Gadget Promotions

Thursday, April 5, 2018

Review Meizu EP52 Sport Bluetooth Earphones, Menghapus Dosa EP51!


Halo Assalamualaikum, kali ini saya akan mengulas sebuah earphone bluetooth lagi. Meizu punya nih, namanya Meizu EP52. Saya bilangin nih, kemasannya premium banget. Harganya? Ah tebak saja dulu deh berapaan. Yang pasti lebih murah dari Meizu EP51 dulu.

Yap, dulu saya pernah mencoba Meizu EP51 dan merasa tak puas. Alasanya simple waktu itu, di telinga tak melekat dengan baik, dan suaranya anyep alias adem-adem bae.

Sebelum bahas suaranya, kita lihat penampakannya dulu yuk.



Tadinya saya pikir bahwa Meizu EP52 ini tak begitu portable, saya kira batang berbentuk U-nya itu kaku dan tak bisa dilipat. Nyatanya lentur dan bisa ditekuk hingga melingkar-lingkar dan bisa dimasukkan ke dalam pouch-nya. Nah ini unik, pouchnya pure terbuat dari karet, dan kesannya jadi sporty banget ya.

Memang biasanya Meizu mengeluarkan bluetooth earphone yang kegunaannya untuk menemani berolahraga. Terlebih earphone ini sudah IPX5 certified yang artinya waterfproof dari segala arah, jadi tak gentar walau dibawa berkeringat saat olahraga.

Eartips-nya lembut sekali dan kali ini sangat nyaman melekat di telinga. Membuat isolasi suara terjadi dengan baik. Ukuran housing-nya cukup mungil, dan tak menonjol keluar dari daun telinga saat dipakai. Saya rasa dipakai di dalam helm masih nyaman, walau saya ingatkan agar jangan digunakan saat berkendara ya.

Sementara pada sisi kanan batang berbentuk U tadi, terdapat modul kontrol media. Ada tombol bertanda plus dan minus untuk mengatur volume dan berpindah lagu. Sementara tombol power sekaligus play dan pause terasa agak sedikit keras saat ditekan. Microfon dan juga port micro-USB  untuk charging terdapat pada sisi yang sama. Di sisi kiri kosong melompong saja.

Saya suka dengan penempatan baterai dan antena pada batang berbentuk U ini, karena tidak terlalu dekat ke telinga dan otak kita.

Untuk kualitas suaranya, Alhamdulillah saya merasakan ada peningkatan yang signifikan dari Meizu EP51 dulu. Bass sudah kaya dan mendentum serasa memijat telinga.  Treble memang terasa kurang menonjol, sementara vokal masih terdengar dengan baik dan jelas. Antara instrumen dan vokal terasa alunannya masing-masing alias separasinya baik. Staging sih saya rasa tidak terlalu luas namun cukup untuk menikmati musik-musik yang banyak berisi suara perkusi dan bass.

Meizu EP52 ini menganut teknologi bio-cellulose diapraghm, yang entah apa maksudnya, namun sukses berat membuat kuping saya menikmati petikan-petikan nada di dalam alunan suara indahnya. Jadinya itu tadi separasinya terasa sekali, seperti ada instrumen yang biasanya tak ada, muncul ke permukaan dengan menggunakan Meizu EP52 ini.

Oh ya, kedua housing-nya dapat melekat secara magnetik. Sehingga tak khawatir jatuh saat sedang tak dipakai ya. Musik akan terhenti begitu kita melekatkan kedua sisi earphone ini, dan jika terus menempel lebih dari 5 menit, maka earphone ini akan otomatis padam. Fungsionalitas yang keren bagi saya.

Daya tahan baterainya sendiri mampu menembus 6 jam, dan ini sudah lebih dari cukup bagi saya. Baterainya sendiri berkapasitas 130 mAh dan dapat diisi penuh dalam waktu 2 jam.

Overall, Meizu EP52 terasa nyaman digunakan berkat bobotnya yang sangat ringan dan eartipsnya yang lembut. Kualitas suaranya sangat cukup untuk memanjakan telinga saya, dan menggeser Honor xSport dari posisi kedua klasemen bluetooth earphone koleksi saya.

Oh ya saya kasih tau harganya deh, saya mendapatkan Meizu EP52 dari TomTop.com, di mana di saya dijual seharga $52.99 atau sekitar 700-ribuan jika dirupiahkan.

Worth the money? Saya bilang sih yes. Build quality jempolan, fungsionalitas yang baik, dan kualitas suara yang bisa diandalkan terasa sepadan lah dengan harga segitu.

Kekurangan yang saya rasakan lebih ke portabilitas saja. Meskipun bisa dilipat, tapi tetap saja tak sepraktis bluetooth earphone lain yang saya miliki. Oh ya satu lagi, tombol powernya agak keras, bukan deal breaker sih, tapi tetep saja masuk ke nilai minus bagi saya.

Okay, segitu saja ulasannya. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri ya, wassalam!

Tuesday, April 3, 2018

Review Samsung Galaxy S9, Smartphone Terbaik untuk Konten Terbaik!



Saya tak pernah berpikir bahwa saya akan menjadi content creator di Youtube seperti sekarang ini.

Jauh dari bayangan saya bahwa akan ada ribuan orang yang menonton video-video sederhana yang saya unggah. Dan saya sangat bersyukur untuk itu, dan tak lupa rasa terima kasih saya sampaikan kepada audience yang selama ini sudah sangat supportif hingga channel Youtube yang saya bangun bisa sebesar sekarang ini.

Silver Play Button adalah benda mengkilap yang dulu saya tak berani mengharapkannya. Terlalu jauh bagi seseorang yang tak punya basic di videografi seperti saya, namun Alhamdulillah akhirnya satu buah benda mengkilap ini bisa saya pajang di salah satu dinding rumah saya.

Dan pada video kali ini, saya akan mengulas sebuah benda penuh kilapan lain, bukan silver play button saya tentunya hehe.

Ini adalah Samsung Galaxy S9, yang kilapannya mampu membuat saya luluh untuk merogoh kocek lebih dalam.



Tapi inipun bukan sebatas karena memenuhi keinginan lho ya, ada juga kebutuhan saya sebagai content creator yang memang mau tak mau hanya bisa dipenuhi oleh smartphone high-end seperti ini.

Ya, dalam beberapa kesempatan, seringkali saya mendapatkan momen yang baik untuk dijadikan konten video atau foto untuk social media, dan biasanya saat itu terjadi saya tak membawa kamera yang biasa saya gunakan merekam video.

Jalan satu-satunya adalah dengan mengandalkan kamera smartphone, karena kalau smartphone kan memang selalu saya bawa ke mana-mana. Untuk itulah maka saya butuh kamera smartphone yang dapat diandalkan. Smartphone flagship adalah jawabannya.

Kamera Samsung Galaxy S9 hadir dengan kemampuan yang unik, yaitu mampu menyesuaikan aperture atau tingkat bukaan lensa untuk beradaptasi dengan kondisi pencahayaan. Aperture normalnya yang ada pada angka f/2.4 akan berubah menjadi lebih luas bukaannya di f/1.5 begitu penurunan intensitas cahaya terjadi.

Aperture normalnya yang ada pada angka f/2.4 akan berubah menjadi lebih luas bukaannya di f/1.5 begitu penurunan intensitas cahaya terjadi. Dan setahu saya, ini baru ada pada smartphone Samsung terbaru ini.

Hasilnya adalah foto-foto yang tetap tertangkap dengan tajam dan jernih meskipun dalam kondisi lowlights.

Saya tak akan berbicara panjang lebar, biarlah kualitas hasil foto berikut ini yang menunjukkan kualitasnya pada Anda. (cek review video)

Ya, bisa mengambil foto dengan baik dalam berbagai kondisi adalah sesuatu yang sangat saya butuhkan dalam profesi ini. Di mana saya seringkali harus mengambil foto produk yang sedang saya ulas, dan kondisinya memang kurang ideal. Namun saya yakin, Galaxy S9 akan banyak membantu saya untuk urusan yang satu ini.

Tak lupa, kemampuan merekam video sebuah smartphone jadi krusial juga bagi saya. Beberapa video yang saya unggah ke youtube pernah saya rekam hanya menggunakan kamera smartphone. Hehe, kalau sedang mepet sekali waktunya, merekam dengan kamera ponsel memang jauh lebih cepat hingga selesai proses produksinya.

Terlebih, pada Galaxy S9 ini dibekali kemampuan mengambil video slow motion dengan framerate mencapai 960 fps, di mana umumnya smartphone lain merekam slow motion maksimal pada 240 fps saja. Hasilnya sudah bisa ditebak, gerakan slow motion menjadi sangat halus dan lebih artistik ya.

Sembari saya menarik nafas dulu, silakan Anda nikmati beberapa cuplikan video yang saya ambil menggunakan kamera Samsung Galaxy S9 ini.



Saya pun sempat bergonta-ganti flagship smartphone, namun entah kenapa sejak mencoba Galaxy A8 beberapa waktu lalu, saya menilai ada kenyamanan dari UX yang dimilikinya. Dan buat saya yang belakangan semakin sibuk membuat materi konten, dengan waktu yang terbatas, experience terbaik dari sebuah smartphone menjadi suatu hal yang mutlak.

Saya akan butuh smartphone yang sudah enak dipakai, dioperasikan, dengan berbagai fitur otomatis yang menyesuaikan dengan kebutuhan kita di kondisi tertentu. Satu contoh sederhana saja misalnya, saat ponsel terkoneksi dengan perangkat audio bluetooth, Samsung Experience langsung menampilkan pilihan mau ke mana output suara diarahkan, perangkat bluetooth atau loudspeaker. Seperti fitur yang sederhana, namun sangat terasa manfaatnya, daripada harus mengubek-ubek ke dalam menu setting ya.

Apalagi memang, rasanya sudah sejak lama saya selalu menggunakan ponsel as it is, ngga pernah sempat untuk oprek-oprek lagi. Dan Samsung Galaxy S9 ini mampu memberikan experience yang saya butuhkan, out of the box!

Saya pikir urusan performa hingga ke kemampuan gaming, sudah tak perlu diragukan lagi ya. Flagship smartphone dengan jeroan kelas atas seperti ini nyaris tak mungkin mengecewakan dari sisi performa.

Untuk daya tahan baterainya sendiri, sejauh ini penilaian saya cukup baik, berbekal kapasitas baterai sebesar 3.000 mAh, dengan pola pemakaian ala saya, Galaxy S9 mampu bertahan selama 20 hingga 24 jam dengan rata-rata screen-on time sebesar 4 hingga 5 jam.

Mungkin bagi pemilik Galaxy S8, masalah desain terasa tak mengalami banyak perubahan ya. Samsung nampak tak ingin mengubah the winning formula untuk urusan yang satu ini. Infinity Display yang hampir memenuhi sisi depan smartphone ini tetap menjadi kekuatan utama Galaxy S9 dari segi desain. Tapi jangan lupa, di sisi belakang ada penyesuaian posisi fingerprint scanner yang membuatnya lebih nyaman digunakan karena letaknya yang lebih natural.

Samsung tidak ingin ikut-ikutan memasang poni di layar maupun menghilangkan port audio 3,5 mm seperti kebanyakan ponsel terbaru lain. Dan dua hal ini saya apresiasi sekali.

Oh ya, ada kelebihan Samsung Galaxy S9 dalam soal audio, di mana dual-speaker-nya sudah didukung teknologi Dolby Atmos dan benar-benar stereo.

Oh ya, belakangan saya lagi senang-senangnya bertukar GIF di media sosial ataupun aplikasi pesan. Dan hadirnya AR Emoji pada Galaxy S9 ini menjadikannya sebuah fitur yang unik yang baru kali ini saya temukan. At least kalau kita kirim ekspresi kita dalam bentuk animasi emoji seperti ini, tak ada kesan narsis seperti kalau kita kirim foto selfie kita lah haha. Dan kadang juga kan kita tak bisa menemukan GIF yang tepat untuk mengekspresikan apa yang hendak kita sampaikan. Jadi membuatnya sendiri, dengan mimik dan ekspresi kita sendiri adalah cara yang tepat, dan menyenangkan. Haha.

Selain faktor bandrol harga yang memang hanya mampu dijangkau kalangan tertentu saja, saya tak memiliki masalah berarti dengan Samsung Galaxy S9. Yang pasti, saya sudah tak sabar untuk mencoba membuat materi video dengan mengandalkan smartphone ini. Ya, saya pikir ponsel ini sudah enak untuk dipakai sehari-hari, tinggal kita lihat bagaimana saat digunakan untuk berkarya ya.

PR saya selanjutnya adalah mempertahankan kepemilikan Galaxy S9 ini, mengingat istri saya adalah fans berat brand ini, dan pastinya dia menginginkan fitur AR Emoji ini hahaha. Doakan saya ya pemirsa, hahaha.

Demikian ulasan saya yang memang cukup jarang memegang ponsel flagship seperti Samsung Galaxy S9 ini. Terima kasih sudah menemani perjalanan channel GontaGantiHape HD sejauh ini, dan semoga kita bisa melangkah semakin jauh ke depan ya.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review A1 Flame Atmosphere Lamp Wireless Speaker



Sadar ngga kalau barang yang saya ulas kali ini sudah sering muncul di video-video saya sebelumnya?

Sebagian viewers sih sudah sadar dan bertanya, itu dekorasi lampu yang seperti api itu apa tanyanya.

Sayangnya, masih pada menyangka kalau ini hanya sebatas lampu dekorasi, heuheu.

Padahal ini adalah bluetooth speaker lho. Dan untuk menambah ke-amazing-annya, saya tambahkan fakta bahwa speaker ini juga waterproof.

Sudah kepincut duluan? Monggo, ini dia link produk ini di Banggood.

Udah ya reviewnya? Hahaha.

Kita bahas dulu atuh produknya, dikit aja. Saya tahu penonton sudah pada ga sabar hehe.

Pertama, speaker ini memiliki kontrol di bagian atas. Ada tombol power, play and pause, serta volume up and down yang juga berfungsi untuk berpindah track. Satu tombol paling besar yang berada di tengah itu untuk menyalakan lampunya.

Ya lampu dengan nyala laksana api nan indah itu.

Untuk menyalakan speaker, tekan dan tahan sebentar tombol power. Speaker ini akan otomatis masuk ke mode pairing jadi tak perlu tekan lama-lama ya. Proses pairingnya juga cepat.

Sisanya sama dengan bluetooth speaker lain. Kontrol media yang dimainkan dapat dilakukan dari speaker ini.

Sementara di sisi bawah, ada tripod mount. Jadi bisa dipasang dengan mini tripod untuk di meja, atau pakai light stand biar jadi seperti obor hehe.

Port micro USB terdapat di perut speaker ini. Baterainya cukup besar di 1.200 mAh, dan selama ini lebih sering dinyalakan lampunya untuk keperluan shooting daripada jadi speaker. Sudah sebulanan dan belum saya isi ulang, mungkin karena pola pemakaian saya itu tadi ya.

Kualitas suaranya bagaimana? Bagus sih, ga cempreng. Enjoyable lah. Tapi memang ga bisa dibilang istimewa. Saya masih bisa menikmati alunan lagu yang didendangkannya sembari mengetik atau browsing. Namun jika fokus mendengarkan lagu sih saya lebih senang pakai speaker lain saja.



Silakan didengarkan sendiri suaranya, saya sudahi ulasan dari A1 Flame Atmosphere Lamp Wireless Speaker ini di sini. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Saturday, March 31, 2018

Review ACMIC A10 Pro, Quickcharging Powerbank



Secara berkala, saya akan memberikan rekomendasi produk elektronik yang dapat dibeli di toko online lokal. Lebih enak lagi jika penjualnya sudah jadi official store di Tokopedia ya.

Kali ini yang saya rekomendasikan adalah sebuah powerbank yang tentunya wajib mendukung teknologi fast charging.

Belakangan ini, bahasan seputar powerbank tak lepas dari regulasi baru di dunia penerbangan yang membatasi besaran kapasitas powerbank yang dapat dibawa oleh penumpang pesawat terbang. Dari yang saya tahu, kapasitas maksimalnya adalah 20.000 mAh kurang lebih.

Dari itu, saya memutuskan mencoba powerbank lain yang sudah pasti kapasitasnya aman untuk dibawa bepergian di udara. Kali ini pilihan saya jatuh ke ACMIC A10 Pro. Sebelum penonton pada protes, saya tekankan bahwa memang bandrolnya tergolong premium.

Tapi, kita lihat dulu deh mending apa saja kelebihan dari powerbank ini.



Pertama simple, pilihan warnanya banyak. Dan yang saya ulas kali ini berwarna Misty Green. Baru lihat kan powerbank warnanya hijau gemerlapan seperti ini? Hehe. Bahannya pun terasa solid dan kokoh sekali, dengan bobot yang pas. Sebetulnya saya agak riskan dengan material logam yang digunakan, takut menggores gadget lain jika ditempatkan bersamaan di dalam tas. Tapi setidaknya, ACMIC A10 Pro ini hadir tanpa sudut, sehingga kekhawatiran ini bisa diminimalisir.

Kedua adalah garansinya yang resmi, dan durasinya cukup panjang yaitu 18 bulan. Bikin tenang kalo nanti ada apa-apa.

Ketiga, adalah fitur proteksi yang super lengkap. Sehingga setidaknya saya tidak terlalu was-was akan efek penggunaan powerbank terhadap smartphone kesayangan saya. Masa iya pake smartphone flagship tapi powerbanknya ngasal, apa ngga sayang hapenya tuh.

Keempat, tentunya karena sudah support Qualcomm Quickcharge 3.0. Dan begitu saya colokkan ke Samsung Galaxy S9 saya, muncul indikator fast charging-nya. Jadinya mengisi daya smartphone dapat dilakukan dengan cepat. Oh ya, ada dua port output pada powerbank ini, yang satu lagi mampu memberikan kuat arus 2,4 A lho.

Kelima, powerbank ini juga cepat manakala diisi dayanya. Jadi support quickcharge baik output maupun input. 3 jam dicas, sudah penuh lagi, praktis jadinya.

Oh ya, powerbank ini punya 2 port untuk input, yaitu micro-USB dan lightning port. Jadi baik pengguna Android maupun Apple device, bisa mengandalkan charger smartphone mereka untuk mengisi daya ACMIC A10 Pro ini. Walau sebetulnya di dalam pake penjualan, sudah disertakan sebuah kabel micro-USB dengan adapter USB Type-C dan juga lightning.

Empat buah lampu indikator menjadi penanda sisa kapasitas powerbank ini. Dan lampu terakhir akan berubah warna dari putih ke hijau saat fast charging berjalan.

5 Kelebihan terus ga ada kekurangannya nih? Ada, kan saya sudah bilang di awal, powerbank ini masuk ke kategori powerbank premium. Jadi mungkin kurang sepadan jika disandingkan dengan smartphone entry level.

Tapi buat pengguna hape-hape flagship sih, masa iya bilang mahal. Kan lebih baik bayar lebih tapi nasib hape jadi makin terjamin, hayo betul apa betul? Hehehe.

Sip, demikian ulasan saya tentang ACMIC A10 Pro, produk ini dijual secara resmi di Tokopedia ya. Link pembelian saya sertakan di deskripsi video. Konon, mulai 29-31 Maret 2018 ini ada promo potongan harga, jadi jangan lupa klik linknya buat cek diskonnya.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, March 28, 2018

TIBA-TIBA PINTAR BAHASA INGGRIS? BISA! Review u-Dictionary Kamus Pintar Berbahasa Inggris!



Bosankah kalo saya review gadget terus?

Tenang, kali ini beda, yang saya review adalah sebuah aplikasi. Dan pastinya sangat bermanfaat.

Saat ini, saya sedang menguji pakai Samsung Galaxy S9, yang mana ada fitur Bixby Camera di dalamnya. Tahukah kalau salah satu kegunaan Bixby Camera adalah untuk menterjemahkan tulisan secara visual. Contohnya kita bisa menterjemahkan tulisan yang ada di sampul buku dengan cara memfotonya.

Berguna kan aplikasi seperti ini? Tapi, Bixby hanya ada di smartphone keluaran Samsung. Terus yang ngga punya Samsung bagaimana?

Nah, itu dia yang mau saya review dan infokan ke temen-temen semua, biar lebih semangat belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional.

Aplikasinya adalah u-Dictionary. Aplikasi ini selain berfungsi sebagai kamus biasa, juga bisa menterjemahkan gambar di jendela bidik kamera, atau foto di galeri kita. Semisal ada teman mengirimkan meme di whatsapp, dan kita tak tahu apa artinya. Tenang, tinggal buka aplikasi u-Dictionary, lalu buka deh foto tadi, select di bagian teks yang ingin diterjemahkan. Voila, hasil terjemahannya muncul, bahkan hingga ke alternatif arti yang mungkin lebih cocok. Dan ini bisa diatur mau diterjemahkan ke bahasa apa.



Tapi tak hanya itu, u-Dictionary juga bisa dengan cepat menterjemahkan teks yang kamu salin entah itu dari browser atau dari pesan apapun. Begitu kita memilih untuk menyalin suatu teks, maka akan muncul lingkaran kecil yang jika kita tap maka akan langsung menerjemahkan kalimat yang kita salin tadi. Catat ya, kalimat lho, ngga hanya kata per kata saja.

Dan semua itu bisa dilakukan dengan cepat karena aplikasi kamus u-Dictionary ini juga bisa berjalan offline. Sebagai contoh, saat saya memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa primer saya, maka kita tinggal download data sebesar 3MB saja. Ga makan kuota banyak kan?

Satu lagi fitur unik dari aplikasi ini adalah Word Lock Screen. Jika kita mengaktifkan fitur ini, maka lockscreen kita akan berubah menjadi kata-kata baru dalam bahasa asing, beserta artinya. Sehingga setiap kali kita menyalakan layar ponsel kita, kita menambah kosakata asing baru ke dalam pengetahuan kita. Ini keren, berguna banget menurut saya.

Dan aplikasi u-Dictionary ini bisa didapatkan secara resmi di Google Play Store tanpa biaya lho. Aplikasi ini mendapat keuntungan dari iklan yang sesekali muncul berbarengan dengan hasil terjemahan yang dilakukan. Dan saya rasa ini fair lah.

Kamu sering ditanya arti suatu kata dalam bahasa asing oleh teman, saudara, atau bahkan orang tua kamu? Yuk kita tolong mereka lebih mandiri dengan memberitahukan aplikasi yang keren dan useful ini.

Saya pun senang sekali bisa memberitahukan tentang keberadaan aplikasi ini kepada teman-teman semua, semoga bermanfaat yaaa.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, March 26, 2018

Review Nubia Z17 Lite, Juara di 3-4 Jutaan. Tapi...



Setelah saya sempat merasa kurang dipuaskan oleh beberapa smartphone Nubia yang dirilis resmi di Indonesia, Nubia Z17 Lite ini seakan jadi game changer yang membuat saya teringat kembali kenapa dulu saya menyukai brand ini. Nyata memang bahwa seri Z masih lebih superior dari seri M dan N, meskipun seri Z yang saya coba ini adalah varian Lite-nya.

Serius, saya pikir smartphone ini tak cocok diberi embel-embel Lite. Kenapa memang? Ah kalau saya jelaskan sekarang, nanti selesai di sini review-nya. Simak aja lah ya sampai akhir, hehehe.

Z17 varian original tanpa lite memang menggunakan processor Snapdragon 835, sementara versi Lite ini menggunakan Snapdragon 653, yang menurut saya masih saja bukan sesuatu yang Lite. Snapdragon 653 ini performanya cukup tinggi dengan skor Antutu 80-ribuan lho.

Memang sih, processor ini masih menggunakan fabrikasi 28 nm yang membuatnya tak seawet Snapdragon 625. Namun dalam pemakaian saya masih selalu mampu menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya.  Baterainya sendiri berkapasitas 3.200 mAh, jadi segitu ngga boros kan?

Mari kita bahas juga desainnya. Ciri khas Nubia sangat kental hadir pada ponsel ini. Halo button kapasitif di bawah layar, list merah mengelilingi kamera utama, dan tak lupa chamfered metal edge di sekeliling layar yang diberi warna gold. Nah, yang terakhir ini saya kurang suka, backcover biru dan sisi depan hitam yang sudah kece banget, menurut saya tak perlu sentuhan warna emas sama sekali.

Body Nubia Z17 Lite ini cukup tipis, yaitu 7,6 mm saja. Dan yang pasti, licin banget euy. Unit yang saya ulas ini saja sudah mengalami satu kecelakaan akibat tergelincir dari genggaman tangan. Alhasil keempat sudut backcovernya baret, untungnya sisi layarnya malah jauh lebih tahan goresan, meskipun saya tak bisa menemukan informasi tentang perlindungan layar apa yang dimiliki smartphone ini.

Sejak unboxing saja saya sudah merasakan jatuh cinta kembali dengan ponsel Nubia ini. Setelah dicoba langsung, ketertarikan saya semakin mendalam saja.



Hal ini disebabkan oleh dua hal, pertama Nubia UI 5, dan kedua adalah kameranya.

Kita bahas Nubia UI versi 5 dulu ya. Saya memberi sorotan lebih kepada custom UI miliki Nubia ini karena pada versi sebelumnya, yaitu versi 4.1, Nubia UI ini tak enak digunakan karena membuat notifikasi sangat telat diterima. Anda bisa tanyakan kepada semua pengguna Nubia M2 deh.

Nah, di Nubia Z17 Lite ini, saya malah kemasukan notifikasi melulu, bahkan notifikasi request inbox instagram yang jarang muncul di ponsel-ponsel lain, selalu bermunculan di Nubia UI 5 ini. Saya sinyalir penyebabnya antara lain karena RAM ponsel ini yang besar juga, sehingga background process lancar berjalan. Dan kekhawatiran saya terhadap lemotnya notifikasi di Nubia UI pun sirnalah sudah.

Lanjut ke bahasan kamera, menurut saya kamera Nubia Z17 Lite ini juara banget pada rentang harga smartphone 3-jutaan. Modenya lengkap, sama lah dengan milik Nubia M2, namun hasilnya menurut saya jauh lebih baik.

Saya jadi senang mencoba mode makro, black and white, serta portrait pada ponsel ini. Mode manual juga hadir dengan pengaturan yang lengkap.

Autofokus terkunci cepat, ambil gambar ngga pernah lemot, dan hasilnya selalu memuaskan mata saya. Jangan tanya resolusi ya, gede pokoknya haha. Kamera belakangnya memiliki dua lensa dengan sensor yang sama besar di 13 Megapixels. Mungkin karena resolusinya yang sama besar ini juga lah, blur pada mode portrait dapat tercipta dengan baik, nyaris sempurna jika saya bilang.

Kamera depannya sendiri beresolusi 16 Megapixels dengan bukaan lensa f/2.0 yang performanya tak kalah baik, dengan hasil yang natural, alias ngga lebay.

Untuk perekaman video, warna yang ditangkap memuaskan bagi saya, namun memang masalah stabilisasi tergolong biasa saja, cenderung ke kurang.

Saya akan munculkan hasil fotonya, dan Anda boleh siapkan dompet Anda sekarang, heuheu. Perhatikan baik-baik hasilnya dalam kondisi lowlights ya.



Saya tak memiliki keluhan soal performa. Snapdragon 653 ditambah dengan RAM sebesar 6 GB adalah kombinasi yang istimewa di harga 3 jutaan seperti ini. Hanya saja, Anda perlu memastikan bahwa storage sebesar 64 GB akan cukup, karena ponsel ini hanya punya slot untuk dua nano sim card, tanpa jatah untuk ekspansi memory.

Kekurangan lainnya adalah absennya port audio 3,5 mm, walau pada paket penjualannya disertakan adapter dari USB Type-C ke jack audio ini.

Oh ya, kepala charger yang disertakan adalah yang standar. Namun, saat saya coba isi dayanya dengan quickcharger, Nubia Z17 Lite mampu mengisi daya pada tegangan 7,5v sehingga pengisian daya dapat dilakukan dengan cukup cepat. Di gsmarena pun disebutkan bahwa ponsel ini support Quick Charge 3.0.

Saya dari tadi belum bahas layar ya. Heuheu. Masih pada belum nyadar kayanya yah, Nubia Z17 Lite ini justru nilai jualnya di sini. Lihat deh tepian pinggir kanan dan kiri layarnya. Ya, tanpa bezel. Beneran bezeless. Hape 3-jutaan mana lagi coba yang bisa begini? Panel IPS-nya juga memproduksi warna yang vivid dan tajam. Resolusinya Full HD dengan dimensi 5,5 inci.

Sektor audio juga bisa diandalkan untuk membuat Anda menikmati konten-konten multimedia dengan asyik. Yuk kita check sound sedikit.

Oh ya, Nubia UI 5 ini secara tampilan tak banyak berbeda dengan versi sebelumnya. Hanya saja toggles dipindah tak lagi muncul di notification bar, melainkan pada panel yang akan muncul jika kita swipe dari bawah layar ke atas. Walaupun ini membuat posisinya lebih mudah dijangkau jari, namun harus diakui butuh waktu membiasakannya.

Fitur-fitur tambahan lainnya yang cukup banyak juga hadir pada Nubia UI 5, yang bisa jadi akan berguna buat sebagian orang, walau bagi saya kebanyakan malah tak saya aktifkan lagi hehe. Nampakya Nubia masih perlu belajar banyak soal UX kepada brand-brand besar dunia, agar tak sekedar memperbanyak fitur, namun juga memaksimalkan kegunaannya.

Saya sudah jarang menemukan kepuasan seperti ini pada ponsel 3-jutaan. Belakangan ini, ponsel-ponsel yang membuat saya betah pakai biasanya ada pada rentang harga 6 juta ke atas, sebagai contoh ada Samsung Galaxy A8, Honor 9, Honor View 10, LG V30+, Google Pixel 2, hingga Huawei P10.

Dan Nubia Z17 Lite ini seperti mengembalikan kepercayaan saya bahwa ada lho ponsel 3-jutaan yang keren. Snapdragon 653, RAM 6 GB, Layar Bezeless, Kamera Kece, bener-bener punya price-to-spec comparison yang tinggi.

Saya rasa sudah tak perlu dijelaskan kembali bahwa Nubia Z17 Lite ini masuk dalam daftar rekomendasi saya. Mungkin malah jadi yang teratas untuk level harga 3-jutaan.

Masalahnya hanyalah, ponsel ini tidak ada dalam rencana Nubia Indonesia untuk dimasukkan resmi di sini. Unit yang saya ulas saya dapatkan dari GearBest.com, silakan cek link pembelian Nubia Z17 Lite ini ya jika Anda berminat.

Pada video unboxing-nya saya tuliskan bahwa ini adalah daily driver saya. Memang niat awalnya seperti itu koq, walau pada kenyataannya ponsel ini sudah saya lepas kembali.

Saya kasih bocoran penyebabnya deh. Kalau tak ada halangan, akan ada sebuah ponsel Nubia lagi yang akan saya ulas dalam waktu dekat ini, dan yang ini sudah saya rencakanan untuk dijadikan daily driver saya selanjutnya. Doakan saja ya.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, March 12, 2018

Review ASUS Zenfone Max Plus M1 ZB570KL Indonesia



Ini adalah smartphone resmi ASUS pertama yang sudah memiliki rasio layar kekinian. Ya, ASUS Zenfone Max Plus M1 ZB570KL ini memiliki layar dengan bentang 5, 7 inci berrasio 18:9 dengan resolusi HD+. Harganya 2.799.000, dan sebagian orang sudah keburu menganggapnya overprice hanya karena menggunakan processor mediatek MT6750.



Fakta bahwa pada video unboxingnya ponsel ini sudah menghangat ketika membuka aplikasi kamera cukup lama memang benar adanya. Namun, dalam pemakaian sehari-hari ala saya, saya tak ingat pernah mengalami demam seperti itu lagi, bahkan saat digunakan bermain game Destiny 6 selama kurang lebih 5 menit.

Saya pernah mencoba ponsel lain yang menggunakan Mediatek MT6750 dan memang suhunya relatif sering demam. Dalam hal ini, saya rasa ASUS dengan Zen UI-nya punya resep agar si processor tak gampang panas. Perlu diingat bahwa ZenUI bukanlah custom UI Android yang mengekang background services dan notifikasi. Sejauh ini saya selalu betah dengan Zen UI dan berbagai fitur usable yang ditawarkan, entah itu dual-apps-nya, atau Game Genie yang akan sangat membantu para mobile gamer maupun game reviewer.

Tombol navigasi sudah on-screen ya, dan sayangnya saya belum menemukan cara mengkustomisasinya, di mana biasanya saya mengatur long press pada recent apps button sebagai jalan pintas untuk screenshot. Pada ponsel ini tombol tersebut berfungsi untuk masuk ke mode split screen saat ditekan dan tahan lebih lama.

Performanya sendiri cukup gegas dan sangat terbantu RAM 4 GB yang dimilikinya. Jangan lupakan kelebihan lain soal storage luas sebesar 64 GB yang masih ditambah dengan dedicated micro-SD slot. Saya rasa ini adalah nilai jual utama ponsel ini, selain baterai berkapasitas besar dan kamera ganda beresolusi besarnya.

Sementara nilai minusnya adalah fingerprint scanner-nya. Selain posisinya yang dipindah ke belakang karena mengakomodir layar kekinian nya, pemindai ini juga punya waktu respon yang cukup lambat. Sayangnya lagi, bagi saya masalah responsifitas fingerprint scanner adalah krusial.

Untuk daya tahan baterai, tak bisa dibilang boros, namun juga tak tergolong awet. Bertahan 24 jam selalu mampu dilakukan, namun menurut saya ini bukan prestasi mengingat baterainya memiliki kapasitas yang besar, 4.100 mAh. Dalam opini saya, konsumsi daya MT6750 kira-kira setingkat dengan Snapdragon 430 yang ada pada Zenfone 4 Max Pro. Yang lebih hema justru Snapdragon 425 yang digunakan Zenfone 4 Max 5, 2 inci. Jadi jika tak terlalu butuh layar 18:9 dan mencari yang lebih terjangkau, Zenfone 4 Max 5,2 inci adalah jawabannya. Walau di harga segitu menurut saya Zenfone 3 ZE520KL masih lebih valuable.

Saya tak memiliki masalah dengan output audio ponsel ini. Enjoyable iya, tapi sesuai harganya saja lah. Ada outdoor mode jika butuh power lebih, tapi memang kontrolnya berkurang pada mode ini, wajar lah ya.

Walau ponsel ini tak mengedepankan urusan kamera, namun ASUS membekalinya dengan 3 buah kamera. Satu kamera depan beresolusi 16 Mega pixels, dan dua kamera belakang masing-masing beresolusi 16 Mega pixels untuk lensa normal, dan 8 Mega Pixels untuk lensa wide. Walaupun hadir dengan setup normal dan wide, namun mode blur juga ada. Performanya dalam mengambil gambar tergolong baik, fokus terkunci cepat, gambar diambil dalam waktu singkat.

Hasilnya sendiri masih bisa diandalkan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk dala kondisi indoor dengan bantuan cahaya lampu. Saya tak bisa mengatakan hasilnya istimewa, namun setidaknya masih relevan lah dengan bandrol harganya. Dan saya tampilkan hasil foto terbaik yang bisa saya ambil dengan kamera ponsel ini, berikut juga hasil perekaman videonya ya.



Overall, ASUS Zenfone Max Plus M1 ini saya nilai tak overprice koq. Dengan kelebihan pada besarnya RAM dan storage yang masih dilengkapi slot ekspansi dedicated. Layar kekinian dan kamera ganda beresolusi besarnya pun tak boleh lupa dimasukkan hitungan ya.

Not a gaming phone exactly, dan masalah respon fingerprint scanner harus diperbaiki lagi, hopefully bisa pakai update OS ya. Yang pasti, ponsel ini jadi memperkaya alternatif ponsel dengan layar 18:9 yang cukup terjangkau. Saya kasih bocoran nih, di Tokopedia sudah ada yang jual 2,6-jutaan lho!

Demikian penilaian saya terhadap ASUS Zenfone Max Plus M1 ZB570TL ini. Haha, panjang ya namanya. Sepanjang layarnya hehe.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalamualaikum wr wb.

Friday, March 9, 2018

Review Mini Prize Claw Machine, Biar Ga Boros ke Game Master Melulu!



Sering main claw machine di mall ga? Itu lho, yang suka ada di game master, kebanyakan buat ambil hadiah yang berupa boneka, menggunakan capitan.

Jarang dapet? Sama. Padahal sekalinya dapet juga kalo diitung-itung, duit yang kepake malah lebih mahal dari kalau beli boneka ya, haha. Tapi kepuasan batinnya itu memang ga bisa dikalahkan.

Gimana kalau punya sendiri claw machine di rumah? Gile lu ndro, mesin gede gitu siapa yang jual? Dikirim pake JNE kena berapa kilo? Hahaha.

Tenang bos, saya punya yang mini, ini dijual di Banggood mulai harga $29. Dan yang saya ulas ini yang harganya $40 alias sekitar 500-ribuan ya.

Anda bisa menggunakan tiga buah baterai AAA untuk mentenagainya. Atau kalau mau hemat, ada koq colokan micro-USB, tinggal colok pake casan, atau pakai powerbank. Inget, tidak ada baterai tanam di dalam mesin ini ya.

Kita diberi 4 buah koin di dalam paket penjualannya, ya biar kaya aslinya, untuk setiap permainan, kita harus memasukkan koin dulu. Tenang, koin yang sudah masuk bisa dikeluarkan dengan gampang koq. Hehe.



Jika kita gagal mengambil mainan di dalam mesin ini, efek suara yang dihasilkan cukup ngeselin haha. Namun jika berhasil, ada efek cahaya warna-warni yang muncul. Cukup memuaskan hati lah, soalnya untuk dapat mainan di dalamnya cukup sulit juga.

Oh ya, kabar baik buat yang susah bangun pagi. Mainan ini dilengkapi dengan alarm juga, di mana alarmnya baru akan berhenti jika kamu berhasil mencapit mainan keluar dari mesin ini. Fungsi sebagai jam biasa juga ada, jadi kalau diletakkan di meja kerja, bisa berfungsi sebagai jam meja, dan kalau lagi suntuk, kita bisa main sebentar. Walaupun kayanya kalau untuk di kantor sih suaranya terlalu berisik hehe.

Untuk memasukkan mainan, ada pintu kecil di belakang mesin ini. Semuanya serba mudah dioperasikan lah ya. Jadi, selamat bersenang-senang di rumah ya, para penggila claw machine. Hehe.

Demikian sedikit ulasan mainan kali ini, gapapa ya bahas mainan, biar ga bosen hehe. Yang tertarik memilikinya, monggo ini adalah link pembeliannya, ada juga video tutorial cara memesan di Banggood.com, jangan lupa disimak ya.

DISCOUNT COUPON:  (10% OFF: "elec")



Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, March 8, 2018

Review Xiaomi Noise Cancelling Earphones, Bagus?



Halo Assalamualaikum, ini adalah Xiaomi Noise Cancelling Earphones.

Kalau dilihat penampakannya yang premium, itu karena harganya juga ngga murah. Dengan bandrol sekitar $69 alias hampir menyentuh angka 1 juta Rupiah di Banggood.com, pada video unboxing-nya sudah banyak yg mengomentari bahwa Xiaomi yang ini udah ngga mending lagi.

Tapi apa iya begitu?

Pada video unboxing-nya juga, beberapa orang menjelaskan bahwa harga segitu tetap lebih murah daripada noise cancelling earphone kebanyakan dari brand ternama.



Saya setuju. Noise cancelling earphone memang tak murah, dan umumnya earphone macam begini diperuntukkan bagi mereka yang bekerja di area-area bising seperti konser dan show. Kru panggung, musisi, bahkan artis mungkin yang akan terbantu dengan earphone seperti ini.

Ya, jangan dipakai untuk menghilangkan bunyi sekitar saat berkendara ya. Itu berbahaya, mohon kerjasamanya agar tercipta keamanan berlalu lintas saudara-saudara.

Heuheu, oke balik ke bahasan produknya yuk.

Desain dari earphone Xiaomi yang satu ini memang terlihat premium, apalagi jika sudah dipegang di tangan. Material kelas atas bisa dengan mudah kita rasakan. Braided cable selain kokoh juga membuatnya tak mudah kusut, jadi cukup shampoo doang, ga perlu conditioner lagi. Hahaha.

Rubber cable yang menyambungkan antara modul noise cancelling dan housing kiri kanan juga tak kalah solid terasa.

Kepala jack 3,5 mm, modul utama, microphone, hingga housing, semuanya memakai bahan metal solid dengan bobot yang mantap.

Intinya, harga mahalnya diimbangi oleh material nomor wahid lah.

Kualitas suaranya bagaimana? Buat saya yang jarang punya earphone mahal, segini tuh juara banget. Powernya mantap, bass boomy, namun treble dan detail masih dapat diproduksi dengan baik berkat dual-driver yang dimilikinya. Cocok banget buat dipake dengerin musik jedag-jedugnya Alan Walker dan Bebe Rexha yang belakangan ini sedang senang saya dengarkan.

Anda pernah coba Mi Piston 2? Jika Anda puas memakainya, maka saya jamin saat Anda beralih ke Xiaomi Noise Cancelling Earphones ini, Anda akan merasakan upgrade yang berarti. Pengguna Mi In-ear Headphones Pro HD mungkin akan merasakan staging earphone ini sedikit lebih sempit namun peningkatan pada power.

Dan ketika Anda menyalakan fitur noise cancelling-nya, beuh... Isolasi penuh berkat eartips yang menutup dengan baik dan nyaman, membuat saya beberapa kali tak mendengar saat teman kantor saya pamit pulang hahaha. Namun demikian, ketika saya gunakan di atas angkot, saya masih bisa mendengar deru mesin kendaraan yang menyalip sih.

Modul noise cancelling-nya sendiri dapat bertahan hingga 12 jam dalam sekali pengisian daya yang memakan waktu 2 jam. Lama memang, padahal baterainya cuma 55 mAh saja. Ada 2 level noise cancelling yang dapat dipilih, geser setengah atau penuh untuk mengaturnya.



Jadi, apakah sudah ga mending lagi produk Xiaomi yang ini? Gimana ya, cocok-cocokan sih, karakternya apakah yang Anda cari atau bukan, terus perlu ngga fitur noise cancelling? Kalau saya sendiri karakternya cocok, tapi ngga butuh-butuh banget noise cancelling-nya. Dan saat ini saya ada niat pengen balik ke Mi In-ear Headphones Pro HD nih. Heuheu.

Kalau kamu cocok dengan apa yang saya jelaskan pada artikel ini, boleh klik link untuk pembeliannya di Banggood.com ini, ada kode kupon diskon (10% OFF Coupon: CellAcc) bagi yang ingin berbelanja earphone ini di Banggood.com, lumayan.

Sip ya, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Di Balik Layar: Aa Gogon Bikin Videonya di Dapur? (feat. Xiaomi MiFa H2 Bluetooth Speaker)



Pada artikel kali ini, saya ingin bercerita sedikit tentang kegiatan saya membuat konten untuk YouTube.

Alhamdulillah sejak pindah ke rumah yang saya tempati sekarang ini, saya memiliki ruang kerja pribadi yang sering saya gunakan untuk berbagai kegiatan. Mulai dari menulis naskah, merekam suara, merekam unboxing secara langsung, atau merekam potongan-potongan adegan yang akan digunakan pada proses video editing.

Namun, sebetulnya tak semua pekerjaan itu saya lakukan di ruangan tersebut. Thanks to my lovely wife, rumah kami yang tidak besar ini ditatanya dengan cantik, dan membuat saya enjoy bekerja di rumah. Termasuk di dapur.

Serius di dapur? Serius. Seringkali pagi-pagi saya bekerja di dapur, sekedar menemani istri yang memasak, dan juga anak saya yang bermain di pagi hari.

Ada meja bar dengan kursi bar tinggi yang jadi favorit saya. Beberapa video saya rekam di situ. Namun seringnya sih saya bekerja di dapur ini saat mengerjakan pekerjaan yang lebih fokus di laptop saja. Mengetik naskah utamanya.

Enak soalnya, bisa tetap berkumpul dengan keluarga, sembari bekerja.

Saya sendiri termasuk orang yang senang mendengarkan musik saat bekerja di depan laptop. Biar lebih semangat di pagi hari.

Saya menghindari penggunaan earphone di rumah, dan lebih prefer kepada speaker portable. Satu yang belakangan sering saya andalkan untuk memutar musik selagi bekerja adalah bluetooth speaker MiFa H2.



Untuk urusan kualitas audio, MiFa nampaknya tidak perlu dijelaskan panjang lebar ya. Mantap lah pokoknya, apalagi jika diperhitungkan harganya yang terjangkau.

MiFa H2 ini saya pilih karena fungsionalitasnya juga. Ada dudukan hape pada speaker ini, sehingga saya bisa menaruh ponsel saya di atas speaker ini. Jadinya, selain hemat tempat, saya juga bisa mengakses ponsel saya dengan lebih mudah. Dan meskipun MiFA H2 ini adalah bluetooth speaker, namun ada kabel AUX yang sudah terintegrasi, sehingga jika diperlukan, tinggal colok dan letakkan ponsel kita dengan posisi landscape.

Satu-satunya tombol yang tersedia pada speaker ini berfungsi untuk menyalakan dan mematikan daya saja. Ya, kontrol volume sepenuhnya diberikan kepada perangkat yang memutar musik. Kabar bagusnya adalah, tidak ada mode khusus untuk pairing, jadi tinggal nyalakan, pairing dapat langsung dilakukan. Jika sudah pernah, maka akan langsung terkoneksi. Sederhana kan?

Kebetulan warnanya juga tersedia dalam warna favorit saya dan istri, hijau mint atau turqoise. Ini adalah warna yang menjadi win-win solution, istri masuk suka, tapi juga tidak feminim heuheu. Desainnya sendiri kekinian dan minimalis, sehingga bisa blend-in dengan style interior rumah kami.

Oh ya, ada gift khusus dari MiFa Indonesia, jika Anda membeli produk speaker MiFa dari link pada artikel ini, dan menuliskan FREE GIFT GONTAGANTIHAPE pada keterangan order. Jangan lupa ya!

Demikian sedikit cerita di balik layar channel GontaGantiHape ini, semoga membuat kita semakin dekat dan lebih mengenal keseharian saya dalam membuat konten ya.