Gadget Promotions

Friday, October 20, 2017

Review Xiaomi Mi MIX 2 Indonesia, Si Cantik yang Suka Bikin Sedih



Mi Mix 2 adalah smartphone Xiaomi dengan harga tertinggi saat ini. Lucunya, di video unboxing-nya banyak fans dari Xiaomi yang balik arah begitu tau harganya, udah ngga mending lagi katanya. mending beli motor seken katanya. Haha, memang betul sih, Mi Mix 2 tergolong premium sekali untuk Xiaomi yang selama ini memiliki image produk-produknya selalu menawarkan best price to value comparison. Tapi apakah Mi Mix 2 ini tak sebanding dengan harganya? Kita bahas terus yuk, selengkapnya di review kali ini.



Xiaomi Mi Mix 2 ini saya dapatkan dari GearBest.com dengan harga termurah ada pada kisaran $569 untuk varian RAM 6 GB dengan storage 64 GB. Kalau dirupiahkan mungkin sekitar 7,5 juta ya. Kalau hanya menghitung spesifikasi jeroan, jelas lebih baik Mi 6, atau juga OnePlus 5.

Namun Mi Mix 2 menawarkan hal lain yang tak didapat pada kedua ponsel tersebut.

Pertama adalah experience menggunakan smartphone yang hampir seluruh bagian depannya merupakan layar. Ini adalah Xiaomi pertama yang saya coba yang sudah menggunakan on-screen navigation. Dan sepanjang penggunaannya, saya sangat sangat menikmatinya.

Memandangi layar dari Mi Mix 2 adalah sebuah kepuasan tersendiri. Dan harga yang premium memang terbayar dengan feels dan experience yang didapat. Saya adalah penyuka navigasi di layar, yang mana selama ini tak pernah saya rasakan pada produk Xiaomi, kecuali pakai custom ROM ya. Dan menulis naskah untuk video ini benar-benar membuat saya merindukan ponsel yang sudah saya jual kembali ini, hahaha.

Efek samping dari penggunaan layar yang hampir memenuhi seluruh bagian depan adalah letak fingerprint scanner yang harus mengalah dan pindah ke bagian belakang. Ya, bagi saya posisi ideal fingerprint scanner masih di sisi depan sih, dan kenyamanan saya sedikit berkurang karenanya. Tapi untungnya, sensor pemindai sidik jari yang dimiliki oleh Xiaomi Mi Mix 2 ini memang top class, cepat dan akurat sekali!

Sekalian bahas sisi belakang, ini adalah salah satu luxury lain yang ditawarkan oleh ponsel ini. Menggunakan bahan ceramic, backcover Mi Mix 2 jadi salah satu yang terindah yang pernah saya coba. Cukup disayangkan memang bahan ini masih membuat bekas sidik jari dan minyak tercetak jelas. Xiaomi membekali sebuah hardcase pada paket penjualannya. Namun, meskipun case ini terlihat premium, saya pribadi takkan pernah menggunakannya. Ya iyalah, hape sudah kinclong dan kece pake ceramic gini, ngapain pakai case, atuh ga bisa nampang lagi lah si cakep teh heuheu. Dan bukankah bahan ceramic ini memiliki ketahanan akan goresan yang jauh lebih baik dari bahan kaca?

Kalau ga sama case-nya apa bisa lebih murah lagi harga Mi Mix 2? Haha, yakali ah.

Mi Mix 2 sebagaimana seri Mi premiuim lainnya, adalah ponsel dual-sim tanpa slot ekspansi memory. Selain itu, satu lagi yang tak hadir di Mi Mix 2 adalah port audio 3,5 mm, sama seperti di Mi 6 maupun Mi Note 3. Tapi ada satu hal yang sangat saya sesalkan yaitu absennya infrared blaster pada ponsel ini, padahal ponsel-ponsel Xiaomi umumnya punya kegunaan lebih berkat kemampuannya untuk menjadi remote control pengganti bagi perabot elektronik di rumah ya. Di situ saya merasa sedih, paling mahal tapi malah kena sunat. Ini ngga adil. Hiks... Haha.

Performa Mi Mix 2 sih sudah tak perlu dipertanyakan. Penggunaan Processor terbaik Qualcomm saat ini, Snapdragon 835 adalah alasannya. Sama seperti di Mi 6 dan OnePlus 5, SoC ini mampu memuaskan saya dalam hal performa kecepatan, maupun konsumsi dayanya yang tergolong hemat.

Beralih ke sisi kamera, Mi Mix 2 sebagai ponsel premium Xiaomi tentunya memiliki kamera dengan kualitas hasil yang di atas rata-rata. Saya tidak memiliki komplain apa-apa soal kameranya saat digunakan mengambil foto, meskipun belum memiliki kamera ganda sekalipun. Pun saat digunakan merekam video, kualitas gambarnya tetap terjaga baik serta memiliki kestabilan yang juga cukup istimewa. Tapi tidak dengan suaranya. Entah kenapa, saya tak pernah betah dengan suara yang dihasilkan oleh ponsel-ponsel Xiaomi saat merekam video. Dan sayangnya ini berlanjut hingga ponsel paling mahal milik Xiaomi, suaranya ga enjoyable euy. Sedih lagi deh saya, haha.

Silakan lihat video berikut ini sebagai buktinya ya, setelah itu Anda bisa melihat rentetan gambar keren yang dihasilkan oleh ponsel ini.



Saya setuju sih dengan komentar-komentar yang menyebutkan kalau harga segini, udah ngga mending lagi. Ya memang ini sudah masuk ke kategori premium atau luxury phone, bukan budget phone, flagship killer, atau best value phone. Tapi tak bisa dibilang overprice banget juga sih, ponsel ini kan menawarkan experience lebih di display yang full dan hampir bezeless, backcover menawan berbahan keramik, serta jeroan kelas atas.

Tapi satu yang saya ragukan, apa iya orang-orang yg biasa berbelanja smartphone pada level harga segini mau memilih brand Xiaomi, dan bukannya Apple atau Samsung sekalian? Bukan maksud merendahkan, tapi kenyataannya masalah prestige masih jadi salah satu faktor penentu untuk level harga premium seperti ini. Saya atau mungkin Anda juga yang tergolong tech savvy atau gadget enthusiast mungkin tahu value dari brand Xiaomi, tapi apa kebanyakan orang yang menggunakan flagship paham juga? Saya yakin segmen ini lebih didominasi oleh brand yang memiliki budget promosi yang besar, produknya sering muncul di iklan, atau yang launching-nya besar-besaran.

Saran saya sih, semoga Xiaomi mau membuat smartphone dengan full display seperti Mi Mix 2 ini, namun pada level menengah saja. Boleh lah pakai bahan kaca saja, dan boleh juga processornya pakai Snapdragon 625 saja, lalu jual di harga maksimal $300 atau 4-jutaan saja. Biar orang-orang pada bilang mending lagi hehehe.

Satu yang bisa saya simpulkan untuk ulasan kali ini, Mi Mix 2 memang bukan buat semua orang. Meskipun memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri, namun butuh effort ekstra dari Xiaomi jika mau penjualannya sukses. Untuk saat ini saya hanya bisa bilang, Mi Mix 2 ini adalah upaya dari Xiaomi untuk melengkapi portfolio mereka saja dan membuktikan kalau brand inipun bisa memproduksi sebuah luxury phone, that's all.

Oh ya, saya cek di toko online lokal nampaknya juga sangat langka yang menjual Mi Mix 2 ini. Jadi Anda yang kesengsem dengan ponsel ini, boleh cek link penjualan Xiaomi Mi Mix 2 ini apabila ingin mencoba membelinya di GearBest.com ya.

Demikian review kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Tuesday, October 17, 2017

Review Xiaomi Redmi Note 5A Indonesia


Xiaomi nampaknya lagi getol ya melakukan penganekaragaman produk mereka. Setelah untuk pertama kali menelurkan varian berakhiran A yang sangat terjangkau pada Redmi 4A, kini seri Redmi Note dapat giliran. Dan ini dimulai dari generasi kelimanya, yaitu Redmi Note 5A. Apakah ponsel ini layak dimiliki?

Apakah Xiaomi Redmi Note 5A layak dimiliki? Sebetulnya jawabannya akan sangat tergantung pada harga jualnya nanti apabila resmi dirilis di Indonesia. Produk ini sendiri saya dapatkan dari GearBest.com, di mana di sana dijual pada harga $130 atau sekitar 1,7 juta Rupiah.

Saya sendiri sudah mencobanya kurang lebih selama satu minggu dengan terlebih dahulu melakukan flashing MIUI 9 Beta.



Varian yang saya coba adalah yang termurah, yaitu yang memiliki RAM 2 GB dan Storage 16 GB. Saat saya flashing pakai ROM Redmi Note 5A selalu gagal, karena rupanya ini adalah Redmi Note 5A lite. Sudah mah varian berakhiran A, masih lite pula heuheu.

Yap, versi lite ini masih menggunakan processor yang sama dengan Redmi 4A, yaitu Snapdragon 425. Sementara versi prime sudah menggunakan Snapdragon 435 dan juga memiliki fingerprint scanner.

Ya, fingerprint scanner adalah satu hal yang selalu saya rindukan semasa menguji ponsel ini heuheu. Kombinasi double tap to wake dan pattern lumayan membantu sih, namun masih tak sepraktis dan secepat jika membuka layar menggunakan sidik jari.

Selain itu, kekurangan yang nyata terlihat adalah ketidakhadiran backlight pada tombol kapasitif di dagu ponsel.

Masalah storage sih tidak akan jadi kendala karena Redmi Note 5A adalah ponsel dual-sim dengan dedicated micro-SD slot, nice move, Xiaomi!

Secara desain, Redmi Note 5A ini adalah Redmi 4A yang volumenya didistribusikan ke lebar dan panjang, sehingga bisa lebih tipis meskipun memiliki kapasitas baterai yang sama di 3.000 mAh. Layarnya yang 5,5 inci ini juga masih beresolusi HD 720p yang di mata saya masih tampil dengan baik, tanpa masalah.

Namun memang tak bisa dipungkiri, saat jemari ini bergantian menyentuh tuts keyboard di layar Redmi Note 5A, ada perasaan berbeda. Seperti diri ini bisa merasakan bahwa ponsel ini masih didominasi oleh bahan plastik, memercikkan sedikit rasa riskan dan khawatir akan build quality-nya yang tak sesolid metal.

Tapi jangan salah, saya senang dengan feels plastik lembutnya di kulit. Rasanya tangan ini cukup bosan juga bersentuhan dengan logam terus, bagi saya pribadi finishing plastik seperti ini terkadang lebih bersahabat dengan kulit memang. Tapi orang jaman now sepertinya sudah terdoktrin kalau plastik itu murah, hari gini hape bagus harus pakai metal atau kaca. Padahal menurut saya intinya mah apa ajalah yang penting enak di tangan.

Performanya gimana? Kurang lebih sama dengan Redmi 4A, lancar-lancar saja untuk socmed ringan, namun mulai terasa berat saat digunakan bermain game dengan grafis 3D. Dan ini sangat wajar jika berkaca pada seri processor yang digunakan.

RAM 2 GB cukup pas-pasan untuk menjalankan MIUI 9, tapi masih smooth, asalkan kita tidak banyak-banyak membuka aplikasi yang menyimpan banyak data di memori saat berjalan.

Baterai cukup buat sehari semalam dengan pemakaian casual ala saya yang rata-rata menghasilkan SoT 3 jam. Dengan pemakaian agak intens sih paling kuat untuk sekitar 15 jam penggunaan saja.

Sektor audio tergolong cukup juga, nggak hancur tapi juga ga istimewa ya.

Sementara untuk camera, karakternya khas sekali kamera hape sejutaan, di mana hasilnya bisa bagus dan tajam apabila cahaya cukup. Saat cahaya berkurang, seperti umumnya kamera dengan setting auto, ISO akan dinaikkan agar kecerahan gambar bisa mengimbangi objek foto, namun jadinya noise pun muncul.

Digunakan merekam video pun kualitasnya ya rata-rata hape sejutaan saja. Masih usable untuk keseharian, tapi bukan untuk level konten profesional.

Yuk lihat langsung hasil kameranya pada video review berikut ini:




Apa Kata Aa tentang Xiaomi Redmi Note 5A

Masuk ke kesimpulan, overall Xiaomi Redmi Note 5A ini adalah ponsel entry level berlayar besar dari Xiaomi yang memiliki value yang baik dan akan cocok digunakan oleh pengguna yang baru memiliki smartphone dan butuh layar besar.

Bukan buat yang mengejar spesifikasi memang. Performanya sebatas cukup buat pemakaian normal sehari-hari saja, tidak akan enak dipakai bermain game, karena selain processornya bukan yang memiliki daya pemrosesan tinggi, konsumsi baterainya pun tak hemat-hemat banget.

Tinggal lihat nanti, apakah varian ini yang akan resmi dirilis di Indonesia? Dan berapa harganya? Mengingat lahan kosong yang tersedia ada di range harga di antara Redmi 4A dan Redmi 4X, rasa-rasanya 1,7 juta bisa jadi memang harga yang pas. Tapi, di harga segitu persaingannya ketat juga ya. Silakan cek ponsel-ponsel yang sudah lama rilis di harga sekitar 1,7, belum lagi beberapa ponsel keluaran baru yang juga ga jauh-jauh dari kisaran harga segini.

Ah, saya yakin Xiaomi mah bakal memberi kejutan kalo soal harga. Jadi kita tunggu saja. Kalau yang ga sabar nunggu, silakan cek link di deskripsi, Xiaomi Redmi Note 5A ini sudah dijual di GearBest koq.

Ok, demikian ulasan dari saya, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Review Huawei Nova 2 Indonesia, Hampir Saja Jadi Daily Driver Saya



Huawei Nova 2 sejatinya akan menjadi daily driver saya, karena memenuhi banyak kriteria. Yang paling utama sih dimensinya yang sangat kompak di lima inci saja. Hari gini nemu hape 5 inci yang mumpuni kayanya udah susah banget.



Dibalut dengan body berbahan metal berwarna biru lembut, mungkin ini adalah salah satu ponsel berbody metal tercantik yang pernah saya coba. Perhatikan setiap detail sisinya yang melengkung membuatnya nyaman digenggam, selain tentu saja karena dimensinya yang pas banget di tangan.

Lihat juga aksen garis-garis melingkar yang mengelilingi sensor fingerprint di punggungnya. Dan tak lupa tombol power bertekstur strip yang cantik. Ya, kalau soal garis antena harus saya akui meski cantik, namun sama sekali tak orisinil sih heuheu.

Fokus di bagian backcover kemudian tertuju pada dua buah kamera utama yang ditemani oleh sebuah LED flash saja. Kamera ini memiliki setup normal dan zoom, perbesarannya hingga 2x. Resolusinya 12 dan 8 megapixels. Hasilnya? Beuh jangan ditanya. Meskipun Nova series masih masuk ke kelas menengah-nya Huawei, namun hasil fotonya menurut saya menakjubkan, di mana seperti yang sudah-sudah memiliki saturasi warna yang tajam, dan bisa diandalkan di kondisi lowlights.

Satu yang saya kagumi juga adalah kemampuan kameranya merekam video dengan stabil. Warnanya memang agak lebay gonjrengnya, tapi coba deh lihat video berikut ini. Ngga seperti pakai hape kelas menengah deh!

Sementara kamera depannya lebih edan lagi karena beresolusi 20 Megapixels dan memiliki portrait mode untuk bokeh-bokehan meskipun hanya menggunakan satu lensa. Hasilnya boleh diadu, monggo cek lagi...



Layar Huawei Nova 2 mungkin memang tak seindah Honor 8, G9 Lite, atau bahkan Honor 9. Tapi resolusi Full HD di layar 5 inci membuatnya tajam sekali, dan yang pasti masih lebih baik daripada layar Honor 6x.

Jika Huawei Nova edisi pertama menggunakan processor Snapdragon 625, maka Nova 2 kembali ke pelukan processor in-house HiSilicon, yaitu Kirin 659. Skor antutu-nya setara lah dengan Snapdragon 625, pun konsumsi baterainya yang menurut saya paling hemat di antara semua ponsel Huawei yang pernah saya coba, padahal kapasitas baterainya bisa dibilang cukup kecil, hanya 2.950 mAh. Masalah panas juga tak pernah saya rasakan saat menggunakannya.

Sempurna? Ngga deh kayanya. Ada satu bug yang cukup terasa mengganggu pada performanya. Bug ini biasa muncul saat banyak aplikasi terbuka, lalu kita membuka kameranya. Beberapa kali kejadian, hape jadi ngelag ga jelas. Solusinya sih clear all dari recent apps, lalu buka kamera lagi, lancar deh. Tapi ini jadi PR buat Huawei untuk memperbaikinya. Dan ini sih yang sebetulnya jadi alasan saya merogoh kocek untuk kemudian membeli Honor 9 untuk dijadikan daily driver selanjutnya.

Masalah output audio juga harus diakui masih sedikit di bawah seri Honor 8 maupun 9. Tapi bukan berarti audio-nya gak enjoyable ya, masih enak koq dipakai memutar musik dan video mah.

Fingerprint scanner-nya sangat cepat dan juga akurat, namun saat baru digunakan memang agak canggung untuk mencari posisinya karena sensor ini dibuat datar dengan body belakang dari Huawei Nova 2. Seperti biasa, fingerprint ini dapat digunakan untuk fungsi gesture, seperti: swipe ke bawah untuk menurunkan jendela notifikasi, dan ke atas untuk menutupnya kembali. Sentuh sebagai tombol shutter saat menggunakan kamera, dan swipe ke samping untuk bergeser antar foto saat membuka gallery.

Nah, yang saya gunakan pada video ini adalah Huawei Nova 2 varian warna Aurora Blue. Menurut pendapat saya, ada satu warna lagi yang menarik untuk dicoba, yaitu Grass Green di mana backcovernya berwarna hijau dengan sisi depan berwarna putih. Jika suatu saat Anda berniat meminangnya, pastikan ponsel Huawei yang Anda hendak beli adalah versi International ya. Sepengalaman saya menggunakan Honor 8 dan 6x kemarin, memang ada versi yang tidak mendapat update OTA meskipun varian lain dari tipe yang sama sudah pada upgrade. Sayang juga kan kalau hape bagus tak pakai OS terbaru?

Dan rumornya, ada beberapa tipe ponsel menengah ke atas dari Huawei yang sedang dalam proses untuk dapat diluncurkan di Indonesia. Kabarnya salah satunya Huawei Nova 2i alias Huaweu Maimang, itu lho yang punya layar memanjang seperti brand-brand lain. Kita nantikan saja apakah rumor itu akan menjadi nyata atau tidak.

PR Huawei selanjutnya adalah bagaimana mengedukasi pasar tentang produk mereka yang sebetulnya bagus-bagus itu. Walau memang sih harga dari produk Huawei tak bisa dibilang best value juga, heuheu.

Ah sudah ah, nanti saya makin dicap fanboy-nya Huawei, hahaha.

Oke, impas ya hutang review saya soal Huawei Nova 2. Tinggal review Honor 9, yang mungkin akan hadir dalam beberapa minggu ke depan.

Sip, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalamualaikum!

Anda bisa membeli Huawei Nova 2 International Version di sini

Thursday, October 12, 2017

Review Sharp R1, Lanjutkan Terus ya Sampai Aquos!


Ini adalah gebrakan kedua Sharp Mobile di kancah industri smartphone tanah air tahun 2017 ini. Setelah peluncuran Z2 dan M1 yang rasanya hanya sayup terdengar, Sharp R1 hadir dengan membawa lebih banyak kicauan. Setidaknya menurut saya. Lalu bagaimana sebetulnya detail dari produk yang dibandrol pada harga Rp 1.799.000 ini? Mari kita kupas, hingga tuntas.



Kesan Pertama pada Sharp R1

Sharp R1 yang hadir dengan membawa tagline Display All Details ini menawarkan spesifikasi yang cukup menggiurkan untuk bersaing di level harga sejutaan.

RAM 3 GB, storage 32 GB, baterai besar 4.000 mAh, dan kamera beresolusi besar di 13 dan 8 Megapixels adalah jualan utama dari ponsel ini selain desainnya.

Desainnya sendiri masih mencerminkan ponsel harga sejutaan, namun dengan detail yang baik dan tampilan yang klimis. Layar Aqua Display 5,2 inci-nya sudah bertepian melengkung 2.5D sehingga menambah kilau ponsel ini, khususnya yang varian warna grey dengan sisi depan hitam yang saya coba ini.

Hanya saja, karakter hape sejutaan masih lekat begitu melihat tombol kapasitif di bawah layar yang hadir tanpa lampu latar. Pun demikian dengan penempatan loudspeaker di sisi belakang yang alangkah lebih baik apabila digeser ke sisi bawah yang nampak lengang.

Layar dari ponsel ini sendiri memiliki kualitas yg tergolong baik, di mana kontras warna dapat dihasilkan dengan jelas, meskipun untuk masalah vibrancy masih tergolong standar hape sejutaan, di mana warna-warna mencolok terlihat agak pucat. Sejauh ini layarnya responsif dan bekerja tanpa cela.

Dengan dimensi 5,2 inci, resolusi HD 720p masih terasa cukup, dan yang paling penting ini adalah dimensi paling ideal untuk sebuah ponsel bagi saya agar nyaman digenggam.


Performa Sharp R1 dalam Penggunaan Sehari-hari

Sharp R1 adalah ponsel dual-sim dengan slot sim card berukuran nano yang salah satunya hybrid dengan slot micro-SD. Build quality terbilang jempolan, dengan kombinasi bahan metal dan plastik di backcover yang dipermanis dengan list chrome melintang.

Beralih ke fingerprint scanner, pada Sharp R1 ini posisinya ada di punggung ponsel, dengan akurasi yang sangat baik, serta respon yang lumayan cepat. Tidak bisa super cepat memang karena penggunaan dapur pacu yang memang sangat lumrah dipakai pada level harga ini, apalagi kalau bukan Mediatek MT6737.

Sedikit disayangkan memang SoC ini belum bisa jadi favorit saya, karena selain performanya tidak terlalu cepat, konsumsi daya baterainya juga tak sebegitu hematnya. Baterai 4.000 mAh milik Sharp bisa digerogotinya sampai habis sebelum 24 jam berlalu. Bisa sih tembus 24 jam bilamana saya sedang sibuk dengan pekerjaan, sehingga jarang membuka ponsel. Silakan cek battery usage berbanding screen-on time sebagai indikator intensitas penggunaannya berikut ini.

Seperti biasa, pintar-pintar pilih game yang hendak diinstall ya, yang penting bisa menemani Anda membunuh waktu menunggu saja, daripada bengong. Atau Anda lebih suka menonton video dan mendengarkan musik saat menunggu? Loudspeaker Sharp R1 masih enjoyable koq, coba simak.

Untungnya, Sharp memberikan kelebihan berupa kamera yang tergolong sangat mumpuni untuk R1 ini. Selain resolusinya yang tinggi, kedua kameranya sangat dapat diandalkan di kondisi ideal. Hasil fotonya cukup untuk membuat orang lain memuji kelihaian Anda mengambil gambar. Ketika pencahayaan mulai berkurang, kameranya masih mampu memotret dengan cukup detail, namun saat semakin berkurang lagi, warna-warna cukup pucat terlihat dan sudah mulai tidak direkomendasikan untuk mengoperasikannya tanpa bantuan lampu kilat.

Silakan dicek hasil foto dan video yang saya ambil menggunakan kamera Sharp R1 berikut ini, lalu tolong tulis di kolom komentar bagaimana pendapat kamu tentang hasilnya ya.




Apa Kata Aa tentang Sharp R1


Overall, Sharp R1 menurut saya mampu memberikan value yang lebih atau setidaknya menyamai jumlah Rupiah yang harus kita keluarkan untuk memilikinya. Spesifikasi di atas kertas yang cukup memikat hati, desain yang indah untuk level harganya, serta build quality dan kamera di atas rata-rata.

Semoga nanti akan ada update software yang bisa meningkatkan kinerja processornya agar bisa lebih menghemat konsumsi dayanya agar para driver transportasi online bisa menjadikannya alternatif pilihan smartphone untuk bekerja.

Saat ini ponsel keluaran Sharp ini sudah mulai dijual secara eksklusif di Lazada, silakan klik link berikut ini untuk menuju halaman penjualan Sharp R1 ini di Lazada.

Besar harapan saya agar Sharp mau memasukkan seri Aquos kembali ke Indonesia, dan semoga pasar Indonesia pada saat itu sudah bisa menyerapnya dengan baik.

Demikian ulasan yang dapat saya berikan, dari Kota Cimahi saya undur diri, wassalam!

Tuesday, September 26, 2017

Review ASUS Zenfone 4 Max Indonesia. Cocok Buat Ngojek Online?



Halo Assalamualaikum, sudah pada baca atau nonton review dari ASUS Zenfone 4 Max ini belum? Saya lihat sudah banyak channel yang mengulas ponsel ini ya. Tapi semoga ulasan ala Aa Gogon ini semakin melengkapi penilaian Anda, sebelum memutuskan lanjut atau tidak meminang smartphone berbaterai besar ini ya.



Hadir duluan daripada Zenfone 4 Series lainnya, Zenfone 4 Max mengandalkan baterai besar seperti biasanya. Tapi tak hanya itu saja, Zenfone 4 Max ditambahi fitur-fitur baru yang menurut saya dihadirkan dengan melihat selera pasar dan trend terkini. Apa saja fitur baru itu? Hmmm, saya absen deh satu per satu.


Kelebihan ASUS Zenfone 4 Max

Pertama, ada fingerprint scanner yang dipindah posisinya ke sisi depan, tepatnya di bagian dagu ponsel, di bawah layar 5,5 inci-nya yang walau masih beresolusi HD, namun sama sekali tak memiliki masalah soal kerapatannya. Fingerprint sekaligus tombol home kapasitif ini memiliki akurasi dan waktu respon yang baik, dan posisinya membuat kita tak perlu mengangkat ponsel ini saat hendak mengecek ponsel sewaktu digeletakkan di atas meja. Nice ASUS!

Kedua, ada LED flash di sisi depan yang dapat digunakan untuk membantu pencahayaan saat selfie. Jadi, meskipun smartphone berbaterai besar biasanya lebih difokuskan buat gaming atau kebutuhan pemakaian berat, namun dengan ASUS Zenfone 4 Max ini, kebutuhan untuk eksis masih terakomodasi dengan baik. Hehe.

Ketiga, dan ini yang paling menarik adalah hadirnya kamera utama ganda pada ponsel ini. Setupnya pun cukup berbeda dari kebanyakan ponsel dual-camera saat ini. ASUS lebih memilih menghadirkan setup kamera normal dan wide pada Zenfone 4 Max ini. Lensa wide umumnya akan berguna saat harus memotret objek dari jarak dekat atau pada ruang yang sempit.

Nah, apakah ketiga fitur di atas adalah yang Anda cari? Dan apakah sudah cukup untuk membuat Anda yakin untuk meminang smartphone ini? Tunggu dulu. Ada beberapa temuan lain yang tentunya patut disimak juga lho.


Kekurangan ASUS Zenfone 4 Max

Pertama, Zenfone 4 Max masih mengusung chipset yang sama dengan pendahulunya, yaitu Snapdragon 430. Processor ini adalah salah satu andalan Qualcomm untuk entry level, di mana konsumsi dayanya tergolong rendah namun memiliki performa yang cukup baik. Saya ingat, dibanding Snapdragon 615 atau 616, Snapdragon 430 mampu memberikan user experience yang lebih smooth tanpa panas dan konsumsi daya berlebih.

Hanya saja, wajib diingat bahwa performanya tak terlalu tinggi juga.  Bisa dirasakan saat saya gunakan untuk membuat klip video singkat menggunakan aplikasi Quik, di mana waktu rendering terasa lebih lama. Tapi masih bisa dipakai sih, daripada di Mediatek MT6737 yang mandeg hehe.

Penggunaan chipset ini pun terbukti cukup tepat sasaran, di mana Zenfone 4 Max ini selalu mampu menembus setidaknya 24 jam. Bahkan rekor saya dengan ponsel ini adalah 2 hari 2 malam dengan SoT di atas 6 jam. Hayoo yang sedang kebingungan cari smartphone buat dipake ngojek online, ini ada satu alternatif yang kayanya sih cocok banget.

Terlebih dengan ZenUI dari ASUS yang tak membuat notifikasi menjadi terlambat, rasanya cocok ya buat kegiatan online. Terlebih makin ke sini ZenUI making mengurangi jumlah bloatware yang hadir.

Walau demikian, harus saya akui ZenUI juga bukanlah favorit saya, terutama penggunaan icon pada toggles yang menurut saya kurang membantu memudahkan mata kita mencarinya. Untuk menyalakan atau mematikan bluetooth saja misalnya, saya agak kepayahan mencari posisi toggles tersebut akibat penampakannya yang kurang distinctive satu sama lain.

Kedua adalah masalah komponen fisik. ASUS Zenfone 4 Max mau tak mau akan jadi smartphone berbadan bongsor karena selain dimensi layarnya yang 5,5 inci, kapasitas baterai yang dikandungnya kan besar. Jadinya kurang nyaman untuk saya yang memang lebih senang dengan smartphone berukuran compact. Selain itu, bagian kaca depan dari Zenfone 4 Max ini senang sekali membuat saya sedikit-sedikit mengelapkannya ke baju, ya gimana ngga, bekas sidik jari dan minyak sangat mudah menempel di sana.

Untuk reproduksi warna dan kerapatan sih tak ada masalah. Meski bukan layar yang tajam banget, tapi layar HD-nya masih terlihat dengan baik di mata saya.

Ketiga adalah masalah kamera. ASUS Zenfone 4 Max sih ngga maen gimmick soal kamera, cuma memang harus diakui ada kekurangan pada kondisi ekstrem. Di kondisi ekstrem cahaya kurang, hasilnya cukup mengecewakan di mana noise hadir dan ketajaman sangat berkurang. Sementara di kondisi ekstem di mana cahaya kontras, dynamic range dari ASUS Zenfone 4 Max ini agak kepayahan, dan memaksa kita untuk berpindah ke mode HDR.

Untuk di kondisi ideal sih sebetulnya bisa juga dipakai menghasilkan gambar yang kece dan cantik seperti beberapa foto berikut ini. Dan ini berlaku buat kamera belakang maupun kamera depan ya.



Ok, sudah tiga lawan tiga nih kayaknya. 3 fitur unggulan, dan 3 temuan yang menurut saya jadi kekurangan dari ASUS Zenfone 4 Max ini.

Buat yang belum tahu, spesifikasi ASUS Zenfone 4 Max yang dilabeli versi Pro ini, memiliki RAM sebesar 3 GB, dan internal storage 32 GB. Nah, hampir lupa nih, ini adalah ponsel dual-sim dengan slot micro-SD dedicated, jadi kayanya urusan storage mah sama sekali bukan masalah.

Yang cukup jadi masalah sih saat ini justru adalah kehadiran dua pesaing baru di level harga yang mirip-mirip. Patut dicermati pergerakan harga dari ASUS Zenfone 4 Max ini apakah akan disesuaikan agar lebih memiliki daya saing? Kita tunggu saja, karena sebetulnya meskipun dibandrol dengan harga resmi Rp 2.999.000 pun, sudah banyak penjual online yang memasangnya di harga 2,7 jutaan saja.


Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Max

Silakan dicermati setiap poin penilaian yang saya berikan untuk membuat kesimpulan apakah ponsel ini layak dimiliki atau tidak. Cuma kalau ditanya apakah ponsel ini cocok digunakan untuk driver ojek online? Saya akan dengan mantap menjawabnya YA. Bahkan driver ojek online dapet bonus kamera depan yang bisa dipakai selfie bareng penumpang kapan saja karena sudah ditemani LED Flash ahahaha.

Ya sudah ya, segitu saja ulasan dari saya. Nantikan 3 buah video hasil kolaborasi dari saya bersama Kang Nico dari ObatGaptek, dan Kang Dadan dari Gayafone yang akan ngobrol buat mengupas kelebihan, kekurangan, serta kesimpulan akhir dari ASUS Zenfone 4 Max ini. Lihat deskripsi atau endscreen pada video review buat mengecek apakah ketiga video tersebut sudah tersedia atau belum.

Dan terimakasih kepada VR Room Cafe yang berlokasi di Jalan Karangsari Bandung yang sudah memperbolehkan saya mempergunakan tempatnya untuk lokaso pengambilan gambar dari video review di atas.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Monday, September 18, 2017

Review Huawei Honor 6X, Best Buy di 2-jutaan?



Pada artikel ini kita akan review nih smartphone yang kalau melihat kolom komentar video-video yang belakangan saya unggah, sepertinya sih ditunggu-tunggu.

Ya wajar sih, karena Honor 6X ini memilliki price to value comparison yang sangat menarik, terutama buat yang bosan dengan yang itu-itu lagi, itu lho yang sekarang sedang rajin mengisi pasar smartphone di berbagai level.

Hehe...

Sebelum kita mulai, perlu saya informasikan bahwa hingga saat ini, sayangnya Huawei belum menjual Honor 6X secara resmi. Unit yang saya beli di Blibli.com ini pun tak memiliki garansi. Jadi, meskipun misalkan hasil ulasannya bagus, saya tak bisa merekomendasikan ponsel ini untuk dibeli ya, anggap saja buat memperkaya khazanah kita sebagai penikmat gadget ya!


Unboxing dan Kesan Pertama pada Huawei Honor 6X




Ok, kita mulai dari sisi desain. Seri Honor dengan kombinasi huruf dan angka, biasanya tak seeksklusif seri Honor yang hanya memiliki penamaan berupa angka saja. Dan ini berlaku untuk Honor 6X. Desainnya biasa saja, malah agak out of date, karena desain seperti ini sudah muncul di ponsel brand lain sejak satu atau dua tahun yang lalu.

Jelek sih ngga, tapi ya ga bisa disebut kece-kece banget juga. Termasuk penempatan dual-camera di bagian belakang yang menurut saya kurang terintegrasi dengan desainnya secara keseluruhan. Tapi overall, dengan dimensi layarnya yang 5,5 inci, Honor 6X masih sangat nyaman digenggam meskipun dengan satu tangan. Bentuknya yang banyak memiliki lengkungan membuatnya terasa ergonomis dalam genggaman.

Layarnya beresolusi Full HD, cukup tajam, namun harus diakui reproduksi warnanya tak se-vibrant Honor 8 atau Huawei P9 Lite. Output audio-nya pun tergolong standar saja. Untungnya fingerprint scanner Honor 6X tetap seprima dua smartphone Huawei yang saya coba sebelumnya. Akurat, cepat, dan bisa digunakan untuk fungsi gesture. Shingga saya cukup terbantu saat ingin memunculkan jendela notifikasi, menggeser gambar di galeri, maupun saat ingin mengambil gambar di kamera.


Kamera Huawei Honor 6X

Berbicara soal kamera, Huawei Honor 6X yang saat saya beli ada pada harga 2,6 jutaan ini bisa dibilang memiliki setup paling lengkap di level harganya. Mode manual tetap hadir untuk foto maupun video. Dan ya, ini adalah ponsel honor termurah yang sudah memiliki kamera belakang ganda. Dan bukan gimmick, kamera kedua ini cukup membantu memberikan kedalaman, sehingga mode bokeh dapat menghasilkan blur yang baik, dan seperti biasa dapat diatur alias re-focus setelah gambar diambil. Hape dua jutaan mana lagi coba yang bisa begini?

Soal kualitas hasilnya, meskipun saya nilai masih acceptable, namun jelas sekali terlihat hasil gambar di kondisi lowlights masih di bawah Huawei P9 Lite. Kalau dibandingkan sama Honor 8 mah ya jelas kalah ya. Namun di kondisi ideal, hasil fotonya sangat tajam, dengan warna-warna yang keluar banget, malah saya berpikir koq lebih gonjreng dari karakter kameranya Xiaomi ya?

Kamera selfie-nya juga tergolong biasa saja, jelas sekali bahwa ini bukan hape selfie.

Silakan nilai sendiri kualitas hasil kameranya pada video review lengkap berikut ini.




Spesifikasi dan Performa Huawei Honor 6X

Beralih ke sisi jeroan, di sinilah value dari Honor 6X berbicara. 2,6 jutaan dapat yang varian RAM 4 GB, dan internal storage 64 GB rasanya wow banget ya. Kayanya Huawei P9 Lite yang RAM-nya cuma 3 GB dan internal-nya 16 GB serta tak support OTG itu jadi kebanting banget! Honor 6X sih sudah support OTG.

Performanya mah 11-12 saja dengan P9 Lite, dan pasti masih di bawah Kirin 950-nya Huawei Honor 8. Ya, Honor 6X masih pakai processor HiSilicon kelas menengah, sama dengan P9 Lite yaitu Kirin 655. Skor antutunya di atas 50ribu, dan dipakai gaming masih lancar-lancar saja. Dipakai editing buat bikin video klip pakai aplikasi Quik pun sukses dan tidak butuh waktu terlalu lama.

Keren kan dua jutaan dapetnya kaya gini? Eits, inget lagi ya apa yang saya bilang di awal, ini bukan barang bergaransi resmi. Tapi, seandainya Huawei Indonesia mau melanjutkan penjualan seri Honor yang sepertinya terpotong di Honor 5C, saya rasa ini bisa jadi sesuatu yang baik bagi kita konsumen ponsel di tanah air. Tinggal PR-nya Huawei saja yang mengedukasi pasar bagaimana bagusnya produk mereka. Karena saya saja baru ngeh segimana bagusnya jajaran produk smartphone Huawei pasca mencoba Huawei G9 alias P9 Lite kemarin.

Dan masalah ROM aneh muncul juga di Honor 6X ini. Kita tak bisa melakukan update OTA, hingga saya harus mendownload sendiri ROM-nya menggunakan Firmware Finder dan flashing manual supaya dapat merasakan EMUI 5.1 berbasis Android Nougat di Honor 6X. Saya sendiri merasa kurang nyaman menggunakan EMUI 4 karena adanya pemisahan toggles dan notification item di jendela notifikasi yang menurut saya tak praktis. Untung saja masih bisa update manual ya.



Apa Kata Aa tentang Huawei Honor 6X

Nah, overall jika hanya menilai dari harga dan membandingkannya dengan spesifikasi maupun performa nyata yang didapat, Honor 6X ini bisa dibilang best buy koq. Untuk multimedia pun masih cukup baik, meskipun kameranya masih setingkat di bawah P9 Lite, dan saya tegaskan lagi ini bukan hape selfie. Lagipula ibu-ibu yang suka selfie belum tentu mau pakai smartphone dari brand yang jika dilafalkan bunyinya sangat mandarin ini. Hehe.

Semoga saja Huawei mau menjual ponsel ini resmi di Indonesia ya, karena kalau tidak, maka Anda wajib berpikir ulang untuk memilikinya. Meskipun secara produk bagus, namun masalah ketiadaan jaminan purna jual, juga versi ROM yang susah diupdate, bisa jadi ganjalan juga lho.

Keputusan akhir saya kembalikan kepada Anda ya, pada deskripsi video review sudah saya sertakan link pembelian produk ini di beberapa e-commerce tanah air sebagai referensi.

Okay, semoga menjawab kepenasaran Anda yang menunggu-nunggu ulasan ponsel yang satu ini ya, dari Kota CImahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Thursday, September 7, 2017

Review Lengkap LG Q6 Indonesia, Bikin Jadi Pengen Beli...





Percaya ngga kalau saya bilang intro dari video ini yang baru saja Anda saksikan, diambil menggunakan kamera belakang dari LG Q6? Stabil banget kan?

Awalnya pun saya tak percaya smartphone 3-jutaan dari LG bisa melakukan itu, dan apakah hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh LG Q6? Baca terus ulasan ini sampai akhir ya!

LG Q6 tentu saja memiliki highlight utama pada layarnya yang sudah memiliki rasio 18:9 dengan sudut-sudut melengkung yang oleh LG diberi label sebagai Full Vision Display.

Layar ini bukan gimmick semata, nyatanya saya sangat nyaman menggunakan layar dengan rasio seperti ini, karena sisi depan dari ponsel ini jadinya nyaris semuanya layar. Dengan begitu, posisi tombol on-screen bisa berada di bawah banget, membuat area display menjadi lebih luas.

Saat layar dinyalakan, jelas sekali terlihat sisa bezel di atas dan bawah yang sangat minimal, pokoknya keren banget buat dilihat maupun ditunjukkan ke orang-orang.

LG Q6 hadir di kelas menengah, namun demikian memiliki terobosan berupa layar ala-ala flagship 2017 yang menurut saya akan butuh waktu untuk dapat dikejar oleh kompetitor LG.

Kalau ada yang bilang "yah hape 3 jutaan koq masih pakai Snapdragon 435!", jelas yang ngomong berarti ngga kenal sama LG. Meskipun sering merilis flagship dengan harga yang lebih kompetitif dari vendor sebelah, di kelas menengah mah LG kadang ngga seroyal flagshipnya koq.

Smartphone LG yang harganya 2-3 jutaan kebanyakan masih pakai processor Mediatek lho, jadi kalau LG Q6 pakai Snapdragon 435 itu adalah sesuatu yang harus disyukuri hehe. Ya kalau emang ga ada budget 3,2 juta Rupiah mah bilang aja, cari lah promo diskon yang rajin, konon ada yang bisa mendapatkan ponsel ini di harga 2,6 juta saja memanfaatkan promo bank.

Balik ke soal processor, Snapdragon 435 di LG Q6 mampu bekerja dengan baik menghidupi layar yang jumlah pixel-nya lebih banyak dari ponsel lain yang memiliki layar beresolusi Full HD. Dengan memanfaatkan RAM sebesar 3 GB, user experience sama sekali tidak memiliki hambatan, menggeser layar terasa fluid, berpindah antar aplikasi pun tak terasa ada jeda berlebihan. Termasuk masalah notifikasi, smartphone LG meskipun memiliki custom UI sendiri, selalu mampu menampilkan notifikasi secara realtime.

Hanya saja, sepenggunaan saya, LG Q6 ini terasa cepat menghangat. Dipakai membuka kamera beberapa menit, sudah hangat, dipakai game sebentar, sudah hangat. Meskipun tak sampai panas, namun cukup menimbulkan perasaan kurang nyaman jadinya.

Padahal, secara ergonomis, ponsel ini enak banget digenggam. Ketebalannya pas, dimensinya juga compact banget, layar berdiagonal 5,5 incinya bisa masuk ke body ponsel 5 inci. Anda yang menonton video unboxing-nya pasti tahu bahwa saya sempat membandingkan ukuran LG Q6 dengan Huawei Nova 2 yang berlayar 5 inci, dan hasilnya ukurannya mirip-mirip lho!


Oh ya, satu koreksi atas apa yang saya sebutkan pada video unboxing adalah mengenai material backcovernya. Bukan plastik, melainkan kaca. Pantaslah backcover ini gampang sekali meninggalkan bekas sidik jari dan rasa-rasanya bisa menjadi ladang minyak dunia berikutnya, haha.

Overall build quality dari LG Q6 ini saya katakan jempolan, terlebih dengan klaim military grade yang disematkan pada ponsel ini, yang sayangnya tak bisa saya uji karena unit yang saya review merupakan hasil pinjaman, haha.

Satu kekurangan utama dari LG Q6 yang saya rasakan adalah ketidakhadirannya fingerprint sensor pada ponsel ini. Meskipun memiliki faceprint unlock, yaitu membuka kunci layar menggunakan scan wajah, rasanya fingerprint masih dibutuhkan.

Faceprint unlock milik LG Q6 ini tergolong baik dan cepat dalam prosesnya, asalkan dalam kondisi ideal atau identik dengan saat wajah direkam. Karena masih mengandalkan kamera depan, faktor cahaya jadinya sangat mempengaruhi akurasi dan kecepatannya. Enaknya sih memang tinggal angkat ponsel menghadap wajah, layarnya menyala dan terbuka dengan sendirinya.

Ngga enaknya? Di tempat umum, jadinya sedikit menarik perhatian orang lain yang mungkin jadi mengira kita selfie melulu, padahal mah lagi mencoba buka kunci layar ya haha. Selain itu, di tempat gelap, membuka layar jadi sebuah PR, semisal di angkot malam-malam sepulang kerja, atau saat terbangun di tengah malam dan ingin mengecek notifikasi. Untuk alasan-alasan ini, saya merasa masih membutuhkan fingerprint scanner jadinya.

Apresiasi patut diberikan kepada LG yang memberikan dua slot sim-card bersamaan dengan sebuah slot micro-SD dedicated. Sehingga mereka yang merasa tak cukup dengan kapasitas storage bawaan yang 32 GB, masih bisa menambahkan memori tambahan tanpa perlu mengorbankan salah satu nomornya.


LG Q6 untuk Kebutuhan Multimedia

Untuk kebutuhan multimedia, LG Q6 cukup dapat diandalkan. Layarnya memiliki reproduksi warna serta ketajaman yang baik. Untuk memanfaatkan rasio layarnya, ada pengaturan khusus yang baru muncul saat aplikasi ditampilkan secara fullscreen, apakah mau menggunakan rasio 16:9 atau 18:9. Jadi tidak ada masalah dengan aplikasi atau games yang belum mendukung rasio layar 18:9 ini.

Sayangnya untuk YouTube, hanya video yang sudah memiliki rasio 18:9 saja yang dapat ditampilkan penuh. Sementara video yang masih memiliki rasio 16:9 tidak bisa dipaksakan untuk tampil memenuhi layar dan masih menyisakan bagian hitam di kiri dan kanan layar LG Q6 ini.

Kualitas suaranya sendiri menurut saya tergolong rata-rata saja. Tidak tergolong istimewa, namun masih usable dan tidak pecah saat digunakan pada volume yang kencang.

Gaming lancar-lancar saja, walau seperti yang saya bilang, agak cepat hangat ya. Sementara daya tahan baterainya tergolong baik, di mana dalam kondisi pemakaian normal, masih bisa menembus 24 jam.

Kamera utama LG Q6 memiliki hasil yang cemerlang di kondisi cahaya yang cukup, namun terbilang biasa banget saat lowlights. Sementara kamera depannya terbilang sangat datar, dan mungkin tidak bisa jadi favorit ibu-ibu arisan.

Kekuatan dari kamera LG Q6 ini justru muncul saat dilakukan mengambil gambar bergerak. Hasilnya terasa sangat stabil dan halus, tak seperti ponsel 3-jutaan lain. Saya berani mengacungkan keempat jempol yang saya miliki kalo soal ini.

Hasil kameranya ada di video review-nya di atas ya!


Apa Kata Aa tentang LG Q6

Masuk ke kesimpulan, LG Q6 hadir dengan profil yang berbeda dari ponsel lain yang berada di rentang harga yang sama. Mengandalkan layar Full Vision dan build quality dengan standar Militer, pada harga 3 jutaan rasa-rasanya belum ada yang mampu mengekor dan menawarkan hal yang serupa dengan LG Q6.

Hadir dengan faceprint unlock yang cepat dan akurat, Anda bisa saja tak lagi merindukan keberadaan fingerprint, andaikata Anda hanya menggunakan smartphone dalam kondisi ideal yang tak pernah kekurangan cahaya.

Yang tak suka ponsel besar-besar, LG Q6 juga akan nyaman digunakan karena dimensinya compact walau berlayar 5,5 inci. Pengalaman baru menggunakan ponsel berlayar memanjang bisa jadi satu alasan lagi buat Anda mencoba memiliki ponsel ini.

Military grade, ukuran compact, dan kamera depan yang flat? Sepertinya sangat cocok untuk dihindari ibu-ibu sosialita ya. Hehe. Ya, bisa jadi memang ponsel ini bukan diperuntukkan bagi para Selfie Expert yang mengharapkan Perfect Selfie sih.

Saya sendiri setelah semingguan menggunakan LG Q6, jadi benar-benar tertarik untuk membeli sebuah LG.... G6. Hahaha.

Demikian ulasan dari saya, silakan cek link berikut ini untuk informasi harga terbaru dan penjualan LG Q6 ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, Wassalam!

Monday, September 4, 2017

Review Elephone P8 Mini Indonesia - Calon Hape Sejuta Umat!



Jika ada ponsel Tiongkok yang membawa paket komplit, menurut saya Elephone P8 Mini adalah salah satunya.

Highlight positif saya berikan untuk ponsel ini dalam berbagai aspek. Mau tahu apa dan kenapa saya bahkan melabeli Elephone P8 Mini ini sebagai ponsel yang seharusnya jadi ponsel sejuta umat berikutnya? Tonton terus sampai habis ya!

Saya adalah orang yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama kalau soal smartphone. Artinya buat saya, looks atau desain sebuah ponsel itu penting, pake banget malah.

Dan saya pikir semuanya akan setuju jika saya bilang Elephone P8 Mini adalah sebuah ponsel yang atraktif. Terlebih yang saya pakai memiliki warna backcover merah menyala, sampai-sampai salah seorang kawan menyangka saya habis beli iPhone 7 RED. Haha.



Material backcover ini pun solid terasa. Dengan penempatan fingerprint scanner di belakang juga, sisi depan Elephone P8 Mini otomatis hanya dipergunakan untuk layar yang hitam pekat, dengan tombol kapasitif berikon khas Elephone yang memang agak disayangkan hadir tanpa backlight.

Jangan nyalakan layar ponsel ini. Koq jangan? Maksud saya, jangan kalau ngga mau tambah jatuh cinta. Dengan dimensi layar 5 inci saja, layar Elephone P8 Mini ini punya resolusi Full HD, kebayang dong gimana tajemnya? Belum cukup sama tajem doang, Elephone memberi panel layar IPS yang menurut saya ndangdut, alias vibrant, asli kece!

Dan tahukah Anda? Kalau harga ponsel ini dalam tanda kutip hanya $138 saja? Sayang memang nggak dijual di Indonesia, dan sayang juga terakhir saya lihat di GearBest.com sudah diskontinyu, ngga tau deh sekarang ada stoknya lagi atau ngga, cek aja link di deksripsi video ini buat cari tau ya!

Sekenan saya jangan diharepin ya, udah laku euy. Lho koq hape bagus dijual lagi? Ya gimana, sayanya kedatengan Huawei Nove 2 sih, hahaha.

Okay, bahasan desain habis di sini.

Lanjut ke spesifikasi dan performa ya. Dengan harga yang kalau diRupiahkan masih di bawah 2 juta, Elephone P8 Mini sudah membawa spesifikasi cukup mentereng, walau memang processornya pakai Mediatek MT6750. Skor Antutunya sih 40rebuan doang, tapi performanya lancar, dan baterainya yang cukup kecil di 2.650 mAh, mampu dibawanya menembus satu hari satu malam, cukup lah buat pemakaian casual mah.

RAM-nya gede lho, 4GB. Ditambah storage-nya yang sudah 64 GB, ngga salah kalau di video unboxing-nya saya bilang menang banyak. Angka-angkanya gede-gede. Kamera depannya apalagi, 20 Megapixels. Kamera belakangnya ada dua, 13 dan 2 Megapixels.

Kualitas kameranya gimana? Nah, ini rada mengandung gimmick euy. Pokoknya gini, anggap saja kamera belakangnya cuma ada 1 ya. Karena efek bokeh yang dihasilkan sama sekali ga keren, dan bisa dibikin pake aplikasi biasa, tanpa perlu bantuan hardware kamera tambahan. Performa kameranya dalam mengambil gambar sih oke, cepet dan lancar, sementara hasilnya memiliki warna yang tak terlalu vivid. Tajam di cahaya cukup, tak demikian dengan gambar yang dihasilkan di kondisi lowlights, di mana noise sudah antri untuk hadir.

Kamera depannya justru memiliki hasil yang lebih aduhai di segala kondisi. Saya cukup heran kenapa Elephone tak menggembor-gemborkan ponsel ini sebagai hape selfie ya. Serius, saya lebih suka hasil kamera depannya daripada kamera belakang. Sebuah LED Flash di sisi depan juga didedikasikan buat kebutuhan selfie.

Seperti biasa, nilai sendiri langsung dari hasil-hasil jepretannya di video review berikut ini ya!



Tadinya saya berpikir hendak menyimpan Elephone P8 Mini untuk device utama saya selagi saya bergonta-ganti hape untuk diulas. Ponsel ini punya banyak kriteria yang membuat saya cocok dengannya, di antaranya adalah:


  • Dimensinya compact, layar-nya hanya 5 inci, dan enak dipandang.
  • RAM dan memorinya cukup banget buat saya.
  • Port audio ada di sisi bawah.
  • Kamera yang usable, bahkan kamera depannya malah keren banget.
  • Fingerprint yang akurat dan responsif.
  • Baterai yang bisa bertahan seharian walaupun kapasitasnya kecil.
  • Dan semua itu didapatkan dari ponsel seharga $138 saja, yang mana kalaupun saya jual, uang hasil penjualannya tak akan cukup untuk membeli ponsel lain yang setara dengan ini.


Tapi rencana tinggal rencana, gegara ada idaman lain yang hadir, Elephone P8 Mini ini pun saya lego, hahaha.

Padahal serius, seandainya ponsel ini dijual secara resmi di berbagai belahan dunia, seharusnya bisa menjadi ponsel sejuta umat berikutnya. Apalagi pilihan warna-nya kece, selain merah yang saya pakai di video ini, ada juga warna biru, dan hitam.

Makanya di video Gadget Awards di channel Best Indo Tech pun saya memilih ponsel ini untuk kategori price to performance.

Koq ga ada kekurangannya? Ga berimbang nih review-nya. Haha, bodo amat. Karena selain ketidakhadiran backlight pada tombol kapasitif, dan juga absennya LED notifikasi, saya ngga punya komplain apa-apa lagi soal hape ini. Semoga yang mupeng abis liat video ini masih bisa memiliki kesempatan untuk meminang ponsel ini ya. Karena bisa jadi produk ini habis stoknya karena memang peminatnya banyak.

That's all from me, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!


Wednesday, August 30, 2017

Review Sony Xperia X Dual, Kukuhnya Sony dengan Pakem Lamanya


Saya sudah naksir dengan Sony Xperia X Dual ini sejak harganya masih di atas lima juta Rupiah, tetapi baru berani membelinya saat harganya sudah menyentuh kepala tiga jutaan.



Ada beberapa pertimbangan yang mendorong saya untuk membeli Sony Xperia X Dual ini. Salah satunya adalah pengalaman menggunakan Xperia UI saat dulu mencoba Sony Xperia Z2 Compact yang menurut saya sangat mendekati stock UI Android, namun masih memiliki fitur tambahan yang esensial. Salah satunya fitur pada kameranya.

Sony sebagai produsen berbagai sensor kamera yang banyak digunakan oleh smartphone flagship, tentunya tahu bagaimana mengoptimalkan sektor ini. Dan ya, pada Xperia X ini, kamera menjadi suatu kelebihan tersendiri.

Saat digunakan mengambil gambar, hasil kameranya selalu mampu memuaskan, depan maupun belakang. Dan saat digunakan merekam video, fitur steady shot-nya mampu membuat pergerakan kamera terlihat sangat halus dan memukau.

Saya takkan berpanjang lebar menjelaskannya, ada baiknya Anda langsung saksikan sendiri hasilnya ya.



Lanjut ke sisi desain, ini adalah alasan lain kenapa saya ingin sekali meminang salah satu produk dari lini Xperia miliki Sony ini. Ya, Sony tak pernah asal ikut trend, apalagi sampai terjebak di aliran mainstream. Desain omni balance ala Sony ini menegaskan bahwa brand ini masih kukuh dengan pakem yang dimiliki.

Masih banyak lagi pakem yang masih dipegang teguh oleh Sony, salah satunya adalah harga yang cukup premium tanpa jor-joran di spesifikasi. Dan ini termasuk kapasitas baterai yang terbilang sangat kecil untuk ukuran jaman sekarang ini. Ya, Sony Xperia X Dual ini baterainya hanya 2.600 mAh saja. Meskipun masih cukup bertahan dari pagi hingga malam, tapi kenyataan ini mengkhianati janji Sony akan kemampuannya yang diklaim mampu bertahan dua hari dalam sekali pengisian daya. Mungkin kalau pakau ultra saving mode sih bisa, tapi smartphone ini akan berubah jadi feature phone dong? Ha.. ha.. ha..

Ada satu keuntungan berbaterai kecil sebetulnya, mengisi dayanya cepat walau tak didukung fitur quick charge hehehe.

Dapur pacu Sony Xperia X ini ditenagai oleh processor Snapdragon 650 yang kondang dipakai oleh Xiaomi Redmi Note 3 dulu. Secara performa sudah sangat cukup membuat pengalaman menggunakan ponsel ini terasa baik dan gegas. Hanya satu keluhan yang saya rasakan, ponsel ini cukup cepat menghangat. Bahkan saat digunakan merekam video unboxing ZUK Z2 Pro lalu, dalam waktu sekitar 10 menit saja, kameranya mengalami overheat dan aplikasi kamera menutup sendiri.

Buat yang ingin tahu skor Antutu Benchmark serta kelengkapan sensornya, saya tampilkan di sini ya. Lihat deh, sensornya lebih lengkap dari ponsel Android kebanyakan.

Berpindah dari Huawei Honor 8 dengan layar vividnya ke Sony Xperia X, saya tak merasakan mengalami penurunan soal kualitas display ini. Layar smartphone ini sangat mampu memanjakan mata.

Dengan ukurannya yang compact, sejauh ini saya sangat nyaman menggunakan Sony Xperia X Dual dalam keseharian saya, asalkan tidak harus bepergian ke luar kota ya. Karena kalau diajak bepergian, jujur saja saya tak tenang dengan baterai kecilnya yang mungkin takkan cukup dipakai di perjalanan.

Satu hal yang membuat nyaman lainnya adalah fingerprint scanner dari ponsel ini yang diletakkan di samping, tepat di posisi natural jempol kita berada. Agak disayangkan memang pemindai ini baru bekerja saat layar menyala, sehingga perlu ditekan terlebih dahulu. Namun, akurasinya super tinggi, dan sangat cepat membuka kunci layar.

Untuk digunakan menikmati sajian multimedia, ponsel ini sangat bisa diandalkan. Layar yang keren, didukung dengan front stereo speaker yang kualitasnya baik.

Apakah smartphone ini berhasil menggantikan Huawei Honor 8 sebagai daily driver saya? Niatnya sih begitu, tapi masalah baterai ini belum mampu membuat hati saya tentram sehingga saya memutuskan untuk meminang sebuah ponsel lagi, yaitu ZUK Z2 Pro. Nantinya saya akan memilih yang mana yang akan terus saya gunakan.

Jika Anda penasaran ponsel mana yang memenangkan duel ini, pantengin saja lapak saya di salah satu marketplace lokal, yang mana yang saya jual kembali hehehe.

Demikian ulasan singkat saya tentang Sony Xperia X Dual ini, hatur nuhun!

Monday, August 28, 2017

Review Divoom Voombox Travel 3rd Gen



Sudah seminggu ini saya bekerja ditemani oleh sebuah bluetooth speaker baru di meja kerja saya. Nama dari speaker ini adalah Divoom Voombox Travel 3rd Gen, warnanya silver dengan aksesn merah yang mencolok, meskipun jika kita melihat di halaman penjualan produk ini di salah satu e-commerce tanah air, pilihan warna yang tersedia cukup banyak.

Nah, ngomong-ngomong soal Divoom, ini bukanlah brand baru ya. Sekitar tahun 2011 saya sudah pakai speaker dari merk ini. Ceritanya waktu itu teman saya datang ke pameran komputer di JCC, dan pulangnya membawa sebuah speaker portable merk Divoom yang kemudian sering bergilir dipakai anak-anak di kantor lama saya. Sehingga lama kelamaan saya pun tertarik membeli sebuah speaker Divoom, waktu itu masih berkabel, dan yang membuat saya takjub adalah dengan ukurannya yang kecil, namun suaranya cukup terdengar ke satu ruangan kantor yang cukup besar, dengan kualitas suara yang tergolong baik dan sama sekali tidak cempreng.

Bahkan, saat saya resign dari kantor lama tersebut, Mamang penjaga kantor meminta saya untuk meninggalkan speaker tersebut di kantor, haha.

Makanya sekarang saya sangat senang saat memiliki lagi sebuah speaker Divoom di meja kantor saya.



Sebetulnya ini adalah outdoor speaker, Anda bisa melihat pada kemasannya yang tertulis weather proof. Ya, speaker ini diklaim tahan basah atau percikan air, dan juga tahan guncangan. Karena merupakan speaker untuk luar ruangan, maka tak heran jika power yang dihasilkannya memang kuat sekali. Sendok yang saya letakkan di atas meja saja sampai berbunyi-bunyi akibat terguncang-guncang oleh dentuman bass dari speaker ini, haha.

Menurut saya, para pecinta bass akan sangat terpuaskan oleh  Divoom Voombox Travel 3rd generation ini. Saat saya dengarkan dengan seksama, detail dari instrumen musik pada lagu yang saya putar masih dapat terdengar dengan baik meskipun suaranya bulet banget oleh bass.

Saya yakin power yang besar ini memang dihasilkan oleh driver unit yang juga prima, termasuk dalam hal dayanya. Ini sebabnya, bisa dibilang speaker ini tak terlalu panjang daya tahan baterainya. Dalam pemakaian saya biasanya hanya cukup untuk satu hingga dua hari saja menemani bekerja, di mana dalam satu hari saya bisa mendengarkan lagu hingga empat jam. Ya kira-kira empat hingga enam jam sajalah daya tahan baterai speaker ini.

Satu kelebihan dari speaker ini adalah proses pairing yang otomatis, maksudnya begitu menyala maka speaker ini akan mencari perangkat yang sudah pernah melakukan proses pairing. Atau jika baru akan melakukannya untuk pertama kali, kita tak perlu masuk ke mode khusus dan bisa melakukan pairing selama speaker ini sudah menyala.

Di samping tombol power, ada sebuah tombol multifungsi yang dapat digunakan untuk mengangkat telepon jika speaker ini terhubung ke smartphone, serta juga dapat digunakan sebagai tombol play dan pause. Di sisi lain tedapat dua buah tombol plus dan minus yang apabila ditekan sebentar maka berfungsi sebagai pengatur volume, dan jika ditekan lebih lama akan berfungsi sebagai tombol previous dan next song. Dua buah port tersembunyi di balik penutup karet dengan label Divoom ini, tentunya port micro-USB untuk pengisian daya, dan port audio 3,5 mm untuk sambungan kabel ke perangkat audio Anda.

Overall desain dari speaker ini nampak keren dan sporty. Bobotnya tak terlalu ringan, namun justru memberi kesan kokoh dan mantap. Feels-nya di tangan terasa premium, tak salah memang jika speaker ini dibandrol dengan harga lima ratus ribuan. Faktanya memang speaker ini mampu menggeser posisi speaker bluetooth lama saya di meja kerja.

Divoom Voombox Travel 3rd generation berhasil mencuri hati saya, dan saya takkan segan untuk merekomendasikannya kepada Anda yang memang sedang mencari bluetooth speaker pada rentang harga 500 ribuan. Kualitas suara dapat, looks yang keren pun dapat, garansi resmi pula dari distributor lokal yang berada di Jakarta. Buktinya di kemasannya saja langsung terlihat ada kartu garansinya yang berbahasa Indonesia.

Buat Anda yang masih bertanya-tanya tentang brand Divoom sendiri, pada speaker ini tertulis bahwa Divoom didesain di Singapore, walau proses produksi masih dilakukan di China sana. Menurut sang distributor resminya di Indonesia, Divoom diposisikan untuk bersaing dengan merk JBL, hmm pantaslah kalau begitu, terjawab sudah mengapa suaranya bisa mantap begini.

Lain waktu, jika saya punya waktu luang, saya akan coba deh bikin video komparasi dari semua bluetooth speaker yang saya miliki. Bagaimana, setuju tidak? Tulis di komentar ya pendapat kamu!

Demikian review kali ini, hatur nuhun!