Gadget Promotions

Tuesday, April 4, 2017

Review Blackberry Aurora, BB Karya Anak Bangsa yang... Skip Dulu Deh!

review blackberry aurora indonesia

Awalnya saya tak berniat mencoba Blackberry Aurora, karena tak dapat diskon, bukan karena tak ingin, hahaha. Namun, tiba-tiba sebuah pesan Whatsapp dari seorang teman mengubah segalanya. Saya ditawari titip beli Blackberry Aurora jatah karyawan dengan diskon 20% alias cukup membayar sebesar 2,8 juta Rupiah saja. Okelah kalau begini mah, coba saja deh.


Unboxing Blackberry Aurora

Sebetulnya saya ingin mencoba warna lain dari Blackberry Aurora ini, tetapi stok yang tersedia ternyata hanya berwarna hitam saja. Jadilah saya meng-unbox satu unit dengan warna full black. Saya sempat mengabadikannya pada video berikut ini:

Kesan pertama saya saat memegang Blackberry Aurora ini adalah kuatnya kesan premium yang muncul meskipun masih menggunakan material non logam pada sekujur tubuhnya. Ya, backcover ponsel ini menggunakan plastik yang dilapisi semacam karet yang membuatnya sangat nyaman di tangan berkat baiknya grip yang dihasilkan.

Melihat sisi depannya pun tak kalah mewah, tampilan full hitam dengan lengkungan 2.5 D di sekeliling layar, membuat smartphone ini terlihat keren. Membuat saya teringat dengan ponsel-ponsel Blackberry pada jaman jayanya dahulu. Pemilihan on screen navigation dibanding tombol fisik menurut saya merupakan langkah yang tepat.


Blackberry Aurora dalam Pemakaian Sehari-hari

Di balik kulit luarnya yang saya berikan nilai plus, masih ada beberapa nilai plus lagi yang masih ingin saya berikan untuk Blackberry Aurora, di antaranya adalah:
  • Dual-sim dengan dedicated micro-SD slot.
  • Besaran RAM 4 GB.
  • OS-nya sudah Android 7.0 Nougat out of the box.
Oh ya, backcover Blackberry Aurora ini dapat dibuka, dan di baliknya kita akan dapat menemukan ketiga slot kartu serta baterai berkapasitas 3.000 mAh yang tak bisa dilepas oleh pengguna.

Satu hal yang sangat mengganjal dari bagian fisik Blackberry Aurora ini adalah penempatan tombol power di sisi kiri ponsel. Sementara di sisi kanan, di bawah volume rocker malah ditempatkan tombol shortcut yang ukurannya kurang lebih sama dengan tombol power. Hal ini berakibat seringnya saya salah menekan tombol saat hendak menyalakan layar.

Ya, untuk menyalakan layar pada Blackberry Aurora ini memang hanya bisa dengan menggunakan tombol power saja. Mengingat ketidakhadiran fingerprint scanner pada ponsel ini, pun tak ada fitur double tap to wake.

Fitur yang membuat Aurora berbeda dari ponsel Android lain pada umumnya adalah kehadiran software bundle dari Blackberry, yaitu Blackberry Hub, Blackberry DTEK, dan beberapa aplikasi lain yang jarang saya pakai. Blackberry DTEK ini semacam software yang mengurusi masalah security dan privacy, mungkin sejenis dengan apa yang suka kita temukan pada Custom Android UI milik beberapa smartphone asal Tiongkok. 

Sementara Blackberry Hub memiliki fitur menggabungkan berbagai fasilitas perpesanan ke dalam satu aplikasi, sama seperti apa yang hadir di Blackberry OS 10. Satu fitur terakhir yang saya rasa bermanfaat adalah shortcut menu yang dapat dimunculkan dengan menarik bagian berwarna putih yang selalu muncul di pinggir layar smartphone ini.

Oh ya, hampir lupa, kita dapat mengatur tombol shortcut fisik yang berada di sisi kanan untuk fungsi tertentu, termasuk untuk membuka aplikasi apapun yang kita mau. Tiga buah shortcut juga dapat muncul apabila kita melakukan swipe pada tombol home ke arah atas.

Menyinggung besarnya RAM yang dimiliki oleh Blackberry Aurora, saya tak mengerti apakah ini agar spesifikasinya terlihat gahar dan sepadan dengan harganya, ataukah memang fitur-fitur yang ditawarkan oleh ponsel ini membutuhkan resource memori yang besar. Karena nyatanya, untuk multitasking masih sering terkendala saat berpindah antar aplikasi, yang saya yakini lebih karena processing power Snapdragon 425 yang tidak istimewa. 

Walau untuk dipakai bermain game kesayangan tentunya masih bisa, tetapi ada kabaar buruk bagi Anda yang senang menggunakan smartphone untuk keperluan VR. Ya, Blackberry Aurora tak memiliki gyroscope sensor. Tapi sudahlah, pasti orang juga tidak akan membeli ponsel ini untuk keperluan gaming deh rasanya.

Sementara daya tahan baterainya saya nyatakan cukup. Ya, cukup saja. Cukup untuk digunakan menemani hari-hari dengan pola pagi lepas charger, malam saat hendak tidur charge lagi.

Kamera Blackberry Aurora

Saya sempat melihat hasil foto menggunakan Blackberry Aurora di beberapa orang yang juga sedang menguji pakai smartphone ini, dan terlihat hasilnya bagus. Pada kenyataannya, memang bagus sih, asalkan mendapat pencahayaan yang cukup. Walau sering sekali saya mengalami autofokus yang meleset.

Dalam kondisi kurang cahaya, hasilnya pun mulai terlihat sayu dan tak begitu cerah lagi. Seandainya harga smartphone ini di bawah dua juta Rupiah, mungkin saya bisa mentolerir hasilnya ini. Namun kita semua tahu, berapa harga jual dari Blackberry Aurora ini, dan rasanya kualitas kameranya belum sebanding dengan harganya.

Memang sih ada fitur tambahan berupa manual setting lengkap yang bisa sedikit membantu meningkatkan kualitas hasil fotonya. Namun tetap saja saya merasa seharusnya kita mendapatkan lebih dari ini untuk harga yang ditawarkan.

Coba deh lihat sendiri hasil kameranya pada artikel review hasil foto menggunakan Blackberry Aurora ini.


Apa Kata Aa tentang Blackberry Aurora

Nampaknya Blackberry atau BB Merah Putih masih terlena dengan kemasyhuran Blackberry jaman Bold dan Javelin berjaya. Menjual smartphone dengan spesifikasi yang terasa janggal pada harga yang tak bisa dikatakan murah, bukanlah cara yang seharusnya dilakukan untuk mengatrol kembali brand yang sudah megap-megap seperti ini.

Ya, harusnya kita berkaca pada Blackberry Z3 yang saya yakini jadi smartphone dengan BBOS terlaris di Indonesia, berkat harga jualnya yang terjangkau. Saya ingat, dulu saya pernah membeli dua buah Blackberry Z3 dengan harga sekitar 1,6 jutaan untuk kemudian dijual lagi seharga 2 jutaan. Dan beberapa saat kemudian saya menyesal, karena harganya terus melambung tinggi hingga menembus 2,7 juta akibat tingginya permintaan pasar di Indonesia.

Sebetulnya secara brand, Blackberry tidak memiliki masalah, orang masih menganggap ini brand bagus dan memiliki produk yang berkualitas. Hanya saja, masalah harga adalah sesuatu yang sensitif di Indonesia. Silakan lihat kenapa Xiaomi bisa melakukan penetrasi dengan baik di sini.

Kalau menurut saya, lebih baik BB Merah Putih menghadirkan sebuah smartphone pada harga dua jutaan saja, dengan RAM yang cukup sebesar 2 atau 3 GB, tetapi processor-nya dinaikkan kelasnya, semisal menggunakan Snapdragon 616 atau bahkan 625. Dengan sedikit peningkatan kualitas pada kameranya, dan ditambah kehadiran fingerprint scanner, saya rasa akan jadi formula yang tepat untuk membangkitkan kembali brand ini.

Anda tentunya dapat menyimpulkan apa maksud dari empat paragraf yang saya tulis di atas, apabila dikorelasikan dengan Blackberry Aurora. Ya, smartphone ini masih terasa overprice saat ini menurut saya. Demikian.

No comments:

Post a Comment