Gadget Promotions

Friday, June 2, 2017

Review Xiaomi Mi 6 Indonesia, Unsuprisingly Good!


Awalnya saya sama sekali tak berniat untuk mengulas smartphone flagship terbaru Xiaomi ini. Karena memang belum jelas apakah ponsel ini akan dibawa secara resmi oleh Xiaomi ke Indonesia. Dan umumnya ponsel Xiaomi yang belum resmi akan dijual di Indonesia oleh para pedagang dengan harga yang cukup mahal di awal, sebelum kemudian dibanting habis-habisan agar bisa bersaing dengan harga resminya nanti. Dan ini tidaklah baik bagi kesehatan finansial seorang reviewer, bisa-bisa selisih harga saat membeli dan menjualnya kembali terlalu besar.

Xiaomi Mi 6 sebetulnya sudah dijual di GearBest beberapa hari, tetapi saya pun tak berani meminta mereka mengirimkannya untuk saya ulas. Selain karena harganya cukup mahal, saya tak yakin ini menguntungkan bagi mereka. Ya, karena produk Xiaomi tak resmi biasanya cukup cepat masuk ke pasar tanah air, jadi kecil kemungkinan orang akan membelinya dari e-commerce luar negeri.

Namun, malah counterpart saya di GearBest yang menawari sebuah Xiaomi Mi 6 untuk mereka kirimkan agar saya dapat mencobanya. Ya kalau sudah begini mah saya tak bisa menolaknya, sayang soalnya hehehe.


Unboxing dan Hands-on Xiaomi Mi 6

Akhirnya kiriman Xiaomi Mi 6 dari GearBest datang juga. Kotak kemasannya berbeda dari yang saya lihat pada beberapa postingan Xiaomi Mi 6 milik Om Herry SW. Rupanya versi standar dari Xiaomi Mi 6 (bukan yang keramik) memiliki kemasan kotak putih dengan logo Mi kecil dan keterangan besaran RAM dan internal storage-nya.

Saat saya membuka kotaknya, seperti biasa saya tak menemukan kelengkapan ekstra ataupun packaging yang eksklusif pada produk ini. Eh tunggu, ada sebuah softcase tipis berwarna transparan kehitaman di dalamnya. Hmmm, apakah ini artinya...



Jarang-jarang Xiaomi menyertakan pelindung body seperti ini dalam kemasan penjualan, tetapi marilah berbaik sangka dan berdoa semoga Xiaomi memang sedang berbaik hati saja hingga memberikan softcase ini, dan bukan karena ada masalah ya.

Karena saat saya memegang Xiaomi Mi 6 untuk pertama kali, bodinya terasa kokoh berkat bobotnya yang sedikit lebih berat dari Xiaomi Mi 5 dahulu. Backcover-nya yang berbahan kaca memiliki lengkungan di sekeliling sisinya, membuat Mi 6 ini terasa amatlah ergonomis. Terlebih permukaan kacanya yang terasa tak terlalu licin, membuat ponsel ini melekat dengan baik dalam genggaman.

Akankah melekat sampai ke hati juga?

Saya sudah tahu bahwa Xiaomi Mi 6 menghilangkan port audio 3.5 mm, sehingga saat menyisir sekeliling frame logamnya, saya hanya berusaha mencari tahu apakah infrared blaster yang absen pada Xiaomi Mi 5s dulu sudah masuk kelas kembali?

Untungnya sudah, pada sisi atas kita akan dapat melihatnya berdampingan dengan lubang noise cancellation microphone. Sisi lain kurang lebih sama dengan kebanyakan ponsel sekarang, sim tray di sisi kiri, volume rocker dan tombol power di sisi kanan, dua set speaker grille dan port USB type-C di sisi bawah.

Kamera depan 8 Megapixels, earpiece, dan LED notifikasi hadir di atas layar IPS yang memiliki bentang 5,15 inci. Sementara di bagian bawah terlihat cekungan fingerprint scanner yang sekaligus berfungsi sebagai tombol kapasitif untuk home. Dua buah tombol kapasitif di kiri dan kanannya menggunakan ikon titik yang baru terlihat saat disentuh dan backlight-nya menyala.

Di sisi belakang, hadir dua buah lensa kamera beresolusi 12 Megapixels yang ditemani dual-tone LED flash di bagian atas, serta logo Mi jauh di bagian bawahnya.

Oh ya, hampir lupa... Di dalam kotaknya, Mi 6 menyediakan juga adapter untuk jack audio 3.5 mm ke USB type-C.

Overall Xiaomi Mi 6 tergolong sebagai ponsel yang tampil cantik menawan hati, meskipun mungkin versi warna hitam ini tampil lebih misterius karena tak mudah untuk melihat detailnya kalau tidak dari jarak dekat. Ukurannya cukup compact dan ergonomis, serta memiliki feels yang cukup premium di tangan. Perkenalan pertama ini cukup membuat saya galau untuk berpaling hati dari daily driver saya saat ini, Huawei Honor 8.


Xiaomi Mi 6 dalam Penggunaan Sehari-hari

Yang paling membuat saya ingin segera mencoba Xiaomi Mi 6 adalah SoC-nya yang menggunakan processor teratas yang baru dirilis oleh Qualcomm, yaitu Snapdragon 835. Saya penasaran dengan processor yang stoknya diborong oleh Samsung ini, yang juga membuat LG G6 harus rela menggunakan Snapdragon 821 saja.



Dengan penggunaan sehari-hari ala saya, perbedaan antara Snapdragon 835 pada Mi 6 tak begitu nyata terasa apabila dibandingkan dengan pengalaman saya menggunakan Snapdragon 821 pada Xiaomi Mi 5s dulu. Sama-sama smooth di semua scene saat proses 3D benchmark berjalan di Antutu, dan sama-sama hemat daya.



Skor Antutu Benchmark yang dihasilkan tak terlalu jauh berbeda pula dengan Snapdragon 821. Meskipun Mi 6 memiliki RAM dua kali lipat lebih besar dari Mi 5s yang saya coba dulu.

Perkara konsumsi daya pun sama-sama irit dengan hasil yang mampu menembus dua hari dua malam dalam sekali pengisian daya. Ya, beginilah processor kelas atas seharusnya, performa tinggi tetapi tak rakus daya. Di sini saya melihat jurang perbedaan antara processor-processor keluaran Mediatek dengan Snapdragon milik Qualcomm semakin lebar saja.





Pengisian daya dapat dilakukan dengan cepat karena Mi 6 sudah mendukung Quickcharge 3.0. Hanya saja, saat saya mengisi daya menggunakan charger dari merk lain yang juga support fitur ini, layar Mi 6 terasa kurang responsif.

Saya sempatkan meng-install game berukuran besar kali ini agar kemampuannya teruji, dan memang Mi 6 mampu melahapnya dengan baik. Pun suhu yang dihasilkan bisa dibilang tak cepat panas.

Dari sisi hardware yang menjadi dapur pacu dan performanya rasanya sama sekali tidak ada masalah pada Xiaomi Mi 6 ini. Gamer pasti senang menggunakan ponsel ini, termasuk untuk kebutuhan VR. Sensor pada smartphone ini sangatlah lengkap, termasuk hadirnya sensor untuk pressure.



Yang menjadi masalah justru datang dari sisi software. Mi 6 yang saya terima terlihat sudah menggunakan ROM Global Stable. Padahal jika melihat di website MIUI, Mi 6 belum memiliki ROM Global. Bahkan ROM versi China-nya saja masih Developer Edition alias beta untuk yang fastboot ROM. Cemana pula ini? Rasanya masalah flashing ROM jadi pekerjaan rutin setiap saya mencoba ponsel Xiaomi tak resmi ini ya, he.. he..

Perlu sedikit trik untuk melakukan flashing pada Xiaomi Mi 6 yang saya coba. Trik ini diperlukan untuk masuk ke mode EDL. Sisanya setelah itu berlangsung dengan lancar menggunakan aplikasi MiFlash.

Masalah lain kemudian datang saat saya tak dapat menemukan cara mengunduh Google Play Store pada ROM China yang memang tak memiliki Google Apps. Konon MIUI 8 yang berbasis Android Nougat memang memiliki masalah tentang hal ini. Pada akhirnya masalah ini terpecahkan dengan cara melakukan restore apps. Kita bisa unduh hasil backup-an Google Apps yang disediakan di forum MIUI. Walau masih sering muncul force close pada Play Service, tetapi fungsinya berjalan dengan baik. Saya berharap ROM MIUI Global Stable segera dirilis untuk Xiaomi Mi 6 ini.

Saya tak akan membahas mengenai MIUI ini lebih lanjut pada ulasan kali ini. MIUI 8.2 kurang lebih masih begitu-begitu saja, Anda dapat melihat ulasannya pada review Xiaomi Redmi Note 4 yang pernah saya buat.

Satu hal yang pasti, MIUI ini masih tetap rakus RAM. Pernah satu kali, MIUI menghabiskan RAM hingga 4,5 GB saja alias hanya menyisakan seperempat dari keseluruhannya. Entah harus senang atau sedih dengan kondisi ini, karena artinya RAM 6 GB yang dimiliki oleh Xiaomi Mi 6 tidaklah mubazir.


Kamera Xiaomi Mi 6

Seperti biasa, kualitas kamera dari seri Mi tidak perlu diragukan. Sejak Mi 4, Mi 5, hingga Mi 5s, gambar yang dihasilkan selalu memuaskan mata saya. Hanya saja di Mi 5 ada syarat khusus, yaitu wajib menggunakan ROM MIUI, karena begitu menggunakan custom ROM lain, kualitas gambarnya kentara sekali mengalami penurunan.

Di Xiaomi Mi 6, tren positif ini terus berlanjut. Namun, saya cukup tercengang saat melihat hasil foto bunga yang saya ambil. Mi 6 mendobrak kebiasaan kamera Xiaomi yang over-saturated. Ya, kali ini Mi 6 mampu menghasilkan nada warna yang lebih natural dengan detail tinggi. Bahkan, hasil gambar dari Huawei Honor 8 yang saya nilai lebih apa adanya dari Mi 5, kali ini terlihat lebih mencolok warnanya daripada apa yang dihasilkan Xiaomi Mi 6.

Kamera depan Mi 6 saya nilai sangat baik, kurang lebih sama dengan apa yang saya temukan pada Xiaomi Mi 5s. Selfie terasa sangat memuaskan, di mana detail dan kecerahan warna terlihat dengan sangat baik meskipun tanpa menggunakan mode beautify.

Tadinya saya mengira semua ponsel berkamera ganda itu memiliki kemampuan yang sama. Namun rupanya pada Mi 6, setup kameranya berbeda. Satu lensa belakangnya adalah lensa normal yang lebih wide, sementara lensa yang lain adalah lensa tele yang mampu menghasilkan zoom sebesar dua kali perbesaran. Hasil zoom optic ini terlihat tetap tajam, jelas sekali berbeda dengan zoom digital.

Akibat dari setup kamera seperti ini, Xiaomi Mi 6 tak memiliki kemampuan refocus seperti halnya Huawei Honor 8 dan Nubia M2. Walaupun untuk urusan bokeh-bokehan, Mi 6 masih mempunyai mode portrait yang dapat mengaburkan latar belakang foto.

Mode professional dengan pengaturan manual lengkap, seperti biasa hadir pula. Namun, pada Mi 6 ini shutterspeed maksimal adalah 1/4 detik untuk lensa wide, dan 1/2 detik saja untuk lensa tele. Cukup singkat ya, mungkin akan jadi masalah buat mereka yang senang melakukan light painting menggunakan kamera ponsel.

Untuk hasil gambarnya, mari kita lihat saja langsung pada artikel review hasil kamera Xiaomi Mi 6 berikut ini.


Apa Kata Aa tentang Xiaomi Mi 6

Tak banyak yang ingin saya sampaikan pada bagian kesimpulan ini. Xiaomi Mi 6 adalah flagship Xiaomi tahun ini. Dengan segala kelebihannya, ponsel ini memang patut diperhitungkan, apalagi dengan spesifikasi setinggi ini, harganya masih Xiaomi banget. Kalau Anda mau sabar sampai harganya lebih turun lagi, bisa makin worth the money lah Mi 6 ini.



Saya sempat membuat video komparasi-nya dengan daily driver saya, Huawei Honor 8. Memang kesimpulan akhirnya adalah saya tetap setia dengan Honor 8 dan memilih Honor 8. Tapi alasan ekonomi lebih mendominasi saat saya menjual kembali Mi 6. Sesungguhnya ada rasa rindu yang tersimpan untuknya, ha.. ha..

Mungkin satu alasan lainnya adalah kurang cocoknya saya menggunakan MIUI. Tapi serius, overall Xiaomi Mi 6 adalah smartphone yang bisa dengan mudah masuk ke daftar rekomendasi. Bahkan masalah ketidakhadiran port audio pun bukan hal besar, karena toh dalam paket penjualannya sudah disertakan adapter-nya.

Doa saya, semoga ini menjadi perangkat seri Mi kedua yang akan resmi masuk Indonesia, setelah seri Mi pertama yang diwakili Mi 4i rasanya kentang banget. He.. he.. he..

Demikian review saya terhadap Xiaomi Mi 6. Semoga MiFans senang dengan review apa adanya ini ya, he.. he..

3 comments:

  1. Semakin mantab aja flagship xiaomi.. tapi nampaknya memang susah bersaing dengan hwahwe yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harapan gue mi5 bisa lebih turun lagi harga nya

      Delete