Gadget Promotions

Wednesday, June 6, 2018

Review Samsung Galaxy J4, Tetep Bakal Laku Karena Ungu?



Konon, dari semua jajaran ponsel pintar yang dipunyai Samsung, hanya seri A, S, dan Note saja yang memang worth it, alias bagus.

Tiga kali menguji seri S pada S8+, S9, dan S9+ serta sekali mencoba seri A pada Galaxy A8,  plus perkenalan singkat dengan Galaxy Note FE, membuat saya setuju dengan kalimat awal tadi. Sulit mencari kekurangan produk-produk smartphone tadi, kecuali harganya yang premium saja.

Lalu bagaimana dengan seri J? Sejauh ini saya sudah mencoba J7 Core dan J7 Plus. Untuk J7 Plus saya masih banyak menemukan fitur-fitur kelas atas yang memang jadi wajar jika melihat bandrolnya. Sementara pada J7 Core saya sudah mulai bisa memilah dengan mudah, mana minusnya dan mana plusnya.

Lalu bagaimana dengan Samsung Galaxy J4 yang hanya saya uji selama sekitar 3 hari saja ini?



Saya bisa katakan bahwa smartphone ini takkan menarik minat Anda yang suka bermain game lama-lama di ponsel, yang masih memperhitungkan spesifikasi di atas kertas berbanding harga, dan sedikit bisa mengabaikan masalah layanan purna jual ya.

Betul, secara spesifikasi sih Samsung Galaxy J4 terlihat biasa saja, processor Exynos 7570 Quad-core dengan cortex A53, RAM 2 GB, serta storage 32 GB-nya jadi dapur pacu untuk display-nya yang berdimensi 5,5 inci, dengan resolusi HD 720p pada rasio 16:9.

Tapi jika Anda adalah orang yang memperhatikan masalah brand prestige, looks yang elegan, serta layar yang indah untuk dapat digunakan menikmati konten multimedia, Samsung Galaxy J4 bisa jadi masih memiliki daya tarik lebih, apalagi ada varian warna Ungu yang menurut saya jadi warna Samsung tahun ini. Ya, Ungu juga jadi andalan Samsung pada flagship mereka, S9 dan S9+ yang ternyata memang jadi warna favorit konsumen ya.

Okay, kita sudahi saja basa-basinya dan mulai masuk ke plus dan minus dari smartphone yang dibandrol Samsung seharga 2,3 jutaan ini ya. Alhamdulillah, ponsel ini sangat-sangat memudahkan pekerjaan saya karena sangat jelas apa saja titik kuat dan titik lemahnya hehe. Mari kita mulai dari kelebihannya ya.

1. Seperti saya bilang tadi, kelebihan utama ponsel ini tentu saja prestige brand-nya. Anda yang masih bujangan mungkin tak terlalu ngeh akan hal ini. Tapi coba deh datang ke acara ulang tahun anak di mana ibu-ibunya berlomba mengabadikan momen anaknya yang sedang bersosialisasi. Kalau tak iPhone, ya Samsung sih biasanya yang dipakai mereka, hehe.

Dan jangan lupakan juga bahwa Samsung punya layanan purna jual yang oke punya, tersebar hingga ke kota-kota kecil. Ini sendiri sudah jadi nilai lebih yang cukup signifikan ya, terutama bagi mereka yang memang berencana memiliki smartphone dalam jangka waktu yang panjang, bukan tukang gonta-ganti seperti saya.

2. Adalah looks-nya yang menawan, dengan kaca depan bertepian 2.5D dan warna ungu yang classy. Tidak ada kesan murahan sama sekali pada warna yang katanya identik dengan janda ini.

Selain itu, build quality-nya juga terasa solid, walau memang masih bermaterikan plastik alias polycarbonate. Saat Anda memegangnya, Anda akan segera tahu bedanya.

Bukan tak mungkin kan kalau masalah looks dan feels ini jadi kunci penentu saat pengguna yang masih galau datang ke toko offline untuk memilih apa yang akan dia beli selanjutnya?

3. Layar. Ya, layar sendiri bisa dipastikan jadi kekuatan dari smartphone keluaran Samsung. Super AMOLED yang vibrant dan sangat hidup warnanya ini dijamin bikin kesengsem mata yang melihatnya. Apalagi jika sudah terbiasa pakai smartphone dengan panel layar ini, bisa-bisa Anda takkan betah melihat layar smartphone 2-jutaan lainnya.

Walau cukup disayangkan, Samsung Galaxy J4 tidak mengoptimalkan panel layar ini dengan absennya fitur Always On Display ya.

4. Baterai yang awet dan dapat dilepas. Dengan baterai yang dapat dilepas seperti ini, Anda bisa menggunakan smartphone dalam jangka waktu yang lebih panjang. Di mana jika performa baterainya sudah menurun, cukup beli baterai pengganti saja bukan?

Daya tahan baterai berkapasitas 3.000 mAh ini sendiri sangat mumpuni untuk digunakan mengarungi hari. Dengan pemakaian aktif bermedia sosial dan kamera, sanggup melewati 36 jam dalam sekali pengisian daya, dengan Screen-on Time sekitar 4 jam adalah sesuatu prestasi yang baik. Rupanya ini tak terlepas dari processor-nya yang sudah memiliki fabrikasi 14 nm ya.

5. Slot ekspansi memory yang mandiri. Ya, Galaxy J4 ini punya dua slot micro-sim card, dan sebuah slot khusus untuk micro-SD. Jadi Anda bisa manfaatkan internal storage-nya yang cukup luas di 32 GB untuk menginstall aplikasi dalam jumlah banyak, dan file-file media disimpan di micro-SD saja.

Cocok kan buat emak-emak? Eh buat orang dengan kebutuhan social media, berfoto, dan banyak grup whatsapp maksudnya, hehe.

Untuk urusan performa, saya tak bisa memasukkannya ke kelebihan ataupun kekurangan. Performanya terasa cukup gegas walaupun RAM-nya pas banget di 2 GB. Saya betah-betah saja tuh pakai smartphone ini mendampingi dailiy driver saya. Apalagi, Galaxy J4 ini sudah didukung Samsung Experience versi terbaru, yaitu 9.0 yang sudah teruji dan terbukti nyaman saat saya pakai di Galaxy S9 lalu. Oh ya, skor Antutu-nya ada di angka 40-ribuan tebal, dan sayangnya saya tak sempat mengujinya untuk bermain game.

Kameranya sendiri sanggup menghasilkan gambar-gambar yang dapat dinikmati dengan baik, selama berada di luar ruangan atau pada kondisi cahaya cukup. Lowlights-nya sih seperti kamera hape sejutaan, payah. Kalau kamera belakangnya bisa terdongkrak performa lowlights-nya dengan penggunaan LED Flash, maka kamera depannya sudah tak tertolong lagi dalam kondisi lowlights.

Silakan bagi Anda yang mau menyaksikan sendiri hasil foto dan videonya berikut ini. FYI, videonya punya warna yang hidup, tapi tak punya stabilisasi ya.



Okeh, kamera dalam kondisi lowlight saya anggap sebagai kekurangan nomor satu deh.

Nomor duanya adalah hardware yang banyak disunat. Berikut ini adalah daftar sunatan hardware yang terjadi pada Galaxy J4 ini.
1. Sensor-sensor yang banyak ditiadakan pada smartphone ini.
2. Tidak adanya LED notifikasi
3. Tidak adanya LED Backlight untuk tombol kapasitif
4. Tidak adanya secondari microfon untuk noise cancelling

Nah sekarang lanjut ke nomor tiga ya. Minus ini lebih ke penempatan loudspeaker yang ada di punggung ponsel dan rawan tertutup saat diletakkan di atas meja, apalagi kalau sampai diletakkan di atas kasur. Dijamin suaranya terpendam deh. Sesuatu yang dipendam itu kan tidak baik, nanti bisa jerawatan lho, hahaha.

Sebetulnya kualitas loudspeaker ini masing sanat enjoyable, di mana pada volume terkencang pun tidak sampai pecah suaranya, namun untuk power dan detailnya memang tergolong rata-rata saja.

Kekurangan nomor empat adalah posisi slot simcard-nya yang terhalang oleh baterai. Jadinya untuk berganti nomor, kita harus mematikannya dulu agar aman untuk melepas baterainya. Atau dengan kata lain, simcard-nya ini tidak hot swapable ya.

Kekurangan nomor lima dan jadi terakhir dalam daftar yang saya buat ini adalah kekurangan paling krusial dari smartphone ini. Ya, tidak adanya sensor sidik jari alias fingerprint scanner adalah sesuatu yang terasa menjengkelkan ketika semua ponsel dua jutaan dari brand lain sudah memilikinya. Bahkan hape sejutaan saja sudah pada punya.

Walau cukup terbantu dengan tombol home yang bisa digunakan untuk menyalakan layar sebelum kita membuka kuncinya, tapi tetap saja rasanya akan jauh lebih ringkas apabila memakai fingerprint scanner ya.

Nah, bagaimana menurut Anda setelah melihat daftar kelebihan dan kekurangan dari ponsel ini? Tetep maju tak gentar karena sudah kesengsem dengan warna ungunya? Atau mundur teratur dan memilih bersabar menunggu yang ghoib? Pilihan saya kembalikan kepada Anda ya.

Namun, jika Anda bingung ingin memilih antara Galaxy J7 Core atau Galaxy J4 ini, saya bisa dengan tegas menyarankan Anda untuk meminang Galaxy J4 saja. Terasa lebih gegas, dan juga tampilannya sudah jauh lebih kekinian.

Itu saja yang bisa saya sampaikan dari perkenalan singkat saya dengan Samsung Galaxy J4 ini. Walau memang tak bisa dikatakan punya price-to-spec comparison yang baik, entah kenapa saya yakin produk ini akan laku-laku saja di pasaran.

Karena rasa-rasanya orang yang ingin membelikan smartphone untuk orang tua, anak sekolah, dan pengguna smartphone pemula lainnya, bisa jadi lebih cocok dengan brand dan layanan purna jualnya ya daripada mengejar spesifikasi dan harga.

Ini pendapat saya saja ya, bukan fakta, jadi sangat debatable. Bisa jadi pendapat Anda akan berbeda, dan mari belajar saling respek walau berbeda suara. Hehe.

Okay sip, penonton yang smart, saya sudahi dulu ulasan kali ini, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, May 25, 2018

Review Hape Jadul, Sony Xperia C4 Dual, Layakkah Jadi Old but Gold?



Video pada review kali ini saya buat sepenuhnya menggunakan Samsung Galaxy Note FE. Baik gambar maupun suaranya.

Coba siapa yang masih ingat saya pernah unbox hape yg sejatinya adalah Galaxy Note 7 yang diperbaiki ini?

Oke, kita bahas Sony sekarang ya. Saya tidak akan bahas Galaxy Note FE-nya lagi, Anda nilai langsung saja dari kualitas gambar dan suara pada video ini.


Jaman Nokia berjaya dulu, Sony Ericsson adalah favorit saya. Saya yang dulu memang anti kemapanan, dan anti hape mainstream. Juga karena dulu uang saku bulanan mahasiswa jarang sisa sih, hahaha.

Lalu ketika brand ini bertransfromasi kembali menjadi Sony saja, saya masih suka. Maksudnya suka mupeng. Beli sih jarang banget. Mahal bos!

Dan seterusnya begitu, hape Sony yang berbasis Android memang tergolong mahal dibandingkan merk lain. Termasuk si Xperia C4 Dual ini, yang harga perdananya dulu di atas 4 juta Rupiah. Mahal!

Saya saja baru kesampaian beli sekarang, pas harganya tinggal 1,4 jutaan doang. Dan pas hape ini udah ketinggalan jaman hahaha.

Walau begitu, ada beberapa nilai positif yang harus saya berikan kepada ponsel ini. Antara lain:

1. Punya NFC, hape sejutaan jaman now susah cari yang ada NFC-nya.
2. Kameranya bisa mengenali scene yang sedang dibidik. Jaman sekarang, harus diembel-embeli ada AI-nya kalau yang begini. Padahal Sony ternyata sudah bisa dari dulu. Dia bisa tahu kapan saya sedang ambil bidikan macro, kapan saya lagi foto makanan. Keren kan?
3. Punya efek AR pada kameranya. Buat anak-anak ini jadinya fun banget, bisa ada dinosaurus atau kurcaci dan rumah jamurnya. Ya buat lucu-lucuan lah. Hasil kameranya pun cukup baik, ya mungkin bisa setara lah dengan hape 2-3 jutaan jaman sekarang.
4. Punya 3 slot kartu dedicated. Dan walaupun jadul, hape ini slot simcard-nya berukuran nano lho. Jadi yang udah kadung pakai nano-sim ya tinggal colok saja.
5. Xperia UI-nya saya suka, notif selalu always real-time.

Apa lagi ya? Kayanya sudah deh itu aja. Sementara nilai minus yang saya berikan, memang kebanyakan dipengaruhi spesifikasinya yang sudah ketinggalan banyak. Tapi hayuk lah kita mulai berhitung saja.

1. Performa MTK6752 dikombinasikan dengan RAM 2 GB buat jaman now, empot-empotan euy! Multitasking agak keteteran di mana pindah apps kerasa ada jeda, apalagi dipakai main game. Masih bisa sih maen PUBG dengan grafis low, tapi ya gitu deh, kalah mulu. Ngelag soalnya heuheu.
2. Masih lanjutan dari performa, dipakai maen PUBG 1 jam aja baterainya turun hampir 50%. Dan dengan berbagai pola pemakaian saya, screen-on time-nya mentok 2 jam lebih dikit. Ya bisa sih battery usage tembus 24 jam, kalau jarang banget dipake, screen-on timenya aja cuma sekitar sejam. Jadi, baterai 2.600 mAh-nya ngga bisa diandelin buat ngegame ya gaiss!
3. OS-nya mentok di Marshmallow dengan security patch yang jadul abis, 2016 kalo ga salah inget ya. Masalahnya di penghujung 2017 ada patch security yang penting banget di berbagai OS terkait masalah keamanan network saat menggunakan Wi-Fi. Jadi ya, agak gimana gitu ya makenya.
4. Bezel tebal di mana-mana. Patut dimaklum sih, ini hape dengan pakem desain 3 tahun lalu. Dan pada masanya, bezel bawah segini tuh udah tergolong tipis sih. Hare gene? Maaf-maaf aja ya, haha.
5. Masih gampang demam, ya penyakit Sony jaman dulu adalah kurang cakap dalam mengatur pembuangan panas. Walau ga sampai overheat, tapi ponsel ini cukup sering menghangat dalam genggaman.

So, itu dia 5 penilaian positif dan negatif untuk Sony Xperia C4 Dual di tahun 2018 ini.

Saya cuma bisa merekomendasikan ponsel ini jika Anda punya tujuan mengkoleksinya, atau menjadikannya ponsel backup saja ya. Karena kameranya bisa diandalkan jika sesekali Anda gunakan berfoto.



Udah lihat hasil kameranya? Ya udah, gitu aja. Saya ga bisa merekomendasikan ponsel ini selain untuk dua tujuan tadi. Terlalu ketinggalan euy. Mending nambah 15 juta aja biar dapet iPhone X, ya ga, hahaha. Becanda ya, mbok jangan diseriusin mulu toh....

Demikian ulasan yang diproduksi menggunakan Samsung Galaxy Note FE ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam.

Monday, May 21, 2018

Review Samsung Galaxy Note Fan Ediiton, Samsung Paling Worth The Money?



Assalamualaikum, ini adalah review dan video pertama yang proses pengerjaannya dilakukan di bulan Ramadhan 1439 Hijriah. Semoga ngga kentara lemesnya ya hehe, maklum masih adaptasi nih.

Okay, sebelum ulasannya dimulai, ada sedikit latar belakang proses review yang ingin saya ceritakan. Pertama smartphone ini saya unbox bulan November 2017 dan baru dibuatkan review-nya Mei 2018 karena sejatinya ini adalah daily driver ibu negara. Sekarang alhamdulillah ada rezeki untuk upgrade ke Galaxy S9+ warna ungu yang sudah lama diidamkannya.



Ya, istri saya memang dari pertama kenal Android, tak pernah berganti merk dari Samsung.

Dulu saya suka bingung, apa sih yang spesial dari Samsung? Karena harganya tak bisa dibilang murah, apalagi jika dibandingkan kompetitor.

Pandangan saya mulai berubah ketika mencoba Galaxy J7 Plus, dilanjut Galaxy A8 dan puncaknya ada saat saya dibuat takjub oleh Galaxy S9. Saya sarankan Anda menonton review Galaxy S9 di channel saya ini deh, biar tahu alasannya kenapa.

Yap, saya yang kata netizen adalah huawei fans ini, selalu dibuat nyaman oleh Samsung Experience. Dan sebagai informasi, Galaxy Note FE baru saja mendapat update software yang membawa peningkatan ke versi Android Oreo 8.0 serta Samsung Experience 9.0.

Lalu, harganya juga mengalami update, tapi berupa penurunan sebanyak satu juta Rupiah. Entah hanya promosi sesaat atau memang harganya mengalami koreksi, namun saya lihat iklan erafone yang menyatakan harganya turun dari Rp 7.999.000 ke Rp 6.999.000.

Dan dengan ini saya pun menyatakan inilah dia smartphone Samsung paling worth the money saat ini. Walau belum memiliki Infinity Display, jangan lupakan bahwa Galaxy Note Fan Edition ini sudah memiliki layar Super AMOLED beresolusi 2K dengan tepian EDGE di kiri dan kanan. Satu hal yang tak dimiliki S-series adalah S-Pen alias stylus yang tentunya akan sangat menambah value smartphone ini, dengan catatan bagi mereka yang memerlukannya.

Saya sendiri sangat jarang menyentuh S-Pen ini, haha. Padahal sebetulnya benda ini sangat berguna, untuk menulis catatan dari keadaan layar mati misalkan. Atau mau corat-coret hasil screenshot? Buat seniman sih dipake bikin sketsa juga bisa, soalnya stylus ini bisa mengenali tekanan sehingga garis yang dibuatnya bisa diatur tebal tipisnya.

Lalu hal selanjutnya yang membuatnya jadi paling worth the money adalah kameranya. Performanya sangat prima, bokeh dengan satu lensa bisa dihasilkan dengan baik, warna yang keluar pun terbilang sangat apik. Lalu jika dipakai merekam video, OIS-nya sudah sangat terasa membuat stabil videonya. Siapa di sini yang sudah melihat review Sony Xperia C4 yang diproduksi menggunakan smartphone ini saja? Intinya kameranya masih sangat bisa diandalkan meskipun umur asli dari smartphone ini sudah menginjak 2 tahun ya.

Okay silakan dilanjut melihat hasil foto dan videonya, sementara saya ambil nafas dulu ya hehe.



Masalah performa, sebetulnya saya nyaris tak pernah bermain game selama mencoba Galaxy Note FE. Soalnya PUBG biasa saya mainkan di ASUS Zenfone Max Pro M1, biar bisa lama-lama mainnya hehe.

Tapi, ini adalah hape flagship, yang harusnya sih ga akan punya masalah soal performa. Lihat saja skor Antutu Benchmark-nya. Coba fokus di bagian skor CPU-nya yang mengalahkan 99% user lain padahal ini adalah smartphone yang aslinya dirilis 2 tahun lalu.

Nah, sayangnya soal performa ini memang acapkali tak dibarengi ketahanan baterai yang mumpuni. Tak boros tapi juga sama sekali tak bisa dikatakan hemat. Sepemakaian saya selalu hanya mampu bertahan dari pagi hingga malam saja, belum pernah menembus 24 jam dengan pemakaian ala saya yang rata-rata menghasilkan screen-on time 3-4 jam.

Seandainya saya tak pernah mencoba Galaxy S9, mungkin looks dari Galaxy Note FE ini bisa memuncaki klasemen di hati saya, halah. Ya, looks-nya terasa sangat mewah, dengan warna biru coral yang indah mempesona. Walau saya pribadi tak suka dengan warna frame-nya yang keemasan. Kenapa tak pakai biru saja lagi, atau silver saja.

Memang sudah kurang kekinian ya, rasio layarnya masih 16:9, dan juga sudut-sudut layar yang tak dibuat membulat.

Tapi kalau kamu bisa dapat smartphone dengan kekuatan selengkap ini ditambah layanan purna jual prima milik Samsung sih rasanya sudah sangat tinggi lah price-to-value comparisonnya. Bahkan sedikit lebih worth the money mungkin dibanding Galaxy S9, kecuali jika kamu mementingkan sekali hasil kameranya. Terutama kamera depan Note FE yang saya nilai biasa banget, dan jauh sekali jika dibandingkan dengan Galaxy S9.

So, sebelum produknya discontinue, ada baiknya diamankan deh sekotak hehehe.

Gitu saja ya ulasan kali ini, semoga membantu menemani ibadah bulan Ramadhan kali ini bagi mereka yang menjalankannya.

Inget, jam makan siang jangan melipir ke warteg bertirai ya, hihihi.

Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Friday, May 18, 2018

Review ASUS Zenfone Max Pro M1, di LUAR keBIASAan!



Jika beberapa bulan lalu ada yang meminta rekomendasi ponsel Android berbaterai besar dengan harga maksimal 2,5 juta, dan harus punya jaringan layanan purna jual resmi yang mudah diakses, mungkin pilihannya jatuh kepada ASUS Zenfone 4 Max 5,2 inch.

Ponsel ini cukup nyaman digunakan koq, buktinya kakak saya hingga saat ini masih betah memakainya. Namun jika syarat baterai besar diganti dengan daya tahan baterai cukup seharian, maka saya akan lebih merekomendasikan ASUS Zenfone 3 5,2 inch saja yang punya kekuatan merata di semua sektor.

Tapi semua berubah. Di luar kebiasaan, ASUS tiba-tiba mengenalkan lini produk baru, yaitu M1 series yang diembel-embeli nama Zenfone Max. Agak bingung dengan Zenfone Max Plus M1, kini langkah yang ditempuh ASUS saat merilis Zenfone Max Pro M1 semakin membuat saya bertanya-tanya, Ada Apa dengan ASUS?

Mari kita bahas dulu apa saja yang berbeda dengan produk ini, termasuk proses pemasarannya ya.

Pertama, tahun ini ASUS sudah biasa menggelontorkan produk ke pasaran terlebih dahulu, sebelum melakukan peluncuran resminya. Zenfone Max Pro M1 tidak, tak ada satupun penjual yang mempunyai stoknya, karena ternyata sementara ini dijual eksklusif di Lazada, dan dengan sistem flash sale.

Kaya ngga ASUS banget ya? Nah kita lanjut ke bahasan kedua kalau gitu. Harganya juga ngga ASUS banget koq. Rp 2.299.000 untuk spesifikasi seperti ini adalah sesuatu yang luar biasa, bahkan kompetitor langsung ASUS pun belum mampu menjual semurah ini. Lebih gila lagi, masih ada diskon 100 ribu Rupiah lho semasa promosi Ultah Lazada.

Hasilnya sangat gampang ditebak. Banyak yang tidak kebagian. Sejak kapan produk ASUS susah dicari coba?

Oke saya sudahi bahasan tentang pemasarannya di sini. Kita mulai masuk bahasan terhadap produknya. Rupanya di sinipun masih terjadi hal luar biasa alias di luar kebiasaan itu. Pada Zenfone Max Pro M1 ini, ASUS tak menyematkan ZenUI dan memilih Android Pure Vanilla alias stock sebagai tampilannya.



Entah apa yang terjadi, apakah engineer ASUS tak sempat melakukan porting ZenUI untuk dipadukan dengan hardware terbaru, atau ada alasan lain di balik keputusan ini. Bagi saya sih ok-ok saja, karena dampaknya performa terasa semakin smooth saja. Walau demikian ada beberapa fitur Zen UI yang saya rindukan jadinya.

Performance wise, Snapdragon 636 yang dijadikan inti dari powerhouse Zenfone Max Pro M1 ini memang mampu memberikan kepuasan dengan user experience yang selalu lancar jaya. Dan Anda akan sangat-sangat terhibur jika melihat skor Antutu Benchmark hape 2 jutaan bisa setinggi ini.

Dalam dua gaya penggunaan yang berbeda, Zenfone Max Pro M1 ini memiliki daya tahan baterai yang memuaskan. Pada percobaan pertama, dengan heavy usage di mana saya banyak menginstall aplikasi baru, melakukan tethering selama hampir 8 jam, berfoto dan juga live di Instagram, smartphone ini mampu bertahan selama 33 jam dengan screen-on time lebih dari 5 jam.

Pada percobaan selanjutnya saya memperlakukan Zenfone Max Pro M1 ini sebagai ponsel backup, di mana social media masih menyala, termasuk whatsapp yang aktif dengan sekitar 6 grup, namun hanya saya nyalakan sesekali saja. Hasilnya sungguh membuat bulu kuduk saya bergidik, tembus 4 hari 4 malam dengan screen-on time hampir 9 jam!

Ini membuktikan bahwa dalam keadaan idle, Snapdragon 636 sangat irit mengonsumsi daya. Dan jangan lupakan bahwa ini tak lepas dari andil besarnya kapasitas baterai ponsel ini. Berapa besar? Masa sih ngga tahu, 5.000 mAh guys! Dan ya, memang lebih besar dari tetangga sebelah yang sedikit lebih mahal itu.

Tanpa ZenUI, berarti kameranya juga tanpa Pixel Master ya. Kali ini ASUS memilih menggunakan aplikasi Snapdragon Camera yang sepintas mirip Google Camera, termasuk kemampuan bokehnya. Ya, kamera belakangnya yang ganda kali ini tidak memiliki setup normal dan wide, tapi mampu membuat foto-foto bokeh yang cukup menawan.

Dan uniknya, bokeh ini juga bisa dihasilkan oleh kamera depannya yang hanya sebatang kara. Dalam beberapa kali pengujian, beberapa kali saya menemukan lag saat melakukan pengambilan gambar, dan masalah ini nampaknya merupakan andil software ponsel ini yang terus mendapat pembaharuan dari ASUS. Dari sejak unbox sampai saat menulis naskah video ini saja, sudah 2x update OTA saya terapkan.

Hasil foto dan videonya silakan dilihat langsung saja ya. Kalau penilaian saya sih untuk harga 2-jutaan, segini cakep lah. Tapi saya ngga bilang ini kamera paling cakep di hape 2-jutaan ya. Tolong bedakan hehe.



Overall, saya yakin semua akan setuju bahwa ponsel ini bisa jadi paling value deal di semester pertama 2018 ini. Processor terbaru Snapdragon 636, Baterai besar 5.000 mAh, latar Full HD+ 5,99 inch yang sangat usable, hingga kehadiran kamera ganda yang bokehnya ok banget.

Namun bukan tanpa keluhan ya, saya merasa dari sisi software ASUS masih akan banyak melakukan penyempurnaan. Dan semoga ini juga mampu memperbaiki kinerja fingerprint scanner-nya yang angin-anginan.

Untuk masalah looks pun saya bisa bilang desain ini membosankan walau memang jadi ciri khas produk smartphone ASUS tahun ini.

Kesimpulannya, ASUS Zenfone Max Pro M1, LUAR BIASA! Alias serba di luar kebiasaan. Produknya sendiri sudah pasti worth the money dan value deals banget. Selamat berebutan aja deh dari saya hehe.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Thursday, May 3, 2018

Review Huawei Nova 2 Lite, Ini Dulu Sebelum Loncat ke Bis Kopaja Jurusan Lebak Bulus - Senen (IYKWIM)


Huawei baru saja meluncurkan smartphone terbaru dari deretan seri Nova di Indonesia, namanya Huawei Nova 2 Lite.

Info aja nih, yang varian warna birunya punya backcover kinclong dengan refleksi yang menawan. Tapi yang saya ulas ini yang warna hitam dengan finishing doff pada backcovernya yang menurut saya lembut di kulit dan tak mudah kotor. Biar beda dari yang lain, saya pilih hitam saja, haha.

Sekeliling framenya berwarna metalik gelap dengan lengkungan yang cukup untuk membuatnya nyaman dalam genggaman.



Dari apa yang ditawarkan oleh Nova 2 Lite ini, nampaknya Huawei ingin menawarkan berbagai fitur yang sedang trend saat ini, pada rentang harga yang lebih terjangkau, di mana umumnya produk Huawei memiliki bandrol harga yang terbilang cukup premium.

Dijual dengan harga 2,5 jutaan, membuat ponsel ini menjadi seri Nova yang paling terjangkau saat ini. Dan pada level harga tersebut, Huawei memberikan berbagai fitur menarik untuk dapat dinikmati pecinta ponsel-ponsel brand yang memiliki track record panjang di dunia jaringan dan telekomunikasi ini.

Siapa coba yang tak ingin berpindah ke ponsel dengan full view display? Dan Huawei memberikan Nova 2 Lite layar berdimensi 5,99 inch dengan rasio 18:9 yang membuatnya seukuran dengan ponsel 5,5 inci konvensional.

Face unlock? 2018 nampaknya wajib ada ya. Dan Huawei pun memberikan fitur ini pada Nova 2 Lite, yang mana fitur ini masih jarang ditemukan di ponsel lain pada level harga yang setara. Anda cukup menyalakan layar dan secara otomatis pemindaian wajah dilakukan dengan cepat dan akurat.

Dual-camera? Tenang saja, ada juga koq. Dan sepengalaman saya mencoba berbagai ponsel keluaran Huawei, software kamera mereka termasuk dapat memanfaatkan data kedalaman yang diberikan lensa kedua untuk menghasilkan efek bokeh yang baik. Dan jangan lupa, pemisahan bidang yang mendapat fokus dan yang diburamkan, bisa dilakukan belakangan setelah foto diambil, pun demikian dengan tingkat blur-nya yang bisa diatur sesuai selera.

Untuk urusan selfie yang semakin menjadi gaya hidup jaman sekarang, Huawei Nova 2 Lite sudah memiliki front LED flash untuk membantu pencahayaan saat melaukan swafoto. Seingat saya, pada smartphone keluaran Huawei, selfie toning flash seperti ini baru saya temukan di Nova 2 Lite.

Sedikit catatan dari saya, untuk mode wide aperture, disarankan tidak diambil pada kondisi backlight mengingat mode ini tidak dapat dikombinasikan dengab mode HDR. Cukup disayangkan pada ponsel ini tidak ada mode manual atau pro untuk foto maupun video. Walau begitu, pengambilan gambar dapat dilakukan dengan cepat dengan hasil-hasil foto dan video yang bisa disaksikan berikut ini.



Untuk perangkat lunaknya sendiri, Nova 2 Lite sudah dibekali EMUI 8.0 yang berjalan di atas Android Oreo 8.0, terbilang up to date di mana ponsel dua jutaan lain masih banyak yang berkutat di Nougat.

Okay, itu adalah hal-hal yang cukup membuat saya excited ingin segera merasakan ponsel ini. Selain fakta bahwa selama ini saya selalu betah pakai produk smartphone Huawei karena EMUI yang memiliki banyak fitur yang saya butuhkan, juga karena umumnya ponsel Huawei memiliki daya tangkap sinyal yang sangat baik.

Merekam kegiatan di layar smartphone, mengambil screenshot dengan tiga jari, split screen, hingga fitur kecil seperti menampilkan kecepatan jaringan adalah hal-hal yang saya sukai dari EMUI.

Oh ya, ada satu lagi fitur yang sangat berguna pada smartphone Huawei, yaitu Phone Clone, di mana saya bisa menyalin semua data dari ponsel Huawei lama ke yang baru dengan sangat mudah. Dan hasilnya betul-betul bagai pinang dibelah dua, bahkan beberapa aplikasi seperti Instagram sudah langsung bisa dipakai tanpa perlu login lagi karena datanya sudah disalin semua. Hebat kan?

Setelah menggunakan ponsel ini beberapa saat dalam kegiatan sehari-hari, saya menilai sejauh ini Huawei Nova 2 Lite sih so far so good, walaupun mungkin sebetulnya ada hal yang di atas kertas nampak terasa kurang bagi mereka yang belum mencobanya secara langsung.

Ya, sayapun awalnya khawatir dengan resolusi layar HD+ berbanding dimensinya yang bisa dibilang 6 inch lah. Tapi ternyata hasilnya enak-enak saja koq dipakai, urusan kerapatan atau densitas layarnya tak pernah jadi masalah, pun reproduksi warnanya cukup baik dan sudut pandangnya cukup luas.

Lalu mungkin banyak juga yang mempertanyakan kenapa Huawei tak menggunakan processor in-house mereka Kirin 659 yang terbukti powerful untuk kelas mid-range. Harus diakui memang Snapdragon 430 sedikit outdated, namun masih sangat mampu mentenagai ponsel ini koq. Gaming, multimedia, hingga multitasking masih nyaman-nyaman saja, walau memang performanya takkan bisa disejajarkan dengan hape-hape high-end yang belakangan ini mulai sering saya coba.

Dengan RAM 3 GB, EMUI 8.0 dapat berjalan tanpa kendala sejauh ini.

Lanjut ke storage, Huawei Nova 2 Lite memiliki kapasitas memori internal 32 GB. Bagi yang merasa segini belum cukup, tenang saja. Slot micro-SD hadir secara dedicated, alias tidak harus berebutan dengan dua slot simcard-nya.

Untuk urusan sumber tenaga, Huawei membekali Nova 2 Lite dengan baterai 3.00 mAh yang dapat bertahan dari pagi hingga malam dengan penggunaan moderat, dan notifikasi selalu masuk secara real-time.

Overall, apa yang didapat masih tergolong sesuai dengan harga yang disematkan untuk Nova 2 Lite ini, dan bisa jadi akan sangat worth the money jika Anda membelinya melalui Pre-Order di Lazada di mana Anda akan mendapatkan hadiah langsung berupa speaker JBL Flip 3 dan gift box yang jika ditotalkan nilai hadiahnya sendiri mencapai 1,6 jutaan lho!

Saya sih lagi kepikiran memberikan Huawei Nova 2 Lite ini untuk digunakan orang tua saya, karena user experience-nya yang enak dan mudah digunakan.

Huawei Nova 2 Lite bisa juga direkomendasikan bagi mereka yang ingin mulai mencoba jajaran produk Huawei, sebelum nanti naik kelas ke seri P yang punya kamera superior. Walau saya sih menyarankan agar selepas masa promosi, Huawei dapat menyesuaikan harganya agar lebih bersaing lagi.

Sip, review-nya saya tutup di sini, semoga setelah ini akan ada lagi produk-produk smartphone Huawei yang masuk ke Indonesia ya, heuheu. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit, wassalam!

Monday, April 30, 2018

Mini Review Samsung Galaxy S9 Plus, Kenapa Cowok Harus Pakai?



Akhirnya saya mencoba juga sepasang smartphone flagshipnya Samsung nih. Setelah kemarin dipuaskan sepuas-puasnya oleh Galaxy S9, kini giliran Galaxy S9 Plus yang saya ulas.

Saya rasa secara prinsip akan banyak hal yang kurang lebih sama antara S9 Plus dengan S9 yang sebelumnya saya ulas. Anda yang belum menyimak video review Galaxy S9 yang saya buat, saya sarankan untuk menontonnya terlebih dulu. Sekalian refresh karena pada video tersebut cukup banyak footage di pemandangan alam terbuka yang indah.



Nah, ada baiknya kita mulai bahasan kali ini dari apa saja sih perbedaan S9 Plus dari S9 versi biasa?

Pertama tentunya harga, selisihnya 1,5 juta Rupiah untuk varian storage yang sama, di mana harga resmi S9 Plus ini ada pada angka Rp12.999.000.

Lalu tentu saja dimensi fisiknya, di mana S9 memiliki bentang layar 5,8 inch, dan S9 Plus sebesar 6,2 inch. Saya tadinya menyangka S9 Plus ini akan bongsor banget, namun di luar perkiraan ternyata masih enak-enak saja tuh digenggam dengan satu tangan. Faktor screen-to-body ratio yang tinggi, serta infinity display yang melengkung di kedua pinggirannya jadi faktor penentu di sini.



Perbedaan komponen selanjutnya ada pada kamera belakang S9 Plus yang ada sepasang. Jadi lensa dual-aperture-nya ditemani satu buah lensa lagi dengan bukaan f/2.4 untuk menghasilkan bokeh yang super kece. Jangan lupakan fakta bahwa kedua lensa ini sudah memiliki OIS, jadi gak akan gampang blur saat dipakai mangambil gambar ya.

Sekarang kita beralih ke jeroannya, S9 Plus memiliki RAM yang lebih besar di 6GB, dan tentu saja berkat body yang lebih besar, Samsung bisa membenamkan baterai yang lebih besar juga kapasitasnya di 3.500 mAh. Buat yang belum tahu, Galaxy S9 memiliki RAM sebesar 4 GB, dan baterai 3.00 mAh ya.

Ternyata varian warna Lilac Purple pada Galaxy S9 Plus ini sangat digemari. Buktinya di toko tempat saya membeli Galaxy S9 kemarin, warna ini sudah tak tersisa. Saya pun harus sedikit berjuang untuk mendapatkannya di toko online yang masih menjualnya. Salah satunya adalah Bhinneka yang linknya saya sertakan pada deskripsi video ini ya.

Sejauh ini pengalaman saya berbelanja di Bhinneka selalu memuaskan. Patut dicatat bahwa Bhinneka adalah pelopor toko online di Indonesia, dulu tiap cari barang elektronik, mesti buka web yang satu ini heuheu. Satu yang unik dari Bhinneka, setiap kita berbelanja di sana, meskipun belanjanya online, tapi seperti dilayani langsung karena adanya personal assistant yang bernama Sarah. Mau beli ini itu jadi mudah, dan asli bikin tenang pokoknya.

Nah, Galaxy S9 Plus warna ungu yang cenderung menuju pink ini, mungkin terkesan lebih cocok buat wanita ya. Namun, pada kesempatan kali ini justru saya ingin membahas kenapa Galaxy S9 Plus juga akan sangat layak dipertimbangkan oleh kaum pria untuk menemani kesehariannya.

Kita mulai dari aspek pertama, yang tak lain dan tak bukan adalah kamera pastinya. Buat yang senang berkiblat pada penilaian yang dikeluarkan oleh DxoMark, Galaxy S9 Plus termasuk ke dalam top-3 smartphone berkamera terbaik dengan skor total sebesar 99.

Dan ini adalah salah satu faktor yang jadi pembeda, di mana ketika Anda sudah merasakan hasil kameranya yang indah, faktor harganya yang tergolong tinggi, menjadi nilai tebus yang pantas.

Buat cowo-cowo yang suka fotografi, atau merekam aktifitasnya di luar ruangan, bisa jadi ini adalah smartphone terbaik yang bisa Anda dapatkan saat ini. Merekam video dalam keadaan bergerak tetap stabil dengan tone warna yang memukau.

Hasil foto dan video berikut ini akan menyimpulkan kualitas dari kamera Galaxy S9 Plus ini deh.



Aspek kedua adalah looks dan handling. Galaxy S9 Plus tak hanya memiliki penampilan yang memukau, namun juga enak digenggam, dengan atau tanpa case. Sisi depan yang didominasi oleh Infinity Display ini tampak sangat elegan saat layar mati dengan Always on Display yang tetap menunjukkan informasi penting. Nampak hitam mengkilap, nampak misterius sekaligus macho jadinya.

Aspek ketiga adalah ketahanan smartphone ini terhadap debu maupun air. Buat cowok yang bekerja di outdoor, hal ini bisa jadi faktor penyelamat saat misalnya terkena hujan dan percikan air di luar sana. Malah sekalian kalau smartphone-nya kotor, siram saja dengan air untuk membersihkannya. Haha.

Aspek keempat adalah performa. Saya akan tunjukkan skor benchmark-nya sebagai pembuka saja ya. Betul, real experience lebih saya senangi daripada angka benchmark, dan dengan processor yang sama dan RAM yang lebih besar dari S9, Galaxy S9 Plus ini benar-benar terasa smooth dalam menemani kegiatan saya di atasnya. Cowo pasti suka gaming, dan dengan skor Antutu setinggi ini, saya yakin semua game berat bisa dilahap dengan baik oleh Galaxy S9 Plus.

Satu yang tak bisa saya lupakan adalah bagaimana setiap notifikasi selalu lancar masuk, dan ini sangat saya sukai.

Review ini nampak tanpa kekurangan ya. Faktanya adalah, saya yang kesulitan menemukan kekurangan itu, selain dari harganya yang premium sekali. Jelas memang segmen pasar yang masih price-sensitive bukanlah target dari produk ini.

Satu hal yang harus diingat, saya belum menggunakan S9 Plus ini seintens S9 kemarin. Jadi demikian saja yang bisa saya ulas dari ponsel ini. Namun kesimpulan saya, kalau memang budgetnya masuk, jangan ragu meminang Galaxy S9 Plus, terlebih jika mengejar kualitas fotografi-nya ya.

Jika Anda kesulitan mendapatkan varian storage dan atau warna yang diinginkan, boleh koq cek link di deskripsi video ini, terakhir saya cek di sana masih lengkap ada semua.

Sip, demikian review berbalut sedikit cerita mengapa Galaxy S9 Plus ini akan cocok untuk kaum pria, dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri. Wassalam!

Yuk Kenal Lebih Dekat dengan ASUS ZenFone Max Pro M1

Lebih Dekat dengan ASUS ZenFone Max Pro M1
Rangkaian smartphone ASUS ZenFone dengan dukungan kapasitas baterai yang besar, telah diakui oleh publik memiliki stamina yang luar biasa. Pada April 2018 lalu, Tom Guide, merilis sebuah publikasi berjudul Smartphone with the Longest Battery Life, di mana ZenFone Zoom S dan ZenFone 4 Max menjadi dua perangkat paling atas dengan skor tertinggi. Bahkan, ZenFone Zoom S dinobatkan sebagai  smartphone dengan baterai paling awet yang pernah diuji.


Bukan Cuma Max Power, Tetapi Max Segalanya
ASUS merilis  keluarga ZenFone Series yang memiliki kapasitas baterai besar pertama kali pada 2014, yang kemudian dijuluki sebagai ZenFone Max. Di tahun 2016, ASUS ZenFone 3 Max Series dirilis dengan fitur fingerprint sensor, kemudian pada 2017 ZenFone 4 Max diperkuat dengan sistem kamera ganda yang memungkinkan pengguna untuk beralih diantara dua tipe kamera untuk memotret.

Sejalan dengan itu, ASUS pun telah mengembangkan keluarga ZenFone Max dengan meningkatkan jumlah fitur-fiturnya yang bermanfaat buat pengguna. Tidak hanya sekedar baterai besar, namun secara konstan peningkatan juga dilakukan agar memiliki fungsionalitas tinggi bagi pengguna, seperti misalnya pada sistem kamera itu tadi, meskipun gawai ini ditujukan sebagai perangkat entry level.

Senior Product Manager of ASUS Global, TH Cheng, menyebut bahwa penciptaan ZenFone Max Pro M1 didasari oleh sebuah ide dari filosofi kata Max, yang tidak hanya sekedar mementingkan perfomance semata. Sebagai gantinya, Max juga mengacu pada peningkatan aspek lain seperti kualitas kamera, audio, dan lainnya.

ZenFone Max Pro dilengkapi dengan layar seluas 6 inci beresolusi Full HD+ berbezel tipis dengan tubuh berukuran 5,5 inci. Di dalamnya ada prosesor Snapdrgon 636 yang merupakan seri terbaru dari prosesor untuk mobile platform keluaran Qualcomm. Smartphone ini juga didukung oleh 5 magnet speaker dengan teknologi yang dinamakan NXP smart amplifier, serta fitur face recognition sebagai pengamanan. Fitur-fitur tersebut, dikombinasikan demi memberikan pengalaman penggunaan yang maksimal kepada pengguna dengan tetap mempertahankan harga yang terjangkau.


Selanjutnya, keluarga ZenFone Max Series pun mendapatkan peningkatan pada kualitas estetika dimulai dari seri ZenFone 3 Max. Ketimbang menggunakan plastik, bagian luar casing ZenFone Max Po telah terbuat dari metal. Seluruh konstruksi antara gain gaps, tombol samping dan headphone jack semuanya telah menjalani pengujian yang ekstensif. Hal ini memastikan bahwa tidak ada detail yang terlewatkan, sehingga memaksimalkan pengalaman pengguna dan hasil produksi.


Berdasarkan data dari sumber internal, menurut TH, pengguna ZenFone Max terbagi menjadi 2 kategori. Pertama adalah pengguna bertipe heavy user, mereka cenderung fokus pada kemampuan hardware pada perangkat, seperti performa CPU dan resolusi layar. Kedua adalah pengguna dengan mobilitas tinggi, yakni para bisnis traveler dan turis. Orang-orang tersebut biasanya menggunakan smartphone dalam sebuah perjalanan panjang (berpergian), ingin menonton video, atau mengambil foto dalam perjalanan mereka dan, karenanya mereka membutuhkan performa battery yang tahan lama.

Dengan hadirnya ZenFone Max Pro, dua kategori pengguna tadi dapat digabungkan. Sehingga mereka bisa menikmat performa perangkat yang mengagumkan, semisal untuk menjalankan game disaat bersamaan smartphone juga memiliki durabiilta baterai yang mumpuni. Tidak ada interupsi saat hendak menonton video dalam waktu lama, sehingga Anda bisa menikmati konten tersebut secara nonstop.

Melalui sebuah rangkaian test internal yang dilakukan oleh tim R&D ASUS, diketahui bahwa ZenFone Max Pro dan memainkan video YouTube secara terus-menerus hingga 20 jam, atau sama dengan menonton 2 season Game of Throne di Netflix. Performa gamingnya juga tak kalah mengagumkan. Berdasarkan pengujian, gamer dapat memainkan Mobile Legend hingga 12 jam lamanya.

Bagi penggemar Garena Free Fire, game itu pun mampu dimainkan tidak kalah lama yakni 9 jam pada ZenFone Max Pro. Bahkan, Rule of Survival, sebuah game yang menuntut kualitas grafis tinggi, mampu dimainkan hingga 8 jam pada device ini.


Lembaga riset pasar untuk gaming, e-sport dan mobile market, Newzoo, merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa, trend mobile gaming di Asia Tenggera terus meningkat melalui konten mobile gaming. Mereka mencatat game mobile menyumbang 55 persen pendapatan game di Asia pada 2017. Survei lainnya yang dilakukan oleh Yahoo di Taiwan, menunjukan bahwa ada sekitar 8.9 juta gamers di paruh pertama 2017, dimana 97 persen diantaranya adalah pemain game mobile.

Mobile gamer adalah kelompok terbesar dalam suvei tersebut, yakni 80 persen responden mengatakan bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas tersebut. Angka-angka tersebut menunjukan bahwa pasar game seluler di Taiwan cukup matang.

Meningkatnya pasar mobile gaming di Asia Pasific, terutama di India, cukup untuk menarik minat strategis ASUS dalam menggarap sektor tersebut. ZenFone Max Pro mewakili pilihan yang optimal bagi para mobile gamers, terutama bagi pengguna yang ketat dalam soal anggaran, namun ingin tetap menikmati kinerja smartphone yang mumpuni dalam hal gaming.

Power Saving CPU dan Multi Thread Performance
Melalui sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim R&D ASUS mencakup respon (feedback) yang diberikan oleh forum Zentalk, sebuah forum resmi untuk fans ASUS, sekaligus juga dari komunitas gamer, ditemukan bahwa penyebab lag pada smartphone adalah ketika pengguna mengoperasikan banya aplikasi pada smartphone dalam waktu bersamaan.

Kondisi semakin diperparah manakala adalah salah satu aplikasi yang menuntut kinerja grafis tinggi pada smartphone tersebut. Karenanya, kinerja dari CPU menjadi prioritas utama ASUS dalam menciptakan ZenFone Max Pro M1.


Karena itu, ZenFone Max Pro telah dilengkapi dengan performa prosesor yang powerfull yakni Snapdragon 636. Prosesor tersebut sangat memiliki performa yang lebih tinggi 1,5 lipat dibandingkan generasi sebelumnya yakni 625. Melalui skor pada Antutu, SD636 berhasil meraih angka 116 ribu. Sebagai akibatnya, pengguna dapat memainkan hampir semua konten dengan lancar seperti game, video, atau mengobrol di ponsel tanpa khawatir dengan problem kinerja.

Kapasitas Baterai yang Luar Biasa dengan 5000 mAh
Sangat sedikit pabrikan smartphone yang dapat menyesuaikan perangkat mereka dengan baterai 5000 mAh. Tetapi ASUS telah menggunakan baterai berkapasitas tinggi dalam seri ZenFone Max Pro M1 sejak 2015. Saat itu, ini adalah tantangan besar, tetapi tim R&D mampu melakukannya berkat keahlian dan keterampilan teknis yang luas biasa dalam rekayasa baterai.

Dalam beberapa tahun sejak saat itu, ASUS telah mencapai perkembangan dan peningkatan lebih lanjut dalam teknologi baterai, yang memungkinkan perusahaan untuk membedakan diri dari para pesaingnya. Selain itu, kapasitas baterai yang besar ini, tidak menjadi smartphone menjadi mahal untuk konsumen. Sebaliknya, ponsel ASUS dengan baterai yang besar malah memiliki harga yang kompetitif. Fitur fitur ini telah diterima dengan baik oleh pengguna terutama generasi muda. Survei internal menunjukan, hampir semua pengguna ZenFone Max berusia 24 tahun atau lebih muda.

Meskipun vendor lain juga menciptakan smartphone berkapasitas baterai yang besar, ASUS tetap lebih tinggi dibandingkan mereka. Ponsel miliki ASUS biasanya memiliki kapasitas daya baterai 1000 hingga 2000 mAh lebih tinggi dibandingkan vendor lain, namun tetap memiliki ukuran atau harga yang serupa dengan ponsel mereka. Jadi apa rahasianya sehingga ASUS bisa sanggup memaksimalkan kapasitas baterai smartphonenya dengan tetap mempertahankan ukuran ponsel yang ramping?

Menurut TH, itu berasal dari  tknologi papan sirkuit cetak (PCB) di telefon kami tidak tertandingi di industri ini. PCB yang digunakan untuk CPU dan baterai memainkanperan kunc dalam menentukan ukuran fisik baterai. Karena adanya ruang tersisa pada ponsel yang cukup, itu bisa digunakan untuk menanamkan baterai yang lebih besar. Ini membutuhkan keseriusan dan tingkat kesulitan tinggi.

Namun dibalik itu, ASUS ingin menghadirkan kinerja baterai yang luar biasa tanpa mengorbankan kualitas bagian lain, atau mengurangi spesifikasi ponsel. Sangat sedikit produsen ponsel pintar yang mampu menawarkan perangkat keras berspefikasi tinggi bersama dengan kapasitas daya baterai yang luar biasa.


Inovasi ini membuat perbedaan nyata dalam kinerja ponsel. Pengujian yang dilakukan oleh ASUS telah menunjukan bahwa baterai 5000 mAh dapat tetap siaga dalam jaringan 4G selama 35 hari, atau 42 jam untuk talk time di 3G, dan 28 jam browsing di web menggunakan WiFi.

Sekarang ini, banyak pula vendor yang mengalihkan fitur daripada menyediakan kapasitas baterai yang besar, lebih baik menguranginya dan menyediakan fitur fast charging. Namun ASUS berfikir lain tentang itu, sebab jika kita memiliki smartphone dengan baterai besar, ringan, dan portable, sekaligus memiliki kinerja baterai yang hebat, maka Anda tidak perlu khawatir tentang mengisi daya sama sekali.

Ini merupakan solusi paling aman, karena solusi fast charging, kendati terdengar menarik, sebenarnya cenderung untuk memperpendek masa pakai baterai secara efekti dan cepat. Bahkan mungkin, Anda harus membeli ponsel baru dalam setahun karena itu. Sedangkan ZenFone Max Pro memiliki masa pakai dua kali lebih lama dibandingkan ponsel lain di pasaran.


Layar Full HD+ Didukung Cristal Clear 2K Resolution
Resolusi maksimum tampilan ponsel cerdas dapat menjadi batasan untuk kualitas grafis dari satu video ataupun permainan. Jika layar hanya dapat mendukung resolusi HD, maka tidak ada gunanya memutar video beresolusi 2K atau dengan kualitas tinggi diatasnya. Sebab perangkat hanya memutar ulang kontek pada grafis HD.

Inilah sebabnya mengapa ZenFone Max Pro dilengkapi dengan layar layar ultra-slim berukuran 1660x1080, Full HD+ ultra-tipis dengan aspek ration 18:9. Kecerahan layar naik hingga 450 nit, dan memiliki rasio kontras 1500: 1. Sebagian besar ponsel kelas menengah di pasar memiliki layar HD 5,45 inci atau 5,7 inci. Sangat sedikit yang dilengkapi dengan layar beresolusi tinggi tanpa panel.

Smart Amplifier dengan 2X Volume Boost
ASUS  ingin pengguna perangkatnya benar-benar mendapkan filosofi “MAX” pada keluarga ZenFone Max, dengan cara menghadirkan fitur performa tinggi pada ZenFone Max Pro. Di dalam game, para pemain juga menginginkan keluaran audio yang berkualitas.

Sehingga, akhirnya ASUS bekerja untuk meningkatkan kinerja audio telepon. Hal tersebut dilakukan dengan cara menanamkan fitur sistem speaker lima magnet, ditambah dengan amplifier pintar dari NXP. Hal ini memungkinkan smartphone untuk memberikan output audio berlapis dan bernuansa, sehingga tidak ada detail dari audio yang hilang.


TH menggambarkan keuntungan dari sistem speaker lima magnet dengan sebuah analogi sederhan dan cerdas, “Untuk sebagian besar speaker, suaranya tersebar, seperti Anda sedang mendengarkan musik yang dimainkan di lapangan terbuka. Sistem speaker lima magnet lebih seperti mendengarkan musik yang dimainkan di ruang konser - audio lebih terfokus.”

Dual Kamera untuk Hasilkan Foto Potrait Memukau
Untuk seorang traveler dan pecinta fotografi mobile, ZenFone Max Pro menawarkan kamera ganda, di mana kamera kedua berfungsi untuk menghasilkan tingkat kedalaman foto, menghasilkan efek bokeh yang lebih akurat dalam mode potret. Dengan satu lensa berfokus pada gambar jarak dekat dan yang lain pada objek yang jauh, pengguna dapat dengan mudah membuat foto subjek dengan latar belakang yang buram. Mode real-time beauty digabungkan dengan lampu kilat LED Softlight juga menyajikan hasil foto terbaik pengguna saat berselfie atay memotret wajah.


Sistem Operasi Android Pure 8.1
Dalam rangkaian keluarga ZenFone serius, ASUS selalu menggunakan sistem operasi android yang dipercantik dan diperkaya dengan fitur-fitur dari ZenUI secara eksklusif. Namun pada ZenFone Max Pro, ini adalah pertama kalinya ASUS menggunakan OS Android  Pure 8.1 Oreo, tanpa ZenUI.

OS ini memang cepat, sederhana dan cerdas. Perubahan ini juga dibuat berdasarkan pengalaman pengguna, karena seri ZenFone Max ditujukan untuk para gamer, banyak di antaranya lebih menyukai OS Android Pure dengan beberapa penyesuaian fitur. Dari feedback tersebut, ASUS akhirnya memutuskan untuk menggunakan Android Pure untuk merespon keinginan pengguna.


Karenanya, tidak cukup hanya memiliki ponsel dengan kapasitas baterai yang tinggi. Namun ZenFone Max Pro juga ditujukan untuk kinerja maksimal dalam semua aspek, termasuk baterai, CPU, kamera, ukuran layar, resolusi, serta volume dan kinerja audio. Fitur-fitur ini adalah keunggulan dari merek ASUS, sehingga semua pengguna, baik itu game, menonton video, atau mengambil foto, akan dapat menikmati keefektifan maksimum seri ZenFone.

Thursday, April 5, 2018

Review Meizu EP52 Sport Bluetooth Earphones, Menghapus Dosa EP51!


Halo Assalamualaikum, kali ini saya akan mengulas sebuah earphone bluetooth lagi. Meizu punya nih, namanya Meizu EP52. Saya bilangin nih, kemasannya premium banget. Harganya? Ah tebak saja dulu deh berapaan. Yang pasti lebih murah dari Meizu EP51 dulu.

Yap, dulu saya pernah mencoba Meizu EP51 dan merasa tak puas. Alasanya simple waktu itu, di telinga tak melekat dengan baik, dan suaranya anyep alias adem-adem bae.

Sebelum bahas suaranya, kita lihat penampakannya dulu yuk.



Tadinya saya pikir bahwa Meizu EP52 ini tak begitu portable, saya kira batang berbentuk U-nya itu kaku dan tak bisa dilipat. Nyatanya lentur dan bisa ditekuk hingga melingkar-lingkar dan bisa dimasukkan ke dalam pouch-nya. Nah ini unik, pouchnya pure terbuat dari karet, dan kesannya jadi sporty banget ya.

Memang biasanya Meizu mengeluarkan bluetooth earphone yang kegunaannya untuk menemani berolahraga. Terlebih earphone ini sudah IPX5 certified yang artinya waterfproof dari segala arah, jadi tak gentar walau dibawa berkeringat saat olahraga.

Eartips-nya lembut sekali dan kali ini sangat nyaman melekat di telinga. Membuat isolasi suara terjadi dengan baik. Ukuran housing-nya cukup mungil, dan tak menonjol keluar dari daun telinga saat dipakai. Saya rasa dipakai di dalam helm masih nyaman, walau saya ingatkan agar jangan digunakan saat berkendara ya.

Sementara pada sisi kanan batang berbentuk U tadi, terdapat modul kontrol media. Ada tombol bertanda plus dan minus untuk mengatur volume dan berpindah lagu. Sementara tombol power sekaligus play dan pause terasa agak sedikit keras saat ditekan. Microfon dan juga port micro-USB  untuk charging terdapat pada sisi yang sama. Di sisi kiri kosong melompong saja.

Saya suka dengan penempatan baterai dan antena pada batang berbentuk U ini, karena tidak terlalu dekat ke telinga dan otak kita.

Untuk kualitas suaranya, Alhamdulillah saya merasakan ada peningkatan yang signifikan dari Meizu EP51 dulu. Bass sudah kaya dan mendentum serasa memijat telinga.  Treble memang terasa kurang menonjol, sementara vokal masih terdengar dengan baik dan jelas. Antara instrumen dan vokal terasa alunannya masing-masing alias separasinya baik. Staging sih saya rasa tidak terlalu luas namun cukup untuk menikmati musik-musik yang banyak berisi suara perkusi dan bass.

Meizu EP52 ini menganut teknologi bio-cellulose diapraghm, yang entah apa maksudnya, namun sukses berat membuat kuping saya menikmati petikan-petikan nada di dalam alunan suara indahnya. Jadinya itu tadi separasinya terasa sekali, seperti ada instrumen yang biasanya tak ada, muncul ke permukaan dengan menggunakan Meizu EP52 ini.

Oh ya, kedua housing-nya dapat melekat secara magnetik. Sehingga tak khawatir jatuh saat sedang tak dipakai ya. Musik akan terhenti begitu kita melekatkan kedua sisi earphone ini, dan jika terus menempel lebih dari 5 menit, maka earphone ini akan otomatis padam. Fungsionalitas yang keren bagi saya.

Daya tahan baterainya sendiri mampu menembus 6 jam, dan ini sudah lebih dari cukup bagi saya. Baterainya sendiri berkapasitas 130 mAh dan dapat diisi penuh dalam waktu 2 jam.

Overall, Meizu EP52 terasa nyaman digunakan berkat bobotnya yang sangat ringan dan eartipsnya yang lembut. Kualitas suaranya sangat cukup untuk memanjakan telinga saya, dan menggeser Honor xSport dari posisi kedua klasemen bluetooth earphone koleksi saya.

Oh ya saya kasih tau harganya deh, saya mendapatkan Meizu EP52 dari TomTop.com, di mana di saya dijual seharga $52.99 atau sekitar 700-ribuan jika dirupiahkan.

Worth the money? Saya bilang sih yes. Build quality jempolan, fungsionalitas yang baik, dan kualitas suara yang bisa diandalkan terasa sepadan lah dengan harga segitu.

Kekurangan yang saya rasakan lebih ke portabilitas saja. Meskipun bisa dilipat, tapi tetap saja tak sepraktis bluetooth earphone lain yang saya miliki. Oh ya satu lagi, tombol powernya agak keras, bukan deal breaker sih, tapi tetep saja masuk ke nilai minus bagi saya.

Okay, segitu saja ulasannya. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri ya, wassalam!

Tuesday, April 3, 2018

Review Samsung Galaxy S9, Smartphone Terbaik untuk Konten Terbaik!



Saya tak pernah berpikir bahwa saya akan menjadi content creator di Youtube seperti sekarang ini.

Jauh dari bayangan saya bahwa akan ada ribuan orang yang menonton video-video sederhana yang saya unggah. Dan saya sangat bersyukur untuk itu, dan tak lupa rasa terima kasih saya sampaikan kepada audience yang selama ini sudah sangat supportif hingga channel Youtube yang saya bangun bisa sebesar sekarang ini.

Silver Play Button adalah benda mengkilap yang dulu saya tak berani mengharapkannya. Terlalu jauh bagi seseorang yang tak punya basic di videografi seperti saya, namun Alhamdulillah akhirnya satu buah benda mengkilap ini bisa saya pajang di salah satu dinding rumah saya.

Dan pada video kali ini, saya akan mengulas sebuah benda penuh kilapan lain, bukan silver play button saya tentunya hehe.

Ini adalah Samsung Galaxy S9, yang kilapannya mampu membuat saya luluh untuk merogoh kocek lebih dalam.



Tapi inipun bukan sebatas karena memenuhi keinginan lho ya, ada juga kebutuhan saya sebagai content creator yang memang mau tak mau hanya bisa dipenuhi oleh smartphone high-end seperti ini.

Ya, dalam beberapa kesempatan, seringkali saya mendapatkan momen yang baik untuk dijadikan konten video atau foto untuk social media, dan biasanya saat itu terjadi saya tak membawa kamera yang biasa saya gunakan merekam video.

Jalan satu-satunya adalah dengan mengandalkan kamera smartphone, karena kalau smartphone kan memang selalu saya bawa ke mana-mana. Untuk itulah maka saya butuh kamera smartphone yang dapat diandalkan. Smartphone flagship adalah jawabannya.

Kamera Samsung Galaxy S9 hadir dengan kemampuan yang unik, yaitu mampu menyesuaikan aperture atau tingkat bukaan lensa untuk beradaptasi dengan kondisi pencahayaan. Aperture normalnya yang ada pada angka f/2.4 akan berubah menjadi lebih luas bukaannya di f/1.5 begitu penurunan intensitas cahaya terjadi.

Aperture normalnya yang ada pada angka f/2.4 akan berubah menjadi lebih luas bukaannya di f/1.5 begitu penurunan intensitas cahaya terjadi. Dan setahu saya, ini baru ada pada smartphone Samsung terbaru ini.

Hasilnya adalah foto-foto yang tetap tertangkap dengan tajam dan jernih meskipun dalam kondisi lowlights.

Saya tak akan berbicara panjang lebar, biarlah kualitas hasil foto berikut ini yang menunjukkan kualitasnya pada Anda. (cek review video)

Ya, bisa mengambil foto dengan baik dalam berbagai kondisi adalah sesuatu yang sangat saya butuhkan dalam profesi ini. Di mana saya seringkali harus mengambil foto produk yang sedang saya ulas, dan kondisinya memang kurang ideal. Namun saya yakin, Galaxy S9 akan banyak membantu saya untuk urusan yang satu ini.

Tak lupa, kemampuan merekam video sebuah smartphone jadi krusial juga bagi saya. Beberapa video yang saya unggah ke youtube pernah saya rekam hanya menggunakan kamera smartphone. Hehe, kalau sedang mepet sekali waktunya, merekam dengan kamera ponsel memang jauh lebih cepat hingga selesai proses produksinya.

Terlebih, pada Galaxy S9 ini dibekali kemampuan mengambil video slow motion dengan framerate mencapai 960 fps, di mana umumnya smartphone lain merekam slow motion maksimal pada 240 fps saja. Hasilnya sudah bisa ditebak, gerakan slow motion menjadi sangat halus dan lebih artistik ya.

Sembari saya menarik nafas dulu, silakan Anda nikmati beberapa cuplikan video yang saya ambil menggunakan kamera Samsung Galaxy S9 ini.



Saya pun sempat bergonta-ganti flagship smartphone, namun entah kenapa sejak mencoba Galaxy A8 beberapa waktu lalu, saya menilai ada kenyamanan dari UX yang dimilikinya. Dan buat saya yang belakangan semakin sibuk membuat materi konten, dengan waktu yang terbatas, experience terbaik dari sebuah smartphone menjadi suatu hal yang mutlak.

Saya akan butuh smartphone yang sudah enak dipakai, dioperasikan, dengan berbagai fitur otomatis yang menyesuaikan dengan kebutuhan kita di kondisi tertentu. Satu contoh sederhana saja misalnya, saat ponsel terkoneksi dengan perangkat audio bluetooth, Samsung Experience langsung menampilkan pilihan mau ke mana output suara diarahkan, perangkat bluetooth atau loudspeaker. Seperti fitur yang sederhana, namun sangat terasa manfaatnya, daripada harus mengubek-ubek ke dalam menu setting ya.

Apalagi memang, rasanya sudah sejak lama saya selalu menggunakan ponsel as it is, ngga pernah sempat untuk oprek-oprek lagi. Dan Samsung Galaxy S9 ini mampu memberikan experience yang saya butuhkan, out of the box!

Saya pikir urusan performa hingga ke kemampuan gaming, sudah tak perlu diragukan lagi ya. Flagship smartphone dengan jeroan kelas atas seperti ini nyaris tak mungkin mengecewakan dari sisi performa.

Untuk daya tahan baterainya sendiri, sejauh ini penilaian saya cukup baik, berbekal kapasitas baterai sebesar 3.000 mAh, dengan pola pemakaian ala saya, Galaxy S9 mampu bertahan selama 20 hingga 24 jam dengan rata-rata screen-on time sebesar 4 hingga 5 jam.

Mungkin bagi pemilik Galaxy S8, masalah desain terasa tak mengalami banyak perubahan ya. Samsung nampak tak ingin mengubah the winning formula untuk urusan yang satu ini. Infinity Display yang hampir memenuhi sisi depan smartphone ini tetap menjadi kekuatan utama Galaxy S9 dari segi desain. Tapi jangan lupa, di sisi belakang ada penyesuaian posisi fingerprint scanner yang membuatnya lebih nyaman digunakan karena letaknya yang lebih natural.

Samsung tidak ingin ikut-ikutan memasang poni di layar maupun menghilangkan port audio 3,5 mm seperti kebanyakan ponsel terbaru lain. Dan dua hal ini saya apresiasi sekali.

Oh ya, ada kelebihan Samsung Galaxy S9 dalam soal audio, di mana dual-speaker-nya sudah didukung teknologi Dolby Atmos dan benar-benar stereo.

Oh ya, belakangan saya lagi senang-senangnya bertukar GIF di media sosial ataupun aplikasi pesan. Dan hadirnya AR Emoji pada Galaxy S9 ini menjadikannya sebuah fitur yang unik yang baru kali ini saya temukan. At least kalau kita kirim ekspresi kita dalam bentuk animasi emoji seperti ini, tak ada kesan narsis seperti kalau kita kirim foto selfie kita lah haha. Dan kadang juga kan kita tak bisa menemukan GIF yang tepat untuk mengekspresikan apa yang hendak kita sampaikan. Jadi membuatnya sendiri, dengan mimik dan ekspresi kita sendiri adalah cara yang tepat, dan menyenangkan. Haha.

Selain faktor bandrol harga yang memang hanya mampu dijangkau kalangan tertentu saja, saya tak memiliki masalah berarti dengan Samsung Galaxy S9. Yang pasti, saya sudah tak sabar untuk mencoba membuat materi video dengan mengandalkan smartphone ini. Ya, saya pikir ponsel ini sudah enak untuk dipakai sehari-hari, tinggal kita lihat bagaimana saat digunakan untuk berkarya ya.

PR saya selanjutnya adalah mempertahankan kepemilikan Galaxy S9 ini, mengingat istri saya adalah fans berat brand ini, dan pastinya dia menginginkan fitur AR Emoji ini hahaha. Doakan saya ya pemirsa, hahaha.

Demikian ulasan saya yang memang cukup jarang memegang ponsel flagship seperti Samsung Galaxy S9 ini. Terima kasih sudah menemani perjalanan channel GontaGantiHape HD sejauh ini, dan semoga kita bisa melangkah semakin jauh ke depan ya.

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review A1 Flame Atmosphere Lamp Wireless Speaker



Sadar ngga kalau barang yang saya ulas kali ini sudah sering muncul di video-video saya sebelumnya?

Sebagian viewers sih sudah sadar dan bertanya, itu dekorasi lampu yang seperti api itu apa tanyanya.

Sayangnya, masih pada menyangka kalau ini hanya sebatas lampu dekorasi, heuheu.

Padahal ini adalah bluetooth speaker lho. Dan untuk menambah ke-amazing-annya, saya tambahkan fakta bahwa speaker ini juga waterproof.

Sudah kepincut duluan? Monggo, ini dia link produk ini di Banggood.

Udah ya reviewnya? Hahaha.

Kita bahas dulu atuh produknya, dikit aja. Saya tahu penonton sudah pada ga sabar hehe.

Pertama, speaker ini memiliki kontrol di bagian atas. Ada tombol power, play and pause, serta volume up and down yang juga berfungsi untuk berpindah track. Satu tombol paling besar yang berada di tengah itu untuk menyalakan lampunya.

Ya lampu dengan nyala laksana api nan indah itu.

Untuk menyalakan speaker, tekan dan tahan sebentar tombol power. Speaker ini akan otomatis masuk ke mode pairing jadi tak perlu tekan lama-lama ya. Proses pairingnya juga cepat.

Sisanya sama dengan bluetooth speaker lain. Kontrol media yang dimainkan dapat dilakukan dari speaker ini.

Sementara di sisi bawah, ada tripod mount. Jadi bisa dipasang dengan mini tripod untuk di meja, atau pakai light stand biar jadi seperti obor hehe.

Port micro USB terdapat di perut speaker ini. Baterainya cukup besar di 1.200 mAh, dan selama ini lebih sering dinyalakan lampunya untuk keperluan shooting daripada jadi speaker. Sudah sebulanan dan belum saya isi ulang, mungkin karena pola pemakaian saya itu tadi ya.

Kualitas suaranya bagaimana? Bagus sih, ga cempreng. Enjoyable lah. Tapi memang ga bisa dibilang istimewa. Saya masih bisa menikmati alunan lagu yang didendangkannya sembari mengetik atau browsing. Namun jika fokus mendengarkan lagu sih saya lebih senang pakai speaker lain saja.



Silakan didengarkan sendiri suaranya, saya sudahi ulasan dari A1 Flame Atmosphere Lamp Wireless Speaker ini di sini. Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!