Gadget Promotions

Friday, January 13, 2017

5 Alasan Mengapa Xiaomi Mi 5 Masih Sangat Layak di 2017



Ini adalah ulasan versi singkat dari smartphone yang saat ini menjadi daily driver saya, Xiaomi Mi 5. Dan kali ini tulisan saya hanya akan membahas kelebihan-kelebihannya saja. Bukan maksud memuja atau memberi pandangan tak berimbang, tetapi memang seringkali saya tak begitu berhasrat untuk mengulas smartphone yang menjadi alat komunikasi utama saya terlalu dalam.

Anda tak pernah menemukan tulisan atau video ulasan LG G4 milik saya kan? Pun begitu dengan Xiaomi Redmi Note 3 Pro yang hanya saya buat mini review dengan menggunakan Custom ROM Resurrection Remix di bawah ini.


Kurang lebih, konsep mini review untuk Xiaomi Mi 5 ini pun sama. Mengambil angka lima dari nama produknya sendiri, inilah lima alasan untuk bersyukur di 2017 dengan smartphone yang saya miliki, Xiaomi Mi 5.


1. Harga Xiaomi Mi 5 Sudah Semakin Turun

Saat saya membeli Xiaomi Mi 5, rata-rata produk ini di toko online dijual pada kisaran harga 3-3,1 juta Rupiah. Saya sendiri berhasil membelinya kurang dari 2,7 juta Rupiah memanfaatkan diskon 15% dari promo BNI Debit Online di Blanja.com.

Jika dulu saya sempat mengunggah sebuah video yang menyatakan bahwa ZUK Z2 merupakan Smartphone dengan processor Qualcomm Snapdragon 820 termurah, kali ini Xiaomi Mi 5 bisa merebut tahtanya. Selain karena harganya yang semakin turun, stok ZUK Z2 sendiri sudah nyaris punah di pasaran ponsel tanah air.


2. Performa Xiaomi Mi 5 Masih Sangat Bisa Diandalkan

Siapa yang menyangsikan kejayaan Qualcomm dengan deretan Snapdragon seri 8xx di tahun 2016 lalu? Baik Snapdragon 820 dan Snapdragon 821 menurut saya adalah yang terbaik yang pernah saya coba sejauh ini.

Keduanya pernah saya coba pada Xiaomi Mi 5s, ZUK Z2, dan terakhir ya pada Xiaomi Mi 5 ini. Baru pada dua processor ini sajalah saya menyaksikan animasi 3D saat benchmarking menggunakan Antutu bisa benar-benar berjalan mulus tanpa tersendat.

Yang lebih istimewa lagi, dengan performa setinggi ini, Qualcomm mampu membuat kedua seri tertinggi processor mereka ini tetap hemat dalam konsumsi daya. Inilah yang membuat saya yakin Xiaomi Mi 5 akan mampu diajak bertahan mengarungi tahun 2017 tanpa kendala.


3. Kamera Xiaomi Mi 5 Masih Jadi Salah Satu Yang Terbaik di Range Harganya

Ya, kamera Xiaomi Mi 5 saya rasa masih menjadi yang terbaik untuk smartphone di range harga tiga jutaan. Ditambah dengan adanya image stabilization memanfaatkan 4-axis gyro juga bisa jadi nilai tambah untuk mereka yang senang memanfaatkan kamera smartphone untuk merekam aktifitas yang dinamis.

Poin ini perlu digarisbawahi dengan catatan: wajib menggunakan MIUI ya. Karena sejauh saya menggunakan ROM lain, kamera Xiaomi Mi 5 tak pernah seoptimal saat menggunakan MIUI Camera.

Hadirnya mode manual dengan pengaturan yang lengkap, tentunya semakin melengkapi kedigdayaan kamera dari Xiaomi Mi 5 ini.


4. Tersedianya Banyak Custom ROM untuk Xiaomi Mi 5

Poin ini khusus buat mereka yang suka ngoprek. Saya sendiri memang bukan penggemar MIUI. Ada beberapa hal pada MIUI yang kurang sesuai dengan pola penggunaan saya. Untungnya, perangkat-perangkat Xiaomi yang banyak digunakan di berbagai belahan dunia selalu memiliki banyak custom ROM, entah itu yang disediakan secara official semisal Cyanogenmod 14 (yang saat ini sudah tak beroperasi lagi), hingga yang dikembangkan oleh tim-tim developer kenamaan di berbagai forum modifikasi.

Saya sendiri sempat mencoba CyanogenMod 14 serta ROM AOSP by JDCTeam yang keduanya sudah berbasis Android 7.1.1 Nougat. Dari sisi UX, saya sangat dimanjakan dengan berbagai fitur baru yang ditawarkan pada versi Android termutakhir ini.

Namun memang, sebagaimana kebanyakan Custom ROM dengan versi Android terbaru yang belum terlalu matang, kedua Custom ROM yang saya coba memiliki beberapa bug esensial yang membuat saya untuk sementara ini memilih kembali menggunakan MIUI 8 saja.

Di CyanogenMod 14, selain kamera yang hasilnya tak sebaik pada MIUI, quickcharging juga tak berjalan dengan baik. Sementara di ROM AOSP, quickcharging bisa berfungsi, tetapi wi-fi tethering acapkali mengalami masalah saat hendak digunakan. Ada beberapa Custom ROM lainnya, termasuk Resurrection Remix, yang belum saya coba. Saat ini saya memutuskan menunggu ada ROM Nougat yang lebih stabil dan tanpa bug berarti.


5. Banyak Pilihan Aksesoris untuk Xiaomi Mi 5 dengan Harga yang Beragam

Ini selalu jadi alasan yang menyenangkan setiap kali saya menggunakan produk smartphone dari Xiaomi. Ya, berbagai aksesoris dapat dengan mudah ditemukan di toko-toko online di tanah air. Berbagai casing dengan penampilan yang keren dapat kita pilih dan dapatkan dalam waktu yang singkat. Tak perlu membelinya di e-commerce luar negeri.

Pilihan saya akhirnya jatuh pada sebuah case Peonia warna hitam dengan tekstur seperti brushed metal dengan aksen pola karbon ala kevlar di bagian atas dan bawah sisi belakangnya. Harganya tak sampai lima puluh ribu Rupiah!

Selain banyak pilihan gaya, banyak pula pilihan harganya. Jika dulu saya harus membeli tempered glass seharga Rp 150.000 untuk ZUK Z2 karena minimnya pilihan, tak demikian dengan Xiaomi Mi 5. Saya cukup membayar sepersepuluhnya saja untuk membeli sebuah tempered glass yang presisi dan sudah berpinggiran 2.5 D untuk Xiaomi Mi 5.

Ini jadi alasan saya tetap menerima Xiaomi Mi 5 warna emas yang dikirimkan penjual, meskipun maksud hati ingin membeli yang warna putih. Toh, tetap ujung-ujungnya saya pakaikan case, jadi tak masalah deh.



Punyak banyak pilihan aksesoris yang dapat dibeli untuk gadget yang kita miliki pun seringkali membuat kebahagiaan tersendiri, dan kita patut bersyukur untuk itu. Terlebih jika melihat lagi semua poin yang sudah saya tuliskan di atas.

Jadi, itulah semua alasan mengapa Xiaomi Mi 5 masih sangat layak untuk digunakan di tahun 2017 ini. Semoga bermanfaat ya!

Wednesday, January 11, 2017

Review Meizu U20 Indonesia, Bikin Inget Mantan Lagi

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com


Alhamdulillah, setelah beberapa hari dipaksa 'cuti' menulis akibat kondisi badan yang drop berat, di Senin dini hari ini saya sudah mulai bisa mencoba kembali memainkan jari di atas tuts keyboard laptop baru saya. Walau rasanya masih aneh, bercampur antara senang, pening, dan lemas, membuat hentakan jari di atas keyboard terasa ganjil.

Adalah review dari smartphone Meizu U20 yang belum juga saya rampungkan. Padahal biasanya, smartphone yang saya beli sendiri harus segera selesai naskah dan pengambilan gambarnya, agar lekas dijual kembali sehingga sedikit saja pengaruhnya terhadap cash flow, hehe.



Ada sedikit cerita menarik di balik unboxing smartphone ini yang membuat saya harus rela ngantor sendirian di saat semua kolega lainnya sudah masuk libur cuti bersama tahun baru. Langsung saja ya!


Unboxing Meizu U20 Indonesia


Saya langsung teringat pada Meizu M3 Note saat pertama kali melihat kotak dari Meizu U20 ini. Dengan spesifikasi yang kurang lebih sama, akankah Meizu U20 ini hanyalah Meizu M3 Note yang mengelami perubahan bentuk dan pengurangan kapasitas baterai agar dapat tampil lebih tipis? Temuan-temuan saya selanjutnya mungkin akan cukup banyak mengejutkan Anda.

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Meizu U20, kotak kemasan penjualan

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Meizu U20, kotak kemasan bagian belakang

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Meizu U20, kelengkapan dalam kotak penjualan


First Impression Meizu U20

Alih-alih mengingatkan pada Meizu M3 Note, setelah saya pegang langsung unit dari Meizu U20 ini malah membuat saya teringat kembali pada sebuah smartphone yang pernah saya tuliskan ulasannya dengan sangat panjang dan detail, OnePlus X. Kedua smartphone ini tampak hitam manis nan misterius, seperti Mbak Shinta Hawa ex-OnePlus Indonesia hihihi.

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Meizu U20, sisi depan

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Meizu U20, sisi belakang

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Meizu U20, sisi kanan

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Meizu U20, sisi atas hanya ada noise cancellation mic

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Meizu U20, sisi kiri

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Meizu U20, sisi bawah, semua port ada di sini, like it!
Sudah lihat sisi-per-sisi dari smartphone ini? Apa yang bisa Anda ketahui selain desainnya yang cantik dan minimalis, serta cukup tipis? Ya, bagian depan dan belakang Meizu U20 yang terbuat dari kaca ini sangat mudah meninggalkan bekas sidik jari. Dan ini akan jadi masalah yang membuat Anda dilema.

Kenapa dilema? Karena kalau sisi depannya dibiarkan begitu saja, rentan noda minyak dan sidik jari. Mau dipasang tempered glass, malah mungkin tak terlihat indah lagi akibat pinggirannya takkan melekat sempurna, thanks to kaca 2.5D. Mau dipasang case agar sisi belakangnya tak banyak bekas jari dan frame metal-nya lebih terlindungi ya silakan saja. Namun, rela kecantikan smartphone ini lenyap ditelan casing silicon? Nah, dilema kan?

Dalam genggaman, Meizu U20 ini terbilang cukup licin, terlebih ukurannya yang bongsor akibat dimensi layarnya yang 5,5 inci. Masih terbilang nyaman untuk digunakan mengetik dan lainnya, hanya harus ekstra hati-hati saat hendak memasukkannya ke dalam saku. Rawan longsor, eh rawan tergelincir dan bisa terjun bebas. Di saku celana jeans saya, smartphone ini masih menyembul membuatnya menjadi pusat perhatian para gadis (di bawah umur).

Bobotnya sih pas. Overall, saya sangat menyukai penampilan dari Meizu U20, walau akan jauh lebih baik jika ukurannya hanya 5-5,2 inci saja. Sebetulnya ada sih Meizu U10 yang berdimensi layar 5 inci saja, namun beda seri processor yang digunakannya, yaitu MT6750. Melihat kombinasi ukuran layar dan seri processor yang digunakan, rasa-rasanya duet Meizu U20 dan U10 ini jadi padanan bagi duet Meizu M3 Note dan M3/M3s ya!


Meizu U20 dalam Penggunaan Sehari-hari

Dari yang saya rasakan, Meizu U20 memiliki performa yang lebih gegas daripada Meizu M3 Note, meskipun spesifikasi dapur pacunya identik. Pun urusan ketahanan baterai, saya merasa Meizu U20 mampu menyamai daya tahan baterai M3 Note dengan kapasitas yang terpaut cukup jauh, 3.280 mAh melawan 4.100 mAh! Perlu diingat, waktu ketika saya mencoba Meizu M3 Note sudah cukup lama, mungkin hampir setahun lalu. Bisa jadi ada perbaikan dari sisi OS yang dihadirkan Meizu pada Meizu U20 yang membawa FlyMe OS versi 5.2.4.0 dengan berbasis Android 6.0 Marshmallow ini.

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com



Satu hal yang terasa kurang adalah, FlyMe OS cukup rakus RAM, sehingga pada unit dengan RAM 2 GB yang saya coba ini, saat membuka aplikasi dengan konten berupa list yang panjang, semacam Twitter dan Hangout, acapkali aplikasi perlu sedikit waktu untuk me-load tampilan saat baru berpindah dari aplikasi lain. Selain itu, perpindahan antar aplikasi dan pergerakan elemen visual di layar terjadi dengan sangat lancar.

Saat saya gunakan bermain game dengan grafis berat, bagian body belakang smartphone ini mulai terasa menghangat. Gameplay-nya sendiri berlangsung dengan fluid dan smooth, enak dinikmati, terutama dengan layar berdimensi besar, kerapatan yang sudah tinggi berkat resolusinya yang Full HD 1080p, serta reproduksi warna yang baik. Oh ya, sudut pandang layarnya pun sangat luas, bahkan dari sudut yang sangat sempit pun warna aslinya masih terlihat.

Sayangnya riwayat penggunaan baterai pada FlyMe OS cuma dapat dilihat sampai maksimal dua belas jam terakhir saja. Jadi saya harus menghitung dan sedikit mengira-ngira berapa lama ketahanan baterai dari Meizu U20 ini. Dengan mode balanced dan diisi penuh, baterainya selalu mampu menembus 24 jam, bahkan masih lanjut beberapa jam lagi sampai perlu diisi ulang. Namun, apabila dalam mode performance dan sering digunakan bermain game, kadang sore hari pun smartphone ini sudah kepayahan.

Fingerprint scanner dari Meizu U20 masih serupa dengan apa yang ada pada Meizu M3 Note, baru dapat beroperasi apabila layar menyala. Untungnya, akurasi dan kecepatannya sangat baik, sehingga kekurangan tadi bisa sedikit terobati.


Hasil Kamera Meizu U20

Gambar yang dihasilkan oleh kamera milik Meizu U20 memiliki saturasi yang natural.

Sebagaimana smartphone Meizu lainnya yang pernah saya uji, fitur dari kamera Meizu U20 ini terbilang lengkap. Mode manual hadir di sana, dengan pengaturan fokus, shutterspeed atau exposure timewhite balance, hingga ISO. Exposure time-nya ada pada range 1/5000 hingga 10 detik. Untuk kamera depannya, mode manual juga hadir meski tak selengkap kamera utama.

Ada beberapa mode lain yang cukup berguna pada kamera dari Meizu U20 ini, antara lain: Beauty, Panorama, Light Field, Slow-mo, Macro, hingga GIF Mode. Antarmuka kamera Meizu merupakan salah satu yang sederhana dan mudah digunakan.

Hasilnya silakan dicek pada artikel review kamera dari smartphone Meizu U20 ini ya.


Informasi Hardware dan Benchmark pada Meizu U20

Berikut adalah informasi hardware dan benchmark yang dihasilkan menggunakan aplikasi pihak ketiga:

CPU-Z:

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com

review meizu u20 indonesia gontagantihape.comreview meizu u20 indonesia gontagantihape.com


Sensor Box for Android:

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Kelengkapan sensor pada Meizu U20


Antutu Benchmark:

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Skor Antutu Benchmark pada Meizu U20

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com
Detail Skor Antutu Benchmark pada Meizu U20

Plus dan Minus Meizu U20

Kelebihan Meizu U20 menurut saya:

  • Looks dan build quality yang sangat premium.
  • Tipis!
  • Harga sangat terjangkau.
  • Kamera di atas rata-rata, plus hadirnya mode manual lengkap.
  • Daya tahan baterai selalu cukup untuk 24 jam.

Kekurangan Meizu U20 menurut saya:

  • Ukurannya besar.
  • Masih belum dijual resmi di Indonesia.
  • Sangat mudah meninggalkan bekas sidik jari dan minyak.
  • Hybrid slot lagi!
  • Versi RAM 2 GB terasa kurang untuk multitasking banyak aplikasi.



Apa Kata Aa tentang Meizu U20

review meizu u20 indonesia gontagantihape.com

Tahukah Anda apa daily driver yang saya istirahatkan saat mencoba Meizu U20 ini? Sebuah Xiaomi Mi 5! Dan sejauh ini saya tak memiliki keinginan untuk buru-buru kembali menggunakan Mi 5 saya itu.

Saya tahu, dari banyak aspek pastilah Meizu U20 ini kalah, bahkan mungkin telak kalahnya dibandingkan Xiaomi Mi 5. Namun fakta bahwa saya tidak cepat bosan dan tidak ingin segera mengakhiri pemakaian Meizu U20 ini bisa jadi suatu sinyal penilaian yang baik bagi smartphone ini. Dulu saya sempat mengatakan bahwa FlyMe OS merupakan salah satu Custom UI yang saya sukai setelah CM. Mungkin faktor UX ini yang sedikit membedakan produk Meizu dengan brand lainnya.

Baik, lalu kita berbicara mengenai pertimbangan harga dan spesifikasi serta fitur yang didapat. Saat saya membelinya, harganya adalah Rp 1.825.000,- untuk versi RAM 2 GB dan memori internal 16 GB. Layar IPS 5,5 inci dengan resolusi Full HD 1080p. Processor-nya adalah Mediatek P10 yang juga digunakan oleh beberapa smartphone laris dengan harga hampir tiga kali lipatnya. Walaupun seri U20 ini masih harus digarisbawahi sebagai produk tak resmi di Indonesia ya.

Menurut saya, Meizu U20 cocok banget buat yang bosan dengan hype hape Xiaomi, terlebih yang tak mau berurusan dengan masalah flashing ROM. Saya sendiri telah kembali melepas smartphone ini karena ukurannya terlalu besar untuk dapat dengan nyaman saya gunakan.

Demikian review singkat kali ini, hatur nuhun...

Wednesday, January 4, 2017

Review Hasil Kamera Meizu U20 Indonesia

Gambar yang dihasilkan oleh kamera milik Meizu U20 memiliki saturasi yang natural.

Sebagaimana smartphone Meizu lainnya yang pernah saya uji, fitur dari kamera Meizu U20 ini terbilang lengkap. Mode manual hadir di sana, dengan pengaturan fokus, shutterspeed atau exposure timewhite balance, hingga ISO. Exposure time-nya ada pada range 1/5000 hingga 10 detik. Untuk kamera depannya, mode manual juga hadir meski tak selengkap kamera utama.

Ada beberapa mode lain yang cukup berguna pada kamera dari Meizu U20 ini, antara lain: Beauty, Panorama, Light Field, Slow-mo, Macro, hingga GIF Mode. Antarmuka kamera Meizu merupakan salah satu yang sederhana dan mudah digunakan.

Berikut adalah hasil foto menggunakan kamera dari smartphone Meizu U20. Semua gambar tidak melalui proses editing selain resize.

Hasil Kamera Belakang Meizu U20

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia


Hasil Kamera Depan Meizu U20

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

review kamera meizu u20 indonesia

Review Xiaomi In-ear Headphones Pro HD, Membuat Mi Piston 2 Pensiun dengan Tenang

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

Beberapa minggu lalu, earphone kerehore kesayangan saya, Xiaomi Mi Piston 2, baru saja mengalami kecelakaan. Alhamdulillah hanya luka luar, tidak sampai mengalami pendarahan di dalam, he.. he..

Ada satu bagian kabelnya yang nampak tertekuk hingga akhirnya mengelupas dan terlihat bagian dalam kabelnya. Saya terpaksa membalutnya, bukan dengan pembalut bersayap, melainkan dengan stiker tipis agar kerusakannya tidak semakin parah. Namun, rasanya semua sudah tak sama, dia telah berubah, udah nggak kece lagi. Hiks!

Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba orang GearBest.com meminta saya untuk mengulas salah satu produk terbaru Xiaomi. Biasanya memang video produk Xiaomi sangat mudah mendapatkan ribuan views, ratusan klik ke website mereka, meskipun entah berapa banyak yang benar-benar membelinya. Dan coba tebak, produk apa yang ditawarkan kepada saya? Sayang memang bukan Xiaomi Mi Note 2, melainkan sebuah earphone!

Namun, ini benar-benar jadi sebuah kebetulan yang sangat indah. Mi Piston 2 saya yang sudah berumur lebih dari dua tahun, digantikan oleh kompatriotnya yang membawa embel-embel Hi-Res Audio ini. Nama lengkap dari produk ini adalah Xiaomi In-ear Headphones Pro HD, tetapi di halaman produk ini di website GearBest, ditulis namanya adalah Mi Hybrid Pro.

Saya jadi tak sabar ingin segera mencobanya. Paket datang, dan yuk kita unbox dulu!


Unboxing dan Kesan Pertama pada Mi Hybrid Pro


Nampaknya Xiaomi mulai mengubah (bukan merubah ya, catat!) cara pengemasan produk mereka. Setelah kemasan kotak karton coklat yang nampaknya menggunakan bahan daur ulang banyak diikuti oleh brand gadget lain asal Tiongkok, Xiaomi mulai menggunakan warna putih bersih dengan penampakan produk di bagian depannya. Seperti apa yang kita temukan pada jajaran produk smartphone mereka di awal tahun 2016, sebelum di akhir tahun mereka mengubahnya kembali sebagaimana kita dapat temukan pada kemasan seri Xiaomi Redmi 4.

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

Xiaomi memberikan kelengkapan yang lebih baik pada In-ear Headphones Pro HD ini dibandingkan apa yang saya dapatkan pada Mi Piston 2. Selain variasi eartips-nya yang bertambah dengan adanya ukuran XS, sebuah pouch kain berwarna abu-abu hadir dalam kotak penjualan earphone ini.

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

Earphone-nya sendiri masih sama seperti Mi Piston 2, ditempatkan di dalam sebuah kotak plastik dengan bagian penutup berwarna bening. Di dalamnya, earphone dililitkan pada sebuah bantalan karet yang dapat digunakan untuk membawa earphone ini di dalam pouch kain yang diberikan. Meskipun tanpa bantalan itupun sebetulnya kabel dari Xiaomi In-ear Headphones Pro HD ini takkan mudah kusut karena mempunyai bahan karet pelapis yang agak kaku.

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

Ya, kabelnya sudah tak berbalut bahan kevlar, atau lazim disebut sebagai braided cable, seperti pada Mi Piston 2.

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

Saat pertama saya kenakan, eartips ukuran M yang secara default terpasang pada earphone ini terasa nyaman di telinga. Bagian luar dari kepala earphone ini bentuknya masih cukup mirip dengan Mi Piston 2, yang mana selama ini sudah terbukti tak nyaman apabila digunakan di dalam helm. Untuk urusan keergonomisan, saya merasa Elephone ELE Whisper ini sedikit lebih baik.

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia
Elephone ELE Whisper, penampang earphone.

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia
Elephone ELE Whisper, lebih ergonomis.


Oh ya, ngomong-ngomong soal Elephone ELE Whisper, saya jadi ingat, kedua earphone ini memiliki karakteristik build quality yang serupa. Karakter suaranya pun masih mirip-mirip, meski jika harus saya urutkan dari yang paling enak maka Mi Hybrid Pro masih memimpin, disusul ELE Whisper, baru kemudian Mi Piston 2.

Berikut saya tampilkan kembali deh video unboxing dari Elephone ELE Whisper ya!


Apa Kata Aa tentang Mi Hybrid Pro

Sehabis kesan pertama, langsung masuk ke kesimpulan saja ya. Saya kurang ngerti teknisnya untuk pengujian earphone nih. Daripada sok tahu, lebih baik menulis apa yang saya rasakan dan pendapat saya saja deh.

Sudah beberapa earphone yang saya beli sendiri, terima gratis, hadiah dari event, dan lainnya, namun saya masih tetap setia menyimpan Mi Piston 2 sebagai main earphone saya. Berbagai faktor menjadi alasan mengapa saya tak kunjung meninggalkan Mi Piston 2, padahal saya adalah tukang gonta ganti gadget

Kualitas dan feels suara yang dihasilkan di telinga tentu menjadi yang utama. Namun, sebetulnya ada satu hal lagi yang ditawarkan oleh Mi Piston 2, build quality serta braided cable yang menjauhkan saya dari rasa khawatir akan kusutnya kabel earphone saya. Meskipun saya akui terkadang masih juga kusut, namun kusutnya takkan separah earphone dengan kabel karet biasa. Pun saat kusut, untuk melepaskannya kembali terasa mudah. Itulah sebenarnya yang membuat saya enggan beranjak dari Mi Piston 2.

Beberapa saat saya sempat menggunakan Elephone ELE Whisper karena sangat ergonomis, bahkan bisa digunakan di dalam helm saat saya menggunakan ojek online untuk bepergian. Karakter suaranya pun mirip dengan Mi Piston 2, bahkan punya kelebihan pada noise cancellation module-nya. Wajar saja, karena harga Elephone ELE Whisper ini pada saat sedang promo di GearBest.com pun masih tinggi, bahkan dua kali lipat dari Xiaomi In-ear Headphones Pro HD. Namun tetap saja, ujung-ujungnya malah saya jual kembali, dan tetap memilih menggunakan Mi Piston 2.

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia


Kini, Mi Piston 2 milik saya dapat beristirahat dengan tenang. Tahtanya bisa diwariskan dengan tenang kepada saudara segaris keturunan, sehingga arwah Mi Piston 2 tak perlu resah. Ha, ha, ha...

Sejak mencoba Mi Hybrid Pro pada prosesi unboxing di atas, saya belum pernah lagi menggunakan Mi Piston 2 saya, dan rasanya tak ada rasa rindu sedikitpun yang hadir dalam hati ini. Karakter suaranya yang masih mirip, namun dengan berbagai perbaikan yang sangat terasa, membuat saya merasa senang mendapatkan Xiaomi In-ear Headphones Pro HD ini, utamanya karena gratisan sih hehehe.

Saya sengaja pasangkan dengan sebuah smartphone Xiaomi, di mana biasanya sudah terdapat pengaturan suara khusus untuk masing-masing produk earphone keluaran Xiaomi. Dan saat saya menggunakan setting khusus untuk Mi Hybrid Pro, suara yang didapatkan sangat detail, separasi antar instrumen terasa jelas, bass yang berimbang dengan treble. Sementara saat menggunakan setting basic, power dari bass naik, semakin membulat dan tebal, namun treble kurang begitu terasa, dan detailnya sedikit tertutupi.

Jadi, tinggal sesuaikan dengan keinginan dan selera saja ya. Menurut saya, dengan setting untuk Mi Hybrid Pro saja bass-nya sudah terasa koq.

Saya ingat salah satu testimoni tentang Mi Piston 2 yang menyatakan bahwa kualitas suaranya setara dengan produk yang harganya tiga hingga empat kali lipat. Kalau begitu, mungkin begini kira-kira ya rasanya mendengarkan musik dari earphone berharga satu jutaan? Entah benar atau tidak, saya belum mau mencoba membeli sendiri earphone dengan harga di atas lima ratus ribu Rupiah. Kemahalan, dan seperti biasa takut tak lagi nyaman mendengarkan musik dengan perangkat audio kerehore.

Xiaomi In-ear Headphones Pro HD ini sendiri pada saat saya lihat harganya di GearBest.com hanya sekitar $25 alias tiga ratus ribuan kalau dirupiahkan. Kabar baiknya, dengan kode voucher "LHPRO", Mi Hybrid Pro ini dapat dibeli dengan harga diskon sebesar $20,89 saja. Saya kurang tahu sampai kapan kode voucher ini berlaku, saya rasa sebaiknya dimanfaatkan segera saja.

Kalau seandainya saya hanya dipinjami saja earphone ini, maka saya pastikan selepas ini saya akan segera membelinya sendiri deh. Sudah nyaman dan enak menikmati alunan musiknya Carly Rae Jepsen pakai Mi Hybrid Pro soalnya. He.. he..

Oh ya, earphone ini juga seperti biasa dapat berfungsi sebagai headset dan remote control untuk media player di smartphone. Konon, pada bagian tombol kontrol inilah terdapat perbedaan antara Mi Hybrid dengan Mi Hybrid Pro.

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

review xiaomi in-ear headphones pro hd mi hybrid pro indonesia

Sampai sini saja ulasan saya ya, saya mau menikmati suguhan 'pijatan' suara di telinga saya dulu. He.. he.. he.. Selamat penasaran!