Gadget Promotions

Friday, June 9, 2017

Hasil Foto Menggunakan Kamera Sharp Z2 Indonesia

Dua kali mencoba ponsel yang ada hubungannya dengan Foxconn, dua kali pula saya mendapati interface dari aplikasi kameranya menggunakan stock kamera milik Android. Ini artinya tidak ada fitur tambahan yang disertakan untuk memaksimalkan kinerja kameranya dari sisi software.

Karakter dari kamera Sharp Z2 ini masih mirip-mirip dengan Luna G, hanya saja resolusinya lebih besar di 16 Megapixels.

Entah kenapa saya merasa auto-metering dari kamera Sharp Z2 ini cukup sering meleset, sehingga tak jarang hasilnya over atau under saturated. Solusinya sih ada, nyalakan HDR. Namun, penggunaan HDR kan membuat proses pengambilan gambar menjadi lebih lama.

Jarak fokus kamera utamanya juga sangat dekat, layaknya Luna G dulu. Sehingga efek bokeh bisa dihasilkan dengan baik untuk ukuran kamera dari ponsel seharga tiga jutaan ya. Namun sedikit disayangkan penguncian fokus kadang meleset, mungkin penyebabnya sama dengan melesetnya auto-metering tadi ya.

Beralih ke kamera depan, resolusinya cukup besar di 8 Megapixels dan hasilnya cukup dapat diandalkan pada kondisi berkecukupan cahaya. Saat cahaya mulai berkurang, hasilnya nampak mulai kurang tajam dan noise pun muncul.

So far apa yang diberikan oleh kamera Sharp Z2 sebetulnya bisa didapatkan dari kamera pada ponsel di level harga dua jutaan. Not bad, tapi jelas tak bisa dibilang istimewa.

Saya akan biarkan Anda menilai lebih jauh melalui gambar-gambar di bawah ini saja ya.


Hasil Foto Kamera Belakang Sharp Z2

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia


Hasil Foto Kamera Depan Sharp Z2

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

review hasil kamera smartphone sharp z2 Indonesia

Monday, June 5, 2017

Review Luna G Indonesia, Alternatif Baru Buat Pemerhati Spesifikasi



Sudah beberapa minggu terakhir saya sering melihat iklan pre-order smartphone Luna G di beberapa e-commerce lokal. Yang ditawarkan kali ini terasa lebih menggiurkan daripada saat Luna V dijual pada level harga tinggi dengan spesifikasi yang bisa dibilang sudah mulai usang, processor 32-bit. Ya, meskipun Luna G tak lagi mengusung processor kelas atas dari Qualcomm, dan berpindah ke processor seri menengah besutan Mediatek, tetapi menurut saya spesifikasinya sudah lebih kekinian.

Coba kita lihat spesifikasi yang tercetak di bagian belakang kotak kemasan penjualan dari Luna G ini.

Spesifikasi Luna G55:

  • Processor Mediatek Helio P10
  • RAM 4 GB
  • Internal Memory 32 GB
  • Kamera 13 MP + 5 MP
  • Android 6.0 Marshmallow
  • Layar 5,5 inci IPS Full HD
  • Baterai 4.000 mAh
  • Fingerprint Scanner
Bagaimana, menarik bukan kalau sepintas melihat angka-angka besar yang ditawarkan? Yang paling menggiurkan bagi saya sih RAM-nya yang 4 GB. Dengan harga Rp 2.699.000,- sudah dapat RAM sebesar itu, rasanya sulit untuk bilang ini nggak tempting.

Alhamdulillah, lagi-lagi saya tak perlu membelinya untuk dapat mengujinya. Evercoss sebagai pihak yang mendistribusikan produk dari brand Luna di Indonesia, meminta saya untuk mengulas smartphone ini. Sempat bertanya soal fee untuk review, saya sampaikan bahwa cukup mengirimkan produk smartphone-nya saja untuk dapat saya buatkan review, biarlah fee-nya nanti saya dapat dari hasil menjual kembali ponsel bekas review-nya.



Unboxing Luna G Indonesia

Saat paket Luna G datang, saya cukup heran kenapa ada tulisan Korea di bagian muka dusnya. Ternyata Luna ini bukan brand lokal milik Evercoss, melainkan brand global yang konon diproduksi oleh Foxconn, dan di Indonesia dibantu oleh Evercoss untuk proses sertifikasi TKDN dan penjualannya.



Kotak kemasannya sendiri berwarna coklat buram khas karton daur ulang. Yang cukup berbeda adalah Luna G menuliskan spesifikasinya sedemikian detail pada bagian belakang kardus. Ya, hingga adanya LED notifikasi, daftar sensor-sensor, hingga dukungan multi touch 10 titik dan support USB OTG pun ditulis, satu hal yang jarang sekali ditemukan pada kemasan produk smartphone lain.

Di dalam kemasannya, Luna G sudah menyertakan sebuah hardcase bening dan screen protector. Sebuah headset tak lupa hadir menemani kepala charger dan kabel data. Cukup lengkap ya!

Begitu saya melepaskan ponsel Luna G dari plastik buram yang menyelimutinya dalam kemasan, saya merasa sangat familiar dengan tampilannya. Ya, betul, memang kebanyakan smartphone jaman sekarang desainnya mirip-mirip, gitu lagi gitu lagi. Namun, jika boleh merujuk pada produk lain, penampakan Luna G ini sangatlah mirip Meizu M3 Note. Perbedaannya ada pada sekeliling pinggirannya yang lurus dan dibatasi dua buah chamfered metal, tak seperti M3 Note yang membulat.

Luna G nampak cukup tebal, mungkin untuk mengakomodasi baterainya yang berkapasitas 4.000 mAh. Jadinya, ponsel ini mirip dengan Meizu M3 Note saat dilihat, namun terasa seperti Xiaomi Redmi 3X saat digenggam.

Penempatan bagian per bagiannya juga sangat umum. Tombol power dan volume rocker di sisi kanan, sim-tray di sisi kiri, port audio 3.5 mm dan noise cancellation mic di sisi atas. Pun demikian di sisi bawah yang terdapat port micro-USB serta dua set speaker grille yang salah satunya untuk microfon.

Yang saya uji ini adalah varian warna Silver, backcover-nya memiliki pola brushed metal pada bagian yang terbuat dari logam. Dua buah list chrome memisahkan bagian ini dengan bagian plastik yang berguna untuk memudahkan penerimaan sinyal. Setup kamera dan dual-tone LED flash-nya lagi-lagi mengingatkan saya pada Meizu M3 Note. Turun sedikit, ada logo Luna tercetak di sana.

Di bagian depan, terpampang layar berukuran 5,5 inci dengan resolusi Full HD. Kamera depan, earpiece, proximity sensor, serta LED notifikasi ditempatkan di atasnya. Sementara di bawahnya ada tombol fisik sekaligus fingerprint scanner. Tombol ini juga berfungsi untuk menyalakan layar, dan sebagai tombol home. Tidak ada tombol kapasitif pada ponsel ini. Ya, Luna G menggunakan on-screen navigation.


Luna G dalam Pemakaian Sehari-hari

Saya sangat senang ketika mendapati Luna G menggunakan on-screen navigation. Dan bertambah pula kesenangan saya saat ternyata ponsel ini menggunakan OS Android yang dapat dibilang stock version. Tidak ada kustomisasi apa-apa, yang juga berarti tidak perlu mengatur apapun agar aplikasi dapat menerima notifikasi terus menerus.

Itulah yang saya suka dari stock Android, tidak perlu mengatur autostart dan mengunci aplikasi di recent apps agar saya bisa terus menerima pesan yang dikirimkan kepada saya. Juga kita tak perlu mengatur batas besaran download agar dapat segera dimulai. Semuanya berjalan selayaknya bagaimana Android dirancang. Simple, dan tetap ringan.

Satu hal yang kadang masih membuat kagok adalah penggunaan tombol home di bawah layar. Maksudnya begini, saya seringkali mencoba menekan area kosong di samping tombol home saat mencari tombol back, karena kan memang umumnya tombol home fisik selalu ditemani tombol kapasitif di kiri dan kanannya. Namun seiring waktu, saya pun segera terbiasa dengan navigasi ganda dari Luna G.

Tombol home ini baru akan memindai sidik jari kita saat layar dalam kondisi menyala. Jadinya, untuk membuka kunci layar, selain jari kita harus menempel pada tombol ini, perlu juga ditekan agar dapat bekerja. Akurasinya sendiri cukup baik, tergolong jarang gagal, dan waktu yang diperlukan untuk membuka kunci layar terbilang sangat singkat.

Beralih ke sisi jeroan, processor seri Helio P adalah jajaran processor Mediatek yang masih bisa saya nikmati penggunaannya. Processor ini memiliki processing power yang cukup, serta konsumsi daya yang tak berlebihan. Saya lebih suka seri Helio P ini daripada Helio X yang borosnya gak ketulungan.




Untunglah Luna G memilih Helio P10 sebagai dapur pacunya. Dengan pemakaian yang cukup intens, saya bisa menggunakan Luna G ini menembus satu hari satu malam dalam pengisian daya, dengan Screen-on Time sekitar 4,5 jam yang tergolong besar untuk gaya pemakaian saya, Tak bisa dibilang hemat-hemat banget memang, karena seharusnya baterai 4.000 mAh mampu memberi lebih dari itu. Namun setidaknya kita bisa tenang bepergian seharian tanpa harus membawa powerbank.




Luna G mampu menerima arus sekitar 1,7 A pada tegangan 5v, sehingga butuh waktu lebih dari dua jam untuk mengisi baterai dari kondisi 5% hingga penuh.

Dengan RAM 4 GB, multitasking sama sekali tak menjadi masalah buat Luna G. Saya tak pernah menutup aplikasi yang berada di recent apps karenanya.

Skor Antutu Benchmark - Luna G55
Skor Antutu Benchmark - Luna G55


Diajak bermain game-game favorit saya, Luna G mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Gaming dalam waktu yang cukup lama membuat ponsel ini terasa hangat. Hangatnya masih tergolong wajar, terlebih smartphone ini memang memiliki backcover logam yang membuat perubahan suhu mudah dirasakan oleh tangan kita.

Kelengkapan sensor pada Luna G membuatnya dapat digunakan untuk keperluan VR. Sehingga, menurut saya mobile gamer tak akan menemui masalah berarti jika menggunakan smartphone ini.



Layar dari Luna G ini masuk ke kategori sangat baik di kelasnya. Kerapatannya sangat cukup, saturasi warnanya terlihat natural, dan memiliki kecerahan layar yang baik. Sudut pandangnya pun luas. Border hitam di sekelilingnya pun sangat tipis, sehingga tak mengurangi nilai estetika tampilannya.

Sayangnya layar yang baik ini tak diimbangi oleh loudspeaker dari ponsel ini. Jadi mungkin kenikmatan Anda menonton video dapat sedikit terganggu apabila membutuhkan volume suara yang kencang. Ya, saat volume-nya mulai kencang, suara yang dihasilkan oleh speaker-nya mulai pecah. Saat volume sudah maksimal, maka kentara sekali suara yang dihasilkan tidaklah halus. Hadirnya fitur sound enhancement pun terasa tak membantu. Dan ini berlaku juga saat menggunakan earphone, rasanya suaranya datar sekali.

Untunglah saya melihat di beberapa toko online, Luna G ini dijual bundling dengan bluetooth speaker JBL Go yang menurut saya kualitasnya baik. Jadi saran saya, jika Anda membeli Luna G sepaket dengan JBL Go, maka sebaiknya jangan jual speaker ini, Anda akan membutuhkannya. Percaya deh, hehehe.


Kamera Luna G

Interface aplikasi kamera bawaan Luna G sangatlah standar. Pun begitu dengan fitur-fitur yang dimilikinya. Tak ada mode manual yang dapat dipilih.

Namun begitu, kualitas kamera utama Luna G yang beresolusi 13 Megapixels ini dapat diandalkan koq. Autofokusnya cepat, hasilnya tajam, dan jarak fokus minimalnya terbilang sangat dekat. Tapi ada syaratnya, yaitu kondisi pencahayaan harus cukup, hehehe. Pada kondisi lowlightsnoise cukup kentara terlihat, dan ketidakhadiran mode manual membuat kita tak bisa melakukan usaha ekstra untuk menghasilkan gambar yang lebih baik.

Kamera depannya pun demikian, asalkan cahaya cukup, hasilnya baik. Mungkin Anda tak boleh berharap banyak untuk bisa selfie nan mengkilap pada kondisi temaram, karena tak ada bantuan LED flash atau layar yang menyala putih untuk membantu pencahayaan kamera yang beresolusi 5 Megapixels ini. Beautification mode hadir untuk membantu Anda sedikit melupakan permasalahan hidup, ha.. ha..

Untuk video, kamera dari Luna G ini cukup dapat diandalkan. Ada juga fitur EIS yang sebetulnya hanya memperlambat gerakan saja, terbukti dari suara yang juga ikut melambat.

Hasil foto menggunakan kameranya saya sertakan pada artikel berikut ini. Silakan disimak baik-baik.


Apa Kata Aa tentang Luna G

Terlepas dari siapa yang memproduksi Luna G, apakah brand global atau bukan, overall ponsel ini cukup menjanjikan. Ya, smartphone ini bisa jadi alternatif di kisaran harga dua sampai tiga juta Rupiah, bagi Anda yang bosan dengan custom UI dan ingin merasakan pengalaman pure Android.

Dengan berbagai spesfikasi yang sengaja ditonjolkan, sepertinya Luna G memang membidik pasar online di mana segmen ini biasanya sangat memperhatikan perbandingan antara harga dan spesifikasi yang diberikan.

Kelebihan dari Luna G adalah build quality yang baik, layar yang istimewa, RAM besar yang mendukung performa dan multitasking yang smooth, serta kelengkapan paket penjualan yang komplit. Kekurangannya justru ada pada sisi multimedia, khususnya sektor audio dan kamera pada kondisi lowlights.

Nah, dengan kelebihan dan kekurangan yang sudah saya sebutkan tadi, Anda tinggal mencocokannya dengan kebutuhan dan budget Anda. Simple kan?



Saya sendiri cukup merekomendasikan smartphone ini, tidak ada kekurangan fatal yang terdapat pada Luna G. Selain itu, saya juga berharap Luna terus menggelontorkan produk-produk barunya dengan variasi yang lebih banyak, agar konsumen di tanah air semakin mempunyai pilihan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

Demikian review dari saya untuk Luna G, terima kasih!

Friday, June 2, 2017

Review Xiaomi Mi 6 Indonesia, Unsuprisingly Good!


Awalnya saya sama sekali tak berniat untuk mengulas smartphone flagship terbaru Xiaomi ini. Karena memang belum jelas apakah ponsel ini akan dibawa secara resmi oleh Xiaomi ke Indonesia. Dan umumnya ponsel Xiaomi yang belum resmi akan dijual di Indonesia oleh para pedagang dengan harga yang cukup mahal di awal, sebelum kemudian dibanting habis-habisan agar bisa bersaing dengan harga resminya nanti. Dan ini tidaklah baik bagi kesehatan finansial seorang reviewer, bisa-bisa selisih harga saat membeli dan menjualnya kembali terlalu besar.

Xiaomi Mi 6 sebetulnya sudah dijual di GearBest beberapa hari, tetapi saya pun tak berani meminta mereka mengirimkannya untuk saya ulas. Selain karena harganya cukup mahal, saya tak yakin ini menguntungkan bagi mereka. Ya, karena produk Xiaomi tak resmi biasanya cukup cepat masuk ke pasar tanah air, jadi kecil kemungkinan orang akan membelinya dari e-commerce luar negeri.

Namun, malah counterpart saya di GearBest yang menawari sebuah Xiaomi Mi 6 untuk mereka kirimkan agar saya dapat mencobanya. Ya kalau sudah begini mah saya tak bisa menolaknya, sayang soalnya hehehe.


Unboxing dan Hands-on Xiaomi Mi 6

Akhirnya kiriman Xiaomi Mi 6 dari GearBest datang juga. Kotak kemasannya berbeda dari yang saya lihat pada beberapa postingan Xiaomi Mi 6 milik Om Herry SW. Rupanya versi standar dari Xiaomi Mi 6 (bukan yang keramik) memiliki kemasan kotak putih dengan logo Mi kecil dan keterangan besaran RAM dan internal storage-nya.

Saat saya membuka kotaknya, seperti biasa saya tak menemukan kelengkapan ekstra ataupun packaging yang eksklusif pada produk ini. Eh tunggu, ada sebuah softcase tipis berwarna transparan kehitaman di dalamnya. Hmmm, apakah ini artinya...



Jarang-jarang Xiaomi menyertakan pelindung body seperti ini dalam kemasan penjualan, tetapi marilah berbaik sangka dan berdoa semoga Xiaomi memang sedang berbaik hati saja hingga memberikan softcase ini, dan bukan karena ada masalah ya.

Karena saat saya memegang Xiaomi Mi 6 untuk pertama kali, bodinya terasa kokoh berkat bobotnya yang sedikit lebih berat dari Xiaomi Mi 5 dahulu. Backcover-nya yang berbahan kaca memiliki lengkungan di sekeliling sisinya, membuat Mi 6 ini terasa amatlah ergonomis. Terlebih permukaan kacanya yang terasa tak terlalu licin, membuat ponsel ini melekat dengan baik dalam genggaman.

Akankah melekat sampai ke hati juga?

Saya sudah tahu bahwa Xiaomi Mi 6 menghilangkan port audio 3.5 mm, sehingga saat menyisir sekeliling frame logamnya, saya hanya berusaha mencari tahu apakah infrared blaster yang absen pada Xiaomi Mi 5s dulu sudah masuk kelas kembali?

Untungnya sudah, pada sisi atas kita akan dapat melihatnya berdampingan dengan lubang noise cancellation microphone. Sisi lain kurang lebih sama dengan kebanyakan ponsel sekarang, sim tray di sisi kiri, volume rocker dan tombol power di sisi kanan, dua set speaker grille dan port USB type-C di sisi bawah.

Kamera depan 8 Megapixels, earpiece, dan LED notifikasi hadir di atas layar IPS yang memiliki bentang 5,15 inci. Sementara di bagian bawah terlihat cekungan fingerprint scanner yang sekaligus berfungsi sebagai tombol kapasitif untuk home. Dua buah tombol kapasitif di kiri dan kanannya menggunakan ikon titik yang baru terlihat saat disentuh dan backlight-nya menyala.

Di sisi belakang, hadir dua buah lensa kamera beresolusi 12 Megapixels yang ditemani dual-tone LED flash di bagian atas, serta logo Mi jauh di bagian bawahnya.

Oh ya, hampir lupa... Di dalam kotaknya, Mi 6 menyediakan juga adapter untuk jack audio 3.5 mm ke USB type-C.

Overall Xiaomi Mi 6 tergolong sebagai ponsel yang tampil cantik menawan hati, meskipun mungkin versi warna hitam ini tampil lebih misterius karena tak mudah untuk melihat detailnya kalau tidak dari jarak dekat. Ukurannya cukup compact dan ergonomis, serta memiliki feels yang cukup premium di tangan. Perkenalan pertama ini cukup membuat saya galau untuk berpaling hati dari daily driver saya saat ini, Huawei Honor 8.


Xiaomi Mi 6 dalam Penggunaan Sehari-hari

Yang paling membuat saya ingin segera mencoba Xiaomi Mi 6 adalah SoC-nya yang menggunakan processor teratas yang baru dirilis oleh Qualcomm, yaitu Snapdragon 835. Saya penasaran dengan processor yang stoknya diborong oleh Samsung ini, yang juga membuat LG G6 harus rela menggunakan Snapdragon 821 saja.



Dengan penggunaan sehari-hari ala saya, perbedaan antara Snapdragon 835 pada Mi 6 tak begitu nyata terasa apabila dibandingkan dengan pengalaman saya menggunakan Snapdragon 821 pada Xiaomi Mi 5s dulu. Sama-sama smooth di semua scene saat proses 3D benchmark berjalan di Antutu, dan sama-sama hemat daya.



Skor Antutu Benchmark yang dihasilkan tak terlalu jauh berbeda pula dengan Snapdragon 821. Meskipun Mi 6 memiliki RAM dua kali lipat lebih besar dari Mi 5s yang saya coba dulu.

Perkara konsumsi daya pun sama-sama irit dengan hasil yang mampu menembus dua hari dua malam dalam sekali pengisian daya. Ya, beginilah processor kelas atas seharusnya, performa tinggi tetapi tak rakus daya. Di sini saya melihat jurang perbedaan antara processor-processor keluaran Mediatek dengan Snapdragon milik Qualcomm semakin lebar saja.





Pengisian daya dapat dilakukan dengan cepat karena Mi 6 sudah mendukung Quickcharge 3.0. Hanya saja, saat saya mengisi daya menggunakan charger dari merk lain yang juga support fitur ini, layar Mi 6 terasa kurang responsif.

Saya sempatkan meng-install game berukuran besar kali ini agar kemampuannya teruji, dan memang Mi 6 mampu melahapnya dengan baik. Pun suhu yang dihasilkan bisa dibilang tak cepat panas.

Dari sisi hardware yang menjadi dapur pacu dan performanya rasanya sama sekali tidak ada masalah pada Xiaomi Mi 6 ini. Gamer pasti senang menggunakan ponsel ini, termasuk untuk kebutuhan VR. Sensor pada smartphone ini sangatlah lengkap, termasuk hadirnya sensor untuk pressure.



Yang menjadi masalah justru datang dari sisi software. Mi 6 yang saya terima terlihat sudah menggunakan ROM Global Stable. Padahal jika melihat di website MIUI, Mi 6 belum memiliki ROM Global. Bahkan ROM versi China-nya saja masih Developer Edition alias beta untuk yang fastboot ROM. Cemana pula ini? Rasanya masalah flashing ROM jadi pekerjaan rutin setiap saya mencoba ponsel Xiaomi tak resmi ini ya, he.. he..

Perlu sedikit trik untuk melakukan flashing pada Xiaomi Mi 6 yang saya coba. Trik ini diperlukan untuk masuk ke mode EDL. Sisanya setelah itu berlangsung dengan lancar menggunakan aplikasi MiFlash.

Masalah lain kemudian datang saat saya tak dapat menemukan cara mengunduh Google Play Store pada ROM China yang memang tak memiliki Google Apps. Konon MIUI 8 yang berbasis Android Nougat memang memiliki masalah tentang hal ini. Pada akhirnya masalah ini terpecahkan dengan cara melakukan restore apps. Kita bisa unduh hasil backup-an Google Apps yang disediakan di forum MIUI. Walau masih sering muncul force close pada Play Service, tetapi fungsinya berjalan dengan baik. Saya berharap ROM MIUI Global Stable segera dirilis untuk Xiaomi Mi 6 ini.

Saya tak akan membahas mengenai MIUI ini lebih lanjut pada ulasan kali ini. MIUI 8.2 kurang lebih masih begitu-begitu saja, Anda dapat melihat ulasannya pada review Xiaomi Redmi Note 4 yang pernah saya buat.

Satu hal yang pasti, MIUI ini masih tetap rakus RAM. Pernah satu kali, MIUI menghabiskan RAM hingga 4,5 GB saja alias hanya menyisakan seperempat dari keseluruhannya. Entah harus senang atau sedih dengan kondisi ini, karena artinya RAM 6 GB yang dimiliki oleh Xiaomi Mi 6 tidaklah mubazir.


Kamera Xiaomi Mi 6

Seperti biasa, kualitas kamera dari seri Mi tidak perlu diragukan. Sejak Mi 4, Mi 5, hingga Mi 5s, gambar yang dihasilkan selalu memuaskan mata saya. Hanya saja di Mi 5 ada syarat khusus, yaitu wajib menggunakan ROM MIUI, karena begitu menggunakan custom ROM lain, kualitas gambarnya kentara sekali mengalami penurunan.

Di Xiaomi Mi 6, tren positif ini terus berlanjut. Namun, saya cukup tercengang saat melihat hasil foto bunga yang saya ambil. Mi 6 mendobrak kebiasaan kamera Xiaomi yang over-saturated. Ya, kali ini Mi 6 mampu menghasilkan nada warna yang lebih natural dengan detail tinggi. Bahkan, hasil gambar dari Huawei Honor 8 yang saya nilai lebih apa adanya dari Mi 5, kali ini terlihat lebih mencolok warnanya daripada apa yang dihasilkan Xiaomi Mi 6.

Kamera depan Mi 6 saya nilai sangat baik, kurang lebih sama dengan apa yang saya temukan pada Xiaomi Mi 5s. Selfie terasa sangat memuaskan, di mana detail dan kecerahan warna terlihat dengan sangat baik meskipun tanpa menggunakan mode beautify.

Tadinya saya mengira semua ponsel berkamera ganda itu memiliki kemampuan yang sama. Namun rupanya pada Mi 6, setup kameranya berbeda. Satu lensa belakangnya adalah lensa normal yang lebih wide, sementara lensa yang lain adalah lensa tele yang mampu menghasilkan zoom sebesar dua kali perbesaran. Hasil zoom optic ini terlihat tetap tajam, jelas sekali berbeda dengan zoom digital.

Akibat dari setup kamera seperti ini, Xiaomi Mi 6 tak memiliki kemampuan refocus seperti halnya Huawei Honor 8 dan Nubia M2. Walaupun untuk urusan bokeh-bokehan, Mi 6 masih mempunyai mode portrait yang dapat mengaburkan latar belakang foto.

Mode professional dengan pengaturan manual lengkap, seperti biasa hadir pula. Namun, pada Mi 6 ini shutterspeed maksimal adalah 1/4 detik untuk lensa wide, dan 1/2 detik saja untuk lensa tele. Cukup singkat ya, mungkin akan jadi masalah buat mereka yang senang melakukan light painting menggunakan kamera ponsel.

Untuk hasil gambarnya, mari kita lihat saja langsung pada artikel review hasil kamera Xiaomi Mi 6 berikut ini.


Apa Kata Aa tentang Xiaomi Mi 6

Tak banyak yang ingin saya sampaikan pada bagian kesimpulan ini. Xiaomi Mi 6 adalah flagship Xiaomi tahun ini. Dengan segala kelebihannya, ponsel ini memang patut diperhitungkan, apalagi dengan spesifikasi setinggi ini, harganya masih Xiaomi banget. Kalau Anda mau sabar sampai harganya lebih turun lagi, bisa makin worth the money lah Mi 6 ini.



Saya sempat membuat video komparasi-nya dengan daily driver saya, Huawei Honor 8. Memang kesimpulan akhirnya adalah saya tetap setia dengan Honor 8 dan memilih Honor 8. Tapi alasan ekonomi lebih mendominasi saat saya menjual kembali Mi 6. Sesungguhnya ada rasa rindu yang tersimpan untuknya, ha.. ha..

Mungkin satu alasan lainnya adalah kurang cocoknya saya menggunakan MIUI. Tapi serius, overall Xiaomi Mi 6 adalah smartphone yang bisa dengan mudah masuk ke daftar rekomendasi. Bahkan masalah ketidakhadiran port audio pun bukan hal besar, karena toh dalam paket penjualannya sudah disertakan adapter-nya.

Doa saya, semoga ini menjadi perangkat seri Mi kedua yang akan resmi masuk Indonesia, setelah seri Mi pertama yang diwakili Mi 4i rasanya kentang banget. He.. he.. he..

Demikian review saya terhadap Xiaomi Mi 6. Semoga MiFans senang dengan review apa adanya ini ya, he.. he..

Saturday, May 27, 2017

Hasil Foto Menggunakan Kamera Luna G Indonesia

Interface aplikasi kamera bawaan Luna G sangatlah standar. Pun begitu dengan fitur-fitur yang dimilikinya. Tak ada mode manual yang dapat dipilih.

Namun begitu, kualitas kamera utama Luna G yang beresolusi 13 Megapixels ini dapat diandalkan koq. Autofokusnya cepat, hasilnya tajam, dan jarak fokus minimalnya terbilang sangat dekat. Tapi ada syaratnya, yaitu kondisi pencahayaan harus cukup, hehehe. Pada kondisi lowlights, noise cukup kentara terlihat, dan ketidakhadiran mode manual membuat kita tak bisa melakukan usaha ekstra untuk menghasilkan gambar yang lebih baik.

Kamera depannya pun demikian, asalkan cahaya cukup, hasilnya baik. Mungkin Anda tak boleh berharap banyak untuk bisa selfie nan mengkilap pada kondisi temaram, karena tak ada bantuan LED flash atau layar yang menyala putih untuk membantu pencahayaan kamera yang beresolusi 5 Megapixels ini. Beautification mode hadir untuk membantu Anda sedikit melupakan permasalahan hidup, ha.. ha..

Untuk video, kamera dari Luna G ini cukup dapat diandalkan. Ada juga fitur EIS yang sebetulnya hanya memperlambat gerakan saja, terbukti dari suara yang juga ikut melambat.

Hasil foto menggunakan kameranya saya unggah di bawah ini. Silakan disimak baik-baik, semua gambar tidak melalui proses editing selain resize.


Hasil Foto Kamera Belakang Luna G

review kamera luna G G55 Indonesia

review kamera luna G G55 Indonesia

review kamera luna G G55 Indonesia

review kamera luna G G55 Indonesia
fokus dekat

review kamera luna G G55 Indonesia
fokus jauh

review kamera luna G G55 Indonesia
HDR on!

review kamera luna G G55 Indonesia

review kamera luna G G55 Indonesia

review kamera luna G G55 Indonesia

review kamera luna G G55 Indonesia

review kamera luna G G55 Indonesia
lowlights, noisy

review kamera luna G G55 Indonesia
lowlights


Hasil Foto Kamera Depan Luna G

review kamera luna G G55 Indonesia

review kamera luna G G55 Indonesia

review kamera luna G G55 Indonesia

Friday, May 26, 2017

Review Infinix S2 Pro Indonesia



Pertarungan berat akan dihadapi Infinix saat memasarkan S2 Pro karena beberapa waktu sebelumnya, pesaing-pesaing mereka sudah lebih dulu merilis produk-produk terbaru yang akan berhadapan langsung dengan smartphone ini. Ada yang saling berhadapan untuk mengadu kamera selfie gandanya walau berada di level harga berbeda, ada juga lawan yang harus dihadapi Infinix S2 Pro di level harga yang hampir sama, namun mengedepankan spesifikasi jeroan yang di atas kertas lebih mutakhir, meski tak mengedepankan masalah kamera.

Terlepas dari masalah persaingan, saya merasa Infinix cukup percaya diri ketika melepaskan embel-embel seri Hot dan merilis smartphone penerus Infinix Hot S ini sebagai Infinix S2 Pro pada harga dua setengah juta Rupiah kurang lima puluh ribu. Padahal konon katanya tak banyak yang berubah dari Infinix Hot S, bahkan processor yang digunakan pun masih sama. Hmm..

Dengan segala pro dan kontra terhadap penerus dari Infinix Hot S ini, saya beruntung karena tak perlu merogoh kocek untuk membelinya. Saya mendapatkan pinjaman sebuah Infinix S2 Pro dari Lazada untuk saya ulas.


Unboxing dan Hands-on Infinix S2 Pro Indonesia


Saat pertama membuka kotaknya, saya langsung notice kalau kaca depannya memiliki tepian yang melengkung. Makin cantik saja, dan memang harus begitu, karena sisi depan dari Infinix S2 Pro adalah pertunjukan utama dari ponsel ini.

Di bagian atas kita akan melihat ada dua buah lensa kamera dengan ukuran yang berbeda. Lensa yang lebih besar adalah lensa wide yang lebih cembung sehingga dapat mengambil gambar dengan sudut yang jauh lebih luas dari lensa normal. Saya menyukai desain dari earpiece yang bersebelahan dengan proximity sensor pada ponsel ini. Dan untunglah, kali ini Infinix sudah memberikan LED notifikasi pada S2 Pro.

Turun sedikit, kita akan menemukan layar HD 720p yang masih berdimensi 5,2 inci dengan panel IPS. Meski ukuran dan resolusinya tetap sama, nampaknya panel yang digunakan sudah lain. Saya menilai layar S2 Pro setingkat lebih baik dari Infinix Hot S dalam hal reproduksi warna yang semakin vibrant. Untuk urusan layar, saya yakin tidak ada kendala yang akan kita temui, termasuk feels saat digunakan mengetik cepat yang sangat enak.

Turun lagi ke bawah, ada tiga buah tombol kapasitif dengan ikon titik saja yang masih tanpa lampu latar. Saya kasih saran buat Infinix, sekalian hilangkan saja tombolnya dan gunakan on-screen navigation kayaknya lebih baik deh. Bukankah Infinix Note series sudah mengusung navigasi macam ini?

Frame pada sekeliling pinggiran ponsel ini terlihat seperti berbahan logam, padahal bukan. Dua buah list chrome hadir untuk memberi kesan seakan ponsel ini memiliki chamfered metal. Di bagian bawah terdapat sepasang speaker grille yang salah satunya untuk mikrofon, dan port micro-USB. Di sisi kanan terdapat sim-tray dan tombol power, sementara volume rocker dipindahkan ke sisi kiri. Di bagian atas hanya terdapat port untuk jack audio 3,5 mm.

Terakhir kita bahas sisi belakang yang tak saya favoritkan ini. Penampakannya terlihat seperti ponsel dari brand lain sih. Menurut saya, Infinix Hot S malah lebih terlihat orisinil. S2 Pro memiliki dua list chrome tipis di atas dan bawah backcover yang memisahkan bagian yang terbuat dari logam dengan bagian plastiknya. Susunan kamera, dual LED flash, dan fingerprint scanner-nya benar-benar mengingatkan pada Xiaomi Redmi Note 4. Dan LED flash-nya walau ada dua buah, tetapi memiliki nada warna yang sama. Sementara ukuran fingerprint scanner-nya terasa agak sedikit kecil, sama seperti yang dulu saya temui pada Infinix Hot S. Untunglah pemindai sidik jari ini memiliki cukup akurat dengan kecepatan yang sangat baik.


Infinix S2 Pro dalam Pemakaian Sehari-hari

Rasanya sama sekali tak ada yang salah saat menggunakan Infinix S2 Pro sebagai daily driver saya selama beberapa hari. Mungkin karena dari awal sudah sadar diri bahwa ponsel terbaru Infinix ini masih mengusung processor yang sama dengan produk pertama Infinix yang saya coba dua tahun lalu.

Ya, Infinix masih saja setia dengan Mediatek MT6753. Saya tak tahu pasti alasannya, apakah karena sudah kadung beli banyak dari Mediatek, atau demi memudahkan developer mereka mengembangkan custom UI terbaru Infinix, XOS yang sudah sampai versi 2.2. Nampaknya alasan yang kedua lebih masuk akal, karena beberapa hari setelah unboxing, saya mendapat notifikasi update ke Android 7.0 Nougat secara OTA, walau kemudian sempat gagal download dan saya lanjutkan update dari file lokal, atau yang biasa diistilahkan oleh Infinix sebagai T-card update.

Sejauh yang saya telah coba, Android Nougat berjalan dengan baik di Infinix S2 Pro. Menjalankan aplikasi-aplikasi terasa snappy, termasuk saat harus melakukan multitasking. Dalam kondisi idle, RAM yang terpakai mencapai setengah dari total 3 GB RAM yang dimiliki ponsel ini. Pada task switcher, Infinix masih melanjutkan kebiasaannya dengan menampilkan jumlah RAM terpakai, bukan RAM yang tersedia seperti kebanyakan ponsel lainnya.

Diajak bermain game casual, tak ada kendala yang saya temui pada Infinix S2 Pro. Pun saat diajak bermain game dengan grafis 3D yang memerlukan respon yang realtime semacam game balap dan endless run, masih smooth. Saya tak mencoba meng-install game berat yang ukurannya bergiga-giga, karena selain sadar akan kelas dari smartphone ini, sayang kuota juga sih, hehehe.

Soal suhu, Infinix S2 Pro juga relatif tak mudah panas. Tapi ngga tau deh kalo dia liat mantannya jalan sama pacar baru, panas juga kali ya, bwahaha!

Konsumi daya baterai dari Infinix S2 Pro tergolong biasa saja. Kapasitas 3.000 mAh dari baterainya sanggup mentenagai ponsel ini dari pagi hingga malam. Namun sejauh pemakaan saya, belum pernah menembus 24 jam dalam sekali pengisian daya. Tanpa dukungan fast charging, kita bisa mengisi penuh baterainya dalam waktu sekitar dua jam.

Urusan multimedia, Infinix S2 Pro bisa dibilang biasa-biasa saja. Suara loudspeaker-nya tergolong lumayan, tapi tidak istimewa. Bahkan agak disayangkan, S2 Pro justru tak bisa mendendangkan suara secara stereo seperti pada Infinix Hot 4 Pro, di mana bunyi keluar dari loudspeaker dan earpiece secara bersamaan. Paling tidak, pada volume terkencang pun, suara yang dihasilkan tidak sember, jadi masih sangat bisa dinikmati lah kalau memang Anda tak punya bluetooth speaker.

Fingerprint scanner yang dimiliki Infinix S2 Pro rasanya berukuran sama dengan milik Hot S dulu, dan ini menurut saya ukurannya sedikit kurang lega. Untungnya, akurasinya sangat baik serta responsif. Membuka layar dapat dilakukan dengan instan. Sensor ini juga dapat dimanfaatkan sebagai tombol shutter saat hendak mengambil foto.


Kamera Infinix S2 Pro

Meskipun lebih mengedepankan urusan selfie rame-rame, rupanya Infinix tak melupakan kualitas dari kamera utama Infinix S2 Pro ini. Saya sampai takjub saat suatu malam di penghujung akhir pekan, saya sekeluarga pergi makan di kedai tak jauh dari komplek rumah. Dalam kondisi cahaya yang cukup pas-pasan, kamera Infinix S2 Pro mampu memproduksi hasil foto makanan yang detail tanpa noise yang mudah terlihat.

Saat kondisi cahaya cukup mah sudah jelas atuh, pasti lebih baik lagi. Namun tak hanya itu, autofokusnya pun tergolong cepat serta memiliki jarak fokus minimal yang cukup dekat untuk dapat digunakan memotret detail bunga misalnya.

Digunakan merekam video pun, kamera utama Infinix yang beresolusi 13 Megapixels ini mampu menghasilkan video dengan kombinasi warna yang hidup. Tapi... Ada tapinya, kamera ini hadir tanpa bantuan stabilization apa-apa, sehingga gerakan sang perekam akan membuat hasil videonya terlihat goyang.

Absennya stabilization ini berpengaruh juga pada hasil fotonya, saya sarankan Anda mengambil foto dengan kedua tangan jika tak terbiasa. Saya beberapa kali mendapati foto agak kabur saat satu tangan digunakan memegang objek, dan satu tangan lagi menekan tombol shutter di layar Infinix S2 Pro. Kekurangannya sepertinya hanya ini saja sih.

Kamera depannya setali tiga uang, hasilnya juga sangat baik, termasuk di kondisi lowlight. Detail masih dapat ditunjukkan tanpa menghasilkan banyak noise.

Lensa ganda pada Infinix S2 Pro bukan dihadirkan untuk menghasilkan selfie yang bokeh. Kedua lensa depan ini beroperasi secara terpisah, di mana satu lensa menghasilkan foto normal, dan lensa lain yang lebih cembung akan menghasilkan foto yang jauh lebih lebar.

Mode professional yang lengkap hadir pada aplikasi kamera bawaannya, namun tak banyak mode dan fitur lain yang bisa kita gunakan.

Seberapa baik hasil foto dari ponsel dua jutaan ini? Silakan cek langsung di artikel review kamera Infinix S2 Pro ini ya.


Apa Kata Aa tentang Infinix S2 Pro


Saya yakin, begitu Anda mengetahui harga Infinix S2 Pro yang 2,4-jutaan Rupiah, setidaknya akan ada dua reaksi yang sangat mungkin Anda lontarkan.

Pertama, wow Infinix berani juga yah pasang harga, padahal jeroannya gitu-gitu juga. Emang lensa wide semahal itukah?

Kedua, ya mending hape merk anu yang sekarang sudah resmi dong, harga 11-12 tapi udah pake Snapdragon 625 yang terkenal irit gitu lho!

Well, saya tak bisa menyalahkan jika Anda melontarkan salah satu atau bahkan kedua reaksi tersebut. Karena faktanya memang ya, Infinix cukup berani pasang harga untuk produk terbarunya ini. Dan benar juga, saya suka dengan smartphone yang menggunakan processor Snapdragon 625.

Sekarang kita lihat sedikit dari sisi lain, model bisnis Infinix sedang berubah, mereka mulai menggarap pasar offline. Selain butuh biaya untuk marketing yang lebih besar, sehingga membuat standar harga smartphone mereka agak meningkat, perlu dicermati bahwa pasar offline tidak terlalu peka dengan spesifikasi jeroan sampai begitu detail.

Serius deh, orang yang beli hape dengan datang ke mall, atau counter hape, dikasi liat hape dengan kamera yang hasilnya bagus, apalagi bisa selfie rame-rame, pasti akan tertarik. Spesifikasi? Kalau dibilang ponsel ini sudah octa-core, RAM-nya 3 GB dan internal 32 GB juga mungkin mereka takkan tahu apa bedanya dengan octa-core dari vendor lain. Boro-boro nanya sampe ke fabrikasinya berapa nm, haha.

Karena kalau untuk kebutuhan foto-foto dan eksis di social media, Infinix S2 Pro sudah cukup banget. Baru akan terasa kurang mumpuni kalau Anda adalah pengguna smartphone dengan kebutuhan gaming berat, ya karena selain processornya sudah lawas, ketahanan baterainya juga akan terasa kurang kalau buat gamer mah.

Seharusnya Infinix menyasar konsumen wanita dengan kelebihan yang dimiliki oleh Infinix S2 Pro, tetapi entah kenapa mereka malah memilih untuk menjual dua varian warna saja di Indonesia, yaitu hitam dan biru. Padahal dari total lima pilihan warna, ada dua warna yang cukup feminim, yaitu gold dan rose gold.

Nah, sudah tau kan siapa yang akan puas kalau pakai Infinix S2 Pro dan siapa yang mungkin sebaiknya cari alternatif lain? Ok, kalo gitu gimana kalau habis ini ga usah flaming dengan bilang mending ini lah, mending itu lah, ini mah jelek lah, harga segini masa begitu. Ada pepatah Sunda yang bilang, "wantun galeuh, teu wantun ulah geuleuh".

Kalau cocok ya beli, ga cocok ya sudah tak usah ribut. Indonesia ngga butuh debat kusir lainnya koq, rasanya sudah terlalu banyak deh. Ok, be nice to others ya guys!

Demikian review dari Infinix S2 Pro, semoga mencerahkan. Wassalam!

Review Hasil Kamera Xiaomi Mi 6 Indonesia

Seperti biasa, kualitas kamera dari seri Mi tidak perlu diragukan. Sejak Mi 4, Mi 5, hingga Mi 5s, gambar yang dihasilkan selalu memuaskan mata saya. Hanya saja di Mi 5 ada syarat khusus, yaitu wajib menggunakan ROM MIUI, karena begitu menggunakan custom ROM lain, kualitas gambarnya kentara sekali mengalami penurunan.

Di Xiaomi Mi 6, tren positif ini terus berlanjut. Namun, saya cukup tercengang saat melihat hasil foto bunga yang saya ambil. Mi 6 mendobrak kebiasaan kamera Xiaomi yang over-saturated. Ya, kali ini Mi 6 mampu menghasilkan nada warna yang lebih natural dengan detail tinggi. Bahkan, hasil gambar dari Huawei Honor 8 yang saya nilai lebih apa adanya dari Mi 5, kali ini terlihat lebih mencolok warnanya daripada apa yang dihasilkan Xiaomi Mi 6.

Kamera depan Mi 6 saya nilai sangat baik, kurang lebih sama dengan apa yang saya temukan pada Xiaomi Mi 5s. Selfie terasa sangat memuaskan, di mana detail dan kecerahan warna terlihat dengan sangat baik meskipun tanpa menggunakan mode beautify.

Tadinya saya mengira semua ponsel berkamera ganda itu memiliki kemampuan yang sama. Namun rupanya pada Mi 6, setup kameranya berbeda. Satu lensa belakangnya adalah lensa normal yang lebih wide, sementara lensa yang lain adalah lensa tele yang mampu menghasilkan zoom sebesar dua kali perbesaran. Hasil zoom optic ini terlihat tetap tajam, jelas sekali berbeda dengan zoom digital.

Akibat dari setup kamera seperti ini, Xiaomi Mi 6 tak memiliki kemampuan refocus seperti halnya Huawei Honor 8 dan Nubia M2. Walaupun untuk urusan bokeh-bokehan, Mi 6 masih mempunyai mode portrait yang dapat mengaburkan latar belakang foto.

Mode professional dengan pengaturan manual lengkap, seperti biasa hadir pula. Namun, pada Mi 6 ini shutterspeed maksimal adalah 1/4 detik untuk lensa wide, dan 1/2 detik saja untuk lensa tele. Cukup singkat ya, mungkin akan jadi masalah buat mereka yang senang melakukan light painting menggunakan kamera ponsel.

Untuk hasil gambarnya, mari kita lihat saja langsung untuk tahu sejauh mana kualitas kamera dari Xiaomi Mi 6 ini. Semua gambar tanpa melalui proses editing selain resizing saja (beserta kompresi yang mungkin terjadi saat proses resizing).


Hasil Foto Kamera Belakang Xiaomi Mi 6

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia
zoom 2x

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia
zoom 2x, HDR on!

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia
review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

Hasil Foto Kamera Depan Xiaomi Mi 6

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia

review hasil kamera xiaomi mi 6 indonesia