Gadget Promotions

Wednesday, February 14, 2018

Review Huawei Honor 9 Lite Indonesia: 2-Jutaan yang Menawan, Kecuali Sektor X dan Y



Dari sekian banyak hape Huawei yang pernah saya coba, hanya ada 2 yang ga berhasil memenuhi ekspektasi saya. Yang pertama Honor 6x, walau karena harganya yang terjangkau jadi banyak dapat toleransi.

Yang kedua, ya ini, Honor 9 Lite.



Kata Lite pada produk ini rasanya benar-benar cocok dipake, terutama dalam aspek-aspek yang berhubungan dengan kualitas ya.

Tadinya saya berharap kata Lite ini hanya sebagai akibat dari layar 5,65 inch-nya yang memang lebih kecil dari ponsel Huawei lainnya yang sudah memiliki rasio layar 18:9. Ya, hape Huawei lainnya semisal Nova 2i, Nova 2s, Honor 7x, hingga Honor View 10 semuanya memiliki dimensi layar 5,99 inch.

Nyatanya, banyak hal lain yang juga jadi Lite pada ponsel ini.

Kita mulai dari audio. Hmmm, gimana ya. Ngga tega saya ngomongnya haha. Loudspeaker Honor 9 Lite punya output yang biasa banget, cenderung datar dan nyaris tanpa tenaga. Jika Anda paksakan agar terdengar kencang dengan menaikkan volume hingga penuh, yang hadir hanyalah sisa-sisa kepahitan hidup ini karena mendengar suaranya yang cempreng. Aku tak sanggup lagi membahas kelanjutannya. Klean dengerin sendiri aja dah suaranya.

Habis audio, terbitlah kamera. Lowlights khususnya. Kalau kalian tak bisa mengerti arti kehadiran noise pada foto-foto berikut ini, saya pikir kalian tidak mengerti seni.

Hahaha seni, ngga deng. Memang lowlights-nya bisa dibilang jelek, grain sudah sangat kentara muncul selalu. Walau bagi saya, tone warna yang tetap kuat dan tak pucat, masih perlu diapresiasi.

Oh ya, ponsel ini sudah punya kamera ganda di depan maupun belakang. Jadi total ada 4 kamera. Semuanya setup-nya untuk menghasilkan blur melalui portrait mode. Dan ini bukan gimmicks ya, kalau hasilnya kurang bagus, itu lebih karena jomplangnya sensor dari masing-masing kamera. Di depan maupun belakang, sensor 13 Megapixels-nya hanya dibantu oleh sensor 2 Megapixels, yang sudah terbukti kurang mumpuni di Honor 6x lalu.

Anda harus pintar mencari sudut dan pencahayaan terbaik agar bokeh-nya terlihat baik.

Di luar kekurangannya ini, kamera Honor 9 Lite menurut saya memilik performa yang bagus dalam mencari fokus, mengambil gambar, maupun startup aplikasi dari homescreen yang tak memakan waktu lama.

Dynamic range-nya juga baik, di mana dalam keadaan terik, dengan atau tanpa mode HDR, saya nyaris tak bisa melihat perbedaannya, sama-sama baik. Yah, pokoknya kalau cahaya cukup mah hasilnya oke banget lah. Kalau lowlights, kata saya mah mending pake tripod terus atur manual biar hasilnya ngga noisy. Kebetulan mode manual pada Honor 9 Lite ini selengkap ponsel Huawei lain.

Yup, deretan foto dan video ini saya tampilkan untuk menjelaskan semua yang barusan saya jelaskan. Simak baik-baik ya!



Soal dapur pacu, Honor 9 Lite dibekali processor HiSilicon Kirin 659 yang juga pernah saya coba di Huawei Nova 2, dan juga dipakai di Huawei Nova 2i yang masuk resmi di Indonesia. Dan ini sudah cukup banget buat kebutuhan saya sehari-hari termasuk bermain game Destiny 6 yang bisa dilakukan tanpa lag.

Konsumsi baterai juga tergolong normal cenderung ke awet, di mana baterainya hampir selalu pas dipakai untuk 24 jam, kadang lebih sedikit lah kalau pas lagi ngga banyak dipakai.

Yang saya notice sih RAM 3GB-nya itu masih free banyak, namun seringkali aplikasi harus load ulang saat dibuka kembali dari recent apps.

Untuk masalah UI dan UX, pengalaman menggunakan Honor 9 Lite yang sudah menggunakan EMUI 8.0 berbasis Android Oreo ini nyaris tak ada beda dengan saat saya memakai Honor View 10 lalu, kecuali masalah posisi fingerprint tentunya.

Sudah 2x Honor 9 Lite ini mendapat update software secara OTA, dan selalu ada fitur baru yang dibawa. Yang pertama membawa face unlock yang usable dan akurat di kondisi cahaya cukup, sementara yang kedua membawa fitur game mode. Cool!

Saya sarankan klean nonton deh video review Honor View 10 yang sudah saya buat. Katanya itu ponsel mau masuk resmi lho di Indonesia.

Okay, bahasan terakhir adalah soal desain. Yang mana ini adalah strong point dari Honor 9 Lite. Warna biru mengkilap dengan layar memanjang yang reproduksi warnanya indah, adalah sesuatu yang rasanya sulit didapatkan pada ponsel harga 2-jutaan ya.

Ya memang sih saya belinya 3 jutaan, tapi kan di negerinya sana ini harganya sekitar 2,6 juta lho untuk versi RAM 3 GB dan storage 32 GB.

Tapi anak metal mungkin akan ngga cocok sama hape ini. Karena meskipun bahan frame pinggirnya disebutkan terbuat dari aluminium, feels-nya di tangan tuh ga ada metal-metalnya. Backcover-nya yang terbuat dari kaca juga agak terasa plasticky.

Tapi kalo ditanya gimana feels-nya di tangan, saya akan jawab superb! Nyaman sekali, lembut, halus, dan karena ukurannya yang compact, jadinya saya betah tuh pakenya.

Sampai-sampai saya rela deh jual lagi LG V30+ saya. Walaupun alasan utamanya sih lebih karena ngirit haha.

Yang saya suka dari Honor 9 Lite ini adalah bezel kiri kanan layar yang tipis tapi ngga bikin layar sering tersentuh secara tak sengaja. Semnetara jidat dan dagunya juga bisa dibilang cukup minimal.

Yang saya tak suka sih sudah jelas, audio dan lowlights kamera ya. Yang mana membuat posisi ponsel ini mudah goyah di hati saya. Kayanya kalo nanti nemu hape yang kameranya lebih cakep, Honor 9 Lite bisa lengser segera.

Satu yang perlu jadi pertimbangan adalah ponsel ini adalah versi China yang tak punya aplikasi Google. Pasang sendiri sih bisa, ga pake root atau apa-apa, cuma sedikit tricky juga walau cuma install-install apk doang.

Ada selentingan yang bilang ini adalah salah satu ponsel yang akan masuk resmi di sini juga. Saya sih belum tahu bocorannya.

Tapi jika benar, dan harganya sama dengan harga jual di negerinya yang 2-jutaan saja, wah Xiaomi Redmi 5 Plus bakal punya lawan tangguh, dan persaingan akan menarik nih nanti.

Mari kita tunggu dan doakan saja yah.

Dari kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam.

Monday, February 5, 2018

Preview OPPO A83, Smartphone Kekinian Yang Bakal Jadi Trendsetter Tahun 2018

Setelah sebelumnya sukses meluncurkan produk OPPO F5, kini kabar gembira kembali datang dari salah satu produsen smartphone yang dalam waktu dekat akan mulai meluncurkan produk terbarunya, yaitu OPPO A83 di pasar Indonesia. Menariknya, sejak Jumat tanggal 26 Januari yang lalu, OPPO telah memberikan kesempatan bagi konsumen Indonesia untuk dapat melakukan pembelian di OPPO official store di JD.id.

Walaupun gaung tentang dirilisnya smartphone ini sudah mulai terdengar sejak bulan Desember 2017 yang lalu, namun saya sendiri masih cukup kaget mendengar bahwa akhirnya smartphone yang sempat digadang-gadang ‘mampu’ menyaingi Samsung J Series ini, akhirnya hadir di Indonesia dengan harga yang jauh lebih terjangkau bagi kantong masyarakat Indonesia kelas middle-low.

Meskipun saya sempat ragu dengan kehadirannya di Indonesia yang seakan ‘mengancam’ pasar smartphone ‘middle-high’, namun pada kenyataannya, OPPO benar-benar mewujudkan smartphone dengan fitur canggih namun dengan harga yang terjangkau untuk kelas menengah ,sehingga ada kemungkinan besar bahwa OPPO A83 akan menjadi trendsetter di kalangan pecinta smartphone di Indonesia.



Satu hal yang membuat OPPO A83 bisa dikatakan sebagai trendsetter baru adalah fitur Face Unlock yang perlahan mulai menggantikan pemindai sidik jari atau fingerprint scanner untuk membuka smartphone. Sekilas, fitur ini tak jauh berbeda dengan fitur FaceID yang ada pada iPhone X besutan Apple. Namun sekali lagi, OPPO berhasil membawa fitur canggih ini kezona yang lebih terjangkau bagi pasar Indonesia.

Meskipun serupa, tapi belum tentu sama. Pasalnya, fitur Face Unlock milik OPPO A83 disebut-sebut mampu mengidentifikasi lebih dari 254 titik pengenalan wajah, dengan kecepatan hanya dalam 0,18 detik. Sangat cepat bukan? So Faster is better, right? Tidak ada orang yang suka menunggu lama, bahkan hanya untuk membuka smartphone mereka.

Dari segi penampilan, baik Saya ataupun Anda mungkin bisa langsung mengatakan bahwa layar dari OPPO A83 tidak terlalu jauh berbeda dari sang kakak, OPPO F5. Dengan desain yang tentunya ‘kekinian’ berkat layar bezel-less, 5,7” HD + Full Screen dengan resolusi layar sebesar 1440 x 720 piksel, yang  Saya rasa cukup menjadikan setiap detail huruf dan gambar menjadi lebih tajam, lebih cerah dan lebih hidup untuk kelas premium.



Mendengar ukuran layar sebesar 5,7inci tersebut, sudah dapat dipastikan bahwa OPPO A83 cukup pas pada genggaman dengan tidak mengurangi kenyamanan saat berinteraksi lewat layar. Khususnya bagi Saya sendiri, ukuran genggaman yang pas pada sebuah smartphone menjadi sangat penting untuk kenyamanan.

Bicara soal performa, OPPO A83 telah dibekali RAM 3GB dengan prosesor Mediatek 8 (octa) core 2,5 GHz Helio P23 dan Color OS 3.2 Android 7.1,  dimana dengan spesifikasi kekinian tersebut, sudah jelas bahwa OPPO A83 mampu menjadikan pengalaman multi-tasking dalam menjalankan aplikasi semakin mudah dan cepat.



OPPO A83 sangat sesuai untuk kalian yang doyan bermain game sambil chatting dan buka sosial media, ditambah aplikasi kerjaan lainnya. Bahkan OPPO A83 juga mengklaim memiliki Game Acceleration yang mampu memaksimalkan GPU pada saat bermain game, serta interface terbaru yang mampu membuat Game tidak akan terhenti walaupun ada panggilan masuk.  Hmm.. cukup bisa membuat saya tergoda untuk beralih mengganti smartphone lama saya he he he..

Fitur lain yang membuat saya memberikan dua jempol untuk OPPO adalah fitur Kids Space, yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan waktu serta kegiatan si kecil saat bermain smartphone yang kita miliki, terutama dalam hal keamanan data yang tersimpan. Di lain sisi, juga ada teknologi O-Share yang mampu mengirim serta menerima foto, video, serta dokumen berat lainnya secara lebih cepat 100 kali lipat bila dibandingkan dengan bluetooth.

Jika tadi kita berbicara tentang isi perut OPPO A83 yang membuatnya ‘gendut’ dengan berbagai spek mumpuni dan kekinian, maka yang tak kalah menarik berikutnya adalah ciri khas OPPO dengan kamera ‘flawless’ miliknya. Yap! Sudah tidak diragukan lagi bahwa  OPPO A83 juga memiliki kamera utama 13 MP lengkap dengan unit LED flash yang mampu menghasilkan foto dengan resolusi tinggi tanpa cacat. Sementara untuk kamera depannya 8MP yang mampu menghasilkan selfie terbaik dan kekinian.

Oh ya..  tak lupa juga, OPPO A83 juga telah ditanami baterai  kapasitas 3180 mAh, yang mampu bertahan hingga 13 jam untuk penggunaan aktif. Apalagi seperti Saya yang memang sering melakukan kegiatan di luar ruangan, baterai yang tahan lama emang paling oke, dan OPPO A83 juga sudah mampu menjawab masalah tersebut.



Kesimpulan menurut Saya, tak salah memang jika OPPO A83 disiapkan untuk menjadi trendsetter terbaru sebuah smartphone di pasar Indonesia. Dengan fitur serta teknologi yang mumpuni, maka OPPO A83 sangat mampu merajai pasar Indonesia untuk smartphone kelas menengah namun dengan pengalaman pengguna kelas premium.

OPPO A83 ini dapat langsung dipesan di OPPO Official Store di JD.id dan dibanderol dengan harga Rp.2.999.000. Jadi bagi kalian yang penasaran dan ingin membeli OPPO A83 tersebut silahkan langsung mengunjungi Official Store OPPO di JD.id, DI SINI.

Saturday, February 3, 2018

Review Samsung Galaxy A8 2018, User Experience-nya Bikin Betah



Samsung Galaxy A8 2018 adalah smartphone Samsung dengan Infinity Display yang paling terjangkau saat ini. Tak hanya paling terjangkau, ini juga adalah ponsel pintar yang paling tergenggam. Maksudnya paling nyaman digenggam hehe, dimensi layar-nya yang 5,6 inch saja, rasanya pas sekali di tangan saya.

Jarang-jarang saya membeli smartphone Samsung jika bukan buat istri saya yang dari sejak jaman pacaran dulu ngga pernah ganti merk hape. Tapi Galaxy A8 2018 ini rasanya koq ya terlalu pas dengan semua kebutuhan saya.



Memangnya apa saja sih yang saya lihat cocok dari smartphone ini, kita buat daftarnya saja ya.

1. Tentu saja Infinity Display-nya, saya rasanya sudah terlalu nyaman dengan rasio layar memanjang ini.

2. Selain masalah rasio, panel layar super AMOLED Samsung memang bikin kangen. Always-on Display-nya itu lho, bikin up to date terus.

3. Kayanya tadi sudah dibahas, dimensi layarnya yang ngga kegedean, pas banget.

Hmmm, dari satu sampai tiga layar semua yah, haha. Tenang, yang keempat ini bukan soal layar koq.

4. Adalah ketersediaan NFC, di jaman serba cashless seperti ini, rasanya penting banget, buat sekedar cek saldo e-money, atau bahkan isi ulang, semua bisa dilakukan dari mana saja kalau punya smartphone dengan NFC seperti ini.

5. Slot lengkap, dua slot untuk sim-card dan satu slot ekspansi memory adalah sebuah advantage yang bermanfaat bagi saya yang senang menyalin file-file video dari laptop ke hape. Dengan slot micro-SD dedicated seperti ini, rasanya kapasitas memory bawaan Galaxy A8 2018 yang hanya 32 GB jadi bukan masalah lagi ya.

Alasan lainnya sebetulnya sangat lebih subjektif lagi, seperti peletakan port audio di sisi bawah, penggunaan bahan backcover kaca yang tak membuat khawatir saat bergesekan dengan cincin di jemari saya, sampai mudahnya mengambil screenshot yang cukup dengan menyapukan telapak tangan kita di layar ponsel ini saja. Ya maklum, banyak share layar ponsel saya ke social media nih, heuheu.

Itu adalah hal-hal yang sudah saya rasakan kegunaannya dalam awal-awal pemakaian Galaxy A8 2018 ini. Dan semakin lama menggunakan smartphone ini, saya makin mengerti kenapa istri saya dan mungkin juga banyak orang lain memilih ponsel buatan brand Korea ini.

Alasannya simple sebetulnya, User Experience.

Banyak yang menyepelekan masalah ini demi mengejar harga produk yang lebih murah, tapi bagi saya yang kesibukannya banyak sekali ditunjang oleh penggunaan smartphone, UX adalah sesuatu yang sangat penting.

Ini bocoran saja ya, di kantor saya bekerja di group UX dan Product Management, jadi jangan anggap remeh penilaian saya mengenai sisi yang satu ini.

Sepenilaian saya, grace UX ini salah satu UX yang sudah matang di antara beberapa custom UI Android yang pernah saya coba. Wajar, pengguna smartphone Samsung kan banyak, sehingga data sampling untuk UX research mereka pasti lebih akurat.

Sebagai contoh, untuk layar 18,5:9-nya, Samsung sudah menyediakan fitur yang dapat membuat aplikasi yang belum support untuk dipaksa tampil memenuhi layar. Dan untuk mengembalikannya seperti semula, tak perlu masuk ke menu setting lho, cukup masuk ke recent apps, lalu tekan icon di kanan atas dari card aplikasi yang kita inginkan. Ini serius, benar-benar contoh penerapan UX yang baik, menurut saya.

Tentunya UX yang baik juga harus ditopang oleh hardware yang mendukung. Nah, Samsung Galaxy A8 2018 ini menggunakan dapur pacu besutan Samsung sendiri, yaitu Exynos 7 Octa, tepatnya Exynos 7885 yang sudah memiliki fabrikasi 14nm. Maka jangan heran meskipun performanya kencang, Samsung Galaxy A8 2018 ini memiliki daya tahan baterai yang tegrolong awet. Patut diingat selama pengujian, saya menyalakan fitur Always-on Display selalu lho!



Rata-rata dalam satu kali pengisian daya, Galaxy A8 2018 mampu bertahan dari pagi hingga malam atau sekitar 15 jam dengan penggunaan intens. Sementara di saat saya cukup sibuk bekerja di kantor, baterainya dapat melenggang menembus 24 jam sebelum minta diisi ulang.

Saya melanjutkan kesenangan saya bermain game Destiny 6 di smartphone ini, dan gameplay-nya terbilang selalu lancar, dan tak sampai membuat body ponsel demam walau bermain cukup lama. Yah, saya sih paling lama main game sejam lah.

Review Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHapeReview Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHape

Review Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHapeReview Samsung Galaxy A8 2018 Indonesia GontaGantiHape


Oh ya, satu yang mungkin jarang ditemukan di ponsel lain saat ini, Samsung Galaxy A8 2018 sudah memiliki pressure sensor. Umumnya sensor ini dapat digunakan untuk membantu menentukan ketinggian, jadi kalau nanti 3D maps sudah umum digunakan, smartphone ini sudah mendukung.



Sementara, fitur water resistant dengan sertifikasi IP68 tetap hadir, membuat kita merasa aman saat terpaksa menggunakan ponsel dalam keadaan basah, semisal saat hujan-hujan hendak memesan ojek online.

Fingerprint scanner pada Samsung Galaxy A8 2018 ini memang tidak berada pada posisi yang favorable bagi saya yang sering meletakkan smartphone di atas meja. Namun, kehadiran face unlock yang tergolong akurat, memberi solusinya. Saya cukup ketuk layar 2x, lalu mendekatkan wajah ke atas layarnya, voila, terbuka deh. Fingerprint scanner-nya sendiri berada dalam posisi yang sangat natural bagi telunjuk saya saat dalam posisi menggenggam ponsel ini. Akurasinya baik, dan responsifitasnya juga cukup cepat meski tidak terlalu instant.

Samsung Galaxy A8 2018 ini hadir dengan kamera ganda yang justru terletak di sisi depan. Dual front camera 16 MP + 8 MP, dengan aperture f/1.9 yang tergolong besar, dan dilengkapi dengan teknologi tetra cell. Jadi di tempat minim cahaya tetra cell tech akan membuat hasil foto lebih terang, dan di tempat dengan cahaya cukup akan menghasilkan detail yang lebih pada hasil foto.

Kita bisa memanfaatkannya untuk membuat foto selfie kita lebih stand-out dengan mengaburkan latar belakang pada mode live focus. So far saya puas dengan kinerja kamera depan ganda ini, membuat saya yang tak begitu suka selfie, jadi lebih pede berfoto bareng hehe.

Sementara kamera belakangnya yang sama-sama beresolusi 16 Megapixels juga memiliki performa yang tak kalah baiknya. Kedua kamera yang berbeda posisi ini mampu bekerja dengan baik dalam kondisi pencahayaan yang tidak terlalu bagus [TBC, melihat hasil foto]. Satu yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh Samsung, agar dapat disediakan mode pro yang bisa membuat user mengatur fokus dan shutterspeed manual, agar lebih leluasa memproduksi gambar yang diinginkan.

Lanjut ke perekeman video, smartphone ini dibekali fitur vDis, alias video digital image stabilization yang membuatnya asyik digunakan untuk merekam berbagai kegiatan kita. Framerate-nya sangat cukup untuk membuat hasil video tak patah-patah atau blurry.

Seperti biasa, soal foto dan video ini, lebih baik jika kamu menilainya sendiri yah, Sip, nih saya sajikan hasilnya.



Jangan lupakan bahwa pada kamera Galaxy A8 ini Samsung menyematkan juga Bixby Vision, yang sejatinya adalah fitur pada flagship mereka. Dengan Bixby Vision ini, kita bisa mencari referensi tentang suatu hal atau tempat, cukup dengan membidiknya di kamera. Atau sekedar butuh menerjemahkan tulisan, cincai lah pake Bixby mah.

Ada harga ada rupa, saya setuju dengan pepatah lama ini. Memang patut diakui bahwa Samsung Galaxy A8 2018 ini dijual pada level harga yang premium. Namun, selain mendapatkan rupa yang baik, kita juga akan mendapatkan UX yang nyaman digunakan sih menurut saya.

Dan User Experience itu mahal, dihasilkan dari riset berulang-ulang, dan improvement yang terus menerus.

Dan saat ini, Samsung Galaxy A8 2018 inilah smartphone dengan Grace UX dan Infinity Display yang paling terjangkau. Tips dari saya, manfaatkan berbagai diskon dan promo e-commerce, atau promo soft launch, agar Anda bisa mendapatkan benefit lebih, entah itu berupa diskon, atau bonus hadiah langsung, agar smartphone ini makin terasa worth the money.

Sejauh ini, saya sangat nyaman menggunakannya karena ukurannya yang pas banget dalam genggaman. Buat kamu yang lebih senang dengan yang serba besar, mungkin bisa mempertimbangkan Galaxy A8+ ya, bedanya di ukuran layar yang lebih luas, RAM 6 GB, dan baterai yang sebesar 3.500 mAh.

Sekian hasil pengujian Samsung Galaxy A8 2018 yang sudah saya jadikan sebagai daily driver saya selama seminggu terakhir. Kurang lebihnya mohon dimaafkan ya guys.



Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, January 29, 2018

Review OnePlus 5T, Flagship yang Semakin Kekinian



Sebetulnya saya sedikit malas membuat video review dari OnePlus 5T ini. Rasanya seperti mengingat-ingat lagi sebuah kesalahan.

Lho, memang salah apa OnePlus 5T ini? Bukan begitu, justru saya yang membuat kesalahan dengan menjualnya kembali begitu cepat. Belakangan saya malah merindukannya untuk kembali berada dalam genggaman tangan ini.



Haha, sedikit dramatis ngga apa-apa lah ya, nyatanya memang ponsel ini ngangenin koq. Hanya saja ada dua hal yang mendorong saya segera menjualnya kembali. Pertama, selain layar dan posisi fingerprint scanner, rasanya tidak ada yang berbeda dari OnePlus 5 yang saya sudah coba sebelumnya.

Kedua, dengan harganya yang masih tinggi saat ini di Indonesia, bagi saya lebih baik jadi duit segera saja, daripada nanti keburu turun. Apalagi OnePlus 5T ini masih tetap licin seperti kakaknya dulu, ngeri tergelincir, lalu terjatuh, dan Anda bisa tebak lah kelanjutannya, heuheu.

Jadilah selama masa pengujiannya, saya terpaksa selalu memakasi softcase yang disertakan dalam paket penjualannya. Sesuatu yang ga keren menurut saya, karena menutupi keindahan lekukan body ponsel ini.

Saya akan buat daftar saja, apa sih perbedaan OnePlus 5T dari OnePlus 5 yang saya rasakan selama menggunakannya.

Pertama, experience-nya tentu terasa berbeda. Dengan layar memanjang yang memiliki rasio 18:9, OnePlus 5T terpaksa memindahkan posisi fingerprint scanner ke punggung. Yang sejauh ini tidak banyak memberi masalah buat saya, fingerprint scannernya selalu bekerja dengan sangat baik, dalam hal akurasi dan waktu respon.

Sementara untuk mengakali supaya ponsel ini tak selalu harus saya angkat dari meja, ada fitur double tap to wake, yang bisa dikombinasikan dengan face unlock yang juga sangat akurat dan cepat apabila digunakan dalam kondisi cahaya cukup. Menurut saya ini pertukaran yang sepadan lah, ya kalau mau layar 18:9 harus rela fingerprint di belakang. Kalau Anda tak bisa menerima ini, OnePlus 5 masih sangat reliable koq untuk dilirik saat ini.

Kedua, saya merasakan peningkatan pada daya tahan baterai. Dulu di OnePlus 5, saya harus mengirit-irit pemakaian jika ingin menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya. Di OnePlus 5T rasanya dengan pemakaian intens pun masih bisa sesekali menembus 24 jam, walau terkadang tak lebih dari 20 jam.

Kalau soal performa mah rasanya tak perlu dipertanyakan ya. Sama-sama menggunakan Snapdragon terbuas saat ini, yaitu Snapdragon 835 dengan sokongan RAM yang juga masih sama, 8 GB, OnePlus 5T adalah mobile gaming machine yang sangat memberi kepuasan bagi penggunanya, dalam hal ini saya sendiri.

Apalagi sekarang pada Oxygen OS ini ada gaming mode yang saya yakini mencontoh dua saudara jauh OnePlus, Oppo dan Vivo. Dengan mode ini, notifikasi tidak akang mengganggu gameplay kita.

Nah, soal notifikasi ini lah yang sebetulnya bikin kangen sama OnePlus 5T. Dengan custom OS yang digunakan, ponsel ini tak membatasi notifikasi untuk tetap dapat diterima secara realtime. Apalagi RAM-nya besar, di mana saya tak perlu repot-repot menutup aplikasi yang tak digunakan, sehingga notifikasi selalu masuk semua dengan lancar.

Bagi sebagian orang, termasuk saya, makin banyak notifikasi rasanya makin bahagia hidup ini. Kecuali sms dari operator, sama notifikasi pesan di tokopedia atau email yang isinya menanyakan kapan hape yang baru saya unggah video unboxingnya akan dijual, heuheu.

Sampai di sini saya sudah bingung pemirsa. Apa lagi ya bedanya OnePlus 5T dari OnePlus 5. Rasanya sudah habis euy.

Oh ya, hampir lupa. OnePlus 5T yang saya uji, datang dalam kondisi menggunakan Hydrogen OS tanpa Play Store dan kawan-kawan. Saya ganti ke Oxygen OS jadinya, supaya enak dipakai. Dan prosesnya mudah koq, cukup download ROM-nya, salin ke internal storage, masuk ke recovery mode dengan cara menekan tombol power dan volume down dari keadaan ponsel mati, install, tunggu, selesai.

Oxygen OS ini rasanya selalu membayar kerinduan saya pada CyanogenMod.

Anda bisa skip video ini dari sini ke belakang, isinya racun semua. Jangan bilang saya tidak mengingatkan ya. Seluruh isi video ini, mungkin akan terasa seperti seorang fanboy yang sedang kasmaran dengan sebuah produk dari brand kesayangannya.

Heuheu, memang saya bingung sih, kurangnya apa ponsel ini selain harganya yang tidak terjangkau untuk sebagian besar orang, ketersediaannya di Indonesia yang hanya mengandalkan seller-seller yang mau handcarry dari luar, hingga dukungan purna jual yang bisa dibilang nihil.

Tapi kalau dilihat berdasarkan apa yang melekat pada ponsel ini, bingung saya kurangnya di mana.

Sisi multimedia nendang banget. Layar Optic AMOLED-nya kinclong, dan kece banget buat main game, streaming video, atau bahkan cuma buat diliatin sampe bosen seharian.

Audio juga jempolan, yakali hape segini mahal suaranya sember, haha.

Benchmark sintetis? Duh, ini lagi. Skornya gede lah.

Jangan lupakan juga fakta bahwa OnePlus 5T ini sudah dibekali fitur dash charge yang dapat mengisi baterai dengan sangat cepat menggunakan kepala charger yang disertakan dalam paket penjualan.

Hmm, spek monster, layar 18:9, batre lumayan awet dan cepat penuh saat diisi ulang, multimedia oke, lalu apa yang kurang ya?

Oh ya, kita belum bahas soal kamera ya. OnePlus 5T sudah memiliki kamera ganda di sisi belakang, jadi buat yang suka bokeh-bokehan pakai portait mode, monggo, langsung ditebus sajalah OnePlus 5T-nya ahahaha.

Ya gimana ya, harganya juga memang sudah setara flagship merk besar koq. Jadinya performa kameranya sewajarnya memang istimewa juga, dalam berbagai kondisi.

Untuk video, nampaknya ada stabilisasi elektronik, yang menurut saya lumayan, tapi masih kalah kelas dari stabilisasi optik milik Huawei P10, atau bahkan Samsung Galaxy S8 Plus.



Kesimpulan saya kurang lebih sama dengan saat saya mengulas OnePlus 5 dulu, ini sudah bukan flagship killer, melainkan sudah menjelma menjadi flagship itu sendiri. Harganya kurang lebih sama lah ya dengan OnePlus 5 saat pertama dirilis dulu. Kalau mau cek harga dan diskon, boleh klik link di dekripsi yang akan membawa Anda ke situs gearbest, e-commerce asal China yang mengirimi saya OnePlus 5T untuk diuji ini.

OnePlus 5T membawa perbaikan dalam soal daya tahan baterai, serta pengalaman menggunakan layar 18:9 yang berkat tambahan fitur face unlock-nya membuat pemindahan posisi fingerprint menjadi bisa ditolerir, setidaknya bagi saya.

Hehe, saya sengaja menempatkan hasil foto dan video dari OnePlus 5T ini di bagian belakang, biar ngga protes kalopun saya tampilkan banyak-banyak.

Okay ya, cerita saya tentang OnePlus 5T berakhir di sini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Sunday, January 28, 2018

Review Xiaomi Redmi 5A, Batrenya TANGGUH tapi Harganya RAPUH



Ini adalah ponsel yang sejak akhir tahun lalu hingga seluruh minggu pada bulan Januari 2018 terus-terusan menyita perhatian publik pengguna dan pemerhati gadget di tanah air.

Satu yang pasti membuatnya jadi sorotan adalah harganya yang dipatok Xiaomi pada angka satu juta kurang seribu Rupiah. Walau harga ini pakai tanda bintang, di mana hanya berlaku pada flash sale Lazada yang selalu membuat server e-commerce ini jebol, atau di Authorized Mi Store yang entah dijatah berapa unit, namun nampaknya lebih sering kosongnya daripada tersedia.



Harga ini terpaut jauh dari harga perangkat yang sama di negeri asalnya yang mencapai 1,3 juta Rupiah. Oh ya, konon kabarnya nantinya Xiaomi Redmi 5A yang dilabeli hape terbaik di kelasnya ini akan dijual secara bebas pada angka Rp1.199.000.

Nah, semua kelebihan dan keistimewaan ponsel ini menurut saya jadiya sangat rapuh. Maksudnya, tergantung dapatnya di harga berapa dulu.

Berhasil dapat di flash sale Lazada? Selamat, kamu beruntung dapat hape lumayan banget ini di harga yang mungkin ga akan masuk itung-itungan bisnis manapun.

Beli nanti pas sudah harga offline? Hmmm, ya lumayan lah, masih lebih murah cepek dari harga di China.

Beli di toko sekarang 1,5jutaan? Hmmm, gimana ya, Redmi Note 5A juga kan segituan, spesifikasi kurang lebih sama, tapi stok lancar. Rasanya udah biasa aja sih kalo harganya segini.

Beli di reseller seharga 2 juta? Ini baru WOW, haha. Membuktikan kalo kamu emang mifans sejati, sampe mau ngasi cuan sejuta sama orang yang sebetulnya bikin harga ini hape melonjak, karena rebutan terus beli banyak buat dijual lagi, bukan dipakai.

Ya salah sendiri juga sih kalau sampai harga Redmi 5A di toko biasa jadi melonjak. Situ kenapa mau beli, padahal kalo permintaan pasar ngga tinggi dan mau sabar mah, bisa jadi orang-orang juga males nimbun stok hape ini, dan bisa jadi harga lebih stabil heuheu.

Ya sudah, kita lupakan dulu soal harga dan penjualan hape ini, dan mulai bahas hapenya sendiri ya.

Sepenilaian saya, Redmi 5A ini memang nyaris tak ada beda dengan Redmi Note 5A yang sudah saya coba sebelumnya. Buat saya sih layar lima incinya lebih asyik, soalnya ringkas, jadinya ga bikin ribet sewaktu saya jadikan ponsel kedua.

Tapi bagi sebagian orang, layar 5,5 inci Redmi Nota 5A mungkin lebih diminati, apalagi Redmi Note 5A punya kelebihan lain yaitu posisi loudspeaker yang sudah d sisi bawah ponsel, bukan di belakang seperti pada Redmi 5A.

Feeling plastik masih sangat kental terasa pada Redmi 5A ini, walau tidak sampai terasa ringkih memang. Namun saya sangat menyarankan penggunaan anti gores pada layar, dan paling tidak softcase tipis pada bodynya, biar umurnya lebih panjang.

Satu hal yang paling saya notice adalah kemampuan MIUI 9 untuk tetap berjalan dengan smooth di RAM 2 GB, dan menjaga daya tahan baterainya menjadi sangat hemat. Di hari kerja di mana Redmi 5A sangat banyak nganggur, 3 hari 3 malam mampu ditembusnya. Sementara weekend di mana Redmi 5A ini sesekali saya pakai bermain game dan streaming video, smartphone ini mampu bertahan selama 28 jam dengan SoT sebesar 5 jam, nyaris tanpa koneksi wifi.

Inilah kenapa saya sekarang lebih suka Snapdragon 425 dibanding 430. Umumnya ponsel dengan processor ini bisa lebih hemat daya, dengan performa yang kurang lebih sama.

Saya coba bermain Destiny6 di Redmi 5A ini, walau masih bisa berjalan dengan baik, harus diakui memang gameplay-nya terasa kurang nikmat. Saya bisa dengan jelas merasakan penurunan performa jika dibandingkan dengan hape utama saya yang saat itu kebetulan skor Antutunya di atas 100ribu, wajar lah ya heuheu.

Oh ya, jika ingin betah pakai Redmi 5A, jangan lupa untuk menjaga aplikasi-aplikasi yang Anda tunggu notifikasinya, agar tidak sampai dibuang dari recent apps. Ini penting, pake banget!

Lanjut ke bagian kamera, Redmi 5A ini punya kamera yang usable sekali di kondisi outdoor. Hasilnya benar-benar tidak akan membuat orang menyangka jika foto tersebut diambil oleh sebiji ponsel berharga 999ribu Rupiah. Oh ya, mode HDR terasa sangat berguna pada Redmi 5A ini untuk menghasilkan foto dengan dynamic range yang luas.

Foto di kondisi lowlights sih ya biasa lagi, tidak terlalu bagus. Dan ini sangat wajar mengingat Redmi 5 Plus yang harganya lebih dari 2 kali lipatnya pun belum mampu berbicara banyak soal foto dalam kondisi temaram seperti ini.

Perekaman video, ya gitu deh, ah pokoknya lihat langsung saja deh ya. Nanti saya salah ngomong lagi, terus dibully lagi. Saya kalo dibully oknum penboy, bawaannya suka pengen nraktir orang euy, rugi hahaha.



Okay, kayanya itu saja yang saya bahas dari Xiaomi Redmi 5A ini. Saya yakin sudah banyak pembahasan yang lebih lengkap lagi soal ponsel ini dari teman-teman reviewer yang sudah mencobanya lebih dulu dari saya.

Kesimpulan saya mah ya ini kabar baik lah buat yang membutuhkan smartphone yang ngga asal jadi, yang dukungan OS-nya cukup baik, fitur lengkap, namun harganya sangat terjangkau.

Apakah saya merekomendasikan ponsel ini? Jawabannya tergantung, harganya berapa dulu. 1 juta ya pasti saya rekomendasikan, 1,2 juta juga rasanya masih ok.

Tapi kalau sudah 1,5 juta atau lebih? Jadinya terasa biasa saja, dan banyak alternatif lain yang lebih baik, bahkan dari brand Xiaomi sendiri.

So, saran saya mah jangan keburu nafsu, jadinya demand tinggi, harga naik, ujung-ujungnya konsumen yang rugi, reseller yang untung banyak, dan Xiaomi ya masih dipertanyakan sih dapat untung apa ngga, hehe.

Sudah deh, gitu aja dari saya mah. Hehe.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalamualaikum.

Review Huawei Honor View 10 (V10), Ponsel yang Menyabet Penghargaan di CES 2018



Nampaknya, pencarian saya menemukan akhir.

Saya masih ingat, bulan November lalu saya sempat mencuitkan pernyataan ini... https://twitter.com/GontaGantiHaPe/status/935468028673671168

Yah, saat itu saya melepas semua ponsel Huawei yang sebetulnya sudah membuat saya nyaman. Ada Huawei Honor 9 dan Huawei P10 saat itu.

Saya tak peduli jika dibilang Huawei Fans, haha, toh saya mulai menyukainya setelah mencoba dulu, bukan semata fanatisme buta. Dan sebetulnya jika saya punya dana tak terbatas mah, saya rasanya pengen ambil LG V30+ saja.

Terus kenapa malah belinya Huawei Honor View 10? Jawabannya simple. Saat ini, smartphone mana yang layarnya 18:9 tapi punya fingerprint scanner di depan?



Saat saya memutuskan membelinya, baru ada Honor V10 saja yang punya kedua hal itu. Saat ini ada sih ponsel lain, tapi dari Huawei juga, namanya Nova 2s. Haha.

Dan lagi, harga Huawei Honor V10 ini lebih masuk akal dari LG V30+, atau bahkan dari hape incaran saya lainnya dari Huawei, Mate 10 Pro.

Ok case closed ya mengenai alasan utama saya membeli ponsel ini.

Membicarakan Huawei Honor V10 atau View 10 ini, pastinya harus dimulai dari desainnya. Sebetulnya bentuknya tak terlalu istimewa, tapi finishing backcovernya memiliki tekstur khusus yang membuatnya tak licin sama sekali dan juga tak mudah kotor oleh bekas minyak ataupun sidik jari.

Selain itu pilihan warnanya juga unik, merah yang saya pakai ini ngga seperti hape lain yang umumnya memilih merah cabe. Honor V10 ini menggunakan warna merah neon yang diberi nama charm red. Materialnya sendiri terbuat dari alumunium untuk backcovernya, dan kaca untuk bagian depan.

Posisi port audio di bawah, lubang loudspeaker di sebelah kanan, hingga ketersediaan IR blaster, adalah hal-hal yang saya suka dari desain Honor View 10 secara fisik. Sementara dua buah camera bump yang terlalu menonjol adalah hal yang paling tak saya favoritkan dari ponsel ini.

Overall form factornya tipis, tepiannya ramah di kulit, dan nyaman digenggam. Tidak ada hal yang mengganggu saya dari sisi fisik ini.

Lanjut ke sisi depan, layar dengan rasio 18:9 hadir dengan keistimewaan berupa fingerprint scanner yang terletak di dagu ponsel. Huawei berhasil membuat jidat dan dagu ponsel ini tetap tipis, namun akibatnya posisi fingerprint scanner-nya sedikit terlalu ke bawah dan ukurannya juga tak terlalu besar. Sebuah konsekuensi yang tolerable menurut saya.

Spesifikasi jeroan dibahas jangan? Ah jangan ah, ga enak saya. Huawei Honor V10 ini sudah pakai processor terbaru Huawei, yaitu HiSilicon Kirin 970 yang juga dipakai di Huawei Mate 10 dan Mate 10 Pro. Jadi fitur AI sudah hadir di Honor View 10 ini. Sejauh ini, fitur AI baru terasa kegunaannya saat memotret, di mana mode yang digunakan otomatis menyesuaikan dengan objek foto. Saat memotret makanan misalnya, maka otomatis kamera akan masuk ke mode good food, atau saat memotret dokumen, maka akan masuk ke mode teks.

Kualitas hasil kameranya dibahas jangan? Haha, nanya mulu ya saya. Pokoknya gini aja, kameranya bikin betah, dengan semua fitur yang selalu Huawei bawa di ponsel teratas mereka. Zoom, blur, portrait, semua kece. Yang agak kurang sih di perekaman video saja, EIS ada tapi hasilnya menurut saya kurang mampu membuat stabil. Mungkin karena sudah tahu sestabil apa hasil OIS di Huawei P10 dulu ya.

Biar lebih objektif, monggo beri penilaian sendiri pada gambar dan video yang saya tayangkan berikut ini.



Performa dari Kirin 970 ternyata meningkat pesat dari Kirin 960 yang sebelumnya saya pakai dua kali. Skor benchmark sintetisnya selisih banyak nih. Sewajarnya dipakai bermain game lancar tanpa kendala.

Dan yang membuat saya  menyukai EMUI 8.0 yang sudah berbasis Android Oreo ini adalah, kita bisa memaksa aplikasi apapun untuk tampil fullscreen di ratio 18:9. Selain itu, UX-nya juga asyik. Saya ingat, saat sedang membuka video di YouTube lalu masuk notifikasi Whatsapp, maka notifikasinya muncul disertai pilihan untuk langsung masuk ke mode split screen. Jadinya kan nonton jalan terus, pesan baru pun dapat kita baca. Keren kan?

Secure keyboard yang akan muncul menggantikan keyboard pihak ketiga yang saya pakai juga tetap hadir pada Honor View 10 ini dan menambah keamanan data kita, karena kombinasi username dan password kita tidak diinput menggunakan keyboard yang sama.

Dari beberapa kali mencoba ponsel Huawei dan Honor, nampaknya memang ada perbedaan pada masalah optimisasi daya. Honor selalu sedikit lebih telat notifikasinya yang saya sinyalir demi alasan penghematan daya. Huawei seri P maupun Nova yang pernah saya coba tak begitu, notifikasinya lebih real-time.

Dan di sini saya agak galau jadinya, pemirsa. Notifikasi realtime itu penting buat saya.

Tapi mungkin memang ini harus dilakukan agar baterainya awet. Baterasi Honor View 10 ini sendiri sudah cukup besar kapasitasnya, yaitu 3.750 mAh. Namun memang sepemakaian saya, processor Kirin masih belum bisa sehemat Snapdragon. Tak bisa dibilang boros sih, tembus 24 jam mah sering lah, tapi ya ngga awet-awet banget juga.

Oh ya satu lagi, Kirin masih lebih cepat menghangat juga. Bermain Destiny 6 dalam jangka waktu lama, backcover ponsel ini sudah mulai sedikit hangat, satu hal yang tak saya rasakan saat mencoba OnePlus 5T dulu.

Sektor audio juga menurut penilaian saya terbilang jempolan. Loudspeakernya lantang dengan detail yang terkontrol baik. Pakai earphone berkabel oke, pakai yang bluetooth pun hayuk.

Kualitas loudspeakernya bisa Anda dengarkan di bagian penutup video ini ya, saya mau buatkan kesimpulannya dulu nih sekarang.

Huawei Honor V10 atau Honor View 10 ini, harga aslinya di daratan Cina sana sekitar 6-jutaan, dan di Indonesia banyak dijual oleh seller yang handcarry langsung seharga 7-jutaan untuk varian RAM 6 GB dan Storage 64 GB. Selisihnya sekitar 600-ribu lebih murah jika Anda cukup dengan yang kapasitas RAM-nya 4 GB saja.

Pada harga segitu, kita sudah mendapatkan jeroan ala Huawei Mate 10 yang lebih mahal sekitar 3 juta Rupiah, menjadikan ponsel ini salah satu value deal berkat price to spec comparisan yang baik. Kabarnya di ajang CES 2018 kemarin juga Honor V10 menyabet penghargaan.

Mungkin memang ponsel ini hadir tanpa embel-embel Leica, tapi kameranya masih mantap jiwa.

Layar kekinian, dan fingerprint scanner di depan. Cocok sekali buat yang sering menaruh ponselnya di atas meja. Ya, cocok buat saya.

Bisa jadi juga cocok buat Anda, silakan disesuaikan dengan minat dan kebutuhan ya.

Yang pasti, saya sudah memutuskan menjual kembali OnePlus 5T dan menyimpan Honor V10 sih. Harusnya itu menjelaskan banyak, hahaha.

Sudah ya, sudah jelas semuanya, hehe. Yang kurang jelas, monggo berlanjut ke twitter saya, kita diskusi di sana.

Untuk saat ini, sekian yang bisa saya simpulkan dari Huawei Honor View 10 ini. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, January 2, 2018

Review Moto M, M untuk Mewah



Jika melihat seri hurufnya, Moto M ini selayaknya berada pada level yang lebih tinggi dari Moto G series. Buktinya harga jual pada masa pengenalannya pun cukup tinggi, yaitu empat juta Rupiah kurang seribu.

Namun tak banyak yang membahas ponsel ini, entah kenapa. Mungkin harga segitu dirasa tak sesuai akibat stigma processor Mediatek yang kurang bersinar dua tahun belakangan ini ya.

Nah, angin sudah berubah arah saat ini. Moto M sudah dipangkas harganya, jauh sekali dari harga awal tadi. Di beberapa toko online saya menemukannya dijual pada harga 2,1 juta Rupiah saja. Dan saya berpesan hati-hati karena ada satu toko online yang menjual pada harga sedikit di bawah 2 juta, namun tak bergaransi resmi, karena produk yang dijualnya adalah Moto M yang versi Cina sana. Yang ini setahu saya mentok OS-nya di Marshmallow.

Nah, Moto M yang garansi resmi ini sejak saya unbox sudah mendapat update software sebesar 1,5 GB yang membuatnya bisa move-on ke Android Nougat, tepatnya versi 7.0.



2,1 juta Rupiah, RAM 4 GB, layar Full HD, port USB type-C? Ini sih sudah worth the money banget. Saya rasa sekarang akan banyak mata yang tertarik untuk melirik Moto M ini.

Ya, karena selain price-to-spec comparison-nya sudah sangat oke, desain dari ponsel ini pun menurut pandangan saya cantik sekali. Saya jadi ingat pertemuan pertama kami, saat itu saya terpesona dengan Moto M milik orang. Dan kini dia telah menjadi milikku, oh indahnya dunia, hahaha.

Desainnya sedikit banyak mengingatkan pada smartphone lama saya, LG G2 dan Acer Liquid Jade. Cantik menawan hati dengan looks yang terkesan classy. Sementara sisi belakangnya yang sudah full metal memang terasa lebih mainstream ya.

Namun tetap saya suka dengan backcover yang dibuat melengkung sehingga tepiannya lebih tipis dari bagian tengahnya. Keergonomisannya mengingatkan saya dengan Moto G saya dulu. Dan serius, Moto M ini enak banget buat digenggam.

Lalu kita bahas jeroannya yuk. Moto M ini menggunakan Mediatek Helio P10 jika melihat apa yang dimunculkan oleh aplikasi AIDA64, namun ada kabar bahwa yang beredar bahwa yang dijual di India dan Indonesia sudah menggunakan Helio P15. Melihat skor Antutunya yang menembus 50ribuan sih nampaknya hal itu benar adanya ya.

Dengan RAM 4 GB dan Android hampir stock, multitasking di Moto M terasa lancar sekali. Bahkan sering aplikasi yang terakhir saya buka kemarin, masih dapat memunculkan posisi layar terakhir saat saya buka kembali. Diajak bermain game dengan grafis 3D juga hayu-hayu aja. Tidak ada masalah sama sekali dengan performanya, walau memang bukan yang paling cepat ya.

Daya tahan baterainya cukup awet tapi ngga awet-awet banget. Rata-rata bertahan 20 jam lah dalam penggunaan saya.

Fingerprint scannernya masih masuk kategori cepat dan akurat. Dan dengan ini saya jadi mempertanyakan lagi performa processor Snapdragon 430 pada dua produk dari brand sebelah yang sebelumnya saya coba yang sama-sama menggunakan OS Android stock. Mediatek boleh berbangga hati kali ini heuheu. Motorola tak salah memilihnya haha.

Lanjut ke kamera, Moto M sudah memiliki mode professional alias manual. Pengaturanya cukup lengkap walau shutterspeed maksimal hanya mencapai 2/3 detik saja.

Mengambil gambar selalu dapat dilakukan dengan mudah dan cepat pada Moto M ini, Fokus terkunci dengan baik, dan menyimpan gambar tak membutuhkan jeda waktu lama.

Kualitas hasil gambarnya sendiri tidak terlalu istimewa memang, namun masih sangat-sangat usable. Pada kondisi lowlights, noise sudah rajin hadir.

Saya akan biarkan Anda menilai langsung kualitasnya pada gambar yang saya sajikan berikut ini.




Apa Kata Aa tentang Moto M

Review kali ini singkat saya, yang pasti saya bisa simpulkan bahwa Moto M memiliki performa yang baik untuk multitasking, gaming, maupun mengambil foto dan video.

Memang hasil kameranya standar-standar saja, daya tahan baterainya pun tak istimewa. Namun, harganya kini yang sudah turun banyak, membuatnya menjadi tak mudah untuk dilewatkan.

Berbahagialah yang punya budget 2 juta Rupiah, sekarang sudah bisa punya hape kece yang performanya oke, thanks to Moto M.

Okay, selesai. Hehe.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalamualaikum wr wb.

Thursday, December 28, 2017

Review Huawei P10 Leica, Stabil Kameranya Juara!




Opening dari video di atas ini diambil dari atas sebuah delman, sembari muka mesem-mesem terkena rintik gerimis, dan mulut komat-kamit berdoa supaya sang kuda tidak membuang  angin.

Eh, bukan ini deh kayanya yang mau saya informasikan, heuheu. Opening video ini direkam menggunakan Huawei P10 dari atas delman yang tentunya berguncang-guncang terus seiring derap langkah sang kuda. Dan menurut saya di sinilah juaranya Huawei P10. Hasilnya stabil sekali bukan?

Sebuah video lagi akan saya tampilkan, Anda boleh memilih untuk fokus pada tulisan di kaos sang mas-mas, atau pada stabilnya hasil perekaman video Huawei P10 lagi, hahaha.

Yak, kita mulai video review dari Huawei P10 ini. Beberapa hari setelah melakukan unboxing ponsel ini, saya akhirnya memutuskan untuk menjual Honor 9 saya karena merasa P10 akan sanggup menggantikan tempatnya. Pikiran ini muncul akibat jeroan keduanya yang sama persis, namun P10 hadir dengan body yang lebih ramping dengan bahan backcover logam, yang memang tak memiliki refleksi seindah backcover kaca miliki Honor 9.

Adalah sebuah tulisan di pojok kanan atas sisi belakang Huawei P10 ini yang membuat ponsel ini ganteng bertingkat-tingkat. Ya, tulisan Leica ini adalah jaminan mutu. Buktinya? Kan sudah di opening tadi heuheu. Tapi saya akan munculkan lagi deh nih hasil foto dari kamera Huawei P10 yang dalam penilaian saya berhasil menyabet juara umum untuk kategori kamera, dengan peserta semua ponsel pintar yang pernah saya ulas.

Seperti umumnya smartphone Huawei lain, pada P10 ini mode manual juga hadir dengan lengkap baik pada mode foto maupun video. Portrait mode ada, termasuk juga wide aperture mode yang seperti biasa bisa melakukan re-focus setelah foto diambil, sehingga kita bisa menentukan ada di mana sang fokus, dan seberapa besar efek bokeh yang hendak dimunculkan.

Tak banyak yang bisa saya katakan, selain kameranya juara! Mengambil gambar menjadi kenikmatan tersendiri menggunakan Huawei P10 ini, karena hasilnya selalu memuaskan mata ini. Saya pikir Anda pun sudah dapat menilainya dari deretan foto yang saya ambil tadi ya.



Sekarang kita berpindah ke bahasan performa. Ternyata, walaupun sama-sama menggunakan processor HiSilicon Kirin 960 dengan sokongan RAM 4 GB, skor Antutu Honor 9 dan Huawei P10 terpaut cukup jauh, di mana skor Honor 9 ada pada kisaran 116-ribuan, maka skor P10 cukup menjulang pada angka 139-ribuan. Cukup ganjil ya, saya tak tahu apakah ada perbedaan pada kategori RAM ataupun storage yang digunakan sehingga skornya selisih banyak? Atau memang performa Honor 9 dicekik supaya baterainya lebih hemat?

Ya, karena sepemakaian saya, baterai Huawei P10 tak bisa sehemat Honor 9. Jika Honor 9 selalu dengan mudah menembus 24 jam walau intens digunakan, maka tidak dengan Huawei P10. Smartphone ini seringkali hanya bertahan sekitar 20 jam dalam pemakaian ringan, dan hanya bisa bertahan dari pagi sampai malam saja saat pemakaian lebih intens.

Tapi ini juga bisa jadi dari perbedaan cara kedua ponsel ini mengatur daya baterainya. Di mana pada Honor 9 terasa sekali notifikasi sering lebih lambat masuk, sementara Huawei P10 tergolong real-time untuk urusan ini.

Oh ya satu hal lagi soal perbedaan ini, Huawei P10 terasa lebih mudah menghangat di tangan saat digunakan bermain game atau merekam video. Mungkin faktor bahan logam yang lebih cepat menghantarkan panas ketimbang kaca ya.

Sampai saat ini, skor 2-1 untuk keunggulan Huawei P10, di mana ponsel ini unggul di sektor kamera dan performa, serta sedikit tertinggal dari Honor 9 dalam masalah daya tahan baterai.

Skor bisa jadi sama kuat jika kita menghitung harga jual dari kedua smartphone ini. Huawei P10 jelas lebih mahal dari Honor 9, selain karena statusnya sebagai flagship Huawei tahun ini, mungkin lisensi Leica juga tak murah untuk ditebus ya. Saat ini Huawei P10 dijual pada harga $470 atau sekitar 6,5 juta Rupiah di GearBest.com. Sementara entah kenapa Honor 9 dijual pada harga $462 saat ini, padahal saya ingat saat Black Friday lalu harganya sempat menyentuh sekitar $330 saja alias sekitar 4,5 juta Rupiah.

Honor 9 saya sendiri dulu saya beli seharga 5,8 juta Rupiah di tokopedia.

Nah jadinya saya bingung, mau menetapkan harga berapa untuk Honor 9 pada perbandingkan kali ini. Dari itu, saya skip deh membandingkan aspek ini pada kedua smartphone Huawei ini.

Terlebih, ada kabar Huawei P10 ini segera dirilis resmi di Indonesia. Melihat harga Nova 2i yang sudah dirilis duluan, dan harga Huawei P9 saat pertama dijual tahun lalu, tebakan saya rasanya harga P10 ini takkan jauh dari angka 7 juta deh, atau mungkin 8 jutaan untuk versi plus-nya. Walau sebetulnya ada sedikit keyakinan dalam hati saya bahwa Huawei akan menjualnya lebih mahal dari itu sih, jika melihat dari pola sebelumnya. Tapi kita lihat nanti saja ya.

Jika disuruh memilih antara Honor 9 dan Huawei P10, saat ini saya lebih condong kepada nama pertama. Ya, Honor 9 lebih ngangenin menurut saya. Sensasi backcovernya itu belum dapat tergantikan. Sementara Huawei P10 memiliki desain yang lebih mainstream.

Tapi urusan kamera yang juara banget dan notifikasi yang lebih real-time memang tak bisa didapatkan pada Honor 9. Serta Huawei P10 memiliki ukuran yang lebih compact.

Untuk performa sih keduanya sama-sama gegas, saya jamin Anda takkan bisa membedakan kinerja keduanya dalam keseharian. Honor 9 sedikit lebih unggul dalam daya tahan baterai dan tak cepat hangat.

Oh ya, Huawei P10 tak memiliki tombol kapasitif selain tombol home yang sekaligus berfungsi sebagai fingerprint scanner ini ya. Navigasi bisa dilakukan dengan dua cara, di mana yang pertama dalah cara konvensional yaitu dengan on screen button. Kedua adalah dengan memanfaatkan tombol home, di mana sentuh sekali berfungsi sebagai back, sentuh dan tahan sebagai home, geser ke samping sebagai recent apps, dan menyapu layar dari bagian bawah luar ke atas untuk mengakses Google Assistant.

Fingerprint scannernya sendiri super cepat dan super akurat. Sip lah pokoknya.


Apa Kata Aa Gogon tentang Huawei P10

Kesimpulan saya, dengan harga yang harus dikeluarkan saat menebus Huawei P10 saat ini yang sudah mencapai 6,5 jutaan saja, ini bisa jadi flagship yang cukup terjangkau. Dapat kamera kelas flagship, bersertifikat Leica dengan hasil foto juara dan video yang sangat stabil. Body compact juga rasanya sudah cukup jarang juga ditemukan pada flagship jaman now ya.

Eh tapi kadang suka ada coupon discount lho di GearBest, saya sertakan di deskripsi video ini juga ya, lumayan soalnya kalau code coupon-nya berhasil, jadi tinggal $429 saja alias 5,9 jutaan lho!

Kalau soal looks ya memang walau tetap kece, bisa dibilang overall ini masuk ke desain yang mainstream sih. Satu hal yang sangat-sangat saya suka dari desainnya malah ada pada aksen merah pada tombol powernya itu hihihi.

Jadi, dengan harga segitu, menurut saya cukup lengkap apa yang didapat, kamera, desain, hingga ke performa. Satu-satunya yang butuh peningkatan menurut saya adalah daya tahan baterai saja.

Oh ya lupa, untuk multimedia juga Huawei P10 ini jempolan banget. Layar tajam dengan sudut pandang luas, dilengkapi dengan loudspeaker dengan output jernih dan power yang cukup bertenaga. Asik lah buat youtube-an mah.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review Nokia 6 Indonesia, Sekokoh Nokia 3310 Dulu



Nokia 6 ini sebetulnya bukan barang baru di Indonesia. Ya, jauh sebelum HMD Global memboyongnya secara resmi di sini, para pelapak online sudah lebih dulu menyediakannya dalam berbagai varian RAM dan storage. Sementara yang akhirnya masuk resmi di sini adalah Nokia 6 dengan RAM 3 GB dan storage 32 GB dan dijual pada harga 3-jutaan, bahkan 2-jutaan pada beberapa promo e-commerce.

Lah koq, dempetan bener ya harganya sama Nokia 5. Mana processor dan kapasitas RAM-nya sama pula. Jadi, apa sebetulnya pembeda dari Nokia 5 dan Nokia 6 ini? Mau tau? Janji dulu dong, videonya ditonton ga pake skip, hehehe.



Perbedaan paling mendasar dari Nokia 5 dan Nokia 6 jelas ada komponen fisiknya. Pertama desain, Nokia 6 hadir dengan dimensi layar 5,5 inci yang membuatnya lebih besar dan juga lebih berat dari Nokia 5. Selain itu, frame pinggir ponsel ini dibuat lurus dan lebih kotak, sedikit banyak mengingatkan saya pada style-nya iPhone 4 dan 5. Body berbahan logam ini memang terasa sekali solid alias kokoh, namun saya tak nyaman dengan tepiannya yang terasa tajam. Layar 2.5 D-nya pun tak lagi terasa nyaman di ujung jari karena tepat bersebelahan dengan chamfered metal yang terasa lancip.

Dan memang, desain Nokia 6 ini masih banyak menganut gaya khas Nokia pada era jayanya dulu. Eh erajaya, kaya pernah denger nama ini ya, hahaha.

Nah, perbedaan selanjutnya ada pada resolusi layar yang sudah Full HD, kamera belakang yang lebih besar resolusinya di 16 Megapixels, storage 32 GB, hingga dukungan Dolby Atmos untuk audio dari Nokia 6 ini.

Sayangnya, walau storage bawaannya lebih besar dari Nokia 5, Nokia 6 ini malah mengusung hybrid slot sim card. Padahal semasa mengulas Nokia 5, saya sudah senang banget dengan triple-slot yang dimilikinya.

Lalu apa arti dari semua perbedaan itu? Kalau menurut saya, semua perbedaan itu tidaklah masalah, asal kita saling menghargai satu sama lain.

Bentar deh, ini kan review ponsel, kenapa pula bahas itu hahaha.

Dari semua perbedaan itu, yang paling bisa saya rasakan adalah Nokia 6 memiliki layar yang lebih bagus. Selain lebih tajam, reproduksi warna-nya juga terlihat lebih vivid.

Begitu juga dengan kameranya, walau tak terlalu siginifikan, tetapi saya melihat gambar yang dihasilkan Nokia 6 terasa lebih hidup jika dibandingkan dengan Nokia 5. Hal inipun berlaku untuk perekaman video.

Overall sih kameranya masih tergolong baik, meski tanpa mode manual. Yang jadi permasalahan lebih ke performanya saat mengambil gambar yang menurut saya kurang lebih dipengaruhi oleh pilihan processor yang digunakan. Sehabis saya menampilkan hasil foto dan video ini, kita bahas performa yah.



Masuk ke bahasan performa, Snapdragon 430 di Nokia 6 ini kurang lebih sama dengan di Nokia 5. Terasa kurang gegas untuk multitasking dan gaming. Dan ini sangat masuk akal mengingat resolusi layarnya yang lebih tinggi.

Fingerprint scanner yang saat unboxing terasa cepat, perlahan mulai melambat juga seiring dengan banyaknya aplikasi yang saya install dan buka.

Konsumsi daya Nokia 6 ini juga sedikit lebih boros dari Nokia 5, yang lagi-lagi saya yakini adalah andil dari layarnya yang lebih besar dan lebih tinggi resolusinya. Dalam pemakaian saya, Nokia 6 hanya mampu bertahan dari dini hari saat saya melepas charger, hingga sekitar pukul 9 atau 10 malam saat saya hendak beranjak tidur.

Di sini saya merasa ada sesuatu yang kurang pas pada jajaran produk Nokia. Maksudnya, gap antara produkya masih terlalu lebar. Dari Nokia 5 dan 6 yang menggunakan Snapdragon 430 di harga 2 hingga 3 jutaan, langsung loncat ke Nokia 8 yang diotaki Snapdragon 835. Harga Nokia 8 sendiri belum saya ketahui, meskipun santer kabar bahwa perangkat ini juga akan masuk resmi di Indonesia. Namun saya rasa harganya di atas 7 juta Rupiah deh.

See, ada ruang kosong di antara Nokia 6 dan Nokia 8, baik dari harga maupun spesifikasi. Apakah akan ada Nokia phone dengan processor Snapdragon berkepala 6? Semoga saja ya, apalagi kalau harganya masih tiga hingga empat jutaan, layak ditunggu lah.


Apa Kata Aa Gogon tentang Nokia 6

Masuk ke kesimpulan, Nokia 6 terasa lebih pas jika Anda menginginkan smartphone berlayar besar, dan tak masalah menggunakan case. Ya, karena bagi saya rasanya takkan nyaman apabila Nokia 6 digunakan tanpa case, tepiannya tajam.

Nokia 6 ini hadir dengan bahan yang solid demi menjaga citra ponsel Nokia yang dikenal tahan banting, namun sedikit saya sayangkan karena mengorbankan keergonomisannya.

Kamera sedikit lebih baik dari Nokia 5, audio cukup baik juga, walau enhancement dari Dolby Atmos-nya kurang signifikan, dan pengaturannya tak selengkap fitur yang sama yang saya temukan pada ponsel lain.

Jika 32 GB cukup bagi Anda, atau jika Anda tak butuh dual-sim, Nokia 6 jelas pilihan yang lebih sesuai daripada Nokia 5.

Namun lagi-lagi ponsel Nokia ini bukan ponsel yang cocok untuk Anda yang senang bermain game, apalagi yang berat-berat.

Dengan harga yang tak terpaut jauh, Anda bisa menyesuaikan kebutuhan dengan karakteristik yang dimiliki oleh Nokia 6 atau Nokia 5, jika memang Anda keukeuh mau ber-reuni dengan brand ini. Review Nokia 5 sudah lebih dulu saya buat dan bisa Anda saksikan pada video yang ada pada card di pojok kanan atas layar ini, atau pada bagian rekomendasi di bagian akhir video ini ya.

Demikian yang bisa saya sampaikan tentang Nokia 6 ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, December 18, 2017

Review Nokia 5 Indonesia, Aku Masih Seperti yang Dulu



Pada video unboxing-nya yang lalu, saya melihat ada dua kubu netizen yang menuliskan komentar. Kubu pertama adalah mereka yang punya kenangan dengan produk Nokia pada masa jayanya dulu, dan bahagia dengan kehadiran Nokia 5 ini. Sementara kubu kedua adalah yang sanga kritis melihat spek di atas kertas berbanding harga, dan menilai masih banyak hape lain yang lebih mending. Kita bisa tahulah sejak kapan kubu kedua baru mulai akrab dengan smartphone, betul sejak jaman banyak flash sale di Lazada, hahaha.



Lalu masuk ke kubu manakah saya setelah menguji Nokia 5 ini? Kalau mau tahu, tonton dong videonya sampai habis, hehehe.

Nokia 5 ini hadir dengan beban sejarah panjang Nokia yang teramat sukses pada medio tahun 2000an. Yup, sebelum dunia ini terpecah menjadi dua kubu, penyuka buah atau penyuka robot.


Nokia 5, Desain dan Build Quality

Untuk masalah desain dan build quality, saya menilai Nokia 5 berhasil mempertahankan apa yang pernah mereka miliki. Looks yang simple tetapi elegan, hadir tanpa sudut membuatnya ergonomis dan nyaman digenggam. Bahannya terasa kokoh, garis desainnya pun tegas.

Sisi belakangnya mengingatkan saya pada backcover Nokia Asha 210 milik mertua saya. Sementara sisi depannya terlihat manis dengan layar 2.5D yang sangat ramah di jari. Dengan dimensi layar 5,2 inci, memang sih jidat dan dagu ponsel ini sedikit terlalu besar,.karena saat saya bandingkan dengan ponsel lain yang memiliki layar 5,5 inci, ukurannya hampir sama.

Fingerprint scanner hadir pada posisi kesukaan saya, dengan ukuran yang agak sempit, namun tidak menganggu tingkat akurasinya yang baik. Yang agak saya permasalahkan lebih ke waktu responnya yang tergolong kurang gegas saat digunakan membuka kunci layar.

Tombol kapasitif hadir dengan backlight, sementara LED notifikasi harus absen pada Nokia  5 ini.

Di sisi bawah kita dapat menemukan speaker grille yang desainnya manis. Output loadspeaker ini menurut saya bagus, dalam arti terkontrol dengan baik untuk menghasilkan detail suara yang pas, tidak anyep, namun memang powernya biasa saja. Silakan didengarkan lagu yang saya putar berikut ini.

Dikombinasikan dengan layar HD 5,2 incinya, Nokia 5 dapat digunakan menikmati konten multimedia dengan baik. Layar ini memiliki tingkat visibilitas yang baik juga di bawah terik matahari, ternyata inilah yang disebut dengan polarised display itu.


Nokia 5, Performa

Keluhan mulai terasa setelah sekitar dua hari saya gunakan dan banyak aplikasi saya install. Multitasking terasa jadi menyiksa ketika untuk berpindah aplikasi saja kadang butuh waktu lebih dari satu detik. Seingat saya, ponsel Android lain yang sama-sama menggunakan processor Snapdragon 430 banyak koq yang tetap lancar saat membuka banyak aplikasi. Lalu kenapa di Nokia 5 ini terasa agak payah ya?

Apalagi Nokia 5 ini menggunakan stock Android OS, yang harusnya tak banyak menambah beban kerja RAM-nya yang berkapasitas 3 GB. Sisi positif dari penggunaan pure Android seperti ini adalah semua notifikasi selalu hadir dengan real-time, tanpa harus mengatur aplikasi mana yang mau dikunci dan mana yang harus autostart.

Performa yang agak berat ini juga berlanjut saat digunakan bermain game yang belakangan ini senang saya coba kembali. Apakah ini akibat sebelum mencoba Nokia 5 ini, saya baru saja menuntaskan proses uji pakai sebuah smartphone berprocessor Snapdragon 820 mungkin ya? Bisa jadi!

Satu hal yang saya nilai positif adalah daya tahan baterai Nokia 5 yang selalu mampu menembus 24 jam, walau digunakan secara intens. Seringkali saya pergi ke kantor dengan baterai tak penuh dan hingga menjelang tidur, masih ada sisanya. Untuk pengisian dayanya sendiri cukup cepat, asalkan menggunakan kepala charger berarus besar. Ponsel ini mampu menerima arus hingga sekitar 1,8A pada tegangan 5 volt.


Nokia 5, Kamera

Saya akan tutup review dari Nokia 5 ini dengan bahasan kamera. Untuk ukuran smartphone dengan harga 2,8 jutaan, kameranya saya nilai standar saja. Kualitas gambar yang sama, dapat dihasilkan oleh ponsel lain yang harganya di bawah 2 juta malah. Walau detail dapat ditangkap dengan baik dari kondisi terang hingga redup, namun saya merasa hasilnya tidaklah istimewa-istimewa amat.

Untuk pengambilan gambar pada kondisi temaram, Anda akan butuh kesabaran ekstra karena prosesnya jadi jauh lebih lambat. Mungkin ini diperlukan agar gambar tetap baik hasilnya ya.

Untuk perekaman video, hasilnya juga ya seawajarnya saja hape dua jutaan lah. Stabilisasi tidak terasa, sementara framerate sangat cukup untuk membuat video yang dihasilkan tidak blur di sana-sini.

Hasil foto dan video dapat Anda saksikan sembari saya memberikan kesimpulan pada Nokia 5 ini.



Apa Kata Aa tentang Nokia 5

Menurut saya, HMD Global berhasil menghidupkan kembali Nokia melalui jajaran smartphone yang mereka rilis tahun ini di Indonesia.

Nokia yang desainnya minimalis namun elegan, Nokia yang build quality-nya baik, dan Nokia yang selalu lebih mahal dari pesaingnya. Hahaha.

Dengan harga jualnya saat ini, Nokia 5 menurut saya bolehlah dicoba untuk memuaskan kenangan Anda terhadap brand yang satu ini. OS-nya stock, notifikasinya realtime, dan baterainya awet, serta dibalut dalam desain menawan dengan body yang kokoh.

Tapi Anda tak bisa berharap banyak soal performanya untuk multitasking, gaming, dan kamera. Jadi harap bijak ya menyesuaikan kebutuhan Anda dengan budget dan value apa yang ditawarkan oleh sebuah produk smartphone.

Saya pun cukup menggunakannya selama seminggu untuk menuntaskan kepenasaran saya akan kenangan lama dengan Nokia.

Nokia sedikit banyak masih seperti dulu, iya dulu, saat mereka jadi pemimpin pasar, yang produk barunya selalu diburu walaupun harganya cukup tinggi. Dan dulu, saya lebih suka membeli ponsel Sony Ericsson sih daripada Nokia, hihihi.

Udah ah, review Nokia 5 saya akhiri di sini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!