam kerja. Tambahkan fakta bahwa smartphone ini juga mendukung fast charging.

Performa bukanlah sesuatu yang patut dipertanyakan pada smartphone flagship seperti ini. Skor Antutu Benchmark processor Kirin 970 ada di atas 200-ribuan. Dan dengan konsumsi daya yang tergolong hemat membuat saya betah bersamanya.

Dan kalau Anda cermat, di Top 3 smartphone brand di dunia, ketiganya merupakan produsen smartphone yang sudah mampu mendesign processor mereka sendiri. Apple dengan A-series Bionicnya, Samsung dengan Exynos-nya, dan Huawei dengan HiSilicon Kirin-nya. Mungkin benar memang bahwa performa yang optimal akan dihasilkan jika hardware dan software dikembangkan sejalan di satu tempat.

Dan jadilah saya harus memperkenalkan Huawei P20 Pro ini sebagai daily driver saya yang baru. Ironis memang jika menilik nama channel ini adalah Gonta Ganti Hape. Umumnya paling lama satu smartphone jadi daily driver saya sih 2 bulanan kalau sekarang, heuheu. Coba kita lihat dengan Huawei P20 Pro ini ya, kira-kira akan bertahan berapa lama.

Saya sadar, ulasan ini terlalu condong ke nada positif yang saya berikan. Namun sejatinya, kekurangan ponsel ini memang sangat sedikit, mungkin itupun hanya pada ketidakhadiran port audio 3,5 mm yang sebetulnya sudah ada solusinya berupa kabel adapter yang sudah ada dalam paket penjualan. Satu lagi mungkin harganya ya, saya yakin masih banyak pengguna smartphone di Indonesia yang ragu membayar sebanyak delapan digit angka untuk ponsel dari Brand ini, padahal seperti tadi saya bilang di awal, jika sudah dicoba bisa jadi Anda yang tak bisa melepaskan diri darinya.

Pepatah lama juga kan bilang, Tak Kenal Maka Tak Sayang. Jadi cobalah dikenali dulu, berbekal rekomendasi dari saya, saya pikir Anda takkan menyesal di kemudian hari koq. Posisi ketiga di dunia, dan skor DxoMark tertinggi bukankah suatu jaminan lainnya?

Hehe, selamat galau deh kalai begitu. Sementara saya menikmati momen membuat konten-konten selanjutnya ditemani oleh Huawei P20 Pro ini.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, June 22, 2018

Review Xiaomi Redmi S2, Saya Bingung Kenapa Xiaomi Kaya Orang Bingung?


Biasanya, jika saya membuka kotak produk Xiaomi, views-nya selalu ramai. Meskipun itu hanya earphone-nya saja, kalau smartphone-nya mah sudah pasti lah minimal ada 50-ribu views dalam 24 jam sejak video tayang.

Namun, ada anomali yang terjadi ketika Xiaomi Redmi S2 saya unbox di channel ini. Sudah 2 minggu berlalu, penontonnya bahkan tak sampai 25-ribu, kalah jauh bahkan dibanding saat saya unbox ponsel merk Elephone dan Ulefone, yang harusnya sih masih sangat asing di telinga penikmat smartphone tanah air ya.



Apakah mungkin, mifans dan selfie itu tidak klop? Ataukah karena Xiaomi belakangan hanya memberi jeda sebentar sebelum merilis smartphone baru? Atau karena Redmi S2 ini ngga termasuk kategori mending? Hmmm...

Marilah kita bahas dari price to spec comparison dulu ya.

Redmi S2 ini dibandrol seharga Rp 2.399.000 di flash sale yang diadakan di dua ecommerce tanah air. Lalu apa yang didapat?

Bisa dibilang spesifikasinya cukup aneh. Processor Snapdragon 625, dikombinasikan dengan RAM 3 GB dan storage 32 GB yang disokong oleh slot micro-SD dedicated. Layarnya berasio 18:9, dengan dimensi 5,99 inci dan resolusi HD+ saja. Baterainya sendiri berkapasitas 3.000 mAh.

Sudah bisa lihat di mana anehnya?

Ya, dengan harga yang lebih mahal 200-ribu dari Redmi 5 Plus, Redmi S2 ini memiliki processor dengan besaran RAM dan storage yang sama. Tapi, resolusi layarnya malah turun, pun begitu dengan kapasitas baterainya.

Memang sih, di atas kertas kameranya meningkat secara signifikan, di mana kamera depan beresolusi 16 Megapixels, dan kamera belakangnya sudah ada dua. Tapi memang semahal itukah kameranya?

Apalagi jika melihat fakta bahwa dengan menambah 100-ribu saja, kita sudah bisa mendapatkan Redmi Note 5 yang notabane punya processor lebih up-to-date dan juga lebih bertenaga, dengan resolusi layar yang tetap di Full HD+ dan baterai 4.000 mAh. Kamera Redmi Note 5 bahkan saya puji-puji waktu saya mengulasnya. Termasuk kamera selfienya yang walau resolusinya sedikit lebih kecil di 13 Megapixels, namun performanya memuaskan.

Jadi bingung kan? Redmi S2 ini untuk siapa? MiFans penyuka selfie? Tapi kan MiFans sangat kritis soal spesifikasi berbanding harga, dengan kondisi saat ini ya jelas mending beli Redmi Note 5 saja sekalian.

Mau menarik segmen pasar baru? Bisa jadi sih. Mungkin ini juga yang menyebabkan desainnya jadi mirip dengan smartphone selfie dari brand sebelah. Heuheu.

Terlepas dari itu semua, sebetulnya Redmi S2 ini produk yang tergolong baik koq. Snapdragon 625 di hape 2 jutaan adalah sesuatu yang ok. Performanya masih cukup banget, walau karena saya sudah coba Redmi Note 5 duluan, jadinya terasa ada penurunan.

Sama-sama menggunakan MIUI 9.5, gesture navigation pada Redmi S2 memang saya rasakan tak senikmat di Redmi Note 5, layar dari Redmi S2 ini seringkali kurang responsif saya rasakan. Apalagi saat hendak memulai perekaman video, delaynya sangat terasa.

Untuk urusan baterai, walau kapasitasnya lebih kecil, rupanya Redmi S2 mampu bertahan selama 2 x 24 jam dengan Screen-on Time 8 jam lho. Oh ya, pemakaian mayoritas untuk media sosial dan kamera ya, saya tak menggunakan ponsel ini untuk gaming sama sekali.

Dipakai selfie sih memang ponsel ini membuktikan kualitas kamera depannya. Walau saya akui tak secemerlang ponsel selfie 4-jutaan, ya wajarlah harganya kan terpaut cukup jauh.

Yang jadi keluhan saya adalah performa kamera belakangnya yang biasa saja. Ya, seperti balik lagi ke karakter ponsel Redmi lah heuheu. Padahal udah saya apresiasi sekali lho kamera yang digunakan pada Redmi Note 5 lalu.

Silakan dilihat langsung saja deh hasil fotonya. Waktu saya post di Instagram sih pada bilang B ajah, entah kalau dengan Anda yang menonton video ini ya, boleh banget tuliskan penilaian Anda di kolom komentar ya!



Tak banyak yang bisa saya ulas dari Redmi S2 ini. Rasanya sudah terlalu familiar apa yang ada pada ponsel ini. Performa ala Redmi 5 Plus, UX ala Redmi Note 5, dan sisanya ya beginilah MIUI.

Seandainya Xiaomi tak punya Redmi 5 Plus dan Redmi 5 Note untuk dijual resmi di Indonesia, sebetulnya Redmi S2 punya nilai yang bagus. Jago selfie di harga 2-jutaan, dengan processor kesayangan dan daya tahan baterai yang jempolan.

Sayang, dengan spesifikasi berbanding harga yang diberikan, rekomendasi saya malah lebih menyarankan Redmi 5 Plus jika mau berhemat, dan jika mau performa yang lebih mumpuni dan kamera lebih mantab, ya sekalian ambil Redmi Note 5. Semoga habis Lebaran mah sudah ngga ghoib lagi hehehe.

Demikianlah penilaian saya terhadap Redmi S2, semoga Xiaomi Indonesia bisa memberikan diferensiasi lebih untuk produk ini nantinya, karena kalau tidak, ya mending koreksi harga atau discontinue saja rasanya. Karena susah bersaingnya justru lawan saudara sendiri, heuheu.

Sip, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, selamat mudik dan merayakan hari Lebaran bersama sanak famili ya.  Wassalamualaikum!

Thursday, June 21, 2018

Review Xiaomi Redmi Note 5, REDMI GA GITU DEH!



Pada ulasan kali ini, kita akan kembali mengulas produk smartphone dari brand yang semakin kencang saja berhembus namanya, Xiaomi.

Konon katanya sekarang penjualannya sudah nomor 2 di Indonesia ya.

Tapi barangnya ghoib, eits, mau komen kaya gitu kan? Sudah ketebak, sorry.

Haha, terlepas dari ghoib atau tidak, karena barangnya sudah ada di tangan saya selama beberapa minggu, jadi wajib diulas ya. Dan penonton harap sabar jika setelah melihat ulasan ini, harus gundah gulana karena bingung bagaimana cara mendapatkannya.



Smartphone-nya sendiri bagus koq, sangat worth the money, bahkan sampai membuat saya bergumam sendiri, Redmi Ga Gitu Deh!

Kenapa memang? Kameranya coy. Ngga redmi banget.

Dua kamera di belakang memang bukan yang pertama karena ada Redmi Pro, tapi yang ini kan resmi di sini. Dan hasilnya juga ngga main-main. Termasuk lowlights yang dulu terkenal jadi titik lemah Redmi, sekarang mampu dilibas dengan ganas. Video goyang juga sudah bukan hal yang bisa kamu bully lagi dari Redmi, berkat kehadiran si EUIS, eh EIS, kini kameranya punya stabilization yang memang tergolong OK punya untuk hape 2-3 jutaan begini.

Saya ngga tahu apa efek dari  kehadiran AI di cameranya, cuma memang bokehnya bagus. Dan walaupun bokeh di tempat yang cahayanya kurang seimbang, hasilnya masih cukup dapat dinikmati nih. FYI, hape 2-jutaan lain biasanya kepayahan menghasilkan foto bokeh kalo diberi kondisi yang sama. Good job Xiaomi.

Semua penilaian saya barusan, silakan divalidasi lagi pada foto dan video berikut ini ya. Habis itu saya akan kasih tau apa sebetulnya yang paling menarik perhatian saya dari ponsel ini. Silakan.



Nah, yang sebetulnya paling menarik perhatian saya sih, bukan kamera ya. Tapi MIUI 9.5 yang nampaknya banyak mengalami perubahan ke arah positif.

Memang masih perlu setting autostart dan lock aplikasi di recent apps agar notifikasi selalu masuk. Tapi sekarang beneran selalu masuk, dan real-time sebenar-benarnya. Jadilah saya bisa nyaman selama beberapa hari menjadikan Redmi Note 5 ini sebagai device utama.

Oh ya, pada Redmi Note 5 ini juga kita sudah bisa menggunakan navigasi dengan gesture. Swipe dari bawah layar ke atas untuk home, swipe dan tahan untuk masuk ke recent apps, dan swipe dari luar layar sebelah pinggir ke dalam untuk back.

Uhuk, jadi udah beneran kaya punya iPhone X dong ya, udah mah kamera belakangnya posisinya sama, eh navigasinya juga mirip. Tinggal beli casing yang ngga transparan aja deh buat nutupin backcovernya hehe.

Masalah desain ini sudah saya bahas di video unboxingnya, jadi silakan disimak video yang saya tampilkan pada card bagian kanan atas video ini, atau di end-screen.

Untuk masalah ads alias iklan yang katanya belakangan suka muncul di hape Xiaomi, seperti yang pernah saya cuitkan, saya matikan di setting agar tidak tampil. Saya juga tolak semua permission aneh yang secara default sudah di-enable untuk aplikasi Mi Remote.

Karena kan memang jadi tanda tanya besar kalau aplikasi Remote Control butuh merekam suara dan mengambil gambar segala, apalagi sampai mengakses kontak. Terlebih smartphone Redmi kan terkenal akan kemampuannya menggantikan remote yang hilang, koq rasanya terlalu gimana gitu ya ketika permission-permission yang berlebihan itu ada pada aplikasi remote ini. Silahkan Anda simpulkan masing-masing saja. Gak usah ribut, di Android terbaru semua aplikasi kan bisa dimatikan permission-nya.

Selain itu sih saya senang dengan apa yang ada pada Xiaomi Redmi Note 5 ini secara fisik. Layarnya tajam dengan reproduksi warna menawan. Port audio ada di sisi bawah, dan loudspeaker juga berada pada posisi yang tepat.

Fingerprint scanner-nya diletakkan di posisi yang nyaman untuk kita meletakkan telunjuk saat membuka kunci layar. Akurasi dan responsifitasnya juga sangat mampu memuaskan saya. Pada Redmi Note 5 ini jugalah saya merasakan fitur face unlock pertama kalinya pada MIUI. Dan so far so good, usable di saat saya sedang kesulitan meraih pemindai sidik jarinya, scanning cepat dan cukup akurat dengan syarat kondisi ruangan masih cukup terang.

Untuk performa sendiri, Snapdragon 636 nampaknya punya masa depan cerah menggantikan abangnya si processor kesayangan kita, Snapdragon 625. Namun entah kenapa settingan default PUBG untuk Redmi Note 5 ada pada graphic low, padahal ponsel lain yang procesornya sama defaultnya di medium. Memang bukan masalah sih, toh bisa diubah manual settingannya, tapi penasaran kan boleh?

Saat dipakai bermain pun lancar dan tidak ada demam maupun lag yang terjadi. Saya merasa sinyal di Redmi Note 5 ini pun manteng terus, nampaknya sih lebih baik dari ponsel Xiaomi lain yang pernah saya coba sebelumnya. Jadi untuk gamers online, ga salah deh kalau kamu menjatuhkan pilihan pada ponsel ini.

Karena baterainya juga awet, kalau ini sih memang udah lumrah ya di ponsel manapun yang pakai MIUI. Dengan penggunaan normal ala saya, bisa mencapai total 50 jam pemakaian dengan screen on time lebih dari 6 jam.

Hanya sayang, sifat asli MIUI masih tampak. Multitasking-nya suka terasa berat ketika membuka aplikasi yang sudah cukup lama dibiarkan di background. Redmi Note 5 yang saya uji padahal RAM-nya 4 GB lho. Di awal-awal pemakaian ponsel ini terasa smooth banget mau diajak ngapain juga, namun seiring makin banyak aplikasi yang diinstall dan dijalankan, rupanya cukup berpengaruh kepada performanya. Walau overall masih di atas rata-rata lah jika melihat bandrol harganya.

Oh ya, ngomong-ngomong soal harga, harusnya sih Xiaomi Redmi Note 5 ini dijual dengan harga 2,5 juta untuk varian 3/32 GB, dan 3 juta untuk yang 4/64 GB. Dua-duanya pun harusnya masih kembali seribu Rupiah ya. Namun faktanya yang saya lihat, rata-rata Redmi Note 5 4/64 GB hasil flash sale sudah dijual kembali di angka 3,7 juta Rupiah. PR Xiaomi nih untuk membuat stoknya lancar sekarang. PR saya untuk mengulas ponsel ini sih sudah gugur di sini hehehe.

Apakah Recommended? Tentu, sangat recommended bahkan jika melihat kualitas yang diberikan berbanding harganya. Tapi ada syaratnya, yaitu buat user yang sudah paham cara setting-setting supaya notifikasi bisa real-time, setting iklan supaya ga muncul, dan juga bisa matiin permission yang ngga-ngga yang diminta aplikasi bawaan. Syarat ketersediaan stok atau keghoibannya sih ya terserah situ lah mau dijadikan halangan atau tidak.

Hayo, masih pada puasa kan waktu nonton video ini? Jangan marah-marah atuh ya kalo ponsel in masih ghoib, biar ngga ngurangin pahala puasa kamu hehe.

Sip, selamat berpuasa. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review ASUS Zenfone 5 (ZE620KL), PAKET KOMPLIT TANPA SETRIKA?



Ya, nampaknya ASUS kali ini serius, mereka mau all-out di pertempuran yang digelar di pasar smartphone Indonesia.

Belum genap sebulan sejak merilis Zenfone Max Pro M1, kembali pecinta gadget tanah air diberi kejutan dengan hadirnya ASUS Zenfone 5 dan Zenfone Live L1.

Dan pada ulasan kali ini, saya akan mengupas ASUS Zenfone 5, saya tahu penonton sudah ga sabar ingin tahu seluk beluknya sebelum nanti bertempur di penjualan perdana.

Adalah harga jual resminya di Indonesia yang benar-benar jadi kejutan. Karena, bocoran di luaran sana bandrolnya jika dikonversikan maka nilainya tak kurang dari 5 juta Rupiah.

ASUS Indonesia berani menjual ASUS Zenfone 5 varian RAM 4 GB dan Internal Storage 64 GB ini dengan harga normal Rp 4.299.000 dan harga flash sale Rp 3.999.000. Saya suka keberanian ASUS untuk bersaing di Indonesia, dan saya juga suka transparansi mereka soal mana harga promo dan mana harga normal.



Kita beralih ke barangnya langsung yuk. Zenfone 5 ini mengusung desain kombinasi glass panel di sisi depan dan belakang, dengan frame metal yang mempunyai finishing sangat lembut. Sedikit mengingatkan akan Zenfone 3 dulu ya. Yang paling menarik perhatian tentu saja layar full screen-nya yang berani hadir dengan notch.

Kenapa saya bilang berani? Karena notch ini masih menjadi kontroversi, banyak yang benci, dan banyak juga yang mengidamkannya. Bagi saya bukan masalah, ukuran notch dari Zenfone 5 tidak terlalu besar koq, jadi masih cukup untuk menampilkan indikator sinyal dan notifikasi secara bergantian di sudut kiri atas layar. Sementara sudut kanan diperuntukkan bagi jam dan indikator baterai.

Saat digunakan membuka aplikasi, kedua sudut layar bagian atas ini berfungsi selayaknya notification bar biasa. Tidak ada tampilan aplikasi yang mengisinya, sehingga tidak ada gangguan untuk Anda berinteraksi.

Pada notch ini sendiri ASUS berhasil meletakkan kamera depan sebesar 8 Megapixels, proximity sensor, lalu LED notification yang diletakkan di dalam earpiece. Bezel layar bagian atas terlihat sangat ramping, sama dengan bezel kiri dan kanan. Sementara bezel pada sisi bawah sedikit lebih tebal, dan saya tak masalah dengan itu, karena segitu saja sudah cukup membuat jempol saya harus merentang sedikit lebih ke bawah saat hendak menyentuh tombol-tombol navigasi.

Yap, hingga saat saya menulis naskah video ini, Zenfone 5 masih mengandalkan tiga buah tombol on-screen untuk navigasi, belum ada navigasi dengan full gesture.

Layarnya sendiri memiliki reproduksi warna yang sangat baik, dengan kerapatan yang juga tergolong tajam. So far saya tak punya masalah dengan sisi depan ini.

Berputar ke sisi belakang, refleksi dari backcover kacanya jadi satu hal yang langsung menyedot perhatian semua insan yang meliriknya. Tetap indah, walau bukan suatu hal yang baru, dan warna midnight blue ini entah kenapa di mata saya lebih terlihat sebagai dark grey.

Di sudut kiri atas kita bisa melihat dua lensa ditumpuk pada posisi vertikal. Dan turun agak ke tengah kita bisa melihat fingerprint scanner berbentuk bulat sempurna. Beralih ke sisi bawah, dari kiri ke kanan ada port audio 3,5 mm, port USB type-C, microfon dan loudspeaker yang berada dalam urutan yang paling sesuai menurut saya.

Ketika saya mulai mengabsen spesifikasi dapur pacunya, saya yakin penonton akan mulai terpecah ke dalam dua kubu.

Kubu pertama yang segera langsung menyiapkan tabungannya untuk dialokasikan guna meminang Zenfone 5 ini. Yap, dengan harga yang saya sebutkan di awal, Zenfone 5 sudah menggunakan processor terbaru milik Qualcomm, yaitu Snapdragon 636. Skor Antutu-nya cukup besar yang jadi indikasi performanya takkan mengecewakan, setidaknya jika dibandingkan dengan pesaingnya di level harga setara. Coba lihat hape berponi lain di harga 4-jutaan pakai processor apa?

Nah, lalu kubu kedua adalah kubu kritis, yang mendewakan price-to-spec comparison. Biasanya kubu ini senang menggunakan smartphone-nya untuk gaming. Dan mereka mungkin lebih senang dengan ponsel yang lebih murah, dengan processor yang sama, dan baterai yang lebih besar, namun dengan kamera yang lebih inferior. Dan kubu ini sangat mungkin terpecah lagi karena masalah preferensi brand masing-masing.

Kedua kubu ini punya alasan yang masuk akal, dan ada baiknya kita hormati. Asal jangan sampai berantem terus ya, karena patut diingat sesungguhnya kita ada di posisi yang sama, yaitu konsumen, yang seharusnya menikmati berbagai pilihan yang disediakan produsen.

Terlepas dari kubu-kubuan itu, ASUS sendiri tentu sudah memberikan diferensiasi yang tegas antara Zenfone 5 dengan Zenfone Max Pro M1 meskipun sama-sama mengusung Snapdragon 636. Ya, jika Max Pro M1 condong diperuntukkan agar pengguna dengan budget terbatas bisa menikmati kombinasi performa gaming yang smooth dengan daya tahan baterai yang cadas, maka Zenfone 5 bisa dikatakan paket komplit yang lebih seimbang.

Yap, meskipun baterainya tak sebesar Zenfone Max Pro M1, Zenfone 5 masih tetap hemat daya, dengan battery usage saya ada di 26 hingga 40 jam dalam sekali pengecasan, dengan fokus penggunaan pada social media dan kamera, sehingga menghasilkan screen on-time 3 hingga 4 jam.

Dan jangan lupakan fakta bahwa ASUS Zenfone 5 ini support fast charging. Saat saya isi dayanya dengan charger yang mendukung Quickcharge 3.0, indikatornya menunjukkan hal ini. Dan memang mengisi dayanya selalu berjalan dengan cepat, di bawah 2 jam. Sayang, kepala charger yang disertakan dalam paket penjualannya hanya memiliki output 2A pada tegangan 5v ya.

Lanjut ke kamera, memang terasa performa maupun hasil gambarnya lebih superior dibanding Zenfone Max Pro M1. Termasuk fiturnya yang lebih lengkap karena sudah menggunakan Pixel Master kembali, bukan Snapdragon Camera. Lensa ganda di sisi belakang memiliki setup normal dan wide. Dan beberapa kali mencoba setup seperti ini di ponsel ASUS, selalu lensa wide ini menghasilkan tone warna yang berbeda karakter. Sehingga kita bisa dengan mudah menebak lensa mana yang digunakan dari hasil fotonya.

Untuk video, sudah ada stabilisasi yang nampaknya sih EUIS, eh EIS. Bukan OIS seperti di Zenfone 3, namun cukup membantu kala sekedar mau merekam momen aktifitas yang dinamis.

Kita lihat dulu hasil foto dan videonya yuk sebelum saya berikan kesimpulan.



Overall, untuk kamera yang mendapat skor DxoMark sebesar 90, saya sebetulnya mengharapkan hasilnya lebih dari ini. Meskipun jauh dari kata buruk, tapi konsistensi kualitas kameranya agak membuat saya bertanya-tanya. Karena kadang hasilnya bagus sekali, sampai membuat berdecak kagum dan berpikir, "oh ya pantas skor DxoMark-nya tinggi begitu!"

Tapi tak jarang saya dibuat bingung juga saat hasilnya rata-rata saja. Mungkinkan ini akibat algoritma AI yang digunakan belum sempurna?

Bisa jadi, karena dari pertama unbox hingga saat ini, ada 2 atau 3 kali update software yang didapatkan. Jika mau berfikit positif, kita bisa menganggap kalau developer ASUS ini rajin memberikan improvement buat device-nya. Tapi sebaliknya, ini juga membuat saya berfikir, bahwa perbaikan ini untuk menutup kekurangan-kekurangan yang muncul.

Terakhir, ada update yang membuatnya support VoLTE, jadi ada kemungkinan pelanggan Smartfren bisa menggunakan ASUS Zenfone 5 ini. Dan yang saya rasakan dari hari ke hari setelah update itu, akurasi face unlocknya semakin membaik saja. Semoga kualitas hasil kameranya juga terus meningkat ya.

Jika ada yang harus saya beri nilai minus, mungkin saya bisa bilang kualitas loudspeaker-nya yang tergolong standar. Dengan maksimal volume yang masih menghasilkan suara yang jernih ada pada level 70%, di atas itu suaranya sudah terdengar agak pecah. Kalau sudah begini, mending pakai earphone atau bluetooth speaker saja. Zenfone 5 ini sudah memiliki dukungan Hi-Res Audio dan DTS X Headphone. Kebetulan dalam paket penjualannya kan disertakan headset yang support fitur ini.

Seandainya saya bukan seseorang yang suka gonta ganti hape, dan punya budget 4 jutaan untuk membeli smartphone yang akan saya pakai terus, saya tak akan ragu untuk memilih Zenfone 5.

Alasannya sih dari segi desain pastinya kece banget, kekinian, dan pasti bikin orang lain ngiler. Dapur pacunya pun lebih dari cukup untuk kegiatan saya sehari-hari, dengan kamera yang dapat diandalkan untuk kebutuhan bermedia sosial. Pokoknya, ini adalah smartphone paket komplit yang harus diperhitungkan dengan baik-baik oleh semua kompetitor ASUS di Indonesia.

Oh ya kalau ada yang masih menilai ASUS sebagai hape setrika, saya cuma bisa bilang, udah lama ya ngga keluar dari gua? Koq kudet amat, hahaha.

Untuk saat ini, sekian yang bisa saya nilai dari ASUS Zenfone 5 ini, semoga smartphone ini bisa didapatkan dengan mudah ya di pasaran.

Terima kasih sudah menyimak, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review ASUS Zenfone Live L1, Terbaik di Sekolahnya?



Kalau dulu, mungkin smartphone ASUS harga 1,3 jutaan yang bisa jadi pilihan untuk dipinang hanyalah dari Zenfone Go series ya. Dengan desain yang bisa dibilang mengadopsi desain smartphone tahun sebelumnya, begitu pun dengan spesifikasinya. Walau sangat cukup untuk pengguna pemula, namun rasanya tidak ada kelebihan mencolok yang bisa ditawarkan.

Tahun ini, ASUS sudah 2x menggebrak pasar smartphone tanah air lewat Zenfone Max Pro M1 dan Zenfone 5 yang nampaknya sukses jadi primadona. Keduanya akan jadi pusat perhatian konsumen yang memiliki budget 2 hingga 4 juta Rupiah.

Lalu bagaimana dengan mereka yang belum tega membayar lebih dari satu setengah juta Rupiah untuk perangkat komunikasi yang memang dicari fungsi, durabilitas, serta keterjangkauan harganya?

Ternyata ASUS punya Zenfone Live L1 untuk mengisi segmen pasar ini. Bahkan tak sekedar memberikan fungsi pokok, ada beberapa hal yang ASUS berikan agar pengalaman pengguna dengan smartphone ASUS meninggalkan kesan mendalam. Berikut adalah 5 kelebihan yang ditawarkan oleh ASUS Zenfone Live L1.



1. Harga berbanding spesifikasi.

Ya, dengan bandrol harga 1,3 jutaan saja, pengguna sudah bisa memperoleh smartphone dengan RAM 2 GB, processor Qualcomm Snapdragon 425 yang walau tak kencang performanya, masih sangat bisa diandalkan menemani keseharian pengguna smartphone jaman now yang titik beratnya pasti untuk internetan.


2. Layar kekinian.

Anda tidak salah dengar, ASUS Zenfone Live L1 ini sudah memiliki layar full view dengan rasio 18:9 dan resolusi HD+. Umumnya pada harga setara, smartphone lain masih menggunakan layar 16:9, atau ada juga yang layarnya sudah kekinian, namun resolusinya lebih rendah, atau kelas dapur pacunya setingkat di bawah ini.

Saya yakin banyak pengguna yang sudah memendam keinginan memiliki smartphone dengan layar memanjang seperti ini, dan kegirangan saat dipertemukan dengan ASUS Zenfone Live L1 ini.


3. Kamera dengan resolusi cukup besar dan punya software mumpuni untuk mode bokeh.


Kamera utama Zenfone Live L1 ini beresolusi 13 Megapixels, sementara kamera depannya 5 Megapixels. Performanya dalam kondisi ideal sangatlah memuaskan untuk smartphone sejutaan, bahkan bonus performa bokeh yang kece banget untuk objek manusia.


4. OS up-to-date

ASUS Zenfone Live L1 hadir dengan Android Oreo 8.0 out of the box, dan memiliki security patch yang sangat up to date. Walau ternyata bukan Android Go seperti yang pernah saya baca di salah satu website luar, tapi bukan masalah. Zen UI memiliki banyak fitur yang akan sanat berguna dan mungkin sulit ditemukan di ponsel sejutaan lainnya.


5. Daya Tahan Baterai mumpuni.

Sebetulnya, selama pengujian saya belum pernah menjadikannya sebagai ponsel utama. Saya menggunakannya sebagai ponsel kedua dengan kondisi dua sim terpasang dan terkoneksi ke jaringan seluler maupun wifi dengan satu nomor whatsapp aktif, akun-akun social media juga sudah login, serta satu akun gmail. Dan dengan kondisi banyak idle, daya tahan baterainya mampu menembus 3 hari 3 malam walau akibatnya Screen-on Time-nya hanya sekitar 2 jam saja.

Tapi memang, Snapdragon 425 memiliki kemampuan mengelola pemakaian daya yang baik. Lebih baik dari Snapdragon 430 bahkan menurut saya.

Itulah 5 kelebihan dari ASUS Zenfone Live L1 yang mungkin sebetulnya masih bisa ditambahkan dengan fakta bahwa smartphone inipun sudah memiliki fitur face unlock, serta adanya slot micro-SD dedicated menemani dua slot nano sim-card.

Adapun kekurangan yang saya rasakan selama penggunaan smartphone ini adalah:


1. Performa yang pas-pasan.

Sebetulnya hal ini wajar, mengingat dapur pacunya yang serba entry level. Apalagi harganya begitu terjangkau ya. Tapi saya merasa ada andil dari ZenUI pada masalah ini, di mana free RAM tersisa cukup sempit.


2. Storage cepat penuh.

Lagi-lagi ini masih disinyalir ada hubungannya dengan penggunaan ZenUI. Betul, untuk penyimpanan media seperti foto, video, dan musik sih tak usah khawatir ya, tinggal pasang micro-SD saja. Namun untuk pemasangan banyak aplikasi, jadinya cukup terhambat, mengingat micro-SD-nya tak bisa diformat sebagai internal storage.

Game-game besar jadi susah dipasang deh, walaupun memang spesifikasi keseluruhan ASUS Zenfone Live L1 ini pun bukan untuk gaming sih hehe.


3. Tidak ada fingerprint scanner.

Terlepas dari masalah harganya, bagi saya sekarang fingerprint scanner adalah hal krusial. Selain lebih aman, dengan adanya pemindai sidik jari ini, proses buka kunci layar jadi jauh lebih cepat. Seandainya saja ada, rasanya tambah keren saja ini smartphone ya hehe. Ada face unlock sih, tapi coba deh tengok poin selanjutnya hehe.


4. Face Unlock susah dilakukan.

Ya, face unlocknya hanya bisa berhasil saat digunakan di kondisi cahaya terang, outdoor misalkan, atau di dekat jendela. Jika dilakukan di tengah ruangan dengan lampu neon, rata-rata tingkat keberhasilannya mungkin sekitar 25% saja. Jadinya ujung-ujungnya balik buka kunci layar pakai pin, password, atau pola lagi deh hehe.


5. Kamera selfie pucat.

Seingat saya Zenfone Live terdahulu punya kelebihan untuk digunakan live streaming, semisal video call atau live broadcast di social media. Ada Live Beautification ya kalau tak salah, yang mana pada Zenfone Live L1 ini saya merasa tak bisa mengandalkan kamera depannya. Seringkali hasilnya pucat, bahkan bisa jadi kegagalan face unlock banyak disebabkan oleh kamera depannya yang under perform.

Sebetulnya kalau di kondisi terang banget sih bagus-bagus saja ya, tapi sedikt saja intensitas cahayanya berkurang, signifikan sekali penurunan kualitas fotonya nih.

Okay, itu dia 5 Plus dan 5 Minus dari ASUS Zenfone Live L1 menurut penilaian saya. Overall smartphone ini masih sangat layak dimiliki, dan memiliki value yang sebanding dengan bandrolnya.

Hape sejutaan, branded, kameranya kece di outdoor dan juga bisa bokeh, layar kekinian, rasa-rasanya sudah cukup lumayan untuk membuat kita memberi toleransi kepada kekurangan-kekurangannya ya. Anda cocokkan saja poin-poin yang tadi saya sebutkan dengan kebutuhan dan preferensi pribadi Anda okay?

Tak lupa kuatkan iman, dan berdoa supaya stok ponsel ini terjamin dan tak ikut-ikutan jadi ghoib hehe.

Sambil closing, saya akan perlihatkan foto dan video terbaik yang bisa saya dapatkan dari ponsel ini.



Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, June 6, 2018

Review Samsung Galaxy J4, Tetep Bakal Laku Karena Ungu?



Konon, dari semua jajaran ponsel pintar yang dipunyai Samsung, hanya seri A, S, dan Note saja yang memang worth it, alias bagus.

Tiga kali menguji seri S pada S8+, S9, dan S9+ serta sekali mencoba seri A pada Galaxy A8,  plus perkenalan singkat dengan Galaxy Note FE, membuat saya setuju dengan kalimat awal tadi. Sulit mencari kekurangan produk-produk smartphone tadi, kecuali harganya yang premium saja.

Lalu bagaimana dengan seri J? Sejauh ini saya sudah mencoba J7 Core dan J7 Plus. Untuk J7 Plus saya masih banyak menemukan fitur-fitur kelas atas yang memang jadi wajar jika melihat bandrolnya. Sementara pada J7 Core saya sudah mulai bisa memilah dengan mudah, mana minusnya dan mana plusnya.

Lalu bagaimana dengan Samsung Galaxy J4 yang hanya saya uji selama sekitar 3 hari saja ini?



Saya bisa katakan bahwa smartphone ini takkan menarik minat Anda yang suka bermain game lama-lama di ponsel, yang masih memperhitungkan spesifikasi di atas kertas berbanding harga, dan sedikit bisa mengabaikan masalah layanan purna jual ya.

Betul, secara spesifikasi sih Samsung Galaxy J4 terlihat biasa saja, processor Exynos 7570 Quad-core dengan cortex A53, RAM 2 GB, serta storage 32 GB-nya jadi dapur pacu untuk display-nya yang berdimensi 5,5 inci, dengan resolusi HD 720p pada rasio 16:9.

Tapi jika Anda adalah orang yang memperhatikan masalah brand prestige, looks yang elegan, serta layar yang indah untuk dapat digunakan menikmati konten multimedia, Samsung Galaxy J4 bisa jadi masih memiliki daya tarik lebih, apalagi ada varian warna Ungu yang menurut saya jadi warna Samsung tahun ini. Ya, Ungu juga jadi andalan Samsung pada flagship mereka, S9 dan S9+ yang ternyata memang jadi warna favorit konsumen ya.

Okay, kita sudahi saja basa-basinya dan mulai masuk ke plus dan minus dari smartphone yang dibandrol Samsung seharga 2,3 jutaan ini ya. Alhamdulillah, ponsel ini sangat-sangat memudahkan pekerjaan saya karena sangat jelas apa saja titik kuat dan titik lemahnya hehe. Mari kita mulai dari kelebihannya ya.

1. Seperti saya bilang tadi, kelebihan utama ponsel ini tentu saja prestige brand-nya. Anda yang masih bujangan mungkin tak terlalu ngeh akan hal ini. Tapi coba deh datang ke acara ulang tahun anak di mana ibu-ibunya berlomba mengabadikan momen anaknya yang sedang bersosialisasi. Kalau tak iPhone, ya Samsung sih biasanya yang dipakai mereka, hehe.

Dan jangan lupakan juga bahwa Samsung punya layanan purna jual yang oke punya, tersebar hingga ke kota-kota kecil. Ini sendiri sudah jadi nilai lebih yang cukup signifikan ya, terutama bagi mereka yang memang berencana memiliki smartphone dalam jangka waktu yang panjang, bukan tukang gonta-ganti seperti saya.

2. Adalah looks-nya yang menawan, dengan kaca depan bertepian 2.5D dan warna ungu yang classy. Tidak ada kesan murahan sama sekali pada warna yang katanya identik dengan janda ini.

Selain itu, build quality-nya juga terasa solid, walau memang masih bermaterikan plastik alias polycarbonate. Saat Anda memegangnya, Anda akan segera tahu bedanya.

Bukan tak mungkin kan kalau masalah looks dan feels ini jadi kunci penentu saat pengguna yang masih galau datang ke toko offline untuk memilih apa yang akan dia beli selanjutnya?

3. Layar. Ya, layar sendiri bisa dipastikan jadi kekuatan dari smartphone keluaran Samsung. Super AMOLED yang vibrant dan sangat hidup warnanya ini dijamin bikin kesengsem mata yang melihatnya. Apalagi jika sudah terbiasa pakai smartphone dengan panel layar ini, bisa-bisa Anda takkan betah melihat layar smartphone 2-jutaan lainnya.

Walau cukup disayangkan, Samsung Galaxy J4 tidak mengoptimalkan panel layar ini dengan absennya fitur Always On Display ya.

4. Baterai yang awet dan dapat dilepas. Dengan baterai yang dapat dilepas seperti ini, Anda bisa menggunakan smartphone dalam jangka waktu yang lebih panjang. Di mana jika performa baterainya sudah menurun, cukup beli baterai pengganti saja bukan?

Daya tahan baterai berkapasitas 3.000 mAh ini sendiri sangat mumpuni untuk digunakan mengarungi hari. Dengan pemakaian aktif bermedia sosial dan kamera, sanggup melewati 36 jam dalam sekali pengisian daya, dengan Screen-on Time sekitar 4 jam adalah sesuatu prestasi yang baik. Rupanya ini tak terlepas dari processor-nya yang sudah memiliki fabrikasi 14 nm ya.

5. Slot ekspansi memory yang mandiri. Ya, Galaxy J4 ini punya dua slot micro-sim card, dan sebuah slot khusus untuk micro-SD. Jadi Anda bisa manfaatkan internal storage-nya yang cukup luas di 32 GB untuk menginstall aplikasi dalam jumlah banyak, dan file-file media disimpan di micro-SD saja.

Cocok kan buat emak-emak? Eh buat orang dengan kebutuhan social media, berfoto, dan banyak grup whatsapp maksudnya, hehe.

Untuk urusan performa, saya tak bisa memasukkannya ke kelebihan ataupun kekurangan. Performanya terasa cukup gegas walaupun RAM-nya pas banget di 2 GB. Saya betah-betah saja tuh pakai smartphone ini mendampingi dailiy driver saya. Apalagi, Galaxy J4 ini sudah didukung Samsung Experience versi terbaru, yaitu 9.0 yang sudah teruji dan terbukti nyaman saat saya pakai di Galaxy S9 lalu. Oh ya, skor Antutu-nya ada di angka 40-ribuan tebal, dan sayangnya saya tak sempat mengujinya untuk bermain game.

Kameranya sendiri sanggup menghasilkan gambar-gambar yang dapat dinikmati dengan baik, selama berada di luar ruangan atau pada kondisi cahaya cukup. Lowlights-nya sih seperti kamera hape sejutaan, payah. Kalau kamera belakangnya bisa terdongkrak performa lowlights-nya dengan penggunaan LED Flash, maka kamera depannya sudah tak tertolong lagi dalam kondisi lowlights.

Silakan bagi Anda yang mau menyaksikan sendiri hasil foto dan videonya berikut ini. FYI, videonya punya warna yang hidup, tapi tak punya stabilisasi ya.



Okeh, kamera dalam kondisi lowlight saya anggap sebagai kekurangan nomor satu deh.

Nomor duanya adalah hardware yang banyak disunat. Berikut ini adalah daftar sunatan hardware yang terjadi pada Galaxy J4 ini.
1. Sensor-sensor yang banyak ditiadakan pada smartphone ini.
2. Tidak adanya LED notifikasi
3. Tidak adanya LED Backlight untuk tombol kapasitif
4. Tidak adanya secondari microfon untuk noise cancelling

Nah sekarang lanjut ke nomor tiga ya. Minus ini lebih ke penempatan loudspeaker yang ada di punggung ponsel dan rawan tertutup saat diletakkan di atas meja, apalagi kalau sampai diletakkan di atas kasur. Dijamin suaranya terpendam deh. Sesuatu yang dipendam itu kan tidak baik, nanti bisa jerawatan lho, hahaha.

Sebetulnya kualitas loudspeaker ini masing sanat enjoyable, di mana pada volume terkencang pun tidak sampai pecah suaranya, namun untuk power dan detailnya memang tergolong rata-rata saja.

Kekurangan nomor empat adalah posisi slot simcard-nya yang terhalang oleh baterai. Jadinya untuk berganti nomor, kita harus mematikannya dulu agar aman untuk melepas baterainya. Atau dengan kata lain, simcard-nya ini tidak hot swapable ya.

Kekurangan nomor lima dan jadi terakhir dalam daftar yang saya buat ini adalah kekurangan paling krusial dari smartphone ini. Ya, tidak adanya sensor sidik jari alias fingerprint scanner adalah sesuatu yang terasa menjengkelkan ketika semua ponsel dua jutaan dari brand lain sudah memilikinya. Bahkan hape sejutaan saja sudah pada punya.

Walau cukup terbantu dengan tombol home yang bisa digunakan untuk menyalakan layar sebelum kita membuka kuncinya, tapi tetap saja rasanya akan jauh lebih ringkas apabila memakai fingerprint scanner ya.

Nah, bagaimana menurut Anda setelah melihat daftar kelebihan dan kekurangan dari ponsel ini? Tetep maju tak gentar karena sudah kesengsem dengan warna ungunya? Atau mundur teratur dan memilih bersabar menunggu yang ghoib? Pilihan saya kembalikan kepada Anda ya.

Namun, jika Anda bingung ingin memilih antara Galaxy J7 Core atau Galaxy J4 ini, saya bisa dengan tegas menyarankan Anda untuk meminang Galaxy J4 saja. Terasa lebih gegas, dan juga tampilannya sudah jauh lebih kekinian.

Itu saja yang bisa saya sampaikan dari perkenalan singkat saya dengan Samsung Galaxy J4 ini. Walau memang tak bisa dikatakan punya price-to-spec comparison yang baik, entah kenapa saya yakin produk ini akan laku-laku saja di pasaran.

Karena rasa-rasanya orang yang ingin membelikan smartphone untuk orang tua, anak sekolah, dan pengguna smartphone pemula lainnya, bisa jadi lebih cocok dengan brand dan layanan purna jualnya ya daripada mengejar spesifikasi dan harga.

Ini pendapat saya saja ya, bukan fakta, jadi sangat debatable. Bisa jadi pendapat Anda akan berbeda, dan mari belajar saling respek walau berbeda suara. Hehe.

Okay sip, penonton yang smart, saya sudahi dulu ulasan kali ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, May 25, 2018

Review Hape Jadul, Sony Xperia C4 Dual, Layakkah Jadi Old but Gold?



Video pada review kali ini saya buat sepenuhnya menggunakan Samsung Galaxy Note FE. Baik gambar maupun suaranya.

Coba siapa yang masih ingat saya pernah unbox hape yg sejatinya adalah Galaxy Note 7 yang diperbaiki ini?

Oke, kita bahas Sony sekarang ya. Saya tidak akan bahas Galaxy Note FE-nya lagi, Anda nilai langsung saja dari kualitas gambar dan suara pada video ini.


Jaman Nokia berjaya dulu, Sony Ericsson adalah favorit saya. Saya yang dulu memang anti kemapanan, dan anti hape mainstream. Juga karena dulu uang saku bulanan mahasiswa jarang sisa sih, hahaha.

Lalu ketika brand ini bertransfromasi kembali menjadi Sony saja, saya masih suka. Maksudnya suka mupeng. Beli sih jarang banget. Mahal bos!

Dan seterusnya begitu, hape Sony yang berbasis Android memang tergolong mahal dibandingkan merk lain. Termasuk si Xperia C4 Dual ini, yang harga perdananya dulu di atas 4 juta Rupiah. Mahal!

Saya saja baru kesampaian beli sekarang, pas harganya tinggal 1,4 jutaan doang. Dan pas hape ini udah ketinggalan jaman hahaha.

Walau begitu, ada beberapa nilai positif yang harus saya berikan kepada ponsel ini. Antara lain:

1. Punya NFC, hape sejutaan jaman now susah cari yang ada NFC-nya.
2. Kameranya bisa mengenali scene yang sedang dibidik. Jaman sekarang, harus diembel-embeli ada AI-nya kalau yang begini. Padahal Sony ternyata sudah bisa dari dulu. Dia bisa tahu kapan saya sedang ambil bidikan macro, kapan saya lagi foto makanan. Keren kan?
3. Punya efek AR pada kameranya. Buat anak-anak ini jadinya fun banget, bisa ada dinosaurus atau kurcaci dan rumah jamurnya. Ya buat lucu-lucuan lah. Hasil kameranya pun cukup baik, ya mungkin bisa setara lah dengan hape 2-3 jutaan jaman sekarang.
4. Punya 3 slot kartu dedicated. Dan walaupun jadul, hape ini slot simcard-nya berukuran nano lho. Jadi yang udah kadung pakai nano-sim ya tinggal colok saja.
5. Xperia UI-nya saya suka, notif selalu always real-time.

Apa lagi ya? Kayanya sudah deh itu aja. Sementara nilai minus yang saya berikan, memang kebanyakan dipengaruhi spesifikasinya yang sudah ketinggalan banyak. Tapi hayuk lah kita mulai berhitung saja.

1. Performa MTK6752 dikombinasikan dengan RAM 2 GB buat jaman now, empot-empotan euy! Multitasking agak keteteran di mana pindah apps kerasa ada jeda, apalagi dipakai main game. Masih bisa sih maen PUBG dengan grafis low, tapi ya gitu deh, kalah mulu. Ngelag soalnya heuheu.
2. Masih lanjutan dari performa, dipakai maen PUBG 1 jam aja baterainya turun hampir 50%. Dan dengan berbagai pola pemakaian saya, screen-on time-nya mentok 2 jam lebih dikit. Ya bisa sih battery usage tembus 24 jam, kalau jarang banget dipake, screen-on timenya aja cuma sekitar sejam. Jadi, baterai 2.600 mAh-nya ngga bisa diandelin buat ngegame ya gaiss!
3. OS-nya mentok di Marshmallow dengan security patch yang jadul abis, 2016 kalo ga salah inget ya. Masalahnya di penghujung 2017 ada patch security yang penting banget di berbagai OS terkait masalah keamanan network saat menggunakan Wi-Fi. Jadi ya, agak gimana gitu ya makenya.
4. Bezel tebal di mana-mana. Patut dimaklum sih, ini hape dengan pakem desain 3 tahun lalu. Dan pada masanya, bezel bawah segini tuh udah tergolong tipis sih. Hare gene? Maaf-maaf aja ya, haha.
5. Masih gampang demam, ya penyakit Sony jaman dulu adalah kurang cakap dalam mengatur pembuangan panas. Walau ga sampai overheat, tapi ponsel ini cukup sering menghangat dalam genggaman.

So, itu dia 5 penilaian positif dan negatif untuk Sony Xperia C4 Dual di tahun 2018 ini.

Saya cuma bisa merekomendasikan ponsel ini jika Anda punya tujuan mengkoleksinya, atau menjadikannya ponsel backup saja ya. Karena kameranya bisa diandalkan jika sesekali Anda gunakan berfoto.



Udah lihat hasil kameranya? Ya udah, gitu aja. Saya ga bisa merekomendasikan ponsel ini selain untuk dua tujuan tadi. Terlalu ketinggalan euy. Mending nambah 15 juta aja biar dapet iPhone X, ya ga, hahaha. Becanda ya, mbok jangan diseriusin mulu toh....

Demikian ulasan yang diproduksi menggunakan Samsung Galaxy Note FE ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam.

Monday, May 21, 2018

Review Samsung Galaxy Note Fan Ediiton, Samsung Paling Worth The Money?



Assalamualaikum, ini adalah review dan video pertama yang proses pengerjaannya dilakukan di bulan Ramadhan 1439 Hijriah. Semoga ngga kentara lemesnya ya hehe, maklum masih adaptasi nih.

Okay, sebelum ulasannya dimulai, ada sedikit latar belakang proses review yang ingin saya ceritakan. Pertama smartphone ini saya unbox bulan November 2017 dan baru dibuatkan review-nya Mei 2018 karena sejatinya ini adalah daily driver ibu negara. Sekarang alhamdulillah ada rezeki untuk upgrade ke Galaxy S9+ warna ungu yang sudah lama diidamkannya.



Ya, istri saya memang dari pertama kenal Android, tak pernah berganti merk dari Samsung.

Dulu saya suka bingung, apa sih yang spesial dari Samsung? Karena harganya tak bisa dibilang murah, apalagi jika dibandingkan kompetitor.

Pandangan saya mulai berubah ketika mencoba Galaxy J7 Plus, dilanjut Galaxy A8 dan puncaknya ada saat saya dibuat takjub oleh Galaxy S9. Saya sarankan Anda menonton review Galaxy S9 di channel saya ini deh, biar tahu alasannya kenapa.

Yap, saya yang kata netizen adalah huawei fans ini, selalu dibuat nyaman oleh Samsung Experience. Dan sebagai informasi, Galaxy Note FE baru saja mendapat update software yang membawa peningkatan ke versi Android Oreo 8.0 serta Samsung Experience 9.0.

Lalu, harganya juga mengalami update, tapi berupa penurunan sebanyak satu juta Rupiah. Entah hanya promosi sesaat atau memang harganya mengalami koreksi, namun saya lihat iklan erafone yang menyatakan harganya turun dari Rp 7.999.000 ke Rp 6.999.000.

Dan dengan ini saya pun menyatakan inilah dia smartphone Samsung paling worth the money saat ini. Walau belum memiliki Infinity Display, jangan lupakan bahwa Galaxy Note Fan Edition ini sudah memiliki layar Super AMOLED beresolusi 2K dengan tepian EDGE di kiri dan kanan. Satu hal yang tak dimiliki S-series adalah S-Pen alias stylus yang tentunya akan sangat menambah value smartphone ini, dengan catatan bagi mereka yang memerlukannya.

Saya sendiri sangat jarang menyentuh S-Pen ini, haha. Padahal sebetulnya benda ini sangat berguna, untuk menulis catatan dari keadaan layar mati misalkan. Atau mau corat-coret hasil screenshot? Buat seniman sih dipake bikin sketsa juga bisa, soalnya stylus ini bisa mengenali tekanan sehingga garis yang dibuatnya bisa diatur tebal tipisnya.

Lalu hal selanjutnya yang membuatnya jadi paling worth the money adalah kameranya. Performanya sangat prima, bokeh dengan satu lensa bisa dihasilkan dengan baik, warna yang keluar pun terbilang sangat apik. Lalu jika dipakai merekam video, OIS-nya sudah sangat terasa membuat stabil videonya. Siapa di sini yang sudah melihat review Sony Xperia C4 yang diproduksi menggunakan smartphone ini saja? Intinya kameranya masih sangat bisa diandalkan meskipun umur asli dari smartphone ini sudah menginjak 2 tahun ya.

Okay silakan dilanjut melihat hasil foto dan videonya, sementara saya ambil nafas dulu ya hehe.



Masalah performa, sebetulnya saya nyaris tak pernah bermain game selama mencoba Galaxy Note FE. Soalnya PUBG biasa saya mainkan di ASUS Zenfone Max Pro M1, biar bisa lama-lama mainnya hehe.

Tapi, ini adalah hape flagship, yang harusnya sih ga akan punya masalah soal performa. Lihat saja skor Antutu Benchmark-nya. Coba fokus di bagian skor CPU-nya yang mengalahkan 99% user lain padahal ini adalah smartphone yang aslinya dirilis 2 tahun lalu.

Nah, sayangnya soal performa ini memang acapkali tak dibarengi ketahanan baterai yang mumpuni. Tak boros tapi juga sama sekali tak bisa dikatakan hemat. Sepemakaian saya selalu hanya mampu bertahan dari pagi hingga malam saja, belum pernah menembus 24 jam dengan pemakaian ala saya yang rata-rata menghasilkan screen-on time 3-4 jam.

Seandainya saya tak pernah mencoba Galaxy S9, mungkin looks dari Galaxy Note FE ini bisa memuncaki klasemen di hati saya, halah. Ya, looks-nya terasa sangat mewah, dengan warna biru coral yang indah mempesona. Walau saya pribadi tak suka dengan warna frame-nya yang keemasan. Kenapa tak pakai biru saja lagi, atau silver saja.

Memang sudah kurang kekinian ya, rasio layarnya masih 16:9, dan juga sudut-sudut layar yang tak dibuat membulat.

Tapi kalau kamu bisa dapat smartphone dengan kekuatan selengkap ini ditambah layanan purna jual prima milik Samsung sih rasanya sudah sangat tinggi lah price-to-value comparisonnya. Bahkan sedikit lebih worth the money mungkin dibanding Galaxy S9, kecuali jika kamu mementingkan sekali hasil kameranya. Terutama kamera depan Note FE yang saya nilai biasa banget, dan jauh sekali jika dibandingkan dengan Galaxy S9.

So, sebelum produknya discontinue, ada baiknya diamankan deh sekotak hehehe.

Gitu saja ya ulasan kali ini, semoga membantu menemani ibadah bulan Ramadhan kali ini bagi mereka yang menjalankannya.

Inget, jam makan siang jangan melipir ke warteg bertirai ya, hihihi.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!