Gadget Promotions

Thursday, July 14, 2016

Review Vivo V3 Indonesia, Gak Overprice Ah!

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

Ini adalah artikel review pertama yang saya tulis pasca libur Lebaran kemarin. Susah juga mengumpulkan mood dan kembali ke ritme bulan Ramadhan lalu, di mana rekor pribadi saya terukir untuk jumlah tulisan dan video dalam satu bulan.

Kembali ke kebiasaan lama pas dulu awal-awal nge-blog, saya mulai menulis artikel ini di malam hari, sepulang kerja dan sebelum menuju kasur. Mungkin ini yang membedakan proses penulisan di bulan biasa dengan saat bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan lalu, saya biasa terbangun dua hingga tiga jam sebelum imsak, dan menulis diselingi menonton tayangan sepakbola di televisi.

Tapi, sesuai dengan tema Lebaran (yang juga mirip dengan ucapan para petugas SPBU Pertamina saat mulai mengisi BBM), Mulai Lagi dari Nol, saya pun harus berjuang kembali menulis di depan notebook ini. Sebuah notebook kesayangan dari brand ASUS yang merupakan inventaris kantor ini sudah menemani saya setahun lebih, dulu saya beli di BEC sambil mengasuh anak, he.. he.. Gak apa-apa kan kalau tulisan review diawali oleh personal thoughts seperti ini? Ya hitung-hitung gaya baru, atau mungkin efek refreshing setelah libur Lebaran, biar gak bosan.

OK, pemanasan selesai. Kita masuk ke bagian awal dari setiap pengujian sebuah smartphone, unboxing dan kesan pertama ya. Untuk yang satu ini, sudah saya buatkan videonya sebelum Lebaran dulu, sebagian dari Anda mungkin sudah menyaksikannya ya? Tak ada salahnya ditonton lagi, film Warkop aja tiap Lebaran kita tonton lagi kan? He.. he.. he..


Unboxing dan First Impression on Vivo V3



Sebetulnya di video di atas ini, sudah ada semacam quick review berisi pengujian performa gaming, audio, dan kamera. Maksudnya quick review adalah review berdasarkan hasil pemakaian dalam waktu yang singkat. Selama ini, jika video-nya saya beri judul quick review banyak orang yang protes, "Quick review koq 20 menit? Full review-nya selesai dalam berapa purnama? Kalah dong AADC 2!"

Jadilah meskipun videonya singkat, saya tetap memberi judul REVIEW PANJAAAAAANG untuk video di atas, biar gak pada protes lagi. Kalau perlu, biar nggak pada protes juga, review tulisan juga saya singkat deh, tanpa huruf vokal, br gk pd prts ml yg bc, slny cp jg dprts ml. Ha.. ha..

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - kotak kemasannya minimalis
review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - kelengkapan dalam paket penjualan


Foto detail tiap sisi dari smartphone Vivo V3 dapat disaksikan di bawah ini ya.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - sisi kiri terdapat sim-card tray (dual-sim)

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - sisi atas terdapat noise cancellation mic, slot micro-sd dan port audio 3,5 mm

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - sisi bawah terdapat mic, port micro USB, dan loudspeaker

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - sisi kanan, volume rocker dan tombol power


Kualitas Audio Vivo V3

Nah, tak seperti review lain yang pernah saya tulis, kali ini selepas unboxing saya akan bahas soal audio dulu. Jangan salahkan saya, habis Vivo melabeli produknya dengan tagline "Hi-Fi & Smart" sih, jadi ya yang harus dibuktikan pertama kali ya Hi-Fi-nya dong! Mungkin nanti kalau saya sampai hati mencoba smartphone keluaran saudara-nya Vivo, OPPO, maka saya akan mencoba kameranya terlebih dulu. Sebagaimana kita tahu, tagline-nya OPPO adalah "Cameraphone". Jadi sepertinya holding company mereka mengarahkan Vivo ke audio, dan OPPO ke fotografi, diferensiasi yang memang diperlukan karena kadang bingung apa bedanya produk Vivo dan OPPO. Sebagai info, Vivo V3 punya 'kembaran' yaitu OPPO F1.

Saya sudah coba memutar beberapa lagu di video unboxing di atas, menurut kuping kaleng kerupuk saya ini, suara Vivo V3 lantang dan jernih saat diajak mendendangkan lagu melalui loudspeaker-nya. Posisi lubang loudspeaker-nya pun ideal, yatu di sisi bawah, bukan di belakang. Jadi rasanya takkan tertutup saat diletakkan di atas meja atau bidang datar lainnya dengan posisi telentang maupun telungkup.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - bagian paling indah dari ponsel ini


Saat saya pasangkan dengan in-ear headset Xiaomi Mi Piston 2 dan juga headphone Philips O'Neill The Cruz SHO 3300, saya merasakan sensasi suara yang membuat saya puas, walau tak sampai lemas. Suara yang dihasilkan Vivo V3 lagi-lagi mengesankan, meskipun tanpa embel-embel Dolby atau sejenisnya. Menggunakan music player bawaan, kita dapat melakukan pengaturan lanjut untuk masalah keluaran suaranya.

Saya bukan audiophile, tapi sepertinya sih cukup mampu menyimpulkan bahwa untuk urusan audio, Vivo V3 ini keren, pake banget, ga pake toge. Dari semua smartphone yang pernah saya coba, mungkin hanya HTC One E8 dengan BoomSound-nya yang berada pada kasta yang sama dengan Vivo V3. So, tagline Hi-Fi-nya bukan bualan lah ya, meskipun mungkin masih perlu dibuktikan pada jajaran smartphone Vivo yang paling murah sih (saya nggak berniat nyoba).

OK, sampai pada paragraf di atas, nulisnya sudah mulai suntuk. Tulisan pada bagian selanjutnya dibuat pada malam yang berbeda, dengan cangkir dan kopi yang sudah berbeda pula.

Price to Value Comparison, Vivo V3

Pada bagian ketiga ini, saya langsung to the point saja deh, bahas harga dengan apa yang didapat dari produk Vivo V3 ini.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - penempatan logo Vivo, mirip Mi yah!


Oh ya, sebagai info awal, Vivo V3 ini dijual dengan harga resmi Rp 3.499.000,-. Jika beli di Blibli.com, maka akan mendapat backcase bergambar Agnes Monica plus grafir tanda tangan yang bersangkutan pada bagian punggung smartphone ini. Nah, Vivo V3 yang saya pakai ini dibeli di Tokopedia, hanya seharga Rp 3.080.000,- tapi cuma dapat bonus tongsis. Hemat banyak yak!

Karena sampai saat saya tulis hari ini pun saya cek Vivo V3 di lapak penjual tersebut masih dijual dengan harga yang sama, jadinya saya anggap harganya 3,1 juta Rupiah saja ya.

Setelah Samsung, OPPO dan Vivo dikenal sebagai brand yang menjajakan produknya dengan harga yang bisa dibilang overpriced, sebagai efek samping dari metode penjualan offline yang gencar dengan komisi besar bagi promotor mereka. Saat pertama Vivo V3 dirilis pun, saya masih menganggap harganya kemahalan.

Mungkin karena saat itu kita masih bebas menikmati ponsel-ponsel bergaransi distributor yang memang miring harganya meskipun spesifikasinya mentereng. Selama ini saya selalu menganggap ponsel garansi distributor adalah ponsel BM non-garansi, yang resikonya bersedia saya tanggung sendiri sebagai konsekuensi dari selisih harganya yang jauh lebih murah.

Maraknya penertiban yang dilakukan atas ponsel-ponsel tak resmi tersebut kini membuat harganya melambung. Hal ini membuat saya melirik kembali ponsel dengan garansi resmi saja. Buat apa mengambil resiko jika harganya tak jauh beda bukan? Pun ini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap brand-brand smartphone yang mau tertib menjajakan produknya setelah proses sertifikasi resmi berhasil dilalui.

Nah kan, ngelantur ke mana-mana. Hayuk ah, bahas Vivo V3 aja! He.. he.. he..

Dengan harga 3,1 juta Rupiah, saya dapat Vivo V3 (plus tongsis tentunya) yang punya kelebihan seperti ini:
  1. Dapat mengakses jaringan 4G,
  2. Processor Snapdragon 615/616? (masih belum jelas, cek bagian informasi hardware ya),
  3. RAM 3GB,
  4. Penyimpanan internal 32GB,
  5. Layar 5 inci dengan resolusi HD 720p,
  6. Kamera utama 13 Megapixels dengan manual mode dan banyak mode lainnya,
  7. Kamera depan 8 Megapixels,
  8. Hi-Fi audio, dan
  9. Dual-sim dengan dedicated micro-SD slot.

Overpriced? Rasanya nggak deh. Coba saja bandingkan dengan spesifikasi Lenovo VIBE S1 yang harga resminya Rp 3.999.000,- atau dengan Samsung Galaxy A3 2016 yang harganya di pasaran paling murah sekitar 3,3 juta Rupiah tapi RAM-nya hanya setengah dari yang Vivo V3 miliki. Jika kita bandingkan dengan price to value comparison milik Xiaomi Redmi Note 3 garansi resmi pun rasa-rasanya masih wajar koq, ingat Vivo V3 sudah mendukung jaringan 4G secara legal lho.

Tak bisa dibilang murah memang, selain itu kualitas Vivo dalam hal layanan purna jual pun belum ketahuan. Namun paling tidak garansinya resmi, sudah 4G, dan saat digunakan lancar, smooth, multitasking berjalan baik, notifikasi pun tidak telat masuk. Salah satu kelebihannya yang perlu disorot adalah hadirnya slot micro-sd dedicated, yang sudah mulai jarang kita temukan. Bahkan, Vivo V3 Max yang merupakan versi lebih hebat dan lebih mahal-nya, malah menggunakan hybrid slot. Logika yang terasa aneh bukan?

Kekurangan Vivo V3 tentu saja ada, biar adil saya buatkan daftarnya juga deh:
  1. Tombol kapasitif tanpa backlight,
  2. Layar kurang vivid, resolusinya sih buat saya cukup, biar ga berat kinerjanya dan batre ga boros,
  3. Kapasitas baterai tergolong kecil untuk jaman sekarang, hanya 2.550 mAh,
  4. Desain sangat-sangat tidak unik, nyaris sama dengan saudaranya, OPPO F1,
  5. Pilihan warna yang (fe)minim, hanya white/gold,
  6. Kamera jika sedikit saja kurang cahaya, hasilnya grainy alias mulai muncul noise, meskipun bisa diakali dengan manual mode. Kamera depan tergolong biasa saja.


Informasi Hardware Vivo V3

Sampai tulisan ini saya selesaikan, saya masih nggak tahu sebetulnya processor yang dipakai Vivo V3 itu sebetulnya Snapdragon 615 ataukah Snapdragon 616. Koq bisa nggak tahu? Karena di spesifikasi resmi dan di menu About Phone-nya dicantumkan Snapdragon 616. Tapi saat menggunakan aplikasi AIDA64 dan CPU X, munculnya Snapdragon 615, padahal di Xiaomi Redmi 3 dan Lenovo VIBE K5 Plus, kedua aplikasi tersebut benar memunculkan info Snapdragon 616.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.comreview vivo v3 indonesia - gontagantihape.com


Saya tidak ambil pusing selama performa nyatanya dapat diandalkan saat saya gunakan. Buat yang penasaran, boleh bantu cek ya. Untuk saat ini, saya tampilkan dulu deh screenshot tentang hardware Vivo V3 yang saya miliki ya, apa adanya.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.comreview vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.comreview vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

Dan ini dia skor pengujian benchmark sintetis menggunakan Antutu Benchmark. Skornya sih lebih mirip skor Snapdragon 615 daripada Snapdragon 616 yang umumnya lebih rendah.
review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com - skor Antutu Benchmark
Review Vivo V3 - skor Antutu Benchmark

Urusan sensor, untungnya ga disunat kaya Coolpad MAX Lite ya :D

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com - kelengkapan sensor box for android
Review Vivo V3 - kelengkapan sensor


Vivo V3 dalam Penggunaan Sehari-hari

Terlepas dari masalah spesifikasi teknis dan harga, saya merasa betah menggunakan Vivo V3 untuk kebutuhan saya sehari-hari. Sebelumnya saya merasa betah menggunakan Meizu M3 Note, hingga akhirnya masalah notifikasi yang sering terlambat masuk terasa semakin parah setelah mendapat update firmware melalui OTA. Oh ya, saya belum bahas lengkap ya soal Meizu M3 Note? Hmm, nanti ya... Kita selesaikan dulu soal Vivo V3 ini.

Baterai Vivo V3 memang kecil kapasitasnya, pun kemampuan bertahannya tak terlalu istimewa. Dalam kondisi hari kerja yang normal, mampu koq bertahan dari sejak saya cabut saat bangun pada pukul tiga pagi, dipakai menemani aktifitas kerja, diselingi socmed, foto, dan sedikit game, lalu saat tiba kembali di rumah pada sekitar pukul tujuh malam, masih tersisa seperempatnya untuk saya gunakan browsing ringan dan mendengarkan musik sebelum tidur. Sambil tidur, tinggal saya charge deh.

Namun apabila dipakai gaming secara intens (game favorit saya saat ini tidak berat di grafis sih, hanya online terus saja), biasanya hanya mampu bertahan sekitar sepuluh hingga dua belas jam saja dengan rata-rata screen-on time di angka empat jam.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com


Pernah satu kali, sebelum tidur baterai Vivo V3 masih tersisa sekitar 20% dengan screen-on time yang sudah dicapai hampir empat jam. Kejadian aneh terjadi saat saya tinggal tidur, hingga terbangun untuk sahur. Pada saat bangun, screen-on time naik drastis menjadi sepuluh jam dan baterai tersisa 1% saja. Saya yakin waktu itu smartphone saya ini layarnya sudah padam saat ditinggal tidur. Entah apa yang terjadi, anggap saja anomali ya, he.. he..

  Pernah satu kali, sebelum tidur baterai Vivo V3 masih tersisa sekitar 20% dengan screen-on time yang sudah dicapai hampir empat jam. Kejadian aneh terjadi saat saya tinggal tidur, hingga terbangun untuk sahur. Pada saat bangun, screen-on time naik drastis menjadi sepuluh jam dan baterai tersisa 1% saja. Saya yakin waktu itu smartphone saya ini layarnya sudah padam saat ditinggal tidur. Entah apa yang terjadi, anggap saja anomali ya, he.. he..

  Pernah satu kali, sebelum tidur baterai Vivo V3 masih tersisa sekitar 20% dengan screen-on time yang sudah dicapai hampir empat jam. Kejadian aneh terjadi saat saya tinggal tidur, hingga terbangun untuk sahur. Pada saat bangun, screen-on time naik drastis menjadi sepuluh jam dan baterai tersisa 1% saja. Saya yakin waktu itu smartphone saya ini layarnya sudah padam saat ditinggal tidur. Entah apa yang terjadi, anggap saja anomali ya, he.. he..


Beralih ke sisi UI, Funtouch OS versi 2.5 yang digunakan Vivo V3 ini masih berdasarkan Android Lollipop 5.1.1. Namun feels-nya sangat-sangat iOS sekali. Launcher tanpa application drawer mungkin sudah lumrah ya, tapi jendela quick toggles yang muncul jika disapu dari bawah layar ke atas, ini yang benar-benar membuat terasa seperti iOS versi 8 ke atas. Recent apps atau task switcher hadir juga pada jendela yang sama.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - jendela yang muncul dari bawah layar

Jadinya untuk memunculkan recent apps, feels-nya mirip dengan saat menggunakan Flyme OS. Nah, tombol kapasitif paling kiri jadinya berfungsi sebagai menu saja, dan yakin deh akan sangat jarang Anda gunakan. Sementara untuk melakukan screenshot cepat, caranya bukan dengan menekan tombol [power] bersamaan dengan [volume down], melainkan dengan menahan tombol [power] lalu sentuh tombol [home], ini antara mirip dengan iPhone (bedanya iPhone tombol home-nya menggunakan tombol fisik) atau mirip dengan HTC ya (jaman HTC One X).

Pada quick toggles kita dapat memilih fitur S-capture, ini adalah fitur untuk merekam layar lebih lanjut. Screenshot panjang beberapa layar (scrolling) maupun screen recording dapat diakses dari menu ini. Sementara untuk menutup semua aplikasi berjalan, pilih Speed up. Sama seperti yang kita temui pada MIUI dan FlyMe OS versi lama, aplikasi yang berjalan ditampilkan dalam bentuk icon saja, tidak ada preview-nya, dan kita dapat mengunci aplikasi yang kita inginkan untuk terus dapat tetap berjalan.

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - jendela quick toggles dan recent apps

Funtouch OS punya beberapa fitur yang cukup berguna, semisal memberitahu aplikasi apa saja yang dalam beberapa menit terakhir menguras baterai. Kita pun diberi pilihan untuk menutup aplikasi tersebut, serta mengatur apakah Funtouch OS diperkenankan menutup masing-masing aplikasi apabila aplikasi itu ditemukan menguras baterai. Satu fitur berguna lainnya adalah saat melakukan wi-fi tethering, Funtouch OS memberikan rekapitulasi sudah berapa banyak data yang kita pakai.

Dalam keseharian saya, Vivo V3 sangat bisa saya andalkan untuk fungsi multimedia. Menonton series Kamen Rider Amazon di smartphone ini masih terhitung nyaman. Kepuasan akan kualitas audio sudah saya bahas duluan, sementara kualitas kameranya dapat dilihat pada bagian selanjutnya ya.

Hasil Kamera Vivo V3

Hasil kamera Vivo V3 bisa dikatakan sedikit di atas rata-rata, dengan kekurangan utama ada pada kondisi lowlights yang rentan noise. Sering-sering luangkan waktu untuk mencoba mode-mode lain pada kamera Vivo V3 agar potensinya dapat dimaksimalkan ya.

Sementara untuk selfie, sejauh ini saya menilai kualitas hasilnya rata-rata saja.

Penasaran seperti apa hasilnya (termasuk hasil mode manual yang long exposure-nya bisa hingga enam belas detik)? Cek artikel hasil foto menggunakan kamera Vivo V3 berikut ini ya.


Apa Kata Aa tentang Vivo V3

Betah dipakai dan tidak terasa overpriced, itulah yang saya rasakan dari beberapa minggu menggunakan Vivo V3 ini. Tadinya saya sudah hendak menetapkan Meizu M3 Note sebagai daily driver, namun ganjalan belum bergaransi resmi dan notifikasi yang super telat, membuat saya memutuskan menjualnya kembali. Nah dua kekurangan utama Meizu M3 Note tersebut tidak saya jumpai pada Vivo V3 ini. Kekurangannya pun masih bisa ditolerir oleh saya pribadi. Jadilah review ini berkesimpulan positif untuk Vivo V3. Nice job, Vivo!

review vivo v3 indonesia - gontagantihape.com
Review Vivo V3 - a really good phone for Aa


Harap diingat ya, Vivo V3 cocok buat saya dengan kondisi saya yang tidak banyak bermain game berat (Vivo V3 mampu koq memainkan game berat, cuma kasihan saja sama baterainya hehe), lebih nyaman dengan dimensi layar 5 inci daripada 5,5 inci ke atas, serta tidak masalah dengan resolusi layar HD jika sebagai trade off untuk ketahanan baterai dan performa yang smooth.

Beberapa kali saya rekomendasikan Vivo V3 ini kepada mereka yang mencari smartphone dengan budget tiga jutaan, dan umumnya reaksi mereka masih merasa belum pede mengeluarkan uang sejumlah itu untuk produk dari brand Vivo ini. Stigma overprice masih melekat nampaknya kepada brand yang satu ini. Sah-sah saja anggapan itu, tapi buat saya sih gak overprice ah! Ciyus deh, enelan, baca lagi deh dari awal tulisan ini, ha.. ha..

Selamat bingung! *lho*

4 comments:

  1. mas, kalo vivo v3 dibandingin sama lenovo k5 plus ram 3gb gimana mas? sebenrnya sih saya lebih utamain masalah kameranya, bagusan mana mas? makasih

    ReplyDelete
  2. Bro ko hp vivo v3 saya cepet panas kalau di pake game

    ReplyDelete
  3. Bro ko hp vivo v3 saya cepet panas kalau di pake game

    ReplyDelete
  4. mas, nanya aplikasi saya kok gk on terus ya?? padahal udh di lock aplikasi nya, ada yg tahu ???

    ReplyDelete