Gadget Promotions

Thursday, December 7, 2017

Review ZTE Axon 7, Kisah Sebuah Ponsel Flagship yang Terjun Bebas Harganya



Ini adalah ZTE Axon ketiga yang saya coba, setelah sebelumnya pernah mengulas ZTE Axon Mini dan ZTE Axon Elite.

ZTE Axon 7 ini adalah flagship smartphone ZTE tahun lalu, di mana ZTE meninggalkan desain dengan pola-pola segitiga dan kembali ke desain yang lebih mainstream, walau tetap mempertahankan front dual-speakernya yang khas.

Lalu kenapa koq baru sekarang saya coba? Dan apakah benar-benar worth it sampai di video unboxing saja saya sudah merekomendasikannya? Cari tahu selengkapnya di video ini ya.



Jika Anda sudah menyaksikan video unboxing-nya, seharusnya sih tahu alasan utamanya kenapa baru sekarang saya mencoba ZTE Axon 7 ini. Ya, faktor harga yang dipangkas setengahnya adalah jawabannya. ZTE Axon 7 ini sekarang dijual pada kisaran $250 atau bahkan lebih murah jika sedang ada coupon diskon yang bisa dipakai di GearBest.com.

Entah apakah ini mengindikasikan kurang lakunya jajaran smartphone flagship miliki ZTE ini atau bukan, yang jelas seri Axon ini memang kalau umurnya sudah setahun, drop price-nya ga nanggung-nanggung. Satu produk lainnya, ZTE Axon 7 Mini malah turunnya banyak sekali dari sekitar $350 ke $130 saja di GearBest.

Padahal, jika kita merujuk pada spesifikasi yang dibawanya, harganya saat ini jadi terasa valuable sekali. Bagaimana tidak, dengan harga yang jika dirupiahkan ada pada kisaran 3-3,5 juta Rupiah, kita bisa mendapatkan flagship tahun lalu yang jelas masih mumpuni untuk digunakan tahun ini.


  • Processor Snapdragon 820-nya mampu memberi skor benchmark Antutu 139-ribuan.
  • RAM 4 GB ditunjang dengan storage 64 GB
  • Layar AMOLED dengan resolusi 2K alias QHD
  • Sensor NFC hadir
  • Sudah menggunakan USB Type-C port, dan sudah mendukung Qualcomm Quickcharge 3.0 pula
  • Dan jangan lupakan kameranya yang beresolusi 20 Megapixels dan memiliki Optic Image Stabilization


Desain luarnya pun terlihat premium sekali, dan penempatan dual front speaker seperti ini semakin membuatnya terlihat sangar, sesangar jeroannya.

Yang lucu adalah, selama pengujian berlangsung, saya lupa kalau resolusi layarnya adalah 2K. Mungkin karena mata saya tak bisa membedakannya dengan layar Full HD. Tapi satu hal lagi adalah konsumsi daya-nya yang tidak cepat terkuras membuat saya tak menyangka layarnya memiliki resolusi setinggi itu.

Ya, di awal-awal masa pengujian di mana belum saya jadikan daily driver, daya tahan baterainya sanggup menembus 48 jam, yang artinya manajemen dayanya cukup bagus pada kondisi idle. Setelah digunakan dengan nomor utama, ZTE Axon 7 ini mampu bertahan sehari semalam dengan pemakaian casual, dan dengan pemakaian lebih intens, mampu bertahan dari pagi hingga malam.

Hal ini memang dibantu oleh manajemen daya dari MiFavor UI yang secara berkala menutup aplikasi yang tidak digunakan, dan sesekali memberi kesempatan kepada aplikasi-aplikasi untuk melakukan koneksi data dan mendapatkan notifikasi. Jadinya memang kurang real-time untuk notifikasi dapat kita terima. Namun pengaturan agar aplikasi tertentu bisa terus terkoneksi ke jaringan bisa dilakukan,  dan ini saya terapkan pada Whatsapp dan Gmail.

Impresi saya jadi meningkat banyak begitu saya ingat bahwa layarnya beresolusi 2K tapi tak bikin boros baterai. Layar ZTE Axon 7 ini terasa teduh walau menggunakan panel AMOLED yang dikenal memiliki warna yang vivid itu. Ada pengaturan untuk tone layar di bagian setting ponsel ini.

Untuk kebutuhan multimedia, bisa dikatakan juara lah ZTE Axon 7 ini. Layar 2K, panel AMOLED, disokong oleh dual front speaker dengan Dolby Atmos sound. Kenikmatan yang haqiqi banget lah pokoknya haha.

Performanya tidak usah diragukan lagi, Snapdragon 820 adalah processor yang memberikan titik balik pada kesuksesan Qualcomm tahun lalu. Gaming maupun multitasking, semuanya lancar, dengan suhu yang terasa menghangat saat bermain game di atas 10 menit.

Saya mau lanjut bahas kamera, tapi koq dari tadi kaya ga ada kekurangannya ya ini hape? Haha.. Ada koq, ya sudah kita bahas dulu yuk!

Kekurangan pertama ada pada posisi fingerprint pada punggung smartphone ini yang kurang nyaman jika kita sering meletakkan ponsel ini di meja. Selain itu juga akurasi dan responnya tak bisa dibilang istimewa untuk ukuran smartphone flagship, di mana unlock time diklaim ada di angka 0,25 detik, sementara flagship lain hanya membutuhkan waktu 0,1 detik saja.

Kedua adalah masalah update software. ZTE seingat saya rada pelit masalah ini. Dan ZTE Axon 7 ini saya terima dalam keadaan masih menggunakan Android Marshmallow, dengan proses update ke Nougat harus dilakukan secara offline, di mana saya download dulu file update-nya untuk kemudian disalin ke micro-sd dan dilakukan update manual. Tapi paling tidak Nougat-nya sudah 7.1.1 sih. Dan saya tak tahu apakah ponsel ini akan dapat update Android Oreo atau tidak.

Ketiga adalah tombol kapasitifnya yang tak memiliki backlight, dan menggunakan ikon titik, yang walau tujuannya baik, agar bisa ditukar posisi tombol back dan recent apps-nya, tapi terasa kurang intuitif sih jadinya.

Kekurangan terakhir yang saya rasakan sih lebih ke body-nya yang licin saja, yang selalu bikin khawatir kalau-kalau ponsel ini akan terjun bebas dari genggaman saya, sama seperti harganya yang sudah terjun duluan hahaha.

Oke, sudah boleh bahas kamera ya?

Sip, ZTE Axon 7 ini memiliki kamera yang memang kelasnya flagship sih. Resolusi besar, mode manual lengkap, beauty selfie juga ada, dan digunakan pada kondisi lowlights masih terbilang oke banget. Performanya juga asyik, kunci fokus tergolong tak pernah meleset dan cepat, gambar dapat dijepret dengan cepat.

Bonusnya ada pada stabilization yang sudah optic alias OIS, sehingga saat mengambil gambar, hasilnya tak mudah goyang. Untuk perekaman video juga membantu hasilnya lebih smooth, walau untuk masalah stabilisasi masih setingkat di bawah kameranya Huawei P10 sih. Tapi segini sudah keren koq, inget lho harganya sudah turun banyak, hehehe.

Saya seringkali mengambil gambar pada kondisi cahaya kurang, dan suka takjub sendiri melihat hasilnya. Sungguh bikin galau hasil fotonya. Nih saya perlihatkan hasilnya ya, pasang mata baik-baik hehe.



Hasil kameranya kece koq malah bikin galau? Heuheu. Justru itu, smartphone ini punya segalanya untuk masuk ke kategori flagship, dan dengan harganya saat ini jadinya tempting banget. Saya sangat menyukai berbagai kelebihan dari ZTE Axon 7 ini, tetapi saya tak nyaman jika harus menggunakan ponsel dengan posisi fingerprint di belakang.


Apa Kata Aa tentang ZTE Axon 7

Dari Senin sampai Jumat, kebanyakan smartphone saya letakkan di atas meja, di samping laptop. Sesekali saya buka saat jenuh bekerja, atau saat ada notifikasi masuk. Nah, jika fingerprint ada di sisi belakang, mau tak mau saya harus mengangkatnya dulu untuk membuka layarnya, ini dia yang membuat saya tak nyaman.

Harusnya sih bisa diakali ya, karena ZTE Axon 7 ini memiliki fitur double tap to wake, lalu saya bisa buka kuncinya menggunakan pattern. Atau mungkin bisa menggunakan smart device, di mana jika terhubung dengan smartband yang sudah terdaftar, maka ponsel ini selalu tak terkunci. Namun entah kenapa saya tetap tak puas, rasanya lebih ingin ponsel lain saja yang fingerprint scanner-nya di depan.

Padahal selain masalah itu, ZTE Axon 7 dengan harganya saat ini bisa dibilang salah satu best deal. Dapur pacu mentereng, layar kelas atas super tajam, baterai yang cukup awet, serta loudspeaker yang mantap, masih ditambah oleh kamera yang kece dan ada OIS-nya. Satu lagi, NFC hadir pula.

Kalo gitu, saya mau tanya aja deh sama penonton. Kira-kira hape apa yang kurang lebih sekece ini luar dalam, tapi harganya maksimal 4 juta Rupiah saja? Kalau ada tolong tuliskan di kolom komentar ya. Terima kasih sebelumnya.

Ulasan kali ini saya tutup dengan kegalauan yang menyiksa. Dapat smartphone best value yang cocok dalam segala hal kecuali posisi fingerprint-nya itu rasanya kaya udah nemu jodoh yang tepat buat diajak married, tapi dianya ga boleh nikah karena masih ikatan dinas. Heuheu. Eh ngga, ini bukan curcol ya hahaha.

Oke demikian deh review dari ZTE Axon 7 ini. Dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL. Mending Mana Sama yang Pro?



Dengan selisih harga yang mencapai 1,5 juta Rupiah dari versi Pro-nya, awalnya saya berpikir ini akan jadi pilihan yang mudah, tinggal menyesuaikan budgetnya cukup yang mana, selesai.

Tapi kenyataannya ngga begitu. Tak sesederhana Rumah Makan Padang euy.

Pertama kita lihat dulu apa sih bedanya ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL alias versi standar ini dari versi Pro-nya?



Desainnya mirip, tapi komponen yang dipakai bisa dibilang semua tak sama, apa yang kusentuh, apa salah sentuh. Eeeeh, melenceng lagi kan, hahaha.

Maksudnya, saat disentuh, kita bisa tahu persis kalau body belakang Zenfone 4 Selfie ini menggunakan bahan plastik, bukan logam seperti versi Pro-nya. Dengan kapasitas baterai yang sama, ketebalannya berbeda. Versi standar ini terlihat lebih tebal dan membulat di sudut-sudutnya.

Layarnya pun dipilihkan dari panel IPS dengan resolusi HD saja. Namun di mata saya, nampak layar ini lebih teduh daripada panel AMOLED yang sangat mencolok miliki Zenfone 4 Selfie Pro.

Jeroannya? Yang ini pakai Snapdragon 430 yang walau masih smooth-smooth saja, jelas kelasnya di bawah Snapdragon 625 milik versi Pro. Masih sangat cukup untuk kebutuhan social media, browsing, dan lainnya, dengan konsumsi daya yang juga tergolong awet. Baterai 3.000 mAh-nya bisa dimanfaatkan untuk bertahan 24 jam tanpa koneksi wi-fi dan screen-on time 4 jam yang dalam pola pemakaian saya sih sudah mengindikasikan pemakaian cukup intens ya.

Dengan segmen pasar yang disasar adalah penyuka swafoto yang lebih cenderung merujuk kepada kaum hawa, spesifikasi ponsel ini sudah cukup banget. Jangan lupakan RAM-nya yang 4 GB dan storage yang tetap 64 GB, alias sama besar dengan Zenfone 4 Selfie Pro. Bahkan yang ini punya sesuatu yang tak dimiliki versi Pro-nya, yaitu dedicated micro-SD slot! Wow, kayanya buat selfie sejam sekali selama setahun masih bisa lah ya, ahahaha.

Karena sudah mulai menyinggung soal selfie-nya, artinya saatnya kita bahas kameranya. Di sini saya merasa janggal, ASUS Zenfone 4 Selfie versi standar ini memiliki kamera depan dengan resolusi lebih besar dari versi Pro. Sama-sama berjumlah dua, resolusinya masing-masing adalah 20 dan 8 Megapixels. FYI, Zenfone 4 Selfie Pro kamera depannya memiliki resolusi 12 dan 5 Megapixels, bedanya cuma di sensor yang dipakai, di mana versi Pro menggunakan sensor Sony, sementara yg ini pakai OmniVision kalau saya tak salah ingat.

Bagusan mana? Lebih baik gambar saja yang berbicara ah, monggo disimak dulu hasil selfie-nya!

Dalam penilaian saya, kedua varian Selfie dari Zenfone 4 series ini malah tak terlalu handal saat digunakan berselfie ria. Memang sih kehadiran dua kameranya bisa membantu menghasilkan efek bokeh serta gambar yang lebih wide. Tapi kualitas hasil gambarnya menurut saya standar saja, dan semakin menurun seiring berkurangnya intensitas cahaya.

Lagi-lagi saya lebih suka hasil foto kamera belakangnya yang beresolusi 16 Megapixels. Hasilnya dapat diandalkan di berbagai situasi, termasuk saat cahaya mulai temaram. Meskipun  memang hasilnya masih sedikit di bawah versi Pro-nya.

Untuk video pun hasilnya kurang lebih sama dengan kualitas foto tadi. Sedikit highlight positif saya berikan untuk kestabilan gambarnya.




Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL

Tak banyak yang bisa saya bahas selain masalah kamera dan performa kesehariannya. ASUS Zenfone 4 Selfie ZD553KL ini sudah menggunakan ZenUI 4.0 yang lebih clean dan simple, banyak fitur menarik yang Anda bisa temukan pada custom UI ini, dan takkan saya bahas lagi di sini. Sama saja dengan apa yang pernah saya bahas di video ulasan Zenfone 4 Selfie Pro dan Zenfone 4 Max lalu.

Jadi kita langsung masuk ke kesimpulan saja, di mana saya cukup bingung apakah Zenfone 4 Selfie ini lebih worth the money daripada versi Pro-nya atau tidak. Yang pasti versi standar ini tak memiliki varian warna merah ya. Yang saya uji ini sendiri adalah varian warna Rose Gold, sangat cantik untuk digunakan oleh wanita.

Layar kinclong, performa masih smooth, dan baterai awet, adalah tambahan yang akan didapatkan jika Anda meminang ponsel ini karena mengincar kemampuan selfie-nya. Dan dengan harga yang lebih murah dari ponsel selfie tetangga, di mana RAM dan kapasitas penyimpanannya sama besar, harusnya ASUS mampu bersaing secara head-to-head dengan kompetitornya.

Hanya saja ada dua hal yang tak dimiliki oleh ASUS Zenfone 4 Selfie ini. Pertama ponsel ini tak punya terobosan soal rasio layar yang masih 16:9, kedua ASUS tak jor-joran membelanjakan anggaran promosi mereka untuk produk ini.

Yang pasti, dengan harga yang tak saling membunuh, saya rasa untuk tahun ini ASUS memiliki jajaran produk yang cukup lengkap pada Zenfone 4 Series yang sudah dirilis di Indonesia. Tinggal butuhnya yang mana, dan punya uang berapa saja ya.

Kalau saya? Saya masih menunggu ASUS Zenfone 4 Basic Edition sih. Semoga masuk juga ke Indonesia ya, hihihi.

Amiiin. Sekian ulasan dari ponsel ASUS Zenfone 4 Selfie ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Wednesday, December 6, 2017

Review Huawei Honor Band 3, Sophisticated ala Branded!



Ini adalah salah satu smartband yang bisa bikin saya betah memakainya. Alasan utamanya sih baterai, di mana dalam seminggu pemakaian dengan kondisi sering terhubung ke smartphone melalui bluetooth, level baterainya hanya turun sekitar 20-30% saja. Hemat bukan?

Tapi tak hanya itu, smartband branded seperti ini terasa lebih sophisticated daripada smartband-smartband dari brand non global yang walau memiliki fitur lebih banyak, namun sering sekali terasa seperti produk yang setengah matang.

Dari masalah aplikasi saja misalnya, Huawei memiliki Huawei Wear untuk menangani koneksi dan data yang dihasilkan oleh Huawei Honor Band 3 ini. Pairingnya sangat cepat dan mudah, serta juga bisa dikombinasikan datanya di aplikasi Huawei Health yang juga mengambil data dari smartphone. Kebetulan selama menguji smartband ini, saya menggunakan Huawei P10 ya.

Selama berada dalam jangkauannya, koneksi antara smartband dan smartphone ini selalu lancar. Bahkan saat sempat terpisah jauh yang menyebabkan koneksi terputus, saat kembali didekatkan, koneksi akan dihubungkan kembali secara otomatis dan tanpa kendala.



Mungkin karena inilah saya betah memakainya selama ini ya.

Padahal, fitur dari Huawei Honor Band 3 ini terbilang sangat standar. Walau masih sedikit lebih baik dari Mi Band 2 sih. Apa saja memang keunggulannya dari Mi Band 2? Saya absen deh ya.


  1. Layarnya lebih besar, sehingga tulisan dari notifikasi juga bisa dimunculkan. Kalau pesannya panjang, tinggal putar-putar pergelangan tangan untuk membaca terus sampai habis.
  2. Heartrate-nya dynamic alias tak hanya sekali ukur.
  3. Adanya mode khusus untuk running dan swimming, Mode khusus untuk berlari, dapat memanfaatkan GPS pada smartphone sehingga bisa dihasilkan data lokasinya. Sementara mode berenang membuat layar smartband ini menjadi tak sensitif. Ini diperlukan saat berada di dalam air agar smartband tidak berpindah-pindah menu terus. Ketuk layar 2x dengan agak keras pada mode ini untuk menggantikan sentuhan.


Strap dari Huawei Honor Band 3 ini jelas terasa berkualitas. Nyaman di kulit, tidak terlalu memble, namun juga tak terlalu keras, pas lah. Sayangnya strap ini tak dapat dilepas. Saat ini di GearBest ada 3 pilihan warna yang dapat Anda miliki, yaitu orange, biru tua, dan hitam.

Dan dengan harga sekitar $35 alias 400-ribuan, saya pikir smartband ini worth the price buat Anda yang memang tak perlu gimmick, dan cukup dengan fitur-fitur yang tadi saya sebutkan.

Oh ya, notifikasi yang diterima hanya membuat smartband ini bergetar saja, dan layarnya baru menyala saat Anda mengangkat pergelangan tangan. Menurut saya ini sangat smart!

Saya akan menyimpan terus smartband ini, karena saya menyukainya, dan cocok dengan kebutuhan saya. Jika kebutuhan Anda bisa terpenuhi oleh smartband ini, link pembelian saya sertakan di deskripsi video ini yah.

Okay, gitu aja review dari smartband Huawei Honor Band 3 ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, November 28, 2017

Windows Asli di Notebook ASUS, Demi Satu Kata: Barokah!



Pada hari ini, Selasa 28 November 2017, bertempat di Hotel Hilton Bandung, ASUS menghelat sebuah acara bertajuk Year End Notebook Gathering with Microsoft.

Acara yang digelar dengan membawa tagline #ASUSGatheringBandung17 dan #ASUSWindowsAsli ini secara garis besar membawa kabar baik bagi pengguna notebook di tanah air. Di mana sejak November 2017 ini, semua jajaran produk notebook ASUS akan dirilis ke pasaran dalam kondisi pre-installed dengan sistem operasi asli besutan Microsoft ini.

So much win? Tentu saja. Coba saja cek di toko sebelah, berapa harganya jika kita hendak membeli lisensi Windows asli yang terbaru.


Keuntungan Menggunakan Windows Asli di Notebook ASUS

Untungnya apa? Selain ngirit duit, dan mengurangi dosa jika memakai versi bajakan, update Windows 10 terbaru ini juga membawa segudang fitur yang tentu saja berguna meningkatkan produktifitas kita.

Ruginya? Ya ngga ada lah. Harga notebook-nya tetep koq. Ya ngga bisa dibilang murah sih memang notebook ASUS mah, tapi kan memang ada harga ada rupa. Saya aja balik lagi pake notebook ASUS biarpun harus sedikit lebih dalam merogoh kocek, karena mau bagaimana pun juga, sekenceng apapun juga, kalo tongkrongannya ga kece, kaya ada yang kurang gitu.

Pssst, saya baru beli ASUS Zenbook UX410 lho, kamu bisa lihat unboxing video-nya di video berikut ini ya:


Pada acara ini, hadir beberapa Youtuber kondang asal Bandung, di antaranya: Kang Dadan (Gayafone Channel), Kang Nico (ObatGaptek), dan Iqbal (Juragan Tekno & Doyan Vape). Memang ajang gathering seperti ini sangat saya tunggu-tunggu, bukan karena makan-makannya, tapi karena silaturahmi dengan sesama konten kreatornya.



Yang saya perhatikan dari materi di acara ini, dan tentunya menjadi inspirasi saya, adalah bagaimana kisah ASUS bisa muncul ke permukaan dan menjadi leader di pasar notebook tanah air. Saya masih ingat, zaman saya kuliah dan awal kerja dulu, masih sangat jarang sekali orang yang menenteng laptop dengan brand ASUS. Kebanyakan brand Jepang yang dipakai.

Perlahan, pamor notebook ASUS semakin meningkat, sementara satu persatu brand kompetitor malah tumbang, atau merelakan dirinya diakuisisi oleh brand lain.Kedigdayaan ASUS semakin tertancap kuat ketika mereka merilis seri Zenbook pertama. Saya percaya, siapapun yang senang dengan penampakan Macbook, tapi tak bisa melepaskan diri dari jerat kenikmatan menggunakan Windows, pasti akan senang begitu melihat Zenbook series.


Fitur Windows 10 Fall Creators Update

Eh ya, apa saja sih fitur yang bisa didapatkan jika menggunakan Windows 10 Fall Creators Update di notebook ASUS ini? Kira-kira ini dia fiturnya:

1. Windows Hello, fitur ini akan membuat login ke notebook kita semakin nyaman tanpa harus mengingat dan menyembunyikan password atau pin kita agar tak diketahui orang lain.
2. Windows Defender. Khawatir soal ancaman keamanan semacam virus, malware, atau bahkan ransomware? Ini dia pengaman paling komprehensif dari sang pembuat sistem operasinya sendiri.
3. Paint 3D. Mengasah kreatifitas atau hanya sekadar membunuh waktu di depan laptop kini semakin menyenangkan.
4. Windows Photo pun kini mempunyai fitur untuk membuat quick video dari deretan foto dengan kemampuan otomatis yang akan menyesuaikan efek dengan beat music yang digunakan.

Saya yakin masih banyak lagi fitur dan keunggulan dari penggunaan Windows Asli di notebook ASUS ini. Tapi ada satu yang paling penting buat saya dari semua hal yang saya sebutkan di sini, dengan penggunaan OS Windows Asli, saya jadi lebih tenang dan lebih yakin akan keberkahan rezeki yang saya cari menggunakan perangkat notebook ASUS ini.

Barokah is beyond everything, ahahaha!

Monday, November 27, 2017

Review Notebook ASUS Vivobook A405U



Jika ditanya mengapa saya bisa yakin membeli ASUS Zenbook untuk dijadikan daily driver saya, maka jawabannya justru datang dari sebuah notebook ASUS dari seri Vivobook, yaitu ASUS Vivobook A405.

Lho koq bisa begitu? Haha, sebelum menggunakan Acer E5-475G, saya selama sekitar 1,5 tahun adalah pengguna laptop ASUS, hanya saja statusnya inventaris kantor.

Dan ketika saya bisa menabung untuk laptop saya selanjutnya, saya mendapat pinjaman sebuah ASUS Vivobook A untuk diulas. Di sinilah build quality dari ASUS berbicara.

Memang untuk masalah harga, dengan spesifikasi yang setara, di mana sama-sama menggunakan Intel Core i5-7200U, RAM 4GB DDR4, Harddisk 1TB, dan graphic card NVidia GeForce 940MX, selisih harganya hampir mencapai satu juta Rupiah. Itupun Vivobook A ini menggunakan Endless OS yang terhitung gratisan, bukan Windows 10.

Tapi untuk urusan looks dan build quality, ASUS Vivobook A405 ini saya nilai beberapa tingkat di atas Acer E5-475G. Mulai dari lid yang berbahan logam, dengan pola brushed metal berwarna dark grey dikombinasikan logo ASUS berwarna gold yang entah kenapa saya suka sekali. Bahkan saya lebih suka lid dari Vivobook A405 ini daripada lid Zenbook UX410 milik saya heuheu.

Lanjut ke layar, NanoEdge bezel yang tipis sekali di sisi kiri kanan dan atas, membuat ASUS Vivobook A405 ini memiliki dimensi lebar dan panjang yang sama dengan Zenbook UX410. Sama-sama laptop berlayar 14 inci dengan body 13 inci nih, compact, dengan screen to body ratio yang mencapai 78%, keren kan?

Layarnya sendiri masih beresolusi HD pada dimensinya yang 14 inci ini ya.

Memang selain lid-nya tadi, body dari laptop ini sisanya masih berbahan plastik. Layout keyboardnya sama persis dengan milik Zenbook UX410, di mana tombol navigasi seperti home, end, page up dan page down digabung dengan tombol panah arah dan harus diakses via Fn key. Jadinya butuh sedikit penyesuaian buat mereka yang terbiasa menggunakan keyboard dengan layout lengkap. Pada Vivobook A405 ini tidak terdapat bakclight pada keyboardnya. Tuts-tuts keyboardnya sendiri empuk dan nyaman digunakan.

Touchpad berukuran besar dengan finishing yang kesat, membuatnya cukup enak digunakan tanpa mouse.

Oh ya, bobotnya hanya 1,3 kg lho. Dengan ketebalan total yang hanya 18,8 mm saja, menjadikannya sangat compact dan ringan untuk dibawa-bawa berkegiatan di luar rumah.



Lalu kita akan bahas ada apa saja di bagian bawah laptop ini. Di sisi depan tidak terdapat apa-apa, sementara di sisi belakang terdapat exhaust atau buangan panas dari laptop ini. Di sisi kanan secara berurutan terdapat port kensington lock, dua buah port USB 2.0, port audio combo 3,5 mm, slot SD-card reader, dan dua buah lampu indikator. Sementara di sisi kiri terdapat port untuk AC power input,  RJ45 LAN port, HDMI, sebuah port USB 3.0 dan port USB Type-C 3.1. Cukup lengkap ya port-nya, masih terdapat port untuk kabel LAN, walau sudah tidak ada port untuk display VGA.

Saya sendiri kurang tahu apakah ada slot untuk SSD M.2 pada Vivobook A405 ini. Untuk mengakses RAM dan lain-lainnya, tidak ada bay khusus yang dapat dibuka dengan mudah, alias kita harus mencopot keseluruhan sisi bawah laptop ini jika ingin menambah kapasitas RAM-nya.

Dengan spesifikasi seperti ini, yang mana sama persis dengan laptop saya sebelumnya, performanya sudah cukup banget untuk membuat konten yang selama ini saya publish di YouTube. Tapi memang sih kalau mau lebih enak lagi, di laptop lama saya melakukan upgrade dengan menambahkan SSD untuk drive system, dan RAM sudah digandakan menjadi 8 GB.

Nah, ASUS Vivobook A405 ini kan hadir dengan bundling Endless OS, apa sih sebetulnya Endless OS ini?

Jika melihat penjelasan di situs resminya, Endless OS ini adalah sistem operasi berbasis Linux yang diperuntukkan bagi kebutuhan pelajar. Dengan biaya gratis, OS ini dapat digunakan untuk kegiatan belajar, sehingga diharap meringankan beban para siswa.

Saya sendiri menilai penggunaan Endless OS jauh lebih baik daripada laptop yang dijual dengan DOS saja. Sama-sama tak berbayar, laptop yang sudah menggunakan Endless OS bisa langsung digunakan dengan berbagai fitur yang dimilikinya.

Intinya sih gini, bayangkan kalau kita membeli smartphone ber-OS android. Begitu kita beli, sudah langsung bisa memilih aplikasi apa saja yang ingin diunduh dan digunakan. Kira-kira begitu jugalah Endless OS, di mana App Center-nya sudah memiliki banyak aplikasi yang segera dapat diunduh dan difungsikan.

Untuk Youtuber pemula seperti saya, tools-nya sudah cukup lengkap. Video Editor ada. Sound Editor juga ada, dan bahkan sebetulnya ini adalah Audacity yang memang biasa saya gunakan sehari-hari untuk merekam voiceover. Office, multimedia player, hingga browser sejuta umat, Chrome, semuanya ada.

Namun memang jika ingin memaksimalkan kemampuan Vivobook A405 yang sebetulnya memiliki spesifikasi yang sangat mumpuni untuk kebutuhan membuat konten, kita bisa menginstall Windows secara paralel. Saya sendiri memang masih sangat menggantungkan aktifitas dan pekerjaan saya pada OS besutan Microsoft ini sih hehehe.

Overall, Endless OS akan sangat membantu apabila Anda belum memiliki budget untuk membeli Windows, dan ingin menggunakan laptop Anda dengan fungsi penuh, bukan hanya DOS doang.

Nilai positif saya berikan untuk Vivobook A405 dalam hal looks, size-nya yang compact, serta build quality yang terasa jempolan. Spesifikasi sudah mumpuni, walau masih perlu diupgrade kapasitas RAM-nya, dan semoga saja ada slot SSD agar lebih wuss wuss lagi performanya.

Untuk urusan harga, 8-jutaan untuk menebus Vivobook A405 ini mungkin tak membuatnya menjadi yang terbaik dari segi price-to-spec comparison. Tapi anggaplah itu harga yang harus dibayarkan untuk mendapat ukuran yang minimal, serta finishing yang menjadikannya terlihat cukup premium ini. Jika Anda punya budget sedikit lebih besar dan tak masalah dengan ukuran yang lebih besar juga, mungkin bisa melirik Vivobook S ya, spesifikasinya kurang lebih setara, namun sudah memiliki SSD.

Namun yang pasti, berkat mencoba Vivobook A405 ini, saya bisa mantap memutuskan untuk meminang Zenbook UX410 sebagai daily driver saya selanjutnya. Hehehe.

Ok, demikian ulasan singkat tentang ASUS Vivobook A405 dari mata saya yang sehari-harinya lebih banyak mengulas smartphone ini. Dari Kota Cimahi, saya pamit undur diri, wassalam!

Thursday, November 23, 2017

Review Lenovo P2 Indonesia, Monster yang Terlupakan

review Lenovo P2 Indonesia


Lenovo P2 atau yang di Indonesia dinamakan Lenovo P2 Turbo ini adalah monster yang terlupakan. Kenapa saya bilang begitu? Mungkin pertanyaan ini akan terjawab jika kita absen dulu spesifikasi teknisnya ya.


  • Processor? Snapdragon 625.
  • Baterai? 5.100 mAh.
  • Layar? 5,5 inci, resolusi full HD, panel Super AMOLED!
  • RAM? 4 GB.
  • Storage? Versi yang dijual di Banggood ini 64 GB, sementara versi resmi di Indonesia storagenya 32 GB.
  • OS? Sudah dapat update tuh ke Android 7.0 Nougat.
  • Fingeprint scanner? Ada, di dagu ponsel pula posisinya.


Oh iya lupa, NFC juga ada euy! Paket komplit banget deh pokoknya. Monster kan?


Lalu pertanyaannya, kenapa monster terlupakan? Saya sih cuma bisa jawab satu, harga.

Lenovo P2 Turbo dijual di harga 4,5 jutaan saat rilis resmi di Indonesia. Dengan harga segitu untuk brand Lenovo yang lebih dikenal dengan produk-produk ekonomisnya, orang sudah keburu berpaling duluan. Padahal Lenovo bukan tanpa alasan mematok harga segitu lho. Cek lagi deh daftar absen yang tadi sudah kita lakukan, heuheu.

review Lenovo P2 Indonesia


Nah, good news datang dari Banggood. Lenovo P2 ini di sana dijual pada harga ga jauh-jauh dari $200 atau jika dirupiahkan masih di bawah 3 jutaan. Jomplang ya, apalagi yang dijual di Banggood storage-nya 2x lipat dari yang dijual Lenovo Indonesia.

Jadilah Lenovo P2 ini sebagai salah satu smartphone dengan value yang sangat baik jika dibandingkan dengan bandrolnya saat ini.

Memang sih setup kameranya belum kekinian, alias tak punya kamera ganda. Tapi hasil jepretannya tak bisa dipandang sebelah mata. Untuk kebutuhan foto sehari-hari mah sudah cukup banget. Apalagi untuk kebutuhan fotografi outdoor, bisa jadi kepake banget lah.

Memang lowlights-nya tak begitu istimewa. Tapi setidaknya warna-warna yang dihasilkan cukup akurat, serta performa dalam pengambilan gambar juga baik. Fokus jarang meleset, kunci fokus cepat, dan pengambilan gambar juga memakan waktu singkat.

Digunakan merekam video juga masih oke. Warna mampu ditangkap dengan baik, dengan framerate yang cukup agar hasilnya tak terlihat patah-patah. Untuk masalah stabilisasi sih saya nilai standar saja, cukup untuk membuat kita menikmati momen yang kita rekam.

Seperti biasa, silakan dinilai langsung pada foto dan video berikut ini ya.

Saya ngga yakin kalo saya masih harus menjelaskan detail dari Lenovo P2 ini. Ya, angka-angka pada spesifikasi yang di awal saya sebutkan sudah berbicara sendiri.

review Lenovo P2 Indonesia


Snapdragon 625 sudah sangat lumrah digunakan di berbagai smartphone kelas menengah ke atas. Performa tidak ada masalah. Konsumsi daya baterai apalagi, sudah mah terkenal irit, dijejali baterai kapasitas jumbo, jadilah minimal 2 hari sekali saya baru ngecas. Dan lagi suhunya ngga gampang panas, gamer kayanya bakal betah pakai Lenovo P2 ini.

review Lenovo P2 Indonesia


Dipakai untuk kebutuhan multimedia juga Lenovo P2 ini asyik. Layar kinclong, gonjreng, tajam, dan ukuran yang besar, enak banget buat nonton video mah. Loudspeaker-nya juga jernih, walau tidak bisa masuk ke golongan speaker yang powerful.

Fingerprint scanner-nya responsif, walau untuk urusan akurasi bisa dikatakan sedikit kurang. Terkadang saya harus menyentuhkan jari 2-3 x untuk mencari posisi yang pas agar pemindaian berhasil.

review Lenovo P2 Indonesia


Susah cari minus dari ponsel ini? Tidak juga. Baterai besar pasti punya konsekuensi di bobot yang ekstra juga. Di sinilah kurang nyamannya Lenovo P2 terasa. Ukuran bulky serta cukup berat, membuat saya banyak berpikir-pikir apakah akan lanjut saya pakai terus atau tidak.

Dan pada akhirnya saya memutuskan untuk melepasnya, karena ponsel yang compact bagi saya lebih nyaman dibawa-bawa.

review Lenovo P2 Indonesia

review Lenovo P2 Indonesia


Selain itu desain dari Lenovo P2 ini terasa biasa saja. Sebetulnya kalo diperhatikan bagian pinggirannya hingga ke grille speaker-nya sih, macho. Tapi overall harus diakui desainnya standar-standar saja.

Tapi seandainya saya hanya punya uang 3-juta Rupiah, dan harus membeli smartphone dan tak boleh gonta-ganti dalam kurun waktu yang lama, saya takkan ragu untuk menjadikan Lenovo P2 ini sebagai pilihan.

Link pembelian Lenovo P2 ada di sini ya.

review Lenovo P2 Indonesia


Ulasan dari Lenovo P2 saya akhiri di sini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review Smartband LYNWO M2S Pro, Layar Warna yang Terjangkau!

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Kalau tak salah, LYNWO M2S Pro ini adalah smartband ketiga dari Lynwo yang saya coba. Sebelumnya saya pernah coba Lynwo M4 dan M6. Ketiga-tiganya memiliki fitur heartrate sekaligus blood pressure counter. Dan ketiga-tiganya pula saya dapatkan dari Banggood.com.

Jika saya perhatikan, brand Lynwo ini nampaknya rajin mengeluarkan produk smartband kesehatan dengan harga yang cukup terjangkau. Dalam pantauan saya produk Lynwo termahal tak sampai $35 lho.

M2S Pro saat ini dijual dengan harga $25 saja. Hanya lebih mahal $2 dari Lynwo M6 yang saya coba beberapa waktu lalu. Sama seperti M6, Lynwo M2S Pro ini juga memiliki kemampuan mengukur blood oxygen.

Perbedaan utamanya adalah Lynwo M2S Pro sudah memiliki layar yang berwarna. Sehingga terlihat lebih fancy. Desainnya secara keseluruhan juga lebih trendy dari M6. Tapi saya ingat, desain ini mirip dengan milik Zeblaze Zeband 2 yang pernah saya ulas tahun lalu.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Lynwo M2S Pro dikemas dalam kotak kemasan yang tergolong sangat sederhana, sesuai lah dengan harganya. Di dalam paket penjualan hanya terdapat smartband dan leaflet manual-nya saja. Lho, koq tidak ada kabelnya ya? Tenang dulu, ini karena Lynwo M2S Pro memiliki konektor USB 2.0 di salah satu ujung yang menancap ke dalam strapnya.

Saya suka sih dengan konektor seperti ini, jadi untuk charge tinggal colok, entah itu ke laptop atau ke kepala charger. Ga usah bawa-bawa kabel atau dock tambahan. Tapi memang bikin khawatir strap-nya akan cepat longgar euy, hehehe.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Strap yang saya dapat kali ini berwarna ungu. Gimana, unyu ngga? Hahaha. Biar ga bosen hitam atau hijau terus nih. Di Banggood sendiri ada dua pilihan warna lain yaitu navy blue dan hitam. Finishingnya lembut di tangan, dan cukup lentur walau masih terasa sedikit plasticky. Ujung strap memiliki lubang untuk memasukkan strap lainnya, dan dikunci dengan pengait logam. Klop, ini saya suka.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Fiturnya sendiri masih sama dengan Lynwo M6, dari layar utama yang berisi jam dan tanggal serta indikator baterai dan koneksi bluetooth, kita dapat menyentuh satu-satunya tombol navigasi untuk berpindah menu. Menu selanjutnya adalah pedometer, pengukur kalori terbakar, pengukur jarak, dan pengukur kualitas tidur. Selanjutnya ada penghitung detak jantung, kadar oksigen darah, dan tensi atau tekanan darah.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Dua menu terakhir ada find phone dan power off. Terasa membosankan memang buat saya yang mencoba beberapa smartband tapi menunya itu-itu lagi.

Accelerometer hadir untuk membuat layarnya menyala saat kita memutar pergelangan tangan. Fitur ini baru bisa aktif setelah kita melakukan pairing dengan aplikasi FitCloud di smartphone. Sayangnya, tidak semua notifikasi aplikasi dapat diteruskan ke smartband ini.

Daya tahan baterai Lynwo M2S Pro ini sedikit lebih boros dari Lynwo M6, yang kemungkinan besar adalah efek dari penggunaan layar berwarna. Dalam satu hari penggunaan dengan kondisi terkoneksi ke smartphone, kadar baterai bisa berkurang 25-30%.

Dan meskipun terkena air tidak masalah, namun penyakit layar mengembun yang pernah hadir di Lynwo M4, kambuh di M2S Pro ini walau memang tak separah dulu.

Dengan harga yang jika dirupiahkan hampir mencapai 350 ribuan, menurut saya Lynwo M2S Pro ini cukup patut dimiliki. Selain layar berwarna, strap yang ramah kulit, ada juga fitur kesehatan yang cukup lengkap, walau untuk akurasi hasilnya masih sangat bisa diperdebatkan ya.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Colokan USB 2.0 membuatnya praktis saat hendak diisi ulang dayanya. Sementara ketahanan baterainya sendiri buat saya tidak cukup untuk membuatnya menjadi pilihan utama.

review smartband LYNWO M2S Pro Indonesia Banggood


Sip, segitu aja yah ulasannya. Ini adalah link pembelian LYNWO M2S Pro yang termasuk produk best seller lho di Banggood.

Dari Kota Cimahi saya pamit undur diri, wassalam!

Tuesday, November 21, 2017

Review Vernee M5, Lumayan (Pake Banget)



Mungkin tak ada akan ada yang tertarik dengan Vernee M5 saat orang sedang browsing-browsing smartphone yang dijual oleh GearBest.com.



Wajar, ponsel ini tak membawa gimmick apa-apa seperti kebanyakan smartphone Android dari brand Tiongkok di sana saat ini.

Lalu apa dong yang membuat saya tertarik untuk mengulasnya? Yakin mau tahu? Ngga takut keracunan? Haha, ya sudah, racun ditanggung sendiri ya. Lanjut!

Smartphone ini mungkin akan banyak dilewatkan orang. Ya bagaimana tidak, desainnya sederhana alias simple banget walau sudah menggunakan bahan metal dan juga punya pilihan warna biru. Kamera belakang maupun depannya masing-masing cuma ada satu. Boro-boro punya layar bezeless atau ala-ala infinity display, ini saja layarnya hanya beresolusi HD 720p dengan dimensi 5,2 inci.

Eits, kalo mendengar 5,2 inci harusnya sudah pada dapet clue dong kenapa saya tertarik menguji Vernee M5 ini?

Yap, dimensinya cukup compact. Selain itu, ini adalah ponsel Android termurah yang saya temukan sejauh ini, yang sudah memiliki RAM 4 GB, storage 64 GB, koneksi 4G dan OS Android 7.0 alias Nougat. Harganya di GearBest hanya $110 saja, alias kalo diRupiahkan ya 1,5 juta lah.

Sudah lebih dapat pencerahan kan tentang apa value dari Vernee M5 ini? Yap, harga murah, tapi menang banyak.

Dan asal tahu saja, pada harga segini, kameranya sudah 13 Megapixels di belakang, dan 8 Megapixels di depan. Hasil fotonya gimana? Gimana ya, dibilang standar sih ngga, karena saya tahu harganya murah, ekspektasi saya di awal sudah dipasang pada titik yang cukup rendah duluan. Nyatanya, hasilnya bagus koq untuk ukuran harga segini. Tapi kalo dinilai overall sih ya sebatas lumayan aja sih.

Cahaya ideal hasilnya tidak ada masalah, lowlights pun masih kepake sih, ya kan ga bisa ngarep kece-kece amat juga dari hape kamera sejutaan begini. Dipakai rekam video juga hasilnya ngga bikin pusing lho, padahal saya rekam pada Hari Minggu, dari samping pak kusir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya.

Halah haha.

Memang manual mode tidak ada, serta pengambilan fokus harus ekstra hati-hati. Cukup sering meleset fokusnya, dan kalau tangannya goyang ya gitu deh.

Segimana lumayan? langsung saja cekidot!



Dapur pacu Vernee M5 menggunakan Mediatek MT6750 yang merupakan processor Octa-core Mediatek dengan clockspeed 1,5 GHz saja. Dipakai bermain game dengan grafis ringan pun sudah kerasa beda, mungkin karena pada saat yang bersamaan saya pakenya Huawei P10 kali yah.

Konsumsi baterainya menurut saya oke. Di mana di saat idle, daya yang digunakan sangat sedikit, jadinya 24 jam dapat ditembus dengan mudah. Namun memang saat kita aktif mengoperasikan ponsel ini, semisal main game terus di akhir pekan, paling setengah hari juga sudah minta mimik ni hape.

Layarnya sendiri masih sangat enjoyable, reproduksi warna yang terlihat seperti aslinya, tidak pucat, ketajamannya pun cukup.

Lalu gimana dong kesimpulannya, worth it ga?


Apa Kata Aa tentang Vernee M5

Saya sih bisa bilang worth it, namun saya juga takkan sampai hati menjadikannya ponsel utama. Memang, Vernee M5 memiliki price-to-spec comparison yang sangat baik, tapi ya secara kualitas sih hanya masuk ke level lumayan, emmmm.. pake banget deh. Lumayan banget! yak! ini baru pas, hahaha.

Oya, sejak unboxing hingga selesai proses review, update OTA datang bertubi-tubi ke ponsel ini. Kayanya 5x mah ada lah. Kalo mau positif thinking, ini artinya ponsel ini diperhatikan sama developernya, tiap ada bug, langsung diperbaiki. Tapi ya tetep aja artinya masih ada bug hehehe.

Paling cocok sih ini ponsel dijadikan hape kedua, ukuran compact, storage gede, sinyalnya bisa 4G-3G barengan, batre juga ga boros, dan yang paling penting sih harganya, masuk banget di kantong.

Kamu yang tertarik, langsung aja cek link penjualan Vernee M5 di GearBest ini yes!

Singkat saja ulasan dari Vernee M5 ini, semua adegan pada video ini diambil di kampung halaman tercinta ya. So, dari Kabupaten Garut, Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Review ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL. Multimedia OKE, Selfie... Hmmmm...



Banyak orang yang mungkin menyangka ASUS ikut-ikutan menelurkan sebuah smartphone khusus selfie. Padahal, Zenfone 4 Selfie Pro ini adalah penerus dari Zenfone Selfie yang sudah pernah hadir sebelumnya. Hayo, masih inget ngga dengan smartphone yang satu ini? Yap, desainnya khas ya, senada dengan Zenfone generasi pertama dan kedua, ASUS banget. Dan malah Zenfone 4 Selfie PRO menurut saya kurang punya jatidiri dari masalah desain, selain warna merah-nya yang lekat dalam ingatan. Eh tapi, kayanya saya sudah sering ya review smartphone merah begini? Hehe.


Unboxing & Desain ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL




Ya, dari masalah desain, sebetulnya tak ada yang salah dengan ASUS Zenfone 4 Selfie Pro, termasuk yang berwarna merah yang saya ulas ini. Terasa mainstream memang, tapi tak ada yang akan menyangkal bahwa smartphone ini kece abis. Dimensi layarnya yang 5,5 inci tak begitu terasa saat kita menggenggamnya berkat bezel kiri dan kanan yang minim sekali. Ketipisan ponsel ini pun semakin menambah nilai plus dalam hal estetika desainnya. Dibalut body full metal dengan bagian depan berlapis Gorilla Glass 4 bertepian 2.5D, ini adalah ponsel ASUS yang paling kekinian saat ini.

Sedikit kekurangan dari desain ASUS Zenfone 4 Selfie ini adalah bagian jidat yang terlalu lebar, serta kamera belakang yang sedikit menonjol dan hanya memiliki satu buah LED Flash saja.

Satu hal yang saya senangi adalah sejak Zenfone 4 Max lalu, ASUS sudah memindahkan posisi fingerprint scanner ke sisi depan, tepatnya di dagu ponsel. Dengan akurasi dan respon time yang sangat baik, saya jadi betah menggunakannya sejauh ini.

Beberapa waktu lalu saya sempat melakukan unboxing sebuah ponsel selfie, dan orang-orang pada mencibir, bodynya plastik lah, layarnya ga Full HD, terus chipsetnya Snapdragon seri 4, bukan 6. Nah, Zenfone 4 Selfie Pro hadir menjawab itu semua, body full metal berkualitas, layar Full HD dengan panel AMOLED, dan chipset kesayangan kita semua, Snapdragon 625. Hayo, pada beli ga? Jangan alesan mulu deh, hahaha.


Harga & Spesifikasi ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL

Ya memang sih untuk bisa menentukan apakah ponsel ini harus dibeli atau tidak, perlu dibandingkan antara value dengan harganya. Dan harga resmi dari Zenfone 4 Selfie Pro ini adalah Rp 4.999.000,-, hmm cukup premium ya harganya. Pada harga yang kurang lebih sama, saat ini Anda bisa membeli Zenfone Zoom S yang sudah turun harga, tinggal lihat butuhnya dua kamera di depan atau belakang hehehe.

Oh ya, Zoom S punya baterai yang lebih besar ya. Zenfone 4 Selfie Pro sendiri memiliki baterai 3.000 mAh yang hampir selalu pas dipakai 24 jam. Dibilang boros ya ngga, tapi dibilang hemat juga rasanya Snapdragon 625 biasanya mampu bertahan lebih lama dari ini. Bisa jadi, konsumsi daya ini banyak dipengaruhi oleh real-time-nya semua notifikasi masuk ke ponsel ini. Dan bagi saya, notifikasi yang realtime jauh lebih penting dari baterai yang tembus dua hari sih.

Performa Snapdragon 625 sendiri rasa-rasanya sudah banyak yang tahu ya, dipakai berbagai kegiatan lancar-lancar saja, gaming juga mumpuni. Walau kalau dilihat dari proses benchmarking 3D di Antutu, ada scene-scene yang terlihat jelas beda smooth-nya saat dibandingkan dengan Snapdragon seri 8, semisal 820, 821, atau bahkan 835.


Multimedia & Kamera ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL

Sebagai multimedia player, Zenfone 4 Selfie Pro adalah andalannya. Layar vivid berkat panel AMOLED, kerapatan yang sangat cukup, dilengkapi dengan hi-res audio yang disandangnya. Outputnya loudspeakernya saat memutar lagu dengan volume maksimal sangat powerful menurut saya, walau memang untuk clarity terbaiknya ada pada level volume sekitar 70%. Disambungkan dengan earphone berkabel, Zenfone 4 Selfie Pro mampu men-drive-nya dengan baik untuk menghasilkan audio yang saya inginkan. Good job, ASUS!

Panjang lebar membahas ponsel yang memiliki nama Selfie ini, koq dari tadi belum bahas kamera ya? Aahahaha... Lupa euy! Hayu lah kita bahas sebelum masuk ke kesimpulan.

Ternyata walaupun statusnya adalah ponsel Selfie, ASUS masih membekalinya dengan kamera belakang beresolusi 16 Megapixels yang sangat bisa diandalkan. Somehow saya malah masih lebih suka hasil kamera belakang ini daripada kamera selfie-nya. Coba lihat foto yang saya ambil dalam kondisi lowlights yang ada pada video review di bawah ini, Anda akan tahu mengapa saya menyukainya.



Sementara di kondisi ideal, kamera belakang ini mampu memberikan performa yang baik saat pengambilan gambar, di mana fokus dapat terkunci dengan cepat, dan penyimpanan gambar pun berlangsung dengan singkat. Saat digunakan merekam video, hasilnya cukup dapat diandalkan walaupun stabilization-nya ngga bagus-bagus amat.

Malah saya merasa stabilization di kamera depannya yang di atas rata-rata mah. Cocok buat daily vlogger jadinya ya. Lihat deh perbandingan hasil perekaman video dengan kamera depan dan belakang pada video review di atas.

Nah, untuk kebutuhan selfie sendiri, kamera depan smartphone ini memiliki resolusi 24 Megapixels hasil dari teknologi duo pixel dari 12+12 Megapixels. Saya sendiri tak terlalu paham bagaimana teknologi ini bekerja, yang pasti hasilnya di kondisi ideal sih oke banget. Satu lensa lagi yang di atas kertas beresolusi 5 Megapixels adalah lensa wide. Kita dapat melakukan selfie rame-rame alias wefie dengan lensa ini, namun gambar yang dihasilkan hanya beresolusi 4 Megapixels saja. Untuk kondisi lowlights, meskipun sudah dilengkapi dengan front LED Flash, saya merasa hasil fotonya kurang natural. Umumnya hasilnya overexposure, dengan ketajaman yang terlihat jelas berkurang. Semoga ini bisa diperbaiki dari sisi software ya.


Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Selfie PRO ZD552KL

Menurut saya, banyak sekali highlight positif yang bisa diberikan kepada ASUS Zenfone 4 Selfie ini. Wajar sih kalo melihat harga jual resminya yang hampir 5 juta Rupiah itu. Tapi saya sudah carikan di beberapa toko online sudah banyak yang menjual lebih murah dengan selisih harga yang lumayan, Anda boleh cek link di deskripsi video ini untuk menuju ke sana ya.

Highlight positif layak diberikan pada looks dan build quality, kemampuan multimedia baik visual maupun audio, kemampuan fotografi hingga performanya dalam keseharian. Tak lupa juga apresiasi harus saya berikan pada ZenUI versi 4.0 yang terlihat makin clean, makin sedikit bloatware, dan icon-icon yang makin distinctive.

Dua hal yang saya suka dari sisi software adalah ASUS selalu memberikan pilihan untuk mengutilisasi tombol fisiknya. Kebiasaan saya setiap menggunakan smartphone ASUS adalah menjadikan tombol recent apps sebagai shortcut untuk melakukan screenshot dengan long tap. Sementara fitur Always on Panel terkadang saya gunakan saat ingin selalu terupdate dengan jam dan notifikasi saat saya sibuk bekerja dan meletakkan ponsel ini di atas meja. Ya, panel AMOLED membuat fitur ini mungkin untuk dinyalakan terus tanpa mengonsumsi banyak daya.

Sedikit yang mungkin cukup menjadi deal breaker adalah faktor harga yang terasa cukup tinggi, setara harga Zoom S sekarang, namun cukup jauh di atas Zenfone 3 yang merupakan ponsel andalan ASUS tahun lalu. Dan dengan harga setinggi ini serta informasi seri Zenfone 4 yang dirilis saat launching, besar kemungkinan ASUS takkan memasukkan Zenfone 4 versi standar ke Indonesia, padahal itu yang saya tunggu-tunggu.

Apakah benar seperti itu? Kita tunggu saja bersama-sama hehehe.

Sekian review kali ini, dari Kota Cimahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!

Monday, November 13, 2017

Review ASUS Zenfone 4 Max 5,2 inci (ZC520KL) Indonesia



Tadinya saya berpikir untuk apa sih ASUS merilis Zenfone 4 Max ZC520KL ini, padahal sudah ada Zenfone 4 Max Pro ZC554KL. Namun rupanya ASUS tak hanya sekedar melengkapi jajaran smartphone tahun ini di berbagai level harga, banyak pula value lain yang dihadirkan pada smartphone yang dijual pada harga resmi RP 2.299.000 ini. Apa saja kira-kira? Mendingan ga usah ngira-ngira deh, ditonton aja terus videonya yah, hehehe.



Pertama saya baru sadar bahwa Zenfone 4 Max ini adalah versi compact dari varian Max Pro. Ya, dimensi layar smartphone ini adalah 5,2 inch, yang menurut preferensi pribadi saya adalah ukuran paling ideal agar tetap dapat digenggam dan dimasukkan ke dalam saku jeans dengan nyaman. Wajar pula jika dengan dimensi yang lebih compact, layarnya yang beresolusi HD 720p ini akan terlihat sedikit lebih tajam dari versi Pro-nya.

Perbedaan lain ada pada dapur pacunya yang menggunakan processor Snapdragon 425, yang meskipun seri angkanya lebih kecil dari Snapdragon 430 miliki Zenfone 4 Max Pro, justru sebetulnya dirilisnya lebih baru. Dan sesuai peruntukannya, processor ini menurut saya malah lebih hemat dalam konsumsi daya. Dengan kondisi banyak idle namun semua notifikasi email, messenger, dan social media tetap masuk, setelah 3 hari masih ada baterai tersisa.

Dengan dimensi yang menyusut, kapasitas baterainya memang sedikit turun juga ke 4.100 mAh. Namun dengan processor yang hemat daya dan juga berbagai battery saving mode yang dimiliki ponsel ini, saya rasa tujuan ASUS menghadirkan lini Max sebagai jajaran smartphone dengan ketahanan baterai yang istimewa dapat terpenuhi pada Zenfone 4 Max 5,2 inci ini.


Kamera ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Pada beberapa post hasil fotonya yang saya unggah di Instagram, beberapa orang berkomentar bahwa hasil kameranya terasa lebih baik dari Zenfone 4 Max Pro. Dan saya pun memiliki perasaan yang sama, sayangnya Tatjana Saphira sih ga punya perasaan apa-apa sama saya. Lha koq malah melenceng haha, maksudnya saya setuju dengan komentar di Instagram tadi ya. Entah kenapa memang terasa lebih baik detail foto yang dihasilkan oleh Zenfone 4 Max 5,2 inci ini.

Dalam kondisi pencahayaan ideal, lensa kedua yang memiliki setup wide dan resolusi 5 Megapixel ini memiliki hasil yang sama baik dengan lensa normal yang beresolusi 13 Meapixels, bahkan kadang lebih detail. Tapi saat digunakan di kondisi lowlights, saya sarankan pakai lensa normal saja, nanti Anda akan tahu kenapa, hehe.

Kamera depan adalah salah satu yang mengalami down-spec, di mana resolusinya hanya 5 Megapixels saja, tak lagi 8 Megapixels seperti pada Zenfone 4 Max Pro. Namun ASUS tak pelit, dan tetap membekalinya dengan LED Flash untuk selfie.

Untuk perekaman video, Zenfone 4 Max sudah memiliki EIS untuk membantu hasilnya agar terlihat lebih stabil. Jika fokusnya loncat-loncat, Anda bisa menyentuh objek di layar untuk menguncinya, dengan begini hasil video lebih stabil menurut saya.

Mari kita saksikan seperti apa hasil kameranya yuk!




Sudah lihat hasil foto dan videonya? Bagaimana menurut Anda kualitasnya? Sepadan tidak dengan harga jualnya? Silakan tulis di kolom komentar video ini ya.


Desain & Looks, ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Berbicara soal desainnya, saya cukup senang dengan pembaruan yang ASUS lakukan pada semua jajaran Zenfone 4 series, tak terkecuali Zenfone 4 Max ini. Sisi depannya menjadi favorit saya, entah kenapa looks-nya terasa unik, antara macho tapi ada imut-imutnya haha.

Highlight positif saya berikan untuk fingerprint scanner yang posisinya sudah enak banget di sisi depan, dengan akurasi jempolan, dan waktu respon yang lumayan cepat. Tepian layar 2,5 D juga membuat ponsel ini ramah di kulit. Penilaian minus saya berikan untuk tombol kapasitif yang tak memiliki backlight, serta kamera depan yang secara fisik terlihat ukurannya kecil sekali, terlihat kurang meyakinkan jadinya.

Oh ya buat yang bertanya apakah ponsel ini memiliki LED Notification, jawabnya ada. Posisinya ada di pojok kiri atas sisi depan ya.

Beralih ke bagian samping dan belakang, Zenfone 4 Max dibalut dengan backcover unibody yang mengusung desain metal looks. Ya nampak seperti berbahan logam, namun sejatinya bahannya plastik solid dengan tepian membulat yang tak menyisakan sudut. Ergonomis di tangan, dan dengan finishing doff membuatnya tak mudah kotor.

Sejujurnya desain sisi belakang ini bukanlah favorit saya, walau warna deepsea black yang saya ulas ini memiliki warna hitam kebiruan yang cukup mempesona.

Setidaknya ASUS sudah melakukan hal yang tepat dalam menempatkan lubang speaker di sisi bawah. Suaranya lumayan bagus, tidak pecah saat di volume terkencang, namun terasa sedikit tertahan alias mendem. Anda perlu mengaktifkan mode outdoor supaya lebih lepas suaranya.


Apa Kata Aa tentang ASUS Zenfone 4 Max ZC520KL

Dengan layar yang memiliki kecerahan dan reproduksi warna yang baik, Zenfone 4 Max ini juga bisa digunakan untuk menonton video atau streaming. Kebutuhan multimedia dapat diakomodasi dengan baik, terlebih storage 32 GB miliknya masih dapat ditambah micro-SD tanpa menganggu slot kartu sim.

Dengan harga yang lebih terjangkau, Zenfone 4 Max justru malah mampu mencuri perhatian saya dibanding versi Pro-nya. Dimensi 5,2 inci, kamera yang terasa lebih baik, baterai yang tetap awet, menjadikannya bernilai di atas rata-rata untuk harganya.

Tapi ya memang processor yang dimiliki smartphone ini bukan buat diajak gaming berat ya. Kalau untuk kebutuhan casual mah sudah cukup banget. Berbahagialah para driver transportasi online karena semakin banyak saja pilihan smartphone berbaterai besar di rentang harga yang cukup terjangkau.

Sip, itu saja yang dapat saya sampaikan mengenai Zenfone 4 Max ini. Dari Kota CImahi Aa Gogon pamit undur diri, wassalam!