Review Samsung Galaxy A71, Ketika Samsung Lebih Murah dari Xiaomi, he.. he.. he..



Halo Assalamualaikum.
Sudah cukup lama juga ya nggak update tulisan di sini, saya cek postingan terakhir sebelum ini adalah di bulan Juli 2019, haha!

Padahal menulis di sini jadi awal dari segalanya.
Dan menulis adalah passion saya.
Jadi, mari menulis kembali!

Pada artikel kali ini, saya akan mengulas Samsung Galaxy A71 yang sudah semingguan lebih saya pakai jadi daily driver. Bagi yang belum tahu apa itu daily driver, artinya kurang lebih sebagai perangkat harian utama ya. Bukan dipake buat jadi driver ojek online, ha.. ha!

Ponsel ini sendiri benar-benar teruji sekali karena sempat saya pakai bepergian ke luar kota, termasuk dipakai ke acara preview Galaxy S20 Ultra beberapa minggu lalu. Saya sengaja tak membawa beberapa ponsel flagship yang masih saya simpan. Saya ingin menuntaskan kepenasaran saya tentang kualitas ponsel pintar seri A dari Samsung, apakah masih bisa diandalkan pasca peleburan seri J ke dalam seri ini.

Jika Anda ingin tahu hasilnya seperti apa, cek saja video di bawah ini ya. Semua bagian pada video vlogging ini direkam menggunakan kamera depan dan belakang dari Samsung Galaxy A71.




Lanjut dibawa kondangan ke Bogor pun smartphone ini sukses jadi perangkat navigasi GPS yang handal. Dalam artian, tak demam meskipun GPS-nya manteng terus menerus sekitar 4 jam, layar menyala, dan sempat pula saya colok charger sekitar 2 jam tanpa henti.

Posisi juga tak pernah meleset meski kadang saya berkendara di bawah jalan layang. Plus sinyal internet tak hilang, satu hal yang belakangan saya khawatirkan mengingat ponsel flagship terakhir Samsung yang saya coba sedikit terkendala dalam hal penerimaan sinyal. Mungkinkah ini efek dari penggunaan SoC milik Qualcomm? Mungkin modemnya lebih tahan godaan? Eh, koq godaan, kita lagi bahas apa sih ini sebetulnya? Ha.. Ha..

Dan, saya sedikit kesulitan mencari kekurangan dari Samsung Galaxy A71 ini. Terutama karena saya membelinya dengan bonus pre-order yang berhasil saya jual kembali sehingga cost untuk memilikinya bahkan tak sampai 5-juta Rupiah! Walau, dalam hal yang sifatnya kualitas, lama-lama kerasa koq, bedanya apa dari smartphone flagship. Tapi sekali lagi, buat harganya, Galaxy A71 ini keren banget!

Smartphone ini sendiri sekarang statusnya sudah ready stock ya! Harga di penjual online lebih murah dari harga resminya, saya temukan paling murah dijual di angka sekitar 5,7-jutaan, alias selisih 400-ribu dari angka SRP-nya!

Saya merasa yakin semua orang senang dengan Samsung Galaxy A71 ini. Kalau ada yang tidak senang, mungkin pengguna Galaxy A70 yang kini harganya jatuh drastis, hehe.

Coba bayangkan, pada zaman dulu mungkin atau tidak ada ponsel pintar Samsung 6-jutaan yang
RAM-nya 8 GB, dengan internal storage 128 GB, lalu punya Infinity-O-Display alias layar dengan punchhole kamera, bersanding dengan panel Super AMOLED Plus, NFC, USB Type-C yang mendukung fast-charging 25W, baterai 4.500 mAh, dan ditenagai oleh Qualcomm Snapdragon 730?

Smartphone brand lain saja yang processor-nya setipe, bisa lebih mahal 1-2 juta Rupiah lho! Ngga Samsung banget kan rasanya?

Samsung nampaknya sedang beradaptasi ulang dengan pasar Indonesia. Dengar-dengar sih, mereka ingin mengembalikan market share-nya yang mungkin beberapa tahun belakangan sudah mulai digerus beberapa brand asal China. Dan untuk langkah yang ditempuh, menurut saya cukup tepat. Karena rasanya produk smartphone Samsung kini makin valuable saja.



Saya sendiri adalah pembeli yang puas. Dari awal, saya sudah niatkan ingin mencoba Samsung ber-Snapdragon. Dan asumsi saya bahwa smartphone Android milik Samsung yang menggunakan processor Qualcomm akan lebih hemat ternyata terbukti benar adanya. Ponsel ini selalu mampu menembus 24 jam dengan pemakaian intens, dan seperti biasa makin hari makin hemat karena OneUI yang mempelajari kebiasaan kita. Yup, Samsung Galaxy A71 ini sudah pakai OneUI 2.0 berbasis Android 10.

Setelah sekian lama tak memakainya dalam keseharian, rasanya nyaman sekali menggunakan OneUI ini. Hal-hal simple seperti notifikasi SMS yang dapat dimunculkan dalam pop-up preview untuk dibalas dan disalin teksnya pun terasa berguna. Atau sekedar ingin memilih kartu sim untuk mobile data, hingga memilih device audio mana yang akan dipakai, semuanya terasa intuitif sekali.

Untuk masalah desain, memang bisa dibilang sekarang Samsung lebih mainstream ya. Lebih mengikuti arus kemauan pasar, yang membuatnya nampak mirip ponsel-ponsel Android pada umumnya. Pembedanya mungkin hanya pola prisma di backcover-nya saja! Untuk build quality-nya sendiri terbilang cukup solid. Dari informasi yang saya dapatkan sih, tetap dari polycarbonat, namun diberi feels seperti glass di belakang dan metal di samping.

Saya tidak akan protes sih walau benar ini terbuat dari plastik, toh saat saya gunakan pasti memakai casing koq! Dan kalau itu yang Samsung lakukan untuk menekan biaya produksi mereka, buat saya itu lebih baik daripada menurunkan spesifikasi dapur pacunya.

Termasuk untuk kamera, sekarang Samsung juga terasa sekali sedang ikut arus. Mulai dari gede-gedean Megapixels atau resolusi, banyak-banyakan jumlah lensa kamera belakang, hingga tone warna foto dan video yang dibuat lebih vivid.

Overall kamera Galaxy A71 ini bagus, alias sesuai banget dengan harga jualnya. Dengan catatan lowlights dengan memakai mode auto sebetulnya agak di bawah ekspektasi. Serta lensa ultrawide  yang kualitasnya agak naik turun dan punya distorsi yang masih sangat kental.

Berikut adalah temuan-temuan saya soal kamera dari Samsung Galaxy A71 ini:

  1. Hasil perekaman video stabil sekali, apalagi jika memakai ultra steady mode.
  2. Dan untuk video ultra steady ini, kita tidak bisa memakai ultrawide lens ya!
  3. Di  kondisi lowlights, perekaman video tetap stabil walau sudah muncul noise yang jelas.
  4. Berpindah antara lensa wide dan ultrawide cukup memakan waktu, alias lambat.
  5. Nightmode juga membutuhkan waktu lebih lama, tapi hasilnya terasa mantap! 
  6. Mode Professional hadir, namun kurang lengkap karena tidak ada pengaturan manual untuk fokus dan shutterspeed.
  7. Mode slowmotion video tersedia dalam dua pilihan, yaitu Super Slow-Mo dan Slow-Mo biasa, sudah seperti flagship-nya.
  8. Terakhir untuk kesimpulan hasil fotonya: 
  • Pada kondisi terik, foto terasa amazing untuk  dynamic range-nya, sampai-sampai mengingatkan saya pada kamera Galaxy Note FE dulu.
  • Kondisi semi lowlights tetap baik, walau akan lebih indah jika kita aktifkan Nightmode.
  • dan, di kondisi lowlights cukup ekstrem, pengambilan gambar sudah sangat melambat namun hasilnya masih sedikit di atas rata-rata. Sementara jika memakai nightmode, saya menilainya indah dipandang.


Panjang juga ya bahasan kamera dari Galaxy A71 ini. Ada baiknya Anda melihat langsung sendiri hasil foto dan videonya pada video review Samsung Galaxy A71 yang sudah saya unggah lebih dulu di YouTube ini:


Menurut pandangan saya, buat Anda yang budgetnya di sekitar 6-juta Rupiah, dan tidak mengandalkan smartphone sebagai alat utama membuat konten, terutama konten profesional, Samsung Galaxy A71 ini rasanya tidak punya hal yang memberatkan untuk dapat dipinang.

Brand punya prestige,
Layanan purna jual oke,
Stok barangnya juga aman,
Tak kaya hape merk sebelah yang juga pakai Snapdragon 730.
Iya iya, xiaomi! He.. He.. (Jangan bilang-bilang ya haha!)

Saya memang memaksakan diri menggunakan Galaxy A71 saja saat menghadiri acara preview Galaxy S20 Ultra beberapa waktu lalu. Dan menurut saya hasilnya usable koq, bahkan audionya tergolong bagus. Meski begitu, saya masih sedikit kurang puas dengan performa kameranya di kondisi cahaya indoor.

Untuk penggunaan sehari-hari sih ini sudah enak sekali. OneUI 2.0 makin lama makin enak dipakai, dan juga dapur pacunya juga sangat mumpuni buat multitasking.

Oh ya gaming belum dibahas ya! Saya sendiri hanya bermain PUBG Mobile sih di smartphone ini.
Gameplay-nya terasa smooth dan enak, masih tak mudah demam, walau memang pengaturan grafisnya mentok di HD dengan framerate High. Kira-kira masih sama seperti ponsel OPPO Reno3 Pro 5G yang menggunakan Snapdragon 765.

Tentunya terasa agak kurang ya buat smartphone 6-jutaan. Memang bisa sampai framerate Ultra di pengaturan grafis Balanced. Jadinya kayak hape sejutaan yang memakai processor Helio G70 dong? Walau begitu, saya masih percaya masalah ini hanyalah keterbatasan support dari game developer saja.

Kesimpulannya, saya akan ulang lagi saja yang sudah saya sebutkan di awal.

Saya sedikit kesulitan mencari kekurangan dari Samsung Galaxy A71 ini. Terutama karena saya membelinya dengan bonus pre-order yang berhasil saya jual kembali sehingga cost untuk memilikinya bahkan tak sampai 5-juta Rupiah! Walau, dalam hal yang sifatnya kualitas, lama-lama kerasa koq, bedanya apa dari smartphone flagship. Tapi sekali lagi, buat harganya, Galaxy A71 ini keren banget!

Hehe, tuh kang mengulang jadinya. Ya memang seperti itulah kenyataannya. Dan kenyataan lainnya adalah tulisan ini akan segera berakhir saat Anda membaca baris ini. Semoga senang ya membaca tulisan dari jari-jemari yang cukup kelu dan imaji yang terasa kaku karena lama tak berpetualang di panel blogger ini!

Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, Wassalam!

Comments

Popular Posts