Sedikit Berbagi Experience Saya dengan Huawei P30 Pro di 2020




Kalau Anda membaca judul tulisan ini, lalu menyangka ada versi baru dari Huawei P30 Pro.. Anda salah menafsirkan! Ini adalah sedikit tulisan di mana saya akan menceritakan kembali tentang Huawei P30 Pro milik saya yang produknya sendiri rilis di 2019 lalu koq. Hanya saja saya tulis dalam scope penggunaan di tahun 2020 ini ya.

Jika Anda butuh review yang lebih teknis, saya sudah pernah buatkan pada video di bawah ini.


Kali ini bahasannya lebih ke experience saya selama hampir lima bulan terakhir ini memiliki kembali Huawei P30 Pro. Sebuah rekor buat saya yang suka gontagantihape ini.

Kenapa saya bilang memiliki kembali? Karena sebetulnya ini adalah P30 Pro kedua yang saya pakai. Sebelumnya saya memakai yang warna Aurora Blue, dan waktu itu karena device-nya merupakan pinjaman dari toko, saya hanya pakai seperlunya buat review teknis saja.

Sampai akhirnya, saya melihat Kang Nico (ObatGaptek) koq terus pake P30 Pro-nya ya. Mana casing-nya cakep pula! Sehingga ketika sedang santai dan tak banyak bahan untuk review waktu itu, saya putuskan beli saja yang warna Breathing Crystal ini.

Kalau Anda sering melihat video daftar gadget yang saya buat di Youtube belakangan ini, Huawei P30 Pro ini sering banget muncul. Ya, karena memang inilah daily driver saya saat ini. Begitu banyakpun ponsel lain yang saya pakai jadi daily driver untuk proses review, serta mengistirahatkan dulu P30 Pro sementara, ujung-ujungnya selalu kembali ke smartphone ini.

Dua hal yang paling jadi andalan saya adalah daya tahan baterai yang tergolong awet untuk ukuran flagship yang punya performa tinggi begini, serta kemampuannya buat bikin instastory yang bagus.

Hal yang kedua mungkin bagi sebagian orang tidaklah penting, namun tentu beda bagi saya yang mengelola akun Instagram tentang teknologi di keseharian. Setiap saya rekam video Full HD 60fps lalu saya unggah di story, DM Instagram ramai sekali dengan yang menanyakan: "story-nya pake hape apa A?"

Saya bahkan sampai melepas Samsung Galaxy Note 10+ yang menurut saya kemampuan videonya masih yang terbaik, tapi ketika diunggah ke Instagram story, belum sebaik P30 Pro ini. Hal yang sama berlaku juga buat realme X2 Pro, ROG Phone II, Blackshark 2 Pro, OPPO Reno3 Pro, hingga Samsung Galaxy A71.

Ada sih satu hape flagship yang sempat bikin saya galau, namanya ASUS Zenfone 6. Story Instagram yang diunggah dari ponsel ini bisa dikatakan cukup memukau, meski sekali lagi masih tak se-level dengan Huawei P30 Pro. Hanya saja, RAM 6 GB dan fingerprint scanner di punggunggnya jadi batu sandungan bagi saya untuk terus memakainya. Bukan artinya RAM 6 GB tak memenuhi kebutuhan saya ya, cuma perbandingannya dengan hape midrange sekarang yang sudah pada berani memakai RAM 8 GB, bagi saya untuk level flagship sih ini kurang.

Oh ya, Huawei P30 Pro ini sudah mendapat update software, di mana sekarang berjalan di atas Android 10 dengan balutan custom UI, EMUI versi 10 juga. Dan, Google Apps berjalan normal, aman semua.

Ya, alasan Google Apps ini juga yang membuat saya masih setia bertahan di P30 Pro. Ini adalah flagship Huawei terakhir yang belum terpengaruh oleh perang dagang Amerika dan China, khususnya Huawei. Lain cerita dengan Huawei Mate 30 Pro yang kurang beruntung nasibnya, hehe.

Bicara harga, resminya P30 Pro ini makin turun saja. Sekarang tepatnya di Rp9.999.000, tapi seller online pasti jual lebih murah. Wong ketika harga resminya masih Rp10.999.000 saja, saya belinya di 9,9 jutaan koq.

Sekedar info, harga Mate 30 Pro saat ini  juga turun sejutaan, dari 12,5 juta jadi 11,5 juta saja. Dan seller online saya temukan sudah ada yang bisa jual di harga 10,3-jutaan, masih diberi bonus Huawei Freebuds Lite lho!

Yaps, di Indonesia nampaknya angin tak sedang bertiup indah untuk Huawei. Isu trade ban seakan jadi pukulan telak untuk penjualan smartphone mereka, sayang sekali... Produk-produk bagusnya seakan jadi menguap, karena alasan inkompatibilitas dengan layanan Google.

Jadi, jika Anda saat ini masih menggunakan Huawei P30 Pro, dekap erat smartphone Anda baik-baik! Jangan biarkan jatuh dan terluka. Siapa yang tahu, esok nanti takkan ada flagship berbody kokoh seperti ini lagi yang bisa Anda dapatkan dari Huawei.

Kalau mau dijual pun, paling bagus mungkin harga bekasnya delapan juta, bahkan saya terima laporan di media sosial, kalau P30 Pro miliknya hanya dihargai 7,5 juta saja! Buat saya, duit segitu tak sebanding dengan nyamannya menggunakan smartphone ini. Biar, biarlah saya menuai rekor baru saja, tak gontagantihape setahun, atau bahkan lebih. Terlalu sayang  bagi saya untuk menjualnya dengan harganya yang semakin jatuh saja.



So, inilah akhir dari tulisan ini. Sedikit cerita tentang saya dan smartphone daily driver saya.
Dari Kota Cimahi, Aa Gogon pamit undur diri, Wassalamualaikum!

Comments

  1. Mau tanya kira2 hape flagship di tahun 2017-2018 yg skrg bisa dibeli di bawah 3,5jt dan masih ok di 2020 apa ya kang ?. Kalo bisa dikasih 3 pilihan, thx y.
    Oh ya sebenarnya pengen banget ambil htc one m9+ resmi dan new di harga 1,5jt tapi masih bingung krna update hanya sampai di android 6 .

    Note : bekas pun tak apa

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts